Anda di halaman 1dari 11

http://dhewi-hany.blogspot.

com/2009/12/asuhan-keperawatan-
dental-plague-konsep.html
KONSEP DASAR
A.DEFINISI
Plak gigi adalah lapisan transparan dan melekat pada gigi,
khususnya dekat dasar kepala gigi pada margin gusi. Plak
mencegah dilusi asam normal dan netralisasi, yang mencegh
disolusi bakteri pada rongga mulut. Plak gigi hanya dapat dilihat
dengan pewarnaan pada gigi. Perwarna yang digunakan juga
khusus dikenal dengan nama disclosing agent. Gigi yang sudah
disikat akan kembali berkontak dengan saliva (ludah). Mucin
(salah satu zat yang terkandung dalam saliva) akan melapisi
gigi. Lapisan ini kemudian dikenal dengan nama Acquired
Pellicle (mucus). Acquired Pellicle ini sangat tipis, berkisar 1
um. Selain mucin dan protein lainnya, saliva juga mengandung
banyak bakteri. Beberapa saat setelah Acquired Pellicle
terbentuk bakteri juga akan singgah dan berkoloni di lapisan
tersebut. Keadaan inilah yang kemudian disebut dengan plak
gigi atau dental plaque.
Plak merupakan penyebab lokal dan utama terbentuknya
penyakit gigi dan mulut yang lain seperti karies (lubang gigi),
kalkulus (karang gigi), gingivitis (radang pada gusi),
periodontitis (radang pada jaringan penyangga gigi), dan lain
sebagainya. Oleh karena plak tidak dapat dihindari
pembentukannya, maka mengurangi akumulasi plak adalah hal
yang sangat penting untuk mencegah terbentuknya panyakit gigi
dan mulut.
Selain itu plak ini juga berpengaruh terhadap kesehatan
jaringan pendukung gigi seperti gusi dan tulang pendukungnya.
Hal ini disebabkan oleh bakteri yang menempel pada plak di
atas permukaan gigi dan di atas garis gusi. Kuman-kuman pada
plak menghasilkan racun yang merangsang gusi sehingga terjadi
radang gusi, dan gusi menjadi mudah berdarah.
B. ETIOLOGI
Plak terbentuk akibat aktivitas bakteri yang mengubah sisa gula di atas permukaan
emael gigi. Plak sangat sulit dibersihkan, namun jika dibiarkan menumpuk dapat
memicu gangguan kesehatan oral yang lain, Akibatnya dapat menyebabkan berbagai
penyakit gusi, seperti radang gusi (gingivitis) yang ditandai dengan gusi tampak
kemerahan, agak membengkak, dan sering berdarah saat menggosok gigi.
Hal ini dapat berlanjut menjadi radang jaringan penyangga gigi
lainnya (periodontitis) bila tidak segera dirawat. Bila sudah
tahap ini dapat menimbulkan gigi goyang karena jaringan
penyangga gigi sudah rusak.
C. PATOFISIOLOGI
Mulut merupakan suatu tempat yang amat ideal bagi
perkembangan bakteri. Bila tidak dibersihkan dengan sempurna,
sisa makanan yang terselip bersama bakteri akan tetap melekat
pada gigi kita dan akan bertambah banyak dan membentuk
koloni yang disebut plak, yaitu lapisan film tipis, lengket dan
tidak berwarna. Plak merupakan tempat pertumbuhan ideal bagi
bakteri yang dapat memproduksi asam. Jika tidak disingkirkan
dengan melakukan penyikatan gigi, asam tersebut akhirnya akan
menghancurkan email gigi dan akhirnya menyebabkan gigi
berlubang
Selain itu plak ini juga berpengaruh terhadap kesehatan jaringan
pendukung gigi seperti gusi dan tulang pendukungnya. Hal ini
disebabkan oleh bakteri yang menempel pada plak di atas
permukaan gigi dan di atas garis gusi. Kuman-kuman pada plak
menghasilkan racun yang merangsang gusi sehingga terjadi
radang gusi, dan gusi menjadi mudah berdarah.
Bila dibiarkan, keadaan ini dapat menjadi lebih buruk dengan
bergeraknya gusi dari perlekatannya dengan gigi, sehingga
mempengaruhi tulang pendukung dan ligamen (jaringan
pengikat) sekitarnya dan menyebabkan tanggalnya gigi.
Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya, dan
didukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda.
Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut yang sehat ini tidak
tercium bau tak sedap.Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan
perawatan yang tepat. Namun, oleh karena berbagai faktor
(misalnya biaya dokter gigi yang relatif lebih mahal daripada
dokter umum) kesehatan gigi seringkali tidak menjadi prioritas.
Kita hanya pergi ke dokter gigi kalau keadaangigi sudah parah
dan rasa sakit tidak tertahankan lagi
Padahal, gigi yang sudah dalam keadaan terinfeksi berat dapat
mempengaruhi kesehatan secara umum. Selain itu, gigi yang
tidak terawat juga menyebabkan nafas tidak segar yang ujung-
ujungnya bisa menghambat pergaulan.
D. TANDA DAN GEJALA
1.Warna gigi berubah
2.Bau mulut
3.Terdapat lapisan transparan yang melekat pada gigi
4.Terkadang terjadi perdarahan pada gusi
F. KOMPLIKASI
Masalah mulut lain yang mungkin muncul ;
Stomatitis adalah kondisi peradangan pada mulut karena kontak
dengan pengiritasi, seperti tembakau; defisiensi vitamin; infeksi
oleh bakyeri, virus, atau jamur; atau penggunaan obat
kemoterapi.
Glositis adalah peradangan lidah hasil karena penyakit infeksi
atau cidera, seperti luka bakar atau gigitan.
Gengikitis adalah peradangan gusi, biasanya karena higiene
mulut yang buruk atau terjadi tanda leukimia, defisiensi vitamin,
atau diabetes melitus. Perawatan mulut khusus merupakan
keharusan apabila klien memiliki masalah oral ini. Perubahan
mukosa mulut yang berhubungan dengan mudah mengarah
kepada malnutrisi, yang merupakan perhatian utama bagi klien
yang memiliki kanker (Griefzu, Radjeski, Winnick, 1990).
G. PENATALAKSANAAN (KONSEP PENYAKIT)
1. Menjaga kebersihan oral dengan cara menyikat gigi dua kali
sehari, dapat mencegah pembentukan plak pada permukaan
email gigi.
2. Bersihkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dengan
menggunakan benang gigi (dental floss) atau sikat interdental
3. Perbanyak minum air putih
4. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan
tepung.

II. KONSEP ASKEP
A. Pengkajian
1) Riwayat Kesehatan
Klien yang tidak mengikuti praktik hygiene mulut yang
teratur akan mengalami penurunan jaringan gusi,gusiyang
meradang,gigi yang hitam (khususnya sepanjang margin
gusi),karies gigi, kehilangan gigi, dan halitosis. Rasa sakit yang
dilokalisasi adalah gejala umum dari penyakit gusi atau
gangguan gigi tertentu. Infeksi pada mulut melibatkan
organisme seperti treponeme pallidum, neisseria gonorrhoeae,
dan hominis virus herpes. Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, jika klien hendak memperoleh radiasi atau
kemoterapi,sangat penting mungumpulkan data dasr mengenai
keadaan rongga mult klien. Hal ini berfungsi sebagai dasar
untuk perwatan preventif bagi klien saat mereka melewati
pengobatan ( Greifzu Radjeski, Winnick, 1990).
2) Pengkajian Fisik
Pengkajian perawat tentang bibir,gigi,mukosa
buccal,gusi,langit-langit,dan lidah klien. Perawat memeriksa
semua daerah ini dengan hati-hati tentang
warna,hidrasi,tekstur,dan lukannya. Plak gigi yang telah keras
disebut kalkulus atau tartar. Biasanya kalkulus berwarna
kuning atau coklat.
Pengkajian rongga mulut klien dapat menunjukkan
perubahan aktual atau potensial dalam integritas struktur mulut.
3) Pola Fungsional
a. Pola Nutrisi
- Nafsu makan
- Perawatan rutin terhadap mulut
- Masalah dengan makan
- Diet
b. Persepsi Kesehatan
- Persepsi tentang status kesehatan
- Kemampuan perawatan diri
- Tingkat pengetahuan tentang kesehatan
c. Persepsi Diri
- Sikap tentang diri
- Dampak sakit terhadap diri
- Keinginan untuk mengubah diri
- Ekspresi wajah
- Perubahan harga diri
B.Masalah Keperawatan
1.Resiko infeksi
2.Personal hygine
3.Defisit perawatan diri
4.Gangguan body image
5.Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan diri
C.Perencanaan
1.Resiko infeksi
Tujuan; mencegah terjadinya infeksi
Tindakan; Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung
gula dan tepung.
Membersihkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dengan
menggunakan benang gigi (dental floss) atau sikat interdental.
2.Personal hygine
Tujuan; Tercapainya kebersihan diri
Tindakan; Menjaga kebersihan oral dengan cara menyikat gigi
dua kali sehari, dapat mencegah pembentukan plak pada
permukaan email gigi.
3.Defisit perawatan diri
Tujuan; Agar klien melakukan perawatan terhadap dirinya
khususnya perawatan mulut.
Tindakan ; Menganjurkan untuk menyikat gigi secara teratur
Membatasi makan makanan yang dapat merusak gigi
4.Gangguan body image
Tujuan; Menghindarkan perasaan rendah diri
Tindakan:Memotifasi untuk tetap percaya diri
5.Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan diri
Tujuan;Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Tindakan;Memberi diit yang tepat
Menganjurkan untuk banyak minum air putih