Anda di halaman 1dari 14

1

Cara Pengujian Pemadatan Tanah di Lapangan


A. Pengujian Pemadatan Tanah di Lapangan
Untuk mengontrol atau mengetes kepadatan tanah di lapangan dapat
dilakukan dengan beberapa cara, yaitu diantaranya :
1. Sand Cone
Maksud :
Metode ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam
pelaksanaan pengujian kepadatan di lapangan dari suatu lapisan tanah.
Tujuan :
Tujuan metode ini adalah memperoleh angka kepadatan lapangan (d).
Untuk menghitung nilai kepadata (berat isi kering) tanah di lapangan.
Percobaan ini digunakan untuk menentukan nilai kepadatan tanah asli
maupun tanah hasil suatu pekerjaan pemadatan, pada tanah kohesif
maupun non kohesif.
Ruang lingkup :
Metode pengujian ini meliputi persyaratan, ketentuan-ketentuan
pengujian tanah yang mempunyai partikel berbutir tidak lebih dari 5
cm. Untuk sand cone method, getaran dari peralatan di sekelilingnya
akan memadatkan pasir di dalam lubang, sehingga akan memberikan
volume lubang yang lebih besar dan kepadatan lapangan yang rendah.
Secara garis besar, Sand Cone Methode ini yaitu :
Pasir kering berbutir deragam, jika masing masing dibuat pelan-
pelan volumenya konstan
k

Jika beratnya diketahui maka volumenya dapat dihitung
Tanah galian tidak ada yang boleh yang tercecer
Kemudian timbang berta W dan periksa kadar airnya.
Volume sampel sama dengan volume pasir yamg mengisi lubang
diukur

2



Gambar pengujian dengan sand cone

Perhitungan :
Rumus-rumus yang digunakan, sebagai berikut dibawah ini :
Berat isi pasir menggunakan botol alat :
Isi botol = berat air = (W
2
W
1
) cm
3
Berat isi pasir s = (W
3
W
1
) / (W
2
W
1
) gram
Dimana :
W
1
= berat botol + corong
W
2
= berat botol + corong + air
W
3
= berat botol + corong + pasir
Berat isi pasir menggunakan takaran :
Berat pasir dalam corong : (W
4
W
5
) gram
Berat pasir dalam takaran + corong : (W
11
W
12
)
Berat pasir dalam takaran : W
13
= W
11
W
12
(W
4
W
5
)
Berat isi pasir : p = W
13
/ V
k
dimana :
W
4
= berat botol + corong + pasir (secukupnya)
W
5
= berat botol + corong + sisa pasir
3

W
11
= berat botol + corong + pasir (secukupnya)
W
12
= berat botol + corong + sisa pasir
V
k
= isi takaran
Kepadatan Tanah :
Berat pasir dalam lubang : (W
6
W
7
) (W
4
W
5
) = W
10
gram
Isi lubang = Ve = W
10
/ p
Berat tanah = W
8
W
9
gram
Contoh Perhitungan 1 :
Berat isi pasir dengan botol alat :
Berat botol + corong = W
1
= 2260 gr
Berat botol + corong + air = W
2
= 5817,7 gr
Isi botol + corong kecil = W
2
W
1
= 3557,7 gr
Berat botol + corong + pasir = W
3
= 7810 gr
Berat isi pasir = (W
3
-W
1
)/(W
2
-W
1
) = 1,56
Berat takaran pasir dengan takaran
a. Berat pasir dalam corong
Berat botol + corong + pasir = W
4
= 7520 gr
Berat botol + corong + sisa pasir = W
5
= 4375 gr
Berat pasir dalam corong = W
4
W
5
= 3145 gr
b. Berat pasir dalam takaran
Isi takaran = V
k
= 2016 gr
Berat botol + corong + pasir = W
11
= 7400 gr
Berat botol + corong + sisa pasir = W
12
= 1120 gr
Berat pasir dalam takaran = W
13
= 3135 gr
c. Berat isi pasir = W
13
/V
k
= 3135
Kepadatan tanah
Berat tanah + wadah = W
8
= 2025 gr
Berat wadah = W
9
= 145 gr
Berat tanah = W
9
W
9
= 1880 gr
Berat botol + corong + pasir = W
6
= 7250 gr
Berat botol + corong + sisa pasir = W
7
= 1890 gr
Berat pasir dalam tabung = W
10
= 2215 gr
4

Isi lubang = Ve = 1419,9
Berat isi tanah =
s
= (W
8
-W
9
)/Ve = 1,32
Berat isi kering tanah =
s
/(1+W
c
) = 1,15 gr/cm
3

Contoh Perhitungan 2 :
Berat botol + corong = W
1
= 1010 gr
Berat botol + corong + air = W
2
= 5755 gr
Botol + corong + air = W
3
= 9080 gr
Berat air = W
2
W
1
= 5755 1010
= 4745 gr
Berat pasir = W
3
W
1
= 9080 1010
= 8070 gr
Berat isi pasir = (W
3
-W
1
)/(W
2
-W
1
) = 8070/4745
= 1,7 gr
Pasir dalam corong
Botol + pasir dalam botol = W
4
= 9080 gr
Berat pasir sisa + botol = W
5
= 8540 gr
Berat pasir dalam corong = W
4
W
5
= 540 gr
Kadar air
Berat cawan + tanah basah = W
1
= 62,9 gr
Cawan + tanah kering = W
2
= 50,24 gr
Cawan kosong = W
3
= 14,10 gr
Berat air = W
1
W
2
= 62,9 50,24
= 12,66 gr
Berat tanah kering = W
2
W
3
= 50,24 14,10
= 36,14 gr
Kadar air =[(W
1
-W
2
)/(W
2
-W
3
)]*100%
=(12,66/36,14)*100% = 35%
Berat alat + pasir = W
6
= 2660 gr
Berat tanah = W
7
= 3450 gr


5

Maka, dengan demikian diperoleh :



2. Dynamic Cone Penetration
Maksud dan tujuan :
Pengujian dengan alat Dynamic Cone Penetrometer (DCP) ini
pada dasarnya sama dengan cone penetrometer (CP) yaitu sama-sama
mencari nilai CBR dari suatu lapisan tanah langsung di lapangan.
Hanya saja pada alat Cone Penetrometer dilengakapi dengan poving
ring dan arloji pembacaan, sedangkan pada alat Dynamic Cone
Penetrometer adalah melalui ukuran (satuan) dengan menggunakan
mistar.
Percobaan dengan alat cone penetrometer digunakan untuk
mengetahui CBR tanah asli. Sedangkan percobaan alat dengan DCP
ini hanya untuk mendapat kekuatan tanah timbunan pada pembuatan
badan jalan, alat ini dipakai pada pekerjaan tanah karena mudah
dipindahkan ke semua titik yang diperlukan tetapi letak lapisan yang
diperiksa tidak sedalam pemeriksaan tanah dengan alat sondir.
Hasil yang diperoleh pada percobaan ini dapat dihubungkan
dengan nilai CBR (perbandingan antara beban penetrasi suatu lapisan
tanah atau perkerasan terhadap beban standart dengan kedalaman dan
kecepatan penetrasi yang sama).
6


Gambar alat Dynamic Cone Penetration
7



Gambar bagian bagian dari Dynamic Cone Penetration

Contoh Perhitungan 1 :
8

Proyek : Praktikum Pengujian Tanah Tgl Pengujian : -
Diuji Oleh : -
Lokasi : Politeknik Negeri Pontianak Berat Hammer : 10 Kg
: Sudut Konus : 60
o
Type t (cm) a Type t (cm) a Type t (cm) a Type t (cm) a Type t (cm) a
n D DD SPP n D DD SPP n D DD SPP n D DD SPP n D DD SPP
0 0 0 0,0 0 0 0 0,0 0 0 0 0,0 0 0 0 0,0 0 0 0 0,0
10 7,5 7,5 0,8 10 7 7 0,7 10 5 5 0,5 10 4 4 0,4 10 8 8 0,8
20 19,1 11,6 1,0 20 20 13 1,0 20 15 10 0,8 20 9 5 0,5 20 26 18 1,3
30 37 17,9 1,2 30 33 13 1,1 30 28 13 0,9 30 17 8 0,6 30 43 17 1,4
40 41 4 1,0 40 36,5 3,5 0,9 40 35 7 0,9 40 23,5 6,5 0,6 40 43,5 0,5 1,1
50 43 2 0,9 50 45 8,5 0,9 50 40 5 0,8 50 25,5 2 0,5 50 43,5 0 0,9
Ket :
n : Jumlah Tumbukan
D : Penetrasi
SKALA DYNAMIC CONE PENETROMETER (DCP)
TIMUR UTARA 1 UTARA 2
KM. .. + .. KM. .. + .. KM. .. + .. KM. .. + .. KM. .. + ..
STRUKTURAL NO. T3
BARAT SELATAN
STRUKTURAL NO. T4 STRUKTURAL NO. T5 STRUKTURAL NO. T1 STRUKTURAL NO. T2
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Jumlah Tumbukan Kumulatif
K
e
d
a
l
a
m
a
n

(
c
m
)
2,54
axt
2,54
axt
2,54
axt
2,54
axt
2,54
axt
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Jumlah Tumbukan Kumulatif
K
e
d
a
l
a
m
a
n

(
c
m
)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Jumlah Tumbukan Kumulatif
K
e
d
a
l
a
m
a
n

(
c
m
)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Jumlah Tumbukan Kumulatif
K
e
d
a
l
a
m
a
n

(
c
m
)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Jumlah Tumbukan Kumulatif
K
e
d
a
l
a
m
a
n

(
c
m
)
UTARA 1
CBR = 22 %
CBR = 40 %
CBR = 23 % CBR = 26 %
CBR = 16 %
BARAT SELATAN TIMUR
UTARA 2

9

3. Rubber Balloon Methode
Maksud dan tujuan :
Volume dari lubang tanah yang digali ditentukan dengan volume
air yang mengisi balon karet tipis dan lentur. Balon ini akan
mengembang mengisi lubang tanah yang diuji. Kepadatan basah yang
diuji di lapangan ditentukan dengan membagi massa tanah basah yang
diambil dari hasil galian lubang dengan volume lubang. Kadar air
kepadatan basah ditempat digunakan untuk menghitung kepadatn
kering dan berat kering di lapangan.
Untuk rubber balloon method, kesalahan juga pada penentuan
volume lubang jika material timbunan mengandung kerikil atau
batuan, sehingga dinding balon akan terhalang oleh kerikil atau batuan
tersebut.


10

Perhitungan :
V = (M
2
M
1
) * Vw
Dengan :
V : volume wadah atau cetakan (ml)
M
2
: massa catakan atau wadah plat, kaca, air
M
1
: massa cetakan atau wadah dan plat kaca
V
w
: volume air per gram berdasarkan temperatur (ml/g)





Kepadatan basah tanah di lapangan

Dengan :

wet
= kepadatan basah di tempat (mg/m
3
)
M
wet
= massa tanah berkadar air yg dipindahkan dari lubang uji (kg)
Vh = volume lubang uji (m
3
)


11

Kepadatan kering di tempat terhadap tanah

Dengan :

d
= berat isi kering di lapangan (kN/m
3
)
P
wet
= massa basah di lapangan (Mg/m
3
)

d
= kadar air tanah yang dipindahkan dari lubang uji
Hitung berat isi kering

Dengan :

d
= berat isi kering di lapangan (kN/m
3
)

d
= kepadatan kering di lapangan (Mg/m
3
)

B. Perbedaan Sand Drain dan Vertical Drain
1. Vertical drain
Perbaikan tanah dibutuhkan untuk mempercepat waktu penurunan
konsolidasi. Salah satu cara yang dapat diterapkan untuk mempercepat
waktu penurunan konsolidasi adalah dengan menggunakan pre-fabricated
vertical drain (PVD) dan pre-loading. Dengan memasang vertical drain
yang terbuat dari bahan yang sangat permeable lintasan drainase dapat
diperpendek.
Untuk mengurangi penurunan tanah akibat konsolidasi, maka
pemakaian vertical drain ini umumnya disertai dengan surcharging, yaitu
pemberian beban pre-loading yang besarnya melebihi beban akhir pasca
konstruksi. Setelah konsolidasi mendekati 100% dan dari hasil-hasil
monitoring dengan instrumeninstrumen geoteknik menunjukkan bahwa
air pori sudah berdisipasi serta mencapai keseimbangan dengan baik dan
penurunan sudah mencapai angka yang telah diharapkan, maka urugan
pasir surcharge dapat dipindahkan untuk lokasi lainnya. Setelah
mengalami surcharging dengan vertical drain, maka tanah yang tadinya
berperilaku Normally Consolidated dengan Indeks Kompresi (Cc) yang
12

tinggi akan berubah menjadi tanah yang berperilaku Over Consoli -dated
dengan Indeks Kompresi yang jauh lebih rendah dari harga semula,
sehingga penurunan tanah yang terjadi akibat pembebanan akan menjadi
lebih kecil.


Gambar vertical drain di lokasi penimbunan

Metode tradisional dalam membuat vertikal drain adalah dengan
membuat lubang bor pada lapisan lempung dan mengisi kembali dengan
pasir yang bergradasi sesuai titik. Diameternya sekitar 200600 mm dan
saluran drainase tersebut dibuat sedalam lebih dari 5 meter.
Drainase cetakan dipasang dengan cara menyelipkan drainase
cetakan ke dalam lubang bor atau dengan menempatkannya di dalam
sebuah paksi (mandrel) atau selubung (casing) yang kemudian dipancang
ke dalam tanah atau digetarkan di tanah.
Karena tujuannya adalah untuk mengurangi panjang lintasan
pengaliran, maka jarak antara drainase merupakan hal yang terpenting.
Drainase tersebut biasanya diberi jarak dengan pola bujur sangkar atau
segitiga.
13


Gambar pola segitiga dan pola bujur sangkar

Prefabricated vertical drain (PVD) digunakan untuk mempercepat
waktu konsolidasi. PVD ini dipasang sepanjang tanah lempung lunak dari
permukaan tanah. PVD dipasang di seluruh area dengan spasi tertentu
sehingga konsolidasi arah horizontal yang terjadi lebih dominan
dibandingkan dengan konsolidasi arah vertikal.
Prefabricated Vertical Drain (PVD) adalah perbaikan tanah untuk
mempercepat proses konsolidasi di mana besar penurunan tanah adalah
tetap. Besarnya penurunan tanah dengan PVD lebih kecil adalah karena
adanya gain strength akibat penimbunan yang dilakukan dalam beberapa
tahap. Nilai Factor Safety pada akhir konstruksi timbunan menjadi lebih
kecil dibandingkan kondisi awal sebelum ada timbunan.

Gambar vertical drain
14


2. Sand drain
Prinsip kerja metode tersebut adalah dengan mempercepat aliran air/
laju konsolidasi lempung jenuh dengan menggunakan drainase vertikal
sehingga diperoleh lintasan pengaliran dalam lempung. Konsolidasi
dengan metode ini memperhitungkan pengaliran horizontal radial yang
menyebabkan disipasi air pori lebih cepat. Sand drain dilakukan dengan
membuat lubang bor pada lapisan lempung dan diisi dengan pasir dengan
gradasi tertentu.

Beri Nilai