Anda di halaman 1dari 5

Golput Pilkada Karanganyar Mencapai 30 Persen

Jum'at, 31 Oktober 2008 - 20:32 wib

KARANGANYAR - Jumlah angka golput dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Karanganyar


ternyata cukup tinggi. Dalam rapat pleno terbuka hasil perhitungan suara manual yang
digelar di kantor KPU Karanganyar, tercatat angka golput mencapai 30,06 persen dari
jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 657.503 orang.

"Jumlah angka golput mencapai 197.668 orang atau 30,06 persen dari DPT sebanyak
657.503 pemilih. Sedangkan jumlah pemilih yang menggunakan hak suaranya tercatat
459.836 orang atau 69,94 persen," ujar Ketua KPU Karanganyar Sutopo Jumat
(31/10/2008).

Sementara, dari hasil rekapitulasi suara manual yang dilakukan KPU, pasangan Rina
Iriani-Paryono dengan nomor urut tiga, dinyatakan unggul dengan mendapatkan suara
sebanyak 277.881 atau 62,28 persen. Disusul pasangan nomor urut dua, Juliatmono-
Sukismiyadi mendapatkan 161.013 suara atau 36,08 persen.

Sementara peringkat bontot dihuni pasangan nomor urut satu, Romdloni-Silo Hadi
Rahtomo yang mendapatkan 7.319 suara atau hanya 1,64 persen. Selanjutnya, KPU
Karanganyar memberikan tenggang waktu tiga hari masa sangah kepada pasangan calon
yang belum puas dengan hasil perhitungan suara.

"Tahapan berikutnya, KPU akan segera menyerahkan berkas dan berita acara perhitungan
ke DPRD untuk dilakukan pelantikan," tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Penjabat sementara Bupati Karanganyar Djarot Priyanto Nugroho


mengatakan, tingginya angka golput disebabkan banyak warga Karanganyar yang
merantau ke luar daerah.
news.okezone.com

BANYUWANGI - Golongan putih (Golput) di Jawa Timur ternyata tidak mau ambil
peduli dengan hiruk pikuk putaran kedua Pilkada Jawa Timur. Setelah pada putaran
pertama berhasil memenangkan perolehan suara sebesar 40,59 persen, kali ini Golput
bertambah menjadi 50 persen.

Berdasarkan rekapitulasi suara yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU)
Banyuwangi, Sabtu (8/11/2008), menyebutkan suara yang tidak sah sebesar 16.333 suara.
Suara tidak sah sebanyak 16.333.

Dibandingkan putara pertama, jumlah golput dalam pilgub putaran terakhir ini bertambah
lebih dari 50 persen dari total pemilih 1.300.999 jiwa yang tercatat dalam Daftar Pemilih
Tetap (DPT) Banyuwangi.

Seperti diberitakan, angka golput pada putaran pertama Pilkada Jawa Timur lalu,
mencapai 37, 5 persen dari total pemilih 1.294.266 jiwa.
Sementara hasil rekapitulasi manual yang dilakukan KPU Banyuwangi menyebutkan,
pasangan Kaji unggul dengan 335.334 suara, sedangkan Karsa 329.675 suara.

SEMARANG �- Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Jateng Senin


(30/6/2008) menetapkan pasangan Bibit Waluyo- Rustriningsih sebagai Gubernur dan
Wakil Gubernur Jateng terpilih periode 2008-2013.

Berdasarkan perhitungan akhir KPUD Jateng, pasangan Bibit-Rustri menang mutlak


dengan 6.084.261 suara atau 43,44% dari suara yang sah. Urutan kedua ditempati
Bambang Sadono-Muhammad Adnan (Partai Golkar) dengan 3.192.093 suara atau
22,79%, disusul Sukawi Sutarip-Sudharto (PD dan PKS) dengan 2.182.102 suara atau
15,58%.

Urutan keempat ditempati pasangan Muhammad Tamzil-Rozaq Rais dengan 1.591.243


suara atau 11,36% (PPP-PAN),dan yang terakhir pasanganAgus Soeyitno-Kholiq Arif
(PKB) dengan 957.343 suara atau 6,83%. "Karena perolehan suara pasangan Bibit
Waluyo-Rustriningsih lebih dari 30%, pasangan ini terpilih menjadi pemenang.

Jadi tidak ada putaran kedua," jelas Ketua KPUD Jateng Fitriyah. Sementara itu, jumlah
suara tidak sah sebesar 1.109.348. "Sehingga jumlah masyarakat Jateng yang sah
14.007.042 suara." Dia menambahkan, jumlah daftar pemilih tetap Pilgub Jateng 2008
sebanyak 25.861.234."Sementara angka golput dalam pilgub mencapai
10.739.152atau45,84%.

" Gubernur Ali Mufiz menilai tingginya angka golput tidak berpengaruh terhadap
keabsahan pilgub. Sebab, penghitungan suara berdasarkan jumlah suara yang sah.
Menurutnya, tingginya angka golput disebabkan beberapa hal, di antaranya pencoblosan
pada 22 Juni 2008 bersamaan dengan awal libur sekolah sehingga banyak keluarga
berlibur.

"Tingginya golput menjadi kajian yang menarik untuk diketahui penyebabnya, sehingga
di masa mendatang tingkat partisipasi pemilih bisa ditingkatkan," tambahnya. Sementara
itu, Bibit Waluyo berjanji akan merangkul rival-rivalnya dalam pilgub untuk bersama-
sama membesarkan Jawa Tengah.

"Kami akan bekerja sama dengan calon-calon yang lain. Kami minta calon-calon yang
lain bisa menyampaikan visi dan misinya kepada kami, untuk kami lakukan dalam
membangun Jawa Tengah," tegasnya.

BANDAR LAMPUNG - Sekira 1,7 juta atau 33 persen masyarakat Provinsi Lampung
menyatakan tidak mencoblos alias golput dalam Pilgub Lampung yang digelar kemarin.

Berdasarkan hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), ditemukan angka jumlah
partisipan yang mencoblos cagub sekira 68,8 persen. Sedangkan menurut Lingkaran
Survei Indonesia partisipasi mencapai 66,3%.
Dengan jumlah tersebut, maka angka golput di Lampung mencapai kisaran 33 persen dari
jumlah pemilih sebanyak 5,39 juta jiwa.

Angka golput tinggi terdapat di kota yakni Bandar Lampung dengan angka golput 42
persen, dan Metro dengan angka golput mencapai 39 persen. Sementara kabupaten Way
Kanan menjadi daerah dengan golput terendah dengan bilangan 25,3 persen.

"Ada yang sengaja golput karena tidak ada calon yang cocok dengan dia, dan ada yang
jenuh dengan politik," ujar pengamat politik Universitas Lampung, Hertanto, saat
dikonfirmasi per telepon, Kamis (4/9/2008).

Disinggung soal tingginya angka golput, Ketua KPU Lampung CH Gultom mengatakan,
banyaknya masyarakat yang tidak memilih dikarekanan tidak terdata.

"Mungkin saat hendak dibagikan yang bersangkutan tidak ada di tempat. Penerimaan�
kartu pemilih tidak boleh diwakilkan karena harus menandatangani tanda terima,"
kilahnya.

pilkada.okezone.com

NILAH.COM, Jakarta – Dekadensi moral yang kian sering dipertontonkan anggota


DPR dikhawatirkan memicu masyarakat memilih Golput dalam pemilu. Jika pada
Pemilu 2004 jumlah Golput tercatat sekitar 34 juta orang, maka pada pemilu
mendatang bukan tidak mungkin angka itu akan bertambah secara signifikan.

Kemungkinan tersebut memang mengenaskan. Persoalannya, kita telah sama-sama


mahfum bahwa Pemilu 2004 sebenarnya telah ‘dimenangkan’ Golput, bukan partai
politik yang berlaga dalam pemilihan. Betapa tidak? Partai Golkar sebagai partai
pemenang pemilu saat itu saja hanya menangguk suara 24 juta, jauh di bawah jumlah
Golput.

Rentang perbedaan suara Golput dengan pemenang Pemilu 2004 yang mencapai 10 juta
pemilih ini menegaskan pertanda bahwa sebetulnya partai politik yang ada bukanlah
pilihan yang menarik bagi masyarakat.

Maka ketika kondisi DPR kini begitu karut marut dan selalu membuat rakyat mual
dengan aneka pengkhianatan atas amanah yang mereka emban, wajar bila keyakinan akan
makin berkembangnya golput itu pun semakin menguat. Lihatlah, sementara kita
kesulitan mencatat prestasi legislasi para politisi Senayan, dengan gampang rakyat
menunjuk aneka kedegilan yang terbongkar di lembaga terhormat itu.

Tahun ini saja, paling tidak terkuak urusan korupsi yang membenamkan Al Amin Nur
Nasution, anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, ke ruang sempit kamar tahanan
sejak 9 April lalu. Kasus paling mutakhir, saat Bulyan Royan, anggota Fraksi Partai
Bintang Reformasi, tertangkap tangan dengan uang suap sebesar US$ 66.000 dan 5.500
euro, sebuah jumlah uang yang pasti terlalu besar untuk dibelanjakan di Plasa Senayan,
tempat anggota Dewan yang terhormat itu dicokok tanpa kehormatan.

Belum lagi kasus aliran dana BI senilai Rp 31,5 miliar yang disebut-sebut sebagai biaya
sosialisasi UU BI dan penyelesaian kasus Bantuan Likuiditas BI. Kasus itu kini telah
menyeret dua orang anggota dan mantan anggota DPR, Antony Zeidra Abidin dan
Hamka Yamdu, ke kamar tahanan.

Tentu saja kita tidak akan menutup mata atas kemungkinan besar bahwa masing-masing
kasus tak hanya melibatkan Al Amin dan Bulyan Royan semata. Melihat posisi keduanya
yang bahkan sama sekali tidak dikenal publik sebelum kasus-kasus itu muncul,
terlibatnya nama-nama anggota DPR lain adalah sangat mungkin.

Apalagi selama proses penyelidikan pun Al Amin selalu menyatakan bahwa dirinya lebih
sebagai pihak yang mewakili rekan-rekannya sesama anggota Komisi DPR untuk
mengambil komisi dari Pemda Bintan terkait alih fungsi lahan hutan lindung tersebut.

Dengan kata lain, nyaris bisa dipastikan bahwa Al Amin dan Bulyan tak sendirian dalam
kasus-kasus mereka itu. Besar kemungkinan ada banyak wakil rakyat lain yang terlibat.

Bila kalangan legislatif saja sudah terlibat, rasanya sangat tidak mungkin kebusukan yang
sama tidak melibatkan kalangan eksekutif. Karena itu, berbagai saran agar KPK
mengembangkan penyidikan ke semua komisi DPR dan mitra-mitra kerja mereka tentu
sangatlah argumentatif.

Karena itu, keyakinan bahwa tertangkapnya Al Amin dan Bulyan hanya sekadar
‘konfirmasi’ atas maraknya praktik korupsi di DPR, tampaknya benar adanya. Dari terma
dan istilah yang sering dipakai anggota DPR saat mengobrol dengan kolega-kolega
mereka, sebenarnya sejak lama bau tak sedap praktik korupsi di Senayan, sudah sangat
menyengat.

Belum lagi kalau kita bicara soal lain yang tak kalah degilnya, yakni moralitas anggota
DPR dalam soal perempuan. Masih hangat dalam ingatan kita soal kasus perselingkuhan
bekas anggota DPR Yahya Zaini dengan penyanyi dangdut Maria Eva.

Hari-hari kita di pekan terakhir ini pun masih dipenuhi aneka pemberitaan media massa
soal Max Moein. Untuk Bung yang satu ini, urusannya tidak sekadar terekam tengah
memeluk seorang gadis yang hampir bugil, tetapi ia juga harus menghadapi tudingan
berbagai pelecehan seksual dari bekas sekretarisnya di DPR.

Kasus-kasus itu tentu saja makin menguatkan kesan busuk rakyat terhadap anggota DPR.
Kesan itulah kemudian yang memicu masyarakat malas menggunakan hak pilih pada
pemilu.
Prediksi soal membengkaknya jumlah Golput ini dikuatkan berbagai fenomena yang
muncul seputar pilkada di berbagai daerah. Di Jawa Tengah bulan lalu, lebih dari 44%
pemilih mengambil sikap golput. Belum lagi di Sumatra Utara yang pilkadanya mencatat
angka golput 43%.

Begitu juga Pilkada Banten yang mencatat 40% golput. Pilkada Jawa Barat mencatatkan
angka golput lebih dari 33%, Pilkada DKI Jakarta yang mencatatkan 35% suara golput,
dan yang paling fenomenal adalah Pilkada Kepulauan Riau yang mencatatkan angka
golput hingga 46%.

Tentu saja kita tahu, ada banyak soal dan pihak berjalin kelindan menyebabkan kuatnya
fenomena Golput tersebut. Hanya saja, karena anggota DPR merupakan hasil langsung
pemilu, maka kualitas DPR pun secara langsung memengaruhi orang untuk berpartisipasi
pada pemilu atau justru seperti tadi, menoleh pun tidak. [P1]