Anda di halaman 1dari 3

KONFLIK SEGITIA: RUSIA-EROPA-AS MANA TEMAN DAN MANA LAWAN?

Diawali dengan hitungan NATO yang anggap Ukraina sangat strategis sehingga perlu
dirangkul NATO serta masuk ke EU. NATO dan EU pun membujuk agar Ukraina
meninggalkan sekutu lamanya Rusia dan beralih ke NATO dan EU.
Ukraina sendiri terpecah yang bagian Barat lebih suka ke NATO dan EU serta yang Timur
lebih suka ke Rusia. Jadilah, konflik tajam dan berdarah.
Rusia seperti juga NATO memandang Ukraina adalah strategis bagi kepentingannya apalagi
Ukraina sekutu lamanya yang terpenting selama ini. Jadilah, saat Ukraina rusuh maka Rusia
pun mendukung Ukraina Timur dalam hal ini Crimea untuk gabung ke Rusia.
EU dan AS pun meradang karena ikut campur Rusia dalam konflik Ukraina. Lalu terjadilah
saling ancam dan akhirnya saling jatuhkan sanksi dan akan meluas menjadi perang ekonomi.
Nah, di titiik perang Ekonomi inilah menjadi menarik sebenarnya siapa lawan dan siapa
kawan?
Awalnya peta konfliknya adalah Rusia melawan EU dan AS. Tapi tampaknya Rusia
menggunakan senjata yang justru akan membuat EU sangat mungkin malah berpaling
berdekatan ke Rusia dan "tinggalkan" Amrik.
Alasan kenapa EU malah akhirnya bisa "berbalik" ke Rusia dan membangun aliansi dagang
dengan Rusia semakin akrab, adalah sebagai berikut:
Pertama, alasan Fundamentalis. Secara energi EU benar-benar amat tergantung pada Rusia.
Rusia bisa hentikan pasokan energinya. Jika senjata energi ini digunakan maka Jerman sang
pemimpin EU akan paling terpukul karena kebutuhan energi besar dari Rusia, disisi lain
Jerman sendiri punya tanggung jawab membantu negara2 EU yang belum pulih dari krisis
sama sekali seperti Yunani, Portugal, termasuk Spanyol dan Italia. Saat ini Jerman berada di
puncak tertinggi prestasi ekonominya sehingga dia bisa menjadi penyanggah saat EU krisis.
Apa yang terjadi jika industri Jerman "ambrol" karena krisis energi akibat boikot energi dari
Rusia? Ini akan membuat krisis EU masuk labirin panjang.
Tentu saja senjata energi ini juga akan memukul Rusia karena gasnya juga tidak laku terjual.
Sekarang tinggal kuat2an saja apakah EU atau Rusia yang paling kuat bertahan.
Kedua, alasan Pragmatis. Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa EU bersatu dalam EURO
dengan segala ongkos yang harus dibayarnya itu dengan satu tujuan nyata: Ingin
mengimbangi dan mengalahkan mata uang USD dalam perdagangan internasional.
Saat ini Rusia menggunakan senjata ekonomi yaitu pembayaran tanpa USD dollar
perdagangan internasional. Rusia sangat mungkin saat dagang dengan EU pakai Euro. Lha
bukan kah dengan strategi ini justru Euro akhirnya menjadi mata uang terkuat di dunia dan
hegemoni dunia akan dipegang Euro, bukan USD lagi.
Kalau ini terjadi, dimana mata uang Euro menggantikan USD sebagai mata uang
internasional maka akan mudah bagi Bank Central Eropa lepas dari krisis EU. Bank Central
EU akan lebih leluasa mencetak uang sebanyak2nya untuk bailout. Cara "dirty dan ugly" ini
terbukti sukses besar dilakukan US selama ini untuk mengatasi krisis di negaranya.
Dari 2 alasan ini jika EU bisa berdamai dengan Rusia justru "Perang Ekonomi" ini malah
menguntungkan posisinya mengalahkan rival ekonomi bebuyutannya yaitu US. Bagi Eropa
sesungguhnya rival ekonominya bukan Rusia tapi US. Jadi, justru "perang ekonomi" ini
malah membuat EU bisa membuat posisinya menguntungkan mengambil alih kepemimpinan
US.
Disisi lain, jika EU tetap bersama US dan melawan Rusia maka yang terpukul adalah EU.
Dalam perang ekonomi ini pukulan Rusia dengan senjata pasokan energinya memukul Eropa
langsung di jantung kehidupannya. Sementara US "asyik-asyik" aja menikmati EU dan Rusia
berperang paling-paling membantu EU dengan membekukan asset Rusia di Amrik. Lha
bagaimana jika Rusia membalasnya dengan menasionalisasi perusahaan EU yang di Rusia?
Padahal begitu banyak perusahaan Jerman dan EU beroperasi di Rusia. Apakah EU tidak
semakin babak belur?
Orang Eropa juga sudah tahu bahwa yang membuat US saat ini bisa memimpin dunia
sekarang ini, karena Eropa sering kali menjadi korban atas perang di benuanya sendiri. Jadi,
akan kah Eropa mau "berdarah-darah" lagi dalam perang Ekonomi ini sementara US akan
menikmati "keuntungan" ganda yaitu Eropa sebagai rival ekonomi-nya lumpuh, sementara
Rusia sebagai rival militernya terpuruk.
Eropa pasti berhitung tidak mau ini terjadi. Masalahnya, Eropa punya dilemma moral. Mosok
dia akan biarkan saja Putin berbuat sesuatu terhadap Ukrania di depan mata Eropa? Bisa
remuk wajah harga diri bangsa Eropa.
Nah, jika perang ekonomi ini benar2 ingin terus dilangsungkan maka tinggal pinter-pinter
Putin dan Rusia menjaga "muka bangsa Eropa", jika Putin berhasil maka pecundang dalam
perang ekonomi ini adalah US
Terkecuali jika ini semua cuma panggung sandiwara belaka... ah, dunia ini panggung
sandiwara, ceritanya mudah berubah...
Dari Tepian Lembah Sungai Elbe