Anda di halaman 1dari 3

Arogansi yang Menimbulkan Masalah yang Berdampak pada Kekerasan

Arogansi berasal dari kata arogan yang berarti sombong; congkak; mempunyai perasaan
superioritas yang dimaifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah
1
. Arogansi berarti
sifat yang dimiliki seseorang yang merasa dirinya lebih dari orang lain atau sebut saja sombong.
Arogansi bukanlah sifat yang permanen tetapi arogansi adalah sifat yang situasional karena
arogansi tidak timbul setiap saat melainkan timbul saat situasi yang membuatnya menjadi
arogan. Arogansi sering timbul dikalangan orang orang yang memiliki jabatan, karena merasa
dirinya hebat dan memiliki intelek.
Sifat arogansi adalah sifat yang sulit untuk membaur terhadap orang lain, kerika
arogansi sudah muncul, acap kali kita tidak dapat memperhatikan orang lain, jadi dengan kata
lain arogansi dapat menimbulkan masalah yang kompleks yang terjadi pada kasus yang baru
baru ini. Banyak faktor yang memicu arogansi seperti kisah masa lalu, kondisi psikis, harapan
tak sesuai kenyataan, dan inteligensi. Kisah masa lalu seperti ia memiliki masa lalu yang buruk
layaknya anak Broken Home, atau orang tuanya bersifat arogan. Kondisi psikis yang membuat
dia cepat emosi, karena individu ini biasanya memiliki gangguan psikis. Harapan tak sesuai
kenyataan seperti orang itu tidak menerima kenyataan kalau harus direndahkan {anggapan
dia}. Dan yang terakhir adalah inteligensi dimana dia tidak mempunyai keahlian untuk
memecahkan masalah dan kemampuan beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari -
hari
2
.
Dalam beberapa buku mengenai kepribadian, individu yang memiliki sifat arogan
biasanya individu yang bertipe kolerik dengan ciri ciri lekas marah dan mudah jengkel atau
tersinggung, selalu pesimistik. Dalam istilah yang digunakan adler, individu yang kolerik adalah
orang yang berjuang kea rah kekuasaan dan begitu tegang sehingga dia membuat gerakan

1
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, hlm. 70.
2
Santrock, John W. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2010, hlm. 134-144.
gerakan yang lebih tegas dank eras, merasa dia selalu terpaksa memperlihatkan bukti akan
kekuasaannya. Dia hanya tertarik untuk mengatasi semua hambatan secara agresif (adler,
1927, hlm 147)
3
.
Arogansi ada yang membangun ada juga yang bersifat menyakiti. Setiap pribadi selalu
memiliki perbedaan sifat dari arogansi tersebut. Arogansi sering sekali dipicu oleh rasa emosi
yang meledak ledak atau dapat dikatakan seseorang yang lemah untuk mengontrol emosinya.
Bukan hanya itu saja, kehidupan seseorang adalah sebuah kehidupan yang kompleks yang
selalu disertai dengan cerita-cerita yang memberikan warna pada setiap lembar putih
kehidupannya, biasanya cerita ini banyak sekali dipengaruhi oleh cerita masa lalunya. Inilah
yang membuat setiap individu adalah pribadi yang unik, yakni karena latar belakang mereka
berbeda satu sama lain dan sifat mereka pun berbeda. Oleh karena itu, setiap tindakan yang
dilakukan oleh seorang individu tidak bisa dipungkiri memiliki kaitan dengan kehidupan pribadi
mereka.
Arogansi dapat menimbulkan masalah. Masalah adalah kata yang digunakan untuk
menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih
yang menghasilkan situasi yang membingungkan
4
. Membingungkan dimana kita tidak tahu arah
dan tujuan yang telah kita dapatkan itu (ketidak sesuaian). Banyak masalah yang dihasilkan oleh
arogansi seperti kekerasan terhadap orang lain (kekerasan sosial) dimana ia selalu menganggap
dirinya benar dan orang lain yang salah, selalu menganggap dirinya serba tahu dan orang lain
yang tidak tahu, dan selalu merasa dirinya yang paling tinggi harkat dan martabatnya dibanding
orang lain sehingga tidak suka di kritik apalagi diatur. Memang tidak dipungkiri kita juga sering
menemui hal itu didalam diri kita masing - masing. Kondisi ini menyebabkan kita seringkali tidak
bias bergabung dengan orang lain, kita melakukan kekerasan fisik kepada orang lain maupun
kekerasan yang dapat melukai hati.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi sifat ini baik dari dalam diri ataupun
kita yang menemui orang yang arogansi di sekeliling kita. Jika arogansi timbul dari dalam diri

3
Semium, Yustinus. Teori Teori Kepribadian,Yogyakarta: KANISIUS, 2013, hlm. 254
4
Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008, Hlm. 70
kita sendiri seharusnya kita memperbanyak senyum sapa kepada orang lain, coba berdiskusi
dan bertukar pikiran dengan orang lain serta berusaha lebih baik lagi dalam mendengar saran
dari orang lain, selalu mengucap syukur untuk segala sesuatu yang ada pada kita, mengontrol
emosi dan meredam amarah, merasa bahwa kita bukan apa apa dimata Tuhan dan kita bukan
makhluk yang dapat hidup sendiri, memunculkan rasa empati, serta dengan berpola hidup
sederhana. Sementara jika kita menemuinya pada orang lain baiklah kita berbicara dengan
lemah lembut padanya, jadi pendengar yang baik dan menganalisa serta mencermati setiap
ceritanya, selalu member dia kesempatan berbicara sampai selesai tanpa harus memotong
pembicaraannya, berikan solusi yang baik untuk apa yang ia beritahu, dan yang terakhir kita
tidak boleh member pendapat seolah olah menyatakan bahwa dialah yang salah.
Arogansi yang sangat tidak baik adalah arogansi tangan besi, dimana arogansi ini
menyakiti orang lain dengan rasa tega dan tidak berfikir panjang, seperti Hitler yang sangat
kasar , dan kasus yang baru baru ini kita temui antara pemerintah dengan pramugari.
Kekerasan yang dilakukan terhadap orang lain dapat berbuah perlawanan dari orang lain itu
juga, seharusnya kita dapat mengatasi tindakan dari dalam diri ini, jika tidak maka lambat laun
banyak orang yang akan menjauhi kita dari sikap seperti ini. Didalam kedewasaan pastinya kita
pernah mengalami transisi dari masa labil, kita belajar banyak tentang bagaimana kehidupan
dimasa itu, kehidupan dengan masa lalu yang tidak baik haruslah kita hilangkan dengan
memunculkan kebiasaan kebiasaan baik yang membuat kita terbiasa dengan itu. Kita sering
diperhadapkan pada masalah yang tidak jarang membuat kita berfikir keras, inilah saat
kedewasaan kita diuji dengan baik, hadapi masalah itu dan pecahkan dengan metode metode
pemecahan masalah yang seharusnya disesuaikan dengan konteks tersebut, konteks saling
berpendapat dan memberi masukan.