Anda di halaman 1dari 4

ANALISA KASUS

Pasien 27 tahun dengan G1P0A0 hamil 36 minggu datang dengan keluhan


gerakan janin berkurang bahkan sampai tidak ada lagi gerakan bayi yang
dikandungnya sejak 1 hari SMRS. Setelah dilakukan USG, detak jantung
janin sudah tidak dapat ditemukan lagi, dan begitu juga dengan gerakan
janin yang tidak ditemukan saat USG selain itu ari hasil USG juga
didapatkan Indeks Cairan Amnion 29,9 cm yang mencapai lebih dari
batas normal (10-15). Dan pada akirnya pasien dirawat dan direncanakan
untuk dilakukan terminasi kehamilan dengan bantuan induksi.
Pada hari pertama perawatan di rumah sakit, dilakukan pemasagan folley
induksi pada pukul 15.00 WIB setelah itu pasien diobservasi TTV,
kemajuan persalinan dan HIS. Pada pukul 20.00 WIB pasien diberikan
citotex sebanyak tab dengan alasan tidak adanya kemajuan persalinan
setelah pemasangan folley induksi.
Keesokan hari nya folley induksi dilepaskan pada pukul 06.50 WIB dan
pada pmeriksaan dalam didapatkkan pada pebukaan 4cm, ketuban (+).
Selama perawatan pasien mendapatkan terapi farmakologi antibiotik
kombinasi (Ampicilin 1000 mg & Sulbactam 500mg) 1,5 gram dengan tujuan
untuk mencegah terjadinya infeksi pada pasien.
Setelah 5 jam kemuadian pasien tetap tidak mengalami kemajuan
persalinan, dan akhirnya dilakukan tindakan embriotomi pada pukul 12.10
WIB dan bayi dikeluarkan pada pukul 12.30 WIB dengan berat 1900gram.

Pada pasien ini telah dilakukan induksi persalinan dimana pada kasus
kematian janin, induksi persalinan merupakan salah satu indikasi
dilakukanya induksi persalinan. Pada pasien ini telah dilakukan induksi
persalinan dengan teknik farmakologis maupun non farmakologis yakni
dengan pemesangan folley dan juga dilakukan pemberian citotex dalam
jangka waktu yang berdekatan.

Penyebab kematian janin pada pasien ini diakibatkan oleh karena keadaan
polihidramnion sehingga mengakibatkan terlilitnya tali pusat pada janin,
yang mengakibatkan suplai darah dan O2 pada janin terhambat.

Terminasi kehamilan pada pasien ini dilakukan dengan melakukan
tindakan embriotomi dengan alasan persalinan spontan pervaginam tidak
memenuhisetelah dilakukan induksi persalinan sebelumya dan dinyatakan
gagal.
Teknik embriotomi yang dilakukan pada pasien ini dengan teknik
kraniotomi yang merupakan teknik dengan menggunakan 2 alat yaitu
perforator dan kranioklas. Teknk ini merupakan suatu tindakan
memperkecil ukuran kepala janin dengan cara melubangi tengkorak,
sehingga janin dapat mudah lahir pervaginam.

Definisi dari embriotomi itu sendiri merupakan suau persalinan buatan
dengan cara merusak atau memotong bagian-bagian tubuh janin agar dapat
lahir pervaginam, tanpa melukai ibu.
Dengan indikasi :
- Janin mati, ibu dalam keadaan bahaya ( maternal distress)
- Janin mat, yang tidak mungkin lahir spontan pervaginam.
Teknik dari embriotomi terdiri dari dari 6 macam teknik, yaitu :
1. Kranitomi
suatu tindakan memperkecil ukuran kepala janin dengan cara
melubangi tengkorak, sehingga janin dapat mudah lahir
pervaginam.
2. Dekapitasi
Suatu tindakan untuk memisahkan kepala janin dari tubuhnya
dengan cara memotong leher janin.
3. Kleidotomi
Suatu tindakan untuk memotong/mematahkan 1 atau 2
klavikula, guna mengecilkan lingkaran bahu.
4. Eviserasi/Eksenterasi
Suatu tndakan merusak dinding abdomen/thoraks, untuk
mengeluarkan organ-organ visea,
5. Spondilotomi
Suatu tindakan memotong ruas-ruas tulang belakang.
6. Suatu tindakan megeluarkan cairan dari tubuh janin.

Dari hasil peimeriksaan USG yang didapatkan pada pasin ini dapat
disimpulkan bahwa pasien ini mengalami kehamilan dengan IUFD atau
kematian janin didalam uterus.
Pada kasus IUFD dapat didiagnosis dengan pemeriksaan USG yang
merupakan gold standar pada kasus ini dengan tidak ditemukan atau tidak
tampak adanya gerakan jantung janin.
Pada anamnesis, gerakan menghilang. Pada pemeriksaan pertumnuhan
janin tidak ada, yang terlihat pada tinggi uterus menurun, berat badan ibu
menurun, dan lingkaran perut ibu mengecil. Dengan menggunakan doppler
tidak dapat didengar adanya bunyi detak jantung janin.
Berdasarkan WHO, dimaa IUFD adalah kematian janin yang berada
didalam rahim dengan BB 500 atau lebih dengan usia kehamilan20
minggu atau lebih. Penyebab dari IUFD dapat disebabkan oleh faktor-
faktor yang mendukung terjadinya kematian janin, faktor-faktor tersebut
berasal dari faktor maternal (5-10%), faktor feal (24-40%) dan faktor
plasental (25-35%).
- Faktor Maternal :
Post term ( >42 minggu ), Pasien dengan DM tidak terkontrol,Sistemik
lupus eritoma tosus, Infeksi, Hipertensi, Pre eklampsi eklampsia,
Hemoglobinopati, Usia ibu tua,Penyakit rhesus, Ruptur
uteri,antifosfolipid sindrom, hipotensi akut ibu, kematian ibu.
- Fakto Fetal :
Hamil kembar, Hamil tumbuh terhambat, kelainan kongenital, kelainan
genetik, infeksi.
- Faktor plasental :
Kelainan tali pusat, lepasnya plasenta, ktuban pecah dini, vasa previa.