Anda di halaman 1dari 7

Prevalensi Gagal Ginjal Kronis pada Orang-oraang dengan Hipertensi yang Tidak Terdiagnosis atau

Pre-Hipertensi di Amerika Serikat


ABSTRAK
Hipertensi adalah sebab dan akibat dari gagal ginjal kronis, namin prevalensi dari gagal ginjal kronis
sepanjang spektrum diagnosis tekanan darah belum diteliti. Kami menganalisis prevalensi dari gagal
ginjal kronis dalam berbagai kategori tekanan darah pada 17.794 orang dewasa yang disurvei oleh
National Health and Nutrition Examination Survey selama tahun 1999 2006. Hipertensi yang
terdiagnosis didefinisikan sebagai hipertensi yang dilaporkan oleh pasien ( n = 5.832 ), hipertensi
yang belum terdiagnosa didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan
darah sistolik 80 dan < 90 mmHg ( n = 3.719 ); dan normal didefinisikan sebagai tekanan darah
sistolik < 120 mmHg dengan tekanan darah diastolik < 80 mmHg ( n = 5.197 ). Gagal ginjal kronis
didefinisikan sebagai estimasi rerata filtrasi glomerulus 15 60 mL/min/1.73m
2
atau rasio albumin
kreatinin urun > 30 mg/g. Prevalensi dari gagal ginjal kronis diantara subjek dengan pre- atau
hipertensi yang belum terdiagnosis adalah 17.3 % dan 22.0 %, dibandingkan dengan 27.5 % pada
pasien dengan hipertensi terdiagnosis dan 13.4 % dengan tekanan darah yang normal, setelah
penyesuaian untuk umur, jenis kelamin, dan ras dalam analisa regresi logistik multivariat. Pola ini
tetap bertahan dengan berbagai definisi kelainan ginjal; makroalbuminuria ( rasio albumin-kreatinin
urin > 300 mg/g ) memiliki asosiasi terkuat dengan peningkatan kategori tekanan darah [ odds ratio
2.37 ( interval kepercayaan 95%, 2.00 2.81 ) ]. Gagal ginjal kronis bersifat prevalen pada kelompok
pre-hipertensi dan hipertensi yang tidak terdiagnosis. Identifikasi awal dan terapi secepatnya untuk
kedua kondisi tersebut dapat mencegah atau menunda morbiditas dan mortalitas dari gagal ginjal
kronis.
Kata kunci : epidemiologi ; albuminuria ; ginjal ; pencegahan ; pengetahuan ; pengawasan
PENDAHULUAN
Hipertensi adalah penyebab ke dua untuk gagal ginjal stadium akhir di Amerika Serikat ( AS ), dan
telah diketahui sebagai penyebab dan akibat dari GGK. Diperkirakan sekiar 26 juta orang dewasa di
AS memiliki GGK pada tahun 1999 2004, menunjukan peningkatan hingga 3 % dari 10 tahun
sebelumnya. Hipertensi diperkirakan mempengaruhi 29 % orang dewasa di AS. Namun, banyak
orang dewasa dengan hipertensi tidak menyadari mereka memiliki keadaan tersebut. Antara tahun
1999 2004, terdapat 28 % yang tidak mengetahui bila mereka memiliki hipertensi. Hal yang tidak
diketahui adalah berapa banyak orang dewasa di AS yang memiliki hipertensi yang tidak terdiagnosa
dan memiliki GGK. Pemahaman akan bean GGK diantara orang-orang dewasa dengan hipertensi
yang tidak terdiagnosis dapat membantu kesehatan masyarakat dan tenaga kerja medis dalam
pencegahan dan skrining untuk kedua kondisi tersebut.
Selain dari faktor resiko sistem kardiovaskuler dan ginjal akibat hipertensi, literatur yang mendalam
bermunculan membahas tentang resiko peningkatan tekanan darah sepanjang spektrum diagnosis.
Beberapa studi prospektif telah menunjukan bahwa peningkatan tekanan darah secara ringan
meningkatkan resiko terjadinya End Stage Renal Disease ( ESRD ), bila dibandingkan dengan
kelompok dengan tekanan darah yang normal. Dari penelitian prospektif yang terbaru menunjukan
bila, meskipun tanpa diabetes dan atherosklerosis, tekanan darah tinggi normal ( didefinisikan
sebagai sistolik 130 139 mmHg atau diastolik 85 89 mmHg ) dikaitkan dengan resiko ESRD hingga
3 kali lipat.
Dengan melihat bukti bahwa resiko ESRD meningkat sepanjang spektrum diagnosis peningkatan
tekanan darah, merupakan hal yang penting untuk mengerti prevalensi pre-ESRD GGK pada orang-
orang dengan pre-hipertensi dan hipertensi yang tidak terdiagnosis di AS. Data seperti itu belum
pernah dilaporkan sebelumnya, dan dapat menjadi dasar untuk studi lebih ekstensif untuk
efektivitas skrining orang-orang dengan faktor resiko untuk GGK. Karena itu, kami berupaya mencari
prevalensi GGK stadium 1 4 pada orang dengan pre-hipertensi atau hipertensi yang tidak
terdiagnosis menggunakan data dari National Health and Nutrition Examination Survey ( NHANES )
dari tahun 1999 2006. Sebagai tambahan kami berupaya untuk mendeskripsikan indikator
demografis, sosioekonomis, dan klinis untuk pre-hipertensi atau hipertensi yang tidak terdiagnosis
dan GGK, untuk menyediakan fondasi studi-studi yang lebih terarah untuk individu yang memiliki
faktor resiko untuk kedua keadaan tersebut.
METODE
Survei NHANES saat ini melakukan survei setiap 2 tahun oleh National Center for Health Statistics
untuk menilai prevalensi dan kecenderungan seriring berjalannya waktu. Survei tersebut terdiri dari
wawancara terstandarisasi di rumah dan pemeriksaan fisik dan pengambilan sampel darah dan urin
pada mobile examination center ( MEC ). Para peserta diberikan informed consent. Protokol survei
telah disetujui badan institiusi penilaian.
Kami menganalisa data gabungan dari tahun 1999-2000, 2001-2002, 2003-2004, dan 2005-2006.
Walaupun jumlah keseluruhan survei adalah 41.474 peserta, studi kami dibatasi oleh peserta
NHANES dari tahun 1999-2006 yang memberikan informasi secara terbuka mengenai hipertensi dan
diukur tekanan darahnya ( n = 31.266 ), menjalani pemeriksaan MEC ( n = 29.815 ), dan sekurang-
kurangnya berusia 20 tahun ( n = 18.938 ), memiliki estimasi laju filtrasi glomerulus ( eGFR ) 15
ml/min/1,73m
2
( n = 18.885 ), dan tidak hamil ( N = 17.794 ).
PENGAMBILAN DATA
Tekanan darah diukur saat kunjungan MEC dengan protokol terstandarisasi. Setiap peserta
dipersiapkan dalam posisi duduk dengan sekurang-kurangnya 5 menit waktu istirahat sebelum
pengukuran yang pertama. Dilakukan tiga pengukuran tekanan sistolik dan diastolik ( dipisahkan
selam 30 detik setelah waktu istirahat 5 menit ) yang dilakukan oleh dokter yang terlatih dan
menggunakan ukuran manset yang sesuai dan sphygmomanometer air raksa.
Hasil laporan yang langsung dilaporkan pasien mengenai demografi ( umur, jenis kelamin, ras/etnis ),
status sosioekonomi ( tingkat pendidikan, asuransi, pendapatan ), dan keadaan kesehatan ( diabetes
) diperoleh waktu wawancara. Pendapatan dianalisa dengan rasio poverty income, dimana
digunakan perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Sebagai tambahan,
obat-obatan yang diresepkan juga didapatkan dalam sesi wawancara, dengan pewawancara
mencatat nama-nama obat yang diberikan peserta. Tinggi dan berat badan, digunakan dalam
penghitungan body mass index ( BMI ), diukur pada pemeriksaan MEC. Serum kreatinin juga dinilai
dengan metode kinetik Jaffe yang dimodifikasi, dengan berbagai alat analisa yang berbeda pada
tahun survei yang berbeda. Sampel urin acak diambil, dan kandungan albumin dan kreatinin urin
diukur dengan spesimen beku. Urin albumin diperiksa dengan solid-phase fluorecsence
immunoassay; kreatinin urin diukur dengan metode kinetik Jaffe yang dimodifikasi di laboratorium
yang sama.
DEFINISI
Hipertensi yang terdiagnosis didefinisikan dengan jawaban Ya terhadap pertanyaan Apakah
anda pernah dikatakan oleh seorang dokter atau tenaga kesehatan yang lain bila anda memiliki
hipertensi, yang disebut juga tekanan darah tinggi ? Dari peserta yang menjawab Tidak ,
hipertensi yang tidak terdiagnosis didefinisikan dengan rerata tekanan sistol 140 mmHg atau rerata
tekanan diastol 90 mmHg dan pre-hipertensi didefinisikan dengan rerata tekanan sistol 120
mmHg dan < 140 mmHg ( dengan diastolik < 90 mmHg ), atau rerata tekanan diastolik 80 mmHg
dan < 90 mmHg ( dengan sistolik < 140 mmHg ). Tekanan darah normal didefinisikan dengan rerata
tekanan sistolik < 120 mmHg dan rerata diastolik < 80 mmHg dan jawaban Tidak pada pertanyaan
yang sama.
GGK didefiniskan dengan eGFR dan adanya albuminuria, menurut acuan Kidney Disease Outcome
Quality Initiative ( KDOQI ). eGFR dihitung dengan rumus dari Modification of Diet in Renal Disease
Study untuk kreatinin : eGFR = 175 x [( serum kreatinin terkalibrasi dalam miligram/deciliter)
-1.154
] x
umur
-0.203
x ( 0,742 bila wanita ) x ( 1,210 bila rasnya Afrika-Amerika ). Serum kreatinin dikalibrasi
untuk disesuaikan dengan protokol klinik Cleveland pada tahun survei 1999-2000 dan 2005-2006
dengan rumus regresi yang disiapkan NHANES; tidak dilakukan koreksi untuk serum kreatinin yang
sudah dikalibrasi pada peserta tahun 2001-2001 atau 2003-2004. Albuminuria dianggap ada bila
rasio albumin-kreatinin 30mg/g. Mikroalbuminuria didefinisikan dengan 30 300 mg/g kreatinin
dan makroalbuminuria dengan 300 mg/g kreatinin. Dikarenakan pemeriksaan albumin urin pada
NHANES adalah cross-sectional, kami tidak memiliki data albuminuria yang persisten, dan definisi
stadium pada studi kami dimodifikasi menjadi : stadium 1, eGFR > 90 ml/min/1,73m
2
dan adanya
albuminuria pada satu pemeriksaan; stadium 2, eGFR 60-89 ml/min/1,73m
2
dan adanya albuminuria
pada satu pemeriksaan; stadium 3, eGFR 30-59 ml/min/1,73m
2
; dan stadium 4; eGFR 15 29
ml/min/1,73 m
2
.
Diabetes yang dilaporkan sendiri didefinisikan dengan jawaban Ya terhadap pertanyaan Apakah
anda pernah dikatakan oleh dokter bila anda memiliki diabetes atau penyakit gula ? Penggunaan
obat-obatan hipertensi didefinisikan dengan penggunaan obat diuretik, ACE inhibitor, Alpha-
dan/atau beta blocker, calcium channel blocker, angiotensin II receptor blocker, central alpha-2-
agonis, aldosterone reseptor blocker, atau vasodilator, baik diresepkan sendiri atau dalam
kombinasi. Pengetahuan terhadap GGK didefiniskan dengan jawaban Ya terhadap pertanyaan
Apakah anda pernah dikatakan oleh seorang dokter atau tenaga kesehatan yang lain bila anda
memiliki ginjal yang lemah atau gagal ginjal ?
METODE STATISTIK
Karakteristik peserta dibandingkan dengan status hipertensi, begitu juga dengan proporsi yang itdak
diatur dengan GGK baik keseluruhan dan karakteristik pasien. Variasi proporsi diestimasikan dengan
linearisasi Taylor. Karakteristik ini diperiksa dengan model logistik memperkirakan GGK, dengan
penyesuaian umur, jenis kelamin, dan ras/etnis. Odds ratio dan persentase yang disesuaikan
didapatkan dari model-model ini; hanya persentasi yang disesuaikan ditunjukan, karena odds ratio
akan cenderung untuk menyebabkan estimasi yang berlebihan terhadap resiko relatif pada kondisi
yang umum seperti tekanan darah yang tidak terkontrol. Analisa sensitivitas, dimana hipertensi yang
terdiagnosa juga didefinisikan dengan obat-obatan hipertensi, juga dilakukan, unutk melakukan
estimasi dari kemungkinan misklasifikasi dari hipertensi yang terkontrol dengan pengobatan. Analisa
sensitivitas tambahan juga dilakukan untuk berbagai cutoff untuk penurunan fungsi ginjal dan
albuminuria, begitu pula analisa dengan rumus CKD-EPI untuk estimasi GFR.
Untuk estimasi hasil representatif secara nasional, seluruh analisa dilakukan dengan SVY commands
pada Stata v. 10.0 dengan pertimbangan beban desain, strata, dan pseudostrata studi NHANES.
Beban NHANES 8 tahun MEC yang sesuai digunakan; dan beban 8 tahun = x beban 2 tahun ( bila
tahun survei = 2003-2004 atau 2005-2006 ). Estimasi proporsi orang dewasa di AS dengan pre-
hipertensi atau hipertensi yang tidak terdiagnosis dihitung dengan data survei 2006. Sensus AS
memberikan estimasi jumlah penduduk > 20 tahun ( 111.440.340 ) dan beban dari pre-hipertensi,
hipertensi yang tidak terdiagnosa, dan GGK yang ditemukan dalam studi.
HASIL
Terdapat 17.494 peserta NHANES dari tahun 1999-2006 yang setidaknya berusia > 20 tahun,
menjalani pemeriksaan MEC, memberikan informasi mengenai hipertensi, diukur tekanan darahnya,
dan bukan wanita yang hamil dan peserta yang eGFR > 15 ml/min/1,73m
2
. Dari seluruh peserta ini,
5.382 memiliki hipertensi yang terdiagnosa, 3.046 memiliki hipertensi yang tidak terdiagnosa, 3.197
memiliki pre-hipertensi, dan 5.197 memiliki tekanan darah yang normal. Karakteristik peserta
dengan status hipertensi dapat dilihat pada tabel 1. Rerata tekanan sistolik dan diastolik paling tinggi
pada kelompok hipertensi yang tidak terdiagnosa. Wanita merupakan mayoritas dari kelompok
dengan hipertensi terdiagnosa, sedangkan pria merupakan mayoritas pada kelompok pre-hipertensi.
Proporsi individu ras mexico-amerika lebih besar pada kelompok hipertensi yang tidak terdiagnosis
dan pre-hipertensi. Peserta dengan tingkat pendidikan terakhir SMA merupakan bagian yang besar
pada kelompok tekanan darah normal dan pre-hipertensi. Peserta dengan pendapatan rumah
tangga yang berada dalam kuartil teratas lebih besar berada dalam kelompok tekanan darah normal
dan pre-hipertensi. Adanya asuransi kesehatan meningkatkan spektrum diagnosis tekanan darah,
dan peserta dengan asuransi kesehatan merupakan sebagian besar dari kelompok hipertensi
terdiagnosis. Sebagian besar peserta pada semua kategori memiliki tempat berobat yang rutin,
termasuk 84% dari kategori hipertensi tidak terdiagnosis. Peserta dengan hipertensi tediagnosis
merupakan kelompok yang paling rendah dalam melaporkan penggunaan rokok saat ini atau masa
lampau. Peserta obese ( BMI 30 kg/m
2
) mengisi sebagian besar dari kelompok dengan hipertensi
terdiagnosis. Informasi terakhir, berupa peserta dengan diabetes mellitus mengisi 16.7 % kelompok
pasien dengan hipertensi terdiagnosis.
Gambar 1 menunjukan bila prevalensi GGk yang tidak disesuaikan meningkat sepanjang spektrum
diagnosis hipertensi, dengan 9.9%, 13.9%, 23.8%, dan 32.0% memiliki GGK pada kelompok tekanan
darah normal, pre-hipertensi, hipertensi yang terdiagnosa dan hipertensi yang tidak terdiagnosa
secara berurutan. Pada gambar yang sama, pemeriksaan stadium GGK juga menunjukan prevalensi
GGK stadium 3 / 4 ( eGFR 15 60 ml/min/1.73m
2
) yang tidak disesuaikan adalah 3.9%, 6.3%, 11.2%,
dan 19.6% untuk kelompok tekanan darah normal, pre-hipertensi, hipertensi yang terdiagnosa dan
hipertensi yang tidak terdiagnosa secara berurutan. Ditemukan secara bermakna, peserta dengan
GGK stadium 3 / 4 paling banyak terdapat pada kelompok dengan hipertensi terdiagnosa (
menyusun 61% dari seluruh peserta dengan GGK dan hipertensi terdiagnosis ).
Tabel 2 menunjukan bahwa meskipun sudah dilakukan penyesuaian untuk umur, ras/etnis, dan jenis
kelamin, prevalensi GGK meningkat di seluruh kategori tekanan darah dengan 13.4%, 17.3%, 22.0%,
dan 27.5% memiliki GGK pada kelompok tekanan darah normal, pre-hipertensi, hipertensi yang
terdiagnosa dan hipertensi yang tidak terdiagnosa secara berurutan. Sebagai tambahan, peserta
dengan baik pre-hipertensi atau hipertensi yang tidak terdiagnosis menyusun 35% dari seluruh kasus
GGK, sedangkan peserta dengan hipertensi terdiagnosis menyusun 52.2% dari seluruh kasus GGK.
Penemuan tersebut memberikan gambaran bila terdapat 8 juta orang dewasa di AS dengan pre-
hipertensi atau hipertensi yang tidak terdiagnosa juga memiliki GGK.
Meningkatknya usia dan jenis kelamin wanita diasosiasikan dengan prevalensi GGK yang lebih tinggi
di seluruh kelompok hipertensi ( tabel 2 ). Ras meksiko-amerika memiliki prevalensi GGK tertinggi (
39.8% ) pada kelompok dengan hipertensi terdiagnosis, dan hal yang serupa, tapi tidak signifikan,
terdapat sebuah tren yang serupa pada kelompok pre-hipertensi dan hipertensi yang tidak
terdiagnosis. Kurangnya tingkat pendidikan yakni dibawah SMA, diasosiasikan dengan prevalensi
GGK yang lebih tinggi pada kelompok dengan pre-hipertensi dan hipertensi yang terdiagnosa; dan
menurunnya tingkat pendapatan juga dikaitkan dengan meningkatknya prevalensi GGK pada semua
kelompok tekanan darah. Obesitas juga dikaitkan dengan prevalensi GGK yang lebih tinggi pada
kelompok dengan hipertensi yang terdiagnosis, dan tren yang serupa, walau tidak signifikan,
ditemukan pada kelompok dengan pre-hipertensi dan hipertensi yang tidak terdiagnosis. Diabetes
ditemukan dengan tingkat prevalensi GGK yang lebih tinggi pada semua kelompok tekanan darah,
termasuk 43.4% peserta dengan diabetes dan hipertensi yang tidak terdiagnosa dan 21.0% pada
pasien dengan diabetes dan pre-hipertensi. Riwayat merokok, status asuransi kesehatan, dan
memiliki tempat berobat yang rutin tidak ditemukan memiliki hubungan dengan GGK pada semua
kelompok tekanan darah.
Pengetahuan mengenai GGK dinilai pada seluruh kelompok tekanan darah. Tingkat kesadaran adalah
2.0%, 2.2%, 3.5%, dan 9.1% diantara peserta dengan GGK dan tekanan darah normal, pre-hipertensi,
hipertensi yang tidak terdiagnosis dan hipertensi yang terdiagnosis secara berurutan ( Gambar 2 ).
Analisa sensitivitas yang memeriksa laporan penggunaan obat-obatan anti-hipertensi sebagai
kelompok dengan hipertensi terdiagnosis menunjukan hasil yang serupa dengan definisi primer yang
digunakan sebelumnya.
Analisa sensitivitas dari berbagai ukuran gangguan ginjal menunjukan bila kehadiran
mikroalbuminuria lebih umum ditemukan sepanjang spektrum diagnosis hipertensi dibandingkan
dengan penurunan eGFR ( tabel 3 ). Mikro atau makroalbuminuria lebih umum ditemukan pada
peserta yang lebih muda ( rerata umur 42.5 tahun ) sedangkan eGFR < 60 ml/min/1.73m
2
ditemukan
lebih umum pada peserta yang lebih tua ( rerata umur 72.4 tahun ). Definisi yang lebih sempit
mengenai gangguan ginjal ( eGFR < 45 ml/min/1.73m
2
atau makroalbuminuria ) menghasilkan
prevalensi CKD yang lebih rendah, namun tetap tinggi, dengan pola yang sama pada seluruh
kelompok tekanan darah ( tabel 3 ). Dibandingkan dengan pengukuran fungsi ginjal yang lain,
makroalbuminuria memiliki asosiasi terkuat dengan meningkatnya kelompok tekanan darah.
Penggunaan rumus CKD-EPI memberikan hasil yang serupa namun sedikit lebih meningkat
dibandingkan analisis primer kami ( prevalensi GGK 26.0%, 20.5%, 16.0%, dan 12.3% untuk
hipertensi yang terdiagnosa, tidak terdiagnosa, pre-hipertensi, dan tekanan darah normal secara
berurutan ). Penyesuaian untuk perkiraan albuminuria persisten juga menghasilkan prevalensi CKD
yang sedikit lebih rendah dari seluruh kategori ( 24.5%, 14.8%, 14.9%, dan 4.9% secara berurutan ).
DISKUSI
Kami menemukan prevalensi GGK tinggi pada peserta dengan hipertensi yang tidak terdiagnosis dan
pre-hipertensi di AS. Walaupun GGK memiliki prevalensi tertinggi pada kelompok hipertensi
terdiagnosis, seseorang dengan hipertensi yang tidak terdiagnosa atau pre-hipertensi merupakan
lebih dari 1/3 dari seluruh kasus GGK, dengan estimasi 8 juta penderita. Sebagai tambahan, kami
juga menemukan bila banyak peserta tidak menyadari gangguan ginjal mereka
Prevalensi GGK ditemukan meningkat sepanjang spektrum diagnosa tekanan darah, dengan mereka
yang bertekanan darah normal memiliki prevalensi GGK terendah, dan mereka dengan hipertensi
terdiagnosis memiliki prevalensi GGK tertinggi. Mikroalbuminuria merupakan tanda yang paling
umum ditemukan sebagai tanda gangguan ginjal pada seluruh kelompok, lebih umum dibandingkan
dengan penurunan eGFR atau makroalbuminuria. Secara penting, studi kami memberikan bukti
faktor resiko untuk GGK serupa pada seluruh kategori tekanan darah. Kami memperhatikan bila data
demografis tertentu ( meningkatnya usia, jenis kelamin wanita, dan ras meksiko-amerika ), status
sosioekonomi ( rendahnya tingkat edukasi dan pendapatan yang rendah ), dan status kesehatan
klinis ( diabetes dan obesitas ) merupakan faktor yang terkait dengan peningkatan GGK yang
independen terhadap tekanan darah.
Penemuan kami mengenai prevalensi GGK lebih rendah pada kategori hipertensi yang tidak
terdiagnosa diandingkan dengan kelompok hipertensi terdiagnosa mungkin disebabkan oleh
perbedaan faktor jumlah pasien, dokter, dan sistem kesehatan. Sebagai contoh, pasien dengan
gangguan ginjal yang berat akan cenderung menerima pengobatan tekanan darah oleh dokter
mereka, yang berpotensi mengarahkan diagnosa hipertensi. Ide ini didukung oleh penemuan kami
tentang proporsi GGK stadium 3 / 4 pada pasien dengan hipertensi terdiagnosa dibandingkan
kelompok lain.
Peserta dengan baik hipertensi tidak terdiagnosa dan GGK merepresntasikan populasi yang secara
unik memerlukan usaha skrining lebih lanjut. The Seventh Report of the Joint National Committee (
JNC-7 ) merekomendasikan skrining seseorang dengan terapi anti-hipertensi dengan pengukuran
kreatinin setidaknya satu atau dua kali dalam setahun. Selain itu JNC-7 juga merekomendasikan
pengaturan tekanan darah secara agresif hingga kurang dari 130/80 mmHg pada seseorang dengan
hipertensi dan GGK atau diabetes. Individu dengan hipertensi yang tidak terdiagnosis mungkin tidak
mendapatkan evaluasi dan terapi yang dianjurkan tersebut. Lebih lanjut, bila tidak terdapat faktor
resiko tradisional untuk GGK ( umur yang lebih muda, tidak obese, tanpa diabetes ) tenaga
kesehatan yang melihat individu ini dapat tidak melakukan skrining untuk GGK atau melakukan
terapi untuk pasien GGK. Analisis kami menunjukan bila 17.7% orang dewasa dengan hipertensi
tidak terdiagnosa tidak memiliki asuransi kesehatan dan 16.0% tidak memiliki tempat berobat yang
rutin. Selain itu, kami juga menemukan beban terbesar untuk GGK pada kasus hipertensi yang tidak
terdiagnosa adalah mereka yang dalam kelompok pendapatan rendah, dimana hal ini mungkin
disebabkan pelayanan kesehatan pada daerah ini terbatas. Pengetahuan terhadap GGK juga rendah
pada populasi ini, seperti yang ditunjukan pada populasi umum., meremehkan keperluan untuk
edukasi yang lebih lanjut baik di komunitas dan kelompok penyedia layanan kesehatan.
Kami menemukan prevalensi GGK pada individu dengan pre-hipertensi lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok tekanan darah normal. Penemuan ini mendukung studi-studi sebelumnya dalam
mengenali resiko ESRD karena hipertensi. Karena itu seseorang dengan pre-hipertensi memerlukan
skrining lebih lanjut dan usaha preventif untuk mengidentifikasi dan mengurangi resiko GGK. Usaha
tersebut telah didukung Kidney Disease Improving Global Outcomes, dimana dianjurkan untuk
skrining GGK ditargetkan kepada mereka yang akan memperoleh manfaat positif yang lebih. Namun
skrining untuk GGK dengan tes albumin urin diestimasikan hanya bersifat cost-effective untuk
populasi dengan resiko tinggi, termasuk populasi dengan hipertensi. Hanya sedikit yang diketahui
mengenai efektivitas dari skrining pasien pre-hipertensi untuk GGK. Individu tersebut dapat memiliki
indikasi untuk GGK lain, seperti diabetes, yang akan mengarahkan dokter mereka untuk melakukan
evaluasi terhadap GGK. Pada studi kami, kami menumkan bahwa 21% individu dengan pre-
hipertensi dan GGK juga memiliki diabetes. Studi lanjutan mengenai populasi pasien yang terbaik
untuk menjalani skrining GGK perlu diteliti.
Sebatas pengetahuan kami, studi ini merupakan laporan pertama mengenai prevalensi GGK
berdasarkan populasi dengan spektrum diagnosis tekanan darah di AS. Studi kami juga memiliki
beberapa keterbatasan sayangnya. Pertama, dikarenakan desain cross-sectional pengumpulan data
NHANES, kami tidak dapat melakukan follow-up mengenai hubungan antara status hipertensi dan
GGK seiring berjalannya waktu, dan tekanan darah yang diukur hanya dalam waktu satu hari, dimana
berdasarkan acuan diperlukan pengukuran tekanan darah dalam dua hari yang berbeda. GGK juga
didefinisikan berdasarkan satu pemeriksaan laboratorium, dimana berdasarkan acuan diperlukan
dua hasil laboratorium dengan jeda minimal 3 bulan, seperti yang diusulkan KDOQI. Kami mencoba
untuk menekankan hal tersebut dengan estimasi albuminuria persisten dan menemukan sedikit
peningkatan pada estimasi prevalensi. Ketiga, peserta NHANES adalah sampel representatif dari
penduduk AS yang tidak didalam institusi, sehingga kami mungkin melewatkan beberapa individu
dengan derajat sakit yang lebih berut, seperti penduduk yang dirawat di rumah. Kami juga terbatas
pada peserta NHANES yang menyelesaikan pemeriksaan MEC, yang mungkin mempresentasikan
populasi yang lebih termotivasi dibandingkan mereka yang hanya mengikuti survei. Keempat,
beberapa kasus hipertensi dapat mengalami misklasifikasi akibat definisi yang digunakan dalam studi
ini. Sebagai contoh, seseorang dengan hipertensi yang terkontrol dengan baik dapat diklasifikasi
menjadi pre-hipertensi atau tekanan darah normal bila mereka tidak melaporkan kondisi hipertensi
mereka. Kami mencoba untuk menekankan masalah ini dengan melakukan analisis sensitivitas,
mengevaluasi penggunaan obat-obatan anti-hipertensi sebagai salah satu definisi hipertensi
terdiagnosis, dan menemukan hasilnya serupa dengan analisis primer kami. Kelima, dikarenakan
batasan tekanan darah untuk klasifikasi hipertensi terdiagnosa yang mengacu pada JNC-7, kami
dapat melakukan misklasifikasi pasien dengan diabetes, dimana dokternya mungkin telah
mendiagnosa mereka dengan hipertensi ketika tekanan darah mereka mencapai > 130/80 mmHg,
yang dapat menyebabkan estimasi berlebihan pada kelompok dengan hipertensi terdiagnosis.