Anda di halaman 1dari 17

8

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Landasan Teori
2.1.1 Kemampuan Komunikasi Matematika
2.1.1.1 Kemampuan
Kemampuan secara umum diasumsikan sebagai kesanggupan untuk
melakukan atau menggerakkan segala potensi yang dimiliki agar dapat memaknai
atau menangkap segala perisitiwa disekitarnya. Dalam kamus bahasa Indonesia
Depniknas (dalam Machmud 2010 :19) kemampuan didefinisikan sebagai
kesanggupan kecakapan, atau kekuatan berusaha.
Dalam matematika, kemampuan siswa sangat diperlukan dalam
pemahaman materi yang akan diberikan guru. Kemampuan yang harus dipelajari
dan dikuasai para siswa selama proses pembelajaran matematika di kelas menurut
De Lange (dalam Ibrahim 2011: 14) adalah: 1) berpikir dan bernalar secara
sistematis (mathematical thinking and reasoning); 2) berargumentasi secara
sistematis (mathematical argumentation); 3) berkomunikasi secara matematika
(mathematical communication); 4) pemodelan (modeling); 5) penyusunan dan
pemecahan masalah (problem posing and solving); 6) representasi
(representation); 7) simbol (symbols) dan 8) alat dan teknologi (tools and
technology). Dari pendapat De Lange ini menunjukkan pentingnya mempelajari
matematika dalam menata kemampuan berpikir para siswa, bernalar, memecahkan
masalah, berkomunikasi, mengaitkan materi matematika dengan keadaan
sesungguhnya, serta mampu mengunakan dan memanfaatkan teknologi.

9




Menurut NCTM (National Council of Teachers of Mathematics) (dalam
Ibrahim 2011:15) Kemampuan matematika adalah kemampuan untuk
mengeksplorasi, menyusun konjektur, dan memberikan alasan secara logis,
kemampuan untuk menyelesaikan masalah non rutin, mengkomunikasikan ide
mengenai matematika dengan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi,
menghubungkan ide-ide dalam matematika, antara matematika dan kegiatan
intelektual lainnya.
Disimpulkan bahwa kemampuan matematika adalah kemampuan siswa
dalam menyelesaikan masalah yang diberikan guru dalam materi matematika
dengan memberikan jawaban maupun alasan yang logis atas pertanyaan yang
diberikan.

2.1.1.2 Komunikasi Matematika
Menurut Hulukati (dalam Usman 2012:12), 'Komunikasi matematika
dapat diartikan sebagai suatu peristiwa saling hubungan/dialog yang terjadi dalam
suatu lingkungan kelas. Pihak yang terlibat dalam peristiwa komunikasi di
lingkungan kelas adalah guru dan siswa. Sedangkan cara pengalihan pesan dapat
secara tertulis maupun lisan.
Menurut LOCOE (dalam Mahmudi 2009:3). Komunikasi matematika
mencakup komunikasi tertulis maupun lisan atau verbal. Komunikasi tertulis
berupa penggunaan kata-kata, gambar, table, dan sebagainya yang
menggambarkan proses berpikir siswa. Sedangkan komunikasi lisan dapat berupa
mengungkapkan dan penjelasan verbal suatu gagasan matematika. Komunikasi
10




lisan dapat terjadi melalui interaksi antar siswa misalnya dalam pembelajaran
dengan setting diskusi kelompok.
Selanjutnya menurut NCTM (National Council of Teachers of
Mathematics) (dalam Mahmudi 2009:3) terkait dengan komunikasi matematika,
dalam Principles and Standards for School Mathematics disebutkan bahwa
standar kemampuan yang seharusnya dikuasai oleh siswa adalah sebagai berikut :
(1). Mengorganisasi dan mengkonsolidasi pemikiran matematika dan
mengkomunikasikan kepada siswa lain, (2). Mengekspresikan ide-ide matematika
secara koheren dan jelas kepada siswa lain, guru, dan lainnya, (3). Meningkatkan
atau memperluas pengetahuan matematika siswa dengan cara memikirkan
pemikiran dan strategi siswa lain, (4). Menggunakan bahasa matematika secara
tepat dalam berbagai ekspresi matematika.
Uraian tentang komunikasi matematika siswa di atas menunjukkan bahwa,
komunikasi matematika terjadi jika siswa belajar aktif baik secara lisan maupun
secara tertulis. Kemampuan komunikasi matematika siswa dapat dikembangkan
jika siswa mampu menghubungkan benda nyata, gambar, diagram dan peristiwa
kehidupan sehari-hari kedalam ide dan simbol matematika. Hal ini sesuai dengan
prinsip dari pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME).

2.1.1.3 Sintesis Kemampuan Komunikasi Matematika
Siswa dikatakan telah memiliki kemampuan komunikasi matematika bila
mana siswa telah menguasai indikator paradigma yang direkomendasikan sebagai
berikut:
11




1. dapat menyatakan ide matematika dengan lisan, tulisan,
mendemonstrasikan dan menggambarkan dalam bentuk visual,
2. dapat memahami, menginterpretasikan dan menilai ide matematika yang
disajikan dalam bentuk tulisan atau visual,
3. dapat menggunakan bahasa, notasi dan struktur matematika untuk
menyajikan ide, menggambarkan hubungan pembuatan model.
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan
komunikasi matematika merupakan kemampuan menyatakan ide matematika
melalui lisan dan tulisan. Kemampuan komunikasi matematika lisan siswa dapat
diukur saat siswa tersebut mengemukakan pengetahuan matematika mereka.
Kemampuan komunikasi matematika tulisan dapat diukur melalui tulisan siswa
mengenai matematika.
Indikator komunikasi matematika menurut The National Council of
teacher of Mathematics atau NCTM dalam pembelajaran matematika bagi siswa
SMP sebagai berikut:
a. Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika melalui lisan, tulisan, dan
mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual,
b. Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide
matematika baik secara lisan, tulisan, maupun dalam bentuk visual lainnya,
c. Kemampuan dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi matematika
dan struktur-strukturnya untuk menyajikan ide-ide, menggambarkan
hubungan-hubungan dengan model-model situasi.


12




2.1.2 Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME)
Menurut Fruedenthal (dalam Aryadi wijaya 2012: 20). bahwa matematika
merupakan suatu bentuk aktivitas manusia melandasi pengembangan pendidikan
matematika Realistik (Realistic Mathematics Education). Pendidikan matematika
Realistik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika di
Belanda. Kata realistik sering disalah artikan sebagai real-world yaitu dunia
nyata. Banyak pihak yang menganggap bahwa pendidikan matematika realistik
adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang harus selalu
menggunakan masalah sehari-hari. Penggunaan Realistik sebanarnya berasal
dari bahasa belanda :ich realiseren` yang berarti untuk dibayangkan atau `to
imagine` (Van den Hauvel-Panhuizen,1998). Menurut Van den Hauvel-
Panhuizen , menggunakan kata realistic tersebut tidak sekedar menunjukkan
adanya suatu koneksi dengan dunia nyata (real-world) tetapi lebih mengacu pada
fokus pendidikan matematika relistik dalam menempatkan penekanan penggunaan
suatu situasi yang bisa dibayangkan (imagineable) oleh siswa.
Selanjutnya Gravemeijer (dalam Novi Komariyatiningsih,dkk 1994: 84)
Dalam Realistic Mathematics Education (RME) dunia nyata digunakan sebagai
titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika. dunia nyata adalah
segala sesuatu di luar matematika, seperti mata pelajaran lain selain matematika,
atau kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita.

2.1.2.1 Ciri-Ciri Realistic Mathematics Education (RME)
1. Menggunakan masalah kontekstual, yaitu matematika dipandang sebagai
kegiatan sehari-hari manusia, sehingga memecahkan masalah kehidupan yang
13




dihadapi atau dialami oleh siswa (masalah kontekstual yang realistik bagi
siswa) merupakan bagian yang sangat penting.
2. Menggunakan model, yaitu belajar matematika berarti bekerja dengan
matematika (alat matematika hasil matematisasi horisontal).
3. Menggunakan hasil dan konstruksi siswa sendiri, yaitu siswa diberi
kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematika, di bawah
bimbingan guru.
4. Pembelajaran terfokus pada siswa.
5. Terjadi interaksi antara siswa dan guru, yaitu aktivitas belajar meliputi
kegiatan memecahkan masalah kontekstual yang realistik, mengorganisasikan
pengalaman matematika, dan mendiskusikan hasil-hasil pemecahan masalah
tersebut (Suryanto & Sugiman dalam Supinah, 2008:16)

2.1.2.2 Kelemahan Realistic Mathematics Education (RME)
Pembelajaran dengan Realistic Mathematics Education (RME) memiliki
beberapa kelemahan antara lain:
1. Siswa selama ini belum terbiasa dengan hal yang berhubungan pembelajaran
matematika realistik.
2. Diperlukan kemampuan guru yang handal untuk merancang perangkat
pembelajaran yang dapat direalisasikan melalui kegiatan workshop Realistic
Mathematics Education (RME)
3. Memerlukan biaya yang cukup besar dan butuh waktu yang cukup panjang



14




2.1.2.3 Karakteristik Realistic Mathematics Education (RME)
Treffers (dalam Ariyadi Wijaya 2012:21-22), merumuskan lima
karakteristik Realistic Mathematics Education (RME) sebagai berikut:
1. Penggunaan konteks
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal
pembelajaran matematika. Konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata
namun bisa dalam bentuk permainan, penggunaan alat peraga, atau situasi lain
selama hal tersebut bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa.
2. Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Dalam pendidikan matematika realistik, model yang digunakan dalam
melakukan matematisasi secara progresif. Penggunaan model berfungsi sebagai
jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika tingkat konkrit menuju
pengetahuan matematika tingkat formal.
3. Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
Mengacu pada pendapat Freudenthal bahwa matematika tidak diberikan
kepada siswa sebagai suatu produk yang siap dipakai tetapi sebagai suatu konsep
yang dibangun oleh siswa maka dalam Pendidikan Matematika Realistik siswa
ditempatkan sebagai subjek belajar
4. Interaktivitas
Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu melainkan
juga secara bersamaan merupakan suatu proses sosial. Proses belajar siswa akan
lebih singkat dan bermakna ketika siswa saling mengkomunikasikan hasil kerja
dan gagasan mereka.
15




5. Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial, namun banyak
konsep matematika yang memiliki keterkaitan. Oleh karena itu, konsep
matematika tidak dikenalkan kepada siswa secara terpisah atau terisolasi satu
sama lain.

2.1.2.4 Langkah-langkah Realistic Mathematics Education (RME)
Menurut Soedjadi (dalam Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2), 2007: 9
10) Langkah-langkah pembelajaran dengan Realistic Mathematics Education
(RME) secara umum:
a. Mempersiapkan Kelas
1. Persiapkan sarana dan prasarana pembelajaran yang diperlukan, misalnya
perangkat pembelajaran, lembar aktivitas siswa, alat tulis, dll.
2. Kelompokkan siswa jika perlu (sesuai rencana).
3. Sampaikan tujuan atau kompetensi dasar yang diharapkan dicapai serta
cara belajar yang akan dipakai pada hari itu.
b. Kegiatan Pembelajaran
1. Berikan masalah kontekstual.
2. Berilah penjelasan singkat seperlunya saja jika ada siswa yang belum
memahami soal atau masalah kontekstual yang diberikan.
3. Mintalah siswa secara kelompok ataupun secara individual untuk
mengerjakan atau menjawab masalah kontekstual yang diberikan dengan
caranya sendiri. Berilah waktu yang cukup untuk siswa mengerjakannya.
16




4. Jika dalam waktu yang dipandang cukup, siswa tidak ada satu pun yang
dapat menemukan cara pemecahan, berilah petunjuk seperlunya.
5. Mintalah seorang siswa atau wakil kelompok siswa untuk menyampaikan
hasil kerjanya.
6. Tawarkan kepada seluruh kelas untuk mengemukakan pendapatnya atau
tanggapan tentang berbagai pnyelesaian yang disajikan temannya di depan
kelas. Bila ada penyelesaian lebih dari satu, ungkapkanlah semua.
7. Buatlah kesepakatan kelas tentang penyelesaian manakah yang dianggap
paling tepat.Terjadi suatu negosiasi. Berikanlah penekanan kepada
penyelesaian yang dipilih atau benar.
8. Bila masih tidak ada penyelesaian yang benar, mintalah siswa untuk
memikirkan cara lain.
Dari langkah-langkah di atas terlihat jelas bahwa dalam pembelajaran
dengan pendekatan RME dapat melatih komunikasi siswa, sehingga kemampuan
siswa dalam komunikasi diharapkan dapat meningkat.

2.1.2.5 Sintesis dan Karakteristik Realistic Mathematics Education (RME)
Realistic Mathematics Education (RME) merupakan suatu pendekatan
pembelajaran matematika yang harus selalu menggunakan masalah sehari-hari.
Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika seseorang
memecahkan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi
materi pelajaran.
Realistic Mathematics Education (RME) adalah suatu teori pembelajaran
yang telah dikembangkan khusus untuk matematika. Konsep matematika realistik
17




ini sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di
Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman
siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar.

Tabel 2.1
Skenario Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME)
Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
1. Guru memberikan siswa masalah
kontekstual


2. Guru merespon secara positif jawaban
siswa. Siswa diberi kesempatan untuk
memikirkan strategi yang paling
efektif
3. Guru mengarahkan siswa pada
beberapa masalah kontekstual dan
selanjutnya mengerjakan masalah
dengan menggunakan pengalaman
mereka
4. Guru memberikan bantuan seperlunya



5. Guru mengenalkan istilah konsep

6. Guru memberikan tugas di rumah,
yaitu mengerjakan soal atau membuat
masalah cerita serta jawabannya sesuai
dengan matematika formal
1. Siswa secara mandiri atau
kelompok kecil mengerjakan
masalah dengan srategi-strategi
informal
2. Siswa memikirkan strategi yang
paling efektif


3. Siswa secara sendiri-sendiri
atau berkelompok
menyelesaikan masalah tersebut


4. Beberapa siswa mengerjakan di
papan tulis melalui diskusi
kelas, jawaban siswa
dikonfrontasikan
5. Siswa merumuskan bentuk
matematika formal
6. Siswa mengerjakan tugas rumah
dan menyerahkannya kepada
guru



2.2 Tinjauan Materi tentang Luas Permukaan dan Volume Kubus dan
balok (materi di bawah ini dikutip dari buku Mudah Belajar Matematika
karangan Nuniek Avianti Agus)


18




2.2.1 Pengertian Kubus

Kubus adalah sebuah bangun ruang yang semua sisinya berbentuk persegi
dan semua rusuknya sama panjang. Kubus memiliki unsurunsur sebagai berikut:
Sisi/bidang, rusuk, titik sudut, diagonal bidang, diagonal ruang, dan bidang
diagonal.

2.2.2 Luas Permukaan Kubus

Dari Gambar diatas terlihat suatu kubus beserta jaring-jaringnya. Untuk
mencari luas permukaan kubus, berarti sama saja dengan menghitung luas jaring-
jaring kubus tersebut. Oleh karena jaring-jaring kubus merupakan 6 buah persegi
yang sama dan kongruen maka
luas permukaan kubus = luas jaring-jaring kubus
= 6 (s s)
= 6 s
2
19




L = 6 s
2
Jadi, luas permukaan kubus dapat dinyatakan dengan rumus sebagai
berikut.


2.2.3 Volume Kubus
Misalkan, sebuah bak mandi yang berbentuk kubus memiliki panjang
rusuk 1,2 meter. Jika bak tersebut diisi penuh dengan air, berapakah volume air
yang dapat ditampung? Untuk mencari solusi permasalahan ini, hanya perlu
menghitung volume bak mandi tersebut. Bagaimana mencari volume kubus?
Untuk menjawabnya, coba perhatikan gambar berikut:
(c)
Gambar diatas menunjukkan bentuk-bentuk kubus dengan ukuran berbeda.
Kubus pada Gambar (a) merupakan kubus satuan. Untuk membuat kubus satuan
pada Gambar (b), diperlukan 2 2 2 = 8 kubus satuan, sedangkan untuk
membuat kubus pada Gambar (c), diperlukan 3 3 3 = 27 kubus satuan.
Dengan demikian, volume atau isi suatu kubus dapat ditentukan dengan cara
mengalikan panjang rusuk kubus tersebut sebanyak tiga kali.


Luas Permukaan Kubus = 6s
2

20




Sehingga volume kubus = panjang rusuk panjang rusuk panjang rusuk
= s s s
= s
3

Jadi, volume kubus dapat dinyatakan sebagai berikut.

Dengan s merupakan panjang rusuk kubus.

2.2.4 Pengertian Balok

Bangun ruang ABCD.EFGH pada gambar diatas memiliki dua pasang sisi
berhadapan yang sama bentuk dan ukurannya, dimana setiap sisinya berbentuk
persegipanjang. Bangun ruang seperti ini disebut balok. Berikut ini adalah unsur-
unsur yang dimiliki oleh balok yaitu: Sisi/bidang, rusuk, titik sudut, diagonal
bidang, diagonal ruang, dan bidang diagonal.

2.2.5 Luas Permukaan Balok
Cara menghitung luas permukaan balok sama dengan cara menghitung
luas permukaan kubus, yaitu dengan menghitung semua luas jaring-jaringnya.
Coba perhatikan gambar berikut.
Volume kubus = s
3

21





Misalkan, rusuk-rusuk pada balok diberi nama p (panjang), l (lebar), dan t
(tinggi) seperti pada gambar. Dengan demikian, luas permukaan balok tersebut
adalah
Luas permukaan balok = luas persegipanjang 1 + luas persegipanjang 2 + luas
persegipanjang 3 + luas persegipanjang 4 + luas
persegipanjang 5 + luas persegipanjang 6
= (p l) + (p t) + (l t) + (p l) + (l t) + (p t)
= (p l) + (p l) + (l t) + (l t) + (p t) + (p t)
= 2 (p l) + 2(l t) + 2(p t)
= 2 (pl+ lt + pt)
Jadi, luas permukaan balok dapat dinyatakan dengan rumus sebagai
berikut.


Luas Permukaan Balok = 2 (p l) + 2 (p t) + 2 (l t)
22




2.2.6 Volume Balok
Proses penurunan rumus balok memiliki cara yang sama seperti pada
kubus. Caranya adalah dengan menentukan satu balok satuan yang dijadikan
acuan untuk balok yang lain. Proses ini digambarkan pada Gambar dibawah ini

(a) (b) (c)
Gambar Balok diatas menunjukkan, Balok pada Gambar (a) diperlukan
32 2 = 12 Balok satuan. Untuk membuat Balok satuan pada Gambar (b),
diperlukan 4 2 2 = 16 Balok satuan, sedangkan untuk membuat kubus pada
Gambar (c), diperlukan 4 2 3 = 24 Balok satuan. Hal ini menunjukan bahwa
volume suatu balok diperoleh dengan cara mengalikan ukuran panjang, lebar, dan
tinggi balok tersebut.
Dengan memperhatikan proses mengisi ruangan berbentuk balok yang
diketahui ukurannya dengan kubus satuan, maka dapat dirumuskan volume balok
berikut.



Volume balok = panjang lebar tinggi
= p l t
23




Tabel 2.2
PEDOMAN PENILAIAN TES KEMAMPUAN KOMUNIKASI
MATEMATIKA SISWA

2.3 Kerangka Berpikir
Kemampuan komunikasi matematika merupakan kemampuan menyatakan
ide matematika melalui lisan dan tulisan. Kemampuan komunikasi matematika
lisan siswa dapat diukur saat siswa tersebut mengemukakan pengetahuan
matematika mereka. Kemampuan komunikasi matematika tulisan dapat diukur
melalui tulisan siswa mengenai matematika. Dalam proses pembelajaran bukan
terjadi satu arah, yaitu komunikasi guru kepada siswa, sehingga dalam belajar
siswa menjadi pasif dan tidak mampu beragumentasi. Oleh karena itu, perlu
SKOR MENULIS MENGGAMBAR
EKSPRESI
MATEMATIS
0
Tidak ada jawaban, kalaupun ada terlihat tidak memahami konsep sehingga
informasi diberikan tidak berarti apa-apa
1
Hanya sedikit dari
penjelasan yang benar
Hanya sedikit dari
gambar, diagram atau
table yang benar
Hanya sedikit dari
model matematika
yang benar
2
Penjelasan secara
matematis masuk akal
namun hanya sebagian
lengkap dan benar
Melukis, diagram,
gambar atau table namun
kurang
Membuat model
matematika dengan
benar, namun salah
mendapatkan solusi
3
Penjelasan secara
matematis masuk akal
dan benar, meskipun
tidak tersusun secara
logis atau terdapat
sedikit kesalahan

4
Penjelasan secara
matematis masuk akal
dan jelas serta tersusun
secara logis

MAX 4 3 3
24




diperhatikan proses pembelajaran menggunakan Realistic Mathematics Education
(RME) teori belajar yang termasuk kedalam pendekatan kontekstual.
Teori ini berdasarkan pada ide bahwa matematika adalah aktivitas
manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks
kehidupan sehari-hari sebagai pengembangan dan sebagai area aplikasi, sehingga
memotivasi siswa untuk belajar matematika secara nyata dan dapat mudah
mengkomunikasikannya baik dalam bentuk tulisan, gambar maupun melalui lisan.
Dari uraian di atas dapat diduga bahwa dengan melalui pembelajaran Realistic
Mathematics Education (RME) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi
matematika siswa

2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian serta kerangka
konseptual di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
'Jika Pembelajaran Menggunakan Realistic Mathematics Education (RME),
maka Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1
Biluhu akan meningkat`.