Anda di halaman 1dari 3

Pemeriksaan Fisik

Tanda Vital:
- Tensi: 120 mmHg Normal (N: <130 mmHg)
- Nadi: 72x/menit Normal (N: 60-100x/menit)
- Respirasi: 16x/menit Normal (N: 14-18x/menit)
- Suhu: 38,7C Febris (N: 36,5-37,2C)
Dari pemeriksaan fisik tanda vital di atas didapatkan bahwa pasien mengalami febris,
ini disebabkan oleh infeksi bakteri pada penyakit lepra yang diderita pasien. Febris ini
merupakan salah satu gejala klinis umum pada penderita lepra. Febris ini terjadi karena
proses respons imun terhadap infeksi bakteri sehingga terjadi proses inflamasi yang
melepaskan pirogen-pirogen yang menyebabkan terjadinya febris.

Status Lokalis:
- Regio kepala: sklera kuning (ikterus)
- Regio ekstremitas superior dan inferior:
Didapatkan di daerah lengan, pinggul, dan tungkai suatu nodul-nodul eritema,
nyeri raba, dan edema. Serta telapak kaki terdapat ulkus ukuran 2x3x0,5 cm.
Dari pemeriksaan fisik lokalis di atas, didapatkan bahwa pasien telah mengalami lepra
dengan reaksi nodular atau disebut dengan eritema nodusum leprosum (ENL). ENL ini
timbul ditandai dengan adanya nodul-nodul eritema dan nyeri, dengan tempat predileksi di
lengan dan tungkai. ENL ini terjadi karena adanya respons imun humoral, berupa fenomena
kompleks imun akibat reaksi antara antigen Mycobacterium leprae + antibodi (IgM, IgG) +
komplemen kompleks imun. Pada kasus ini didiagnosis bahwa pasien ini menderita lepra
tipe multibasiler dengan basil yang sangat banyak (BI: +6 BTA >1000), sehingga kadar
imunoglobulin/antibodi pada pasien ini juga sangat banyak. Pada saat pasien menjalani
pengobatan, banyak basil lepra yang mati dan hancur, berarti banyak antigen yang dilepaskan
yang bereaksi dengan antibodi, serta mengaktifkan sistem komplemen. Kompleks imun ini
terus beredar dalam sirkulasi darah yang akhirnya jika mencapai kulit, akan timbul gejala
klinis berupa nodul-nodul eritema dan nyeri raba, dan edema disertai dengan gejala konstitusi
berupa febris. Jika nodul-nodul ini tidak diatasi dan dibiarkan saja, maka akan berkembang
menjadi ulkus yang didapatkan pada pasien ini.
Selain itu, didapatkan sklera pasien kuning (ikterus) ini disebabkan oleh efek samping
pengobatan yang telah dijalani oleh pasien, yaitu pengobatan untuk lepra tipe multibasiler.
Obat yang dipakai untuk pengobatan lepra tipe multibasiler (MB), yaitu DDS (diamino
difenil sulfon), rifampisin, dan klofazimin (lamprene). Salah satu efek samping dari
penggunaan obat DDS, yaitu hepatitis (gangguan hepar), yang bisa menyebabkan terjadinya
ikterus pada pasien ini. Selain itu juga, efek samping dari penggunaan obat klofazimin
(lamprene), yaitu warna kekuningan pada sklera. Hal tersebut disebabkan oleh klofazimin
yang merupakan zat warna dan dideposit terutama pada sel retikuloendotelial, mukosa, dan
kulit. Kemudian obat rifampisin juga memiliki efek samping, hepatotoksik yang juga bisa
menyebabkan terjadinya sklera ikterus.

Pemeriksaan Bakterioskopik

Pemeriksaan bakterioskopik pertama (pada awal pasien berobat), didapatkan BI: +6
dan MI: 92%. BI yang +6 menunjukkan bahwa terdapat bakteri tahan asam (BTA) rata-rata
>1000 dalam satu lapang pandang. Sedangkan untuk MI yang 92% menunjukkan bahwa
persentase bentuk bakteri solid (hidup) yang ditemukan sangat tinggi/banyak dibandingkan
dengan yang nonsolid (mati). Pada pasien ini didiagnosis lepra dengan tipe multibasiler,
karena berdasarkan klasifikasi Ridley-Jopling apabila BI >+2, maka diklasifikasikan ke
dalam tipe multibasiler, sehingga pasien ini mendapatkan pengobatan multibasiler (MB).
Pemeriksaan bakterioskopik kedua, didapatkan BI: +5 dan MI: 25%. BI yang +5
menunjukkan bahwa terdapat bakteri tahan asam (BTA) rata-rata 101-1000 dalam satu lapang
pandang. Sedangkan untuk MI yang 25% menunjukkan bahwa persentase bentuk bakteri
nonsolid (mati) yang ditemukan sangat tinggi/banyak dibandingkan dengan yang solid
(hidup). Pada hasil pemeriksaan tersebut didapatkan penurunan BI dan MI. Ini merupakan
hasil/efek dari pengobatan yang telah dijalani oleh pasien.

Pemeriksaan Laboratorium
Jenis
Hasil Tes Laboratorium
Pasien
Nilai Normal Keterangan
Hb 9 gr% 13-18 gr%
Rendah
menunjukkan adanya
anemia
SGPT 92 U/l 7-32 U/l
Tinggi
menunjukkan adanya
gangguan hepar
SGOT 67 U/l 6-30 U/l
Tinggi
menunjukkan adanya
gangguan hepar

Interpretasi Hasil Laboratorium:

Dari hasil laboratorium didapatkan nilai Hb yang rendah, ini menunjukkan adanya
anemia pada pasien ini. Anemia pada pasien ini disebabkan oleh efek samping pengobatan
yang dijalani pasien, yaitu pengobatan lepra tipe multibasiler, yang salah satu obatnya, yaitu
DDS. DDS ini menyebabkan efek samping anemia hemolitik, yang mengakibatkan pasien ini
mengalami penurunan Hb. Selain itu, didapatkan nilai SGPT dan SGOT yang tinggi, ini
menunjukkan adanya gangguan hepar yang juga disebabkan oleh efek samping pengobatan
lepra tipe multibasiler, yaitu obat DDS dan rifampisin. DDS dan rifampisin ini memiliki efek
samping gangguan hepar, yaitu hepatitis dan hepatotoksik, sehingga mengakibatkan pasien
ini mengalami peningkatan SGPT dan SGOT.