Anda di halaman 1dari 40

ANALISA MINYAK BUMI

MUHRINSYAH FATIMURA
TUJUAN
Analisa Minyak Bumi bertujuan untuk
melakukan pengawasan dan pengendalian
pada proses dan operasi pengilangan untuk
meningkatkan kualitas produk yang
dihasilkan.
Crude oil dievaluasi guna menentukan potensi minyak bumi
sebagai bahan baku kilang minyak untuk menghasilkan fraksi
yang dikehendaki.

Potensi ditunjukkan oleh jumlah fraksi terbanyak yang
dinyatakan sebagai % volume perolehan (% vol. recovery)
yang dihasilkan dari suatu distilasi Hempel atau distilasi
TBP (True Boilling Point).

Hasil evaluasi crude oil dilaporkan dalam sebuah resume yang
berisi data distilasi, cutting product, kandungan impurities, dan
lain sebagainya yang disebut crude assay. Crude Assay itulah
yang nantinya dijadikan acuan dalam merancang unit proses
pengolahan yang akan dibuat atau untuk Refinery Unit yang
sudah ada, crude assay digunakan sebagai dasar penentuan
kondisi operasi maupun untuk menentukan komposisi blending
umpan.
Cakupan evaluasi crude meliputi:

Pengujian/analisis sifat umum minyak bumi,
yaitu sesuai dengan tipe analisis (A, B, C, D)
Distilasi TBP (True Boiling Point), yaitu
pemotongan suhu untuk memperoleh fraksi
Kurva distilasi, yaitu kurva yang digunakan
untuk mengetahui potensi minyak bumi dalam
menghasilkan fraksi yang dikehendaki
Prediksi sifat fraksi (seperti SG, flash point,
viskositas, pour point, kadar sulfur, dll)
Terdapat empat tipe evaluasi atau analisis crude
oil.

1. Tipe A (Analisis Cepat)
Analisis Tipe A digunakan untuk memberi gambaran
karakteristik minyak bumi yang baru diketemukan.
Pengujian meliputi.:
Pengujian sifat umum crude oil.
Klasifikasi crude oil.

2.Tipe B (Analisis Sederhana)
Analisis Tipe B digunakan untuk memberikan informasi
tentang potensi minyak bumi sehubungan dengan minyak
bumi yang baru diketemukan. Analisis meliputi:
Pengujian sifat umum minyak bumi
Klasifikasi minyak bumi
Distilasi TBP narrow cut (hanya sampai fraksi kerosene)
3. Tipe C (Analisis Sedang)

Analisis Tipe C digunakan untuk memberikan informasi
tentang potensi minyak bumi sehubungan dengan
minyak bumi yang sedang diproduksi maupun yang
dipasarkan . Analisis meliputi:
Pengujian sifat umum minyak bumi
Klasifikasi minyak bumi Distilasi TBP narrow cut (hanya
sampai fraksi kerosene) dan wide cut (sampai fraksi
minyak solar)
Analisis fraksi fraksi dari TBP

4. Tipe D (Analisis Lengkap)
Analisis Tipe D digunakan untuk memberikan
informasi tentang potensi minyak bumi sehubungan
dengan minyak bumi akan diolah. Analisis ini
meliputi:
Pengujian sifat umum minyak bumi.
Klasifikasi minyak bumi .
Distilasi TBP narrow cut (hanya sampai fraksi
Kerosene) dan wide cut (sampai fraksi minyak
solar).
Analisis fraksi fraksi dari TBP.
Analisis logam (V, Pb, Ni, Cu, Na, dan lain lain) .
1.TEST API GRAVITI
API (American Petroleum Institute)
API gravity dan berat jenis (specific gravity):
Menyatakan densitas zat. API diukur dengan hidrometer yg dinyatakan
dengan angka 0-100, berat jenis ditentukan dengan piknometer.

Tujuan pemeriksaan API Gravity dan berat jenis adalah untuk
indikasi mutu (kualitas) minyak.
Semakin tinggi API atau makin rendah berat jenis, maka minyak
tersebut makin berharga karena banyak mengandung bensin.
Semakin rendah API, maka mutu minyak makin rendah karena banyak
mengandung lilin. Makin tinggi berat jenis minyak berarti minyak
tersebut mempunyai kandungan panas (heating value) yg rendah.

o
o
o
o
o
2. Tekanan Uap (Reid Vapor Pressure)

Pemeriksaan RVP untuk produk-produk yang mudah
menguap dan tidak pekat seperti motor gasoline dan
bensin alam. Tekanan uap memberikan indikasi tekanan
pada minyak yang akan mengembang dalam tempat
tertutup, dan tekanan ini sangat bermanfaat untuk
minyak yang mempunyai suhu rendah dan tidak dapat
didistilasi pada tekanan atmosfir.
Manfaat pemeriksaan RVP:
untuk keselamatan dalam transportasi minyak,
untuk menghindari penyumbatan uap pada sistem
umpan gasolin,
untuk perencanaan tangki penyimpanan minyak,
untuk motor yg menggunakan penyalaan dengan busi.
3. Distilasi ASTM
ASTM merupakan singkatan dari American Society for
Testing and Material
Distilasi laboratorium dilakukan pd volume 100 ml
minyak dengan kecepatan tetesan yg keluar 5 ml per
menit. Suhu uap mula-mula menetes (setelah
mengembun) IBP (Initial Boiling Point).
Suhu uap dicatat pada setiap 10 ml tetesan yg
terkumpul. Maksimum suhu yang dicapai pada hasil
distilasi 95% dicatat sebagai End Point atau FBP (Final
Boiling Point).
4. Titik Nyala (Flash Point) dan Titik Api (Fire
Point)
Titik nyala adalah suhu dimana uap yg berada diatas minyak
dapat menyala sementara atau akan meledak seketika
kalau ada api. Titik api adalah suhu dimana uap yg ada
diatas minyak akan cepat terbakar seluruhnya secara terus
menerus.

Titik nyala dan titik api menunjukkan indikasi jarak titik didih
(boiling range), dimana dibawah suhu tersebut minyak akan
aman untuk dibawa tanpa adanya bahaya terhadap api.

Alat yang dipakai untuk pemerikasaan titik nyala & titik api:
Open cup & Pensky-Marten untuk minyak-minyak berat,
Tag tester untuk minyak-minyak ringan. Minyak berat yg
akan diperiksa dipanaskan pada kecepatan 10 F per menit,
untuk minyak ringan pada 1,8 F per menit. Setiap
pemeriksaan, nyala api dimasukkan kedalam uap selama
interval waktu 30 detik, lalu suhu dicatat.
o
o
5. Warna (color)

Warna minyak menunjukkan indikasi kesempurnaan pada proses
penyulingannya. Minyak-minyak yang berbeda jarak didihnya dan
berbeda asal minyak mentahnya akan mempunyai warna yang
berbeda pula. Produk-produk penyulingan yang berwarna
menunjukkan indikasi:
(a) terjadinya peruraian termis;
(b) masuknya material yang berwarna gelap seperti tir;
(c) material-material tersebut menyebabkan warna gelap.
Perubahan warna oleh peruraian (dekomposisi) disebabkan karena
suhu terlalu tinggi. Perubahan warna karena masuknya material
disebabkan krn melubernya material itu ke dalam peralatan yang
kapasitasnya telah maksimum.
Peralatan untuk pemeriksaan warna
gasolin dan minyak-minyak bakar : Saybolt Chromometer.
Untuk minyak pelumas, minyak-minyak silinder dan
petrolatum : Union Colorimeter.

Secara visual warna minyak dapat dibedakan:
kuning untuk motor gasolin;
merah untuk premium,
hijau untuk avgas,
biru untuk bensin
jernih untuk premix.
6. Viskositas

Merupakan ukuran ketahanan terhadap aliran
dan merupakan indikasi adanya minyak pada
permukaan bidang pelumasan.

Pengukuran viskositas bertujuan untuk
mengetahui kekentalan minyak pada suhu
tertentu sehingga minyak dapat dialirkan pada
suhu tersebut, terutama pada sistem pemompaan
minyak diesel & minyak pelumas..

Umumnya semakin ringan minyak bumi, maka
makin kecil viskositanya, atau sebaliknya.
Peralatan untuk pengukuran viskositas: Saybolt
Universal Viscosity dan Saybolt Furol Viscosity.
Viskositas yang dicatat adalah lama waktu pengaliran
minyak dalam wadah dengan volume tertentu melalui
lubang (orifice) tertentu pada suhu tertentu.

Angka viskositas dipakai sebagai dasar
untuk menentukan angka indeks viskositas, yaitu
menggambarkan perubahan viskositas akibat
perubahan suhu. Jika indek viskositas tinggi, maka
viskositasnya relatif tidak berubah terhadap suhu, jika
rendah berarti viskositas sangat dipengaruhi suhu.
8.Titik Kabut (Cloud Point) dan Titik Tuang (Pour
point)
Titik kabut & titik tuang dimaksudkan untuk
memperkirakan jumlah lilin yg terdapat didalam
minyak. Semua minyak akan membeku jika
didinginkan pada suhu yangg cukup rendah, maka
pemeriksaaan ini tidak menunjukkan adanya sejumlah
lilin atau padatan lain dalam minyak. Ini berarti pada
pemeriksaan tersebut terlihat bahwa lilin akan meleleh
diatas titik tuangnya sehingga dapat dipisahkan dari
minyaknya.

Titik kabut sangat penting untuk minyak diesel HSD
(High Speed Diesel) untuk indikasi adanya
penyumbatan lilin pada saringan minyak halus (finer
filter) sehingga mesin akan sulit beroperasi.
Makin rendah titik kabut, maka makin banyak kandungan
lilinnya.
Titik kabut adalah suhu dimana terjadinya asap yangg tenang
atau kabut pd dasar tabung reaksi ( jar test) ketika minyak yg
diperiksa (sesudah dipanaskan) didinginkan tanpa
mengaduknya. Pemeriksaan titik kabut dilakukan dengan
metode ASTM-D2500 dan IP-219, dimana minyak didinginkan
setidaknya pada suhu 25oF diatas titik kabutnya.

Titik tuang adalah suhu dimana minyak tidak dapat bergoyang
karena membeku selama 5 detik ketika dimiringkan atau
dituangkan setelah melalui pendinginan selama pada setiap
interval 5oF. Pemeriksaan titik tuang dilakukan dengan metode
yangg sama dengan metode titik kabut (ASTM-D97 dan IP-15).
Minyak mula-mula dipanaskan sampai 115oF, dimana semua
lilin sudah larut, lalu didinginkan mjd suhu mula-mula minyak
sebelum dipanaskan (sekitar 90oF). Titik tuang biasanya dicatat
lebih rendah (8-10oF)dibawah titik kabutnya.
9. Karakteristik Ketukan atau Angka Oktan

Angka oktan (Octan number) adalah persen volume iso-oktan (2,2,4 tri
metil pentana) yg hrs dicampurkan dg n-heptan dlm rangka untuk
memberikan intensitas ketukan yg sama thd minyak selama
pengujiannya.Pd mesin yg memakai busi, karakteristik anti ketukan
digunakan untuk menentukan gejala fisik, kimiawi, perancangan mesin
dan kondisi operasi. Bila angka oktan gasoline terlalu rendah, maka
akan terjadi ketukan yg berakibat menurunkan performance mesin tsb
shg akan menyebabkan kehilangan tenaga dan kerusakan pd mesin.
Angka Oktan ditentukan dg metode yg mengukur tingkat anti ketuk
motor gasolin dlm mesin dg silinder tunggal.
Angka oktan terdiri dr:
1) angka oktan > 100 rich mixture performance dan
2) angka oktan < 100 weak mixture performance .
10. Uji Belerang (sulfur)

Pemeriksaan terhadap kandungan sulfur dp dilakukan dg metode:
1) ASTM-D90 untuk gasolin dan minyak bakar.
Caranya: 10 gr minyak dibakar pada sebuah lampu kecil dan hasil
pembakarannya ditarik melalui larutan penyerap natrium karbonat. Kandungan
sulfur ditentukan dengan cara titrasi larutan natrium karbonat tak terpakai
2) ASTM-D129 untuk pemeriksaan sulfur di dalam minyak bakar residu dan
minyak mentah
3) ASTM-D130 untuk pemeriksaan sulfur bebas dan senyawa2 sulfur yang
bersifat korosif Pemeriksaan untuk Bahan Bitumonas dan Setengah Padat
Pemeriksaan untuk bahan-bahan yang mengandung aspal adalah kelenturan
(ductility), penetrasi, titik cincin dan bola ringan, berat jenis.
Pemeriksaan kelenturan dilakukan dg metode ASTM-D113. Kelenturan aspal
adalah pengukuran kapasitas pemanjangan atau peregangan yg menunjukkan
kemampuan zat ini untuk mengalir, sehingga akan memperbaiki keretakan pada
permukaannya.
Pemeriksaan penetrasi dilakukan dengan metode ASTM-D5. penetrasi
memungkinkan jarum atau kerucut menembus zat tanpa gesekan mekanik.
11. Calorific Value (Nilai kalor atau nilai energi atau
nilai kalor)
Nilai kalor adalah jumlah panas yang dilepaskan
selama pembakaran jumlah tertentu itu. Nilai energi
merupakan karakteristik untuk setiap substansi. Hal
ini diukur dalam satuan energi per unit dari substansi,
biasanya massa , seperti: kJ / kg, kJ / mol , kcal / kg,
Btu / lb Heating value biasanya ditentukan oleh
penggunaan kalorimeter bom .
bahan bakar adalah bahan yang dikonsumsikan untuk menghasilkan
sejumlah energi panas, di dalam proses pembakaran didapat suhu
yang tinggi dari hasil proses tersebut, dan karena perbedaan suhu
antara titik dimana proses pembakaran terjadi dan lingkungannya
maka terjadi perpindahan energi yang berupa panas.
Jumlah enegi maksimum yang dibebaskan oleh suatu bahan bakar
melalui reaksi pembakaran sempurna persatuan masa
atau volume bahan bakar didefinisikan sebagai nilai kalor bahan bakar .
Ditinjau dari H
2
O yang merupakan salah satu produk proses pembakaran
nilai kalor bahan bakar dapat dibedakan atas :
a. Nilai kalor atas (NKA) yaitu bila nilai produk pembakaran dalam fase cair (jenuh).
b. Nilai kalor bawah (NKB) jika H
2
O produk pembakaran dalam fase gas
Selisih antara NKA dan NKB merupakan panas laten penguapan total masa
air yang dihasilkan oleh proses pembakaran satu satuan massa atau
volume suatu bahan bakar
Nilai kalor dari bahan bakar diesel dapat diukur dengan bom kalori meter .
untuk memproleh perkiraan nilai panasnya bisa dipakai rumus empiris dibawah ini
HHV = 18650 + 40 ( API - 10 ) btu/lb
12. Titik anilin (Aniline Point )


Titik anilin dari minyak didefinisikan sebagai suhu minimum di
mana sama volume anilin (C 6 H 5 NH 2) dan minyak yang larut ,
yaitu membentuk satu fasa pada saat pencampuran.
Nilai ini memberikan perkiraan atas isi dari senyawa aromatik dalam
minyak, karena miscibility anilin, yang juga merupakan senyawa
aromatik menunjukkan adanya sejenis (yaitu aromatik) senyawa
dalam minyak. Semakin rendah titik anilin, semakin besar
kandungan senyawa aromatik dalam minyak sebagai jelas suhu
yang lebih rendah diperlukan untuk menjamin miscibility.
Titik anilin berfungsi sebagai minyak proxyhemical wajar sebagian
besar terdiri dari hidrokarbon jenuh (yaitu alkana, parafin) atau
senyawa tak jenuh (kebanyakan aromatik) saja.
Penentuan titik anilin
Volume yang sama dari anilin dan minyak diaduk
terus menerus dalam tabung reaksi dan dipanaskan
sampai dua bergabung menjadi larutan homogen.
Pemanasan dihentikan dan tabung dibiarkan dingin.
Suhu di mana dua fase memisahkan dicatat sebagai
titik anilin.
ANGKA OKTAN (OCTAN NUMBER) adalah Angka indicator pada
bahan bakar hidrokarbon jenis bensin yang menunjukkan
kemudahan bahan bakar untuk menyala sempurna ketika
bersentuhan dengan nyala api pembakaran (ignition) selama prose
pembakaran. Angka Oktan ini merupakan perbandingan kadar %
Iso Octane dalam campuran bahan bakar. Semakin tinggi %
Octane dalam campuran bahan bakar maka semakin tinggi Angka
Oktan-nya.
13. ANGKA OKTAN (OCTAN NUMBER)
Oktan adalah angka yang menunjukkan tingkat ketukan
(knocking) yang ditimbulkan bensin terhadap mesin saat terjadi
pembakaran.
Ketukan terjadi ketika bahan bakar terbakar prematur di mesin,
menyebabkan suara khas yang menyerupai ketukan.
Ketukan pada mesin akan menyebabkan kerusakan dan
membuat mesin tidak beroperasi secara efisien. Itu sebab, agar
bekerja efisien mesin membutuhkan oktan tertentu yang
direkomendasikan.
Angka oktan diperoleh dengan menguji bahan bakar
dalam keadaan terkontrol.
Angka oktan memiliki dua versi yaitu research octane
number (RON) dan motor octane number (MON).
Angka-angka ini diperoleh setelah bensin melalui
pengujian dalam situasi yang berbeda, dengan MON
lebih menekankan pada performa mesin untuk
melihat bagaimana bahan bakar berperilaku pada
berbagai situasi.
Angka oktan yang terdapat di pompa bensin
seringkali mencerminkan nilai rata-rata antara RON
dan MON.
Bilangan oktan (octane number) merupakan ukuran dari kemampuan
bahan bakar untuk mengatasi ketukan sewaktu terbakar dalam
mesin. Nilai bilangan oktan 0 ditetapkan untuk n-heptana yang
mudah terbakar, dan nilai 100 untuk isooktana yang tidak mudah
terbakar. Suatu campuran 30% n-heptana dan 70% iso-oktana akan
mempunyai bilangan oktan:

= (30/100 x 0) + (70/100 x 100)
= 70

Bilangan oktan suatu bensin dapat ditentukan melalui uji
pembakaran sampel bensin untuk memperoleh karakteristik
pembakarannya. Karakteristik tersebut kemudian dibandingkan
dengan karakteristik pembakaran dari berbagai campuran n-heptana
dan isooktana. Jika ada karakteristik yang sesuai, maka kadar
isooktana dalam campuran n-heptana dan isooktana tersebut
digunakan untuk menyatakan nilai bilangan oktan dari bensin yang
diuji.
Fraksi bensin dari menara distilasi umumnya mempunyai bilangan
oktan ~70. Untuk menaikkan nilai bilangan oktan tersebut, ada
beberapa hal yang dapat dilakukan:
Mengubah hidrokarbon rantai lurus dalam fraksi bensin menjadi
hidrokarbon rantai bercabang melalui proses reforming Contohnya
mengubah n-oktana menjadi isooktana.
Menambahkan hidrokarbon alisiklik/aromatik ke dalam
campuran akhir fraksi bensin.

Menambahkan aditif anti ketukan ke dalam bensin untuk
memperlambat pembakaran bensin. Dulu digunakan
senyawa timbal (Pb). Oleh karena Pb bersifat racun, maka
penggunaannya sudah dilarang dan diganti dengan
senyawa organik, seperti etanol dan MTBE (Methyl Tertiary
Butyl Ether).
14. Angka Setana pada Solar (Cetane Number)
Angka Setana atau CN (Cetane Number) adalah ukuran yang
menunjukkan kualitas dari bahan bakar untuk diesel, Dalam
mesin diesel angka bahan bakar setana yang lebih tinggi akan
memiliki periode pengapian lebih pendek daripada bahan bakar
setana bernilai rendah.
Semakin tinggi angka setana akan lebih mudah bagi bahan
bakar untuk terbakar dalam kompresi.
Dengan bahan bakar yang mudah terbakar maka akan
mengurangi ketukan dari mesin diesel, sehingga mesin akan
lebih halus.
Bahan bakar yang lebih tinggi setana biasanya menyebabkan
mesin untuk berjalan lebih lancar dan tenang . hal ini berbeda
bila nilai setananya lebih rendah maka akan terjadi delay
sehingga menambah ketukan pada proses pembakaran.
Beda dengan Nilai Octan pada Mesin Bensin)
Karena Prinsipnya sangat berbeda jauh, kalau nilai
oktan pada bensin itu bahan bakar makain sulit
terbakar bila di kompresi).
Nilai Setana
Nilai Setana dinyatakan dengan angka, dan
biasanya mesin diesel bermain diangka CN 40-55.
Bahan bakar dengan setana yang lebih tinggi
mengalami keterlambatan pengapian lebih pendek,
akan memberikan lebih banyak waktu untuk proses
pembakaran bahan bakar akan selesai. Oleh
karena itu, mesin diesel high performance akan
beroperasi lebih efektif dengan bahan bakar
setana yang lebih tinggi .
Bio Diesel
Biodiesel yang berasal dari sumber minyak nabati biasanya
memiliki nilai setana 46-52, Sedang bahan dari lemak
hewan berbasis biodiesel memiliki setana 56-60. Dimetil
eter adalah bahan bakar diesel yang potensial karena
memiliki nilai cetane tinggi (55-60) dan dapat diproduksi
sebagai biofuel.
Solar Di Indonesia
Pada Solar yang dijual dan kita pakai biasanya memiliki
Biosolar memiliki angka setana sekitar 48 min sampai 51
max dengan sulphur 500 ppm
Solar biasa memiliki angka setana sekitar 48 masimal dan
sulphur diatas 500ppm Pertadex memiliki setana min 54 (
biasanya 55-56 ) dengan sulphur 300ppm Shell Diesel
memiliki setana sekitar 48-52 dengan sulphur hanya 50
ppm
Di Eropa , nomor setana ditetapkan minimal 38 tahun 1994
dan 40 pada tahun 2000. Pada saat ini standar untuk diesel
dijual di Uni Eropa, Islandia, Norwegia dan Swiss diatur
dalam EN 590, dengan setana minimal 51. Solar yang bagus
(Premium) biasanya memiliki setane setinggi 60.

Di Amerika Utara, sebagian besar negara mengadopsi ASTM
D975 sebagai standar bahan bakar diesel mereka dan
setanaminimum ditetapkan sebesar 42-45. Beberapa Aditif
sering ditambahkan ke dalam bahan bakar untuk
memberikan pelumasan, deterjen untuk membersihkan
injector bahan bakar dan meminimalkan deposit karbon,
dispersan air, dan aditif lainnya tergantung pada kebutuhan
geografis dan musim.

Aditif pada Solar
Aditif yang biasanya digunakan dalam solar adalah Alkyl
nitrat (2-etilheksil nitrat) dan di ters butil peroksida keduannya
digunakan sebagai aditif untuk menaikkan cetane number.
15. Titik Asap (smoke point)

Titik asap (smoke point) didefinisikan sebagai tinggi nyala maksimum
dalam milimeter dimana kerosin terbakar tanpa timbul asap apabila
ditentukan dalam alat uji baku pada kondisi tertentu.

Disamping dikenakan pada kerosin, uji titik asap juga dikenakan
kepada bahan bakar jet (ASTM D 1332-90) Titik asap ditentukan
dengan cara membakar sampel atau bahan bakar jet dalam lampu titik
asap.

Nyala dibesarakan dengan cara menaikkan sumbu sampai timbul
asap, kemdian nyala dikecilkan sampai asap tepat hilang.

Tinggi nyala dalam keadaan terakhir ini dalam milimeter adalah titik
asap sampel.

Asap terutama disebabkan oleh senyawa aromat dalam bahan minyak

Kepentingan smoke point dalam praktek adalah untuk
menentukan kualitas kerosin yang penggunaan utamanya
adalah sebagai bahan bakar lampu penerangan.

Kerosin yang baik harus mempunyai titik asap yang tinggi,
sehingga nyala api bahan bakar kerosin ini dapat dibesarkan
dengan kecenderungan ntuk memberikan asap yang kecil.
16. Korosi Lempeng Tembaga

Uji korosi lempeng tembaga (ASTM D 130-88) dimaksudkan untuk
mengetahi sifat korosi bensin pesawat terbang, bahan bakar turbin
penerbangan, bensin mobil, bensin alam dan senyawa
hidrokarbon yang mempunyai tekanan uap kurang dari 18 psi (124
kPa), bahan bakar traktor pertanian, pelarut, kerosin, bahan bakar
distilat, minyak pelumas dan produk minyak bumi lainnya terhadap
lempeng tembaga
Korosi minyak bumi terhadap berbagai macam logam
disebabkan oleh senyawa belerang korosif yang terdapat dalam
produk minyak bumi. Tidak sema senyawa belerang yang
terdapat dalam fraksi minyak bumi bersifat korosif.
Khusus untuk elpiji, uji korosi lempeng tembaga digunakan
metode uji baku ASTM 1838-89, yang pada dasarnya sama
dengan metode uji korosi lempeng tembaga ASTM D 130.
17.Sisa Karbon

Ada dua macam cara uji sisa karbon, yaitu :
1. uji sisa karbon Conradson (ASTM D 189-88)
2. uji sisa karbon Ramsbottom (ASTM D 524-88).

Kedua cara uji ini dimaksudkan untk mengetahui kecenderungan
pembentukan kokas produk minyak bumi yang sulit menguap.

Sisa karbon Conradson (Conradson Carbon Residue) adalah sisa
karbon yang tertinggal setelah produk minyak bumi dikenakan pirolisis
yaitu pemanasan tanpa berkontak dengan udara
Uji ini umumya dikenakan pada produk minyak bumi yang
relatif kurang volatil yang sebagian akan terurai pada distilasi
tekanan atmosferik, seperti bahan bakr solar, minyak gas,
minyak bakar dan minyak pelumas.
Sisa karbon sesungghnya bukan seluruhnya karbon , tetapi
kokas yang masih bisa diubah lebih lanjut dengan jalan
pirolisis.
Sisa karbon romboston adalah sisa karbon yang tertinggal
setelah sampel bahan bakar minyak yang sukar menguap
yang ditempatkan dalam bola gelas khusus yang
memilikilubang pipa kapiler dalam pembakar koking logam
(metal coking furnace)
CCR dan RCR digunakan sebagai petunjuk mengenai
kecenderungan produk minyak bumi untuk memberikan
deposit kokas. Adanya alkil nitrat dalam bahan bakar diesel
seperti amil nitrat, heksil nitrat atau oktil nitrat akan
memberikan CCR dan RCR yang relatif lebih tinggi apabila
dalam bahan bakar diesel tersebut ditambahkan aditif.