Anda di halaman 1dari 6

1.

Perbedaan analgesik dan anestesi


Anestesia adalah obat yang dapat menimbulkan anestesia atau depresi di SSP yang
bersifat reversibel dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan sehingga mirip
pingsan. Sedangkan analgetika adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa
nyeri tanpa menhilangkan kesadaran (Tjay dan Rahardja, 2007).
2. Nervus yang mempersarafi gigi yang harus di anestesi saat ekstraksi
Menurut Norton (2007) saraf yang harus dianestesi adalah:
a. Maxilla
1) N. Alveolaris superior anterior : Gigi anterior
2) N. Alveolaris superior media: gigi premolar dan akar mesiobukal M1
3) N. Alveolaris superior posterior: Gigi posterior
4) N. Palatinus major : Gigi posterior
5) N. Nasopalatinus : Gigi anterior
b. Mandibula
1) N. Mandibula
a) N. Alveolaris inferior
b) N. Mentalis
c) N. Bukalis
d) N. Lingualis
3. Obat anestesi dan dosisnya
Menurut Kamaludin dan Munaf (2009) obat anestesi merupakan senyawa kimia yang
mirip dengan senyawa yang memblok kanal Na pada membran sel saraf. Kebanyakan
obat anestesi lokal adalah derivat benzen sederhana yaitu, ester atau amida. Obat
anestesi lokal memiliki rumus dasar yang terbagi atas 3 bagian, yaitu (1) gugus amin
hidrofil berbentuk amin tersier atau amin sekunder yang dihubungkan oleh (2) suatu
gugus antara (3) gugus residu aromatik lipofil. Gugus antara dan gugus aromatik di
hubungkan sengan ikatan amida dan ikatan ester.
a. Ester
Obat anestesi lokal dari golongan ini umumnya kurang stabil dan mudah
dimetabolisme karena gugus ester akan terhidrolisis pada proses degradasi dan
inaktivasi dalam tubuh. Obat golongan ester ini lebih sering terjadi reaksi alergi.
1) Kokain
Kokain merupakan obat anestesi yang juga merupakan vasokonstriktor poten,
absorpsinya lambat dengan wakti paruh 1 jam setelah pemakaian oral atau
nasal. Indikasi obat anestesi ini untuk anestesi topikal pada hidung dan
tenggorokan.
2) Prokain
Prokain tidak dapat digunakan sebagai vasokonstriktor dan absorpsinya cepat
dari tempat obat tersebut disuntikan. Indikasi obat ini untuk anestesi lokal
dengan suntikan lokal, blokade saraf dan anestesi spinal.
3) Benzokain

4) Klorprokain
Klorprokain adalah derivat dari prokain halogen dengan potensi anastetik
lokal dua kali lebih kuat dari prokain dan dimetabolisme lebih cepat dari
prokain. Indikasi klinik anestesi ini adalah anestesi infiltrasi, blokade saraf dan
epidural.
5) Tetrakain
Tertakain merupakan ester PABA yang diabsorpsi secara cepat di saluran
nafas dan potensinya sepuluh kali lebih kuat serta lebih toksik dari prokain
intravena. Obat ini sering digunakan untuk anestesi spinal dan penggunaan
topikal pada mata dan nasofaring.
b. Amida
Obat anestesi golongan amida ini jarang menimbulkan alergi.
1) Lidokain
Lidokain memiliki vasodilator lokal, efeknya dua kali lebih kuat dan lebih
toksik dari prokain serta dimetabolisme di hati. Indikasi obat ini adalah untul
anestesi lokal topikal, ineksi lokal, IV untuk aritmia jantung.
2) Bupivacain
Bupivacain memiliki masa kerja yang panjang, digunakan untuk anestesi
infiltrasi, blokade saraf, anestesi spinal.
3) Mevicain
Mevicain memiliki potensi dan toksisitas mirip lidokain tetapi efek
vasodilatasi lokalnya kurang. Indikasi obat ini adalah untuk infiltrasi lokal,
blokade saraf dan anestesi spinal.
4. Tujuan penambahan vasokonstriktor pada obat anestesi
Vasokonstriktor diberikan bersamaan dengan obat anestesi untuk memperlambat
resorbsi dan memperkecil kemungkinan terjadinya toksisitas. Selain itu, keuntungan
lain dari penambahan vasokonstriktor adalah diperpanjangnya waktu kerja dan
mencegah terjadinya perdarahan. Vasokonstriktor yang sering digunakan adalah
epnefrin 1:200.000 dan norepinefrin 1:100.000. pemberian obat kombinasi ini
dilarang pada area tubuh tertentu seperti jari tangan atau kaki, hidung telinga dan
penis karena kemungkinan menimbulkan iskemia dan gangren (Tjay dan
Rahardja,2007).
5. Cara kerja dan area tiap metode
Menurut Howes (1992) cara anestesi lokal adalah:
a. Anestesi Topikal
Anestesi jenis ini untuk membaalkan ujung-ujung saraf superfisial. Anestesi ini
biasanya digunakan untuk membaalkan mukosa sebelum dilakukan anestesi
infiltrasi. Bahan aktif yang digunakan adalah lignokain hidroklorida. Anestesi
lokal tersedia dalam berbagai bentuk, antara lain:
1) Cairan
Kadar lignokain hidroklorida 10%. Anestesi ini mulai terasa efeknya 1 menit
setelah diaplikasikan dan memiliki durasi 10 menit.
2) Salep
Kadar lignokain hidroklorida 55%. Anestesi ini mulai terasa efeknya 3-4
menit setelah aplikasi.
3) Emulsi
Kadar lignokain hidroklorida 2%. Aplikasi anestesi ini dengan cara dikumur di
mulut dan orofaring selama 1-2 menit, setelah itu dikeluarkan. Biasanya
anestesi ini digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri pasca gingivektomi
dan tidak toksik bila tertelan secara tidak sengaja.
b. Anestesi infiltrasi
Anestesi di deposit dekat dengan serabut terminal dari saraf dan akan terinfiltrasi
di sepanjang jaringan. Teknik infiltrasi terdiri dari:
1) Suntikan submukosa
istilah ini digunakan bila larutan anestesi di depositkan tepat di membran
mukosa. Anestesi ini tidak memberikan efek baal pada pulpa. Teknik anestesi
ini biasanya untuk menganestesi saraf bukal sebelum pencabutan gigi molar
atau operasi jaringan lunak.
2) Suntikan supraperiosteal
Teknik ini sering qqdigunakan di dunia kedokteran gigi untuk
menganestesi gigi-gigi pada bagian maksila. Bagian yang menggunakan
teknik ini pada daerah maksila, bidang kortikal luar dari tulang alveolar.
Larutan di depositkan di luar periosteium, lalu larutan akan terinfiltrasi
melalui periosteium, bidang kortikal, dan tulang medularis ke serabut saraf.
Cara ini dapat menganestesi sepanjang apeks gigi
3) Suntikan subperiosteal
Teknik anestesi ini dilakukan dengan mendepositkan larutan antara
periosteium dan bidang kortikal. Teknik anestesi ini terasa sangat sakit,
sehingga teknik ini digunakan bila teknik lain tidak berhasil.
4) Suntikan intraosseus
Teknik ini dilakukan dengan mendepositkan larutan pada tulang medularis.
Teknik anestesi ini dilakukan setelah anestesi dengan teknik supraperioseus
diberikan, lalu dibuat insisi kecil melalui mukoperiosteum pada daerah yang
telah ditentukan untuk memperoleh jalan masuk untuk bur dan reamer kecil,
kemudian dibuat lubang melalui bidang kortikal bagian luar dengan alat yang
telah dipilih. Kedalaman lubang dibuat sedemikian rupa sehingga dekat
dengan apeks gigi tetapi tidak merusak gigi. Jarum yang terhubung dengan
hub diinsersikan melalui lubang yang telah dibentuk dan diteluskan ke tulang.
5) Suntikan intraseptal
Teknik ini merupakan modifikasi dari teknik intraosesus. Teknik ini kadang-
kadang digunakan bila anestesi menyeluruh sulit diperoleh atau teknik
supraperioseus tidak mungkin digunakan. Jarum yang digunakan adalah 27
gauge yang diinsersikan pada tulang lunak pada crest alveolar. Larutan akan
terdeposit melalui tulang medularis serta jaringan periodontal. Teknik
didahului dengan anestesi superfisial.
6) Suntikan intraligamental
Teknik ini dilakukan dengan menginsersikan jarum ke sulkus gingiva dengan
arah menjauhi gigi, lalu jarum didorong ke membran periodontal dengan sudut
sekitar 30
o
terhadap sumbu gigi. Jarum ditahan dengan jari operator agar tidak
bengkok dan di dorong ke penetrasi maksimal pada pegangan srynge selama 5
detik dengan tekanan ke belakang yang kuat untuk mendepositkan sejumlah
kecil larutan pada membran periodontal.
c. Anestesi Blok
Larutan anestesi ini didepositkan ke batang saraf sehingga terjadi pemblokiran
impuls pada semua saraf pada bagian tersebut. Teknik ini sering digunakan untuk
menganestesi mandibula di dunia kedokteran gigi. Dengan mendeposit larutan
anestesi di ruang pterigomandibular di dekat foramen mandibula, anestesi blok
padal seluruh saraf gigi inferior pada sisi tersebut akan diperoleh.
6. kontrol infeksi
a. Alat non disposible
Peralatan harus dicuci dengan teliti sehingga sisa darah, pus dan debris hilang.
Setelah itu, peralatan direbus dalam air mendidih selama 5 menit dan dalam
proses perebusan ini tidak boleh ada instrumen lain yang ditambahkan ke dalam
air panas tersebut. Kemudian peralatan yang telah di rendam dalam air panas
tersebut direndam dalam bahan sterilisasi kimia seperti etil alkohol 70%,
chlorhexidine digluconate 0,075% atau Cetrimide B.P 0,75% selama 30 menit.
Selain itu, peralatan juga dapat di sterilkan dengan menggunakan otoklaf dengan
uap panas 120
0
C selama 10-12 menit atau menggunakan open panas dengan panas
kering 160
0
C selama 60 menit (Howe, 1999).
b. Operator
Menurut Pedersen (2009) kontrol infeksi pada operator adalah sebagai berikut :
1) Pakaian Klinik
Pakaian klinik yang digunakan berlengan tidak melebihi siku sehingga
memungkinkan tangan dicuci sampai ke siku. Pakaian klinik harus diganti
setiap hari bila terkena darah. Pakaian klinik yang terkena darah dicuci dengan
air panas dan detergen.
2) Pencucian tangan
3) Triad barier
4) Masker
5) Imunisasi


DAFTAR PUSTAKA
Howe, G. L., 1999, Pencabutan gigi geligi, diterjemahkan oleh Jonathan, A.B, EGC,
Jakarta.
Howe, G.L.,1992, Anestesi Lokal, diterjemahkan oleh Lilian Yuwono, EGC, Jakarta.
Kamaluddin, M.T., dan Munaf, S., 2009, Kumpulan Kuliah Farmakologi FK Unsri,
EGC, Jakarta.
Norton, N., 2007, Netter Head and Neck Anatomy for Dentistry, Elsevier,
Philadelphia.
Tjay, T.H. dan Rahardja, K., 2007, Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan Efek
Sampingnya, Edisi Keenam, Gramedia, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai