Anda di halaman 1dari 14

TUGAS GTC

Disusun oleh:

Lucas da costa martins





Program Studi D3 Teknik Gigi
Fakultas Kedokteran Gigi
Institut Ilmu kesehatan Bhakti Wiyata
Tahun Pelajaran 2014/2015
Gigi tiruan cekat adalah suatu restorasi yang tidak dapat dilepas sendiri oleh pasien
maupun dokternya, karena dilekatkan secara permanen pada gigi asli atau akar gigi yang
merupakan pendukung utama dari alat tersebut. Martanto (1985) mengatakan bahwa fixed
partial denture adalah suatu protesa sebagian yang dilekatkan secara tetap pada satu lebih
dari suatu gigi yang hilang. Gigi tiruan cekat disebut juga fixed bridge prosthesis atau fixed
partial denture. Sedangkan menurut Prajitno (1994) GTC merupakan jembatan tegar atau
lekat (rigid bridge; fixed-fixed bridge; stationary bridge) yaitu jembatan yang pada kedua
ujungnya dilekatkan secara tegar pada pemautnya.
Gigi tiruan dibedakan menurut banyaknya gigi yang hilang terdiri dari gigi tiruan
lengkap dan gigi tiruan sebagian. Gigi tiruan sebagian dibedakan menjadi gigi tiruan sebagian
lepasan dan gigi tiruan sebagian cekat (GTC).

secara umum tujuan pembuatan GTC adalah :
1. Memulihkan daya kunyah yang berkurang karena hilangnya satu atau lebih gigi asli
2. Untuk perbaikan estetika
3. Mencegah terjadinya perpindahan tempat gigi sekitar ruangan yang kosong karena
hilangnya gigi
4. Untuk memelihara dan mempertahankan gusi
5. Untuk memulihkan fungsi fonetik
Keuntungan dari GTC adalah:
1. Karena dilekatkan pada gigi asli maka tidak mudah terlepas atau tertelan.
2. Dirasakan sebagai gigi sendiri oleh pasien.
3.Tidak mempunyai pendekap yang dapat menyebabkan keausan pada permukaan email gigi,
karena tiap kali dilepas dan dipasang kembali di dalam mulut.
4. Dapat mempunyai efek splint yang melindungi gigi terhadap stress.
5. Menyebarkan tekanan fungsi ke seluruh gigi, sehingga menguntungkan jaringan
pendukungnya.







Indikasi pembuatan gigi tiruan cekat menurut Ewing (1959)
adalah :
1. Gigi sudah erupsi penuh dimana usia pasien berupa 20-50 th.
2. Mempunyai struktur jaringan gigi yang sehat.
3. Oral hygiene baik.
4. Mengganti hanya beberapa gigi yang hilang (1-4 gigi).
5. Kondisi ridge dalam batas normal.
6. Processus alveolaris yang mendukung baik.
7. Gigi abutment tidak malposisi dan mampu menerima tekanan pontic.
8. Mempunyai hubungan oklusi dan jaringan periodonsium yang baik.
9. Gigi abutment posisinya sedapat mungkin sejajar dan masih vital.
10. Pasien tidak mempunyai kebiasaan jelek.
11. Kesehatan umum dan sosial indikasi pasien baik.
12. Sedapat mungkin gigi abutment paralel dan vital.
13. Merupakan suatu treatment dari kasus-kasus penyakit periodontal.
14. Pasien tidak mempunyai kebiasaan buruk dan menuntut penampilan.

Kontra indikasi GTC adalah :
1. Pasien terlalu muda atau tua
2. Struktur gigi terlalu lunak
3. Hygiene mulut jelek
4. Gigi yang harus diganti banyak
5. Kondisi daerah tak bergigi mengalami resorbsi eksisi.
6. Alveolus pendukung gigi kurang dari 2/3 akar gigi.
7. Gigi abutment abnormal dan jaringan periodonsium tidak sehat.
8. Oklusi abnormal.
9. Kesehatan umum jelek.
10. Tidak terjalin kooperatif dari pasien dan operator.
11. Mempunyai bad habit (kebiasaan buruk).
12. Gigi hipersensitif walaupun sudah dianestesi.




Bagian-bagian dari gigi tiruan cekat (GTC) terdiri dari 4
bagian, yaitu :
1. Penyangga (gigi abutment)
Merupakan gigi pegangan dimana suatu bridge (jembatan) dilekatkan. Abutment harus
mempunyai daerah permukaan akar yang efektif dan tulang pendukung yang cukup.
Sebagai abutment harus gigi yang sudah full erupsi ( erupsi penuh) agar retainer tidak
terangkat akibatnya timbul daerah yang tidak tertutup oleh retainer sehingga mudah
terjadi karies.
Gigi abutment harus dipersiapkan agar benar-benar dapat memberi dukungan yang
kuat pada GTC. Untuk menentukan jumlah gigi yang akan digunakan sebagai abutment,
digunakan Hukum Ante : Luas permukaan jaringan periodontal dari gigi abutment sama
atau lebih besar dari jaringan periodontal gigi yang akan diganti.
2. Retainer
Didefinisikan sebagai bangunan logam tuang yang disemen atau dilekatkan pada gigi
penyangga untuk menahan atau membantu suatu pontic. Retainer ini menghubungkan
bridge dengan abutment. Fungsi retainer adalah untuk menjaga agar GTC tetap pada
tempatnya.
Tipe tipe retainer antara lain:
1. Tipe dalam dentin (intra coronal retainer )
Preparasi dan badan retainer sebagian besar ada di dalam dentin atau di dalam
mahkota gigi. Contoh : tumpatan MOD
2. Tipe luar dentin (ekstra coronal retainer )
Preparasi dan bidang retensi sebagian besar ada di luar dentin atau diluar badan
mahkota gigi. Contoh : preparasi full cast crown
3. Tipe dalam akar.
Preparasi dan bidang retensi sebagian besar ada di dalam saluran akar. Contoh :
mahkota pasak inti.





3. Pontic/dummy
Merupakan bagian dari GTC yang menggantikan gigi asli yang hilang dan
memperbaiki fungsinya. Salah satu sifat yang sangat penting dari pontic adalah reliability,
yaitu ketahanan terhadap tekanan cairan di dalam mulut (suasana dalam mulut). Facing
pontic diharapkan selalu menempel pada bangunan logam pontic. Facing pontic dapat
dibuat dari akrilik atau porselin. Beberapa macam bentuk pontic adalah :
a. Saddle pontic
Merupakan pontic yang paling dapat menjamin estetika, seluruh bentuk pontic
tersebut mengganti dari seluruh bentuk gigi yang hilang. Kekurangan bentuk ini
sering menyebabkan inflamasi jaringan lunak di bawah pontic tersebut, karena
menutup seluruh edentulous ridge.
b. Ridge lap pontic
Pontic ini tidak menempel edentulous ridge pada permukaan palatinal/lingual, sedang
permukaan bukal atau labialnya menempel. Keadaan ini untuk memperkecil
terjadinya impaksi dan akumulasi makanan, tetapi tidak mengabaikan faktor estetik,
biasanya digunakan untuk gigi anterior.
c. Hygiene pontic
Pontic ini sama sekali tidak menempel pada edentulous ridge, sehingga self cleansing
sangat terjamin. Biasanya untuk gigi posterior bawah.
d. Conical pontic
Pontic ini hampir sama dengan hygiene pontic tetapi pada jenis ini ada bagian yang
bersinggungan dengan edentulous ridge, sering juga disebut sebagai bullet / spheroid
pontic mahkota sementara.
4. Connector/joint
Merupakan bagian dari GTC yang menghubungkan setiap unit dari GTC. Connector
dapat berupa hubungan antara retainer dengan pontic ataupun retainer dengan retainer.
Hubungan pontic dengan retainer dapat merupakan pelekatan kaku (rigid) atau yang tidak
kaku (non rigid) seperti kunci-kunci atau stress breaker (alat penyerap daya untuk
mengurangi beban yang harus dipikul abutment).
Konektor merupakan penghubung antara gigi abutment dengan pontic. Ada beberapa




tipe GTC menurut konektornya, antara lain:
1. Fixed-fixed bridge : kedua konektor bersifat rigid. Dapat digunakan untuk gigi posterior
dan anterior.
2. Fixed movable bridge : salah satu konektor bersifat rigid dan konektor lain bersifat non
rigid. Dapat digunakan untuk gigi posterior dan anterior.
3. Spring bridge : pontic jauh dari retainer dan dihubungkan dengan palatal bar.
Digunakan pada kasus diastema/space yang mengutamakan estetis.
4. Cantilever bridge : satu ujung bridge melekat secara kaku pada retainer sedang ujung
lainnya bebas/menggantung.
5. Compound bridge : adalah kombinasi dua atau lebih dari tipe bridge.

Untuk pembuatan GTC diperlukan ronsen foto yang berguna
untuk mengetahui
1. Keadaan tulang alveolar di daerah yang kehilangan gigi.
2. Akar yang tertinggal di alveolar.
3. Perbandingan panjang akar dan tinggi mahkota.
4. Ukuran, bentuk dan posisi akar.
5. Tebal dan kontinuitas lapisan periodontal.
6. Adanya kelainan pada apeks akar.
Prosedur pembuatan GTC adalah sebagai berikut :
1. Preparasi gigi abutment, bisa dilakukan pada gigi kaninus, premolar atau molar. Menurut
Johnson (1960) pada tahap preparasi GTC dilakukan :
a. pengurangan permukaan oklusal atau sisi insisal
b. pengurangan sisi proksimal
c. preperasi permukaan labial, lingual, bukal
d. pengurangan sudut aksial
e. membuat shoulder sebagai pijakan mahkota agar tidak mudah lepas.
2. Setelah gigi abutment dipreparasi harus dilindungi dengan mahkota sementara (Martanto,
1981 ) yang berfungsi untuk :
a. melindungi gigi dari rangsang mekanis, khemis, suhu.
b. mencegah terjadinya elongasi dan migrasi.
c. melindungi gusi daerah servikal.
d. memelihara estetis.
3. Membuat model kerja.
4. Pemendaman dan penuangan logam kerangka GTC.
5. Pembuatan facing akrilik/ porselin.
6. Pemilihan jenis pontic.


LAPORAN KASUS

A. Identifikasi Pasien :
Nama : ................................................
Umur : 18
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Indonesia
No. kartu : 12345

B. Anamnesa
1. Pemeriksaan Subyektif :
Motivasi : Pasien datang ke klinik atas keinginan sendiri untuk membuatkan gigi
tiruan.
CC : Ingin membuatkan gigi tiruan karena merasa tidak nyaman dengan gigi
geraham kecil kanan atas yang hilang sehingga menyebabkan gigi
sebelahnya renggang.
PI : Gigi tersebut dicabut 6 bulan yang lalu karena berlubang besar sejak 2
tahun yang lalu.
PDH : Pernah ke FKG untuk mencabutkan gigi geraham kecil sebelah kanan
bawah dan kiri bawah 4 bulan yang lalu tanpa komplikasi.

PMH : - sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik.
- tidak alergi obat-obatan
FH : Ayah : sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik
Ibu : sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik


2. Pemeriksaan Obyektif :
a.Umum :
- Jasmani : sehat, tak ada kelainan
- Rohani : komunikatif dan kooperatif
b.Lokal :
- Ekstra oral : Muka : persegi, simetris, tak ada kelainan
Profil : cembung
Bibir : sedang, tak ada kelainan
- Intra Oral : Palatum : U, normal, tak ada kelainan
Mukosa : normal, tak ada kelainan
Gingiva : normal, tak ada kelainan
Lidah : normal, tak ada kelainan

c. Pemeriksaan Elemen :

V IV III II I I II III IV V
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8
V IV III II I I II III IV V
Keterangan :
X : gigi telah dicabut
- : karies
: tumpatan
O : tidak ada benih gigi










C. Klasifikasi
Klasifikasi : RA: klas III Kennedy
RB: klas III Modifikasi I Kennedy
D. Pemeriksan Ro foto
Tidak ada kelainan disekitar gigi 3 dan 5 yang akan dijadikan gigi abutment, jaringan
periodontal sehat dikarenakan tidak terdapat area radiolusen.

RENCANA PERAWATAN

Kunjungan I :
1. Persiapan-persiapan di dalam mulut sebelum dibuat gigi tiruan cekat, meliputi
perawatan periodontal yaitu scaling dan perawatan konservasi terhadap gigi yang
karies.
2. Evaluasi rontgen foto untuk mengetahui kondisi gigi abutment dan jaringan
pendukungnya.
3. Indikasi dan mencetak study model RA dan RB dengan :
a. sendok cetak : perforated stock tray no. 1
b. bahan cetak : alginat (irreversible hydrocolloid)
c. metode : mukostatik
Kunjungan II :
Pasien kehilangan gigi 4 sehingga akan dibuatkan GTC fixed-fixed bridge yang
terbuat dari porcelain fuse to metal dan terdiri dari 3 unit, dengan menggunakan gigi 3 dan
gigi 5 sebagai gigi abutment. Retensi pada gigi 3 dan 5 menggunakan tipe full crown yang
dipreparasi dengan menggunakan bur kecepatan tinggi (high speed bur).
Sebelum dilakukan preparasi, dilakukan anestesi infiltrasi bukal pada gigi yang akan
dipreparasi. Langkah-langkah preparasi gigi gigi 3 sebagai gigi abutment adalah:
1. Preparasi gigi anterior (gigi 3 )
a) Pengurangan bagian proksimal :
a. Pengurangan proksimal pada gigi 3 harus disejajarkan dengan aksis gigi 1, sehingga
pengurangan proksimal sisi mesial pada gigi 3 sebesar 1,8 mm dan sisi distal
sebanyak 1 mm.
b. Pengurangan dilakukan dengan menggunakan flat disc wheel bur dan bur fisur
kerucut yang kecil dan panjang.
c. Pengurangan harus sejajar antara dinding proksimal sebelah mesial dan distal atau
sedikit konvergen ke arah insisal kurang lebih 5
o
.
b) Pengurangan bagian insisal :
a. Menggunakan wheel diamond bur, dikurangi 1,4 mm sehingga didapatkan suatu
permukaan yang tegak lurus terhadap aksis gigi antagonis dan membuat sudut 45
o

dengan aksis gigi 3.
b. Periksa jarak dengan gigi antagonis.
c) Pengurangan bagian labial dan palatal :
a. menggunakan cylindris fissure bur pada permukaan labial dan pada permukaan
palatal menggunakan bur bentuk roda berpinggiran bulat
b. letakkan permukaan bur tersebut mendatar pada permukaan labial gigi 3 dan
pengurangan sampai 1,4 mm.
d) Pembentukan akhiran servikal
a. Akhiran servikal yang dibuat adalah bentuk pundak (shoulder) pada permukaan
labial dan palatal serta bentuk chamfer pada sisi proksimal
b. Menggunakan bur silinder berujung bulat untuk pembentukan chamfer dan bur
silinder berujung datar untuk pembentukan pundak
c. Akhiran servikal ditempatkan di subgingival untuk memenuhi kebutuhan estetik
e) Pengurangan sudut-sudut aksial
a. Untuk sudut aksial yang terjangkau bisa menggunakan cylindris fissure bur.
b. Tumpulkan sudut-sudut aksial yang ada dengan silindris tappered bur terutama
pada daerah gingiva margin.
f) Penghalusan hasil preparasi
a. Menggunakan sand paper disk yang dipasang pada mandril.
b. Hilangkan seluruh bagian yang tajam, runcing, tidak rata dan undercut untuk
memperoleh hasil preparasi yang halus.

2. Preparasi gigi posterior (gigi 5 ) :
a) Pengurangan bagian oklusal
a. Menggunakan bur intan tapered berujung bulat dengan diameter 1-1,5 mm.
b. Pertahankan bentuk anatomi bagian oklusal.
c. Bagian oklusal dikurangi 1,5-2 mm (tonjol bukal sedikit lebih banyak daripada
tonjol palatal).
d. Periksa jarak dengan gigi antagonisnya.
b) Pengurangan permukaan proksimal
a. Menggunakan bur tapered yang kecil dan panjang ( 0,8-1 mm) supaya ujungnya
dapat mencapai akhiran servikal di ruang interdental.
b. Harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk tidak merusak gigi sebelahnya.
c. Pemotongan proksimal dimulai dari permukaan bukal dan dapat dilakukan sebelum
atau sesudah pengurangan permukaan bukal.
d. Permukaan proksimal dikurangi sebesar 1-1,5 mm.
e. Usahakan pemotongan ini diusahakan sejajar/paralel antara dinding proksimal
sebelah mesial dan distal, atau sedikit konvergen ke arah insisal sebesar + 5
o

c) Pengurangan permukaan bukal
a. Dengan menggunakan bur fisur intan yang panjang, berujung datar atau membulat,
berdiameter 1 mm.
b. Tahap pertama adalah pengurangan bagian oklusal dengan bur fisur berujung datar,
dan tahap berikutnya adalah pengurangan bagian gingival dengan bur fisur berujung
bulat.
c. Pengurangan dilakukan sebesar 1,4 mm.
d) Pengurangan permukaan palatal
a. Dengan menggunakan bur intan kecil berbentuk roda atau bola lampu pijar.
b. Besarnya pengurangan berkisar 0,5-0,7 mm.
e) Pembentukan akhiran
a. Finish line gigi 5 berbentuk chamfer.
b. Dengan menggunakan bur intan tapered ujung datar berdiameter 0,7 mm untuk
membentuk knife edge dan bur intan tapered berujung peluru untuk membentuk
chamfer.
c. Lebar akhiran berkisar 0,5-0,8 mm dan terletak 0,5 mm subgingival.
f) Pengurangan sudut-sudut aksial
a. Sudut-sudut aksial yang ada ditumpulkan dengan tapered bur terutama pada daerah
margin gingiva
g) Penghalusan hasil preparasi
a. Dengan menggunakan sand paper disc
b. Seluruh bagian yang tajam, runcing, tidak rata dan undercut-undercut dihilangkan
untuk memperoleh hasil preparasi yang


DESAIN GIGI TIRUAN CEKAT

Keterangan:
1.Gigi abutment
2.Pontik (ridge lap pontic)
3.Konektor
4.Retainer (full veneer cast crown, dengan veneer logam berlapis porseleng



RENCANA PREPARASI GIGI

Setelah preparasi, dibuat cetakan model kerja dengan:
- sendok cetak : perforated stock try no. 1
- bahan cetak : Elastomer (exaflec).
Exaflex adalah bahan cetak polyvinylsiloxane dengan viscositas tinggi untuk pre
impression, untuk teknik pencetakan double mix dan Putty wash. Keunggulan dari
exaflex adalah mudah dalam manipulasinya, kekerasan final tinggi serta dimensi stabil.
- metode mencetak : mukostatik
- hasil cetakan diisi dengan glass stone gips.
Selanjutnya model kerja dikirim ke laboratorium untuk pemrosesan bridge / GTC.
Pembuatan mahkota sementara:
Mahkota sementara dibuat sebelum pasien pulang. Dibuat dari bahan self curing
acrylic. Cara pembuatan mahkota sementara dari self curing acrylic adalah sebagai berikut :
1. mencetak gigi sebelum preparasi kemudian diisi dengan gips stone.
2. mempreparasi gigi abutment pada model cetakan tersebut.
3. mengisi model cetakan yang telah dipreparasi dengan self curing acrylic.
4. membentuk mahkota dari self curing acrylic kemudian difiksasi sampai cetakan mengeras.
5. mempreparasi gigi abutment pasien sesuai model cetakan yang telah dipreparasi.
6. mengepaskan mahkota sementara pada gigi abutment pasien yang telah dipreparasi.




Kunjungan III :
Dilakukan insersi yaitu pemasangan GTC dalam mulut pasien, ketika pengepasan
GTC, yang harus diperhatikan adalah : kontak proksimal antara GTC dengan gigi sebelahnya.
Tepi GTC tidak boleh menekan gingiva serta pemeriksaan kontak insisal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika insersi adalah: retensi, stabilisasi, oklusi,
estetis dan kenyamanan pasien.
1. Retensi
Kemampuan GTC untuk melawan gaya pemindah yang cenderung memindahkan gigi
tiruan kearah oklusal. Cara mengecek retensi gigi tiruan adalah dengan cara memasang
gigi tiruan tersebut ke dalam mulut pasien. Jika tidak mempunyai retensi maka gigi tiruan
tersebut akan terlepas setelah dipasang, namun jika tidak terlepas berarti gigi tiruan
tersebut sudah mempunyai retensi.
2. Stabilisasi
Merupakan perlawanan atau ketahanan GTC terhadap gaya yang menyebabkan
perpindahan tempat atau gaya horizontal. Stabilisasi terlihat dalam keadaan berfungsi,
misal pada mastikasi. Pemeriksaan stabilisasi gigi tiruan dengan cara menekan bagian
gigi tiruan secara bergantian. Gigi tiruan tidak boleh menunjukkan pergerakan pada saat
tes ini.
3. Oklusi
Pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral dan anteroposterior. Caranya
dengan memakai kertas artikulasi yang diletakkan di antara gigi atas dan bawah,
kemudian pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi
diangkat dan dilakukan pemeriksaan oklusal gigi. Pada keadaan normal terlihat warna
yang tersebar secara merata pada permukaan gigi. Bila terlihat warna yang tidak merata
pada oklusal gigi maka terjadi traumatik oklusi oleh karena itu dilakukan pengurangan
pada gigi yang bersangkutan dengan metode selective grinding. Pengecekan oklusi ini
dilakukan sampai tidak terjadi traumatik oklusi.
Setelah GTC sesuai pada tempatnya, dilakukan penyemenan sementara dengan semen
Zinc oksid eugenol dengan konsistensi agak cair.





Kunjungan IV :
Dilakukan pemeriksaan pada pasien apakah mempunyai keluhan, apabila tidak ada
maka dapat dilakukan penyemenan permanen dengan semen ionomer kaca tipe I.
Penyemenan GTC:
1. GTC dibersihkan dan disterilkan lalu dikeringkan, gigi yang akan dipasang GTC juga
dikeringkan.
2. Semen diaduk untuk mendapatkan konsistensi yang baik untuk penyemenan, kemudian
dioleskan pada gigi yang dipreparasi dan bagian dalam dari GTC.
3. GTC dipasang dengan tekanan maksimal, gulungan kapas diletakkan di atas GTC dan
pasien disuruh menggigit beberapa menit.
4. Pemeriksaan oklusi dan estetis.
5. Instruksikan pada pasien untuk menjaga kebersihan mulut dan diminta untuk tidak makan
atau menggigit makanan yang keras dahulu. Bila ada keluhan rasa sakit segera kontrol.

Kunjungan V :
Kontrol :
- pemeriksaan subyektif : menanyakan apakah ada keluhan dari pasien setelah GTC
dipasang dan dipakai.
- pemeriksaan obyektif : melihat keadaan jaringan lunak disekitar daerah GTC, apakah ada
peradangan atau tidak. Memeriksa retensi dan oklusi pasien.

Anda mungkin juga menyukai