Anda di halaman 1dari 13

1

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Padi merupakan tanaman sereal yang memiliki ekonomi penting,
Tanaman ini merupakan bahan makananan pokok lebih dari setengah
penduduk dunia. Indonesia merupakan negara penghasil beras terbesar
ketiga dunia setelah China dan India, namun produksi nasional belum
mampu mencukupi kebutuhan domestik sehingga masih perlu mengimpor
beras dari negara lain. Dengan laju pertambahan penduduk rata-rata 1,3%
per tahun menuntut peningkatan produksi padi hingga dua kali lipat dalam
30-40 tahun mendatang (Yudhohusodo 2001).
Produksi beras di Indonesia hampir seluruhnya bergantung pada
budidaya padi sawah, sehingga keberlanjutan produksinya tidak dapat
dipertahankan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pengalihan fungsi lahan,
degradasi kesuburan lahan, dan gangguan ketersediaan air. Oleh karena itu,
pengembangan budidaya padi selain padi sawah sangat diperlukan salah
satunya yaitu padi beras merah.
Menurut Haryadi (2006), tanaman padi berupa beras adalah bahan
makanan utama bagi lebih dari 1750 juta penduduk yang menghuni negara-
negara Asia, termasuk di dalamnya lebih dari 120 juta penduduk Indonesia
yang dari hari ke hari hidup dengan makan nasi 3 kali sehari, pagi, siang dan
petang. Selain itu, beras juga merupakan komoditas politik yang sangat
strategis, sehingga produksi beras dalam negeri menjadi tolak ukur
ketersediaan pangan bagi Indonesia.
Produksi padi tahun 2010 (ARAM III) diperkirakan sebesar 65.98
juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 1.58 juta ton (2.46 persen)
dibandingkan produksi tahun 2009. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi
karena peningkatan luas panen sebesar 234,54 ribu hektar (1.82 persen) dan
produktivitas sebesar 0.31 kuintal/hektar (0.62 persen). Kenaikan produksi
padi tahun 2010 sebesar 1.58 juta ton tersebut terjadi pada perkiraan
September-Desember sebesar 2.09 juta ton, sedangkan realisasi produksi
Januari-Agustus turun sebesar 0.51 juta ton (BPS 2010).
2

Tujuan mutasi adalah untuk memperbesar variasi suatu tanaman
yang dimutasi. Hal itu ditunjukkan misalnya oleh variasi kandungan gizi
atau morfologi dan penampilan tanaman. Semakin besar variasi, seorang
pemulia atau orang yang bekerja untuk merakit kultivar unggul, semakin
besar peluang untuk memilih tanaman yang dikehendaki. Melalui teknik
penyinaran (radiasi) dapat menghasilkan mutan atau tanaman yang
mengalami mutasi dengan sifatsifat yang diharapkan setelah melalui
serangkaian pengujian, seleksi dan sertifikasi (Amien dan Carsono dalam
Maulana 2013).
Variasi yang ditimbulkan ada yang langsung dapat dilihat, misalnya
adanya perbedaan warna bunga, daun, dan bentuk biji (ada yang berkerut,
ada yang tidak ) ini disebut variasi sifat yang kualitatif. Namun ada pula
variasi yang memerlukan pengamatan dengan pengukuran, misalnya tingkat
produksi, jumlah anakan, tinggi tanaman dan lainnya. Dengan melihat
perbedaan morfologi yang ada pada beberapa tanaman, terlebih untuk
tanaman hasil mutasi pada pertanaman selanjutnya. Maka dari data nanti
yang diperoleh dengan membandingkan karakter morfologi yang mungkin
muncul pada tanaman generasi hasil mutasi berikutnya, diharapkan apakah
karakter yang muncul merupakan karakter-karakter yang lebih baik dalam
kriteria pembentukan suatu kultivar baru, dimana perbedaan karakter
morfologi yang menuju kearah yang lebih baik mungkin juga dapat
menentukan serta mempengaruhi karakter produksi tanaman tersebut dan
hasil dari produksi tanaman tersebut menjadi lebih baik pula
(Mangoendidjojo dalam Maulana 2013).
Suwarno et al (2005) menyatakan, belum ada penelitian sampai
tingkat mana adopsi varietas unggul padi gogo di tingkat petani. Areal
pertanaman padi gogo tersebar ada berbagai kondisi agroekologi dari
wilayah beriklim kering hingga basah. Kendala utama peningkatan produksi
padi gogo di wilayah kering adalah kekeringan, sedangkan di wilayah
beriklim basah adalah penyakit blas, tingkat kesuburan tanah rendah,
kemasaman tanah, keracunan dan defisiensi hara, petani subsisten dan
ketersediaan modal usaha rendah.
3

Panduan Sistem Karakterisasi dan Evaluasi (SKE) Tanaman Padi
dikembangkan agar para peneliti padi dan pengguna lain dapat meneliti
sifat-sifat tanaman padi dengan cara yang sama. Buku panduan ini
mempunyai dua fungsi. Pertama adalah membantu pengumpulan,
pengolahan, dan analisis data hasil percobaan berbagai lingkungan.
Walaupun metode dan kompleksitas skala yang digunakan bervariasi antara
sifat-sifat tanaman padi, metode ini akan sangat membantu dalam evaluasi
galur-galur pemulia. Kedua untuk mengembangkan/ meningkatkan
pendekatan antar disiplin untuk perbaikan varietas padi. Metode penilaian
dan skala yang diperbaiki serta interpretasi hasil-hasil evaluasi memerlukan
kerja sama peneliti dari berbagai disiplin terkait (Deptan 2003)

1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakterisasi mutan ke 5 padi beras merah di tanah ultisol
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung?
2. Bagaimana potensi hasil mutan ke 5 padi beras merah di tanah ultisol
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui karakterisasi mutan ke 5 padi beras merah di tanah ultisol
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
2. Mengetahui potensi hasil mutan ke 5 padi beras merah di tanah ultisol
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

4

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi Tanaman Padi
Menurut Mubaroq (2013), tanaman padi adalah termasuk jenis
tanaman rumput-rumputan. Tanaman padi mempunyai klasifikasi sebagai
berikut :
1. Famili : Graminae (Poaceae)
2. Genus : Oryza Linn
3. Species : Terdapat 25 species, 2 diantaranya Oryza sativa L., Oryza
glaberima Steund.
Subspecies Oryza sativa L. dua diantaranya, yaitu :
1. Indica (padi bulu)
2. Sinica (padi cere)

2.2. Morfologi Tanaman Padi
Morfologi suatu tanaman sangat berpengaruh terhadap produktivitas.
Misalnya, efektivitas menangkap radiasi surya, suhu mikro tajuk tanaman,
ktersediaan air bagi tanaman akibat perakarannya yang berbeda dalam
penyebarannya. Pemahaman tentang bentuk dan fungsi dari organ-organ
tanaman padi diperlukan antara lain untuk merancang tipe tanaman padi,
antara lain: gabah akar, daun dan tajuk, batang, bunga dan malai (Makarim
dan Suhartatik 2009).
A. Gabah
Gabah terdiri atas biji yang terbungkus oleh sekam. Biji yang
sehari-hari dikenal dengan nama beras pecah kulit adalah karyopsis
yang terdiri atas janin (embrio) dan endosperma yang diselimuti oleh
lapisan aleuron, kemudian tegmen dan lapisan terluar disebut perikarp.
Dalam jenis-jenis japonika, sekam terdiri atas gluma rudimenter dan
sebagian dri tangkai gabah (pedicel), sedangkan pada jenis-jenis indika,
sekam dibentuk oleh palea, lemma mandul, dan rakhilla (Chang dan
Bardenas 1976; Yoshida 1981 dalam Makarim dan Suhartatik 2009).
5

B. Akar
Akar tanaman padi termasuk golongan akar serabut. Akar
primer (radikula) yang tumbuh sewaktu berkecambah bersama akar-
akar lain yang muncul dari janin dekat bagian buku skutellum disebut
akar seminal, yang jumlahnya antara 1-7. Apabila terjadi gangguan fisik
terhadap akar primer, maka pertumbuhan akar-akar seminal lainnya
akan dipercepat (Chang dan Bardenas 1976; Gould 1968; Murata 1969
dalam Makarim dan Suhartatik 2009).
C. Daun dan Tajuk
Daun tanaman padi tumbuh pada batang dalam susunan yang
berselang-seling, satu daun pada tiap buku. Tiap daun terdiri atas (i)
helai daun; (ii) pelepah daun yang membungkus rus; (iii) telinga daun
(auricle); (iv) lidah daun (ligule). Daun teratas disebut daun bendera
yang posisi dan ukurannya tampak berbeda dari daun yang lain. Satu
daun pada awal-awal fase tumbuh memerlukan waktu 4-5 hari untuk
tumbuh secara penuh, sedangkan pada fase tumbuh selanjutnya,
diperlukan waktu yang lebih lama, yakni 8-9 hari. Jumlah daun pada
tiap tanaman bergantung pada varietas. Varietas-varietas baru di topik
memiliki 14-18 daun pada batang utama. (Vergara 1980 dalam
Makarim dan Suhartatik 2009).
Menurut Sutoro dan Makarim (1997), selain daun, tajuk yang
merupakan kumpulan daun yang tersusun rapi dengan bentuk, orientasi,
dan besar (dalam jumlah bobot)nya tertentu antarvarietas padi sangat
beragam. Tajuk menangkap radiasi surya untuk fotosintesis. Bentuk
tajuk dapat dinyatakan dalam nilai menggunakan parameter statistik,
skeweness, yaitu kesimetrisan distribusi luas daun.
D. Batang
Batang berfungsi sebagai penopang tanaman, penyalur senyawa-
senyawa kimia dan air dalam tanaman, dan sebagai cadangan makanan.
Hasil tanaman yang tinggi harus didukung dengan batang padi yang
kokoh. Batang yang pendek dan kaku merupakan sifat yang
dikehendaki dalam pengembangan varietas-varietas unggul padi karena
6

tanaman menjadi tahan rebah, perbandingan antara gabh jerami lebih
seimbang, dan tanggap terhadap pemupukan nitrogen (Jennings et al
1979; Yoshida 1981 dalam Makarim dan Suhartatik).
E. Bunga dan Malai
Bunga padi secara keseluruhan disebut malai. Tiap unit bunga
pada malai dinamakan spikelet yang pada hakikatnya adalah bunga
yang terdiri atas tangkai, bakal buah, lemma, palea, putik, dan benang
sari serta beberapa organ lainnya yang bersifat inferior. Tiap unit bunga
pada malai terletak pada cabang-cabang bulir yang terdiri atas cabang
primer dan sekunder (Siregar 1981).

2.3. Syarat Tumbuh Tanaman Padi
Pada dasarnya dalam budidaya tanaman, pertumbuhan dan
perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor
lingkungan. Faktor lingkungan yang paling penting adalah tanah dan iklim
serta interaksi kedua faktor tersebut. Tanamn padi gogo dapat tumbuh pada
berbagai agroekologi dan jenis tanah. Sedangkan persyaratan utama untuk
tanaman padi gogo adalah kondisi tanah dan iklim yang sesuai. Faktor iklim
terutama curah hujan merupakan faktor yang sangat menentukan
keberhasilan budidaya padi gogo. Hal ini disebabkan kebutuhan air untuk
padi gogo hanya mengandalkan curah hujan (Norsalis 2011).
Padi gogo dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, sehingga tidak
begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi gogo. Sedangkan
yang lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil adalah sifat fisik,
kimia, dan biologi tanah atau dengan kata lain kesuburannya. Untuk
pertumbuhan tanaman yang baik diperlukan keseimbangan perbandingan
penyusun tanah yaitu 45% bagian mineral, 5% organik, 25% bagian air, dan
25% bagian udara. Pada lapisan tanah setebal 0-30 cm. Struktur tanah yang
cocok untuk tanaman padi gogo ialah struktur tanah yang remah. Tanah
yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung
halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak.
Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus > 50%. Keasaman (pH) tanah
7

bervariasi dari 5.5 sampai 8.0. pada pH tanah yang lebih rendah pada
umumnya gangguan kekahatan unsur p, keracunan Fe dan Al, sedangkan
bila pH lebih besar dari 8.0 menghalangi kekahatan Zn (Amirullah 2008).
Padi gogo memerlukan air sepanjang pertumbuhan dan kebutuhan
air tersebut hanya mengandalkan curah hujan. Tanaman dapat tumbuh pada
daerah mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Tumbuh di daerah
tropis/subtropis pada 450 LU sampai 450 LS dengan cuaca panas dan
kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan. Rata-rata curah hujan yang
baik adalah 200 mm/bulan selama 3 bulan berturut-turut atau 1500-2000
mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim
kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim
hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena
peneyerbukan bunga kurang intensif. Di dataran rendah padi memerlukan
ketinggian 0-650 m dpl dengan tempratur 22-27
0
C sedangkan di dataran
tinggi 650-1.500 m dpl dengan tempratur 19-23
0
C. Tanaman padi
memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh
pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan
merobohkan tanaman (Nazirah 2008).

2.4. Karakterisasi Sifat Tanaman Padi
Deptan (2003) menyatakan, metode-metode berikut dapat digunakan
untuk menjelaskan berbagai sifat tanaman padi:
1. Kode deskriptif digunakan untuk sifat-sifat yang lebih kurang memiliki
variasi genetik yang bersifat tidak berkelanjutan atau untuk sifat-sifat
yang terekspresi secara alami tidak mudah dirubah menjadi unit-unit
numerik (contoh: warna helai daun).
2. Intensitas kerusakan keparahan merupakan ukuran yang bersifat
kuantitatif yang disebabkan oleh penyakit, hama, atau cekaman-
cekaman lain. Serangan yang mengenai bagian tanaman seperti
rumpun, anakan, malai, yang disebabkan oleh cekaman, biasanya
dinyatakan sebagai angka relatif terhadap total banyaknya bagian yang
dinilai. Keparahan adalah luas area atau volume dari jaringan tanaman
8

yang rusak, biasanya dinyatakan sebagai nilai relatif terhadap luas area
atau total volume. Metode 1 dan 2 digunakan secara terpisah atau
dengan kombinasi untuk beberapa cekaman yang berbeda (misal: skala
untuk blas daun), juga untuk penyakit-penyakit virus dan kerusakan
yang disebabkan oleh beberapa cekaman abiotik, kerusakan dengan
skala yang berubah-ubah yang menyatakan derajat perkembangan
gejala tanaman secara keseluruhan.
3. Dalam mengambil keputusan tentang reaksi suatu materi pemuliaan
yang diuji terhadap suatu cekaman dilakukan perbandingan terhadap
reaksi varietas pembanding tahan dan rentan, misalnya untuk sifat
kemampuan pemanjangan batang atau elongasi. Jika tingkat cekaman
sangat rendah pada varietas pembanding peka, percobaan menjadi tidak
bermanfaat untuk analisis selanjutnya.
4. Pengukuran sebenarnya (aktual), penghitungan atau pencatatan data
untuk sifat-sifat yang berlanjut (misal: tinggi tanaman, hasil) dan
karakter-karakter yang tidak dapat dinyatakan dengan skala (misal:
pembungaan).

2.5. Tingkat Hasil Tanaman Padi
Pada prinsipnya tanaman padi memiliki potensi hasil genetik, yaitu
hasil tertinggi yang merupakan batas kemampuan suatu varietas padi dalam
memproduksi gabah, yang dapat dicapai hanya pada kondisi iklim terbaik
dan tanpa adanya faktor pembatas lingkungan tumbuh tanaman apapun.
Dengan pengertian ini, maka akan sangat sulit untuk meraih potensi hasil
genetik karena kondisi iklim terbaik sangat sulit dijumpai. Namun, besarnya
potennsi hasil genetik ini dapat diperkirakan/ dihitung dengan menggunakan
model simulasi yang menggunakan parameter-parameter fisiologis tanaman
dan iklim. Dengan cara ini perbedaan potensi genetik varietas dapat
dihitung. Produktivitas suatu penanaman padi merupakan hasil akhir dari
pengaruh interaksi antara faktor genetik varietas tanaman dengan
lingkungan dan pengelolaan melaui suatu proses fisiologis dalam bentuk
pertumbuhan tanaman (Makarim dan Suhartatik 2009).
9

2.6. Peningkatan Potensi Hasil Tanaman Padi
A. Padi Tipe Ideal
Pada awal perkembangan varietas padi, varietas berpotensi hasil
tinggi dan sangat respon terhadap pemberian pupuk N memiliki ciri
batang berbatang pendek dan kuat; daun tegak, sempit, tebal, dan
berwarna hijau tua. Menurut Donald (1968) dalam Makarim dan
Suhartatik (2009), Tanaman tipe idel didefinisikan sebagai kombinasi
traits spesifik yang sangat sesuai untuk fotosintesis, pertumbuhan dan
hasil gabah yang ideal.
Hasil padi tipe baru diharapkan dapat mencapai 30-50% lebih
tinggi dari varietas unggul baru. Namun, IRRI belum mendapatkan
galur berpotensi hasil seperti yang diharapkan (13-15 t/ha GKG) karena
persentase gabah hampa relative tinggi dan produktivitas biomas
relative rendah (Abdullah 2002).
B. Super High Yielding Variety
Saat ini hanya ada dua cara yang efektif untuk peningkatan
potensi melalui pemuliaan tanaman, yaitu perbaikan morfologi tanaman
dan menggunakan heterosis tanaman. Berdasarkan hasil penelitian
(Yuan 2003 dalam Makarim dan Suhartatik 2009), kombinasi P64S/E32
mencapai hasil 17,1 t/ha, disebut sebagai Super High Yielding Variety.


10

III. PELAKSANAAN KULIAH LAPANGAN
3.1. Waktu dan Tempat
Pelaksanaan Kuliah Lapangan dimulai pada bulan Juli 2014 sampai
bulan Agustus 2014 bertempat di Lahan Pertanian Unversitas Bangka
Belitung.

3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengamatan adalah alat tulis dan kamera
digital, Panduan Sistem Karakterisasi dan Evaluasi Tanaman Padi . Bahan
yang dijadikan objek pengamatan adalah karakter dan potensi hasil mutan
ke 5 tanaman padi beras merah.

3.3. Metode Kuliah Lapang Pengumpulan Data
1. Observasi (pengamatan)
Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui
observasi atau langsung di lapangan. Pengamatan dengan
mendokumentasikan pengetahuan tentang tanaman padi membutuhkan
penggalian informasi yang tepat dan kajian cermat dan mendalam serta
identifikasi sesuai dengan rencana penelitian di Lahan Pertanian
Unversitas Bangka Belitung.
2. Wawancara dan Dokumentasi
Wawancara dilakukan langsung kepada peneliti padi beras merah
Bangka di lapangan. Data hasil perolehan wawancara dan dokumentasi
sebagai hasil pengamatan. Wawancara dilakukan kepada peneliti
tanaman padi gogo dengan jumlah peneliti sebanyak 1 orang.



11

3.4. Cara Kerja
1. Pembuatan petak demplot sebanyak 3 petak contoh dalam areal lahan.
2. Ukuran petak 4 x 4 m.
3. Mengidentifikasi karakter dan potensi hasil tanaman padi.
4. Data yang diambil dicatat dan difoto sebagai hasil pengamatan.
5. Melakukan analisis dan perhitungan karakter dan potensi hasil tanaman
padi dengan menggunakan Panduan Sistem Karakterisasi dan Evaluasi
Tanaman Padi.

3.5. Peubah yang Diamati
Pengamatan jenis bentuk lidah daun, tipe malai, cabang malai
sekunder, sudut daun bendera, dan hasil/petak tanaman padi telah tumbuh.



12

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah B. 2002. Perkembangan Penelitian Padi Tipe Baru. Berita Puslitbangtan.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan No. 25.

Amirullah A .2008. Budidaya Padi. http://amiree.multiply.com/journal. [22 Juni
2014]

Deptan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2003. Panduan Sistem
Karakterisasi dan Evaluasi Tanaman Padi. Bogor.

BPS, 2010. Aram Produksi Padi Tahun 2010. Badan Pusat Statistik. Jakarta.
http://www.bps.go.id. [22 Juni 2014].

Haryadi. 2006. Teknologi Pengelolaan Beras. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta.

Makarim A.K. dan E Suhartatik. 2009. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi.
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. http://www.litbang.deptan.go.id
[22 Juni 2014].

Mubaroq I.A. 2013. Kajian Nutrisi Bionutrien Caf dengan Penambahan Ion
Logam Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Padi.
Universitas Pendidikan Indonesia.

Maulana I. 2013. Karakter Morfologis dan Produksi Mutan Padi dengan Aplikasi
Pupuk N dan P yang Berbeda. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1,
No.4.

Nazirah L. 2008. Tanggap Beberapa Varietas Padi Gogo Terhadap Interval dan
Tingkat Pemberian Air. Tesis Agronomi. Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.

Norsalis E. 2011. Padi Gogo dan Sawah. Balai Tanaman Pangan Sukamandi
http://www.agrimart.com [22 Juni 2014]

Siregar H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. PT. Sastra Hudaya.
Jakarta.

Sutoro dan A.K Makarim. 1997. Bentuk Tajuk Berbagai Varietas Padi dan
Hubungannya dengan Potensi Produksi. Penelitian Pertanian ISSN
0216-9959. Vol. 15: Badan Litbang Pertanian. Bogor: Pusat Penelitian
Tanaman Pangan.



13

Suwarno, Husin M. Toha dan Ismail Purbaya. 2005. Ketersediaan Teknologi dan
Pengembangan Padi Gogo dalam Inovasi Teknologi Padi menuju
Swasembada Beras Berkelanjutan Buku Satu. Suprihatno, B.A.K.
Makarim., I.N.Widiarta, Hermanto dan A. Yahya eds. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Pertanian. P:129-144.

Yudhohusodo S. 2001. Kemandirian di Bidang Pangan Kebutuhan Negara Kita.
Teks Pidato Pembukaan Seminar Pangan. Semarang 9 Oktober 2001.

Anda mungkin juga menyukai