Anda di halaman 1dari 32

BPS Kabupat en Sampang

Kata Pengantar

Dalam era globalisasi dan informasi saat ini, maka dirasa sangat
diperlukan akan tersedianya data statistik yang lengkap dan akurat. Adanya
data yang lengkap dan akurat ini berfungsi sebagai dasar penyusunan
perencanaan pembangunan, alat pengendali terlaksananya perencanaan
dan evaluasi hasil hasil pembangunan.
Untuk itulah sebagai bahan masukan informasi dan sebagai data
pendukung pelaksanaan pembangunan khususnya di Kabupaten Sampang,
maka Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sampang menyusun buku
Laporan eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang yang
didalamnya mencakup gambaran umum Kabupaten Sampang, serta data
data hasil pembangunan Kabupaten Sampang, khususnya di bidang Sosial
dan Ekonomi Masyarakat pada tahun 2012.
Demikian semoga buku ini bermanfaat untuk para perencana,
pengambil keputusan serta masyarakat luas yang membutuhkan informasi
mengenai data kondisi Sosial Ekonomi masyarakat Kabupaten Sampang
tahun 2012.












Sampang, Agustus 2013
Kepala BPS Kabupaten Sampang




AGUNG RAHARDJO, SE
NIP. 19610524 198103 1 001
Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang i

BPS Kabupat en Sampang
Daftar Isi

Kata Pengantar .. i
Daftar Isi ii
Daftar Gambar ....... iii
BAB 1 PENDAHULUAN . 1
1.1. Latar Belakang . 1
1.2. Tujuan Penulisan . 2
1.3. Metodologi 2
1.4. Sistematika Penyajian . 2
BAB 2 KEPENDUDUKAN 4
2.1. Konsep dan Definisi dalam Kependudukan . 4
2.2. Penduduk dan Rasio J enis Kelamin . 4
2.3. Struktur Umur . 5
2.4. Fertilitas. 6
2.5. Keluarga Berencana 7
BAB 3 PENDIDIKAN. 9
3.1. Konsep dan Definisi di Bidang Pendidikan 9
3.2. Angka Melek Huruf (AMH) .. 9
3.3. Partisipasi Sekolah 10
3.4. Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan . 12
BAB 4 KESEHATAN.. 14
4.1. Konsep dan Definisi di Bidang Kesehatan . 14
4.2. Cara Berobat .. 14
4.3. Kesehatan Balita .. 15
BAB 5 KETENAGAKERJ AAN .. 18
5.1. Konsep dan Definisi di Bidang Ketenagakerjaan 18
5.2. Angkatan Kerja . 18
5.3. Lapangan Pekerjaan 20
5.4. Status Pekerjaan
20
BAB 6 PERUMAHAN 22
6.1. Konsep dan Definisi dalam Bidang Perumahan. 22
6.2. Kualitas Bangunan Tempat Tinggal. 22
6.3. Fasilitas Tempat Tinggal . 23
BAB 7 PENUTUP... 26
Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang ii

BPS Kabupat en Sampang
Daftar Gambar

Gambar 2.1. Persentase Penduduk menurut Kelompok Umur . 5
Gambar 2.2. Persentase Wanita Pernah Kawin Menurut
Umur Perkawinan Pertama.. 7
Gambar 2.3. Persentase Alat KB yang Digunakan Oleh Wanita
Kawin Usia 15-49.. 8
Gambar 3.1. Angka Melek Huruf Penduduk Usia 10 Tahun
Ke atas Tahun 2011-2012 10
Gambar 3.2. APS 7-12, APS 12-15, APS 16-18 Tahun 2011-2012 11
Gambar 3.3. Penduduk Usia 10 Tahun ke atas menurut Tingkat
Pendidikan Yang Ditamatkan 11
Gambar 4.1. Cara Berobat Penduduk yang Mengobati Sendiri
Bila Ada Keluhan Kesehatan 15
Gambar 4.2. Persentase Penolong Pertama dan Penolong
Terakhir Persalinan Balita . 16
Gambar 4.3. Persentase Balita menurut Lama Pemberian
ASI (Bulan) .. 17
Gambar 5.1. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke atas
menurut Kegiatan Utama . 19
Gambar 6.1. Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas
Perumahan . 23
Gambar 6.2. Persentase Rumah Tangga Pengguna Fasilitas
Penerangan . 24
Gambar 6.3. Persentase Rumah Tangga menurut Pengguna
Fasilitas Air Minum .. 25


Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang iii

BPS Kabupaten Sampang



1 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
BAB 1
PENDAHULUAN


Berbagai program kebijakan pembangunan yang telah dirumuskan
serta diimplementasikan oleh Pemerintah secara berkesinambungan,
bertujuan untuk meningkatkan tataran kesejahteraan rakyat. Sebagai sebuah
tujuan yang bersifat abstrak, peningkatan tataran kesejahteraan rakyat ini
ditransformasikan ke dalam besaran-besaran kuantitatif yang mewakili
beberapa bidang pembangunan yang terukur dan dapat diperbandingkan
antar waktu dan antar wilayah. Dengan demikian dapat dijadikan sebagai
bahan evaluasi serta rekomendasi dalam pengambilan kebijakan
pembangunan selanjutnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) beserta segenap jajarannya di daerah
berupaya memfasilitasi kebutuhan akan data-data yang diperlukan dalam
memberikan gambaran hasil yang telah dicapai dalam pembangunan. Salah
satunya terpotret dari hasil kegiatan Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas) yang setiap tahun rutin dilaksanakan sejak tahun 1993.

1.1. Latar Belakang
Data-data hasil capaian pembangunan yang telah dilakukan oleh
Pemerintah tidak hanya harus lengkap, akurat, tepat waktu, serta
berkesinambungan, namun juga harus memiliki intepretasi yang tepat dalam
pelaporannya. Dengan demikian akan meminimalkan terjadinya disinformasi
serta disintepretasi di kalangan pengguna data.
Guna mencapai tujuan tersebut, maka disusunlah beberapa hasil
kegiatan Susenas di Kabupaten Sampang dalam bentuk ulasan Ringkasan
Eksekutif (Executive Summary). Keringkasan bentuk diharapkan tidak
mengurangi bobot informasi yang disajikan karena tanpa menghilangkan
pokok bahasan yang esensial. Selain itu bentuk penyajian yang dipilih
diharapkan akan mempermudah para pengguna data dalam memahami
setiap informasi yang dipaparkan.

BPS Kabupaten Sampang



2 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang

1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan utama penyusunan Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012
Kabupaten Sampang adalah untuk memberikan gambaran kondisi
kesejahteraan rakyat di Kabupaten Sampang sebagai respons terhadap
pembangunan yang telah dilakukan selama ini. Selain tujuan utama tersebut,
diharapkan dari Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 dapat diperoleh:
a. Informasi yang ringkas dan mudah dipahami mengenai data pokok yang
berkaitan dengan kesejahteraan rakyat khususnya di Kabupaten
Sampang di tahun 2012
b. Bahan monitoring serta evaluasi terhadap hasil pembangunan di berbagai
sektor pembangunan terkait, serta sebagai bahan rujukan dalam
perencanaan pembangunan yang berorientasi pada upaya peningkatan
kesejahteraan rakyat.
c. Bahan arahan serta penentuan target pembangunan selanjutnya yang
mesti dilakukan oleh Pemerintah dan sebagai alat bantu bagi para wakil
rakyat di Legislatif Kabupaten Sampang dalam menjalankan amanah
yang diemban yaitu melakukan kontrol terhadap kegiatan pembangunan
yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sampang.

1.3. Metodologi
Kegiatan Susenas dilakukan secara survei yaitu pengambilan sampel
sejumlah rumah tangga terpilih dari blok sensus terpilih, desa/kelurahan
terpilih, di seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Sampang.
Namun karena jumlah sampel yang tercakup dalam kegiatan ini relatif kecil,
maka hasil estimasi yang dapat disajikan dari kegiatan ini hanya sampai
tingkat kabupaten.

1.4. Sistematika Penyajian
Penyusunan Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas Tahun 2012 di
Kabupaten Sampang dibagi menjadi tiga bagian:


BPS Kabupaten Sampang



3 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
Bagian I Pendahuluan : terdiri dari 1 bab, yaitu Bab 1 Pendahuluan
Bagian II Isi : terdiri atas 5 bab, yaitu;
Bab 2 Kependudukan
Bab 3 Pendidikan
Bab 4 Kesehatan
Bab 5 Ketenagakerjaan
Bab 6 Perumahan
Bagian III Penutup : terdiri dari 1 bab, yaitu Bab 7 Penutup



BPS Kabupaten Sampang



4 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
BAB 2
KEPENDUDUKAN


2.1. Konsep dan Definisi dalam Kependudukan
a. Penduduk yaitu semua orang yang biasanya bertempat tinggal selama
enam bulan atau lebih, atau belum sampai enam bulan namun berniat
untuk menetap lebih dari enam bulan.
b. Sex ratio (rasio jenis kelamin) adalah perbandingan antara penduduk laki-
laki dengan perempuan.
c. Laju pertumbuhan penduduk adalah kecenderungan besarnya penduduk
dari waktu ke waktu.
d. Rasio ketergantungan (Dependency Ratio) adalah perbandingan antara
penduduk usia produktif (15-64 tahun) dengan penduduk usia muda (0-14
tahun) dan penduduk usia tua (65 tahun ke atas).
e. TFR (Total Fertility Rate) yaitu rata-rata jumlah anak yang secara
hipotesis dilahirkan oleh seorang wanita sampai akhir masa
reproduksinya.

2.2. Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil Susenas tahun 2012, jumlah penduduk di
Kabupaten Sampang adalah 891.982 jiwa, yang terdiri dari 433.324 laki-laki
dan 458.658 perempuan. Rata-rata setiap satu kilometer persegi wilayah di
Kabupaten Sampang tahun 2012 didiami oleh 723 penduduk.
Sedangkan dari hasil regristrasi, penduduk Kabupaten Sampang
adalah 883.282 terdiri dari 434.784 laki-laki dan 448.498 perempuan.Dari
angka rasio jenis kelamin diperoleh informasi bahwa setiap seratus
penduduk perempuan terdapat 94 penduduk laki-laki. Atau dengan kata lain
jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk
laki-laki. Bila dilihat menurut persentase, 48,58 persen penduduk sampang
adalah laki-laki dan 51,42 persen sisanya adalah penduduk perempuan.

BPS Kabupaten Sampang



5 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang

2.3. Struktur Umur
Penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Kabupaten Sampang berada
pada kisaran 62,82 persen, sedangkan penduduk usia muda (0-14 tahun)
berada pada kisaran 31,81 persen, dan untuk penduduk usia tua (65 tahun
ke atas) persentasenya berada pada kisaran 5,37 persen. Bila dilihat
menurut struktur umurnya, penduduk Kabupaten Sampang memiliki struktur
umur muda, karena persentase penduduk usia muda lebih dari 30 persen.
Ciri struktur umur ini memberi konsekuensi bahwa pembangunan di bidang
kesehatan terutama dalam upaya pemenuhan fasilitas serta layanan
kesehatan sangat penting.




Selain itu pada kelompok usia muda, perbandingan antara penduduk
laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan (53,48 berbanding
46,52), sedangkan pada kelompok usia tua dan produktif penduduk laki-laki
lebih rendah dibanding penduduk perempuan. Pada kelompok tua 40,08

BPS Kabupaten Sampang



6 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
persen penduduk laki-laki berbanding 59,92 penduduk wanita, dan pada
kelompok usia produktif 49,14 persen penduduk laki-laki berbanding
dengan 50,86 penduduk perempuan.
Informasi lainnya yang dapat diperoleh dari komposisi penduduk
adalah rasio ketergantungan. Besarnya rasio ketergantungan di tahun 2012
adalah 59,18 persen, yang berarti bahwa setiap 100 penduduk usia produktif
(15-64 tahun) menanggung beban sekitar 54 penduduk usia tidak produktif
(0-15 tahun dan 65 tahun atau lebih).


2.4. Fertilitas
Jumlah tanggungan yang menjadi beban ekonomi rumah tangga salah
satunya dipengaruhi oleh jumlah kelahiran anak. Semakin banyak jumlah
anak yang dilahirkan maka akan semakin bertambah besar pula beban
tanggungan ekonomi dalam rumah tangga.
Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur
kelahiran/fertilitas yang digunakan dalam pembahasan ini adalah TFR.
Angka TFR di Kabupaten sampang hasil susenas 2012 sebesar 2,16 yang
berarti sampai akhir masa reproduksinya wanita akan melahirkan sekitar 2
orang anak.

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap angka TFR
adalah umur perkawinan pertama. Semakin muda umur perkawinan
pertama seorang wanita, maka semakin panjang rentang masa
reproduksinya, hal ini akan berakibat semakin besar bagi wanita tersebut
untuk memiliki anak yang lebih banyak.
Berdasarkan hasil susenas 2012 menunjukkan bahwa usia kurang
dari 17 tahun merupakan usia yang umumnya dipilih oleh para wanita di
Kabupaten Sampang untuk melakukan perkawinan pertama mereka. Usia
17-18 merupakan pilihan tertinggi selanjutnya yang dipilih wanita di
Kabupaten Sampang untuk melangsungkan perkawinan pertama. Dari
gambar 2.2 terlihat bahwa 76,81 persen wanita yang pernah atau sedang

BPS Kabupaten Sampang



7 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
kawin di Kabupaten Sampang menikah di usia kurang dari 19 tahun. Hal ini
menyebabkan masih tingginya angka TFR di Kabupaten Sampang.







2.5. Keluarga Berencana
Untuk mengatasi masalah kependudukan, Pemerintah Indonesia
sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto, mengambil kebijakan Anti
Natalis, yaitu kebijakan yang berusaha untuk menekan kelahiran serendah
mungkin. Dimulai sejak Indonesia, yang diwakili oleh Presiden Soeharto,
menandatangani Deklarasi PBB tentang Kependudukan (United Nations
Declaration on Population).
Mulai tahun 1996 paradigma Keluarga Berencana bergeser dari hanya
menurunkan tingkat kelahiran semata menjadi mewujudkan kesehatan fisik
manusia secara lengkap, kesejahteraan mental, dan bukan cuma ketiadaan
masalah yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi, dan prosesnya

BPS Kabupaten Sampang



8 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
(World Bank, 2006). Perubahan paradigma tersebut sekaligus merupakan
tujuan pembangunan Kesehatan Reproduksi, karena Keluarga berencana
hanya salah satu paket esensial dari pelayanan Kesehatan Reproduksi.
Beberapa elemen pelayanan dalam Keluarga Berencana yang
disarankan oleh Organisasi Internasional antara lain adalah; pemilihan
metode (cara ber-KB), penundaan kelahiran bagi remaja, tanggung jawab
pria dalam pemilihan alat kontrasepsi, perhatian terhadap unmetneed
(ketersediaan alat KB), keamanan/penelitian terhadap efek samping alat KB,
pengembalian kesuburan, pencabutan implant, dan kualitas pelayanan KB.
Salah satu elemen pelayanan dalam KB yang tercakup dalam Susenas
adalah pemilihan metode ber-KB.
Berdasarkan hasil Susenas 2012 peserta KB aktif (sedang memakai
alat KB) berada pada kisaran 52,47 persen pada wanita kawin usia 15-49.
Pasangan Usia Subur (PUS) peserta KB aktif di Kabupaten Sampang
paling banyak menggunakan alat/cara KB secara hormonal, yaitu suntik dan
pil, dan susuk KB. Pemilihan alat KB memang bisa berubah tergantung
pilihan pemakai dan konsultasi kesehatan yang telah dilakukan.


BPS Kabupaten Sampang



9 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
BAB 3
PENDIDIKAN


3.1. Konsep dan Definisi di Bidang Pendidikan
a. Angka Melek Huruf adalah persentase penduduk yang mampu membaca
dan menulis huruf latin dan lainnya.
b. Angka Partisipasi Sekolah adalah persentase penduduk yang bersekolah
pada kelompok umur tertentu.

3.2. Angka Melek Huruf (AMH)
Pendidikan adalah salah satu indikator yang sangat penting dalam
menentukan keberhasilan pembangunan. Tingkat kepentingan ini tercermin
dari salah satu ukuran yang digunakan sebagai bencmark terhadap
keberhasilan pembangunan antar negara yang kemudian diperluas untuk
antar wilayah dalam negara, yaitu Human Development Index (HDI) yang
lebih populer dikenal di Indonesia dengan istilah IPM (Indeks Pembangunan
Manusia). Sebagai komposit indeks IPM disusun atas beberapa indikator,
yang salah satunya pendidikan, yang diwakili oleh angka melek huruf dan
rata-rata lama sekolah.
Angka melek huruf penduduk usia 10 tahun ke atas di Kabupaten
Sampang pada tahun 2012 mengalami kenaikan dibanding tahun 2011 yaitu
88,38 persen pada tahun 2011 berbanding 89,12 pada tahun 2012.
Persentase penduduk laki-laki yang melek huruf lebih tinggi dibanding
perempuan. Dari persentase melek huruf tersebut tercatat 47,17 adalah
penduduk laki-laki, sedangkan perempuannya 52,83.







BPS Kabupaten Sampang



10 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang



Kondisi angka melek huruf penduduk laki-laki yang lebih tinggi
dibandingkan penduduk perempuan umumnya terjadi pada wilayah dengan
situasi tanpa kesetaraan atau keadilan jender, faktor lainnya yang
menyebabkan hal ini adalah sebagai akibat termarginalisasikannya peran
perempuan dalam masyarakat.

3.3. Partisipasi Sekolah
Berdasarkan hasil Susenas 2012 menunjukkan bahwa Angka
Partisipasi Sekolah (APS) penduduk di Kabupaten Sampang, secara umum
mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini diduga disebabkan
sebagai respons atas program wajib belajar sembilan tahun yang saat ini
sedang digalakkan oleh Pemerintah.

BPS Kabupaten Sampang



11 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang



Bila dibedakan menurut jenis kelamin, APS penduduk di Kabupaten
Sampang tahun 2012 memiliki beberapa ciri. Pertama bahwa untuk APS usia
7-12 tahun tidak ada perbedaan yang berarti antara penduduk laki-laki dan
perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat pendidikan setara SD
ini para orang tua merasa wajib menyekolahkan putra-putri mereka, tanpa
ada upaya pembedaan jender. Kedua, perbedaan APS mulai terjadi pada
penduduk usia 13-15 tahun atau setara pendidikan dasar saat ini, yaitu
SLTP. Tercatat 48,53 penduduk yang masih sekolah adalah laki-laki,
sedangkan selebihnya sebesar 51,46 adalah penduduk perempuan.
Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi pola APS pada usia 13-15
tahun adalah faktor geografi, faktor ekonomi dan faktor budaya. Faktor
geografi, sekolah SLTP atau yang sederajat mulai jauh dari tempat tinggal
murid. Faktor ekonomi, menurut pendapat orang tua anak usia 13-15 kondisi
fisiknya sudah cukup kuat untuk membantu orang tua mencari nafkah,
sehingga kalau anak sekolah maka akan mengurangi pendapatan keluarga.
Faktor budaya, anak sudah cukup menuntut ilmu di sekolah umum, sehingga

BPS Kabupaten Sampang



12 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
anak harus menuntut ilmu keagamaan di pondok pesantren dengan menjadi
santri.
Perbedaan terjadi pula pada penduduk usia 16 18 tahun atau
setara pendidikan menengah saat ini, yaitu SLTA. Tercatat 63,70 persen
penduduk yang masih sekolah adalah laki-laki, sedangkan selebihnya
sebesar 36,30 adalah penduduk perempuan.
Selain itu diduga lebih rendahnya APS penduduk perempuan usia 16-
18 tahun disebabkan karena mereka telah melakukan perkawinan pertama,
karena seperti yang telah dikemukakan di pembahasan pada bab 2 bahwa
sekitar 76,81 persen penduduk usia 15-49 tahun di Kabupaten Sampang
melakukan perkawinan pertama kali pada usia kurang dari 19 tahun.

3.4. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan



Bila diperhatikan dari gambar 3.3. terlihat bahwa pendidikan yang
ditamatkan oleh penduduk usia 10 tahun keatas (termasuk penduduk usia
lanjut) adalah tidak punya ijasah setingkat SD sebanyak 46,04 persen, punya
ijasah SD/Sederajat sebanyak 33,76 persen, punya ijasah SLTP/Sederajat

BPS Kabupaten Sampang



13 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
sebanyak 9,64 persen, punya ijasah SLTA/Sederajat sebanyak 7,82 persen
dan tamat perguruan tinggi sebanyak 2,74 persen.

Dari hasil susenas 2012 diketahui pula bahwa pada tiap jenjang
pendidikan yang ada mulai dari Sekolah dasar (SD) sampai Perguruan
Tinggi (PT) persentase penduduk laki-laki yang menamatkan pendidikan
lebih besar dari penduduk wanitanya.

BPS Kabupaten Sampang



14 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
BAB 4
KESEHATAN


4.1. Konsep dan Definisi di Bidang Kesehatan
a. Keluhan kesehatan adalah seseorang yang mengalami gangguan
kesehatan atau kejiwaan, baik karena penyakit akut, penyakit kronis,
kecelakaan, kriminal, atau hal lain.
b. Proses kelahiran/persalinan adalah proses lahirnya janin berusia 5
bulan ke atas (bila kurang dari 5 bulan dinamakan abortus/keguguran)
dari dalam kandungan ke dunia luar, dimulai dengan adanya tanda-
tanda kelahiran, lahirnya bayi, pemotongan tali pusar, dan keluarnya
plasenta.

4.2. Cara Berobat
Berdasarkan hasil Susenas 2012, 32,44 persen penduduk di
Kabupaten Sampang memiliki keluhan kesehatan. Dari 32,44 persen
tersebut 18,43 persennya menyebabkan terganggunya aktifitas mereka
sehari-hari. Dari 18,43 yang menyatakan terganggunya aktifitas mereka
63,94 persen menyatakan pernah mengobati, baik itu menggunakan obat
modern maupun obat tradisional.
Selain melakukan pengobatan sendiri, sekitar 52,83 persen penduduk
yang memiliki keluhan pernah berobat jalan. Fasilitas yang paling banyak
digunakan oleh penduduk yang berobat jalan adalah praktek tenaga
kesehatan(71,15), disusul Puskesmas/pustu(13,87), praktek dokter(11,33),
Rumah Sakit Pemerintah (2,19). Hanya sebagian kecil saja penduduk yang
berobat jalan ke Rumah Sakit Swasta, pengobatan Tradisional dan dukun
bersalin.





BPS Kabupaten Sampang



15 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang




4.3. Kesehatan Balita
Penolong proses persalinan adalah salah satu faktor penting yang
menentukan kesehatan dan keselamatan bayi maupun ibu yang melahirkan.
Persalinan sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis atau tenaga bidan, yang
memiliki tingkat pengetahuan serta kemampuan dalam pertolongan
persalinan. Dengan demikian akan menurunkan terjadinya resiko selama
persalinan baik bagi sang bayi maupun sang ibu, serta lebih aman
dibandingkan tenaga persalinan seperti dukun ataupun lainnya.
Hasil Susenas 2012 menunjukkan bahwa 65,18 persen balita ditolong
oleh tenaga medis (Dokter, Bidan dan tenaga medis lain) dalam persalinan
pertamanya. Sementara itu 34,82 persen balita persalinannya dibantu oleh
non medis (Dukun, famili) dalam persalinannnya. Sedangkan penolong
persalinan terakhir yang dilakukan oleh Medis sebesar 66,39 persen, dan
33,61 persen sisanya oleh non medis.


BPS Kabupaten Sampang



16 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang




Selain penolong kelahiran, masalah pemberian ASI (Air Susu Ibu)
sangat penting bagi kesehatan dan perkembangan balita. ASI mutlak
diperlukan karena merupakan makanan utama, murah, serta terbaik bagi
bayi, yang banyak mengandung zat-zat yang diperlukan bagi pertumbuhan
dan perkembangan bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ASI memiliki
kandungan zat Asam Siklik yang bermanfaat dalam membentuk kesehatan,
daya tahan tubuh, kecerdasan dan juga keseimbangan emosi bayi. Bagi Ibu,
memberi ASI berarti bermanfaat untuk diet alami, mencegah kanker
payudara, mengurangi resiko anemia dan manfaat ekonomi.
Hampir sebagian besar balita di Kabupaten Sampang pernah
diberikan ASI oleh ibunya, persentasenya mencapai 98,83 persen.
Sedangkan sisanya sebesar 1,17 persen tidak pernah diberi ASI sama
sekali. Dari 98,83 yang pernah diberi ASI, tercatat 49,98 % diberi ASI selama
kurang dari 6 bulan, 39,14 % antara 7 sampai 9 bulan, 10,88 % diberi ASI
lebih dari 10 bulan.


BPS Kabupaten Sampang



17 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang



Pemberian ASI yang baik adalah dengan Metode Laktasi Amenore
(LAM), yaitu pemberian ASI eksklusif selama enam bulan tanpa makanan
tambahan. Kemudian pemberian ASI diteruskan sampai balita berumur dua
tahun dengan memberikan juga makanan tambahan. Sementara itu,
kandungan ASI yang paling baik adalah yang keluar pada awal menyusui,
karena mengandung zat yang disebut Colostrum yang bermanfaat dalam
membangun imunitas tubuh bayi.


BPS Kabupaten Sampang



18 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
BAB 5
KETENAGAKERJAAN


5.1. Konsep dan Definisi di Bidang Ketenagakerjaan
a. Penduduk usia kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas
yang merupakan gabungan antara penduduk angkatan kerja dan bukan
angkatan kerja
b. Angkatan kerja (AK) adalah penduduk usia kerja yang terlibat dalam
kegiatan ekonomi, yaitu mereka yang bekerja dan mencari pekerjaan
(termasuk yang sedang mempersiapkan usaha).
c. Bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang tidak terlibat
dalam kegiatan ekonomi, dikarenakan; sekolah, mengurus rumah
tangga, dan melakukan kegiatan lainnya.
d. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) adalah persentase jumlah
angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja.
e. Tingkat kesempatan kerja (TKK) adalah persentase jumlah penduduk
usia kerja yang bekerja terhadap angkatan kerja.
f. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) adalah persentase jumlah
penduduk yang sedang mencari kerja dan mempersiapkan usaha
terhadap angkatan kerja.
g. Bekerja adalah kegiatan produktif seseorang minimal satu jam secara
berturut turut.

5.2. Angkatan Kerja
Penduduk usia kerja di kabupaten Sampang berdasarkan hasil
Susenas tahun 2011 sebesar 69,71 persen dari total penduduk. Dari
keseluruhan penduduk usia kerja tersebut, 76,69 persen diantaranya adalah
penduduk angkatan kerja, yang terdiri atas 98,22 persen penduduk yang
bekerja dan 1,78 persen penduduk pencari kerja atau sedang menyiapkan
usaha. Dengan kata lain, bahwa bila ada 100 penduduk di Kabupaten
Sampang tahun 2012 yang berusia 15 tahun ke atas, maka 76 diantaranya

BPS Kabupaten Sampang



19 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
termasuk dalam angkatan kerja, terdiri atas 74 penduduk yang sudah bekerja
dan 2 orang penduduk pencari kerja/sedang menyiapkan usaha.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengangguran
terbuka di Kabupaten Sampang pada tahun 2012 sebesar 1,78 persen.
Karena sebagian besar penduduk Kabupaten Sampang bekerja di sektor
pertanian, maka faktor cuaca seperti curah hujan dan kecepatan angin
mempunyai andil cukup besar dalam menentukan angka pengangguran.



Pada dasarnya kegiatan utama penduduk Umur 15 tahun keatas
dapat dibedakan menjadi bekerja, sekolah, mengurus rumahtangga, mencari
pekerjaan/menyiapkan usaha dan kegiatan lainnya. Dari hasil Susenas 2012
diketahui bahwa 69,30 % kegiatan utama penduduk umur 15 tahun keatas
adalah bekerja, 10,53 % sekolah, 12,83 % mengurus rumahtangga, 5,98 %
kegiatan lainnya (olahraga, kursus, kegiatan keagamaan dan lainnya), serta
1,36 % tidak mempunyai kegiatan utama.

BPS Kabupaten Sampang



20 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
Dari jumlah angkatan kerja tersebut 56,04 % terdiri dari laki-laki dan 43,96 %
perempuan. Bila diperhatikan terlihat bahwa TPAK penduduk laki-laki lebih
besar bila dibandingkan TPAK penduduk perempuan. Hal ini disebabkan
penduduk laki-laki umumnya adalah pekerja pencari nafkah yang utama
dalam suatu keluarga. Sebaliknya penduduk perempuan umumnya memiliki
tanggung jawab dalam mengurus rumah tangga.


5.3. Lapangan Pekerjaan
Berdasarkan hasil Susenas 2012, penyebaran penduduk yang bekerja
menurut lapangan usaha di Kabupaten Sampang, terutama pada sektor
pertanian yang persentasenya mencapai 64,43 persen, kemudian sektor
perdagangan, rumah makan dan akomodasi yaitu 14,10 persen, kemudian
sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan 8.28 persen, kemudian
sektor industri pengolahan yaitu 10,39 persen dan sektor angkutan,
pergudangan dan komunikasi sebesar 2,89 persen. Sektor pertanian
merupakan lapangan usaha utama bagi sebagian besar penduduk di
Kabupaten Sampang, mengingat pada sektor ini tidak menuntut kualifikasi
pendidikan formal tertentu.
Sektor pertanian adalah sektor yang mampu menampung jumlah
pekerja yang tak terbatas walaupun tanah pertanian tidak bertambah
(survival strategy). Selain itu di sektor ini, proses pelibatan anggota rumah
tangga dalam kegiatan bekerja sangat memungkinkan. Namun kondisi ini
menyebabkan rendahnya produktifitas sektor pertanian yang berakibat pada
meningkatnya underemployment.


5.4. Status Pekerjaan
Status pekerjaan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu; berusaha, buruh,
dan pekerja tak dibayar (pekerja keluarga). Umumnya pada sektor pertanian
seringkali keberadaan pekerja keluarga memiliki kontribusi dalam rutinitas
kegiatan di sektor ini.

BPS Kabupaten Sampang



21 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
Penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja status kedudukan dalam
pekerjaannya bisa diklasifikasikan pada berusaha, buruh/karyawan serta
pekerja tidak dibayar/keluarga. Penduduk yang statusnya berusaha sebesar
36,46 %, statusnya buruh/karyawan sebesar 18,43 % dan pekerja tidak
dibayar sebesar 45,11 %. Tingginya persentase pekerja tidak dibayar atau
pekerja keluarga semestinya menjadi perhatian tersendiri, terutama karena
umumnya mereka yang masuk dalam kriteria ini sebagian besar adalah
wanita serta anak-anak. Selain itu sektor pertanian yang umumnya menjadi
lapangan usaha utama penduduk di Kabupaten Sampang, akan banyak
menuntut aktifitas fisik dan waktu yang lebih besar. Hal ini akan
mengakibatkan terjadinya kerawanan, berupa eksploitasi serta reduksi atas
hak-hak yang mereka miliki, pada anak misalnya; bermain dan belajar.

BPS Kabupaten Sampang



22 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
BAB 6
PERUMAHAN


6.1. Konsep dan Definisi dalam Bidang Perumahan
a. Atap layak yaitu bila rumah tempat tinggal memiliki atap yang sebagian
besar adalah beton, genteng, atau asbes/seng.
b. Dinding layak yaitu bila rumah tempat tinggal memiliki tembok yang
sebagian besar adalah tembok serta kayu.
c. Lantai layak yaitu bila rumah tempat tinggal memiliki lantai yang
sebagian besar dari luasnya bukan tanah.
d. Sumber air minum bersih meliputi ledeng, pompa, sumur terlindung,
dan mata air.

6.2. Kualitas Bangunan Tempat Tinggal
Pertambahan penduduk akan membawa konsekuensi pada terjadinya
pertambahan perumahan, sementara itu ketersediaan lahan untuk
pemukiman semakin terbatas serta mahal. Tidak berimbangnya antara sisi
penawaran dan permintaan pada pemenuhan kebutuhan perumahan ini,
menjadi kendala bagi sebagian besar masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan tempat tinggal yang layak.


































BPS Kabupaten Sampang



23 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang





Selain sebagai tempat tinggal, secara fisik, kondisi dan kualitas rumah
yang ditempati dapat menunjukkan keadaan sosial ekonomi rumah tangga.
Kualitas bangunan tempat tinggal sangat berpengaruh pada keamanan,
kenyamanan dan kesehatan anggota rumah tangga.
Berdasarkan hasil Susenas, kondisi perumahan di Kabupaten
Sampang adalah rumah tangga yang bertempat tinggal di rumah yang
beratap layak sebesar 100 persen, berdinding layak sebesar 82,19 persen
dan lantai terluasnya bukan tanah sebesar 55,66 persen.

6.3. Fasilitas Tempat Tinggal
Keberadaan fasilitas perumahan seperti sumber penerangan, sumber
air minum, jenis lantai, dan tempat buang air besar yang digunakan oleh
rumah tangga mempengaruhi kualitas kesehatan penduduk.




BPS Kabupaten Sampang



24 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang



Listrik merupakan sumber penerangan yang mempunyai nilai paling
tinggi dibandingkan sumber penerangan lainnya, sehingga upaya
keterjangkauan listrik di masyarakat menjadi perhatian utama bagi
pemerintah. Rumah tangga yang memiliki sumber penerangan listrik di
Kabupaten Sampang persentasenya sebesar 99,00 persen. Ini berarti masih
1,00 persen lagi upaya penjangkauan listrik pada rumah tangga yang belum
menikmatinya. Hal ini bisa disebabkan oleh tidak terjangkaunya fasilitas
listrik atau karena ketidakmampuan rumah tangga dalam upaya
pemenuhannya.
Jenis sumber air minum juga merupakan salah satu indikator
kesejahteraan penduduk, baik dilihat dari segi kesehatan maupun dari segi
ekonomi. Dalam hal ini peningkatan penggunaan sumber air minum bersih
(air Kemasan, air isi ulang,ledeng, pompa/sumur terlindung dan mata air
terlindung) dapat dijadikan petunjuk adanya perbaikan kesejahteraan
penduduk, karena dari sumber air tersebut relatif higienis dari sisi kesehatan.
Banyaknya rumah tangga yang menggunakan sumber air bersih untuk
minum sebesar 87,43 persen, sedangkan sisanya sebesar 12,57

BPS Kabupaten Sampang



25 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
menggunakan fasilitas air minum kurang bersih (mata air tak terlindung,
sumur terlindung, air sungai, air hujan dan lainnya).



Khusus untuk Kabupaten Sampang dengan kondisi curah hujan
rendah, penggunaan sumber air bersih untuk minum tergantung dari curah
hujan. Semakin sedikit curah hujan semakin besar rumah tangga yang
membeli dan menggunakan air bersih, demikian sebaliknya
Selain itu jarak sumber air minum yang berasal dari pompa, sumur
atau mata air, ke tempat penampungan kotoran juga mempengaruhi kualitas
air minum. Seharusnya jarak tersebut lebih dari 10 meter. Berdasarkan hasil
Susenas menunjukkan banyaknya rumah tangga yang jarak sumber air
minum ke tempat pembuangan kotoran lebih dari 10 meter sebesar 69,61
persen.




BPS Kabupaten Sampang



26 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
BAB 7
PENUTUP


Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, beberapa hal yang
dapat dirangkum adalah sebagai berikut:
1. Penduduk di Kabupaten Sampang di tahun 2012 berjumlah 891.982
jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 723 jiwa setiap
km
2
. Sedangkan hasil registrasi penduduk oleh Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Kabupaten Sampang, Penduduk Kabupaten
Sampang adalah 883.282 jiwa yang terdiri dari 434.784 laki-laki dan
448.498 perempuan.
2. Ditinjau dari struktur umurnya penduduk di Kabupaten Sampang
didominasi oleh penduduk usia produktif (62,82 persen), sementara
komposisi penduduk usia 0-14 tahun sebesar 31,81 persen dan
penduduk usia 65 tahun ke atas sebesar 5,37 persen.
3. Angka TFR di Kabupaten Sampang sebesar 2,16. Ini berarti seorang
ibu melahirkan anak lahir hidup 2 (dua) orang anak sampai akhir masa
reproduksinya.
4. Angka melek huruf penduduk usia 10 tahun ke atas sebesar 89,12.
5. Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7-12 tahun di Kabupaten
Sampang pada tahun 2012 sebesar 98,62. APS penduduk usia 13-15
tahun sebesar 86,13 persen, sedangkan APS usia 16-18 tahun
sebesar 47,87.
6. Penolong kelahiran pertama di Kabupaten Sampang sudah banyak
dilakukan oleh tenaga medis yaitu dokter, bidan maupun tenaga
paramedis lainnya. Tercatat 65,18 persen kelahiran pertama dilakukan
oleh tenaga medis, dan 34,82 lainnya ditolong oleh non medis (dukun,
famili).
7. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kabupaten Sampang pada tahun
2012 sebesar 76,69 persen. Sementara tingkat pengangguran terbuka
sebesar 1,78.

BPS Kabupaten Sampang



27 Ringkasan Eksekutif Hasil Susenas 2012 Kabupaten Sampang
8. Sektor pertanian masih menjadi pilihan masyarakat Kabupaten
Sampang untuk bekerja. Sebagian besar wanita yang bekerja di sektor
pertanian mempunyai status sebagai pekerja tak dibayar dengan jam
kerja dibawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam selama seminggu).
9. Secara umum kualitas bangunan tempat tinggal penduduk Kabupaten
Sampang masih dikategorikan layak, hanya saja pemenuhan fasilitas
tempat tinggal (seperti; listrik, air, tempat buang air besar) masih perlu
menjadi perhatian mengingat fasilitas ini mempengaruhi kualitas hidup.