Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN PUSTAKA

Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk pada
retina (makula lutea atau bintik kuning). Pada kelainan refraksi terjadi ketidak
seimbangan sistem optik pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur.
Pada mata normal kornea dan lensa membelokkan sinar pada titik fokus yang
tepat pada sentral retina. Keadaan ini memerlukan susunan kornea dan lensa yang
sesuai dengan panjangnya bola mata. Pada kelainan refraksi sinar tidak dibiaskan
tepat pada bintik kuning, akan tetapi dapat di depan atau di belakang bintik kuning
dan malahan tidak terletak pada satu titik yang tajam. Kelainan refraksi dikenal
dalam bentuk miopia, hipermetropia, astigmat, dan presbiopi (Vaughn,2000).
Hipermetropia adalah keadaan mata yang tidak berakomodasi memfokuskan
bayangan di belakang retina. Hipermetropia terjadi jika kekuatan yang tidak
sesuai antara panjang bola mata dan kekuatan pembiasan kornea dan lensa lemah
sehingga titik fokus sinar terletak di belakang retina. Hal ini dapat disebabkan
oleh penurunan panjang sumbu bola mata (hipermetropia aksial), penurunan
indeks bias refraktif (hipermetropia refraktif), seperti afakia (tidak mempunyai
lensa) (lyas,!""#). Hipermetropia juga dikenal dengan istilah hyperopia atau
rabun dekat. Pasien dengan hipermetropia mendapat kesukaran untuk melihat
dekat akibat dan akan bertambah berat dengan bertambahnya umur yang
diakibatkan melemahnya otot siliar untuk akomodasi dan berkurangnya
kekenyalan lensa (Vaughn,2000).
$erdasarkan penelitian retrospektif yang dilakukan klinik mata pediatrik di
%umah &akit 'ayo, (ahore pada pasien yang datang pada bulan 'ei 200) sampai
dengan *pril 200+ didapatkan kelainan refraksi yang terjadi adalah Hipermetropi
sebanyak ,2-, 'iopi sebanyak !!-, dan *stigmatisma sebanyak .-
($ile,200.). $erdasarkan rekam medis di poli mata %&/0 1ombang, dilaporkan
bah2a jumlah kasus kelainan refraksi khususnya hipermetropi pada tahun 200!
sebanyak 23 kasus, pada tahun 2002 sebanyak .# kasus, pada tahun 200#
sebanyak #) kasus, pada tahun 200) sebanyak ), kasus, pada tahun 2003
sebanyak +! kasus, dan pada tahun 200. sebanyak +, kasus. 4ujuan dari
pembuatan referat ini adalah untuk mengetahui definisi, fisiologi penglihatan
normal dan hipermetropia, etiologi, klasifikasi, dan bagaimana mendiagnosa,
bagaimana melakukan terapi dengan 5epat dan tepat, men5egah komplikasi,
sehingga pemahaman dan pengetahuan penyakit ini sangat diperlukan.
Hipermetropia adalah keadaan mata yang tidak berakomodasi memfokuskan
bayangan di belakang retina. Hipermetropia terjadi jika kekuatan yang tidak
sesuai antara panjang bola mata dan kekuatan pembiasan kornea dan lensa lemah
sehingga titik fokus sinar terletak di belakang retina. Hal ini dapat disebabkan
oleh penurunan panjang sumbu bola mata (hipermetropia aksial), penurunan
indeks bias refraktif (hipermetropia refraktif), seperti afakia (tidak mempunyai
lensa) (lyas,!""#).
FISIOLOGI PENGLIHATAN
'ata dapat dianggap sebagai kamera yang mempunyai kemampuan menghasilkan
bayangan yang di biaskan melalui media refraksi yaitu kornea, akuos humor,
sistem diafragma yang dapat berubah6ubah (pupil), lensa, dan korpus 7itreus
sehingga menghasilkan bayangan terbalik yang diterima retina yang dapat
disamakan dengan film. &usunan lensa mata terdiri atas empat perbatasan refraksi8
(!) perbatasan antara permukaan anterior kornea dan udara, (2) perbatasan antara
permukaan posterior kornea dan udara, (#) perbatasan antara humor a9ueous dan
permukaan anterior lensa kristalinaa, dan ()) perbatasan antara permukaan
posterior lensa dan humor 7itreous. 'asing6masing memiliki indek bias yang
berbeda6beda, indek bias udara adalah !, kornea !.#,, humor a9ueous !.##, lensa
kristalinaa (ratarata) !.)0, dan humor 7itreous !.#). &elanjutnya bayangan
tersebut akan diteruskan oleh saraf opti5 (: ) menuju korteks serebri (pusat
penglihatan) dan tampak sebagai bayangan tegak (;uyton,!"".).
Pada keadaan normal(<metropia) 5ahaya berasal dari jarak tak berhingga atau
jauh akan terfokus pada retina, demikian pula bila benda jauh tersebut didekatkan,
hal ini terjadi akibat adanya daya akomodasi lensa yang memfokuskan bayangan
pada retina. 1ika berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbedabeda akan
terfokus pada retina. *komodasi adalah kemampuan lensa di dalam mata untuk
men5embung yang terjadi akibat kontraksi otot siliar. *kibat akomodasi, daya
pembiasan lensa yang men5embung bertambah kuat. Kekuatan akan meningkat
sesuai dengan kebutuhan, makin dekat benda makin kuat mata harus
berakomodasi. %efleks akomodasi akan bangkit bila mata melihat kabur dan pada
2aktu melihat dekat. $ila benda terletak jauh bayangan akan terletak pada retina.
$ila benda tersebut didekatkan maka bayangan akan bergeser ke belakang retina.
*kibat benda ini didekatkan, penglihatan menjadi kabur, maka mata akan
berakomodasi dengan men5embungkan lensa. Kekuatan akomodasi ditentukan
dengan satuan 0ioptri (0), lensa ! 0 mempunyai titik fokus pada jarak ! meter
('ontgomery,2003).
Penglihatan binokular yang normal adalah penglihatan maksimal yang di5apai
seseorang pada penglihatan dengan kedua mata dan bayangan yang diterima
setajam6tajamnya dapat diolah oleh susunan syaraf pusat menjadi satu bayangan
tunggal ( fusi ) dan berderajat tinggi.( stereoskopis ). =leh karena terpisahnya
kedua mata lebih dari 2 in5i di dalam bidang horisontal, maka kedua bayangan
retina yang terbentuk menjadi sedikit berbeda. Hal ini menyebabkan disparitas
bayangan retina yang akan memberi data penting untuk persepsi kedalaman
penglihatan binokular. *gar terjadi penglihatan binokular yang normal, maka
diperlukan persyaratan sebagai berikut 8 fungsi tiap mata harus baik dimana
bayangan benda jatuh tepat pada masing6masing bintik kuningnya. 4idak terdapat
aniseikonia. >ungsi dan kerja sama yang baik dari seluruh otot penggerak bola
mata, dan susunan syaraf pusat mempunyai kemampuan untuk mensitesa kedua
bayangan yang terbentuk tersebut menjadi bayangan tunggal (;uyton,!"".). $ila
terjadi sedikit saja penyimpangan di atas,akan terjadi penurunan kualitas
penglihatan binokular .&ebagai salah satu syarat utama untuk terjadinya
penglihatan binokular , tajam penglihatan harus baik yaitu ( +?+ ) dengan atau
tanpa koreksi. *pabila terjadi gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi,
dimana bayangan jatuh tidak tepat di bintik kuning akan terjadi gangguan
penglihatan bino5ular (;uyton,!"".).
KELAINAN REFRAKSI
Kelainan refraksi adalah keadaan tidak seimbangnya pembiasan pada media
refraksi sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. &inar tidak dibiaskan tepat
pada retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada
satu titik fo5us (;uyton,!"".). *metropia adalah suatu keadaan mata dengan
kelainan refraksi sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan
fokus yang tidak terletak pada retina. *metropia dapat ditemukan dalam bentuk
kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmat
(lyas,!""#).
Hipermetropia juga dikenal dengan istilah hyperopia atau rabun dekat. Pasien
dengan hipermetropia mendapat kesukaran untuk melihat dekat akibat dan akan
bertambah berat dengan bertambahnya umur yang diakibatkan melemahnya otot
siliar untuk akomodasi dan berkurangnya kekenyalan lensa (Vaughn,2000).
EPIDEMIOLOGI
Hipermetropia merupakan anomali perkembangan dan se5ara praktis semua mata
adalah hipermetropia pada saat lahir. ,0- hingga "0- mata didapati
hipermetropia pada + tahun pertama kehidupan. Pada usia !3 tahun, sekitar ),-
mata didapati tetap hipermetropik. Pada masa remaja, derajat hipermetropia akan
berkurang karena panjang a@ial mata bertambah sehingga periode pertumbuhan
berhenti. Pada masa itu, hipermetropia yang menetap akan menjadi relatif konstan
sehingga mun5ulnya presbiopia. Pada studi yang dilakukan di *merika, ! dari ,
anak (!2,,-) antara usia + hingga !. tahun hiperopia, studi yang dilakukan di
Polandia mendapati ! dari + anak (2!-) antara usia 3 hingga !, tahun hiperopia,
studi di *ustrali mendapati ) dari !0 anak (#,,)-) antara usia ) hingga !2 tahun
hiperopia, studi di $raAil mendapati . dari !0 anak (.!-) dalam satu kota
hiperopia (4iels5h,!""0).
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya kelainan refraksi hipermetropi adalah panjang a@ial
(diameter bola mata) mata hipermetropia lebih kurang dari panjang a@ial mata
normal, berkurangnya kon7eksitas dari kornea atau kur7atura lensa, berkurangnya
indeks refraktif, dan perubahan posisi lensa (Hartstein,!".!).
KLASIFIKASI
$erdasarkan penyebabnya, dikenal8
!. Hipermetropi sumbu atau hipermetropi aksial. Pada tipe hipermetropia
ini didapatkan keadaan sumbu mata yang terlalu pendek dan ada yang bersifat
kongenital ataupun akuisita (didapat). Kelainan kongenital yang dapat
menyebabkan terjadinya hipermetropi aksial adalah mikroftalmia. Kelainan
akuisita yang menyebabkan terjadinya hipermetropi aksial adalah retinitis
sentralis dan ablasio retina.
2. Hipermetropi refraktif, dimana terdapat indeks bias yang kurang pada
sistem optik mata. Keadaan ini didapatkan pada pasien yang tidak mempunyai
lensa (afakia). Pada penderita 0iabetes 'ellitus mungkin dengan pengobatan
yang hebat, sehingga humor akuos yang mengisi bilik mata, mengandung
kadar gula yang rendah, menyebabkan daya bias berkurang sehingga terjadi
hipermetropia.
#. Hipermetropi kur7atur, dimana kelengkungan kornea berkurang
(aplanatio 5ornea) ataupun kelengkungan lensa yang telah berkurang karena
sklerosis yang laAim terjadi pada usia )0 tahun keatas.
Hipermetropi dikenal dalam bentuk 8
!. Hipermetropi manifes. alah hipermetropi yang dapat dikoreksi dengan
lensa sferis (B) terbesar yang memberikan tajam penglihatan normal sebaik6
baiknya. Hipermetropi ini terdiri atas hipermetropi manifes absolut dan
hipermetropi manifes fakultatif.
Pada hipermetropi manifes fakultatif, kelainan hipermetropi masih dapat
dikoreksi atau diimbangi dengan akomodasi ataupun dengan ka5amata positif.
Pasien yang hanya mempunyai hipermetropi fakultatif akan melihat normal
tanpa ka5amata yang bila diberikan ka5amata positif yang memberikan
penglihatan normal maka otot akomodasinya akan mendapatkan istirahat.
Pada penderita ini, jika diberikan lensa & B 0,+0 maka tajam penglihatan akan
tetap sama atau bahkan bertambah baik. Pada hipermetropi manifes absolut,
keadaan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan
ka5amata positif untuk melihat jauh. $iasanya hipermetropi laten yang ada,
berakhir dengan hipermetropi absolut ini.
Hipermetropi laten. 'erupakan selisih antara hipermetropi total dan
hipermetropi manifes, merupakan kekuatan tonus dari mm. &iliaris.
Hipermetropi 4otal. 'erupakan suatu hipermetropi yang ukurannya
didapatkan sesudah diberikan sikloplegia (preparat medikamentosa yang
bertujuan untuk melemahkan daya akomodasi).
GEJALA DAN TANDA KLINIS
;ejala6gejala dan 4anda6tanda hipermetropia adalah penglihatan dekat kabur,
penglihatan jauh pada usia lanjut juga bisa kabur, asthenopia akomodatif (sakit
kepala, lakrimasi, fotofobia, kelelahan mata), strabismus pada anak6anak yang
mengalami hipermetropia berat, gejala biasanya berhubungan dengan penggunaan
mata untuk penglihatan dekat (5th 8 memba5a, menulis, melukis), dan biasanya
hilang jika kerjaan itu dihindari, mata dan kelopak mata bisa menjadi merah dan
bengkak se5ara kronis, mata terasa berat bila ingin mulai memba5a, dan biasanya
tertidur beberapa saat setelah mulai memba5a 2alaupun tidak lelah, bisa terjadi
ambliopia (Vaughn,2000)
DIAGNOSA
!. *namnesa gejala6gejala dan tanda6tanda hipermetropia.
2. Pemeriksaan =ftalmologi
Visus C tergantung usia dan proses akomodasi dengan menggunakan
&nellen Dhart.
%efraksi C retinoskopi merupakan alat yang paling banyak digunakan
untuk pengukuran objektif hipermetropia. Prosedurnya termasuk statik
retinoskopi, refraksi subjektif, dan autorefraksi.
'otilitas okular, penglihatan binokular, dan akomodasi C termasuk
pemeriksaan duksi dan 7ersi, tes tutup dan tes tutup6buka, tes Hirs5hberg,
amplitud dan fasilitas akomodasi, dan steoreopsis.
Penilaian kesehatan okular dan skrining kesehatan umum C untuk
mendiagnosa penyakitpenyakit yang bisa menyebabkan hiperopia.
Pemeriksaan ini termasuk reflek 5ahaya pupil, tes konfrontasi, penglihatan
2arna, tekanan intraokular, dan pemeriksaan menyeluruh tentang
kesehatan segmen anterior dan posterior dari mata dan adne@anya.
$iasanya pemeriksaan dengan ophthalmoskopi indire5t diperlukan untuk
menge7aluasi segmen media dan posterior (&loane,!".").
PENATALAKSANAAN
&ejak usia + atau 3 tahun, koreksi tidak dilakukan terutama tidak mun5ulnya
gejala6gejala dan penglihatan normal pada setiap mata. 0ari usia 3 atau . tahun
hingga remaja dan berlanjut hingga 2aktu presbiopia, hipermetropia dikoreksi
dengan lensa positif yang terkuat. $isa memakai ka5a mata atau lensa kontak.
Pada pemakaian lensa kontak harus melalui standar medis dan pemeriksaan se5ara
medis. Karena resiko pemakaian lensa kontak 5ukup tinggi. =rthokeratology
adalah 5ara pen5o5okan dari beberapa seri lensa kontak, lebih dari satu minggu
atau bulan, untuk membuat kornea menjadi datar. Kekakuan lensa kontak yang
digunakan sesuai dengan standar. Pembedahan refraktif juga bisa dilakukan untuk
membaiki hipermetropia dengan membentuk semula kur7atura kornea.
'etode pembedahan refraktif termasuk (aser6assisted in6situ keratomileusis
((*&K) sama tujuannya dengan operasi yang lainnya yaitu mengurangi
kelengkungan daripada kornea hanya saja berbeda dalam tehnis, yaitu lebih
sempurna dengan menggunakan tehnis laser se5ara mutlak., (aser6assisted
subepithelial kerate5tomy ((*&<K), Photorefra5ti7e kerate5tomy (P%K) upaya
untuk mengurangi kelengkungan kornea dengan 5ara memotong permukaan depan
kornea. Hal ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut <@5imer (aser.,
Dondu5ti7e keratoplasty (DK) (lyas,!"".).
KOMPLIKASI
Komplikasi dari kelainan refraksi hipermetropi antara lain strabismus,
mengurangi kualitas hidup, dan kelelahan mata (lyas,!"".).
DAFTAR PUSTAKA
*meri5an *5ademy of =phtalmology. $asi5 E Dlini5al &5ien5e Dourse 200#6
200).
&e5tion # C =pti5s, %efra5tion, and Donta5t (enses.
Hartstein 1. %e7ie2 of %efra5tion. &t. (ouis 8 4he DV 'osby
DompanyF!".!.p.!36)+.
;uyton, *rthur D, $uku *jar >isiologi Kedokteran, editor, ra2ati setia2an, <disi
", 1akarta 8 <;D, !"".
Hugh %4, 1ill <K. Gorld blindness8 a 2!st 5entury perspe5ti7e, $r 1 =phthalmol.
200!F ,+8 23!63.
lyas, sidarta, lmu Penyakit 'ata, Detakan ke63, Penerbit *badi 4egal,
1akarta,!""# F 2)+ F .26.#
'ontgomery 4'. *natomy, Physiology E Pathology of the Human <ye. 2003.
4iels5h 1', &ommer *, Gitt K. $lindness and 7isual mpairment in an *meri5an
/rban Population, *r5h =phthalmol. !""0F !0,8 2,36"0.
&loane *lbert <., ;eorge <. ;ra5ia. 'anual of %era5tion, #rd edition. (ittle,
$ro2n and Dompany. /&*. !".".
Vaughan, 0;. *sbury, 4. %iodan6<7a, P. Kelainan refraksi. dalam 8 =ftalmologi
/mum, ed. &uyono 1oko, edisi !), 1akarta, Gidya 'edika, 2000