Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Abad 20 ditandai dengan perkembangan yang menakjubkan di bidang
ilmu dan pengetahuan (iptek), termasuk iptek kedokteran dan kesehatan, sehingga
memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam diagnosis dan terapi berbagai
penyakit.
Penggunaan isotop radioaktif dalam bidang kedokteran telah dimulai
tahun 1901 oleh Henri Danlos yang menggunakan Radium untuk pengobatan
penyakit Tuberculosis pada kulit. Tetapi yang dianggap Bapak Ilmu Kedokteran
Nuklir adalah George C de Havessy. Dialah yang meletakkan dasar prinsip perunut
dengan menggunakan zat radioaktif. Waktu itu yang digunakan adalah radioisotop
alam Pb212.
Teknik perunut oleh Hevesy pada tahun 1923 menambah kemajuan
teknik nuklir untuk di gunakan dibidang kedokteran dan industri. Sebagai perunut,
radoisotop ditambahkan ke dalam suatu sistem untuk mempelajari sistem itu, baik
sistern fisika, kimia maupun sistem biologi. Oleh karena radioisotop mempunyai sifat
kimia yang sama seperti isotop stabilnya, maka radioisotop dapat digunakan untuk
menandai suatu senyawa sehingga perpindahan perubahan senyawa itu dapat
dipantau.
Ada beberapa sumber radiasi dilingkungan kita, antara lain televisi,
lampu penerangan, komputer. Selain itu ada sumber radiasi yang bersifat unsur
alamiah yaitu berada di air, udara dan lapisan bumi. Sumber radiasi dari unsur
alamiah adalah thorium dan uranium berada di lapisan bumi, sedangkan karbon dan
radon berada di udara.
Selain sumber radiasi alami terdapat juga sumber radiasi buatan
manusia Dengan ditemukannya radioisotop buatan, maka radioisotop alam tidak lagi
digunakan.Radioisotop buatan yang banyak dipakai pada masa awal perkembangan
kedokteran nuklir adalah I131. Pemakaiannya kini telah terdesak oleh Tc99m, selain
karena sifatnya yang ideal dari segi proteksi radiasi dan pembentukan citra juga
dapat diperoleh dengan mudah, serta harga relatif murah. Namun demikian, I131
masih sangat diperlukan untuk diagnostik dan terapi, khususnya kanker kelenjar
tiroid.

2


1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana peranan radioisotop dalam bidang kedokteran?
2. Bagaimana mekanisme kerjanya?
3. Apa saja aplikasi radioisotop dalam bidang kedokteran serta resiko yang
dapat ditimbulkan?

1.3 Tujuan
Adanya tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia
2. Memberi informasi kepada pembaca tentang manfaat radioisotop
3. Menambah pengetahuan kepada penulis dan pembaca

1.4 Manfaat
1. memberikan informasi mengenai manfaat dan aplikasi dari radioisotop dalam
bidang kedokteran.
2. mengetahui resiko yang dapat ditimbulkan oleh radiasi.

















3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Radioaktif
Radioaktif atau radiasi yang berasal dari bahan radioaktif adalah satu bentuk
energi yang dipancarkan oleh atom atau molekul yang disebarkan melalui ruang
atau materi sebagai partikel / partikel ataupun gelombang elektromagnetik.
Radioaktivitas (juga disebut radioaktif juga merupakan fenomena alami atau buatan,
dimana ditimbulkan oleh zat tertentu atau bahan kimia. Ada dua radio aktif yang ada
pada umumnya yaitu Radioaktivitas spontan atau alami: Hal ini diwujudkan dalam
unsur-unsur radioaktif dan isotop ditemukan di alam dan mencemari lingkungan
seperti uranium dan thorium dalam lingkungan (tanah, pohon, air dan udara) dan
Radioaktivitas buatan atau induksi: radioaktif ini merupakan salah satu yang
disebabkan oleh transformasi nuklir buatan seperti Technitium-99m yang digunakan
dalam medis dan Iridium-192 yang digunakan dalam industri termasuk pembangkit
listrik tenaga nuklir.
Radioaktivitas atau peluruhan radioaktif adalah perubahan atau konversi
secara spontan inti nuklida stabil ke inti lainnya di mana ada radiasi pengion. Setiap
kali jumlah proton dalam inti, maka akan ada unsur perubahan. Radioaktivitas
ditemukan pada tahun 1896 oleh Henri Becquerel pada garam uranium. Untuk
memperjelas sifat radioaktivitas signifikan,fisikawan Perancis Pierre Curie dan Marie
Curie asal Polandia berkontribusi untuk hal ini.
Sinar radioaktif ini berbentuk seperti gelombang cahaya, gelombang
radio, sinar infra-red (panas), microwave dan sinar X. Antara sinar mengion yang
ada adalah partikel Alfa, partikel beta, sinar Gamma, sinar X dan juga Neutron.
Radioaktivitas digunakan untuk memperoleh energi nuklir, dan juga
digunakan dalam pengobatan (radioterapi dan radiologi) dan aplikasi industri
(misalnya mengukur ketebalan dan ukuran kerapatan).

Contoh isotop radioaktif alami
1. uranium
2. thorium isotop radioaktif


4


2.2 Definisi Radioisotop

Reaksi nuklir merupakan reaksi yang melibatkan inti dari suatu atom. Reaksi
nuklir ada yang terjadi secara spontan ataupun buatan. Reaksi nuklir spontan terjadi
pada inti-inti atom yang tidak stabil. Zat yang mengandung inti tidak stabil ini disebut zat
radioaktif. Adapun reaksi nuklir tidak spontan dapat terjadi pada inti yang stabil maupun
inti yang tidak stabil. Reaksi nuklir disertai perubahan energi berupa radiasi dan kalor.
Berbagai jenis reaksi nuklir disertai pembebasan kalor yang sangat dasyat, lebih besar
dari suatu reaksi kimia biasa. Unsur yang secara alami bersifat radioaktif banyak
terdapat di alam. Semua isotop yang bernomor atom diatas 83 bersifat radioaktif. Unsur
yang bernomor atom 83 atau kurang mempunyai isotop yang stabil kecuali teknesium
dan promesium. Isotop yang bersifat radioaktif disebut isotop radioaktif atau radio
isotop, yaitu isotop yang memancarkan radiasi.
Suatu unsur dikatakan radioisotop atau isotop radioaktip ialah apabila unsur
tersebut dapat memancarkan radiasi. Pada umumnya radioisotop digunakan untuk
berbagai keperluan seperti dalam bidang kedokteran dan industri. Radioisotop yang
digunakan tersebut tidak terdapat di alam, disebabkan waktu paruh dan beberapa factor
lainnya yang kurang memenuhi persyaratan. Untuk beberapa tujuan radioisotop harus
dikombinasikan dengan senyawa tertentu melalui bebarapa cara reaksi kimia. Dengan
demikan tujuan utama produksi radioisotop ialah menyediakan unsur atau senyawa
radioaktif tertentu yang memenuhi persyaratan sesuai penggunaanya.
Radioisotop adalah produk reaksi nuklir yang memiliki kemampuan
memancarkan sinar radiasi pengion, baik yang terbentuk secara alami maupun secara
buatan. radioisotop mempunyai peranan penting dalam melengkapi kebutuhan manusia
di berbagai bidang seperti kesehatan, industri, pertanian dan hidrologi.
Sedangkan isotop yang tidak radioaktif disebut isotop stabil. Radioisotop juga
dibuat dari isotop stabil. Jadi disamping radioisotop alami juga terdapat radioisotop
buatan. Dua kegiatan utama dari pemanfaatan tekhnologi nuklir khususnya mengenai
radioisotop adalah pemanfaatan dalam bidang energi dan pemanfaatan di luar energi.
Pemanfaatan di luar energi misalnya pada reaktor penelitian. Di dalam teras reaktor
penelitian dapat digunakan untuk memproduksi radioisotop dan melakukan berbagai
penelitian dengan radiasi.
Produksi radioisotop dengan proses aktivasi dilakukan dengan cara menembaki
isotop stabil dengan neutron di dalam teras reaktor. Proses ini lazim disebut irradiasi
neutron, sedang bahan yang disinari disebut target atau sasaran. Neutron yang

5

ditembakkan akan masuk ke dalam inti atom target sehingga jumlah neutron dalam inti
target tersebut bertambah. Peristiwa ini dapat mengakibatkan ketidakstabilan inti atom
sehingga berubah sifat menjadi radioaktif. Reaktor penelitian juga dilengkapi dengan
fasilitas Xenon Loop yang terletak di dalam tabung berkas dan merupakan tempat untuk
melakukan irradiasi gas xenon-124 (124 Xe) sehingga menjadi radioisotop 125 I yang
banyak dimanfaatkan untuk kegiatan medis.
























6

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Radioisotop dalam bidang kedokteran
Kedokteran Nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan
sumber radiasi terbuka dari disintegrasi inti radionuklida buatan (radiofarmaka)
untuk tujuan diagnostik, terapi dan lain sebagainya. Pada kedokteran nuklir,
penunjang diagnostik di dibagiatas in-vivo (non- iamging dan imaging) dan in-vitro
menggunakan radioisotop tertentu sebagai perunut (tracer).
3.1.1 pemeriksaan In Vivo
pemeiksaan in vivo dilakukan di dalam tubuh, maksudnya pasien diberi
radioisotop dengan cara oral (melalui mulut), suntikan, inhalasi (pernafasan)
dan dideteksi aktivitasnya dari luar tubuh. Di bidang kedokteran teknologi ini
telah lama dimanfaatkan. Radioisotop Teknesium-99m (Tc-99m) merupakan
radioisotop primadona yang mendekati ideal untuk mencari jejak di dalam
tubuh. Hal ini dikarenakan radioisotop ini memiliki waktu paro yang pendek
sekitar 6 jam sehingga intensitas radiasi yang dipancarkannya berkurang
secara cepat setelah selesai digunakan. Radioisotop ini merupakan
pemancar gamma murni dari jenis peluruhan electron capture dan tidak
memancarkan radiasi partikel bermuatan sehingga dampak terhadap tubuh
sangat kecil. Selain itu, radioisotop ini mudah diperoleh dalam bentuk carrier
free (bebas pengemban) dari radioisotop molibdenum-99 (Mo-99) dan dapat
membentuk ikatan dengan senyawa-senyawa organik. Radioisotop ini
dimasukkan ke dalam tubuh setelah diikatkan dengan senyawa tertentu
melalui reaksi penandaan (labelling). Di dalam tubuh, radioisotop ini akan
bergerak bersama-sama dengan senyawa yang ditumpanginya sesuai
dengan dinamika senyawa tersebut di dalam tubuh. Dengan demikian,
keberadaan dan distribusi senyawa tersebut di dalam tubuh yang
mencerminkan beberapa fungsi organ dan metabolisme tubuh dapat dengan
mudah diketahui dari hasil pencitraan. Pencitraan dapat dilakukan
menggunakan kamera gamma. Cara pemeriksaan in vivo di pakai untuk
melacak keberadaan kanker di dalam tubuh dengan cara menyuntikkan
oksida Tc-99, unsur radioaktif ini akan mengalir mengikuti darah. Bagian
tubuh yang tidak terdapat tumor tidak akan menyerap unsur itu, sedangkan
bagian tubuh yang terkena tumor akan menyerap unsur itu. Dengan begitu di
daerah yang terdapat tumor, keaktifan radioisotop lebih besar dibandingkan

7

dengan daerah lain yang sehat. Hal ini menyebabkan daerah yang terdapa
tumor mudah dilacak atau dirunut.
Radioisotop sebagai perunut juga digunakan untuk mencari bagian yang
mengalami penyempitan pada pembuluh darah yang disebut trombosit.
Pasien yang akan diperiksa disuntik dengan radioisotop natrium. Darah akan
mengalirkan isotop ini ke selurun bagian tubuh. Bagian yang mengalami
penyempitan darah akan mempunyai jumlah natrium yang berbeda dengan
bagian lain yang sehat. Dengan menggunakan detektor radioaktif dapat
diketahui bagian yang terkena penyempitan.
Radioisotop juga dapat digunakan untuk mempelajari kecepatan penyerapan
suatu unsur oleh kelenjar misalnya kelenjar gondok yang ada dalam tubuh.
Unsur yang digunakan adalah iodium yang bersifat radioaktif sebagai
radioisotop.

3.1.2 Pemeriksaan In Vitro
Pemeriksaan in vitro dilakukan di luar tubuh, maksudnya dengan
mengambil sempel dari pasien selanjutnya akan dianalisis dengan metoda
yang menggunakan radioisotop. Peralatan kedokteran yang digunakan
adalah :
a. Scanner
b. Renograf
c. Thyroid uptake
d. RIA (Radio Immuno Assay)

3.1.3 Sterilisasi alat-alat kedokteran
Prinsip sterilisasi adalah membebaskan alat tersebut dari semua jasad
hidup terutama jasad renik (mikroba). Alat kedokteran kebanyakan berbahan
plastik sehingga tidak tahan terhadap sterilisasi panas, untuk itu dilakukan
sterilisasi cara radiasi menggunakan radioisotop. Alat-alat kedokteran yang
disterilkan dengan cara radiasi harus tahan terhadap dosis radiasi yang
digunakan. Bila bahan tersebut terurai karena radiasi maka hasil urainya
tidak berpengaruh negatif. Karena itu strelisasi yang dapat digunakan adalah
sterilisasi dingin menggunakan gas etilen oksida (ETO) atau radiasi.
Tetapi karena gas ETO memiliki banyak kelemahan yang merugikan bagi
manusia dan lingkungan seperti bersifat toksik pada manusia, meninggalkan
residu gas yang bersifat karsinogenik pada produk, polusi terhadap

8

lingkungan, dan memerlukan karantina produk 7-14 hari. Sehingga radiasi
pengion merupakan pilihan yang tepat untuk sterilisasi dingin terhadap
produk yang tidak tahan panas seperti alat kedokteran dan tissue graft.
Adapun keuntungan dari teknik sterilisasi radiasi dibanding teknik lain antara
lain:
a. Sterilisasi dilakukan pada suhu kamar.
b. Tidak menimbulkan kenaikan temperatur yang berarti.
c. Bahan atau alat dapat disterilkan dalam keadaan sudah terbungkus rapi,
siap untuk dipasarkan.
d. Tidak merusak bahan yang disterilisasi.
e. Lebih efektif karena dapat mencapai 100% steril pada dosis tinggi.
f. Dapat mesterilkan bahan dalam jumlah banyak untuk sekali proses
radiasi.

3.2 Manfaat Radioisotop dalam Bidang Kesehatan dan Kedokteran

Banyak radioisotop yang digunakan dalam bidang kesehatan dan kedokteran
dan masing-masing radioisotop tersebut memiliki manfaat yang berbeda, antara
lain:
1. I-131 Terapi penyembuhan kanker Tiroid, mendeteksi kerusakan pada kelenjar
gondok, hati dan otak.
2. Pu-238 energi listrik dari alat pacu jantung.
3. Tc-99 & Ti-201 Mendeteksi kerusakan jantung.
4. Na-24 Mendeteksi gangguan peredaran darah.
5. Xe-133 Mendeteksi Penyakit paru-paru.
6. P-32 Penyakit mata, tumor dan hati.
7. Fe-59 Mempelajari pembentukan sel darah merah.
8. Cr-51 Mendeteksi kerusakan limpa.
9. Se-75 Mendeteksi kerusakan Pankreas.
10. Tc-99 Mendeteksi kerusakan tulang dan paru-paru.
11. Ga-67 Memeriksa kerusakan getah bening.
12. C-14 Mendeteksi diabetes dan anemia.
13. Co-60 Membunuh sel-sel kanker.




9

3.3 Mekanisme Kerja
1. Radiodiagnostik
I-131 digunakan sebagai terapi pengobatan untuk kondisi tiroid yang over
aktif atau kita sebut hipertiroid. I-131 ini sendiri adalah suatu isotop yang terbuat dari
iodin yang selalu memancarkan sinar radiasi. Jika I-131 ini dimasukkan kedalam
tubuh dalam dosis yang kecil, maka I-131 ini akan masuk ke dalam pembuluh darah
traktus gastrointestinalis. I-131 dan akan melewati kelenjar tiroid yang kemudian
akan menghancurkan sel-sel glandula tersebut. Hal ini akan memperlambat aktifitas
dari kelenjar tiroid dan dalam beberapa kasus dapat merubah kondisi tiroid.

2. Radioterapi
Bila jaringan terkena radiasi penyinaran, maka jaringan akan menyerap
energi radiasi dan akan menimbulkan ionisasi atom-atom. Ionisasi tersebut dapat
menimbulkan perubahan kimia dan biokimia yang pada akhirnya akan menimbulkan
kerusakan biologik. Kerusakan sel yang terjadi dapat berupa kerusakan kromosom,
mutasi, perlambatan pembelahan sel dan kehilangan kemampuan untuk
berproduksi.
Radiasi pengion adalah berkas pancaran energi atau partikel yang bila
mengenai sebuah atom akan menyebabkan terpentalnya elektron keluar dari orbit
elektron tersebut. Pancaran energi dapat berupa gelombang elektromagnetik, yang
dapat berupa sinar gamma dan sinar X. Pancaran partikel dapat berupa pancaran
elektron (sinar beta) atau pancaran partikel netron, alfa, proton.
Dengan pemberian setiap terapi, maka akan semakin banyak sel-sel kanker
yang mati dan tumor akan mengecil. Sel-sel yang mati akan hancur, dibawa oleh
darah dan diekskresi keluar dari tubuh. Sebagian besar sel-sel sehat akan bisa pulih
kembai dari pengaruh radiasi. Tetapi bagaimanapun juga, kerusakan yang terjadi
pada sel-sel sehat merupakan penyebab terjadinya efek samping radiasi.

3.4 Efek radioaktif dalam bidang kesehatan dan kedokteran
Efek samping radioterapi bervariasi pada tiap pasien. Secara umum efek samping
tersebut tergantung dari dosis terapi, target organ dan keadaan umum pasien. Beberapa
efek samping berupa kelelahan, reaksi kulit (kering, memerah, nyeri, perubahan warna
dan ulserasi), penurunan sel-sel darah, kehilangan nafsu makan, diare, mual dan
muntah bisa terjadi pada setiap pengobatan radioterapi. Kebotakan bisa terjadi tetapi
hanya pada area yang terkena radioterapi. Radiasi tidak menyebabkan kehilangan
rambut yang total. Pasien yang menjalani radiasi eksternal tidak bersifat radioaktif

10

setelah pengobatan sehingga tidak berbahaya bagi orang di sekitarnya. Efek samping
umumnya terjadi pada minggu ketiga atau keempat dari pengobatan dan hilang dua
minggu setelah pengobatan selesai.
Efek radiasi pada sistem, organ atau jaringan:
1. Darah dan Sumsum Tulang Merah
Darah putih merupakan komponen seluler darah yang tercepat mengalami
perubahan akibat radiasi. Efek pada jaringan ini berupa penurunan jumlah sel.
KompOnen seluler darah yang lain ( butir pembeku dan darah merah ) menyusun
setelah sel darah putih. Sumsum tulang merah yang mendapat dosis tidak terlalu tinggi
masih dapat memproduksi sel-sel darah merah, sedang pada dosis yang cukup tinggi
akan terjadi kerusakan permanen yang berakhir dengan kematian ( dosis lethal 3 5
sv). Akibat penekanan aktivitas sumsum tulang maka orang yang terkena radiasi akan
menderita kecenderungan pendarahan dan infeksi, anemia dan kekurangan
hemoglobinefek stokastik pada penyinaran sumsum tulang adalah leukemia dan kanker
sel darah merah.
2. Saluran Pencernaan Makanan
Kerusakan pada saluran pencernaan makanan memberikan gejala mual,
muntah, gangguan pencernaan dan penyerapan makanan serta diare. kemudian dapat
timbul karena dehidrasi akibat muntah dan diare yang parah. Efek stokastik yang dapat
timbul berupa kanker pada epithel saluran pencernaan.

3. Organ Reproduksi
Efek somatik non stokastok pada organ reproduksi adalah sterilitas, sedangkan
efek genetik (pewarisan) terjadi karena mutasi gen atau kromosom pada sel kelamin.

4. Sistem Syaraf
Sistem syaraf termasuk tahan radiasi. Kematian karena kerusakan sistem syaraf
terjadi pada dosis puluhan sievert.

5. Mata
Lensa mata peka terhadap radiasi. Katarak merupakan efek somatik non stokastik
yang masa tenangnya lama (bisa bertahun-tahun).



11

6. Kulit
Efek somatik non stokastik pada kulit bervariasi dengan besarnya dosis, mulai
dengan kemerahan sampai luka bakar dan kematian jaringan. efek somatik stokastik
pada kulit adalah kanker kulit.

7. Tulang
Bagian tulang yang peka terhadap radiasi adalah sumsum tulang dan selaput
dalam serta luar pada tulang. kerusakan pada tulang biasanya terjadi karena
penimbunan stontium-90 atau radium-226 dalam tulang. Efek somatik stokastik berupa
kanker pada sel epithel selaput tulang.

8. Kelenjar Gondok
Kelenjar gondok berfungsi mengatur metabolisme umum melalui hormon tiroxin
yang dihasilkannya. Kelenjar ini relatif tahan terhadap penyinaran luar namun mudah
rusak karena kontaminasi internal oleh yodium radioaktif.

9. Paru-paru
Paru-paru pada umumnya menderita kerusakan akibat penyinaran dari gas, uap
atau partikel dalam bentuk aerosol yang bersifat radioaktif yang terhirup melalui
pernafasan.











12

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Suatu unsur dikatakan radioisotop atau isotop radioaktip ialah apabila unsur
tersebut dapat memancarkan radiasi.
2. Radiasi mempunyai dua sifat yaitu sifat merusak dan sifat yang dapat
dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dalam berbagai bidang,
salah satunya adalah dalam bidang kedokteran.
3. Aplikasi radioisotop dalam bidang kedokteran antara lain: pemeriksaan
fungsi kelenjar gondok, ginjal, hati, terapi tumor dan kanker, mengukur
kandungan hormon tertentu dalam darah, steriliasasi alat kedokteran serta
rontgen dan CT-Scan.
4. Mekanisme kerja terbagi dua yaitu : A. Radiodiagnostik adalah kegiatan
penunjang diagnostik menggunakan perangkat radiasi sinar pengion (sinar
x), untuk melihat fungsi tubuh secara anatomi. B. Radioterapi adalah
Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion untuk
mematikan sel kanker sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada sel
normal sekecil mungkin.
5. Resiko yang dapat ditimbulkan oleh radiasi tergantung dari dosis terapi,
target organ dan keadaan umum pasien.

4.2 saran
Adapun saran yang dapat disampaikan adalah perlu dikaji lebih lanjut mengenai
pemanfaatan radiasi dan radioisotop dalam berbagai bidang. Khususnya dalam
bidang kesehatan dan kedokteran.










13

Lampiran














Sterilisasi alat-alat kedokteran










Pengobatan kelenjar tiroid menggunakan radiasi