Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fenomena yang terjadi di kebanyakan negara berkembang seperti Indonesia,
nikah atau perkawinan tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah cukup umur
(dewasa) saja. Dalam UU Perkawinan menyebutkan bahwa batas minimal perkawinan
seseorang adalah berusia 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan),
namun juga terjadi dikalangan anak dibawah umur, khususnya anak
perempuan.Banyak kasus-kasus pernikahan anak perempuan di bawah umur yang
terjadi di Indonesia terutama di pedesaan, salah satu contohnya saja seperti
pernikahan dini yang terjadi Ulfa yang waktu itu masih berumur 12 tahun dengan
Pujiono yang berusia 46 tahun.
Disisi lain, terjadinya pernikahan anak di bawah umur seringkali terjadi atas
dasar beberapa factor, salah satunya seperti factor ekonomi yg mendesak
(kemiskinan). Banyak orang tua dari keluarga miskin beranggapan bahwa dengan
menikahkan anaknya, meskipun anak yang masih di bawah umur akan mengurangi
angka beban ekonomi keluarganya dan dimungkinkan dapat membantu beban
ekonomi keluarga tanpa berpikir panjang akan dampak positif ataupun negatif
terjadinya pernikahan anaknya yang masih dibawah umur.
Selain itu, fenomena pernikahan dini juga bukan merupakan hal yang baru di
Indonesia, khususnya daerah Jawa. Hal ini dapat ddibuktikan dengan adanya fakta-
fakta yang terjadi pada zaman dulu, yaitu bahwa mbah buyut kita dulu sudah banyak
yang menikahi gadis di bawah umur. Bahkan pernikahan di usia matang akan
menimbulkan pemikiran buruk di mata masyarakat.
Namun seiring perkembangan zaman, image masyarakat justru sebaliknya. Arus
globalisasi yang terus selalu berkembang, mengubah cara pandang masyarakat pada
umumnya. Bahkan bagi perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal
yang tabu. Lebih jauh lagi, hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita,
menghambat kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan
dan wawasan yang lebih luas.
1.2 Perumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pernikahan dibawah umur?
2. Apa factor-faktor penyebab terjadinya pernikahan dibawah umur ?
3. Dampak apa saja yang ditimbulkan dengan adanya peristiwa pernikahan dini ini.
4. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan pernikahan dibawah umur tersebut.
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui maksud pernikahan dibawah umur.
2. Untuk mengetahui hal-hal yang menyebabkan terjadinya pernikahan dibawah
umur.
3. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini tersebut.
4. Untuk mengetahui upaya-upaya dalam mengatasi kasus tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Arti Pernikahan Dini
2.1.1 Pernikahan dini secara umum
pernikahan dini yaitu: merupakan instituisi agung untuk mengikat dua insan
lawan jenis yang masih remaja dalam satu ikatan keluarga. selanjutnya yaitu menurut
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. Beliau mengartikan pernikahan dini adalah sebuah
nama yang lahir dari komitmen moral dan keilmuan yang sangat kuat, sebagai sebuah
solusi alternatif. (http://nyna0626.blogspot.com/2008/10/pernikahan-dini-pada-kalangan-
remaja-15.html : 28/03/2012, 00:20 WIB)
2.1.2 Pernikahan Dini menurut Negara
Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam
Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya
diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak
perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun.
Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini
tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua
belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis dan mental.
(http://macanbanci.wordpress.com/2010/10/15/pernikahan-dini ; 28/03/2012, 00:24
WIB)
2.1.3 Pernikahan dini menurut agama islam
Sedangkan Al-Qur'an mengistilahkan ikatan pernikahan dengan "mistaqan
ghalizhan", artinya perjanjian kokoh atau agung yang diikat dengan sumpah. Al Qur'an
menggunakan istilah mitsaqan ghalizhan minimal dalam tiga konteks. Salah satunya
konteks ikatan pernikahan seperti disebutkan dalam Q.S. An-Nisa 4:21.
Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap
agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari kelima nilai universal Islam ini, satu
diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu,
Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap
terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan.
Seandainya agama tidak mensyariatkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur
keturunan) akan semakin kabur.
Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini.
Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan,
secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi
dengan umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan
yang dilakukan oleh orang yang belum baligh.


2.2 Faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini
Faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan dalam usia muda:
1. Menurut RT. Akhmad Jayadiningrat, sebab-sebab utama dari perkawinan usia muda
adalah:
a. Keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga
b. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda, baik bagi
mempelai itu sendiri maupun keturunannya.
c. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat. Kebanyakan
orang desa mengatakan bahwa mereka itu mengawinkan anaknya begitu muda hanya
karena mengikuti adat kebiasaan saja.
2. Terjadinya perkawinan usia muda menurut Hollean dalam Suryono disebabkan oleh:
a. Masalah ekonomi keluarga
b. Orang tua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki apabila mau
mengawinkan anak gadisnya.
c. Bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga gadis
akan berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab (makanan,
pakaian, pendidikan, dan sebagainya) (Soekanto, 1992 : 65).
Selain menurut para ahli di atas, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya
perkawinan usia muda yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat kita yaitu :
a. Ekonomi
Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan,
untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya dikawinkan dengan
orang yang dianggap mampu.
b. Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masyarakat,
menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang masih dibawah
umur.
c. Faktor orang tua
Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-laki
yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.
d. Media massa
Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian Permisif
terhadap seks.
e. Faktor adat
Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan perawan
tua sehingga segera dikawinkan.
Misalnya Sutik perempuan asal Tegaldowo, Rembang Jawa Tengah, pertama
kali dijodohkan orangtuanya pada usia 11 tahun. Kuatnya tradisi turun temurun
membuatnya tak mampu menolak. Terlebih lagi, Sutik belum mengerti arti sebuah
pernikahan. Sutik adalah satu dari sekian banyak perempuan di wilayah Tegaldowo,
Rembang, yang dinikahkan karena tradisi yang mengikatnya. Kuatnya tradisi memaksa
anak-anak perempuan melakukan pernikahan dini.
Maraknya tradisi pernikahan dini ini terkait dengan masih adanya kepercayaan
kuat tentang mitos anak perempuan. Seperti diungkapkan Suwandi, pegawai pencatat
nikah di Tegaldowo, Rembang Jawa Tengah, Adat orang sini kalau punya anak
perempuan sudah ada yang ngelamar harus diterima, kalau tidak diterima bisa sampai
lama tidak laku-laku.
2.3 Dampak pernikahan dini (perkawinan di bawah umur)
Baru saja kita mendengar berita diberbagai media tentang kyai kaya yang
menikahi anak perempuan yang masih belia berumur 12 tahun. Berita ini menarik
perhatian khalayak karena merupakan peristiwa yang tidak lazim. Apapun alasannya,
perkawinan tersebut dari tinjauan berbagai aspek sangat merugikan kepentingan anak
dan sangat membahayakan kesehatan anak akibat dampak perkawinan dini atau
perkawinan di bawah umur. Berbagai dampak pernikahan dini atau perkawinan
dibawah umur dapat dikemukakan sbb.:
A. Dampak terhadap hukum
Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu:
1. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai
umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum
mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.

2. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
a. mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
b. menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan
minatnya dan;
c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.
3. UU No.21 tahun 2007 tentang PTPPO
Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua
anak yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut.
Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak, agar anak
tetap memperoleh haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari
perbuatan kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.
Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-
undang tersebut. Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk
melindungi anak dari perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua. Sesuai
dengan 12 area kritis dari Beijing Platform of Action, tentang perlindungan terhadap
anak perempuan.
B. Dampak biologis
Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju
kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan
jenisnya, apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan
terjadi trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ
reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. Patut dipertanyakan apakah
hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara
isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan)
terhadap seorang anak.
Dokter spesialis obseteri dan ginekologi dr Deradjat Mucharram Sastraikarta Sp
OG yang berpraktek di klinik spesialis Tribrata Polri mengatakan pernikahan pada anak
perempuan berusia 9-12 tahun sangat tak lazim dan tidak pada tempatnya. Apa alasan
ia menikah? Sebaiknya jangan dulu berhubungan seks hingga anak itu matang fisik
maupun psikologis. Kematangan fisik seorang anak tidak sama dengan kematangan
psikologisnya sehingga meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor dan sudah
menstruasi, secara mental ia belum siap untuk berhubungan seks.
Ia memanbahkan, kehamilan bisa saja terjadi pada anak usia 12 tahun. Namun
psikologisnya belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Jika dilihat dari tinggi
badan, wanita yang memiliki tinggi dibawah 150 cm kemungkinan akan berpengaruh
pada bayi yang dikandungnya. Posisi bayi tidak akan lurus di dalam perut ibunya. Sel
telur yang dimiliki anak juga diperkirakan belum matang dan belum berkualitas
sehingga bisa terjadi kelainan kromosom pada bayi.
C. Dampak psikologis
Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks,
sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit
disembuhkan. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada
perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan
perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9
tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat
dalam diri anak.
Menurut psikolog dibidang psikologi anak Rudangta Ariani Sembiring Psi,
mengatakan sebenarnya banyak efek negatif dari pernikahan dini. Pada saat itu
pengantinnya belum siap untuk menghadapi tanggungjawab yang harus diemban
seperti orang dewasa. Padahal kalau menikah itu kedua belah pihak harus sudah cukup
dewasa dan siap untuk menghadapi permasalahan-permasalan baik ekonami,
pasangan, maupun anak. Sementara itu mereka yang menikah dini umumnya belum
cukup mampu menyelesaikan permasalan secara matang.
Ditambahkan Rudangta, Sebenarnya kalau kematangan psikologis tidak
ditentukan batasan usia, karena ada juga yang sudah berumur tapi masih seperti anak
kecil. Atau ada juga yang masih muda tapi pikirannya sudah dewasa. Kondisi
kematangan psikologis ibu menjadi hal utama karena sangat berpengaruh terhadap
pola asuh anak di kemudian hari. yang namanya mendidik anak itu perlu
pendewasaan diri untuk dapat memahami anak. Karena kalau masik kenak-kanakan,
maka mana bisa sang ibu mengayomi anaknya. Yang ada hanya akan merasa
terbebani karena satu sisi masih ingin menikmati masa muda dan di sisi lain dia harus
mengurusi keluarganya.
D.Dampak sosial
Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat
patriarki yang bias gender, yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah
dan hanya dianggap pelengkap seks laki-laki saja. Kondisi ini sangat bertentangan
dengan ajaran agama apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati
perempuan (Rahmatan lil Alamin). Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki
yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan terhadap perempuan.

2.4 Upaya menyikapi terjadinya pernikahan dibawah umur

Pernikahan anak di bawah umur merupakan suatu fenomena sosial yang kerap
terjadi khususnya di Indonesia. Fenomena pernikahan anak di bawah umur
bila diibaratkan seperti fenomena gunung es, sedikit di permukaan atau yang
terekspos dan sangat marak di dasar atau di tengah masyarakat luas. Dalih
utama yang di gunakan untuk memuluskan jalan melakukan pernikahan
dengan anak di bawah umur adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. Namun, dalih
seperti ini bisa jadi bermasalah karena masih terdapat banyak pertentangan
di kalangan umat muslim tentang kesahihan informasi mengenai pernikahan dib a wa h
u mu r y a n g d i l a k u k a n Na b i SAW d e n g a n Ai s y a h r . a . .
Se l a i n i t u peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia
dengan sangat jelas menentang keberadaan pernikahan anak di bawah umur. Jadi
tidak ada alas an l a g i b a g i p i h a k - p i h a k t e r t e n t u u n t u k me l e g a l k a n
t i n d a k a n me r e k a y a n g berkaitan dengan pernikahan anak di bawah umur. Pemerintah
harus berkomitmen serius dalam menegakkan hukum yang berlaku terkait
pernikahan anak di bawah umur sehingga pihak-pihak yang ingin melakukan
pernikahan dengan anak di bawah umur berpiki r dua kali terlebih dahulu
sebelum melakukannya.
Selain itu, pemerintah harus semakin giat mensosialisasikan UU terkait
pernikahan anak di bawah umur beserta sanksi -sanksinya bila melakukan
pelanggaran dan menjelaskan resiko-resiko t er bur uk yang bi sa t er j adi
aki bat per ni kahan anak di bawah umur kepada masyarakat, diharapkan
dengan upaya tersebut, masyarakat tahu dan sadar bahwa pernikahan anak
di bawah umur adalah sesuatu yang sal ah dan harus di hi ndar i .
Upaya pencegahan per ni kahan anak di bawah umur di r asa
akan semakin maksimal bila anggota masyarakat turut serta berperan aktif
dalam pencegahan per ni kahan anak di bawah umur yang ada di
seki t ar mer eka.

2.5 Hukum Pernikahan Anak Dibawah Umur Berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan Yang Berlaku di Indonesia

a. UU No. 23 t ahun 2002 Pasal 1 t ent ang per l i ndungananak
Definisi anak adalah seseorang yang bel um berusia 18
(delapan belas), termasuk anak yang masih dalam kandungan. Setiap
anak mempunyai hak dan kewajiban seperti yang tertuang dalam

b. UU No. 23 tahun 2002 Pasal4
s e t i a p a n a k b e r h a k u n t u k d a p a t h i d u p , t u mb u h ,
b e r k e mb a n g , d a n berpartisipasi secara wajar sesuai dengan
harkat dan martabat kemanusiaan,serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi,

c. Pasal 9 ayat 1
Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya

sesuai dengan minat dan bakatnya,

d. P a s a l 1 1
s e t i a p a n a k b e r h a k u n t u k b e r i s t i r a h a t d a n
memanf aat kan wakt u l uang, ber gaul dengan anak yang sebaya,
ber mai n, ber ekr easi sesuai dengan mi nat , bakat , dan t i ngkat
kecer dasannya demi pengembangan diri,

e. Pasal 13 ayat 1
setiap anak selama dalam pengasuhano r a n g t u a , wa l i , a t a u p i h a k l a i n
ma n a p u n y a n g b e r t a n g g u n g j a wa b a t a s pengasuhan, berhak
mendapat perlindungan dari perlakuan
(a) di skriminasi
(b) eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual
(c) penelantaran
(d) kekejaman,kekerasan, dan penganiayaan
(e) ketidakadilan
(f) perlakuan salah l ainnya.

Selain itu orang tua dan keluarganya mempunyai kewajiban dan
tanggungjawab terhadap anak seperti yang tertulis di

f. UU no. 23 tahun 2002 Pasal 26ayat 1
orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk
(a) mengasuh,memelihara, mendidik, dan melindungi anak
(b) menumbuhkembangkan anaksesuai dengan kemampuan,
bakat, dan minatnya
(c) mencegah terjadinyaperkawinan pada usia anak-anak.

UU pelindungan anak dengan sangat jelas mengatur segala sesuatu
yangber kai t an dengan anak, j adi sangat l ah mengher ankan j i ka masi h
banyakpelanggarn yang terjadi terhadap anak dalam konteks ini adalah
pernikahananak di bawah umur. Hal seperti ini sangatlah tidak bisa diterima,
dimanakahkeberadaan pemerintah sebagai pemegang otoritas tertinggi di RI ?
Pernikahandi bawah umur sebenar nya ker ap kal i t er j adi di masyar akat
khususnya di daerah pedesaan tertinggal dimana kemiskinan dan kebodohan masih
menjadimomok yang menakut kan, cont ohya : sal ah sat u kabupat en di
Jawa Bar at terkenal dengan pernikahan anak di bawah umur dimana para anak gadis
yangmasih lugu sengaja dijual orang tuanya untuk melakukan pernikahan
dengant u j u a n me me n u h i k e b u t u h a n e k o n o mi k e l u a r g a .

Ha l s e p e r t i s a n g a t l a h memilukan, pemerintah acapkali tutup mata
dengan kasus pernikahan anak dibawah umur dan baru bertindak jika kasusnya
terekspos ke khalayak luas olehmedia seperti yang sempat terjadi beberapa
waktu lalu dimana pernikahansyekh Puji dengan Lutfiana Ulfa, gadis yang
belum genap berusia 12 tahunterekspos oleh media dan menjadi kontroversi
di masyarakat. Pemerintahdiharapkan lebih serius menindak setiap
pelanggaran yang berkaitan dengana n a k d a l a m k o n t e k s i n i a d a l a h
p e r n i k a h a n a n a k d i b a wa h u mu r . Se t i a p pelanggaran terhadap
pernikahan anak di bawah umur dapat dikenakan sanksipidana sesuai :


a) UU no. 23 tahun 2002 Pasal 77
dengan pidana penjara palinglama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp. 100.000.000 (seratusjuta rupiah).Selain UU perlindungan anak ada UU alternatif
lain yang bisa dijadikanacuan dalam menentang perkawinan anak di bawah
umur, yaitu
b) U U N o . 1 tahun 1974 tentang perkawinan
UU i ni menj el askan syar at - syar at yangwajib dipenuhi calon mempelai
sebelum melangsungkan pernikahan, menurut
c) UU n o . 1 t a h u n 1 9 7 4 Pa s a l 6 a ya t 1
perkawinan harus di dasarkan ataspersetujuan kedua calon mempelai,
d) Pasal 6 ayat 2
untuk melangsungkanperkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21
(duapuluh satu) tahunharus mendapat ijin kedua orang tua,
e) Pasal 7
perkawinan hanya diij inkanj ika pihak pri a sudah mencapai umur 19 (sembilan
belas) tahun dan pihakwanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

2.6 Contoh Kasus Perkawinan Dibwah Umur yang Terjadi di Indonesia

Menikah sebelum cukup usia, ternyata masih banyak terjadi di kota maupun di
daerah-daerah di Indonesia. Budaya perjodohan bahkan sejak anak perempuan belum
lulus SD atau SMP, masih dilakukan banyak orangtua, terutama yang tinggal di
pedesaan.
Dari penelitian yang dilakukan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang
Rembang, pernikahan dini yang dilakukan anak-anak usia sekolah masih terbilang
tinggi. Pada 2006 - 2010, jumlah anak menikah usia dini (menikah di bawah usia 17
tahun) masih meningkat walaupun persentasenya naik turun.

Pada 2006 jumlahnya 12, 2007 ada 6, 2008 sebanyak 21 anak, 2009 sebanyak
31 anak dan 2010 sampai dengan Juli jumlah anak menikah usia dini sebanyak 28, kata
Sekretaris Cabang KPI Rembang, Iin Arinta Fahadiana dalam Diskusi Publik Refleksi
Hari Anak Nasional dengan tema 'Perkawinan Anak, Salah Siapa' di Gedung
BPPT,Thamrin, Jakarta, kemarin.

Sementara data lain menunjukkan, ada beberapa penyebab terjadinya
pernikahan anak usia dini. DR Sukron Kamil, salah seorang peneliti dari UIN
menyatakan, 62 persen wanita menikah karena hamil, 21 persen pernikahan karena
ingin memperbaiki ekonomi dan keluar dari kemiskinan dan sisanya karena dipaksa
orangtua dan karena status sosial.
Banyak kasus-kasus pernikahan anak perempuan di bawah umur yang terjadi di
Indonesia terutama di pedesaan, mungkin, kita masih ingat beberapa tahun lalu dan
sampai menjadi konsumsi media nasional adalah pernikahan Ulfa yang waktu itu masih
berumur 12 tahun dengan Pujiono yang berusia 46 tahun.
Dalam konteks hak anak, sangatlah jelas seperti yang tercantum dalam pasal 26
ayat 1 butir c UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa
Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya
perkawinan di usia anak-anak.
Pada prespektif hak anak pencantuman kalimat tersebut merupakan keharusan
yang harus menjadi perhatian bersama, hal ini disebabkan anak-anak yang terpaksa
menikah dalam usia yang masih tergolong anak dilihat dari aspek hak anak, mereka
akan terampas hak-haknya, seperti hak bermain, hak pendidikan, hak untuk tumbuh
berkembang sesuai dengan usianya dan pada akhirnya adanya keterpaksaan untuk
menjadi orang dewasa mini.
Disisi lain, terjadinya pernikahan anak di bawah umur seringkali terjadi atas
dasar factor ekonomi (kemiskinan). Banyak orang tua dari keluarga miskin
beranggapan bahwa dengan menikahkan anaknya, meskipun anak yang masih di
bawah umur akan mengurangi beban ekonomi keluarga dan dimungkinkan dapat
membantu beban ekonomi keluarga tanpa berpikir akan dampak positif ataupun negatif
terjadinya pernikahan anaknya yang masih dibawah umur.
Kondisi ini pada akhirnya memunculkan aspek penyalahgunaan kekuasaan
atas ekonomi dengan memandang bahwa anak merupakan sebuah property/asset
keluarga dan bukan sebuah amanat dari Tuhan yang mempunyai hak-hak atas dirinya
sendiri serta yang paling keji adalah menggunakan alasan terminologi agama.
Adanya gambaran fenomena tersebut diatas, beberapa hal yang harus dilakukan
dalam memberikan perlindungan anak secara komprehensif adalah: Memberikan
pemahaman kepada keluarga dan masyarakat tentang hak-hak anak yang melekat
pada diri seorang anak itu sendiri; Memberikan pemahaman tentang kesehatan
reproduksi sejak anak-anak; Mendorong keluarga dan masyarakat untuk menciptakan
lingkungan yang ramah anak; Adanya kebijakan negara yang lebih melindungi hak anak
terutama dalam peraturan tentang persoalan pernikahan anak di bawah umur.
Satu hal yang juga harus menjadi perhatian bersama adalah mengedepankan
kepentingan terbaik bagi anak dalam memberikan hak pendidikan, hak tumbuh
kembang, hak bermain, hak mendapatkan perlindungan dari kekerasan, segala bentuk
eksploitasi, dan diskriminasi. Serta yang paling penting adalah menempatkan posisi
anak pada dunia anak itu sendiri untuk berkembang sesuai dengan usia perkembangan
anak


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pernikahan dini atau perkawinan
dibawah umur lebih bayak mudharat dari pada manfaatnya. Oleh karena itu patut
ditentang. Orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan
menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau harus memahami peraturan
perundang-undangan untuk melindungi anak.
Namun dilain pihak permasalahan pernikahan dini tidak bisa diukur dari sisi
agama terutama dari sisi agama Islam. Karena menurut Agama Islam jika dengan
menikah muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur
kemaksiatan maka menikah adalah alternatif yang terbaik. Namun jika dengan
menunda pernikahan sampai usia matang mengandung nilai positif maka hal ini adalah
lebih utama.
3.2 Saran
Upaya pencegahan per ni kahan anak di bawah umur
akansemakin maksimal bila anggota masyarakat turut serta dalam
pencegahan per ni kahan anak di bawah umur yang ada di seki t ar
mer eka. Ke r j a s a ma a n t a r a p e me r i n t a h d a n ma s y a r a k a t
me r u p a k a n j u r u s t e r a mp u h sementara ini untuk mencegah terjadi nya
pernikahan anak di bawah umur sehi ngga kedepannya di har apkan t i dak
akan ada l agi anak yang menj adi korban akibat pernikahan tersebut dan anak-
anak Indonesia bisa lebih optimis dalam menatap masa depannya kelak.


DAFTAR PUSTAKA
(http://nyna0626.blogspot.com/2008/10/pernikahan-dini-pada-kalangan-remaja-15.html
: 28/03/2012, 00:20 WIB)
(http://macanbanci.wordpress.com/2010/10/15/pernikahan-dini; 28/03/2012, 00:24
WIB)
(http://nyna0626.blogspot.com/2008/10/pernikahan-dini-pada-kalangan-remaja-15.html
: 28/03/2012, 00:20 WIB)
(http://macanbanci.wordpress.com/2010/10/15/pernikahan-dini; 28/03/2012, 00:24
WIB)


Judul: Makalah Pernikahan Dibawah Umur; Ditulis oleh Qaid Minangkabawi; Rating Blog: 5 dari 5
Diposkan oleh Qaid Minangkabawi di 09.50
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Makalah
5 komentar:
1.
ARIF6 November 2013 19.18
kamu bisa senaraikan nama desa-desa paling banyak pernikahan dini di jawa barat
sekarang? berapa maharnya bagi yang bukan janda?
Balas
2.
Anonim29 November 2013 22.50
mauk.. pelit banar kada kawa di copy paste (!)
mending kada usah dipublikasikan !
Balas
3.
Qaid Minangkabawi1 Desember 2013 17.10
hehe maaf ini blog untuk di baca saja, dan maaf bg Arif, saya belum mengetahui tentang
itu.
Balas
4.
Anonim17 Maret 2014 02.09
boleh copi ga//
Balas
5.
Anonim11 April 2014 00.36
pelit apa medit !!!









































Balas
Muat yang lain...
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Translate



Widget Animasi
Labels
Catatan (37)
Data (5)
Ebook. (1)
Internet Adm Negara (1)
Lain-lain (6)
Makalah (14)
Resume (9)
Lihat Arsip Disini
Mei (1)
November (55)
Blog-Blog Keren Sedunia
Administrasi Publik
Blog Penulis Terbaik Dunia :D
Forum Aktif Menulis Indonesia
Blog Anak Hubungan Internasional :D
Telusuri Facebook
Pemilik Blog
Like FB Berbagi Pengetahuan
Download Ebook Gratiss!!!
Kita-Kita

Pengunjung

-->
Get this widget![close]
Gambar template oleh Juxtagirl. Diberdayakan oleh Blogger.