Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang
Kegiatan budidaya perairan memiliki beberapa efek berbahaya bagi lingkungan. Efek
berbahaya dalam kegiatan budidaya telah menjadi perhatian utama bagi industri dan subjek
untuk meningkatkan kesadaran masyarakat (Sapkota et al., 2008). Seringkali, efek berbahaya
tersebut berhubungan dengan dampak lingkungan akibat kegiatan budidaya, diantaranya: (1)
perusakan lingkungan alam seperti lahan basah dan mangrove, (2) persebaran penyakit, (3)
Menurunkan biodiversitas dari populasi ikan asli karena melarikan diri akibat spesies ikan
asing, dan (4) polusi bagi air tanah dan permukaan karena adanya limbah (Boyd, 2003).
Dengan asumsi sistem RAS dikelola dengan baik, terdapat beberapa efek positif dari
sistem resirkulasi dibandingkan dengan sistem air mengalir. Pada sistem resirkulasi terdapat
kesempatan untuk mengurangi penggunaan air (Verdegem et al., 2006), menjaga panas (tanpa
interupsi musim), mengadakan kontrol lingkungan yang dapat mengurangi resiko dari
masalah penyakit dan polusi, dan mengoptimalkan laju pertumbuhan dan kesehatan ikan
melalui pengawasan kualitas air (Chiam and Sarbatly, 2011). Aspek penting lainnya dari
sistem RAS yaitu pengadaan kontrol mikrobial pada bak penanaman dengan menstabilkan
substrat bakteria. Isi variabel dari substrat mikrobia menginduksi kondisi yang memicu
pertumbuhan cepat dari spesies bakteri menguntungkan, sedangkan konsentrasi substrat stabil
untuk bakteri menginduksi pertumbuhan lambat, stabil dan komunitas bakteri yang lebih
menguntungkan dapat digunakan untuk pematangan air (Attramadal et al.,2012).
Akumulasi dari zat-zat akibat dari usaha mengurangi pergantian air merupakan salah
satu tantangan dalam sistem RAS, pengaplikasian teknologi membran filtrasi untuk
meningkatkan dan mengefisienkan penghilangan padatan tersuspensi dan koloid adalah
strategi pengolahan yang dapat menjadi salah satu jalan untuk memecahkan masalah tersebut.
Namun, membran filtrasi pada sistem RAS dapat menjadi tantangan dalam sistem RAS
disebabkan oleh potensi peningkatan membran fouling akibat dari akumulasi partikel koloid
pada permukaan maupun dalam membran yang dapat mengurangi filtrasi fluks (Wu et al.,
2008). Membran fouling dan penyumbat dapat dikontrol dengan penggunaan biofilm
membran bioreaktor.

I.II. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki efek dari penggunaan bifilm membran
bioreaktor dalam sistem pengolahan air RAS dan pengaruhnya terhadap pengolahan jumlah
partikel koloid, jumlah bakteri, turbiditas dan konsentrasi nutrisi dalam kegiatan budidaya
dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan kod.

I.III. Manfaat
Manfaat dari penelitian ini yaitu mengetahui cara mengurangi partikel koloid, padatan
tersuspensi dan konsentrasi nutrisi dalam sistem RAS sehingga mampu meningkatkan
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem resirkulasi merupakan sistem yang memanfaatkan kembali air yang sudah
digunakan dengan cara memutar air secara terus-menerus melalui perantara sebuah filter atau
ke dalam wadah, sehingga sistem ini bersifat hemat air, oleh karena itu sistem ini
merupakan salah satu alternatif model budidaya yang memanfaatkan air secara berulang dan
berguna untuk menjaga kualitas air. Recirculation Aquaculture System merupakan teknik
budidaya yang menggunakan teknik akuakultur dengan kepadatan tinggi di dalam ruang
tertutup (indoor), serta kondisi lingkungan yang terkontrol sehingga mampu meningkatkan
produksi ikan pada lahan dan air yang terbatas (Lukman, 2005).
Menurut Jangkaru (2005) Resirkulasi dalam bidang pemeliharaan ikan adalah suatu
pengadaan air bagi usaha pemeliharaan ikan dengan cara menggunakan kembali air bekas
pemeliharaan ikan. Untuk meningkatkan mutu air bekas tersebut, air dialirkan melalui
saringan dalam proses resirkulasi. Metode pemeliharaan ikan dengan menggunakan system
resirkulasi terutama dilakukan di daerah-daerah yang belum memiliki jaringan irigasi. Dalam
usaha skala kecil wadah usaha pemeliharaan ikan dapat berupa akuarium, bak, tangki, dan
drum, sedangkan untuk mengalirkan air pada unit usaha kecil berupa aerator atau blower,
sedangkan untuk unit skala besar digunakan pompa air. Saringan bagi air resirkulasi
berfungis ganda yaitu secara fisik dan biologi. Lapisan ijuk dan pasir melaksanakan fungsi
fisik, sedangkan microba yang menempel pada lapisan koral dan batu melakukan tugas
biologi. Fungsi fisik adalah menyaring material kasar seperti debu dan koloid, sedangkan
fungsi biologi antara lain menguraikan senyawa organik yang bersifat racun, seperti ammonia
dan nitrit.
Sistem resirkulasi ada dua jenis yakni sistem sirkulasi tertutup yang mendaur ulang
100% air dan sistem sirkulasi semi tertutup yang mendaur ulang sebagian air sehingga masih
membutuhkan penambahan air dari luar. Sistem kerja dari resirkulasi adalah air dari media
pemeliharaan dialirkan melalui pipa pengeluaran air. Sistem resirkulasi mampu
mempertahankan kondisi kualitas air pada kisaran optimal. Pengolahan limbah pada sistem
resirkulasi dapat dilakukan dengan filtrasi fisik, filtrasi biologi dan filtrasi kimia. Teknologi
ini memiliki efesiensi yang tinggi pada lahan sempit dan ketersediaan air (Sidik, 2002).

BAB III
METODOLOGI
III.I. Persiapan RAS Biasa dan RAS dengan Biofilm Membran Bioreaktor

III.II. Persiapan Larva Ikan Cod dan Media Pemeliharaan
III.III. Protokol Analitis
BAB IV
PEMBAHASAN
Untuk mengevaluasi tingkat efisisensi dari penggunaan membran dalam mengurangi
fraksi terkecl dalam sistem resirkulasi, tingkat turbiditas dan jumlah koloid telah diselidiki.
Hasil dari analisis kadungan partikel koloid da