Anda di halaman 1dari 8

A.

Sejarah
Parent child interaction terapy (PCIT) diperkenalkan pada tahun 1970an oleh
Hanf (1969) kemudian dimodiviksi oleh Eyberg dkk, sebagai cara untuk menterapi
anak dengan perilaku bermasalah yang serius. Anak-anak ini sering digambarkan
negatif, menentang perkataan orangtua, melakukan agresi verbal(memaki), agresi
fisik (seperti memukul),kejam pada biatang, berbohong, melakukan hal berbahaya,dan
masalah hubungan antara orangtua dengan anak. PCIT membahas pola interaksi
negatif orangtua-anak yang berkontribusi terhadap perilaku bermasalah dari anak-
anak (Bell & Eyberg, 2002). Orangtua yang kasar dan menggunakan cara yang negatif
saat berinteraksi dengan anak dan terlalu mengandalkan hukuman dan penyiksaan
secara fisik maka anak-anak beresiko untuk menjadi agresi, dan menentang orangtua
(Kandel 1992).
interaksi antara orang tua dan anak yang negatif akan membuat siklus yang
berbahaya yang dapat meningkat ke hukuman fisik yang berat dan kekerasan fisik.
Perilaku orang tua yang berteriak, mengancam, akan semakin memperkuat perilaku
negatif anak seperti melawan orang tuanya yang selajutnya akan semakin
memperburuk perilaku orang tua yang dapat menyebabkan kekerasan pada anak.
PCIT adalah pendekatan terapi yang berpusat pada keluarga yang terbukti efektif
untuk mengurangi gangguan perilaku pada anak usia 2 sampai 8 tahun. Dalam PCIT
terapis akan mengajarkan pada orangtua atau pengasuh mengenai strategi yang
efektif untuk berinteraksi dengan anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah.
Melalui PCIT orangtua belajar untuk membangun interaksi dengan anak dan
membangun gaya pengasuhan yang lebih efktif dan mampu memenuhi kebutuhan
anak. PCIT telah terbukti mampu utuk mengurangi perilaku anak yang bermasalah
dan meningkatkan kualitas hubungan orangtua dengan anak. Misalnya orangtua
belajar dan mencontohkan pada anaknya cara untuk mengelola emosinya seperti
frustasi dengan begitu akan membentuk suatu hubungan yang positif antara orangtua
dengan anak.
Ciri khas dari PCIT adalah pendekatannya terletak pada tretmen pembinaan
hubungan antara orang tua dan anak. Dengan PCIT Orang tua memperoleh
keterampilan pengasuhan yang lebih efektif, masalah perilaku anak-anak membaik,
dan bersama-sama mereka mengembangkan hubungan yang lebih positif dan penuh
kasih sayang. Sifat afiliatif positif dikembangkan sebagai hasil dari partisipasi dalam
PCIT memperkuat keterikatan dan membangun ketahanan pada keluarga berisiko.
Anak anak yang diasuh dengan menggunakan PCIT biasanya menunjukan
penurunan masalah perilaku dirumah dan di sekolah (Brinkmeyer & Eyberg, 2003).
B. TEORI
PCIT pada saat sekarang ini telah diakui sebagai cara untuk membantu
pengasuh dalam mengasuh anak-anak dengan masalah perilaku dengan meningkatkan
hubungan antara pengasuh dengan anaknya.
PCIT adalah model pelatihan perilaku orangtua. Apa yang membuat PCIT
berbeda dari program pelatihan orangtua lainnya adalah cara keterampilan yang
diajarkan, menggunakan pembinaan langsung dari orang tua dan anak-anak bersama-
sama. Pembinaan hidup memberikan petunjuk langsung kepada orang tua saat mereka
berinteraksi dengan anak-anak mereka. Selama tretmen ini, orang tua dipandu untuk
menunjukkan membangun hubungan disiplin dan keterampilan khusus.

Manfaat dari pelatihan hidup yang signifikan:
Orang tua diberi kesempatan untuk melatih kemampuan yang baru diajarkan.
Terapis dapat memperbaiki kesalahan dan kesalahpahaman di tempat.
Orangtua menerima umpan balik segera.
Orang tua dukungan, bimbingan, dan dorongan yang ditawarkan saat mereka belajar.
Keuntungan pengobatan (misalnya, peningkatan kepatuhan anak) diakui oleh orang
tua "pada saat"-yang mendukung terus menggunakan keterampilan orangtua yang
efektif.

Keterbatasan PCIT
Sementara PCIT sangat efektif dalam menangani beberapa jenis masalah, ada
keterbatasan yang jelas untuk penggunaannya. Untuk populasi berikut, PCIT mungkin
tidak sesuai, atau modifikasi khusus untuk tritmen mungkin diperlukan:
Orangtua yang terbatas atau tidak ada kontak berkelanjutan dengan anak mereka
Orang tua dengan masalah kesehatan mental serius yang mungkin termasuk halusinasi
auditori atau visual atau delusi
Orangtua yang mendengar gangguan dan akan mengalami kesulitan menggunakan
perangkat bug telinga, atau orang tua yang memiliki defisit bahasa ekspresif atau
reseptif signifikan
Orang tua Seksual kasar, atau orang tua terlibat dalam kekerasan fisik sadis, atau
orang tua dengan masalah penyalahgunaan zat

C. Perkembangan

Terdapat beberapa bentuk evidence-based interventions yang terbukti efektif
dalam mengurangi disruptive behavior pada anak .Beragam bentuk yang pernah
dilakukan oleh para terapis baik klinis mau perkembangn yang memiliki fokus
sasaran berbeda, yaitu pada anak, Orang tua dan lingkungan. Pada anak dapat
dilakukan intervensi berupa farmakoterapi ,pelatihan ketrampilan sosial dan
pelatihan ketrampilan atau cognitive behavioral therapy. Intervensi yang
melibatkan orangtua yaitu berupa pelatihan terhadap tingkah laku orangtua dan
interaksi anak . Sedang intervensi di lingkungan dapat berupa terapi keluarga dan
intervensi sekolah (schroender dan Gordon,2002 ;Matthys dan Lockman ,2010 ).

1. Metode Farmakoterapi

Metode Farmakoterapi menggunakan terapi obat-obatan sebagai alat untuk
menurunkan atau menaikan aspek yang diinginkan dari Disruptive behavior
.Meskipun Farmokoterapi menjadi bagian terpenting dalam menangani ini ,namun
obatnya tidak berlisensi . Hal ini juga berefek samping perkembangan biologis
manusia ,hal-hal yang perlu diperhatikan pada metode farmakoterapi,antara lain :
a. Farmakoterapi hanya boleh digunakan saat benar-benar diperlukan .
b. Farmakoterapi tidak boleh berdiri sendiri,melainkan harus menjadi salah satu dari
multiple components dari suatu treatment.
c. Percobaan pengobatan hanya boleh dilakukan jika asesmen terhadap anak dan
keluarga sudah selesai .
d. Perilaku target dan gangguan pada fungsi akademis dan sosial perlu diperjelas .
e. Pengujian efek dari pengobatan terhadap perilaku targeet merupakan hal yang
terpenting,begiitu pula efek sampingnya .

2. Program ketrampilan sosial

Program ini dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa perilaku disruptive
merupakan hasil belajar tingkah laku yang salah dan atau anak belum menguasai
ketrampilan sosial yang dibutuhkan untuk interaksi dengan orang lain . Pelatihan ini
bertujuan untuk memperbaiki tingkah laku yang salah dan melatihkan ketrampilan sosial
yang belum dikuasai anak (Taylor ,Eddy & Biglan,1999 dalam Schoeder dan Gordon
,2002 ).
Walaupun pelatihan ketrampilan sosial telah menunjukkan hasil yang baik
dalam meningkatkan ketrampilan sosial pada anak,namun belum ada bukti signifikan
secara klinis yang menunjukkan bahwa treatmen ini dapat mengubah tingkah laku
disruptive jika dilaksanakan tanpa melibatkan treatment lainnya .

3. Cognitif Behavior Therapy
Anak dengan Disruptive Behavior dapat pula disebabkan kognisi sosial yang
kurang berkembang. Anak-anak tersebut lebih mudah terpancing rangsangan agresif
memiliki rasa bermusuhan yang berlebihan ,kurang empati,kurang dalam memecahkan
maslah sosial ,dan kurang menyadari konsekuensi dari perilaku mereka . Program ini
bertujuan untuk memperbaiki kekurangan dalam kognisi sosial tersebut . Metode ini
fokus pada kognisi anak-anak dan perilaku mereka ,beserta karakteristik lainnya
seperti emosi . Pada cognitive Behavior Therapy (CBT) penanganan didasarkan pada
prenis bahwa pikiran,emosi, dan perilaku terhubung secara resiprokal dan perubahan
pada salah satu akan mempengaruhi lainnya (Gresham dan Lochman,2008, dalam
Matthys dan Lockman, 2010 ) . Metode ini menganut paham bahwa kognisi,emosi dan
persepsi serta pola proses informasi berperan penting dalam perkembangan dan
penurunan masalah perilaku dan adaptasi. Meskipun pelatihan ketrampilan kognitif
tampak meningkatkan ketrampilan sosial-kognitif, namun hanya sedikit bukti yang
menunjukkan efektifitas jangka panjangnya dan mengurangi perilaku antisosial bila
dilaksanakan tanpa melibatkan treatment lainnya (Hudley dkk,1988 dalam Schroeder
dan Gordon, 2002 ) . Hal ini diperkuat pada penelitian Kazdin dan Wessell (2000) dan
Webster Stratton dan Hammond (1997) yang mengindikasikan bahwa pelatihan
ketrampilan kognitif untuk anak dikombinasikan dengan pelatihan manajemen orang
tua lebih berhasil daripada dilaksanakan secara tunggal (dalam Schroeder dan Gordon,
2002 ).
4. Pelatihan perilaku orangtua ( Behavior Parent Training )
Pelatihan behavior Parenting Trainning ini merupakan intervensi psikoterapi yang
bertujuan untuk mengubah interaksi maladaptif orangtua-anak dengan melatih
orangtua untuk menggunakan teknik behavior dalam mengurangi disruptive behavior
anak, dan dalam meningkatkan sociality apporopriate behavior (Matthys dan
Lockman,2010 ) . Teknik didasarkan pada teori belajar, dimana peilaku (behavior B)
berkembang dan dapat diubah dengan fokus pada anteseden (A) dan konsekuensi
(consequense C )(Kazdin,2005 dalam Matthys dan Lockman, 2010 ) . Pelatihan
perilaku orangtua ini berdasarkan asumsi bahwa perilaku anak (normal,menyimpang,
atau mengalami keterlambatan ) terkait dengan peilaku orangtua terhadap anak .Jadi
interaksi orangtua dan anak sangat berperan dalam membentuk perilaku anak . Jadi
interaksi orangtua dan anak sangat berperan dalam membentuk perilaku anak ,karena
anak akan belajar untuk patuh dan self control. Program ini yang difokuskan pada
peningkatan kualitas interaksi orantua dan anak adalah pedekatan yang paling umum
dan sukses untuk menangani disruptive behavior pada anak-anak, dan banyak
orangtua yang sangat puas dengan program ini (brestan& Eyberg,1998; Patterson dkk,
1992 ; Scuhmann Foote,Eyberg,Boggs & Algina1998; Webster-Stratton, 1993 dalam
Schroeder dan Gordon,2002). Program pelatihan ini dikembangkan oleh Hanf(1969)
kemudian dimodifikasi oleh Eyberg dan Koleganya yang lebih dikenal dengan
Parent Child Interaction Therapy (PCIT).
Perilaku disruptive dapat muncul akibat fungsi keluarga yang tidak
berjalan dengan baik (disfunctional families) oleh karena itu yang dapat dilakukan
adalah terapi keluarga yang tujuannya memperbaiki fungsi dalam keluarga . Selain itu
ketika anak dengan disruptive behavior mulai masuk ke lingkungan sekolah ,maka
dibutuhkan penanganan yang melibatkan guru disekolah . Program intervensi di
sekolah dilakukan dengan asumsi anak yang disruptive akan memiliki masalah di
sekolah dan belajar, oleh karena itu dibutuhkan treatment untuk menghindari
kegagalan anak di sekolah sekaligus mengurangi munculnya tingkah laku disruptive.
Hanya saja dari hasil penerapan intervensi sekolah selama ini belum menunjukkan
hasil yang efektif untuk menurunkan perilaku disruptive, meskipun program ini cukup
membantu meningkatkan kemampuan akademik anak (Schroeder dan Gordon, 2002 )
.Kedua bentuk terapi tersebut lebih memfokuskan pada perubahan lingkungan di
sekitar anak, apakah itu di rumah atau di sekolah .

D. Prosedur

PCIT biasanya disediakan dalam 10 sampai 20 sesi, dengan rata-rata 12
sampai 14 sesi, masing-masing berlangsung sekitar 1 sampai 1,5 jam. Kadang-kadang
ada sesi tritment tambahan disesuaikan dengan kebutuhan.
PCIT menggunakan dua tahap dalam menangani:
1. Peningkatan hubungan
2. Disiplin dan kepatuhan
Awalnya terapis membahas prinsip-prinsip dan ketrampilan dalam masing-
masing fase dengan orangtua. Kemudian orangtua berinteraksi dengan anak mereka
dan mencoba untuk menerapkan ketrampilan tertentu. Terapis biasanya mengamai
dari balik cermin satu arah saat berkomunikaasi dengan orangtua, yang memakai
aerphone dengan nirkabel kecil. Perilaku tertentu yang muncul akan dilihat pada
grafik dari waktu kewaktu untuk memberi umpan balik pada orang tua tentang
pencapaian ketrampilan baru dan kemajuan mereka dalam interaksi positif dengan
anak mereka.

Tahap 1: Relationship Enhancement (Anak-Directed Interaksi)
Tahap pertama tretment berfokus pada peningkatan kualitas hubungan antara
orangtua dan anak. Fase ini menekankan membangun dan memelihara hubungan
antara orangtua dan anak. Tahap I sesi yang terstruktur sehingga anak memilih
mainan atau kegiatan, dan orang tua bermain bersama saat sedang dilatih oleh terapis.
Karena orang tua diajarkan untuk mengikuti jejak anak, fase ini juga disebut sebagai
anak diarahkan interaksi (CDI). Selama sesi Tahap I, orang tua diperintahkan untuk
menggunakan penguatan positif. Secara khusus, orang tua dianjurkan untuk
menggunakan keterampilan "PRIDE":
prise (Pujian). Orang tua memberikan pujian untuk perilaku yang tepat untuk anak,
misalnya mengatakan kepada mereka, "Anda membersihkan krayon dengan baik"-
untuk membantu mendorong perilaku dan membuat anak merasa baik tentang
hubungan nya dengan orangtua.
Refleksi. Orangtua mengulangi ulangi apa yang anak katakan untuk menunjukkan
bahwa mereka mendengarkan dan untuk mendorong peningkatan komunikasi.
Imitasi. Orang tua melakukan hal yang sama dengan yang anak lakukan, bahwa
menunjukkan persetujuan dan membantu mengajarkan anak cara bermain dengan
orang lain.
Perilaku Description. Orangtua menggambarkan aktivitas anak (misalnya, "Anda
sedang membangun sebuah menara dengan balok") untuk menunjukkan minat dan
membangun kosa kata.
enjoy Kenikmatan. Orang tua sangat antusias dan menunjukkan kegembiraan tentang
apa yang anak lakukan.

Orang tua dipandu untuk memuji perilaku yang diinginkan, seperti berbagi,
dan mengabaikan perilaku yang tidak diinginkan atau mengganggu, seperti merengek
(kecuali perilaku yang merusak atau berbahaya). Selain itu, orang tua diajarkan untuk
menghindari kritik atau kata-kata negatif seperti-seperti "Tidak," "Jangan," "Stop,"
"Keluar," atau "Tidak" - dan bukannya berkonsentrasi pada arah yang positif. Selain
sesi binaan, orang tua diberi sesi PR dari 5 menit setiap hari untuk berlatih
keterampilan yang baru diperoleh dengan anak mereka. Setelah tingkat keterampilan
orang tua memenuhi kriteria mengidentifikasi program, tahap kedua tretment dimulai.

Phase II: Discipline and Compliance (Parent-Directed Interaction)
Tahap kedua PCIT berkonsentrasi pada membangun pendekatan terstruktur
dan konsisten untuk disiplin. Selama fase ini, juga dikenal sebagai orang tua yang
diarahkan interaksi (PDI), orangtua mengambil memimpin. Orang tua diajarkan untuk
memberikan yang jelas, perintah langsung kepada anak dan memberikan konsekuensi
yang konsisten untuk kedua kepatuhan dan ketidakpatuhan. Prosedur batas waktu
biasanya dimulai dengan orangtua mengeluarkan peringatan pada anak dan pilihan
aksi yang jelas (misalnya, "Taruh mainan Anda atau pergi ke kursi time out") dan
anda dapat mengirim anak ke kursi timeout. Orang tua dilatih dalam penggunaan
keterampilan ini selama situasi bermain di mana mereka harus mengeluarkan perintah
kepada anak mereka dan menindak lanjuti dengan konsekuensi yang sesuai untuk
kepatuhan / ketidakpatuhan. Selain itu, orangtua disediakan dengan strategi untuk
mengelola situasi yang menantang di luar terapi (misalnya, ketika seorang anak
melemparkan kemarahan di toko kelontong atau memukul anak lain). Orang tua juga
diberi pekerjaan rumah dalam fase ini untuk membantu dalam akuisisi keterampilan.