Anda di halaman 1dari 5

Bacillus thuringiensis adalah bakteri gram-positif, berbentuk batang, yang tersebar secara

luas di berbagai negara.


[1]
Bakteri ini termasuk patogenfakultatif dan dapat hidup
di daun tanaman konifer maupun pada tanah.
[1]
Apabila kondisi lingkungan tidak
menguntungkan maka bakteri ini akan membentuk fase sporulasi.
[1]
Saat sporulasi terjadi,
tubuhnya akan terdiri dariprotein Cry yang termasuk ke dalam protein kristal
kelas endotoksin delta.
[1]
Apabila serangga memakan toksin tersebut
maka serangga tersebut dapat mati.
[1]
Oleh karena itu, protein atau toksin Cry dapat
dimanfaatkan sebagaipestisida alami.
[2]

Daftar isi
[sembunyikan]
1 Informasi umum
o 1.1 Sejarah
o 1.2 Habitat
o 1.3 Deskripsi
2 Toksin Bt
3 Keuntungan dan Kerugian
4 Referensi
Informasi umum[sunting | sunting sumber]
Sejarah[sunting | sunting sumber]
B. thuringiensis ditemukan pertama kali pada tahun 1911 sebagai patogen
pada ngengat (flour moth) dari Provinsi Thuringia, Jerman. Bakteri ini digunakan sebagai
produk insektisida komersial pertama kali pada tahun 1938 diPerancis dan kemudian
di Amerika Serikat (1950). Pada tahun 1960-an, produk tersebut telah digantikan dengan
galur bakteri yang lebih patogen dan efektif melawan berbagai jenis insekta.
[3]

Keberadaan inklusi paraspora dalam B. thuringiensis telah ditemukan sejak tahun 1915,
namun komposisi protein penyusunnya baru diketahui pada tahun 1915. Pada tahun 1953,
Hannay, mendeteksi struktur kristal pada inklusi paraspora yang mengandung lebih dari satu
macam protein kristal insektisida (insecticidal crystal protein, ICP) atau disebut juga delta
endotoksin. Berdasarkan komposisi ICP penyusunnya, kristal tersebut dapat membentuk
bipimiramida, kuboid, romdoid datar, atau campuran dari beberapa tipe kristal.
[4]

Habitat[sunting | sunting sumber]
Berbagai macam spesies B. thuringiensis telah diisolasi dari serangga golongan koleoptera,
diptera, dan lepidoptera, baik yang sudah mati ataupun dalam kondisi sekarat. Bangkai
serangga sering mengandung spora dan ICP B. thuringiensis dalam jumlah besar. Sebagian
subspesies juga didapatkan dari tanah, permukaan daun, dan habitat lainnya. Pada
lingkungan dengan kondisi yang baik dannutrisi yang cukup, spora bakteri ini dapat terus
hidup dan melanjutkan pertumbuhan vegetatifnya.
[4]
B. thuringiensis dapat ditemukan pada
berbagai jenis tanaman, termasuk sayuran, kapas, tembakau, dan tanaman hutan.
[5]

Deskripsi[sunting | sunting sumber]
B. thuringiensis dibagi menjadi 67 subspesies (hingga tahun 1998) berdasarkan serotipe
dari flagela (H). Ciri khas dari bakteri ini yang membedakannya dengan
spesies Bacillus lainnya adalah kemampuan membentuk kristal paraspora yang berdekatan
dengan endospora selama fase sporulasi III dan IV. Sebagian besar ICP disandikan oleh
DNA plasmid yang dapat ditransfer melalui konjugasiantargalur B. thuringiensis , maupun
dengan bakteri lain yang berhubungan. Selama pertumbuhan vegetatif terjadi, berbagai
galur B. thuringiensis menghasilkan bermacam-macam antibiotik, enzim, metabolit, dan
toksin, yang dapat merugikan organisme lain. Selain endotoksin (ICP), sebagian
subspesies B. thuringiensis dapat membentuk beta-eksotoksi yang toksik terhadap sebagian
besar makhluk hidup, termasuk manusia dan insekta.
[4]

Toksin Bt[sunting | sunting sumber]


Struktur tiga dimensi dari toksin Bt.
Protein atau toksin Cry tersebut akan dilepas bersamaan dengan spora ketika terjadi
pemecahan dinding sel.
[1]
Apabila termakan oleh larva insekta, maka larva akan menjadi
inaktif, makan terhenti, muntah, atau kotorannya menjadi berair. Bagian kepala serangga
akan tampak terlalu besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Selanjutnya, larva menjadi
lembek dan mati dalam hitungan hari atau satu minggu. Bakteri tersebut akan menyebabkan
isi tubuh insekta menjadi berwarna hitam kecoklatan, merah, atau kuning, ketika
membusuk.
[5]

Toksin Cry sebenarnya merupakan protoksin, yang harus diaktifkan terlebih dahulu sebelum
memberikan efek negatif. Aktivasi toksin Cry dilakukan oleh protease usus sehingga
terbentuk toksin aktif dengan bobot 60 kDA yang disebut delta-endotoksin. Delta-endotoksin
ini diketahui terdiri dari tiga domain. Toksin tersebut tidak larut pada kondisi normal sehingga
tidak membahayakan manusia, hewan tingkat tinggi, dan sebagian insekta. Namun. pada
kondisi pH tinggi (basa) seperti yang ditemui di dalam usus lepidoptera, yaitu di atas 9.5,
toksin tersebut akan aktif.
[3]
Selanjutnya, toksin Cry akan
menyebabkan lisis (pemecahan) usus lepidoptera.
[1][2]

B. thuringiensis dapat memproduksi dua jenis toksin, yaitu toksin kristal (Crystal, Cry) dan
toksin sitolitik (cytolytic, Cyt). Toksin Cyt dapat memperkuat toksin Cry sehingga banyak
digunakan untuk meningkatkan efektivitas dalam mengontrol insekta. Lebih dari 50 gen
penyandi toksin Cry telah disekuens dan digunakan sebagai dasar untuk pengelompokkan
gen berdasarkan kesamaan sekuens penyusunnya. Tabel di bawah ini merupakan
klasifikasi toksin Bt pada tahun 1995 :
[3]

Gen
Bentuk
Kristal
Bobot Protein
(kDa)
Insekta yang
dipengaruhi
cry I [several subgrup:A(a), A(b),
A(c), B, C, D, E, F, G]
bipiramida 130-138 larva lepidoptera
cry II [subgrup A, B, C] kuboid 69-71
lepidoptera and
diptera
cry III [subgrup A, B, C]
Datar/tidak
teratur
73-74 koleoptera
cry IV [subgrup A, B, C, D] bipiramida 73-134 diptera
cry V-IX
berbagai
macam
35-129 berbagai macam
Keuntungan dan Kerugian[sunting | sunting sumber]


Larvasida, produk untuk membunuh larva nyamuk yang terbuat dari kompleks protein B. thuringiensis
israelensis.
Menurut laporan WHO pada tahun 1999, sebanyak 13.000 ton produk B.
thuringiensisdiproduksi setiap tahunnya melalui teknologi fermentasi aerobik. Sebagian
besar produk tersebut yang mengandung ICP dan spora hidup, sedangkan sebagian lainnya
mengandung spora yang telah diinaktivasi. Produk B. thuringiensis konvensional hanya
dibuat untuk mengatasi hama lepidoptera yang menyerang
tanaman pertanian danperhutanan. Namun, sekarang ini, banyak galur B. thuringiensis yang
diproduksi untuk mengatasi golongan koeloptera dan diptera (perantara penyakit yang
diakibatkanparasit dan virus). B. thuringiensis komersil juga telah diformulasikan
sebagaiinsektisida untuk dedaunan, tanah, lingkungan perairan, dan fasilitas penyimpanan
makanan. Contoh penggunaan B. thuringiensis pada lingkungan perairan adalah mengontrol
nyamuk, lalat, dan larva serangga pengganggu lain pada waduk penampung air minum.
Setelah diaplikasikan ke suatuekosistem tertentu, sel vegetatif dan spora akan bertahan
pada lingkungan sebagai komponen alami mikroflora dalam hitungan minggu, bulan, atau
tahunan dan perlahan-lahan akan berkurang jumlahnya. Namun, ICP secara biologis akan
inaktif dalam hitungan jam atau hari.
[4]

Aplikasi produk B. thuringiensis dapat menyebabkan pekerja lapangan terpapar secara
aerosol ataupun melalui kontak dermal, serta mengkontaminasi makanan dan minuman
pada lahan pertanian. Namun, menurut hingga tahun 1999, belum ada laporan yang
menunjukkan efek parah dari kontaminasi B. thuringiensis pada manusia, kecuali
terjadinya iritasi mata dan kulit. Namun, sel vegetatifB. thuringiensis berpotensi
memproduksi racun yang mirip dengan yang dihasilkan oleh Bacillus cereus dan belum
diketahui apakah dapat menyebabkan penyakit manusia atau tidak. Penggunaan produk B.
thuringiensis juga diketahui menimbulkan resitensi pada sebagian insekta, seperti Plodia
interpunctella, Cadra cautella, Leptinotarsa decemlineata, Chrysomela scripta, Spodoptera
littoralis,Spodoptera exigua, sehingga penggunaan produk tersebut untuk
tujuan pengendalian hama harus lebih diperhatikan.
[4]



















4. TETANUS NEONATORUM
Tetanus adalah penyakit kekakuan otot (spasme) yg disebabkan oleh eksotoksin
(tetanospasmin) dari organism penyebab penyakit tetanus dan bukan oleh organismenya
sendiri. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Clostridium tatani yang merupakan bakteri
Gram-positif berbentuk batang dengan spora pada sisi ujungnya sehingga mirip dengan
pemukul genderang. Bakteri tetanus bersifat obligat anaerob yaitu berbentuk vegetative pada
lingkungan tanpa oksigen dan rentan terhadap panas serta disinfektan. Penularannya itu
dengan cara Tetanus masuk kedalam tubuh manusia biasanya melalui luka yg dalam dengan
suasana anaerob (tanpa oksigen) sebagai akibat dari kecelakaan, luka tusuk, luka oprasi,
karies gigi, pemotong tali pusat, dll.

.
6. KUSTA
Penyakit Kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah yang
sangat kompleks. Masalahnya yang ada bukan dari segi medisnya tetapi juga masalah
ekonomi, social, budaya, serta keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta bila tidak di
tangani dengan cermat dapat menyebabkan cacat. Penyebab penyakit kusta adalah bakteri
Mycobacterium leprae yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-8 mikron, lebar 0,2-
0,5 mikron, biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel, fan
bersifat tahan asam (BTA). Bakteri kusta banyak terdapat pada kulit tangan, daun telinga dan
mukosa hidung.


8. ANTRAKS
Antraks disebut juga malignant pustule, malignant edema, Charbon, Regpicker disease,
atau Woolsorter disease. Penyakit antraks adalah penyakit ysng disebabkan olehBacillus
anthracis pada bintang ternak dan bibatang buas yang bias di tularkan kemanusia. Bacillus
anthracis adalah bakteri Gram-positif, tidak bias bergerak, berkapsul dan mampu membentuk
spora. Pembentukan spora terjadi pada keadaan aerob dan sedikit kalsium, yaitu di alam
terbuka seperti di tanah atau udara luar. Bakteri ini mempunyai ukuran 1-2 m X 5-10 m,
berbentuk batang, ujung batang berbatas tegas, tersusun berderet-deret yang membentuk
formasi seperti ruas bambu. Penularan antraks pada manusia biasanya melalui cara, kontak
langsung dengan kulit manusia yang lesi,dll.