Anda di halaman 1dari 2

Praktek Keamanan Pangan Penjual

Makanan Jajanan Pada Sekolah Dasar di


Wilayah Bogor.
Posted on May 6, 2011 by FEMA IPB in Skripsi with 0 Comments

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui praktek keamanan pangan penjual makanan jajanan
pada sekolah di wilayah Bogor. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini yaitu (1) Mempelajari karakteristik
penjual makanan; (2) Mempelajari profil makanan yang dijual di sekolah; (3) Mempelajari pengetahuan gizi dan
keamanan pangan serta sikap penjual makanan di sekolah terhadap gizi dan keamanan makanan; (4)
Mempelajari praktek keamanan pangan penjual makanan di sekolah (termasuk praktek penggunaan Bahan
Tambahan Pangan [BTP]); (5) Menganalisa hubungan antara karakteristik individu, pengetahuan dan sikap
terhadap praktek keamanan pangan penjual.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli
2009. Penentuan contoh dan lokasi dalam penelitian dipilih secara purposive dengan persyaratan sebagai
berikut: 1) mempunyai kantin sekolah, 2) komitmen dari pihak sekolah, dan 3) mendapatkan rekomendasi dari
kantor Dinas Pendidikan setempat. Dari ketentuan tersebut dipilih empat sekolah dasar negeri yang terdiri dari
dua sekolah terakreditasi A dan dua sekolah di terakreditasi B. Sekolah yang menjadi tempat penelitian berada di
kota dan kabupaten Bogor. Contoh dalam penelitian adalah seluruh penjual makanan jajanan di kantin dan di
luar sekolah yang bersedia untuk diwawancarai yang terdiri dari 12 orang penjual di kantin dan 34 orang penjual
di luar sekolah.
Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan wawancara
dan pengamatan langsung dengan menggunakan kuesioner. Data primer meliputi karakteristik contoh, profil
produk, fasilitas dan peralatan, pengetahuan dan sikap terhadap gizi dan keamanan pangan serta praktek
keamanan pangan penjual (higiene penjual, penanganan dan penyimpanan makanan/minuman, sarana dan
fasilitas, pengendalian binatang pencemar, sanitasi tempat dan peralatan serta aplikasi penggunaan BTP). Data
sekunder meliputi profil sekolah bersangkutan. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis secara deskriptif
menggunakan microsoft Excell 2003dan SPSS 11.5 for windows. Hubungan antar variabel dianalisa dengan
menggunakan uji korelasi Pearson sedangkan perbedaan antar variabel dianalisa menggunakan uji beda t
(Idenpendent sample t-test).
Sebanyak 42% penjual di kantin memiliki pendapatan lebih dari Rp. 2.000.000 sedangkan pada penjual di luar
kantin hanya terdapat 9% penjual yang memiliki pendapatan lebih dari Rp. 2.000.000. Berdasarkan hasil uji beda
test (p<0,05) terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata pendapatan hasil berjualan penjual di kantin dan di
luar sekolah. Lebih dari setengah penjual di kantin (83%) dan di luar sekolah (56%) memiliki
pendapatan/kap/bulan > Rp 176.216 atau tergolong tidak miskin (BPS 2008). Hasil uji beda t-test menunjukan
terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan/kap/bulan penjual di kantin dan di luar sekolah.
Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar penjual di kantin (42%) dan di luar sekolah (65%) adalah tamat
SD. Hasil uji t-test menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan antara pendidikan penjual di kantin dan di
luar sekolah. Profil makanan jajanan merupakan gambaran produk makanan/minuman jajanan yang meliputi
jenis pangan dan kode register pangan.
Secara umum jenis pangan jajanan yang paling banyak dijual di kantin (49%) dan di luar sekolah (54%) adalah
camilan (pabrikan) seperti chiki, permen dan biskuit. Kode register pangan terdiri dari MD, ML dan PIRT. Kode
register yang terbanyak dari makanan pabrikan yang dijual di kantin (111 jenis) dan di luar kantin (94 jenis)
adalah jenis Makanan Dalam Negeri (MD).
Sebagian besar penjual di kantin (42%) dan di luar sekolah (56%) memiliki skor pengetahuan gizi dan keamanan
pangan dengan kategori kurang. Berdasarkan uji beda t-test terdapat perbedaan yang signifikan pengetahuan
keamanan pangan serta pengetahuan gizi dan keamanan pangan pada penjual berdasarkan kategori wilayah
(kabupaten dan kota). Hasil uji korelasi pearson menunjukkan terdapat hubungan signifikan positif antara
pendidikan dengan pengetahuan gizi dan keamanan pangan (p=0,00; r=0,513). Setengah dari penjual di kantin
(50%) memiliki sikap positif terhadap gizi dan keamanan pangan sedangkan setengah dari penjual di luar
sekolah (53%) memiliki sikap netral.
Hasil uji korelasi pearson menunjukkan terdapat hubungan signifikan positif dengan sikap gizi dan keamanan
pangan (p=0,025; r=0,330). Setengah dari penjual di kantin (50%) memiliki praktek keamanan pangan dengan
kategori cukup sedangkan setengah dari penjual di luar sekolah (50%) memiliki skor praktek kurang. Terdapat 26
orang penjual (4 orang penjual di kantin dan 23 orang penjual di luar sekolah) yang mengaku menggunakan BTP
saat pengolahan. Jenis BTP yang paling banyak digunakan yaitu penyedap rasa (MSG). Berdasarkan hasil uji
korelasi pearson terdapat hubungan negatif antara pengetahuan gizi dan keamanan pangan dengan praktek
keamanan pangan penjual (p=0,664; r=-0,066).
Saran yang dapat diberikan untuk pihak sekolah adalah hendaknya melakukan pembinaan dan pengawasan
secara berkala untuk penjual di kantin dan di luar sekolah. Selain itu, keadaan kantin seperti kondisi bangunan,
tempat pengolahan/persiapan dan penyajian serta sanitasi, higiene dan pembuangan limbah juga harus
mendapat perhatian disamping kelengkapan sarana dan fasilitas.