Anda di halaman 1dari 6

PERDARAHAN SALURAN CERNA BAWAH

PADA BAYI DAN ANAK


Poerwadi
Seksi Bedah Anak Lab Ilmu Bedah SMF Bedah Umum.
F.K. Unair R.S.U.D. Dr. Soetomo.
S U R A B A A.
PENDAHULUAN :
Perdarahan saluran cerna bagian bawah pada bayi dan anak yang dimaksud adalah perdarahan
yang berasal dari caecum sampai anus pada bayi dan anak.
Darah yang keluar disini tidak mengalami proses pencernaan, sehingga warnanya lebih
mendekati warna darah aslinya, juga tidak bercampur dengan feses / mudah dipisahkan antara darah
dan feses, atau darah yang keluar masih bergumpal. Bahkan untuk perdarahan yang berasal dari anus
atau rectum perdarahannya akan terlihat menetes.
Anus adalah merupakan pintu pembuangan dari saluran cerna, sehingga perdarahan dari saluran-
saluran cerna yang lebih atas/ proksimal, keluarnya akan melewati anus. Perdarahan massive dari
saluran cerna lebih atas akan terlihat pula keluar darah segar dari anus, karena darah yang keluar
tersebut banyak sehingga tak sempat mengalami pencernaan. !eadaan ini sering menyulitkan untuk
mengenali dan membedakannya dengan perdarahan yang berasal dari saluran cerna bawah.
Perdarahan disini sering disebut perdarahan per rectum, untuk istilah ini sering harus dibedakan
antara melena , hematosesia,dan berak darah segar. "leh karena itu untuk mengenali asal perdarahan
selain kwalitas dari darah yang keluar, harus diperhatikan juga kwantitas, sifat perdarahannya serta
umur penderita dan gejala lain yang menyertainya.
ETIOLOGY :
#tiology dari perdarahan saluran cerna bawah pada bayi dan anak berbeda dengan orang dewasa.
Pada bayi dan anak perdarahan saluran cerna bawah dapat disebabkan oleh $
%. &tussusepsi.
'. Polyp.
(. )isura ani.
*. Proktitis.
+. ,olitis / ,olitis -lcerosa.
.. Prolap rectum.
/. 0yndrom !iesewetter $ ,hronic recurrent sigmoid intussuception.
1. 2ain 3 lain atau yang tidak tidak jelas penyebabnya secara pasti.
4asing- masing kelainan tersebut diatas mempunyai tanda- tanda klinik yang berbeda, juga pardarahan
yang ditimbulkannya berbeda dalam hal kwalitas, kwantitas dan sifat perdarahannya.
GEJALA KLINIK :
5ejala klinik dari perdarahan saluran cerna bawah akan berbeda- beda untuk masing- masing
penyakit yang menimbulkannya , oleh karena itu selain gejala klinik ini harus kita perhatikan pula sifat
perdarahan, kwalitas perdarahan , kwantitas perdarahan serta umur penderita.$
1. INTUSUSEPSI :
&ntususepsi mengakibatkan perdarahan saluran cerna bawah , secara epidemiologis sering pada
umur ( bulan 3 % tahun, darah yang keluar bercampur lendir 6 bloody mucous stools 7 currant
jelly stool 8. 0ebelum keluar berak darah lendir, sering didahului oleh nyeri perut kolik. 9yeri ini
hebat sekali sampai anak berteriak- teriak , terlihat pucat dan keringat dingin, tetapi diluar
serangan nyeri anak tidur biasa . Anak mengalami muntah berwarna hijau sampai kekuningan.
Pada pemeriksaan fisik dapat teraba massa , yaitu terabanya intususeptum pada bagian kolon
yang intra peritoneal. Perut menjadi kembung bila sudah ada penyulit 6 obstruksi 8, panas badan
terjadi akibat dehitrasi dan atau bila sudah adanya translokasi kuman sehingga terjadi bakteriemi,
atau akibat nekrosis atau perforasi usus.
2. POLYP :
:enis polyp yang sering pada anak adalah ju;enile atau inflammatory polyp, tidak seperti polyp
pada dewasa, ju;enile polyp tidak potensial menjadi ganas. :u;enil polyp /< = - 1+ = didapatkan
pada rectosigmoid 6 '< cm dari anus 8, /+ = soliter dan bertangkai.
Perdarahan yang ditimbulkannya hanya sedikit pada permukaan feses sampai menetes saja ,
berwarna merah segar, kadang 3 kadang saja warna gelap. 0ering disertai adanya polyp yang
keluar 6 keluhan orang tuanya 8.
Pemeriksaan colok dubur dapat teraba adanya polyp, sering pada jam .. >ati- hati pada
pemeriksaan proktoskopi sering polip terdorong keoral atau tertekan proktoskop sehingga tak
terlihat, oleh karena itu proktoskop harus diputar dan dilakukan berulang.
JUVENILE POLYPOSIS
!asus ini sangat jarang , penulis selama ( tahun terakhir hanya menemukan ( kasus, ' kasus
datang dengan perdarahan chronis sampai anemia, diarrhea chronis sampai kurang gi?i dan satu
kasus datang karena intususepsi.
ADENOMATOUS POLYPS
Adenomatous polyp sangat jarang pada anak. !ottmeier dan ,lathworhy mendapatkan hanya (
kasus dari +< kaus polyp yang ditanganinya, satu diantaranya menjadi ganas pada umur %' tahun.
0tudy yang lain mendapatkan + kasus dari %1/ kasus polyp pada anak umur dibawah %< tahun.
0ehingga disimpulkan bahwa adenomatous polyp sangat jarang pada anak dan merupakan
bentukan prakangker.
3. FISSURA ANI :
)issura ani merupakan luka permukaan pada anus yaitu daerah mococutaneous yang sering terjadi
pada bayi dan anak. >al ini terjadi akibat gesekan antara mucocutan yang masih tipis dengan feses
yang keras, sehingga terjadi lecet, fissur dapat pula diakibatkan karena mencret- mencret yang
lama, sehingga terjadi lesi.
Perdarahan akibat fissura ani ini hanya seedikit, berupa strip- strip darah segar pada permukaan
feses, paling banyak hanya satu atau dua tetes saja. Darah yang keluar berwarna merah segar,
hanya kadang saja merah gelap.
0ifat perdarahannya adalah sakit waktu defekasi, karena adanya lecetan tersebut, sehingga anak
sering menahan defekasi, akibatnya terjadi tumpukan feses yang makin mengeras dan banyak, hal
ini semakin menyulitkan defekasi dan makin membikin sakit bila defekasi. !eadaan ini
merupakan lingkaran setan, sampai orang tua membawa anaknya kedokter.
Pemeriksaan fisik akan didapatkan ulkus atau fissure, sering lokasinya pada jam ., sering pula
diikuti adanya hypertrofi berupa papil atau sentinel tag.
1. PROKTITIS :
Proktitis sering terjadi pada bayi biasanya disebakan karena e@koriasi pada anus , atau adanya lesi
kulit sekitar anus karena iritasi menahun. >al ini sering akibat dari mencret menahun, atau akibat
suatu inkontinentia, atau akibat proses alergi.
Perdarahan yang terjadi disini sangat sedikit, hanya berupa bercak- bercak pada celana akibat kulit
atau anus yang teriritasi tersebut .
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kulit sekitar anus mengalami iritasi dan kemerahan.
2. COLITIS ULCEROSA :
,olitis -lcerosa atau penyakit dari ,rohn sangat jarang kita jumpai, walaupun penyakit ini
tersering dijumpai pada umur %+ thn 3 (< thn, tetapi tidak jarang proses ini sudah dimulai sejak
umur kurang dari % tahun.
5ejala awalnya adalah perdarahan per rectum berupa lapisan darah dan lendir pada feses, atau
bahkan sampai merah segar, disertai mencret dan kolik serta tenesmus. >ati- hati pada anak- anak
dengan noctural diarrhea, atau incontinence diarrhea patut diwaspadai gejala awal dari colitis
ulcerosa.
3. PROLAP DARI REKTUM :
Prolap dari rectum sering menyusahkan tetapi sering sembuh secara konser;atif, bila sebab
awalnya sudah hilang.
!ejadian prolap pada anak umur % tahun 3 ( tahun, hal ini disebabkan karena saat ini mukosa
masih belum menempel erat dengan muskularis, juga sakrum anak ini masih ceper arah
posteriornya, sehingga tekanan dari intra abdominal akan diteruskan secara langsung ke anus,
akibatnya terjadilah prolap. >al ini akan diperberat pada anak dengan gi?i yang kurang, anak
dengan mencret menahun atau mencret profus, atau dengan defisiensi neurologis akAan
mempermudah terjadinya prolap dari rectum.
Perdarahan yang ditimbulkannya hanya sedikit, berupa bercak darah segar pada celana atau paling
banyak menetes, tidak disertai rasa sakit, didapatkan massa merah dari anus. >al ini harus
dibedakan dengan polyp.
Perdarahan akibat polyp terjadi sebelum polypnya keluar, sedangkan perdarahan pada prolaps
terjadi saat / bersamaan dengan prolapnya. 4assa dari prolap rectum berbentuk lingkar seperti
donat dengan dinding rectum yang jelas, sedangkan polyp berbentuk padat dan bertangkai pada
salah sati sisi rectum.
4. SINDROMA DARI KIESEWETTER :
0indroma ini berupa intususepsi berulang dari sigmoid, perdarahan yang terjadi hampir sama
dengan intususepsi yang lain, hanya disini pemeriksaan dengan sigmoidoskopi sangat membantu
menegakkan diagnosis.
Penyakit ini dapat hilang spontan dengan perbaikan defekasi yang teratur.
5. PENYEBAB LAIN- LAIN :
Penyebab lain- lain ini sering tidak bisa diketemukan walaupun sudah dilakukan pemeriksaan
yang intensi;e. !eadaan ini sering didapatkan pada bayi , hal ini diperkirakan karena fungsi hati
yang masih belum sempurna , sehingga terjadi hypothrombinemia akibat defisiensi Bitamin !,
biasanya perdarahan akan berhenti dengan therpi ;itamin !.
PENATA LAKSANAAN :
A. P!"A#ALAKSA"AA" DIA$"%S#IK &
Penatalaksanaan diagnostik perdarahan saluran cerna bawah pada bayi dan anak, tergantung dari
dugaan penyebabnya $
%. &9C-0-0#P0& $
Diagnosa &ntususepsi ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan barium enema,
dimana barium enema ini selain dapat menegakkan diagnose, juga dapat dipakai
sebagai terapi untuk melakukan reposisi dengan tekanan hydrostatiknya 6 hanya
untuk intususepsi yang baru 8. 0ecara diagnostik akan didapatkan gambaran
cupping dan adanya coille sp!ing .
'. P"2DP $
Diagnosa polyp dari rectum bisa ditegakkan dengan pemeriksaan colok dubur dan
proktoskopi. 0edangkan untuk polyp pada sigmoid dan kolon yang lain adalah
dengan barium enema dan sigmoidoskopi atau kolonoskopi, sekaligus melakukan
biopsy untuk multiple polyposis.
(. )&00-EA A9& $
Diagnose fissura ani cukup dengan pemeriksaan fisik saja.
B. P!"A#ALAKSA"AA" #'!RAPI &
Penatalaksanaan therapi juga tergantung dari macam kelainan yang menimbulkannya $
%. &9C-00-0#P0& $
&ntussusepsi merupakan kasus darurat, therapy harus dikerjakan begitu diagnose/
persangkaan diagnose dibuat.
Prinsip therapinya adalah melakukan reposisi intususeptum tersebut , reposisi dapat
secara non bedah, yaitu melakukan reposisi memakai tekanan hydrostatik dengan
tuntunan barium enema, atau dengan tekanan pneumatic. 0yarat diperbolehkan
melakukan reposisi non bedah ini hanya untuk intususepsi yang masih baru .
0edangkan untuk reposisi secara pembedahan, lewat laparotomy dikerjakan pada
intussusepsi yang sudah melewati %< - %' jam atau yang sudah ada tanda- tanda
penyulit.
'. P"2DP $
Prinsip pengobatan polyp adalah melakukan pengangkatan polyp, untuk polyp yang
soliter dapat dilakukan polypectomy, sedangkan multiple polyposis harus dilakukan
resksi usus.
(. )&00-EA A9& $
Pengobatan fissura ani dapat dilakukan secara konser;atif dulu, yaitu dengan
membuat feses lunak, melakukan rendam hangat pada anusnya dengan tujuan untuk
melemaskan otot sfingter anus, memberikan salep lidocain dan memberikan salep-
salep yang dapat melenturkan dan melunakkan anus. Dengan pengobatan cara ini
sebagian penderita sembuh spontan.
Cindakan bedah hanya dilakukan bila therapy konser;atif gagal. Cindakan yang
dilakukan adalah melakukan sfingterotomi.
*. PE"2AP DAE& E#!C-4 $
Pengobatan prolap dari rectum pertama- tama harus dihilangkan dahulu penyakit
primernya/ faktor predisposisinya. 0edangkan prolapnya sediri dapat dilakukan
therapy secara konser;atif dulu yaitu dengan melakukan reposisi dan menahan
supaya jangan prolaps dengan memasang plaster pada pantatnya, serta diet rendah
serat dan diet lunak.
,ara yang lebih in;asi;e adalah dengan melakukan suntikan (<= salin atau phenol
oli += pada submukosa dengan tujuan untuk sclerosing sehingga mukosa akan
melekat ke muskularis.
Cindakan bedah dilakukan bila cara konser;atif gagal, tindakan bedah dengan
melakukan jahitan peri rectal atau dengan sling dari otot sartorius.
KESIMPULAN :
Perdarahan saluran cerna bawah pada bayi dan anak hanya salah satu gejala klinik dari beberapa
penyakit utama yang menjadi penyebabnya. Penyebab ini harus dikenali dengan mengetahui gejala
klinik yang lain.
PENUTUP :
Celah dibicarakan tentang perdarahan saluran cerna bawah dengan beberapa penyebab tersering dan
gejala klinik yang menyertainya.

DAF#AR PUS#AKA &
(. Benson ) .D & Peia"!ic Su!ge!#$ Vol % $ Dear Book 4ed Publishers, &nc, %F.'.
2. F!"#$% . H$&'() C $ Su!gicalo p!o&lems in c'il!en G 4osby ,omp, Coronto, %FF<.
3. G($"" R$*+(# E $ T'e Su!ge!# in In(anc# an )'il'oo G H.B. 0aunders ,omp,
Philadelphia I 2ondon, %F+..
4. R',,+%"-+(.+( $ S*enson+s Peia"!ic Su!ge!#$ )ifth #d, %FF<.

Anda mungkin juga menyukai