Anda di halaman 1dari 12

Vektor Penyakit Virus

Vektor Penyakit Nama Penyakit



Vektor Penyakit Virus
1. Penyakit Demam Berdarah (DHF)
2. Penyakit Japanese B. encephalitis
3. Penyakit Chikungunya
4. Penyakit Demam Kuning

Arthropoda yang berperan dalam penyakit virus
1. DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
Definisi
Penyebab : Virus demam dengue/Dengue fever virus (Den-1, Den
2, DEN-3, DEN-4).
Nama lain : Demam dengue, demam berdarah dengue (DBD) atau
dengue hemorrhagic fever (DHF), sindrom guncangan
dengue atau dengue shock syndrome (DSS).
Karakteristik : Virion sperikal terbungkus berdiameter 40-50nm, RNA
genom positif, Flaviviridae.
Patogenitas : Penyakit febril akut, dicirikan oleh demam selama 3-5
hari, sakit kepala, myalgia, arthralgia, Fatalitas sampai 50%.
Vektor : Aedes aegypti dan Ae albopictus.
Epidemiologi : Endemik di banyak Negara tropis (Asia, India, Karibia,
Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, serta Meksiko).
Sebaran inang : Manusia, nyamuk dan primat.
Penularan : Melalui gigitin nyamuk terutama Aedes aegypti.
Masa inkubasi : 3-14 hari, tetapi biasanya 4-7 hari.
Penampung : Manusia, nyamuk.
Demam dengue atau dengue hemorrhagic fever (DHF) atau dikenal sebagai demam
berdarah dengue disebabkan oleh salah satu dari empat antigen yang berbeda, tetapi sangat dekat
satu dengan yang lain, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 dari genus Flavivirus. Demam
berdarah dengue (DBD) adalah bentuk dengue yang parah, berpotensi mengakibatkan kematian.
DBD terjadi bilamana pasien mengidap virus dengue sesudah terjadi infeksi sebelumnya
oleh tipe virus dengue lain. Jadi, imunitas sebelumnya terhadap tipe virus dengue yang lain
adalah penting dalam menghasilkan penyakit DBD yang parah. Infeksi oleh salah satu serotype
ini tidak menimbulkan imunitas dengan protektif-silang (cross-protective) sehingga seseorang
yang tinggal di daerah endemik dapat terinfeksi oleh demam dengue selama hidupnya. Penyakit
ini terutama terdapat didaerah tropis. Virus penyebab penyakit bertahan hidup dalam siklus yang
melibatkan manusia dan nyamuk Aedes aegypti yang merupakan nyamuk yang hidup aktif di
siang hari dan lebih senang mengisap darah manusia.
Menurut World Health Organization (1997), DBD diklasifikasikan menjadi 4 tingkat
keparahan.
1. Derajat I : Demam disertai dengan gejala konstitusional non-spesifik, satu - satunya
manifestasi perdarahan adalah tes torniket positif dan muntah memar.
2. Derajat II : Perdarahan spontan selain manifestasi pasien pada Derajat I, biasanya pada
bentuk perdarahan kulit atau perdarahan lain.
3. Derajat III : Gagal sirkulasi dimanifestasikan dengan nadi cepat dan lemah serta
penyempitan tekanan nadi atau hipotensi, dengan adanya kulit dingin dan lembab serta
gelisah.
4. Derajat IV : Syok hebat dengan tekanan darah atau nadi tidak terdeteksi.
Klasifikasi DBD menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2010) yaitu:
a. Dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda bahaya (dengue without warning
signs). Kriteria dengue tanpa tanda bahaya dan dengue
dengan tanda bahaya:
1) Bertempat tinggal di atau bepergian ke daerah endemik dengue.
2) Demam disertai 2 dari hal berikut : Mual, muntah, ruam, sakit dan nyeri, uji
torniket positif, lekopenia, adanya tanda bahaya.
3) Tanda bahaya adalah Nyeri perut atau kelembutannya, muntah berkepanjangan,
terdapat akumulasi cairan, perdarahan mukosa,letargis, lemah, pembesaran hati >
2 cm, kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang
cepat.
4) Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma
tidak jelas)
b. Dengue berat (severe dengue). Kriteria dengue berat :
1) Kebocoran plasma berat, yang dapat menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan
dengan distress pernafasan.
2) Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi gangguan organ berat, hepar (AST
atau ALT 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ lain). Untuk
mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji tourniquet.

Vektor Utama
Sebagai pembawa virus dengue Ae. aegypti merupakan pembawa utama primary vector)
dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota. Nyamuk-
nyamuk aedes berkembang biak dalam air-air bersih yang tertampung dalam kontainer bekas
seperti botol-botol plastik, kaleng-kaleng bekas, ban mobil bekas, terapung, bak-bak air
penampungan yang terbuka, bambu-bambu pagar, tempurung kelapa, pelepah kelapa, kulit-kulit
buah seperti kulit buah rambutan, vas-vas bunga yang berisi air, dan lain-lain
Nyamuk betina menggigit dan menghisap darah lebih banyak di siang hari terutama pagi
atau sore hari antara pukul 08.00 s/d 12.00 dan 15.00 s/d 17.00 WIB. Lebih menyukai darah
manusia daripada hewan. Lebih suka beristirahat di tempat yang gelap, lembab, dan tersembunyi
di dalam rumah atau bangunan, termasuk di kamar tidur, lemari, kamar mandi, kamar kecil
maupun di dapur. Di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah. Di dalam ruangan,
permukaan istirahat yang mereka suka adalah di bawah furnitur, benda yang tergantung seperti
baju, korden, serta di dinding. Senang tinggal di muara sungai yang mendangkal pada musim
kemarau, persawahan, perkebunan kangkung,rawa-rawa, dan bekas ban kendaraan yang
tergenang air.
2. ENSEFALITIS JEPANG ATAU JAPANESE ENCEPHALITIS (JE)
Nama : Japanese Encephalitis
Karakteristik : Togaviridae, Flavirus
Patogenitas : Fatalitas sampai 25-30 % terutama pada anak-anak
Vektor : Culex spp.
Epidemiologi : Asia, Cina, India, Australia Utara, Papua New Guinea,
daerah Pasifik
Sebaran inang : Manusia, kuda, babi.
Cara tular : Melalui gigitan nyamuk terutama nyamuk, Culex spp.
Masa inkubasi : 6-8 hari
Penampung : Manusia, nyamuk
Etiologi
Ensefalitis disebabkan oleh :
- Bakteri
- Virus
- Parasit
- Fungus
- Riketsia
Vektor utama dari virus ensefalitis Jepang di Asia Tenggara adalah Culex
tritaeniorhynchus, Cx. gelidus dan Cx. vishnu. Nyamuk-nyamuk ini berbiak di sawah, tempat-
tempat genangan air dan tempat-tempat permandian. Jenis-jenis nyamuk yang lain seperti Aedes
spp., Armigeres spp. dan Anopheles spp juga dapat menjadi vektor dari penyakit ini. Nyamuk,
Culex tritaeniorrhynchus banyak ditemukan pada persawahan di Sulawesi Utara. Berbeda
dengan nyamuk demam berdarah yaitu Aedes aegypti yang aktif pada waktu siang maka nyamuk
Culex spp. ada yang aktif pada waktu siang dan ada yang aktif waktu malam.

Gejala
Masa inkubasi dari virus JE adalah 4-16 hari. Kebanyakan infeksi JE tidak menunjukkan
gejala yang jelas. Dalam kasus yang serius gejala-gejala penyakit adalah sebagai berikut:
demam, sakit kepala, kesulitan berbicara dan disfungsi motor. Gejala awal pada anak-anak
adalah kehilangan nafsu makan (anorexia), mual, dan sakit perut. Sekitar 25-30 % dari kasus JE
bersifat fatal atau mematikan terutama anak-anak di bawah umur 10 tahun. Gejala lain yang
dapat terjadi adalah demam, dingin, kelelahan, sakit kepala, mual dan muntah-muntah. Konfusi
(pikiran menjadi kacau/bingung) dan agitasi (gerakan secara tidak teratur) dapat terjadi pada
tingkat awal.

3. CHIKUNGUNYA
Penyebab : Virus Chikungunya
Nama Lain : Demam Chikungunya, CHIK, Buggy Creek Virus atau Epidemik
Poliartritis
Karakteristik : Togaviridae (Alfavirus), sperikel, virion terbukus berdiameter 60nm,
RNA genom
Vektor : Aedes spp, Culex spp, Mansonia spp dll
Patogenitas : Penyakit virus febril
Epidemiologi : Afrika, India, Asia Tenggara
Sebaran Inang : Manusia, Primat, Mamalia, Burung
Penularan : Melalui gigitan nyamuk
Masa inkubasi : 3-12 hari



Vektor
Berbeda dengan vektor virus demam berdarah yang hanya terbatas pada aedes aygepty
dan Ae. Albopictus, vektor penyakit cikungunya adalah jenis-jenis nyamuk seperti Aedes, Culex,
Anopheles, dan Mansonia.
Epidemiologi Chikungunya
a. Agent
Virus chikungunya (CHIKV), suatu arthropoda borne virus (arbovirus) dari genus
Alphaviruses famili Togaviridae, yang pada umumnya disebarluaskan melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti atau Aedes albopictus.
b. Host
Virus Chikungunya (CHIKV) diyakini memiliki siklus sylvatic dan terdapat pada
monyet vervet, babon, monyet macaque, lemur dan tikus. Pada manusia, virus ini tidak memiliki
pengaruh khusus terhadap usia atau jenis kelamin tetapi tampak bahwa anak-anak, orang tua dan
keadaan immunocompromise merupakan yang paling mudah terpengaruh.









Gambar. Virus chikungunya pada nyamuk

c. Environment
Para Ae spesies. albopictus berkembang biak di tempat-tempat yang tergenang air, seperti
sekam kelapa, buah kakao, tunggul bambu, lubang pohon dan kolam batu, contoh lain seperti ban
kendaraan dan piring di bawah pot-pot tanaman. Habitat Nyamuk Ae. albopictus juga di daerah
pedesaan serta pinggiran kota dan taman kota teduh. Nyamuk Ae. aegypti lebih erat
hubungannya dengan tempat tinggal manusia karena nyamuk-nyamuk tersebut berkembang biak
pada tempat-tempat disekitar ruangan , seperti vas bunga, tempat penyimpanan air dan bak
kamar mandi, demikian juga dengan nyamuk Ae. albopictus.


Riwayat Alamiah Penyakit
Masa inkubasi dan klinis
Manifestasi klinis sangat bervariasi mulai dari penyakit yang asimptomatik sampai dengan
penyakit berat yang dapat melemahkan. Anak-anak berada di antara kelompok yang berisiko
maksimal untuk mengalami manifestasi berat tersebut dan beberapa gambaran klinis dalam
kelompok ini berbeda dengan apa yang ada pada orang dewasa. Setelah masa inkubasi, rata-rata
antara 2 sampai 4 hari (rentang: 2 sampai 12 hari), penyakit mulai bermanifes tanpa gejala
prodroma, dengan gambaran khas demam, ruam dan artralgia.
Infeksi virus chikungunya pada anak dapat terjadi tanpa gejala. Adapun gejala klinis yang
sering dijumpai pada anak umumnya berupa demam tinggi mendadak selama 1-6 hari, disertai
dengan sakit kepala, fotofobia ringan, mialgia dan artralgia yang melibatkan berbagai sendi, serta
dapat pula disertai anoreksia, mual dan muntah.
Pada bayi, secara tipikal penyakit dimulai dengan adanya demam yang mendadak, diikuti
kulit yang merah. Kejang demam dapat terjadi pada sepertiga pasien. Setelah 3-5 hari demam,
timbul ruam makulopapular minimal dan limfadenopati, injeksi konjungtiva, pembengkakan
kelopak mata, faringitis dan gejala-gejala serta tanda-tanda dari penyakit traktus respiratorius
bagian atas umum terjadi, tidak ada enantema. Beberapa bayi mengalami kurva demam bifasik.
Artralgia mungkin sangat hebat, walaupun hal tersebut jarang tampak.
Nyamuk Aedes aegypti dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit
manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah
demam timbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10
hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat
gigitan berikutnya. Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari (intrinsic
incubation period) sebelum menimbulkan penyakit.
Menjelang akhir fase demam (3 sampai 5 hari) kebanyakan pasien mengalami ruam
makulopapular yang difus dan biasanya pada lengan, punggung dan bahu dan kadang-kadang di
seluruh tubuh. Ruam ini biasanya berlangsung 48 jam. Pada saat ini sering terjadi limfadenopati
hebat. Demam pada umumnya akan mereda setelah 2 hari, namun keluhan lain, seperti nyeri
sendi, sakit kepala dan insomnia, pada sebagian besar kasus akan menetap 5-7 hari.

Penderita
bahkan dapat mengeluhkan nyeri sendi dalam jangka waktu yang lebih lama. Nyeri sendi ini
dapat berlangsung berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan pada beberapa kasus hingga
beberapa tahun, tergantung dari umur penderita.













Gambar. Penularan penyakit






Gambar. Gejala chikungunya
Masa Laten dan periode infeksi
Setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi, onset penyakit terjadi biasanya antara empat dan
delapan hari, tetapi dapat berkisar dari dua sampai 12 hari. CHIKV infeksi (baik klinis atau
diam) diperkirakan memberikan kekebalan seumur hidup.
Penyakit ini merupakan penyakit epidemik yang timbul dalam jangka waktu 7-8 tahun
namun bisa sampai 20 tahun baru timbul kembali.

Gejala
Sesudah masa inkubasi selama 3-12 hari, gejala awal adalah seperti flu, sakit kepala yang
parah, kedinginan, demam (>40
o
C), sakit pada persendian, nausea (mual), dan muntah-muntah.
Sendi-sendi utama menjadi bengkak dan sakit bila disentuh. Sering terjadi rash (bintik-bintik
kecil atau ruam). Jarang terlihat adanya pendarahan (hemorrhage). Penderita yang sakit jarang
yang sembuh dalam waktu 3-5 hari. Sering dapat menderita sakit pada persendian selama
beberapa bulan.

4. PENYAKIT DEMAM KUNING
Demam kuning adalah penyakit demam akut yang ditularkan oleh nyamuk. Demam ini
dikenali sebagai penyakit untuk pertama kalinya pada abad ketujuh belas, namun baru pada
tahun 1900 sampai 1901 Walter Reed dan rekan-rekannya menemukan hubungan antara virus
demam kuning dengan nyamuk Aedes aegypti dan penemuan ini membuka jalan bagi
pengendalian penularan penyakit demam kuning ini.
Demam kuning merupakan penyakit yang gawat di daerah tropika. Selama lebih dari 200
tahun sejak diketahui adanya perjangkitan di Yukatan pada tahun 1648, penyakit ini merupakan
salah satu momok terbesar di dunia. Pada tahun 1905, New Orleans dan kota-kota pelabuhan di
Amerika bagian Selatan terjangkit epidemi demam kuning yang melibatkan sekurang-kurangnya
5000 kasus dan menimbulkan banyak kematian. Imunisasi diperlukan bagi pengunjung ke tempat
epidemi.
Penyebab Penyakit Demam Kuning
Penyebab penyakit menular ini adalah virus RNA kecil yang secara antigenik tergolong
dalam genus Flavivirus dan famili Flaviviridae. Klasifikasi virus ini sebagai berikut:
Divisio : Protiphyta
Kelas : Mikrotatobiotes
Ordo : Virales
Famili : Flaviviridae.
Genus : Flavivirus
Gejala
Infeksi yang disebabkan oleh flavivirus sangat khas yaitu mempunyai tingkat keparahan
sindrom klinis yang beragam. Mulai dari infeksi yang tidak nampak jelas, demam ringan, sampai
dengan serangan yang mendadak, parah dan mematikan. Jadi, pada manusia penyakit ini berkisar
dari reaksi demam yang hampir tidak terlihat sampai keadaan yang parah.
Masa inkubasi demam kuning biasanya berkisar 3 sampai 6 hari, tapi dapat juga lebih
lama. Penyakit yang berkembang sempurna terdiri dari tiga periode klinis yaitu :
a. Infeksi meliputi viremia, pusing, sakit punggung, sakit otot, demam, mual, dan
muntah.
b. Remisi (gejala infeksi surut).
c. Intoksikasi meliputi suhu mulai naik lagi, pendarahan di usus yang ditandai dengan
muntahan berwarna hitam, albuminuria, dan penyakit kuning akibat dari kerusakan
hati. Pada hari ke delapan, orang yang terinfeksi virus ini akan meninggal atau
sebaliknya akan mulai sembuh. Laju kematiannya kira-kira 5 persen dari keseluruhan
kasus. Sembuh dari penyakit ini memberikan kekebalan seumur hidup.

Distribusi Penyakit
Demam kuning merupakan akibat dari adanya dua daur pemindah sebaran virus yang pada
dasarnya berbeda yaitu kota dan hutan (silvatik). Daur kota dipindah sebarkan dari orang ke
orang lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Sekali terinfeksi, nyamuk vektor itu akan tetap
mampu menyebabkan infeksi seumur hidupnya. Demam kuning hutan berjangkit pada hewan
liar. Virus demam kuning yang sama ditularkan diantara hewan-hewan tersebut dan kadang-
kadang juga terhadap manusia oleh nyamuk selain Aedes aegypti. Ada beberapa nyamuk seperti
A. Simponi yang hidup dengan menghisap darah primata yang telah terinfeksi, menyusup ke
kebun-kebun desa lalu memindahkan virus tersebut ke manusia. Sekali demam kuning berjangkit
di kembali di daerah kota, maka daur kota demam kuning akan dimulai kembali dan
kemungkinan akan berkembang menjadi epidemi.
Demam kuning hanya terjadi di Afrika dan Amerika Selatan di negara yang terletak dekat
khatulistiwa. Pengunjung yang belum diimunisasi, dan orang tinggal di kawasan-kawasan ini
menghadapi risiko infeksi.

Patogenesis
Flavivirus mempunyai kemampuan khas untuk berkembangbiak di dalam jaringan
vertebrata dan beberapa artropoda penghisap darah. Virus-virus ini setelah terinokulasi di dalam
jaringan inang yang rentan, dan dapat berkembangbiak dengan cepat dan tidak lama kemudian
menyebabkan viremia. Mereka dapat ditemukan setempat dalam suatu organ tertentu,
menyebabkan kerusakan jaringan dan terganggunya fungsi organ, dan pada akhirnya
menyebabkan kematian inang. Pada demam kuning, kerusakan hati mengakibatkan
berkembangnya penyakit kuning. Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit ini kecuali
pengobatan untuk menghilangkan gejala dan menguatkan badan.
Cara Penularan
Di daerah perkotaan dan di beberapa daerah pedesaan penularan terjadi karena gigitan
nyamuk Aedes aegypti. Di hutan-hutan di Amerika Selatan penularan terjadi akibat gigitan
beberapa spesies nyamuk hutan dari genus Haemagogus. Di Afrika Timur Aedes africanus
merupakan vector pada populasi kera dimana Ae. Bromeliae dan Ae. Simpsoni (semidomestik)
dan mungkin spesies aedes lainnya berperan menularkan virus dari kera ke manusia. Di daerah
yang pernah mengalami wabah yang luas seperti di Ethiopia, studi epidemiologis membuktikan
Ae. Simpsoni berperan sebagai vector yang menularkan virus dari orang ke orang. Di Afrika
Barat Ae. furcifer taylori, Ae. luteocephalus dan spesies lain berperan sebagai vector penularan
virus dari monyet ke manusia. Ae. Albopictus dibawa ke Brazil dan Amerika Serikat dari Asia
dan diduga sangat potensial berperan sebagai jembatan perantara antara siklus demam kuning
tipe sylvatic dengan siklus tipe perkotaan di belahan bumi bagian barat. Infeksi ini tidak
ditularkan secara langsung dari orang ke orang atau dari binatang ke manusia.
Pencegahan
Vaksinasi merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah demam kuning. Vaksinasi
harus diberikan di pusat vaksinasi yang disetujui dan harus diberikan sertifikat vaksinasi demam
kuning internasional.
Menurut Undang-undang Karantina Australia 1908, siapapun yang berusia lebih dari satu
tahun harus mempunyai sertifikat vaksinasi demam kuning jika telah menginap semalam atau
tinggal lebih lama di negara yang dinyatakan terinfeksi demam kuning, dalam waktu enam hari
sebelum kedatangan ke Australia. Negara-negara dapat menolak masuk siapapun yang tidak
mempunyai sertifikat sah vaksinasi demam kuning, yang baru-baru ini berada di Negara yang
terinfeksi demam kuning, dan ada antaranya yang hanya akan memperbolehkan masuk orang
yang belum divaksinasi setelah divaksinasi di perbatasan. Sterilitas vaksin yang diberikan dalam
situasi tersebut tidak selalu terjamin. Orang yang datang ke Australia dari negara yang terinfeksi
demam kuning, yang tidak mempunyai sertifikat vaksinasi demam kuning, akan diwawancarai
saat tiba oleh petugas dari Pelayanan Pemeriksaan Karantina Australia (AQIS). Petugas AQIS
hanya dapat memperbolehkan masuk orang yang belum divaksinasi jika mereka menyetujui
secara tertulis untuk memberi tahu dinas kesehatan jika mengalami gejala manapun infeksi
demam kuning, dalam waktu enam hari setelah keberangkatan dari tempat yang dinyatakan
terinfeksi demam kuning. Pengunjung ke negara yang terinfeksi demam kuning juga harus
mengambil langkah-langkah untuk mencegah digigit nyamuk:
a. Memakai pakaian longgar dengan lengan panjang
b. Menggunakan pencegah nyamuk (berisi DEET atau picardin) pada bagian
tubuh yang terekspos.
c. Tinggal di akomodasi yang tahan nyamuk (mis. menggunakan kelambu).

Daftar pustaka
Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
Pelczar, M. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press
Soegijanto, Soegeng. 2004. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia.
Surabaya : Airlangga University Press