Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Berdasarkan Pedoman Akademik Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2014, mata
kuliah Program Latihan Akademik atau PLA merupakan mata kuliah yang harus ditempuh oleh
mahasiswa program pendidikan non guru dan program nonkependidikan yang dimaksudkan
untuk mempersiapkan calon-calon tenaga kependidikan nonguru dan calon pemegang profesi
lainnya.
Jurusan Psikologi adalah salah satu jurusan nonkependidikan UPI yang menerapkan
Program Latihan Akademik (PLA) sebagai perkuliahan yang wajib diikuti oleh seluruh
mahasiswa Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, yang
dilaksanakan pada semester 8. Secara khusus, PLA jurusan Psikologi FIP UPI bertujuan agar
mahasiswa dapat melakukan analisis masalah dan kebutuhan di lapangan (tempat praktik) yang
berada dalam konteks kajian ilmu psikologi, dapat memperoleh pengalaman langsung untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya selama perkuliahan (menyusun program
kegiatan) sesuai dengan permasalahan, kebutuhan, dan kondisi di lapangan (tempat praktik),
dapat membantu mengembangkan program kerjasama antara jurusan Psikologi FIP UPI dengan
lembaga tempat praktik, dapat membantu pihak jurusan untuk memperoleh data/ informasi
sebagai umpan balik dari lapangan terhadap pelaksanaan PLA Jurusan Psikoloi FIP UPI.
Dalam hal ini praktikan tertarik dalam bidang psikologi klinis. Melalui PLA kali ini
praktikan berkesempatan mengaplikasikan ilmu yang didapat selama masa perkuliahan di kelas
pada bidang psikologi klinis yaitu di lembaga yang bernama LPA kelas III Bandung. Sebelum
pelaksanaan PLA berlangsung, praktikan melakukan wawancara dan observasi kepada pihak
LPA kelas III Bandung dari hasil wawancara dan observasi tersebut diketahui bahwa LPA Kelas
III Bandung memberikan pelayanan yang meliputi pembinaan berdasarkan undang-undang
perlindungan anak bagi anak yang terlibat kasus hukum.
Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas III Bandung yang mulai beroperasi semenjak
tahun 2013 berusaha untuk memfasilitasi dan menjalankan proses pembinaan atas anak yang
berhadapan dengan hukum dan harus menjalani proses hukum pidana berdasarkan Undang-
Undang Sistem Peradilan Anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak. LPA Kelas III
Bandung mulai beroperasi dan mulai melakukan pembinaan terhadap anak didik pemasyarakat
(andikpas) yang terlibat kasus hukum dan harus menjalani masa pidana sejak tahun 2013.
Dalam UU No. 11 Tahun 2012 dijelaskan bahwa anak-anak memiliki peranan strategis
yang secara tegas dinyatakan bahwa negara menjamin keberlangsungan hidup, tumbuh kembang
serta perlindungan atas diskriminasi. Oleh karena itu keberadaan LPA kelas III Bandung
merupakan upaya dari apa yang dicanangkan dan diusahakan oleh pemerintah sebagai salah satu
bentuk perlindungan khusus terhadap anak yang terlibat kasus hukum.
Fakta di lapangan menunjukan bahwa tidak sedikit anak yang terlibat kasus hukum
pidana. Ketika menghadapi dan menangani proses peradilan anak yang terlibat tindak pidana,
maka hal pertama yang tidak boleh dilupakan adalah melihat kedudukannya sebagai anak dengan
semua sifat dan ciri-cirinya yang khusus. Dengan demikian orientasi proses peradilan anak
tersebut bertolak dari konsep perlindungan anak selama proses penangan dan peradilan hukum
yang berlangsung.
Oleh karena itu proses penahanan pada anak harus berasaskan pembinaan dan pendidikan
yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Maka dari itu proses
pembinaan dan pendidikannya harus diarahkan pada pengembangan diri, pengembangan potensi,
minat dan bakat, serta rekreasi. Rentang usia anak dalam undang-undang tercatat sampai 18
tahun. Dalam rentang usia tersebut andikpas (anak didik Lapas) yang rata-rata berkisar antara 14-
20 tahun masuk ke dalam kategori fase remaja yang menurut Santrock ada dalam fase storm and
stress sehingga harus tetap diperhatikan kepentingan yang menyangkut pertumbuhan dan
perkembangan anak baik fisik, psikologis, maupun sosial anak dan remaja.
Terlibat dalam proses penahanan bagi anak berarti kehilangan kebebasan fisik,
kehilangan kontrol atas hidup, kehilangan keluarga, kehilangan barang dan jasa, kehilangan
keamanan, kehilangan kesempatan hubungan heteroseksual, kurangnya stimulasi dan resiko
gangguan psikologis, kehilangan hak pribadi, kehilangan kerahasiaannya dari akibat prasangka
buruk dari masyarakat, dan kepedihan dari proses infantilisasi.
Proses infantilisasi artinya andikpas menjalani hukuman dengan menjalani kehidupan
sebagai tahanan dan hidup di balik bilik Lembaga Pemasyarakatan. Hal ini tentu akan merubah
pola dan kebiasaan hidup pada lingkungan sebelumnya. Keterbatasan ruang fisik dan psikologis
khususnya hilangnya kebebasan diri dalam menjalani kehidupan social dalam masa
perkembangan seorang remaja tentunya memberikan dampak yang tidak mustahil justru akan
berpengaruh buruk bagi perkembangan sang remaja.
Oleh karena itu proses penahanan pada anak harus berasaskan pembinaan dan pendidikan
yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Maka dari itu proses
pembinaan dan pendidikannya harus diarahkan pada pengembangan diri, pengembangan potensi,
minat dan bakat, serta rekreasi.
Program pembinaan yang ada di LAPAS Anak Kelas III Sukamiskin baru meliputi
pendidikan agama yang dilaksanakan setiap hari selasa sampai jumat setiap pukul 10:00 12:00
WIB dan pelatihan pramuka yang dilaksanakan setiap hari senin pukul 10:00 12:00 WIB.
Adapun untuk pelatihan keterampilan dan pemenuhan kebutuhan anak didik LAPAS seperti
kebutuhan rekreasi, pengembangan minat dan bakat, pendidikan belum terpenuhi secara
komprehensif karena infrastruktur yang belum memadai.

B. Permasalahan
Masalah yang muncul di LPA kelas III Bandung adalah bagaimana merancang program
pembinaan yang sesuai dengan undang-undang perlindungan anak dan undang-undan peradilan
anak untuk andikpas. Melihat karakteristik andikpas yang masih ada di fase remaja, maka
mereka masih ada dalam fase perkembangan yang penuh dengan tekanan. Sehingga
menyebabkan kurang stabilnya kondisi psikologis andikpas.
Oleh karena itu dibutuhkan penanganan psikologis yang berbeda pada setiap andikpas
tergantung dari bagaimana kepribadian andikpas, apa kasus yang melibatkan andikpas dalam
proses pemidanaan, dan bagaimana andikpas memandang proses pemidanaan yang menimpanya.
Hal ini menyebabkan perlu dilakukan asesmen psikologis agar perancangan program pembinaan
sesuai dengan kebutuhan perkembangan psikologis, kognitif, afektif andikpas yang masih
remaja.
Andikpas pada umumnya memiliki latar belakang keluraga dengan ekonomi menengah
ke bawah, atau keluarga yang berakhir dengan perceraian. Dampak psikologis yang mereka
alami akibat konflik dalam keluarga serta bagaimana peran orang tua dalam membangun nilai-
nilai yang mereka pegang menjadi salah satu permasalahan yang harus digali untuk mengetahui
penyebab andikpas terlibat kasus hukum. Namun sebelum itu, harus diketahui karakteristik dari
andikpas.
Di sini pegawai LPA harus memahami dengan baik bagaimana karakteristik andikpas, hal
itu dapat dilakukan dengan melakukan asesmen. Asesmen ini dapat berupa asesmen kognitif dan
kepribadian. Hasil asesmen kognitif dan kepribadian dapat menjadi bekal untuk andikpas yang
setelah menyelesaikan masa pidana.
Pada awal praktikan melakukan Program Latihan Akademik, praktikan diminta untuk
membantu menggali motif dan resiko residivis. Namun instrument yang digunakan di LPA
dirasa kurang menggali secara menyeluruh kondisi dan faktor dibalik terlibatnya andikpas dalam
tindakan yang melanggar hukum sehingga harus menjalani proses pemidanaan. Dalam
instrument tersebut terdapat pertanyaan mengenai latar belakang andikpas secara umum dan
lebih berfokus pada kronologis kasus hukum yang melibatkan andikpas. Asesmen motif dan
asesmen resiko residivis dilakukan oleh staff administrasi dan orientasi ketika andikpas pertama
kali masuk ke LPA kelas III Bandung dan mulai menjalani proses hukum.
Oleh karena itu, perlu dibuat pedoman wawancara yang dapat menjadi acuan yang
diharapkan dapat menggali informasi yang mendalam dan tidak membutuhkan waktu yang
panjang. Wawancara ini tidak hanya terfokus pada kejadian yang menyebabkan andikpas harus
menjalani proses hukum dan pemidanaan, namun menggali lebih mendalam mengenai andikpas
dan latar belakangnya.
Berdasarkan analisis kebutuhan di atas, sesuai dengan batas kewenangan Mahasiswa
Sarjana Psikologi, maka yang menjadi perumusan masalah dalam membantu LPA Kelas III
Sukamiskin Bandung di antaranya :
1. Bagaimana pelaksanan dan hasil asesmen andikpas yang dapat menggali aspek-aspek psikologis
yang ingin diketahui?
2. Bagaimana rancangan pedoman wawancara untuk andikpas agar tergali kondisi psikologisnya?
3. Bagaimana efektivitas program pembinaan yang sudah berjalan?
4. Bagaimana cara meningkatkan efektivitas program pembinaan yang sudah dan akan berjalan?




BAB II
PROGRAM KEGIATAN

Berdasarkan permasalahan yang ditemui praktikan di lapangan yaitu belum ada standar
acuan mengenai data yang diperlukan LPA kelas III Sukamiskin Bandung untuk mendapatkan
pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi psikologis andikpas, maka praktikan menyusun
kegiatan yang diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Adapun kegiatan tersebut
berupa pelaksanaan asesmen terhadap korban kekerasan terhadap perempuan dan anak serta
korban perdagangan manusia serta penyusunan pedoman wawancara untuk andikpas sebagai
program utama dan merancang modul focused group discussion berupa morning meeting sebagai
program tambahan.
Kegiatan yang dilakukan oleh praktikan adalah asesmen. Yang dimaksud dengan
asesmen menurut Sunberg (Wiramihardja, 2007:64), merupakan proses yang digunakan
seseorang atau beberapa orang untuk mengembangkan kesan dan citra, membuat keputusan dan
mengecek hipotesis mengenai pola karakteristik orang lain yang menentukan perilakunya dalam
berinteraksi dengan lingkungan.
Asesmen klinis menurut Kendall (Wiramihardja, 2007: 64) merupakan proses
pengumpulan informasi mengenai klien atau subjek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih
baik mengenai seseorang. Asesmen klinis mencakup evaluasi mengenai kekuatan dan kelemahan
individu, penyebab masalah individu, dan rekomendasi untuk mengurangi masalah individu
tersebut. (Trull, 2005)
Adapun sasaran asesmen klinis (Wiramihardja, 2007) diharapkan dapat memberikan
kesimpulan mengenai:
1. Disfungsi (psikologis) individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam
aspek pikiran emosi, atau tindakan
2. Kekuatan klien dalam hal kemampuan, keterampilan, atau sensitivitas yang menjadi
target evaluasi
3. Untuk mengevalusi dan menggambarkan kepribadian subjek meliputi kebutuhan,
motivasi, pertahanan, dan pola perilaku subjek.
Adapun tujuan penyusunan rancangan asesmen pada klien korban perdagangan manusia
dan pelaksanaan asesmen pada klien korban kekerasan diharapkan mampu memberikan
gambaran mengenai kekuatan dan kekurangan klien, penyebab masalah klien serta dapat
memberikan rekomendasi untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Metode asesmen yang dapat dilakukan berupa riwayat hidup, wawancara, observasi, tes
terstruktur, dan tes tidak tersturktur.
1. Riwayat hidup
Riwayat hidup atau latar belakang kehidupan dapat diartikan sebagai proses
perkembangan dalam jangka panjang yang terjadi dalam suatu kurun waktu kehidupan
seseorang. (Misbach dkk, 2008)
2. Wawancara
Wawancara adalah situasi dimana terjadi pertukaran pandangan dan informasi
antara dua orang yang bertemu (Sunberg, Misbach dkk: 2008:19). Adapun tujuan umum
wawancara klinis adalah untuk memperoleh informasi tentang diri klien dan yang
bersangkutan dengan hal itu, memberikan informasi selama informasi tersebut dianggap
perlu dan sesuai dengan tujuan wawancara, memeriksa kondisi psikologis atau
memberikan diagnosa klien, dan mempengaruhi, mengubah, memodifikasi perilaku klien.
Tujuan wawancara yang dilakukan pada andikpas adalah untuk memeriksa dan
memberikan diagnosa klien (wawancara untuk kepentingan asesmen)
3. Observasi
Observasi adalah suatu aktivitas mengamati tingkah laku individu. Biasanya akan
diakhiri dengan mencatat hal-hal yang dianggap penting sebagai penunjang informasi
mengenai individu. Informasi yang diperoleh melalui observasi adalah informasi situasi
sekarang. (Misbach dkk, 2008). Observasi yang dilakukan pada andikpas dilakukan pada
situasi alamiah yaitu observasi yang dilakukan di ruang kegiatan seperti aula, masjid, dan
pavilion blok.
4. Tes Terstruktur
Tes terstuktur adalah tes yang meminta klien untuk menjawab pertanyaan dengan
tegas serta memberikan respon dengan cara yang terbatas. Tes terstruktur membutuhkan
standarisasi dan norma. (Wiramihardja, 2007)
5. Tes Tidak Terstruktur
Tes tidak terstruktur yaitu tes yang memberikan keleluasan bagi klien untuk
menjawab, tidak membutuhkan jawaban yan ditentukan secara tegas dan jelas.
(Wiramihardja, 2007)

Adapun rancangan asesmen yang dilakukan pada andikpas adalah sebagai berikut:

















Adapun penyusunan pedoman wawancara untuk andikpas diharapkan dapat
memberikan hasil berupa data yang lengkap mengenai klien yang bersangkutan. Sebelum
dilakukan penyusunan pedoman wawancara, praktikan terlebih dahulu mengumpulkan data
mengenai andikpas dengan tujuan untuk lebih memahami karakteristiknya diharapkan dapat
membantu praktikan menyusun pedoman wawancara yang sesuai. Pengumpulan data tersebut
dilakukan dengan melakukan asesmen pada andikpas berupa pemeriksaan psikologis, observasi
partisipan, dan wawancara informal. Pedoman wawancara yang dibuat oleh praktikan
merupakan wawancara riwayat kasus (the case-history interview).
Penyampaian Katarsis
Anamnesa
Asesmen
Observasi
Wawancara
Tes
PM
WZT
DAM
BAUM


Observasi
Adapun wawancara ini merupakan adaptasi dari garis besar dalam wawancara riwayat
kasus yang dikemukakan Norman D. Sunberg dalam Trull (2005). Isi dalam wawancara tersebut
adalah:
1. Identifikasi data, meliputi nama, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, tempat dan tanggal
lahir dan pendidikan.
2. Identifikasi kasus yang melibatkan subjek.
3. Masalah yang dihadapi saat ini, seperti gambaran kegiatan harian dan perubahan yang
terjadi.
4. Keluarga, yaitu gambaran mengenai ibu, ayah, atau anggota keluarga lain yang berperan
terhadap perkembangan subjek.
5. Riwayat kelahiran dan perkembangan.
6. Riwayat kesehatan seperti penyakit, kecelakaan, masalah obat atau alkohol
7. Riwayat pendidikan dan pelatihan
8. Pengalaman pekerjaan.
9. Rekreasi dan Minat
10. Perkembangan seksual
11. Status pernikahan dan data anggota keluarga
12. Gambaran mengenai diri, meliputi kelebihan, kekurangan, dan diri ideal yang diharapkan
13. Pilihan dalam hidup yang menurut klien merupakan keputusan yang penting mengenai
kehidupannya.
14. Pandangan mengenai masa depan.

Praktikan tidak memasukan semua isi dari wawancara yang dikemukan oleh
Norman D. Sunberg, praktikan memilih yang sesuai. Adapun beberapa isi dari garis besar
wawancara ini sudah terdapat didalam riwayat hidup sehingga praktikan memutuskan
untuk membuat pedoman wawancara berkaitan dengan konsep diri karena dalam isi garis
besar diatas ada beberapa isi yang dapat lebih digali apabila menggunakan konsep diri.
Data itu berupa deskripsi diri, deskripsi mengenai keluarga, serta harapan yang ingin
dicapai di masa yang akan datan. Selain untuk mendapatkan hasil mengenai hal tersebut,
pedoman wawancara mengenai konsep diri ini diharapkan dapat menggali motivasi
andikpas untuk bekerja atau latar belakang yang menyebabkan ia terlibat kasus hukum.
Adapun teori konsep diri yang dipakai oelh praktikan adalah teori konsep diri
yang di kemukakan oleh Markus (Sarwono, 2009). Konsep diri menurut Markus
(Sarwono, 2009).
Konsep diri menjadi sangat penting karena hal tersebut mempengaruhi sikap dan
perilaku seseorang, terurama dalam menanggapi pengalaman dan kejadian tertentu yang
menimpanya. Konsep diri bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, tapi berdasarkan proses
interaksi social. Konsep diri dipengaruhi oleh banyak hal. Ketika proses interaksi sosial
andikpas dibatasi, maka mereka kesulitan untuk mengambil informasi mengenai hasil
evaluasi dan penilaian orang lain terhadap dirinya. Mengetahui dan memaknai penilaian
orang lain terhadap diri andikpas adalah hal yang penting, demi perkembangan diri yang
lebih baik. Bagaimana andikpas menilai diri mereka dan mengasosiasikan identitas
personal mereka dengan relasi sosial.
Pada identitas personal, andikpas mungkin akan mendefinisikan dirinya
berdasarkan atribut atau sifat yang membedakan dirinya dengan orang lain dan hubungan
interpersonal yang dimiliki. Sedangkan dalam identitas sosial, andikpas mendefinisikan
dirinya berdasarkan keanggotaan dalam suatu kelompok sosial atau atribut yang dimiliki
bersama. Misalnya, bagaimana mereka mengasosiasikan dirinya yang tecatat sebagai
andikpas. Hal tersebut, bagaimana mereka mengasosiasikan diri dengan atribut sosial
yang mereka sandang sebagai andikpas memungkinkan terjadinya kesenjangan antara
actual self dengan ideal self atau ought self.
Pedoman wawancara ini akan diturunkan dari teori tersebut. Sedangkan untuk isi
yang lain seperti identitas, riwayat pendidikan, riwayat kesehatan, dan sebagainya akan
digali saat melakukan wawancara.