Anda di halaman 1dari 20

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terong merupakan sayuran prospektif dengan gizi yang tinggi.
Terong memiliki jenis yang beragam serta didukung dengan rasanya enak.
Hal ini membuat sayuran ini sangat disukai baik tua maupun muda, yang
di desa maupun kota sehingga dikenal luas. Ini tidak terlepas dari
kebiasaan kita yang mengonsumsinya baik dalam bentuk sayuran olahan
maupun secara mentah. Dengan semakin beragamnya selera masyarakat
terhadap terong, bentuknya pun mengalami perkembangan.
Namun, budidaya sayuran terong ini belum dilakukan secara
intensif, padahal permintaan masyarakat akan komoditas ini semakin
meningkat bahkan peluang ekspor pun masih terbuka lebar. Tentu saja hal
ini tidak terlepas dari masih kurang pentingnya peran komoditas terong di
masyarakat. Padahal bila kita mengkaji potensi pasar dalam negeri saja
pengusahaan terong secara intensif memberikan peluang yang cerah. Saat
ini hanya ada beberapa pihak saja yang mengelola terong ini secara
intensif, bermitra dengan petani kemudian melakukan pengolahan
sehingga memiliki nilai tambah untuk diekspor ke luar negeri.
Persoalan rendahnya produktifitas ini tentu saja erat kaitannya
dengan penggunaan benih terong yang selama ini dipakai petani
disamping teknik budidaya yang harus dioptimalkan. Penggunaan benih
lokal maupun hibrida yang sudah diturunkan akan mempengaruhi hasil
panen karena sifat-sifat unggul yang diturunkan tersebut sudah tenggelam
karena telah ditutupi gen resesif atau gen pembawa sifat yang tidak baik.
Padahal seperti kita ketahui bahwa varietas hibrida selalu memiliki
kelebihan sifat unggul.
Kecenderungan petani menggunakan varietas lokal maupun benih
turunan ini tentu saja sangat disayangkan apalagi bila tujuan kita ingin
mengoptimalkan hasil panen. Hal ini disebabkan karena benih lokal
bukanlah hasil persilangan atau hasil kombinasi sehingga tidak ada
penggabungan sifat unggul. Sedangkan apabila petani menggunakan benih
hibrida turunan, tentu saja sangat tidak dianjurkan karena sifat-sifat jelek
yang dibawa oleh induknya akan bermunculan sehingga tanaman beserta
hasil panennya tidak seragam.Mengingat nilai ekonominya yang tinggi
apabila dipelihara dengan baik dan menggunakan bibit unggul, maka
terong sangat potensial untuk dikembangkan dengan lebih meningkatkan
produktivitasnya. Terong mempunyai prospek dan potensi yang sangat
menjanjikan apabila dikelola secara agribisnis.
Terong merupakan buah dari family Solanacea dan berasal
dari daerah sub tropis. Indeks kematangan buah yang terbaik untuk
terong adalah warna kulit dan daging buah (pulp). Indikator lainnya yang
berhubungan dengan warna kulit adalah perubahan kekerasan, kandungan
juice dan total padatan terlarut. Selama proses pemasakan terjadi
perubahan warna kulit. Pada buah dengan warna kulit merah tua,
perubahan kulit dari hijau menjadi ungu tua yang disebabkan oleh klorofil
dan antosianin hingga akhirnya berubah menjadi merah. Pada jenis ini
buah sebaiknya dipanen pada saat warna kulit ungu tua. Jika buah dipanen
pada saat masih hijau, nilai organoleptik aroma, kandungan juice,
total padatan terlarut dan warna kulit setelah masak menjadi lebih
rendah dibanding buah yang dipanen pada saat telah berwarna ungu
tua. Terong sebagaimana buah-buahan lainnya merupakan komoditi
yang sangat mudah rusak terutama karena kondisi penyimpanan yang
tidak baik seperti suhu dan komposisi udara ruang penyimpanan
rendah dapat memperlambat kecepatan reaksi metabolisme sehingga
akan memperpanjang umur simpannya (Julianti, 2011).
Terong (Solanum melongena L.) merupakan tanaman sayur-
sayuran yang termasuk famili Solanaceae. Buah terong disenangi
setiap orang baik sebagai lalapan segar maupun diolah menjadi
berbagai jenis masakan. Untuk meningkatkan produksi tanaman terong
dapat dilakukan secara ekstensifikasi dan intensifikasi, namun dalam
usaha peningkatan produktivitas dan efisiensi penggunaan tanah, cara
intensifikasi merupakan pilihan yang tepat untuk diterapkan. Salah
satu usaha tersebut adalah dengan penggunaan pupuk dan zat
pengatur tumbuh (Jumini dan Ainun, 2009).
Menurut Sunarjono et al. (2003) bahwa setiap 100 g bahan
mentah terong mengandung 26 kalori, 1 gram protein, 0,2 gram hidrat
arang, 25 IU vitamin A, 0,04 gram vitamin B dan 5 gram vitamin
C.Selain itu, terong juga mempunyai khasiat sebagai obat karena
mengandung alkaloid solanin, dan solasodin.

B. Tujuan
Mengetahui teknis produksi tanaman terong.





II. ISI
TEKNIS BUDIDAYA
1. Pemilihan Lahan
a. Syarat iklim
Budidaya tanaman terong relatif lebih mudah karena dapat tumbuh di
berbagai tempat, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan
ketinggian sampai 1.200 m dpl. Namun demikian, tanah itu harus memiliki
cukup banyak kandungan bahan organik dan berdrainase baik.
Tanaman terong lebih mudah beradaptasi terhadap pengaruh cuaca, namun
terong sangat sensitif terhadap dingin. Tingkat keasaman tanah atau pH tanah
yang dibutuhkan dalam budidaya tanaman terong ini berkisar antara 6,8
sampai 7,3 dimana unsur hara dapat tersedia dalam jumlah cukup
dan mikroorganisme pengurai dapat hidup di dalam tanah. Indikasi pH tanah
ini dapat dilakukan dengan alat pengukur tingkat keasaman tanah atau pH
meter. Dapat tumbuh didataran rendah sampai tinggi dengan suhu udara
berkisar antara 22 30C, dengan suhu optimum 18 25C. Mendapatkan
sinar matahari yang cukup untuk pembentukan warna buah. Waktu
penanaman terong yang tepat adalah pada awal musim kemarau.
b. Isolasi lahan
Budidaya tanaman terong membutuhkan jenis tanah yang subur, kaya
akan unsur hara atau nutrisi dalam tanah, bertekstur remah atau lempung
berpasir dan memiliki aerasi tanah yang baik. Aerasi tanah adalah
kemampuan tanah dalam meyerap gas seperti oksigen dari udara yang
berguna bagi pertumbuhan tanaman. Lahan yang dapat digunakan untuk
budidaya terong adalah semua jenis tanah yang mengandung hara tanah yang
cukup untuk pertumbuhan terong. Lahan pun dapat dipilih dari lahan baru
dibuka atau lahan sistem gilir dengan tanaman budidaya lainnya seperti bekas
lahan cabai, tomat, jagung, atau tanaman palawija semusim lainnya. Hal yang
perlu diperhatikan adalah sistem pengairan atau drainase yang baik dan
petakan yang teratur. Penyiapan lahan yang terpenting adalah pengemburan
tanah yang baik, penamburan pupuk kandang atau pupuk kompos sebagai
media tanam sebelum pemindahan bibit dari bedengan ke lahan.
2. Jenis Benih Yang Digunakan Untuk Penanaman Tanaman Terong
a. Persemaian
Untuk memperoleh hasil yang optimal, benih terong sebaiknya berasal
dari benih hibrida. Benih tersebut diperam dengan menggunakan kertas basah
atau handuk lembab selama 24 jam. Di saat yang sama, media semai kita
persiapkan dengan cara mencampur tanah dan pupuk kandang dengan
perbandingan 2:1. Media tanam hasil campuran tersebut selanjutnya
dimasukkan ke dalam polybag berukuran: tinggi 8 cm dan diameter 5 cm.
b. Pembibitan
Seperti penjelasan di atas, pembibitan dilakukan dengan merendam
benih ke dalam air hangat selama 10-15 menit. Benih tersebut kemudian
dibungkus dengan kertas basah atau handuk basah atau gulungan kain basah
untuk diperam selama 24 jam, sebelum disebar di atas lahan persemaian, dan
ditutup dengan menggunakan daun pisang atau penutup lainnya. Begitu benih
mulai terlihat berkecambah, buka penutupnya, dan siram persemaian setiap
pagi dan sore hari. Jika dibutuhkan, pada saat pembibitan tersebut dapat pula
dilakukan penyemprotan pestisida. Benih siap untuk dipindah tanamkan jika
sudah memiliki daun empat helai dengan umur sekitar 1 sampai 1,5 bulan.
Jenis terong yang dianjuran adalah terong kopek, terong Craigi, terong
Bogor atau terong kelapa, terong gelatik atau terong lalap, dan terong acar.
Kebutuhan benih 150-500 gram biji per hektar dengan daya kecambah 75%.
Daya tumbuhnya lebih dari 95 %, vigor murni, bersih dan sehat.
Jenis terong terdiri dari :
1. Terong Kopek : Buah bulat panjang dengan ujung tumpul, berwarna ungu
atau hijau keputihan, daging buah lunak, rasa agak manis.
2. Terong Craigi : Buah bulat panjang, ujung runcing berwarna ungu / ungu
muda.
3. Terong Bogor : Buah bulat besar, berwarna putih / hijau keputihan, rasa
renyah sedikit agak getir.
4. Terong gelatik : Buah bulat, ukuran lebih kecil dari terong bogor,
berwarna ungu.
5. Terong hibrida : Empuk, rasa renyah, produksi tinggi.
Contoh : farmers long dan exstra long (Taiwan), Early Bir, Black Dragon.
Vista, Longtom, Money Maker (Jepang).
3. Sifat Penyerbukan Tanaman
Tanaman terong merupakan salah satu tanaman yang melakukan
penyerbukan sendiri dan silang. Namun jika tanman terong dibiarkan
menyerbuk sendiri maka keragaman varietas yang dihasilkan akan sedikit.
Apabila tanaman terong satu spesies dengan tanaman terong spesies lainnya
disilangkan secara buatan, maka varietas yang dihasilkan akan lebih banyak
keragamannya.
Pada dasarnya, terong adalah tanaman menyerbuk sendiri sehingga
keragaman genetiknya tidak beragam karena bunganya memiliki morfologi
yang menyebabkan hanya bunga jantan itu yang dapat meyerbuki betina, putik
terong tertutupi oleh kelopak bunga. Namun demikian, terong dapat pula
diperbanyak dengan cara menyerbuk silang dengan bantuan manusia
(hibridisasi).Teknik menyerbuk silang pada tanaman menyerbuk sendiri
berbeda dengan tanaman menyerbuk silang.
Adapun teknik penyerbukan buatan pada tanaman terong yaitu:
1. Memilih bunga yang di jadikan betina, memilih bunga betina tersebut
haruslah bunga betina yang tepat serta baik untuk dilakukan persilangan.
2. Melakukan kastrasi yaitu dengan cara membuka kelopak bunga,
memotong bunga jantan (bunga yang berwarna putih) dengan
menggunakan pinset yang lembut.
3. Mengambil bunga jantan yang sudah mekar tetapi belum pecah (mencari
bunga jantan pada tanaman yang sama tapi varietas yang berbeda).
4. Mengambilnya dapat digunakan dengan pinset, kemudian di sentuhkan
pada kepala putik, tutup dengan kertas minyak , kemudian direkatkan
dengan isolasi.
5. Persilangan dapat dikatakan berhasil apabila pada embrio saknya
mengalami pembengkakkan.
Penyeleksian keragaman suatu varietas tanaman diperlukan dalam
menghasilkan dan membentuk tanaman hibrida, dimana semakin tinggi
keragaman yang dihasilkan maka semakin tinggi pula galur varietas hibrida
yang diharapkan sehingga dapat menghasilkan tanaman yang berkualitas.
4. Jarak Tanam Tanaman terong
Dalam praktik budidaya terong, terdapat dua macam jarak tanam yang
digunakan. Jarak tanam yang pertama adalah jarak tanam yang digunakan
dalam proses penyemaian benih. Jarak antar baris dalam persemaian ini
sekitar 10-15 cm. Penyemaian benih dilakukan dengan cara sebgai berikut :
1. Benih terong direndam dalam air dingi ataupun air hangat kuku selama 10-
15 menit sambil menyeleksi benih yang kurang baik.
2. Benih terong tersebut dibungkus dalam gulungan kain basah untuk
diperam selama 24 jam hingga nampak mulai berkecambah.
3. Benih terong disebarkan di atas bedengan persemain menurut barisan.
Jarak antar barisan sekitar 10-15 cm, kemudian benih tersebut ditutup
dengan tanah tipis.
4. Permukaan bedengan yang telah disemai benih terong segera ditutup
dengan karung goni basah ataupun daun pisang. Setelah benih
berkecambah tampak muncul ke permukaan tanah, penutup tadi segera
dibuka.
Jarak tanam kedua yang digunakan dalam budidaya tanaman terong
adalah jarak tanam antar lubang tanam. Jarak tanam yang biasa digunakan
adalah 60x70 cm atau 70x70 cm secara berbaris dan berpasangan ataupun
bentuk segi tiga.
5. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman terong tidak berbeda dari tanaman lainnya, yaitu
membutuhkan suplai air dan unsurhara yang cukup sehingga penyiraman yang
teratur, maupun pemupukan susulan sangat perlu dilakukan.
a. Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan melalui tanah dan daun. Pemupukan
melalui daun lebih efisien karena proses penyerapan haranya lebih cepat.
Selain itu, keuntungan lainnya adalah apabila pupuk daun tersebut jatuh
ke tanah, masih dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Salah satu pupuk daun
yang mengandung hara makro dan mikro adalah Gandasil D. Untuk
mendapatkan hasil yang optimal dari penggunaan pupuk daun, maka faktor
yang sangat penting diperhatikan adalah konsentrasi dan interval
pemberiannya. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemupukan melalui
daun adalah konsentrasi larutan, jenis tanaman dan waktu pemberian.
Penggunaan pupuk daun dengan konsentrasi berlebih akan menyebabkan
gejala daun-daun seperti terbakar dan layu, kering dan akhirnya gugur.
Hal ini tentunya sangat mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman.
Adapun anjuran dari pupuk Gandasil D untuk tanaman sayur-sayuran
adalah 1-3 g/liter air dengan interval waktu pemberian 8-10 hari sekali
(Setyamidjaja, 1986).
b. Pemeliharaan Khusus
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, pengendalian hama
dan penyakit serta gulma. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi
atau sore hari. Pada saat aplikasi pupuk daun Gandasil D dan ZPT
Harmoni, penyiraman dilakukan 1 jam lebih awal (Jumini dan Ainun,2009).
1) Penyiraman
Dilakukan rutin tiap hari, terutama pada fase awal pertumbuhan dan
cuaca kering, dapat direndam beberapa jam atau disiram batang tumbuhannya
dengan gembor. Jika direndam biasanya 3-4 hari tanah tetap basah, tetapi hal
ini tergantung pada struktur dan tekstur tanahnya, jika tanahnya banyak
mengandung pasir maka tanah akan cepat kering. Penyiraman dapat dilakukan
dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari selama seminggu pertama setelah
tanam. Pemberian air pada tanaman yang paling baik adalah menjelang siang
hari, di mana transpirasi berjalan dengan cepat sehingga tanaman banyak
sekali membutuhkan air. Pemberian air bisa dilakukan pada waktu pagi dan
sore, dengan syarat pada siang hari tunas masih mengandung cukup air. Pada
saat hujan turun, pemberian air tidak perlu dilakukan sampai selang waktu 2-3
hari. Apabila suhu tanaman tinggi, maka pemberian air harus sering
dilakukan.
2) Penyulaman
Penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang mati, terserang hama
penyakit, atau pertumbuhannya menjadi tidak normal seperti biasanya. Ada
dua kemungkinan tanaman tidak tumbuh dengan baik, yaitu tanaman stres
karena perubahan lingkungan, bagian akar terserang patogen sehingga menjadi
busuk dan layu. Untuk melakukan penyulaman bisa dilakukan sebelum
tanaman berumur 15 hari. Cara penyulaman adalah bibit yang layu diangkat
bersama dengan media tanamnya. Kemudian diganti degnan media yang baru
yang sebelumnya telah ditaburi kapur pertanian fungisida, atau bakterisida
sesuai dengan masalah yang dihadapi. Setelah itu bibit-bibit pengganti bisa
tanam(Mashudi, 2007).
3) Pemasangan ajir (TURUS)
Pemasangan ajir sebaiknya dilakukan seawal mungkin agar tidak
mengganggu sistem perakaran terong.. Ajir atau turus dapat terbuat dari bilah
bambu/ kayu dll setinggi 80-100 cm dan lebar 2-4 cm. Cara pemakaiannya
yaitu Caranya yaitu dengan menancapkannya di sebelah batang tanaman
terong, batang tanaman terong dikaitkan dengan turus tersebut. Ajir berfungsi
untuk menopang tanaman terong agar tidak rebah sekaligus memperkokoh
batang ketika pembuahan.
4) Penyiangan
Untuk menghilangkan gulma atau rumput liar yang tumbuh di sekitar
tanaman dapat dilakukan penyiangan dengan cara dicabut. Penyiangan
dilakukan minimal dua kali, yakni ketika tanaman berumur 15 hari serta 60-75
hari setelah tanam. Kegiatan ini dilakukan bersama dengan pemupukan
susulan, yaitu pada waktu tanaman berusia 15 hari setelah tanam dan 60-75
hari setelah tanam (Mashudi, 2007).
5) Pemangkasan ( Perempelan )
Pemangkasan pada tanaman dari jenis hibrida, perlu dilakukan
pemangkasan tunas-tunas liar, yang tumbuh mulai dari ketiak daun pertama
hingga di bawah bunga pertama. Demikian pula dengan bunga pertama,
sebaiknya dirempel (dibuang) untuk merangsang agar tunas-tunas baru dan
bunga yang lebih produktif segera tumbuh. Perempelan dilakukan dengan cara
mematahkan tunas liar dengan tangan atau menggunakan alat bantu berupa
gunting atau pisau yang tajam (Rukmana, 1994).
6) Pemupukan susulan
Waktu pemupukan disamakan dengan kegiatan penyiangan dan
penggemburan tanah. Pupuk susulan diberikan pada tanaman umur 21 hst
antara lain ZA dosis 2.5 3 gram/tanaman, SP-36 2.5 3 gram/tanaman, KCl
sebanyak 1-1.5 gram/tanaman. Pupuk diberikan dipinggir tanaman dengan
jarak 10 cm dari pangkal batang. Pupuk susulan kedua dilakukan pada umur
50 HST dengan pupuk NPK Grand S-15 dengan dosis 8-10 gram per tanaman.
Pemupukan ke IV yang terakhir yaitu NPK Grand-S 15 pada saat panen
yang kedua dilakukan dengan dosis sebanyak 10 gram.
7) Pemulsaan
Penggunaan mulsa plastik merupakan salah satu cara budidaya
yang telah terbukti dapat meningkatkan hasil tanaman. Warna mulsa
plastik yang umumnya digunakan di Amerika Utara dan Eropa secara
komersial adalah warna hitam, transparan (bening), hijau dan warna perak.
Plastik berwarna hitam dapatmenghambat pertumbuhan gulma dan dapat
menyerap panas matahari lebih banyak. Mulsa plastik bening dapat
menciptakan efek rumah kaca, sementara mulsa plastik perak dapat
memantulkan kembali sebagian panas yang diserap sehingga mengurangi
serangan kutu daun (aphid) pada tanaman (Mawardi, 2000).
Pemberian mulsa bertujuan untuk menekan gulma, menjaga kestabilan
suhu udara, kelembabantanah, mencegah percikan air tanah mengenai buah,
serta menekan resiko serangan penyakitbusuk buah (Mashudi, 2007).
Penggunaan mulsa plastik dan sistem tanam saling berinteraksi pada
diameter buah, bobot total buah per tanaman, bobot total buah per hektar
tetapi tidak saling berinteraksi pada jumlah buah total per tanaman, panjang
buah rata-rata, bobot buah rata-rata, dan bobot buah total per petak
produksi. Tanaman terong yang ditanam secara monokultur tanpa mulsa
menghasilkan buah yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan
lainnya, tetapi penggunaan mulsa plastik hitam-perak pada tanaman terong
monokultur menghasilkan bobot buah per tanaman dan bobot buah per
hektar yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Penggunaan mulsa plastik warna hitam dapat memberikan hasil terong
yang lebih tinggi dibandingkan dengan warna mulsa plastik lainnya
ketika tanaman terong ditanam secara tumpangsari dengan kangkung darat.
Disamping penyiraman dan pemupukan, pencegahan hama dan
penyakit dapat dilakukan dengan menyemprotkan pestisida sesuai dengan ham
atau penyakit yang menyerang. Sedangkan konsentrasinya disesuaikan
dengan anjuran dan interval menyemprotan sisesuaikan dengan intensitas
serangan dan kondisi lingkungan.
6. Roguing
Roguing teratur sangat penting dalam produksi benih. Tanaman yang
berbeda dari normal (lemah, sakit, off-type) dicabut dan dibuang sedini
mungkin sebelum pembungaan, pada masa pembungaan awal, dan pada saat
buah pertama matang. terutama dalam tanaman menyerbuk silang, untuk
menghindari kontaminasi. Tanaman yang jelas lebih tinggi, berbeda warna,
ukuran, bentuk dan orientasi daun, atau karakteristik lain, dan tanaman
terinfeksi penyakit harus dibuang. Roguing pada stadia masak juga penting
untuk membuang tanaman yang berbeda yang tidak dapat dibedakan pada
stadia lebih awal. Pengendalian gulma penting untuk menghindari penurunan
hasil karena kompetisi, dan gulma merupakan sumber kontaminasi dengan
cara tercampur saat panen. Gulma juga merupakan inang dari penyakit
tertentu. Roguing atau seleksi tanaman terong dilakukan dengan memilih
tanaman yang sehat dan tumbuh dengan baik. Buah yang akan dipanen
benihnya diberi tanda dan dibiarkan tergantung di tanaman sampai benar
benar matang. Pilih satu ayau dua buah dari setiap tanaman dan dipilih
beberapa tanaman dari varietas yang sama untuk memproduksi benih
Sukprakarn et al, 2012.
Roguing atau pembuangan tipe simpang (off type) secara manual,
minimal 3 kali:
1. Sebelum berbunga: berbunga: warna tanaman, cara tumbuh dan karakter
daun seperti bentuk, ukuran, dan postur.
2. saat awal pembungaan dan perkembangan buah dengan mengamati
pertumbuhan secara umum, vigor, tekstur
3. Saat buah besar off-type dapat diamati dari karakter buah seperti bentuk
ukuran, warna dll.
7. Kriteria Panen Benih Masak Fisiologis
8. Penanganan Pasca Panen
a. Pengumpulan dan Pengeringan Biji
Untuk benih basah, Petik buah setelah benar-benar matang (melewati
keadaan enak dimakan). Keluarkan biji dari buah dan tebarkan di atas
lembaran pengering. Siram dengan air untuk membersihkannya. Rendam
dalam air selama 24 jam hingga terjadi fermentasi. Untuk benih kering Pilih
biji yang besar-besar (seperti pada kacang-kacangan) dengan tangan. Untuk
biji-biji kecil seperti pada bawang, masukan tempat biji kedalam tas kecil lalu
hancurkan, sehingga biji terpisah dari tempatnya. Kemudian gantung tas
tersebut di bawah atap hingga kering. Jangan lupa hindarkan dari pemangsa.
Pengujian kekeringan untuk jenis biji terong dapat dilakukan dengan 2
macam cara. Cara pertama yaitu tanpa mesin, pertama-tama benih dibersihkan
dahulu dari lendirnya setelah itu dijemur di sinar matahari selama kurang lebih
3 hari. Saat pengeringan, benih diratakan sebanyak 2 3 kali per hari. Setelah
itu benih dikeringkan secara seragam. Benih dikatakan sudah kering apabila
kelembaban sudah mencapai 8%. Cara kedua yaitu pengeringan dengan
mesin. Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin Dehydrator
Elektrik yang membutuhkan waktu antara 10 12 jam. Waktu lamanya
pengeringan tergantung kelembaban tiap benih dan intensitas penggunaan
mesin dehydrator.
b. Pemanenan
Waktu pemanenan yang paling tepat pagi atau sore hari.Waktu
pemanenan berpengaruh terhadap kualitas buah yang dipanen.Dianjurkan
panen tidak dilakukan pada siang hari karena dila dilakukan pada siang hari
akan memutuskan proses fotosintesis yang sedang berlangsung,sehingga
proses pembentukan zat gizinya akan terganggu yang dapat mengakibatkan
kadar gizi dari buah yang dipanen pada siang hari lebih rendah daripada buah
yang dipanen pada siang hari.Selain itu,sinar terik dari matahari dapat
mengakibatkan kerusakan pada buah berupa mengeriputnya kulit buah yang
dapat menurunkan kualitas / mutu dari buah yang dipanen.Juga tidak
dianjurkan melakukan panen pada malam hari karena dapat mempersulit
pemanen itu sendiri saat proses pemanenan. Pemanenan hendaknya dilakukan
pada siang hari saat cuaca cerah/tidak hujan.Sebab air hujan yang membasahi
buah yang dipanen dapat menyebabkan buah cepat rusak setelah
dipanen,sehingga dapat mempengaruhi kualitas buah yang
dipanen.Pemanenan dilakukan pagi hari karena tanaman belum melakukan
fotosintesis secara optimal/besar besaran atau sore hari karena tanaman sudah
memproduksi zat gizi pada siang harinya.
1) Saat panen:
- Buah pertama dapat dipetik setelah umur 3-4 bulan tergantung dari jenis
varietas
- Ciri-ciri buah siap panen adalah ukurannya telah maksimum dan masih
muda.
- Waktu yang paling tepat pagi atau sore hari.
- Cara panen buah dipetik bersama tangkainya dengan tangan atau alat yang
tajam.
- Pemetikan buah berikutnya dilakukan rutin tiap 3-7 hari sekali dengan cara
memilih buah yang sudah siap dipetik.
- Buah terong tidak dapat disimpan lama sehingga harus dipasarkan segera
setelah tanam.
- Sortasi dilakukan berdasarkan ukuran dan warna.
Dalam pemanenan, diperhitungkan pula lama pengangkutan sampai ke
tangan konsumen. Sebaiknya terong yang dipetik adalah buah muda yang
bijinya belum keras dan daging buahnya belum liat. Apabila pengangkutan
memerlukan waktu lama, maka sebaiknya terong dipetik sebelum masak, tapi
sudah tampak bernas (berisi). Waktu panen sebaiknya dilakukan saat pagi hari
atau sore hari. Hindari waktu panen saat terik matahari karena dapat
mengganggu tanaman dan membuat kulit terong menjadi keriput (kering)
sehingga menurunkan kualitas
2) Pasca Panen:
- Buah yang telah dipanen disimpan di tempat yang dingin dan lembab.
- Pemetikan buah harus pada urnur yang tepat supaya tidak terjadi
pengeriputan buah.
- Untuk menghindari luka pada buah maka untuk wadah sebagai
pengangkutan adalahkeranjang yang telah dilapisi kertas atau plastik.
c. Pengangkutan buah terong
Pengangkutan buah terong dari lahan menuju ke tempat penanganan
pasca panen dapat dilakukan dengan cara memasukkah buah terong yang telah
dipanen ke dalan bak atau karung yang ditata rapi di dalamnya dan diikat pada
bagian ujung karung (bila menggunakan karung) lalu di angkut ke tempat
penanganan pasca panen dengan gerobag atau mobil yang sebelumnya karung
karung atau bak bak tersebut ditata rapi pada mobil atau gerobag.
d. Penanganan Pasca Panen Buah Terong
Penanganan pasca panen baik terong hijau maupun terong adalah:
- Memotong setengah dari tangkai buah agar mudah dalam
pembungkusan atau pengemasan.Bila perlu kadan dipotong sampai
habis.
- Membersihkan bagian luar buah dari kotoran atau tanah yang
menempel pada kulit buah dengan menggunakan kain atau lap yang
telah dibasahi dengan air.
- Mengemas buah dalam plastik bila akan dijual langsung kepada
konsumen atau ditata rapi di dalam karung bila akan dijual ke pasar
atau padagang pengepul.
e. Harga Terong di Pasaran
Harga terong di pasaran berkisar cukup tinggi, di tahun 2011, harga
terong ungu mencapai Rp. 2000/kg sementara harga terong hijau berkisar
antara Rp. 1500/kg sampai Rp. 3000/kg dengan harga stabil kurang lebih Rp.
2200/kg. Berdasarkan data harga terbaru, Harga terong ungu pada Januari
2013 kurang lebih Rp. 2300/kg, pada Februari 2014 meningkat menjadi Rp.
3500/kg dan terakhir pada Juni 2014 harga terong ungu mencapai angka Rp.
7000/kg.









DAFTAR PUSTAKA
Apandi, M. 1984. Teknologi Buah dan Sayur. Penerbit Alumni: Bandung.
Budi Samadi, 2001. Budi Daya Terong Hibrida. Kanisius: Yogyakarta.
Julianti, lisa. 2011. Pengaruh Tingkat Kematangan dan Suhu Penyimpanan
Terhadap Mutu Buah Terong Belanda (Cyphomandra betacea). J. Hort.
Indonesia 2(1) :14-20.
Jumini dan Ainun Marliah. 2009. PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN
TERONG AKIBAT PEMBERIAN PUPUK DAUN GANDASIL D DAN ZAT
PENGATUR TUMBUH HARMONIK. J. Floratek 4: 73 80.
Rahmat Rukmana, 1994. Bertanam Terong. Kanisius: Yogyakarta.
Sunarjono, H. A., A. Soetasads dan S. Muryanti. 2003. Budidaya Terong Lokal
dan Terong Jepang. Penebar Swadaya: Jakarta.
Sukprakam, Sutevee, et al.2012. Saving your own vegetable seeds A guide for
farmers. AVRDC Press: Taiwan.

Anda mungkin juga menyukai