Anda di halaman 1dari 7

1

P
a
g
e
1

KONDILOMA AKUMINATA PADA ANAK









Fitri Nur Laeli
030.09.093

Pembimbing:
dr. Suswardana, M.Kes, Sp. KK


KEPANITERAAN KLINIK DERMATOVENEREOLOGI
RUMAH SAKIT TNI-AL Dr. MINTOHARDJO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 28 APRIL 201430 MEI 2014


2

P
a
g
e
2

KONDILOMA AKUMINATA PADA ANAK
Fitri Nur Laeli
1
, Suswardana
2

1
Dokter Muda Fakultas Kedokteran Trisakti di
SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSAL dr. Mintohardjo
2
SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSAL dr. Mintohardjo


PENDAHULUAN
Kondiloma akuminata (KA) adalah
vegetasi oleh human papiloma virus tipe
tertentu, bertangkai, dan permukaan
berjonjot.
1

KA merupakan penyakit yang sangat
menular, dan dapat ditemukan pada keadaan
soliter, maupun multiple. Masa inkubasi
bervariasi satu hingga enam bulan.
Walaupun KA biasa terjadi pada orang
dewasa, tidak menutup kemungkinan terjadi
pula pada anak..
KA pada anak merupakan hasil dari
beberapa transmisi: autoinokulasi dari
traktus genitalia finger wart, transmisi non
seksual dari members/careers.
2

Pilihan pengobatan yang tersedia
hanya cukup efektif dan masih berkaitan
dengan tingkat kekambuhan yang tinggi.
Pengobatan yang ada masih menimbulkan
rasa sakit yang bermakna untuk anak, selain
itu kunjungan berkala masih diperlukan.
Oleh karena itu belum ada penelitian besar
yang diadakan pada populasi anak. Hal
tersebut menimbulkan kesulitan dalam
mengambil keputusan dalam penanganan
dan pengobatan untuk KA pada anak.





EPIDEMIOLOGI
KA menjadi diagnosa yang sering
ditemukan pada infeksi menular seksual
(IMS) pada populasi dewasa, dengan 10%
pada keseluruhan populasinya memiliki lesi
yang secara klinis terbukti.
3
Lebih dari
setengah wanita yang aktif secara seksual
terinfeksi virus HPV, bahkan tidak bergejala
sama sekali. Kasus pada anak juga
meningkat, berbanding lurus dengan
peningkatan pada dewasa, walaupun masih
sangat sedikit diketahui populasi KA pada
anak. Diantara anak yang memiliki sexual
abuse, 14,2% terdiagnosa KA, kemudian
sifilis. Anak perempuan lebih banyak
prevalensinya dibanding laki laki. (3:1).
4


PATOGENESIS

HPV dalah virus non-enveloped,
double stranded DNA dengan lebih dari
seratus tipe yang menyebabkan infeksi baik
pada kulit maupun mukosa. Sel basal
keratinosit merupakan target virus,
kemudian sel membengkak dan terdapat
banyak virus didalamnya. Sel yang telah
terinfeksi dijadikan gudang, hingga partikel
virus tersebar ke lingkungan, baik lewat
fomites, atau melalui kontak kulit langsung.


1

P
a
g
e
1


Gambar 1(Virus menyerang sel basal keratinosit)
Meskipun manifestasi kliniknya
tidak spesifik. HPV tipe 6 dan 11 banyak
terlibat dengan terjadinya KA. HPV tipe 6
dan 11 juga diduga terlibat dengan kejadian
kanker serviks. Kutil (Veruka vulgais)
disebabkan oleh banyak jenis tipe HPV,
namun paling sering disebabkan oleh tipe 1-
4. Meskipun beberapa tipe HPV
berhubungan dengan lokasi spesifik, overlap
kerap kali terjadi, terutama pada anak.
Sebagai cotoh, study dari 29 kasus KA pada
anak perempuan yang berusia kurang dari
lima tahun, menunjukkan prevalensi 41%
terinfeksi HPV tipe 2, dimana hanya sekitar
3% dari KA pada vulva wanita dewasa
disebabkan oleh HPV tipe 2.
5


Waktu untuk inkubasi HPV dapat
berlangsung selama berbulan bulan, atau
hanya menjadi fase laten (tidak berkembang
menjadi KA) oleh karena itu, waktu dari
terpapar virus hingga timbul manifestasi
klinik dapat berkisar dari bulan ke tahun.
Dan penyebaran transmisi virus pada fase
laten, masihbelum diketahui dan masih
menjadi masalah.


MANIFESTASI KLINIS
Ukuran dari KA berkisar antara 1-
5mm, warna seperti daging, serupa dengan
kulit, permukan papula-verikosa, yang dapat
berkonfluen menjadi bentuk plak.
Permukaan berjonjot (papilomatosa) kadang
dapat membentuk massa seperti cauliflower
umumnya KA asimtomatik, namun dapat
terjadi keluhan perdarahan, nyeri, pruritus
bila terjadi trauma/ membesar pada tempat
lesi.
Pada anak laki-laki daerah berlesi
biasanya pada perianal, sedangan pada pria
biasa lesi terdapat pada batang penis. Pada
anak perempuan lesi seringkali terdapat
pada vulva.
6

CARA TRANSMISI VIRUS
Pada orang dewasa cara inokulasi
virus lewat hubungan seksual. Walaupun
kemungkinan sexual abuse dipertimbangkan
untuk setiap kasus KA pada anak, cara yang
lain juga harus dipertimbangkan, terutama
pada anak usia dibawah empat tahun,,
dimana penularan non-seksual lebih
mungkin terjadi.
7
Pemaparan virus lewat
perinatal dapat terjadi didalam rahim
melalui ascending HPV infection. Dalam
penelitian wanita hamil dengan infeksi HPV,
24 orang dari 37 terdeteksi genom HPV
dalam cairan amnion. Kasus condyloma
congenital juga telah dilaporkan,
mendukung ascending infeksi sebagai salah
satu cara transmisi. Perinatal exposure juga
dapat terjadi pada neonates melalui jalan
lahir ibu yang telah terinfeksi HPV. Oleh
karena itu, pelayanan kesehatan harus dapat
mendeteksi ibu yang terinfeksi.
Oleh karena itu , penyedia layanan
kesehatan harus berusaha untuk
mendapatkan ibu yang memiliki riwayat
ginekologi termasuk riwayat apapun

2

P
a
g
e
2

(kondiloma atau pap smear yang abnormal).
Metode transmisi yang lain adalah auto-
atau heteroinokulasi dari kutil non genital
dari anak, orang tua, atau pembantu rumah
tangga. Pemeriksaan fisik menyeluruh harus
dilakukan pada anak dengan KA, memeriksa
apakah ada lesi lain selain pada organ
genital. Menanyakan riwayat orang tua
dengan infeksi HPV terdahulu. Masa laten
harus dipertimbangkan, karena waktu antara
terpprnya virus dengan timbulnya lesi dapat
terjadi berbulan bulan hingga tahun.
Kemungkinan lain pada ibu dengan paparan
HPV serviks subklinis (terutama untuk
pasien yang terinfeksi HPV melalui jalan
lahir atau dalam masa kandungan).

DIAGNOSIS
Diagnosis kondiloma paling sering
ditegakkan berdasarkan gambaran klinik.
Biopsi jarang dibutuhkan, namun pada
pemeriksaan histologi akan menunjukkan
hyperkeratosis dan perubahan sitopatik
virus. Tipe HPV dapat dilakukan bila
gambaran klinis dan histologis yang sulit
untuk diartikan.

PENGOBATAN
Sekitar 75% KA yang tidak diobati,
dapat sembuh total dalam beberapa bulan
sampai beberapa tahun. Pada anak maupun
dewasa dengan imun yang sehat.
Oleh karena itu, pengobatan non-
intervensi merupakan pilihan untuk KA
asimptomatik pada anak bagaimanapun pada
penelitian menunjukkan bahwa lesi yang
timbul lebih lama dari dua tahun, cenderung
mengalami resolusi spontan. Dalam kasus
ini, dimana kondiloma begejala atau
mempengaruhi fungsi organ, pengobatan
dapat dilakukan. Namun, tidak ada
pengobatan KA yang disetujui FDA pada
anak yang berusia kurang dari 12 tahun.
6

Pengobatan kondiloma terbagi
menjadi pendekatan surgical dan non-
surgical. Semua pendekatan surgical
bergantung pada destruksi lesi yang spesifik.
Banyak pendekatan non-surgical yang
mendestruksi jaringan sekitarnya, namun
pengobatannya diperluas dengan agen
imunomodulator. Penting untuk diingat
bahwa tidak ada pengobatan yang terbebas
sepenuhnya dari rekurennsi. Beberapa
pengobatan yang dilakukan dalam bentuk
kombinasi sering dibutuhkan untuk
mencapai perbaikan yang signifikan. Selain
itu, banyak pengobatan yang tersedia belum
terdapat studi yang cukup untuk anak anak,
dan secara umum, belum ada pengobatan
yang telah terbukti terbaik untuk
pengobatan. Karenanya, pengobatan KA
pada anak harus disesuaikan dengan masing-
masing pasien.

Surgical Approaches
Cryoterapi dalam bentuk liquid
nitrogen paling sering digunakan dalam
aplikasi bedah. Kesembuhan total berkisar
antara 62% - 86%. Lamanya pembekuan
dan siklus multiple freeze/thaw
berhubungan dengan hilangnya KA.
Modalitas ini berrguna pada lesi yang kecil
dan berjumlah sedikit.
6
Efek samping yang
dapat terjadi adalah nyeri dan rasa terbakar
selama beberapa jam, melepuh, dan akan
hilang dalam waktu seminggu. Sikatriks
jarang terjadi, namun dapat terjadi pada
pengobatan yang invasive, terutama pada
anak dengan kulit yang berpigmen.
Walaupun belum ada penelitian cryoterapi
pada anak, efek samping yang terjadi,
menjadikan cryoterapi terbatas
penggunaannya pada anak.

3

P
a
g
e
3

Electrodessication adalah metode
lain untuk mendestruksi lesi. Kesembuhan
total pada dewasa berkisar 57%-94% dengan
rekurensi satu dari empat pasien. Anestesi
lokal diperlukan, dan efek samping yang
dapat terjadi adalah jarigan parut dan nyeri
selama pengobatan karena dibutuhkan
anestesi lokal, metode ini jarang digunakan
pada anak.
6

Ablasi laser karbon dioksida dapat
efektif penggunaannya pada anak-anak.
Kesembuhan total berkisar 27%-100%
namun tetap bervariasi berdasarkan
pengalaman ahli bedah. Johnson et al
menerbitkan sebuah restrospective review
dari satu dokter bedah yang menangani 17
kasus pada pasien anak. Dalam satu kali
pengobatan, 16 pasien berhasil sembuh total
dengan rekurensinya 23% dalam
pengamatan satu tahun pasca bedah. Hanya
satu pasien yang tetap memiliki KA yang
persisten (6%). Ablasi laser karbon dioksida
aman, relative atraumatik, dan efektif untuk
pengobatan anak.
6
Namun, nyeri pasca
operasi dan general anestesi diperlukan dan
harus menjadi bahan pertimbangan.
Pulsed-dye laser merupakan
alternative lain yang te efektif dalam
mengobati flat, plantar dan periungual
wart.tindakan telah diperluas ke daerah
genital pada dewasa dengan satu studi
menunjukkan kesembuhan total pada 22
pasien dengan rata-rata (1-5) sesi laser
berulang tanpa meninggalkan jaringan parut.
Pada 13 pasien, single treatment sudah
cukup, sedangkan Sembilan pasien masih
membutuhkan tindakan berulang hingga
lima kali dalam interval 14-21 hari. Tuncel
menyebutkan, pengobatan dengan pulsed-
dye laser tergolong aman, efektif, toleransi
baik pada anak. Neri pasc operasi dan
jaringan parut jarang ditemukan, menjadikan
ini pilihan pada ana dengan KA.
Surgical excision merupakan pilihan
untuk lesi KA yang besar dan tunggal. Lokal
maupun anestesi umum diperlukan, dan
prosedurnya dilakukan di tempat praktek
atau kamar bedah. Penggunaan teknik ini
pada anak-anak harus cermat dan hati hati,
dengan pertimbangan membutuhkan
anestesi umum.

Nonsurgical Approaches
Podophyllin adalah resin yang
berasal dari rhizome dari Podophyllum
species. Agen aktif dari podophyllin adalah
podophyllotoxin yang memiliki sifat anti-
mitotik. Sediaan pada podophyllin berkisar
antara 10%-25% yang dapat diberikan satu
sampai dua minggu hingga lesi hilang. Resin
harus harus dicuci dan dibilas dengan air
mengalir 4 jam setelah pemakaian untuk
meminimalisir efek samping lokal seperti
eritem dan rasa terbakar. Untuk
meningkatkan efektivitas dari pengobatan,
podophyllin sering dikombinasikan dengan
tindakan cryoterapi. Sediaan
Podophyllotoxin (podofilox) tersedia dalam
0,5% solusio atau 0,15% krim. Dapat
diaplikasikan di rumah oleh pasien sendiri
satu atau dua kali sehari setiap minggunya.
Kesembuhan total yang didapat lebih cepat
dibandingkan pada dewasa. Moresi et al
melaporkan dar total 17 anak, 15 anak
(88%) diobati dengan podophyllox, hanya
membutuhkan waktu satu minggu hingga 4
bulan tanpa efek samping yang berarti,
menunjukkan bahwa podophillox dapat
menjadi lernatif terapi yang aman untuk
anak.
6

Krim imiquimod 5% merupakan
imunomodulator sintetik yang menginduksi
pelepasan imunitas alamiah dan adaptif
dengan aktivasi dari sitokin. Imiquimod
elah terbukti bermanfaat untuk mengobati
KA eksterna, telah disetujui FDA pada

4

P
a
g
e
4

penggunaan anak diatas usia 12 tahun.
Tidak ada penelitian besar yang
menerangkan keefektifan imiquimod pada
anak dibawah usia 12 tahun, nmun banyak
laporan kasus yang menunjukkan , baik
kombinasi efektivitas dan keamanan
penggunaan imiquimod pada anak usia 6
bulan, dapat sembuh total (75%).
Pengobatan dapt dilakukan pada malam
hari tiga kali dalam satu minggu selama
maksimal 16 minggu. Efek samping yang
terjadi biasanya ringan dan masih bisa
ditoleransi, termasuk, nyeri lokal, pruritus
dan iritasi. Karena penggunaannya yang
mudah dan efek samping yng ringan,
imiquimod menjadi first line terapi untuk
KA pada anak.
6

Laporan kasus untuk pengobatan
dengan agen topical lain telah dilaporkan.
Salah satunya adalah Cidofovir yang
merupakan acyclic nucleoside phosponate
yang bertindak sebagai inhibitor DNA
polymerase. Biasanya cidofovir dgunakan
dalam retinitis yang disebabkan
cytomegalovirus pada pasien AIDS. Calisto
et al melaporkan kasus KA pada glans
penis pada anak usia 3 tahundengan topical
cidofovir 1% selama lima hari berturut-
turut selama dua minggu. Siklus kedua
dilanjutkan setelah 30 hari, dan
menghasilkan kesembuhan total tanpa efek
samping lokal maupun sistemik, dengan
tidak adanya rekurenis selama 12 bulan.
Cimetidin sebagai reseptor antagonis
histamine yang serng digunakan pada ulkus
peptikum. Selain itu, cimetidine juga
memiliki efek imunomodulator, dan
dilaporkan memiliki kegunaan untuk
mengobati kondisi lain, termasuk veruka
vulgaris.
6
Walaupun uji coba control secara
acak gagal menunjukkan manfaat dalam
pengobatan kutil non-genital pada dewasa.
Franco melaporkan kasus pada empat anak
dengan kondiloma berhasil dengan
pengobatan cimetidine oral. Pada dua anak,
cimetidine diberikan sebagai pengobatan
utama, sedangkan dua anak yang lain
digunakan untuk mencegah rekurensi.
Dosis awal diberikan 30-40 mg/kg/bb
dibagi menjadi tiga dosis dan diberikan
selama tiga bulan. Semua anak sembuh
total dalam waktu 24 bulan observasi.
Cimetidine mungkin berguna untuk
primary dan adjuvant trapi untuk KA pada
anak, namun penelitian lebih lanjut masih
diperlukan.

KESIMPULAN
Ketika dihadapi dengan kasus KA
pada anak, pemeriksaan fisik secara
menyeluruh harus dilakukan, riwayat
kondiloma pada ibu atau pengasuh anak
digali secara mendalam. American Academy
Pediatrics (AAP) merekomendasikan bahwa
anak usia sekolah dengan kondiloma untuk
pertama kalinya harus menjalani evaluasi
media untuk kemungkinan sexual abuse,
termasuk wawancara pada anak sendiri dan
pembantu rumah tangga untuk IMS lainnya.
Sexual abuse dapat menjadi pertimbangan
pada semua anak dengan KA. Menginat
sulitnya mentukan waktu inokulasi akibat
periode laten yang panjang. Pada anak
dibawah usia empat tahum, penularan secara
non-seksual lebih mungkin terjadi.

KEPUSTAKAAN
1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S.
Kondiloma Akuminatum. Ilmu penyakit
kulit dan kelamin 2009;4:113-114
2. Ferizi M, Gercari A, Pajaziti L, Blyta Y,
Kocinaj A, and Dobruna S. Condyloma
acuminata in child end laser therapy. J
Biomed Central. 2009;2:1-3
3. Schneider A, Koutsky LA. Natural
history and epidemiological features of

5

P
a
g
e
5

genital HPV infection. IARC Sci Publ.
2002;(119):25-52
4. Allen AL, Siegfried EC. The natural
history of condyloma in children. J Am
Acad Dermatol. 1998;39-397
5. Aguilera-Barrantes I, Magro C, Nuovo
GJ. Verruca vulgaris of the vulva in
children andadults: a nonvenereal type
of vulvar wart. AmJ Surg Pathol. 2007
Apr;31(4):529-35
6. Culton DA, Morrell, Bukrkhart CN, The
Management of Condyloma Acuminatai
n the Pediatric Population. J CME. 2009:
1-9.
7. Sinclair KA, Woods CR, Kirse DJ, Sinal
SH.Anogenital and respiratory tract
human papillomavirus infections among
children: age, gender, and potential
transmission through sexual abuse.
Pediatrics. 2005;116(4):815-825.