Anda di halaman 1dari 42

1

LAPORAN SISTEM IMUNOLOGI


MODUL (IV) AUTOIMUN
TUTOR : Dr. Yusnam Syarif, S.PAK

Disusun oleh KELOMPOK IV

Ketua : Reza Achmad Prasetyo (2013730169)
Sekretaris : Dias Rahmawati Wijaya (2013730134)
Anggota : Afifah Qonita (2013730123)
Fina Hidayat (2013730144)
Fitria Dwi Ambarini (2013730145)
Harishal Aryaputra (2013730147)
Mundri Nur Afsari (2013730155)
Nadira Juanti Pratiwi (2013730160)
Topan Muhamad Nur (2013730184)
Yunita Maharani Burhan (2013730187)

Fakultas Kedokteran
Program Sudi Pendidikan Dokter
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Jakarta 2014



2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan bimbingan dan dorongan dari
beberapa pihak, baik berupaa mental maupun moril, laporan ini tidak mungkin dapat
terselesaikan. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ketua Sistem Imunologi Dr. Elyusrar, PhD
2. Tutor modul imunodefisiensi, Dr. Yusnam Syarif, S.PAK
3. Teman-teman kelompok 4 yang tidak bisa disebutkan satu per satu
4. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah membantu
demi kelancaran penyusunan laporan ini.
Sekiranya semua bantuan dari pihak-pihak terkait mendapatkan balasan yang setimpal
dari Allah SWT.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan.
Namun demikian, kami sudah berusaha dengan segala kemampuan untuk menyusun laporan
ini dengan sebaik-baiknya. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan laporan modul ini.
Semoga laporan modul ini dapat bermanfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya dalam bidang ilmu kedokteran.

Jakarta, 13 Juni 2014















3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................ 2
DAFTAR ISI ............................................................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................................... 4
I.1 Latar Belakang ....................................................................................................................... 4
I.2 Tujuan Pembelajaran ............................................................................................................ 5
I.3 Tujuan Instruksional ( TIK ) .................................................................................................... 5
BAB II ANALISA MASALAH .................................................................................................................... 6
II.1 Skenario 2 ............................................................................................................................. 6
II.2 Kata Sulit ............................................................................................................................... 6
II.3 Kata/Kalimat Kunci ............................................................................................................... 6
II.4 Problem Tree ........................................................................................................................ 7
II.5 Identifikasi Permasalahan dan Pertanyaan .......................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................... 42















4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Yang dimaksudkan dengan sistem imun ialah semua mekanisme yang digunakan tubuh
untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat
ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Berbagai bahan organik dan
anorganik, baik yang hidup maupun yang mati asal hewan, tumbuhan, jamur, bakteri,
virus, parasit, berbagai debu dalam polusi, uap, asap dan lain-lain iritan, ditemukan dalam
lingkungan hidup sehingga setiap saat bahan-bahan tersebut dapat masuk ke dalam tubuh
dan menimbulkan berbagai penyakit bahkan kerusakan jaringan. Selain itu, sel tubuh
yang menjadi tua dan sel yang bermutasi menjadi ganas, merupakan bahan yang tidak
diingini dan perlu disingkirkan.

Kemampuan tubuh untuk menyingkirkan bahan asing yang masuk ke dalam tubuh
tergantung dari kemampuan sistem imun untuk mengenal molekul-molekul asing atau
antigen yang terdapat pada permukaan bahan asing tersebut dan kemampuan untuk
melakukan reaksi yang tepat untuk menyingkirkan antigen. Kemampuan ini dimiliki oleh
komponen-komponen sistem imun yang terdapat dalam jaringan limforetikuler yang
letaknya tersebar di seluruh tubuh, misalnya di dalam sumsum tulang, kelenjar limfe,
limpa, timus, sistem saluran nafas, saluran cerna dan organ-organ lain. Sel-sel yang
terdapat dalam jaringan ini berasal dari sel induk dalam sumsum tulang yang
berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, kemudian beredar dalam tubuh melalui darah,
sistem limfatik, serta organ limfoid yang terdiri dari timus dan sumsum tulang (organ
limfoid primer ), dan limpa, kelenjar limfe dan mukosa ( organ limfoid sekunder ), dan
dapat menunjukkan respons terhadap suatu rangsangan sesuai dengan sifat dan fungsi
masing-masing.

Namun, terkadangkala sistem imun dalam tubuh kita dapat menyerang diri sendiri, untuk
itu perlu kita tanggulangi agar sistem imun tersebut dapat bekerja sebagaimana mestinya.
Sehingga, tidak menyebabkan penyakit seperti reumatoid arthritis, SLE, dan banyak lagi.


















5
1.2 Tujuan Pembelajaran
Tujuan dari kita mempelajari modul autoimun ini adalah :
1. Mengetahui penyakit apa saja yang terlibat dalam autoimun serta mekanisme
terjadinya.
2. Mempelajari bagaimana cara penatalaksanaan serta pencegahan dari autoimun.
3. Mengetahui dan mempelajari faktor resiko dari autoimun itu sendiri

1.3 Tujuan Instruksional Khsusus ( TIK )
Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa akan dapat :
1. Menjelaskan definisi dari imunodefisiensi.
2. Menjelaskan klasifikasi imunodefisiensi menjadi spesifik dan non spesifik.
3. Menjelaskan diagnosis dari imunodefisiensi.
4. Menjelaskan penyakit-penyakit pada imunodefisiensi.





















6
BAB II
ANALISA MASALAH

2.1 Skenario
Seorang wanita, 20 tahun, datang dengan keluhan timbul kemerahan pada wajahnya setelah
piknik ke pantai 5 hari yang lalu. Kemerahan itu menetap dan tidak hilang sampai sekarang.
Sering mengeluh kaku pada sendi-2 kaki dan tangan, terutama di pagi hari. Kekakuan
berkurang menjelang siang. Tidak ada riwayat sakit sendi rematik sebelumnya dan tidak juga
pada keluarga. Berat badan menurun dalam 2 bulan terakhir. Mulut luka, tidak bisa makan.

2.2 Kata Sulit
-

2.3 Kata/Kalimat Kunci
1. Wanita 20 tahun, keluhan tkemerahan pada wajahnya setelah piknik ke pantai 5 hari lalu.
2. Kemerahan menetap dan tidak hilang sampai sekarang.
3. Kaku pada sendi sendi kaki dan tangan, terutama di pagi hari, kaku berkurang menjelang
siang.
4. Tidak ada riwayat sakit sendi rematik.
5. Berat badan menurun 2 bulan terakhir.
6. Mulut luka, tidak bisa makan.











7
2.3 Mind Map











2.4 Pertanyaan
1. Jelaskan definisi dan kriteria autoimun
2. Jelaskan mekanisme terjadinya autoimun
3. Jelaskan factor imun yang berperan pada autoimun
4. Jelaskan factor lingkungan yang berperan pada autoimun
5. Jelaskan autoimun spesifik organ
6. Jelaskan autoimun non-spesifik organ
7. Jelaskan diagnosis terkait autoimunitas
8. Jelaskan definisi, etiologi, epidemiologi, patomekanisme, manisfestasi klinis,
penatalaksanaan, prognosis, komplikasi, rencana rujukan, factor genetic penyakit
SLE
9. Jelaskan definisi, etiologi, epidemiologi, patomekanisme, manisfestasi klinis,
penatalaksanaan, prognosis, komplikasi, rencana rujukan, factor genetic penyakit
RA
10. Jelaskan prinsip pengobatan autoimun
*Jelaskan diagnosis kerja terkait scenario autoimun
*Beda penyakit SLE dan HIV AIDS







8

2.5 Pembahasan
Mundri nur afsari
2013730155
1. Jelaskan definisi dan kriteria dari autoimunitas !

DEFINISI AUTOIMUN
Autoimunitas adalah respons imun terhadap antigen jaringan sendiri yang disebabkan
oleh mekanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan self-tolerance sel B,
sel T atau keduanya. Penyakit autoimun adalah kerusakan jaringan atau gangguan fungsi
fisiologis yang ditimbulkan oleh respons autoimun. Perbedaan tersebut adalah penting,
oleh karena respons imun dapat terjadi tanpa disertai penyakit atau penyakit yang
ditimbulkan mekanisme lain ( seperti infeksi ).
Dalam populasi , sekktar 3,5 % orang menderita penyakit autoimun, 94 % dari jumlah
tersebut berupa penyakit Grave (hipertiroidism), diabetes mellitus tipe I, anemia
pernisiosa, artritis rheumatoid, tiroiditis, vitiligo, sclerosis multiple dan LES. Penyakit
ditemukan lebih banyak pada wanita (2,7 x dibanding pria), diduga karena peran
hormone. LES mengenai wanita 10x lebih sering dibanding pria.

KRITERIA AUTOIMUN
Untuk membuktikan bahwa autoimunitas merupakan sebab penyakit tertentu, diperlukan
sejumlah kriteria yang harus dipenuhi, seperti hal nya postulat Koch untuk penyakit
infeksi mikroorganisme. Ada 6 butir yang diperlukan untuk menentukan kriteria
autoimunitas. Bukti terbaik adanya autoimunitas pada manusia adalah transfer pasif IgG
melalui plasenta yang terjadi pada kehamilan trimester ketiga. Hal ini dapat menerangkan
terjadinya penyakit autoimunitas sementara pada janin dan neonatus.

Penyakit yang dapat diinduksi IgG dan dapat ditransfer melalui plasenta
Antibodi maternal yang berperan Penyakit yang diinduksi pada neonatus
Hormon yang merangsang tiroid Penyakit Grave neonates
Molekul adhesi membrane basal epidermal Pemfigoid neonates
Sel darah merah Anemia hemolitik
Trombosit Trombositopenia
Reseptor asetikolin Miastenia gravis neonates
Ro dan La Lupus kulit neonates dan heart blok
kongenital komplit

Kriteria Autoimun
Kriteria Catatan
Autoantibodi atau sel T autoreaktif dengan
spesifitas untuk organ yang terkena
ditemukan pada penyakit
Kriteria ditemukan pada kebanyakan
penyakit endokrin autoimun. Lebih sulit
ditemukan pada antigen sasaran yang tidak
diketahui seperti pada AR. Autoantibodi
lebih mudah ditemukan dibandingkan sel T
autoreaktif , tetapi autoantibodi dapat juga

9
ditemukan pada beberapa subyek normal.
Autoantibodi dan atau sel T ditemukan di
jaringan dengan cedera
Benar pada beberapa penyakit seperti
endokrin, LES dan beberapa
glomerulonephritis.
Ambang autoantibodi atau respon sel T
menggambarkan aktivitas penyakit
Hanya ditemukan pada penyakit autoimun
sistemik akut dengan kerusakan jaringan
progresif cepat seperti pada LES, vaskulitis
sistemik atau penyakit antiglomerulus
membrane basal.
Penurunan respons autoimun memberikan
perbaikan penyakit
Keuntungan imunosupresi terlihat pada
beberapa penyakit, terbanyak imunosupresan
tidak spesifik dan berupa antiinflamasi.
Transfer antibodi atau sel T ke pejamu
sekunder menimbulkan penyakit autoimun
pada resipien
Ditemukan pada model hewan. Pada manusia
dengan transfer transplatasental antibodi IgG
autoreaktif selama kehamilan trimester
terakhir dan dengan timbulnya penyakit
autoimun pada resipien transplan sumsum
tulang bila donor memiliki penyakit
autoimun.
Imunisasi dengan autoantigen dan kemudian
induksi respons autoimun menimbulkan
penyakit
Banyak protein self menginduksi respons
autoimun pada hewan bila disuntikkan
dengan ajuvan yang benar. Lebih sulit
dibuktikan pada manusia, tetapi imuniasasi
rabies dengan jaringan otak mamalia yang
terinfeksi ( tidak terinfeksi ) dapat
menimbulkan ensefalomielitis autoimun.

2. Jelaskan mekanisme terjadinya autoimun !
Dias Rahmawati Wijaya
2013730134
MEKANISME PENYAKIT AUTOIMUN
Gangguan terhadap satu atau lebih mekanisme toleransi-diri dapat melepaskan serangan
imunologis terhadap jaringan yang dapat menyebakan berkembangnya penyakit autoimun.
Sel yang imunokompeten pasti terlibat dalam memerantai cedera jaringan, tetapi berbagai
pengaruh pastinya yang memulai reaksinya terhadap diri sendiri belum diketahui : Meskipun
akan menarik untuk menjelaskan semua penyakit autoimun melalui satu mekanisme, jelaslah
bahwa pada saat ini toleransi dapat dipintaskan melalui sejumlah cara. Pada setiap penyakit
dapat muncul lebih dari satu defek, dan defek tersebut dapat beragam dari suatu gangguan
hingga gangguan lainnya. Lagi pula, gangguan terhadap toleransi dan insiasi autoimunitas
melibatkan interaksi faktor imunologi, genetic, dan microbial yang rumit.

KEGAGALAN TOLERANSI
Kegagalan kematian Sel yang diinduksi oleh Aktivasi. Aktivasi sel T yang berpotensi
autoreaktif secara persisten dapat menyebabkan apoptosis sel tersebut melalui system ligan

10
Fas-Fas. Hal ini berarti kelainan pada jalur ini memungkinkan terjadinya proliferasi dan
persistensi sel T autoreaktif dalam jaringan perifer. Sebagai penunjang hipotesis ini,
dilakukan percobaan, yaitu tikus dengan kelainan genetic dalam Fas atau ligan Fas menderita
penyakit autoimun kronis menyerupai SLE. Sementara, sejauh ini tidak ada penderita SLE
yang ditemukan mengalami mutasi dalam gen Fas atau ligan Fas, kelainan kecil lainnya pada
kematian sel yang diinduksi oleh aktivasi dapat berperan pada penyakit autoimin manusia.
Gangguan pada Anergi Sel T. perlu diingat bahwa sel T yang berpotensi autoreaktif yang
lolos dari pemersihan sentral akan menjadi anergik pada saat sel tersebut bertemu dengan
antigen sendiri tanpa adanya kostimulasi. Hal ini terjadi setelah anergi semacam itu dapat
rusak jika sel normal yang iasanya tidak mengeluarkan molekul kostimulator dapat diinduksi
untuk melakukan hal tersebut. Dalam kenyataanya induksi semacam itu dapat terjadi setelah
infeksi, atau dalam situasi lain yang terjadi nekrosis jaringan dan inflamasi local.
Pemintasan kebutuhan sel B untuk antuan sel T. banyak antigen sendiri yang mempunyai
determinan beragam, beberapa di antaranya dikenali oleh sel B, dan yang lain oleh sel T.
Respon antibody terhadap antigen tersebut hanya terjadi jika sel B dan yang lain oleh sel T.
Respon antibody tersebut hanya terjadi jika sel B yang berpotensi self-reactive menerima
bantuan dari sel T, dan toleransi terhadap antigen tersebut dapat disertai dengan pembersihan
atau anergi sel T halper dengan adanya sel B spesifik yang sangat kompeten. Oleh karena itu,
bentuk toleransi ini dapat diatasi jika kebutuhan terhadap sel T helper yang toleran
tergantikan. Satu cara melakukan ini adalah jika epitop sel T dari suatu antigen sendiri
dimodifikasi yang memungkinkan pengenalan oleh sel T yang tidak dimusnahkan. Sel ini
kemudian dapat ekerjasam dengan sel B yang membentuk autoantibody. Modifikasi
determinan sel T suatu antigen yang semacam itu dapat dihasilkan dari pembentukan
kompleks dengan obat atau mikroorganisme.
Kegagalan supresi yang diperantarai sel T. kemungkinan berkurangnya fungsi sel T-
regulator yang dapat menyebabkan autoimun merupakan hal ynag sangat menarik.
Mimikri molecular. Beberapa agn infeksius memerikan epitop kepada antigen diri, dan
respon imun yang melawan mikroba tersebut akan menghasilkan respon yang serupa
terhadap antigen diri yang bereaksi silang.
Aktivasi limfosit poliklonal. Toleransi dipertahankan melalui anergi, namun, autoimunitas
dapat terjadi jika klon yang self reactive tetapi anergik tersebut dirangsang oleh mekanisme
yang tidak tergantung antigen. Beberapa mikroorganisme beserta produknya mampu
menyebabkan aktivasi poliklonal Sel B.
Pelepasan antigen terasing. Setiap antigen sendiri yang benar-benar telah diasingkan selama
perkembangannya mungkin dianggap asing jika selanjutnya bertemu dengan system imun.
Yang termasuk pada katagori ini adalah antigen spermatozoa dan antigen ocular. Uveitis
pascatrauma dan orkhitis pascavasektomi mungkin terjadi akibat respon imun melawan
antigen yang biasanya diasingkan oleh mata dan testis.
Pajanan epitop sendiri yang tersembunyi dan penyebaran epitop. Tiap-tiap protein
sendiri mempunyai determinan antigen (epitop) yang relative sedikit yang diproses secara
efektif dan disajikan. Selam perkembangannya sebagian besar sel T yang mampu bereaksi
dengan epitop dominan semacam itu dimusnahkan dalam timus atau menjadi anergik dalam
perifer. Sebaliknya sejumlah besar determinan sendiri tidak diproses sehingga tidak dikenali
oleh system imun, jadi sel T yang spesifik untuk epitop sendiri yang tersembunyi/rahasia

11
tersebut tidak dimusnahkan. Hal itu berarti sel T semacam itu dapat menyebabkan penyakit
autoimun jika epitop rahasia tersebut kemudian disajikan dalam suatu bentuk imunogenik.

3. Jelaskan factor imun yang berperan pada autoimunitas!
Yunita Maharani Burhan
2013730187
a. Sequestered antigen
Sequestered antigen adalah antigen sendiri yang karena letak anatominya, tidak terpajan
dengan sel B atau sel T dari system imun. Pada keadaan normal, sequestered antigen
dilindungi dan tidak ditemukan untuk dikenal system imun.
1

Perubahan anatomik dalam jaringan seperti inflamasi (sekunder oleh infeksi,
kerusakan iskemia atau trauma), dapat memajankan sequestered antigen dengan system
imun yang tidak terjadi pada keadaan normal. Contohnya protein lensa intraocular,
sperma, dan MBP ( Myelin Basic Protein ). Uveitis pasca trauma dan orchitis pasca
vasektomi diduga disebabkan respon autoimun terhadap sequestered antigen. MBP yang
dilepas oleh infeksi dan meningkat (oleh kerusakan sawar darah-otak/inflamasi virus) akan
mengaktifkan sel B dan T yang imunokompeten dan menimbulkan ensefalomielitis pasca
infeksi. Inflamasi jaringan dapat pula menimbulkan perubahan struktur pada self antigen
dan pembentukan determinan baru yang dapat memacu reaksi autoimun. Gambar dibawah
ini :

b. Gangguan presentasi
Gangguan dapat terjadi pada presentasi antigen, infeksi yang meningkat respon MHC,
kadar sitokin yang rendah (misalnya TGF-) dan gangguan respon terhadap IL-2.
Pengawasan beberapa sel autoreaktif diduga bergantung pada sel Ts atau Tr. Bila terjadi
kegagalan sel Ts atau Tr, maka sel Th dapat dirangsang sehingga menimbulkan




12
autoimunitas. Respon imun selular terhadap mikroba dan antigenasing lainnya dapat juga
menimbulkan kerusakan jaringan di tempat infeksi atau pajanan antigen.

c. Ekspresi MHC-II yang tidak benar
Sel pancreas pada penderita dengan IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus)
mengekspresikan kadar tinggi MHC-I dan MHC-II, sedang subjek sehat sel
mengekspresikan MHC-I yang lebih sedikit dan tidak mengekspresikan MHC-II sama
sekali. Sama halnya dengan kelenjar tiroid pada penderita Grave mengekspresikan MHC-
II pada membrane. Ekspresi MHC-II yang tidak pada tempatnya itu yang biasanya hanya
diekspresikan pada APC (Antigen Presenting Cell) dapat mensensititasi sel Th terhadap
peptide yang berasal dari sel atau tiroid dan mengaktifkan sel atau Tc atau Th1
terhadap self antigen.
d. Aktivasi sel B poliklonal
Autoimunitas dapat terjadi oleh karena aktivasi sel B poliklonal oleh virus (EBV), LPS
(Lipopolisakarida) dan parasit malaria yang dapat merangsang sel B secara langsung yang
menimbulkan autoimunitas.
e. Peran CD4 dan reseptor MHC
Gangguan yang mendasari penyakit autoimun sulit untuk diidentifikasi. Penelitian pada
model hewan menunjukkan bahwa CD4 merupakan efektor utama pada penyakit
autoimun. Pada tikus EAE (Experimental Allergic Encephalitis) ditimbulkan oleh Th1
CD4 yang spesifik untuk antigen. Penyakit dapat dipindahkan dari hewan yang satu ke
hewan yang lain melalui sel T hewan yang diimunisasi dengan MBP atau PLP (Proteolipid
Protein) atau sel lain dari klon sel T asal hewan. Penyakit dapat juga dicegah oleh antibody
anti CD4. Sel T mengenal antigen melalui TCR dan MHC serta peptide antigenic. Untuk
seseorang menjadi rentan terhadap autoimunitas harus memiliki MHC dan TCR yang
dapat mengikat antigen sel sendiri.
f. Keseimbangan Th1-Th2
Penyakit autoimun organ spesifik terbanyak terjadi melalui sel T CD4. Ternyata
keseimbangan Th1-Th2 dapat mempengaruhi terjadinya autoimunitas. Th1 menunjukkan
peran pada autoimunitas, sedang pada beberapa penelitian Th2 tidak hanya melindungi
terhadap induksi penyakit, tetapi juga terhadap progress penyakit. Pada EAE sitokin Th1
(IL-2, TNF- dan IFN-) ditemukan dalam SSP dengan kadar tertinggi pada penyakit.
g. Sitokin pada autoimunitas
Beberapa mekanisme control melindungi efek sitokin patogenik, diantaranya adalah
adanya ekspresi sitokin sementara dan reseptornya serta produksi antagonis sitokin dan
inhibitornya. Gangguan mekanismenya meningkatkan regulasi atau produksi antagonis
sitokin yang tidak benar sehingga menimbulkan efek patofisiologik. Sitokin dapat
menimbulkan translasi berbagai factor etiologis ke dalam kekuatan patogenik dan
mempertahankan inflamasi fase kronis serta destruksi jaringan. IL-1 dan TNF telah
mendapat banyak perhatian sebagai sitokin yang menimbulkan kerusakan. Kedua sitokin
ini menginduksi ekspresi sejumlah protease dan dapat mencegah pembentukan matriks
ekstraselular atau merangsang penimbunan matriks yang berlebihan.

13
Defek produksi sitokin atau sinyal yang dapat menimbulkan autoimunitas
Sitokin atau protein Defek Dampak
TNF- Ekspresi berlebihan IBD, artritis, vaskulitis
TNF- Ekspresi yang kurang LES
Antagonis IL-1R Ekspresi yang kurang Artritis
IL-2 Ekspresi berlebihan IBD
IL-7 Ekspresi berlebihan IBD
IL-10 Ekspresi berlebihan IBD
IL-2R Ekspresi berlebihan IBD
IL-10R Ekspresi berlebihan IBD
IL-3 Ekspresi berlebihan Sindrom demielinisasi
IFN- Ekspresi berlebihan di kulit LES
TGF- Ekspresi yang kurang Systemic wasting syndrome
dan IBD
TGF-r pada sel T Ekspresi berlebihan LES

5. Jelaskan factor lingkungan yang berpengaruh pada autoimunitas!
Fitria Dwi Ambarini
2013730145

Mikrobia,hormon,radiasi UV,oksigen,radikal bebas,obat dan agen bahan lain seperti logam
dapat memicu autoimunitas.







14

a. mikrobia
mikrobia dapat menyebabkan autoimun contohnya pada

1.Sindrom reiter dan atritis reaktif
infeksi saluran cerna oleh sallmonela sigella atau kampilobakter dan saluran kencing
oleh klamidia trakomatis atau ureaplasma urealitikum dapat memaci sindrom reiter
berupa triaduretritis, artritis dan uveitis.inflamasi insersi tendon dan ligament pada
tulang merupakan ciri sindrom reiter dan atritis reaktif.sel sel inflamasi ditemukan
dalam cairan synovial.

2. Eritema Nodosum
eritema nodosum biasanya terjadi pada orang dewasa usia 18 -33 tahun. Infeksi
streptokoks ditemukan pada 28% klamidia pada 15% dan kadang ditenukan infeksi
spesies mikoplasma, Yersinia,HBV,dan tuberculosis.nodul ditemukan terutama pada
ekstremitas bawah di permukaan ekstensor, namun lesi dapat pula ditemukan dikaki
atau lengan bawah. Dapat pula ditemukan sindrom Lofgren berupa eritema nodosum,

15
limfadenopati hilus bilateral dan poliartritis terutama dipergelangan kaki seperti
terlihat pada sarkoidosis berbagai infeksi yang berhubungan dengan ertiema nodosum

B.Hormon
Penyakit AL lebih sering ditemukan pada wanita disbanding pria. LES ditemukan 10
kali lebih banyak pada wanita disbanding pria. Ouncak awitan penyakit AL terbanyak
ditemukan pada periode reproduksi ; estrogen diduga merupakan pemicu kadar
prolactin yang timbul tiba-tiba seletah kehamlian cenderung menimbulkan penyakit
AL seperti AR.

Pada model hewan, menangkat ovarium dapat mencegah terjadinyaAL spontan,
terutama LES dan pemberian eterogenmeningkatkan kejadian penyakit AL. Estrogen
diduga merangsang resppn imun tertentu. Hormone pituitary prolactin menunjukan
efek imuostimulasi terutama terhadap sel T. ambang hormone hipofisa prolactin yang
meningkat dengan cepat seletah hamil menunjukan efek stimulasi sel T dan diduga
berhubungan dengan terjadimnya beberapa penyakit AL, teruatama AR.
C. OBAT
Beberpa obat dapat menginduksi produksi ANA dan anti-DNA tetapi jarang disetai
LES klinis. Sejumlah obat dihubungkan dengan ANCA. Kebanyakan kasus adalah
ringan, embaik dam antibody menghilang bila obat yang menimbilkannya
dihentikan.
1
















16
5. Jelaskan Penyakit Autoimun Spesifik Organ!
Afifah Qonita
2013730123

Salah satu penyakit dari golongan spesifik organ adalah penyakit autoimun endokrin. Diduga
autoimunitas diawali dengan proses inflamasi (akibat infeksi) dalam kelenjar endokrin. Sel
inflamasi menghasilkan interferon dan sitokin lain yang menginduksi ekspresi MHC kelas II
pada permukaan endokrin. Kesalahan dalam ekspresi MHC kelas II atau pengenalan
kompleks MHC antigen oleh sel-sel sistem imun secara tidak tepat mengakibatkan
autoantigen dianggap sebagai asing. Sel endokrin berfungsi sebagai APC bagi protein selnya
sendiri yang dikenal oleh sel T dan sel B autoreaktif yang mengakibatkan destruksi sel-sel
endokrin secara enzymatic dan oksifatif. Hal ini menyebabkan lebih banyak antigen kelenjar
endokrin yang dilepaskan dan berinteraksi dengan sel-sel sistem imun. Mekanisme lain yang
juga mungkin terjadi adalah interaksi idioptianti-idiotip seperti diuraikan diatas. Adanya
autoantibodi spesifik organ tertentu digunakan sebagai parameter untuk menunjang diagnosis.

Organ spesifik :

Kelenjar tiroid
Kelenjar adrenal
Lambung
Pancreas

Berbagai Jenis Penyakit Autoimun Organ Spesifik :

- Tiroiditis Hashimoto

tiroiditis kronis terjadi paling sering pada wanita usia 30-50 tahunan dan sebut sebagai
penyakit Hashimoto. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pada penampilan histologis kelenjar
yang mengalami inflamasi. Bentuk kronis biasanya disertai dengan nyeri, gejala tekan, atau
demam dan aktivitas tiroid biasanya normal atau lambat. Imunitas selular berperan signifikan
dalam pathogenesis tiroiditis. Redisposisi genetic tampak juga signifikan dalam etiologinya
jika dibiarkan tidak diobati penyakit secara lambat berkembang menjadi Hipotiroidisme.
2

Pada hashimoto proses apoptosis menyebabkan destruksi sel-sel kelenjar tiroid. Gambaran
klinik : mungkin dijumpai pembesaran kelenjat dan kelainan fungsi. Sebagian besar penderita
menunjukan eutiroid, tetapi juga menunjukan hipotiroid atau hipertiroid. Pada penyakit ini
dijumpai berbagai jenis autoantibodi yaitu : anti-tiroglobulin, anti-mikrosom, anti-tiroksin.
Disamping itu terdapat infiltrasi limfosit, makrofag dan sel plasma dalam kelenjar, bahkan
sering kali infiltrasi itu mendesak hampir seluruh struktur jaringan kelenjar dan sensitisasi
terhadap antigen tiroid walaupun autoantibodi tampaknya mempunyai peran penting dalam
menimbulkan kelainan, ternyata bahwa respon imun selularlah yang terutama menimbulkan
keadaan patologik. Keadaan ini meningkatkan aktivitas sel T sitotoksik dan produksi
limfokin oleh limfosit T. Besar kemungkinan bahwa autoantibodi dibentuk karena adanya
kerusakan sel akibat respon imun selular. Tetapi limfosit T sendiri tidak bersifat sitotoksik
terhadap sel kelenjar tiroid, karena itu diduga bahwa disini berperan sitotoksik dengan
bantuan antibodi (ADCC). Antibodi atau kompleks autoantigen autoantibodi melekat pada sel

17
folikular dan sel itu selanjutnya dirusak oleh sel NK.

-Tirotoksikosis Grave's

Penyakit Graves yang juga dikenal sebagai toxic goiter atau exophtalmic goiter
timbul sebagai sebagai akibat produksi antibody yang merangsang tiroid. Ciri
penting dari penyakit ini adalah: adanya antibody terhadap reseptor permukaan
sel tiroid yang merangsang kelenjar tiroid; Salah satu antibody yang dikenal
sebagai long acting thyroid stimulator (LATS) atau thyroid stimulating antibody
(TSAb). Beberapa jenis TSAb dapat bereaksi dengan reseptor TSH yang terdapat
pada permukaan kelenjar tiroid. Interaksi antara TSAb dengan reseptor TSH
menyebabkan aktivitas sama yang seperti aktivitas yang dihasilkan oleh
rangsangan TSH, yaitu produksi hormone tiroid melalui system adenylate cyclase.
Diduga TSAb berkaitan dengan salah satu bagian reseptor TSH atau molekul yang
terdapat pada reseptor. Reaksinya analog dengan stimulasi limfosit; limfosit B
dengan reseptor immunoglobulin permukaan (sIg) dapat dirangsang untuk
memproduksi immunoglobulin apabila ada induksi pada reseptor tersebut oleh
antigen maupun oleh anti-imunoglobulin. Bukti lain bahwa TSAb dapat
merangsang produksi hormone tiroid adalah bahwa TSAb-IgG yang berasal dari
wanita hamil penderita penyakit Graves dapat melewati plasenta dan dapat
menyebabkan hipertiroidi pada neonates, tetapi hipertiroidi neonates ini akan
sembuh bila antibody yang berasal dari ibu itu telah menghilang karena
katabolisme. Ada dugaan bahwa pembesaran kelenjar tiroid pada penyakit
Graves disebabkan reaksi antara antibody dengan reseptor pertumbuhan
(growth reseptor). Hal ini menyebabkan sel kelenjar berproliferasi yang dapat
dinyatakan dengan hiperaktivitas metabolic.

-Diabetes Melitus tipe I
Klasifikasi Etiologis Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (1997) adalah
distruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut baik melalui proses
imunologik atau pun idiopatik. Pada Diabetes Melitus tipe I terjadi kelainan sekresi insulin
oleh sel beta pancreas. Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetic yang merupakan
predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pancreas. Respons autoimun dipacu oleh
aktivitas limfosit, antibody terhadap sel pulau Langerhans dan terhadap insulin itu sendiri.
Pada diabetes mellitus tipe I mudah terjadi ketoasidosis, pengobatan harus dengan insulin,
onsetnya akut, 10% ada riwayat diabetes pada keluarga, 30-50% kembar identic terkena,
didapatkan antibody sel islet.
1

Diabetes Melitus Tipe I dikenal sebagai penyakit metabolic multisystem yang
disebabkan destruksi sel-sel b-pankreas yang memproduksi insulin oleh proses
autoimun yang spesifik sel-b. Penyakit ini masuk dalam kelompok sindrom
poliendokrin autoimun (autoimmune polyendocrine syndrome) dan berkaitan
dengan penyakit autoimun lain, misalnya dengan penyakit tiroid autoimun.
Seperti halnya penyakit autoimun yang lain factor genetic memegang peran
penting dalam terjadinya penyakit ini. Berbagai penelitian telah mengungkapkan
bahwa pada penyakit ini dijumpai kelainan pada gen AIRE dan Foxp3, di samping
kelainan pada berbagai jenis gen MHC seperti DR 34-DQ2/DQ8. Dasar
pathogenesis penyakit ini adalah destruksi sel b-pankreas. Berbagai unsur seperti
autoantigen sel b-pankreas, makrofag, sel denritik, limfosit B dan T terbukti
terlibat dalam proses destruksi atau pathogenesis penyakit autoimun ini.

18
Autoantigen sel-b dilepaskan oleh sel-b melalui cell-turnover atau kerusakan sel,
kemudian diproses dan dipersentasikan kepada sel T oleh APC. Makrofag dan sel
denritik merupakan sel-sel yang pertama menginfiltreasi kelenjar pancreas. Tipe
kerusakan jaringan dapat dikelompokan sebagai hipersensitivitas tipe lambat
(DTH) yang dimediasi oleh sel CD4+ Th1 yang raktif terhadap autoantigen sel b-
pankreas termasuk terhadap insulin. Disamping itu kerusakan sel juga dapat
terjadi melalui lisis sel oleh CTL yang melepaskan perforin dan granzyme.
Produksi local berbagai sitokin pro-inflamasi seperti TNF dan IL-1 serta ROS yang
diproduksi oleh makrofag teraktivasi juga memegang peran penting pada
kerusakan sel b. Destruksi sel ini merupakan respons primer diikuti oleh respons
sekunder yaitu produksi aituantibodi anti-insulin. Sel T sitotoksik (CTL) pada
diabetes mellitus tipe I secara khusus merusak sel b pancreas yang memproduksi
insulin tanpa merusk sel-sel pulau Langerhans yang lain. Kerusakan sel
pancreas pada diabetes tipe I merupakan proses yang terjadi gradual pada waktu
lama. Bila ambang batas antara keadaan subklinik dengan simptomatik
dilampau, 5-20% sel masih hidup. Pada stadium ini terjadi penurunan produksi
insulin, namun ternyata keadaan ini masih reversible. Kenyataan ini mempunyai
makna terapeutik yang penting karena euglikemia kadang-kadang masih bisa
dikembalikan dengan intervensi yang teapt. Selain itu proses penurunan masa sel
b dapat dihentikan sementara (atau seterusnya bila penyakit masih dini) antara
lain dengan memeberikan non-Fc-binding anti-CD3 dan hsp277. Belum banyak
yang diketahui mengenai marker serologic penyakit ini, tetapi yang sudah dikenal
dan dapat diguhnakan sebagai parameter diagnostic penyakit ini adalah anti-
insulin dan anti-GAD65 (glutamic acid decarboxylase).

6. Jelaskan autoimun nonspesifik organ!
Nadira Juanti Pratiwi
2013730160
Golongan penyakit autoimun yang tidak spesifik organ dan paling sering dijumpai adalah:
A. Lupus Eritematosus Sistemik (SLE)
Manisfestasi lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus, SLE)
umumnya terjadi pada berbagai organ dan jaringan di seluruh tubuh dan terutama
ditandai dengan vasculitis sistemik yang tidak diketahui sebabnya. Karena faktor
etiologi belum diketahui pasti, maka diagnosis penyakit ditegakkan berdasarkan
adanya sejumlah gejala klinik dan data laboratorium. Untuk membakukan cara
penentuan diagnosis, ARA (American Rheumatism Association) mengemukakan
kriteria diagnostic yang telah disepakati secara internasional, yaitu bahwa diagnosis
SLE dipastikan apabila dijumpai 4 kriteria dari daftar kriteria diagnostic pada table
dibawah ini:

KRITERIA MANIFESTASI
Ruam pada muka Eritema, rata atau sedikit timbul di atas
permukaan, menyerupai bentuk kupu-
kupu
Ruam discoid Ruam berbentuk benjolan yang timbul
diatas permukaan, dengan lapisan keratin

19
kulit terlepas
Fotosensitivitas Ruam kulit sebagai akibat reaksi
berlebihan terhadap sinar matahari
Luka-luka pada mulut atau nasofaring Biasanya tidak terasa sakit (painless)
Artritis Artritis mengenai 2 atau lebih sendi,
bengkak dan terasa sakit
Serositis Pleuritis atau pericarditis
Kelainan ginjal Proteinuria >3+ atau ada torak bergranula
Kelainan neurologic Psikosis atau kejang-kejang
Kelainan hematologic Anemia hemolitik dengan retikulositis,
leukopenia, limfopenia, trombositopenia
Kelainan imunologik Sel LE positif, anti-DNA dengan titer
tinggi anti-Sm positif
Antibodi antinuclear Titer ANA meningkat

Seperti pada penyakit autoimun yang lain, penyebab SLE adalah multifactor. Diduga
bahwa faktor genetic memegang peran penting pada patofisiologi SLE, karena
ternyata bahwa anti-DNA sering dijumpai pada beberapa anggota keluarga penderita
SLE dan bahwa 70% saudara kembar monozigot penderita SLE dapat menderita
kelainan yang sama. Pembentukan antibody juga ditentukan secara genetic. Pasien
dengan HLA-DR2 cenderung memproduksi anti-SS-A. Beberapa gen lain terbukti
mempunyai hubungan SLE seperti pada table dibawah ini:

Lokasi Sitogenetik Gen kandidat dengan
lokusnya
Respon Imun
1q23 CRP
FCGR2A
FCGR2B
FCGR3A
FCGR3B
Bawaan
Bawaan
Adaptif
Adaptif
Adaptif
1q25-31
1q41-42

PARP
TLR5

Apoptosis
Bawaan
2q35-37 PDCD1 Bawaan
4p16-15.2
6p11-21

MHC Kelas II : DRB1
MHC Kelas III : TNF-
C2, C4

Adaptif
Adaptif
Bawaan
12q24
16q12-13

OAZ

Adaptif
Lokus suseptibilitas yang dikonfirmasi berkaitan dengan SLE

Pada penderita yang secara genetic menunjukan predisposisi untuk SLE dapat
dijumpai gangguan sistemik regulasi sel T dan fungsi sel B, yang dapat diinduksi oleh
berbagai hal. Pada umumnya pathogenesis terjadinya SLE sama dengan pathogenesis
penyakit autoimun yang lain yaitu adanya kehilangan self-tolerance yang melibatkan
berbagai unsur seluler dan humoral mulai dari sel T, B, APC, (makrofag dan
dendritic). Gejala awal yang menetap adalah energy terhadap antigen yang umum
(recall antigen). Diduga hal ini timbul akibat adanya anti-limfosit T yang

20
menyebabkan limfopenia dan kepekaan terhadap infeksi oportunistik. Defisiensi sel T
supresor, atau aktivasi berlebihan melalui pembentukan B-cell-growth-factor (BCGF)
dan B-cell-differentiation-factor (BCDF). Beberapa penelitian terakhir
mengungkapkan bahwa pengikatan TLR oleh RNA dan DNA memegang peran
penting dalam mengaktivasi sel B untuk memproduksi antibody terhadap asam
nukleat ini dan terhadap nucleoprotein. Hiperaktivitas sel B dapat menjelaskan
hipergamaglobulinemia dan adanya sel B yang memproduksi immunoglobulin
berlebihan di daerah tepi. Hiperaktivitas sel B tidak selalu harus menyulut
pembentukan ANA atau anti-DNA, bila tidak ada kelainan gen yang menyebabkan
system imun sangat responsive terhadap self antigen. Pada penderita SLE ternyata
bahwa aktivasi sel B menyebabkan pembentukan ANA, anti-dsDNA, anti-nucleosome
dan anti--actinin secara tidak terkendali, yang kemudian berikatan dengan antigen
yang relevan. Kompleks yang terbentuk selanjutnya dapat mengaktivasi komplemen
yang berakibat kerusakan jaringan, misalnya kerusakan pembuluh darah (vasculitis),
kerusakan glomerulus (glomerulonephritis) dan kerusakan jaringan lain. Namun
demikian, pada penelitian-penelitian terakhir terbukti bahwa autoantibodi baru
mengendap dalam jaringan yang mengalami inflamasi itu meng-ekspose antigen
nuclear setelah mengalami apoptosis, jadi dengan kata lain sumber dari autoantigen
itu adalah sisa (debris) sel yang mengalami apoptosis. Tabel dibawah ini
memperlihatkan autoantibodi pathogen dengan SLE:

Spesifitas antigen Prevalensi % Dampak klinik utama
Anti-dsDNA 70-80 Penyakit ginjal, kulit
Nukleosom 60-90 Penyakit ginjal, kulit
Ro 30-40 Penyakit kulit, ginjal,
kelainan jantung pada
fetus
La 15-20 Kelainan jantung pada
fetus
Sm 10-30 Penyakit ginjal
Reseptor NMDA 33-50 Penyakit susunan saraf
pusat
Fosfolipid 20-30 Trombosis, keguguran
a-Actin 20 Penyakit ginjal
C1q 40-50 Penyakit ginjal
Tabel autoantibodi pathogen pada SLE

Salah satu hal yang dapat menyulut manifestasi penyakit adalah pemaparan terhadap
sinar matahari khususnya UV. Hal ini terjadi karena sel-sel Langerhans pada kulit
yang tergolong monosit dan makrofag, memproduksi IL-1 yang merangsang sel T
CD4
+
sehingga terjadi respon imun seluler secara spontan pada daerah yang terkena
sinar UV. Hal lain yang dapat menyulut manifestasi SLE adalah infeksi bacterial atau
virus yang dapat merangsang aktivitas makrofag dan monosit, serta penggunaan obat
yang dapat mengikat DNA misalnya isoniazid. Salah satu cara diagnosis laboratorium
SLE adalah uji serologic. Yang paling banyak digunakan saat ini adalah metode
imunofluoresensi menggunakan sel HEp-2 sebagai substrata atau sel sasaran.





21
Pola imunofluoresensi Spesifik Antigen Penyakit terkait
Homogen DNA SLE
Difus Histone DIL, SLE
Perifer (Rim) DsDNA SLE
Speckled kasar Sm, Ul-RNP SLE,SS
Speckled halus Ro, La SS, SCLE, NL
Centromer CENP CREST
Nukleolar speckled Scl-70, RNA polymerase Scl
Nukleolar homogeny PmScl, Ku Scl, PM-Scl-SLE
Sitoplasmik Ribosomal protein SLE


Pola imunofluoresensi yang sering dijumpai:

B. Artritis Reumatoid
Kelainan sendi yang sering dijumpai pada artritis rheumatoid pada hakekatnya terjadi
akibat pertumbuhan sel-sel synovial yang merusak tulang dan tulang rawan. Menurut
pengertian pathogenesis artritis rheumatoid saat ini, penyakit diawali dengan aktivasi
sel T autoreaktif yang kemudian bermigrasi kedalam rongga synovial dan
menginduksi aktivasi sel-sel efektor seperti sel-sel synovial dan sel B, melalui
sitokinin yang diproduksi oleh sel T. Membran synovial menjadi hiperseluler karena
penimbunan sejumlah besar limfosit dalam berbagai stadium aktivasi, sel plasma dan
makrofag. Semua sel menunjukan aktivitas yang tinggi dan interaksi antar sel-sel itu
menyebabkan pembentukan immunoglobulin dan factor rheumatoid. Sel T dan sitokin
yang diproduksinya terlibat dalam pathogenesis penyakit ini dibuktikan oleh
penelitian yang melakukan pemantauan perubahan kadar IL-1, IL-6, TNF- dan IL-10
serta TNF-RI, II dan sIL-10R pada penderita arthritis rheumatoid yang diberi sejalan
dengan perbaikan klinis. Diduga penyakit ini disebabkan oleh infeksi; salah satu yang
diduga penyebabnya adalah virus Epstein-Barr (EBV) walaupun bukti kearah itu
belum nyata. Dugaan ini timbul karena EBV dapat menyebabkan infeksi laten atau
persisten, dan dapat menyebabkan proliferasi limfosit B in vitro. Pengendalian infeksi
EBV sangat bergantung pada kemampuan sel limfosit T untuk menghancurkan
limfosit B yang terinfeksi EBV, karena itu dieprlukan pengenalan terhadap self. Sel T
pada penderita arthritis rheumatoid ternyata tidak mampu mengenali limfosit B yang
terinfeksi, dan hal itu dikaitkan dengan kelainan pada gen respons imun. Interaksi
antara factor rheumatoid dengan Fc-IgG dan C1q membentuk kompleks, yang bila
terdapat dalam sendi akan mengawali terjadinya reaksi Arthus. Sel-sel
polimorfonuklear akan melepas enzim lisozom, termasuk proteinase dan kolagenase
yang dapat merusak tulang rawan sendi. Kompleks itu juga akan merangsang sel-sel
synovial yang mirip makrofag untuk melakukan fagositosis. Sebaliknya, makrofag
merangsang limfosit T untuk melepaskan berbagai limfokin, salah satu diantaranya
adalah fibroblast stimulating factor yang merangsang proliferasi fibroblast, dan faktor
kemotaktik yang menarik granulosit ke tempat terjadinya kerusakan. Makrofag yang
teraktivasi melepaskan berbagai mediator diantaranya plasminogen, interleukin-1 dan
prostaglandin E2 (PGE2) yang dapat mengakibatkan osteoklas sehingga terjadi
respons tulang dan mengakibatkan penyakit lebih parah. Beberapa tahun terakhir
diketahui bahwa pada penderita arthritis rheumatoid dapat dijumpai autoantibodi
antiperinuklear yang dikenal juga sebagai anti-kreatin. Antibodi ini mengenali epitope
yang mengandung citrulin yang merupakan bentuk deaminasi dari arginine sehingga
disebut sebagai abti-cyclic-citrulinated peptide (abti-CCP). Citrulinasi adalah konversi

22
arginine menjadi citrulin pasca-translasi oleh enzim yang disebut peptidyl arginine
deaminase (PAD). PAD ini dalam keadaan normal terdapat intraseluler dalam
keadaan inaktif. Selama proses apoptosis yang terjadi dalam sendi penderita arthritis
rheumatoid, PAD keluar dari sel yang mengalami apoptosis dan dapat menyebabkan
citrulinasi arginine ektraseluler. Dari beberapa penelitian memang terungkap bahwa
citrulinasi terutama dalam sel yang mengalami apoptosis. Dalam sinovium sendi
citrulin bertindak sebagai stimulant antigenic untuk menginduksi antibody
anticitrulinated protein (ACPA) saat ini merupakan uji serologic arthritis rheumatoid
yang dianggap cukup sensitive dan spesifik, bahkan beberapa peneliti berpendapat
bahwa keberadaan anti-CCP dalam sirkulasi dapat digunakan sebagai faktor prognosis
dan merupakan predictor untuk progresitivitas penyakit.

Uji Serologik Arthritis Rheumatoid:
a. Faktor Rheumatoid
Ciri utama yang menentukan arthtritis rheumatoid adalah adanya antiglobulin
yang disebut faktor rheumatoid, yaitu suatu autoantibodi terhadap fragmen Fc dari
IgG. Sebagian besar faktor rheumatoid terdiri atas molekul IgM yang dapat
dideteksi dengan cara aglutinasi lateks. Mungkin juga faktor rheumatoid terdiri
atas molekul IgM yang tidak dapat dideteksi dengan cara aglutinasi sehingga
dianggap seronegatif, tetapi dapat dideteksi dengan cara yang lebih sensitive
misalnya dengan cara RIA. Hasil negative palsu mungkin dijumpai bila binding
sites IgM dengan IgG membentuk kompleks yang larut dan tidak menimbulkan
aglutinasi. Namun, kasus yang benar-benar seronegatif juga ada, yaitu bila
arthritis rheumatoid terjadi pada penderita agamaglobulinemia. Terbentuknya anti
IgG diduga merupakan akibat autosensitisasi IgG. Anti-imunoglobulin atau faktor
rheumatoid diproduksi sebagai reaksi terhadap IgG yang mengalami perubahan
konfigurasi. Perubahan konfigurasi atau struktur IgG telah terbukti disebabkan
glikosilasi abnormal pada fragmen Fc dari IgG. Akibat perubahan struktur pada
fragmen Fc ini maka fragmen Fc IgG dianggap asing sehingga menyulut
pembentukan anti-IgG.

b. Antibodi Antinuklear
Antibodi Antinuklear (ANA) seperti yang dijumpai pada SLE juga dapat dijumpai
pada arthritis rheumatoid. Sebab terbentuknya ANA belum diketahui pasti, namun
beberapa hipotesis, menyatakan bahwa pembentukan ANA disebabkan sel B yang
hiperaktif, dan aktivasi klon yang autoreaktif baik karena gangguan sel T-supresor
atau regulator, maupun stimulasi poliklonal terhadap sel B oleh mikroba atau
virus. Akhir-akhir ini terungkap bahwa dalam serum penderita dapat dijumpai
suatu antibody yang ditujukan terhadap antigen nucleus limfosit yang terinfeksi
dengan virus Epstein-Barr. Antibody ini tidak bereaksi dengan nucleus limfosit
normal.

c. Anti-CCP
Autoantibodi yang saat ini paling spesifik untuk arthritis rheumatoid adalah
antibody yang diarahkan kepada antigen atau epitope yang mengalami citrulinasi.
Anti-CCP dapat dijumpai beberapa tahun sebelum muncul gejala erosive sendi
secara klinik. Kadarnya makin meningkat menjelang muncul gejala erosive itu
sehingga dapat digunakan sebagai predictor progresivitas penyakit. Saat ini telah
tersedia test anti-CCP generasi kedua (anti-CCP2) yang lebih sensitive dan
spesifik dibanding test anti-CCP generasi pertama (anti-CCP1) dengan sensitivitas

23
95%. Pengukuran kadar anti-CCP pada awitan penyakit dapat membantu
mengidentifikasi penderita arthritis rheumatoid yang menunjukan seronegatif
untuk faktor rheumatoid.


7. Jelaskan Diagnosis Terkait Autoimunitas!
Fina Hidayat
2013730144


Diagnosis Autoimunitas

A. Uji Aglutinasi
2

Darah merah yang diinkubasi dengan spesifik antigen yang dimurnikan (eg, thyroglobulin),
yang diadsorbsi ke permukaan sel. Antigen sel berlapis yang ditangguhkam dalam serum
pasien, dan antibodi terdeteksi oleh sel darah merah yang teraglutinasi. Antigen yang berlapis
partikel latex diganti untuk sel darah merah dalam fiksasi lateks.
B. Antibodi dalam serum
1,2

Menemukan auto-antibodi dalam serum pada umumnya dilakukan dengan 4 cara yaitu RIA
(Tabel 12.15), ELISA (Tabel 12.16), Imunofluorescent, elektroforsis countercurrent.
Imunofluoresensi merupakan cara yang paling kurang sensitif. RIA memerlukan reagens
mahal. ELISA menghindari penggunaan radioisotop, tetapi memerlukan peralatan khusus,
ELISA sangat sensitif dan kurang prakrtis dibandingkan dengan teknik radioimunassay.
Elektroforesis countecurrent mudah dikerjakan, murah, tetapi relatif insensitif.
Tabel 12.15
Tabel 12.15 Beberapa antibody yang ditemukan dengan RIA
Antibodi Metoda Hasil Relevansi Klinis
dsDNA
125
|-DNA-ikatan direk Presentase atau IU/ml Ikatan LES
Hepatitis kronis
aktif
Antibody
reseptor
asetilkolin
Ikatan direk dengan
125
|-bungarotoksin
dengan asetilkolin
Ikatan dilaporkan
sebagai fmol/l dari
reseptor antibody
spesifik asal Cell Line
Miastenia gravis



24
Tabel 12.16
Tabel 12.16 Beberapa autoantibodi yang ditemukan dengan ELISA
antibodi Autoantigen sasaran Relevansi klinis
Ab mikrosom tiroid Peroksidase tiroid Penyakit tiroid autoimun
Ab mitokondria (M2) Kompleks E2 piruvat
dehydrogenase
Sirosis bilier primer
Ab membrane basal
glomerulus
Terminal C kolagen tipe IV Sindrom Goodpasteur
Nefritis membrane basal
antiglomerulus
cANCA Proteinase 3 Granulomatosis Wegener
pANCA mieloperoksidase Poliarteritis mikroskopis
dsDNA dsDNA LES
Ab fosfolipid Kardiolipin Sindrom antibody
fosfolipid primer

C. Imunofluoresensi
IFT (Imunofluorescent technique) digunakan untuk menemukan banyak autoantibodi dalam
serum. Spesimen biopsi dapat diperiksa dengan cara imunohistikimia. Endapan
imunoglobulin yang terjadi karena reaksi dengan organ atau antigen spesifik untuk jaringan.
Cara ini terutama penting untuk diagnosis penyakit antibodi basal membran glomerulus dan
penyakit bulosa kulit.
Jaringan hewan dapat digunakan bila mengandung antigen sama dengan manusia, tetapi
beberapa autoantigen tebatas pada jaringan manusia atau cell line manusia. Jaringan dibuat
dengan kriostat dan segera dibekukan (-20
0
C). Gambaran nuklear untuk ANAS berguna tetapi
tidak diagnostik. (Tabel 12.19)

Tabel 12.17
Tabel 12.17 IFT indirek untuk antibody non-organ spesifik yang jarang
Autoantibodi Substrat khas Gambaran
pewarnaan
Relevansi klinik
utama
ANA (Anti nuclear
antibody)
Human cell line
(HEp2 atau hati
tikus)
Semua nukleus Tes skrining untuk
penyakit reumatik
Sentromer Hep2 Sentromer
kromosom manusia
Sclerosis sistemik
terbatas (sindrom
CREST)
SMA (Smooth
muscle antibody)
Lambung, hati,
ginjal tikus
Otot polos mis.
Membrane mukosa,
otot kelenjar
intergastrik dan
tunika media arteri
Hepatitis kronis
aktif
Kerusakan hati
nonspesifik (lemah)
AMA
(Antimitochondrial
antibody)
Ginjal, hati,
lambung tikus
Semua mitokondria
terutama tubulus
distal ginjal
Sirosis bilier primer
Antibody
endomisial
Esophagus kera Sarkolemna fibril
otot polos
Penyakit coellac,
dermatitis
herpetiformis
ANCA (Anti-
neutrophil
Neutofil manusia Sitoplasmik
(cANCA)
Granulomatosis
Wegener,

25
cytoplasmic
antibody)
Perinuklear
(pANCA)
poliarteritis
mikroskopik
Banyak bentuk
vaskulitis

Tabel 12.18
Tabel 12.18 IFT indirek untuk antibodi organ spesifik yang sering
Autoantibodi Substrat khas Gambaran
pewarnaan
Ditemukan klinis
utama (referensi
kasus)
Antibody sel parital
gaster
Lambung tikus Hanya sel parital Anemia pernisiosa
Antibody adrenal Adrenal manusia Sel kortikal adrenal Penyakit Addison
idiopatik
Antibody sel pulau
pankreas
Pancreas manusia Pulau sel-
pankreas
IDDM (insulin
dependent diabetes
mellitus)
Antibody kulit Kulit manusia atau
bibir kelinci
Semen interselular
intra-epidermal
Membrane basal
epidermal
Pemphigus vulgaris

Pemfigoid bulosa

Tabel 12.19
Tabel 12.19 Gambaran pewarnaan IFT untuk antibody antinuclear
Gambaran Hubungan dengan penyakit
Bentuk Rim (anular perifer) LES
Nukleolar LES
Bercak (speckled) LES


D. Pemeriksaan komplemen
Meskipun kadar komplemen normal, namun konsumsinya dapat diketahui dngan mengukur
pecaham atau produk aktivitasnya (tabel 12.20).
Tabel 12.20
Tabel 12.20 Interpretasi perubahan komplemen pada penyakit
Ambang Komponen
Jalur aktivasi Contoh
C4 C3 Factor B

N Klasik LES, Vaskulitis

Klasik dan alternative Bakteremia Gram-negatif
Beberapa kasus LES
N

Alternative Autoantibodi C3 NeF
N N Klasik untuk C4 dan C2 saja Angioedema herediter
(defisiensi inhibitor CT)

Peningkatan sintesis
komponen
Inflamasi akut danm kronik



26
8. Jelaskan definisi, etiologi, epidemiologi, patomekanisme, manisfestasi klinis,
penatalaksanaan, prognosis, komplikasi, rencana rujukan, factor genetic penyakit SLE
Reza Achmad Prasetyo
2013 730 169

Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa penyakit lupus eritematosis sebenar nya terbagi
menjadi 3, yaitu lupus eritematosus sistemik, discoid, dan imbas-obat. Untuk laporan pada
kali ini kita angkan memperdalam ilmu mengenai lupus eritematosus sitemik atau yang biasa
kita sebut dengan SLE.

DEFINISI
Lupus, tiap kelompok penyakit kulit yang mempunyai lesi khas berupa erosi.
Chilblain-erythematosus, bentuk lupus yang disebabkan oleh cedera mikrovaskulat akibat
pajanan dingin, diperparah oleh dingin. Lesi awalnya menyerupai chilblain tetapi
kemudianmenyerupai lupus eritematosus discoid. Cutaneous-erythematosus, salah satu dari
dua bentuk utama lupus eritematosus, mungkin kulit menjadi satu-satunya organ atau organ
atau system pertama yang terkena. Biasanya dikelompokkan menjadi kronik, subakut, atau
akut. Discoid-erythematosus (DLE), bentuk lupus eritematosus kutaneus kronik ditandai
dengan adanya macula berwarna merah dilapisi skuama tipis dan lengket yang rontok dann
meninggalkan parut. Lesi seringkali membentuk pola kupu-kupu diatasbatang hidung dan
pipi, tetapi juga dapat timbul didaerah lain. Drug-induced, sindrom yang serupa dengan
lupus ertiematosus sistemik, dicetuskan oleh penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang,
seperti hydralazine, isoniazid, beragam antikonvulsan, atau procainamide. Erythematosus
(LE), sekelompok penyakit jaringan penyambung kronik yang biasanya dikelompokan
sebagai cutaneous erythematosus atau systemic erythematosus. Erythematosus-profundus,
lupus eritematosus kutaneus yang ditandai dengan indurasi keran dan dalam atau nodul
subkutan di kulit. Kulit yang melapisinya dapat menjadi eritema, atrofi, atau membentuk
ulkus, dan pada penyembuhan dapat meninggalpak parut hipotrofi. Erythematosus-tumidus,
varian lupus eritematosis discoid atau sistemik, lesinya berupa plak berwarna merah, ungu,
atau coklat yang meninggi. Hypertrophic-erythematosus, bentuk lupus jenis discoid dengan
lesi verukosa yang hiperkeratotik. Miliaris-disseminatus faciei, bentuk lupus yang ditandai
oleh nodul superfisial dan dikret pada wajah, terutama pada kelopak mata, bibir atas, dagu,
dan cuping hidung. Neonatal, ruam yang menyerupai lupus discoid, kadang disertai dengan
berbagai kelainan sistemik, seperti blockade jantung atau hepatosplenomegali, pada bayi
yang lahir dari ibu yang menderita lupus eritematosus sistemik, penyakit ini biasanya bersifat
jinak dan swasirna. Lupus pernio, mafistasi sarkoidosis pada kulit, terdiri atas plak
berwarna ungu halus dan mengilat pada telinga, dahi, hidung dan jari-jari tangan, sering
disertai dengan kista tulang. Lupus Vulgaris, bentuk tuberkolosis kulit yang berat yang
paling sering dijumpai, biasanya mengenai wajah, ditandai oleh bercak nodul berwarna
merah-coklat di dermis yang secara progresif menyebar ke perifer, menyebabkan atrofi
sentral dan kemudia timbul ulserasi, parut, serta kerusakan jaringan tulang rawan pada bagian
yang terkena.

Systemic lupus erythematosus (SLE), gangguan jaringan penyambung generalisata kronik
yang dapat bersifat ringan hingga fulminans, ditandai oleh adanya erupsi kulit, arthralgia,

27
artritis, leukopenia, anemia, lesi organ, manifestai neurologic, limfadeneopati, demam, dan
berbagai gejala konstitusional lainnya. Mungkin juga terdapat fenomena imunologik yang
abnormal, seperti hipergammaglobulinemia, hipokomplemenemia, kompleks-antigen
antibody, antibody antinuclear, dan sel LE.

Etiologi

Penyebab SLE masih belum di ketahui, tetapi adanya antibody (terhadap antigen-antigen diri)
yang jumlahnya seperti tidak terbatas pada para pasien ini menunjukan bahwa kelainan
mendasar pad SLE adalah kegagalan mekanisme yang mempertahankan toleransi diri.
Terdapat antibody terhadap beragam komponen nucleus dan sitoplasma sel yang tidak
spesifik terhadap organ atau spesies. Selain itu, terdapat kelompok ketiga dari antibody yang
di tunjukan pada antigen permukaan sel darah. Selain manfaatnya dalam diagnosis dan
penanganan pasien SLE, antibody-antibodi inimemiliki maknsa patogenetik yang besar,
misalnya pada glomerulonephritis yang diperantarai kompleks imun yang sangat khas untuk
penyakit ini.

Patogenesis
ANA ditunjukan pada beberapa antigen Nukleus dan dapat dikelompokan ke dalam empat
kategori, yakni antibody terhadap DNA, natibodi terhadap histon, antibody terhadap protein
non-histon, dan anti bodi terhadap antigen nucleus. Terdapat beberapa teknik untuk
mendeteksi ANA. Di klinik, metode yang paling sering digunakan adalah imunofluoresensi
tidak langsung, yang mendeteksi beragam antigen nucleus, termasuk DNA, RNA, dan protein
(yang secara kolektif disebut ANA generic). Pola fluoresensi nucleus mengisyaratkan jenis
antibody yang ada dalam serum pasien. Terdapat empat pola dasar.
Pewarnaan nucleus yang homogeny atau difus, biasanya mencerminkan antibody
terhadap kromatin, histonm dan kadang-kadang DNA untai ganda (dsDNA)
Pewarnaan berpola cincin atau tepi, terutama menunjukan antibody terhadap DNA
untai ganda.
Pola bercak (speckled pattern) merujuk pada adanya bercak-bercak yang berukuran
seragam atau bervariasi. Ini adalah salah satu pola yang paling sering ditemukan pada
fluoresensi sehingga paling kurang spesifik. Pola ini mencerminkan adanya antibody
terhadap konstituen nucleus non-DNA. Contohnya adalah antigen Sm,
ribonukleoprotein, serta antigen reaktif SS-A dan SS-B.
Pola nucleus merujuk pada adanyabeberapa titik disret fluoresensi di dalam nucleus
dan mencerminkan antibody terhadap RNA nucleolus. Pola ini paling sering
dilaporkan pada pasien dengan sclerosis sistemik.

28

Pola fluoresensi tidak mutlak bersifat spesifik untuk jenis antibody, dank karena mungkin
terdapat banyak autoantibodi, kombinasi pola sering dijumpai. Uji imuniflouresensi untuk
ANA positif hamper semua pasien SLE. Oleh akrena itu, penemeriksaan ini sensitive, tetapi
tidak spesifik karena penyakit autoimun lain sering kali memberikan hasil positif. Selain itu,
sekitar 5% sampai 15% orang normal memiliki berbagai antibody ini dalam kadar rendah,
insidensnya meningkat seiring dengan pertambahan usia.
Untuk mendeteksi antibody terhadap antigen nucleus spesifik diperlukan teknik-teknik
khusus. Dari berbagai system pemeriksaan antibody-antigen nucleus. Antibody terhadap
DNA untai ganda dan antigen Smith (Sm) hampir pasti menegakan diagnosis SLE.
Meskipun tidak sempurna, terdapat kolerasi antara ada tidaknya ANA tertentu dengan
manifestasi klinis. Contohnya, antibody DNA untai ganda titer tinggi biasanya berkaitan
dengan penyakit ginjal aktif. Sebaliknya risiko nefritis akan rendah jika terdapat antibody anti
SS-B.
Selain ANA pasien lupus juga memiliki sejumlah antibody lain. Sebagian ditunjukan pada
unsur-unsur darah, misalnya sel darah merah, trombosit, dan limfosit; yang lain ditujukan
pada protein-protein yang berikatan denga fosfolipid. Pada thaun-tahun terakhir, perhatian
banyak ditujukan pada sindrom antibody antifosfolipid. Sindrom ini terdapat pada 40%
sampai 50% pasien lupus. Meskipun awalnya diperkirakan ditujukan pada fosfolipid anionic,
antibody-antibodi tersebut sebenarnya ditujukan pada epitope-epitop protein plasma yang
terpapar ketika protein berikatan dengan fosfolipid. Berbagai substrat protein diperkirakan
berperan, termasuk protrombin, aneksin V, beta2-glikoprotein I, protein S, dan protein C.
antibody terhadap kompleks fosfolipid-beta2 glikoprotein juga berikatan dengan antigen
kardiolipin, yang digunakan dalam serologi sifilis sehingga pasien lupus dapat memiliki hasil
positif-palsu pada pemeriksaan serologi untuk sifilis. Sebagian dari antibody ini menggangu
uji pembekuan secara in vitro, misalnya waktu tromboplastin parsial. Oleh karena itu,
antobodi-antibodi ini terkadang disebut sebagai antikoagulan lupus. Meskipun memiliki
antikoagulan dalam darah yang memperlambat pembekuan secara in vitro, pasien pasien ini
tetap mengalami hambatan yang berkaitan dengan keadaan hiperkoagulabilitas. Mereka

29
mengalami thrombosis vena dan arteri, yang dapat menyebabkan abosrtus spontan berulang
dan iskemia fokal di otak atau mata. Kumpulan gejala klinis ini, jika berkaitan dengan lupus,
disebut sebagai sindrom antibody antifosfolipid sekunder. Pathogenesis thrombosis pada
pasien tidak diketahui. Mekanisme mekanisme yang mungkin berperan dibahas di bab 4.
Sebagian pasien membentuk autoantibodi ini dan memperlihatkan sindrom klinis tanpa SLE.
Mereka dikatakan mengidap sindrom antifosfolipif primer.
Begitu banyak autoantibodi yang ditemukan, tetapi kita tetap belum mengetahui mekanisme
kemunculan antibody-antibodi tersebut. Saat ini, terdapat tiga factor yang berkonvergensi dan
dieprkirakan berperan; predisposisi genetuk, beberapa factor nongenetik (lingkungan), dan
kelainan fundamental dalam system imun.

Epidemiologi

Pada dasarnya, penyakit lupus eritematosus dapat menyerang semua kalangan. Di karenakan
tindakan preventif atau tindakan pencegahan yang belum dapat diketahui secara pasti, baik di
Indonesia maupun di Negara manapun. Belum ada tindakan yang dapat menccegah lupus
eritematosus secara pasti, dan belum ada vaksin ataupun imunisasi untuk penyakit ini.
Akan tetapi menurut beberapa kasus yang telah terjadi, lupus eritematosus seringkali
menyerang wanita. Dan kuantitas dari penyakit lupus eritematosus ini lebih banyak pada
wanita dibandingkan dengan pria.
SLE merupakan penyakit yang relative sering, dengan prevalensi yang dapat mencapai 1 dari
2500 pada populasi tertentu. Serupa dengan banyak penyakit autoimun lainnya. SLE terutama
mengenai wanita, dengan ferkeuensi 1 dari 700 wanita berusia subur dan rasio wanita
terhadap pri 9:1. Sebagai perbandingan, rasio wanita terhadap pria untuk penyakit yang
timbul pada masa anak atau setelah usia 65 tahun menjadi 2:1. Penyakit ini lebih sering
dijumpai dan lebih parah pada wanita amerika keturunan afrika. Meskipun biasanya muncul
pada usia 20-an dan 30-an, SLE dapat muncul pada semua usia bahkan pada masa anak-anak
dinis.
Factor Genetik
SLE adalah suatu sifat genetic yang kompleks dengan kontribusi gen-gen MHC dan non-
MHC. Banyak bukti yang mendukung adanya predikposisi genetic.
Anggota keluarga pasien memperlihatkan peningkatan resiko untuk mengidap SLE.
Sebanyak 20% anggota keluarga dekat asimptomatik dari pasien SLE memiliki
autoantibodi dan kelainan imunoregulatorik lainnya.
Angka concordance (kesamaan) lebih tinggi (>20%) pada gambar monozigot
dibandingakan dengan kembar dizigot (1% - 3%). Kembar monozigot yang discordant
untuk SLE (satu kembar mengalami SLE dan yang lainnya tidak) memiliki pola dan
titer autoantibodi yang serupa. Data data ini mengisyaratkan bahwa susunan genetic
mengendalikan pembentukan autoantibody, tetapi ekspresinya penyakit (yi. Cedera
ringan) dipengaruhi oleh factor non genetic (mungkin lingkungan).
Studi studi tentang keterkaitan HLA juga menunjang konsep bahwa gen gen MHC
lebih mengendalikan produksi autoantibodi spesifik keseimbangan menimbulkan
perdisposisi umum untuk SLE. Alel alel spesifik lokus HLA-DQ dilaporkan berkaitan
dengan pembentukan anti DNA untai ganda anti Sm, dan antibody antifosfolipid.

30
Sebagian pasien lupus (sekitar 6%) mewarisi defisiensi komponen komponen awal
komplemen seperti C2, C4, dan C1q. ketidakadaan komplemen dapat menggangu
pembersihan kompleks imun dalam darah oleh system fagosit mononukleus sehingga
kemungkinan mendapat kompleks imun dijaringan lebih besar. Mencit yang secara
genetic dibuat tidak memiliki C4 atau reseptor yang komplemen tentu juga rentan
mengalami autoimunitas yang mirip dengan lupus. Berbagai mekanisme diduga
berperan termasuk kegagalan untuk membersihkan komplek imun dan hilang
toleransi-diri sel B terdapat pemikiran bahwa defisiensi C1q menyebabkan kegagalan
pembersihan sel sel apoptotic oleh system fagosit. Sel sel apoptotic ini berbentuk
secara normal. Jika tidak dibersihkan, komponen komponen nukelus dapat memicu
repons imun.
Pada model hewan dengan SLE teridentifikasi beberapa lokus kerentanan non-MHC.
Model hewan yang paling baik diketahui dengan galur mencit (NZBxNZW)f1. Pada
berbagai versi galur ini diperkirakan bahwa penyakit SLE berkaitan dengan hingga 20
lokus.
Perjalanan Penyakit

Sebelumnya telah jelas bahwa SLE adalah penyakit multi system dan gambaran klinisnya
sangat berfariasi. Biasanya pasien adalah seorang wanita dengan sebagian tidak harus
semua, gambaran berikut, yakni ruam kupu2 di wajah, demam, nyeri di sendi perifer
(kaki, pergelangan kaki, lutut, paha, jari tangan, pergelangan tangan, siku, bahu), tetapi
tanpa deformatis nyeri dada pleuritik dan fotosinsetivitas. Namun, pada banyak pasien
gambaran SLE tampak samar dan membingungkan, yaitu berupa penykit demam yang
tidka jelas sebabnya, kelainan ureine atua penyakit sendi yang mirip dengan artritis
rheumatoid atau demam reumatik. ANA dapat ditemukan pada hampir 100% pasien dan
juga ditemukan pada pasien dengan penyakit autoimun. Seperti yang disinggungkan
sebelumnya, antibiotic terhadap DNA untai-ganda dan antigen Sm hampir diagnostic
untuk SLE. Bebrbagai ditemukan gejala klinis dapat ditujukan keterlibatan ginjall,
termasuk hematuria, silinder eritrosit, proteinuria dan pada sebagian kasus sindrom
nefrotik klasik. Bukti laboratorium gangguan hematologic dijumpai pada hampir semua
pasien, tetapi pada sebagian pasien, keluhan utama adalah masalah klini yang dominan
adalah anemua atau trombositopenia. Pada pasien lainnya yang menjadi masalah klinis

31
dominan adalah gangguan mental termasuk psikologis atau kejang atau penyakit areteri
coroner. Pasien SLE juga rentan terhadap infeksi mungkin karena adanya disfungsi imun
dan terapi dengan obat imunosupresif.
Perjalanan penyakit SLE bervariasi dan sulit diduga beberapa kasus akut yang jarang
menyebabkan kematian dalam beberapa minggu sampai bulan. Namun dengan terapi
yang sesuai penyakit biasanya memperlihatkan perjalan kambung dan reda dalam periode
beberapa tahun atau bahkan beberapa decade. Selama kekambuhan akut, peningkatan
pembentukan kompleks imun dan pengaktifan komplemen menyebabkan
hipokomplementemia. Eksaserbasi penyakit biasanya diterapi dengan kortikosteroid atau
imunosupresan lainnya. Bahkan tanpa pengobatan, sebagian pasien perjalanan penyakit
berlangsung ringan dan hanya berupa kelainan kulit dan hemutria ringan selama bertahun.
Diagnosis dan Gejala Klinis

Berikut table kriteria dari gejala klinis dari penyakit SLE secara lengkap. Table diatas
merupakan kriteria yang seharusnya muncul pada penderita lupus eritematosus. Untuk
menegakan diagnosis, minimal 4 dari 11 kriteria yang telah disebutkan diatas terdapat
pada pasien. Dengan begitu kita dapat melakukan diagnosis yang lebih pasti dan lebih
tepat.
Gejala klinis yang paling sering muncul yaitu malar rash, test ANA positif, sensitive
terhadap paparan sinar matahari dan artritis pada sendi. Merupakan 4 hal yang biasanya
paling sering muncul pada pasien dengan lupus eritematosus.

32

Penatalaksanaan

Tindakan preventif (penderita SLE)
Belum ada obat atau tindakan yang dapat menghindari pasien SLE dari penyakit ini, atau
tindakan penyembuhan nya secara pasti. Akan teteapi pasien SLE bisa menghindari beberapa
hal yang bertujuan untuk mengurangi manifestasi klinis yang di sebabkan penyakit ini, yaitu :
Hindari keletihan atau stress fisik yang berlebihan
Hindari stress mental yang berlebihan
Hindari paparsan sinar matahari langsung yang menyengat kulit
Jangan merokok

33
Hindari penggunan obat yang sekira nya tidak diperlukan yang dapat
menyebabkan komplikasi pada penyakit ini
Terapi Medikamentosa


34




Monitoring (pengawasan) pasien SLE

35



36

Prognosis
Dengan terapi dan pengawasan secara aktif, pasien bisa sangat membaik dan diharapkan
angsa kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 90% dan 10 tahun sebesar 80%. Kausa kematian
tersering adalah gagal ginjal dan infeksi. Penyakit arteri coroner kini juga menjadi penyebab
kematian yang penting. Pasien yang di terapi dengan steroid dan obat imunsupresan memiliki
resiko yang berkaitang dengan terapi ini.
Seperti uraian sebelumnya, keterlibatan kulit bersama dengan berbagai system lain cukup
sering terjadi pada SLE. Selain itu dikenali adanya dua sindrom local kelainan kulit sebagai
gambaran yang paling menonjol atau satu-satunya.
Komplikasi
Ginjal
Glomerulonephritis lupus mesangial
Glomerulonephritis proliferative local
Glomerulonephritis proligferative difus
Glomerulonephritis membranosa
Fluoresensi kulit terutama hipersensitivitas terhadap sinar matahari
Artritis sendi
Kerusakan susunan saraf pusat
Pericarditis dan kerusakan rongga serosa lainnya
Pembesaran Limpa
Pleuritis dan efusi pleura

37
Vaskulitis akut
Rencana Rujukan
Pada saat melakukan diagnosis, terutama bila pasien memenuhi minial 4 dari 11 kriteria
wajib penyakit lupus eritematosus kita harus melakukan diagnosis apakah lupus pada pasien
tersebut menyerang pada jaringana spesifik organ atau tidak. Hal yang penting lainnya yaitu
kita harus membedakan 3 pembagian utama pada penyakit ini, yaitu sistemik, discoid, atau
imbas obat. Yang terparah dari ketiga pembagian tersebur ialah lupus eritematosus sistemik,
karena bisa menyebabkan komplikasi pada suatu spesifik organ. Bila sudah dapat dipastikan
pasien menderita SLE dan sudah menyerang suato organ, sangat penting bagi kita untuk
melakukan rujukan kepada dokter dengan spesialisasi dari organ yang terserang pada pasien
tersebut. Dan biasanya paling sering dilakukan rujukan kepada spesialis kulit dan kelamin
karena manifestasi klinis pada organ kulit pasien SLE seringkali muncul.
Referensi
Robbins, Stanley L. Cotran, Ramzi S. 2010. Dasar Patologis Penyakit, edisi 7. Jakarta;
penerbit buku kedokteran EGC.
Dorland,Newman . 2002. Kamus kedokteran DORLAND edisi 29. Jakarta; penerbit buku
kedokteran EGC.

9. Jelaskan definisi, etiologi, epidemiologi, patomekanisme, manisfestasi klinis,
penatalaksanaan, prognosis, komplikasi, rencana rujukan, factor genetic penyakit RA!
Topan Muhamad Nur
NIM : 2013730184
Definisi
Reumatoid artritis adalah penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik
kronik dan progresif, dimana sendi merupakan target utama. Manifestasi klinik klasik
reumatoid atritis adalah poliartritis simetrik yang terutama mengenai sendi-sendi kecil pada
tangan dan kaki, selain lapisan sinovial sendi, AR juga bisa mengenai organ-organ diluar
persendian seperti kulit, jantung, paru paru, dan mata. Mortalitasnya meningkat akibat adanya
komplikasi kardiovaskular, infeksi, penyakit ginjal, keganasan dan adanya komorbiditas.
Epidemiologi
Kasus Ar di indonesia merupakan kasus baru pada tahun 2000-2007 dari keseluruhan
jumlah pasien yang datang. Tercatat sebanyak 203 pasien kasus AR dari 1364 orang pasien
yang datang 15,1%. Prevalensi AR lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan
laki laki dengan rasio 3:1. Dan dapat terjadi pada semua kelompok umur, dengan angka
kejadian lebih tinggi pada dekade keempat dan kelima
Etiologi
-Faktor genetik
Faktor genetik berperan penting pada AR, dengan angka kepeekaan dan ekspresi
penyakit sebesar 60%, hubungan gen HLA-DRB1 dengan kejadian AR telah diketahui

38
dengan baik, walaupun beberapa lokus non-HLA juga berhubungan dengan AR, seperti
daerah 18q21 dari gen TNFRSR11A yang mengkode aktivator reseptor nucklear factor kappa
B (NF-kB). Gen ini berperan penting dalam resorpsi tulang pada AR
-Hormon Sex
Ar lebih sering terjadi pada wanita maka hormon sex pasti berpengaruh dalam perkembangan
penyakit AR

-Faktor infeksi
Beberapa virus dan bakteri diduga sebagai agen penyebab terjadinya reumatoid artritis
Agen infeksi Mekanisme patogenik
Mycoplasma Infeksi sinovial langsung, superantigen
Parvovirus b 19 Infeksi sinovial langsung
Retrovirus Infeksi sinovial langsung
Enteric bacteria Kemiripan molekul
Mycobacteria Kemiripan molekul
Epstein-barr virus Kemiripan molekul
Bacterial cell walls Aktifasi makrfag

Oganisme tersebut diduga menginfeksi sel induk semang (host) dan merubah reaktivitas atau
respon sel T sehingga mencetuskan timbulnya penyakit.
Faktor Risiko
Faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya AR antara lain jenis kelamin
perempuan, riwayat keturunan pernah menderita AR, konsumsi kopi berlebihan, merokok,
umur, makanan tinggi vitamin D.
Patofisiologi
Kerusakan sendi pada AR dimulai dari piliferasi makrofag dan fibroblas sinovial
setelah adanya faktor pencetus berupa autoimun atau infeksi. Limfosit menginfiltrasi daerah
perivaskular dan terjadi poliferasi sel-sel endotel, yang selanjutnya terjadi neovaskularisasi.
Pembuluh darah pada sendi yang terlibat mengalami oklusi oleh bekuan bekuan kecil atau sel
inflamasi. Terjadi pertumbuhan yang iregular pada jaringan sinovial yang mengalami
inflamasi sehingga membentuk jaringan pannus. Pannus menginvasi dan merusak rawan
sendi dan tulang. Berbagai macam sitokinin. Interleukin, proteinase dan faktor pertumbuhan
dilepaskan.sehingga mengakibatkan destruksi sendi dan komplikasi sistemik.
Manifestasi Klinis
Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada penderita atritis rematoid.
Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena
penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi:
1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun dan
demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.

39
2. Polioatritis simeris terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan,
namun biasanya tidak melibatkan sendi sendi interfalangs distal. Hampir semua sendi
diartrodial dapat terserang
3. Kekakuan pada pagi hari selama lebih dari 1 jam dapat bersifat generalisata tetapi
terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada
osteoatritis, yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu
kurang dari 1 jam
Penatalaksanaan

OAINS berupa aspirin (dibawah 65 tahun dosis 3-4 x 1 gr/hari), Ibuprofen,
naproksen, piroksikam, diklofenak dsb.
DMARD (disease modifying antirheumatoid drugs) jika respon OAINS tidak baik.
Seperti klorokuin, sulfasalazin, D-penisilamin, garam emas, obat imunosupresif,
kortikosteroid.
Pembedahan (jika berbagai cara pengobatan tidak berhasil)

Rehabilitasi (untuk meningkatkan kualitas hidup pasien)
Mengistirahatkan sendi yang terlibat
Modalitas terapi fisis seperti pemanasan, pendinginan, peningkatan ambang rasa
nyeri melalui arus listrik
Pemakaian alat bidai, tongkat, kursi roda, dll
Alat ortotik protetik
Occupational therapy
Mengurangi rasa nyeri
Mencegah terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi
Mencegah terjadinya atrofi dan kelemahan otot
Mencegah terjadinya deformitas
Meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri
Memperthankan kemandirian sehingga tidak bergantung pada orang lain
Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien mengenai penyakitnya dan
penatalaksanaan yang akan dilakukan


Prognosis
Prediktor prognosis buruk pada kasus AR adalah : skor fungsional yang rendah, status
sosialekonomi rendah, tingkat pendidikan rendah, ada riwayat keluarga penderita AR,
melibatkan banyak sendi, nilai cr CRP atau LED tinggi saat permulaan penyakit, RF atau anti
CCP positif, ada perubahan radiologis pada awal penyakit, ada nodul rematoid/ manifestasi
ekstraartikular lainnya.
Komplikasi
Komplikasi dari penyakit AR antara lain:
-anemia
-kanker

40
-komplikasi kardiak
-penyakit tulang belakang
-gangguan mata
-pembentukan fistula
- peningkatan infeksi
- deformitas sendi tangan
- deformitas sendi lainya
-komplikasi pernafasan
-nodul reumatoid
-vaskulitis

10. Jelaskan prinsip pengobatan autoimun
Harishal Aryaputra
2013730147
PRINSIP PENGOBATAN PENYAKIT AUTOIMUN
Pengobatan auto imun pada umumnya belum memuaskan, dua strategi utaMA
adalah menekan respons imun atau menggantikan fungsi organ yang terganggu/rusak. Pada
banyak penyakin yang organ spesifik, mengontrol metabolism biasanya sudah cukup,
misalnya pemberian tiroksin pada miksedem primer, insulin pada DM juvenile, vitamin B12
pada anemia pernisiosa dan obat anti-tiroid pada penyakit Grave. Pada banyak penyakit
auto imun seperti LES, AR, imunosupresan mungkin merupakan cara utama yang dapat
mencegah cacat yang berat atau kematian. Namun imunosupresan yang ada masih terbatas
karena kurang spesifik dan efek sampingnya yang toksik berbagai cara masih sedang
dikembangkan.
Pengobatan memerlukan kontrol reaksi autoimmune dengan menekan sistem
kekebalan tubuh. Tetapi, beberapa obat digunakan reaksi autoimmune juga mengganggu
kemampuan badan untuk berjuang melawan penyakit, terutama infeksi.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti azathioprine,
chlorambucil, cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan methotrexate, sering
digunakan, biasanya secara oral dan seringkali dengan jangka panjang. Tetapi, obat ini
menekan bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan badan untuk membela diri
terhadap senyawa asing, termasuk mikro-jasad penyebab infeksi dan sel kanker.
Kosekwensinya, risiko infeksi tertentu dan kanker meningkat.

41
Sering, kortikosteroid, seperti prednison, diberikan, biasanya secara oral. Obat ini
mengurangi radang sebaik menekan sistem kekebalan tubuh. KortiKosteroid yang digunakan
dlama jangka panjang memiliki banyak efek samping. Kalau mungkin, kortikosteroid dipakai
untuk waktu yang pendek sewaktu gangguan mulai atau sewaktu gejala memburuk. Tetapi,
kortikosteroid kadang-kadang harus dipakai untuk jangka waktu tidak terbatas.
Ganggua autoimun tertentu (misalnya, multipel sklerosis dan gangguan tiroid) juga
diobati dengan obat lain daripada imunosupresan dan kortikosteroid. Pengobatan untuk
mengurangi gejala juga mungkin diperlukan.
Etanercept, infliximab, dan adalimumab menghalangi aksi faktor tumor necrosis
(TNF), bahan yang bisa menyebabkan radang di badan. Obat ini sangat efektif dalam
mengobati radang sendi rheumatoid, tetapi mereka mungkin berbahaya jika digunakan
untuk mengobati gangguan autoimun tertentu lainnya, seperti multipel sklerosis. Obat ini
juga bisa menambah risiko infeksi dan kanker tertentu.
Obat baru tertentu secara khusua membidik sel darah putih. Sel darah putih
menolong pertahanan tubuh melawan infeksi tetapi juga berpartisipasi pada reaksi
autoimun. Abatacept menghalangi pengaktifan salah satu sel darah putih (sel T) dan dipakai
pada radang sendi rheumatoid. Rituximab, terlebih dulu dipakai melawan kanker sel darah
putih tertentu, bekerja dengan menghabiskan sel darah putih tertentu (B lymphocytes) dari
tubuh. Efektif pada radang sendi rheumatoid dan dalam penelitain untuk berbagai gangguan
autoimun lainnya. Obat lain yang ditujukan melawan sel darah putih sedang dikembangkan.
Plasmapheresis digunakan untuk mengobati sedikit gangguan autoimun. Darah
dialirkan dan disaring untuk menyingkirkan antibodi abnormal. Lalu darah yang disaring
dikembalikan kepada pasien. Beberapa gangguan autoimun terjadi tak dapat dipahami
sewaktu mereka mulai. Tetapi, kebanyakan gangguan autoimun kronis. Obat sering
diperlukan sepanjang hidup untuk mengontrol gejala. Prognosis bervariasi bergantung pada
gangguan.
















42
Daftar Pustaka

Baratawidjaja, Karnen Garna. 2014. Imunologi Dasar. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Sherwood, Lauralee. 2013. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem Edisi 6. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Baratawidjaja, Karnen Garna, Iris Renggani. 2010. Imunologi Dasar FK UI ed 10.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Robbins, Stanley L. Cotran, Ramzi S. 2010. Dasar Patologis Penyakit, edisi 7. Jakarta;
penerbit buku kedokteran EGC.
Misnadiarly. 2006. Diabetes Mellitus: Gangren, Ulcer, Infeksi. Jakarta: Pustaka Populer
Obor.
Sudoyo, Aru W. dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi IV.Jakarta:
Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.

Maxine, A.Papadakis, Lawrence M. Tierney Jr., Stephen J. McPhee. 2005. Current

Medical Diagnosis & Treatment 2005, e/44. The McGrow-Hill Companies.
Dorland ,Newman . 2002. Kamus kedokteran DORLAND edisi 29. Jakarta; penerbit
buku kedokteran EGC.

Baughman, Diane C. 1996. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran.