Anda di halaman 1dari 16

PEMBUATAN PREPARAT NUKLEUS

(Laporan Praktikum Genetika Ikan)







Oleh
Puji Lestari
1214111051
Kelompok 2







JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
1.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap organisme tersusun dari salah satu diantara dua jenis sel yang secara
struktural berbeda, sel prokariotik dan sel eukariotik. Hanya bakteri dan arkhea;
alga hijau biru yang memiliki sel prokariotik. Sedangkan protista, tumbuhan,
jamur dan hewan semuanya mempunyai sel eukariotik.

Sel adalah unit terkecil dari makhluk hidup. Setiap Organisme di dunia ini
tersusun atas sel-sel yang saling berintegrasi membentuk suatu fungsi tertentu
dalam tubuh makhluk hidup. Baik organisme tinkat seluler (Uniseluler) maupun
organisme Multiseluler.

Nukleus atau inti sel berfungsi sebagai pengendali dan pengatur sel. seluruh
aktifitas sel diatur oleh nukleus. Nukleus juga berfungsi sebagai pembawa
informasi genetik yaitu kromosom, yang diwariskan ke generasi selanjutnya.
Kromosom adalah struktur yang tersusun oleh molekul DNA dan protein (histon).
Nukleus sel bakteri terpapar atau kontak langsung dengan sitoplasma karena tidak
memiliki membran inti.


1.2 Tujuan

Adapun Tujuan dari praktikum pembuatan preparat nucleus ialah agar mahasiswa
mampu membuat preparat nucleus
















II.TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Nukleolus

Nukleolus adalah struktur yang paling menonjol dari sebuah intieukariotik.
Nukleolus ini berperan dalam sintesis rRNA dan biogenesis darisubunit ribosom (
Busch dan Smetana, 1970 dalam Raska, 2004). Organel inti ini mengandung
relative sedikit DNA kromosom tetapi kaya protein dan kompleks
ribonukleoprotein (RNP) termasuk subunit pre-ribosom besar dan kecil.
Individuhaploid mempunyai satu nukleolus, diploid mempunyai satu atau
duanukleolus per sel, dan triploid mempunyai satu, dua atau tiga per sel dan seteru
snya. Nukleolus terbentuk di sekitar diskrit lokus kromosom yang dikenal sebagai
NOR. Pengertian Nucleolus Organizer Region (NOR) adalah suatu daerah
disekitar kromosom yang berfungsi membentuk nukleolus, disebut juga
nucleolarorganizer, daerah yang berisi beberapa tempat gen pengkode ribosom
RNA(RNA-r). Keterangan lebih lanjut menjelaskan bahwa setiap satu set
kromosom.
Hanya mengandung satu kromosom dengan satu Nucleolar Organizer
Region (NOR) dan inti diploid normal mengandung dua nukleolus. satu NOR
mempunyai kemampuan untuk tidak membentuk lebih dari satu
nukleolus, berdasar atas pernyataan tersebut diharapkan sel diploid yang mumpun
yaisepasang NOR hanya mampu membentuk maksimal dua nukleolus, sel
triploidhanya mampu membetuk tiga nukleolus demikian pula pada tetraploid
hanyamampu membentuk empat nukleolus (Junqueira, Carneiro, Kelley. 1998)

2.2 Pembagian dan Fungsi Nukleuolus
1. Perakitan Subunit ribosom
Perakitan subunit ribosom terjadi dengan cara berikut.
Nukleolus adalah lokasi untuk transkripsi rRNA prekursor molekul dari DNA.
Molekul prekursor rRNA panjang yang diolah untuk membentuk 3 RNA
matang.
Langkah selanjutnya dalam proses adalah pengemasan. RNA dikemas bersama
beberapa, bentuk-bentuk khusus dari protein.
Akhirnya, unit ribosom terbentuk. Unit-unit ribosom dapat bervariasi dalam
ukuran. Bahan baku dalam bentuk subunit ribosom yang dibutuhkan untuk
proses translasi.
Perakitan subunit ribosom diangkut ke sitoplasma sel (yaitu di luar nukleolus)
dan berpartisipasi dalam proses penerjemahan (sintesis protein) (Kimball, John
W. 1983)

2. Nukleolus Organizer Region (NOR)
NOR adalah daerah dalam sel di mana pembentukan nukleolus terjadi di sekitar
kromosom. Karena pembentukan dan penyusunan nukleolus tidak terjadi secara
acak, ini disebut sebagai unsur secara genetik ditentukan. NOR memiliki bentuk
melingkar dan dikelilingi oleh filamen disebut pars fibrosa (PF). Filamen Pars
fibrosa yang baru terbentuk ditranskripsi RNA ribosom. Setelah pembagian inti,
wilayah ini akan berhubungan dengan inti. Beberapa salinan gen RNA ribosom
merupakan Nukleolus Organizer Region (NOR). Banyak salinan tandem gen
RNA ribosom ditemukan di NOR. Jumlah NOR ada dalam kromosom manusia 5.
NOR dapat diidentifikasi melalui analisis kariotipe dengan cara pewarnaan perak
nitrat.

3. Sekuestrasi Nukleolus
Sekuestrasi adalah diantara fungsi penting nukleolus. Proses Sekuestrasi
nukleolus menyebabkan imobilisasi protein. Ini berarti bahwa protein tidak lagi
mampu berinteraksi berpasangan dengan pasangan mereka. Protein yang
diasingkan oleh nukleolus termasuk pVHL, Mdm2, hTERT, dll (Anonim,2012)

4. Biogenesis mRNA
Nukleolus diketahui memainkan peran penting dalam biogenesis mRNA. Mereka
juga terlibat dalam metabolisme RNA dan peristiwa perakitan RNP
(ribonucleoprotein) (Hidayat, Estiti B. 1995)


2.3 bentuk atau struktur nucleolus
Struktur yang menonjol didalam nukleus yang tidak sedang membelah ialah
nukleolus, yang merupakan tempat komponen ribosom disintesis dan dirakit.
Komponen-komponen ini kemudian dilewatkan melalui pori nukleus ke
sitoplasma , kemudian semuanya bergabung untuk membentuk ribosom. Kadang-
kadang terdapat dua nukleoli atau lebih , jumlahnya tergantung pada spesiesnya
dan tahap siklus reproduktif sel tersebut.

Nukleolus berbentuk menyerupai bola dan melalui mikroskop elektron nukleolus
tersebut tampak sebagai suatu massa yang terdiri dari butiran dan serabut
berwarna pekat yang menempel pada bagian kromatin (Genester, Finn. 1994)

Struktur nucleolus akan terlihat di bawah pengamatan mikroskop electron sebagai
sebuah atau lebih bangunan basofil yang berukuran lebih besar daripada ukuran
butir-butir kromatin. Nukleolus merupakan tempat berlangsungnya transkripsi gen
yang dari proses tersebut didapatkan molekul rRNA. rRNA adalah salah satu jenis
RNA yang merupakan materi penyusun ribosom. Molekul rRNA yang baru
terbentuk segera dikemas bersama protein ribosom untuk dikeluarkan dari inti
sel.

Transkripsi molekul rRNA di dalam nucleolus menjamin terbentuknya molekul
ribosom yang ada di dalam sitoplasma. Untuk kebutuhan tersebut, maka di dalam
anak inti terdapat sejumlah potongan-potongan DNA (rDNA) yang ditranskripsi
menjadi rRNA secara berulang-ulang dan berjalan sangat cepat dengan bantuan
enzim RNA polymerase I. Potongan-potongan DNA tersebut dinamakan nucleolar
organizer. Kandungan RNA dalam anak inti jika dibandingkan dengan bagian lain
dari inti sel adalah tidak tetap, yaitu diperkirakan 5%-20% (Bevelander,1979)

Struktur nukleolus akan tampak jika dilihat dengan menggunakan mikroskop
elektron , bagian-bagian nukleolus antara lain :

1. Zona Granuler
Merupakan bagian pinggir nukleolus dibentuk dari butiran-butiran
padat berukuran sedikit lebih kecil dari ribosom dalam sitoplasma
yaitu sekitar 150-200 A. Bagian ini mengandung protein ribonukleat.

2. Zona Fibrosa/Nukleolonema
Daerah yang terdapat di tengah anak inti dan tampak sebagai benang-
benang halus, berupa serat-serat yang berukuran 50-60A, fibril terdiri
dari protein ribonukleat.
3. Zona Amorf
Daerah amorf yang merupakan matriks anak inti yang tampak
homogen dan terdiri dari protein sebagai pengikat kedua bagian diatas.
Daerah ini hanya terdapat pada nukleolus tertentu.
4. Nukleolus Kromatin
Terdiri dari serat-serat tebalnya 100 A , mengandung DNA pada
bagian tertentu (Pramudiyanti. 2008)


2.4 Letak dan Isi Nukleolus
Nukleolus terletak di konstriksi sekunder (daerah pengorganisasian nukleolus).
Nukleolus mengandung ikalan-ikalan DNA yang berasal dari beberapa
kromosoma, setiap ikalan mengandung sekelompok gen rRNA. Setiap
kelompokan gen itu disebut daerah NOR (Nucleolar Organizer Region). Di NOR
gen-gen rRNA disalin oleh polymerase RNA. Dari elektromikrofag, nukleolus
terdiri dari tiga daerah pusat yang terdiri dari fibrila yang mempunyai daya serap
warna sangat lemah mengandung DNA yang belum disalin, kelompokan padat
yang terdiri dari fibrila dan mengandung molekul-molekul RNA yang baru saja
disalin, kelompokkan bahan yang membentuk butir-butir yang mengandung zarah
prazat ribosoma (Anonim, 2011).






III. METODELOGI


3.1 Waktu dan Tempat
Awal praktikum dilaksanakan pada Kamis, 2014 di Laboratorium Perikanan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini adalah ikan
komet, peralatan bedah, cawan petri, pipet tetes, ginsa ungu, asam asetat 50%,
alkohol, aquadest, kaca preparat, dan mikroskop.

1.3 Cara Kerja
Metode yang dilakukan dalam pembuatan preparat nucleus yaitu :
1. Potong sirip ikan 5 x 5 mm,
2. Kemudian ditempelkan pada tisu,
3. Fiksasi ke dalam larutan carnoy sebanyak 2 kali, masing-masing 30
menit,
4. Sisa larutan dibuang, lalu letakkan jaringan pada sendok,
5. Tambahkan 3-4 tetes asam asetat 50%,
6. Cacah jaringan hingga terbentuk lalu sedot suspense,
7. Hangatkan gelas objek pada hot plate dengan suhu 45
0
C,
8. Teteskan pada gelas objek hangat,
9. Sedot kembali setelah terbentuk ring diameter 1,5 cm,
10. Kemudian preparat diwarnai, menggunakan giemsa,
11. Sebarkan kepermukaan gelas objek dengan tusuk gigi
12. Bilas dengan air bersih lalu tiriskan sampai kering
13. Amati di bawah mikroskop.



















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tabel Hasil
Keterangan Foto
Terlihat inti sel (nukleus)
di dalam sel

Terlihat banyak terdapat
sel-sel

Terlihat banyak terdapat
sel-sel

Terlihat terdapat beberapa
sel



4.2 Pembahasan
Dari pengamatan preparat nukleolus yang dilakukan ditemukan nukleolus (anak
inti), gambar 1 menunjukkan gambar nukleolus dengan perbesaran 10x dan
gambar 2,3 dan 4 menunjukkan gambar nukleolus menggunakan perbesaran 40x.
Pada gambar tersebut juga dapat diketahui bahwa inti sel (nukleus) memiliki
bentuk paling besar dengan posisi di tengah sel.
Nukleus itu sendiri berbentuk oval. Seperti yang telah dinyatakan oleh Campbell
(2008) bahwa nukleus mengandung sebagian besar gen dalam sel eukariotik (
sebagian gen terletak dalam mitokondria dan kloroplas ) Nukleus umumnya
merupakan organel yang paling menonjol dalam sel eukariotik dengan diameter 5
m.
Dalam pembuatan preparat nucleolus ini ada tahapan atau proses-proses yang
dilakukan yaitu, dimulai dari pemotongan sirip ikan dengan ukuran 5 x 5
mm,kemudian diletakkan di atas tisu. Kemudian difiksasi dalam larutan carnoy
selama 30 menit, setalah itu dilakukan fiksasi kembali hingga 30 menit. Fiksasi
merupakan perlakuan untuk mematikan sel tanpa merusak bentuk dan
kandungannya (Paine, 1975). Menurut Hernandez (2006) fungsi lain dari larutan
fiksatif adalah menaikkan daya pewarnaan karena adanya bahan-bahan kasar yang
merupakan komponen cairan fiksatif. Larutan fiksatif yang paling sering
digunakan adalah campuran methanol dengan asam asetat glacial pada
perbandingan 3:1 . Setelah dilakukan fiksasi, masukkan jaringan kedalam gelas
objek cekung atau cawan petri lalu tambahkan 3-4 tetes asam asetat 50%.
Kemudian cacah jaringan hingga terbentuk atau hingga halus, lalu sedot suspensi
nya dengan menggunakan pipet tetes. Suspensi tersebut diletakkan pada gelas
objek yang hangat. lalu Gelas objek dipanaskan diatas hot plate. Hot plate yang
digunakan berfungsi mengeringkan suspensi sel di atas preparat, hal ini berguna
agar sel melekat dengan erat. Kemudian tunggu hingga suspensi tersebutterbentuk
ring yang berdiamter 1,5 cm. Setelah terbentuk ring, dilakukan pewarnaan
dengan Giemsa sambil diratakan ke permukaan objek dengan tusuk gigi, perataan
ini dilakukan agar sel tidak bertumpuk-tumpuk dan mudah untuk diamati, giemsa
merupakan pewarna yang paling sering digunakan untuk mewarnai kromosom.
Pewarnaan ini dilakukan hingga 20-25 menit sampai warna tersebut menempel
atau kering. Lalu tahapan berikutnya gelas objek dibilas dengan menggunakan
larutan hipotonik dan didiamkan sebentar selanjutnya diamati dibawah
mikroskop.

Fungsi Bahan Yang Digunakan
Perlakuan hipotonik bertujuan agar sel-sel membesar dan kromosom-kromosom
menyebar letaknya (Denton, 1973; Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008). Larutan
hipotonik dapat dibuat dari campuran akuades, sodium sitrat dan potassium klorid.
Lama perlakuan bergantung pada suhu dan konsistensi jaringan/sel yang
digunakan (Denton, 1973; Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008). Praktikum ini
menggunakan larutan hipotonik.

Pewarnaan dilakukan agar kromosom mudah diamati di bawah mikroskop
(Denton, 1973; Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008). Giemsa merupakan pewarna
yang paling sering digunakan untuk mewarnai kromosom (Denton, 1973; Sharma,
1976; Chaves et al., 1991 dalam Sucipto, 2008) meskipun mekanisme
pewarnaannya tidak bersih (Macgregor dan Valley, 1983 dalam Sucipto, 2008).

Giemsa digunakan untuk jenis preparat ulasan tipis maupun tebal (Gunarso,
1989). Komponen aktif Giemsa berupa molekul eosin Y dan biru metilen
(Sharma, 1976; Magregor dan Valley, 1983 dalam Sucipto, 2008). Kualitas hasil
pewarnaan bervariasi tergantung perbandingan pewarna yang digunakan (Sharma,
1976 dalam Sucipto, 2008).

Fiksasi merupakan perlakuan untuk mematikan sel tanpa merusak bentuk dan
kandungannya (Denton, 1973; Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008). Menurut
Gunarso (1989) fungsi lain dari larutan fiksatif adalah menaikkan daya pewarnaan
karena adanya bahan-bahan kasar yang merupakan komponen cairan fiksatif.
Larutan fiksatif yang paling sering digunakan adalah campuran methanol dengan
asam asetat glacial pada perbandingan 3:1 (v/v). Larutan ini harus dalam keadaan
segar jika akan digunakan (Wilson dan Morrison, 1962; Denton, 1973; Phillips et
al., 1986; Chaves et al., 1991 dalam Sucipto, 2008). Fiksasi dalam praktikum ini
juga menggunakan campuran methanol dengan asam asetat glacial pada
perbandingan 3:1 (v/v) yang disebut larutan carnoy. Larutan KCl dan Carnoy
haruslah dalam kondisi fresh atau baru.


Fungsi Nukleus dan Nukleolus
Nukleus memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan sebuah sel. Peranan
nucleus dalam hal ini adalah untuk mengatur dan mengontrol segala aktifitas
kehidupan sel serta membawa informasi genetik yang diturunkan ke generasi
berikutnya. Informasi genetik ini disimpan dalam suatu molekul polinukleutida
yang disebut DNA (Deoxyribonucleic acid). DNA pada umumnya tersebar di
dalam nucleus sebagai matriks seperti benang yang disebut kromatin. Ketika sel
akan memulai membelah, kromatin akan berkondensasi membentuk struktur yang
lebih padat dan memendek yang selanjutnya disebut kromosom. Kromosom
tersusun atas molekul DNA dan protein histon. Struktur di dalam nucleus yang
merupakan tempat berkonsentrasinya molekul DNA adalah nucleolus (anak inti.).
Nucleolus berperan sebagai tempat terjadinya sintesis molekul RNA (Ribonucleic
acid) dan ribosom. RNA merupakan hasil salinan DNA yang akan ditransfer ke
sitoplasma untuk diterjemahkan menjadi rantai asam amino yang disebut protein
(Anonim,2011).
Fungsi nukleolus adalah membentuk RNA ribosom dengan bantuan pusat
organisasi inti. RNA ribosom dibentuk untuk pembentukan macam-macam
molekul protein. Sel-sel yang lebih aktif membuat protein, seperti neuron dan sel
kanker, memiliki banyak nukleolus yang besar-besar (Anonim, 2011).

Teknik yang dilakukan pada praktikum ini adalah pewarnaan giemsa. Pewarnaan
ini dilakukan setelah dilakukan pemanasan objek di hot plate pada suhu 45
0
C.
Pewarnaan dilakukan agar kromosom mudah diamati di bawah mikroskop.
Giemsa merupakan pewarna yang paling sering digunakan untuk mewarnai
kromosom meskipun mekanisme pewarnaannya tidak bersih. Giemsa digunakan
untuk jenis preparat ulasan tipis maupun tebal (Gunarso, 1989). Komponen aktif
Giemsa berupa molekul eosin Y dan metilen biru.

Ketika pembuatan ring, hindari adanya gelembung udara karena akan menyulitkan
ketika pengamatan kromosom. Suhu hot plate jangan terlalu panas ( 45-50
o
C),
jika terlalu panas maka preparat akan gosong. Ketika pewarnaan dengan larutan
giemsa, jangan terlalu banyak larutan yang diteteskan atau perendaman jangan
terlalu lama karena akan menyebabkan warna ring terlalu tebal dan menyulitkan
pengamatan.

Kegagalan praktikum sebelumnya disebabkan karena kesalahan dalam melakukan
prosedur praktikum, terlalu lamanya perendaman menggunakan larutan carnoy,
dan tingginya suhu pada hot plate saat dilakukan pemanasan gelas objek.
Keberhasilan praktikum dikarenakan sesuainya prosedur yang dilakukan.




Fungsi Bahan Yang Digunakan
Perlakuan hipotonik bertujuan agar sel-sel membesar dan kromosom-kromosom
menyebar letaknya (Denton, 1973; Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008). Larutan
hipotonik dapat dibuat dari campuran akuades, sodium sitrat dan potassium klorid.
Lama perlakuan bergantung pada suhu dan konsistensi jaringan/sel yang
digunakan (Denton, 1973; Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008). Praktikum ini
menggunakan larutan hipotonik.

Pewarnaan dilakukan agar kromosom mudah diamati di bawah mikroskop
(Denton, 1973; Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008). Giemsa merupakan pewarna
yang paling sering digunakan untuk mewarnai kromosom (Denton, 1973; Sharma,
1976; Chaves et al., 1991 dalam Sucipto, 2008) meskipun mekanisme
pewarnaannya tidak bersih (Macgregor dan Valley, 1983 dalam Sucipto, 2008).

Giemsa digunakan untuk jenis preparat ulasan tipis maupun tebal (Gunarso,
1989). Komponen aktif Giemsa berupa molekul eosin Y dan biru metilen
(Sharma, 1976; Magregor dan Valley, 1983 dalam Sucipto, 2008). Kualitas hasil
pewarnaan bervariasi tergantung perbandingan pewarna yang digunakan (Sharma,
1976 dalam Sucipto, 2008).

Fiksasi merupakan perlakuan untuk mematikan sel tanpa merusak bentuk dan
kandungannya (Denton, 1973; Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008). Menurut
Gunarso (1989) fungsi lain dari larutan fiksatif adalah menaikkan daya pewarnaan
karena adanya bahan-bahan kasar yang merupakan komponen cairan fiksatif.
Larutan fiksatif yang paling sering digunakan adalah campuran methanol dengan
asam asetat glacial pada perbandingan 3:1 (v/v). Larutan ini harus dalam keadaan
segar jika akan digunakan (Wilson dan Morrison, 1962; Denton, 1973; Phillips et
al., 1986; Chaves et al., 1991 dalam Sucipto, 2008). Fiksasi dalam praktikum ini
juga menggunakan campuran methanol dengan asam asetat glacial pada
perbandingan 3:1 (v/v) yang disebut larutan carnoy. Larutan KCl dan Carnoy
haruslah dalam kondisi fresh atau baru.


Fungsi Nukleus dan Nukleolus
Nukleus memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan sebuah sel. Peranan
nucleus dalam hal ini adalah untuk mengatur dan mengontrol segala aktifitas
kehidupan sel serta membawa informasi genetik yang diturunkan ke generasi
berikutnya. Informasi genetik ini disimpan dalam suatu molekul polinukleutida
yang disebut DNA (Deoxyribonucleic acid). DNA pada umumnya tersebar di
dalam nucleus sebagai matriks seperti benang yang disebut kromatin. Ketika sel
akan memulai membelah, kromatin akan berkondensasi membentuk struktur yang
lebih padat dan memendek yang selanjutnya disebut kromosom. Kromosom
tersusun atas molekul DNA dan protein histon. Struktur di dalam nucleus yang
merupakan tempat berkonsentrasinya molekul DNA adalah nucleolus (anak inti.).
Nucleolus berperan sebagai tempat terjadinya sintesis molekul RNA (Ribonucleic
acid) dan ribosom. RNA merupakan hasil salinan DNA yang akan ditransfer ke
sitoplasma untuk diterjemahkan menjadi rantai asam amino yang disebut protein
(Anonim,2011).
Fungsi nukleolus adalah membentuk RNA ribosom dengan bantuan pusat
organisasi inti. RNA ribosom dibentuk untuk pembentukan macam-macam
molekul protein. Sel-sel yang lebih aktif membuat protein, seperti neuron dan sel
kanker, memiliki banyak nukleolus yang besar-besar (Anonim, 2011).

Teknik yang dilakukan pada praktikum ini adalah pewarnaan giemsa. Pewarnaan
ini dilakukan setelah dilakukan pemanasan objek di hot plate pada suhu 45
0
C.
Pewarnaan dilakukan agar kromosom mudah diamati di bawah mikroskop.
Giemsa merupakan pewarna yang paling sering digunakan untuk mewarnai
kromosom meskipun mekanisme pewarnaannya tidak bersih. Giemsa digunakan
untuk jenis preparat ulasan tipis maupun tebal (Gunarso, 1989). Komponen aktif
Giemsa berupa molekul eosin Y dan metilen biru.

Ketika pembuatan ring, hindari adanya gelembung udara karena akan menyulitkan
ketika pengamatan kromosom. Suhu hot plate jangan terlalu panas ( 45-50
o
C),
jika terlalu panas maka preparat akan gosong. Ketika pewarnaan dengan larutan
giemsa, jangan terlalu banyak larutan yang diteteskan atau perendaman jangan
terlalu lama karena akan menyebabkan warna ring terlalu tebal dan menyulitkan
pengamatan.

Kegagalan praktikum sebelumnya disebabkan karena kesalahan dalam melakukan
prosedur praktikum, terlalu lamanya perendaman menggunakan larutan carnoy,
dan tingginya suhu pada hot plate saat dilakukan pemanasan gelas objek.
Keberhasilan praktikum dikarenakan sesuainya prosedur yang dilakukan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Nukleolus bila dilihat dengan menggunakan suatu mikroskop cahaya akan
tampak sebagai bangunan basofil yang mempunyai ukuran lebih besar dari
butir-butir atau kelompok-kelompok kromatin yang ada pada inti sel.
2. Fungsi nukleolus adalah membentuk RNA ribosom dengan bantuan pusat
organisasi inti. RNA ribosom dibentuk untuk pembentukan macam-macam
molekul protein.
3. Suhu hot plate jangan terlalu panas ( 45-50
o
C), jika terlalu panas maka
preparat akan gosong. Ketika pewarnaan dengan larutan giemsa, jangan
terlalu banyak larutan yang diteteskan atau perendaman jangan terlalu
lama karena akan menyebabkan warna ring terlalu tebal dan menyulitkan
pengamatan.

5.2 Saran
Saran yang ingin disampaikan adalah adanya keseriusan yang dilakukan oleh
praktikan maupun asisten dosen dalam melakukan praktikum. Agar praktikum
dapat berjalan sesuai dengan prosedur yang dilakukan dan hasi pengamatan dalam
praktikun dapat dipertanggungjawabkan.


















DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011 http://taufik-ardiyanto.blogspot.com/2011/07/makalah-nukleolus-
anak-inti-sel.html. Diakses tanggal 9 Juni 2014 Pukul 22.09

Anonim, 2012. http://selamathariyadi.wordpress.com/2012/10/18/laporan-
praktik/. Diaksek pada tanggal 9 Juni 2014 Pukul 23.42

Bevelander, Gerrit W. 1979. Dasar-dasar Histologi. Jakarta: Erlangga.

Campbell, Neil A, & Reece, Jane B. 2008. Biologi 1 Ed. 8. Jakarta: Erlangga.
Genester, Finn. 1994. BUKU TEKS BIOLOGI. Jakarta: Binarupa Aksara

Hernandez-Verdun, Daniele (2006). "Nucleolus: from structure to
dynamics". Histochem. Cell. Biol 125 (125): 127137.doi:10.1007/s00418-
005-0046-4.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.

Kimball, John W. 1983. Biologi. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Junqueira, Carneiro, Kelley. 1998. HISTOLOGI DASAR. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC

Paine P, Moore L, Horowitz S (1975). "Nuclear envelope permeability".
Nature 254 (5496): 109114. doi:10.1038/254109a0. PMID 1117994.

Pramudiyanti. 2008. BAHAN AJAR MATA KULIAH BIOLOGI SEL. Bandar
Lampung: Universitas Lampung.


Sucipto, Adi. 2008. Preparasi Kromosom. www.adisucipto.wordpress.com.
Diakses pada tanggal 10 Juni 2014 pikul 23.52








FOTO CARA KERJA PRAKTIKUM



Sampel ikan yang digunakan sirip ikan yang sudah dipotong


Proses fiksasi proses pemanasan







LAMPIRAN