Anda di halaman 1dari 32

TUGAS PATOLOGI KLINIK

OLEH :
TRI ANNA FITRIANI
NIM : H1A012060

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
Nusa Tenggara Barat
2014



PATOLOGI KLNIK
A. Judul
Hematopoiesis. Kriteria leukemia menurut WHO dan Sitogenetik. Pemeriksaan gambaran
penyakit Leukemia.

B. Waktu dan Tempat
- Waktu : 13.30 WITA
- Hari/tanggal : jumat, 16 Mei 2014
- Tempat : Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
C. Tujuan
- Untuk mengetahui proses hematopoiesis
- Untuk mengetahui gambaran kriteria leukimia menurut WHO













Sistem Hemopoiesis

Darah memiliki peran untuk menjaga tubuh tetap dalam keadaan homeostasis. Selain
meregulasi pH, temperatur, serta mengatur transport zat-zat dari dan ke jaringan, darah juga
melakukan perlindungan dengan cara melawan penyakit. Fungsi-fungsi ini dikerjakan secara
terbagi-bagi oleh komponen-komponen darah, yaitu plasma dan sel-sel darah. Plasma darah
adalah cairan yang berada di kompartemen ekstraselular di dalam pembuluh darah yang berperan
sebagai pelarut terhadap sel-sel darah dan substans lainnya. Sedangkan sel darah merupakan unit
yang mempunyai tugas tertentu. Sel-sel darah yang terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit
dibentuk melalui suatu mekanisme yang sama, yaitu hemopoiesis.
Hemopoiesis adalah proses pembentukan dan perkembangan sel-sel darah. Sebelum
dilahirkan, proses ini terjadi berpindah-pindah. Pada beberapa minggu pertama kehamilan,
hemopoiesis terjadi di yolk sac. Kemudian hingga fetus berusia 6-7 bulan, hati dan limpa
merupakan organ hemopoietik utama dan akan terus memproduksi sel-sel darah hingga sekitar
dua minggu setelah kelahiran. Selanjutnya pekerjaan ini diambil alih oleh sumsum tulang
dimulai pada masa kanak-kanak hingga dewasa.
Sumsum tulang atau bone marrow merupakan suatu jaringan ikat dengan vaskularisasi
yang tinggi bertempat di ruang antara trabekula jaringan tulang spons. Tulang-tulang rangka
axial, tulang-tulang melingkar pada pelvis dan pektoral, serta di bagian epifisis proksimal tulang
humerus dan femur adalah tulang-tulang dengan sumsum tulang terbanyak di tubuh manusia.
Terdapat dua jenis sumsum tulang pada manusia, yaitu sumsum tulang merah dan sumsum
tulang kuning. Pada neonatus, seluruh sumsum tulangnya berwarna merah yang bermakna
sumsum tulang yang bersifat hemopoietik, sedangkan ketika dewasa, sebagian besar dari
sumsum tulang merahnya akan inaktif dan berubah menjadi sumsum tulang kuning (fatty
marrow). Hal ini terjadi akibat adanya pertukaran sumsum menjadi lemak-lemak secara progresif
terutama di tulang-tulang panjang. Bahkan di sumsum hemopoietik sekalipun, 50% penyusunnya
adalah sel-sel lemak (Hoffbrand, 2006). Jadi pada dewasa, proses hemopoiesis hanya terpusat di
tulang-tulang rangka sentral dan ujung proksimal dari humerus dan femur.
Hemositoblas atau pluripotent stem cells merupakan bagian dari sumsum tulang yang
berasal dari jaringan mesenkim. Jumlah sel ini sangat sedikit, diperkirakan hanya sekitar 1 sel
dari setiap 20 juta sel di sumsum tulang. Sel-sel ini memiliki kemampuan untuk berkembang
menjadi beberapa lineage yang berbeda melalui proses duplikasi, kemudian berproliferasi serta
berdiferensiasi hingga akhirnya menjadi sel-sel darah, makrofag, sel-sel retikuler, sel mast dan
sel adiposa. Selanjutnya sel darah yang sudah terbentuk ini akan memasuki sirkulasi general
melalui kapiler sinusoid.
Sebelum sel-sel darah secara spesifik terbentuk, sel pluripoten yang berada di sumsum
tulang tersebut membentuk dua jenis stem cell, yaitu myeloid stem cell dan lymphoid stem cell.
Setiap satu stem cell diperkirakan mampu memproduksi sekitar 106 sel darah matur setelah
melalui 20 kali pembelahan sel. Myeloid stem cell memulai perkembangannya di sumsum tulang
dan kemudian membentuk eritrosit, platelet, monosit, neutrofil, eosinofil dan basofil. Begitu juga
dengan lymphoid stem cell. Sel-sel ini memulai perkembangannya di sumsum tulang namun
proses ini dilanjutkan dan selesai di jaringan limfatik. Limfosit adalah turunan dari sel-sel
tersebut.
Selama proses hemopoiesis, sebagian sel myeloid berdiferensiasi menjadi sel progenitor.
Sel progenitor tidak dapat berkembang membentuk sel namun membentuk elemen yang lebih
spesifik yaitu colony-forming unit (CFU). Terdapat beberapa jenis CFU yang diberi nama sesuai
sel yang akan dibentuknya, yaitu CFU-E membentuk eritrosit, CFU-Meg membentuk
megakariosit, sumber platelet, dan CFU-GM membentuk granulosit dan monosit.
Berikutnya, lymphoid stem cell, sel progenitor dan sebagian sel myeloid yang belum
berdiferensiasi akan menjadi sel-sel prekursor yang dikenal sebagai blast. Sel-sel ini akan
berkembang menjadi sel darah yang sebenarnya. Pada tahap ini sel-sel prekursor sudah dapat
dibedakan berdasarkan tampilan mikroskopiknya, sedangkan sel-sel di tahap sebelumnya yaitu
stem cell dan sel progenitor hanya bisa dibedakan melalui marker yang terdapat di membran
plasmanya.




Gambar : Hemopoeisis










Komponen Sel Darah
1. Eritrosit
Fungsi utama dari sel-sel darah merah, yang juga dikenal sebagai eritrosit adalah
mengangkut hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Selain
mengangkut hemoglobin, sel-sel darah merah juga mempunyai fungsi lain. Contohnya, ia
mengandung banyak sekali karbonik anhidrase, yang mengkatalisis reaksi antara karbon dioksida
dan air.

Sel darah merah normal, berbentuk lempeng bikonkaf dengan
diameter kirakira 7,8 mikrometer dan dengan ketebalan pada bagian
yang paling tebal 2,5 mikrometer dan pada bagian tengah 1
mikrometer atau kurang. Volume rata-rata sel darah merah adalah 90
sampai 95 mikrometer kubik. Bentuk sel darah merah dapat berubah-
ubah ketika sel berjalan melewati kapiler. Sesungguhnya, sel darah
merah merupakan suatu kantung yang dapat diubah menjadi
berbagai bentuk. Selanjutnya, karena sel normal mempunyai membran yang sangat kuat untuk
menampung banyak bahan material di dalamnya, maka perubahan bentuk tadi tidak akan
meregangkan membran secara hebat, dan sebagai akibatnya, tidak akan memecahkan sel, seperti
yang akan terjadi pada sel lainnya. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa fungsi terpenting
sel darah merah adalah transpor O2 dan CO2 antara paru-paru dan jaringan. Suatu protein
eritrosit, yaitu hemoglobin, memainkan peranan penting pada kedua proses tersebut.

2. Leukosit
Leukosit meropakan sel darah yang umumnya berperan dalam proses
pertahanan tubuh dari patogen. Leukosit atau sel darah putih dibagi
menjadi 2 jenis berdasarkan ada tidaknya granula dalam sitoplasmanya
yaitu leukosit granular dan agranular. Leukosit granular terdiri dari
neutrofil, basofil, dan eosinofil. Sedangkan yang agranular terdiri dari
limfosit dan monosit.



3. Trombosit
Trombosit bukanlah sel utuh tetapi fragmen sel
(bergaris tengah sekitar 2-4 mikron) yang terlepas dari tepi
luar sel yang dikenal sebagai megakariosit. Megakariosit
berasal dari sel bakal yang belum berdiferensiasi yang
sama dengan yang menghasilkan turunan eritrosit dan
leukosit. Trombosit pada dasarnya adalah suatu vesikel
yang mengandung sebagian dari sitoplasma megakariosit
terbungkus membrane plasma.
Trombosit berfungsi dalam hemostasis dimana mencegah hilangnya darah dari
pembuluh darah yang rusak. Trombosit tetap berfungsi selama sekitar 10 hari yang
kemudian disingkirkan oleh makrofag yang terdapat di limpa dan hati dan kemudian
diganti dengan trombosit baru yang dibentuk di sumsum tulang.

Tahapan Sintesis Granulopoiesis.
1) Granulopoiesis Neutrofil
Mieloblas
Bentuk sel yang paling tidak matang pada granulopoiesis, dan jarang muncul di sumsum
tulang. Diameter sel sedikit lebih kecil daripada diameter proeritroblas.Bentuk sel tidak
seragam, inti sering berbentuk oval dan sedikit berlekuk pada satu sisi.Kromatin tampak
transparan dan teranyam rapat dengan benang-benang halus. Terdapat dua hingga lima
nukleolus yang sebagian besar dapat terlihat jelas dan dapat berpindah-pindah.
Sitoplasma sedikit, dan bersifat basofilik sedang sampai lemah.Terdapat sedikit zona
terang yang mencolok di perinuklear.Sedikit granula tahap awal dapat ditemukan.

Promielosit
Bentuk sel yang baru matang pada granulopoiesis setelah mieloblas.Ukurannya
bertambah besar dibandingkan mieloblas.Inti berbentuk oval, agak bulat dan terletak agak
esentrik dengan kromatin halus yang mulai berkondenssasi.Nukleolus masih dapat
dilihat. Di sitoplasma, granula azurofilik yang mencolok mulai terbentuk

Mielosit Neutrofil
Pemunculan granulasi spesifik, pengecilan lebih lanjut diameter sel dan ukuran
inti.Struktur kromatin mulai tampak seperti gumpalan kasar dan nukleoulus masih jarang
telihat.Sitoplasma berwarna coklat abu-abu muda atau coklat merah muda, dan tidak lagi
tampak basofilik. Granula halus berwarma ungu kecoklatan (=neutrophil matang) muncul
di tempat granulasi azurofilik.

Metamieloist neutrophil
Neutrofil muda, inti sel berubah bentuk menjadi bentuk kacang atau ginjal yang khas.
Kromatin tampak seperti gumpalan kasar. Sitoplasmanya seperti sitoplasma mielosit
neutrophil tanpa sentrosfer

Granulosit neutrophil berinti batang
Bentuk inti menjadi lebih langsing dan menjadi huruf C atau S tanpa tali penghubung
(bentuk pita).Gumpalan-gumpalan kromatin bertambah kasar. Sitoplasmanya seperti
sitoplasma metamielosit

Granulosit neutrophil segmen
Inti sel mengalami segmentasi dengan penghubung yang berbentuk benang antar segmen.
Mendekati bahas inti berbentuk segmen: bagian penghubung segmen lebih tipis daripada
1/3 bagian inti yang paling tebal diukur dari kedua sisinya. Kebanyakan terdapat tiga
hingga empat segmen.

2) Perkembangan Granulosit Eosinofil

promielosit eosinofilik
Jarang ditemukan, memiliki ciri-ciri sel yang khas untuk suatu promielosit, dengan
tambahan granula eosinophil dalam sitoplasma, yang menyelubungi granulasi azurofilik,
bergantung pada jumlahnya.

Mielosit eosinofilik
Lebih sering ditemukan; inti dan hubungan sitoplasma-inti serupa seperti pada mielosit
neutrophil.Sitoplasma terisi dengan granula eosinophil, yang terutama berwarna
kemerahan atau coklat merah. Bagian sitoplasma yang tidak tertutupi oleh granula terlihat
sedikit basofilik

Metamielosit eosinophil dan Leukosit eosinofilik
Karena proses pematangan inti yang berlangsung cepat, kedua kelompok sel ini jarang
dijumpai. Secara morfologis, kedua kelompok sel ini mempunyai bentuk yang serupa
dengan seri neutrophil, tetapi dilengkapi dengan granula eosinophil yang matang.

Leukosit eosinophil berinti segmen
Bentuk sel yang paling matang pada granulopoiesis eosinophil mampu bermigrasi ke
dalam darah perifer.Inti tampak mecolok dengan dua segmen (bentuk kacamata) dan
jembatan antar segmen-segmen yang berupa benang-benang halus.Kromatin tampak
seperti gumpalan kasar.Sitoplasma kebanyak terisi penuh dengan granula eosinophil
matang, yang diameternya dapat berbeda-beda.Warna dasar sitoplasma adalah basofilik
muda, yang hanya dapat dilihat pada daerah yang terbebas dari granula.

3) perkembangan Granulosit Basofil dan Sel Mast Jaringan

Mielosit Basofil
Granulosit basophil biasanya baru dapat dikenali dari tahap mielosit. Inti sel berbentuk
bulat, dan sitoplasma terdapat granula basophil kasar yang khas

Granulosit basophil
Bentuk sel dengan sedikit sekali tanda-tanda pematangan.Inti sel sebagian besar hanya
berlekuk di beberapa tempat (bentuk daun semanggi), selebihnya tersegmentasi tanpa
bentuk.Kromatin berbercak-bercak secara merata dan tidak khas seperti gumpalan
kasar.Sitoplasma relatif sedikit, yang dapat mudah ditempati granula basophil yang
intensif, yang cenderung membentuk formasi cincin di sekelilng tepi sel. Warna dasar
sitoplasma biru pucat hingga merah muda pucat.Vakuol tidak jarang dijumpai sebagai
analog granula yang kosong.Inti granulasi spesifik sebagian ditutupi.

Sel Mast Jaringan
Sel mast jaringan berasal dari precursor di sumsum tulangm yang sudah mengalir
kedalam darah dalam keadaan yang belum matang. Jenis sel in jarang dijumpai pada
sediaan apus sumsum tulang normal. Inti sel berbetuk bulat, sebagian besar area inti
kebanyakan ditutupi oleh granulasi sitoplasma, berwarna ungu tua sampai terang, kurang
terstruktur dan terletak di sentral.Nukleolus kurang dapat dikenali dengan jelas.
Sitoplasma berbentuk bulat atau polygonal, dan terisi dengan granula kecil berwarna
ungu kehitaman atau biru hitam yang jarang berbatas tegas satu sama lain karena
letaknya yang sangat rapat. Granula-granula tersebut sering menduduki inti sel; pada
pengamatan umum sediaan apus sumsum tulang, granula ini menimbulkan kesan adanya
elemen sel berwarna hitam homogeny. Sel mast haringan yang tidak mengandung
granula sangat jarng dijumpai dengan sitoplasma yang tampak merah muda. Sel mast
jaringan mengandung heparin, serotonin dan histamin

4) Pekembangan Monosit dan Makrofag
Monoblas
Perbedaan dari mieloblas di dalam sumsum tulang normal kebanyakan tidak jelas;
kadang-kadang terjadi penakikan di inti

Promonosit
Inti bulat dengan lekukan ke dalam pada satu sisi atau kadang juga tidak teratur.Kromatin
longgar, dan mulai tampak sebagai benang-benang kasar.Nukleolus yang jarang dapat
terlihat.Sitoplasma tampak basofilik muda dan luas dengan sentrosfer kecil, yang jarang
mengalami granulasi azurofilik.Peralihan menjadi kelompok sel berikutnya terjadi tanpa
batasan yang jelas.Diferensiasi promonosit secara pasti hanya dapat terlihat sitokimia
(esterase non-spesifik) atau imnuositologis.

Monosit
Sel terbesar di darah perifer.Inti sel besar, khas berlobus, beraneka bentuk dan juga sering
berbentuk seperti kacang atau sosis.Kromatin longgat, tampak berupa benang-benang
kasar dengan pemadatan di tempat-tempat tertentu, tetapi transparan secara keseluruhan.
Nukleolus yang kecil dapat dikenali .Sitoplasma biasanya berwarna biru abu-abu seperti
warna batu dengan granula halus yang berbentuk seperti debu, tetapi kadang juga tampak
basofilik terang.

Makrofag
Makrofag muncul berupa bentuk monosit darah yang berada di jaringan.Makrofag
berperan penting melalui penyajian antigen pada respons imun dan metabolisme besi.
Morfologi makrofag sangat bervariasi dan sangat bergantung pada material yang
disimpannya.

Trombopoiesis
Morfologi trombopoiesis sangat berbeda dari eritropoiesos dan granulopoiesis karena
tidak terjadi sebagai suatu perkembangan sel fungsional matang dari prekursor yang belum
matang dengan perbedaan kriteria morfologis yang nyata dan melalui pembelahan dan
pematangan yang terjadi selanjutnya.


Megakarioblas
Badan sel biasanya lebih besar daripada sel proeritroblas.Perbandingan antara inti dan
sitoplasma berubah karena inti menjadi lebih besar.Kepadatan kromatin inti berbeda-
beda.Nukleolus sebagian besar terteutup, tetapi terdapat dalam jumlah besar.Pada
penyatuan inti yang mencolok, terdapat sel yang berinti dua hingga empat.Sitoplasma
tampak basofilik kuat, terbebas dari granulasi, dan di bagian tepi kadang-kadang sedikit
terjuntai.Sering terdapat trombosit yang melekat.

Promegakariosit
Inti sel sangat besar dan sedikit berlobus selain bentuk dengan kecenderungan segmentasi
(berlobus) yang dapat dikenalo dengan jelas.Kromatin inti sebagian besar teranyam rapat,
nukleolus yang ada kebanyakan terselubungi.Sitoplasma tampak basofilik dengan
beberapa area azurofilik, yang menunjukkan permulaan aktivitas trombopoiesis.Luas
sitoplasma bertambah secara nyata.Di tepi sel, terdapat trombosit yang melekat.

Megakariosit yang matang
Sel terbesar yang dijumpai pada hematopoiesis di sumsum dalam kondisi
normal.Serangkaian gumpalan (haustra) inti yang khas terbentuk dan sitoplasma
azurofilik ditutupi bintik-bintik halus, sebagai perwujudann terakhir pembentukan
trombosit yang aktif.Perluasan dan penonjolan bagian sitoplasma azurofilik menandakan
suatu persiapan pelepasam trombosit.

Stadium Pelepasan trombosit
Struktur sitoplasma megakariosit yang berada pada tahap ini masih saling berhubungan,
menunjukkan penjuluran yang tidak beraturan dan bertambahnya penjuluran

Trombosit
Produk pematangan sitoplasma megakariosit. Sitoplasma berwarna biru muda,
mengandung granula halus berwarna biru pada bagian tengah (granulomer) dan bagian
tepi tidak mengandung granula (hialomer).






Eritrosit
Proeritoblas





Normoblasnasofilik









Normoblaspolikromatikdini


Normoblaspiknotik


Retikulosit



Eritrosit
Bentukbulatatau oval.
Diameter 7-8 mikron.
Dari sampingseperticakram / bikonkafdengansentralakromia
kira2 1/3 -1/2 diameter


Gambaran dan Morfologi Sel Darah pada Leukimia (ALL/ CML)

NO GAMBAR KETERANGAN
1

Mieloblas :
-Ukuran sel : 15 - 25 m
-Bentuk sel : oval, kadang-
kadang bulat
-Granularitas : sitoplasma
nongranular atau sedikit granula
azurofilik
-Bentuk inti : biasanya oval,
kadang-kadang tidak teratur,
jarang bulat
-satu atau lebih anak inti dan tidak
terdapat granula.
-Tipe kromatin: halus, dengan
tampilan retikular
-rasio inti/sitoplasma : tinggi atau
realtif tinggi
-Nukleolus : tampak, ukuran
sedang atau besar 1 sampai 4;
lebih terang dari kromatin

2

Promielosit :
-Ukuran sel : 15 - 30 mm
-Bentuk sel : oval atau bulat
Warna sitoplasma : biru muda,
dengan halo jelas
Granularitas : pekat, azurofilik
banyak
dengan sudah mulai terbentuk
granula, ukurannya cukup besar
dan kromatin padat.
Bentuk inti : oval
Tipe kromatin: awal kondensasi
Ratio inti/sitoplasma : sedang,
rendah atau sangat rendah
Nukleolus : tampak,ukuran
sedang atau besar ,lebih terang dari
kromatin, 1-2. kadang-kadang tak
terlihat

3

Mielosit : basopilik
Ukuran sel : 15 -25 mm
bentuk sel : oval,
kadang-kadang bulat.
warna sitoplasma : biru, tanpa
halo perinuklear jelas atau dengan
halo perinuklear melebar.
Sitoplasma nongranular atau
sedikit granula azurofilik,
bentuk inti : biasanya
oval, kadang-kadang tidak teratur,
jarang bulat.
Tipe kromatin : halus,
dengan tampilan reticular,
nucleolus tampak, ukuran sedang
atau
besar 1 sampai 4; lebih terang dari
kromatin.
Rasio inti/sitoplasma : sedang

4

Metamielosit :
ukuran sel : 14 - 20
mm
bentuk sel : oval atau
bulat,
warna sitoplasma : pink
granulasitas : sedikit
azurofilik dan neutrofilik, berbeda
dalam jumlah
Bentuk inti : lonjong,
semicircular,
tipe kromatin : padat ,
nucleolus tidak terlihat.
Rasio inti/sitoplasma : sedang.

5

Neutrofil stab :
ukuran sel : 14 - 20
mm
bentuk sel : oval atau
bulat
warna sitoplasma : sesuai
dengan jenis granulosit (basofil :
biru, eosinofil : merah, netrofil :

jernih atau pink)
granularitas : sedikit
azurofilik. Bentuk inti: lonjong,
semicircular,
tipe kromatin : padat,
nucleolus tidak terlihat.
Rasio inti/sitoplasma : rendah
atau sangat rendah
6

Neutrofil segmen :
ukuran sel : 4 - 20 mm
bentuk sel : oval atau
bulat.
Bentuk inti : berlobus
(normal kurang dari 5 lobus),
Tipe kromatin : padat,
Nucleolus : tak terlihat
rasio inti/sitoplasma : rendah
atau sangat rendah,





7

Limfoblas:
ukuran sel : 12 -18
mm,
bentuk sel : bulat,
kadang-kadang oval,
warna sitoplasma : biru,
biasanya gelap, lebih gelap dari
promieloblas,
granularitas : tidak ada.
Bentuk inti : bulat,
tipe kromatin : homogen,,
nucleolus : terlihat,
ukuran kecil atau sedang,lebih
terang daripada kromatin, jumlah
1sampai 2.
Rasio inti/sitoplasma : tinggi.


8

Smudge cell
Ciri khas seperti jaring/ ring
basket. Sel ini dapat ditemukan
pada pasien CML dan ALL.



















Klasifikasi Leukimia Berdasarkan WHO dan Sitogenik

Leukemia Akut
- Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL)
- Acute Myeloid Leukemia (AML)

Leukimia Kronik
- Chronic Lmphocytic Leukemia ( CLL)
- Chronic Myeloid Leukemia (CML)


Leukemia Akut
Leukemia akut biasanya bersifat agresif, dimana proses keganasan terjadi di hemopoietic
stem cell atau sel progenitor awal. Perubahan genetika diduga berperan pada sistem biokimia
yang menyebabkan peningkatan laju proliferasi, mengurangi apoptosis dan menghalangi proses
diferensiasi selular. Jika tidak ditangani, penyakit ini bersifat fatal namun lebih mudah untuk
diobati dari pada leukemia kronik. Selanjutnya, leukemia akut dikelompokkan menjadi acute
myelogenous leukemia dan acute lymphoblastic leukemia berdasarkan jenis sel blast yang
ditemukan.

- Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL)

Leukemia Limfoblastik akut adalah penyakit keganasan klonal bone marrow dimana
prekursor awal limfoid berproliferasi dan menggantikan kedudukan sel-sel hemopoietik di
marrow. Hal ini akibat ekspresi gen abnormal, paling sering akibat translokasi kromosom.
Karena limfoblast menggantikan posisi komponen-komponen marrow normal, terjadi
peningkatan signifikan terhadap produksi sel-sel darah normal. Selain di marrow, sel-sel ini juga
berproliferasi di hati, limpa dan nodus limfe.
Pada pemeriksaan bone marrow, menurut FAB, harus ditemui setidaknya 30% sel limfoblast
atau ditemukannya 20% sel limfoblast di darah dan atau di bone marrow (WHO, 2002) untuk
menegakkan diagnosis ALL.

Sistem pengklasifikasian WHO, mengelompokkan subtipe L1 dan L2 ALL sebagai precursor B
lymphoblastic leukemia/lymphoblastic lymphoma atau precursor T lymphoblastic
leukemia/lymphoblastic lymphoma tergantung asal selnya. Subtipe L3 ALL dikelompokkan
kedalam grup mature B-cell neoplasms sebagai subtipe dari Burkitt lymphoma/leukemia.


Tabel: klasifikasi leukemia limfoblastik akut ( ALL) menurut WHO 2008
Neoplasma precursor limfoid
Leukemia/ limfoma limfoblastik B
Leukemia/ limfoma limfoblastik B, NOS
Leukemia/ limfoma limfoblastik B dengan kelainan genetik rekuren
Leukemia/ limfoma limfoblastik B dengan t (9; 22) (q34;q11,2); BCR-ABL1
Leukemia/ limfoma limfoblastik B dengan t (v; 11q23); tata-ulang MLL
Leukemia/ limfoma limfoblastik B dengan t (12;21) (p13, q22); TEL-AML1 (ETV6-
RUNX1)
Leukemia/ limfoma limfoblastik B dengan hiperploidi
Leukemia/ limfoma limfoblastik B dengan hipoploidi (ALL hipoploidi)
Leukemia/ limfoma limfoblastik T

NB:
- NOS, not otherwise specified ( tudak dinyatakan khusus).
Tabel: penanda imunologis untuk klasifikasi leukimia limfoblastik akut (ALL)
Penanda B- ALL T- ALL
- Turunan B
CD19
cCD22
cCD79a
CD10
clg
sIg
TdT

+
+
+
+ atau
+ atau (pra- B)
_
+




_
_
_
_
_
_
+
-Turunan T
CD7
cCD3
CD2
TdT

_
_
_
+

+
+
+
+
Keterangan:
c: sitoplasma
s: permukaan
*B- ALL menyerupai ALL prekursor-B secara imunologis tetapi memiliki
immunoglobulin (Ig) di permukaan dan negative untuk terminal deoxynucleotidyl
transferase (TdT
-
)


- Acute Myeloid Leukemia (AML)

leukemia myeloid akut adalah penyakit keganasan bone marrow dimana sel-sel
prekursor hemopoietik terperangkap di fase awal perkembangannya. Kebanyakan subtipe dari
AML dibedakan dari kelainan darah lainnya berdasarkan jumlah blast yang berada di bone
marrow, yaitu sebanyak lebih dari 20%. Anemia, neutropenia dan trombositopenia muncul
akibat kegagalan bone marrow mempertahankan fungsinya. Gejala anemia yang paling sering
adalah fatigue. Penurunan kadar neutrofil menyebabkan pasien rentan terkena infeksi.
Perdarahan gusi dan ekimosis merupakan manifestasi akibat trombositopenia. Limpa, hati, gusi
dan kulit adalah tempat-tempat yang sering disinggahi akibat infiltrasi sel-sel leukemik
Menurut FAB, AML adalah ketika terdapat lebih dari 30% sel blast di bone marrow.
Menurut klasifikasi terbaru WHO, AML sudah tegak jika terdapat lebih dari 20% sel blast di
bone marrow.


.








Tabel: klasifikasi AML berdasarkan WHO 2008
Leukemia myeloid akutdenganabnormalitas genetic berulang
LMA dengan t (8;21)(q22;q22) RUNX1-RUNX1T1
LMA dengan inv (16)(p13.1q22) atau t(16,6)(p13.1;q22);CBFB-MYH11
LMA dengan t(15;17)(q22;q12);PML-RARA
Keadaan sementara: LMA dengan mutasi NPM1
Keadaan sementara: LMA dengan mutasi CEBPA
Leukemia myeloid akut dengan perubahan terkait mielodisplasia
Neoplasma myeloid terkait terapi (t-AML)
Leukemia myeloid akut, tidak dinyatakan spesifik
LMA dengan diferensiasi minimal
LMA tanpa diferensiasi
LMA dengan maturasi
Leukemia mielomonositik akut
Leukemia monositik akut
Leukemia eritroid akut
Leukemia megakarioblastik akut
Leukemia basofilik akut
Panmielosis akut dengan mielofibrosis
Sarcoma myeloid
Proliferasi myeloid terkait sindrom down
Mielopoiesis abnormal sementara
Leukemia myeloid

Sitogenik terhadap klasifikasi secara umum kasus AML
Dua kelainan yang paling sering mempengaruhi gen pengikat factor inti yaitu CBF dan
CBF. CBF merupakan faktor transkripsi heterodimer yang penting dalam mengatur gen seperti
IL-3 dan GM-SCF. T (8;21) merupakan penyebab gen CBF ( diketahui sebagai AML 1)
mengalami translokasi menjadi gen ETO pada kromosom 8 dan inv(16) yang menyebabkan gen
CBF bergabung menjadi gen SMMHC ( MYH 11). Keduanya berkaitan dengan prognosis yang
relatif lebih baik.

Leukimia Kronik
- Chronic Lmphocytic Leukemia ( CLL)

Leukemia Limfoblastik Kronik atau Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL) adalah
kelainan monoklonal yang ditandai dengan akumulasi limfosit yang inkompeten secara
fungsional secara progresif Sel-sel B klonal yang merupakan sel asal kanker pada pasien CLL,
terperangkap di jalur diferensiasi sel B yaitu diantara pre sel-B dan sel-B matur. Secara
morfologis, sel-sel ini menyerupai bentuk limfosit matur di darah perifer.
Pada pasien CLL, pemeriksaan darah lengkap (CBC) menunjukkan limfositosis
absolut dengan lebih dari 5000 Sel-B/l yang persisten selama lebih dari tiga bulan. Klonalitas
harus dipastikan dengan flow cytometry. Sitopenia yang disebabkan oleh keterlibatan sel klonal
di bone marrow juga dapat menegakkan diagnosis CLL tanpa memperhatikan jumlah sel-B
perifer.
Flow cytometry darah perifer merupakan pemeriksaan paling baik untuk memastikan
diagnosis CLL. Melalui pemeriksaan ini, tampak sel-B klonal yang mengekspresikan CD5,
CD19, CD20(dim), CD 23 dan hilangnya FMC-7 staining.

Tabel: Klasifikasi leukemia limfoid kronik
Sel B Sel T
Leukemia limfositik kronik (CLL) Leukemia limfositik granular besar
Leukemia prolimfositik Leukemia prolimfositiksel T ( T- PLL)
Hairy cell leukemia Leukemia /limfoma sel T dewasa
Leukemia sel plasma

Pada sitogenetik leukemia limfoid kronik, kelainan kromosom tersering adalah delesi
13q14, trisomy 12, delesi di 11q23, kelainan structural 17p yang melibatkan gen p53 dan
delesi 6q21.

- Chronic Myeloid Leukemia (CML)

Leukemia myeloid kronik BCR-ABLI + (LMK) merupakan klonal sel punca
pluripotent. Penyakit ini menempati 15% leukemia dan dapat terjadi pada semua umur.
Diagnosis LMK tidak sulit dan dibantu dengan adanya kromosom Philadelphia yang khas.
Kromosom ini merupakan translokasi t (9; 22) (q34; q 11) antara kromosom 9 dan 22 sebagai
akibat dari onkogen ABL1 berpindah ke gen BCR pada kromosom 22. Kromosom 22 abnormal
merupakan kromosom Philadelphia.
Klasifikasi CML
1. Fase Kronis
Hampir 85% pasien dengan CML berada pada tahapan fase kronik pada saat mereka didiagnosa
dengan CML. Selama faseini, pasien selalu tidak mengeluhkan gejala atau hanya ada gejala
ringan seperti cepat lelah dan perut terasa penuh. Lamanya fase kronis bervariasi dan tergantung
seberapa dini penyakit tersebut telah didiagnosa dan terapi yang digunakan pada saat itu juga.
Tanpa adanya pengobatan yang adekuat, penyakit dapat berkembang menuju ke fas eakselerasi.

2. Fase Akselerasi
Pada fase akselerasi hitung leukosit menjadi sulit dikendalikan dan abnormalitas
sitogenik tambahan mungkin timbul. Kriteria diagnosa dimana fase kronik berubah menjadi
tahapan fase akselerasi bervariasi. Kriteria yang banyak digunakan adalah kriteria yang
digunakan di MD Anderson Cancer Center dan criteria dari WHO. Kriteria WHO untuk
mendiagnosa CML, yaitu :
10-19% myeloblasts di dalam darah atau pada sumsum tulang.
>20% basofil di dalam darah atau sumsum tulang.
Trombosit 100.000, tidak respon terhadap terapi.
Evolusi sitogenik dengan adanya abnormal gen yaitu kromosom philadelphia.
Splenomegali atau jumlah leukosit yang meningkat.
3. Fase Blast Crisis
Krisis blast adalah fase akhir dari CML, dan gejalanya mirip seperti leukemia akut, dengan
progresifitas yang cepat dan dalam jangka waktu yang pendek. Krisis blast didiagnosa apabila
ada tanda-tanda sebagai berikut pada pasienCML :
>20% myeloblast satu lymphoblasts di dalam darah atau sumsum tulang.
Sekelompok besar dari sel blast pada biopsi sumsum tulang.
Perkembangan dari chloroma.






















DAFTAR PUSTAKA

A.V. Hoffbrand, P. A. H. Moss. Kapita Selekta Hematologi. Ed. 6 Jakarta :
EGC,2013
Klasifikasi Leukimia WHO 2008