Anda di halaman 1dari 12

Beton Ringan (Lightweight Concrete)

BAB I
PENDAHULUAN


I.1 Latar Belakang

Dengan semakin pesatnya pertumbuhan pengetahuan dan teknologi di bidang konstruksi yang
mendorong kita lebih memperhatikan standar mutu serta produktivitas kerja untuk dapat
berperan serta dalam meningkatkan sebuah pembangunan konstruksi dengan lebih berkualitas.
Diperlukan suatu bahan bangunan yang memiliki keunggulan yang lebih baik dibandingkan
bahan bangunan yang sudah ada selama ini. Selain itu bahan tersebut harus memiliki beberapa
keuntungan seperti bentuk yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan, spesifikasi teknis dan
daya tahan yang kuat, kecepatan pelaksanaan konstruksi serta ramah lingkungan. Jenis bahan
bangunan pada bangunan konstruksi tersebut sangat bervariasi misalnya beton, pasir, kerikil.
Dewasa ini kata Beton sudah tidak asing lagi di kalangan para Engineer. Karena sudah hampir
sebagian besar gedung-gedung dan sarana infrastruktur di daerah kota menggunakan beton
sebagai bahan dasar dari bangunan mereka. Penggunaan beton pada gedung dilakukan dalam
rangka menghemat pengeluaran dalam suatu proses konstruksi. Selain harganya yang terjangkau
beton juga memiliki kuat tekan yang tinggi.
Rasa tertarik pada penggunaan beton ini, akhirnya menimbulkan banyaknya jenis dari beton itu
sendiri. Salah satu yang kita kenal adalah Beton Ringan (lightweight concrete) atau yang lebih
dikenal dengan sebutan Hebel. Dalam paper ini penulis akan menjelaskan mengenai Beton
Ringan.

I.2 Rumusan Masalah

a. Apa definisi dari Beton Ringan ?
b. Bagaimana Sejarah dari Beton Ringan ?
c. Apa saja Kelebihan dan Kekurangan dari Beton Ringan ?
d. Bagaimana Cara Pembuatan Beton Ringan ?
e. Apa saja Bentuk Aplikasi Beton Ringan yang ada pada Proyek ?

I.3 Tujuan

a. Mengetahui definisi dari Beton Ringan.
b. Mengetahui sejarah dari Beton Ringan.
c. Mengetahui Kelebihan dan Kekurangan dari Beton Ringan.
d. Mengetahui Cara Pembuatan Beton Ringan.
e. Mengetahui Bentuk Aplikasi Beton Ringan yang ada pada Proyek.


I.4 Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode browsing pada internet.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 . Definisi Beton Ringan

Beton ringan adalah beton yang memiliki berat jenis (density) lebih ringan daripada beton pada
umumnya. Beton ringan bisa disebut sebagai beton ringan aerasi (Aerated Lightweight
Concrete/ALC) atau sering disebut juga (Autoclaved Aerated Concrete/ AAC) yang mempunyai
bahan baku utama terdiri dari pasir silika, kapur, semen, air, ditambah dengan suatu bahan
pengembang yang kemudian dirawat dengan tekanan uap air. Tidak seperti beton biasa, berat
beton ringan dapat diatur sesuai kebutuhan. Pada umumnya berat beton ringan berkisar antara
600 1600 kg/m3. Karena itu keunggulan beton ringan utamanya ada pada berat, sehingga
apabila digunakan pada proyek bangunan tinggi (high rise building) akan dapat secara signifikan
mengurangi berat sendiri bangunan, yang selanjutnya berdampak kepada perhitungan pondasi.


II.2 Sejarah Beton Ringan

Teknologi material bahan bangunan berkembang terus, salah satunya beton ringan aerasi
(Aerated Lightweight Concrete/ALC) atau sering disebut juga (Autoclaved Aerated Concrete/
AAC). Sebutan lainnya Autoclaved Concrete, Cellular Concrete (semen dengan cairan kimia
penghasil gelembung udara ), Porous Concrete, dan di Inggris disebut Aircrete and Thermalite.
Beton ringan AAC ini pertama kali dikembangkan di Swedia pada tahun 1923 sebagai alternatif
material bangunan untuk mengurangi penggundulan hutan. Beton ringan AAC ini kemudian
dikembangkan lagi oleh Joseph Hebel di Jerman Barat di tahun 1943.
Dia memutuskan untuk mengembangkan sistem bangunan yang lebih baik dengan biaya yang
lebih ekonomis. Inovasi-inovasi brilian yang dilakukannya, seperti proses pemotongan dengan
menggunakan kawat, membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan produk ini.
Hasilnya, beton ringan aerasi ini dianggap sempurna, termasuk material bangunan yang ramah
lingkungan, karena dibuat dari sumber daya alam yang berlimpah. Sifatnya kuat, tahan lama,
mudah dibentuk, efisien, dan berdaya guna tinggi.
Kesuksesan Hebel di Jerman segera dilihat negara-negara lain. Pada tahun 1967 bekerja sama
dengan Asahi Chemicals dibangun pabrik Hebel pertama di Jepang. Sampai saat ini Hebel telah
berada di 29 negara dan merupakan produsen beton aerasi terbesar di dunia. Di Indonesia sendiri
beton ringan mulai dikenal sejak tahun 1995, saat didirikannya PT Hebel Indonesia di Karawang
Timur, Jawa Barat.


II.3 Kelebihan dan Kekurangan Beton Ringan

Ada beberapa Kelebihan dari Beton ringan atau Autoclaved Aerated Concrete (AAC), yaitu :

Balok AAC mudah dibentuk. Sehingga dapat dengan cepat dan akurat dipotong atau dibentuk
untuk memenuhi tuntutan dekorasi gedung. Alat yang digunakan pun sederhana, cukup
menggunakan alat pertukangan kayu.
Karena ukurannya yang akurat tetapi mudah dibentuk, sehingga dapat meminimalkan sisa-sisa
bahan bangunan yang tak terpakai.
AAC dapat mempermudah proses konstruksi. Untuk membangun sebuah gedung dapat
diminimalisir produk yang akan digunakan. Misalnya tidak perlu batu atau kerikil untuk mengisi
lantai beton.
Bobotnya yang ringan mengurangi biaya transportasi. Apalagi pabrik AAC dibangun sedekat
mungkin dengan konsumennya.
Karena ringan, tukang bangunan tidak cepat lelah. Sehingga cepat dalam pengerjaannya.
Semennya khusus cukup 3 mm saja.
Mengurangi biaya struktur besi sloff atau penguat.
Mengurangi biaya penguat atau pondasi
Waktu pembangunan lebih pendek.
Tukang yang mengerjakan lebih sedikit. Sehingga secara keseluruhan bisa lebih murah dan
efisien
Tahan panas dan api, karena berat jenisnya rendah.
Kedap suara
Tahan lama, kurang lebih sama tahan lamanya dengan beton konvensional
Kuat tetapi ringan, karena tidak sekuat beton. Perlu perlakuan khusus. dibebani AC
menggunakan fisher FTP, Wastafel fisher plug FX6/8, panel dinding fisher sistem injeksi.
Anti jamur
Tahan gempa
Anti serangga
Biaya perawatan yang sedikit, bangunan tak terlalu banyak mengalami perubahan atau renovasi
hingga 20 tahun.
Nyaman
Aman, karena tidak mengalami rapuh, bengkok, berkarat, korosi.

Selain kelebihan, Beton AAC juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu :
Karena ukurannya yang besar, untuk ukuran yang tanggung, akan memakan waste yang cukup
besar. Diperlukan keahlian tambahan untuk tukang yang akan memasangnya, karena dampaknya
berakibat pada waste dan mutu pemasangan.
Perekat yang digunakan harus disesuaikan dengan ketentuan produsennya, umumnya adalah
semen instan.
nilai kuat tekannya (compressive strength) terbatas, sehingga sangat tidak dianjurkan
penggunaan untuk perkuatan (struktural).
Harganya cenderung lebih mahal dari bata konvesional. Di pasaran, beton ringan dalam bentuk
bata dijual dalam volume m3, sehingga dengan ukuran 60cmx20cmx10cm / m3 bata ringan
terdiri dari 83 buah. Jika dikonversikan dalam m2 maka 1 m2 terdiri dari 8.5 buah. Harga per
bata kurang lebih Rp. 8000,-, sehingga harga per m2 nya Rp.68.000,-. Belum termasuk semen
instan dan ongkos pasangnya.

II.4 Pembuatan Beton Ringan

Pembuatan beton ringan ini pada prinsipnya membuat rongga udara di dalam beton. Ada tiga
macam cara membuat beton aerasi, yaitu :
Yang paling sederhana yaitu dengan memberikan agregat/campuran isian beton ringan.
Agregat itu bisa berupa batu apung, stereofoam, batu alwa, atau abu terbang yang dijadikan batu.
Menghilangkan agregat halus (agregat halusnya disaring, contohnya debu/abu terbangnya
dibersihkan).
Meniupkan atau mengisi udara di dalam beton. Cara ketiga ini terbagi lagi menjadi secara
mekanis dan secara kimiawi.

Proses pembuatan beton ringan atau Autoclaved Aerated Concrete secara kimiawi kini lebih
sering digunakan. Sebelum beton diproses secara aerasi dan dikeringkan secara autoclave, dibuat
dulu adonan beton ringan ini. Adonannya terdiri dari pasir kuarsa, Semen, Kapur, Gypsum,
Aluminium pasta (Zat Pengembang). Untuk memproduksi 1 m3 beton ringan hanya dibutuhkan
bahan sebanyak 0,5 0,6 m3 saja, karena nantinya campuran ini akan mengembang. Dalam
komposisinya, secara umum pasir kuarsa memiliki persentase yang cukup tinggi yaitu berkisar
60%, kemudian perekat yang terdiri dari semen dan kapur sebanyak 30%, dan sisanya sebanyak
10% yaitu campuran gypsum dan aluminium pasta.
Semen yang digunakan merupakan semen tipe I. Semen tipe I merupakan yang biasanya
digunakan untuk segala macam jenis konstruksi. Untuk proses produksi, dalam 1 hari dapat
dihasilkan beton ringan sebanyak 300 400 m3. Pembuatan beton ringan ini sepenuhnya
dikerjakaan dengan mesin. Mesin yang digunakan seperti mesin penggiling, mesin mixxing,
mesin cutting, autoclaved chamber. Untuk proses awal semua bahan baku ditempatkan didalam
tangki masing masing untuk mempermudah proses pencampuran. Khusus untuk pasir kuarsa
harus dimasukkan kedalam mesin penggiling terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam
tangki, untuk menghaluskan butiran butiran pasir. Kemudian melalui ruang control, diatur
kadar campuran yang akan dibuat. Kadar campuran dapat berubah ubah tergantung dari
keadaan bahan baku yang ada. Kemudian campuran beton ringan tersebut dituangkan kedalam
cetakan yang memiliki ukuran 4,20 x 1,20 x 0,60 m. Adonan tersebut diisikan sebanyak
bagian saja. Kemudian didiamkan sekitar 3 4 jam, sehingga adonan dapat mengembang.
Dalam proses pengembangan ini, terjadi reaksi kimia. Saat pencampuran pasir kuarsa, semen,
kapur, sedikit gypsum, air, dan dicampur alumunium pasta ini terjadi reaksi kimia. Bubuk
alumunium bereaksi dengan kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir kwarsa dan air sehingga
membentuk hidrogen. Gas hidrogen ini membentuk gelembung-gelembung udara di dalam
campuran beton tadi. Gelembung-gelembung udara ini menjadikan volumenya menjadi dua kali
lebih besar dari volume semula. Di akhir proses pengembangan atau pembusaan, hidrogen akan
terlepas ke atmosfir dan langsung digantikan oleh udara. Rongga-rongga udara yang terbentuk
ini yang membuat beton ini menjadi ringan.
Meskipun hidrogennya hilang, tekstur beton tetap padat tetapi lembut. Sehingga mudah dibentuk
balok, atau palang sesuai kebutuhan. Setelah mengembang, adonan dipotong untuk memperoleh
ukuran yang persisi, karena pada saat pengembangan ukurannya tidak dapat dikontrol sehingga
dipotong setelah proses pengembangan selesai.
Setelah melalui proses pemotongan, beton ringan dimasukkan kedalam autoclave chamber
selama 12 jam. Didalam autoclaved ini pasir kwarsa bereaksi dengan kalsium hidroksida
menjadi kalsium hidrat silika. Dalam proses ini beton ringan diberi tekanan sebesar 11 bar atau
sebesar 264 psi ( = 1,82 Mpa) dengan suhu setinggi 374 F. Sehingga terbentuk kalsium silikat
dan beton ringan berubah warna menjadi putih. Pada saat didalam autoclaved ini, semua reaksi
kimia dituntaskan dan dibersihkan pada suhu tinggi, sehingga nantinya pada saat digunakan tidak
mengandung reaksi kimia yang berbahaya. Kenapa tidak dijemur saja? Karena kalau adonan ini
dijemur di bawah terik matahari hasilnya kurang maksimal, karena tidak bisa stabil dan merata
hasil kekeringannya.
Setelah keluar dari autoclave chamber, beton ringan aerasi ini sudah siap untuk dipasarkan dan
digunakan sebagai konstruksi bangunan.


II.5 Aplikasi Beton Ringan

Dengan berbagai kelebihan dari beton ringan yang telah disebutkan di atas, saat ini beton ringan
banyak diaplikasi dalam pelbagai proyek dalam bentuk :

Blok (bata)
Contohnya Bata Celcon, yang dapat digunakan pada dinding dan atap.




Panel
Contohnya Panel beton ringan yang digunakan sebagai pengganti tembok.


Bentuk Khusus
Contohnya bentuk-bentuk dekorasi, sebagai ornamen bangunan.


Ready Mix
Contohnya pada ready mix sebagai material pengisi.

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Beton ringan lebih mudah diperoleh karena jumlah produksi yang cukup banyak dalam sehari.
Beton ringan lebih ramah lingkungan dan ekonomis, karena bahan bahan yang digunakan
merupakan bahan yang tidak bermanfaat untuk lingkungan dan jumlahnya sangat banyak.
Proses pembuatan beton ringan atau Autoclaved Aerated Concrete secara kimiawi lebih sering
digunakan.
Secara totalitas pengunaan beton ringan lebih mudah dan efektif dibandingkan beton pada
umumnya (dalam hal tertentu).

III.2 Saran

Tidak menggunakan beton ringan sebagai perkuatan (struktural).
Dalam pemasangan beton ringan, sebaiknya menggunakan tukang yang memiliki keahlian
tambahan.
Gunakan Autoclave Chamber dalam proses pengeringan.
DAFTAR PUSTAKA

http://peneliti.budiluhur.ac.id/wp-content/uploads/2007/05/ramos-sna2007.pdf
http://www.scribd.com/
http://www.dostoc.com/
http://www.eramuslim.com/konsultasi/arsitektur/penggunaan-bata-celcon.htm
http://www.ilustri.org/
http://indograha.co.id/
http://www.pu.go.id/


BETON RINGAN DAN BETON NON PASIR

BETON RINGAN
Beton normal merupakan bahan yang relatif cukup berat, dengan berat jenis berkisar 2,4 atau
berat 2400 kg/m3 . Untuk mengurangi beban mati suatu struktur beton atau mengurangi sifat
penghantaran panas maka telah banyak dipakai beton ringan. Beton dengan berat kurang dari
1800 kg/m3 biasa disebut dengan beton ringan. Pada dasarnya beton ringan diperoleh dengan
cara penambahan pori-pori udara ke dalam campuran betonnya. Oleh karena itu pembuatan
beton ringan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut :
Dengan membuat gelembung gelembung gas/udara dalam adukan semen. Dengan
demikian akan terjadi banyak pori-pori udara di dalam betonnya. Bahan tambah khusus
(pembentuk udara dalam beton) yaitu air entrance ditambahkan ke dalam semen akan
timbul gelembung-gelembung udara.
Dengan menggunakan aggrerat ringan, misalnya tanah liat bakar, dan batu apung.
Dengan demikian beton yang terbentuk akan menjadi lebih ringan daripada beton normal.
Pembuatan beton tidak menggunakan aggregat halus. Beton yang dihasilkan
merupakan beton non pasir. Beton jenis ini hanya dibuat dengan menggunakan semen
dan aggregat kasar saja. Dengan penggunaaan ukuran maksimal butir aggregat kasar
sebesar 10 atau 20 mm. Beton non pasir mempunyai pori-pori yang hanya berisi udara
(yang semula terisi oleh butir-butir aggregat halus)
BETON NON PASIR
No fines concrete atau beton non pasir merupakan bentuk sederhana dari jenis beton ringan, yang
dalam pembuatannya tidak menggunakan aggregat halus (pasir). Tidak adanya agregat halus
dalam campuran menghasilkan beton yang berpori sehingga beratnya berkurang ( Ir. Kardiyono
Tjokrodimulyo, 2009). Beton non pasir juga dapat disebut permeconcrete atau pervious concrete
yaitu beton yang dibentuk dari campuran semen, aggregate kasar, air dengan bahan tambah atau
admixture. Pervious concrete dibuat dengan menggunakan sedikit anggregat halus atau bahkan
menghilangkan penggunaan aggregat (Van Midde & Son Concrete, 2009).


Pada umumnya beton non pasir memiliki berat jenis yang rendah jika dibandingkan dengan
beton normal. Berat jenis beton non pasir dipengaruhi oleh berat jenis dan gradasi aggregat
penyusunnya. Berat jenis beton non pasir dengan aggregat lempung bekah (
pembakaran shale) berkisar 1,20 (Sumartono, 1993) . Berat jenis beton non pasir dengan
menggunakan aggregat batu apung berkisar 1,60 (Sulistyowati, 2000).
Sedangkan kuat tekan beton non pasir dipengaruhi oleh :
Faktor air semen
Rasio volume aggregat dengan semen
Jenis aggregatnya
Faktor Air Semen
Faktor air semen pada beton non pasir berkisar 0,36 dan 0,46 sedangkan nilai faktor air semen
optimum sekitar 0,40. Perkiraan faktor air semen tidak dapat terlalu besar karena jika faktor air
semen terlalu besar maka pasta semen akan terlalu encer sehingga pada waktu pemadatan pasta
semen akan mengalir ke bawah dan tidak menyelimuti permukaan aggregat. Sedangkan jika
faktor air semen terlalu rendah maka pasta semennya tidak cukup menyelimuti butir butir
aggregat kasar penyusun beton. Maka pada beton non pasir perlu ditambahkan admixture untuk
menambah workability. Nilai Slump umumnya sangat kecil bahkan mencapai 0, sehingga untuk
pada pelaksanaan dalam jumlah besar beton non pasir menggunakan conveyor dan tidak
disarankan menggunakan concrete pump. Dengan nilai faktor air semen optimum akan
dihasilkan pula kuat tekan maksimum suatu beton non pasir (Ir. Kardiyono Tjokrodimulyo,
1992)
Rasio Volume Aggregat dengan semen
Rasio volume aggregat dengan semen merupakan proporsi penggunaan aggregat berbanding
semen. Jika nilai rasio aggregat semen 10 artinya perbandingan aggregat berbanding dengan
semen adalah 10. Pada nilai faktor air semen yang tetap, pengaruh besar rasio aggregat dengan
semen akan berakibat terhadap pasta yang terbentuk, jika semakin besar rasio aggregat semen
maka semakin sedikit pasta semennya sehingga bahan pengikat antar aggregat akan sedikit pula
sehingga kuat tekan beton non pasir yang terbentuk akan semakin rendah.
Variasi rasio volume agregat berbanding semen yang sering digunakan beton non pasir :
1 Ak : 2 PC Beton non pasir yang dihasilkan sedikit berongga
1 Ak : 4 PC Beton non pasir yang dihasilkan sedikit berongga
1 Ak : 6 PC Beton non pasir yang dihasilkan berongga
1 Ak : 8 PC Beton non pasir yang dihasilkan berongga
1 Ak : 10 PC Beton non pasir yang dihasilkan sangat berongga
1 Ak : 12 PC Beton non pasir yang dihasilkan sangat berongga
Menurut ACI 522R- 06 Persentase rongga adalah 15% s/d 25%
Menurut Kardiyono Tjokrodimulyo, 2009 Persentase rongga 20 % s/d 25 %


Jenis Aggregat
Telah dijelaskan di atas bahwa jenis aggregat yang digunakan mempengaruhi berat jenis dari
beton non pasir yang dibentuk. Berat beton non pasir umumnya berkisar 60% s/d 75% dari beton
biasa (Ir. Kardiyono Tjokrodimulyo, 2009). Berat beton non pasir berkisar 2/3 dari beton biasa
dengan agregat yang sama (The Aberdeen Group pada publikasi, 1961). Ukuran aggregat
maksimum yang lazim dipakai pada beton non pasir adalah 10 mm samapi 20 mm. Pemakaian
aggregat dengan gradasi rapat dan bersudut tajam (batu pecah) akan menghasilkan beton non
pasir yang kuat tekan dan berat jenisnya sedikit lebih tinggi daripada penggunaan aggregat
dengan ukuran seragam dan bulat.


APLIKASI BETON NON PASIR PADA KONSTRUKSI
Konstruksi Bangunan Gedung
Penggunaaan beton non pasir di dunia internasional sudah cukup lama dikenal. Salah satunya
adalah gedung apartement 4 (empat) lantai yang didirikan di London, Inggris pada tahun 1961.
Kontraktor lokal asal inggris mengerjakan proyek tersebut dengan menggunakan imajinatif
tekstur yang berbeda, rendering atau menghaluskan semua cor menggunakan agregat kasar
berwarna lokal ada juga beberapa diimpor dalam bentuk keping batu alam, apabila hujan panel
akan bersih dengan bantuan percikan air hujan (dapat dilihat pada sumber terlampir).






Sumber : The Aberdeen Group, 1961
Gambar 3. Aplikasi Beton Non Pasir pada Bangunan Apartemen
Penggunaan beton non pasir di Indonesia belum populer, tetapi pada perkembangannya sudah
pernah diaplikasikan untuk struktur ringan yaitu kolom dan dinding bangunan sederhana, bata
beton dari beton non pasir, dan buis beton dari beton non pasir.
Konstruksi Perkerasan Jalan Raya
Aplikasi beton non pasir sebagai perkerasan jalan raya dikenal istilah permeconcrete atau
pervious concrete dengan pertimbangan ramah lingkungan maka perkerasan jalan menggunakan
beton non pasir supaya air hujan dapat meresap ke dalam tanah. Dibawah ini adalah skema
potongan melintang aplikasi beton non pasir pada konstruksi perkerasan jalan raya.
Design perkerasan jalan raya menyediakan jaringan untuk pengangkutan sumber daya dan
limbah, drainase, rute untuk semua layanan, air, saluran air, listrik, gas dan telepon dibawah
perkerasan jalan. Sangat rumit sehingga dibutuhkan koordinasi dengan para ahli terkait.
Perkerasan permeable adalah permukaan perkerasan jalan raya permeabel atau dapat ditembus
air dengan reservoir bawah batu. Reservoir sementara menyimpan limpasan permukaan sebelum
menyusup ke dalam drainase bawah tanah atau sub-permukaan dan diharapkan dapat berproses
meningkatkan kualitas air tanah. Bahan berpori yang digunakan adalah beton nonpasir.
Konstruksi Dinding Penahan Tanah/ Retaining Wall
Aplikasi beton non pasir pada dinding penahan tanah (retaining wall). Selain pertimbangan
ramah yang digunakan, pada konstruksi dinding penahan tanah, pemilihan jenis beton non pasir
untuk alasan stabilisasi tanah dibelakang struktur dinding penahan tanah. Teksturnya yang
berpori meloloskan air membuat dinding penahan tanah sehingga takanan air dibelakang dinding
penahan tanah dapat diminimalisir sehingga konstruksi dinding penahan tanah lebih tabil
terhadap gaya geser maupun gaya guling yang dipengaruhi oleh tekanan air tanah.
KEUNGGULAN BETON NON PASIR
Beton Non Pasir mempunyai kelebihan beberapa diantaranya adalah :
Low Shrinkage , Penyusutan total beton non pasir saat mengeras/kering adalah sekitar
setengah dari beton padat yang dibuat dengan agregat yang sama. Tingkat penyusutan
juga jauh lebih cepat. Gerakan penyusutan total, telah ditemukan bahwa 50% sampai
80% terjadi dalam 10 hari pertama, dimana untuk beton padat hanya 20 sampai 30 persen
akan terjadi pada periode yang sama. Ini berarti bahwa bahaya retak jauh lebih kecil
terjadi jika debandingkan dengan beton normal.
Light Weight, karena penggunaan aggregate ringan maka dihasilkan beton dengan bobot
yang ringan
Thermal insulation
Eliminated segregation
Reduce cement demand, kebutuhan semen sedikit karena tidak menggunakan pasir, maka
luas permukaan aggregat berkurang.
Simple yaitu berarti cara pembuatannya sederhana dan lebih cepat.
Sound insulation
Environment Friendly, mudah meloloskan air dapat digunakan sebagai bahan pembuat
sumur resapan sehingga meningkatkan resapan ke dalam tanah.
KELEMAHAN BETON NON PASIR
Porous, Beton non pasir tidak direkomendasikan dengan baja tulangan apalagi jika
berada pada lingkungan yang agresif, sifatnya yang porous dapat mempercepat laju
korosi pada struktur.
Kuat tekan rendah, karena bobot ringan maka kuat tekan beton non pasir sangat rendah
sehingga aplikasi sangat terbatas.
Contoh mix design beton non pasir menurut Ferdiyanti, dalam tesisnya
PEMANFAATAN BATU SILIKA DARI PADANGRATU LAMPUNG
TENGAHPROPINSI LAMPUNG SEBAGAI AGREGAT UNTUK PEMBUATAN
BATA BETON NON PASIR, MTBB UGM
RENCANA KEBUTUHAN BAHAN UNTUK BENDA UJI SILINDER
BETON NON PASIR


Bahan-bahan yang
dipakai :
Semen
: Semen biasa (Portland Composite
Cement)
Agregat
: Batu Silika (5-10
mm)
Air
: Air biasa dari Lab.Bahan Teknik Sipil,
Fak.Teknik UGM
Faktor air semen (fas) ditetapkan = 0,40

Berat jenis air

= 1

Berat jenis batu pecah

= 2,6

Berat Satuan Semen (BS semen) = 1250 kg/m3

Berat Satuan Agregat (BS agregat) = 1.585 kg/m3

Diameter silinder,
d
= 1,5 dm

Tinggi silinder, t

= 3 dm

Volume silinder,
V
= 5,304 dm
3
= 0,0053036 m
3

RENCANA ADUKAN

Perbandingan Volume PC : AG = 1 : 4


ADUKAN 1 ( PC : AG = 1 : 4 )

Kebutuhan Bahan per 1
m
3

Semen =
1
1250 = 312,50 Kg

4

0,15
Agregat = 1 1.585 = 1585 Kg

0,78
Air = 0,4 312,50 = 125 Liter

0,06

Berat = 2022,50 Kg/m3




To Be Continue.......