Anda di halaman 1dari 3

Ikatan Logam

Sifat logam yang paling menonjol dibandingkan dengan sifat non logam adalah bahwa dalam
keadaan padat, umumnya logam logam bersifat ulet, liat, dapat ditempa mempunyai kekuatan
tarik tinggi, dapat dicampur dengan sifat yang beragam, mengkilap dan mempunyai daya hantar
listrik serta daya hantar panas yang relative tinggi. Semua ciri tersebut merupakan akibat
langsung dari gabungan ikatan struktur Kristal yang aneh yang dimiliki logam.
Apabila diperhatikan kedudukan unsure unsure logam dalam tabel periodic, maka dapat
dinyatakan bahwa elektronegativitas unsure logam umumnya tidak terlalu tinggi. Akibatnya,
electron terluar dalam atom atom logam relative terikat tidak terlalu kuat, dan electron
electron valensi logam dapat bergerak bebas. Oleh karena itu sesungguhnya suatu logam dalam
keadaan padat tersusun atas ion ion positif dengan electron bebas dalam logam akan
menghasilkan suatu ikatan kimia antara satu atom logam dengan logam lain. Ikatan semacam ini
dikenal dengan ikatan logam.
Adanya electron bebas dalam logam akan mengakibatkan sifat daya hantar listrik tinggi. Secara
tidak langsung, besarnya daya hantar listrik suatu logam sangat bergantung pada besarnya gaya
tarik menarik elektrostatik antara electron bebas dengan ion ion positif dalam logam tersebut.
Oleh karena itu, daya hantar listrik suatu logam sangat bergantung pada jenis logam.
Dalam keadaan padat, atom atom logam tersusun dalam konfigurasi yang paling tepat.
Kebanyakan logam mengkristal dalam salah satu dari struktur kemasan kubus pusat badan (kpb),
satu lapis atom terkemas rapat, dua lapis berulang yang mencirikan struktur kemasan rapat
heksagona (krh), tiga lapisan yang mencirikan kemasan rapat kubus. Dalam kpb, terlihat bahwa
hanya atom yang terletak pada diagonal kubus yang bersinggungan dengan delapan atom
tetangganya. Rapat Kristal kpb ialah 0.162 m/R
2
; m dan M masing masing adalah masa jari
jari atom.
Untuk krh, satu lapis atom yang bersinggungan ditutup dengan lapis kedua yang semua atomnya
sama. Maka, hanya setengah jumlah lubang pada lapis pertama yang dapat ditutup oleh lapis
kedua tadi. Dalam struktur krh, atom atom pada lapis ketiga menempati kedudukan tapak yang
sama diatas lapis pertama, dan semua atom pada lapis keempat mengulangi pola seperti lapis
kedua. Lapis berikutnya mengulangi lapis 1 dan 2.
Dalam kemasan rapat kubus (krk) juga disebut kubus pusat muka (kpm), struktur terdiri dari
lapis 1 dan 2 sama seperti struktur krh. Atom pada lapis ketiga tidak menempati tapa ulangan
lapis 1, tetapi menutupi lubang. Lapis berikutnya mengulangi pola lapis 1,2 dan 3, sehingga
dalam struktur krk tidak tampak lubang lubang yang menembus kisi. Baik krh maupun krk
memiliki rapatan 0.176 m/R
2
dan ada 12 atom tetangga terdekat untuk setiap atom. Dengan 8
atau 12 tetangga terdekat, sebagaimana terjadi dalam banyak logam yang lazim (Na, Ag, Au)
hanya satu electron tersedia untuk ikatan. Teori pasangan electron ikatan tidak dapat
menjelaskan dengan memuaskan ikatan antara begitu banyak atom dengan jumlah electron yang
demikian sedikit. Gaya vander wals yang lemah juga tak dapat menjelaskan kekuatan ikatan
logam.
Untuk memahami sifat ikatan dalam Kristal logam, kita gunakan teori orbital molekul. Dalam
Orbital Molekul pada molekul diatomic Li2, kedua orbital 2 s pada atom bergabung membentuk
Orbital Molekul ikatan dan anti ikatan dengan dua electron menempati tingkat yang lebih rendah.
Untuk 3 atom berderet, akan diperoleh Orbital Molekul ikatan, anti ikatan dan non ikatan. Untuk
4 atom Li, diperoleh 4 Orbital molekul. Jika N ( bilangan Avogadro ) atom Li dalam susunan
tiga dimensi, kita dapat menyimpulkan bahwa orbital 2s sebanyak N bertumpang tindih
membentuk Orbital Molekul lebar (sejumlah N) untuk Kristal dengan energy sedemikian rapat
sehingga hasilnya hampir continuum . Kelompok Orbital Molekul yang keadaan energinya
berdekatan disebut pita, dengan electron sebanyak N yang semula berkedudukan pada masing
masing atom Li sekarang menempati keadaan yang lebih rendah yaitu sebanyak N/2 OM.
Diagram rapatan electron yang berkaitan dengan keadaan ini dapat diturunkan dengan
menindihkan ( superimpose ) semua Orbital Molekul ikatan dalam Kristal, hasilnya merupakan
pola delokalisasi semua electron 2s pada Kristal di seputar teras dipegangi oleh lem electron
yang tersebar di sela sela. Ikatan tak berarah dan terdelokalisasi ini berguna dalam menjelaskan
banyak sifat logam. Kekuatan ikatan logam ( keampuhan lem electron ) ditunjukkan oleh kalor
sublimasi logam, atau perubahan entalphi untuk proses endoterm:
M(padat) M (atom terkucil berwujud gas ) H = H sub
Ada kesejajaran antara kedudukan yang rendah dalam table berkala dengan rendahnya energy
disosiasi molekul dwi atom.

Penurunan dapat disebabkan :
1. Meningkatknya ukuran atom
2. Jarak antar atom
3. Meningkatnya ukuran dan tersebarnya orbital atom penyumbang
4. Menipisnya lem electron yang ditimbulkan
H sublimasi beragam pada logam dalam periode panjang yang pertama . Keragaman ini
disebabkan oleh bebrapa factor :
1. Perbedaan dalam struktur Kristal
2. Ukuran atom logam
3. Jumlah dan jenis electron yang berperan
4. Keadaan spin
Beberapa hasil pengamatan yang berguna ialah :
1. Kekuatan ikatan meningkat dari K ke Ca ( satu electron s tambahan ternyata
berpengaruh)
2. Electron d dalam logam transisi berperan dalam ikatan
Dalam logam Li, orbital kosong yang lebih tinggi lainya disamping 2s dapat bertumpang
tindih membentuk pita kosong. Luasnya pertumpang tindihan dan lebarnya pita bergantung pada
:
Ukuran orbital
Jarak antar atom dalam Kristal