Anda di halaman 1dari 3

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses menumbuhkan kemampuan

masyarakat dalam menggali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan


bagi kesejahteraan mereka sendiri. Segala potensi yang dimiliki oleh pihak yang kurang berdaya
ditumbuhkan, diaktifkan, dikembangkan sehingga mereka memiliki kekuatan untuk
membangun dirinya. Pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu
sebagai proses dan sebagai hasil. Sebagai hasil, pemberdayaan masyarakat adalah suatu
perubahan yang signifikan dalam aspek sosial politik yang dialami oleh individu dan masyarakat
yang seringkali berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
Tujuan yang ingin dicapai dari upaya pemberdayaan masyarakat adalah untuk
membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian masyarakat merupakan
suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan,
memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan
masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimilikinya sendiri.
Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang
mereka lakukan.
Sasaran kami dalam upaya pemberdayaan masyarakat adalah seorang pemulung. Beliau
bernama bapak Gassing, umur 45 tahun. Di kota Kendari ia dan sang isteri bermukim di
Kemaraya, tepatnya lorong depan Inul Vista. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehari-harinya
bapak Gassing memulung plastik-plastik yang ada di tempat sampah. Plastik yang sudah
dikumpulkan disebuah gerobak dan di bawah pulang untuk dibersihkan. Berikut gambar
tumpukkan plastik yang telah dikumpulkan dan ditampung dihalaman rumah bapak Gassing:

Sampah merupakan tempat berkembang biaknya penyakit, seperti diare, kolera, tifus,
gatal-gatal, dan cacingan. Hal ini bisa terjadi apabila adanya kontak langsung dengan sampah
tanpa menggunakan masker daan sarung tangan. Dalam melakukan pekerjaannya sebagai
pemulung, bapak Gassing tidak menggunakan alat pelindung diri, seperti masker, kaos tangan,
dan sepatu. Hal inilah yang membuat kami melakukan intervensi PHBS khususnya personal
higyene pada bapak Gassing.
Berikut kompetensi utama yang kami lakukan pada bapak Gassing yang berprofesi
sebagai seorang pemulung, yaitu:
1. Need Assesment
Berdasarkan kebutuhan bapak Gassing terdapat beberapa risiko terjadinya penyakit
akibat tidak menggunakan alat pelindung diri (seperti: masker, kaos tangan, dan
sepatu). Salah satu penyakit yang beresiko adalah penyakit kolera.
2. Investigating (Identifikasi Masalah)
Identifikasi masalah kesehatan dan ancaman lingkungan bagi kesehatan melului prinsip
epidemiologi pada bapak Gassing, yaitu:
Lingkungan (environment): Adanya kontak langsung dengan sampah setiap harinya
membuat risiko terjadinya penyakit pada bapak Gassing semakin besar. Hal ini dapat
membuat penyakit kolera akan menyerang bapak Gassing. Seperti kita ketahui
penyakit kolera disebabkan oleh
Perilaku (life style): Kebiasaan buruk yang dilakukan oleh bapak Gassing yaitu tidak
menggunakan alat pelindung diri (seperti: masker, sarunga tangan, dan sepatu) selama
memulung plastik membuat risiko terjadinya penyakit lebih besar.
Pelayanan kesehatan (medical service): Tidak adanya peran pemerintah khususnya di
bidang kesehatan dalam memberikan penyuluhan kesehatan pada masyarakat kecil
yang profesinya lebih besar beresiko terjadinya penyakit.
Faktor penduduk (Heredity): Salah satu faktor yang mempengaruhi risiko terjadinya
penyakit pada bapak Gassing adalah kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya
perilaku hidup bersih dan sehat bagi kesehatan.
3. Analyzing (Analisis Masalah)
Hasil analisis penyebab masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
risiko terjadinya penyakit pada bapak Gassing, yaitu:
Lingkungan fisik: