Anda di halaman 1dari 14

Kelompok 4 : Analisis Penerapan JIT di Perusahaan Toyota

1. Hariyana (12051014)
2. Wiknanta PB (12051007)
3. Arif K (12051113)
4. Adiel W A S (12051001)
5. Salman (12051042)
6. Fidelis T Seran (12051145)
7. Agustinus Trisnanto (12051080)
8. Tiyok (12051052)

1

1. Latar Belakang Masalah
Sistem pemanufakturan tradisional mengatur skedul produksinya berdasarkan
pada peramalan kebutuhan di masa yang akan datang. Padahal tidak seorangpun dapat
memprediksi masa yang akan datang dengan pasti walaupun dia memiliki pemahaman
yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap
kecenderungan yang terjadi di pasar. Produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang
akan datang dalam sistem tradisonal memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over
produksi daripada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya.
Kemajuan teknologi yang sangat pesat, pada perusahaan mengakibatkan
berkurangnya pemakaian tenaga kerja langsung disatu sisi, namun disisi lain
memerlukan pengeluaran investasi yang relative besar untuk menggunakan peralatan
modern. Karena keterbatasan dana masih banyak perusahaan yang menggunakan
prosedur yang tradisional untuk menghadapi kemajuan teknologi itu sendiri. Namun
masyarakat di Negara maju seperti Jepang mulai mengembangkan suatu system yang
disebut Just In Time, dimana sistem ini dilatar belakangi oleh pemborosan-
pemborosan tenaga kerja, ruangan dan waktu industri, yang terjadi dikarenakan
adanya persediaan (inventory) sehingga biaya produksi menjadi lebih tinggi.
Keunggulan suatu perusahaan terhadap para pesaingnya ditentukan oleh
faktor waktu, mutu, biaya dan sumber daya manusia. Waktu merupakan salah satu
faktor penentu unggulan daya saing. Jika suatu perusahaan ingin unggul dari faktor
waktu maka perusahaan harus dapat melayani permintaan konsumen tepat waktu,
mengeliminasi atau mengurangi waktu untuk aktivitas yang tidak bernilai tambah, dan
mengefisiensikan waktu untuk aktivitas bernilai tambah. Salah satu alat agar
perusahaan mempunyai keunggulan dari segi faktor waktu adalah dengan
mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep JIT.
Operasi JIT merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi dan
mengeliminasi segala macam sumber pemborosan dalam aktivitas produksi, dengan
memberikan komponen produksi yang tepat serta pada waktu dan tempat yang tepat,
sedangkan Operasi Tradisional memproduksi komponen produksi dalam jumlah besar
dengan maksud untuk mengantisipasi kalau- kalau terjadi sesuatu.
BAB I PENDAHULUAN

2

2. Rumusan masalah
Mengapa perusahaan Toyota menggunakan Just In Time?
Apakah keuntungan yang diperoleh Toyota dengan
menggunakan Just In Time?
Apakah dampak implementasi Just In Time terhadap Akuntansi
Manajemen?

3. Tujuan
Penulis ingin mengetahui alasan-alasan mengapa perusahaan
Toyota menggunakan Just In Time.
Ingin mengetahui apa saja keuntungan yang diperoleh Toyota
dengan menggunakan Just In Time.
Mengetahui dampak implementasi Just In Time terhadap
Akuntansi Manajemen itu sendiri.

4. Manfaat
Diharapkan karya tulis ini dapat memberi pemahaman tentang alasan-
alasan perusahaan menggunakan Just In Time, memberi informasi tentang
keuntungan yang diperoleh perusahaan jika menggunakan Just In Time, dan
memberi informasi tentang dampak implementasi Just In Time terhadap
Akuntansi Manajemen.



5. Metode Penelitian
Dalam kesempatan kali ini, kami menggunakan study pustaka untuk
menunjang penyelesaian makalah ini.

3

BAB II PEMBAHASAN

Mengapa perusahaan Toyota menggunakan Just In Time?

Prinsip dasar Just In Time adalah peningkatan kemampuan perusahaan
secara terus menerus untuk merespon perubahan dengan minimisasi pemborosan.
Terdapat empat aspek pokok dalam konsep Just In Time Toyota, yaitu:
1. Menghilangkan semua aktifitas atau sumber-sumber yang tidak
memberikan nilai tambah terhadap produk atau jasa.
2. Komitmen terhadap kualitas prima.
3. Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan
efisiensi.
4. Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan
visibilitas aktivitas yang memberikan nilai tambah.
yang kedua untuk memperbaiki posisi bersaing perusahaan. Kedua tujuan tersebut
dapat dicapai dengan mengendalikan biaya, memperbaiki kinerja pengiriman dan
dengan peningkatan kualitas. Produksi dan pembelian dengan sistem JIT mewakili
usaha terus-menerus dalam mengejar produktivitas melalui penghapusan pemborosan.
Meski JIT berfokus lebih dari sekedar manajemen persediaan, pengendalian
persediaan merupakan keuntungan tambahan yang penting. Jenis dan efisiensi tata
letak pabrik dikelola secara berbeda dalam proses manufaktur JIT. JIT mengganti tata
letak pabrik tradisional dengan suatu pola.
PT. Tri Dharma Wisesa merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang
memasok brake system untuk pelanggan-pelanggan seperti Yamaha, Toyota,
Daihatsu, baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu lini produksi yang ada adalah
lini produksi disc brake untuk konsumen tunggal yaitu Yamaha. Pada sistem
sekarang, lini ini masih menggunakan push system dan menghadapi masalah-masalah
seperti volume kegiatan Departemen Production Planning & Control yang besar,
ketidakcocokan rencana dan produksi aktual, kurang adaptif terhadap perubahan
permintaan, mekanisme informasi yang kurang baik, dan inventori yang menumpuk.
Tindakan yang diusulkan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah merancang
sistem produksi JIT (Just In Time) untuk menggantikan sistem produksi sekarang.

JIT memiliki dua tujuan strategis, yang pertama untuk meningkatkan laba dan

4

Apakah keuntungan yang diperoleh Toyota dengan menggunakan Just In
Time?
Toyota memperoleh berbagai macam manfaat dengan menerapkan JIT,
beberapa diantaranya yaitu :










Seluruh system yang ada dalam perusahaan dapat berjalan lebih efisien
Pabrik mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk memperkerjakan
para staffnya.
Persediaan tidak perlu dicek, disimpan atau diretur kembali.
Kertas kerja dapat lebih simple
Penghematan yang telah di lakukan dapat digunakan untuk mendapat
profit yang lebih tinggi misalnya, dengan mengadakan promosi tambahan.
Keterlacakan biaya
Keakuratan penentuan biaya produk
Mengeliminasi aktivitas tidak bernilai tambah
Meminimumkan persediaan
Zero Defect
Mengurangi harga pokok produksi
Menghemat biaya penyimpanan dan gudang
Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
Menghemat waktu perpindahan
Biaya mutu


5

Apakah dampak implementasi Just In Time terhadap Akuntansi
Manajemen?
Penulis menyadari penerapan JIT dalam Toyota akan memberi
dampak atau memiliki hubungan dengan konsep Akuntansi Manajemen,
berikut ini penulis akan menjabarkan beberapa hubungan dan dampak
implementasi JIT Toyota terhadap Akuntansi Manajemen :


Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada
yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional. Penggunaan sistem pemanufakturan
JIT mempunyai dampak pada:
1. Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya.
2. Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk.
3. Mengurangi perlunya alokasi pusat biaya jasa (departemen jasa)
4. Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
5. Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.

Dasar-dasar pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan
tradisional:
JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.
Pemanufakturan JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull). Tujuan
pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut
dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa
perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:
a. Persediaan Rendah
b. Sel-sel Pemanufakturan dan Tenaga Kerja Interdisipliner
c. Filosofi TQC (Total Quality Control)


6

JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead
Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan
bersama untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke
satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tenaga kerja yang
terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama
JIT.
JIT TRADISIONAL
Sistem Pull-through
Persediaan tidak signifikan
Sel-sel pemanufakturan
Tenaga kerja terinterdisipliner
Pengendalian mutu (TQC)
Desentralisasi jasa
Sistem Push-through
Persediaan signifikan
Berstruktur departemen
Tenaga kerja terspesialisasi
Level mutu akseptabel (AQL)
Sentralisasi jasa

Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT
Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan
biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok
Produk). Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung
dan mengubah sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun
sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.
JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan
dukungan pada berbagai departemen produksi. Dalam lingkungan JIT, banyak jasa
didesentralisasikan. Hal ini dicapai dengan membebankan pekerja dengan keahlian
khusus secara langsung ke lini produk dan melatih tenaga kerja langsung yang ada
dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang semula dilakukan oleh tenaga
kerja tidak langsung.


7

Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung
Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja
langsung tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:
1. Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi
berkurang
2. Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.
Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan
Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan
penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk
dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut
harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan
pelaporan keuangan. Dalam JIT diusahakan persediaan nol (atau paling tidak pada
tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan
untuk tujuan pelaporan keuangan.
Dalam JIT, keberadaan penentuan harga pokok produk hanya untuk
memuaskan tujuan manajerial. Manajer memerlukan informasi biaya produk yang
akurat untuk membuat berbagai keputusan misalnya:
Penetapan harga jual berdasar cost-plus,
Analisis trend biaya,
Analisis profitabilitas lini produk,
Perbandingan dengan biaya para pesaing,
Keputusan membeli atau membuat sendiri, dsb.

Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan
Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan
harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan
khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-
ulang.

8

Dengan mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak
membutuhkan perhatian yang besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi.
Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan pada level selular. lagi pula, karena
ukuran lot sekarang lebih sangat kecil, maka tidak praktis untuk menyusun kartu
harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan akan
menggunakan sifat sistem harga pokok proses.

Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT
Dalam metode proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit
karena adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT,
diusahakan persediaan nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu
dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara
signifikan mengarah pada penyederhanaan.

JIT dan Otomasi
Sejak sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan
otomasi dalam beberapa hal. Karena tidaklah umum bagi perusahaan yang
menggunakan JIT untuk mengikutinya dengan pemilikan teknologi pemenufakturan
maju. Otomasi perusahaan untuk : (a) menaikkan kapasitas produksi, (b) menaikkan
efisiensi, (c) meningkatkan mutu dan pelayanan, (d) menurukan waktu pengolahan,
(e) meningkatkan keluaran.
Otomasi meningkatkan kemampuan untuk menelusuri biaya pada berbagai
produk secara individual. sebagai contoh sel-sel FMS, merupakan rekan terotomasi
dari sel-sel pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa biaya yang merupakan biaya yang
tidak langsung dalam lingkungan tradisional sekarang menjadi biaya langsung.





9

Penentuan Harga Pokok Backflush
Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam
proses dan membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai.
Perusahaan menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai
berikut :
1. Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana.
2. Setiap produk ditentukan biaya standarnya.
3. Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira
mengasilkan informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.


Meningkatnya Tuntutan Mutu
JIT Manufacturing menuntut ketepatan waktu produksi dan penyerahan
produk akhir kepada pelanggan maupun produk antara dari satu tahap produksi ke
tahap berikutnya. Untuk menjamin ketepatan waktu dituntut produksi tanpa cacat atau
rusak, dan bahan baku sesuai spesifikasi yang ditetapkan tanpa cacat, serta kondisi
mesin dan ekuipment produksi tanpa kerusakan. Untuk menghasilkan produk bermutu
dibutuhkan pengendalian menyeluruh atau total quality control (TQC). TQC
merupakan konsep pengendalian yang meletakkan tanggungjawab pengendalian di
pundak setiap karyawan yang terllibat dalam proses pembuatan produk, sejak desain,
proses produksi, sampai produk mencapai pembeli. Oleh karena itu karyawan
didorong agar berusaha menghasilkan zero defect.












10

Tabel Perbedaan Sistem JIT dan Sistem Tradisional
Perbandingan Sistem Manajemen JIT dan Tradisional
JIT TRADISIONAL
1. Sistem tarikan
2. Persediaan tidak signifikan
3. Basis pemasok sedikit
4. Kontrak jangka panjang
dengan pemasok
5. Pemanufakturan berstruktur
seluler
6. Karyawan berkeahlian
ganda
7. Jasa terdesentralisasi
8. Keterlibatan karyawan
tinggi
9. Gaya manajemen sebagai
penyedia fasilitas
10. Total quality control (TQC)
1. Sistem dorongan
2. Persediaan signifikan
3. Basis pemasok banyak
4. Kontrak jangka pendek
dengan pemasok
5. Pemanufakturan berstruktur
departemen
6. Karyawan terspesialisasi
7. Jasa tersentralisasi
8. Keterlibatan karyawan
rendah
9. Gaya manajemen sebagai
pemberi perintah
10.Acceptable quality level (AQL)



Aktivitas Just In Time Tradisional
Ukuran Lot Lot Kecil Lot Besar
Pemilihan Pemasok Satu pemasok dengan
kontrak jangka panjang
Banyak pemasok
dengan kontrak jangka
pendek
Penilaian Pemasok Mutu produk, performa
pengiriman dan harga
dengan Acceptable Quality
Level
Mutu produk, performa
pengiriman dan harga
dengan Acceptable
Quality Level
Inspeksi Produk Dieliminasi Dilakukan pembeli

11




Secara singkat, dampak JIT terhadap Akuntansi Manajemen adalah mencakup
beberapa poin berikut :
1. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan.
2. Perubahan cost pools yang digunakan untuk mengumpulkan
biaya.
3. Mengubah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya
sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi biaya
langsung.
4. Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi mengenai selisih
harga beli secara individual
biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara individual













Metode Transportasi Jadual pengiriman
diserahkan pada pembeli
Jadual pengiriman
diserahkan pada
pemasok
5. Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi.
6. Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya (cost pools) untuk
aktivitas tidak langsung
7. Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan informasi selisih

12

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Toyota menggunakan Just In Time karena sistem ini memang sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan perusahaan, dengan menggunakan Just In Time mereka dapat
memangkas biaya yang tidak perlu sehingga perusahaan dapat semakin efisien dan
efektif dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Toyota memperoleh banyak
keuntungan dari penerapan sistem Just In Time ini, seperti yang dipaparkan pada
pembahasan di atas. Dipandang dari segi Akuntansi Manajemen, pengimplementasian
sistem Just In Time dalam Toyota sudah tepat dibanding menggunakan sistem
persediaan/konvensional.

SARAN
Tidak semua perusahaan dapat menerapkan sistem Just In Time, hal ini
dikarenakan industri tertentu tidak cocok menggunakan sistem Just In Time.
Disamping itu, sistem Just In Time ini sulit untuk dilaksanakan apabila perusahaan
tersebut bukan perusahaan yang besar atau sudah maju, karena kunci suksesnya
terletak pada supplier yang tanggap dan fast response.
Jadi penulis menyarankan untuk tidak sekedar ikut-ikutan dengan sistem yang
akan digunakan untuk perusahaan, analisislah terlebih dahulu tentang bisnis dan
lingkungannya, lalu barulah mencari dan menentukan sistem yang tepat dan sesuai
dengan perusahaan.













13

SUMBER :
- Tjiptono, Fandi dan Diana Anastasia. Total Quality Management,
Yogyakarta : Andi Offset, 1994.
- Simamora, Henri, Akuntansi Manajemen, Jakarta : Salemba
Empat, 1999.
- http://www.toyota.co.id/welcome/
- http://alena19.wordpress.com/2010/04/20/just-in-time/
- http://luthfi-
fakultasekonomiunsika.blogspot.com/2011/02/penerapan-just-in-
time-jit-dengan.html
- http://www.scribd.com/doc/27241541/Just-in-Time
- http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=4&ved=0CDE
QFjAD&url=http%3A%2F%2Fdion.staff.gunadarma.ac.id%2FDo
wnloads%2Ffiles%2F14160%2FJ%2BI%2BT.ppt&rct=j&q=keunt
ungan%20just%20in%20time&ei=OwLBTe6MDYOvrAei6IDvA
w&usg=AFQjCNGZ1ea98Wd2i6SXhyDR2gVkCIiVSQ&cad=rja
- http://www.scribd.com/doc/24074260/just-in-time