Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH

SEL DAN SISTEM FISIOLOGI


Alat Pengukur Waktu Reaksi

Dosen Pengampu : dr. V.Sutarmo Setiadji, Ph.D



Osmalina Nur Rahma
NPM 1306501892


TEKNOLOGI BIOMEDIS
FAKULTAS PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
2014
Pendahuluan
1. Sel Saraf (Neuron)
Jaringan saraf tersusun atas sel-sel yang mempunyai bentuk khusus. Sel-sel tersebut
dinamakan neuron dan neuroglia. Kedua sel tersebut ibarat pasangan tak terpisahkan yang
menyusun jaringan saraf. Jika ada sel neuron, pasti sel neuroglia akan menyertai. Adapun sel
neuroglia berfungsi memberikan nutrisi dan bahan-bahan lain yang digunakan untuk
kehidupan neuron. Dengan kata lain, neuroglia berfungsi untuk menjamin kehidupan neuron
agar tetap dapat melaksanakan kegiatan. Neuron merupakan unit struktural dan fungsional
dari sistem saraf. Neuron memiliki kemampuan sebagai konduktivitas (penghantar) dan
eksistabilitas (dapat dirangsang, serta memiliki kemampuan merespon rangsangan dengan
sangat baik). Neuron terdiri dari tiga bagian yang berbeda satu dengan yang lain, yaitu
sebagai berikut.
a. Badan Sel (Perikarion)
Bagian sel menyimpan inti sel (nukleus) dan anak inti (nukleolus), berjumlah satu
atau lebih yang dikelilingi sitoplasma granuler. Dalam sitoplasma badan sel juga terdapat
badan Nissl yang merupakan modifikasi dari retikum endoplasma kasar. Badan Nissl
mengandung protein yang digunakan untuk mengganti protein yang habis. Selama
metabolisme, protein ini juga bermanfaat untuk pertumbuhan neuron. Jika badan sel rusak,
maka serabut-serabut neuron akan mati.
b. Dendrit
Dendrit merupakan tonjolan sitoplasma dari bagian badan sel. Dibandingkan akson,
dendrit ini lebih halus, lebih pendek, dan memiliki percabangan yang lebih banyak. Fungsi
dendrit ini adalah untuk meneruskan rangsang dari organ penerima rangsang (reseptor)
menuju ke badan sel.
c. Akson
Akson sering disebut juga neurit. Bagian ini merupakan tonjolan sitoplasma yang
panjang dan berfungsi untuk meneruskan impuls saraf yang berupa informasi berita dari
badan sel. Akson memiliki bagian-bagian yang spesifik, yaitu sebagai berikut.
1) Neurofibril
Neurofibril merupakan bagian terdalam dari akson yang berupa serabutserabut halus.
Bagian-bagian inilah yang memiliki tugas pokok untuk meneruskan implus.
2) Selubung Mielin
Bagian ini tersusun oleh sel-sel pipih yang disebut sel Schwann. Selubung mielin
merupakan bagian paling luar dari akson yang berfungsi untuk melindungi akson. Selain
itu, bagian ini pulalah yang memberikan nutrisi dan bahan-bahan yang diperlukan untuk
mempertahankan kegiatan dari akson.
3) Nodus Ranvier
Nodus ranvier merupakan bagian akson yang menyempit dan tidak dilapisi selubung
mielin. Bagian ini tersusun dari sel-sel pipih. Dengan adanya bagian ini, terlihat bagian
akson tampak berbuku-buku.

Gambar 1 Sel Saraf
Sel-sel saraf tersebut membentuk jaringan saraf. Antara sel satu dengan yang lain
terjalin saraf dan saling berhubungan. Ujung dendrit berhubungan langsung dengan penerima
rangsang (reseptor). Selain itu, ujung dendrit ada pula yang berhubungan dengan ujung akson
dari neuron lain. Ujung akson pada sel-sel lain ada juga yang berhubungan dengan efektor,
yaitu struktur yang memberikan jawaban terhadap impuls yang diterima reseptor, misalnya
otot dan kelenjar. Pertemuan antara akson dengan dendrit atau efektor disebut sinapsis.

2. Mekanisme Jalannya Impuls
Secara umum, fungsi sel saraf adalah menerima rangsang dan dapat menanggapi
rangsang tersebut. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa sistem saraf merupakan
jaringan komunikasi yang kompleks. Mekanisme jalannya impuls saraf, yaitu sebagai berikut
:

Gambar 2 Mekanisme Jalannya Impuls

a. Impuls Dihantarkan Melalui Sel Saraf
Impuls dapat diteruskan dan mengalir melalui sel saraf yang disebabkan
adanya perbedaan potensial listrik yang disebut dengan polarisasi. Muatan listrik
di luar membran sel saraf adalah positif sedang muatan yang di luar adalah negatif.
Apabila sel saraf diberi rangsangan akan mengakibatkan polarisasi membran
berubah, sehingga polarisasi akan mengalami pembalikan. Proses pembalikan akan
diulang yang menyebabkan rantai reaksi.
b. Impuls Dihantarkan Lewat Sinaps. Struktur sinaps dapat Anda lihat pada Gambar
berikut.

Gambar 3 Sturktur Sinaps
Apabila impuls mengenai tombol sinaps, maka permeabilitas membran
prasinapsis terhadap ion kalsium menjadi meningkat. Ion kalsium kemudian akan
masuk, sedangkan gelembung sinaps akan melepaskan neutransmitter ke celah
sinaps. Gelembung sinaps melebur dengan membran prasinaps. Impuls sampai ke
membran postsinaps karena dibawa oleh neurotransmitter, kemudian
neurotransmitter dihidrolisis oleh enzim yang dihasilkan oleh membran postsinaps.

3. Waktu Reaksi
Waktu reaksi adalah waktu yang terjadi antara pemberian rangsang tunggal sampai
timbul respon terhadap rangsangan tersebut. Alat yang digunakan dalam pengukuran waktu
reaksi adalah alat pengukur waktu reaksi atau reaction timer.
Waktu reaksi ini dapat dipengaruhi oleh faktor kelelahan. Kelelahan adalah suatu
kondisi menurunnya efisiensi, performa kerja dan erkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik
tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan.
Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Terdapat struktur susunan syaraf pusat yang
angat penting yang mengontrol fungsi secara luas dan konsekuen yaitu reticular formation
atau sistem penggerak pada medula yang dapat meningkatkan dan mengurangi sensitivitas
dari cortex cerebri. Cortex cerebri merupakan pusat kesadaran meliputi persepsi, perasaan
subyektif, refleks dan kemauan. Keadaan dan perasaan lelah merupakan reaksi fungsional
dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri yang dipengaruhi oleh sistem antagonistik yaitu
sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi) yang saling bergantian.
Sistem penghambat terdapat dalam thalamus yang mampu menurunkan kemampuan
manusia bereaksi dan menyebabkan kecenderungan untuk tidur, sedangkan sistem penggerak
terdapat dalam formatio retikularis yang dapat merangsang pusat-pusat vegetatif untuk
konversi ergotropis dari peralatan dala tubuh untuk bekerja.

Gambar 4 Sistem penggerk dan penghambat
Perangcangan Alat Pengukur Waktu Reaksi atau Reaction Timer
Alat pengukur waktu reaksi terdiri atas 2 bagian yaitu unit pencacah waktu dan unit
pengendali logika.

Gambar 5 Pembagian blok unit alat pengukur waktu reaksi
1. Skema Blok Alat Pngukur Waktu Reaksi






















Gambar 6 Diagram blok alat pengukur waktu reaksi
2. Prinsip Kerja Alat
Prinsip kerja alat pengukur waktu reaksi adalah menghitung jeda waktu antara lampu
menyala hingga lampu padam yang menunjukkan kecepatan waktu reaksi tangan.
Berdasarkan blok diagram di atas, cara kerja alat adalah mula-mula keluaran D-flip-flop(1)
berlogika 0 sedangkan D-flip-flop(2) berlogika 1, kemudian jika tombol operator-1 ditekan
maka keluaran dari D-flip-flop(1) akan berubah menjadi logik 1. Hal ini menyebabkan
keluaran gerbang AND-1 berlogika 1 sehingga membuat lampu-1 menyala. Sinyal tersebut
diteruskan ke pintu NOR (keluaran berubah menjadi logika 0) dan dibalik oleh NOT Schmitt
Hex sehingga keluaran kembali berlogika 1. Rangkaian NOR dan NOT Schmitt Hex ini
berfungsi sebagai penghilang derau atau noise. Keluaran tersebut mengakibatkan gerbang
AND-5 bekerja sesuai dengan pembangkit denyut. Pembangkit denyut menggerakkan
pencacah dan diubah menjadi angka pada seven segmen oleh BCD. Selanjutnya lampu akan
mati dan pencacah waktu akan berhenti bila tombol responden-1 ditekan. Tombol responden-
1 bila ditekan akan mengakibatkan gerbang D-flip-flop(2) berubah menjadi logika 0 sehingga
keluaran gerbang AND-1 akan berlogika 0. Besarnya angka yang tertera pada seven segmen
tersebut merupakan waktu reaksi tangan mulai ada rangsangan hingga adanya reson aksi atau
yang disebut dengan waktu reaksi (reaction time).
Secara sederhana, alur prinsip kerja alat dapat digambarkan padadiagram berikut :


Gambar 7 Alur kerja alat pada kondisi mula-mula


Gambar 8 Alur kerja alat saat tombol I operator ditekan


Gambar 9 Alur kerja alat saat tombol I responden ditekan
3. Rangkaian Pengendali Logika
Rangkaian pengendali logika ini pada prinsipnya merupakan saklar start dan stop dari
pencacah yang dikendalikan secara logika oleh gerbang-gerbang digital. Rangkaian ini terdiri
dari 4 buah IC 7474 sebagai rangkaian D-flip-flop, 1 buah IC 7425 sebagai gerbang NOR, 1
buah IC 7414 sebagai gerbang NOT Schmitt Hex, 4 buah resistor sebagai tahanan dan 4 buah
dioda LED sebagai rangsang untuk mata.
3.1. Rangkaian IC 7474 D-flip-flop dengan Tombol
Alat ini mnggunakan 9 tombol yang terdiri atas 4 tombol responden, 4 tombol
operator dan 1 tombol reset. Tombol operator dan responden bekerja bila diberi masukan
high (ditekan) sedangkan tombol reset bekerja berdasar atas masukan logika 1 atau 0.
Rangkaian D-flip-flop ini terdiri atas 4 buah IC 7474, yang masing-masing IC 7474
berisikan 2 gerbang D-flip-flop. Jadi secara keseluruhan rangkaian ini menggunakan 8
gerbang D-flip-flop (4 untuk operator dan 4 untuk responden).

Gambar 10 Salah satu rangkaian IC 7474 dengan tombol
Berikut ini adalah tabel kebenaran untuk rangkaian D-flip-flop :
Tabel 1 Tabel kebenaran rangkaian D-flip-flop
Masukan Keluaran
Pres 1,2 Clear 1,2 Clock1 Clock2 D 1Q 2Q Keadaan
1 0 0 0 1 0 1 Reset
1 1 0 0 1 0 1 Awal
1 1 1 0 1 1 1 Lampu menyala
1 1 0 1 1 1 0 Lampu padam

3.2. Rangkaian IC 7408 sebagai Gerbang AND dengan dioda LED
Setiap IC 7408 terdiri atas 4 gerbang AND yang masing-masing gerbang berisi 2
masukan dan 1 keluaran, sehingga 1 buah IC 7408 memiliki 8 buah masukan dan 4 buah
keluaran. Kedelapan masukan IC 7408 dihubungkan dengan kedelapan keluaran IC 7474
(rangkaian D-flip-flop), sedangkan keempat keluaran IC 7408 dihubungkan dengan keempat
dioda LED.

Gambar 11 Salah satu rangkaian IC 7408 dengan LED

Tabel 2 Tabel kebenaran gerbang AND IC 7408
1A 1B 1Y Keadaan
0 1 0 Reset
0 1 0 Awal
1 1 1 Lampu-1 menyala
1 0 0 Lampu-2 menyala

3.3. Rangkaian IC 7425 Sebagai Gerbang NOR dengan IC 7414 Sebagai Gerbang Not
Pemicu Schmitt Hex
IC 7425 terdiri atas 2 gerbang NOR yang masing-masing gerbang terdiri atas 4
masukan dan 1 keluaran, sedangkan IC 7414 terdiri atas 6 gerbang NOT Pemicu Schmitt
Hex. Dalam rangkaian ini, hanya 1 gerbang NOR dan 2 gerbang NOT pemicu Schmitt Hex
yang digunakan. Masukan 1A, 1B, 1C dan 1D dari IC 7425 dihubungkan dengan keluaran
1Y, 2Y, 3Y dan 4Y dari IC 7408. Keluaran 1Y IC 7425 dihubungkan dengan masukan 1A IC
7414, keluaran 1Y dari IC 7414 dihubungkan dengan masukan 1B,1C pada IC 7408.
Masukan 2A pada IC 7414 dihubungkan ke tombol reset, sedangkan keluaran 2Y
dihubungkan ke masukan 1B, 2B, 3B, dan 4B dari IC 7432.

Gambar 12 Salah satu rangkaian IC 7414 dengan IC 7425

Tabel 3 Tabel kebenaran gerbang NOR IC 7425 dan gerbang NOT Pemicu Schmitt Hex
IC 7414
1A 1B 1C 1D 1A 1Y Keadaan
0 0 0 0 1 0 Reset
0 0 0 0 1 0 Awal
1 0 0 0 0 1 Lampu-1 menyala
0 0 0 0 1 0 Lampu-1 padam
4. Rangkaian Pencacah Waktu
Rangkaian pencacah tersiri dari 1 buah IC 555 sebagai pembangkit denyut, 2 buah IC
7408 sebagai gerbang AND, 4 buah IC 7493 sebagai pencacah waktu (pembagi 10), 4 buah
IC 7447 sebagai BCD, 1 buah IC 7432 sebagai gerbang OR, 28 resistor sebagai penahan
tegangan dan 4 buah seven segmen sebagai penampil waktu.
4.1. Rangkaian IC 555 Sebagai Pembangkit Denyut dengan IC 7408 Sebagai gerbang
AND
IC 555 digunakan sebagai pembangkit denyut pulsa digital dengan frekuensi 1000 Hz.
IC 555 ini beroperasi dalam keadaan astabil artinya pulsa yang dikeluarkan berlangsung
secara terus menerus. Besar frekuensi yang dikeluarkan oleh IC 555 adalah :

( )

untuk memeroleh frekuensi sebesar 1000 Hz, maka dipilih resistor yang bervariabel
(VR), yaitu Vra sebesar 0,837 K, VRb sebesar 28,76 K dan kapasitor C 24,61 nF.
Keluaran dari gerbang IC 555 dihubungkan ke salah satu masukan 1A pada IC 7408
sedangkan masukan 1B dihubungkan ke keluaran gerbang 2Y pada IC 7414. Keluaran 1Y IC
7408 dihubungkan ke pin Clock (A) pencacah IC 7493.

Gambar 13 Rangkaian pewaktu astabil IC 555 dengan IC 7408

Tabel 4 Tabel kebenaran IC 7408 dengan IC 555
1A 1B 1Y Keadaan
1 0 0 reset
1 0 0 Awal
1 1 1 Lampu-1 menyala
1 0 0 Lampu-1 padam

4.2. Rangkaian IC 7493 sebagai Pencacah Pembagi 10
IC 7493 merupaka pencacah 4 bit yang bekerja dengan pencacahan antara 0 sampai 15
(0000 sampai 1111 angka biner) jika mendapat pulsa clok. Pulsa Clok tersebut sekaligus
sebagai sumber pengatur kecepatan pencacahan.
Pencacahan yang diperlukan pada unit pencacah waktu hanya 10 kali dan kembali ke
pencacahan awal, sehingga diperlukan gerbang AND IC 7408 dan gerbang OR IC 7432.
Dua masukan dari IC 7408 yaitu 1A dan 1B dihubungkan dengan Qb dan Qd pada
pencacah IC 7493, keluarannya dihubungkan ke masukan 1A dari IC 7432. Masukan 1B
dari IC 7432 dihubungkan ke tombol Reset melalui gerbang NOT Pemicu Schmitt Hex,
sedangkan keluaran IY dari IC 7432 dihubungkan ke R1 pda pencacah IC 7493.
Tabel 5 Tabel fungsi reset dan cacah
R1 R2 Qd Qc Qb Qa
1 1 0 0 0 0
0 1 Pencacahan

Gambar 1. 14 Salah satu rangkaian IC 7493 dengan IC 7432 dan IC 7408
Prinsip kerjanya adalah jika pencacah mengeluarkan kode biner 10 (0101) maka
pencacahan akan direset ke kode biner 0 (0000). Hal ini sesuai dengan tabel fungsi reset
untuk terjadinya reset dan pencacahan. Untuk mendapatkan pulsa Clok aktif rendah
pencacahan di depannya dengan frekuensi telah terbagi 10, yaitu dengan cara
menghubungkan keluaran Qd dengan pulsa Clok A di depannya. Hal ini akan didapatkan
frekuensi denyut 100 Hz pada pencacah pertama, 100 Hz pada pencacah kedua, 10 Hz pada
pencacah ketiga dan 1 Hz pada pencacah keempat.
Tabel 6 Tabel pencacah pembagi 10
Pencacahan Qd Qc Qb Qa
0 0 0 0 0
1 0 0 0 1
2 0 0 1 0
3 0 0 1 1
4 0 1 0 0
5 0 1 0 1
6 0 1 1 0
7 0 1 1 1
8 1 0 0 0
9 1 0 0 1
4.3. Rangkaian IC 7447 sebagai BCD dengan Seven Segmen sebagai Penampil Bilangan
Dasan
BCD berfungsi mengubah bilangan biner menjadi bilangan dasan. Sinyal keluaran
dari IC 7493 Qa, Qb, Qc, dan Qd dihubungkan dengan masukan IC 7447 yaitu B,C,D
dan A sedang masukan yang lain yaitu BI, RBO dan LT diberi sinyal logika 1. Keluaran
dari IC 7447 ke seven segmen melalui resistor. Seven segmen terdiri atas 7 buah dioda
LED yang membentuk angka 8 sedangkan fungsi dari resistor adalah membatasi arus
agar seven segmen yang terdiri atas dioda bekerja sesuai dengan batas tegangan yang
ditetapkan.
Tabel 7 Tabel kebenaran IC 7447
Dasan LT RBI D C B A BI a b c d e f g
0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1
1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1
2 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0
3 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0
4 1 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0
5 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0
6 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0
7 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1
8 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0
9 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0



Gambar 1. 15 Salah satu rangkaian IC 7447 dengan seven segmen

Referensi
[1] A. Fahkrudin, Pembuatan Alat UkurWaktu Reaksi dengan Sistem Digital, Jurusan
Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro,
Semarang, 1998.
[2] Afrison dan A. Sofwan, Rancang Bangun Alat Pengukur Kecepatan Gerak Reaksi
Menggunakan AT89C51, dalam Komputer dan Sistem Intelijen (KOMMIT 2004),
Jakarta, 24-25 Agustus 2004.