Anda di halaman 1dari 15

1

PENUGASAN BLOK DARAH


PENYAKIT THALASSEMIA MINOR




Oleh :
Nama : Ovilia Mutiara Santika
NIM : 09711113
Kelompok : 19
Tutor : dr. Siwi


Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta
2010

2



























3

BAB I
PENDAHULUAN

Penugasan ini membahas mengenai suatu penyakit keturunan yang
disebakan karena gagalnya pembentukan salah satu dari empat rantai asam amino
yang membentuk hemoglobin.
Penyakit ini cukup berbahaya jika tidak dicegah sejak awal. Sosialisasinya
masih sangat terbatas, hingga saat ini belum banyak yang tahu tentang thalassemia,
sehingga mekanisme pencegahan belum berjalan. Akibat minimnya sosialisasi
informasi mengenai talasemia dan faktor risikonya, jumlah kasus talasemia di
Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun.
Talasemia merupakan penyakit kelainan darah yang banyak diderita orang Asia,
termasuk Indonesia. Namun, hanya sedikit masyarakat yang memiliki pengetahuan
tentang penyakit ini.
Banyak ibu terlambat mengetahui anaknya menderita talasemia meskipun
gejala sudah terlihat sebelumnya seperti pucat, kuning, pertumbuhan tidak normal,
sering sakit,dan perut buncit. Artinya, orangtua masih belum sadar bahwa anaknya
kemungkinan terkena talasemia.
Maka dari itu, diharapkan dari penulisan ini bermanfaat bagi para
pembacanya agar setidaknya mengetahui apa itu thalassemia dan apa yang harus
dilakukan untuk mencegah terjadinya thalassemia pada keluarga kita sendiri
khususnya.








4


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Thalassemia adalah sekelompok gejala atau penyakit keturunan yang
diakibatkan karena kegagalan pembentukan salah satu dari empat rantai asam amino
yang membentuk hemoglobin, sebagai bahan utama darah (Tamam, 2009).
Thalassemia merupakan kelompok kelainan genetik heterogen, yang timbul
akibat berkurangnya kecepatan sintesis rantai atau (Hoffbrand, 2005)
Thalassemia adalah penyakit genetik yang diturunkan secara autosomal
resesif menurut hukum mendel dari orang tua kepada anak-anaknya. Penyakit
thalassemia meliputi suati keadaan penyakit dari gejala klinis yang paling ringan
(bentuk heterozigot) yang disebut thalassemia minor atau thalassemia trait (carrier =
pembawa sifat). Bentuk heterozigot diturunkan oleh salah satu orang tuanya yang
mengidap penyakit thalassemia (Akbari, 2005).
Berdasarkan jenis rantai globin yang terpengaruh, ada dua jenis thalassemia,
yaitu thalassemia dan thalassemia . Kedua jenis thalassemia ini dibagi lagi
menjadi thalassemia mayor dan minor tergantung derajat keparahan gejala yang
diderita pasien oleh karena tidak adanya rantai globin tersebut (Anonim A, 2009).

B. ETIOLOGI
Thalassemia berasal dari kata Yunani, yaitu talassa yang berarti laut. Yang
dimaksud dengan laut adalahLaut Tengah, oleh karean itu penyakit ini dikenal di
daerah sekitar Laut Tengah. Penyakit ini ditemukan oleh seorang dokter di Detroit
USA yang bernama Thomas B. Cooley pada tahun 1925.
Thalassemia bukan penyakit menular melainkan penyakit yang diturunkan
secara genetik dan resesif. Penyakit ini diturunkan melalui gen yang disebut sebagai
gen globin beta yang terletak pada kromosom 11. Pada manusia kromosom selalu
ditemukan berpasangan. Gen globin beta ini yang mengatur pembentukan salah satu
5

komponen pembentuk hemoglobin. Bila hanya sebelah gen globin beta yang
mengalami kelainan disebut pembawa sifat thalassemia-beta. Seorang pembawa sifat
thalassemia tampak normal/sehat, sebab masih mempunyai 1 belah gen dalam
keadaan normal (dapat berfungsi dengan baik). Seorang pembawa sifat thalassemia
jarang memerlukan pengobatan. Pada proses pembuahan, anak hanya mendapat
sebelah gen globin beta dari ibunya dan sebelah lagi dari ayahnya. Bila kedua orang
tuanya masing-masing pembawa sifat thalassemia maka pada setiap pembuahan akan
terdapat beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama si anak mendapatkan gen
globin beta yang berubah (gen thalassemia) dari bapak dan ibunya maka anak akan
menderita thalassemia. Sedangkan bila anak hanya mendapat sebelah gen
thalassemia dari ibu atau ayah maka anak hanya membawa penyakit ini.
Kemungkinan lain adalah anak mendapatkan gen globin beta normal dari kedua
orang tuanya (Tamam, 2009).
1. Thalassemia- (gangguan pembentukan rantai ) Sindrom thalassemia-
disebabkan oleh delesi pada gen globin pada kromosom 16 (terdapat 2 gen
globin pada tiap kromosom 16) dan nondelesi seperti gangguan mRNA pada
penyambungan gen yang menyebabkan rantai menjadi lebih panjang dari kondisi
normal.
Faktor delesi terhadap empat gen globin dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
a. Delesi pada satu rantai (Silent Carrier/ -Thalassemia Trait 2)
Gangguan pada satu rantai globin sedangkan tiga lokus globin
yang ada masih bisa menjalankan fungsi normal sehingga tidak terlihat
gejala-gejala bila ia terkena thalassemia.
b. Delesi pada dua rantai (-Thalassemia Trait 1)
Pada tingkatan ini terjadi penurunan dari HbA2 dan peningkatan dari
HbH dan terjadi manifestasi klinis ringan seperti anemia kronis yang ringan
dengan eritrosit hipokromik mikrositer dan MCV 60-75 fl.
c. Delesi pada tiga rantai (HbH disease)
Delesi pada tiga rantai ini disebut juga sebagai HbH disease (4)
yang disertai anemia hipokromik mikrositer, basophylic stippling, heinz
bodies, dan retikulositosis. HbH terbentuk dalam jumlah banyak karena tidak
6

terbentuknya rantai sehingga rantai tidak memiliki pasangan dan
kemudian membentuk tetramer dari rantai sendiri (4). Dengan banyak
terbentuk HbH, maka HbH dapat mengalami presipitasi dalam eritrosit
sehingga dengan mudah eritrosit dapat dihancurkan. Penderita dapat tumbuh
sampai dewasa dengan anemia sedang (Hb 8-10 g/dl) dan MCV 60-70 fl.
d. Delesi pada empat rantai (Hidrops fetalis/Thalassemia major)
Delesi pada empat rantai ini dikenal juga sebagai hydrops fetalis.
Biasanya terdapat banyak Hb Barts (4) yang disebabkan juga karena tidak
terbentuknya rantai sehingga rantai membentuk tetramer sendiri menjadi
4. Manifestasi klinis dapat berupa ikterus, hepatosplenomegali, dan janin
yang sangat anemis. Kadar Hb hanya 6 g/dl dan pada elektroforesis Hb
menunjukkan 80-90% Hb Barts, sedikit HbH, dan tidak dijumpai HbA atau
HbF. Biasanya bayi yang mengalami kelainan ini akan mati beberapa jam
setelah kelahirannya.
2. Thalassemia- (gangguan pembentukan rantai )
Thalassemia- disebabkan oleh mutasi pada gen globin pada sisi pendek
kromosom 11.
a. Thalassemia o
Pada thalassemia o, tidak ada mRNA yang mengkode rantai
sehingga tidak dihasilkan rantai yang berfungsi dalam pembentukan HbA.
Bayi baru lahir dengan thalasemia mayor tidak anemis. Gejala awal pucat
mulanya tidak jelas, biasanya menjadi lebih berat dalam tahun pertama
kehidupan dan pada kasus yang berat terjadi dalam beberapa minggu setelah
lahir. Bila penyakit ini tidak segera ditangani dengan baik, tumbuh kembang
anak akan terhambat. Anak tidak nafsu makan, diare, kehilangan lemak
tubuh, dan demam berulang akibat infeksi (Hoffbrand,2005).
b. Thalasemia minor/trait
Gejala yang muncul pada penderita Thalasemia minor bersifat
ringan, biasanya hanya sebagai pembawa sifat. Istilah Thalasemia trait
digunakan untuk orang normal namun dapat mewariskan gen thalassemia
pada anak-anaknya (Hoffbrand, 2005).
7


C. EPIDEMIOLOGI
Saat ini thalassemia merupakan penyakit keturunan yang paling banyak di
dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, diperkirakan jumlah pembawa sifat
thalassemia sekitar 5-6 persen dari jumlah populasi. Jumlah pembawa sifat ini
berbeda-beda dari satu propinsi ke propinsi lain. Yang tertinggi, Palembang; 10
persen. Menyusul kemudian, Ujung Pandang; 7,8 persen, Ambon; 5,8 persen, Jawa;
3-4 persen, Sumatera Utara; 1-1,5 persen (Tamam, 2009).
Laporan terakhir menunjukkan peningkatan kejadian semua subtipe
Thalassemia alpha di Amerika Serikat sekunder dengan imigrasi individu dari daerah
endemik (A, Samer, 2009).
Diperkirakan bahwa sekitar 15% dari kulit hitam Amerika adalah pembawa
diam-Thalassemia . Selain itu, sifat Thalassemia -(kecil) terjadi pada 3% dari kulit
hitam Amerika dan di 1-15% dari orang yang berasal dari Mediterania (A, Samer,
2009).
Alpha Thalassemia umum di seluruh bagian dunia di mana malaria
endemik. Beberapa studi telah menyarankan bahwa kehadiran gen- globin tunggal
ganda dan penghapusan kedua memberi efek perlindungan dari malaria. Tercantum
di bawah ini adalah perkiraan persentase berbagai populasi dengan beberapa bentuk
Thalassemia alpha:
Eropa - 4-12%
Timur Tengah dan Asia Barat - 12-55%
Asia Tenggara 6-75%
Afrika - 11-50%
Amerika Selatan dan Karibia - 7% (A, Samer, 2009).
Bagi sebagian besar orang tua, mempunyai anak yang menderita thalassemia
merupakan beban yang sangat berat, baik moral maupun material. Sebab, selain
harus terus memonitor tumbuh kembang si anak, biaya yang dibutuhkan untuk
transfusi darah juga tergolong mahal, bisa menghabiskan jutaan rupiah tiap bulannya
(Tamam,2009).

8


D. PATOGENESIS
Patogenesis thalassemia secara umum dimulai dengan adanya mutasi yang
menyebabkan HbF tidak dapat berubah menjadi HbA, adanya ineffective
eritropoiesis, dan anemia hemolitik. Tingginya kadar HbF yang memiliki afinitas O2
yang tinggi tidak dapat melepaskan O2 ke dalam jaringan, sehingga jaringan
mengalami hipoksia. Tingginya kadar rantai -globin, menyebabkan rantai tersebut
membentuk suatu himpunan yang tak larut dan mengendap di dalam eritrosit. Hal
tersebut merusak selaput sel, mengurangi kelenturannya, dan menyebabkan sel darah
merah yang peka terhadap fagositosis melalui system fagosit mononuclear. Tidak
hanya eritrosit, tetapi juga sebagian besar eritroblas dalam sumsum dirusak, akibat
terdapatnya inklusi (eritropioesis tak efektif). Eritropoiesis tak efektif dapat
menyebabkan adanya hepatospleinomegali, karena eritrosit pecah dalam waktu yang
sangat singkat dan harus digantikan oleh eritrosit yang baru (dimana waktunya lebih
lama), sehingga tempat pembentukan eritrosit (pada tulang-tulang pipa, hati dan
limfe) harus bekerja lebih keras. Hal tersebut menyebabkan adanya pembengkakan
pada tulang (dapat menimbulkan kerapuhan), hati, dan limfe (Febrian, 2009).
a. Thalasemia-
Pada homozigot thalassemia yaitu hydrop fetalis, rantai sama sekali
tidak diproduksi sehingga terjadi peningkatan Hb Barts dan Hb embrionik.
Meskipun kadar Hb-nya cukup, karena hampir semua merupakan Hb Barts, fetus
tersebut sangat hipoksik. Sebagian besar pasien lahir mati dengan tanda-tanda
hipoksia intrauterin.
Sedangkan pada thalassemia heterozigot yaitu o dan + menghasilkan
ketidakseimbangan jumlah rantai tetapi pasiennya mampu bertahan dengan penyakit
HbH. Kelainan ini ditandai dengan adanya anemia hemolitik karena HbH tidak bisa
berfungsi sebagai pembawa oksigen (Febrian, 2009).
b. Thalasemia-
Tidak dihasilkannya rantai karena mutasi kedua alel globin pada
thalassemia menyebabkan kelebihan rantai . Rantai tersebut tidak dapat
membentuk tetramer sehingga kadar HbA menjadi turun, sedangkan produksi HbA2
9

dan HbF tidak terganggu karena tidak membutuhkan rantai dan justru sebaliknya
memproduksi lebih banyak lagi sebagai usaha kompensasi. Kelebihan rantai
tersebut akhirnya mengendap pada prekursor eritrosit. Eritrosit yang mencapai darah
tepi memiliki inclusion bodies/heinz bodies yang menyebabkan pengrusakan di lien
dan oksidasi membran sel, akibat pelepasan heme dari denaturasi hemoglobin dan
penumpukan besi pada eritrosit. Sehingga anemia pada thalassemia disebabkan
oleh berkurangnya produksi dan pemendekan umur eritrosit. Pada hapusan darah,
eritrosit terlihat hipokromik, mikrositik, anisositosis, RBC terfragmentasi,
polikromasia, RBC bernukleus, dan kadang-kadang leukosit imatur (Febrian, 2009).

Jika kedua orang tua
tidak menderita Thalassemia
trait/bawaan, maka tidak
mungkin mereka menurunkan
Thalassemia trait/bawaan atau
Thalassemia mayor kepada
anak-anak meraka. Semua
anak-anak mereka akan
mempunyai darah yang
normal.

Apabila salah seorang dari orang tua
menderita Thalassemia trait/bawaan,
sedangkan yang lainnya tidak maka satu
dibanding dua (50%) kemungkinannya
bahwa setiap anak-anak mereka akan
menderita Thalassemia trait/bawaan,
tetapi tidak seseorang diantara anak-anak
mereka Thalassemia mayor.

10

Apabila kedua orang tua menderita Thalassemia trait/bawaan,
maka anak-anak mereka mungkin akan menderita thalassemia
trait/bawaan atau mungkin juga memiliki darah yang normal, atau
mereka mungkin menderita Thalassemia mayor .

E. GEJALA KLINIS
Semua thalassemia memiliki gejala yang mirip, tetapi beratnya bervariasi,
tergantung jenis rantai asam amino yang hilang dan jumlah kehilangannya
(mayor atau minor). Sebagian besar penderita mengalami anemia yang ringan,
khususnya anemia hemolitik ( Tamam, 2009 ).
Thalassemia Minor Penderita yang menderita thalasemia minor, hanya
sebagai carrier dan hanya menunjukkan gejala-gejala yang ringan seperti anemia
ringan (Febrian, 2009).

F. DIAGNOSIS
Diagnosis thalassemia dibuat berdasarkan anamnesis mengenai gejala klinis,
riwayat keluarga/pola herediter, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan adalah untuk analisa hemoglobin yaitu
hematologi rutin, apusan darah tepi, dan elektroforesis (Tamam, 2009).
Thalassemia TRAIT (minor) dapat berupa bentuk homozigot
+
atau
heterozigot
0
. Sindrom ini menunjukkan tampilan klinis normal, anemia ringan
11

dengan peningkatan eritosit yang mikrositik hipokrom. Pada saat dilahirkan, Hb
Barts dalam rentangan 2-10%. Biasanya pada penderita dewasa tidak ditemukan
HbH (
4
) (Sudoyo, et.al, 2009).
Pada thalassemia minor, HbH disease dan thalassemia pembaw sifat
tersembunyi tes pewarnaan brilliant cresyl blue untuk HbH inclusions dapat
digunakan untuk merangsang prespitasi HbH yang secara intrinsik tidak stabil. Bila
tidak ditemukan HbH inclusions tidak berarti menghilangkan kemungkinan diagnosis
thalassemia minor atau pembawa sifat tersembunyi (Sudoyo, et.al, 2009).
Peningkatan HbA
2
dengan elektroforesis hemoglobin dapat dilakukan pada
uji tapis thalassemia minor dengan menggunakan mikrohematografi (Sudoyo, et.al,
2009).
Trait thalassemia terjadi delesi 2 gen alfa, dijumpai anemia ringan dengan
mikrositosis, MCV 60-75 fl, HbH meningkat, tetapi tidak dapat dideteksi dengan
elektroforesis hemoglobin dan diagnosis lebih banyak dilakukan dengan
menyingkirkan penyebab lain (Bakta, 2007).

G. PENGOBATAN
Sampai saat ini belum ada obat yang menyembuhkan penyakit thalassemia
secara total. Pada dasarnya pengobatan yang diberikan pada penderita thalassemia
bersifat simptomatik dan suportif. Secara garis besar, pengobatan thalassemia terdiri
dari pengobatan terhadap penyakitnya dan pengobatan terhadap komplikasi.
Pengobatan terhadap komplikasi meliputi mencegah kelebihan dan penimbunan besi,
pemberian kalsium, asam folat, imunisasi dan pengobatan terhadap komplikasi
lainnya. Pada penyakit HbH diberikan asam folat 5mg/hari dan menghindari
pemakaian obat oksidan.






12

H. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
Karena penyakit ini belum ada obatnya, maka pencegahan dini menjadi hal
yang lebih penting dibanding pengobatan. Program pencegahan thalassemia terdiri
dari beberapa strategi, yakni (1) penapisan (skrining) pembawa sifat thalassemia, (2)
konsultasi genetik (genetic counseling), dan (3) diagnosis prenatal.
Skrining pembawa sifat dapat dilakukan secara prospektif dan retrospektif.
Secara prospektif berarti mencari secara aktif pembawa sifat thalassemia langsung
dari populasi diberbagai wilayah, sedangkan secara retrospektif ialah menemukan
pembawa sifat melalui penelusuran keluarga penderita thalassemia (family study).
Kepada pembawa sifat ini diberikan informasi dan nasehat-nasehat tentang
keadaannya dan masa depannya.
Konsultasi genetik meliputi skrining pasangan yang akan kawin atau sudah
kawin tetapi belum hamil. Pada pasangan yang berisiko tinggi diberikan informasi
dan nasehat tentang keadaannya dan kemungkinan bila mempunyai anak.
Diagnosis prenatal meliputi pendekatan retrospektif dan prospektif. Pendekatan
retrospektif, berarti melakukan diagnosis prenatal pada pasangan yang telah
mempunyai anak thalassemia, dan sekarang yang sedang hamil. Pendekatan
prospektif ditujukan kepada pasangan yang berisiko tinggi yaitu mereka keduanya
pembawa sifat dan sementara baru hamil.
Diagnosis prenatal ini dilakukan pada masa kehamilan 8-10 minggu, dengan
mengambil sampel darah dari villi khorialis (jaringan ari-ari) untuk keperluan
analisis DNA. Dalam rangka pencegahan penyakit thalassemia, ada beberapa
masalah pokok yang harus disampaikan kepada masyarakat, ialah : (1) bahwa
pembawa sifat thalassemia itu tidak merupakan masalah baginya; (2) bentuk
thalassemia mayor mempunyai dampak mediko-sosial yang besar, penanganannya
sangat mahal dan sering diakhiri kematian; (3) kelahiran bayi thalassemia dapat
dihindarkan.
Karena penyakit ini menurun, maka kemungkinan penderitanya akan terus
bertambah dari tahun ke tahunnya. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum
menikah sangat penting dilakukan untuk mencegah bertambahnya penderita
thalassemia ini. Sebaiknya semua orang Indonesia dalam masa usia subur diperiksa
13

kemungkinan membawa sifat thalassemia. Pemeriksaaan akan sangat dianjurkan bila
terdapat riwayat : (1) terdapat saudara sedarah yang menderita thalassemia, (2) kadar
hemoglobin relatif rendah antara 10-12 g/dl walaupun sudah minum obat penambah
darah seperti zat besi, (3) ukuran sel darah merah lebih kecil dari normal walaupun
keadaan Hb normal.

Jadi cegahlah thalassemia dengan pemeriksaan kesehatan pranikah.



Hoffbrand V et al.,2005. Kapita Selekta Hematologi edisi 4. Jakarta : EGC
Lanzkowsky, P. 2005. Manual of Pediatric Hematology and Oncology, 4
th
ed.
Elsevier Academic Press: London.
Provan, D, et.al. 2004. Oxford Handbook of Hematology, 2
nd
ed. Oxford University
Press: United States.
Sudoyo, A., 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi 4. Pustaka IPD FKUI
















14






BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan tanda, gejala klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium pasien,
pasien kemungkinan menderita thalassemia walaupun penegakan diagnosis secara
pasti masih perlu dilakukan dikarenakan data hasil pemeriksaan penunjang yang
mengarah ke thalasemia kurang lengkap. Diagnosis banding pasien, yaitu : anemia
hemolitik akibat infeksi, dan hemoglobinopati lainnya. Pasien juga mengalami
infeksi yang kemungkinan disebabkan oleh penurunan imunitas tubuh pada
hepatosplenomegali pada pasien.Untuk melakukan diagnosis secara pasti thalassemia
diperlukan pemeriksaan penunjang, seperti: elektroforesis Hb., gambaran darh tepi,
analisis DNA, dll.

B. Saran
1. Sebaiknya orang tua pasien senantiasa memperhatikan anaknya tersebut selain
mengurus kehamilan anak keduanya.
2. Perlu dilakukannya penelusuran pedigree/garis keturunan untuk mengetahui
adanya sifat pembawa thalassemia pada keluarga pasien.
3. Sebaiknya calon pasutri sebelum nikah melakukan konsultasi untuk menghindari
adanya penyakit keturunan.herediter, seperti pada thalassemia.
4. Perlu dilakukannya upaya promotif dan preventif terhadap thalassemia kepada
masyarakat luas yang dilakukan oleh pelayan kesehatan.



15






DAFTAR PUSTAKA

Samer, 2009. Thalassemia Alpha.
http://emedicine.medscape.com/article/206397-overview. 15 Mei 2010
Akbari, Ratna, 2005. Thalassemia : Permasalahan dan Penanganannya.
http://library.usu.ac.id/download/e-book/Pidato%20Ratna%20Akbari.pdf. 18
Mei 2010.
Anonim A, 2009. Thalassemia.
http://www.scribd.com/doc19291871/Thalassemia#about. 15 Mei 2010.
Bakta, I, M., 2007. Hematologi Klinik Ringkas, EGC, Jakarta.
Febrian, 2009. Thalassemia.
http://kedokteran febrian.blogspot.com/2009/02/thalassemia.html. 15 Mei
2010.
Hoffbrand, A.V., Pettit, J.E., Moss, P.A.H., 2005, Kapita Selekta Hematologi, edisi
4, EGC, Jakarta.
Sudoyo, A, et.al, 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Interna Publishing, Jakarta.
Tamam, Moedrik, 2009. Bagaimana mencegah penyakit Thalassemia pada
keturunan kita?.http://www.rotary-cegah-
thalassaemia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=15:bagai
mana-mencegah-penyakit-thalassemia-pada-keturunan-
kita&catid=4:artikel&Itemid=7 . 18 Mei 2010.