Anda di halaman 1dari 12

Konsep Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang


merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni
yang bersifat people-centered (diarahkan pada masyarakat),
participatory(partisipasi), dan sustainable (kemampuan untuk hidup terus) (Chambers [4]).
Konsep ini lebih luas dari semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau
menyediakan mekanisme untuk mencegah proses kemiskinan lebih lanjut (safety net).
Sedangkan ciri-ciri pendekatan yang dapat dilakukan dalam rangka pemberdayaan yaitu:
1. Prakarsa dan proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
harus diletakkan pada masyarakat sendiri.
2. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memobilisasikan sumber-
sumber yang ada untuk mencukupi kebutuhannya.
3. Mentoleransi variasi lokal, sehingga sifatnya amat fleksibel dan menyesuaikan dengan
kondisi lokal.
4. Menekankan pada proses social learning.
5. Proses pembentukan jaringan antara birokrasi dan LSM, satuan-satuan organisasi
tradisional yang mandiri [5].
Berdasarkan ciri pendekatan tersebut, maka pemberdayaan masyarakat harus melakukan
pendekatan sebagai berikut:
1. Upaya harus terarah (targetted). Ini secara populer disebut pemihakan dan ditujukan
langsung kepada yang memerlukan, dengan program yang dirancang untuk mengatasi
masalah sesuai dengan kebutuhannya.
2. Program harus langsung mengikutsertakan atau bahkan dilaksanakan oleh masyarakat
yang menjadi sasaran. Mengikutsertakan masyarakat yang akan dibantu mempunyai
beberapa tujuan, yakni supaya bantuan tersebut efektif sesuai dengan kehendak dan
mengenali kemampuan serta kebutuhan mereka. Selain itu sekaligus meningkatkan
kemampuan masyarakat dengan pengalaman dalam merancang, mengelola,
melaksanakan dan mempertanggungjawabkan upaya peningkatan diri dan ekonominya.
3. Menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat miskin
kesulitan dalam memecahkan masalah yang dihadapi, dan juga lingkup bantuan
menjadi terlalu luas jika penanganannya dilakukan secara individu. Karena itu
pendekatan kelompok adalah yang paling efektif, dan dilihat dari penggunaan sumber
daya juga lebih efisien.
Maka memberdayakan masyarakat dapat dilihat dari tiga sisi yaitu:
1. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang
(enabling). Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap
masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tidak ada masyarakat yang
tanpa daya sama sekali, karena jika itu terjadi maka komunitas masyarakat akan punah.
Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong,
memotivasikan dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta
berupaya untuk mengembangkannya.
2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering). Dalam
rangka ini diperlukan langkah-langkah yang lebih positif, selain dari hanya
menciptakan iklim dan suasana. Perkuatan ini meliputi langkah-langkah nyata dan
menyangkut penyediaan berbagai masukan (input), serta pembukaan akses ke dalam
berbagai peluang (opportunities) yang akan membuat masyarakat menjadi semakin
berdaya. Yang lebih penting dalam pemberdayaan ini adalah peningkatan partisipasi
rakyat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan masyarakatnya.
3. Memberdayakan mengandung arti melindungi. Dalam proses pemberdayaan, harus
dicegah yang lemah jangan menjadi bertambah lemah, oleh karena kekurangberdayaan
dalam menghadapi yang kuat. Oleh karena itu, perlindungan dan pemihakan kepada
yang lemah amat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat.
Melindungi bukan berarti mengisolasi atau menutupi mereka dari interaksi, karena hal
itu justru akan mengerdilkan yang kecil dan melalaikan yang lemah. Melindungi
merupakan upaya untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta
eksploitasi yang kuat atas yang lemah. Pemberdayaan masyarakat bukan membuat
masyarakat menjadi semakin tergantung pada berbagai program pemberian (charity)
karena pada dasarnya setiap apa yang dinikmati, harus dihasilkan atas usaha sendiri
(yang hasilnya dapat dipertukarkan dengan pihak lain).
Dengan demikian tujuan akhirnya adalah memandirikan masyarakat, memampukan,
dan membangun kemampuan untuk memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara
seimbang.

Menurut sejarahnya, pendekatan terhadap komunitas diawali oleh community
action (tindakan untuk komunitas) dengan mendirikan organisasi atau grup yang bertujuan
mencari perubahan dalam komunitas. Skidmore, et.all (1994) dalam bukunya Introduction
to Social Work, 6
th
editions menyatakan bahwa usaha pertama yang dilakukan untuk
mengkoordinasi aktivitas dan aksi komunitas oleh London Charity Organization Society
dimulai tahun 1869, yang mencoba untuk mengeliminasi duplikasi dan kecurangan dalam
administrasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pelayanan sosial melalui koordinasi dan
kerjasama yang lebih baik. Usaha teroganisir pertama yang dilakukan di Amerika Serikat
pada tahun 1877, dengan dibentuknya Buffalo Charity Organization Society. Usaha ini perlu
karena banyak agen privat bermunculan dengan banyak jarak antara pelayanan secara total,
dan juga kompetisi yang tidak perlu.
Pada tahun 1909 di Pittsburgh dan Milwaukee, dewan komunitas sejahtera pertama di
Amerika Serikat berdiri. Mereka disebut Dewan Agensi Sosial. Sejak saat itu mereka
berkembang dan diperluas oleh karena itu banyak dari sentra-sentra populasi besar sudah
memiliki dewan komunitas sejahtera. Dewan ini, organisasi yang bijaksana, umumnya
berfokus pada tiga bidang utama: kesehatan, kesejahteraan, dan rekreasi. Kebanyakan dari
mereka memiliki badan perwakilan dari semua lembaga-lembaga dalam masyarakat yang
bergabung dengan dewan.
Lalu kemudian muncullah konsep empowerment yang hadir karena dua premis mayor,
yakni kegagalan dan harapan (Friedmann, 1992 dalam Wrihatnolo, 2007). Kegagalan yang
dimaksud adalah gagalnya model-model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi
masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan. Sementara itu, harapan muncul
karena adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi,
persamaan gender, persamaan antar generasi, dan pertumbuhan ekonomi yang memadai.
Kegagalan dan harapan bukanlah alat ukur dari hasil kerja ilmu-ilmu sosial, melainkan lebih
merupakan cermin dari nilai-nilai normatif dan moral. Kegagalan dan harapan akan terasa
sangat nyata pada tingkat individu dan masyarakat. Pada tingkat yang lebih luas, yang
dirasakan adalah gejala kegagalan dan harapan. Dengan demikian, pemberdayaan
masyarakat, pada hakikatnya adalah nilai kolektif pemberdayaan individual (Friedmann,
1992 dalam Wrihatnolo, 2007).
Sebagai tambahan terhadap data diatas penulis mencoba mengambil dari perspektif
yang lain. Dalam bukunya, Adi (2005) menyatakan bahwa Menurut David Brokensha dan
Peter Hodge ada perbedaan latar belakang historis yang cukup jelas antara pengembangan
masyarakat dengan pengorganisasian masyarakat.
Perbedaan tersebut antara lain adalah mereka meyakini bahwa pengorganisasian
masyarakat yang diterapkan di Amerika Serikat pada mulanya lebih banyak dikembangkan di
dalam negeri. Sedangkan pengembangan masyarakat yang digunakan oleh bangsa Inggris,
lebih banyak diujicobakan di Afrika atau negara-negara koloni lainnya.
Selain itu pengembangan masyarakat yang dilakukan Inggris melihat bahwa proses itu
merupakan respon pragmatis terhadap kebutuhan yang dirasakan daerah koloni mereka, yang
pada dasarnya mereka kurang mendapatkan layanan yang kurang memadai dibidang
pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan dalam arti sempit, Sedangkan di Amerika,
pengorganisasian masyarakat dimulai pada pengembangan sektor pertanian, yang baru
kemudian bergerak ke masalah perkotaan.
Menurut Hodge lagi, akar munculnya model pengembangan masyarakat (Community
Development) terkait dengan disiplin ilmu pendidikan (education). Secara resmi
istilahCommunity Development dipergunakan di Inggris pada tahun 1948, untuk mengganti
istilahmass education (pendidikan massa). Di Amerika Serikat pengembangan masyarakat
juga berakar dari disiplin pendidikan di tingkat pedesaan (rural extension
program), sedangkan di perkotaan mereka mengembangkan organisasi komunitas
(community organization) yang bersumber dari ilmu kesejahteraan Sosial. (Adi, 2005).
Sedangkan apabila pemberdayaan masyarakat ditilik dari sudut program, maka
pemberdayaan masyarakat akan lebih bersifat sistematis, dimana dalam pelaksanaannya akan
menggunakan beberapa tahapan pelaksanaan. Adi menyatakan bahwa jika Pemberdayaan
Masyarakat dilihat sebagai suatu program, maka di dalamnya akan terdapat tahapan-tahapan
kegiatan, dalam rangka meraih suatu tujuan yang sudah ditentukan jangka waktunya.
Tahapan dalam pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat adalah unsur-unsur yang
harus ada dalam pemberdayaan masyarakat sehingga hal ini dapat memperbaiki taraf hidup
masyarakat ke arah yang lebih baik. Salah satu unsur yang menjadi tolak ukur keberhasilan
suatu program pemberdayaan masyarakat adalah adanya tahapan intervensi dalam proses
pemberdayaan masyarakat.
Menurut Isbandi R.A, ada beberapa tahapan yang dibahas secara rinci dalam proses
pemberdayaan masyarakat, yaitu:
Tahap Persiapan (Engagement)
Tahap persiapan ini memiliki substansi penekanan pada dua hal elemen penting yakni
penyiapan petugas dan penyiapan lapangan. Dalam hal ini, penyiapan petugas adalah tenaga
pemberdaya masyarakat atau pendamping masyarakat dan bisa juga dilakukan
oleh community worker. Sedangkan penyiapan lapangan merupakan prasyarat suksesnya
suatu program pemberdayaan masyarakat yang pada dasarnya diusahakan dilakukan secara
non-direktif. Non-direktif ini maksudnya adalah melibatkan masyarakat sepenuhnya ke dalam
program pemberdayaan masyarakat tersebut. Tahapan ini adalah tahapan prasyarat sukses
atau tidaknya sebuah program pemberdayaan berlangsung.
Tahap Pengkajian (Assessment)
Tahapan ini dapat dapat dilakukan secara individu melalui tokoh-tokoh masyarakat
dan juga melalui kelompok-kelompok dalam masyarakat. Pada tahap ini, petugas atau
pendamping masyarakat sebagai agen peubah melakukan identifikasi masalah atau kebutuhan
yang dirasakan oleh masyarakat (felt needs), dengan melibatkan masyarakat dalam
identifikasi tersebut karena masyarakat setempat yang sangat mengetahui keadaan dan
masalah ditempat mereka berada. Tahapan ini memiliki penekanan pada faktor identifikasi
masalah dan sumber daya yang ada dalam sebuah wilayah yang akan menjadi basisi
pemberdayaan serta pelaksanaan program.
Tahap Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan (Designing)
Dalam tahap ini, petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change
agent) mencoba melibatkan masyarakat untuk memikirkan masalah-masalah yang mereka
hadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam hal ini masyarakat diharapkan dapat
memikirkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan masalah yang lebih diprioritaskan.
Kemudian masyarakat diharapkan dapat memikirkan beberapa alternatif program atau
kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk memecahkan masalah mereka. Dalam
tahap ini dipikirkan secara mendalam agar program pemberdayaan yang ada nantinya tidak
melulu berkisar pada program amal (charity) saja dimana demikian itu tidak memberikan
manfaat secara pasti dalam jangka panjang.
Tahap Pemformulasian Rencana Aksi (Designing)
Dalam tahap ini ada kerjasama antara masyarakat, petugas atau pendamping
masyarakat sebagai agen peubah (change agent), dan pihak lain (stakeholder). Petugas atau
pendamping masyarakat membantu masyarakat untuk merancang atau mendesain gagasan
mereka atau alternatif program atau kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk
memecahkan masalah mereka dalam bentuk tulisan, terutama apabila ada kaitannya dengan
pembuatan proposal kepada pihak penyandang dana. Disini masyarakat telah menjabarkan
secara rinci dalam bentuk tulisan tentang apa-apa yang akan mereka laksanakan baik tujuan
jangka pendek maupun jangka panjang.
Tahap Pelaksanaan Program atau Kegiatan (I mplementation)
Tahapan ini merupakan salah satu tahapan yang paling penting dalam program
pemberdayaan masyarakat karena sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik akan dapat
melenceng dalam pelaksanaan dilapangan bila tidak ada kerjasama yang baik antara petugas
atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change agent) dengan masyarakat
maupun antar warga masyarakat. Tahapan ini berisi tindakan aktualisasi bersinergi antara
masyarakat dengan petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah dan antar
warga masyarakat itu sendiri.
Tahap Evaluasi
Tahapan ini memiliki substansi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas
atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change agent) terhadap program
pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan dengan melibatkan warga. Tahapan ini juga
akan merumuskan berbagai indikator keberhasilan suatu program yang telah
diimplementasikan serta dilakukan pula bentuk-bentuk stabilisasi terhadap perubahan atau
kebiasaan baru yang diharapkan terjadi.
Tahap Terminasi
Tahapan terminasi adalah sebuah tahapan dimana seluruh program telah berjalan
secara optimal dan petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change agent)
atau dapat juga disebut dengan fasilitator pemberdayaan masyarakat sudah akan mengakhiri
kerjanya. Tahapan ini disebut sebagai tahap pemutusan hubungan antara petugas atau
pendamping masyarakat dengan masyarakat yang menjadi basis program pemberdayan ketika
itu. Petugas pun tidak keluar dari komunitas secara total, melainkan ia akan meninggalkannya
secara bertahap.
Maka dapat diambil satu hipotesa bahwa, pendekatan merupakan awal mula dari
pengembangan masyarakat, yang selanjutnya menjadi program. Pemberdayaan Masyarakat
dalam bentuk program ini memiliki poin utama yaitu adanya satu keberlanjutan, dimana
keberlanjutan tersebut tidak hanya ada selama agen peubah ada bersama komunitas sasaran,
tetapi juga setelah agen peubah memutuskan hubungan dengan komunitas sasaran
(terminasi).
Pemberdayaan Masyarakat sebagai kerangka menanggulangi kemiskinan adalah salah
satu aspek penting, karena Pemberdayaan Masyarakat seperti yang sudah disinggung dalam
bab 1 akan memberikan efek yang positif dalam proses pengembangan masyarakat. Hal ini
terlihat dari banyaknya negara-negara di dunia ini yang memakai pendekatan maupun
program pemberdayaan masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup atau kesejahteraan
masyarakat.

Pemberdayaan Masyarakat dalam bentuk program memiliki tahapan-tahapan, dimana
disana terdapat aspek partisipasi masyarakat, memberdayakan dan mengurangi tingkat
kemiskinan dengan cara masyarakat miskin tersebut berusaha untuk dirinya sendiri, keluar
dari jurang kemiskinan. Oleh sebab itu, Pemberdayaan Masyarakat sebagai suatu program
menjadi penting perannya.
United Nations (1956: 83-92), mengemukakan proses-proses pemberdayaan
masyarakat adalah sebagai berikut.
a. Getting to know the local community
Mengetahui karakteristik masyarakat setempat (lokal) yang akan diberdayakan, termasuk
perbedaan karakteristik yang membedakan masyarakat desa yang satu dengan yang lainnya.
Mengetahui artinya untuk memberdayakan masyarakat diperlukan hubungan timbal balik
antara petugas dengan masyarakat.
b. Gathering knowledge about the local community
Mengumpulkan pengetahuan yang menyangkut informasi mengenai masyarakat setempat.
Pengetahuan tersebut merupakan informasi faktual tentang distribusi penduduk menurut
umur, sex, pekerjaan, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, termasuk pengetahuan
tentang nilai, sikap, ritual dan custom, jenis pengelompokan, serta faktor kepemimpinan baik
formal maupun informal.
c. I dentifying the local leaders
Segala usaha pemberdayaan masyarakat akan sia-sia apabila tidak memperoleh dukungan
dari pimpinan/tokoh-tokoh masyarakat setempat. Untuk itu, faktor "the local leaders" harus
selau diperhitungkan karena mereka mempunyai pengaruh yang kuat di dalam masyarakat.
d. Stimulating the community to realize that it has problems
Di dalam masyarakat yang terikat terhadap adat kebiasaan, sadar atau tidak sadar mereka
tidak merasakan bahwa mereka punya masalah yang perlu dipecahkan. Karena itu,
masyarakat perlu pendekatan persuasif agar mereka sadar bahwa mereka punya masalah yang
perlu dipecahkan, dan kebutuhan yang perlu dipenuhi.
e. Helping people to discuss their problem
Memberdayakan masyarakat bermakna merangsang masyarakat untuk mendikusikan
masalahnya serta merumuskan pemecahannya dalam suasana kebersamaan.
f. Helping people to identify their most pressing problems
Masyarakat perlu diberdayakan agar mampu mengidentifikasi permasalahan yang paling
menekan. Dan masalah yang paling menekan inilah yang harus diutamakan pemecahannya.
g. Fostering self-confidence
Tujuan utama pemberdayaan masyarakat adalah membangun rasa percaya diri masyarakat.
Rasa percaya diri merupakan modal utama masyarakat untuk berswadaya.
h. Deciding on a program action
Masyarakat perlu diberdayakan untuk menetapkan suatu program yang akan dilakukan.
Program action tersebut perlu ditetapkan menurut skala prioritas, yaitu rendah, sedang, dan
tinggi. Tentunya program dengan skala prioritas tinggilah yang perlu didahulukan
pelaksanaannya.
i. Recognition of strengths and resources
Memberdayakan masyarakat berarti membuat masyarakat tahu dan mengerti bahwa mereka
memiliki kekuatan-kekuatan dan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi untuk memecahkan
permasalahn dan memenuhi kebutuhannya.


j. Helping people to continue to work on solving their problems
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan. Karena itu,
masyarakat perlu diberdayakan agar mampu bekerja memecahkan masalahnya secara
kontinyu.
k. I ncreasing people!s ability for self-help
Salah satu tujuan pemberdayaan masyarakat adalan tumbuhnya kemandirian masyrakat.
Masyarakat yang mandiri adalah masyarakat yang sudah mampu menolong diri sendiri.
Untuk itu, perlu selalu ditingkatkan kemampuan masyarakat untuk berswadaya.

Metode Pemberdayaan Masyarakat
Salah satu metode dan teknik yang dikenal dengan Participatory Rural
Appraisal (PRA), karena dipandang telah memiliki teknik-teknik yang dijabarkan cukup
operasional dengan konsep bahwa keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam seluruh
kegiatan. Pendekatan PRA memang bercita-cita menjadikan masyarakat menjadi peneliti,
perencana, dan pelaksana pembangunan dan bukan sekedar obyek pembangunan. Tekanan
aspek penelitian bukan pada validitas data yang diperoleh, namun pada nilai praktis untuk
pengembangan program itu sendiri. Penerapan pendekatan dan teknik PRA dapat memberi
peluang yang lebih besar dan lebih terarah untuk melibatkan masyarakat. Selain itu melalui
pendekatan PRA akan dapat dicapai kesesuaian dan ketepatangunaan program dengan
kebutuhan masyarakat sehingga keberlanjutan (sustainability ) program dapat terjamin.
PRA adalah suatu metode pendekatan untuk mempelajari kondisi dan kehidupan
pedesaan dari, dengan, dan oleh masyarakat desa. Atau dengan kata lain dapat disebut
sebagai kelompok metode pendekatan yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling
berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan
desa, membuat rencana dan bertindak (Chambers, 1995).

Prinsip Dasar
Tujuan kegiatan PRA yang utama ialah untuk menghasilkan rancangan program yang
gayut dengan hasrat dan keadaan masyarakat. Terlebih itu, tujuan pendidikannya adalah
untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam menganalisa keadaan mereka sendiri
dan melakukan perencanaan melalui kegiatan aksi. Dapat disebutkan bahwa PRA adalah
sekumpulan pendekatan dan metode yang mendorong masyarakat pedesaan untuk turut serta
meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka mengenai hidup dan kondisi mereka
sendiri, agar mereka dapat membuat rencana dan tindakan (Chambers, 1995).






Beberapa hal prinsip yang ditekankan dalam PRA ialah :
a. Saling belajar dari kesalahan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat
Prinsip dasar PRA bahwa PRA adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini berarti
bahwa PRA dibangun dari pengakuan serta kepercayaan masyarakat yang meliputi
pengetahuan tradisional dan kemampuan masyarakat untuk memecahkan persoalannya
sendiri. Prinsip ini merupakan pembalikan dari metode pembelajaran konvensional yang
bersifat mengajari masyarakat. Kenyataan membuktikan bahwa dalam perkembangannya
pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat tidak sempat mengejar perubahan yang
terjadi, sementara itu pengetahuan modern yang diperkenalkan orang luar tidak juga selalu
memecahkan masalah. Oleh karenanya diperlukan ajang dialog di antara ke duanya untuk
melahirkan sesuatu program yang lebih baik. PRA bukanlah suatu perangkat teknik tunggal
yang telah selesai, sempurna,dan pasti benar. Oleh karenanya metode ini selalu harus
dikembangkan yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Kesalahan yang dianggap tidak
wajar, bisa saja menjadi wajar dalam proses pengembangan PRA. Bukannya kesempurnaan
penerapan yang ingin dicapai, namun penerapan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan
yang ada dan mempelajari kekurangan yang terjadi agar berikutnya menjadi lebih baik.
Namun PRA bukan kegiatan coba-coba (trial and error ) yang tanpa perhitungan kritis untuk
meninimalkan kesalahan.

b. Keterlibatan semua anggota kelompok, menghargai perbedaan, dan informal
Masyarakat bukan kumpulan orang yang homogen, namun terdiri dari berbagai
individu yang mempunyai masalah dan kepentingan sendiri. Oleh karenanya keterlibatan
semua golongan masyarakatadalah sangat penting. Golongan yang paling diperhatikan justru
yang paling sedikit memiliki akses dalam kehidupan sosial komunitasnya (miskin,
perempuan,anak-anak, dll). Masyarakat heterogen memiliki pandangan pribadi dan golongan
yang berbeda. Oleh karenanya semangat untuk saling menghargai perbedaan tersebut adalah
penting artinya. Yang terpenting adalah pengorganisasian masalah dan penyusunan prioritas
masalah yang akan diputuskan sendiri oleh masyarakat sebagai pemiliknya. Kegiatan PRA
dilaksanakan dalam suasana yang luwes, terbuka, tidak memaksa, dan informal. Situasi santai
tersebut akan mendorong tumbuhnya hubungan akrab, karena orang luar akan berproses
masuk sebagai anggota bukan sebagai tamu asing yang harus disambut secara protokoler.
Dengan demikian suasana kekeluargaan akan dapat mendorong kegiatan PRA berjalan
dengan baik.

c. Orang luar sebagai fasilitator, masyarakat sebagai pelaku
Konsekuensi dari prinsip pertama, peran orang luar hanya sebagai fasilitator, bukan
sebagai pelaku, guru, penyuluh, instruktur, dll. Perlu bersikap rendah hati untuk belajar dari
masyarakat dan menempatkannya sebagai nara sumber utama. Bahkan dalam penerapannya,
masyarakat dibiarkan mendominasi kegiatan. Secara ideal sebaiknya penentuan dan
penggunaan teknik dan materi hendaknya dikaji bersama, dan seharusnya banyak ditentukan
oleh masyarakat.

d. Konsep triangulasi
Untuk bisa mendapatkan informasi yang kedalamannya dapat diandalkan, bisa
digunakan konsep triangulasi yang merupakan bentuk pemeriksaan dan pemeriksaan ulang
(check and recheck). Triangulasi dilakukan melalui penganekaragaman keanggotaan tim
(disiplin ilmu), sumber informasi (latar belakang golongan masyarakat, tempat), dan variasi
teknik.
i. Penggunaan variasi dan kombinasi berbagai teknik PRA, yaitu bersama masyarakat bisa
diputuskan variasi dan kombinasi teknik PRA yang paling tepat sesuai dengan proses belajar
yang diinginkan dan cakupan informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan program
ii. Menggali berbagai jenis dan sumber informasi, dengan mengusahakan kebenaran data dan
informasi (terutama data sekunder) harus dikaji ulang dan sumbernya dengan menggunakan
teknik lain.
iii. Tim PRA yang multidisipliner, dengan maksud sudut pandang yang berbeda dari anggota tim
akan memberi gambaran yang lebih menyeluruh terhadap penggalian informasi dan memberi
pengamatan mendalam dari berbagai sisi.

e. Optimalisasi hasil, orientasi praktis, dan keberlanjutan program
Pelaksanaan PRA memerlukan waktu, tenaga narasumber, pelaksana yang trampil,
partisipasi masyarakat yang semuanya terkait dengan dana. Untuk itu optimalisasi hasil
dengan pilihan yang menguntungkan mutlak harus dipertimbangkan. Oleh karenanya
kuantitas dan akurasi informasi sangat diperlukan agar jangan sampai kegiatan yang berskala
besar namun biaya yang tersedia tidak cukup. Orientasi PRA adalah pemecahan masalah dan
pengembangan program. Dengan demikian dibutuhkan penggalian informasi yang tepat dan
benar agar perkiraan yang tepat akan lebih baik daripada kesimpulan yang pasti tetapi salah,
atau lebih baik mencapai perkiraan yang hampir salah daripada kesimpulan yang hampir
benar. Masalah dan kepentingan masyarakat selalu berkembang sesuai dengan perkembangan
masyarakat itu sendiri. Karenanya, pengenalan masyarakat bukan usaha yang sekali
kemudian selesai, namun merupakan usaha yang berlanjut. Bagaimanapun juga program yang
mereka kembangkan dapat dipenuhi dari prinsip dasar PRA yang digerakkan dari potensi
masyarakat.

Teknik dan alat analisis Perencanaan Pemberdayaan
Pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan dilakukan dan dicapaimelalui
penerapan strategi pemberdayaan. Pemberdayaan dapat dilakukan melalui tigapendekatan,
yaitu :

1.Pendekatan mikro. Pemberdayaan dilakukan terhadap individu melalui
bimbingan,konseling, stress managemet, intervensi krisis. Tujuan utamanya
adalahmembimbing atau melatih individu dalam menjalankan tugas-tugas
kehidupannya.Model ini sering disebut pendekatan yang berpusat pada tugas (task
centered approach).

2.Pendekatan mezzo. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media
intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanyadigunakan sebagai
strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan,keterampilan, dan sikap individu agar
memiliki kemampuan memecahkanpermasalahan yang dihadapinya.

3. Pendekatan makro. Pendekatan ini disebut strategi sistem besar (large-systemstrategy),
karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebihluas seperti
perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobi,pengorganisasian dan
pengembangan masyarakat, merupakan beberapa strategidalam pendekatan ini


Studi Kasus :
Pemasaran Sosial Air bersih dan Sanitasi
Masalah air bersih dan sanitasi merupakan masalah yang melibatkan beberapa faktor
antara lain: masyarakat sebagai pelaku penghasil sampah, teknologi dan managemen
pengelolaan sanitasi yang masing-masing saling pengaruh mempengaruhi. Oleh karena warga
masyarakat merupakan faktor yang sangat menentukan baik sebagai penghasil, pengguna
teknologi dan pelaksana manajemen pengelolaan sampah, maka keterlibatan warga
masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan titik sentral dalam pekerjan pemberdayaan
ini.
Metode menumbuhkan Kesadaran dan Partisipasi masayarkat dirumuskan dengan tahapan
sebagai berikut :
1. Menyampaikan pengetahuan mengenai kesehatan lingkungan, sanitasi, teknologi Sanitasi
2. Menumbuhkan keinginan untuk mengatasi masalah sanitasi
3. Memberikan pelatihan ketrampilan pembuatan fasilitas sanitasi
4. Pengenalan penggunaan teknologi sanitasi
5. Menyediakan fasilitas sanitasi di tingkat rumah tangga maupun kelompok (komunal)
6. Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi sanitasi di tingkat RT/RW secara mandiri
7. Perencanaan Partisipatif Rencana Tindak Komunitas Pengelolaan Sampah Berbasis
Komunitas
Perencanaan partisipatif pada dasarnya adalah sebuah proses untuk mengidentifikasi
tujuan dan menterjemahkan tujuan tersebut ke dalam kegiatan yang nyata/konkret dan
spesifik.Perencanaan partisipatif akan diawali dengan kegiatan survai kampung sendiri,
dimana kegiatan ini dimaksudkan untuk memetakan kondisi fisik lingkungan dan sosial
masyarakat. Untuk menciptakan rasa percaya masyarakat terhadap hasil-hasil perencanaan,
maka survai kampung sendiri dilakukan oleh masyarakat dengan didampingi oleh fasilitator.
Hasil dari pemetaan tersebut selanjutnya akan menghasilkan data tentang kebutuhan
masyarakat yang kemudian diinventarisasikan untuk bidang persampahan dan sanitasi sesuai
dengan tujuan dan sasaran program.
Untuk menjamin bahwa perencanaan benar-benar dilakukan secara partisipatif,
Fasilitator dibantu oleh Kader Masyarakat memfasilitasi pelaksanaan perencanaan di
masyarakat dengan mempergunakan input data yang diperoleh dari survai kampung sendiri.
Hasil dari perencanaan partisipatif tersebut selanjutnya akan dituangkan dalam Rencana
Tindak. Hasil dari kegiatan penyusunan rencana tindak komunitas tersebut adalah
disepakatinya visi dan misi pengelolaan persampahan dan sanitasi di wilayah Pilot Projec.
Pengertian masyarakat dalam pekerjaan ini adalah seluruh warga di lokasi sasaran
yang setelah melalui proses pemberdayaan dapat menyadari dan memahami kondisi
wilayahnya serta persoalan persampahan dan sanitasi yang perlu dihadapi dan sepakat untuk
menanggulangi permasalahan persampahan dan sanitasi tersebut secara sistematik.
Pendamping Masyarakat Dalam Proses Pemberdayaan Masyarakat
Tim Fasilitator sebagai input proyek, secara intensif memfasilitasi Kader Masyarakat;
Lembaga Komunitas serta masyarakat secara umum. Tim fasilitator merupakan bagian dari
Tim Konsultan. Adapun tugas dari fasilitator adalah:
1. Melakukan sosialisasi yaitu menyebarkan informasi mengenai program pemberdayaan
masyarakat dalam masalah air bersih dan sanitasi.
2. Menyebar luaskan pengetahuan mengenai sanitasi lingkungan.
3. Mencatat semua data kemajuan proyek di lapangan.
4. Melakanakan kegiatan pelatihan untuk memperkuat dan mengembangkan kapasitas kader
masyarakat sebagai agen pemberdayaan masyarakat dalam mengelola air bersih dan
sanitasi yang sehat di wilayah lokasi pilot project.
5. Dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat, tim fasilitator bertugas antara lain
bersama masyarakat (kader masyarakat) memfasilitasi proses diskusi kelompok terfokus,
mengembangkan lembaga kemasyarakatan yang berkaitan dengan pengelolaan sanitasi
yang sehat; memperkenalkan berbagai macam teknologi sederhana air bersih dan sanitasi
terpadu,
6. Melaksanakan tugas advokasi, mediasi dan kemitraan strategis (networking) antar semua
pihak terkait yang bermanfaat bagi masyarakat.
7. Melaksanakan monitoring dan evaluasi








DAFTAR PUSTAKA
http://www.dimsum.its.ac.id/id/?page_id=9 diakses tanggal 17 Oktober 2012 pukul 19.05
http://rivaarifin.blogspot.com/2012/03/pengenalan-metode-pemberdayaan.html diakses tanggal 17
Oktober 2012 pukul 19.06
avid Brokensha & Peter Hodge, Community Development: An Interpretation dalam Isbandi R.
Adi. 2005. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. FISIP UI Press
Adi, Isbandi Rukminto. (2002). Pemikiran-pemikiran Pembangunan Kesejahteraan Sosial.
Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
-. (2005). Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial (Pengantar pada
Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan). Jakarta: FISIP UI Press.
-. (2008). Intervensi Komunitas. Pengembangan Masyarakat sebagai Upaya
Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Rajawali.
Skidmore, et.all (1994) Introduction to Social Work, 6
th
editions. New Jersey, Prentice-Hall
Wrihatnolo, Randy R. dan Riant Nugroho Dwidjowijoto. (2007). Manajemen Pemberdayaan.
Jakarta: Gramedia.
http://bagasaskara.wordpress.com/2011/09/16/pemberdayaan-masyarakat-antara-pemerintah-
lsm-dan-ngo/ diakses tanggal 17 Oktober 2012 pukul 19.07
http://keepinmind-blog.blogspot.com/2011/11/tahapan-pelaksanaan-pemberdayaan.html diakses
tanggal 17 Oktober 2012 pukul 19.09
http://id.scribd.com/doc/76408558/Metode-Pemberdayaan-Masyarakat diakses tanggal 17 Oktober
2012 pukul 19.12