Anda di halaman 1dari 6

Biografi Sultan Abdul Hamid II

Dan keruntuhan Khilafah Islamiyah

Kondisi Daulah Utsmaniyah sebelum Abdul Hamid II

Melalui dekrit pada tahun 1854 dan 1856, Sultan Abdul Majid melegalkan keberadaan gerakan pem­
Barat­an di Daulah Utsmaniyah. Negara juga mulai menerapkan pemikiran Barat dalam pembuatan
undang­undang maupun pembuatan lembaga­lembaga dalam negeri Keputusan tersebut sangat
dipengaruhi oleh pembantu beliau yaitu Rasyid Pasha yang sangat cenderung pada Barat dan
menggunakan filsafat freemasonri.

Gerakan At­Tandzimat [1], memunculkan al­bab al­aliy, yang merupakan sistem baru saat itu (mirip
dengan dewan menteri pada saat ini). Pada sistem ini, menteri besar (perdana menteri) berbagi
kekuasaan dengan Sultan dalam pemerintahan. Kedudukan Syaikhul Islam ditempatkan pada sisi
kedua dari sisi otoritas serta kewenangan. Sebelumnya, struktur pemerintahan Utsmani bertumpu pada
3 pilar, yakni Sultan­Diwan­Syaikhul Islam. Diwan melaksanakan perintah sultan/khalifah sebagai
pembantu penyelenggaraan urusan negara, sedang Syaikhul Islam melaksanakan aktivitas syuro bagi
Khalifah.

Pada tahun 1860 M, didirikan organisasi Turki Muda (Turki Fatat). Didirikan secara rahasia dan
aktivitasnya sembunyi­sembunyi. Tujuan organisasi ini adalah memperbaiki kondisi negara dengan visi
yang sama seperti revolusi perancis. Intinya adalah hendak membawa kepribadian Eropa dalam
Daulah Utsmaniyah. Organisasi ini dalam perkembangannya menggunakan nama yang berbeda­
beda seperti Organisasi Generasi Baru Utsmaniyah (al­Utsmaniyyun al­Jadad) atau Organisasi Kesatuan
dan Kemajuan (al­Ittihad wa at­Taraqqiy).

Sultan Abdul Hamid II

Sultan Abdul Hamid kedua lahir pada hari Rabu, 21 September 1842. Nama lengkap beliau adalah
Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan. Beliau adalah putra Abdul Majid dari istri kedua beliau.
Ibunya meninggal saat Abdul Hamid berusia 7 tahun. Abdul Hamid dapat berbicara bahasa Turki,
Arab, dan Persia. Beliau menyukai membaca buku dan puisi. Ketika ayahnya, Abdul Majid wafat,
pamannya yaitu Abdul Aziz menjadi Khalifah. Abdul Aziz berkuasa cukup lama. Beliau digulingkan dan
kemudian dibunuh oleh musuh politik Turki Utsmani[2], Khalifah setelah Abdul Aziz adalah Sultan Murad
V, putra Abdul Aziz. Namun kekuasaan beliau tidak lama, berakhir ketika Murad V juga digulingkan
setelah 93 hari berkuasa karena dianggap tidak cakap sebagai khalifah.

Pada tanggal 41 Agustus 1876 (1293 H), Sultan Abdul Hamid dibai’at sebagai Khalifah. Saat itu usia
beliau 34 tahun. Abdul Hamid saat itu menyadari bahwa pembunuhan pamannya serta perubahan­
perubahan kekuasaan yang terjadi saat itu merupakan konspirasi global melawan Khilafah Islamiyah.

Abdul Hamid memiliki karakter yang sangat menarik para ahli sejarah. Beliau mengemban amanah
memimpin sebuah negara adidaya yang pada saat itu tengah berada pada situasi tegang dan kritis.
Beliau menghabiskan 30 tahun kekuasaan sebagai Khalifah dengan dikelilingi konspirasi dari dalam
dan luar negeri, perang, revolusi, dan berbagai perubahan yang senantiasa terjadi. Abdul Hamid
sendiri senantiasa menuangkan perasaan beliau melalui tulisan­tulisan dan puisi.

http://fauzimubarok.multiply.com/journal/item/32  | Biografi Sultan Abdul Hamid II  1 
Krisis Balkan dan Rusia

Masalah pertama yang dihadapi oleh Abdul Hamid adalah Midhat Pasha. Midhat Pasha adalah salah
seorang yang bertanggung jawab terhadap konspirasi penggulingan Abdul Aziz. Saat Abdul Hamid
menjabat Khalifah, beliau meminta Midhat Pasha menjabat sebagai Perdana Menteri karena saat itu
kedudukan Midhat sangat populer dan Abdul Hamid membutuhkan hal tersebut untuk menjamin
posisinya sebagai Khalifah. Midhat Pasha sebelumnya adalah Wali Baghdad. Midhat memiliki
hubungan kuat dengan para anggota Majelis Syura. Sebagai bukti, Midhat berhasil menggulirkan isu
perang melawan Rusia dalam majelis Syura.

Krisis Balkan tersebut, sebenarnya telah dimulai sejak akhir pemerintahan Abdul Aziz. Dimana serbia dan
montenegro bersikukuh memisahkan diri dengan Daulah Utsmaniyah. Saat itu kondisi di sekitar
semenanjung Kreta benar­benar kacau dan tidak mungkin negara melakukan pembenahan apapun.
Satu­satunya upaya adalah menambah kekuatan militer di daerah tersebut. Namun saat tentara
Utsmani hampir memasuki beograd, tiba­tiba datang ancaman keras dari Rusia. Ancaman tersebut
menjadikan negara­negara barat pimpinan Inggris resah, karena campur tangan Rusia dalam krisis
Balkan ini. Oleh karena itu, Daulah Utsmani dipaksa negara­negara barat tersebut memasuki konferensi
Tursanah di Istambul (23 Desember 1878). Hasil dari konferensi tersebut, Daulah Utsmani diharuskan
mengadakan perdamaian di Bosnia, Herzegovina, dan Bulgaria.

Kembali ke Midhat Pasha, setelah mengetahui hasil konferensi tersebut Midhat kemudian menggalang
opini dalam Majelis Syuro maupun di luar Majelis Syuro, untuk menentang hasil konferensi tursana.
Midhat menggerakkan para pelajar sekolah agama tingkat tinggi untuk menggelar demonstrasi
menentang Sultan Abdul Hamid dan memaksa melibatkan Daulah Utsmani dalam perang melawan
Rusia. Sementara dalam Majelis Syuro sendiri, isu ini berkembang sangat kuat sehingga sultan sendiri
tidak mampu menghentikan isu tersebut.

Hasilnya, para anggota konferensi tursana (negara­negara barat pimpinan Inggris) merasa kecewa
dan kembali ke negara mereka masing­masing. Dengan demikian, Daulah Utsmaniyah sendirian dalam
menghadapi kegentingan berhadapan dengan Rusia ini. Kondisi tersebut menjadikan popularitas
Midhat Pasha menurun jauh. Pada saat tersebut Sultan akhirnya memberhentikan Midhat,
mengasingkan ke Eropa, dan menggantikan kedudukannya dengan Awni Pasha (Awni Pasha adalah
salah seorang pimpinan tinggi pasukan Utsmani).

Pada tanggal 24 April 1877, Rusia akhirnya mengumumkan perang melawan Daulah Utsmaniyah.
Dengan demikian dimulailah perang yang terkenal antara Daulah Utsmaniyah melawan Rusia yang
berlangsung dari tahun 1877 – 1878 M. Perang tersebut sangat merugikan keadaan dalam negeri
Daulah Utsmaniyah, karena pada saat tersebut terjadi eksodus besar­besaran kaum Muslim dari
wilayah Bulgaria ke Istambul. Eksodus tersebut berarti menurunkan secara signifikan jumlah kaum
muslimin di wilayah Balkan. Bahkan hingga saat ini perang tersebut menjadi sebab utama minimnya
jumlah kaum muslimin di Bulgaria dan negara­negara balkan lainnya. Sementara di dalam negeri
problematika sosial karena gelombang eksodus ini semakin bertambah parah. Antara lain minimnya
perumahan dan lapangan kerja.

Di medan peperangan, Awni Pasha yang diserahi amanah sepenuhnya peperangan di Balkan
mengkhianati Sultan dengan cara memberikan informasi yang keliru mengenai kondisi pasukan di
wilayah Balkan kepada Sultan. Awni melaporkan jumlah pasukan Daulah Utsmaniyah mencapai
200.000 pasukan, sedangkan jumlah pasukan musuh mencapai 300.000. Namun pada akhirnya
terbongkarlah informasi palsu ini, bahwa ternyata jumlah pasukan Utsmani hanya 30.000 dan bahwa
ternyata Awni Pasha menerima uang dan hadiah dari Inggris. Jumlah yang tidak imbang ini memaksa
Daulah Utsmani menelan kekalahan dan akhirnya tanggal 31 Januari 1878 dibuat perjanjian untuk
mengakhiri peperangan tersebut. Daulah Utsmaniyah harus rela kehilangan wilayah Bosnia dan Yunani.

http://fauzimubarok.multiply.com/journal/item/32  | Biografi Sultan Abdul Hamid II  2 
Yahudi dan Tanah Palestina

Keruntuhan Daulah Utsmaniyah semakin tampak jelas pada tahun­tahun selanjutnya. Semua orang
seperti binatang rakus yang menginginkan setiap jengkal kekayaan yang dimiliki oleh The sickman of
Europe ini, tak terkecuali bankir konglomerat yahudi Mizray Krusow, dan pimpinan organisasi
zionisme[3], Herzl. Mereka menawarkan kepada Sultan Abdul Hamid II :

1. Akan membayar seluruh hutang yang dimiliki oleh Daulah Utsmaniyah.

2. Akan membantu peningkatan kekuatan Angkatan Laut Daulah Utsmaniyah.

3. Memberi pinjaman 35 juta mata uang emas lira Utsmaniyah tanpa bunga untuk menjamin
kesejahteraan Daulah Utsmaniyah.

Sebagai balasannya, mereka menghendaki dipenuhinya syarat :

1. Dibolehkannya warga Yahudi untuk berziarah ke Palestina kapanpun mereka berkehendak. Dan
untuk tinggal di Palestina selama mereka menginginkan untuk tinggal di “tanah suci” tersebut.

2. Dibolehkannya warga Yahudi untuk membangun pemukiman dimana mereka dapat tinggal di
lokasi­lokasi di sekitar yerusalem.

Sikap sultan terhadap tawaran ini sangat tegas. Bahkan Sultan Abdul Hamid menolak untuk bertemu
delegasi ini. Beliau mengirimkan jawaban kepada mereka melalui Tahsin Pasha. Jawaban beliau saat
itu adalah “Sampaikan kepada Yahudi yang tidak sopan itu bahwa hutang Utsmani bukanlah sebuah
hal yang memalukan, Perancis juga memiliki hutang dan hutang tersebut tidak mempengaruhi negara
itu. Yerusalem menjadi bagian dari tanah kaum Muslimin sejak Umar Bin Khattab membebaskan kota
tersebut dan aku tidak akan pernah mau menanggung beban sejarah memalukan dengan menjual
tanah suci kepada Yahudi dan mengkhianati tanggung jawab dan kepercayaan dari kaumku.
Silahkan Yahudi itu menyimpan uang mereka, dan Utsmani tidak akan pernah mau berlindung di balik
benteng yang dibuat dari uang musuh­musuh Islam”. Beliau juga meminta mereka agar pergi dan
tidak pernah kembali menemui beliau lagi. Peristiwan ini semakin mengentalkan pandangan dalam diri
Hertzl, bahwa Abdul Hamid adalah seorang sultan yang sangat jahat, busuk, dan tidak dapat
mempercayai seorang pun.

Peristiwa tersebut seakan menjadi tonggak bersatunya kekuatan Yahudi dengan zionis, melalui
peristiwa tersebut juga peranan mereka dalam mengakhiri Daulah Utsmaniyah dimulai. Uang dari
kaum Yahudi menjadi aset sangat penting untuk membiayai penghancuran Daulah Utsmani, karena
mereka sangat berkepentingan untuk membangun negara zionis di tanah Palestina, negara yang
Yahudi benar­benar menginginkannya sehingga mereka mau untuk mempertaruhkan apapun untuk
terwujudnya negara zionis itu.

Kegagalan Herzl dan Eksploitasi Minoritas Non­Muslim Melawan Khalifah

Yahudi tidak menyerah setelah ditolak mentah­mentah oleh Abdul Hamid II. Pada tahun yang sama,
1901, pendiri gerakan zionisme, theodore hertzl mengunjungi Istambul dan berusaha bertemu kembali
dengan Abdul Hamid II, dan sekali lagi Abdul Hamid II menolak untuk bertemu dengannya dan
mengutus perdana menteri “Sampaikan kepada Dr. Hertzl untuk tidak mengambil langkah lebih jauh
lagi dalam proyeknya ini. Aku tidak bisa memberikan sejengkal pun tanah dari wilayah Palestina
karena memang tanah ini bukan milikku, tanah ini milik Daulah Islam. Daulah Islam yang telah
mengobarkan jihad demi untuk penggabungan wilayah ini, dan mereka telah mengaliri tanah ini
dengan darah mereka. Silakan Yahudi menyimpan kembali uang mereka. Jika Khilafah Islam suatu hari
nanti berhasil dihancurkan, mereka boleh mengambil tanah palestina dengan gratis. Tapi, selama aku
masih hidup, aku lebih memilih menusukkan pedang ke dalam tubuhku daripada harus melihat tanah
Palestina dipotong dan dilepaskan dari Khilafah Islam. Ini adalah suatu hal yang tidak akan terjadi. Aku

http://fauzimubarok.multiply.com/journal/item/32  | Biografi Sultan Abdul Hamid II  3 
tidak akan memulai memotong tubuh sendiri sementara ia masih hidup”. Sejak saat itu, Yahudi mulai
melirik kerjasama dengan Inggris dalam meneruskan ‘proyek’ yang masih setengah jalan ini.

Perancis dan Inggris sebenarnya sudah sangat siap untuk segera ‘menyelesaikan’ Khilafah Utsmaniyah.
Namun kata­kata Jihad masih cukup sakti untuk menjadikan Eropa gemetar. Eropa masih takut
dengan ‘sickman of Europe’ ini. Inggris masih menggunakan cara lama, yaitu adu domba. Inggris
mendukung gerakan­gerakan seperti gerakan Turki Muda dan Pemuda Arabia. Turki Muda telah
tumbuh dengan alami di Turki. Inggris hampir tidak perlu melakukan usaha apapun lagi, karena
organisasi ini sudah melakukan semua kemauan Inggris. Mereka mulai menghembuskan semangat
nasionalisme dan prasangka negatif dalam negeri Daulah Turki. Sebagai respons, suku Arab, Armenia,
Kurdi, dan suku­suku yang lain mulai mengembangkan semangat kesukuan mereka. Kaum Muslimin
saat itu sudah mulai merasa menjadi bagian dari suku mereka daripada menjadi bagian dari Khilafah.
Dan sejak saat itulah detik­detik keruntuhan Khilafah sudah mulai dapat dihitung. Dalam
perkembangan selanjutnya, Arab berkolaborasi dengan Inggris dan Perancis mengobarkan revolusi
melawan Khilafah Utsmaniyah. Namun, kemudian Arab dikhianati oleh Inggris dan Perancis, dan
akhirnya wilayah mereka pun diinvasi oleh Inggris dan Perancis.

Abdul Hamid II merasakan dengan jelas perkembangan ini. Beliau kemudian membangun banyak
institusi dan pelayanan kepada publik seperti pasar Hamedi, istana AlAzm di Damaskus. Beliau juga
banyak membangun masjid, WC umum, pusat perdaganan, dan rumah sakit di Kairo, Damaskus, Sana,
Baghdad, dan kota­kota besar lainnya. Beliau juga bekerja dalam pengembangan sisdiknas. Khilafah
Utsmani berusah meniru sistem pendidikan Eropa, namun semuanya gagal kecuali dalam bidang
Kedokteran dan Militer. Tentara Khilafah Utsmani tidak selemah seperti yang dibayangkan mayoritas
orang pada saat ini. Artileri Utsmani, merupakan yang terkuat di dunia pada saat itu. Angkatan
Lautnya kuat dan berada pada posisi ketiga terkuat di dunia setelah Inggris dan Perancis. Dalam sektor
industri, perkembangan juga terjadi. Seperti industri senjata dan gula. Sistem transportasi (jalan umum)
juga diperbaiki, pelabuhan dilebarkan. Banyak koran berkembang saat itu, dan tercatat lebih dari 1300
koran dan majalah ada sebelum perang Mesir, Irak, dan Siria. Untuk sepintas, terlihat bahwa ‘Sickman
of Europe’ ini akan segera bangkit.

Namun dunia barat dan kroni­kroninya memang telah benar­benar bertekad untuk segera menghabisi
Khilafah Islam ini dengan segala cara. Mereka mengeksploitasi minoritas non­muslim untuk
menciptakan kekacauan dan instabilitas, terutama warga kristen. Barat selalu mengintervensi
kebijakan politik dalam negeri Utsmani dengan mengatasnamakan ‘melindungi minoritas Kristen’. Barat
juga terus mengkampanyekan pengajaran kristen di dunia Islam melalui pembangunan sekolah­
sekolah kristen dan gereja. Targetnya adalah pemurtadan dan penyebaran ide dan kebiasaan non­
Islam. Banyak media cetak juga didirikan dengan maksud serupa untuk meracuni pikiran kaum
muslimin dan menyebarkan ide­ide destruktif dan kesalahan konsep di antara mereka. Barat juga
berkeinginan untuk selalu menjadikan Utsmani sibuk dengan konflik dengan minoritas ini. Barat
memprovokasi suku Armenia dan membiayai revolusi mereka menyerang Daulah Utsmani. Inggris
membiayai suku Druz dan perancis membiayai suku Maronite di lebanon. Suku tersebut terlibat dalam
perang besar yang menyita perhatian tentara Utsmani. Masalah juga muncul di antara muslim dan
kristen, hingga suatu ketika masyarakat Muslim di damaskus berkehendak ‘menyapubersih’ kaum
kristen di kota tersebut. Namun tentara Utsmani berhasil mengambil alih keadaan di saat­saat terakhir
sehingga mencegah terjadinya pembantaian. Masa­masa tersebut adalah ketika pertarungan
semakin intensif terjadi antara barat dan konspiratornya melawan pertahanan Abdul Hamid dan kaum
Muslim yang ikhlas bersamanya.

Abdul Hamid II, Berjuang Tanpa Dukungan

Penting untuk dijelaskan mengenai hutang Daulah Utsmani ketika Abdul Hamid II berkuasa, yaitu 2.528
Juta Lira Emas Turki. Ketika beliau dijatuhkan, hutang Turki tinggal 106 juta Lira. Artinya, beliau berhasil
memotong jumlah hutang hingga sekitar 1/20 dari hutang sebelumnya. Namun Turki Muda, yang
berkuasa setelah Abdul Hamid II dengan sukses kembali menaikkan hutang Turki menjadi sekitar 1300%.
Pencapaian tersebut membuktikan bahwa tuduhan Abdul Hamid II gagal melakukan pembangunan
adalah tidak benar. Beliau membuat jalur jalan sepanjang Yaman, Hijaz, Siria, Iraq, dan Turki. Kemudian
menghubungkan dengan Iran dan India. Dengan managementnya, beliau berhasil mengembalikan

http://fauzimubarok.multiply.com/journal/item/32  | Biografi Sultan Abdul Hamid II  4 
biaya pembangunan tersebut hanya dalam waktu dua tahun karena ekstensifikasi penggunaan jalur
tersebut untuk jamaah haji.

Abduh Hamid II menyadari bahwa satu­satunya harapan bagi kaum Muslimin adalah hanya dengan
membentuk satu kesatuan Islam. Abdul Hamid II menyadari bahwa barat sedang berusaha untuk
memecah kekuasaan Islam dan kemudian mendekati setiap pecahannya satu­per satu sesuai dengan
kepentingan mereka. Satu­satunya jalan untuk mencegah hal ini adalah dengan kesatuan ummat.
Abdul Hamid II memutuskan bahwa Khilafah Ustmani merupakan satu­satunya kepemimpinan bagi
Dunia Islam. Kemudian beliau dapat mempengaruhi pergerakan muslim di India dan Pakistan yang
kemudian pergerakan mereka membuat Inggris tersibukkan di daerah tersebut. Hal yang sama juga
terjadi pada muslim di rusia selatan (sekitar chechnya saat ini). Mereka mampu memberikan pukulan
kepada tentara Rusia di daerah tersebut. Namun hasil­hasil tadi, tetap tidak bisa menjadikan Abdul
Hamid gembira. Beliau menyebutkan dalam catatan hariannya bahwa seolah­olah saat itu ada
dinding yang sedang jatuh di kepalanya. Beliau merasa sendirian dan tidak bisa melawan musuh­
musuh negara sendirian pula. Atas dasar ini, beliau menjalin persekutuan dengan Jerman. Namun
sayang, sepertinya hal tersebut sulit dilakukan karena Jerman meminta imbalan yaitu mendapat
bagian dari wilayah kekuasaan Utsmani. Sultan merasa bahwa perang besar akan segera terjadi. Dan
nampak jelas, bahwa kekuasaan Turki yang tersisa sajalah yang akan melakukan perlawanan.

Abdul Hamid II berfikir bahwa harus ada sesuatu yang ‘besar dan kuat’ untuk dapat membangkitkan
perasaan persatuan kaum muslimin di seluruh dunia. Akhirnya pada tahun 1900 beliau memutuskan
untuk membangun jaringan rel kereta api sepanjang Hijaz. Jaringan tersebut membentang dari
Damaskus ke Madinah dan dari Aqaba ke Maan (India). Jalur tersebut mensimbolkan kesatuan ummat,
dimana seluruh Muslim menggunakan jalur tersebut untuk melaksanakan haji. Mereka merasakan
bahwa Khilafah Utsmani berusaha merekatkan kembali hubungan khalifah dengan ummat dengan
jalur kereta api dan jalur jalan sepanjang hijaz dan timur tengah. Kaum muslimin mulai menunjukkan
rasa terima kasih dan penghargaan kepada Khilafah. Jalur kereta api tersebut dioptimalkan fungsinya
untuk menghubungkan antar wilayah Daulah dan pergerakan pasukan Utsmani. Abdul Hamid II juga
mengkampanyekan kesatuan ummat ke berbagai wilayah, seperti wilayah selatan russia, India,
Pakistan dan Afrika. Beliau mulai mengundang banyak sarjana dari Indonesia, Afrika, dan India ke Turki
sebagai bagian dari proyek pembangunan institusi pendidikan dan pembangunan masjid­masjid di
seluruh wilayah Daulah.

Barat kemudian segera bereaksi dengan melancarkan provokasi kepada penduduk Tunissia agar
mereka melakukan revolusi kepada Daulah (1877). Tahun 1881 Perancis berhasil menguasai Tunissia,
Inggris menguasai Mesir tahun 1882, kemudian belanda menguasai Indonesia, Russia menguasai Asia
Tengah, Inggris semakin mencengkeramkan kukunya di India dan Sudan. Invasi barat tersebut
sedemikian melemahkan kondisi dalam negeri Daulah, sehingga pada tanggal 27 April 1909, 240
anggota senat Utsmani—di bawah tekanan dari Turki Muda—yang setuju penggulingan Abdul Hamid II
dari kekuasaannya. Senator sheikh Hamdi Afandi Mali mengeluarkan fatwa tentang penggulingan
tersebut, dan akhirnya disetujui oleh anggota senat yang lain. Fatwa tersebut :

"If the Imam of the Muslims took the important religous issues from the legislative books and collected
those books, wasted the money of the state and engaged in agreements that contradicted the Islamic
Law, killed, arrested, exiled the people for no reason, then promised not to do it again and still did it to
harm the conditions of muslims all around the Islamic world then this leader is to be removed from
office. If his removal will bring better conditions than his staying, then he has the choice of resigning or
being removed from office." The Sheikh Of Islam Mohammad Dia' Aldin Afandi

Fatwa tersebut terlihat sangat aneh dan setiap orang yang mengetahui perjuangan Abdul Hamid II
dapat melihat bahwa fatwa tersebut bertentangan dengan fakta kebijakan dan tindakan beliau.
Kemudian Perdana Menteri Taufiq Pasha diminta untuk memberitahukan fatwa tersebut kepada Abdul
Hamid II, namun beliau menolaknya. Akhirnya disepakati 4 orang yang akan memberitahukan fatwa
tersebut, yaitu Aref Hikmat, Aram Afandi (Armenia), As’ad Tobatani, dan Emanuel Qrasow (Yahudi).
Mereka memasuki kantor kekhilafahan dan menemui Abdul Hamid II yang berdiri dengan tenang. Aref
Hikmat membacakan fatwa tersebut kepada Abdul Hamid II, kemudian As’as Tobatani mendekati
Abdul Hamid dan berkata “Negara telah memecat anda”. Spontan Abdul Hamid menjadi marah dan
berkata “Negara telah memecatku, itu tidak masalah,.... namun mengapa engkau membawa serta

http://fauzimubarok.multiply.com/journal/item/32  | Biografi Sultan Abdul Hamid II  5 
Yahudi itu masuk ke kantor Khilafah?” sambil beliau menunjuk Qrasow. Jelas terlihat bahwa saat
tersebut adalah saat pembalasan paling dinanti oleh Yahudi, dimana Abdul Hamid II yang telah
menolak menjual Palestina pada mereka, telah mereka tunjukkan di depan muka Abdul Hamid II
sendiri bahwa mereka turut ambil bagian dalam penggulingan beliau dari kekuasaan. Mendung
menggelayuti wajah Abdul Hamid II dan wajah Khilafah Islamiyah.

Sultan dan 4 orang yang menyampaikan fatwa pemberhentian beliau

Setelah pemberhentian Abdul Hamid II, banyak penulis mulai menulis buku yang menyerang beliau
dan pendukung­pendukung beliau. Salah satunya adalah John Haslib. Bukunya berjudul “Sultan
Merah” menjadi sangat terkenal dan diterjemahkan di banyak bahasa seperti Arab dan Turki. Sebuah
buku berbahasa Turki, berjudul "iki me vrin perde arkasi ­ yazan : nafiz tansu" karangan Ararat Yayinevi
juga menjadi bagian propaganda kebencian kepada Abdul Hamid II yang semakin menjadikan
Daulah Utsmani tenggelam dalam dan semakin dalam lagi hingga pada nantinya Turki Muda tampil
menjadi “pahlawan”. Juga ada lagi seorang penulis Arab Kristen bernama Georgy Zay dan yang
menulis dalam bukunya “Kisah­kisah Sejarah Islam – Revolusi Utsmani”.

Buku­buku tersebut tidak lain hanyalah kumpulan kebohongan­kebohongan yang ditulis oleh orang­
orang yang memang telah amat sangat membenci Islam dan kaum muslimin. Buku­buku tersebut
menggambarkan Sultan Abdul Hamid II sebagai seseorang yang tenggelam pada kesenangan
duniawi seperti wanita dan minuman keras, tiran yang ganas dan tanpa kenal ampun terhadap
musuh­musuh politik dan rakyatnya. Namun, kebohongan ini tidak pernah tegak karena kebenaran
selalu membuktikan sebaliknya.

Hingga pada akhirnya, setelah Abdul Hamid II, muncullah khalifah­khalifah yang lemah. Mereka tidak
lagi mampu mempertahankan Negara dan mereka dengan mudahnya kehilangan kekuasaan. Persis
seperti prediksi Sultan Abdul Hamid II, Perang Dunia I terjadi dan Utsmani terpecah belah. Orang­orang
Arab melakukan revolusi di Hijaz dengan bantuan Inggris dan Perancis, yang kemudian Inggris dan
Perancis mengkhianati Arab, dan menjadikan mereka kaki tangan. Inggris dan Perancis memaksa
mereka menyerahkan Palestina kepada Yahudi. Saying sekali, … andai saja mereka mendengarkan
Abdul Hamid II.

Kemudian Turki Muda berhasil mendapat kekuasaan atas Turki, dan akhirnya Mustafa Kamal
menghapuskan Khilafah Islamiyah pada tahun 1924. Tahun itu adalah tahun berakhirnya
kepemimpinan tunggal kaum muslimin yang tegak sejak 1300 tahun yang lalu. Misi barat telah berhasil
dengan gemilang.

Hari ini, kaum muslimin mulai tersadarkan dengan abu perang Arab­Israel tahun 1967, dengan abu
perang bosnia, Chechnya, Kashmir. Kaum muslimin mulai menyadari bahwa mereka tidak mungkin
tegak berdiri tanpa kesatuan dan keterikatan kepada Islam. Kaum muslimin mulai kembali kepada
Islam. Setelah beberapa tahun, masjid­masjid Istanbul mengumandangkan adzan dengan bahasa
Turki, kini mereka kembali mengumandangkan adzan dengan lafadz “Allahu Akbar” yang jelas. Dan
barat­pun, mulai tersadar kembali akan geliat Islam.

Di akhir tulisan ini, marilah kita membaca al­Fatihah dan memanjatkan doa kepada Sultan Abdul
Hamid II dan seluruh kaum muslimin yang mendedikasikan hidup mereka untuk perjuangan
melanjutkan kembali kehidupan Islam. Harapan penulis, dengan secarik tulisan ini dapat memberikan
gambaran yang lebih jelas dan kuat akan realitas kesatuan ummat. Semoga Allah SWT segera
menyatukan kaum muslimin dan mengampuni dosa dan kesalahan Abdul Hamid II dan seluruh kaum
muslimin.

http://fauzimubarok.multiply.com/journal/item/32  | Biografi Sultan Abdul Hamid II  6