Anda di halaman 1dari 10

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.01.

ANAMNESIS
Nama : Nn. SNR Ruang : Poliklinik
Umur : 24 Tahun No. RM : -

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. SNR
No. Rekam Medis : 30.74.xx
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 24 Tahun
Status Perkawinan : Belum Menikah
Pekerjaan : Belum Bekerja
Agama : Islam
Alamat : Grabag RT03/02, Purworejo
Tanggal Pemeriksaan : 12 Juni 2014

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama :
Gatal dan perih daerah ke dua pergelangan tangan, sela jari tangan, ke dua punggung
kaki serta sampai ke betis.

2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poliklinik kulit dan kelamin dengan keluhan gatal yang terjadi
awalnya pada daerah ke dua kaki sampai ke betis, lalu kemudian muncul pada ke dua
pergelangan tangan dan sela sela jari tangan. Keluhan gatal ini disertai dengan rasa
perih akibat garukan, dan terkena keringat. Rasa gatal ini sudah dirasakan kurang lebih
selama 2 minggu terakhir, pasien mengatakan jika malam hari gatal ini semakin menjadi
jadi. Awalnya hanya rasa gatal yang muncul, semakin lama timbul luka pada daerah
yang gatal.
Pasien mengatakan bahwa ia baru saja berpergian keluar daerah mengikuti pelatihan
untuk menjadi pembantu rumah tangga, menurut pasien selama satu minggu pasien
tinggal di asrama atau mess bersama peserta yang lain. Untuk kebersihan tempat
tinggalnya itu pasien mengatakan sedikit lembab dan kurang bersih.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.02.

1 hari sebelum selesai pelatihan tersebut pasien baru menyadari ada salah seorang
peserta lain yang juga mengalami gatal gatal pada badannya. Pasien mengatakan
selama pelatihan, dia tidak pernah mengkonsumsi obat obatan dan keluhan ini baru
sekali dirasakan oleh pasien, sebelumya pasien tidak pernah mempunyai sakit yang
berhubungan dengan gatal gatal pada kulitnya. Selama ini pasien belum pernah
berobat ke tempat lain untuk memeriksakan gatal pada kulitnya ini. Keluhan lain seperti
demam, muntah, pusing, bengkak pada kaki dan tangan, disangkal oleh pasien.

3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat hipertensi disangkal oleh pasien.
Riwayat diabetes mellitus disangkal oleh pasien.
Riwayat penyakit jantung bawaan disangkal oleh pasein.
Riwayat asma disangkal oleh pasien.
Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal oleh pasien.
Riwayat kontak bahan kimia disangkal oleh pasien.
Riwayat alergi disangkal oleh pasien.

4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Anggota keluarga dengan keluhan serupa disangkal oleh pasien.
Anggota keluarga dengan hipertensi, sakit jantung bawaan, diabetes mellitus, alergi, dan
asma disangkal oleh pasien.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak cukup baik
Kesadaran : E
4
V
5
M
6
( compos mentis )
Vital Sign :
TD : Tidak diperiksa T : tidak diperiksa
N : 87 x/menit RR : 19 x/menit



FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.03.

Status Dermatologis :

Gambar 1. Lokasi Ruam

Lokasi : ke dua pergelangan tangan dan sela jari tangan, ke dua punggung kaki serta
daerah betis.
Distribusi : Menyebar
Effloresensi : Papul hiperpigmentasi, batas tegas dengan dasar eritema multipel,
tampak lesi seperti terowongan yang berasal dari papul.

D. DIAGNOSIS BANDING
- Skabies
- Dermatitis atopik
- Dermatitis kontak

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Tidak dilakukan
- Usul : Pemeriksaan tambahan untuk menemukan sarcoptes scabiei.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.04.


F. DIAGNOSIS KERJA
- Skabies

G. TERAPI
1. Medikamentosa
Skabisidal
Permethrin 5% Cream (dioleskan ke seluruh tubuh dari leher hingga ujung kaki dan
dibilas setelah 8-12 jam pemakaian, kemudian ulangi 1 minggu kemudian).
Antihistamin
Cetirizine Hcl 10mg (1 dd 1 tab).

2. Non Medikamentosa
- Hindari sumber penularan jika ada
- Ganti pakaian, handuk, sprei yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dengan
direndam menggunakan air panas terlebih dahulu.
- Berikan penjelasan kepada pasien bahwa walaupun telah diberikan terapi skabisidal
yang adekuat, ruam dan rasa gatal di kulit dapat menetap hingga 4 minggu, jika tidak
diberikan penjelasan pasien akan beranggapan bahwa pengobatan yang diberikan tidak
berhasil dan kemudian akan menggunakan obat anti skabies dengan berlebihan.
- Setiap anggota keluarga yang tinggal serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang
sama dan ikut menjaga kebersihan.
- Mematuhi anjuran dan resep obat dari dokter.

H. Prognosis
- Quo ad vitam : dubia ad bonam
- Quo ad sanam : dubia ad bonam
- Quo ad functionam : dubia ad bonam
- Quo ad kosmeticam : dubia ad bonam


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.05.

TINJAUAN PUSTAKA

Skabies sering juga disebut penyakit kulit berupa budukan atau kudis yang
menyerang permukaan epidermis yang disebabkan oleh kutu Sarcoptes scabiei var
hominis. Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak kulit dengan orang yang terinfeksi.
kutu yang transparan, berbentuk oval, pungggungnya cembung, perutnya rata dan tidak
bermata.
diameternya sekitar 0.3 mm
memiliki 4 pasang kaki.
tidak dapat terbang ataupun meloncat
siklus hidup 30 hari
Kutu betina melubangi stratum corneum dalam waktu 20 menit lalu bertelur sekitar 3
butir perharinya. Telur itu kemudian menetas setelah hari ke 4. Lalu larva bermigrasi ke
permukaan kulit dan berkembang hingga dewasa. Setelah 2 minggu, kutu betina dan jantan
kawin. Kutu betina lalu kembali melubangi stratum corneum. Kutu jantan, yang tubuhnya
lebih kecil dari betina, terjatuh dari kulit dan mati. Jumlah kutu yg terdapat pada inang
biasanya kurang dari 20 ekor, kecuali pada "crusted scabies" yg bisa mencapai lebih dari 1
juta ekor. Di luar tubuh manusia, kutu skabies bisa bertahan hidup selama 3 hari.
Skabies hanya dapat diberantas dengan memutus rantai penularan dan
memberi obat yang tepat.

Epidemologi
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di Puskesmas seluruh
Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,6%-12,9%, dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12
penyakit kulit tersering. Di Bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988,
dijumpai 734 kasus skabies yang merupakan 5,77% dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989
dan 1990 prevalensi skabies adalah 6% dan 3,9%. Prevalensi skabies sangat tinggi pada
lingkungan dengan tingkat kepadatan penghuni yang tinggi dan kebersihan yang kurang
memadai (Depkes. RI, 2000).

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.06.

Cara Penularan ( Transmisi )
1. kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama,
dan hubungan seksual.
2. Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, seprei, bantal, dan
lain-lain.

Definisi
Scabies adalah penyakit kulit akibat infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes
Scabiei jenis manusia dan produknya pada tubuh.

Etiologi
Sarcoptes scabiei jenis manusia, tergolong famili Antropoda, kelas Araknida, ordo
akarina, famili sarcoptes.

Gambaran klinis
Gatal-gatal dan kemerahan dapat terjadi 6-8 minggu setelah kutu menginfeksi. Lesi
yg timbul dapat berupa nodul atau papula yg merah, bersisik, timbul krusta (ekskoriasi) pada
sela-sela jari, pinggir jari, pergelangan tangan dan pinggir telapak tangan, siku, ketiak,
skrotum, penis, labia dan areola pada wanita. Erupsi eritema difus pada tubuh dapat terjadi
akibat reaksi hipersensitivitas terhadap antigen kutu.

Penyakit skabies memiliki 4 gejala klinis utama (gejala kardinal/ cardinal sign),yaitu:
1. Pruritus nokturna atau rasa gatal di malam hari, yang disebabkan aktivitas kutu yang lebih
tinggi dalam suhu lembab. Rasa gatal dan kemerahan diperkirakan timbul akibat sensitisasi
oleh kutu.
2. Penyakit ini dapat menyerang manusia secara kelompok. Mereka yang tinggal di asrama,
barak-barak tentara, pesantren maupun panti asuhan berpeluang
lebih besar terkena penyakit ini. Penyakit ini amat mudah menular melalui
pemakaian handuk, baju maupun seprai secara bersama-sama. Skabies mudah
menyerang daerah yang tingkat kebersihan diri dan lingkungan masyarakatnya
rendah.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.07.

3. Adanya lesi kulit yg khas, berupa papula, vesikel pada kulit atau terowongan-terowongan di
bawah lapisan kulit (kanalikuli) yang berbentuk lurus atau berkelok-kelok berukuran 1-10
mm. Jika terjadi infeksi skunder oleh bakteri, maka akan timbul gambaran pustul (bisul
kecil). Kanalikuli ini berada pada daerah lipatan kulit yang tipis, seperti sela-sela jari
tangan, daerah sekitar kemaluan, wajah dan kulit kepala (pada anak), siku bagian luar, kulit
sekitar payudara, bokong dan perut bagian bawah.
4. Pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopis positif adanya kutu, telur atau skibala
(butiran feses).

Pada "crusted scabies" terdapat lesi berupa plak hiperkeratotik tersebar di telapak
tangan dan kaki disertai penebalan dan distrofi kuku jari tangan dan kaki. Pruritus (gatal)
bervariasi bahkan hilang sama sekali pada keadaan ini.

Pemeriksaan Penunjang
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menentukan tungau dan produknya yaitu :
1. kerokan kulit : papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH
10%.
2. Mengambil tengau dengan jarum : bila menemukan terowongan, jarum suntik yang
runcing ditusukkan kedalam terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke
ujung lainnya kemudian dikeluarkan. Bila positif, tungau terlihat pada ujung jarum
sebagai parasit yang sangat kecil dan transparan.
3. Tes tinta pada terowongan (burrow ink test)
4. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsi)
5. Biopsi irisan dengan pewarnaan HE
6. Uji tetrasiklin

Penegakan Diagnosis
Ditegakkan dari anamnesis, manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang Ditemukan 2 atau
lebih dari 4 gejala kardinal (+) atau ditemukan gejala kardinal no.4 (+).

Diagnosis Banding
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.08.

1. Dermatitis atopik
2. Reaksi terhadap gigitan serangga
3. Dermatitis kontak
4. Dermatitis herpetiformis
5. Eksim dishidrotik
6. Psoriasis
7. Bullous pemphigoid
8. Drug eruption
Komplikasi
Infeksi sekunder pada pasien scabies merupakan akibat dari infeksi bakteri atau karena
garukan. Keduanya mendominasi gambaran klinik yang ada. Erosi merupakan tanda yang
paling sering muncul pada lesi sekunder. Infeksi sekunder dapat ditandai dengan munculnya
pustul, supurasi, dan ulkus. Selain itu dapat muncul eritema, skuama, dan semua tanda
inflamasi lain pada ekzem sebagai respon imun tubuh yang kuat terhadap iritasi. Nodul-nodul
muncul pada daerah yang tertutup seperti bokong, skrotum, inguinal, penis dan axilla. Infeksi
sekunder lokal sebagian besar disebabkan oleh Streptococcus aureus dan biasanya
mempunyai respon yang bagus terhadap topikal atau antibiotik oral, tergantung tingkat
pyodermanya. Selain itu, limfangitis dan septiksemia dapat juga terjadi terutama pada scabies
Norwegian, post-streptococcal glomerulonephritis bisa terjadi karena skabies-induced
pyodermas yang disebabkan oleh streptococcus pyogens.
Penatalaksanaan
Pengobatan

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.09.


a. Farmakoterapi
Pengobatan penyakit ini menggunakan obat-obatan berbentuk krim atau salep
yang dioleskan pada bagian kulit yang terinfeksi. Banyak sekali obat-obatan yang
tersedia di pasaran. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain;
tidak berbau, efektif terhadap semua stadium kutu (telur, larva maupun kutu
dewasa), tidak menimbulkan iritasi kulit, juga mudah diperoleh dan murah harganya.

Sistemik
- Antihistamin klasik sedatif ringan untuk mengurangi gatal, misalnya
klorfeniramin maleat 0.34 mg/kg BB 3 x sehari.
- Antibiotik bila ditemukan infeksi sekunder misalnya ampisilin, amoksisilin,
eritromisin.

Topikal
- Obatan-obatan yang dapat digunakan antara lain:
1. Salep 2 4, biasanya dalam bentuk salep atau krim.
Kekurangannya, obat ini menimbulkan bau tak sedap (belerang), mengotori pakaian, tidak
efektif membunuh stadium telur, dan penggunaannya harus lebih dari 3 hari berturut-turut.
2. Emulsi benzil-benzoas 20 25%
Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari berturut-turut.
Kekurangannya, dapat menimbulkan iritasi kulit.
3. Gamexan 1%,
Termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium kutu, mudah digunakan, serta
jarang menimbulkan iritasi kulit. Namun obat ini tidak dianjurkan bagi wanita hamil,
maupun anak dibawah usia 6 tahun, karena bersifat toksik terhadap susunan saraf pusat.
Pemakaiannya cukup satu kali dioleskan seluruh tubuh. Dapat diulang satu minggu
kemudian bila belum sembuh.
4. Krotamiton 10%
Termasuk obat pilihan karena selain memiliki efek antiskabies, juga bersifat anti gatal.
5. Permetrin HCl 5%
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RM.010.

Efektifitasnya seperti Gamexan, namun tidak terlalu toksik. Penggunaannya cukup sekali,
namun harganya relatif mahal.

b. Non-farmakoterapi
Selain menggunakan obat-obatan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan
adalah upaya peningkatan kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara:

1. Mencuci bersih (dry cleaned) atau merebus dengan air panas handuk, seprai maupun baju
penderita skabies (yg dipakai dalam 5 hari terakhir), kemudian menjemurnya hingga kering
(washed and dried in hot cycle). Menghilangkan faktor predisposisi, antara lain dengan
penyluhan mengenai higiene perorangan dan lingkungan.
2. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.
3. Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksi untuk memutuskan
rantai penularan. Hewan peliharaan tidak perlu diobati karena kutu skabies tidak hidup
disana.

Pemantauan
Dianjurkan kontrol 1 minggu kemudian, bila ada lesi baru obat topikal dapat
diulang kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, A., Hamzah M., Aisah S. 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Keenam.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Siregar, R.S. 2004. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Waff K., Johnson R.A., Suurmond D. Fitzpatricks Color Atlas and Synopsis of Clinical
Dermatology. Fifth Editon.