Anda di halaman 1dari 14

Nama : Winda Nurdiana

NIM : 0612 4041 1540


Kelas : 3EG B

Aplikasi Matematika dalam Teknik Kimia

1. Logaritma dan aplikasinya dalam menentukan pH
Logaritma adalah operasi matematika yang merupakan kebalikan dari eksponen
atau pemangkatan.Cara untuk mencari nilai logaritma antara lain dengan
menggunakan:
Tabel,Kalkulator(yang sudah dilengkapi fitur log).
Logaritma sering digunakan untuk memecahkan persamaan yang pangkatnya
tidak diketahui. Turunannya mudah dicari dan karena itu logaritma sering
digunakan sebagai solusi dari integral. Dalam persamaan bn = x, b dapat dicari
dengan pengakaran, n dengan logaritma, dan x dengan fungsi eksponensial.Dalam
kimia log digunakan untuk menentukan derajat keasaman atau pH.
Contoh soal logaritma
a)
2
log 8 +
3
log 9 +
5
log 125
b) b)
2
log 1/8 +
3
log 1/9 +
5
log 1/125

Pembahasan
a)
2
log 8 +
3
log 9 +
5
log 125
=
2
log 2
3
+
3
log 3
2
+
5
log 5
3

=
3
2
log 2 + 2
3
log 3 + 3
5
log 5
=3 + 2 + 3 = 8
b)
2
log
1
/
8
+
3
log
1
/
9
+
5
log
1
/
125

=
2
log 2
3
+
3
log 3
2
+
5
log 5
3

= 3 2 3 = 8

Larutan Asam dan Basa
Asam adalah zat yang dalam air menghasilkan ion H
+
dan Basa adalah zat yang
dalam air menghasilkan ion OH
-

Untuk mencari nilai pH melalui perhitungan kita dapat menggunakan logaritma
1. Untuk larutan asam rumusnya : pH = -log[H
+
]
2. Untuk larutan basa rumusnya : pH = -log[OH
-
]
Larutan penyangga
Larutan penyangga adalah larutan yang dapat mempertahankan pH terhadap
penambahan sedikit asam,sedikit basa dan pengenceran.Larutan penyangga ada 2
macam yaitu larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa.
1. Larutan penyangga asam
Rumus : [H
+
] = K
a
.
Keterangan : a = mol asam
g = mol basa konjugasinya
2. Larutan penyangga basa
Rumus : [OH
-
] = K
b

Keterangan : b = mol basa
g = mol basa konjugasinya

Contoh soal aplikasi logaritma pada soal menentukan nilai pH
1. Dicampurkan sejumlah HNO
2
dengan larutan NaOH membentuk larutan
penyangga.Setelah reaksi terdapat 0,02 mol NaNO
2
dan 0,47 gram HNO
2.
PH
larutan penyangga tersebut adalah
(k
a
HNO
2
=

4.10
-4
,Mr HNO
2
= 47)
Jawab :
Mol HNO
2
= = = 0,01 mol
[H
+
] = K
a
. = 4.10
-4
. = 2.10
-4
M
pH = -log [H
+
] = -log 2.10
-4
= 4-log 2 (aplikasi log)
= 4-0,3 =3,7
2. pH campuran dari 200 mL NH
4
OH 0,1 M dengan 200 mL NH
4
Cl 0,1 M
adalah
(K
b
= 10
-5
)
Jawab :
Mol NH
4
OH = M.V =0,1.200 = 20 mmol
Mol NH
4
Cl = M.V = 0,1.200 = 20 mmol
[OH
-
] = k
b
. = 10
-5
. = 10
-5
M
pOH= -log[OH
-
]= -log 10
-5
=5
pH=14- pOH=14-5 =9 (aplikasi log)

2. Aplikasi Sistem Persamaan
Persamaan- persamaan yang harus diselesaikan secara bersamaan untuk mencari
nilai-nilai tunggal dari faktor-faktor yang tidak diketahui, di mana nilai-nilai
tersebut benar untuk setiap persamaan, disebut sistem persamaan.
Dua metode dapat digunakan untuk menyelesaikan sistem persamaan adalah :
1. Metode subsitusi
Penyelesaian SPLDV menggunakan metode substitusi dilakukan dengan cara
menyatakan salah satu variabel dalam bentuk variabel yang lain kemudian nilai
variabel tersebut menggantikan variabel yang sama dalam persamaan yang lain.
2. Metode eliminasi
Berbeda dengan metode substitusi yang mengganti variabel, metode eliminasi
justru menghilangkan salah satu variabel untuk dapat menentukan nilai variabel
yang lain. Dengan demikian, koefisien salah satu variabel yang akan dihilangkan
haruslah sama atau dibuat sama.
Contoh soal sistem persamaan
1. Gunakan metode substitusi, tentukan penyelesaian SPLDV berikut.
3x + y = 7
x + 4y = 6
Jawab:
Langkah pertama, tuliskan masing-masing persamaan dalam bentuk
persamaan (1) dan (2).
3x + y = 7 (1)
x + 4y = 6 (2)
Langkah kedua, pilih salah satu persamaan, misalkan persamaan (1).
Kemudian, nyatakan salah satu variabelnya dalam bentuk variabel lainnya.
3x + y = 7
y = 7 3x (3)
Langkah ketiga, nilai variabel y pada persamaan (3) menggantikan variabel
y pada persamaan (2).
x + 4y = 6
x + 4 (7 3x) = 6
x + 28 12x = 6
x 12x = 6 28
11x = 22
x = 2 (4)
Langkah keempat, nilai x pada persamaan (4) menggantikan variabel x pada
salah satu persamaan awal, misalkan persamaan (1).
3x + y = 7
3 (2) + y = 7
6 + y = 7
y = 7 6
y = 1 (5)
Langkah kelima, menentukan penyelesaian SPLDV tersebut.
Dari uraian diperoleh nilai x = 2 dan y = 1. Jadi, dapat dituliskan Hp = {(2,
1)}

2. Gunakan metode eliminasi untuk menentukan penyelesaian SPLDV berikut.
x + y = 7
2x + y = 9
Jawab:
Langkah pertama, menghilangkan salah satu variabel dari SPLDV tersebut.
Misalkan, variabel y yang akan dihilangkan maka kedua persamaan harus
dikurangkan.
x + y = 7
2x + y = 9
-x = -2
x = 2
Diperoleh nilai x = 2.
Langkah kedua, menghilangkan variabel yang lain dari SPLDV tersebut,
yaitu variabel x. Perhatikan koefisien x pada SPLDV tersebut tidak sama.
Jadi, harus disamakan terlebih dahulu.
x + y = 7 2 2x + 2y = 14
2x + y = 9 1 2x + y = 9
Kemudian, kedua persamaan yang telah disetarakan dikurangkan.
2x + 2y = 14
2x + y = 9
y = 5
Diperoleh nilai y = 5
Langkah ketiga, menentukan penyelesaian SPLDV tersebut. Diperoleh nilai
x = 2 dan y = 5. Jadi, Hp = {(2, 5)}.

3. Metode Gabungan
Kalian telah mempelajari cara menentukan himpunan penyelesaian dari
sistem persamaan linear dua variabel dengan metode grafik, eliminasi, dan
substitusi. Sekarang kalian akan mempelajari cara yang lain, yaitu dengan
metode gabungan eliminasi dan substitusi.
Contoh soal
1. Dengan metode gabungan tentukan himpunan penyelesaian dari sistem
persamaan 2x 5y = 2 dan x + 5y = 6, jika x, y R.
Jawab:
Langkah pertama yaitu dengan metode eliminasi, diperoleh
2x - 3y = 3
2x + 3y = 6
3x = 9
x = 3
Selanjutnya substitusikan nilai x ke persamaan x + 3y = 6, sehingga
diperoleh
x + 3y = 6
3 + 3y = 6
3y = 6 - 3
3y = 3
y = 1
Jadi, himpunan penyelesaian dari persamaan 2x 3y = 3 dan x + 3y = 6
adalah {(3,1)}.

Contoh soal aplikasi sistem persamaan pada kimia
Kapasitas panas molar dari suatu senyawa padat dinyatakan melalui persamaan
c = a + bT, di mana a dan b adalah konstan. Jika c = 52, T = 100 dan ketika c =
172, T = 400. Tentukanlah nilai a dan b
Jawab :
Ketika c = 52 maka T = 100, sehingga
52 = a + 100b
Ketika c = 172 maka T = 400, sehingga
172 = + 400b
Persamaan (2) dikurangkan dengan persamaan (1)
Memberikan :
120 = 300b
b = 0,4
Subsitusikan b = 0,4 ke dalam persamaan (1)
52 = a + 100(0,4)
a = 52 -40 = 12
Sehingga a =12 dan b = 0,4





A. Diferensial dan aplikasi dalam bidang Kimia
Asal usul diferensial
Diferensial merupakan ilmu cabang dari kalkulus. Kalkulus (Bahasa
Latin:calculus, artinya batu kecil, yang digunakan untuk menghitung) adalah
cabang ilmumatematika yang mencakup limit, turunan, integral, dan deret tak
terhingga. Kalkulus adalah ilmu mengenai perubahan,
sebagaimana geometri adalah ilmu mengenai bentuk dan aljabar adalah ilmu
mengenai pengerjaan untuk memecahkan persamaan serta aplikasinya. Kalkulus
memiliki aplikasi yang luas dalam bidang-bidang sains,ekonomi, dan teknik; serta
dapat memecahkan berbagai masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan aljabar
elementer.
Kalkulus memiliki dua cabang utama, kalkulus diferensial dan kalkulus
integralyang saling berhubungan melalui teorema dasar kalkulus. Pelajaran
kalkulus adalah pintu gerbang menuju pelajaran matematika lainnya yang lebih
tinggi yang khusus mempelajari fungsi dan limit, yang secara umum
dinamakan analisis matematika.
Turunan
Dalam pelajaran matematika terdapat beberapa turunan, di sini akan sedikit di
jelaskan mengenai macam-macam turunan:
Turunan Parsial
Turunan Parsial di gunakan untuk melihat perubahan nilai fungsi jika sebagian
nilai variabelnya berubah.
Misal z = f(x,y)
Untuk x = x
0
tetap, maka z = f(x
0
,y) menggambarkan kurva
perpotongan antara bidang x = x
0
dengan permukaan z = f(x,y).
Untuk y = y
0
tetap, maka z = f(x, y
0
) menggambarkan kurva
perpotongan antara bidang y = y
0
dengan permukaan z = f(x,y).
Misalkan z = f(x
0,
y
0
) terdefinisi pada interval a < x < b, maka turunan z terhadap
x di titik x = x
0
disebut turunan parsial z terhadap x di titik (x
0
, y
0
)
Turunan Total
Turunan Total di gunakan untuk melihat nilai fungsi jika semua nilai variable
berubah secara bersama-sama.
Misalkan z = f(x,y)
Adalah perubahan nilai x dan y, maka
dz = f (x+dx, y+dy) f(x,y)
Adalah perubahan nilai z
Jika f (x,y) memiliki turunan parsial yang kontinyu pada sebuah ejaan, maka
dz = d
o
f dx + d
o
f dy + E
1
dx + E
2
dy
d
o
x d
o
y
Di mana E
1
= 0 E
2
= 0 bila dx = 0 dan dy = 0

Penerapan Turunan
1. Manfaat Turunan dalam Ilmu Kimia.
Salah satu aplikasi diferensial dalam ilmu kimia, yaitu laju reaksi. Dalam riset
operasi, turunan menentukan cara paling efisien dalam memindahkan bahan dan
desain pabrik. Dengan menerapkan teori permainan, turunan dapat memberikan
strategi yang paling baikuntuk perusahaan yang sedang bersaing.
Laju reaksi memiliki kemampuan untuk meramalkan kecepatan campuran
reaksi mendekati keseimbangan. Untuk menghitung laju reaksi dalam orde reaksi
dapat dgunakan secara praktis persamaan diferensial. Hukum laju reaksi adalah
persamaan yang menyatakan laju reaksi v sebagai fungsi dari konsentrasi semua
spesies yang ada, termasuk produknya.

2. Untuk menentukan nilai maksimum dan minimum suatu permasalahan.
Sebagai contoh, seorang petani ingin memilih kombinasi tanaman yang
dapat menghasilkan keuntungan yang besar. Seorang dokter ingin memilih dosis
terkecil suatu obat yang akan menyembuhkan penyakit tertentu. Seorang kepala
pabrik akan menekan sekecil mungkin biaya distribusi barangnya. Kadangkala
salah satu dari masalah di atas dapat dirumuskan sehingga melibatkan
pemaksimuman dan peminimuman suatu fungsi pada suatu himpunan yang rinci.
Jika f adalah fungsi yang dapat diturunkan pada R (atau interval terbuka)
danx adalah maksimum lokal ataupun minimum lokal dari f, maka turunan
dari f di titikx adalah nol; titik-titik di mana f (x) = 0 disebut titik kritis atau titik
pegun (dan nilai dari f di x disebut nilai kritis). (Definisi dari titik kritis kadang
kala diperluas sampai meliputi titik-titik di mana turunan suatu fungsi tidak eksis.)
Sebaliknya, titik kritis x dari f dapat dianalisa dengan menggunakan turunan ke-
dua dari f di x:
1. Jika turunan ke-dua bernilai positif, x adalah minimum lokal;
2. Jika turunan ke-dua bernilai negatif, x adalah maksimum lokal;
3. Jika turunan ke-dua bernilai nol, x mungkin maksimum lokal, minimum lokal,
ataupun tidak kedua-duanya. (Sebagai contohnya, f(x)=x memiliki titik kritis
dix=0, namun titik itu bukanlah titik maksimum ataupun titik minimum;
sebaliknya f(x) = x
4
mempunyai titik kritis di x = 0 dan titik itu adalah titik
minimum maupun maksimum).
Ini dinamakan sebagai uji turunan ke dua. Sebuah pendekatan alternatif
lainnya, uji turunan pertama melibatkan nilai f di kedua sisi titik kritis.
Menurunkan fungsi dan mencari titik-titik kritis biasanya merupakan salah
satu cara yang sederhana untuk mencari minima lokal dan maksima lokal, yang
dapat digunakan untuk optimalisasi. Sesuai dengan teorema nilai ekstremum,
suatu fungsi yang kontinu pada interval tertutup haruslah memiliki nilai-nilai
minimum dan maksimum paling sedikit satu kali. Jika fungsi tersebut dapat
diturunkan, minimal dan maksimal hanya dapat terjadi pada titik kritis atau titik
akhir.
1. Contoh Soal Teorema Selisih
Tentukan turunan dari 5x
2
+ 7x 6 dan 4x
6
3x
5
10x
2
+5x +16!
J awab:
D
x
(5x
2
+ 7x 6) = D
x
(5x
2
+ 7x)

D
x
(6)
= D
x
(5x
2
) + D
x
(7x)

D
x
(6)
= 5 . 2x + 7 . 1 + 0
= 10x + 7
Untuk mencari turunan-turunan berikutnya, kita perhatikan bahwa teorema-
teorema pada jumlah dan selisih diperluas sampai sejumlah suku-suku yang
berhingga. Jadi,
D
x
(4x
6
3x
5
10x
2
+ 5x +16) = D
x
(4x
6
) D
x
(3x
5
) D
x
(10x
2
) + D
x
(5x) D
x
(16)
= 4D
x
(x
6
) 3D
x
(x
5
) 10D
x
(x
2
) +
5D
x
(x)

D
x
(16)
= 4(6x
5
) 3(5x
4
) 10(2x) + 5(1) (0)
= 24x
5
15x
4
20x + 5

2. Contoh soal Persamaan Diferensial Biasa orde 2 Linier
Selesaikan PD dibawah ini!
D
2
y/dx
2
5 dy/dx + 6y = 0
J awab:
Misal :
y = Am. E
mx

dy/dx = Am. M. e
mx

d
2
y/dx
2
= Am.m
2
.e
mx

yc = Am
1
.e
m1x
+ Am
2
.e
m2x

yc = A e
m1x
+ B.e
m2x

Persamaan akan menjadi :
Am.m
2
.e
mx
5. Am. M. E
mx
+ 6. Am. E
mx
= 0
Am.e
mx
(m2 5m + 6)=0
Am.e
mx
((m-2)+(m-3))=0
Jadi :
m1 = 2
m2 = 3 (akar-akar berbeda)
yc = A.e
2x
+ B.e
3x


3. Selesaiakan PD dibawah ini!
Y + 6y + 6y = 0
J awab:
m
2
+ 6m + 9 = 0
(m + 3)
2
= 0
m1 = m2 = -3 (akar-akarnya sama)
yc = (Ax + B)e
-3x


Contoh soal aplikasi diferensial pada kimia
1. Hitung jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan 8 gram helium dari
298K ke 398 K pada tekanan tetap.
Jawab:
8 g helium = 2 mol
Cp = Cv + R
= 3/2 R + R
= 5/2 R
= 20.8 J K
-1
mol
-1

qp = H = nCp T
= 2 x 20.8 x (398 298) J
= 4160 J

2 . Laju pembentukan NO(g) dalam reaksi:
2NOBr(g) 2NO(g) + Br
2
(g) adalah 1,6 x 10
-4
ms
-1
, berapakah laju reaksi dan
laju konsumsi NOBr?
Jawab:
Secara matematis, reaksi itu: 0 = -2NOBr(g) + 2NO(g) + Br
2
(g)
Sehingga v [NO] = +2 . Jadi, laju reaksi diperoleh dari persamaan 1, dengan
d[NO]/dt = 1,6 x 10
-4
ms
-1
:
v = x (1,6 x 10
-4
ms
-1
) = 8,0 x 10
-5
ms
-1

Karena v [NOBr]= -2 , maka laju pembentukan NOBr adalah:
d[NOBr]/dt = -2 x (8,0 x 10
-5
ms
-1
) = 1,6 x 10
-4
ms
-1
:
sehingga laju konsumsinya adalah 1,6 x 10
-4
ms
-1
.

B. Statistika dan aplikasinya dalam proses titrasi
Statistika adalah ilmu yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan dan
penyusunan data,pengolahan dan penganalisaan data,serta penyajian data
berdasarkan kumpulan dan analisis data yang dilakukan.
Statistik adalah hasil-hasil dari pengolahan dan analisis data. Statistik salah
satunya mean/rata-rata.Pada kimia terdapat aplikasi mean atau rata-rata untuk
mencari titrasi asam basa.
Contoh soal mean
Diketahui data sebagai berikut : 5, 6, 4, 8, 7, 3, 8, 9, 4, 10 . Tentukan mean?
Jawab :
urutan data:
3, 4, 4, 5, 6, 7, 8, 8, 9, 10
Jawab : 6,4
Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi suatu larutan
suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat lain yang diketahui
konsentrasinya. Prinsip dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi netralisasi
asam basa.
Titk eqivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asa tepat
dinetralakan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH.
Contoh soal aplikasi mean/rata-rata pada titrasi
1. Sebanyak 2 gram cuplikan NaOH dilarutkan dalam 250 mL air kemudian 20
mL dari larutan ini dititrasi dengan larutan HCl 0,1 M diperoleh data sebagai
berikut :
percobaan Volume HCl
1 24 mL
2 26 mL
3 24 mL
Kadar NaOH dalam cuplikan tersebut adalah..(Mr NaOH = 40)
Jawab
Volume rata-rata HCl = 25 mL (aplikasi mean)
V
a
.M
a
=
b
.Mb.V
b

1.25.0,5 =1.20.M
b

M
b
= 0,125 M
n =M.V
n=0,125.0,25
n=0,03125mol
Massa NaOH = 0,03125x 40 = 1,25 gram
Kadar NaOH dalam cuplikan = 62,5%














APLIKASI MATEMATIKA DALAM BIDANG KIMIA






NAMA : DANIEL FRENDI
NIM : 0612 4041 1520
KELAS : 3 EGB


DOSEN PENGAJAR

Drs. Yulianto Wasiran, M.M



POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
JURUSAN TEKNIK KIMIA PRODI DIV TEKNIK
ENERGI
TAHUN AJARAN 2012/2013