Anda di halaman 1dari 9

ii

BAB I
IDENTITAS ANAK


A. DATA ANAK
Nama : TEGAR NUR HIDAYAT
Usia : 6 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Anak ke : Pertama
Kelas : B.
Alamat Sekolah : TK Tunas Muda


B. DATA ORANG TUA
Nama Ayah : KHAERUL
Usia : 43 Tahun
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam

Nama Ibu : SULASTRI
Usia : 30 Tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Desa Kasimpa Jaya Kec. TS












ii

BAB II
ANAK MAU MENANG SENDIRI

I. GAMBARAN MASALAH
A. Pengertian Mau Menang Sendiri
Mau menang sendiri adalah perilaku Anak yang tidak mau dan tidak menerima
kekalahan. Maksud dari kekalahan di sini adalah keadaan yang menyebabkan ia merasa
tidak berhasil mencapai apa yang di inginkan meliputi hal-hal yang bersifat materi
maupun non materi.
Pada Anak persekolahan adalah dunia bermain terutama Anak TK, maka
permainan biasanya menjadi sebab munculnya Anak yang mau menang sendiri. Bila ia
ingin Bermain suatu permainan yang kebetulan sedang ingin dimainkan oleh Temanya,
ia akan merebutnya seperti pada kasus Guntur Cahyo Pramotyo (tidak mendapatkan
Materi atau Mainan yang di inginkan) .
Perilaku mau menang sendiri ini erat sekali dengan sifat iri hati / cemburu pada
Teman / Orang lain dan belum atau tidak berkembangnya kontrol diri pada Anak. Dalam
bergaul Anak yang memiliki kecenderungan mau menang sendiri berusaha mendominasi
/ menguasai Anak lain, memaksa Temanya untuk mengikuti apa yang di inginkannya.
pada dasarnya sifat perilaku mau menang sendiri pada anak usia prasekolah masih
dapat dikatakan wajar, bila terjadi sekali-kali anak usia ini sudah dikenalkan dengan
norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. sehingga secara kognitif seharusnya ia
sudah tau perilaku yang dikatakan baik dan buru, mana yang boleh dilakukan dan mana
yang tidak namun, dalam penerapanya belum selalu sesuai karena kontrol dirinnya masil
dalam proses penguatan. bila perilaku mau menang sendiri muncul dengan frekuensi dan
intensitas yang tinggi, hampir tiap hari atau sering kali dan dengan cara yang agresif
sehingga dirasakan mengganggu di sekitarnya, maka hal tersebut sudah menjadi masalah
dan tidak lagi diberikan sebagai hal yang wajar.
B. Ciri Ciri Anak yang Mau Menang Sendiri :
anak yang mau menang sendiri dalam kategori yang sudah bermasalah baik laki-laki maupun
perempuan umumnya menunjukan ciri-ciri berikut dalam intensitas yang melebihi batas
normal :
1. Kurang Mampu Mengontrol Diri / Emosi
2. Memiliki Kecenderungan Agresif
3. Empati Kurang Berkembang
4. harga diri seolah-olah yang sangat tinggi
5. Tidak mengikuti aturan dan bertindak semaunya.
6. Kualitas Hubungan Sosialnya Buruk
ii

C. hal-hal yang menyebabkan anak mau menang sendiri
hambatan dalam perkembangan sosial emosional anak yang mau menang sendiri berupa
sikap perilaku dan ciri-ciri beberapa hal berikut :
1. Tempramental Anak yang tergolong sulit
Tempramental merupakan faktor bawaan yang diturunkan oleh Orang Tua yang
menyebabkan adanya perbedaan individual dalam merespon lingkungan. perbedaan
tersebut menyangkut beberapa hal yaitu tingkat aktifitas, irama biologis,
kecenderungan untuk mendekat atau tingkat energi reaksi, suasana hati yang negatif,
serta tingkat kelakuan yang rendah menyebabkan perilaku yang mau menang sendiri
mudah muncul. bila sikap dan perlakuan orang tua / pengasuh tidak tepat, akan sulit
sama sekali diatasi.
2. Perlakuan dan pola Asuh Orang Tua yang kurang tepat.
orang tua pasti sayang pada anaknya namun dalam mengepresikan kasih sayangnya
pada anak bisa saja tidak tepat mungkin terasa oleh anak mungkin pula berlebihan
ukurannya. perlakuan dan pola asuh orang tua yang tepat sejak awal kehidupan anak
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan psikologi logis yang sangat memuaskan.
melalui ikatan emosional dan kasih sayang dengan sadar secukupnya. anak akan
memiliki rasa aman. kehangatan dan penerimaan yang membuat dirinya berharga.
keadaan yang dirasakan anak ini menjadi dasar untuk mengembangkan perilaku
sosial yang baik dikemudian hari. beberapa perlakuan orang tua yang kurang tepat
karena terlalu sedikit atau terlalu banyak memenuhi kebutuhan dasar psikologis anak
dapat menjadi penyebab perkembangan perilaku mau menang sendiri pada anak.
perlakuan tersebut misalnya sebagai berikut.
a. pemanjaan yang berlebihan dapat menjadi penyebab anak sulit menerima
kekalahan. orang tua yang cenderung selalu mengikuti / memenuhi keinginannya
atau memenuhi kekecewaanya. biasanya anak akan menjadi penakut, ambang
toleransi terhadap kekecewaan menjadi rendah (mudah kecewa) dan sulit
mengendalikan ke inginan diri. (control diri yang tidak berkembang) anak juga
tidak mengembangkan daya juanya. terlalu mudah mendapatkan apa yang di
inginkannya. proses belajar yang terjadi dari pengalamannya ini adalah bahasa
bila ia ingin sesuatu pasti akan haus di dapat segera. bila tidak ia tidak bisa
memenuhi kekecewaan itu dan akan berusaha untuk mendapatkannya dengan
cara apapun.
b. kurang perhatian, kasih sayang dan kehangatan dari orang tua juga dapat menjadi
penyebab perilaku mau menang sendiri (depresi emosional) kebutuhan dasar
psikologisnya tidak terpenuhi dengan cukup, membuat anak merasa tidak aman,
tidak di cintai, tidak diterima, dan tidak berharga bagi orang tuanya. rasa
ii

percayanya tidak diperolehnya, yang berkembang justru sikap bermusuhan. anak
tidak tau caranya bagaimana berempati. kebutuhan psikologis yang sangat
mendesak tidak terpenuhi dan kekurangan ini justru membuat anak protes dan
melakukan kompesasi yang berlebihan.
c. Orang tua yang cenderung primitif, membiarkan anak berperilaku sesuai
keinginan tanpa ada upaya untuk membatasi perilakunya sehingga anak tidak
dilandaskan moral disiplin dan rasa tanggung jawab akibatnya anak cenderung
berperilaku menang sendiri, hanya berpikir untuk dirinya tidak mampu menaati
aturan yang berlaku dalam masyarakat karena memang diperlakukan oleh orang
tua. sikap primitif orang tua ini biasanya di dasari oleh rasa sayang yang juga
berlebihan pada anak. akibatnya anak tidak mampu menampilkan perilaku yang
tepat.
anak yang mau menang sendiri pada akhirnya selalu mengalami kesulitan dalam
bersosialisasi, baik dengan teman sebaya maupun dengan yang lebih kecil dan
lebih tua. aspek emosi yang tidak berkembang baik pada akhirnya berpengaruh
pada aspek sosialnya yang juga kurang.
II. DIAGNOSA MASALAH
Diagnosis kasus dari hasil kasus diatas bahwa tegar nurhidayat anak memiliki masalah yaitu
kurang perhatian, kasih sayang, dan kehangatan dari orang tua sehingga menyebabkan anak
mau menang sendiri, kebutuhan dasar psikologisnya tidak terpenuhi dengan cukup, sehingga
membuat tegar nurhidayat merasa tidak aman, tidak dicintai dengan orang tuanya. rasa
dipercaya tidak diperolehnya yang berkembang justru sikap yang bermusuhan sehingga tegar
nurhidayat cenderung menuntut protes dan melakukan kompensasi yang berlebihan secara
agresif, sehingga tegar nurhidayat akan mengupayakan agar apa yang di inginkan dapat
tercapai.

III. PROGNOSIS ATAU PENANGANAN ANAK YANG MAU MENANG SENDIRI
penanganan yang dapat dilakukan oleh guru maupun orang tua / pengusaha terhadap anak
yang mau menang sendiri adalah dengan memenuhi terlebih dahulu penyebabnya.
1. Bila sebabnya karena kurangnya kasih sayang yang berlebih, atau justru kurang sehingga
Orang Tua Cenderung Primitif terhadap Anak atau Anak mengalami deprivasi atau emosi,
maka perlu adanya perubahan perlakuan Orang Tua. Kerja sama antara Orang Tua dan
Guru dalam hal ini amat perlu. Di rumah dan Sekolah Anak perlu mendapatkan perhatian
dan kasih sayang yang cukup. Di sisi lain penanaman disiplin dan moral juga perlu
diterapkan secara konsisten.
2. Cegah perilaku Anak yang mau menang sendiri dengan memberi alasan yang logis dan
dipahami anak mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukanya. Bantu anak agar ia mampu
ii

menumbuhkan empati dan kontrol diri tanpa kehilangan perhatian dan kasih sayang yang
juga menjadi kebutuhannya. Pujuan perlu segera diberikan bila Anak berhasil mencegah
perilaku mau menang sendiri. Bila anak tidak cepat berusaha maka Orang Tua atau Guru
tidak ada rasa Bosan harus dilakukan terus menerus sampai anak mendapat pujian dari
Guru atau Teman-temanya di tempat.
3. Tempramen Anak yang sulit juga tidak menjadi kendala lagi dengan latihan disiplin dan
penanaman moral, yang di sertai dengan perhatian, pujian dan kasih sayang serta
Profesional dari Orang Tua / Guru. Sekalipun tempramen bersifat bawaan dengan pila
asuh dan perlakuan yang tepat, yang mengajarkan Anak untuk menumbuhkan harga diri,
kontrol diri, disiplin, empati, kata hati dan Tanggung Jawab tempramen yang sulit
berubah ke arah yang lebih positif. lingkungan dalam hal ini perlakuan yang ditemuinya
dari lingkungan akan sangat menentukan perkembangan perilaku sosialnya. sehingga
temperamen sulit tidak menjadi kendala dalam melakukan hubungan dengan orang lain.
























ii

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
mau menang sendiri adalah perilaku anak yang tidak mau dan tidak bisa menerima kekalahan
pada anak pra sekolah yang dunianya adalah dunia bermain, maka permainan biasanya
menjadi sebab munculnya perilaku mau menang sendiri.
perilaku mau menang sendiri ini erat sekali dengan sifat iri hati cemburu pada teman / orang
lain dan belum, dan tidak berkembangnya control dari pada anak.
anak yang mau menang sendiri dalam kategori yang sudah bermasalah baik laki-laki maupun
perempuan. umumnya menunjukan ciri dalam intensitas yang melebihi batas normal
misalnya kurang mampu mengontrol diri / emosi memiliki kecenderungan agresif harga diri
seolah-olah yang sangat tinggi, empati kurang berkembang dan sebagainya. disamping itu
anak mau menang sendiri disebabkan oleh beberapa hal misalnya tempramen anak yang sulit
dan perlahan dan pola asuh orang tua yang kurang tepat.

B. Saran
diharapkan lingkungan keluarga atau sekolah untuk mampu merubah perilaku anak yang mau
bersifat menang sendiri. anak yang berperilaku mau menang sendiri nantinya akan
berdampak buru bagi anak itu sendiri misalnya kemampuan adaptasi anak rendah, intesitas,
reaksinya, tinggi dan suasana hal yang negatif serta tingkat kelemahan anak juga menjadi
rendah.














ii


DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................................... i
Daftar isi.................................................................................................................... ii
BAB I IDENTITAS................................................................................................ 1
A. Data Anak......................................................................................................... 1
B. Data Orang Tua.................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 2
A. Gambaran ............................................................................................................ 2
B. Diagnosisi.......................................................................................................... 4
C. Prognosis........................................................................................................... 4
BAB III PENUTUP................................................................................................. 6
3.1. Kesimpulan......................................................................................................... 6
3.2. Saran................................................................................................................. 6





















ii

TUGAS STUDI KASUS
(ANAK YANG MAU MENANG SENDIRI)




DISUSUN OLEH :
NAMA : SITTI AMIN
NIM : 2III4217
JURUSAN : PAUD


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI
2012 / 2013


ii


KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Kehadirat ALLAH SWT atas Rahmat dan Hidayahnya sehingga
Penulis dapat menyelesaikan Laporan Studi Kasus ini dengan Judul ANAK YANG MAU
MENANG SENDIRI Penyusunan Laporan Studi Kasus ini masih banyak terdapat
kekurangan serta kelemahan baik dari segi isi maupun Teknik Penulisan, yang disebabkan
oleh keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Oleh sebab itu dengan Lapang Dada kami
mengharapkan Petunjuk dan Saran yang bersifat Kontruktif untuk Penyempurnaan Laporan
ini.
Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa Penyusunan Hasil Studi Kasus ini tidak
mungkin terwujud tanpa Bantuan dan Bimbingan dari berbagai Pihak. Oleh karena itu
Penulis menyampaikan Ucapan Terima Kasih yang sedalam dalamnya Kepada Bapak Dosen
Studi Kasus yang telah dengan Ikhlas mengarahkan dan Mengajar Penulis semenjak hingga
akhir Penulisan Laporan ini. Tak lupa pula Penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh Keluarga dan Teman yang telah
memberi semangat dan motifasi yang sangat berarti bagi Penulis.

Akhirnya dengan senantiasa mengharapkan Ridho dari ALLAH SWT semoga segala
bantuan dan Petunjuk dari berbagai pihak yang mungkin selesainya Laporan ini, bernilai
Ibadah dan memperoleh imbalan Pahala yang berlipat di sisi ALLAH SWT. Amin


Raha, Juli 2013


Penulis