Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
1.1 Pendahuluan
Penemuan dini kanker paru berdasarkan keluhan saja jarang
terjadi. Keluhan yang ringan biasanya terjadi pada mereka yang telah
memasuki stadium II. Kasus kanker paru di Indonesia terdiagnosis
ketika penyakit telah berada pada stadium lanjut. Penemuan kanker
paru stadium dini akan sangat membantu penderita. Penemuan
diagnosis dalam waktu yang lebih cepat memungkinkan penderita
memperoleh kualiti hidup yang lebih baik dalam perjalanan
penyakitnya meskipun tidak dapat menyembuhkannya.
Lebih dari 90 % tumor paru-paru primer merupakan tumor
ganas dan sekitar 9! % tumor ganas ini termasuk karsinoma
bronkogenik. Kebanyakan tumor ganas primer dari saluran na"as
bawah bersi"at epiteliel dan berasal dari mukosa percabangan
bronkus
#
. Kanker paru mencakup keganasan yang berasal dari paru
sendiri maupun keganasan dari luar paru $metastasis tumor di paru%
&
.
Keganasan di paru dapat berasal dari saluran pernapasan itu sendiri
baik itu berasal dari sel-sel bronkus atau al'eolus ataupun dari sel-sel
yang memproduksi mukus yang mengalami degenerasi maligna atau
dari jaringan di luar saluran pernapasan.. Kanker paru merupakan
diagnosis kanker tersering di dunia ini dan merupakan penyebab
kematian terbesar di seluruh dunia.
2
BAB II
KARSINOMA PARU
2.1 Insiden dan Prevalensi
(etiap tahun terdapat lebih dari #.) juta kasus kanker paru dan
bronkus baru di seluruh dunia menyebabkan kira-kira #.# juta
kematian tiap tahun
)
.*i +ropa diperkirakan terdapat ),#.!00 kasus
kanker paru baru tahun &00- dengan angka kematian berkisar
)-&.000 atau 9). kematian setiap hari
-
. Kanker paru dilaporkan
sebagai kanker penyebab kematian terbesar di dunia dan
bertanggung jawab atas #,./% kematian akibat kanker serta kanker
pembunuh terbanyak di +ropa.
(ur'ei kanker global &00& di Indonesia juga menunjukkan
insiden kanker paru mencapai &, per #00 ribu populasi kanker
payudara &. per #00 ribu populasi kanker colorectum &) per #00 ribu
populasi kanker leher rahim #. per #00 ribu populasi dan kanker hati
#) per #00 ribu populasi
!
. (ebagian besar kanker paru mengenai pria
$.! %% dengan life time risk # 0 #) dan pada perempuan # 0 &0.
2.2 Etiologi
(eperti kanker lainnya penyebab pasti dari kanker paru belum
diketahui tetapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu 1at yang
bersi"at karsinogenik merupakan "aktor penyebab utama di samping
adanya "aktor lain seperti kekebalan tubuh genetik dan lain-lain
.
.
2erjadinya karsinoma paru berkaitan erat dengan rokok dan
polusi udara. 3erokok merupakan "aktor risiki utama dari sekitar 90%
kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar /0% pada wanita.
(emakin banyak jumlah rokok yang dihisap semakin besar resiko
untuk menderita kanker paru-paru.
3
&.)Fator risio
1. Meroo
Lebih dari ,0% dari kanker paru-paru adalah akibat dari merokok.
Perokok memiliki risiko sepuluh kali lipat lebih besar untuk menderita
kanker paru dibandingkan non perokok. (etiap tahunnya )000 orang
dewasa yang merupakan perokok pasi" meninggal karena kanker paru
7
.
4rang yang sudah berhenti merokok memiliki resiko yang lebih rendah
terkena kanker paru dibandingkan dengan perokok akti" tetapi orang
dengan riwayat perokok mempunyai "aktor resiko lebih tinggi dibandingkan
dengan orang yang tidak mempunyai riwayat merokok
,
.. 5asil statistik dan
obser'asi klinik menunjukkan adanya hubungan positi" antara rokok dan
kanker paru. 6ukti statistik menunjukkan bahwa ,/ % kanker paru terjadi
pada perokok akti" ataupun yang baru berhenti. Pada sejumlah studi
retrospekti" beberapa hal yang mempengaruhi "rekuensi terjadinya
kanker paru diantaranya jumlah konsumsi rokok tiap harinya
kecenderungan untuk menghisap dan lamanya kebiasan merokok
tersebut
..
Tar yang dihasilkan rokok merupakan bahan karsinogenik menempel
pada mukosa saluran na"as dan dalam waktu yang lama menimbulkan
perubahan sel epitel 0 silia epitel menghilang sel cadangan hiperplasia
dan mengalami metaplasia sel skuamos. Lambat laun sel epitel berubah
dalam bentuk displasia dan kemudian menjadi karsinoma dalam bentuk
berbagai tipe histopatologi
.
&. Mari!uana
3arijuana mengandung tar dalam jumlah yang lebih banyak daripada
rokok. Karena penggunaan marijuana dilakukan dengan cara menghisap
dalam maka tar yang dihisap akan semakin banyak dibandingkan dengan
menghisap rokok sehingga tar tersebut akan semakin bertahan lama di
dalam paru-paru
9
.
4
). Bahan industri
6eberapa paparan 1at industri tertentu meningkatkan risiko
berkembangnya kanker paru. 1at-1at terkait dengan kanker paru-paru
diantaraya uranium arsenic 'inyl chloride chromates nikel batu bara
produk mustard gas kloromethyl ethers bensin dan solar. 7adiasi ion
pada pekerja tambang uranium dengan dosis tinggi merupakan
karsinogenik
. #0
. Paparan terhadap asbes adalah "aktor risiko yang
signi"ikan untuk suatu jenis kanker paru-paru . Pekerja asbes yang
merokok memiliki resiko !0-#00 kali menderita kanker paru-paru.
8sbestos sering menimbulkan mesotelioma
-. Pen"ait #aru$#aru
6eberapa penyakit paru-paru seperti 269 meningkatkan
kemungkinan terjadinya kanker paru terutama di daerah paru yang telah
mengalami "ibrosis. (eseorang yang telah mendapatkan pengobatan
kanker paru lebih besar kemungkinan untuk menjadi kanker paru
berulang.
!. %iet
*iet juga dapat menjadi "aktor risiko untuk kanker paru-paru. 6eberapa
laporan telah menunjukkan bahwa diet rendah dalam buah-buahan dan
sayuran dapat meningkatkan kesempatan mendapatkan kanker
##
.
&. Fator 'eneti.
7isiko kanker paru-paru mungkin akan lebih tinggi jika orang orang tua
saudara kandung atau anak-anak telah terkena kanker paru-paru. :actor
ini bisa datang dari satu atau banyak hal seperti kebiasaan merokok
dalam keluarga dimana situasi yang seperti ini dapat menjadikan anggota
keluarga yang tidak merokok menjadi seorang perokok akti". Pada
beberapa orang ada juga yang mendapatkan warisan gen kanker dari
orangtuanya
,
.
5
Kanker paru secara klinis dibedakan menjadi dua kelompok yaitu 0
Karsinoma sel kecil dan karsinoma non sel kecil. onkogen4nkogen yang
terlibat dalam proses terjadinya kanker paru diantaranya c-3;9 K-78(
+<:7 dan 5+7-&=neu. 2umor suppressor genes yang paling sering
terinakti'asi meliputi p53 RB p16
I>K-a
and multiple loci on chromosome
)p. 3utasi dari p!) merupakan hal yang paling sering terjadi pada baik
karsinoma sel kecil ataupun karsinoma non sel kecil. Pada karsinoma sel
kecil sering terjadi perubahan pada c-3;9 dan 76 sedangkan pada
karsinoma non sel kecil berhubungan dengan mutasi pada 78( dan
p16
I>K-a.
/. Polusi udara
Polusi udara juga berperan penting dalam meningkatnya insiden
kanker paru saat ini.Polusi udara tidak hanya didapat dari outdoor
melainkan indoor juga sangat berpengaruh. Polusi udara indoor
diantaranya disebabkan oleh radon.
#&#)
3ekanisme patogenesisnya melalui proses inhalasi dan deposisi pada
bronkus. Pada beberapa negara polusi udara meningkatkan risiko kanker
paru-paru. 2etapi risiko ini jauh lebih sedikit daripada yang disebabkan
oleh merokok
#-
.
2.( Patogenesis
(ama halnya dengan kanker pada tempat-tempat lain karsinoma paru
didasari oleh adanya abnormalitas genetik yang menyebabkan berubahnya
epitel bronkus menjadi jaringan neoplasma. (ebuah sel normal dapat menjadi
sel kanker apabila oleh berbagai sebab yang menyebabkan
ketidakseimbangan antara "ungsi onkogen dengan gen tumor supresor dalam
proses tumbuh dan kembangnya sebuah sel. Perubahan atau mutasi gen
yang menyebabkan terjadinya hiperekspresi onkogen dan atau
kurang=hilangnya "ungsi gen tumor supresor menyebabkan sel tumbuh dan
berkembang tak terkendali. Perubahan ini berjalan dalam beberapa tahap
atau yang dikenal dengan proses multistep carcinogenesis. Perubahan pada
6
kromosom misalnya hilangnya heteroginiti kromosom atau L45 juga diduga
sebagai mekanisme ketidaknormalan pertumbuhan sel pada sel kanker. *ari
berbagai penelitian telah dapat dikenal beberapa onkogen yang berperan
dalam proses karsinogenesis kanker paru antara lain gen myc gen k-ras.
(edangkan kelompok gen tumor supresor antara laingen p!) gen rb
#!
.
2.) Mani*estasi Klinis
Pada "ase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala
berarti dalam stadium lanjut. <ejala-gejala dapat bersi"at0
a. Lokal $tumor tumbuh setempat% 0
6atuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
5emoptisis
3engi $wheezing stridor% karena ada obstruksi saluran napas
Kadang terdapat ka'itas seperti abses paru
8telektasis
.
.
b. In'asi lokal 0
>yeri dada
*ispnea karena e"usi pleura
In'asi ke pericardium terjadi tamponade atau aritmia
(indrom 'ena ka'a superior
(indrom horner $facial anhidrosis, ptosis, miosis%
(uara serak karena penekanan pada nerus lar!ngeal recurrent
7
(indrom Pancoast karena in'asi pada pleksus brakialis dan sara"
simpatis ser'ikalis
.
.
c. <ejala metastasis 0
Pada otak tulang hati adrenal
Lim"adenopati ser'ikal dan suprakla'ikula
d. (indrom paraneoplastik 0 terdapat pada #0 % kanker paru dengan
gejala0
(istemik0 penurunan berat badan anoreksia demam
5ematologi0 leukositosis anemia hiperkoagulasi
5ipertro"i osteoartropati
>eurologic0 dementia ataksia tremor neuropati peri"er
>euromiopati
+ndokrin0 sekresi berlebihan hormone paratiroid
*ermatologic0 eritema multi"orm hyperkeratosis jari tabuh
7enal0 (I8*5 $s!ndrome of inappropriate andiuretic hormone%
.
.
e. 8simtomatik dengan gejala radiologis
(ering pada perokok dengan PP4K yang terdeteksi secara
radiologis
Kelainan berupa nodul soliter

8
2.& %etesi %ini
*eteksi kanker paru biasanya dilakukan dengan anamnesis dan
pemeriksaan "isik serta pemeriksaan penunjang. *iteksi dini dilakukan
pada subyek dengan resiko tinggi
)
.
Laki-laki dengan usia lebih dari -0 tahun perokok
Paparan industri tertentu.
dengan satu atau lebih keluhan 0 batuk darah batuk kronik berat
badan menurun nyeri dada.
<olongan yang perlu diwaspadai adalah perempuan perokok pasi"
dengan gejala-gejala diatas dan riwayat tentang anggota keluarga dengan
penyakit paru bisa dijadikan pertimbangan yang berarti.
>ational 9ancer Institute $>9I% di ?(8 menganjurkan skrining
dilakukan setiap - bulan dan terutama ditujukan pada laki-laki @-0 tahun
perokok @# bungkus per hari dan atau bekerja di lingkungan berpolusi
yang memungkinkan terjadinya kanker paru $pabrik cat plastik asbes
dll%
.
.
9
<ambar 8lur *iagnosis *eteksi *ini Kanker Paru
2.+ %iagnosis
a. Keluhan utama0
6atuk-batuk dengan = tanpa dahak $dahak putih dapat juga
purulen% lebih dari ) minggu
6atuk darah
(esak napas
(uara serak
>yeri dada yang persisten
(ulit = sakit menelan
6enjolan di pangkal leher
(embab muka dan leher kadang-kadang disertai sembab lengan
dengan rasa nyeri yang hebat.
10
2idak jarang yang pertama terlihat adalah keluhan akibat
metastasis di luar paru seperti kelainan yang timbul karena kompresi
hebat di otak pembesaran hepar atau patah tulang. 8da pula keluhan
yang tidak khas seperti 0
6erat badan berkurang
>a"su makan hilang
*emam hilang timbul
(indrom paraneoplastik seperti h!pertrophic pulmonar!
osteoartheopath! trombosis 'ena peri"er dan neuropatia.
Keluhan ringan terjadi pada mereka yang masih dalam stage
dini yaitu stage I dan II. *ata di Indonesia maupun laporan negara
maju kebanyakan kasus kanker paru terdiagnosis ketika penyakit telah
berada pada stage lanjut $stage III dan IA%. $IP*%
b. Pemeriksaan penunjang
a% Foto rontgen dada dapat mendeteksi .# % tumor paru. Pada
kanker paru pemeriksaan "oto rontgen dada ulang diperlukan
juga untuk menilai dou"ling time-nya. Kebanyakan kanker paru
mempunyai dou"ling time antara )/ B -.! hari. 6ila dou"ling
time @ #, bulan berarti tumor benigna. 2anda-tanda tumor
benigna lainnya adalah lesi berbentuk bulat konsentris solid
dan adanya kalsi"ikasi yang tegas. Pemeriksaan "oto rontgent
dada dengan cara tomogra"i lebih akurat menunjang
kemungkinan adanya tumor paru bila dengan cara "oto dada
biasa tidak dapat memastikan keberadaan tumor.
11
Pola :oto 7ontgen *ada 6erdasarkan <ambaran
5istologi
(Cuamous
cell
carcinoma
(mall
cell
8deno
carcinoma
Large
cell
3asa hilar
atau
perihilar
-0 % /, % #/ % )& %
Lesi
parenkim
D - cm
@ - cm
9 %
#9 %
&# %
, %
-! %
&. %
#, %
-# %
4bstruksi
pneumonitis
kolaps
atau
konstriksi
daerah
peripleural
)# % )& % /- % .! %
#ediastinal
enlargement
& % #) % ) % #0 %
12
Pemeriksaan 92 scan pada torak lebih sensiti" daripada
pemeriksaan "oto dada biasa karena bias mendeteksi kelainan atau
nodul dengan diameter minimal ) mm walaupun positi" palsu untuk
kelainan sebesar itu mencapai &! B .0 %. 6ila "asilitas ini
memungkinkan pemeriksaan $T scan dapat digunakan sebagai
pemeriksaan skrining kedua setelah "oto dada biasa.
b% Sitologi s#utu, menemukan sel kanker pada sputum atau
dahak penderita hasil positi" biasanya ditemukan jika kanker
ada di dalam saluran napas. Keposit"an pemeriksaan ini D #0%
dan sangat bergantung pada tehnik pasien membantukkan
dahak yang akan diperiksa. *ahak yang diperiksa harus dahak
segar pagi hari dan segera dibawa ke laboratorium patologi
anatomi untuk diproses.
c% Bronoso#i adalah pemeriksaan 'isual dari cabang-cabang
tenggorokan dan paru-paru yang dilakukan oleh spesialis
penyakit paru dengan menggunakan ruang lingkup yang
"leksibel. 6ronkoskopi menggunakan sikat kecil untuk
mengumpulkan sel-sel dari lapisan jaringan sistem perna"asan
bilasan dari jaringan pernapasan untuk analisis sel dan biopsi
$pengangkatan dan pemeriksaan dalam jumlah kecil jaringan%.
Eika bronkoskopi masih unreealing atau Fnegati"F jarum biopsi
dapat dilakukan.
13
d% Bio#si !aru,- dengan panduan 92 dapat dilakukan pada area
yang mencurigakan pada paru-paru atau pleura. 8spirasi jarum
halus $:>8% menggunakan jarum ramping berongga yang
melekat pada jarum suntik. Earum dimasukkan ke dalam massa
mencurigakan dan itu mendorong maju mundur untuk
membebaskan beberapa sel yang disedot $dibuat% ke dalam
jarum suntik dan yang dioleskan pada slide kaca untuk analisis.
jarum besar atau biopsi inti menggunakan besar lubang jarum
untuk mendapatkan sampel jaringan untuk analisis.
e% Bone s.an juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan
kecurigaan metastasis ke tulang. 3etastasis adalah proses
dimana sel-sel kanker melepaskan diri dari perjalanan tumor
asli dan tumbuh dalam bagian tubuh lainnya.
2es pencitraan yang lebih baru yang disebut CT / PET imaging
fusi- menggabungkan teknologi 92 scan dengan teknologi P+2
$tomogra"i emisi positi"% scan. P+2 scan melibatkan suntikan gula
berbasis radio"armaka yang berjalan melalui tubuh dan mengumpul di
organ dan jaringan. P+2 scan digunakan untuk mendeteksi sel-sel
kanker dalam tubuh dan 92 scan memberikan gambar detail yang
dapat menentukan lokasi dan ukuran kanker. 6ila hasil tes ini
FmeleburF $dibawa bersama-sama% gambar yang memberikan
in"ormasi diagnostik yang lebih lengkap. 92 = P+2 pencitraan "usi
14
dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis beberapa bentuk
kanker paru-paru.
Eika tidak ada bukti dari metastasis pasien mungkin akan
mengalami mediastinoscopy- inspeksi bedah mediastinum $jaringan
dan organ dari tengah dada seperti jantung pembuluh besar dan
tenggorokan%. *alam prosedur ini sebuah perangkat yang "leksibel
kecil dengan kamera yang disebut endoso#- dimasukkan ke dada
melalui sayatan di bagian atas sternum dan rongga dada kemudian
diperiksa.
Kelenjar getah bening mediastinum biasanya dikeluarkan selama
prosedur ini. Eika kelenjar getah bening mediastinal adalah Fnegati"F
$tidak mengandung sel-sel kanker% pasien mungkin menjadi kandidat
untuk operasi. >amun jika kelenjar getah bening mediastinum adalah
Fpositi"F $mengandung sel kanker% atau normal besar pada pencitraan
$yang menunjukkan keterlibatan tumor% pasien tidak dianggap sebagai
calon bedah.
"% /es darah dapat dilakukan untuk mencari Fpenanda kanker
paru-paruF-yaitu unsur-unsur dalam darah yang berkaitan
dengan adanya kanker paru-paru. (ebagai contoh kanker paru-
paru dapat diindikasikan oleh kelainan pada berikut ini.
I. P/0 1hor,on #aratiroid2 tingkat P25 atau terkait P25
protein dapat membantu untuk membedakan kanker paru-
paru dari kanker pleura atau penyakit lainnya.
II. 3EA $$arcinoma %m"r!onic &ntigen% protein sistem
kekebalan tubuh yang ada dalam adenocarcinoma termasuk
adenokarsinoma paru-paru. Peningkatan tingkat
preoperati'e 9+8 biasanya menunjukkan prognosis yang
buruk. 2ingkat 9+8 lebih besar dari !0 dapat menunjukkan
kanker paru stadium lanjut dan harus mencegah perawatan
oleh reseksi.
15
III. 34FRA21$1 1."toeratin *rag,en 152 protein kanker paru-
paru.
2.6 Klasi*iasi tu,or #aru
0isto#atologi
1)
Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru paru
(!""# '
#. Karsinoma 6ronkogenik.
a. Karsinoma epidermoid $skuamosa%.
Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus.
Perubahan epitel termasuk metaplasia atau displasia akibat
merokok jangka panjang secara khas mendahului timbulnya
tumor. 2erletak sentral sekitar hilus dan menonjol kedalam
bronki besar. *iameter tumor jarang melampaui beberapa
centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah
bening hilus dinding dada dan mediastinum.
b. Karsinoma sel kecil $termasuk sel oat%.
6iasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama
bronki. 2umor ini timbul dari sel B sel Kulchitsky komponen
normal dari epitel bronkus. 2erbentuk dari sel B sel kecil dengan
inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. 3etastasis dini
ke mediastinum dan kelenjar lim"e hilus demikian pula dengan
penyebaran hematogen ke organ B organ distal.
c. 8denokarsinoma $termasuk karsinoma sel al'eolar%.
3emperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus
dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan timbul di bagian
16
peri"er segmen bronkus dan kadang B kadang dapat dikaitkan
dengan jaringan parut local pada paru B paru dan "ibrosis
interstisial kronik. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh
darah dan lim"e pada stadium dini dan secara klinis tetap tidak
menunjukkan gejala B gejala sampai terjadinya metastasis yang
jauh.
d. Karsinoma sel besar.
3erupakan sel B sel ganas yang besar dan
berdi"erensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan
ukuran inti bermacam B macam. (el B sel ini cenderung untuk
timbul pada jaringan paru - paru peri"er tumbuh cepat dengan
penyebaran ekstensi" dan cepat ke tempat B tempat yang jauh.
e. <abungan adenokarsinoma dan epidermoid.
". Lain B lain.
a% 2umor karsinoid $adenoma bronkus%.
b% 2umor kelenjar bronchial.
c% 2umor papilaris dari epitel permukaan.
d% 2umor campuran dan Karsinosarkoma
e% (arkoma
"% 2ak terklasi"ikasi.
g% 3esotelioma.
h% 3elanoma.
Klasi*iasi 7erdasaran /NM
1&

17
18
(tage 0 I8 I6 II8 II6 III8 III6 dan IA yang ditentukan menurut International
(taging (ystem "or Lung 9ancer #99/ berdasarkan sistem 2>3 0
(tadium kanker 2G >0 30
(tadium 0 2is >0 30
(tadium I8 2# >0 30
(tadium I6 2& >0 30
(tadium II8 2# ># 30
(tadium II6 2&
2)
>#
>0
30
30
(tadium III8 2#
2&
2)
>&
>&
>#>&
30
30
30
stage III6 8ny2
2-
>)
any >
30
30
stage IA any 2 any > 3#
2.5 Pengo7atan /u,or Paru
19
2ujuan pengobatan tumor
.
Kurati" 0 menyembuhkan atau memperpanjang masa bebas penyakit
dan meningkatkan angka harapan hidup pasien.
Paliati" 0 mengurangi dampak kanker meningkatkan kualitas hidup.
7awat rumah $(ospice care% pada kasus terminal 0 mengurangi
dampak "isik maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun
keluarga.
(uporti" 0 menunjang pengobatan kurati" paliati" dan terminal seperti
pemberian nutrisi trans"usi darah dan komponen darah growth factor
obat anti nyeri dan obat anti in"eksi.
2erdapat beda "undamental perangai biologi )on *mall $ell +ung
$ancer $>(9L9% dengan *mall $ell +ung $ancer $(9L9% sehingga
pengobatannya harus dibedakan 0
NS383 1)on *mall $ell +ung $ancer,
(taging 2>3 yang didasarkan ukuran $2% kelenjar getah bening yang
terlibat $>% dan ada tidaknya metastase berman"aat sekali dalam
penentuan tata laksana >(9L9 ini. (taging dimulai dengan anamnesis dan
pemeriksaan "isik yang teliti dengan perhatian khusus pada keadaan
sistemik kardio pulmonal neurologi dan skeletal. 5itung jenis sel darah
tepi dan pemeriksaan kimia darah diperlukan untuk mencari kemungkinan
adanya metastase ke sumsum tulang hati dan tengkorak.
Pengobatan >(9L9. 2erapi bedah adalah pilihan pertama pada
stadium I atau II pada pasien dengan yang adekuat sisa cadangan
parenkim parunya. 7eseksi paru biasanya ditoleransi baik bila predikti"
Hpost reseksi :e'iI yang didapat dari pemeriksaan spirometri peroperati"
dan kuantitati" 'entilasi per"usi scanning melebihi #000 ml. Luasnya
penyebaran intra torak yang ditemui saat operasi menjadi pegangan luas
prosedur operasi yang dilaksanakan. Lobektomi atau pneumonektomi tetap
20
sebagai standar di mana segmentektomi dan reseksi baji bilobektomi atau
reseksi sleee jadi pilihan pada situasi tertentu.
(ur'i'al pasien yang di operasi pada stadium I mendekati .0% pada
stadium II &.-)/ % dari IIa #/-).) %. Pada stadium III 8 mendekati masih
ada kontro'ersi mengenai keberhasilan operasi bila kelenjar mediastinum
ipsilateral atau dinding torak terdapat metastasis.
Pasien stadium III b dan IA tidak dioperasi 9ombined modality therapy
yaitu gabungan radiasi kemoterapi dengan operasi $dua atau tiga
modalitas% dilaporkan memperpanjang sur'i'al dari studi-studi yang masih
berlangsung.
Radiotera#i
Pada beberapa kasus yang inoperable radio terapi dilakukan sebagai
pengobatan kurati" dan bisa juga sebagai terapi aju'an=paliati" pada tumor
dengan komplikasi seperti mengurangi e"ek obstrukti"=penekanan terhadap
pembuluh darah=bronkus.
+"ek samping yang sering adalah dis"agia karena eso"agitis post
radiasi sedangkan pneumonitis post radiasi jarang terjadi $D#0%%. 7adiasi
dengan dosis paruh yang bertujuan kurati" secara teoritis berman"aat pada
kasus yang inoperabel tapi belum disokong data percobaan klinis yang
sahih. Keberhasilan memperpanjang sur'i'al sampai &0% dengan cara
radiasi dosis paruh ini didapat dari kasus-kasus stadium I usia lanjut
kasus dengan penyakit penyerta sebagai penyulit operasi atau pasien
yang menolak dioperasi.
21
Pasien dengan metastasis sebatas >#-& atau saat operasi terlihat
tumor sudah merambat sebatas sayatan operasi maka radiasi post
operasi dianjurkan untuk diberikan. 7adiasi preoperasi untuk mengecilkan
ukuran tumor agar misalnya pada reseksi lebih komplit pada pancoast
tumor atau stadium III b dilaporkan berman"aat dari beberapa sentra
kanker. 7adiasi paliati" pada kasus sindrom 'ena ca'a superior atau
kasus dengan komplikasi dalam rongga dada akibat kanker seperti
hemoptisis batuk re"rakter atelektasis mengurangi nyeri akibat
metastasis kranium dan tulang juga amat berguna.
.
Ke,otera#i
Prinsip kemoterapi
(el kanker memiliki si"at perputaran daur sel lebih tinggi
dibandingkan sel normal. *engan demikian tingkat mitosis dan
proli"erasi tinggi. (itostatika kebanyakan e"ekti" terhadap sel
bermitosis. 8da beberapa hal yang dapat mempengaruhi kegagalan
pencapaian target pengobatan antara lain0
a. 7esistensi terhadap sitostatika
b. Penurunan dosis sitostatika di mana penurunan dosis sebesar &0%
akan menurunkan angka harapan sembuh sekitar !0%
c. Penurunan intensitas obat di mana jumlah obat yang diterima selama
kurun waktu tertentu kurang.
?ntuk mengatasi hal tersebut di atas dosis obat harus diberikan
secara optimal dan sesuai jadwal pemberian. Kecuali terjadi hal-hal yang
jika diberikan sitostatika akan lebih membahayakan jiwa.
Penggunaan resimen kemoterapi agresi" $dosis tinggi% harus
didampingi dengan rescue sel induk darah yang berasal dari sumsum
tulang atau darah tepi yang akan menggantikan sel induk darah akibat
mieloablati". Penilaian respons pengobatan kanker dapat dibagi menjadi
lima golongan seperti 0
22
a. 7emisi komplit tidak tampak seluruh tumor terukur atau lesi terdeteksi
selama lebih dari - minggu.
b. 7emisi parsial tumor mengecil @!0% tumor terukur atau @!0% jumlah
lesi terdeteksi menghilang.
c. *ta"le disease pengecilan !0% atau D&!% membesar.
d. Progresi" tampak beberapa lesi baru atau @&!% membesar.
e. Lokoprogresi" 0 tumor membesar di dalam radius tumor $lokal%.
Penggunaan kemoterapi pada pasien >(9L9 dalam dua dekade
terakhir ini sudah di teliti. ?ntuk pengobatan kurati" kemoterapi
dikombinasikan secara terintegrasi dengan modalitas pengobatan kanker
lainnya pada pasien dengan penyakit lokoregional lanjut.
Kemoterapi digunakan sebagai terapi baku untuk pasien mulai dari
stadium III8 dan untuk pengobatan paliati".
Kemoterapi adju'an diberikan mulai dari stadium II dengan sasaran
lokoregional tumor dapat direseksi lengkap cara pemberian diberikan
setelah terapi lokal de"initi" dengan pembedahan radioterapi atau
keduanya.
Kemoterapi neoadju'an diberikan mulai dari stadium II dengan sasaran
lokoregional tumor dapat direseksi lengkap. 2erapi de"initi" dengan
pembedahan radioterapi atau keduanya diberikan di antara siklus
pemberian kemoterapi.
Pe,ilihan o7at
Kebanyakan obat sitostatik mempunyai akti'itas cukup baik
pada >(9L9 dengan tingkat respons antara #!-))% walaupun
demikian penggunaan obat tunggal tidak mencapai remisi komplit.
Kombinasi beberapa sitostatik telah banyak diteliti untuk meningkatkan
tingkat respons yang akan berdampak pada harapan hidup.
/era#i Biologi
23
69< le'amisole inter"eron dan interleukin penggunaannya dengan
kombinasi modalitas lainnya hasilnya masih kontro'ersial.
/era#i 'en
8khir-akhir ini dikembangkan penyelarasan gen $9himeric% dengan
cara transplantasi stem sel dari darah tepi maupun sumsum tulang
alogenik.
S383 1S,all 3ell 8ung 3an.er2
(9L9 dibagi menjadi dua yaitu 0
#. +imited-stage disease yang diobati dengan tujuan kurati" $kombinasi
kemoterapi dan radiasi% dan angka keberhasilan terapi sebesar &0%
&. %.tensie-stage disease yang diobati dengan kemoterapi dan angka
respons terapi inisial sebesar .0-/0% dan angka respons terapi
komplit sebesar &0-)0%. 8ngka median-surial time untuk limited-
stage disease adalah #, bulan dan untuk e.tensie-stage disease
adalah 9 bulan.
2.19 Pen.egahan
Pencegahan yang paling penting adalah tidak merokok sejak usia
muda. 6erhenti merokok dapat mengurangi resiko terkena kanker
paru. Penelitian dari kelompok perokok yang berusaha berhenti
merokok hanya )0% yang berhasil.
2.11 Prognosis
(mall 9ell Lung 9ancer $(9L9%
*engan adanya perubahan terapi dalam #!-&0 tahun belakangan ini
kemungkinan hidup rata-rata yang tadinya D ) bulan meningkat
menjadi # tahun.
24
Pada kelompok Limited *isease kemungkinan hidup rata-rata naik
menjadi #-& tahun sedangkan &0% daripadanya tetap hidup dalam &
tahun.
)0% meninggal karena komplikasi lokal dari tumor
/0% meninggal karena karsinomatosis
!0% bermetastasis ke otak $autopsi%
>on (mall 9ell Lung 9ancer $>(9L9%
;ang terpenting pada prognosis kanker paru ini adalah menentukan
stadium dari penyakit
*ibandingkan dengan jenis lain dari >(9L9 karsinoma skuamosa
tidaklah seburuk yang lainnya. Pada pasien yang dilakukan tindakan
bedah kemungkinan hidup ! tahun setelah operasi adalah )0%.
(ur'i'al setelah tindakan bedah /0% pada occult carcinoma /)!-
-0% pada stadium I J #0-#!% pada stadium II dan kurang dari #0%
pada stadium III
/!% karsinoma skuamosa meninggal akibat komplikasi torakal &!%
karena ekstra torakal &% di antaranya meninggal karena gangguan
sistem sara" sentral.
-0% adenokarsinoma dan karsinoma sel besar meninggal akibat
komplikasi torakal !!% karena ekstra torakal.
#!% adenokarsinoma dan karsinoma sel besar bermetastasis ke otak
dan ,-9% meninggal karena kelainan sistem sara" sentral.
Kemungkinan hidup rata-rata pasien tumor metastasis ber'ariasi dari
. bulan sampai dengan # tahun dimana hal ini sangat tergantung
pada 0 per"ormance status $skala Karno"sky% luasnya penyakit
adanya penurunan berat badan dalam . bulan terakhir.
25
Per*or,an.e Status Berdasaran Sala :ho %an Sala Karno*s"
Per"ormance (tatus (kala
K54
(kala
Karno"sky
8kti'itas normal 0 90-#00
Keluhan $L% berjalan dan merawat diri sendiri # /0-,0
8kti'itas dalam waktu @ !0% kadang perlu bantuan & !0-.0
8kti'itas dalam waktu !0% perlu bantuan ) )0--0
*i tempat tidur perlu waktu - #0-&0
BAB III
%AF/AR PUS/AKA
#. Kilson Loraine 3. Tumor 0anas 1aru-1aru dalam 1atofisiologi
2onsep 2lini* 1roses-1roses 1en!akit. +d.- Eakarta 0 +<9 #99!
&. 3usu" 8nwar dkk. 1erhimpunan dokter paru indonesia dan
perhimpunan onkologi indonesia. 2anker paru' 4enis karsinoma
"ukan sel kecil. 1edoman nasional untuk diagnosis dan
penatalaksanaan di 5ndonesia. &00!
3. 6erla! 3, Bra! 6, 1isani 1 and 1arkin 7#. 0+8B8$&) 9::9' $ancer
5ncidence, #ortalit! and 1realence ;orldwide. 5&R$ $ancerBase
)o. 5, <ersion 9.:, +!on' 5&R$ 1ress, 9::=.
-. 8min Mulki"li 6ahar 8sril 2umor paru dalam 6uku 8jar Ilmu Penyakit
*alam Eilid II +disi Ketiga Penerbit :K?I Eakarta &00#.6oyle P
and :erlay E $ancer incidence and mortalit! in %urope &00-. 8nnal
4ncol $&00!%0#.J-,#
26
!. 8nonim &00. 2anker 1em"unuh )omor *atu In"o 8ktual Koran
media Indonesia >o.9&0-=2ahun GGGAI
.. 8min Mulki"li. 2anker 1aru. 7alam' *udo!o, &ru ; dkk. Buku a4ar
ilmu pen!akit dalam. Eilid II. +disi IA. Eakarta0 *epartemen ilmu
penyakit dalam :K?I. &00.. 5al. #00!-##
/. Respirator! (ealth %ffects of 1assie *moking. +ung $ancer and
8ther 7isorders Kashington *9 ?( +n'ironmental Protection
8gency #99&
,. 6rownson 79 8la'anja 397 9aporaso > 6erger + 9hange E9.
6amil! histor! of cancer and risk of lung cancer in lifetime non-
smokers and long-term e.-smokers. 5nternational 3ournal of
%pidemiolog! #99/J&.0&!.B&.)
9. 5nternational &genc! for Research on $ancer >5&R$,. 5&R$
#onographs on the %aluation of $arcinogenic Risks to (umans and
their *upplements' & complete list. 2obacco (moking and 2obacco
(moke Aolume ,) $&00&%.
#0. Aan 9leemput E *e 7ae'e 5 Aerschakelen E8 7ombouts
E LacCuet L3 >emery 60 (ur"ace o" locali1ed pleural plaCues
Cuantitated by computed tomography scanning0 no relation with
cumulati'e asbestos eNposure and no e""ect on lung "unction. &m 3
Respir $rit $are #ed &00#J #.)0/0!-/#0
##. Institute o" 3edicine $I43% :ood and >utrition 6oard
(ubcommittees on ?pper 7e"erence Le'els o" >utrients and
Interpretation and ?ses o" *ietary 7e"erence Intakes and the
(tanding 9ommittee on the (cienti"ic +'aluation o" *ietary 7e"erence
Intakes. & Report of the 1anel on 7ietar! &ntio.idants and Related
$ompounds' 7ietar! Reference 5ntakes for <itamin $, <itamin %,
*elenium and $arotenoids >9:::,.
19. *amet 3#' 5ndoor radon and lung cancer' estimating the risks.
;est 3 #ed 1??9/ 156'95-9?.
27
13. 1ershagen 0, &ker"lom 0, &.elson 8, $laens4o B, 7am"er
+, 7esai 0, %nflo &, +agarde 6, #ellander (, *artengren #, et al'
Residential radon e.posure and lung cancer in *weden. ) %ngl 3
#ed 1??=/ 33:'15?-16=.
#-. >ational 7esearch 9ouncil $>79% 9ommittee on Passi'e (moking.
+n'ironmental 2obacco (moke0 #easuring %.posures and
&ssessing (ealth %ffects $#9,.%
#!. (il'estri <8 2anoue L2 3argolis 3L 6arker E *etterbeck :0 The
noninasie staging of non@small cell lung cancer. 2he guidelines.
9hest.. #&)0 &00)J #-/(-#!.(
#.. 3ountain 9:. Reisions in the international staging s!stem for lung
cancer. 9hest ###0#/#0-/ #99/

Anda mungkin juga menyukai