Anda di halaman 1dari 16

MENGATASI KEBOCORAN

PADA SISTEM VAKUM



IR. M. YUSUF RITONGA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1. PENDAHULUAN

Sudah sejak lama para praktisi di lapangan berupaya untuk mengurangi pemakaian
energi pada proses destilasi zat organik akan tetapi kualitas produk-produk destilasi
diupayakan dinaikkan.
Tekanan vakum pada proses destilasi adalah kondisi yang sangat tepat untuk mencapai
tujuan di atas. Dengan kondisi ini pemakaian energi dapat dikurangi dan kualitas produk
destilasi dapat ditingkatkan karena oksidasi zat organik selama proses destilasi dapat ditekan
serendah mungkin. Contohnya destilasi asam lemah dari hidrolisa minyak kelapa sawit (crude
palm oil) atau minyak kelapa kopra (crude coconut oil) dan destilasi fatty alkohol untuk
menekan serendah mungkin pembentukan gugus karbonil (-CHO) yang dapat mengurangi
jumlah pemakaian hidrogen pada proses hidrogenisasi gugus karbonil.
Untuk mengkondisikan tekanan vakum pada suatu unit proses destilasi dapat dilakukan
dengan beberapa pilihan peralatan mekanis seperti pompa vakum atau ejektoryang
dikombinasikan dengan alat penukar panas (heat exchanger) yang sesuai untuk
mendapatkan tekanan vakum yang dibutuhkan untuk proses destilasi. Dengan peralatan
mekanis ini tekanan pada unit proses destilasi dapat dikurangi dengan menyedot udara yang
terkurung di dalamnya. Dengan semakin menipisnya jumlah udara di dalam unit peralatan
destilasi maka reaksi oksidasi pada zat organik yang didestilasi dapat dikurangi akan tetapi
tidak dapat dihilangkan sama sekali.
Dalam unit proses destilasi tekanan vakum tidak hanya dibutuhkan pada kolom destilasi
akan tetapi harus termasuk pompa dan sistem pemipaan, sebab kebocoran sedikit saja pada
unit proses ini akan mengurangi tekanan vakum pada unit proses dan dapat mengurangi
kualitas produk-produk destilasi, juga kapasitas produksi. Oleh sebab ini semua sistem yang
berkaitan dalam unit proses destilasi harus dipastikan tidak terdapat kebocoran, sehingga
tidak akan ditemukan hambatan pada saat memulai komisioning atau start up suatu unit
proses destilasi.
Kebocoran pada unit proses destilasi dapat terjadi pada setiap titik pada tiap peralatan
yang membentuk unit proses destilasi sehingga sangatlah sukar untuk menentukan letak
kebocoran, karena sebenarnya jauh di bawah 1 atmosfer karena hal ini prosedur dan cara
kerja menentukan letak kebocoran pada setiap ttik pada unit proses destilasi adalah sangat
berbeda untuk menentukan letak kebocoran pada setiap titik pada unit proses destilasi yang
dioperasikan pada tekanan 1 atm atau lebih.
Oleh sebab itu sebuah sistem pada unit proses destilasi dapat dimanfaatkan untuk
menentukan letak suatu kebocoran pada unit ini misalnya sambungan las pipa, flange,
samping point, level (permukaan curam pada suatu vassel), sistem perpipaan, indikator
tekanan (pressure indikator), isolating valve, sealing pot suatu pompa atau sistem
pelumasan mechanical seal suatu pompa.
J ika tekanan di atas 1 atm (positive pressure) sangat mudah dideteksi dengan :


a. gelembung larutan sabun (soap solution bubling)
b. suara yang dihasilkan oleh media yang keluar dari unit peralatan
c. visual berdasarkan cairan bertekanan yang keluar dari unit peralatan yang bocor.

Maka tekanan vakum taklah demikian halnya karena kebocoran pada suatu titik akan
menyebabkan uadara akan tersedot masuk ke dalam unit peralatan atau unit proses
destilasi. Untuk kebocoran yang sifatnya besar akan dengan mudah ditentukan dari suara
bising yang ditimbulkan oleh perbedaan tekanan yang sangat besar antara unit proses
denganudara luar atau daya sedotyang ditimbulkan oleh perbedaan tekanan tadi. Akan tetapi
untuk kebocoran yang sifatnya kecil, sangatlah sulit menentukan letak kebocoran ini apalagi
unit proses destilasi sedang dioperasikan.
Dalam keadaan unit proses destilasi tidak dioperasikan penetuan letak kebocoran dapat
dilakukan dengan mengulang leak test (positive leak test) dengan menggunakan udara
bertekanan sampai 1 bar sampai 1,5 bar.
Pada tahap inilah semua sistem yang membentuk unit proses destilasi harus dipastikan
tidak mengalami kebocoran seperti semua sistem sambungan pada unit proses destilasi,
sampling point, katup isolasi dan sistem perpipaan termasuk aksesori lain seperti flowmeter,
indikator temperatur atau tekanan. Penurunan tekanan sebesar 10 mbar atau 0,01 bar (rat-
rata) per jamnya, sudah cukup memadai untuk unit peralatan atau unit proses destilasi.
Penurunan tekanan (pressure drop) di atas harga 10 mbar merupakan indikasi bahwa leak
test (test kebocoran) dengan udara bertekanan harus dilakukan kembali.
Untuk lebih meningkatkan ketelitian atas test kebocoran yang dilakukan pada unit proses
destilasi, unit proses ini dibagi atas beberapa bagian menurut jumlah kolom destilasi yang
membentuk unit proses destilasi dan terpisah dari unit peralatan sistem tekanan vakum,
yaitu ejektor dan vakum kondensor.
Untuk lebih memahami pengertian di atas berikut ini ditampilkan gambar 1 yang
menggambarkan test kebocoran yang ilakukan menurut jumlah kolom destilasi .
Kendatipun demikian leak test yang dilakukan pada unit proses destilasi, menurut jumlah
kolom destilasi tidaklah menjamin sudah dapat atau layak untuk digunakan pada proses
destilasi, karena balum semua bagian pembantuk unit proses destilasi diikutsertakan pada
test kebocoran. Oleh sebab ini test kebocoran harus dilakukan untuk semua bagian unit
proses destilasi dengan menghubungkan semua unit yang berhubungan.
Andaikan hasil test kebocoran telah menunjukkan penurunan tekanan 10 mbar
maksimum, kita telah mempunyai dasar yang kuat untuk melakukan test kebocoran pada
kondisi tekanan vakum.



LIC
Vacum Condensor
tail pipe
Hot well
WCin
Ejector
uap bertekanan
11 BAR
uap bertekanan
11 BAR
Gambar 1. Uji Kebocoran Menurut Jumlah Kolom



Dalam melakukan test kebocoran pada tekanan vakum, biasanya tidak dapat dilakukan
langsung karena kolom destilasi mungkin masih mengandung cukup banyak air. Oleh sebab
ini untuk menghemat waktu test kebocoran, sebaiknya dilakukan pemanasan setelah tekanan
vakum dihasilkan sehingga teruapkan semuanya. Hal ini sangat penting dilakukan karena
dapat menyebebkan kesalahan dalam mengambil keputusan tentang hasil test kebocoran,
bahkan dapat memperpanjang waktu test kebocoran yang dapat memperpanjang waktu
commisioning atau start up unit proses destilasi.
Uji kebocoran pada tekanan vakum, seperti yang dikemukakan di depan sangat berbeda
dengan tekanan positif, yang relatif lebih mudah dideteksi karena sifatnya keluar dari sistem
unit proses, sedangkan uji kebocoran pada tekanan relatif lebih sukar karena sifatnya ke
dalam sistem.
Oleh sebab ini haruslah dilakukan dengan cermat. Pada tahap ini semua sistem yang
saling berhubungan harus dicurigai sebagai sebab kebocoran pada unit proses destilasi.
Untuk sistem yang bisa dipisahkan dengan jalan menutup katup penghubung atau
dengan memasang bluid plate di antara sambungan flange, sebaiknya dipisahkan pada tahap
test kebocoran pada tekanan vakum, sehingga memudahkan uji kebocoran. Kemudian dapat
dilakukan uji kebocoran secara keseluruhan, jika telah dipastikan kebocoran terdapat pada
sistem yang dicurigai dan dipisahkan. Perhatikan gambar 2.
J ika kolom ke 1, 2 telah diuji pada tekanan vakum dimana penurunan tekanan vakum 10
mbar per jam test kebocoran dapat dilkukan dengan menyertakan kolom ke-3. J ika evaluasi
untuk ketiga kolom tak menghasilkan tekanan yang diharapkan dan diluar waktu standard
pencapaian vakum yang diinginkan, dapat dipastikan pada kolom ke-3 dan sistem
perpipaannya ada kebocoran. Pada kasus seperti ini uji kebocoran pada tekanan positif dapat
dilakukan kembali, sehingga dapat ditentukan dengan tepat letak kebocoran pada sekitar
kolom ke-3.
Pada kasus ini kemungkinan air yang terperangkap pada kolom ke-3, bisa jadi penyebab
tekanan vakum tidak dapat diperoleh pada waktunya atau penurunan tekanan vakum selama
uji kebocoran lebih besar dari 10 mbar per jam. J ika demikian air didalam kolom ke-3 terlebih
dahulu harus diuapkan sampai habis.
J ika ternyata tindakan ini tidak dapat membantu kedua langkah uji kebocoran pada
tekanan positf dan penguapan air pada kolom ke-3 dapat dilakukan.








LIC
Vacum Condensor
tail pipe
Hot well
WCin
Ejector
Gambar 2. Uji Kebocoran Seluruh Sistem Destilasi



2. UJ I KEBOCORAN PADA UNIT PROSES DESTILASI (LEAK TEST)
Uji kebocoran pada unit proses destilasi merupakan langkah awal yang sangat
penting untuk dilakukan, sebelum dilakukan proses destilasi atas bahan baku.
Langkah uji kebocoran pada unit proses destilasi dilakukan agar dapat ditentukan
peralatan yang perlu diperbaiki atau diganti segera sebalum proses destilasi dilakukan.
Dengan langkah ini akan dapat ditentukan lebih awal letak kebocoran pada suatu
peralatan, sifat kebocoran bersifat ke dalam atau ke luar sistem. Untuk hal ini
pemahaman atas hubungan suatu peralatan dengan peralatan lain dalam unit proses
destilasi mutlak diperlukan, supaya analisa atas letak kebocoran pada suatu bagian
peralatan dapat dihindari dan ditentukan dengan cepat.
Untuk lebih memahamai langkah uji kebocoran ini pada bagian ini aka dibahas
beberapa contoh.

3. MEDIA UJ I KEBOCORAN
Media yang digunakan untuk uji kebocoran pada unit proses destilasi dapat berupa
:
a. Gas
Yang umum digunakan adalah gas N
2
karena bersifat aktivitas yaitu merupakan gas
ideal/sejati. Hanya gas ini diproduksi dengan biaya yang jauh lebih mahal
dibandingkan dengan udara bertekanan. Oleh sebab ini udara bertekanan cenderung
lebih banyak digunakan untuk uji kebocoran pada unit proses destilasi.

b. air
Berbeda dengan udara, uji kebocoran dengan menggunakan air sebagai medianya,
tekanan dapat diciptakan dengan alat hydrotest. Akan tetapi tekanan yang diciptakan
tidak selalu stabil karena suhu air sangat mudah berubah karena perubahan suhu
lingkungan, sehingga jika tidak dilakukan dengan sangat hati-hati analisa atau uji
kebocoran (leaking) yang dilakukan bisa berakibat fatal. Karena kesalahan dalam
menentukan letak kebocoran (leaking position) dapat menunda lebih lama proses
produksi.
Uji kebocoran dengan menggunakan air bertekanan pada kolom destilasi tidak
disarankan karena sisa air yang tertinggal di dalam destilasi dapat mempersulit
evaluasi pada kolom destilasi khususnya. Tahap evaluasi (tahap pemakuman) akan
lebih sulit dilakukan jika terdapat banyak air di dalam kolom destilasi. Pada proses
evaporasi, air yang tersisa di dalam kolom destilasi dapat menyebabkan kerusakan
pada sejumlah kolom destilasi, karena pada keadaan tekanan vakum air menguap
dengan sangat cepat.
Disamping hal di atas air yang tersisa di dalam kolom destilasi dapat
memperbesar kesalahan dalam menganalisa besarnya kebocoran pada kolom destilasi
atau unit proses destilasi (yang dinyatakan penurunan tekanan dalam satuan tekanan
BAR atau MBAR).
Dengan menggunakan air sebagai media uji kebocoran, sesuai dengan
sifatnya yang mudah memuai atau menyusut karena pengaruh perubahan suhu
lingkungan, indikator tekanan yang dipergunakan harus diyakini berfungsi dengan
baik. Hal ini bertujuan mengurangi kesalahan dalam menganalisa besarnya kebocoran
pada peralatan unit proses destilasi.
Menentukan kebocoran dengan air bertekanan, secara visual ditentukan
dengan rembesan air yang keluar dari sambungan peralatan atau perpipaan berupa
flange atau pengelasan. J ika rembesan air tidak ditemukan pada selang waktu


tertentu, dapat diambil kesimpulan bahwa pada peralatan yang diuji tidak ditemukan
maka peralatan yang diuji layak digunakan pada proses produksi.
Sering terjadi tekana air yang telah diciptakan pada peralatan yang diuji turun
secara drastis dalam selang waktu setengah atau satu jam sesudah padahal tidak
ditemukan rembesan atau pancuran air di sekitar peralatan yang diuji.
Untuk kasus seperti ini, tekanan pada peralatan yang diuji dinaikkan kembali
sampai pada tekanan uji yang diizinkan. Lalu dilanjutkan uji kebocoran pada peralatan
pada selang waktu tertentu.

c. Produk yang dihasilkan
Sering terjadi kenyataan dalam prakteknya bahwa pemakaian udara bertekanan
dalam uji kebocoran unit destilasi ditemukan kegagalan. Indikator tekanan ( pressure
indicator) yang digunakan menunjukkan adanya penurunan tekanan (pressure drop) di
atas nilai yang diizinkan, namun secara visual tidak ditemukan.
Secara umum kolom destilasi dan sistem perpipaan ditutup dengan isolasi,
sehingga letak kebocoran sangat sulit ditentukan, jika posisinya terletak pada bagian
yang tertutup isolasi.
Kebocoran pada bagian kolom destilasi atau bagian lain dari unit destilasi mungkin
saja terjadi, karena adanya peristiwa korosi.
Untuk sampai kepada kesimpulan bahwa letak kebocoran terletak pada bagian unit
destilasi, berulang kali telah dilakukan uji kebocoran pada bagian yang mudah terlihat
dan diraba seperti halnya pada bagian-bagian :
a. flense (flange) pada sambungan
alat-alat transmisi pada sistem perpipaan.
Pada peralatan utama destilasi dengan sistem perpipaan.
Sistem perpipaan dengan pompa-pompa
Kotak sealing pompa (sealing box)
Kerangan (valve) dengan perpipaan
Ejektor dengan kondensor.
b. manhol kolom destilasi
c. penutup bagian dalam ujung kondensor atau alat pendingin (cooler)

Pada bagian-bagian yang dituliskan di atas, uji kebocoran dapat dengan mudah
dilakukan, disebabkan bagian-bagian ini umumnya tidak ditutup dengan isolasi,
sehingga jika ada kebocoran dapat diamati dengan mata telanjang, diraba atau
didengar.
J ika uji kebocoran telah berulangkali dilakukan, tetapi masih ditemukan
penurunan tekanan (pressure drop), sedangkan letak kebocoran tidak ditemukan maka
perlu dipertimbangkan produk yang dihasilkan untuk digunakan sebagai media uji
kebocoran (leak test).
Produk yang dihasilkan untuk uji kebocoran umumnya sangat sedikit
mengandung air (khususnya untuk destilasi zat-zat organik). Seperti dikemukakan
didepan bahwa air yang tertinggal pada kolom destilasi dapat menyulitkan proses
pemakuman (evacusion) unit proses destilasi.
Akan tetapi produk destilat yang dipakai sebagai media uji kebocoran harus
memiliki kriteria sebagai berikut :
a. bersifat cair pada suhu kamar, karena uji kebocoran umumnya dilakukan pada
suhu kamar dan untuk menghindarkan kesulitan pada saat kolom destilasi


dikosongkan. Bayangkan jika kolom destilasi terisi penuh oleh produk destilat
yang membeku.
b. Tidak beracun
c. Tidak bersifat eksflosif

Uji kebocoran dengan produk destilatdilakukan pada tekanan tertentu dimana
ditemukan rembesan cairan produk destilat sebagai media uji kebocoran dapat
diciptakan dengan menggunakan pompa.
Untuk kasus seperti ini, posisi kebocoran dapat dicari dengan memusatkan
perhatian (pencarian kebocoran) pada bagian sambungan las (welding joint) pada
dinding kolom destilasi setelah membuka isolasi.

Media Uji Kebocoran (Leak Test Methode)
Metode yang digunakan untuk uji kebocoran pada kolom destilasi dapat
dilakukan :
1. positive test pressure (uji kebocoran dengan media bertekanan di atas 1 atm
biasanya 2 bar maksimum)
2. vakum test (uji kebocoran dengan tekanan vakum).

Kedua metode di atas dapat dilakukan dengan cara :
1. terpisah (individual) antara tiap kolom destilasi
2. menyeluruh pada bagian unit proses destilasi.

4. UJ I KEBOCORAN DENGAN MEDIA BERTEKANAN SECARA TERPISAH
Uji kebocoran dengan media bertekanan yang dilakukan secara individual,
dilakukan pada tiap-tiap kolom destilasi dan peralatan pemakuman (val.
equipment system) yang dapat dipisahkan dengan menggunakan blind. Uji
kebocoran tidak harus berturut, akan tetapi dapat dilakukan secara acak atau
bersamaan tergantung keadaan peralatan saat tahap perawatan atau perbaikan.
Hal yang tidak bisa dilupakan pada saat uji kebocoran dengan media bertekanan,
alat-alat indikasi tekanan vakum harus diisolasi dari kolom destilasi. Hal ini untuk
menghindari kerusakan alat-alat indikasi ini. Tindakan pengisolasian dapat
dilakukan dengan menutup katup transmisi yang langsung berhubungan kolom
destilasi.
Uji kebocoran pada tiap kolom destilasi atau peralatan pemakuman dapat
dilakukan selam 4 atau 8 jam dengan penurunan tekanan (pressure drop) dari 5-
12 m bar.
Pengambilan data yang dilakukan pada selang waktu jam atau 1 jam.
Pada saat uji kebocoran sedang berlangsung, posisi atau letak kebocoran yang
dicari, pada awalnya dikonsentrasikan pada bagian-bagian kolom destilasi seperti :
Sambungan las (welding joint)
Bagian yang dimodifikasi
Manhole
Sambungan gelas pengamat
Sambungan perpindahan yang berhubungan langsung dengan kolom
destilasi
Sambungan jalur sensor tekanan


J ika letak kebocoran disamakan pada bagian bagian tersebut diatas , uji
kebocoran dapat dilanjutkan pada bagian-bagian yang tertutup isolasi dengan
membuka isolasi terlebih dahulu.
Suatu hal yang sangat perlu dilakukan adalah keadaan indikasi tekanan yang
dipergunakan saat uji kebocoran. Indikasi tekanan yang digunakan harus diyakini
dalam kondisi baik dan dapat dipergunakan untuk dua indikasi tekanan yang berbeda-
beda yaitu indikatortekanan vakum dan diatas 1 atm (negative pressure dan positive
pressure). Hal ini bertujuan mengurangi kesalahan dalam mengamati besarnya
kebocoran selam uji kebocpran dan agar bisa digunakan juga pada uji kebocoran
dengan metode uj kebocoran dengan tekanan vakum.
Yang tidak dikemukakan diatas adalah uji tekanan dengan menggunakan
udara bertekanan.
Dalam hal ini kebocoran dapat ditentukan letaknya dengan membasahi
sambungan-sambungan pada kolom destilasi dengan air sabun. Gelembung air sabun
yang timbul menandakan adanya kebocoran pada bagian yang dibasahi air sabun.
Menggunakan air sabun sebagai alat untuk mendeteksi letak kebocoran pada
sambungan berupa flensa dapat dilakukan dengan terlebih dahulu melilitkan masking
tape pada sekeliling sambungan lalu dibuat sebuah lubang. Lubang pada masking tape
ini berfungsi untuk mendeteksi kebocoran pada sambungan dengan meletakkan cairan
air sabun .
Gelembung air sabun yang timbul pada lubnag masking tape, tidak berarti
menunjukkan letak kebocoran terdapat tepat pada posisi lubang pada masking tape.
Akan tetapi terdapat disekitar sambungan. Hal ini disebabkan masking tape berfungsi
untuk menutup celah sepanjang sambungan dari bagian atas celah, sehingga udara
yang keluar dari lubang yang dibuat pada masking tape.
Dibawah ini diberikan model sambungan antara dua flensa (flange).



flensa
celah
sambungan

Gambar 3. sambungan dengan flensa
Adakalanya uji kebocoran tidak menemukan letak kebocoran, kendatipun telah
dilakukan berulang kali dan selalu ditemukan penurunan tekanan (pressure drop)
diluar range yang diizinkan yakni sekitar 5 mbar sampai dengan 12 mbar per jam.
Untuk kasus seperti ini dapat dipertimbangkan prodduk destilat untuk
dipergunakan sebagai media uji kebocoran. Untuk menggunakan produk destilat
sebagai media uji kebocoran harus diperhatikan hal-hal seperti berikut ini :
1. penurunan tekanan (pressure drop) diluar batas yang diizinkan
2. tidak ditemukan kebocoran pada bagian bagian yang terlihat dan teraba
disekitar kolom destilasi
3. telah berulang kali dilakukan uji kebocoran dengan teliti
Uji kebocoran dengan media ini dilakukan jika kebocoran tidak dapat terlihat pada
tekanan atau 1-2 bar dan sifatnya sangat halus sehingga tidak dapat dideteksi dengan
gelembung air sabun.
Dengan media produk destilat uji kebocoran dilakukan pada tekanan yang lebih
besar sampai ditemukan rembesan cairan ini pada tiap sambungan disekitar kolom
destilasi.
Pada akhirya uji kebocoran secara terpisah sangat bermanfaat didalam
mengurangi kesalahan dalam menentukan besar dan letak kebocoran pada unit
perlatan destilasi. Hal ini akan dibahas lebih lamjut pada uji kebocoran secara
menyeluruh (OVER ALL LEAK TEST).

UJ I KEBOCORAN DENGAN MEDIA BERTEKANAN SECARA MENYELURUH


Pada uji kebocoran secara menyeluruh semua sistem pada unit peralatan
destilasi diikutsertakan. Termasuk dalam hal ini sistem perpipaan , alat-alat indikasi
kecuali alat indikasi tekanan vakum, dan pompa-pompa. J adi sifatnya lebih luas dan
menyeluruh karena uji kebocoran ini merupakan langkah terakhir sebelum dilakukan
uji kebocoran dengan tekanan vakum.
Pada uji kebocoran secara terpisah (individual ) setiap kebocoran telah
ditentukan letaknya dan telah diperbaiki dengan mengencangkan atau mengelas tiap
sambungan atau mengelas kebocoran, sehingga telah dipastikan tidak terdapat lagi
kebocoran atau masih dalam batas yang diizinkan pada kolom destilasi yang diuji.
Dengan demikian pada uji kebocoran secara menyeluruh jika terdapat penurunan
tekanan udara yang digunakan sebagai media test kebocoran (leak test), maka
kebocoran tidak terletak pada kolom kolom destilasi atau unit peralatan vakum (vakum
system equipment), akan tetapi dipertimbangkan pada :
a. perpipaan dengan asesorisnya seperti alat-alat transmitter, flow
meter, katup atau kerangan kontroller
b. pompa-pompa dan sistemnya
c. tangki penampung (receiver)
d. transmitter pengontrol tinggi permukaan cairan (level control
transmitter)
dengan demikian uji kebocoran pada tahap ini lebih dipusatkan pada bagian-
bagian yang telah dicantumkan diatas sampai ditemukan letak kebocoran dan pada
akhirnya dapat dilakukan perbaikan atas kebocoran yang ditemukan.
Tekanan udara yang umum digunakan selama uji kebocoran adalah sama pada uji
kebocoran secara terpisah demikian pula penurunan tekanan yang diizinkan untuk
setiap jamnya.

5. UJ I KEBOCORAN PADA UNIT PERALATAN VAKUM (VACUM SYSTEM EQUIPMENT)
uji kebocoran pada unit peralatan vakum yang terdiri atas :
a. ejektor
b. vakum kondenser atau surface condenser
c. kaki kondenser (barometric leg atau tail pipe)
dilakukan lebih awal dari uji kebocoran pada kolom destilasi. Hal ini lebih baik
dilakukan karena ini merupakan jantung proses detilasi pada tekanan vakum.
Uji kebocoran pada unit peralatan vakum dilakukan secara menyeluruh,
meliputi ketiga komponen yang telah dituliskan diatas.
Dalam hal ini uji kebocoran berhubungan dengan perencanaan kaki
kondenser. Unit peralatan vakum yang baik jika ditinjau untuk kepentingan uji
kebocoran adalah memiliki kaki kondenser (tail pipe) yang dilengkapi dengan flensa,
sehingga dapat diuji secara menyeluruh.
Rancangan kaki kondenser yang tidak dilengkapi dengan flensa disamping
akan menghambat pada uji kebocoran juga sangat menyulitkan dalam mengatasi kaki
kondenser yang tersumbat. Kaki kondenser sering tersumbat, terutama jika destilasi
dilakukan atas fraksi fraksi yang membeku pada suhu kamar.
Dengan dilengkapi flensa pada kaki kondenser, uji kebocoran dapat dilakukan
hampir secara menyeluruh dengan memisahkan peralatan vakum dengan kolom
destilasi dan tangki pemisah fraksi ringan (hot well). Dalam prakteknya kaki kondenser
sebagian tetap terendam secara tegak lurus hampir mencapai dasar hot well sehingga
tekanan vakum tetap terjaga selama proses berlangsung.


Peralatan vakum dapat dipisahkan dengan kolom destilasi atau hot well
dengan menyisipkan plat baja atau stinless steel dengan ukuran yang sesuai dengan
ukuran flensa yang menghubungkan peralatan vakum dengan kedua bagian kolom
destilasi dann hot well. Hal yang sama dilakukan pada uji kebocoran kolom destilasi
secara terpisah.

Perhatikan gambar dibawah ini :
tail pipe
Hot well
vakum kondeser
utama
Uap bertekanan
12 BAR
main
Booster
Uap bertekanan
12 BAR
Wc out
final ejektor
first ejektor
Wc in
Gambar 4. Vakum Sistem
Demikian dengan uji kebocoran pada unit peralatan vakum perencanaan kaki
kondenser pada gambar 4 diats tidaklah tetap, sebab sistem tidak dapat diuji secara
hampir menyeluruh. Bagian kaki kondenser haruslah dimodifikasi dengan flensa dapat
diatas hot well. Kendatipun sebagian kecil kaki kondenser tidak diikutkan pada uji
kebocoran, akan tetapi karena terendam dengan cairan didalam hot well, maka bagian
ini tidak begitu penting pada uji kebocoran.
Berikut ini diberikan gambar rancangan kaki kondenser (barometer leg)
sebagai hasil modifikasi gambar 4 diatas.
Dengan sistem seperti ini, keraguan atas kebocoran pada bagian ini dapat
dihilangkan , sebab dapat diikut sertakan pada uji kebocoran.



tail pipe
Hot well
vakum kondeser
utama
Uap bertekanan
12 BAR
main
Booster
Uap bertekanan
12 BAR
Wc out
final ejektor
first ejektor
Wc in
flange flange

Gambar 5. vakum sistem yang dimodifikasi
6. KEBOCORAN PADA TUBING VACUM KONDENSOR
Seperti telah dikemukakan didepan bahwa peralatan utama untuk menciptakan
tekanan vakum pada proses destilasi adalah :
a. ejektor
b. vakum kondenser
c. kaki kondenser (barometer leg atau tail pipe)
Vakum kondenser merupakan alat penukar panas (heat exchanger) dari jenis shell
dan tube yang diletakkan horizontal.


Alat ini berfungsi untuk mengkondensasikan uap (vapor) yang disedot dari kolom
destilasi dan selanjutnya dibuang melalui kaki kondenser kedalam hot well.
J umlah kondenser yang memenuhi bagian shell vakum kondenser berada dalam
keseimbangan dengan jumlah uap yang disedot dari kolom destilasi agar tekanan
vakum tetap stabil.
Dengan pengertian lain tinggi permukaan kondenser uap yang mengisi vakum
kondenser adalah tertentu sehingga sebagian kecil uap yang tidak terkondensasi pada
vakum kondenser tidak akan mengganggu tekanan vakum. Demikian seterusnya,
sebagian uap yang terkondensasi pa da vakum kondensasi kedua.
J ika tinggi permukaan cairan pada bagian shell vakum kondenser tidak seimbang
dengan jumlah uap yang mengisi ruang kosong pada bagian shell yang sama, maka
tekanan vakum pada kolom destilasi atau peralatan vakum akan terganggu secara
total, karena tekanan vakum tidak memenuhi besarnya sama sekali untuk proses
destilasi.
Pertambahan jumlah kondensasi pada bagian shell vakum kondensor dapat
disebabkan oleh sambungan air (moisture content) yang tinggi atau air pendingin yang
keluar dari sistem tube ke bagian shell vakum kondenser. Akan tetapi dari kedua
faktor tadi, air yang keluar dari sistem tube dan masuk kebagian vakum kondenser
besar jauh lebih berpengaruh, karena jumlahnya lebih besar kendatipun kebocoran
pada tube vakum kondenser sangat kecil. Hal ini disebabkan tekanan supplai air
pendingin yang dibutuhkan jauh lebih besar dari tekanan uap yang disedot dari kolom
destilasi. Disamping itu tekanan vakum pada bagian shell vakum kondenser turut
memperbesar jumlah dan tekanan air pendingin yang bocor dari sistem tube vakum
kondenser.
Kebocoran pada bagian tube vakum kondensoer ini dapat ditandai dengan indikasi
sebagai berikut :
1. jumlah kondensat yang keluar dairi hot well lebih besar dari jumlah
normalnya.
2. tekanan vakum tidak stabil.
Besar saluran volume kondensat yang keluar dari hot well dapat diukur untuk tiap
selang waktu tertentu. Biasanya jika besar aliran volume kondensat yang keluar dari
hot well maka ytekanan vakum makin tidak stabil atau makin berfluktuasi. Pada
tingkat seperti ini kualitas produk destilasi juga berfluktusi bahkan tidak jarang tidak
memenuhi spesifikasi produk destilat.

Pada tingkat kebocoran tertentu pada sistem tube vakum kondensor, tekanan
vakum tidak dapat lagi diciptakan sehingga proses destilasi tidak dapat dilakukan sama
sekali.
Pada keadaan seperti ini keputusan yang dapat diambil hanyalah :
1. menghentikan prroses destilasi
2. test kebocoran dengan media air (hydrotest) untuk menentukan letak
kebocoran pada bagian tertentu dari tube vakum kondenser.
3. mengganti tube yangbocor (retubing)

7. KEBOCORAN PADA KAKI KONDESER (LEAKING ON BAROMETRING LEG)
Tekanan pada kaki kondenser adalah vakum seperti halnya tekanan pada
vakum kondenser.
Pengaruh yang ditimbulkan oleh kebocoran (leaking) pada kaki kondenser
adalah tekanan vakum sangat tidak stabil atau berfluktuasi.


Dari sisi kualitas produk destilat keadaan ini menyebabkan kualitasnya sangat
sulit dipertahankan pada batas batas spesifikasinya. Keadaan ini menyebabkan biaya
produksi bertambah besar karena proses destilasi lebih banyak di sirkulasi tanpa
menghasilkan produk destilasi sesuai dengan kapasitasnya dan kualitasnya.
Berbeda dengan kebocoran pada sistem tube vakum kondenser, peningkatan laju alir
volume kondenser yang keluar dari hot well tidak akan ditemukan. Ini berarti
kebocoran pada kaki kondenser tidak menyebabkan laju alir volume kondensat yang
keluar dari hot well tidak akan bertambah dari keadaan normal.
Kecuali jika kebocoran pada kaki kondenser dan sistem tube volume
kondenser terjadi pada waktu yang bersamaan.
Keadaan sebaliknya dari laju alir volume kondenser sangat diharapkan sebagai
indikasi adanya kebocoran pada kaki kondenser, demikian juga tinggi permukaan
cairan (kondensat) pada hot well yang cenderung lebih rendah dari keadaan
normalnya.
Akan tetapiakan tetapi laju alir volume dan tinggi permukaan cairan pada hot
well selalu berfluktuasi, karena udara dengan tekanan 1 atm yang masuk kedalam kaki
kondenser dengan tekanan jauh dibawah 1 atm menghalangi secara tidak stabil
kondensat yang jatuh secara gravity dari vakum kondenser kedalam hot well.
Keadaan ini menyebabkan indikasi ini sulit dijadikan sebagai patokan untuk
menentukan kebocoran pada bagian kaki kondenser.
Untuk hot well yang dilengkapi alat penunjuk dan pengontrol tinggi
permukaan kondenser (level indocator and control valve) dab pompa untuk
mengeluarkan kondensat dari hot well, dapat digunakan indikasi indikasi berikut
untuk menentukan kebocoran pada bagian kaki kondenser, yaitu :
a. besar bukaan kerangan pengatur tinggi permukaan cairan
b. laju air volume kondensat yang diukur melalui sampling point (tempat
pengambilan sampel) atau terbaca pada flow meter terpasang pada sistem.

Dasar bukaan pada kerangan pengatur tinggi permukaan cairan pada hot well
cenderung lebih kecil dari keadan normal, karena jumlah kondensat yang masuk
kedalam hot well lebih rendah dari keadaan normal.
Dengan demikan laju alir volume kondenser yang terukur lebih rendah dari
laju alr volume kondensat pada keadaan normal.
Namun perlu diperhatikan bahwa harga variabel. Variabel pada kondisi
operasional proses destilasi harus sama, sebab kondisi operasi yang berbeda akan
memberikan jumlah yang berbeda pada uap yang disedot, dikondensasikan dan
dikeluarkan dari hot well.
Menentukan kebocoran pada kaki kondensor dapat juga dilakukan dengan
steaming (menyemprotkan uap panas) pada sepanjang kaki kondensor. Penurunan
secara mendadak tekanan vakum pada kolom destilasi atau unit proses destilasi
merupakan indikasi adanya kebocoran pada kaki kondensor. Penurunan tekanan
vakum yang mendadak pada saat dilakukan steaming pada titik-titik tertentu pada kaki
kondensor menunjukkan adanya kebocoran pada titik-titik tersebut.
Cara lain yang dapat dilakukan untuk menentukan kebocoran pada kaki
kondensor adalah dengan pengecekan langsung pada sepanjang kaki kondensor. Gaya
tarik yang timbul dari dalam kaki kondensor pada titik-titik tertentu menunjukkan
adanya kebocoran pada kaki kondensor. Pengecekan langsung dapat dilakukan
dengan tangan, karena pada umumnya kaki kondensor tidak diisolasi dan bersuhu
sekitar 25 37
0
C.


Pada saat unit proses destilasi dijalankan kebocoran kecil pada kaki kondensor
dapat ditutup dengan menggunakan :
a. lem silikon (silicon glue)
b. balutan karet khusus yang dilengkapi lem atau perekat.
Dengan kedua cara ini pengaruh kebocoran pada kaki kondensor terhadap
tekanan vakum pada unit proses destilasi dapat dihilangkan sedangkan proses destilasi
dapat dioperasikan kembali dengan normal.

8. KEBOCORAN PADA EJ EKTOR
Disamping vakum kondensor, ejektor merupakan bagian utama unit peralatan
vakum untuk menciptakan tekanan vakum pada unit proses destilasi.
Dalam hal ini ejektor ini berfunfsi untuk mengubah steam bertekanan tinggi
menjadi berkecepatan tinggi (lihat cara kerja ejektor) sehingga uap dari kolom
destilasi dapat ditarik atau disedot untuk dikondensasikan pada vakum kondensor.
J ika kebocoran terdapat pada badan ejektor maka sebagian udara luar akan
tersedot ke dalam vakum kondensor yang menyebebkan keseimbangan jumlah uap
(gas) dan kondensat pada vakum kondensor terganggu. Udara yang tersedot ke dalam
vakum kondensor menyebabkan jumlah uap atau gas yang tidak terkondensasikan
pada vakum kondensor menjadi bertambah, sehingga mengurangi tekanan vakum
pada vakum kondensor dan unit proses destilasi.
Pengurangan tekanan vakum pada unit proses destilasi, menyebabkan harga
variable-variable pada kondisi operasi proses destilasi berubah. Pada akhirnya
menyebabkan kualitas produk destilasi berubah dan umumnya di luar spesifikasi yang
ditetapkan.

Kebocoran pada badan ejktor hanya dapat diatasi dengan mengganti badan
ejektor dengan yang baru atau lebih baik. Menutup kebocoran dengan lem silikon atau
epoksi atau balutan karet yang dilengkapi lem perekat tidak bisa dilakukan karena lem
silikon atau epoksi bersifat pasta dan tidak bisa melekat jika kebocoran mengandung
air dan bertekanan. Karet berperekat tidak bisa dipakai karena badan ejektor bersifat
tidak rata.

DAFTAR PUSTAKA
1. NORMAN P. LIEBERMEN, PROCESS DESIGN FOR RELIABLE OPERATION, 2
ND

EDITION, GULF PUBLISHING COMPANY BOOK DIVISION, HOUSTON, 1988.
2. ERNEST E. LUDWIG, APPLIED PROCESS DESIGN FOR CHEMICAL AND
PETROCHEMICAL PLANT, 2
ND
EDITION, GULF PUBLISHING COMPANY, HOUSTON,
1979.
3. LURGI GmBh, ALCOHOL DESTILLATION, FRANKFURT, 1989.
4. DIECKELMEN, HELZ H. J , THE BASIC INDUSTRIAL OLEOCHEMISTRY.