Anda di halaman 1dari 10

MEKANISME ANTIBIOTIK

DISUSUN OLEH :
R HANDI BRAMANTO
10612007
Mekanisme antibiotik menghambat mikroba
melalui beberapa cara yang berbeda yaitu,
antibiotik bekerja menghambat sintesis
dinding sel mikroba, mengganggu membran
sel mikroba, menghambat sintesis protein dan
asam nukleat mikroba, dan mengganggu
metabolisme sel mikroba (Suwandi 1992).
Antibiotik menghambat pertumbuhan
mikroba dengan cara bakteriostatik atau
bakterisida. Hambatan ini terjadi sebagai
akibat gangguan reaksi yang penting untuk
pertumbuhan Reaksi penting ini mungkin
merupakan satu-satunya jalan untuk
mensintesis makromolekul seperti protein
atau asam nukleat, sintesis struktur sel seperti
dinding sel atau membran sel dan sebagainya.
(Suwandi 1992).
Penghambatan pada beberapa reaksi dapat
terjadi secara langsung yaitu antibiotik langsung
memblokir beberapa reaksi tersebut, namun
masing-masing reaksi memerlukan konsentrasi
antibiotik yang berbeda. Ketergantungan pada
konsentrasi ini menggambarkan perbedaan
kepekaan reaksi tersebut terhadap antibiotik.
Selain itu, pengaruh antibiotik juga dapat terjadi
secara tidak langsung yaitu berupa pengaruh
sekunder akibat gangguan pada reaksi lain
sebagai pengaruh primer (Suwandi 1992).
Antibiotik tertentu dapat menghambat beberapa
reaksi. Reaksi tersebut ada yang penting untuk
pertumbuhan dan ada yang kurang penting.
Toksisitas selektif rendah kurang dapat diterima,
karena dapat mengganggu proses penting sel
inang. Banyak proses penting pada bakteri yang
dipengaruhi antibiotik mempunyai kemiripan
dengan proses penting pada sel manusia seperti
sintesis protein, sehingga antibiotik tersebut juga
dapat mengganggu proses pada sel manusia
(Snow 1977).
Antibiotik yang baik harus memiliki aktivitas
antimikroba yang efektif dan selektif serta
memiliki aktivitas bakterisida. Sifat toksisitas
selektif diperlukan agar aktivitas gangguan pada
mikroba penginfeksi lebih besar daripada
gangguan pada sel inang. Derajat toksisitas
selektif tergantung pada struktur yang dimiliki sel
bakteri dan sel manusia, misalnya dinding sel
bakteri yang tidak dimiliki oleh sel manusia.
Antibiotik dengan mekanisme kegiatan pada
dinding sel bakteri mempunyai toksisitas selektif
relatif tinggi (Dancer 2004).
Dalam banyak hal ada kesulitan untuk
membedakan gangguan tersebut bersifat
primer atau sekunder. Contoh streptomisin
yang mengganggu beberapa reaksi antara lain
mempengaruhi sintesis protein, sintesis RNA
dan DNA, integritas membran sel dan
respirasi, tetapi tidak diketahui apakah
semuanya merupakan pengaruh primer atau
sekunder (Suwandi 1992).
Dalam beberapa hal mekanisme kegiatan
antibiotik sulit diterangkan, karena beberapa
alasan, seperti:
1. Kesulitan menetapkan gangguan tersebut
sebagai pengaruh sekunder atau
primer.
2. Kebanyakan antibiotik merupakan substansi
kimia yang rumit dan sering tidak mungkin
disintesis secara kimia, sehingga sulit membuat
antibiotik bertanda radioaktif.
3. Reaksi esensial yang diblokir, mungkin
belum diketahui dengan jelas.
4. Metabolisme organisme berbeda satu sama
lain walaupun pada prinsipnya sama, sehingga
mekanisme kegiatan pada satu organisme,
mungkin bukan cara antibiotik tersebut
menghambat pertumbuhan organisme lainnya
(Suwandi 1992).

REFERENCE
Dancer SJ. 2004. How antibiotics can make us
sick: The less obvious adverse effects of
antimicrobial chemotherapy. Lancet Infect Dis
4(10): 611-619.
Snow GA. 1977. Mechanisms of action of
antibiotics. In Pharmaceutical Microbiology. Ed.
Hugo WB, Russell AD. Blackwell Scient. Publ. hlm.
12336.
Suwandi U. 1989. Mikroba penghasil antibiotik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 58.