Anda di halaman 1dari 10

Radio FM

Frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada diantara 88 - 108 MHz, dimana pada wilayah
frekuensi ini secara relatif bebas dari gangguan baik atmosfir maupun interferensi yang tidak diharapkan
Saluran siar FM standar menduduki lebih dari sepuluh kali lebar bandwidth (lebar pita) saluran siar AM.
Hal ini disebabkan oleh struktur sideband nonlinear yang lebih kompleks dengan adanya efek-efek
(deviasi) sehingga memerlukan bandwidth yang lebih lebar dibanding distribusi linear yang sederhana
dari sideband-sideband dalam sistem AM. Band siar FM terletak pada bagian VHF (Very High Frequency)
dari spektrum frekuensi di mana tersedia bandwidth yang lebih lebar daripada gelombang dengan
panjang medium (MW) pada band siar AM.
Tujuan dari pemancar FM adalah untuk mengubah satu atau lebih sinyal input yang berupa frekuensi
audio (AF) menjadi gelombang termodulasi dalam sinyal RF (Radio Frekuensi) yang dimaksudkan
sebagai output daya yang kemudian diumpankan ke sistem antena untuk dipancarkan. Dalam bentuk
sederhana dapat dipisahkan atas modulator FM dan sebuah power amplifier RF dalam satu unit.
Sebenarnya pemancar FM terdiri atas rangkaian blok subsistem yang memiliki fungsi tersendiri, yaitu:
a. FM exciter mengubah sinyal audio menjadi frekuensi RF yang sudah termodulasi
b. Intermediate Power Amplifier (IPA) dibutuhkan pada beberapa pemancar untuk meningkatkan
tingkat daya RF agar mampu menghandle final stage
c. Power Amplifier di tingkat akhir menaikkan power dari sinyal sesuai yang dibutuhkan oleh sistem
antenna
d. Catu daya (power supply) mengubah input power dari sumber AC menjadi tegangan dan arus DC
atau AC yang dibutuhkan oleh tiap subsistem
e. Transmitter Control System memonitor, melindungi dan memberikan perintah bagi tiap subsistem
sehingga mereka dapat bekerja sama dan memberikan hasil yangdiinginkan
f. RF lowpass filter membatasi frekuensi yang tidak diingikan dari output pemancar
g. Directional coupler yang mengindikasikan bahwa daya sedang dikirimkan atau diterima dari sistem
antena

Blok diagram Pemancar FM Stereo

Blok diagram Pemancar FM Stereo. Dalam sebuah pemancar FM (Frequency Modulation), proses
modulasi mengakibatkan perubahan frekuensi sinyal pembawa berupa deviasi frekuensi yang besarnya
sebanding dengan amplitudo sinyal pemodulasi (pesan). Berbeda dengan pemancar AM pada umumnya,
pemodulasian dilakukan pada tingkat modulator yang merupakan awal dari tingkat osilator.
Untuk lebih jelasnya kita perhatikan blok diagram sebuah pemancar FM sederhana :
Blok Diagram Pemancar FM Stereo
1. Encoder

Bagian ini merupakan tahap awal masukan yang berasal dari audio-prosessor dan hanya ada pada
sistem pemancar FM stereo. Pada sistem pemancar mono bagian ini tidak ada. Encoder mengubah
sinyal perbedaan L dan R menjadi sinyal komposit 38 kHz termodulasi DSBSC. Lebih jelasnya silahkan
baca artikel saya mengenai Sistem Pemancar FM Stereo.
2. Modulator FM/PM


Modulator FM (Frequency Modulation) atau dapat juga berupa modulator PM (Phase Modulation). Prinsip
dasarnya adalah sebuah modulator reaktansi. Pada FM, sinyal audio level daya rendah mengguncang
reaktansi kapasitif dari varaktor deoda untuk menghasilkan deviasi frekuensi osilator. Amplitudo tertinggi
sinyal audio berakibat pada turunnya nilai kapasitansi (naiknya reaktansi kapasitif) varaktor sehingga
frekuensi osilator berada pada nilai tertinggi. Sebaliknya, pada level terendah sinyal pemodulasi,
berakibat pada naiknya kapasitansi (turunnya reaktansi kapasitif) varaktor sehingga frekuensi osilator
berada pada nilai terendah. Lebar deviasi tidak lebih dari 75 kHz untuk setiap sisi atau 150 kHz secara
keseluruhan.
3. Osilator

Membangkitkan getaran frekuensi tinggi sesuai dengan frekuensi lingkar tala dari generator tala yang
pada umumnya menggunakan resonator paralel berupa LC jajar. Nilai C dibangun sebagian atau
keseluruhan menggunakan varaktor deoda yang ada pada bagian modulator (untuk tipe modulator
dengan varaktor). Pada FM komersial, frekuensi kerja osilator mulai 87,50 MHz s/d 108,50 MHz untuk FM
II dan 75,50 MHz s/d 96,50 MHz untuk FM I.
4. Buffer (Penyangga)

Penyangga (buffer) berfungsi menguatkan arus sinyal keluaran dari osilator. Sebuah penyangga identik
dengan rangkaian dengan impedansi masukan tinggi dan impedansi keluaran rendah sehingga sering
digunakan emitor follower pada tahap ini.
5. Driver (Kemudi)

Rangkaian driver berfungsi mengatur penguatan daya (tegangan dan arus) sinyal FM dari penyangga
sebelum menuju ke bagian penguat akhir. Pada sistem pemancar FM sering digunakan penguat kelas A
untuk menjamin linieritas sinyal keluaran. Mengingat efisiensi penguat kelas A yang rendah (hanya
sekitar 30%), maka perlu beberapa tingkatan driver sebelum penguat akhir (final amplifier). Pada tahap
driver, penggunaan tapis -lolos-bawah sangat dianjurkan untuk menekan frekuensi harmonisa.
6. Penguat Akhir (Final Amplifier)

Bagian penguat akhir merupakan unit rangkaian penguat daya RF efisiensi tinggi, untuk itu sering dan
hampir selalu digunakan penguat daya RF tertala kelas C karena menawarkan efisiensi daya hingga
100%. Bagian akhir dari penguat akhir mutlak dipasang filter untuk menekan harmonisa frekuensi.
7. Antena

Mengubah getaran listrik frekuensi tinggi menjadi gelombang elektromagnetik dan meradiasikannya ke
ruang bebas. Jenis antena sangat berpengaruh pada pola radiasi pancaran gelombang elektromagnetik.



8. Catu Daya (Power Supply)

Catu daya harus mempu mensuplay kebutuhan daya listrik mulai dari tingkat modulator osilator sampai
tingkat penguat akhir daya RF. Pemasangan shelding pada blok pen-catu daya merupakan hal penting
untuk sistem pemancar FM, selain itu pemakaian filter galvanis sangat dianjurkan untuk menekan sinyal
gangguan pada rangkaian jala-jala dan sebaliknya.

Dalam sebuah blok diagram pemancar FM stereo seperti gambar di atas, untuk dapat bekerja dengan
baik, diperlukan penalaan rangkaian. Dalam sistem pemancar FM modern, tingkat encoder sampai
dengan driver telah tersedia dalam bentuk modul yang dikenal dengan istilah Excitter FM Stereo. Pada
modul semacam itu tidak diperlukan penalaan rangkaian secara manual karena rangkaian tala sudah
dirancang sedemikian rupa untuk dapat bekerja pada bidang yang lebar, sehingga penalaan hanya
dilakukan pada bagian input dan output penguat akhir daya RF.

Blok diagram Penerima FM Stereo
Di dalam radio penerima, pesan asli yang dipindahkan ke bagian frekuensi pembawa diproses dan
dideteksi sehingga diperoleh kembali sinyal pesan asli yang dikirimkan oleh pemancar FM. Proses
pengembalian pesan asli dari bagian frekuensi pembawa ini dapat dinikmati setelah melalui beberapa
tahapan proses pada tiap bagian blok diagram radio penerima FM.
Berikut ini gambar Blok diagram radio penerima FM :



1. Antena Penerima.

Antena dapat bersifat omnidirectional (ke segala arah) untuk pemakaian umum atau sangat terarah untuk
komunikasi titik ke titik. Gelombang yang merambat dari pemancar menginduksi tegangan lemah dalam
antena penerima. Besarnya amplitudo tegangan antena yang terinduksi antara beberapa puluh milivolt
sampai kurang dari 1 mikrovolt, tergantung pada berbagai kondisi. Pada penerima FM komersial banyak
digunakan antena omnidirectional 1/4 lamda (panjang gelombang) untuk pemakaian umum dengan
menggunakan chasis pesawat sebagai pentanahan.
2. Penguat Tala RF.

Tingkat ini menaikkan daya sinyal ke tingkat yang cocok untuk masukan ke pencampur (mixer) dan
membantu mengisolasi osilator lokal dari antena. Tingkat ini tidak memiliki tingkat pemilahan frekuensi
yang tinggi, tetapi berperan untuk menolak sinyal-sinyal yang sangat jauh dari saluran yang diinginkan.
Tingkat daya sinyal ini perlu dinaikkan sebelum dicampurkan, karena adanya derau yang tidak diinginkan
masuk ke tingkat pencampur.
3. Osilator Lokal.

Osilator lokal dalam penerima ditala untuk menghasilkan frekuensi fLO yang berbeda dengan frekuensi
sinyal datang fRF sebesar frekuensi intermediate (antara) fIF. Dengan demikian fLO adalah sama
dengan fRF + fIF atau fRF fIF. Pada banyak penerapan, seringkali digunakan frekuensi osilator lokal
fLO lebih tinggi dibandingkan dengan frekuensi sinyal datang fRF, sehingga berlaku persamaan fLO =
fRF + fIF atau fIF = fLO fRF.
4. Mixer.

Merupakan pencampur, alat tidak linear yang menggeserkan sinyal yang diterima pada fRF ke frekuensi
intermediate fIF. Modulasi pada pembawa yang diterima juga diubah ke frekuensi intermediate.
5. Penguat Tala IF.

Berfungsi menaikkan sinyal ke tingkat yang cocok untuk dideteksi dan menyediakan sebagian besar
pemilahan frekuensi yang diperlukan untuk melewatkan sinyal yang diperlukan dan menyaring keluar
(filter) sinyal-sinyal yang tidak diinginkan yang terdapat dalam keluaran pencampur. Karena rangkaian
penguat tala IF selalu bekerja pada frekuensi tetap (fIF), maka sering digunakan filter-filter keramik atau
kristal untuk dapat melakukan pemilahan yang baik.

6. Pembatas Penguat Tala IF.

Berfungsi membatasi sinyal keluaran dari penguat tala IF. Pada blok diagram radio penerima FM di atas,
pembatasan ini berfungsi untuk mendapatkan nilai linear dari sinyal IF sebelum masuk ke Detektor yang
sering berupa rangkaian Diskriminator fasa. Penguat tala IF dan Pembatas Penguat Tala IF membentuk
sebuah rangkaian BPF dengan Band Width 150 kHz pada nilai tengah 10,7 MHz.
7. Detektor AGC.

Automatic Gain Control. Merupakan umpan balik negatif dengan mencuplik amplitudo sinyal dari penguat
IF untuk menggerakkan rangkaian AGC yang selanjutnya mengendalikan gain dari Penguat Tala RF dan
Penguat Tala IF.
8. Diskriminator.

Pada dasarnya merupakan detektor FM yang berfungsi memulihkan sinyal pesan asli dari masukan IF
termodulasi. Detektor jenis ini mendeteksi simpangan frekuensi (deviasi frekuensi) pada sinyal pembawa
termodulasi FM dan mengubahnya menjadi beda tegangan pada keluarannya.
9. AFC.

Automatic Frequency Control bekerja berdasarkan feedback negatif yaitu dengan diturunkan sebuah
sinyal yang besarnya sebanding dengan deviasi rata-rata dari frekuensi tengah yang diterima pada titik
tengah Band Pass IF penerima. Sinyal ini digunakan untuk mengubah reaktansi sebuah varaktor pada
rangkaian osilator untuk menggeser frekuensinya, sehingga cukup untuk mengimbangi deviasi dan
membawa sinyal tersebut kembali ke tengah Band Pass IF.
10. De-Emphasis.

Pada Blok Diagram radio FM, rangkaian ini berfungsi menekan kebisingan penerimaan akibat penerapan
pre-emphasis pada pemancar dengan 6 dB/Oktaf, dengan demikian jaringan kebisingan dapat diratakan
pada sisi keluarannya.
11. Volume dan Penguat Audio.

Bertugas menaikkan tingkat daya sinyal audio keluaran detektor setelah melalui de-emphasis ke harga
yang cocok untuk menggerakkan pengeras suara.

12. Pengeras Suara (Loudspeaker).

Mengubah informasi sinyal listrik audio kembali ke bentuk aslinya yaitu gelombang suara. Dalam praktek,
banyak sekali variasi dari sistem penerima radio FM yang dapat dijumpai, sehingga tidak satupun
diagram blok radio fm yang dapat dianggap khas.

Blok Diagram Pemancar AM
Posted by oprekzone
APR22
Blok Diagram Pemancar AM (Block Diagram of AM Transmitter). Pada sistem pemancar AM (Amplitudo
Modulation), proses modulasi mengakibatkan perubahan amplitudo sinyal pembawa berupa level
amplitudo yang sebanding dengan amplitudo sinyal pemodulasi (pesan). Pada sistem pemancar AM,
pemodulasian pada umumnya dilakukan pada tingkat akhir pemancar di bagianfinal amplifier.
Berikut Blok Diagram dari sebuah Pemancar AM komersial (broadcast) klasik :

Keterangan :
1. Osilator
Berfungsi membangkitkan getaran frekuensi tinggi sesuai dengan frekuensi resonansi lingkar tala dari
generator tala yang biasanya digunakan resonator paralel berupa LC jajar pada pemancar AM klasik.
Beberapa pemancar radio AM menggunakan resonator kristal sebagai generator frekuensi untuk
kestabilan frekuensi yang lebih tinggi. Pada pemancar AM modern penerapan osilator terkendali PLL
lebih banyak diterapkan. Pada pemancar AM komersial(broadcast) osilator bekerja pada frekuensi
mulai 535 s/d 1605 kHz atau sebesar 1070 kHz dengan lebar spektrum maksimum 10 kHz setiap
kanal nya. Dengan demikian ada 107 pemancar AM yang dapat ditampung pada pita frekuensi selebar
1070 kHz tersebut.
2. Buffer (Penyangga)
Keluaran dari osilator masih merupakan sinyal lemah dengan impedansi keluaran yang tinggi sehingga
kurang sesuai untuk menggerakkan rangkaian penguat berikutnya. Tahap penyangga akan sangat
berperan dalam hal ini karena pada intinya adalah sebuah rangkaian penguat arus bagi osilator.
Sebuah penyangga atau buffer identik dengan sebuah rangkaian dengan impedansi masukan tinggi
dan impedansi keluaran yang rendah sehingga dapat meniadakan efek pembebanan rangkaian.
3. Driver (Kemudi)
Pada blok diagram pemancar am, tahap ini berfungsi mengatur penguatan daya (tegangan dan arus)
sinyal AM sebelum menuju penguat akhir. Pada bagian ini sering digunakan penguat kelas A untuk
menjamin linieritas sinyal keluaran. Pada penerapannya sering digunakan beberapa tingkatan driver
untuk menghasilkan daya sinyal yang cukup untuk menggerakkan penguat akhir. Hal tersebut
dilakukan mengingat efisiensi penguat kelas A yang rendah (hanya sekitar 30%). Pada tahap driver,
penggunaan tapis-lolos-bawah sangat dianjurkan untuk menekan frekuensi harmonisa.
4. Penguat Akhir (Final Amplifier)
Penguat akhir merupakan unit rangkaian penguat daya RF efisiensi tinggi, untuk itu hampir selalu
digunakan penguat daya RF tertala kelas C karena menawarkan efisiensi daya hingga 100%. Bagian
akhir dari tahap ini selalu dipasang filter untuk menekan frekuensi harmonisa dan sekaligus
mengembalikan bentuk sinyal keluaran ke bentuk semula (sinus).
5. Audio Input
Merupakan sinyal pesan atau sinyal informasi yang akan ditumpangkan pada sinyal pembawa. Sinyal
ini berupa sinyal suara audio baik dari mikropon maupun dari pemutar musik.
6. System Audio
Bagian ini bertugas memproses sinyal audio input sebelum masuk ke tahap modulator. Tahap ini
terdiri dari penguat depan (pre-amplifier) sampai dengan penguat akhir audio (audio power
amplifier). Pada tahap awal biasanya dilengkapi dengan filter sinyal audio yang membatasi lebar
bidang audio maksimal pada 5 kHz frekuensi lancung. Hal tersebut berkaitan dengan ketentuan lebar
bidang maksimum spektrum pemancar AM yang tidak boleh melebihi 10 kHz. Inilah yang menjadi satu
alasan mengapa kualitas audio yang dihasilkan oleh penerima radio AM kurang kuat pada frekuensi
tinggi audio nya(treble).
7. Modulator
Pada pemancar AM komersial (broadcast), pemodulasian sinyal pembawa dilakukan oleh modulator
pada tahap penguat akhir pemancar. Modulator bekerja dengan sebuah transformator modulasi
menggerakkan kolektor penguat akhir sehingga menghasilkan ayunan amplitudo pada sinyal RF. Hasil
dari pemodulasian AM adalah berupa sinyal RF dengan komposisi tiga buah frekuensi yaitu; frekuensi
pembawa atau fc (frequency carrier) dan dua buah frekuensi sisi (side band) berupa frekuensi
jumlah (fc+fi) dan frekuensi selisih(fc-fi), dimana fi adalah frequency information.
8. Antenna
Merupakan bagian terakhir pada blok diagram pemancar am. Berfungsi mengubah getaran listrik
frekuensi tinggi menjadi gelombang elektromagnetik dan meradiasikannya ke ruang bebas. Pada
pemancar AM komersial(broadcast), biasa digunakan jenis antena vertikal 1/4 panjang gelombang
dengan langsung menggunakan bumi sebagai pentanahan.


Blok Diagram Radio Penerima AM
Posted by oprekzone
MAY2
Blok Diagram Radio AM Penerima. Dalam penerimaan radio secara umum, dikenal ada dua sistem
penerimaan yaitu sistem FM (Frequency Modulation) dan sistem AM (Amplitudo Modulation). Pada
sistem AM, meskipun secara kualitas audio jauh dibandingkan dengan FM, namun sampai saat ini
masih tetap digunakan karena beberapa pertimbangan, khususnya masalah propagasi gelombang AM
dibanding FM.
Propagasi frekuensi gelombang radio siaran AM yang unik membuat sistem radio AM masih tetap eksis
sampai saat ini. Salah satu kelebihan siaran gelombang AM adalah pada propagasi frekuensi yang
digunakan yang memungkinkan jangkauan siaran sangat jauh akibat pantulan
lapisan ionosferpada atmosfer. Gelombang datang dari ruang bebas ditangkap oleh antena yang
selanjutnya diproses pada penerima radio AM untuk mengembalikan pesan asli yang awalnya
memodulasi sinyal pembawa. Berikut ini blok diagram radio AM secara lazimnya :

1. Antena.
Bertugas menerima pancaran radiasi gelombang elektromagnetik radio ruang bebas yang berasal dari
pemancar radio. Pada antena selanjutnya energi RF diubah menjadi sinyal listrik dan disalurkan
menuju penerima melalui kabel transmisi.
2. Penguat Tala RF.
Sinyal listrik frekuensi tinggi yang dihasilkan oleh antena masih sangat kecil dalam taraf mikrovolt,
sehingga harus diperkuat terlebih dahulu agar mencapai level hingga dapat diperkuat oleh tahap
selanjutnya yaitu pencampur. Selain itu sinyal dari antena masih mengandung berbagai macam
frekuensi dengan spektrum luas sehingga untuk mengoptimalkan penangkapan dan pemilihan
frekuensi gelombang yang akan diteruskan ke tahap penguat RF digunakan sebuah sistem penguat
tala RF.
3. Pencampur (Mixer).
Tahap Pencampur berfungsi untuk menghasilkan frekuensi antara atau selisih antara frekuensi dari
pemancar/pembawa dengan frekuensi osilator lokal. Pencampur akan selalu mengubah setiap
frekuensi gelombang dari pemancar (yang di tala) menjadi frekuensi selisih IF (Intermediate
Frequency) f
IF
yang nilainya tetap. Cara tersebut akan meningkatkan selektivitas penerima radio dan
merupakan ciri khas dari sistem radio superheterodyne. Besar nilai f
IF
pada radio AM komersial
adalah 455 kHz mengikuti persamaan :
f
IF
= f
OL
f
C

dimana :
o f
IF
= frekuensi antara (Intermediate Frequency)
o f
OL
= frekuensi osilator lokal
o f
C
= frekuensi gelombang pembawa dari pemancar radio
4. Osilator Lokal.
Osilator lokal berfungsi untuk mengkonversi frekuensi gelombang pembawa menjadi frekuensi antara
IF setelah melalui tahap pencampuran pada Mixer. Variabel Kapasitor untuk osilator lokal berupa dua
celah satu poros dengan penguat tala RF sehingga selisih frekuensi penalaan dengan osilator lokal
selalu tetap sebesar frekuensi IF. Pada kebanyakan penerima radio komersial, frekuensi osilator lokal
selalu lebih tinggi sebesar frekuensi IF dibanding frekuensi pembawa seperti persamaan di atas.
5. Penguat IF I dan Penguat IF II.
Bagian ini menguatkan sinyal selisih f
IF
dari tahap pencampur. Menggunakan sistem penguat tertala IF
pada frekuensi 455 kHz sekaligus mampu meredam frekuensi bayangan yang masih lolos dari tahap
pencampur. Lebar bidang dari penguat IF AM berkisar 9 kHz untuk menjamin selektivitas penerimaan.
Pada beberapa sistem radio penerima AM, ada yang dilengkapi dengan filter keramik pada tahap awal
atau akhir penguat IF selain pemakaian transformator tala IF.
7. Detektor.
Berbeda dengan radio penerima FM, pada AM digunakan detektor selubung gelombang (Envelope
Detector) dengan rangkaian lebih sederhana dibanding detektor FM. Biasa digunakan deoda
germanium untuk menjamin linearitas dan sensitifitas keluaran karena germanium memiliki tegangan
bias 0,3 V, lebih kecil bila dibandingkan dengan bahan silikon yang berkisar 0,7 V.
8. AGC (Automatic Gain Control).
Sebuah kendali penguatan otomatis dipasang dengan cara mencuplik sebagian sinyal audio keluaran
dari detektor. Sinyal ini selanjutnya mengendalikan bias pada penguat IF secara terbalik, dengan
demikian diharapkan dapat diperoleh penguatan yang benar-benar terkendali saat sinyal yang
ditangkap antena mengalami perubahan level amplitudo yang ekstrim khususnya pada saat puncak
sinyal modulasi.
9. Penguat Audio.
Penguat audio menguatkan sinyal audio level rendah dari detektor. Lebar bidang dari penguat audio
tidak se ideal pada sistem radio FM karena terbatasnya spektrum sinyal informasi audio yang dapat
direproduksi pada sistem radio AM. Blok diagram radio AM. Hal tersebut juga akibat bandwidth yang
sangat terbatas pada penguat IF yang menyebabkan komponen frekuensi tinggi pada sinyal informasi
audio mengalami peredaman dalam reproduksinya. Dengan demikian jangan berharap kualitas hi-
fi dari reproduksi sinyal pesan pada sistem penerima radio AM.
10. Pengeras Suara.
Merupakan tahap akhir dari sistem blok diagram radio penerima AM. Pengeras suara mengubah sinyal
listrik audio menjadi getaran mekanik suara yang menggetarkan media udara hingga sampai pada
taraf dapat didengar oleh telinga manusia. Prinsipnya adalah sinyal listrik audio menggerakkan
kumparan yang berada pada daerah medan magnet melalui GGL yang timbul saat arus listrik
melaluinya. Diafragma yang melekat pada kumparan pada akhirnya bergetar mengikuti getaran
kumparan.