Anda di halaman 1dari 41

BIOLISTRIK

1 | P a g e

BIOLISTRIK

1. KELISTRIKAN

Apa dan Bagaimana Kelistrikan ?
Kelistrikan adalah sifat benda yang muncul dari adanya
muatan listrik.
Listrik, dapat juga diartikan sebagai berikut:
Listrik adalah kondisi dari partikel subatomik tertentu,
seperti elektron dan proton, yang menyebabkan penarikan
dan penolakan gaya di antaranya.


Orang-orang Yunani kuno mengamati gaya tarik listrik
dengan menggosok batu amber digosok, batu tersebut akan
menarik benda kecil seperti jerami atau bulu. Kata listrik
berasal dari bahasa Yunani untuk amber yaitu electron.
Listrik adalah sumber energi yang disalurkan melalui kabel.
Arus listrik timbul karena muatan listrik mengalir dari saluran
positif ke saluran negatif.
Bersama dengan magnetisme, listrik membentuk interaksi
fundamental yang dikenal sebagai elektromagnetisme.
Listrik memungkinkan terjadinya banyak fenomena fisika
yang dikenal luas, seperti petir, medan listrik, dan arus
listrik. Listrik digunakan dengan luas di dalam aplikasi-
aplikasi industri seperti elektronik dan tenaga listrik.


BIOLISTRIK

2 | P a g e

Tahu anda tentang Petir ?


Petir adalah contoh listrik alami yang paling dramatis

Petir adalah suatu kejadian alam yang luar biasa, karena
dalam setiap kejadiannya energi yang dilepaskan lebih
besar daripada yang dihasilkan oleh seluruh pusat
pembangkit tenaga listrik di Amerika. Cahaya yang
dikeluarkan oleh petir lebih terang daripada cahaya 10 juta
bola lampu pijar berdaya 100 watt. Hal lain yang
menakjubkan bahwa molekul-molekul nitrogen, yang
sangat penting untuk tumbuhan, muncul dari kekuatan ini.

Bagaimana Benda dapat Bermuatan Listrik?
Setiap zat tersusun atas atom-atom, dengan demikian
muatan listrik suatu zat tergantung dari jenis muatan
listrik atom-atomnya. Jika atom-atom benda lebih
cenderung melepaskaan elektron, maka zat yang
disusunnya lebih cenderung bermuatan positif. Sebaliknya
jika atom-atom benda lebih cenderung menangkap
elektron, maka zat yang disusunnya cenderung bermuatan
negatif. Dengan demikian muatan listrik sebuah benda
sangat tergantung dengan muatan listrik atom-atom
penyusunnya.

BIOLISTRIK

3 | P a g e

Bagaimana cara membuat benda bermuatan listrik?

Suatu benda dapat dimuati listrik dengan dua cara yaitu:
1. Menggosok
- Menggosok penggaris plastik dengan kain wool -->
Penggaris menjadi bermuatan listrik jenis negatif.
- Menggosok kaca dengan kain sutera --> Kaca
menjadi bermuatan listrik jenis positif.

Muatan listrik pada sebuah benda, sangat dipengaruhi
oleh muatan listrik atom-atom penyusunnya. Ada atom-
atom yang cenderung melepas elektron, tetapi ada juga
atom-atom yang cenderung mengikat elektron. Jika dua
benda tersusun dari atom-atom yang memiliki
perbedaan sifat tersebut saling digosokkan maka, maka
interaksi itu akan lebih mudah membuat benda
bermuatan listrik.
Dari animasi di atas. Jika kain sutera digosokkan pada
kaca, maka elektron-elektron kaca akan berpindah
menuju sutera, sehingga kaca menjadi bermuataan
positif. Sementara itu kain sutera menjadi bermuatan
negatif karena mendapat tambahan elektron.
Jika kain wool digosokkan pada plastik, maka elektron-
elektron kain wool akan berpindah menuju plastik,
sehingga plastik menjadi bermuataan negatif.
sementara itu kain wool menjadi bermuatan positif
karena kehilangan elektron-elektronnya.

2. Induksi

Induksi dapat dilakukan dengan cara mendekatkan
benda yang bermuatan listrik ke benda netral.
Akibatnya benda netral akan terpolarisasi. Jika benda
netral yang telah terpolarisasi di hubungkan dengan
tanah (di groundkan), maka elektron-elektronnya akan
mengalir menuju tanah. Setelah penghantar yang
menuju tanah di hilangkan dan benda bermuatan listrik
dijauhkan, maka benda netral akan menjadi kekurangan
elektron (bermuatan positif).
BIOLISTRIK

4 | P a g e

Induksi dalam jumlah muatan tertentu dapat
mengakibatkan muatan listrik melompati gap (jarak
pemisah), dalam hal ini dapat menimbulkan lintasan
bunga api. Salah satu peristiwa yang besar adalah
terjadinya petir.

2. MUATAN LISTRIK

Muatan listrik dapat menarik benda-benda kecil Potongan
kertas kecil-kecil dapat menempel pada penggaris yang
bermuatan listrik karena adanya gaya listrik.
Jika gaya listrik lebih besar dari gaya gravitasi benda maka
benda akan menempel pada penggaris, sebaliknya jika gaya
listrik kurang dari gaya gravitasi, maka benda tidak akan
menempel. Interaksi antara dua muatan listrik baik berupa
gaya tolak atau gaya tarik dapat digambarkan dengan
menggunakan garis-garis gaya listrik berikut:




3. MEDAN LISTRIK & KUAT MEDAN LISTRIK

Medan Listrik
Dalam ruang disekitar benda bermuatan listrik A, kita jumpai
beberapa gejala. Sebagai contoh benda bermuatan lain B
dapat bergerak menjauhi atau mendekati A ( Gambar 1.).
Gejala ini disebabkan bekerjanya suatu gaya pada benda
bermuatan apa saja yang diletakkan dalam ruang di sekitar
BIOLISTRIK

5 | P a g e

benda bermuatan A. Kita sebut gejala dalam ruang di sekitar
suatu benda bermuatan lisrik ini medan listrik.

Gambar 1 : gaya yang bekerja pada muatan-muatan yang
diletakkan dalam ruang disekitar benda
bermuatan A
Jadi Medan Listrik adalah ruang di sekitar benda bermuatan
listrik dimana benda-benda bermuatan listrik lainnya dalam
ruang ini akan merasakan atau mengalami gaya listrik atau
Arah Medan Listrik
Medan Listrik dapat kita gambarkan dengan garis-garis khayal
yang dinamakan garis-garis medan (atau garis-garis gaya
listrik). Dapat anda lihat pada gambar 2 dan gambar 3 bahwa
garis-garis medan radial keluar menjauhi muatan positif dan
radial kedalam mendekati muatan negative

Kuat Medan Listrik
Kuat Medan Listrik adalah besaran yang menyatakan gaya
coloumb per satuan muatan di suatu titik.

BIOLISTRIK

6 | P a g e

Misalnya di titik P, Lihat gambar.

Jika titik P di beri muatan , maka muatannya dinamakan
muatan penguji (q), dan selalu bermuatan positif
Q = Sumber muatan
Arah Kuat Medan Listrik (E), searah dengan arah gaya (F)
Secara matematik kuat medan Listrik dirumuskan :
atau
Karena Besar gaya Columb antara muatan sumber Q dan
muatan uji q, maka Rumus Kuat Medan Listrik adalah sebagai
berikut :

dengan : E = kuat medan listrik (N/C)
Q = muatan sumber (C)
r = jarak muatan uji trhadap muatan sumber (m)
k = konstanta = =910
9
Nm2/C2

0
= permitivitas listrik vakum = 8,85 .10
12
C2/Nm2


BIOLISTRIK

7 | P a g e

4. UNIT-UNIT LISTRIK SI

Simbol Nama kuantitas Unit turunan

Unit dasar
I Arus ampere A A
Q Muatan listrik, Jumlah listrik coulomb C A s
V Perbedaan potensial volt V
J/C =
kg m
2
s
3
A
1

R, Z
Tahanan, Impedansi,
Reaktansi
ohm
V/A =
kg m
2
s
3
A
2

Ketahanan ohm meter m kg m
3
s
3
A
2

P Daya, Listrik watt W V A = kg m
2
s
3

C Kapasitansi farad F
C/V =
kg
1
m
2
A
2
s
4


Elastisitas reciprocal farad F
1

V/C =
kg m
2
A
2
s
4

Permitivitas farad per meter F/m kg
1
m
3
A
2
s
4

e
Susceptibilitas listrik (dimensionless) - -

Konduktansi, Admitansi,
Susceptansi
siemens S

1
=
kg
1
m
2
s
3
A
2

Konduktivitas
siemens per
meter
S/m kg
1
m
3
s
3
A
2

H
Medan magnet, Kekuatan
medan magnet
ampere per
meter
A/m A m
1

m
Flux magnet weber Wb
V s =
kg m
2
s
2
A
1

B
Kepadatan medan magnet,
Induksi magnet, Kekuatan
medan magnet
tesla T
Wb/m
2
=
kg s
2
A
1


Reluktansi
ampere-turns per
weber
A/Wb kg
1
m
2
s
2
A
2

L Induktansi henry H
Wb/A = V s/A =
kg m
2
s
2
A
2

Permeabilitas henry per meter H/m kg m s
2
A
2

m
Susceptibilitas magnet (dimensionless) - -



BIOLISTRIK

8 | P a g e

5. HUKUM DALAM BIOLISTRIK

Hukum-hukum yang mendasari biolistrik antara lain adalah
Hukum Ohm dan Hukum Joule.

Hukum Ohm menyatakan bahwa :
Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding
langsung dengan arus yang melewati, dan berbanding terbalik
dengan tahanan dari konduktor.
Secara metamatis dapat dirumuskan dengan persamaan :
I
V
R

dimana : R = hambatan ( )
I = kuat arus (Ampere)
V = tegangan (Volt)

Hukum Joule menyatakan bahwa :
Arus listrik yang melewati konduktor dengan beda potensial
(V), dalam waktu tertentu akan menimbulkan panas.
Secara matematis dapat dinyatakan dengan persamaan :
VIt Q

dimana : Q = Energi panas yang ditimbulkan (Joule)
V = tegangan (volt)
I = Arus (A)
t = waktu lamanya arus mengalir (second)

6. BIOLISTRIK
Selama periode hujan badai pada tahun 1786, Luigi Galvani
menyentuh otot tungkai seekor katak dengan
menggunakan suatu metal, dan teramati bahwa otot katak
tersebut berkontraksi.
Dari pengamatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa aliran
listrik akibat badai tersebut merambat melalui saraf si
katak sehingga otot-ototnya berkontraksi.
Sel saraf menghantarkan implus dari satu bagian tubuh ke
bagian tubuh yang lain. Namun dengan mekanisme yang
BIOLISTRIK

9 | P a g e

jauh berbeda dengan hantaran aliran listrik pada suatu
konduktor metal.
Dalam rentang waktu yang cukup lama, kita mengetahui
impuls dalam sistem saraf terdiri dari ion-ion yang
mengalir sepanjang sel-sel saraf, analog dengan aliran
elektron dalam suatu konduktor. Namun demikian, sifat-
sifat listrik dari sel-sel saraf lebih lambat dan kekuatannya
lebih rendah (konduksinya ada atau tidak sama sekali)
dibandingkan konduksi pada metal.
Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang
kedokteran. Ada dua aspek kelistrikan dan magnetis dalam
bidang kedokteran, yaitu listrik dan magnet yang timbul
dalam tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan magnet
pada permukaan tubuh manusia.

7. KELISTRIKAN DAN KEMAGNETAN YANG TIMBUL DI DALAM
TUBUH

Sistem Saraf dan Neuron
Sistem Saraf
Sistem saraf dibagi menjadi dua, yaitu : sistem saraf
pusat dan sistem saraf otonom.
Sistem Saraf Pusat
Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer.
Saraf perifer ini adalah serat saraf yang mengirim
informasi sensoris ke otak atau ke medulla spenalis,
disebut saraf afferent. Sedangkan serat saraf yang
menghantarkan informasi dari otak atau medulla spenalis
ke otot dan kelenjar disebut saraf efferent.

Sistem Saraf Otonom
Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh, misalnya
jantung, usus dan kelenjar-kelenjar. Pengontrolan ini
dilakukan secara tidak sadar.

Neuron
BIOLISTRIK

10 | P a g e

Struktur sadar dari sistem saraf disebut neuron/sel
saraf. Suatu sel saraf (neuron) merupakan bagian
terkecil dalam suatu skema saraf dan berfungsi
menerima, menginterprestasikan (memaknai) dan
menghantarkan aliran listrik/informasi. Sel saraf terdiri
dari tubuh serta serabut yang menyerupai ranting.
Serabutnya juga terdiri dari 2 macam, yaitu dendrit dan
akson.





Gambar 3.1. Serabut sel saraf
Dendrit, bersama dengan tubuh sel berfungsi menerima
informasi berupa rangsangan dan sensor penerima
maupun dari sel saraf yang lainnya. Sedangkan akson
berfungsi menghantarkan informasi ke bagian sel saraf
lain. Jika rangsangan yang diterima oleh dendrite atau
tubuh sel pada setiap waktu, intensitasnya berada pada
ambang batas atau lebih, maka implus saraf bereaksi
serta menjalar sepanjang akson. Impuls ini akan
mengalir sepanjang akson dari tubuh sel menuju cabang
terminal.
Akson, merupakan suatu salinan panjang yang tipis dan
pada ujungnya terbungkus oleh suatu membran yang
berisi cairan dengan nama aksoplasma. Sesampainya
impuls saraf pada terminal, suatu substansi saraf
penghantar dilepaskan dan akan menyampaikan impuls
ke penerima di sel berikutnya.





Gambar 3.2. Penampang bujur suatu akson
BIOLISTRIK

11 | P a g e


Penampang lintang yang kecil dari suatu akson dengan
tahanan yang tinggi (R = nL/A, R = hambatan ( ), n :
Konstanta kesebandingan/resistivitas ( .m), L : panjang
akson (cm) dan A : Luas penampang (cm
2
), aksoplasma-
nya membentuk suatu hambatan yang tinggi. Secarik
akson dengan panjang 1 cm memiliki tahanan listrik
sekitar 2,5 x 10
8
. Untuk memahami bagaimana impuls
saraf dapat dihantar melalui medium tersebut, perlu
dipahami suatu sel saraf sebelum memperoleh
rangsangan, atau dengan kata lain berada dalam
keadaan istirahat.

Sel Saraf dalam Keadaan Istirahat

Dalam suatu sel saraf maupun sel-sel hidup lainnya,
membran sel mempertahankan kondisi intraseluler yang
berbeda dengan lingkungan ekstra selulernya. Setiap sel
saraf menghasilkan sedikit ion negatif tepat di dalam sel
dan juga ion positif tepat di luar membran sel.




Gambar 3.3 Distribusi tegangan listrik sepanjang
membrane sel saraf dalam kondisi istirahat.

Telah diketahui bahwa sel mempunyai lapisan yang
disebut membran sel mempertahankan kondisi
intraseluler yang berbeda dengan lingkungan ekstra
selulernya. Setiap sel saraf menghasilkan sedikit ion
negatif tepat di dalam sel dan juga ion positif tepat di
luar membran sel.
Telah diketahui bahwa sel mempunyai lapisan yang
disebut membran sel, di dalam sel ini terdapat ion Na
+
,
K+, Cl-, dan protein (A). Perbedaan sifat elektron pada
membran sel saraf adalah kunci dalam memahami
hantaran impuls saraf.
BIOLISTRIK

12 | P a g e

Konsentrasi ion Kalium (K
+
) didalam cairan pada bagian
dalam membran sel 30 kali lebih banyak daripada yang di
luar, sedangkan konsentrasi ion Natrium (Na
+
) sepuluh
kali lebih banyak dibagian luar membran sel
dibandingkan dengan bagian dalam. Perlu dicermati
bahwa semua anion (terutama klorida, Cl
-
) juga tidak
terdistribusi sempurna.
Seperti pada sel hidup yang lain, sel saraf menggunakan
difusi pasif dan transportasi aktif untuk mempertahankan
perbedaan ini melalui membran selnya. Ketidak sesuai
distribusi Na
+
dan K
+
sebenarnya dibentuk oleh kebutuhan
energi pemompaan Na
+
-K
+
, yang memindahkan ion Na
+
keluar dari sel dan K
+
ke dalam sel.
Juga adanya suatu protein dalam membran sel saraf
sebagai suatu saluran potensial yang memudahkan Na
+
dan K
+
mengalir selama hantaran impuls saraf.
Suatu sel saraf berada dalam keadaan istirahat, saluran
Na
+
yang bergantung pada tegangan tertutup sehingga
menjadi ketidaksamaan distribusi Na
+
.
Membran sel saraf yang berada dalam keadaan istirahat
(tidak adanya proses konduksi impuls listrik), konsentrasi
ion Na
+
lebih banyak di luar sel dari pada di dalam sel, di
dalam sel akan lebih negatif dibandingkan dengan diluar
sel.
Dalam keadaan istirahat, membran sel tidak permiabel
terhadap anion yang besar (atau terhadap jenis muatan
negatif terbentuk tepat di bagian dalam permukaan
membran sel. Beda potensial (table 7.1) pada membran
sel sekitar 70 mV, dan potensial listrik di luar sel adalah
nol. Dengan demikian beda potensial di dalam membran
sel -70 mV. Membran sel ini disebut dalam keadaan
polarisasi. Ini adalah potensial sel saraf dalam keadaan
istirahat.
Tabel 7.1 Konsentrasi Ion di Dalam dan di Luar
Sel Saraf Istirahat yang Umum
Ion
Konsentrasi (mmol/L)
Di dalam Diluar
Na
+
15 145
BIOLISTRIK

13 | P a g e

K
+

Cl
Lainnya
150
9
156
5
120
30

Susunan muatan pada setiap permukaan membran sel
saraf menyerupai kapasitor bermuatan. Medan listrik
diantara kapasitor pelat sejajar adalah seragam, sehingga
kita dapat menghitung medan listrik pada membran sel
yang memiliki ketebalan 7 nm :

m V
m
V
dL
dv
E / 10 0 . 1
10 0 . 7
) 10 70 (
7
9
3

(ke a rah kanan)



Dengan demikian gaya yang dihasilkan oleh medan ini
terhadap ion positif menjadi :
F = q E
= (1,6 x 10
-19
C) (1,0 x 10
7
V / m)
= 1,6 x 10
-12
N
Gaya ini beraksi melawan perbedaan konsentrasi K+,
walaupun menambah efek dari perbedaan konsentrasi Na+

Rangsangan Sel Saraf

Potensial sel saraf dalam keadaan istirahat dapat di
ganggu oleh rangsangan listrik, kimia maupun fisis
(mekanik), selanjutnya butir-butir membran akan berubah
dan beberapa ion Na+ akan masuk dari luar sel ke dalam
sel. Di dalam sel akan menjadikurang negatif (lebih
positif) dari pada di luar sel dan potensial membran akan
meningkat. Keadaan membran ini disebut dalam keadaan
depolarisasi. Gangguan ini mungkin hanya sedikit
mempengaruhi potensial membran pada titik rangsangan.
Pada kasus ini, potensial membran dengan cepat kembali
pada nilai istirahatnya yaitu -70 mV.
Jika rangsangan ini cukup kuat hingga menyebabkan
depolarisasi dari potensial istirahat, -90 mV menjadi
sekitar -50 mV. Saluran membran karena adanya
perubahan potensial akan terbuka. Karena ada gradien
konsentrasi dan gradien listrik, ion Na+ mengalir
BIOLISTRIK

14 | P a g e

memasuki sel dalam waktu yang cepat dan jumlah yang
banyak serta menimbulkan arus listrik (I = q = t). Fluks
Na+ pada bagian dalam membran menghasilkan
perubahan polaritas membran dan menyebabkan
perubahan potensial listrik sebesar +40 mV.
Jika efek dan konsentrasi Na+ (luar > dalam) menjadi
seimbang oleh karena gradien listrik (potensial
membrannya menjadi positif di bagian dalam),
depolarisasi berahir pada tempat rangsangan semula.
Saluran Na+ kemudian menutup kembali. Saluran K+
merespon perubahan polaritas membran secepatnya
setelah pembukaan Na+ dengan mengirimkan K+ keluar
dan Na+ ke dalam. Gerakan ion K+ dan lambatnya
pemompaan Na+ - K+ segera memperbaiki gradien
konsentrasi dan gradien listrik seperti pada keadaan
istirahat.
Untuk mengukur potensial aksi secara baik dipergunakan
elektroda. Kegunaan dari elektroda adalah untuk
memindahkan transmisi ion ke penyalur elektron. Bahan
yang dipakai sebagai elektroda adalah perak dan
tembaga. Apabila sebuah elektroda tembaga dan sebuah
elektroda peran dicelupkan ke dalam larutan elektrolit
seimbang cairan badan/tubuh maka akan terjadi
perbedaan potensial antara kedua elektroda itu.
Perbedaan potensial ini kira-kira sama dengan perbedaan
antara potensial kontak kedua logam tersebut, dinamakan
potensial offset elektroda. Apabila sebuah elektroda
tembaga dan elektroda perak ditempatkan dalam bak
berisi elektrolit akan terdapat perbedaan potensial
sebesar 0,80 0,34 =- 0,46 V. Perbedaan potensial
sebesar 0,46 dapat dijumpai bila kedua tangan penderita
disambung melalui elektroda tembaga dan elektroda
perak pada jalan masuk instrumen yang dipakai untuk
pengukuran.
Namun dalam praktik perbedaan potensial offset
elektroda harus dibuat sekecil mungkin/mendekati nol,
akan tetapi selalu tidak mungkin dan akan terjadi
penurunan tegangan secara perlahan-lahan (drift). Untuk
mendapatkan potensial offset elektroda sekecil mungkin,
BIOLISTRIK

15 | P a g e

elektroda tidak disambung dalam amplifier tegangan
searah melainkan dilapisi pasta/jelly. Dalam pemilihan
bahan sebagai elektroda sangat penting, diutamakan
bahan elektroda yang dapat disterilkan (oleh karena
pemakaian terus menerus terhadap berbagai penderita)
dan tidak mengandung racun.


Perambatan Impuls Saraf

Paragraf-paragraf sebelumnya menggambarkan suatu
pulsa listrik tunggal pada titik rangsangan. Pertanyaan
selanjutnya adalah bagaimanakah impuls ini bergerak
melalui akson?
Karena adanya potensial aksi, sebagian kecil membran
mengalami depolarisasi akibat adanya aliran ion dalam
membran. Saat proses depolarisasi ini mencapai batas
ambang, potensial aksi dihasilkan kembali pada bagian
akson tersebut.
Potensial membran pada daerah tersebut mencapai nilai
ambang -50 mV. Dengan demikian permeabilitasnya
terhadap Na+ menjadi meningkat secara tiba-tiba dan
potensial aksi +40 mV merambat menyerupai gelombang
sepanjang sel saraf. Karena adanya periode pemulihan,
yaitu selama sebagian membran mengalami depolarisasi
dan tidak dapat dirangsang lagi. Impuls saraf hanya dapat
merambat pada satu arah tertentu saja, menjauhi tubuh
sel saraf. Impuls akan terus bergerak hingga mencapai
terminal, dan menyebabkan dilepaskannya
neurotransmitter dari membran sel saraf.
Perlu diperhatikan bahwa selam aproses penghantaran
impuls saraf aliran listrik mengalir ke dalam dan ke luar
melalui membran serta tegak lurus terhadap arah
perambatan impuls. Lebih jauh lagi, seberapa jauh pun
akson, impuls tidak pernah memerlukan penguatan,
impuls akan terus merambat dengan kekjuatan yang sama
dari rangsangan awal.
Lapisan myelin merupakan suatu insulator yang baik,
sehingga ion tidak dapat mengalir menembus lapisan
BIOLISTRIK

16 | P a g e

tersebut. Aktivitas listrik pada sel saraf yang dilapisi
myelin hanya terbatas pada node Ranvier, karena adanya
konsentrasi yang cukup besar dari saluran ion yang
bergantung pada tegangan. Potensial aksi hanya dapat
dihasilkan pada node Ranvier dan meloncat dengan cepat
sepanjang akson. Oleh karena difusi ion-ion melalui
aksoplasma dan cairan ekstraselular. Kecepatan rambat
pada akson saraf dengan lapisan myelin adalah 12m/s.
Mekanisme perambatan impuls listrik dalam suatu sel
saraf sangat berbeda dengan konduksi listrik dalam
logam, namun demikian konsep-konsep fisika dapat
dijadikan dasar dalam memahami proses tersebut.

Kelistrikan Otot Jantung

Sel membran otot jantung (miokardium) sangat berbeda
dengan saraf dan otot bergaris. Pada saraf maupun otot
bergaris dalam keadaan potensial membran istirahat
dilakukan rangsangan maka ion-ion Na+ akan masuk ke
dalam sel dan setelah tercapai nilai ambang akan timbul
depolarisasi. Sedangkan pada sel otot jantung, ion Na+
mudah bocor, sehingga setelah terjadi repolarisasi
komplit, ion Na+ perlahan-lahan akan masuk kembali ke
dalam sel dengan akibat terjadi gejala depolarisasi secara
spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadi
potensial aksi tanpa memerlukan rangsangan dari luar.
Untuk menentukan natural rate dari berbagai sel otot
jantung yaitu waktu antara terhitung mulai depolarisasi
spontan sampai mencapai nilai ambang setelah terjadinya
repolarisasi. Interval waktu ini bisa bervariasi oleh karena
perubahan dala hal :
1. Potensial membran istirahat
2. Tingkat dari nilai ambang
3. Slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang
Perubahan ketiga parameter ini sangat mempengaruhi
mekanisme kontrol fisiologis terhadap frekuensi jantung.
Jika daerah sekitar miokardium belum mencapai nilai
ambang sedangkan bagian lain telah menghasilkan
potensial aksi, bagian ini akan dengan segera
BIOLISTRIK

17 | P a g e

menyebabkan bagian lain mencapai nilai ambang dan
menghasilkan potensial aksi, demikian seterusnya
sehingga menghasilkan gelombang depolarisasi untuk
seluruh otot miokardium.

Aktivitas Kelistrikan Otot Jantung

Sel membran otot jantung serupa dengan sel membran
otot bergaris, yaitu mempunyai kemampuan menuntun
suatu perambatan potensial aksi/gelombang depolarisasi.
Depolarisasi sel membran otot jantung (miokardium) oleh
perambatan potensial aksi dengan menghasilkan kontraksi
otot. Tetapi ada 3 hal penting perbedaan antara sel otot
jantung dengan sel otot bergaris, yaitu sel otot jantung
mempunyai :
a. High speed conductive pathways (konduksi berjalan
dengan kecepatan tinggi), merupakan keistimewaan
pada otot jantung di mana konduksi gelombang
depolarisasi berlangsung secara cepat.
b. Long refractory period (periode refrakter yang
panjang), lamanya repolarisasi dan periode refrakter
pada otot jantung (miokardium) 100 kali lebih lama
dari pada otot bergaris.
c. Automatisasi (otomatisasi), tidak menghendaki
rangsangan dari luar untuk mencapai nilai ambang,
melainkan mempunyai kemampuan sendiri yaitu
depolarisasi spontan tanpa rangsangan dari luar.
Gelombang depolarisasi diteruskan ke AV node (Antrio
ventricular node) sehingga AV node mengalami
depolarisasi.
Gelombang dari AV node dilanjutkan melalui bundle of
his (berkas hias) dan diteruskan ke cabang bundle
(berkas cabang) sehingga cabang bundle mengalami
depolarisasi.
Dari cabang bundle impuls tersebut diteruskan ke jaringan
purkinye. Dari jaringan purkinye gelombang depolarisasi
diteruskan ke endokardium dan berakhir pada epikardium,
sehingga terjadi kontraksi otot jantung.
BIOLISTRIK

18 | P a g e

Setelah repolarisasi,m miokardium mengalami relaksasi.
Pada waktu repolarisasi tampak proses epikardium ke
endokardium ventrikel, sedangkan pada proses
depolarisasi tampak dari endokardium ke epikardium.

Fibrilasi

Aktivitas irama jantung terletak pada permukaan jantung
dekat muara vena cava superior, yaitu pada puncak
atrium kanan. Kumpulan sel-sel ini disebut NA node yang
bertindak sebagai pace maker. Melalui pace maker ini
aktivitas otot jantung secara sinkron memompa darah ke
sirkulasi paru-paru dan ke sirkulasi darah sistemik (ke
seluruh tubuh). Suatu keadaan dimana terjadi kehilangan
sinkronisasi dikenal sebagai fibrilasi. Fibrilasi dapat
terjadi pada atrium (fibrilasi atrium) maupun pada
ventrikel (fibrilasi ventrikel).
Pada keadaan fibrilasi atrium, ventrikel masih berfungsi
secara normal, tetapi jawaban dengan suatu irama yang
ireguler terhadap rangsangan listrik yang tidak sinkron
dari fibrilasi atrium. Banyak darah akan masuk ke dalam
ventrikel sebelum terjadi kontraksi atrium dan
berlangsung selama kontraksi ventrikel.

8. ISYARAT MAGNET JANTUNG DAN OTAK

Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet.
Medan magnet sekitar jantung disebabkan adanya arus listrik
jantung yang mengalami depolarisasi dan repolarisasi.
Pencatatan medan magnet jantung disebut
magnetokandiogram. Besar medan magnet sekitar jantung
adalah sekitar 5 x 10
-11
Tesla atau sekitar 10 x 10
8
medan
magnet bumi. Hubungan Tesla (T) dengan Gauss dapat
dinyatakan : 1 T = 10
4
Gauss.

1. Magnetokardiografi (MKG)
MKG adalah pencatatan medan magnet di sekeliling jantung
dengan mempergunakan arus searah (DC). Penderita
ditempatkan dalam ruang octagonal yang terdiri dari 5
lapisan pelindung magnet. Segala materi bermagnet
BIOLISTRIK

19 | P a g e

disingkirkan dari subjek yang akan diperiksa. Kemudian
magnetodetektor probe didekatkan pada tubuh/jantung.
Perekaman hanya berlangsung dalam waktu kurang dari 1
menit.
Perekaman MKG dapat memberi informasi yang berguna
dalam diagnosis apabila dikerjakan pada waktu jantung
mengalami serangan oleh karena pada saat ini digunakan
arus listrik.


2. Magnetoensefalogram (MEG)
MEG adalah pencatatan medan magnet sekeliling otak
dengan mempergunakan arus searah. Alat yang digunakan
adalah SQUID magnetometer. Pada rithme alpha, medan
magnet otak berkisar 11 x 10
-13
T.

9. PENGGUNAAN LISTRIK DAN MAGNET PADA PERMUKAAN
TUBUH

Seiring dengan perkembangan kelistrikan, telah diciptakan
peralatan yang mempergunakan energi listrik untuk terapi
pengobatan. Pada tahun 1890 Jacques A.D. Arsonval telah
menggunalan listrik berfrekuensi rendah untuk menimbulkan
efek panas. Tahun 1929 telah menggunakan listrik dengan
frekuensi 30 MHz untuk pemanasan yang disebut short wave
diathermy. Pada tahun 1950 telah diperkenalkan penggunaan
gelombang mikro dengan frekuensi 2.450 MHz untuk keperluan
diatermi dan pemakaian radar.

1) Penggunaan Arus Listrik Berfrekuensi Rendah
Listrik berfrekuensi rendah mempunyai batas frekuensi
antara 20 Hz sampai dengan 500.000 Hz. Frekuensi rendah
ini mempunyai efek merangsang saraf dan otot sehingga
terjadi kontraksi otot. Arus listrik berfrekuensi rendah
dapat dihasilkan oleh alat listrik yaitu : stimulator yang
rangkaiannya terdiri multivibrator maupun astable
multivribator. Selain frekuensi, perlu juga diperhatikan
pengulangan dalam pemakaian dan bentuk gelombang arus
listrik yang dipakai.
BIOLISTRIK

20 | P a g e

Selain arus DC, dapat pula menggunakan arus AC dengan
frekuensi 50 Hz, yang mempunyai kemampuan merangsang
saraf sensoris, saraf motoris dan berefek kontraksi otot.

2) Penggunaan Arus Listrik Berfrekuensi Tinggi

Arus listrik berfrekuensi tinggi mempunyai frekuensi di atas
500.000 Hz, dihasilkan oleh sirkuit osilator yang
mengandung rangkaian kondensator dan inductor, yaitu
rangkaian L-C. frekuensi tinggi ini mempunyai sifat
memanaskan sehingga dapat digunakan untuk diatermi
yang dapat dibagi menjadi dua tipe :
a. Short wave diathermy (diatermi gelombang pendek)
Pada diatermi ini terdapat dua metode yang digunakan
untuk memperoleh gelombang elektromagnetis agar
masuk ke dalam badan, yaitu :
1) Metode capacitance (metode kondensor), dengan
cara elektroda diletakkan pada masing-masing sisi
yang akan diobati dan dipisahkan dari kulit dengan
bahan isolator. Substansi yang ada di dalam medan
magnet akan bervibrasi, elektrolit mengalami dipole
dan timbulpanas sebesar Q = Vlt / 0,24 kalori
(persamaan 7.2, Hk. Joule).
2) Metode Induksi (metode kabel), pada metode ini
dapat menimbulkan efek medan listrik dan medan
magnet secara bersamaan. Metode ini dilakukan
dengan cara melilitkan kabel pada daerah yang akan
diobati.

Efek diatermi gelombang pendek adalah :
Menghasilkan panas dan peningkatan efek fisiologis
sebagai akibat dari peningkatan temperatur, yaitu :
(1) Meningkatkan metabolisme, perubahan struktur
kimia yang disebabkan kenaikan temperatur
(Hk. Vant Hoff).
(2) Suplai darah meningkat, sebagai akibat dari
meningkatnya metabolisme
(3) Efek pada saraf, mengurangi eksitasi saraf
apabila kurang begitu panas
BIOLISTRIK

21 | P a g e

(4) Dengan meningkatnya temperature mengurangi
relaksasi otot dan meningkatkan efisiensi usaha
otot. Otot akan berkontraksi dan relaksasi
semakin meningkat.
(5) Meningkatkan aktivitas kelenjar keringat


Mempunyai efek terapeutik (pengobatan)
(1) Terhadap daerah peradangan, dimana akan
terjadi pelebaran pembuluh darah sehingga
dapat meningkatkan oksigen dan pengangkutan
makanan untuk sel-sel
(2) Efek terhadap infeksi bakteri, terjadi
peningkatan konsentrasi sel darah putih dan
antibodi pada daerah infeksi.
(3) Menghilangkan rasa sakit, panas menyebabkan
saraf sensoris mengalami sedaktif.

b. Micro wave diathermy (diatermi gelombang mikro)
Gelombang mikro adalah gelombang dengan panjang
gelombang 1 cm sampai 1 meter. Untuk diatermi sering
digunakan panjang gelombang 12,25 cm dengan
frekuensi 2.450 MHz atau panjang gelombang 69 cm
dengan frekuensi 433,92 MHz. efek yang ditimbulkan
tergantung jumlah energi radiasi yang diserap. Besar
absorbsi dapat dinyatakan dalam rumus eksponensial :
d x
e I I
/
0


I : Intensitas radiasi yang diserap (I = 37% dari I
0
) (W
/m
2
)
x : kedalaman radiasi dalam jaringan (m)
I
0
: intensitas radiasi pada permukaan kulit (W/m
2
)
e : koefisien absorbsi

Efek yang ditimbulkan adalah efek fisiologis dan efek
pengobatan. Efek fisiologis : menimbulkan panas pada
jaringan-jaringan yang banyak mengandung air, banyak
pula mendeposit energi, pada otot lebih banyak
menyerap energi gelombang mikro dari pada jaringan
BIOLISTRIK

22 | P a g e

lemak. Efek pengobatan : dapat mengobati penderita
yang mengalami ruda paksa (trauma) dan peradangan
dan dapat pula mengobati penderita nyeri dan spasme
otot, bisul dan rematik.

c. Syok Listrik (Kejutan Listrik)

Syok listrik atau kejutan listrik adalah suatu pada saraf
sensoris yang diakibatkan aliran listrik yang mengalir
secara tiba-tiba melalui tubuh. Bahaya syok listrik
sangat besar, tubuh penderita akan mengalami
ventricular fibrilation (fibrilasi ventrikel) yang
kemudian diikuti dengan kematian. Oleh karena itu
perlu diketahui perubahan-perubahan yang timbul
akibat syok listrik dan metode pengamanan sehingga
bahaya syok dapat dihindari.
Syok tanpa tujuan tertentu timbul karena suatu
kecelakaan, dikenal dengan Earth syok. Syok ini terjadi
apabila salah satu tubuh menyentuh kawat fasa
sedangkan bagian tubuh lain menyentuh kawat netral.
Berdasarkan besar kecilnya tegangan, earth syok dapat
dibagi menjadi dua : low tension shock dan high tension
shock.
1. Low tension shock (syok tegangan rendah), terjadi
berkaitan dengan pemakaian generator yang
menghasilkan arus listrik dengan tegangan rendah
atau berkaitan dengan pemakaian lampu panas
radient atau lampu sinar ultra ungu.
2. High tension shock (syok tegangan tinggi), terjadi
berkaitan dengan pemakain generator tegangan
tinggi, generator gelombang pendek atau step up
transformator. Penderita yang mengalami syok,
kulit badannya akan mengelupas seluruhnya.

Pada beberapa buku fisika membagi earth syok menjadi
mikro syok dan makro syok.
1) Mikro syok, terjadi karena adanya aliran listrik
langsung mengikuti arteri ke jantung. Hal ini dapat
terjadi ketika penggunaan kateter untuk
BIOLISTRIK

23 | P a g e

pencatatan EKG, liquid filled catteter untuk
menyuntikkan pewarnaan bagi radiografi atau
menguikur tekanan darah jantung dan pemasangan
elektrode-elektroda pada alat pacu jantung.
2) Makro syok, terjadi apabila salah satu elektroda
menyentuh tangan sedangkan elektroda lain
menyentuh kulit bagian lain sehingga terjadi aliran
listrik melalui permukaan tubuh (kulit) dan
timbullah makro syok.


10. PARAMETER-PARAMETER YANG MEMPENGARUHI SYOK
LISTRIK

Parameter-parameter lain juga berperan mempengaruhi
tingkat syok, yaitu :
Dari sudut arus :
1) Seseorang akan menderita syok lebih serius pada tegangan
220 volt daripada tegangan 80 volt, oleh karena kuat arus
pada tegangan 220 Volt lebih besar daripada tegangan 80
Volt dengan nilai R yang sama.
2) Basah tidaknya kulit penderita, kulit penderita yang
berkeringat/b asah tahanannya lebih kecil sehingga
memudahkan arus listrik melewati kulit pendeta.
Dari sudut parameter-parameter yang lain :
1) Jenis Kelamin, pada tahun 1973 Dalziel melakukan
penelitian tentang nilai ambang persepsi.
2) Frekuensi AC, dari hasil penelitian yang telah dilakukan
oleh Dalziel ternyata frekuensi 50-60 Hz merupakan
minimum let go current.
3) Duration, LA Gaddes dari Institute of Electrical and
Elektronics melakukan penelitian terhadap binatang
anjing.
4) Berat badan, dari hasil penelitian terhadap binatang oleh
Ferris menunjukkan nilai ambang fibrilasi akan meningkat
dengan meningkatnya berat badan. Hal ini diramalkan
berlaku pula bagi manusia.
BIOLISTRIK

24 | P a g e

5) Jalan yang ditempuh arus, apabila jalan yang ditempuh
arus melewati jantung atau otak akan timbul bahaya syok
semakin serius.


11. PENGARUH SYOK LISTRIK TERHADAP TUBUH

Pada mikro syok tidak diperlukan arus yang besar, dalam skala
mikro Amper saja dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel. Hal
ini kemungkinan disebabkan karena tahanan dalam tubuh
sangat kecil. Ditambah pula adanya kateter merupakan
konduktor yang baik bagi arus listrik, maka apabila ada arus
listrik yang melewati kulit kemudian masuk ke dalam jaringan
tubuh akan terlihat jelas perubahan/pengaruh terhadap organ
tubuh (makro syok). Besar arus berhubungan dengan tegangan
dan tahanan kulit serta perubahan yang diakibatkan arus AC
pada 60 Hz.

Pertolongan terhadap Syok Listrik
Apabila terjadi syok listrik, AC switching segera dimatikan
dan semua elektroda harus dijauhkan dari penderita.
Penderita dipindahkan dengan menggunakan bahan-bahan
isolator agar petugas terhindar dari bahaya syok listik.
Pertolongan yang diberikan tergantung dari berat atau
ringannya syok listrik.
Syok listrik ringan :
- Penderita diistirahatkan
- Diberi minum dengan air dingin dengan tujuan agar
tidak menyebabkan vasodilatasi/pelebaran pembuluh
darah dan berkeringat banyak yang dapat menyebabkan
penurunan tekanan darah
Syok Listrik Berat :
- Penderita ditelentangkan agar mudah bernafas
- Pakaian dilonggarkan agar mendapat udara yang cukup,
hindari ruang yang panas/ pengap karena dapat
menyebabkan vasodilatasi dan berkeringat banyak yang
dapat menurunkan tekanan darah
- Apabila kesadaran menurut dan kegagalan pernafasan,
dapat dilakukan pernafsan buatan melalui mulut,
BIOLISTRIK

25 | P a g e

hidung atau memberi oksigen melalui kantong udara
atau masker.
- Apabila terjadi jantung berhenti massage jantung
Oleh karena bahaya syok listrik sangat besar hingga dapat
menyebabkan kematian, maka perlu adanya tindakan
pencegahan. Untuk menghindari bahaya syok listrik, yaitu :
segala alat digroundkan, isolasi penderita dari ground,
hindari alat-alat yang berdekatan dengan penderita dari
ground, hindari alat-alat yang berdekatan dengan
penderita dan lakukan regular testing prosedur.



Sumber Lainnya

BIOLISTRIK

A. Pendahuluan
Kelistrikan merupakan sesuatu yang biasa digunakan dalam
kehidupan sehari-hari dan biasanya kita tidak terlalu banyak
memikirkan hal tersebut. Walaupun pemakaian praktis dari
kelistrikan telah dikembangkan khususnya pada abad keduapuluh,
penelitian dibidang kelistrikan mempunyai sejarah yang panjang.
Pengamatan terhadap gaya tarik listrik dapat ditelusuri sampai
pada zaman Yunani Kuno. Orang-orang Yunani kuno telah
mengamati bahwa setelah batu amber digosok, batu tersebut akan
menarik benda kecil seperti jerami atau bulu. Kata listrik berasal
dari bahasa Yunani untuk amber yaitu electron.
Selama periode hujan badai pada tahun 1786, Luigi Galvani
menyentuh otot tungkai seekor katak dengan menggunakan suatu
metal, dan teramati bahwa otot katak tersebut berkontraksi. Dari
pengamatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa aliran listrik akibat
badai tersebut merambat melalui saraf si katak sehingga otot-
ototnya berkontraksi. Sel saraf menghantarkan implus dari satu
bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain. Namun dengan mekanisme
yang jauh berbeda dengan hantaran aliran listrik pada suatu
konduktor metal. Dalam rentang waktu yang cukup lama, kita
BIOLISTRIK

26 | P a g e

mengetahui impuls dalam sistem saraf terdiri dari ion-ion yang
mengalir sepanjang sel-sel saraf, analog dengan aliran elektron
dalam suatu konduktor. Namun demikian, sifat-sifat listrik dari sel-
sel saraf lebih lambat dan kekuatannya lebih rendah (konduksinya
ada atau tidak sama sekali) dibandingkan konduksi pada metal.
Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang
kedokteran. Ada dua aspek kelistrikan dan magnetis dalam bidang
kedokteran, yaitu listrik dan magnet yang timbul dalam tubuh
manusia, serta penggunaan listrik dan magnet pada permukaan
tubuh manusia.

B. Hukum dalam Biolistrik
Hukum-hukum yang mendasari biolistrik antara lain adalah
Hukum Ohm dan Hukum Joule.
Hukum Ohm menyatakan bahwa :
Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding
langsung dengan arus yang melewati, dan berbanding terbalik
dengan tahanan dari konduktor.
Secara metamatis dapat dirumuskan dengan persamaan :

R =
I
V

R = hambatan ( )
I = kuat arus (Ampere)
V = tegangan (Volt)

Hukum Joule menyatakan bahwa :
Arus listrik yang melewati konduktor dengan beda potensial
(V), dalam waktu tertentu akan menimbulkan panas.
Secara matematis dapat dinyatakan dengan persamaan :
Q = V l t
Q = Energi panas yang ditimbulkan (Joule)
V = tegangan (volt)
I = Arus (A)
t = waktu lamanya arus mengalir (second)

BIOLISTRIK

27 | P a g e

C. Kelistrikan dan Kemagnetan yang Timbul di Dalam Tubuh
1. Sistem Saraf dan Neuron
Sistem Saraf
Sistem saraf dibagi menjadi dua, yaitu : sistem saraf pusat
dan sistem saraf otonom.

Sistem Saraf Pusat
Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer. Saraf
perifer ini adalah serat saraf yang mengirim informasi sensoris ke
otak atau ke medulla spenalis, disebut saraf afferent. Sedangkan
serat saraf yang menghantarkan informasi dari otak atau medulla
spenalis ke otot dan kelenjar disebut saraf efferent.

Sistem Saraf Otonom
Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh, misalnya
jantung, usus dan kelenjar-kelenjar. Pengontrolan ini dilakukan
secara tidak sadar.

Neuron
Struktur sadar dari sistem saraf disebut neuron/sel saraf.
Suatu sel saraf (neuron) merupakan bagian terkecil dalam suatu
skema saraf dan berfungsi menerima, menginterprestasikan
(memaknai) dan menghantarkan aliran listrik/informasi. Sel saraf
terdiri dari tubuh serta serabut yang menyerupai ranting.
Serabutnya juga terdiri dari 2 macam, yaitu dendrit dan akson.
Dendrit, bersama dengan tubuh sel berfungsi menerima
informasi berupa rangsangan dan sensor penerima maupun dari sel
saraf yang lainnya. Sedangkan akson berfungsi menghantarkan
informasi ke bagian sel saraf lain. Jika rangsangan yang diterima
oleh dendrite atau tubuh sel pada setiap waktu, intensitasnya
berada pada ambang batas atau lebih, maka implus saraf bereaksi
serta menjalar sepanjang akson. Impuls ini akan mengalir
sepanjang akson dari tubuh sel menuju cabang terminal.
Akson, merupakan suatu salinan panjang yang tipis dan pada
ujungnya terbungkus oleh suatu membran yang berisi cairan
dengan nama aksoplasma. Sesampainya impuls saraf pada
BIOLISTRIK

28 | P a g e

terminal, suatu substansi saraf penghantar dilepaskan dan akan
menyampaikan impuls ke penerima di sel berikutnya.
Penampang lintang yang kecil dari suatu akson dengan
tahanan yang tinggi (R = nL/A, R = hambatan ( ), n : Konstanta
kesebandingan/resistivitas ( .m), L : panjang akson (cm) dan A :
Luas penampang (cm
2
), aksoplasmanya membentuk suatu
hambatan yang tinggi. Secarik akson dengan panjang 1 cm memiliki
tahanan listrik sekitar 2,5 x 10
8
. Untuk memahami bagaimana
impuls saraf dapat dihantar melalui medium tersebut, perlu
dipahami suatu sel saraf sebelum memperoleh rangsangan, atau
dengan kata lain berada dalam keadaan istirahat.

Sel Saraf dalam Keadaan Istirahat
Dalam suatu sel saraf maupun sel-sel hidup lainnya, membran
sel mempertahankan kondisi intraseluler yang berbeda dengan
lingkungan ekstra selulernya. Setiap sel saraf menghasilkan sedikit
ion negatif tepat di dalam sel dan juga ion positif tepat di luar
membran sel.
Telah diketahui bahwa sel mempunyai lapisan yang disebut
membran sel mempertahankan kondisi intraseluler yang berbeda
dengan lingkungan ekstra selulernya. Setiap sel saraf menghasilkan
sedikit ion negatif tepat di dalam sel dan juga ion positif tepat di
luar membran sel.
Telah diketahui bahwa sel mempunyai lapisan yang disebut
membran sel, di dalam sel ini terdapat ion Na
+
, K+, Cl-, dan
protein (A). Perbedaan sifat elektron pada membran sel saraf
adalah kunci dalam memahami hantaran impuls saraf. Konsentrasi
ion Kalium (K
+
) didalam cairan pada bagian dalam membran sel 30
kali lebih banyak daripada yang di luar, sedangkan konsentrasi ion
Natrium (Na
+
) sepuluh kali lebih banyak dibagian luar membran sel
dibandingkan dengan bagian dalam. Perlu dicermati bahwa semua
anion (terutama klorida, Cl
-
) juga tidak terdistribusi sempurna.
Seperti pada sel hidup yang lain, sel saraf menggunakan difusi pasif
dan transportasi aktif untuk mempertahankan perbedaan ini
melalui membran selnya. Ketidak sesuai distribusi Na
+
dan K
+
sebenarnya dibentuk oleh kebutuhan energi pemompaan Na
+
-K
+
,
BIOLISTRIK

29 | P a g e

yang memindahkan ion Na
+
keluar dari sel dan K
+
ke dalam sel. Juga
adanya suatu protein dalam membran sel saraf sebagai suatu
saluran potensial yang memudahkan Na
+
dan K
+
mengalir selama
hantaran impuls saraf.
Suatu sel saraf berada dalam keadaan istirahat, saluran Na
+

yang bergantung pada tegangan tertutup sehingga menjadi
ketidaksamaan distribusi Na
+
. Membran sel saraf yang berada
dalam keadaan istirahat (tidak adanya proses konduksi impuls
listrik), konsentrasi ion Na
+
lebih banyak di luar sel dari pada di
dalam sel, di dalam sel akan lebih negatif dibandingkan dengan
diluar sel. Dalam keadaan istirahat, membran sel tidak permiabel
terhadap anion yang besar (atau terhadap jenis muatan negatif
terbentuk tepat di bagian dalam permukaan membran sel. Beda
potensial (table 7.1) pada membran sel sekitar 70 mV, dan
potensial listrik di luar sel adalah nol. Dengan demikian beda
potensial di dalam membran sel -70 mV. Membran sel ini disebut
dalam keadaan polarisasi. Ini adalah potensial sel saraf dalam
keadaan istirahat.
Tabel 7.1 Konsentrasi Ion di Dalam dan di Luar
Sel Saraf Istirahat yang Umum
Ion
Konsentrasi (mmol/L)
Di dalam Diluar
Na
+

K
+

Cl
Lainnya
15
150
9
156
145
5
120
30

Susunan muatan pada setiap permukaan membran sel saraf
menyerupai kapasitor bermuatan. Medan listrik diantara kapasitor
pelat sejajar adalah seragam, sehingga kita dapat menghitung
medan listrik pada membran sel yang memiliki ketebalan 7 nm :
(7.3)
=
dL
dv
E

m x
V x
9
3
10 0 , 7
) 10 70 (


BIOLISTRIK

30 | P a g e

= 1,0 x 107 V / m (kearah kanan)
Dengan demikian gaya yang dihasilkan oleh medan ini terhadap ion
positif menjadi :
F = q E
= (1,6 x 10-19 C) (1,0 x 107 V / m)
= 1,6 x 10-12 N
Gaya ini beraksi melawan perbedaan konsentrasi K+, walaupun
menambah efek dari perbedaan konsentrasi Na+

Rangsangan Sel Saraf
Potensial sel saraf dalam keadaan istirahat dapat di ganggu
oleh rangsangan listrik, kimia maupun fisis (mekanik), selanjutnya
butir-butir membran akan berubah dan beberapa ion Na+ akan
masuk dari luar sel ke dalam sel. Di dalam sel akan menjadikurang
negatif (lebih positif) dari pada di luar sel dan potensial membran
akan meningkat. Keadaan membran ini disebut dalam keadaan
depolarisasi. Gangguan ini mungkin hanya sedikit mempengaruhi
potensial membran pada titik rangsangan. Pada kasus ini, potensial
membran dengan cepat kembali pada nilai istirahatnya yaitu -70
mV.
Jika rangsangan ini cukup kuat hingga menyebabkan
depolarisasi dari potensial istirahat, -90 mV menjadi sekitar -50
mV. Saluran membran karena adanya perubahan potensial akan
terbuka. Karena ada gradien konsentrasi dan gradien listrik, ion
Na+ mengalir memasuki sel dalam waktu yang cepat dan jumlah
yang banyak serta menimbulkan arus listrik (I = q = t). Fluks Na+
pada bagian dalam membran menghasilkan perubahan polaritas
membran dan menyebabkan perubahan potensial listrik sebesar
+40 mV.
Jika efek dan konsentrasi Na+ (luar > dalam) menjadi
seimbang oleh karena gradien listrik (potensial membrannya
menjadi positif di bagian dalam), depolarisasi berahir pada tempat
rangsangan semula. Saluran Na+ kemudian menutup kembali.
Saluran K+ merespon perubahan polaritas membran secepatnya
setelah pembukaan Na+ dengan mengirimkan K+ keluar dan Na+ ke
dalam. Gerakan ion K+ dan lambatnya pemompaan Na+ - K+ segera
BIOLISTRIK

31 | P a g e

memperbaiki gradien konsentrasi dan gradien listrik seperti pada
keadaan istirahat.
Untuk mengukur potensial aksi secara baik dipergunakan
elektroda. Kegunaan dari elektroda adalah untuk memindahkan
transmisi ion ke penyalur elektron. Bahan yang dipakai sebagai
elektroda adalah perak dan tembaga. Apabila sebuah elektroda
tembaga dan sebuah elektroda peran dicelupkan ke dalam larutan
elektrolit seimbang cairan badan / tubuh maka akan terjadi
perbedaan potensial antara kedua elektroda itu. Perbedaan
potensial ini kira-kira sama dengan perbedaan antara potensial
kontak kedua logam tersebut, dinamakan potensial offset
elektroda. Apabila sebuah elektroda tembaga dan elektroda perak
ditempatkan dalam bak berisi elektrolit akan terdapat perbedaan
potensial sebesar 0,80 0,34 =- 0,46 V. Perbedaan potensial
sebesar 0,46 dapat dijumpai bila kedua tangan penderita
disambung melalui elektroda tembaga dan elektroda perak pada
jalan masuk instrumen yang dipakai untuk pengukuran. Namun
dalam praktik perbedaan potensial offset elektroda harus dibuat
sekecil mungkin/ mendekati nol, akan tetapi selalu tidak mungkin
dan akan terjadi penurunan tegangan secara perlahan-lahan
(drift). Untuk mendapatkan potensial offset elektroda sekecil
mungkin, elektroda tidak disambung dalam amplifier tegangan
searah melainkan dilapisi pasta /jelly. Dalam pemilihan bahan
sebagai elektroda sangat penting, diutamakan bahan elektroda
yang dapat disterilkan (oleh karena pemakaian terus menerus
terhadap berbagai penderita) dan tidak mengandung racun.

Perambatan Impuls Saraf
Paragraf-paragraf sebelumnya menggambarkan suatu pulsa
listrik tunggal pada titik rangsangan. Pertanyaan selanjutnya
adalah bagaimanakah impuls ini bergerak melalui akson?
Karena adanya potensial aksi, sebagian kecil membran
mengalami depolarisasi akibat adanya aliran ion dalam membran.
Saat proses depolarisasi ini mencapai batas ambang, potensial aksi
dihasilkan kembali pada bagian akson tersebut.
BIOLISTRIK

32 | P a g e

Potensial membran pada daerah tersebut mencapai nilai
ambang -50 mV. Dengan demikian permeabilitasnya terhadap Na+
menjadi meningkat secara tiba-tiba dan potensial aksi +40 mV
merambat menyerupai gelombang sepanjang sel saraf. Karena
adanya periode pemulihan, yaitu selama sebagian membran
mengalami depolarisasi dan tidak dapat dirangsang lagi. Impuls
saraf hanya dapat merambat pada satu arah tertentu saja,
menjauhi tubuh sel saraf. Impuls akan terus bergerak hingga
mencapai terminal, dan menyebabkan dilepaskannya
neurotransmitter dari membran sel saraf.
Perlu diperhatikan bahwa selam aproses penghantaran impuls
saraf aliran listrik mengalir ke dalam dan ke luar melalui membran
serta tegak lurus terhadap arah perambatan impuls. Lebih jauh
lagi, seberapa jauh pun akson, impuls tidak pernah memerlukan
penguatan, impuls akan terus merambat dengan kekjuatan yang
sama dari rangsangan awal.
Lapisan myelin merupakan suatu insulator yang baik,
sehingga ion tidak dapat mengalir menembus lapisan tersebut.
Aktivitas listrik pada sel saraf yang dilapisi myelin hanya terbatas
pada node Ranvier, karena adanya konsentrasi yang cukup besar
dari saluran ion yang bergantung pada tegangan. Potensial aksi
hanya dapat dihasilkan pada node Ranvier dan meloncat dengan
cepat sepanjang akson. Oleh karena difusi ion-ion melalui
aksoplasma dan cairan ekstraselular. Kecepatan rambat pada akson
saraf dengan lapisan myelin adalah 12m/s.
Mekanisme perambatan impuls listrik dalam suatu sel saraf
sangat berbeda dengan konduksi listrik dalam logam, namun
demikian konsep-konsep fisika dapat dijadikan dasar dalam
memahami proses tersebut.

D. Kelistrikan Otot Jantung
Sel membran otot jantung (miokardium) sangat berbeda
dengan saraf dan otot bergaris. Pada saraf maupun otot bergaris
dalam keadaan potensial membran istirahat dilakukan rangsangan
maka ion-ion Na+ akan masuk ke dalam sel dan setelah tercapai
nilai ambang akan timbul depolarisasi. Sedangkan pada sel otot
BIOLISTRIK

33 | P a g e

jantung, ion Na+ mudah bocor, sehingga setelah terjadi
repolarisasi komplit, ion Na+ perlahan-lahan akan masuk kembali
ke dalam sel dengan akibat terjadi gejala depolarisasi secara
spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi
tanpa memerlukan rangsangan dari luar.
Untuk menentukan natural rate dari berbagai sel otot
jantung yaitu waktu antara terhitung mulai depolarisasi spontan
sampai mencapai nilai ambang setelah terjadinya repolarisasi.
Interval waktu ini bisa bervariasi oleh karena perubahan dala hal :
4. Potensial membran istirahat
5. Tingkat dari nilai ambang
6. Slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang
Perubahan ketiga parameter ini sangat mempengaruhi
mekanisme kontrol fisiologis terhadap frekuensi jantung. Jika
daerah sekitar miokardium belum mencapai nilai ambang
sedangkan bagian lain telah menghasilkan potensial aksi, bagian ini
akan dengan segera menyebabkan bagian lain mencapai nilai
ambang dan menghasilkan potensial aksi, demikian seterusnya
sehingga menghasilkan gelombang depolarisasi untuk seluruh otot
miokardium.

1. Aktivitas Kelistrikan Otot Jantung
Sel membran otot jantung serupa dengan sel membran otot
bergaris, yaitu mempunyai kemampuan menuntun suatu
perambatan potensial aksi/gelombang depolarisasi. Depolarisasi sel
membran otot jantung (miokardium) oleh perambatan potensial
aksi dengan menghasilkan kontraksi otot. Tetapi ada 3 hal penting
perbedaan antara sel otot jantung dengan sel otot bergaris, yaitu
sel otot jantung mempunyai :
d. High speed conductive pathways (konduksi berjalan dengan
kecepatan tinggi), merupakan keistimewaan pada otot jantung
di mana konduksi gelombang depolarisasi berlangsung secara
cepat.
e. Long refractory period (periode refrakter yang panjang),
lamanya repolarisasi dan periode refrakter pada otot jantung
(miokardium) 100 kali lebih lama dari pada otot bergaris.
BIOLISTRIK

34 | P a g e

f. Automatisasi (otomatisasi), tidak menghendaki rangsangan dari
luar untuk mencapai nilai ambang, melainkan mempunyai
kemampuan sendiri yaitu depolarisasi spontan tanpa rangsangan
dari luar.
Gelombang depolarisasi diteruskan ke AV node (Antrio
ventricular node) sehingga AV node mengalami depolarisasi.
Gelombang dari AV node dilanjutkan melalui bundle of his
(berkas hias) dan diteruskan ke cabang bundle (berkas cabang)
sehingga cabang bundle mengalami depolarisasi.
Dari cabang bundle impuls tersebut diteruskan ke jaringan
purkinye. Dari jaringan purkinye gelombang depolarisasi diteruskan
ke endokardium dan berakhir pada epikardium, sehingga terjadi
kontraksi otot jantung.
Setelah repolarisasi,m miokardium mengalami relaksasi. Pada
waktu repolarisasi tampak proses epikardium ke endokardium
ventrikel, sedangkan pada proses depolarisasi tampak dari
endokardium ke epikardium.

2. Fibrilasi
Aktivitas irama jantung terletak pada permukaan jantung
dekat muara vena cava superior, yaitu pada puncak atrium kanan.
Kumpulan sel-sel ini disebut NA node yang bertindak sebagai pace
maker. Melalui pace maker ini aktivitas otot jantung secara sinkron
memompa darah ke sirkulasi paru-paru dan ke sirkulasi darah
sistemik (ke seluruh tubuh). Suatu keadaan dimana terjadi
kehilangan sinkronisasi dikenal sebagai fibrilasi. Fibrilasi dapat
terjadi pada atrium (fibrilasi atrium) maupun pada ventrikel
(fibrilasi ventrikel).
Pada keadaan fibrilasi atrium, ventrikel masih berfungsi
secara normal, tetapi jawaban dengan suatu irama yang ireguler
terhadap rangsangan listrik yang tidak sinkron dari fibrilasi atrium.
Banyak darah akan masuk ke dalam ventrikel sebelum terjadi
kontraksi atrium dan berlangsung selama kontraksi ventrikel.

E. Isyarat Magnet Jantung dan Otak
BIOLISTRIK

35 | P a g e

Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet.
Medan magnet sekitar jantung disebabkan adanya arus listrik
jantung yang mengalami depolarisasi dan repolarisasi. Pencatatan
medan magnet jantung disebut magnetokandiogram. Besar medan
magnet sekitar jantung adalah sekitar 5 x 10
-11
Tesla atau sekitar
10 x 10
8
medan magnet bumi. Hubungan Tesla (T) dengan Gauss
dapat dinyatakan : 1 T = 10
4
Gauss.

3. Magnetokardiografi (MKG)
MKG adalah pencatatan medan magnet di sekeliling jantung
dengan mempergunakan arus searah (DC). Penderita ditempatkan
dalam ruang octagonal yang terdiri dari 5 lapisan pelindung
magnet. Segala materi bermagnet disingkirkan dari subjek yang
akan diperiksa. Kemudian magnetodetektor probe didekatkan pada
tubuh / jantung. Perekaman hanya berlangsung dalam waktu
kurang dari 1 menit.
Perekaman MKG dapat memberi informasi yang berguna
dalam diagnosis apabila dikerjakan pada waktu jantung mengalami
serangan oleh karena pada saat ini digunakan arus listrik.

4. Magnetoensefalogram (MEG)
MEG adalah pencatatan medan magnet sekeliling otak
dengan mempergunakan arus searah. Alat yang digunakan adalah
SQUID magnetometer. Pada rithme alpha, medan magnet otak
berkisar 11 x 10
-13
T.

G. Penggunaan Listrik dan Magnet pada Permukaan Tubuh
Seiring dengan perkembangan kelistrikan, telah diciptakan
peralatan yang mempergunakan energi listrik untuk terapi
pengobatan. Pada tahun 1890 Jacques A.D. Arsonval telah
menggunalan listrik berfrekuensi rendah untuk menimbulkan efek
panas. Tahun 1929 telah menggunakan listrik dengan frekuensi 30
MHz untuk pemanasan yang disebut short wave diathermy. Pada
tahun 1950 telah diperkenalkan penggunaan gelombang mikro
dengan frekuensi 2.450 MHz untuk keperluan diatermi dan
pemakaian radar.
BIOLISTRIK

36 | P a g e


1) Penggunaan Arus Listrik Berfrekuensi Rendah
Listrik berfrekuensi rendah mempunyai batas frekuensi
antara 20 Hz sampai dengan 500.000 Hz. Frekuensi rendah ini
mempunyai efek merangsang saraf dan otot sehingga terjadi
kontraksi otot. Arus listrik berfrekuensi rendah dapat dihasilkan
oleh alat listrik yaitu : stimulator yang rangkaiannya terdiri
multivibrator maupun astable multivribator. Selain frekuensi, perlu
juga diperhatikan pengulangan dalam pemakaian dan bentuk
gelombang arus listrik yang dipakai.
Selain arus DC, dapat pula menggunakan arus AC dengan
frekuensi 50 Hz, yang mempunyai kemampuan merangsang saraf
sensoris, saraf motoris dan berefek kontraksi otot.

2) Penggunaan Arus Listrik Berfrekuensi Tinggi
Arus listrik berfrekuensi tinggi mempunyai frekuensi di atas
500.000 Hz, dihasilkan oleh sirkuit osilator yang mengandung
rangkaian kondensator dan inductor, yaitu rangkaian L-C. frekuensi
tinggi ini mempunyai sifat memanaskan sehingga dapat digunakan
untuk diatermi yang dapat dibagi menjadi dua tipe :
d. Short wave diathermy (diatermi gelombang pendek)
Pada diatermi ini terdapat dua metode yang digunakan untuk
memperoleh gelombang elektromagnetis agar masuk ke dalam
badan, yaitu :
1) Metode capacitance (metode kondensor), dengan cara
elektroda diletakkan pada masing-masing sisi yang akan
diobati dan dipisahkan dari kulit dengan bahan isolator.
Substansi yang ada di dalam medan magnet akan bervibrasi,
elektrolit mengalami dipole dan timbulpanas sebesar Q = Vlt
/ 0,24 kalori (persamaan 7.2, Hk. Joule).
2) Metode Induksi (metode kabel), pada metode ini dapat
menimbulkan efek medan listrik dan medan magnet secara
bersamaan. Metode ini dilakukan dengan cara melilitkan
kabel pada daerah yang akan diobati.
Efek diatermi gelombang pendek adalah :
BIOLISTRIK

37 | P a g e

Menghasilkan panas dan peningkatan efek fisiologis sebagai
akibat dari peningkatan temperatur, yaitu :
(1) Meningkatkan metabolisme, perubahan struktur kimia
yang disebabkan kenaikan temperatur (Hk. Vant Hoff).
(2) Suplai darah meningkat, sebagai akibat dari meningkatnya
metabolisme
(3) Efek pada saraf, mengurangi eksitasi saraf apabila kurang
begitu panas
(4) Dengan meningkatnya temperature mengurangi relaksasi
otot dan meningkatkan efisiensi usaha otot. Otot akan
berkontraksi dan relaksasi semakin meningkat.
(5) Meningkatkan aktivitas kelenjar keringat
Mempunyai efek terapeutik (pengobatan)
(1) Terhadap daerah peradangan, dimana akan terjadi
pelebaran pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan
oksigen dan pengangkutan makanan untuk sel-sel
(2) Efek terhadap infeksi bakteri, terjadi peningkatan
konsentrasi sel darah putih dan antibodi pada daerah
infeksi.
(3) Menghilangkan rasa sakit, panas menyebabkan saraf
sensoris mengalami sedaktif.

e. Micro wave diathermy (diatermi gelombang mikro)
Gelombang mikro adalah gelombang dengan panjang
gelombang 1 cm sampai 1 meter. Untuk diatermi sering digunakan
panjang gelombang 12,25 cm dengan frekuensi 2.450 MHz atau
panjang gelombang 69 cm dengan frekuensi 433,92 MHz. efek yang
ditimbulkan tergantung jumlah energi radiasi yang diserap. Besar
absorbsi dapat dinyatakan dalam rumus eksponensial :
I = I
0
e
-x/d

I : Intensitas radiasi yang diserap (I = 37% dari I
0
) (W / m
2
)
x : kedalaman radiasi dalam jaringan (m)
I
0
: intensitas radiasi pada permukaan kulit (W/m
2
)
e : koefisien absorbsi
Efek yang ditimbulkan adalah efek fisiologis dan efek
pengobatan. Efek fisiologis : menimbulkan panas pada jaringan-
BIOLISTRIK

38 | P a g e

jaringan yang banyak mengandung air, banyak pula mendeposit
energi, pada otot lebih banyak menyerap energi gelombang mikro
dari pada jaringan lemak. Efek pengobatan : dapat mengobati
penderita yang mengalami ruda paksa (trauma) dan peradangan
dan dapat pula mengobati penderita nyeri dan spasme otot, bisul
dan rematik.

H. Syok Listrik (Kejutan Listrik)
Syok listrik atau kejutan listrik adalah suatu pada saraf
sensoris yang diakibatkan aliran listrik yang mengalir secara tiba-
tiba melalui tubuh. Bahaya syok listrik sangat besar, tubuh
penderita akan mengalami ventricular fibrilation (fibrilasi
ventrikel) yang kemudian diikuti dengan kematian. Oleh karena itu
perlu diketahui perubahan-perubahan yang timbul akibat syok
listrik dan metode pengamanan sehingga bahaya syok dapat
dihindari.
Syok tanpa tujuan tertentu timbul karena suatu kecelakaan,
dikenal dengan Earth syok. Syok ini terjadi apabila salah satu
tubuh menyentuh kawat fasa sedangkan bagian tubuh lain
menyentuh kawat netral. Berdasarkan besar kecilnya tegangan,
earth syok dapat dibagi menjadi dua : low tension shock dan high
tension shock.
3. Low tension shock (syok tegangan rendah), terjadi berkaitan
dengan pemakaian generator yang menghasilkan arus listrik
dengan tegangan rendah atau berkaitan dengan pemakaian
lampu panas radient atau lampu sinar ultra ungu.
4. High tension shock (syok tegangan tinggi), terjadi berkaitan
dengan pemakain generator tegangan tinggi, generator
gelombang pendek atau step up transformator. Penderita yang
mengalami syok, kulit badannya akan mengelupas seluruhnya.
Pada beberapa buku fisika membagi earth syok menjadi
mikro syok dan makro syok.
1. Mikro syok, terjadi karena adanya aliran listrik langsung
mengikuti arteri ke jantung. Hal ini dapat terjadi ketika
penggunaan kateter untuk pencatatan EKG, liquid filled
catteter untuk menyuntikkan pewarnaan bagi radiografi atau
BIOLISTRIK

39 | P a g e

menguikur tekanan darah jantung dan pemasangan elektrode-
elektroda pada alat pacu jantung.
2. Makro syok, terjadi apabila salah satu elektroda menyentuh
tangan sedangkan elektroda lain menyentuh kulit bagian lain
sehingga terjadi aliran listrik melalui permukaan tubuh (kulit)
dan timbullah makro syok.

Parameter-parameter yang Mempengaruhi Syok Listrik
Parameter-parameter lain juga berperan mempengaruhi
tingkat syok, yaitu :
Dari sudut arus :
1. Seseorang akan menderita syok lebih serius pada tegangan 220
volt daripada tegangan 80 volt, oleh karena kuat arus pada
tegangan 220 Volt lebih besar daripada tegangan 80 Volt dengan
nilai R yang sama.
2. Basah tidaknya kulit penderita, kulit penderita yang
berkeringat/b asah tahanannya lebih kecil sehingga
memudahkan arus listrik melewati kulit pendeta.
Dari sudut parameter-parameter yang lain :
1. Jenis Kelamin, pada tahun 1973 Dalziel melakukan penelitian
tentang nilai ambang persepsi.
2. Frekuensi AC, dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Dalziel ternyata frekuensi 50-60 Hz merupakan minimum let go
current.
3. Duration, LA Gaddes dari Institute of Electrical and Elektronics
melakukan penelitian terhadap binatang anjing.
4. Berat badan, dari hasil penelitian terhadap binatang oleh Ferris
menunjukkan nilai ambang fibrilasi akan meningkat dengan
meningkatnya berat badan. Hal ini diramalkan berlaku pula bagi
manusia.
5. Jalan yang ditempuh arus, apabila jalan yang ditempuh arus
melewati jantung atau otak akan timbul bahaya syok semakin
serius.

Pengaruh Syok Listrik Terhadap Tubuh
BIOLISTRIK

40 | P a g e

Pada mikro syok tidak diperlukan arus yang besar, dalam
skala mikro Amper saja dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel. Hal
ini kemungkinan disebabkan karena tahanan dalam tubuh sangat
kecil. Ditambah pula adanya kateter merupakan konduktor yang
baik bagi arus listrik, maka apabila ada arus listrik yang melewati
kulit kemudian masuk ke dalam jaringan tubuh akan terlihat jelas
perubahan/pengaruh terhadap organ tubuh (makro syok). Besar
arus berhubungan dengan tegangan dan tahanan kulit serta
perubahan yang diakibatkan arus AC pada 60 Hz.

Pertolongan terhadap Syok Listrik
Apabila terjadi syok listrik, AC switching segera dimatikan
dan semua elektroda harus dijauhkan dari penderita. Penderita
dipindahkan dengan menggunakan bahan-bahan isolator agar
petugas terhindar dari bahaya syok listik. Pertolongan yang
diberikan tergantung dari berat atau ringannya syok listrik.

Syok listrik ringan :
Penderita diistirahatkan
Diberi minum dengan air dingin dengan tujuan agar tidak
menyebabkan vasodilatasi / pelebaran pembuluh darah dan
berkeringat banyak yang dapat menyebabkan penurunan
tekanan darah

Syok Listrik Berat :
Penderita ditelentangkan agar mudah bernafas
Pakaian dilonggarkan agar mendapat udara yang cukup,
hindari ruang yang panas/ pengap karena dapat
menyebabkan vasodilatasi dan berkeringat banyak yang
dapat menurunkan tekanan darah
Apabila kesadaran menurut dan kegagalan pernafasan, dapat
dilakukan pernafsan buatan melalui mulut, hidung atau
memberi oksigen melalui kantong udara atau masker.
Apabila terjadi jantung berhenti massage jantung
Oleh karena bahaya syok listrik sangat besar hingga dapat
menyebabkan kematian, maka perlu adanya tindakan pencegahan.
BIOLISTRIK

41 | P a g e

Untuk menghindari bahaya syok listrik, yaitu : segala alat
digroundkan, isolasi penderita dari ground, hindari alat-alat yang
berdekatan dengan penderita dari ground, hindari alat-alat yang
berdekatan dengan penderita dan lakukan regular testing
prosedur.