Anda di halaman 1dari 11

INTERNAL AUDITOR

A. Pengertian Internal Auditor


Pada mulanya, audit hanya terbatas pada kegiatan menguji, mencocokkan dan membuat laporan
mengenai kewajaran laporan keuangan suatu perusahaan. Dalam tahap ini, audit lebih banyak berperan pada
bidang finansial dimana bertujuan menemukan dan mencegah kecurangan serta menemukan dan
mencegah kesalahan. Sejalan dengan semakin besarnya skala perusahaan. manajemen mulai merasakan
audit yang tidak hanya terbatas pada bidang finansial saja, tetapi diperluas kepada bidang non finansial.
Untuk memenuhi tuntutan ini, lahirlah internal audit yang selain meliputi audit pada bidang finansial, juga
meliputi evaluasi terhadap kecukupan sistem internal control dan kualitas kerja pelaksanaan dalam
perusahaan. Internal audit adalah suatu fungsi penelitian yang bebas dibentuk dalam suatu organisasi untuk
memeriksa dan menilai kegiatan-kegiatan perusahaan sebagai jasa bagi organisasi tersebut.
Istilah internal auditor terdiri dari dua kata yaitu internal (intern) dan auditing (audit). Bila diartikan
secara sederhana adalah suatu audit yang dilakukan oleh pihak intern dalam arti oleh perusahaan dengan
menggunakan pegawai perusahaan itu sendiri. Ini harus dibedakan dengan ekstemal auditing yaitu audit
yang dilakukan oleh pihak luar perusahaan atau pihak yang independen, dalam hal ini akuntan publik.
The Institute of Internal Auditor dalam Statement of Responsibility of internal auditor yang
dikeluarkan tahun 1957 menyatakan "Internal auditing adalah suatu kegiatan penilaian yang independen
dalam organisasi untuk menilai operasi sebagai jasanya diberikan kepada manajemen. Jadi internal auditing
merupakan pengendalian manajerial yang melaksanakan fungsinya, mengatur dan mengevaluasi keefektifan
pengendalian lain".
Dari pengertian di atas maka sifat dari internal auditing adalah kegiatan penilaian yang tidak memihak
dalam suatu organisasi untuk mengadakan audit didalam suatu akuntansi yang diperlukan perusahaan, audit
keuangan dan operasi lainnya yang merupakan dasar untuk membantu manajemen. Pengertian lain dari
internal auditing seperti yang dikemukakan oleh Mulyadi, sebagai berikut "Internal auditing merupakan
kegiatan penilaian yang bebas, yang terdapat dalam organisasi perusahaan yang dilakukan dengan care audit
akuntansi, keuangan dankegiatan-kegiatan lainnya untuk memberikan jasa kepada manajemen".
Tim yang melaksanakan fungsi auditing di dalam perusahaan disebut internal auditor, internal auditor
mempunyai status sebagai pegawai melakukan audit mempunyai status sebagai pegawai perusahaan,
keberhasilan tugas internal auditor ditentukan dari kecakapannya dalam memanfaatkan setiap informasi
yang ada, yang berhubungan dengan kegiatannya. Guna menjamin hasil kerja dari bagian perlu diperhatikan
kualifikasi yang baik dari pegawai bagian internal audit tersebut.

S. Hadibroto antara lain menyatakan:
Auditor (pemeriksa) diharapkan menguasai berbagai bidang ilmu, yaitu : llmu Ekonomi Manajemen,
Hukum, Moneter dan sebagainya. Maka dari itu sebagai audit bertindak sebagai sebuah tim yang sifatnya
multi disipliner.
Dari definisi yang dikemukakan oleh S. Hadibroto tersebut diketahui bahwa pengangkatan star untuk
internal audit haruslah berdasarkan kecakapannya, sebab selain menguasai disiplin ilmu lainnya seperti :
ekonomi, hukum, keuangan, sistem informasi dan komunikasi, statistik dan komputerisasi. Pengetahuan ini
akan sangat membantu bagi internal auditor dalam melaksanakan tugas audit intern. Tugas audit intern yang
luas ini sudah pasti melibatkan berbagai personel dalam manajemen dengan level yang berbeda-beda dan
kepribadian yang tidak sama pula, sehingga paling tidak audit intern dituntut untuk memahami behavior
science dan proses komunikasi.
Bagian internal auditing secara keseluruhan dapat dihagi atas dua kategori,yaitu:
1. Financial audit
2. Operasional audit
1. Financial audit
Audit yang dilakukan disini meliputi pembuktian kebenaran tentang adanya harta kekayaan serta
keabsahan dokumen-dokumen. Juga untuk meyakinkan adanya perlindungan, serta penilaian yang konsisten
atas harta kekayaanperusahaan.Di samping itu di dalam audit juga tercakup untuk meyakinkan serta
mengetahui apakah sistem akuntansi yang dibuat telah dapat dipercaya dan cukup baik, kemudian
membahas apakah pengawasan intern yang baik telah dijalankan.
1. Operasional Audit
Audit pada bidang operasi akan mencakup setiap tahap kegiatan perusahaan,dimana pemeriksaan
ini bertujuan untuk menilai apakah kebijaksanaaan perusahaan,pedoman standar kerja telah dipatuhi oleh
para pelaksana demi untuk meyakinkan apakah para pelaksana telah memenuhi persyaratan yang dibutuhkan
ditinjau dari segi latar belakang pendidikan, kemapuan dan pengalaman yang cukup untuk melakukan
pekerjaannya. Dengan adanya kewajiban terhadap lembaga pemerintahan maka internal auditor akan
melakukan audit apakah berbagai peraturan pemerintah telah dipenuhi,demikian juga perjanjian kerja serta
kewajiban kepada pihak luar telah dilaksanakan sesuai dengan perjanjian. Oleh karena itu dengan adanya
bagian internal auditor yang bekerja dengan baik, maka audit yang dilakukan oleh akuntan publik atas
perusahaan akan lebih cepat. Sebagaimana mana dikemukakan di atas pengawasan intern tersebut dikepalai
oleh satuan pengawasan intern yang selalu menilai dan mengawasi, penerapannya dengan baik. Sedangkan
untuk menetapkan luasnya yang akan dilaksanakan didasarkan pada sistem pengawasan intern yang ada
pada perusahaan yang bersangkutan.



B . Fungsi dan tanggung jawab internal auditor
Pada saat ini fungsi internal auditor dalam suatu perusahaan semakin diperlukan,terutama pada
perusahaan yang memiliki skala operasi yang luas dan besar. Internal auditor tidak hanya berfungsi untuk
mengurangi kebocoran dan penyelewengan dalam perusahaan, akan tetapi lebih dari itu yaitu sebagai
penghasil informasi yang tepat dan tidak memihak serta dapat mernbantu meningkatkan mutu pimpinan
dalam pengendalian perusahaan. Di dalam tugasnya membantu pimpinan, maka fungsi internal auditor harus
sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen yang dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Fungsi perencanaan
yang merupakan perencanaan operasi melalui saluran manajemen yang sah yang meliputi rencana jangka
panjang maupun jangka pendek sesuai dengan tujuan perusahaan.
2. Fungsi pengawasan
termasuk pengembangan testing dan perbaikan kelayakan yang berarti dengan membandingkan standar
dengan hasil pekerjaan dan membantu pimpinan dalam menetapkan kesesuaian antara hasil pekerjaan dan
membantu pimpinan dalam menetapkan kesesuaian antara hasil yang nyata dengan standar.
3. Fungsi pelaporan
yang meliputi penyajian interprestasi dan analisa data keuangan bagi pimpinan dan menekankan
penilaian data dan referensi perusahaan serta tujuan dari metode bagian-bagian. Pengaruh ekstem dan
kelayakan penyajian laporan kepada pihak ketiga seperti pemerintah, pemilik kreditur-kreditur, langganan,
masyarakat dan pihak-pihak lain.
4. Fungsi akuntansi
termasuk pembentukan perusahaan dan akuntansi umum,akuntansi biaya dengan sistem dan metode yang
mencakup rancangan dan pembentukan serta pemeliharaan semua buku-buku catatan transaksi keuangan
yang objektif dan menyesuaikannya dengan prinsip-prinsip akuntansi dengan internal auditing yang baik.
5. Fungsi lain-lain
termasuk pemberian nasehat perpajakan, memperbaiki sistem dan prosedur serta internal audit.

Dari fungsi-fungsi di atas jelas kelihatan bahwa internal auditor harus memiliki kecakapan yang
luas. Ia harus mampu menilai dan mengevaluasi berbagai hasil yang telah dicapai manajemen, mampu
mendeteksi dan mengantisipasi kelemahan yang mungkin terjadi di masa depan dan menciptakan saluran
komunikasi pada berbagai tingkat kegiatan dalam manajemen.

Lebih lanjut penulis lain menyebutkan bahwa fungsi internal auditor adalah :
1. Menentukan baik tidaknya internal auditor dengan memperhatikan pemisahan fungsi dan apakah prinsip
akuntansi benar-benar telah dilaksanakan.
2. Bertanggung jawab dan menentukan apakah pelaksanannya mentaati peraturan,rencana policy dan prosedur
yang telah ditentukan sampai menilai apakah hal-hal tersebut perlu diperbaiki atau tidak.
3. Memverfikasi adanya kebutuhan kekayaan termasuk mencegah dan menemukan penyelewengan.
4. Memverifikasi dan menilai tingkat kepercayaan terhadap sistem akuntansi (accounting system) dan
pelaporan.
5. Menilai kehematan, efisiensi dan efektivitas kegiatan.
6. Melaporkan secara obyektif apa yang diketahuinya kepada manajemen disertai rekomendasi perbaikannya.

Selanjutnya Hassel B. Bell memberikan serangkaian fungsi internal auditor yakni:
1. Menemukan berbagai situasi untuk meniadakan pemborosan dan inefisiensi.
2. Menyarankan perbaikan dalam kebijaksanaan prosedur dan struktur organisasi.
3. Menciptakan alat-alat penguji terhadap hasil pekerjaan para individu dan berbagai unit organisasi.
4. Mengawasi ketaatan pada syarat-syarat yang ditentukan oleh anggaran dasar danundang-undang.
5. Mengecek akan adanya tindakan-tindakan yang tidak atau belum disetujui, yang menyeleweng dan tidak
wajar secara lisan.
6. Mengidentifikasikan tempat-tempat yang mengandung kemungkinan timbulnya kesulitan dalam kegiatan di
masa depan.
7. Menciptakan seluruh komunikasi antara berbagai tingkatan kegiatan dan pimpinan yang tertinggi.

Walaupun penyajian kedua penulis di atas berbeda tetapi pada prinsipnya tujuan mereka dalam
menetapkan fungsi internal auditor itu adalah sama yakni menekankan kepada peningkatan hasil
guna perusahaan secara umum.
Internal auditor bukan merupakan fungsi operasional karena ia tidak terlibat dalam kegiatan utama
perusahaan seperti pembelian bahan, penjualan produksi dan sebagainya. Tetapi bagian ini berfungsi sebagai
star perusahaan. Oleh karena itu iatidak akan melaksanakan perintah atas apa yang direkomendasikannya
kepada pimpinan, Internal auditor harus bebas membahas dan menilai kebijaksanaan pejabat yang dia audit.
Internal auditor sebagai star mengandung pengertian yang sama seperti penasehat atau konsultan
yang berasal dari pegawai perusahaan. Tetapi perlu dicatat bahwa nasehat yang diberikan oleh internal
auditor bukanlah mutlak harus diikuti oleh manajemen. Tanggung jawabnya hanyalah sebagai penasehat
yang berkewajiban memberikan nasehat yang paling baik sedangkan untuk mengambil keputusan tetap
berada di tangan pimpinan. Dengan demikian bagian internal auditor bukanlah satu-satunya penasehat bagi
manajemen dalam mengambil keputusan.
Perlu ditambahkan bahwa bantuan lain yang dapat diberikan oleh internal auditor kepada pimpinan
adalah berupa pendidikan dan latihan kepada pegawai-pegawai baru yang direncanakan akan ditempatkan,
misalnya untuk bagian pembukuan. Demikian juga apabila perusahaan membuka cabang-cabang baru sudah
tentu akan memerlukan pembagian tugas untuk mengurus kegiatan cabang tersebut, dan apabila perlu
mereka juga harus mendidik para pejabat dalam posisi pimpinan. Oleh karena itulah seperti yang
dikemukakan terdahulu, para star internal auditor haruslah mempunyai pengetahuan dasar dan pengalaman
yang cukup untukmenduduki posisi tersebut.


A. Kedudukan Internal Auditor

Internal auditor merupakan fungsi star bukan fungsi garis atau fungsi operasi. Internal auditor tidak
melaksanakan wewenang pihak lain dalam perusahaan, tugas-tugasnya adalah melaporkan hasil temuan
audit kepada orang yang benar-benar berwenang untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Kedudukan
bagian internal auditing terutama sekali tergantung dari tempatnya di dalam organisasi perusahaan dan
dukungan orang diperolehnya. Manajemen puncak akan menentukan luasnya tanggung jawab dan dasar-
dasar kebijaksanaan yang mengatur kegiatan-kegiatan dari bagian ini.
Dimanapun bagian internal auditing ini akan ditempatkan, yang penting bahwa internal auditor harus
benar-benar bebas dari fungsi bagian-bagian lain yang diaudit. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan The
Institute of Internal Auditor, dalam Statement of Responbility of The Internal Auditor
sebagai berikut Organization status should be sufficient to essure a broad range of audit coverage, and
adequate consideration of an effective action on audit findings and commendation.
Dari penegasan di atas kelihatan bahwa kedudukan internal auditor dalam organisasi harus dapat
mendukung untuk memastikan pemeriksaan yang dilakukan mempunyai cakupan yang luas, dan
pertimbangan yang tepat terhadap tindakan yang efektif atas temuan-temuan audit dan saran-saran yang
dibuat.
Namun, ditinjau dari segi tanggung jawab pelaporan dan pembentukan struktur organisasinya, bagian
internal auditing memiliki variasi yang berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi perusahaan serta
tujuan yang hendak dicapai.
Berikut ini dikemukakan beberapa bentuk dari struktur organisasi bagan internal auditing:
1. Penempatan bagian internal auditing sebagai star direksi dimaksudkan untuk membantu pihak wakil
presiden yang membidangi bagian keuangan dalam melakukan pengawasan atas keseluruhan kegiatan
operasional.
2. Penempatan bagian internal auditing di bawah koordinasi departemen controller dimaksudkan untuk
membantu pengawasan atas ruang lingkup bidang keuangan.
3. Penempatan bagian internal auditing di bawah dewan direksi, dimaksudkan untuk membantu pihak tersebut
atas prestasi kerja atau performance manajemen yang dimonitor.

B. Pedoman Audit Pembelian dan Pemakaian Bahan Baku
Setiap perusahaan akan membutuhkan bahan atau barang setengah jadi untuk diproses. Untuk itu
harus dilakukan pembuatan bahan-bahan maupun barang setengah jadi dari luar terlebih dahulu, sedangkan
pihak yang mengetahui pembelian bahan-bahan atau barang tersebut adalah bagian produksi. Pimpinan
bagian produksi mengambil inisiatif untuk memberitahukan kepada bagian pembelian tentang bahan/barang
apa yang harus dibeli, berapa banyak dan pada waktu mana harus dipesan dengan menyerahkan surat daftar
permintaan pembelian. Bagian pembelian dalam melakukan tugasnya perlu mengetahui data dan keterangan
tentang supplier mana yang baik, harga pasar bahan/barang tersebut, cara-cara pengangkutan, jumlah yang
paling ekonomis untuk dipesan dan sebagainya.
Setelah permintaan pesanan datang dari bagian produksi maka bagian pembelian mengirimkan surat
pesanan kepada calon supplier. Di dalam suratpesanan ini jumlah yang dipesan, harga barang, cara
pembungkusan dan tanggal pesanan tersebut datang.
Selain itu dinyatakan pula apabila barang yang dipesan terbukti tidak sesuai spesifikasi, pembeli
berhak mengembalikannya. Surat pesanan yang dibuat banyaknya tergantung dari sistem
administrasi/akuntansi perusahaan yang bersangkutan. Sekurang-kurangnya diperlukan :
1 lembar untuk supplier
1 lembar untuk bagian penerimaan
1 lembar untuk bagian pemnbukuan
1 lembar untuk bagian produksi

Setelah supplier mengirimkan barang yang dipesan maka bagian penerimaan akan mengaudit apakah
barang yang diterima tersebut sesuai dengan apa yang dipesan. Apabila barang telah diperiksa dan terbukti
sesuai dengan pesanan maka bagian penerimaan akan memberikan laporan kepada bagian pembelian dan
pesanan

diteruskan kebagian penyimpanan (gudang). Laporan penerimaan dibuat dalambeberapa rangkap
antara lain :
1 lembar dikirim ke bagian pembelian
1 lembar dikirim ke bagian akuntansi
1 lembar dikirim ke bagian gudang
Di samping pengiriman barang yang dipesan, maka supplier juga mengirimkan faktur pembelian yang
diterima oleh bagian pembelian dan diteruskankepada bagian pembukuan. Selanjutnya apabila bagian
produksi memerlukan bahan/barang tersebut untuk proses produksinya, maka bagian ini mengirimkan surat
permintaan pemakaian bahan kepada bagian gudang, rangkap dari surat ini dikirimkan pula pada bagian
pembukuan/akuntansi untuk dipakai dalam pencatatan perobahan persediaan (inventory records) dan
pencatatan akuntansi biaya. Dengan adanya surat permintaan pemakaian bahan ini, maka bagian gudang
mengeluarkan bahan yang diminta oleh bagian produksi, sedangkan bagian akuntansi akan mencatat
pengurangan jumlah bahan serta pembebanan pada biaya produksi.
Dalam hubungannya uraian di atas dengan pedoman audit pembelian dan pemakaian bahan yang
dilakukan oleh internal auditor maka pelaksanaan-pelaksanaan pekerjaan di atas adalah sangat berhubungan
sekali, apakah telah dijalankan dengan semestinya atau hanya berupa catatan-catatan saja.
Setiap internal auditor didalam melaksanakan tugasnya melakukan audit pembelian dan pemakaian
bahan baku terlebih dahulu harus membuat rencana audit sebelum melakukan tugas pelaksanaan audit.
Perencanaan ini harus didokumentasikan.
Dalam tugas perencanaan akan melakukan audit pendahuluan terhadap pembelian dan pemakaian
bahan baku untuk mendapatkan informasi yang diperlukan mengenai semua aspek penting dari pelaksanaan
pembelian dan pemakaian bahan baku di perusahaan tersebut.
Informasi ini akan dipakai sebagai alat kerja dalam merencanakan tahap pelaksanaan audit terhadap
audit pembelian dan pemakaian bahan baku yang sekaligus mencakup:
1. Menentukan tujuan dan ruang lingkup audit
2. Memperoleh informasi mengenai latar belakang kegiatan yang akan diaudit
3. Menentukan sumber daya yang perlu untuk melakukan audit
4. Membicarakan dengan mereka yang terlibat dalam audit
5. Melakukan pemahaman dan survey lapangan, mengenai kegiatan dan pengendalian yang akan diaudit,
mengetahui titik berat audit dan minta saran dari bagian yang diaudit
6. Membuat audit program
7. Menentukan bagaimana, kapan dan kepada siapa audit akan disampaikan
8. Mendapatkan persetujuan atas perencanaan audit


Sumber : http://www.scribd.com/doc/12781495/Internal-Auditor





















AUDIT INTERNAL
1. Pengertian Audit Internal
Menurut Sukrisno Agoes (2004:221), internal audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan yang dilakukan
oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun
ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan
pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku. Peraturan pemerintah misalnya peraturan di
bidang perpajakan, pasar modal, lingkungan hidup, perbankan, perindustrian, investasi dan lain-lain. Ketentuan-
ketentuan dari ikatan profesi misalnya standar akuntansi keuangan.

Definisi audit internal menurut IIA (Institute of Internal auditor) yang dikutip oleh Boynton (2001:980)
yakni: Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and
improve an organizations operations. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic,
disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control, and governance
processes. (Audit internal adalah aktivitas independen, keyakinan objektif, dan konsultasi yang dirancang untuk
menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Audit internal ini membantu organisasi mencapai tujuannya
dengan melakukan pendekatan sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas
manajemen resiko, pengendalian dan proses tata kelola).
Menurut Hiro Tugiman (2006:11), internal auditing atau pemeriksaan internal adalah suatu fungsi penilaian yang
independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan.
Menurut Mulyadi (2002:29), audit intern adalah auditor yang bekerja dalam perusahaan (perusahaan negara
maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang
ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan
organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan
informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi. IIA (Institute of Internal auditor) memperkenalkan
Standards for the professional Practice of Internal auditing-SPPIA (Standar) dikutip dari Sawyer (2005:8), audit
internal adalah fungsi penilaian independen yang dibentuk dalam perusahaan untuk memeriksa dan mengevaluasi
aktivitas-aktivitasnya sebagai jasa yang diberikan kepada perusahaan.

2. Tujuan Audit Internal
Menurut Hiro Tugiman (2006:11) tujuan pemeriksaan internal adalah membantu para anggota organisasi agar
dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif. Untuk itu, pemeriksaan internal akan melakukan analisis,
penilaian, dan mengajukan saran-saran. Tujuan pemeriksaan mencakup pula pengembangan pengawasan yang
efektif dengan biaya yang wajar.
Menurut Sukrisno Agoes (2004:222), tujuan pemeriksaan yang dilakukan oleh internal auditor adalah membantu
semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan memberikan analisa,
penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, internal auditor harus melakukan kegiatan-kegiatan berikut:
a) Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya dan penerapan dari sistem pengendalian manajemen,
pengendalian intern dan pengendalian operasional lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan
biaya yang tidak terlalu mahal.
b) Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen.
c) Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya
segala bentuk pencurian, kecurangan dan penyalahgunaan.
d) Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya.
e) Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh manajemen.
f) Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas.

3. Fungsi dan Ruang Lingkup Audit Internal
Fungsi audit internal adalah sebagai alat bantu bagi manajemen untuk menilai efisien dan keefektifan
pelaksanaan struktur pengendalian intern perusahaan, kemudian memberikan hasil berupa saran atau rekomendasi
dan memberi nilai tambah bagi manajemen yang akan dijadikan landasan mengambil keputusan atau tindak
selanjutnya.
Menurut Konsersium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:11), penanggungjawab fungsi audit internal harus
mengelola fungsi audit internal secara efektif dan efisien untuk memastikan bahwa kegiatan fungsi tersebut
memberikan nilai tambah bagi organisasi.
Ruang lingkup menurut Guy (2002:410), ruang lingkup audit internal meliputi pemeriksaan dan evaluasi yang
memadai serta efektifitas sistem pengendalian internal organisasi dan kualitas kinerja dalam melaksanakan
tanggungjawab yang dibebankan.
Ruang lingkup audit internal menurut The Institute of Internal auditors (IIA) yang dikutip oleh Boynton et al
(2001:983) The scope of audit internal should encompass of the adequacy and effectiveness the organizations
system of performance in carrying out assigned responsibilities; (1) reability and integrying of information; (2)
compliance with policies, plans, procedures, laws, regulations and contacts; (3) safeguarding of assets; (4)
economical and efficient use of resources; (5) accomplishment of established objectives and goals for operations
programs. (Ruang lingkup audit internal harus mencakup kecukupan dan efektivitas sistem kinerja organisasi dalam
melaksanakan tanggung jawab yang ditugaskan; (1) keandalan dan menyokong informasi; (2) sesuai dengan
kebijakan, rencana, prosedur, hukum, peraturan dan kontak; (3) pengamanan aktiva; (4) penggunaan sumber daya
yang ekonomis dan efisien; (5) tercapainya target yang ditetapkan dan tujuan program operasi).
Menurut Hiro Tugiman (2001:17), lingkup pekerjaan pemeriksaan internal harus meliputi pengujian dan evaluasi
terhadap kecukupan serta efektivitas sistem pengendalian internal yang dimiliki organisasi dan kualitas pelaksanaan
tanggung jawab yang diberikan.

4. Wewenang dan Tanggung Jawab Auditor Internal
Menurut Hudri Chandry (2009:10), wewenang dan tanggung jawab auditor intern dalam suatu organisasi juga
harus ditetapkan secara jelas oleh pimpinan. Wewenang tersebut harus memberikan keleluasan auditor intern untuk
melakukan audit terhadap catatan-catatan, harta milik, operasi/aktivitas yang sedang berjalan dan para pegawai
badan usaha.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan secara lebih terperinci mengenai tanggungjawab auditor internal dalam
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) (2001:322.1) auditor internal bertanggungjawab untuk menyediakan jasa
analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan, rekomendasi dan informasi kepada manajemen entitas dan dewan
komisaris atau pihak lain yang setara wewenamg dan tanggungjawabnya tersebut. Auditor internal
mempertahankan objektivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya.
Menurut Amin widjaja Tunggal (2000:21), tanggung jawab auditor internal adalah menerapkan program audit
internal, mengarahkan personel, dan aktivitas-aktivitas departemen audit internal juga menyiapkan rencana tahunan
untuk pemeriksaan semua unit perusahaan dan menyajikan program yang telah dibuat untuk persetujuan.
Secara garis besar dan tanggungjawab seorang auditor internal di dalam melaksanakan tugasnya adalah sebagai
berikut:
1. Memberikan informasi dan saran-saran kepada manajemen atas kelemahan-kelemahan yang
ditemukannya.
2. Mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas yang ada dalam perusahaan untuk mencapai tujuan audit dan tujuan
organisasi atau perusahaan.

5. Kedudukan dan Peran Auditor Internal
Kedudukan auditor internal dalam struktur organisasi sangat mempengaruhi keberhasilannya menjalankan tugas,
sehingga dengan kedudukan tersebut memungkinkan auditor internal dapat melaksanakan fungsinya dengan baik
serta dapat bekerja dengan luwes dalam arti independen dan objektif. Struktur organisasi penetapan bagian auditor
internal secara jelas disertai dengan job description yang jelas akan membawa dampak yang positif dalam proses
komunikasi antara auditor internal dengan pihak pemilik perusahaan atau manajer. Namun sebaliknya, penempatan
yang tidak jelas akan menghambat jalannya arus pelaporan dari auditor internal karena itu perlu ditentukan secara
tegas kedudukan auditor internal ini.
Menurut Sukrisno Agoes (2004:243-246), ada empat alternatif kedudukan internal auditor dalam struktur
organisasi yaitu:
a) Bagian internal audit berada dibawah direktur keuangan (sejajar dengan bagian akuntansi keuangan),
b) Bagian internal audit merupakan staf direktur utama,
c) Bagian internal audit merupakan staf dari dewan komisaris,
d) Bagian internal audit dipimpin oleh seorang internal audit director.
Peranan auditor internal dalam menemukan indikasi terjadinya kecurangan dan melakukan investigasi terhadap
kecurangan, sangat besar. Jika auditor internal menemukan indikasi dan mencurigai terjadinya kecurangan di
perusahaan, maka ia harus memberitahukan hal tersebut kepada top management. Jika indikasi tersebut cukup kuat,
manajemen akan menugaskan suatu tim untuk melakukan investigasi. Tim tersebut biasanya terdiri dari internal
auditor, lawyer, investigator, security dan spesialis dari luar atau dalam perusahaan (misalkan ahli komputer, ahli
perbankan dan lain-lain). Hasil investigasi tim harus dilaporkan secara tertulis kepada top management yang
mencakup fakta, temuan, kesimpulan, saran dan tindakan perbaikan yang perlu dilaporkan.
6. Pendekatan-pendekatan yang Dilakukan Auditor Internal
Menurut Sawyer (2005:27) untuk mencapai tujuannya masing-masing, auditor internal dapat melakukan
beberapa pendekatan yang berbeda yakni:
a) Audit Komprehensif, istilah ini pertama kali digunakan oleh General Accounting Office (GAO) Amerika Serikat untuk
menggambarkan audit atas semua aktivitas yang terdapat pada entitas pemerintah. Audit komprehensif merupakan
perluasan yang dilakukan GAO atas audit terhadap aktivitas operasi.
b) Audit Berorientasi Manajemen, penelaahan atas semua aktivitas sesuai dengan perspektif manajer atau konsultan
manajemen. Audit berorientasi manajemen dibedakan dari jenis-jenis lainnya berdasarkan cara pandangnya, bukan
dari segi prosedur audit. Audit berorientasi manajemen memfokuskan diri pada membantu organisasi mencapai
tujuannya. Hasil yang signifikan adalah membantu manajer mengelola perusahaan dengan lebih baik dan untuk
membuat manajer, bukan auditor, kelihatan baik. Audit berorientasi manajemen jangan disamakan dengan audit
manajemen, yang merupakan audit atas manajer itu sendiri. Auditor professional menghindari implikasi seperti ini
karena penilai sejati atas manajer adalah atasan mereka sendiri.
c) Audit Partisipatif, proses yang melibatkan bantuan klien dalam mengumpulkan data, mengevaluasi operasi, dan
mengoreksi masalah. Jadi audit ini merupakan kemitraan untuk menyelesaikan masalah, sehingga terkadang disebut
audit kemitraan.
d) Audit Program, penelaahan atas seluruh program, baik perusahaan publik maupun privat, untuk menentukan
apakah manfaat yang diinginkan telah tercapai. Program dalam istilah ini berarti serangkaian rencana dan prosedur
untuk mencapai hasil akhir yang ditentukan. Istilah tersebut berbeda dari penelaahan atas aktivitas secara terus-
menerus dalam sebuah perusahaan.

7. Program Audit Internal
Program audit internal merupakan perencanaan prosedur dan teknik-teknik pemeriksaan yang ditulis secara
sistematis untuk mencapai tujuan pemeriksaan secara efisien dan efektif. Selain itu berfungsi sebagai alat
perencanaan yang juga penting untuk mengatur pembagian kerja. Memonitor jalannya kegiatan pemeriksaan.
Menelaah pekerjaan yang telah dilakukan.
Menurut Mulyadi (2002:104), program audit merupakan daftar prosedur audit untuk seluruh audit unsur tertentu,
sedangkan prosedur audit adalah instruksi rinci untuk menentukan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh
pada saat tertentu dalam audit.
a) Konsersium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:15) menyatakan dalam merencanakan penugasan, auditor
internal harus mempertimbangkan sasaran penugasan, ruang lingkup penugasan, alokasi sumber daya penugasan,
serta program kerja penugasan.
Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya program audit antara lain:
Memberikan bimbingan proseduriil untuk melaksanakan pemeriksaan.
b) Memberikan checklist pada saat pemeriksaan berlangsung. Tahap demi tahap sehingga tidak ada yang terlewatkan.
c) Merevisi program audit sebelumnya, jika ada perubahan standard dan prosedur yang digunakan perusahaan.
Keunggulan program audit antara lain sebagai berikut:
a) Meratanya pembagian kerja diantara auditor .
b) Program audit yang rutin hasilnya lebih baik dan menghemat waktu.
c) Program audit memilih tujuan yang penting saja.
d) Program audit yang telah digunakan dapat menjadi pedoman untuk tahun berikutnya.
e) Program audit menampung pandangan manajer atas mitra kerja.
f) Program audit memberikan kepastian bahwa ketentuan umum akuntansi telah dijalankan.
g) Penanggungjawab pelaksanaan audit jelas.
Kelemahan program audit antara lain:
1. Tanggungjawab audit pelaksanaan terbatas pada program audit saja.
2. Sering menimbulkan hambatan untuk berpikiran kreatif dan membangun.
3. Kegiatan audit menjadi monoton

8. Pelaksanaan Audit Internal
Pelaksanaan audit menurut Konsersium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:16), dalam melaksanakan audit,
auditor internal harus mengidentifikasi informasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi
yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan.
Seperti yang dikemukakan oleh The Institute of Internal auditors (IIA) yang dikutip oleh Boynton et al (2001:983).
Audit work should include planning the audit, examining and evaluating information performance of audit work
should include:
a) Planning the audit
b) Examining and evaluation information
c) Communicating result
d) Following up
Kerja Audit harus mencakup perencanaan audit, memeriksa dan mengevaluasi kinerja informasi kerja audit harus
mencakup
1. Perencanaan audit
2. Menguji dan mengevaluasi informasi
3. Mengkomunikasikan hasil
4. Menindaklanjuti
Sama halnya yang diungkapkan Boynton et al, menurut Hiro Tugiman (2006:53), tahapan-tahapan dalam
pelaksanaan kegiatan audit internal adalah sebagai berikut:
a) Tahap perencanaan audit
b) Tahap pengujian dan pengevaluasian informasi
c) Tahap penyampaian hasil audit
d) Tahap tindak lanjut (follow up) hasil audit
Penjelasan dari tahapan-tahapan di atas adalah sebagai berikut:
a) Perencanaan Audit
Tahap perencanaan audit merupakan langkah yang paling awal dalam pelaksanaan kegiatan audit intenal,
perencanaan dibuat bertujuan untuk menentukan objek yang akan diaudit/prioritas audit, arah dan pendekatan
audit, perencanaan alokasi sumber daya dan waktu, dan merencanakan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan
proses audit.
1) Menurut Hiro Tugiman (2006:53), audit intern haruslah merencanakan setiap pemeriksaan. Perencanaan haruslah
didokumentasikan dan harus meliputi:
Penetapan tujuan audit dan lingkup pekerjaan.
2) Peroleh informasi dasar (background information) tentang kegiatan-kegiatan yang akan diperiksa.
3) Penentuan berbagai tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan audit.
4) Pemberitahuan kepada para pihak yang dipandang perlu.
5) Melaksanakan survey untuk mengenali kegiatan yang diperlukan, risiko-risiko dan pengawasan-pengawasan.
6) Penulisan program audit.
7) Menentukan bagaimana, kapan dan kepada siapa hasil-hasil audit akan disampaikan.
8) Memperoleh persetujuan bagi rencana kerja audit.

b) Pengujian dan Pengevaluasian Informasi
Pada tahap ini audit intern haruslah mengumpulkan, menganalisa, menginterprestasi dan membuktikan
kebenaran informasi untuk mendukung hasil audit.
Menurut Hiro Tugiman (2006:59), proses pengujian dan pengevaluasian informasi adalah sebagai berikut:
1) Dikumpulkannya berbagai informasi tentang seluruh hal yang berhubungan dengan tujuan-tujuan pemeriksaan dan
lingkup kerja.
2) Informasi haruslah mencukupi, kompeten, relevan dan berguna untuk membuat suatu dasar yang logis bagi temuan
audit dan rekomendasi-rekomendasi.
3) Adanya prosedur-prosedur audit, termasuk teknik-teknik pengujian.
4) Dilakukan pengawasan terhadap proses pengumpulan, penganalisaan, penafsiran dan pembuktian kebenaran
informasi.
5) Dibuat kertas kerja pemeriksaan.

c) Penyampaian Hasil Pemeriksaan
Laporan audit internal ditujukan untuk kepentingan manajemen yang dirancang untuk memperkuat
pengendalian audit intern, untuk menentukan ditaati tidaknya prosedur/kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan
oleh manajemen. Audit intern harus melaporkan kepada manajemen apabila terdapat
penyelewengan/penyimpangan- penyimpangan yang terjadi di dalam suatu fungsi perusahaan dan memberikan
saran-saran/rekomendasi untuk perbaikannya. Menurut Hiro Tugiman (2006:68) audit intern harus melaporkan hasil
audit yang dilaksanakannya yaitu:
1) Laporan tertulis yang ditandatanngani oleh ketua audit intern.
2) pemeriksa intern harus terlebih dahulu mendiskusikan kesimpulan dan rekomendasi.
3) Suatu laporan haruslah objektif, jelas, singkat terstruktur dan tepat waktu.
4) Laporan haruslah mengemukakan tentang maksud, lingkup dan hasil dari pelaksanaan pemeriksaan.
5) Laporan mencantumkan berbagai rekomendasi.
6) Pandangan dari pihak yang diperiksa tentang berbagai kesimpulan atau rekomendasi dapat pula dicantumkan dalam
laporan pemeriksaan.
7) Pimpinan audit intern mereview dan menyetujui laporan audit.

d) Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan
Audit intern terus menerus meninjau/melakukan tindak lanjut (follow up) untuk memastikan bahwa terhadap
temuan-temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindakan yang tepat. Audit intern harus memastikan
apakah suatu tindakan korektif telah dilakukan dan memberikan berbagai hasil yang diharapkan, ataukah
manajemen senior atau dewan telah menerima risiko akibat tidak dilakukannya tindakan korektif terhadap berbagai
temuan yang dilaporkan.
9. Laporan Audit Internal
Hasil akhir dari pelaksanaan audit internal dituangkan dalam suatu bentuk laporan tertulis melalui proses
penyusunan yang baik dan teratur. Laporan ini merupakan suatu alat penting untuk menyampaikan
pertanggungjawaban kepada manajemen.
Menurut AA. Arens, R.J. Elder, M.S. Beasley (2008:6), tahap terakhir dalam proses audit adalah menyiapkan
laporan audit (audit report), yang menyampaikan temuan-temuan auditor kepada pemakai. Laporan seperti ini
memiliki sifat yang berbeda-beda, tetapi semuanya harus memberi tahu para pembaca tentang derajat kesesuaian
antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan. Laporan juga memiliki bentuk yang berbeda dan dapat bervariasi
mulai dari jenis yang sangat teknis yang biasanya dikaitkan dengan audit laporan keuangan hingga laporan lisan yang
sederhana dalam audit operasional atas efektivitas suatu departemen kecil.
Menurut Sukrisno Agoes (2004:236), sebagai hasil dari pekerjaannya, internal auditor harus membuat laporan
kepada manajemen. Laporan tersebut merupakan suatu alat dan kesempatan bagi internal auditor untuk menarik
perhatian manajemen dan membuka mata manajemen mengenai manfaat dari Internal Audit Department (IAD), apa
saja yang sudah dan dapat dikerjakan IAD, hal penting apa saja yang terjadi di perusahaan dan memerlukan
perhatian dan tindakan perbaikan dari manajemen.
Untuk itu IAD harus menyampaikan laporan yang:
Objective
Clear (jelas)
Concise (singkat tetapi padat)
Constructive (membangun)
Timely (cepat waktu)