Anda di halaman 1dari 549

TEMU PROFESI TAHUNAN (TPT) XVII PERHAPI 2008

PALEMBANG, 24-25 JULI 2008


PENGEMBANGAN PROSES,
TEKNOLOGI DAN PROFESIONALISME
MENUJU KEBERLANJUTAN PERTAMBANGAN
PERHIMPUNAN AHLI PERTAMBANGAN INDONESIA
ASSOCIATION OF INDONESIAN MINING PROFESSIONALS
ISBN 978-979-8826-14-6
PROSIDING
Kata Pengantar


Salam PERHAPI,

Pembangunan berkelanjutan merupakan tanggung jawab sektor Pertambangan bersama-sama
sektor lainnya. Oleh karena itu, kita mengharapkan peningkatan profesionalisme para
anggotanya dan pengembangan teknologi yang menunjang pembangunan tersebut.

Salah satu wahana untuk mendapatkan masukan agar dapat mewujudkan cita-cita bersama ini
Temu Profesi Tahunan (TPT) XVII PERHAPI Tahun 2008 di Palembang tanggal 24-25 Juli
2008 mengambil tema Pengembangan Proses, Teknologi dan Profesionalisme Menuju
Keberlanjutan Pertambangan. Selain sebagai wahana tukar pikiran atau untuk memperkaya
wawasan, antar anggota PERHAPI maupun dengan pihak-pihak terkait, makalah-makalah ini
diharapkan sebagai salah satu masukan untuk Pembangunan Berkelanjutan tersebut. Dalam
Acara ini, 32 makalah yang telah dipilih dari 50 makalah yang masuk, akan dipresentasikan
oleh pemakalah dan 3 Pemenang lomba makalah tingkat mahasiswa.

Semua makalah masuk dalam Prosiding TPT XVII PERHAPI 2008 TPT XVII PERHAPI
2008 yang berisi 53 Makalah yang dibagi menjadi Kelompok Kebijakan/Mineral Ekonomi,
Kelompok Geologi/Eksplorasi, Kelompok Penambangan, Kelompok Pengolahan/Metalurgi,
Kelompok Lingkungan Tambang dan Kelompok Student Paper Contest.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini pula, segenap Pengurus PERHAPI ingin
menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua
pihak yang telah mendukung sehingga acara TPT XVII PERHAPI 2008 dapat terselenggara
dengan baik.

Jakarta, 24 Juli 2008


Prof. Dr. Ir. Irwandy Arif, M.Sc
Ketua Umum PERHAPI
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

KELOMPOK I : KEBIJAKAN/MINERAL EKONOMI


Hal
1 Merencanakan Bahan Bakar Batubara Untuk PLTU 10.000 MW,
Ir.Amirrusdi, M.Si, Widyaiswara Madya, Pusdiklat Ketenagalistrikan
Dan Energi Baru Terbarukan.

1
2 Endapan Logam Dasar Di Pegunungan Selatan-Jawa Dan Optimalisasi
Penambangannya Yang Berbasis Masyarakat Lokal, Arifudin Idrus,
Jurusan Teknik Geologi FT-UGM.

12
3 Mampukan Tambang Mengurangi Kemiskinan?, Harry Miarsono, Ph.D.,
PT Kaltim Prima Coal.

21
4 Aspek Sosial Dalam Rencana Penambangan Pasir Besi Kulon Progo,
D.Haryanto, Jurusan T. Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

32
5 Meneropong Perubahan Paradigma Profesionalisme Maintenance
Equipment Mencapai Zero Technology di Dunia Pertambangan, Irwan,
Maintenance Engineer PT. International Nickel Indonesia Tbk.

40
6 Kajian Dampak Lingkungan Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung
Energi Nasional, M. Taufik Toha, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.

48
7 Strategi Pengembangan Energi Baru Dan Terbarukan Untuk Percepatan
Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional, Machmud Hasjim

dan M. Taufik Toha, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.

64
8 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Disekitar Lokasi
Pertambangan (Proyek Tambang Emas PT. Cibaliung Sumberdaya),
Noegroho Soeprayitno, PT. Cibaliung Sumberdaya.

76
9 Industri Pertambangan Umum Dan Keberlanjutan Fiskal: Peranan PT.
Freeport Indonesia, Nuzul Achjar, Khoirunurrofik, Uka Wikarya,
Ibrahim Kholilul Rohman, Widyono Soetjipto; Lembaga Penyelidikan
Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
(LPEM-FEUI).



81
ii
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
iii
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
10 Pengaruh Kebijakan Pemerintah (Government Policies) Dan Potensi
Mineral (Mineral Potential) Terhadap Investasi Pada Industri Tambang
Indonesia Dan Turkey, Perisai Ginting, PT. International Nickel
Indonesia Tbk.


92
11 Clean Development Mechanism (CDM) Pasca Tambang di Pertambangan
Batubara PT Kaltim Prima Coal : Suatu Kajian Pustaka, Restu Juniah,

Jurusan Pertambangan Fakultas Teknik Unsri.


106
12 Refleksi 100 Tahun Kebangkitan Nasional Dan Perjalanan Industri
Pertambangan Di Indonesia Sebuah Pendekatan Historis Komperatif,
Rezki Syahrir.

114
13 Strategi Pemilihan Teknologi Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah
Indonesia, Rudianto Ekawan
1)
,
Aryo P Wibowo
1)
, Rudy S Gautama
1)
,
Fadhila A Rosyid
1)
, Johannes Novendi
2)
,1) Kelompok Keahlian Teknik
Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan & Perminyakan, Institut
Teknologi Bandung 2) Program Magister Rekayasa Pertambangan, Institut
Teknologi Bandung.

125
14 Pemanfaatan E-Learning Dalam Pembelajaran Keselamatan Kerja Untuk
Mendukung Penambangan Berkelanjutan (Studi Konseptual Untuk
Pertambangan), Wayan Dewantara, Human Resources Organization
Development PT International Nickel Indonesia Tbk.

140

KELOMPOK II : GEOLOGI/EKSPLORASI


15 Tomografi Tahanan Jenis Untuk Geoteknik Dan Eksplorasi, B. Sulistijo,
Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumber Daya Bumi, ITB.

150
16 Penggunaan Geolistrik Tahanan Jenis 2 D Untuk Identifikasi Arah
Sebaran Batu Besi Di Daerah Y, Kabupaten Belitung Timur, Eddy
Ibrahim, Staf Pengajar Jurusan Teknik Pertambangan dan Prog. Studi S2
Pengelolaan Lingkungan- Pascasarjana, Universitas Sriwijaya.

160
17 Kajian Reservoir Hidrokarbon Dengan Metode Inversion Vertical
Electrical Logging (IVEL) Konfigurasi Wenner (Studi Kasus Lapangan
Y PT. Pertamina EP Region Sumatera), Eddy Ibrahim
1 & 2*)
Ardi
1)
W.W.Parnadi
) 3
,
1)
Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik,
Universitas Sriwijaya,
2)
Prog. Studi S2 Pengelolaan Lingkungan-
FPS,Universitas Sriwijaya,
3)
Prog. Studi Teknik Geofisika, Institut
Teknologi Bandung.




171
iv
18 Do Supergene Enrichment Of Gold (-Silver) Making Pongkor An
Economic Deposit?, I Wayan Warmada
1
, Herian Sudarman Hemes
2
,

1
Department of Geological Engineering, Faculty of Engineering, Gadjah
Mada University, Yogyakarta, Indonesia,
2
PT. Aneka Tambang (Persero)
Tbk, Unit Penambangan Emas Pongkor, Bogor, Indonesia

186
19 Pengaruh Faktor Isotropi Dalam Estimasi Titik Inverse Distance Square
(Studi Kasus Endapan Timah Aluvial), Ir. Kresno, MM, M.Sc,

Jurusan
Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta

192
20 Keterintegralan Riemann Based On Leibniz Dalam Perhitungan Bahan
Galian, Nur Ali Amri, Jurusan Teknik Pertambangan FTM UPN
Veteran Yogyakarta.

202
21 Pra Studi Kelayakan Endapan Marmer Di Desa Jetak Kecamatan Tulakan
Kabupaten Pacitan, Yanto Indonesianto, Hasywir Thaib, Hans A
Detaq, (Teknik Pertambangan UPN veteran Yogyakarta.

208
22 Pemakaian Metode Resistivity Sounding Dalam Upaya Mengetahui
Katebalan Overburden Dan Distribusi Lapisan Batu Bara Di Batulicin,
Kalimantan Selatan, Yatini*, Dwi Poetranto WA**, Imam Suyanto***,
*staf pengajar Jurusan Teknik Geofisika UPN Veteran Yogyakarta **
staf pengajar Teknik Pertambangan UPN Veteran, ***staf pengajar
Prodi Geofisika-FMIPA-UGM Yogyakarta.

219

KELOMPOK III : PENAMBANGAN


23 Persoalan Optimasi Faktor Keamanan Minimum Dalam Analisis
Kestabilan Lereng Dan Penyelesaiannya Menggunakan Matlab, Anoko
Kusuma Ari dan Irwandy Arif*), *)Program Studi Teknik
Pertambangan ITB.

230
24 Kontribusi Pemasangan Cable Bolt Dalam Menahan Perpindahan Massa
Batuan Pada Tambang Bawah Tanah; Barlian Dwinagara
1)
, Ridho K.
Wattimena
2)
, Irwandy Arif
2)
;
1)
Jurusan Teknik Pertambangan UPN
Veteran Yogyakarta,
2)
Program Studi Teknik Pertambangan Institut
Teknologi Bandung.

247
25 Sistem Penimbunan Batubara Pada Stockpile Pelabuhan Di Tambang
Terbuka Pt. Arutmin Indonesia Asam-Asam Kalimantan Selatan, Edy
Nursanto, Reza Supianto, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas
Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta.




256
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
26 Aplikasi Slope Stability Radar (SSR) Untuk Prediksi Batas Kritis
(Threshold) Pergerakan Lereng Di Tambang Terbuka Batuhijau Studi
Kasus, Fransiscus Cahya Kusnantaka, Charly Indrajaya, PT Newmont
Nusa Tenggara, Indonesia.

262
27 Peledakan Tambang Terbuka Dekat Pipa Transmisi, Ganda M.
Simangunsong
1
, Dwihandoyo Marmer
2
, Ausir Nasrudin
3
,
1
Program
Studi Teknik Pertambangan, Institut Teknologi Bandung
2
Pusat Penelitian
dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara
3
PT Adaro Indonesia

278
28 Penerapan Teori Blok Untuk Analisis Kestabilan Cerun Batuan Bukit
Fraser Di Pahang Malaysia, Haswanto
1)
, and Abd. Ghani Md. Rafek
2)
,
1)
Jurusan pertambangan , FTM, Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia.
2)
Departmen Geology, UKM, Bangi, Malaysia.

285
29 Aplikasi Ventsim Untuk Evaluasi Ventilasi Di Ciurug UBPE Pongkor, PT
Antam Tbk., Indonesia, Risono*
1)
, Achmad Ardianto
1)
, Djoko
Widajatno
2)
, Nuhindro Priagung Widodo
2)
,
1)
UBPE Pongkor, PT
Antam Tbk, Indonesia,
2)
Program Studi Teknik Pertambangan, FIKTM,
ITB, Bandung, Indonesia.

296
30 Aplikasi Backfill Pada Tambang Mekanis Cut And Fill Di Ciurug UBPE
Pongkor, PT Antam Tbk., Indonesia; Setyawan Suseno; UBPE Pongkor
PT Antam Tbk., Indonesia.

305
31 Peranan Klasifikasi Massa Batuan Pada Perancangan Lereng Tambang
Terbuka Penambangan Batubara, PT. Adaro Indonesia; Singgih Saptono,
Suseno Kramadibrata, Ridho K. Wattimena, & Budi Sulistianto;
Program Studi Rekayasa Pertambangan FTTM, ITB.

315
32 Rancangan Multi Pit Penambangan Batubara; Waterman Sulistyana B.,
Hasywir Thaib Siri, Dewa Widyanto, Jurusan Teknik Pertambangan
UPN Veteran Yogyakarta.

323
33 Mengoptimalkan Kinerja Dan Menyejahterakan Karyawan Maintenance
Alat Berat Tambang Dengan Memperpanjang Jam Kerja, Wiwin Sujati,
Superintendent Mechanical Truck, PT. Kaltim Prima Coal.

331

KELOMPOK IV: PENGOLAHAN/METALURGI


34 Uji Kualitas Pembakaran Biobriket Batubara Sebagai Bahan Bakar
Alternatif, Abuamat HAK
1)
dan Restu Juniah
2*)
,
1,2)
Jurusan
Pertambangan Fakultas Teknik Unsri.

337
35 Peningkatan Kapasitas Produksi Pabrik Feni 2 Dengan Recycle Slag De-
Sulfurisasi, Anas Safriatna, Refinery & Casting Manager, PT Antam Tbk
UBP Nikel.
345
v
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
36 Studi Pengambilan Karbon Aktif Dari Tailing Dengan Metode Froth
Flotation Di PT Aneka Tambang Tbk. UBPE Pongkor, Arif Tirto Aji,
dan Andik Yudiarto, ST; PT. Aneka Tambang, Tbk.

352
37 The Way KPC Manages Coal Dusts To Maintain Sustainable Coal
Processing Plant Operations, Asmit Abdullah ST, Manager Coal
Processing Plant, PT Kaltim Prima Coal-Sengata Kutai Timur.

366
38 Feasibility Study Refractory Castable Sebagai Pengganti Cooling Water
Pada Raw Gas Stack Electric Smelting Furnace No.2, Hendra Wijayanto
ST, Processing And Engineering Department Nickel Mining Business
Unit, PT ANTAM Tbk, Indonesia.

376
39 Oksidasi Awal Dengan Hidrogen Peroksida Pada Proses Pelindian Emas
Di PT. Indo Muro Kencana, Ir. Imam Subagyo, PT. Indo Muro Kencana.

388
40 Study Ketercucian Batubara Sebagai Dasar Rancangan Pabrik Pencucian
Batubara, Indah Setyowati, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas
Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta.

398
41 Proses Pemanggangan-Reduksi Dalam Pemanfaatan Pasir Besi Sebagai
Bahan Baku Industri Besi Baja, Pramusanto dan Nuryadi Saleh,
puslitbang tekMIRA.

408
42 Pencucian Bijih Timah Dengan Meja Goyang Di Tin Shed, PT Koba Tin,
Pramusanto
1,2)
, Sriyanti
2)
, dan Sapta N.F. Syaputra
2)
,
1)
Puslitbang
Teknologi Mineral dan Batubara,
2)
Jurusan Teknik Pertambangan,
UNISBA.

416
43 Penentuan Karakteristik Bijih Nikel Untuk Umpan Pabrik Feni-3
Berdasarkan Parameter Operasi Electric Smelting Furnace 3, Rio
Dharma Putra, S.T., dan Riko, S.T., PT. Antam, UBP Nikel Pomalaa.

431
44 Korelasi Nickel Crude High Grade Terhadap Pola Operasi Tanur Listrik
Feni 3, Yogi Suprayogi, PT. Antam, UBP Nikel Pomalaa

443

KELOMPOK V : LINGKUNGAN TAMBANG


45 Prakiraan Dampak Lingkungan Penambangan Pasir Besi Di Selatan Pulau
Jawa, Chusharini Chamid
(1)
, Yuliadi
(1)
dan B. Sulistijo
(2)
,
(1)
Program
Studi Teknik Pertambangan Universitas Islam Bandung
(2)
Institut
Teknologi Bandung.




456
vi
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
36 Studi Pengambilan Karbon Aktif Dari Tailing Dengan Metode Froth
Flotation Di PT Aneka Tambang Tbk. UBPE Pongkor, Arif Tirto Aji,
dan Andik Yudiarto, ST; PT. Aneka Tambang, Tbk.

352
37 The Way KPC Manages Coal Dusts To Maintain Sustainable Coal
Processing Plant Operations, Asmit Abdullah ST, Manager Coal
Processing Plant, PT Kaltim Prima Coal-Sengata Kutai Timur.

366
38 Feasibility Study Refractory Castable Sebagai Pengganti Cooling Water
Pada Raw Gas Stack Electric Smelting Furnace No.2, Hendra Wijayanto
ST, Processing And Engineering Department Nickel Mining Business
Unit, PT ANTAM Tbk, Indonesia.

376
39 Oksidasi Awal Dengan Hidrogen Peroksida Pada Proses Pelindian Emas
Di PT. Indo Muro Kencana, Ir. Imam Subagyo, PT. Indo Muro Kencana.

388
40 Study Ketercucian Batubara Sebagai Dasar Rancangan Pabrik Pencucian
Batubara, Indah Setyowati, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas
Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta.

398
41 Proses Pemanggangan-Reduksi Dalam Pemanfaatan Pasir Besi Sebagai
Bahan Baku Industri Besi Baja, Pramusanto dan Nuryadi Saleh,
puslitbang tekMIRA.

408
42 Pencucian Bijih Timah Dengan Meja Goyang Di Tin Shed, PT Koba Tin,
Pramusanto
1,2)
, Sriyanti
2)
, dan Sapta N.F. Syaputra
2)
,
1)
Puslitbang
Teknologi Mineral dan Batubara,
2)
Jurusan Teknik Pertambangan,
UNISBA.

416
43 Penentuan Karakteristik Bijih Nikel Untuk Umpan Pabrik Feni-3
Berdasarkan Parameter Operasi Electric Smelting Furnace 3, Rio
Dharma Putra, S.T., dan Riko, S.T., PT. Antam, UBP Nikel Pomalaa.

431
44 Korelasi Nickel Crude High Grade Terhadap Pola Operasi Tanur Listrik
Feni 3, Yogi Suprayogi, PT. Antam, UBP Nikel Pomalaa

443

KELOMPOK V : LINGKUNGAN TAMBANG


45 Prakiraan Dampak Lingkungan Penambangan Pasir Besi Di Selatan Pulau
Jawa, Chusharini Chamid
(1)
, Yuliadi
(1)
dan B. Sulistijo
(2)
,
(1)
Program
Studi Teknik Pertambangan Universitas Islam Bandung
(2)
Institut
Teknologi Bandung.




456
vii
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
MERENCANAKAN BAHAN BAKAR BATUBARA UNTUK
PLTU 10.000 MW
Disusun oleh: Ir.Amirrusdi, MSi
Widyaiswara Madya Pusdiklat Ketenagalistikan dan
Energi Baru Terbarukan

Abstrak
Berdasarkan hitungan Ditjen Migas dalam APBN Perubahan 2008, pagu anggaran
subsidi energi mencapai Rp. 198 Trilyun, yang terdiri atas subsidi Bahan Bakar Minyak
(BBM) sebesar Rp. 82 Trilyun dan subsidi listrik Rp. 60,29 Trilyun (untuk patokan harga
BBM 125 USD/barrel). (Kompas, 18 April 2008). Besarnya subsidi ini karena sebagian besar
Pembangkit Listrik berbahan bakar minyak.
Untuk itu Pemerintah segera akan merealisasikan Pembangkit listrik Tenaga Uap
berbahan bakar batubara yang diharapkan mulai beroperasi di tahun 2010, dengan alasan
cadangan batubara cukup banyak di Indonesia dan harga per Kwh-nya 10 kali lebih murah
dibandingkan bahan bakar minyak. Akan tetapi banyak kendala terutama pasokan batubara
pada saat beroperasinya PLTU tersebut, karena belum ada kepastian tersedianya batubara
yang diperlukan. Menurut beberapa ahli, diperlukan kurang lebih 60-70 juta ton batubara
pertahun untuk mengoperasikan PLTU 10.000 MW tersebut.
Walaupun cadangan sumber daya batubara sampai saat ini sudah mencapai 90,451
milyar ton, yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua
(terbesar di Sumatera 53,824 milyar ton), tapi yang dapat di tambang mungkin hanya sebesar
5,3 milyar ton. Lagi pula saat ini sebagian besar diekspor sebanyak 80%, dan untuk
penggunaan dalam negeri hanya 20%. Contoh di tahun 2006 ekspor sebanyak 140 juta ton,
pemakaian domestic hanya 40 juta ton. Dengan alasan bisnis atau selisih harga batubara
internasional dan domesik saat ini makin besar, sehingga produsen batubara cenderung
mengekspor produksinya, selain itu untuk ekspor bahan tambang ini pemerintah tidak
mengenakan pajak ekspor seperti pada ekspor minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil).
Apabila pembangkit listrik 10.000 MW ini sudah beroperasi, maka nantinya hanya 8%
pembangkit listrik Indonesia yang menggunakan BBM, berarti subsidi BBM akan jauh
menurun, sehingga dana-dana subsidi tersebut dapat digunakan untuk pembangunan di sektor
lain.
Untuk mempersiapkan bahan bakar batubara guna keperluan PLTU 10.000
MW, tidaklah mudah. Diperlukan strategi perencanaan yang matang baik dari kebijakan
pemerintah, segi bisnis, sarana dan prasarana baik di tambang-tambangbatubara, maupun di
PLTU, sarana transportasi (jalan,jembatan), alat angkut, pelabuhan maupun tongkang-
tongkang pengangkut, dan sumber daya manusia pengelolanya.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
Oleh karena itu, multi perencanaan pekerjaan dari hulu ke hilir serta Low Enforcement
dari pemerintah perlu direncanakan lebih matang, bila impian PLTU 10.000 MW akan
terwujud di tahun 2010.
Kata Kunci: Suksesnya batubara untuk PLTU 10.000 MW direncanakan dengan DMO
(Domestic Market Obligtion), pembukaan tambang dan pembangunan infrastruktur serta
pajak ekspor.

Pembukaan
Alasan pemerintah Indonesia untuk membangun PLTU Batubara 10.000 MW antara
lain biaya pokok listrik, bahan bakar batubara, hanya Rp 143/KwH, dibandingkan gas alam
Rp 214/KwH atau bahan bakar minyak Rp 1302/KwH, selain itu sampai saat ini pembangkit
listrik yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) masih mencapai 8900 MW (41%).
Dan biaya pembelian BBM di tahun 2006, sebesar Rp 52,3 Trilyun, perkiraan di tahun 2007
biaya pembelian BBM masih sebesar Rp 38,04 Trilyun (Kompas 20 Februari 2007 dan 23
Mei 2006). Dari data-data tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa sebagian besar dana
APBN akan tersedot untuk membeli BBM yang sebenarnya dapat di hemat untuk membeli
bahan bakar Batubara dengan perbandingan harga listrik/KwH antara bahan bakar Batubara
dan Bahan Bakar Minyak, satu berbanding sembilan, bila memanfaatkan Batubara hanya di
bayar Rp100/KwH tapi bila menggunakan BBM, harus di bayar Rp 900/KwH.
Indonesia terancam krisis energi! Konsumsi bahan bakar minyak di tahun 2005
mencapai 70 juta kilo liter. Dari konsumsi sebesar ini, sektor transportasi (47%), rumah
tangga (20%), industri (19%), dan pembangkit listrik (14%). Padahal beberapa konsumsi
bahan bakar tersebut dapat dialihkan kepada listrik seperti dari sektor transportasi (dengan
kereta api listrik), dari sektor rumah tangga dan industri (dengan energi dari listrik), yang
berarti diperlukan pembangkit listrik berbahan bakar energi yang murah dan banyak
cadangannya di Indonesia seperti batubara. Konon, cadangan batubara Indonesia sudah
mencapai 57 milyar ton, dengan rata-rata produksi 130 juta ton per tahun. Maka, selama lebih
kurang 147 tahun ke depan, PLTU batubara akan tetap memproduksi energi dan terjamin
bahan bakarnya, tidak tergantung batubaranya dengan negara lain.
Pemerintah sejak tahun 2006, sudah memprogramkan pembangunan PLTU Batubara
10.000 MW. Tidak lama lagi direncanakan PT. PLN (Persero) akan menandatangani kontrak
engineering, procurement and construction (EPC) pada empat proyek PLTU, yaitu di
Suralaya, Paiton, Indramayu dan Labuan. Adapun pemenang tender-nya adalah China
National Technical Import and Export Corporation (CNTIC) untuk PLTU Suralaya (1 x 600
MW), China National Machinery Industry Corporation untuk PLTU Indramayu (3 x 300
MW), Chengda Engineering Corporation untuk PLTU Labuan (2 x 300 MW) dan Harbin
Power Engineering di PLTU Paiton (1 x 600 MW). (Media Indonesia, 11 Maret 2007)
Dengan mulainya pembangunan PLTU 10.000 MW ini, berarti pemerintah harus
mengantisipasi bahan bakar batubaranya, cadangan Batubara, rencana penambangan, jalur-
jalur transportasi, alat-alat transportasi, tongkang, tug boat, lokasi penumpukan pembersihan
batubara, jadwal pengangkutan, dan lain sebagainya.
2
Domestic Market Obligation
Undang-Undang Dasar 1945, pasal 33 ayat 3 berbunyi Bumi, air dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat. Jadi, batubara dikuasai oleh negara dan tujuannya untuk kemakmuran
rakyat.
Proyek PLTU Batubara 10.000 MW yang direncanakan selesai tahun 2009 ini jelas
menambah kebutuhan batubara nasional, sedikitnya diperlukan tambahan batubara sebanyak
30 juta ton per tahun.
Mengingat produksi batubara yang dihasilkan oleh perusahan batubara ditujukan juga
untuk ekspor yang menurut prakiraan 11
th
Indonesia-Australia Joint Working Group on
Energy Mineral 2006, pada tahun 2010 Indonesia akan mengekspor sejumlah 170 juta ton,
maka pada saat itu total keperluan batubara akan mencapai sekurang-kurangnya 240 juta ton
(170 juta ton ditambah kebutuhan domestik 70 juta ton). Pada saat ini, Indonesia akan
menjadi eksportir batubara terbesar di dunia, Australia pada urutan kedua (hanya mampu
mengekspor 135 juta ton), Afrika Selatan (hanya 93 juta ton), dan Cina (hanya 75 juta ton).
Dibandingkan dengan pemanfaatan batubara di dalam negeri maka Cina memanfaatkan
batubara sebagai sumber listriknya yang mencapai 78%, Afrika Selatan sebanyak 92%
Kiranya pemerintah harus mengantisipasi bila para pebisnis batubara melihat harga
pasar di pasar global lebih menguntungkan daripada di dalam negeri maka besar
kemungkinan kebutuhan domestik terabaikan, seandainya harga jual di dalam negeri hanya
Rp. 361.700 per ton sedangkan ekspor US$ 45 per ton. (Media Indonesia, 28 Desember 2006)
Sebagai contoh, di Cina yang memiliki sumber batubara 7 miliar ton, hingga akhir
2005 sudah di produksi 1,9 miliar ton. Tapi dari jumlah itu, hanya 80 juta ton saja yang di
ekspor. Pemerintah Cina hanya menunjuk 4 perusahaan yang menjalankan ekspor,
bandingkan dengan Indonesia deangan UUD 1945 pasal 33 ayat 3, kenyataanya semua
perusahaan dapat mengekspor batubara asalkan ada koneksi pasarnya.
Oleh karena itu, pemerintah sesuai dengan amanat UUD 1945 segera menetapkan
kebijakan Domestic Market Obligation (DOM). Berhasilnya PLTU Batubara 10.000 MW,
harus didukung oleh semua lapisan masyarakat, baik dari segi kebijakan yang bermoral, dan
kesadaran kebangsaan bagi pelaku bisnis batubara, karena batubara adalah salah satu energi
unrenewable dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Tahapan Pembangunan PLTU Batubara
Secara umum, sistem pembangunan sebuah pembangkit PTU Batubara dimulai
dengan pertanyaan mengapa? Mengapa pembangkit harus dibangun? Jawabannya bermacam-
macam, antara lain : krisis energi, memanfaatkan energi yang ada, harga batubara yang
murah, mudah mengoperasikannya baik di tambang atau pada pembangkit, tidak
ketergantungan bahan bakar dengan negara lain, sumber daya manusianya tersedia (skil dan
non skill), transportasinya mudah, dengan teknologi batubara bersih, tidak merusak
lingkungan, dan lain sebagainya.
3
Pertanyaan kedua, dimana akan didirikannya? Dengan alasan konsumen listriknya,
jaringan listrik, kesiapan pemerintah daerah dan pusat, penerimaan masyarakat dari sisi sosial,
ekonomi, budaya, lingkungan hidup, dan lain sebagainya.
Pertanyaan ketiga, pendanaan? Apakah dari APBN, APBD, pinjaman luar negeri,
hibah, dan lain sebagainya.
Mungkin puluhan pertanyaan lainnya akan timbul sebelum PLTU 10.000 MW ini
ditetapkan untuk dijadwalkan dan kenyataannya penandatangan kontrak sudah akan
dilaksanakan sekitar semester pertama tahun 2007 dan bila tidak ada halangan maka pada
tahun 2010, realisasi PLTU ini sudah terlaksana.

Lokasi PLTU Batubara
Pembangunan sejumlah PLTU Batubara di Pulau Jawa yang terdiri dari 10 proyek,
yaitu di Suralaya, Paiton, Rembang, Indramayu, Tanjung Awar-Awar, Labuhan, Tanjung Jati,
Pacitan, Teluk Naga dan Pelabuhan Ratu, dengan kapasitas 6.900 MW. Sedangkan di luar
Pulau Jawa dengan kapasitas 3.100 MW, terdiri dari 25 PLTU, dimana proyek pembangkit di
luar Pulau Jawa terbagi atas kelas (7-25 MW), (50-65 MW) dan (100-200 MW) yang tersebar
di Sumatera (10 Proyek), Kalimantan (4 Proyek), Sulawesi (4 proyek), Nusa Tenggara (3
proyek), Maluku (2 proyek), dan Papua (2 proyek).
Direncanakan proyek pembangkit yang kelasnya lebih dari 100 MW ditargetkan bisa
selesai dalam waktu 30 bulan. Sementara pembangkit listrik yang kelasnya kurang dari 100
MW ditargetkan selesai dalam jangka waktu 24 bulan, dimana pemasukan dokumen lelang
tahap pra-kualifikasi pada tanggal 6 Februari 2007.
Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.80 tahun 2003, dalam pembangunan PLTU
Batubara ini muatan lokal untuk pembangkit 8 MW sebesar 68%, 8 MW s/d 25 MW sebesar
50%, 25 MW s/d 50 MW sebesar 45%, di atas 100 MW sebesar 40%, sedangkan untuk
pembangkit berkapasitas 300 MW s/d 600 MW di pulau Jawa sebesar 15%.
PLTU Batubara 10.000 MW
NO. PULAU JAWA (6900 MW) NO. LUAR JAWA (3100 MW)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Suralaya (Banten)
Paiton (Jatim)
Rembang (Jateng)
Indramayu (Jabar)
Tanjung Awar-Awar (jatim)
Labuan (Banten)
Tanjung Jati Baru (Jateng)
Pacitan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Sumatera (10 proyek)
Kalimantan (4 proyek)
Sulawesi (4 proyek)
Nusa Tenggara (3 proyek)
Maluku (2 proyek)
Papua (2 proyek)

4
Potensi Batubara dan Energi Fosil Lainnya
Berdasarkan Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025; potensi batubara 57
miliar ton (sumber daya), 19,3 miliar ton (cadangan proven+possible), yang apabila
diproduksi setiap tahun sebesar 130 juta ton, maka umur cadangan batubara Indonesia (rasio
cadangan/produksi) lebih kurang 147 tahun lagi dengan catatan tanpa explorasi yang baru.
Dibandingkan dengan potensi energi fosil lainya, seperti minyak dan gas, maka cadangan
energi yang terbesar di Indonesia adalah batubara.
Potensi Energi Nasional 2004
JENIS
ENERGI
FOSIL
SUMBER
DAYA
CADANGAN
(PROVEN+POSSIBLE)
PRODUKSI
(PER
TAHUN)
RASIO
CAD/PROD
TANPA
EKSPLORASI,
TAHUN
Minyak 86,9 miliar barel 9 miliar barel 500 juta barel 18
Gas 384,7 TSCF 182 TSCF 3,0 TSCF 61
Batubara 57 miliar ton 19,3 miliar ton 130 juta ton 147
Sumber : Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025

Bila di data mulai tahun 2006, maka produksi batubara Indonesia mencapai 152,2 juta
ton, dimana 107,3 juta ton (70%) merupakan produksi ekspor dan 44,9 juta ton untuk
keperluan domestik, diperkirakan pada tahun 2010, ekspor akan mencapai 170 juta ton. Maka
dapat dipastikan produksi batubara akan naik secara domestik, dimana sekurang-kurangnya
bahan baku batubara untuk PLTU 10000 MW, lebih kurang 30 juta ton pertahun. Belum lagi
industri semen, boiler untuk industri kecil dan menengah, briket batubara dan lain-lain. Titik
rawan dalam pasokan batubara 10.000 MW terletak pada pertanyaan, apakah para
kontraktor batubara akan mencukupi kebutuhan PLTU Batubara Indonesia atau lebih baik
ekspor, karena harga jualnya lebih menguntungkan dan pembayarannya secara tunai?
Pertanyaan awamnya, Apakah PT. KPC, PT Arutmin akan menjual Batubaranya untuk
PLTU Batubara 10000 MW di Indonesia? Setelah Konglomerasi India Tata Power Corp,
membeli 30% saham PT. KPC dan PT. Arutmin, di mana rencananya batubara ini akan
digunakan sebagai bahan bakar pembangkit berkapasitas 7000 MW. Di pantai barat India,
untuk itu dibutuhkan batubara sebanyak 21 juta Ton/tahun. (Kompas, 2 April 2007).
Sementara itu, berdasarkan perhitungan di tahun 2006 sumber batubara yang telah ditemukan
di Indonesia sejumlah 61,37 miliar ton batubara (APBI). Bila diasumsikan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Suralaya (Banten)
Paiton (Jatim)
Rembang (Jateng)
Indramayu (Jabar)
Tanjung Awar-Awar (jatim)
Labuan (Banten)
Tanjung Jati Baru (Jateng)
Pacitan
Teluk Naga (Banten)
Pelabuhan Ratu (Jabar)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Sumatera (10 proyek)
Kalimantan (4 proyek)
Sulawesi (4 proyek)
Nusa Tenggara (3 proyek)
Maluku (2 proyek)
Papua (2 proyek)


Potensi Batubara dan Energi Fosil Lainnya
Berdasarkan Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025; potensi batubara 57
miliar ton (sumber daya), 19,3 miliar ton (cadangan proven+possible), yang apabila
diproduksi setiap tahun sebesar 130 juta ton, maka umur cadangan batubara Indonesia (rasio
cadangan/produksi) lebih kurang 147 tahun lagi dengan catatan tanpa explorasi yang baru.
Dibandingkan dengan potensi energi fosil lainya, seperti minyak dan gas, maka cadangan
energi yang terbesar di Indonesia adalah batubara.
Potensi Energi Nasional 2004
JENIS
ENERGI
FOSIL
SUMBER
DAYA
CADANGAN
(PROVEN+POSSIBLE)
PRODUKSI
(PER
TAHUN)
RASIO
CAD/PROD
TANPA
EKSPLORASI,
TAHUN
Minyak 86,9 miliar barel 9 miliar barel 500 juta barel 18
Gas 384,7 TSCF 182 TSCF 3,0 TSCF 61
Batubara 57 miliar ton 19,3 miliar ton 130 juta ton 147
Sumber : Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025

Bila di data mulai tahun 2006, maka produksi batubara Indonesia mencapai 152,2 juta
ton, dimana 107,3 juta ton (70%) merupakan produksi ekspor dan 44,9 juta ton untuk
keperluan domestik, diperkirakan pada tahun 2010, ekspor akan mencapai 170 juta ton. Maka
dapat dipastikan produksi batubara akan naik secara domestik, dimana sekurang-kurangnya
bahan baku batubara untuk PLTU 10000 MW, lebih kurang 30 juta ton pertahun. Belum lagi
5
produksi batubara rata-rata pertahunnya 432,2 juta ton maka rakyat Indonesia masih
dapat menambang batubara hingga 157 tahun lamanya.






























Menurut World Coal Institute (WCI) dan juga APBI, batubara Indonesia terbanyak terdapat di
tiga provinsi yaitu Sumatera Selatan (2,65 miliar ton), Kalimantan Timur (2,4 mililar ton) dan
Kalimantan Selatan (1,79 miliar ton).
Hingga kini produksi pertambangan batu bara terbesar masih terjadi pada kawasan
Kalimantan Timur yang mencapai 81,1 juta ton (54%) dan Kalimantan Selatan 61,2 juta ton
CADANGAN BATUBARA INDONESIA
CADANGAN BATUBARA INDONESIA
Sumber: StatistikBatubaradanMineral, DitjenGSMPer 1 Januari 2004
(JutaTon)
Terukur Terunjuk Tereka Hipotetik Total
Banten 0,00 0,00 13,75 0,00 13,75 0,00
JawaTengah
0,00 0,00 0,82 0,00 0,82 0,00
JawaTimur 0,00 0,00 0,08 0,00 0,08 0,00
NanggroeAcehDarussalam
90,40 13,40 346,35 0,00 450,15 0,00
Sumatra Utara 19,97 0,00 7,00 0,00 26,97 0,00
Riau
336,62 0,00 1.720,60 0,00 2.057,22 15,15
Sumatra Barat 181,24 42,72 475,94 19,19 719,09 36,07
Bengkulu 62,18 7,95 113,09 15,15 198,37 21,12
Jambi 94,22 36,32 1.462,03 0,00 1.592,57 9,00
Sumatra Selatan 1.970,75 19.946,48 323,17 0,00 22.240,40 2.653,98
Lampung 0,00 0,00 106,95 0,00 106,95 0,00
Kalimantan Barat
1,48 1,32 482,60 42,12 527,52 0,00
Kalimantan Tengah 194,02 5,08 1.200,11 0,00 1.399,21 48,59
Kalimantan Selatan
3.109,21 155,08 5.410,27 0,00 8.674,56 1.787,32
Kalimantan Timur 6.385,13 325,21 12.401,11 456,34 19.567,79 2.410,33
Sulawesi Selatan
21,20 0,00 110,81 0,00 132,01 0,06
Sulawesi Tengah 0,00 0,00 1,98 0,00 1,98 0,00
Papua
0,00 0,00 138,30 0,00 138,30 0,00
TOTAL 12.466,42 20.533,56 24.314,96 532,80 57.847,74 6.981,62
Provinsi
SumberDaya
Cadangan
6

CADANGAN BATUBARA INDONESIA
CADANGAN BATUBARA INDONESIA
: Sumber Statistik BatubaradanMineral, Ditjen GSM Per 1 Januari 2004
(JutaTon)
Terukur Terunjuk Tereka Hipotetik Total
Banten 0,00
JawaTengah
0,00
JawaTimur 0,00
Nanggroe Aceh Darussalam
90,40
Sumatra Utara 19,97
Riau
336,62
Sumatra Barat 181,24
Bengkulu 62,18
Jambi 94,22
Sumatra Selatan 1.970,75
Lampung 0,00
Kalimantan Barat
1,48
Kalimantan Tengah 194,02
Kalimantan Selatan
3.109,21
Kalimantan Timur 6.385,13
Sulawesi Selatan
21,20
Sulawesi Tengah 0,00
Papua
0,00
TOTAL 12.466,42
0,00
0,00
0,00
13,40
0,00
0,00
42,72
7,95
36,32
19.946,48
0,00
1,32
5,08
155,08
325,21
0,00
0,00
0,00
20.533,56
13,75
0,82
0,08
346,35
7,00
1.720,60
475,94
113,09
1.462,03
323,17
106,95
482,60
1.200,11
5.410,27
12.401,11
110,81
1,98
138,30
24.314,96
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
19,19
15,15
0,00
0,00
0,00
42,12
0,00
0,00
456,34
0,00
0,00
0,00
532,80
13,75
0,82
0,08
450,15
26,97
2.057,22
719,09
198,37
1.592,57
22.240,40
106,95
527,52
1.399,21
8.674,56
19.567,79
132,01
1,98
138,30
57.847,74
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
15,15
36,07
21,12
9,00
2.653,98
0,00
0,00
48,59
1.787,32
2.410,33
0,06
0,00
0,00
6.981,62
Provinsi
Sumber Daya
Cadangan
7
(40%). Sisanya berasal dari pertambangan di Sumatera Selatan dan beberapa daerah lainnya
(6%).
Namun Direktorat Sumber Daya Mineral dan Batubara melaporkan (2003), batubara
di Indonesia sebetulnya dapat ditemukan pada 18 provinsi. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara,
Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung yang tercatat
memiliki beragam batu bara dengan yang berada di belahan Kalimantan.
Sedangkan batubara di Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki kalori 5.100-
6.100 kcal/kg. Dan di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah serta
Kalimantan Selatan merupakan kawasan terbanyak memiliki batubara. Di Sulawesi, batubara
ditemukan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Terakhir, Batubara juga ditemukan di
Papua.
Pembukaan Tambang
Dari 5 perusahaan batubara yang menjadi pemenang kontrak pengadaan batubara
untuk proyek pembangunan PLTU batubara ini, ternyata baru 2 perusahaan yang sudah
berproduksi yaitu PT. Arutmin Indonesia dan PT. Darma Henwa, sedangkan 3 perusahaan
lainnya belum juga melakukan kegiatan eksplorasi seperti Titan Mining, Surya Sakti Darma
Kencana dan Konsorsium Senamas, Energindo Mulia dan Kasih Indonesia (Jeffrey Mulyono,
Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, Kamis 8 Februari 2007).
Kenyataan ini harus disikapi dengan sangat hati-hati, karena sesuai dengan undang-
undang dan Peraturan Pertambangan, untuk mencapai tahap produksi dalam usaha
pertambangan tidak dapat disamakan seperti memproduksi pisang goreng atau martabak, yang
cukup menyiapkan penggorengan, kompor, gas, minyak goreng, dan bahan bakunya yang
sudah tersedia di pasar.
Untuk mencapai tingkat produksi yang dimulai dari survey lahan, geografi dan
topografinya, kemudian kegiatan geologi untuk memastikan berapa ton sumber daya batubara
di daerah tersebut, dan yang dapat ditambang (mineable). Selanjutnya tahap-tahap eksplorasi
untuk menetapkan atau mendesain tata letak kegiatan penambangan, setelah laporan
eksplorasi disampaikan dan disetujui oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral/
Direktorat Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi, maka setelah dilakukan rapat-rapat
dan perbaikan-perbaikan laporan tersebut, baru dilakukan Analisis Teknis, dan Analisis
Dampak Lingkungan yang akan melibatkan instansi-instansi terkait baik dari pemerintah
pusat maupun pemerintah di daerah, sekurang-kurangnya analisis ini memakan waktu waktu 6
(enam) bulan s/d 12 (dua belas) bulan, setelah semuanya selesai maka kegiatan konstruksi
dapat dilakukan seperti penetapan lokasi-lokasi atau front penambangan, dumping area,
pelabuhan, dermaga, jalan, jumlah dan jenis peralatan, pembebasan lahan, perumahan,
perkantoran, sarana dan prasarana komunitas, sumber air, persiapan sumber daya manusia
secara bertahap, rencana kegiatan pasca penambangan, Corporate Social Responsibility,
Community Development dan sebagainya. Kiranya cadangan batubara cukup melimpah, tapi
menggali dan menambang batubara ini adalah persiapan yang tidak dapat diabaikan

Pembangunan Infrastruktur
Walaupun cadangan batubara Indonesia cukup besar dan terminal di lokasi tambang
sudah tersedia, namun terminal di lokasi PLTU Batubara juga harus tersedia seperti di
Sumatera sebagai produsen batubara yang sudah mempunyai pelabuhan dengan kapasitas
seperti di Tarahan, Lampung (40.000 DWT); Pulau Baai, Bengkulu (35.000 DWT); di
Kalimantan sudah mempunyai pelabuhan dengan kapasitas seperti di Pulau Laut Utara
(150.000 DWT), IBT (70.000 DWT), Sembilang (7.500 DWT), Air Tawar (7.500 DWT),
Banjarmasin (10.000 DWT), Pulau Laut Utara (200.000 DWT), Satui ( 5.000 DWT), Kelanis
(10.000 DWT), Tanjung Redep (5.000 DWT), Tanjung Bara (200.000 DWT), Blora (8.000
DWT), Loa Tebu (8.000 DWT), Balikpapan (60.000 DWT), Tanah Merah (20.000 DWT).
Sedangkan kapasitas di bawah 10.000 DWT, terletak di aliran sungai untuk
transportasi batubara dari pedalaman. Sebaliknya, terminal batubara di konsumen (PLTU
Batubara), sejalan dengan rencana PLTU-nya juga harus disiapkan termasuk sarana dan
prasarananya seperti loading point, area, jalan, jembatan dan stone crusher serta mixer.
Terminal ini di bangun langsung di lokasi pembangkitnya seperti di Rembang, Indramayu,
Tanjung Awar-Awar, Labuan, Tanjung Jati, Pacitan, Teluk Naga, Pelabuhan Ratu. Begitu
juga di PLTU Batubara yang di bangun di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara,
Maluku maupun di Riau.
Begitu juga alat angkut batubara, baik dari lokasi tambang ke pelabuhan, jenis alat
angkut dari lokasi tambang ke Pembangkit Listrik (Tug boat, tongkang), pelabuhan penerima
batubara, lengkap dengan sarana dan prasarananya (Belt conveyor, Wheelloader, truck dan
sebagainya), begitu juga lokasi pembuangan abu hasil pembakaran batubara.
Pajak Ekspor Batubara
Rencana Anggaran Pembelanjaan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan yang diajukan
oleh pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dimana pemerintah telah
mengajukan kebutuhan dana sebesar Rp 106 Trilyun untuk subsidi Bahan Bakar Minyak
(BBM), untuk itu rakyat harus melakukan penghematan energi, dengan cara antara lain
seperti: Penghematan/pemadaman listrik, Rencana memberlakukan Smart Card untuk
pembelian premium yang dijatahkan 5 liter perhari,selebihnya harga dibayar tanpa subsidi
pemerintah, Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan mempercepat konversi dari minyak ke
gas, walaupun produksi dari lapangan gas masih dipertanyakan apakah gas yang dimaksud
masih dapat berproduksi dan memenuhi harapan konsumen gas seperti PLN ,Industri lainnya.
Pajak masyarakat digenjot seperti Pajak Bumi Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan (PPh),
Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Bea Balik Nama (BBN), , PPnBM, BPH TB dan pajak lain
sebagainya, atau PLN akan memberlakukan insentif bagi pelanggan rumah tangga yang
dapat menekan konsumsi listrik minimal 20% dari pemakaian rata-rata nasional. Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir yang sudah lama direncanakan dan di sosialisasikan tapi sebagian
masyarakat masih menolak rencana tersebut,masyarakat peduli bahaya PLTN di
semenanjung Muria yang terdiri dari 28 akademisi dari berbagai ilmu, mendesak pemerintah
batalkan PLTN (Kompas, 24 Februari 2008). Pembangkit Listrik Tenaga Batubara di mulut
tambang yang di-impikan oleh Direktorat Batubara , Departemen Pertambangan dan Energi
yang sejak tahun 2000-an telah mencoba memperkenalkan melalui seminar dan melakukan
study pembangunannya di Propinsi Sumatera Selatan, selanjutnya listrik yang dihasilkan
akan ditransmisikan ke pulau Jawa dan bahkan ke pulau Batam dan diteruskan ke Singapura.
Dan selanjutnya di awal tahun 2008, bersamaan dengan harga BBM dipasaran dunia
menyentuh harga USD 100 per barrel, yang diikuti dengan buruknya cuaca di tanah air ,
sehingga kapal pengangkut batubara untuk PLTU Batubara di pulau Jawa seperti PLTU
8
Tanjung Jati B , PLTU Paiton, PLTU Cilacap, kekurangan bahan bakar batubara yang
disuplai dari pulau Kalimantan dan Sumatera Selatan.
Padahal,untuk mendapatkan dana segar , pemerintah mempunyai sumber dana yang
sangat besar dari hasil tambang mineral dan batubara, seperti yang tercantum pada Undang-
undang Dasar 1945, pasal 33 ayat 3 Bumi , air, dan yang terkandung didalamnya , dikuasai
oleh Negara untuk se-besar-besarnya kemakmuran rakyat. lagi pula bahan tambang berupa
mineral dan batubara ini, adalah sumber daya alam karunia Tuhan yang Maha Esa untuk
bangsa Indonesia , karena di Negara lain, kekayaan alamnya tidak sebanyak dan ber-macam-
macam seperti di Indonesia, selain itu bahan ini adalah bentukan alam yang bila sudah
diambil tidak dapat diperbaharui lagi (Un- Renewable) seperti sumber alam flora atau fauna
yang masih dapat diperbanyak , ditanam, di kembang biakkan.
Sebagai contoh Minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil), pemerintah memungut pungutan
ekspor sebesar 20% (Republika, 26 Maret 2008) dari harga jual nya per ton, padahal produk
ini bukan bahan Un-renewable.
Harga batubara di pasar dunia sekitar US$ 116,44 per ton, ekspor, tahun 2006 sebesar 145
juta ton, tahun 2025 sebesar 150 juta ton. menurut proyeksi Direktur Asosiasi Pertambangan
Batubara Indonesia , pada Workshop Kelompok Diskusi Wartawan Energi, di Jakarta, tanggal
17 Januari 2008, seandainya pemerintah memungut ekspor sebesar 20% saja, dengan alasan
karena bahan ini adalah Un-renewable, maka APBN dari batubara pada tahun 2006 akan
mendapat tambahan sebesar 20% x US$ 140 per ton x 145.000.000 ton = US$
4.060.000.000,- ( Empat Milyar Enam Puluh Juta Dollar Amerika ) atau bila di kurs rupiah
kan , Rp 9000,- per Dollar Amerika, menjadi Rp 36.540.000.000.000 ( Tiga Puluh Enam
Trilyun Lima Ratus Empat Puluh Milyar Rupiah ), harga batubara US$140 per ton ( Kontan
29 Februari 2008).
Pemerintah dengan instansi yang terkait seperti Dept.Energi dan Sumber Daya Mineral,
Dept.Perdagangan, Dept.Perindustrian, sebagai alat Pemerintah terdepan untuk memulai
mengimplementasikan pingutan ekspor kekayaan alam kita untuk penyelamatan APBN.
Khususnya instansi pertambangan dan energi dapat memberikan kontribusi yang jelas dengan
memanfaatkan pungutan/pajak ekspor dari sektor ini, karena UUD 1945 pasal 33 ayat 3
menyatakan Bumi, air dan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara untuk se-
besar-besarnya kemakmuran rakyat, semoga kalimat ini bukan sebagai penghias dan pemanis
undang-undang dasar saja, marilah kita bersama-sama memanfaatkan sumber daya alam kita
semaksimal mungkin untuk kesejahteraan bangsa Indonesia. Amin.
9
SISTEMISASI PEMBANGUNAN PLTU INDONESIA














Amirrusdi, Maret 2007
Krisis
Energi
Penyediaan
bahan
bakar
batubara
Komitmen
pemerintah
memba-
ngun PLTU
Studi/
survey
kebutuhan
energi 20
thn ke
depan
Pelaksana-
an proyek
Testing/
uji
kelaya-
kan
Tender
PLTU
Batubara
Terbuka
Pengo-
perasian
Penyediaan
barang&
jasa
produksi
dalam
negeri
Pengawasan
Penyelesaian:
- AMDAL
- AMTEK
- Comdev
- RKK&RPL
Penyedi-
aan
bahan
bakar
batubara
10
Daftar Bacaan
1. Amirrusdi, Prakiraan Kebutuhan Batubara sampai Tahun 2020/2021, Seminar Energi Nasional
ke V KNI-WEC, 1997
2. Amirrusdi Tata Cara Penambangan Batubara Pelatihan KUD dan Pembina Pengusaha
Pertambangan Skala Kecil Batubara, Dep. Koperasi dan PPK.1993
3. Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025
4. Kompas, 9 Februari 2007
5. Media Indonesia, 28 Desember 2006
6. Media Indonesia, 11 Maret 2007
7. Republika, 28 Nopember 2006
8. UUD 1945
11
ENDAPAN LOGAM DASAR DI PEGUNUNGAN SELATAN-JAWA DAN
OPTIMALISASI PENAMBANGANNYA YANG BERBASIS
MASYARAKAT LOKAL


Arifudin Idrus
Jurusan Teknik Geologi FT-UGM
Jl. Grafika 2 Bulaksumur 55281, Yogyakarta
Alamat E-mail: arifidrus@ugm.ac.id


Abstrak
Pegunungan Selatan (The Southern Mountains) Jawa merupakan jalur yang cukup prospek
terhadap potensi sumberdaya mineral terutama mineral industri dan mineral bijih tipe
hidrotermal. Salah satu endapan bijih hidrotermal yang banyak ditemui pada jalur ini adalah
endapan logam dasar Pb-Zn-Cu. Ada 2 tipe utama endapan penghasil logam dasar di daerah
ini yaitu tipe skarn dan urat epitermal Pb-Zn-Cu. Kegiatan penelitian dan eksplorasi di daerah
ini sudah banyak dan sedang dilakukan, namun hingga saat ini belum ditemukan endapan
bijih yang mineable dalam skala besar (industri), dan hanya teridentifikasi endapan-
endapan bercadangan kecil yang mungkin hanya cocok dengan penambangan manual
dengan memberdayakan masyarakat sekitarnya. Tulisan ini bertujuan menguraikan secara
singkat potensi sumberdaya mineral bijih tipe hidrotermal terutama endapan Pb-Zn-Cu di
daerah Pegunungan Selatan dengan fokus daerah Pacitan, Wonogiri dan Ponorogo,
berdasarkan hasil penelitian baik yang dilakukan oleh penulis, maupun berdasarkan data
penelitian/eksplorasi sebelumnya. Disamping itu, tulisan ini juga memberikan sumbang-saran
terhadap optimalisasi penambangan dan pemanfaatannya.

Kata kunci: Endapan logam dasar, Pegunungan Selatan-Jawa, optimalisasi penambangan

PENDAHULUAN
Inventarisasi potensi sumberdaya mineral pada suatu wilayah/daerah adalah mutlak dilakukan
sebagai bahan masukan dalam perencanaan dan kebijakan pemanfaatan sumberdaya tersebut
dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah. Sebagai contoh, daerah penelitian yang
terletak di sepanjang Pegunungan Selatan (The Southern Mountains) Jawa (Gambar 1)
merupakan jalur yang cukup prospek terhadap potensi sumberdaya mineral terutama mineral
industri dan mineral bijih tipe hidrotermal. Secara genetik, endapan bijih tipe hidrotermal
yang ditemukan di daerah Pegunungan Selatan paling tidak meliputi (1) endapan tipe Au-(Ag)
epitermal sulfidasi rendah, (2) endapan urat polimetalik (Zn-Pb-CuAu), (3) endapan Cu-
(Au) porfiri, dan (4) endapan Mn-(Fe)-Cu-Pb-Zn skarn. Pembahasan pada paper ini
memfokuskan pada endapan urat polimetalik (Zn-Pb-CuAu) yang lebih dikenal sebagai urat
logam dasar Zn-Pb, karena komoditi utama target eksplorasi dan eksploitasi (penambangan)
di daerah ini adalah Pb dan Zn, sedangkan Cu dan Au sering tidak diperhatikan karena
kadarnya kurang ekonomis. Beberapa lokasi endapan urat logam dasar di Pegunungan Selatan
sudah dan sedang ditambang. Penambangan dilakukan dengan cara manual dengan membuat
lubang galian (terowongan) mengikuti arah urat secara vertikal dan horisontal. Dalam paper
ini juga akan me-review optimalisasi penambangan endapan tersebut yang berbasis
masyarakat lokal, sehingga dapat efektif, efisien, menjamin kesehatan dan keselamatan
pekerja, lingkungan dan memberi kontribusi bagi peningkatan ekonomi masyarakat lokal.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
Gambar 1 Peta fisiografik dari geologi Jawa bagian tengah dan timur, termasuk penyebaran
gunungpai kuarter dan jalur pegunungan selatan (the southern mountains) (Hamilton, 1979).

GEOLOGI REGIONAL
Jalur Pegunungan Selatan (The Southern Mountain Range) di Jawa Tengah dan Jawa Timur
merupakan busur magmatik berumur Oligo-Miosen (van Bemmelen, 1970). Secara geologi,
daerah pegunungan selatan tersusun oleh seri batuan vulkanik dan flysch-like deposits (Toha
et al., 1994; Rahardjo et al., 1995). Batuan tersebut menumpangi secara tidak selaras batuan
metamorf Pra-Tersier dan Formasi batuan sedimen berumur Eosen dari kompleks pegunungan
Jiwo. Batuan tersebut ditutupi oleh batugamping (Formasi Wungkal dan Formasi Gamping).
Seri batuan vulkanik dan flysch-like deposits tersebut secara stratigrafi diklasifikasi sebagai
Formasi Kebu-Butak berumur Oligosen-Miosen Bawah, Formasi Sambipitu berumur Miosen
Bawah-Tengah dan Formasi Oyo berumur Miosen Tengah. Formasi-Formasi tersebut berada
dibawah batugamping Formasi Wonosari berumur Miosen Tengah-Pliosen, Formasi Kepek
berumur Miosen Atas dan endapan kuarter.

ENDAPAN HIDROTERMAL DI PEGUNUNGAN SELATAN

Endapan emas epitermal
Endapan tipe Au-(Ag) epitermal sulfidasi rendah banyak ditemukan di daerah Pegunungan
Selatan, dan sejak jaman penjajahan Belanda dan Jepang beberapa lokasi sudah pernah
ditambang, terbukti banyak ditemukannya lubang-lubang galian lama di daerah tersebut.
Endapan epitermal ini merupakan endapan tipe hidrotermal yang terbentuk dekat permukaan
dalam bentuk urat-urat kuarsa berasosiasi dengan sulfida (pirit, kalkopirit) bersama emas
dalam bentuk native maupun elektrum. Endapan emas epitermal ditemukan di Kecamatan
Tirtomoyo, Wonogiri seperti di Selogiri dan Nglenggong (Suprapto, 1998). Prospek Selogiri
(Gunung Tumbu) memiliki jangkauan temperatur pembentukan antara <200C sampai >500
C) yang mengindikasikan adanya overlapping endapan sistem epitermal dan porfiri (Setijadji
et al., 2006, Imai et al., 2007), sedangkan pada prospek Nglenggong memiliki temperatur
sekitar 330 C (Idrus, 2000). Di wilayah Kabupaten Ponorogo, beberapa daerah prospek yang
teridentifikasi antara lain di daerah Toyomerto, Serayu dan Sembro dengan kadar Au sampai
5 ppm (Anonim, 2002). Di daerah Pacitan juga banyak diidentifikasi prospek endapan Au-Ag
13
epitermal sulfidasi rendah seperti di Gunung Gembes (Setijadji et al., 2006). Di daerah
Trenggalek juga ditemukan tipe endapan emas epitermal di daerah Kojan, Paces dan Jati yang
sekarang sedang dieksplorasi oleh PT. Austindo. Di Wediombo (selatan Selogiri) terdapat
indikasi kehadiran endapan epitermal sulfidasi tinggi yang dicirikan dengan adanya tekstur
vuggy silica dan kehadiran alterasi kaolin-alunit-illit-pirit (Prihatmoko et al., 2005).

Endapan Cu-(Au) porfiri
Endapan tipe porfiri terbentuk pada temperatur tinggi (~500 C) dengan salinitas mencapai 45
wt.% NaCl eq. Endapan ini kehadirannya dicirikan oleh sistem jejaring (stockwork) dari urat-
uratan kuarsa, memiliki kadar Cu dan Au yang relatif rendah namun memiliki massa
(tonnage) yang besar. Di Jawa, khususnya di Jawa bagian barat belum ada ditemukan indikasi
kehadiran tipe endapan ini. Di daerah Pegunungan Selatan (Jawa bagian Tengah dan Timur),
penelitian akhir-akhir ini mengidentifikasi adanya kehadiran endapan tipe Cu-(Au) porfiri di
Wonogiri, seperti di daerah Selogiri (Setijadji et al., 2007; Imai et al., 2007) dan Ngrejo
(Isnawan, 2000; Verdiansyah, 2007, Idrus et al., 2007). Pada daerah Ngrejo, mineralisasi Cu-
(Au) porfiri kemungkinan berasosiasi dengan intrusi dasit. Struktur jejaring (stockwork) dari
urat dan uratan kuarsa (Gambar 2A) dan kehadiran mineral sulfida temperatur tinggi seperti
bornit dan kalkopirit (Gambar 2B) merupakan indikasi kuat mineralisasi tipe porfiri di daerah
tersebut (Verdiansyah, 2007). Mineralisasi Cu-(Au) porfiri di Selogiri, seperti halnya endapan
tipe porfiri di dunia dicirikan oleh sistem jejaring urat-uratan kuarsa yang berasosiasi dengan
sulfida dan magnetit.

2 m
2 m
A B
Bn
Ccp
Hem


Gambar 2 (A) Struktur jejaring (stockwork) dari urat kuarsa (quartz vein) dan uratan
(veinlets), dan (B) Fotomikrograf sayatan poles yang menunjukan kehadiran mineral
sulfida bertemperatur tinggi (~400-500 C) seperti bornit (Bn) dan kalkopirit (Ccp).
Hematit (Hem) merupakan hasil oksidasi dari sulfida (bornit dan kalkopirit) pada bagian
pinggir (rims) (Verdiansyah, 2007, Idrus et al., 2007).
14
Analisis mikrotermometri inklusi fluida menunjukan kehadiran inklusi polifasa dengan solid
halit dan temperatur pembentukan (temperatur homogenisasi) sekitar 400 C dan salinitas
mencapai 30 wt.% NaCl eq. (Imai et al., 2007). Penelitian yang dilakukan oleh Soeharto dan
Hilman (1997) dan Setijadji et al. (2006), indikasi kehadiran tipe endapan Cu-(Au) porfiri
juga ditemukan di daerah Merubetiri (Merubetiri district), Jawa Timur. Tipe endapan Cu-(Au)
porfiri di daerah ini berasosiasi dengan intrusi granodiorit dan diorit berumur Miosen Bawah
yang terpotong membentuk sistem jejaring (stockwork) dari urat-uratan kuarsa-pirit-oksida
tembaga. Zona alterasi filik (silica-clay alteration) menggantikan potassik hipogen tersingkap
dengan luas di sepanjang pantai Tumpangpitu dan Pulau Merah, yang memperkuat kehadiran
tipe endapan tersebut (Setijadji et al., 2006).

Endapan skarn
Endapan skarn di daerah Pegunungan Selatan diidentifikasi dalam 2 tipe berdasarkan
dominasi mineralogi yaitu skarn tipe manganese (Mn-Zn-Cu-Pb) dan skarn tipe besi (Fe).
Penelitian terkini kehadiran skarn di Pegunungan Selatan khususnya di daerah Kasihan
(Pacitan) dilakukan oleh Tun (2007). Skarn manganese di daerah Kasihan terbentuk pada
batugamping yang dintrusi oleh dasit (Gambar 3). Mineralisasi dicirikan oleh hadirnya
pirolusit (sekunder), piromangit (primer), disseminasi sfalerit dan galena dengan sedikit pirit
dan kalkopirit (Gambar 4A). Skarn ini juga berasosiasi dengan calc-silicate minerals seperti
piroksen (hedenbergit), garnet, wollastonit dan kalsit (Gambar 4B). Skarn tipe Fe secara
mineralogi dicirikan oleh hematit, dengan sangat sedikit pirit dan kalkopirit. Calc-silicate
minerals yang hadir adalah piroksen, dengan sedikit kuarsa dan kalsit (Tun, 2007). Secara
umum, kandungan sulfida pada tipe skarn Fe sangat rendah.



Gambar 3 Peta alterasi hidrotermal daerah Kasihan, Pacitan, dimana alterasi skarn
manganese berasosiasi dengan batugamping Glagahombo dan Sobo, sedangkan
alterasi argilik dan propilitik cenderung berasosiasi dengan mineralisasi Cu-Pb-ZnAu
(Tun, 2007).
15
A B


Gambar 4 Endapan skarn manganese di daerah Kasihan dicirikan oleh: (A) Kehadiran
pirolusit (sekunder), piromangit (primer), dan (B) Calc-silicate minerals seperti hedenbergit,
dengan sedikit sfalerit dan galena.


ENDAPAN LOGAM DASAR

Lokasi dan geometri urat
Endapan tipe urat logam dasar (Pb-Zn-CuAu) banyak dijumpai di daerah Pegunungan
Selatan. Sehubungan dengan naiknya harga logam di pasaran dunia, di beberapa daerah di
Pegunungan Selatan seperti di Wonogiri, Ponorogo dan Pacitan, endapan tipe ini sudah
banyak/sedang ditambang baik dalam skala kecil (manual) maupun skala menengah (baca:
memakai alat berat). Contoh endapan ini dijumpai di daerah Kali Dadap, Tawang dan Srapa
(Kecamatan Kasihan, Pacitan), juga didentifikasi di Tokawi, Jetis Lor dan Paing (Kecamatan
Nawangan, Pacitan). Di Ponorogo endapan tipe ini ditemukan di Gunung Domasan,
Kecamatan Slahung, dimana didominasi oleh kalkopirit (CuFeS
2
). Urat logam dasar di
Kabupaten Wonogiri, terutama terletak di Kecamatan Tirtomoyo dan Kecamatan Karang
Tengah meliputi: Kecamatan Tirtomoyo terdiri dari urat Damon, urat Growong, urat Ngepoh,
urat Ngroto (Sumberrejo), urat Sendangsari dan urat Warak; sedangkan Kecamatan Karang
Tengah terdiri dari urat Nggambarsari (Sempu), urat Ngijo, urat Ndelisen, urat Muning dan
urat Pucung.

Tipe ini dicirikan oleh urat-urat kuarsa yang berasosiasi dengan sfalerit, galena, kalkopirit,
pirit dan sedikit emas. Urat kuarsa tersebut berukuran sangat variatif, mulai dari beberapa cm
sampai beberapa meter. Tidak semua urat kuarsa berasosiasi dengan logam dasar, beberapa
yang ditemui barren akan mineralisasi logam tersebut. Misalnya urat Paing (Pacitan)
memiliki variasi ketebalan urat 30 sampai 60 cm dengan prosentase sfalerit dominan (~50%
dari volume urat) sepanjang sekitar 100 m. Urat Ngepoh (Tirtomoyo-Wonogiri) berorientasi
relatif timurlaut - baratdaya memiliki ketebalan sekitar 50-70 cm, dimana dipermukaan
didominasi oleh sfalerit, semakin ke kedalaman 20 meter-an menunjukan dominasi galena
yang berasosiasi dengan clay. Di daerah Nggambarsari (Karang Tengah Wonogiri)
penyebaran urat kuarsa sangat luas, dengan ketebalan lebih dari 20 m, sebagian breksiasi,
namun di permukaan galena dan sfalerit tersebar (disseminated) atau dalam bentuk urat-urat
halus. Urat Warak (Tirtomoyo Wonogiri) memiliki orientasi relatif timurlaut-baratdaya
16

sekarang sudah berproduksi sampai 3000 ton, dimana uratnya terdiri dari galena massif
dengan sedikit sfalerit, dengan ketebalan mencapai 1 meter.

Karakteristik endapan
Secara umum, endapan urat logam dasar Zn-Pb-CuAu di Pegunungan Selatan, khususnya di
Kecamatan Tirtomoyo dan Kecamatan Karang Tengah (Kabupaten Wonogiri) berada pada
batuan samping (wall-rocks) berupa perselingan lava andesitik, tufa dan breksi. Lava
andesitik nampaknya mendominasi pada daerah penelitian, namun kondisinya sudah
mengalami pelapukan dan alterasi hidrotermal sedang-kuat (moderately-strongly
hydrothermal alteration). Pola, orientasi dan distribusi dari urat logam dasar daerah ini sangat
dikontrol oleh struktur geologi pra-mineralisasi (pre-mineralization geological structures)
seperti sesar tarik (extensional faults), sebagai jalur (pathway) bagi larutan hidrotermal
pembentuk endapan tersebut. Urat tersebut berstruktur massif, banded colloform, crustiform
dan cockade breccia, sehingga masih dikategori sebagai urat epitermal. Polymetallic veins ini
berkembang tipis- tipis saja, biasanya sebagai "sheeted veins", dengan kristal kuarsa
cenderung kasar, bahkan biasa berkembang "gigi anjing/ dog tooth", dan "crustiform banded".

Seperti dikemukan sebelumnya, bahwa endapan logam dasar di Pegunungan Selatan
umumnya dalam bentuk urat-urat kuarsa (sangat dominan) yang berasosiasi dengan sulfida-
sulfida logam dasar seperti sfalerit (ZnS), galena (PbS) dan kalkopirit (CuFeS
2
). Pirit (FeS
2
)
sangat melimpah dibandingkan sulfida logam dasar. Pengamatan megaskopik di permukaan
dan analisis mineragrafi menunjukan sfalerit mendominasi dibandingkan galena, namun pada
kedalaman tertentu, urat tersebut sering didominasi oleh galena. Endapan tersebut dikategori
sebagai endapan urat logam dasar (base metal vein) yang diyakini masih merupakan sistem
epitermal namun memiliki temperatur pembentukan yang lebih tinggi (~300 350C).
Analisis kimia 3 conto dari Tawang (Pacitan) menunjukan Cu tinggi (>1%), Zn (0.1 0.5 %),
Pb 150 ppm dan Au relatif kecil (sekitar 150 ppb) (Tun, 2007). Analisis kimia terhadap
beberapa urat di Kecamatan Tirtomoyo dan Kecamatan Karang Tengah (Wonogiri)
menunjukan kadar yang variatif; misalnya urat Ngijo (0,95 % Cu; 198 ppm Pb; 9,7 % Zn;
19,4 ppm Ag dan 4 ppb Au), urat Ngroto (1,29 % Cu; 0,28 % Pb; 438,7 ppm Zn; 108,5 ppm
Ag dan 1,03 ppm Au; Gambar 5), dan urat Warak (3,38 % Cu, 1,40 % Pb, 26,34 % Zn, 13,6
ppm Ag dan 28 ppb Au).









Gambar 5 Contoh setangan urat
kuarsa berstruktur banded
perselingan galena kuarsa
sfalerit-kuarsa-galena. Semakin
pada kedalaman 20 m, galena
semakin melimpah dibanding
dengan sfalerit.
17
OPTIMALISASI PENAMBANGAN
Secara umum, endapan logam dasar di daerah penelitian terutama tipe urat memiliki tonnage
yang relatif kecil, tebal 30 cm 1 meter. Endapan logam dasar tipe skarn yang ditemukan di
daerah Kasihan (Pacitan) memiliki tonnage yang medium, disseminated, sehingga dapat
ditambang dengan alat berat (excavator) pada skala menengah, dan bijih Pb-Zn-Cu-nya di-
screening oleh tenaga lokal, sebelum pengangkutan. Penambangan endapan logam dasar tipe
urat dilakukan dengan jenis tambang bawah tanah (underground mining) mengikuti jalur urat,
seprti banyak dilakukan di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Penambangan ini
sangat membutuhkan tenaga manusia (masyarakat lokal) karena dilakukan dengan manual
menggunakan linggis dan sekop, yang kemudian diangkat dengat menggunakan tali yang
dililitkan pada roda berputar. Di daerah Tirtomoyo (Wonogiri) misalnya, terdapat sekitar 10
lubang tambang bawah tanah yang sedang beroperasi saat ini dengan melibatkan sekitar 100
pekerja lokal. Upah penambang ini berkisar antara Rp. 25.000.-/hari sampai dengan Rp.
35.000.-/hari. Metode penambangan bawah tanah mengikuti jalur urat ini sangat optimal,
karena langsung pada tubuh bijih (orebody), sehingga meminimalisasi penggalian mineral
pengotor (gangue)-nya. Disamping itu, tentu dapat membantu memberdayakan ekonomi
masyarakat lokal.

KESIMPULAN
Beberapa poin penting yang bisa disimpulkan antara lain:
1. Pegunungan Selatan menyimpan potensi sumberdaya mineral bijih tipe hidrotermal yang
besar, yang ditunjukan dengan kehadiran berbagai variasi tipe endapan hidrotermal
seperti endapan Au-(Ag) epitermal sulfidasi rendah dan tinggi, endapan tipe urat
polimetalik dan urat logam dasar, endapan Cu-(Au) porfiri dan endapan skarn (tipe Mn-
Zn-Pb-Cu dan tipe Fe).
2. Semua tipe endapan di atas sebenarnya sudah pernah dan sebagian sedang ditambang
(baik illegal maupun legal), walaupun dalam skala kecil-menengah, kecuali endapan tipe
porfiri baru teridentifikasi lebih jelas oleh penelitian-penelitian terakhir dan sampai
sekarang belum ditemukan endapan yang mineable. Endapan porfiri kelihatannya
berkembang dengan baik semakin ke arah timur Pegunungan Selatan (ke arah timur
busur kepulauan Sunda-Banda).
3. Secara keseluruhan urat kuarsa logam dasar di Pegunungan Selatan terutama di daerah
Tirtomoyo dan Karang Tengah, Kabupaten Wonogiri berorientasi utara-timurlaut dan
selatan-baratdaya. Urat tersebut berstruktur massif, banded colloform, crustiform dan
cockade breccia, sehingga masih dikategori sebagai urat epitermal. Polymetallic veins ini
berkembang tipis- tipis saja, biasanya sebagai "sheeted veins", dengan kristal kuarsa
cenderung kasar, bahkan biasa berkembang "gigi anjing/ dog tooth", dan "crustiform
banded". Urat kuarsa ini mengandung sfalerit (ZnS) dan galena (PbS) serta sedikit
kalkopirit (CuFeS2) sebagai sumber logam dasar (base metals), juga mengandung
pengotor berupa pirit (FeS2). Sfalerit dan galena merupakan bijih logam dominan dan
ditambang saat ini. Sebagaimana lazimnya pada tipe endapan urat logam dasar atau urat
polimetalik di dunia ini, kandungan logam Zn dan Pb tidaklah spektakuler jumlahnya
(cadangannya), namun dengan selective mining dengan mengikuti orientasi
urat/pembuatan terowongan dan teknik penambangan manual/tenaga manuasia, maka
dapat meningkatkan perolehan (recovery) penambangan dan dapat meningkatkan
pendapatan/ekonomi masyarakat lokal. Penggalian agar memperhatikan faktor keamanan
dan keselamatan penambang dan lingkungan.
18
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2002, Laporan pembangunan sistem informasi pengusahaan bahan galian di
Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Puslitbang Tekmira Bandung (tidak dipublikasi), 131p.

Hamilton, W., 1979, Tectonics of the Indonesian Region, US Geological Survey Professional
Paper No. 1078, US Geological Survey, Reston, 245p.

Idrus, A., 2000, Analisis petrografi dan mikrotermometri inklusi fluida dan aplikasinya pada
evaluasi potensi bijih emas tambang rakyat daerah Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa
Tengah, Prosiding Temu Profesi Tahunan IX dan Kongres PERHAPI, Jakarta, p.1-9.

Idrus, A., 2007, Laporan survei tinjau endapan logam dasar di daerah Nawangan, Kabupaten
Pacitan, Jawa Timur (Tidak dipublikasi), 10 p.

Idrus, A., Verdiansyah, O., Marliyani, G.I., Sasongko, W., 2007, Alterasi-Mineralisasi bijih
dan geokimia endapan tembaga daerah Ngrejo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri,
Jawa Tengah, Prosiding Temu Profesi Tahunan TPT XVI, Makassar, p. 108-116.
Imai, A. Shinomiya J., Soe, M.T., Setijadji, L.D., Watanabe, K., Warmada W., 2007,
Porphyry-type Mineralization at Selogiri Area, Wonogiri Regency, Central Java
Indoneia, Resource Geology V. 57, No.2, p. 230-240.
Isnawan, D., 2001, Kontrol Struktur Geologi terhadap Endapan Tembaga sebagai
Arahan Eksploitasi di daerah Ngrejo dan sekitarnya Keamatan Tirtomoyo, Kabupaten
wonogiri Propinsi Jawa Tengah, Tesis S2, Program Studi Teknik Geologi, Universitas
Gadjah Mada, 123 p.
Prihatmoko, S., Hendratno, A., Harijoko, A., 2005, Mineralization and alteration
systems in Pegunungan Seribu, Gunung Kidul and Wonogiri: Its Implication in
developing exploration models, Proceeding Joint Convention HAGI-IAGI-PERHAPI,
Surabaya, p 13-23.
Rahardjo, W., Sukandarrumidi, Rosidi, H.M.D., 1995, Geological map of the Yogyakarta
sheet, Geological Research and Development Centre, Bandung.

Soeharto, R.S. dan Hilman, P.M., 1997, Laporan ekplorasi mineral logam mulia dan logam
dasar di daerah Jember, Jawa Timur, Directorate of Mineral Resources, 16p.
Suprapto, 1998, Model Endapan Emas Epithermal Daerah Nglenggong, Kecamatan
Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Tesis S2, Program Studi Rekayasa
Pertambangan Fakultas Pasca Sarjana ITB.
Setijadji, D.L., Kajino, S., Imai, A., dan Watanabe, K., 2006, Cenozoic Island Arc
Magmatism in Java Island (Sunda Arc, Indonesia): Clues on Relationships between
Geodynamics of Volcanic Centers and Ore Mineralization, Resources Geology vol.56, No.3,
pp. 267-292.
19
Tun, M, M., 2007, An Investigation of geology and mineralization in the Kasihan Area,
Pacitan Regency, East Java, Indonesia, unpublished M.Eng. thesis, Gadjah Mada University,
Indonesia, 113 p.
Toha, B., Sunyoto, Surono, Rahardjo, W., 1994, Geologi Daerah Pegunungan Selatan:
suatu Kotribusi, dalam proceeding Geologi dan Geoteknik P. Jawa, Sejak Akhir
Mesozoik hingga kuarter, Percetakan Nafiri, Yogyakarta, pp. 19-36.
van Bemmelen, R.W., 1970, The Geology of Indonesia, vol. 1A, General Geology of
Indonesia and Adjaent Archipelagoes, ed. 2
nd
, Martinus Nijhoff, 732 p.

Verdiansyah, O., 2007, Alterasi Hidrotermal Dan Karakteristik Geokimia Batuan Pada
Endapan Tembaga Daerah Ngrejo Dan Sekitarnya, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten
Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah, Tugas Akhir/Skripsi pada Jurusan Teknik Geologi FT-
UGM (tidak dipublikasi), 110p.
20
MAMPUKAH TAMBANG MENGURANGI KEMISKINAN?

Harry Miarsono, Ph.D.
General Manager, External Affairs & Sustainable Development
PT Kaltim Prima Coal
Sengata, Kalimantan Timur


Abstrak

Tingkat kemiskinan di daerah sekitar tambang di Indonesia masih relatif tinggi sehingga telah
mengundang banyak kritikan bahwa kegiatan tambang tidak dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat. Kondisi ini seolah-olah membenarkan adanya kutukan sumberdaya alam atau
dikenal dengan resource curse yang tidak hanya terjadi di Indonesia saja tapi juga di negara-
negara penghasil tambang lainnya. Kemiskinan tersebut disebabkan oleh adanya penyakit
Belanda atau Dutch disease yang muncul karena berlimpahnya sumberdaya alam dan
murahnya tenaga kerja. Namun di lain pihak, beberapa hasil studi yang dilakukan oleh
perusahaan tambang telah menunjukkan bahwa kegiatan tambang telah terbukti memberikan
manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat di sekitar tambang. Di beberapa
wilayah, tambang merupakan penggerak utama perekonomian lokal sehingga tanpa adanya
tambang maka daerah tersebut akan tetap menjadi daerah yang terbelakang. Tulisan ini
membahas bagaimana tambang dapat berperan dalam pengurangan tingkat kemiskinan
khususnya pada masyarakat di sekitar daerah tambang. Kegiatan tambang akan dapat
mengurangi tingkat kemiskinan jika langkah-langkah tertentu dilakukan dengan cara yang
benar dan tepat.

Kata kunci: tingkat kemiskinan, kutukan sumberdaya alam, penyakit Belanda, pember-
dayaan ekonomi lokal, penggerak ekonomi.


Latar belakang

Kegiatan tambang telah memberikan dampak positif di bidang sosial, ekonomi dan
lingkungan bagi bangsa dan negara Indonesia. Hasil survey tahunan yang dilakukan oleh
PriceWaterhouseCoopers menunjukkan bahwa pada tahun 2006 sumbangan industri tambang
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah mencapai Rp56 trilyun dan meningkat sebesar
7% dibanding tahun sebelumnya. Kontribusi tersebut mencapai sekitar 3% dari total PDB
Indonesia. Yang perlu diingat adalah bahwa industri tambang merupakan sektor terbesar di
beberapa propinsi penghasil sumberdaya alam seperti Kalimantan Tmur, Bangka-Belitung,
Papua dan Nusa Tenggara Barat.
Pendapatan pemerintah dari pajak dan royalti mencapai US$ 2,4 milyar sedangkan
pajak tidak langsung sebesar US$981 juta. Dengan demikian pendapatan total pemerintah
mencapai US$3,4 milyar atau lebih dari RP31,4 trilyun. Kontribusi lainnya berupa
pengembangan dan pelatihan sumberdaya manusia (SDM), penyediaan infrastruktur seperti
jalan, sekolah, fasilitas kesehatan dan lainnya. Kontribusi lainnya meliputi penyediaan
kesempatan kerja, pembelian dari supplier domestik, program pengembangan masyarakat dan
sumbangan (donation).
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
Jumlah tenaga kerja yang bekerja langsung untuk industri tambang mencapai 38.030
orang (2006) sedangkan tahun sebelumnya sebanyak 36.817 orang atau mengalami kenaikan
sebesar 3%. Kenaikan jumlah karyawan ini disebabkan adanya expansi produksi. Jumlah
karyawan tersebut tidak termasuk ribuan karyawan yang bekerja pada kontraktor dan supplier
yang mendukung kegiatan tambang. Efek pengganda (multiplier effect) karyawan yang
bekerja di tambang sangat tinggi utamanya pada perusahaan tambang dengan jumlah
karyawan besar seperti KPC, Inco, Newmont, dan Freeport (laporan PwC, 2007).
Pada tahun 2006, gaji dan upah yang diterima oleh karyawan langsung mencapai
Rp6,3 trilyun, sedangkan tahun sebelumnya hanya Rp4,2 trilyun, sehingga terjadi kenaikan
sebesar 49%. Kenaikan tersebut disebabkan oleh bonus dan tambahan benefit karena
kenaikan produksi dan penjualan. Pada tahun 2006 total ekspor mencapai US$20 milyar
sedangkan tahun sebelumnya hanya US$14,2 milyar, yang berarti ada kenaikan nilai ekspor
yang sangat berarti sebesar 40%.
Kegiatan tambang juga telah memberikan sumbahan terhadap pembelian dari supplier
domestik yang pada tahun 2006 mencapai Rp11,8 trilyun. Walaupun jumlah ini masih di
bawah pembelian tahun sebelumnya yang mencapai Rp16 trilyun, namun masih sangat tinggi
dibanding dengan tahun-tahun sebelum 2005 yang tidak mencapai lebih dari Rp7 trilyun.
Naiknya pembelian dari supplier domestik menunjukkan bahwa kegiatan tambang sudah
lebih banyak menggunakan produk-produk dalam negeri.
Namun sangat disayangkan bahwa kontribusi tambang terhadap ekonomi nasional
yang sudah besar tersebut masih tidak diimbangi dengan kondisi sosio-ekonomi masyarakat
di sekitar tambang (Tri Yunanto, 2008). Indeks Pembangunan Manusia atau Human
Development Index (HDI) pada daerah penghasil sumberdaya mineral masih lebih rendah
dibanding HDI daerah non-tambang. Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa Pendapatan
Domestik Regional Bruto (PDRB) di propinsi-propinsi yang kaya akan SDA jauh lebih tinggi
dibanding propinsi lainnya yang tidak kaya SDA. Sebaliknya HDI pada propinsi yang kaya
SDA justru masih lebih rendah dari pada propinsi yang tidak mempunyai SDA.
7705
756
948
1581
950
2727
1695
2321
2050
3051
4180
9242
0.7
0.603
0.641
0.708
0.665 0.666
0.713
0.756
0.691 0.691
0.66
0.601
0
1,000
2,000
3,000
4,000
5,000
6,000
7,000
8,000
9,000
10,000
E
a
s
t
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n
P
a
p
u
a
N
a
n
g
r
o
e
A
c
e
h
D
a
r
u
s
a
l
a
m
R
i
a
u
C
e
n
t
r
a
l
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n
N
o
r
t
h
S
u
l
a
w
e
s
i
D
K
I
J
a
k
a
r
t
a
B
a
n
t
e
n
M
a
l
u
k
u
D
.
I
.
Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
S
o
u
t
h
E
a
s
t
S
u
l
a
w
e
s
i
E
a
s
t
N
u
s
a
T
e
n
g
g
a
r
a
G
D
R
P
p
e
r
c
a
p
i
t
a
(
I
D
R
b
i
l
l
i
o
n
)
0.0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
H
D
I

Grafik 1: Perbandingan PDRB per kapita dengan Index Pembangunan Manusia (HDI).
Source: Indonesia Human Development Report, 2005.
22
Sementara itu, tingkat kemiskinan di daerah-daerah sekitar tambang juga masih relatif
tinggi. Tabel 1 menunjukkan tingkat kemiskinan yang dijumpai pada kabupaten-kabupaten
yang menghasilkan tambang emas, tembaga, nikel dan batubara berskala internasional yaitu
Freeport, Inco dan KPC. Tingginya tingkat kemiskinan tersebut merupakan permasalahan
sosial yang harus dipikirkan oleh semua pihak untuk dicarikan jalan keluar.

Daerah tambang Lokasi Tingkat kemiskinan
Freeport Kab Mimika 38,69%
*)

Inco Kab Luwu Timur 13,12%
*)

KPC Kab Kutai Timur 31,80%
**)

Tabel 1: Tingkat kemiskinan (%) kabupaten yang memiliki kegiatan tambang berskala internasional.
Sumber: *) www.bps.co.id/~irja and www.bps.co.id/~sulsel 2004
**) Kutim Dalam Angka, BPS, 2005

Kemiskinan adalah salah satu dari sekian banyak masalah-masalah sosial di sekitar
kita yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak termasuk perusahaan tambang
(korporasi). Korporasi yang bertanggung jawab tidak hanya memenuhi kepentingan
pemegang saham saja, tapi juga para stakeholder (pemangku kepentingan) lainnya yang lebih
luas. Di satu sisi korporasi dihadapkan pada persaingan global yang ketat dan kemajuan
teknologi yang pesat yang menuntut untuk efisien biaya, sedangkan di sisi lain korporasi juga
harus peka terhadap masalah-masalah sosial yang penanganannya cenderung memerlukan
biaya.

Penyebab kemiskinan.

Banyak studi telah dilakukan untuk mengetahui penyebab kemiskinan. Namun
demikian, tidak ada satupun penjelasan yang dapat diterima oleh semua pihak karena
kemiskinan merupakan aspek yang kompleks (Yapa, 2005). Laporan Bank Dunia (2006)
menyebutkan bahwa penyebab kemiskinan di Indonesia ada lima, yaitu: buruknya mutu dan
fasilitas pendidikan, belum berkembangnya sektor pertanian, tidak adanya kesamaan gender,
kurangnya akses ke kebutuhan dasar dan infrastruktur (air, listrik dan jalan), dan lokasinya
yang sulit untuk dijangkau dengan alat transportasi. Faktor-faktor lainnya yang sering
dibahas sebagai penyebab kemiskinan antara lain adalah (Wikipedia, 2008):

Faktor lingkungan. Pemanfaatan lahan pertanian secara intensif dan terus-menerus
telah merusak siklus alam yang kemudian mengurangi kesuburan lahan dan mengurangi hasil
pertanian. Saat ini lebih dari 40% lahan pertanian di dunia telah mengalami kerusakan. Jika
kerusakan ini terus berlangsung maka cadangan pangan di dunia akan terancam yang
tentunya akan berdampak pada peningkatan kemiskinan. Penebangan hutan secara besar-
besaran juga merupakah salah satu penyebab kerusakan alam, disamping faktor alam lainnya
seperti perubahan iklim dunia (climate change), tanah longsor, banjir, kekeringan, kebakaran
hutan dan bencana alam lainnya. Terhambatnya masyarakat untuk mendapatkan akses ke
lahan subur, air bersih, energi, dan sumberdaya lainnya juga dapat memicu kemiskinan.
Faktor ekonomi. Tingginya tingkat pengangguran telah menyebabkan ketidak mampuan
masyarakat untuk berperan dalam kegiatan ekonomi dan memberikan nilai tambah terhadap
sistem perekonomian. Sebaliknya pengangguran ini telah menjadi beban masyarakat.
Naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang salah satunya dipicu oleh kenaikan harga BBM
juga telah berdampak terhadap pengangguran. Larinya modal ke luar daerah
23
(capital flight)
1
telah mengurangi kesempatan bagi masyarakat untuk menggunakan
modal tersebut dalam perekonomian lokal. Perdagangan yang berpihak (unfair terms of
trade) yang memberikan perlakuan khusus, proteksi dan subsidi di bidang pertanian telah
menguntungkan negara-negara maju dan mengurangi tingkat keunggulan negara-negara
berkembang.
Faktor pelayanan kesehatan. Keterbatasan pada pelayanan kesehatan telah
menyebabkan masyarakat rentan terhadap kemiskinan dan tidak mampu untuk melakukan
pekerjaan yang produktif. Kemiskinan juga telah menyebabkan adanya kekurangan gizi pada
balita yang kemudian telah mengakibatkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM).
SDM yang rendah ini pada akhirnya telah menyebabkan ketidak mampuan masyarakat untuk
bersaing dengan kelompok masyarakat lainnya.
2
Kurangnya asupan sumber-sumber mineral
seperti yodium dan zat besi telah mempengaruhi perkembangan otak. Saat ini lebih sekitar
40% anak-anak balita terancam menderita anemia karena kurangnya zat besi di dalam
makanan mereka. Munculnya penyakit-penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria,
tuberculosis telah mengurangi tingkat produktifitas dalam bekerja dan mengurangi bahkan
menutup kesempatan untuk bekerja. Depersi klinis, ketergantungan terhadap narkoba dan
minuman keras, jika tidak ditangani dengan benar akan lebih memperburuk kondisi lingkaran
kemiskinan.
Ke-tata laksana-an (governance). Belum matangnya kehidupan demokrasi,
rendahnya tingkat pendidikan, akses kepada air bersih, akses kepada infratruktur seperti jalan
dan fasum-fasos (fasilitas umum dan sosial) merupakan kondisi sosial yang disebabkan oleh
rendahnya ke-tata laksana-an dalam pemerintahan. Kondisi lainnya adalah tingginya buta
huruf, tingginya kematian bayi dan rendahnya tingkat kesehatan ibu yang telah memicu
munculnya kemiskinan. Buruknya ketata laksanaan ini juga mengurangi kesempatan untuk
mendapatkan bantuan pembangunan dari negara-negara donor. Belum dilakukannya
penegakan hukum atau rule of law seirngkali tidak memihak kepada masyarakat miskin tapi
justru mendukung masyarakat yang lebih mapan dan berkecukupan. Masih meraja lelanya
KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) merupakan salah satu akar permasalahan dalam ketata
laksanaan pemerintahan. KKN yang merugikan ini pada akhirnya telah mengurangi minat
para investor untuk menanam modal di Indonesia, padahal investor inilah yang diharapkan
dapat memacu pertumbuhan ekonomi.
Faktor sosio-demografi. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi telah memicu
pemiskinan baru.
3
Meningkatnya jumlah penduduk juga telah memicu peningkatan kejahatan
baik kejahatan kerah putih maupun kerah biru dan meningkatnya peredaran narkoba,
khususnya di daerah perkotaan. Program-program peningkatan kesejahteraan dan penyediaan
fasum-fasos justru memberikan manfaat bagi masyarakat kelas menengah, dan bukan
masyarakat miskin sebagai target utamanya (fenoma ini dikenal dengan Matthew efffect).
Kemiskinan juga sering timbul akibat dari perang termasuk perang saudara dan genocide.

1
Di beberapa tambang berskala besar, banyak karyawan (khususnya tingkat middle management ke atas) yang
berasal dari luar daerah tambang yang mempunyai aset di luar daerah atau tempat asalnya serta membelanjakan
penghasilan bulannya ke tempat lain.
2
Banyak masyarakat di sekitar tambang yang tidak mampu bersaing dengan para pendatang sehingga
mengurangi kesempatan mereka untuk dapat bekerja di perusahaan tambang.
3
Tingkat pertumbuhan penduduk di daerah tambang jauh leibh tinggi dibanding dengan daerah-daerah lainnya.
Pertambahan penduduk tersebut dipicu oleh para pendatang yang ingin mencari pekerjaan di sektor tambang dan
sektor pendukungnya.
24
Penyakit Belanda (Dutch disease)

Penyakit Belanda merupakan kesalahan pasar (market failure) akibat rendahnya upah
buruh dan berlimpahnya sumberdaya alam (SDA) yang digunakan untuk menghasilkan
komoditi lainnya. SDA yang berlimpah tersebut dihargai jauh lebih rendah dari pada
komoditi yang dihasilkan oleh negara-negara maju yang mempunyai teknologi canggih.
SDA dimungkinkan untuk dijual dengan harga rendah karena upah buruh juga relatif rendah
(state-of-the-art). Sebaliknya negara-negara berkembang penghasil SDA membeli komoditi
dari negara-negara maju dengan harga yang tinggi karena upah buruh di negara-negara
tersebut tinggi (Bresser-Pereira, 2008).
Akibat dari transaksi jual beli tersebut, maka nilai tukar uang menjadi tidak seimbang
(overvaluation). Nilai tukar uang negara-negara penghasil SDA menjadi rendah, sebaliknya
nilai tukar uang negara berteknologi tinggi menjadi tinggi.
Namun demikian, ada faktor ekonomi makro lainnya yang menyebabkan munculnya
penyakit Belanda tersebut. Investiasi yang dilakukan di negara-negara berkembang juga
telah memicu tidak imbangnya nilai tukar uang. Investasi akan menarik modal asing yang
pada akhirnya dapat menekan nilai tukar uang. Faktor-faktor lainnya adalah tingginya
tingkat kemiskinan, rendahnya kualitas SDM, ketata laksanaan pemerintahan (good
governance), dan sebagainya. Permintaan (demand) yang tinggi berupa konsumsi dan
pengeluaran publik oleh negara-negara berkembang juga memicu penurunan tukar uang.
Akibatnya negara-negara berkembang tetap saja tidak bisa menikmati hasil penjualan
SDAnya dan kehidupannya tidaklah dapat meningkat dengan cepat.
Kondisi sosio-ekonomi tersebut sangatlah kontras dengan perolehan hasil tambang
yang bernilai miliaran dollar dan telah memberikan sumbangan devisa yang sangat berarti
bagi perekonomian nasional kita. Sumberdaya alam (SDA) kita yang melimpah ruah ternyata
terbukti tidak mampu memberikan nilai tambah dan merubah nasib masyarakat yang hidup di
sekitar daerah tambang. Kondisi mereka relatif masih sama, miskin dan terbelakang, jika
dibanding saat sebelum ada kegiatan tambang.
Inilah yang disebut sebagai resource curse atau kutukan SDA. Manusia telah
mendapat kutukan karena tidak mampu memanfaatkan SDA anugerah Tuhan dengan arif dan
bijaksana. Justru orang-orang luarlah yang menikmati manfaatnya, sementara masyarakat
lokal hanya bisa melihat kekayaan alamnya sedikit demi sedikit telah menipis dan habis
digali. Hasil tambang mengalir deras ke negara-negara maju, sementara yang dikucurkan
kembali ke masyarakat lokal hanya sebagian kecil saja.
Lalu, bagaimana mengakhiri kutukan ini? Siapa sebenarnya yang paling bertanggung
jawab? Apa yang harus dilakukan oleh perusahaan tambang?

Dampak tambang terhadap perekonomian: Tinjauan PT Kaltim Prima Coal (KPC)

Peran kegiatan pertambangan KPC terhadap ekonomi Kutai Timur sangat menonjol.
Pada tahun 2006, sektor pertambangan batu bara pada Pendapatan Domestik Regional Bruto
(PDRB) mencapai lebih dari 82%. Berikut ini adalah hasil studi yang dilakukan oleh BPS
dan Center for Strategic Study of Resources (CSSR) tentang dampak KPC terhadap
perekonomian wilayan dan lokal.
Efek pengganda output total. Kemampuan tambang batubara KPC dalam
mendorong kegiatan ekonomi sektor lainnya dapat dianalisa dengan angka pengganda
(multiplier). Pengganda output total terjadi di sektor pertambangan sebesar 1,99. Artinya:
25
apabila permintaan batubara naik 1 unit, maka output seluruh ekonomi di Kutim dan wilayah
lainnya akan naik sebesar 1,99. Pengganda output domestik adalah 1,32. Artinya: kenaikan
1 unit akan memicu kenaikan output domestik sebesar 1,32.
Efek pengganda tenaga kerja. Efektifitas suatu sektor dalam menciptakan
kesempatan kerja diukur berdasarkan pengganda tenaga kerjanya. Tambang batubara KPC
merupakan sektor paling efektif dalam menyerap tenaga kerja dibanding sektor ekonomi
lainnya. Pengganda tenaga kerja tambang KPC mencapai 75 dan 6. Artinya: setiap
tambahan satu orang pekerja KPC akan memicu munculnya 75 kesempatan kerja, yang mana
6 diantaranya terjadi di Kutim (domestik).
Pembentukan output total dan domestik. Output sektor produksi terbentuk karena
adanya permintaan (input) dari domestik dan luar negeri. Besarnya input kegiatan tambang
batubara KPC pada tahun 2005 adalah RP11,4 trilyun. Output yang diciptakan dalam sistem
perekonomian mencapai total Rp22,3 trilyun. Besarnya output yang dinikmati oleh
penduduk Kutai Timur adalah Rp14,5 trilyun atau 65% dari total output. Output domestik
yang terbentuk dari kegiatan tambang batubara KPC adalah Rp 14,5 trilyun. Dari jumlah
tersebut, Rp10,6 trilyun (atau 73%) terjadi di KPC, sedangkan sisanya terjadi di sektor lain di
sekitar KPC.
Penciptaan Nilai Tambang Bruto (NTB). NTB merupakan bagian dari output
berupa nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Kenaikan atau
penurunan output akan diikuti secara proporsional oleh kenaikan dan penurunan NTB.
Pengeluaran tambang batubara KPC mampu menciptakan NTB dalam perekonomian sebesar
Rp11,4 trilyun. Dari jumlah tsb, 60% atau Rp6,8 trilyun terjadi di Kutai Timur. Pengeluaran
tambang batubara KPC mampu menciptakan NTB dalam perekonomian di Kutai Timur
sebesar Rp6,8 trilyun. Dari jumlah tsb, 67% atau Rp4,6 trilyun tercipta di wilayah Kutai
Timur.
Pendapatan masyarakat dalam perekonomian. Upah dan gaji merupakan balas
jasa yang diterima oleh pekerja yang didasarkan pada latar belakang pendidikan, kemampuan
(skills) dan kompetensi. Besarnya pendapatan masyarakat dalam sistem perekonomian
adalah Rp2,4 trilyun. Dari jumlah pendpatan masyarakat tsb, 53% atau Rp1,3 trilyun
merupakan pendapatan masyarakat di Kutim. Total pendapatan masyarakat dari kegiatan
tambang batubara di Kutim adalah Rp1,3 trilyun. Dari jumlah pendapatan tsb, 35% atau
Rp443,2 milyar merupakan pendapatan karyawan yang bekerja di KPC, sedangkan sisanya
justru dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tambang KPC. Hal ini
merupakan indikasi positif bagi sistem perekonomian Kutai Timur.
Penciptaan pajak langsund dan tak langsung. Pajak tak langsung merupakan salah
satu komonen dalam nilai tambah bruto yang harus dibayar oleh sektor-sektor produksi atau
penjualan dan biasanya dibebankan kepada barang dan jasa yang dibeli. Pajak tak langsung
yang dicipta-kan oleh KPC dalam perekono-mian adalah Rp628 milyar. Dari jumlah tsb,
Rp513 milyar atau 82% diantaranya tercipta di Kutim. Dari total pajak tak langsung yang
tercipta di Kutim, sebagian besar (85%) atau Rp436 milyar merupakan pajak tak langsung
yang tercipta di KPC. Sektor yang paling potensial menghasilkan pajak tak langsung adalah
sektor jasa.
Penyerapan tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi dalam
menciptakan output barang dan jasa. Besarnya tenaga kerja yang mampu tercipta dalam
perekonomian karena kegiatan tambang batubara KPC adalah 198.661 orang. Diantara
jumlah tsb, hanya 15.916 orang diantaranya atau 9% terserap di Kutim. Tenaga kerja yang
diserap akibat kegiatan tambang batubara KPC adalah 15.916 orang. Dari jumlah tsb,
sebanyak 2.321 orang diserap di KPC, sedangkan sisanya sebanyak 13.595 orang diserap
26
oleh sektor lain di luar KPC. Kondisi ini membuktikan bahwa kegiatan tambang
batubara KPC telah menyerap lebih banyak tenaga kerja di luar KPC.

Peran KPC dalam Pembiayaan Pembangunan Daerah. Sebagai daerah yang
relatif baru, Kabupaten Kutai Timur sangat membutuhkan anggaran yang cukup besar untuk
dapat membangun infrastruktur dasar seperti penyediaan air, jalan, listrik dan gas. Kondisi
tersebut mutlak dibutuhkan oleh Kutai Timur agar dapat mengembangkan perekonomian
sehingga dapat sejajar dengan kabupaten lainnya yang sudah lebih dahulu berkembang.
Namun demikian sampai dengan saat ini, Pendapat Asli Daerah (PAD) sebagai salah satu
sumber pembiayaan pembangunan masih relative kecil. Peran dari PAD dalam penerimaan
daerah selama periode 2001-2005 hanya berkisar antara 0,51-1,61 persen. Dalam APBD
Kabupaten Kutai Timur porsi terbesar dari penerimaan daerah berasal dari dana bagi
hasil sumberdaya alam (SDA) dan dana perimbangan lainnya. Hal ini memberikan indikasi
bahwa pemerintah daerah dalam menjalankan fungsi pemerintahannya masih sangat
tergantung dari transfer pusat.


Grafik 2: Kontribusi KPC dalam penerimaan daerah.
Sumber: Dampak Pertambangan KPC terhadap Perekonomian di Kab Kutai Timur, BPS, 2007.


Peran KPC Dalam Pembentukan PDRB Kutai Timur. Produksi batubara KPC
yang terus mengalami peningkatan sejak mulai berdirinya sampai saat ini. Pada tahun 1993,
besaran PDRB Kabupaten Kutai Timur atas dasar harga berlaku baru mencapai Rp. 0,52
triliun, dengan produksi batubara KPC sebesar 8,87 ribu ton. Tahun 2005, PDRB Kabupaten
Kutai Timur mencapai Rp. 11,3 triliun dan produksi batubara KPC mencapai 28,1 ribu ton.
Pada grafik di bawah ini terlihat jelas bahwa perkembangan produksi batubara KPC sangat
berpengaruh besar dalam pembentukan nilai tambah di Kabupaten Kutai Timur.


27

Grafik 3: Perkembangan Produksi Batubara dan PDRB Kabupaten Kutai Timur, 1993-2005.
Sumber: Dampak Pertambangan KPC terhadap Perekonomian di Kab Kutai Timur, BPS, 2007.


Pada tahun 2005 terlihat bahwa telah terjadi perubahan struktur perekonomian periode
1995 2005 akibat keberadaan KPC. Pada tahun 1995 sektor batubara menjadi penyumbang
terbesar dalam perekonomian yaitu sebesar 72,2 persen, diikuti oleh sector pertanian sebesar
12,81 persen dan ketiga sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 3,8. Tahun 2005 sektor
batubara masih menjadi leading sector dalam pembentukan nilai tambah di Kutai Timur,
namun urutan penyumbang nilai tambah berikutnya berbeda dibandingkan tahun 1995,
sektor-sektor tersebut adalah sektor jasa-jasa, perdagangan hotel dan restoran, dan
pengangkutan dan komunikasi. Pergeseran struktur terjadi karena sektorsektor tersebut
berkembang untuk mendukung kegiatan pertambangan.

Permintaan dan Penawaran Petambangan KPC dan Sektor Ekonomi Lainnya
Pada Tahun 2005, permintaan terhadap barang dan jasa di Kabupaten Kutai Timur mencapai
Rp 31,75 triliun. Dari nilai total permintaan tersebut 33,29 persen diantaranya merupakan
permintaan oleh sektor-sektor produksi untuk kebutuhan kegiatan produksinya, 21,50 persen
merupakan permintaan oleh konsumen akhir domestik dan sisanya sebesar 45,20 persen
merupakan permintaan oleh konsumen di luar wilayah Kabupaten Kutai Timur atau diekspor.
Untuk memenuhi keseluruhan permintaan barang dan jasa tersebut, Kabupaten Kutai Timur
memenuhinya dari produksi domestik sebesar Rp 21,89 triliun atau sebesar 68,95 persen,
sedangkan sisanya sebesar 31,05 persen terpaksa harus diimpor dari luar wilayah Kabupaten
Kutai Timur.

28

Tabel 2: Struktur Permintaan dan Penawaran Menurut Sektor Ekonomi Kab Kutai Timur 2005 (Miliar Rupiah).
Sumber: Dampak Pertambangan KPC terhadap Perekonomian di Kab Kutai Timur, BPS, 2007.

Pengamatan terhadap struktur permintaan dan penawaran untuk setiap sektornya,
memperlihatkan bahwa kelompok sektor pertanian dari sisi penawarannya yang berjumlah
1,96 triliun rupiah hanya sebesar 43,36 persen mampu disediakan dari produksi domestik,
sebesar 56,64 persen disediakan dari luar wilayah. Dari jumlah penawaran tersebut sebagian
besar (71,18 persen) dialokasikan untuk memenuhi konsumsi domestik 20,97 persen untuk
ekspor, dan sisanya sebesar 7,85 persen untuk permintaan antara. Dari komposisi
penawarannya dapat dikatakan bahwa untuk produk-produk pertanian ketergantungan
Kabupaten Kutai Timur dengan wilayah lainnya relatif besar, karena untuk memenuhi
permintaan yang ada sebagian besar masih harus didatangkan dari luar
Kabupaten Kutai Timur. Sedangkan dari komposisi permintaannya, produksi hasil pertanian
di Kutai Timur sebagian besar masih dialokasikan untuk memenuhi konsumsi domestik dan
hanya sebagian kecil yang diproses lebih lanjut menjadi produk lain. Hal ini merupakan suatu
indikasi yang kurang baik bagi sistem perekonomian di Kutai Timur.

Program pengentasan kemiskinan

Pengurangan kemiskinan dapat dilakukan oleh perusahaan tambang (korporasi)
melalui empat cara, yaitu: pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi, penciptaan
lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan (Pegg, 2005). Karena kemiskinan
merupakan masalah yang sangat kompleks, maka korporasi perlu melakukan kerja sama
dengan korporasi lainnya sehingga bebannya bisa lebih ringan. Korporasi juga bisa
bergabung dengan pemerintah dan memberikan rekomendasi agar Dana Alokasi Umum
(DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) diarahkan kepada masyarakat miskin dan daerah-
daerah yang masih terbelakang. Dengan penggalangan dana secara bersama-sama ini maka
program pengentasan kemiskinan diharapkan akan lebih mudah dilakukan.
29
Korporasi mempunyai peran strategis untuk ikut dalam mengurangi tingkat
kemiskinan karena pengentasan kemiskinan merupakan salah satu Millenium Development
Goals (MDGs). Dengan demikian, korporasi akan dapat meningkatkan reputasi dan citra
sebagai perusahaan yang peduli dengan masalah sosial. Perusahaan dengan reputasi dan citra
yang baik akan lebih mudah untuk mendapatkan kepercayaan dan pinjaman dana dari
investor. Para karyawannya juga akan mempunyai kepercayaan diri dan kebanggaan
terhadap perusahaan tempat bekerja, sehingga akan memperkecil kesempatan karyawan
untuk pindah bekerja ke tempat lain.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial (corporate social responsibility atau CSR),
perusahaan perlu memastikan bahwa masyarakat lokal dapat memperoleh pendidikan yang
layak dan memadai. Kuncinya adalah memperbaiki tingkat pendidikan masyarakat yang
pada akhirnya dapat meningkatkan kompetensi dan daya saing dalam mendapatkan pekerjaan
dengan penghasilan yang layak. Yang paling utama adalah membangun gedung sekolah
beserta fasilitasnya dan menyediakan guru-guru yang terampil dan terlatih. Pemberian
beasiswa bagi siswa yang berprestasi atau kurang mampu dapat memberikan kesempatan
masyarakat lokal untuk lebih berkembang dalam menyelesaikan studinya ke tingkat yang
lebih tinggi.
Pendidikan non-formal berupa pelatihan dan ketrampilan akan memberikan bekal
yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan dengan lebih cepat. Pendidikan ketrampilan perlu
dirancang sebaik mungkin agar bisa memenuhi kebutuhan operasi tambang seperti operator
alat berat, mekanik, perbaikan AC, mengelas dan jenis pelatihan lainnya. Dengan
memperoleh pendidikan yang layak dan tepat guna, maka kepercayaan diri dan kebanggaan
masyarakat lokal akan muncul.
Peningkatan kesehatan masyarakat juga merupakan program CSR yang perlu
dilaksanakan oleh perusahaan agar tingkat harapan hidup bisa lebih ditingkatkan. Perusahaan
perlu terlibat dalam pengendalian penyakit-penyakit menular seperti tuberculosis (TBC),
demam berdarah, malaria, infeksi menular seksual dan penyakit lainnya. Program kesehatan
ibu dan anak serta perbaikan gizi juga merupakan upaya yang bisa dilakukan perusahaan
dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Program kesehatan ini akan lebih berhasil
jika dibarengi dengan pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi para petugas kesehatan.
Peningkatan kualitas hidup juga perlu didukung dengan tersedianya air bersih, listrik
dan jalan. Ironisnya tiga kebutuhan dasar ini justru sering dilupakan oleh pemerintah di mana
lokasi tambang berada, sementara perusahaan menganggap pemerintahlah yang semestinya
bertanggung jawab. Di sisi lain, pemerintah daerah sering sibuk dengan membangun
kompleks perkantoran yang megah dan proyek-proyek mercu suar bernilai miliaran rupiah
yang lebih ditujukan untuk kepentingan pejabat dari masyarakat luas.
Pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM) perlu dilakukan oleh perusahaan
dengan maksud agar masyarakat dapat meningkatkan penghasilannya. Dengan demikian,
maka jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan lambat laun dapat dikurangi. UKM
terbukti telah mampu menjadi tulang punggung ekonomi di daerah sekitar tambang.
Pemberdayaan ini diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada UKM dalam supply
chain (rantai pemasok) dengan industri tambang yang tujuan akhirnya untuk meningkatkan
cakupan dan kemampuan UKM.
Agar program-program CSR dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif, maka perusahaan
tambang perlu mengajak pemerintah daerah sehingga akan muncul rasa memiliki program
tersebut. Perusahaan juga perlu melakukan kerja sama dengan pihak-pihak ketiga atau
lembaga-lembaga donor seperti Bank Dunia, USAID, AusAID, British Council, dan ADB
yang peduli terhadap pembangunan di daerah yang tertinggal. Keterlibatan pemerintah
30
(baik pusat, propinsi maupun daerah) serta pihak ketiga akan lebih memperbesar
tingkat keberhasilan pelaksanaan program pembangunan.
Kerja sama tersebut tidak hanya akan meringankan beban perusahaan saja, namun
juga lebih memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk ikut melaksanakan program-
programnya, sehingga akan tercipta sinergi yang saling menguntungkan. Kerja sama ini juga
akan menimbulkan rasa memiliki dan menciptakan kesinambungan dalam pembangunan.


Penutup

Hasil tambang perlu dikelola dengan baik agar memberikan manfaat ekonomi, sosial
dan lingkungan baik bagi masyarakat sekitar tambang maupun bangsa Indonesia. Perusahan
tambang perlu melakukan pembangunan masyarakat secara pro-aktif melalui program-
program pengentasan kemiskinan. Dalam jangka panjang jika program-program tersebut
dilakukan secara benar dan konsisten, keterlibatan korporasi akan membuahkan hasil yaitu
menurunnya angka kemiskinan. Dengan menurunnya jumlah orang miskin, maka
kemampuan membeli masyarakat dengan sendirinya akan naik. Dan dengan naiknya
kemampuan membeli maka perekonomian makro juga akan bertambah baik, yang pada
akhirnya akan memberikan berkah bagi korporasi untuk melakukan perluasan usahanya.
Pengentasan kemiskinan memerlukan waktu dan proses yang panjang, dan
hasilnyapun tidak bisa langsung diwujudkan. Yang bisa diwujudkan adalah komitmen
korporasi yang tinggi dan tindakan yang nyata.
Kesinambungan merupakan kunci dalam pelaksanaan program CSR di daerah
tambang karena tambang merupakan SDA yang tidak terbarukan dan mempunyai
keterbatasan ruang dan waktu. Tantangan perusahaan tambang adalah bagaimana
memperbaiki tiga kondisi sosio-ekonomi yang sering dijumpai di sekitar daerah operasinya
yaitu rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya tingkat harapan hidup, dan tingginya angka
kemiskinan. Jika kondisi ini bisa diperbaiki, maka kutukan SDA akan berakhir.


Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Center for Strategic Study of Resources (CSSR), Dampak
Pertambangan KPC terhadap Perekonomian di Kab Kutai Timur, Jakarta, 2007.

Bresser-Pereira, L.G., The Dutch disease and its neutralization: a Ricardian approach, Rev.
Econ. Polit. vol.28 no.1, Jan./Mar., Sao Paolo, 2008

Pegg, C. Mining and poverty reduction: Transforming rhetoric into reality, 2005.

PriceWaterhouseCoopers, MineIndonesia 2007, Jakarta.

Tri Yunanto, K., Mining Brings Poverty, VHRmedia.com, Jakarta, 2008.

Weber-Fahr, M., Strongman, J., Kunanayagam, R., McMahon, G. Sheldon, C., Mining and
poverty reduction in Macroeconomics and sectoral approaches, 2004.

Yapa, L., What causes poverty?: postmodern view, 2005.
31
ASPEK SOSIAL DALAM RENCANA PENAMBANGAN
PASIR BESI KULON PROGO

Oleh
D. Haryanto
Jurusan T. Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta
e-mail: saha@yogya.wasantara.net.id, Telp.: 0274-486701, Fax.: 0274-486702

Abstrak
Lahan di bagian selatan wilayah Kabupaten Kulon Progo sepanjang 25 km merupakan
daerah pantai berpasir halus yang mengandung bijih besi. Perkiraan cadangan 605 juta ton
dengan kadar Fe 14%. Eksplorasi rinci untuk pengembangan potensi pasir besi dilakukan oleh
PT Jogja Magasa Mining. Saat ini pengajuan Kontrak Karya telah disetujui oleh DPR. Izin
penyusunan AMDAL diharapkan akan turun setelah Kontrak Karya Proyek ditandatangani
Presiden.
Studi kelayakan dan AMDAL yang dibuat tentunya selain aspek teknik, ekonomi dan
lingkungan juga memperhatikan pula aspek sosial kemasyarakatan. Namun rencana
penambangan pasir besi Kulonprogo menuai kontroversi. Sebagian masyarakat menolak,
sementara sebagian massa setuju akan rencana penambangan tersebut. Salah satu alasan
penolakan adalah selama daerah tersebut ditambang bagaimana kehidupan masyarakat lokal
yang sumber penghasilannya bergantung pada petak lahan tersebut.
Kemungkin besar masyarakat akan menerima bila ada biaya sosial sebagai biaya
pengganti atas penggunaan lahan tersebut, yang besarnya setara dengan hasil yang diperoleh
dari penggunaan lahan tersebut bila dipergunakan untuk kegiatan ekonomi masyarakat lokal.
Di samping itu ada tambahan manfaat biaya sosial lainnya berupa tanggung jawab sosial
(corporate social responsibility), yang dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk
pelayanan/fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur.

Kata kunci: pasir besi, Kulon Progo, biaya sosial.

Abstract
The land along the southern part of the Kulon Progo Regency is a 25 km long beach
area containing iron sand. The estimated reserve is about 605 million tons with a 14% Fe
grade. Detailed exploration has been done by PT Jogja Magasa Mining. The Contract of Work
(CoW) has been submitted to the government and has been approved by the DPR. It is hoped
that the permit for doing AMDAL will be given after the CoW has been signed by President.
The social aspect, as well as the technical, economical, and environmental aspect,
certainly has been considered in the feasibility study and AMDAL. However, some of the
local population has opposed the plan of developing the iron sand. One primary reason why
they reject the plan is because their economical dependency on the use of the land.
One of the possibilities to solve the problem is by counting the social cost in the
feasibility study along with corporate social responsibility so that the local population will
benefit by the presence of iron mining.

Key words: iron sand, Kulon Progo, social costs.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
Pendahuluan
Salah satu potensi sumberdaya mineral yang ada di wilayah Kabupaten Kulon Progo,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah endapan pasir besi. Endapan tersebut terdapat di
pantai Selatan sepanjang 25 km. Keberadaan sumberdaya alam (SDA) tersebut dapat tidak
diusik, dalam arti dibiarkan saja sebagai harta karun yang diawetkan di bawah permukaan
tanah, atau dapat pula diusahakan berdasar nilai ekonomi yang ada padanya sesuai dengan
kondisi saat itu. Berdasar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2004-2009),
pengelolaan SDA harus memperhatikan kombinasi tiga aspek, yakni aspek ekonomi, aspek
lingkungan dan aspek sosial (masyarakat). Dengan demikian rencana penambangan pasir besi
Kulonprogo harus pula memperhatikan ketiga aspek tersebut.
Sejak Maret 2006 PT Jogja Magasa Mining (PT JMM) yang bekerjasama dengan
sebuah perusahaan Australia (Indo Mines Ltd.) melakukan eksplorasi pasir besi dengan 929
titik bor. Hasil eksplorasi dianalisis di Laboratorium Konsultan Geologi Mackay &
Schnellman Pty Ltd, dengan hasil daerah ekplorasi seluas 39,6 km
2
(22 km x 1,8 km)
diperkirakan mengandung cadangan 240 juta ton pasir besi dengan kadar rata-rata 14% Fe.
Saat ini Kontrak Karya Proyek Penambangan Pasir Besi Kulon Progo oleh PT JMM
masih menunggu tandatangan dari Presiden, yang diharapkan hal tersebut sudah akan selesai
pada pertengahan tahun ini. Diharapkan pula setelah itu izin untuk penyusunan AMDAL akan
turun. Namun rencana penambangan pasir besi yang dari garis pantai masuk ke arah daratan
dan permukiman sejauh 1,8 km ini akan menabrak sejumlah desa di empat kecamatan. Hal ini
mendapat tentangan dari masyarakat setempat, khususnya dari mereka yang selama ini
menggantungkan penghasilannya dari bertani di wilayah tersebut.

Kajian Teknis dan Ekonomis
Untuk meminimalkan kerusakan lingkungan, rencananya penambangan akan
dilakukan dengan menggunakan Metode Kering (Teknologi Autokumpu), tidak menggunakan
monitor/alat semprot. Penambangan akan dilakukan per blok, di mana setiap blok akan
ditambang antara 8 12 bulan. Kedalaman penggalian + 6 meter, dengan total penurunan
lahan maksimal 80 cm. Material bukan pasir besi, setelah dipisahkan langsung dikembalikan
ke bekas tambang. Reklamasi untuk setiap blok dilakukan dengan teknik pengembalian per
lajur. Dilakukan beriringan setelah proses penambangan/pengolahan. Direncanakan pula
lahan hasil reklamasi ini akan ditambah pupuk organik supaya menjadi lebih subur.
Pabrik pengolahan diharap letaknya tidak jauh dari lokasi penambangan. Bahan-bahan
pendukung untuk konstruksi pabrik dan pengolahan, seperti misalnya batu andesit,
batugamping, dan tanah liat terdapat di daerah Kulon Progo. Ketersedian bahan-bahan
pendukung ini merupakan salah satu pertimbangan mengapa letak pabrik pengolahan berada
di Kulon Progo. Lokasi pabrik dan area eksploitasi akan disesuaikan dengan Rencana
Pengembangan Wilayah Pemerintah Daerah Kulon Progo dan Pemerintah Provinsi DI
Yogyakarta, termasuk kepemilikan lahan masyarakat dan Puro Pakualaman.
Sarana transportasi akan menggunakan dan mengembangkan sarana jalan yang sudah
ada dan membuat sarana jalan yang baru sesuai dengan kebutuhan industri. Jalur transportasi
kereta api dibutuhkan untuk menghubungkan antara industri pengolahan dengan pelabuhan
terdekat di Pulau Jawa, terkait dengan keluar masuk hasil produksi dan bahan pendukung
industri. Untuk pasokan listrik diharapkan diperoleh dari PLN atau dari pembangkit listrik
yang akan disiapkan sendiri. Kebutuhan air minum untuk industri maupun konsumsi akan
memanfaatkan sumber air laut maupun air sungai. Untuk konstruksi pabrik, kantor, jalan dan
pemukinan karyawan akan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada di Kabupaten Kulon
Progo.
33
34
Direncanakan untuk pemanfaatan pasir besi disertai dengan melakukan pembangunan pabrik
baja. Dengan adanya pabrik pengolahan pasir besi menjadi besi wantah (pig iron) di Kulon
Progo, maka potensi bahan baku pasir besi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia
akan dapat pula diolah di Kulon Progo. Diharapkan industri besi wantah ini akan berkembang
menjadi industri baja di Kulon Progo. Jadi keberadaan pabrik pengolahan ini selain untuk
peningkatan perekonomian secara lokal (Kabupaten Kulon Progo khususnya), juga untuk
mengembangkan perekonomian secara regional, bahkan nasional dengan memberi nilai
tambah dari pasir besi yang semula hanya diekspor, nantinya dapat diolah menjadi besi
wantah. Tentunya hal ini selain memberi tambahan lapangan kerja juga memberi nilai tambah
dari produk mineral yang dimiliki oleh Indonesia.

Kajian Sosial Kemasyarakatan
Konsep dan strategi pengembangan pesisir yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah
Kulon Progo adalah:
Berorientasi pada kesejahteraan rakyat;
Regulasi pembangunan pesisir yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan;
Pemaduserasian kegiatan pembangunan wilayah daratan dan lautan, harmonisasi
sumberdaya alam dan sumberdaya buatan;
Mendorong pengembangan fungsi-fungsi baru sesuai dengan potensinya;
Memperbaiki ekonomi melalui partisipasi swasta, penguatan masyarakat, fasilitas
publik yang memadai, penataan ruang terbuka dan lanskap;
Mengembangkan cakupan layanan prasaran dan sarana wilayah.
Menterjemahkan konsep dan strategi di atas, maka perusahaan juga membuat kajian sosial
kemasyarakatan yang mencakup berbagai aspek, yakni:
Aspek Pertanian: dengan adanya peningkatan kualitas lahan pasca tambang dan
pengolahan, diharapkan produksi hasil pertanian meningkat, yang berarti memberi
nilai tambah usaha sektor pertanian. Untuk rehabilitasi lahan pasca tambang,
perusahaan telah melakukan kerjasama penelitian dengan Fakultas Kehutanan
Universitas Gadjah Mada. Selama ini Fakultas Kehutanan UGM telah banyak
melakukan program rehabilitasi lahan pasca tambang di berbagai macam tambang,
dari lahan hutan tropis basah sampai pantai berpasir yang tandus. Lokasi studi
dilakukan di Trisik, di mana penelitian dilakukan atas dasar hipotesis utama, yakni
lahan pasca tambang masih dapat digunakan lagi untuk produksi pertanian dengan
hasil yang sama atau bahkan lebih baik dibanding dengan hasil pertanian di lahan yang
belum ditambang.
Aspek Pendidikan: beberapa program pengembangan sumberdaya manusia disusun,
antara lain program beasiswa, program pengembangan sarana pendidikan dan program
pengembangan sumberdaya manusia yang lain.
Apek Kesehatan: pembangunan sarana-prasarana kesehatan serta peningkatan mutu
kesehatan masyarakat.
Aspek Budaya: pelestarian dan pengembangan budaya lokal.
Aspek Sosial: pengembangan kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan;
Pengembangan dan pembinaan generasi muda; Pembinaan dan peningkatan peran
perempuan.
Apek Keamanan: pembangunan sarana-prasarana ibadah; pembinaan dan peningkatan
kualitas dalam melaksanakan ibadah.
Aspek Ekonomi: pembinaaan dan pengembangan UMKM; penguatan dan pembinaaan
kelembagaan ekonomi pedesaan.
Aspek Sarana Umum: peningkatan infrastruktur di lingkungan kawasan industri.

Manfaat Proyek Menurut Perusahaan
Selain keuntungan yang akan diperoleh oleh perusahaan yang berupa pengembalian
modal dari rencana investasi penambangan tersebut, masyarakat dan pemerintah juga akan
memperoleh manfaat dari adanya proyek tersebut.
Beberapa manfaat yang diharapkan dapat dinikmati oleh pemerintah dan masyarakat
antara lain:
Terbukanya lapangan kerja yang sangat luas baik di industri utama, maupun industri
pendukungnya, sehingga mengurangi pengangguran di daerah Kulon Progo.
Peningkatan pendapatan pemerintah yang sangat besar dari: pajak, royalti, land rent,
retribusi dan pendapatan lain yang sesuai dengan peraturan yang berlaku, sehingga akan
mempercepat proses pembangunan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan
masyarakat di Kabupaten Kulon Progo.
Dengan adanya program Pengembangan Masyarakat (Community Development) akan
membantu mengembangkan masyarakat, terutama dalam bidang ekonomi, pertanian,
pendidikan, sosial, kesehatan, budaya, keagamaan, dll.
Industri ini akan menjadi satu-satunya industri yang memproduksi besi wantah di Asia
Tenggara dan akan dikembangkan sampai menjadi industri baja di Kulon Progo.
Besi wantah yang akan dihasilkan akan dibeli oleh PT Krakatau Steel, jadi telah terjamin
adanya pasar bagi produk pabrik pengolahan.

Penolakan Dari Masyarakat
Rencananya, wilayah eksploitasi nantinya akan meliputi area seluas 2.900 hektar yang
membentang sepanjang 22 km dari S. Bogowonto hingga Kali Progo dan masuk ke arah
daratan dan pemukiman sejauh 1,8 km dari garis pantai. Wilayah tersebut menabrak sejumlah
desa di empat kecamatan, yakni desa Jangkaran dan Palihan (Kecamatan Temon); desa
Glagah dan Karangwuni (Kecamatan Wates); desa Garongan, Pleret, Bugel dan Karangsewu
(Kecamatan Panjatan) dan desa Nomporejo, Kranggan dan Banaran (Kecamatan Galur).
Dengan adanya penambangan pasir besi, diperkirakan belasan ribu Kepala Keluarga
petani terancam tergusur dari lahan pertanian dan rumahnya. Para petani di daerah tersebut
banyak yang sudah puluhan tahun menggarap lahan di kawasan itu. Dulunya tanah di daerah
tersebut hanya berupa padang tandus yang ibaratnya tak mungkin ditanami apapun. Lahan
pertanian yang sekarang telah mereka olah menjadi subur dan kemudian ditanami dengan
aneka sayur mayur tersebut telah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi mereka.
Menurut salah seorang petani, dari lahan seluas 500 m
2
bisa dihasilkan 1 1,5 kuintal cabai
sekali petik. Padahal cabai dapat dipanen tiap 3 sampai 5 bulan dengan 15-20 kali petik.
Misalnya cabai dihargai Rp7.000,00 per kg-nya, maka dapat dibayangkan berapa penghasilan
para petani tersebut. Selama satu musim tanam bisa diperoleh paling sedikit Rp10.000.000,00.
Bagaimana jadinya bila lahan pertanian produktif yang menghidupi belasan ribu
petani dan keluarganya tersebut ditambang? Memang proyek menjanjikan lapangan kerja
sebanyak 2.000, di mana jumlah ini jelas tidak sebanding dengan kehidupan belasan petani
yang tergusur. Mereka berdalih bahwa warga masyarakat dengan segala potensi dan
kemandiriannya telah mampu mengubah lahan pasir dari lahan kering menjadi lahan subur
dengan tanaman hortikultura dan wisata. Tanpa penambangan pasir besi, masyarakat secara
ekonomi telah mampu mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Alasan-alasan tersebut yang
35
kiranya mendasari warga untuk berjuang menolak rencana penambangan pasir besi di atas
lahan yang telah lama mereka olah.
Menurut seorang aktivis perlindungan hayati dari Yogyakarta, penambangan pasir besi
di pantai selatan Kulon Progo berpotensi mengancam kelestarian hidup unggas endemik.
Unggas akan kehilangan lokasi mencari makan sekaligus juga tempat-tempat berkembang
biak. Walaupun dilakukan secara bertahap, kegiatan penambangan pasir besi di bekas lahan
pertanian pantai tetap akan mengganggu siklus mata rantai kehidupan yang ada di wilayah
tersebut. Di lahan pertanian tersebut, yang nantinya untuk sementara akan menjadi lahan
tambang, berbagai jenis serangga yang menjadi sumber makanan unggas, terutama aneka
jenis burung puyuh yang hanya hidup dalam luasan habitat yang sempit dan terbatas. Selain
itu wilayah pantai tersebut juga menjadi lokasi persinggahan bagi unggas air yang bermigrasi
dari utara khatulistiwa guna menghindari datangnya musim dingin. Diantara burung-burung
tersebut terdapat beberapa yang termasuk kategori dilindungi, misalnya burung cikalang
christmas (Fregata andrewsi), cerek jawa (Charadrius javanicus), gajahan timur (Numenius
madagascariensis) dan trinil nordman (Tringa guttifer).

Konflik Kepemilikan Lahan
Wilayah eksploitasi penambangan pasir besi seluas 2.900 hektar akan menggusur
belasan ribu KK petani dari lahan pertanian dan rumahnya. Posisi petani lahan pasir sangat
lemah, walau telah puluhan tahun menggarap lahan di kawasan tersebut, status dan hak
mereka terhadap lahan tersebut tidak pernah jelas dan diakui.
Sebagian tanah yang dipersengketakan statusnya adalah tanah negara. Pihak
pemerintah daerah telah mengkalim 90 persen lahan yang akan ditambang adalah milik
keraton (Sultan Ground) dan Pakualaman ( Paku Alam Ground). Sementara itu pihak petani
merasa telah mengubah tanah yang sebelumnya tandus dan terlantar tak bertuan, menjadi
sekarang lahan hijau dan produktif, tiba-tiba mendapati munculnya patok-patok yang intinya
menyatakan lahan tersebut sebagai milik Pakualaman atau Kasultanan. Sebetulnya status
tanah Pakualaman itu tersebut menurut Surat KGPAA Paku Alam IX yang bernomor
X/PA/2003 tertanggal 7 Januari 2003 sudah boleh dimanfaatkan untuk kesejahteraan
masyarakat di sekitar lokasi tersebut. Lahan tersebut hanya boleh dikembangkan untuk
kegiatan pertanian dan pariwisata, serta tidak boleh dialihfungsikan bagi peruntukan lain yang
sifatnya mengubah sifat fisik dan hayati lahan.
Dasar pengaturan dan kebijakan pengelolaan mineral di Indonesia ialah Undang-
Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) yang berbunyi: Bumi, air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Berangkat dari ketentuan dasar tersebut, Undang-Undang Nomor 11
Tahun 1867 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan Pasal 1 menyebutkan: Segala
bahan galian yang terdapat dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia merupakan
endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah kekayaan nasional
bangsa Indonesia dan oleh karenanya dikuasai dan dipergunakan oleh negara untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat.
Bagaimana dengan rencana penambangan pasir besi di Kulon Progo dengan adanya
konflik kepemilikan lahan tersebut? Untuk dapat mempergunakan endapan pasir besi sebesar-
besarnya bagi kemakmuran masyarakat, maka pengaturan pengelolaan endapan pasir besi
yang merupakan sumberdaya alam yang terbatas dan tak terbarui tersebut harus dilakukan
dengan cermat dan hati-hati, dengan tujuan untuk memberi manfaat yang memadai bagi
masyarakat, tidak terkecuali masyarakat lokal di mana endapan pasir besi tersebut terdapat.
36
Dalam kasus di Kulon Progo tersebut, dari pihak masyarakat terdapat kekhawatiran
bahwa penambangan pasir besi akan meniadakan sumber mata pencaharian serta tempat
tinggal mereka. Bila terdapat dua pihak yang saling berinteraksi, di mana terdapat ketidak
pastian tentang kepemilikan sumberdaya (lahan) dan ternyata setelah salah satu pihak
memanfaatkan lahan tersebut mengakibatkan pihak lain menderita kerugian, maka dalam hal
ini alokasi lahan (sumberdaya) tersebut tidak efisien. Keseimbangan alokasi sumberdaya
secara efisien sangatlah tergantung dari kualitas fungsi permintaan dan penawaran. Dalam hal
ini kerugian yang diderita oleh masyarakat dianalogikan sebagai eksternalitas dari adanya
penambangan pasir besi oleh PT. JMM. Adanya eksternalitas, dalam teori ekonomi, hal ini
menunjukkan adanya kegagalan pasar. Agar terjadi keseimbangan (efisiensi alokasi), maka
dalam menentukan keseimbangan harga dan kuantitas perlu memperhitungkan pula semua
biaya akibat adanya kerugian yang diderita oleh masyarakat (biaya eksternal). Gambar berikut
kiranya dapat memperjelas perbedaan keseimbangan kompetitif dan keseimbangan efisien.

Rp/unit
MSC = MPC + MEC


S = MPC
P
e

P
c



D = MPB =MSB




0 Q
e
Q
c
Q (unit)


Keseimbangan Kompetitif: MPB = MPC
MPB MPC = 0
M = Keuntungan Marjinal = 0

Keseimbangan Efisien: MSB = MSC
MPB + MEB = MPC + MEC
MPB MPC = MEC (karena MEB = 0)
M = MEC.
Fungsi Penawaran = S = Biaya Privat Marjinal (Marginal Private Cost = MPC).
Fungsi Permintaan = D = Manfaat Privat Marjinal (Marginal Private Benefit = MPB).
Biaya Sosial Marginal (Marginal Social Cost = MSC) merupakan hasil penjumlahan MPC
dan MEC (Biaya Eksternal Marjinal).
Manfaat Sosial Marjinal (Marginal Social Benefit = MSB) merupakan hasil penjumlahan
MPB dan MEB (Marginal External Benefit).
Harga (P
e
) dan kuantitas (Q
e
) dalam keseimbangan efisien dapat diperoleh apabila MSC =
MSB.
37
Dengan demikian agar terjadi keseimbangan efisien, maka biaya sosial marjinal juga
memperhitungkan biaya penggantian selama penggunaan lahan tersebut, yang besarnya setara
dengan hasil yang diperoleh dari penggunaan lahan tersebut bila dipergunakan untuk kegiatan
ekonomi masyarakat lokal. Dengan adanya biaya penggantian, maka permasalahan bagaimana
kehidupan masyarakat lokal yang sumber penghasilannya bergantung pada petak lahan yang
ditambang tersebut dapat diatasi. Selanjutnya mereka dapat kembali mempergunakan lahan
bekas tambang yang sudah direklamasi sebagai lahan pertanian mereka.

Penutup
Salah satu konsep yang dianut oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo adalah
pembangunan pesisir yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan. Pembangunan, termasuk
pembangunan dalam industri pertambangan merupakan konsep yang multidimensi. Dimensi
pertama adalah ekonomi, mencerminkan keinginan meningkatkan kesejahteraan dari
masyarakat, yang dapat dilihat dari pendapatan per kapita. Dimensi kedua adalah lingkungan,
yang mencerminkan keinginan peningkatan kesejahteraan tidak dengan mengorbankan
kualitas lingkungan. Dimensi ketiga adalah sosial-budaya, yang mencerminkan keinginan
adanya peningkatan kesejahteraan yang berkeadilan sosial.
Dalam hal pembangunan industri pertambangan pasir besi di Kulon Progo, maka
diharapkan dengan adanya pengawasan yang baik, usaha pengembangan endapan pasir besi
tersebut tidak hanya terbatas pada maksimalisasi keuntungan secara ekonomi saja, namun
juga memperhatikan lingkungan, baik secara fisik maupun sosial. Walau dimensi sosial itu
bersifat subyektif, kualitatif dan sulit diukur, ditinjau berdasar pandangan berbagai fihak,
yang tentunya bervariasi, namun dengan adanya kesadaran untuk sedapat mungkin mencapai
keseimbangan yang efisien, kuantifikasi dari biaya sosial diharapkan dapat diperhitungkan
dengan baik.
Pada dasarnya kegiatan penambangan yang direncanakan dan dilaksanakan dengan
baik (good mining practice) tidak perlu dinafikan. Banyak manfaat yang dapat diperoleh
darinya, antara lain lapangan kerja bagi sebagian anggota masyarakat dan adanya biaya sosial
bagi kelompok lain yang lahannya sedang ditambang. Endapan pasir besi suatu saat akan
habis, tetapi manfaat yang diperoleh dari adanya kegiatan pertambangan, misalnya fasilitas
olah raga, infrastruktur, balai pengobatan, sekolah, dll., dapat terus dipergunakan untuk
mendukung adanya pembangunan yang berkelanjutan.

Daftar Pustaka
Abrar Saleng, 2004, Hukum Pertambangan, UII Press , Yogyakarta.
Ahmad Arif, et.al., 2008, Generasi Baru Petani: Yang Muda yang Bertani, Kompas,
11 April, halaman 43.
Callan, S.J., and J.M. Thomas, 2000, Environmental Economics and Management, Second
Edition, The Dryden Press, New York.
Doty Damayanti dan Sri Hartati S., 2008, Tambang Pasir Besi: Lampu Hijau dari ESDM,
Kompas, 11 April, halaman 42.
Kedaulatan Rakyat, 2008, Kerja Sama Penelitian UGM dan JMM: Rehabilitasi Pasca
Tambang Bijih Besi, 28 Mei , halaman 7.
Kedaulatan Rakyat, 2008, PPLP Klarifikasi MOU UGM-JMM: Tanpa Tambang Pasir Hidup
Rakyat Baik, 12 Juni, halaman 7.
Kompas, 2008, Pasir Besi Ancam Hidup Unggas, 14 Juni, halaman C.
PT Jogja Magasa Mining, 2007, Sosialisasi Rencana Kegiatan Pertambangan Pasir Besi
Kulon Progo, Yogyakarta.
38
Sri Hartati Samhadi, et.al., 2008, Petani Berhadapan dengan Kekuasaan, Kompas, 11 April,
halaman 41.
Suyartono, et.al., 2003, Good Mining Practice, Edisi Ketiga, PeTRAYA Offset,
Semarang
Teddy A. Cahyadi, et.al., 2007, Kasus Rencana Penambangan Pasir Besi Kulon Progo,
Tugas MK Ekonomi Lingkungan, Magister Teknik Pertambangan, Program
Pascasarjana UPN Veteran Yogyakarta
.
.
39
MENEROPONG PERUBAHAN PARADIGMA PROFESIONALISME
MAINTENANCE EQUIPMENT MENCAPAI ZERO TECHNOLOGY DI
DUNIA PERTAMBANGAN*
)



I r w a n
Maintenance Engineer PT. International Nickel Indonesia Tbk
Telp : 021-5249100 Ext.2729, e-mail : irwan01@inco.com


ABSTRAK

Konsep tentang suatu perubahan adalah suatu hal yang tidak bisa terbantahkan dalam
peradaban ini, lebih terkhusus dalam dunia maintenance atau perawatan alat. Karena
kesuksesan dan keuntungan dunia industri lebih terkhusus tentang industri pertambangan,
tertu tak lepas dari bagaimana profesionalisme dalam memaintain suatu peralatan atau
equipment yang mana kita ketahui bersama berfungsi sebagai roda penentu keberhasilan
industri tersebut. Meneropong lebih jauh tentang perubahan paradigma dunia maintenance
dulu dan sekarang memang akan sangat jauh berbeda. Kasarnya kalo kita membahasakan
bahwa antara peradaban purba dan modern. Dulu masih menggunakn sistem manual sekatang
sudah menggunakan system komputerisasi dan automasi.
Saat ini dunia maintenance sangat dituntut ke yang namanya Zero Technology yang
mana penjabarannya adalah pertama : tidak ada kesempatan yang boleh dilakukan meskipun
kesalahan kecil, untuk mencapai ini memang sangat mahal, kedua : untuk bergabung di pasar
produk International diharapkan dari 1 juta produk yang direlease tidak lebih dari 3.4 % cacat
dimana kita ketahui sebagai implementasi paradigma 6 sigma, ketiga : diharapkan kedepan
tidak ada lagi sampah di abad 21 karena tidak adanya space, keempat : tidak ada accident dan
kelima : tidak ada lagi equipment yang tidak mengarah ke system hybrid dan bahkan ke non
fuel.
Olehnya itu banyak hal yang dilakukan kearah sana diantaranya yang berkembang
didunia maintenance adalah menggunakan beberapa software seperti AGECON, EXACT,
RELCODE, ELLIPSE SYSTEM, SOLIDWORKS, PRO ENGINEER dll. Daintara software-
software yang dikembangkan tersebut adalah pengembangan dari Ilmu statistika dimana
mampu menerapkan ketepatan prediksi dalam penggantian componen dan kegagalannya,
sehingga apa yang diharapkan bersama terhadap KPI (Key Performance Indicator) seperti
Physical availability, Mean Time Between Failure (MTBF), Mean Time To Repair (MTTR)
dan KPI-KPI yang lain dapat dicapai. Dalam tataran ini dapat kita simpulkan bahwa
paradigma profesionalisme dunia maintenance equipment bisa mencapai zero technology
apabila segala perangkat yang terkait didalamnya dapat dijalankan baik peralatan, software
dan terlebih lagi profesionalisme sumber daya manusia yang menjalankannya. Seperti halnya
diskusi-diskusi ilmiah dalam Perhimpunan Ahli-ahli pertambangan di Indonesia bisa
dijadikan salah satu sarana dalam mewujudkan impian tersebut demi keberlanjutan
perusahaan.


Kata kunci : Perubahan Paradigma, Profesionalisme, Zero Technology
--------------------------------------
*) Disajikan sebagai makalah oral pada Temu Profesi Tahunan (TPT) PERHAPI XVII,
Hotel Horison, Palembang, 24 - 25 Juli 2008.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
1. Latar Belakang
Pada hakekatnya maintenance adalah semua kegiatan yang diperlukan untuk
memelihara gedung pabrik, perlengkapan handling, danperalatan-peralatan lain dalam kondisi
yang memuaskan, selaras dengan standard tertentu yang telah digariskan oleh pimpinan
perusahaan.
Pemeliharaan fasilitas produksi yang baik, akan dapat meminimumkan kerusakan
(breakdown) pada mesin dan peralatan sehingga memungkinkan operasi pembuatan menjadi
lebih baik dan lebih efisien.
Dulu perlakuan maintenance terhadap equipment hanya didasari pada saat
equipment tersebut breakdown, sehingga sangat sulit untuk mengetahui performa dan quality
dari masing-masing equipment karena semata-mata run to failure atau dipakai sampai rusak.
Karena kebanyakan pekerjaan yang dilakukan adalah seperti pemadam kebakaran. Dalam
dekade terakhir kegiatan dalam maintenance sudah digolongkan menjadi dua bagian besar
yaitu
1. Repair maintenance
2. Preventive maintenance

1. Repair maintenance
Repair maintenance atau perbaikan meliputi kegiatan elektris, mekanis, dan lain-
lain, yang diperlukan untuk membongkar perlengkapan, mencari dan mengganti part-part
yang rusak, memasang kembali perlengkapan dan kemudian memeriksa agar dapat berfungsi
kembali secara normal.

2. Preventive maintenance
Beberapa kegiatan-kegiatan yang menyangkut inspeksi, penyesuaian pelayanan,
penggantian yang bersifat routine dan terencana untuk mempertahankan keberlanjutan dari
operasi.
Dari dua penggolongan strategi maintenance ini dapat kita lihat bahwa sudah ada peningkatan
performa dari equipment tersebut.

Dunia semakin berkembang dan saat ini dunia maintenance sangat dituntut ke yang
namanya Zero Technology yang mana penjabarannya adalah :
1. Tidak ada kesempatan yang boleh dilakukan meskipun kesalahan kecil, dan untuk
mencapai ini memang sangat mahal
2. Untuk bergabung di pasar produk International diharapkan dari 1 juta produk yang
direlease tidak lebih dari 3.4 % cacat dimana kita ketahui sebagai implementasi
paradigma 6 sigma
3. Diharapkan kedepan Tidak ada lagi sampah di abad 21 karena tidak adanya space
4. Tidak ada accident
5. Tidak ada lagi equipment yang tidak mengarah ke system hybrid dan bahkan ke non fuel
Oleh sebab itu, dapat kita rangkumkan bahwa untuk mencapai zero tecnology banyak hal
yang harus ditempuh, sehingga apa yang kita harapkan dapat terpenuhi. Strategy yang paling
banyak berkembang dalam dunia maintenance saat ini adalah kearah Predictive maintenance
dimana sangat penekankan pada ketepatan dan simulasi dari histori sebelumnya yang di
ejawantahkan dalam penjabaran software yang ada baik statistika maupun modeling. Dalam
tataran inilah yang dapat dijadikan sebagai batu pijakan untuk meramu sebuah
profesionalisme demi keberlanjutan sebuah proses produksi maupun penambangan. dilain Hal
yang paling banyak berkembang adalah Product no maintenance dalam artian run to failure
41
1. Sistem dan Strategy Maintenance
Membahas mengenai maintenance sudah hal yang pasti ada sistem yang terjadi baik
dari proses maupun output yang dihasilkan dan tak kalah pentingnya adalah strategy yang
digunakan. Sesuai dari fungsinya bahwa Core business dari Maintenance adalah Perawatan
dan ini yang harus kita mampu untuk ejawantahkan dalam suatu product dimana mampu
bertahan seperti yang diharapkan.
Sekilas akan saya gambarkan bagaimana DULU Sistem Maintenance di Mobile
equipment maintenance diterapkan dalam hal ini dapat dibahasakan bahwa DULU kebayakan
pekerjaan adalah seperti Pemadam kebakaran, kalo ada masalah atau breakdown dilapangan
dengan segera kita melakukan tindakan pengobatan sehingga apa yang dihasilkan dari sini ada
beberapa hal diantaranya :
1. Setiap topic di Management Meeting adalah selalu Unpredictive dari Kegagalan
Komponen
2. Setiap akhir bulan, penjelasan yang harus dicari adalah mengapa Low PA (Physical
availability), Mean Time Between Failure (MTBF), Mean Time To Repair (MTTR)
dan KPI-KPI yang lain dan over budget
3. Tidak ada penjelasan dan plan yang jelas kalo operation bertanya berapa PA bulan
berikutnya, quarter selanjutnya dan atau 12 bulan selanjutnya
4. Tidak bisa terakurasi pekerjaan plan dan unplan work
Dalam kondisi seperti ini akan sangat menjadi buruk-lah performa yang dihasilkan baik dari
sisi Manitenance dan terlebih lagi dari sisi Operational
Sebenarnya Teory berkata bahwa Performance dari Equipment kita akan baik apabila
dilakukan pekerjaan yang benar, pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat, pekerjaan
yang dimaksudkan ini akan mampu konsisten kalo Planned, Schedule dan Resources
dilakukan dan dieksekusi dengan tepat.
Analisa akan dapat dilakukan dengan benar manakala dilakukan seperti dalam kondisi
normal yang diharapkan dan ini dapat kita lihat bahwa ada Teory dan implementasi yang
dilakukan oleh Weibull untuk melakukan ini seperti pada Gambar dibawah ini.



Gambar.1
Teory Weibull dan Normal distribusi
42
Kegagalan sebenarnya dapat diprediksi dari statistika normal yang terjadi dimana dapat
dihitung secara :
1. Infant mortality
2. Stochastic (random)
3. Deterministic
Salah satu software yang dikembangkan juga didunia maintenance adalah relcode software
dimana ini adalah salah satu strategy maintenance dalam :
Condition based maintenance
Time based maintenance
atau Run to failure

Sekarang ini MEM dept telah mempunyai beberapa hal terkait Pengembangan Sistem
Maintenance diantaranya :
Perkiraan Component life untuk lebih dari 1000 Type Component
Standard Job untuk mengganti dan menginstall setiap type komponen
Lebih dari 5000 componen bisa di track


Gambar.2
Component life dari equipment

43
Apa yang bisa dilakukan dengan Component Tracking and Prediksi Umur, dalam hal ini
dunia maintenance sudah mengarah kepada ini, predictice maintenance dengan
mengaplikasikan Pekerjaan dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat.
Forecasting yang lebih baik akan menghasilkan performance alat yang lebih baik, cost dan
resourse yang cukup dan dalam hal ini diperlukan pengembangan cost model dari masing
masing equipment.




Pencapaian target adalah suatu hal yang tidak mungkin kalo kita melakukannya
dengan baik olehnya itu dibutuhkan Level Confidence terhadap ini. Exact Software juga
adalah menjadi suatu solusi dimana mampu memprediksi umur dan memonitor kegagalan
yang mungkin terjadi, seperti yang digambarkan dibawah adalah sebagai berikut :


Gambar.3
Implementasi Exact Software dalam memprediksi Umur Component

1. Perubahan Paradigma maintenance
Dalam kerangka ini akan dapat dijelaskan bahwa Dunia sekarang telah berubah paradigma
dimana implementasi Zero Technology sudah pelan-pelan mulai diterapkan. Dan
Proper ZBB Zero Base Budgeting
44
ini adalah sebuah hal yang sangat menjanjikan kedepan dimana hal ini akan
membukan mata kita bagaimana suatu equipment tidak perlu dimaintain lagai dan atau
dimaintain dalam waktu yang kita inginkan. Salah satu juga yang akan berkembang adalah
sistem hybrid dari Automotive dan bahkan Automotive berbahan bakar air seperti gambar
dibawah. Hal lain yang bisa dijabarkan bahwa kini ada banyak tools yang bisa kita gunakan
untuk megimprove Profesionalisme Maintenance diataranya ELLIPSE SYSTEM,
SOLIDWORKS, PRO ENGINEER dan software-software yang lain dan juga hardware tools
yang digunakan dalam memudahakan aktivitas maintenance tersebut.

45
46
Gambar.4 Automotive berbahan bakar Air


1. Kesimpulan
Dari gambaran diatas dapat disimak dan disimpulkan bahwa :
vParadigma ke Zero technology adalah Bukan suatu mimpi dimana penjabarannya adalah :
o Tidak ada kesempatan yang boleh dilakukan meskipun kesalahan kecil, dan untuk
mencapai ini memang sangat mahal
o Untuk bergabung di pasar produk International diharapkan dari 1 juta produk yang
direlease tidak lebih dari 3.4 % cacat dimana kita ketahui sebagai implementasi
paradigma 6 sigma
o Diharapkan kedepan Tidak ada lagi sampah di abad 21 karena tidak adanya space
o Tidak ada accident
o Tidak ada lagi equipment yang tidak mengarah ke system hybrid dan bahkan ke non
fuel
vSebuah inovasi pasti akan lahir manakala kita punya kemauan untuk berkarya lebih
vProfesionalisme karyawan tidak bisa terlepas dari bagaimana suatu kelompok seperti
PERHAPI memberikan sebuah semangat dalam melakoni profesionalismenya
vMaintenance adalah bukan menjadi suatu hal yang tabuh lagi dimasa depan mana kala kita
mampu berpacu dalama mengejar teknology maupun strategy maintenance yang
berkembang dan PERHAPI akan menjadi kunci sukses dalam meraih peningkatan
produktifitas dan tentunya untuk keberlanjutan perusahaan.
47
Akhir kata bahwa kedepan Maintenance adalah suatu kunci dalam keberhasilan dalam
memodernisasikan industri dan konteks kekinian harus sudah mampu terjabarkan dalam
portfolio perusahaan tersebut.

1. Daftar Pustaka
1. Annual Reliability and Maintanability Symposium, 2007
2. Jardin, RCM Handbook, Second edition, 2006
3. Morrow, LC,. Maintenance Engineering Handbook, Mc Grawhill Book Company, Inc,
New york, Third Edition 2002
4. CARSON, G.B., Plant Maintenance, Production handbook, Ronald Press Company,
second edition, 1959
5. AROEF MATHIAS.DR.MSIE, Maintenance management, Work shop on maintenance
management, ITB-PERKIM, Maret 1973
KAJIAN DAMPAK LINGKUNGAN
PROGRAM SUMATERA SELATAN SEBAGAI LUMBUNG ENERGI
NASIONAL

Oleh:
M. Taufik Toha
Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya,
Jl. Raya Palembang-Prabumulih Km 32, Ogan Ilir, Inderalaya 30662
Telp : (0711) 7370891, 580741, 580137, Fax : (0711) 445086, 580062

ABSTRACT
South Sumatra Province has been declared by the President of Republic of
Indonesia as Province of National Energy Stockpile on November 9
th
, 2004. In order to
success Program South Sumatra as National Energy Stockpile thus exploitation of energy
resources in South Sumatra will be given priority and acceleration. Besides in autonomy
era presently, in order to increasing local genuine income the energy resources is one of
local income pillar, and therefore District/City Government will driving exploitation of
energy resources in their territory.
Production of South Sumatra coal being planned will be increase from about 10
million ton annually to be approximately 40 50 million ton annually. Based on
characteristics of South Sumatra coal that generally low quality, hence coal utilization
priority will be done near the mine location (mine mouth). As a consequence, the coal
processing activities (downstream industries) is also planned to develop in South Sumatra,
such as coal-fired power plant, coal briquette plant, Upgrading Brown Coal (UBC) plant,
coal gasification and liquefaction.
Development of South Sumatra as National Energy Stockpile through development
of coal mining and its downstream industry will cause negative effect that cumulative to
the environment. Regulation in environmental sector presently only directing about
Environment Standard for individual activity, thus if several activities operate in close
location, although individually fulfill the Standard, there is high possibility that the
environment condition around the location will exceeded the Limit Value of Environmental
Standard.
Through predicting environment condition caused by cumulative effect of coal
mining activities and its downstream industry that gathering, planning of coal mining can
be performed based on the local environment endurance and will support Program of
South Sumatra as National Energy Stockpile and supporting sustainable and
environmental oriented development.
Research result show, coal mining and its derivative development (PLTU) in
Tanjung Enim and around, up to total mine production 40 50 million ton annually,
physical-chemical effect still fulfill the Limit Value of Environmental Standard.


ABSTRAK
Provinsi Sumatera Selatan telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia sebagai
Provinsi Lumbung Energi Nasional pada tanggal 9 Nopember 2004 yang lalu. Dalam
rangka mensukseskan program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional maka
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
Pendapatan Asli Daerah (PAD) potensi sumberdaya energi merupakan salah satu
pilar penerimaan daerah, dan oleh karenanya Pemerintah Kabupaten/Kota akan
menggalakkan eksploitasi sumberdaya energi di wilayahnya.
Direncanakan produksi Batubara Sumatera Selatan akan meningkat dari kisaran
10 juta ton per tahun menjadi 40 50 juta ton per tahun. Sesuai dengan karaterisik
batubara Sumatera Selatan yang umumnya berkualitas rendah, maka prioritas
pemanfaatan batubara akan dilakukan disekitar lokasi tambang (mulut tambang). Oleh
karena itu kegiatan pengolahan batubara (industri hilir) juga direncanakan akan
dikembangkan di Sumatera Selatan misalnya : pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)
batubara, pabrik briket batubara, pabrik upgraded brown coal (UBC), pabrik penggasan
dan pencairan batubara.
Pembangunan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional melalui
pengembangan penambangan batubara dan industri hilirnya akan mengakibatkan dampak
negatif yang bersifat kumulatif terhadap lingkungan hidup. Peraturan perundang-
undangan di bidang lingkungan selama ini hanya menetapkan Baku Mutu Lingkungan
(BML) yang bersifat individual untuk setiap kegiatan, sehingga bila beberapa kegiatan
beroperasi di lokasi yang berdekatan, walaupun masing-masing memenuhi BML yang
ditetapkan, besar kemungkinan kondisi lingkungan di kawasan tersebut akan melampaui
Nilai Ambang Batas (NAB) BML.
Dengan memprakirakan kondisi lingkungan akibat dampak kumulatif dari kegiatan
pertambangan batubara dan industri hilirnya yang terpusat, dapat disusun rencana
pengembangan pertambangan batubara yang disesuaikan dengan daya dukung lingkungan
setempat dan sekaligus akan menunjang program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung
Energi Nasional dan akan menunjang pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan.
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan, aktivitas penambangan dan
pembangunan derivatif batubara (PLTU) di Tanjung Enim dan sekitarnya hingga total
produksi penambangan 40 50 juta ton per tahun, dampak fisik-kimia masih memenuhi
NAB BML dengan perencanaan reklamasi secara langsung.


A. PENDAHULUAN
Provinsi Sumatera Selatan telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia
sebagai Provinsi Lumbung Energi Nasional pada tanggal 9 Nopember 2004 yang lalu.
Dalam rangka mensukseskan program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi
Nasional maka eksploitasi sumberdaya energi di Sumatera Selatan akan mendapatkan
prioritas dan percepatan. Di samping itu di era otonomi, potensi sumberdaya energi
merupakan salah satu pilar penerimaan daerah, dan oleh karenanya Pemerintah
Kabupaten/Kota akan menggalakkan eksploitasi sumberdaya energi di wilayahnya.
Diperkirakan produksi Batubara Sumatera Selatan akan meningkat dari kisaran
10 juta ton per tahun menjadi 40 50 ton per tahun. Sesuai dengan karaterisik batubara
Sumatera Selatan yang umumnya berkualitas rendah, maka prioritas pemanfaatan batubara
akan dilakukan di mulut tambang. Oleh karena itu kegiatan pengolahan batubara (industri
hilir) juga direncanakan akan dikembangkan di Sumatera Selatan misalnya : pembangkit
listrik tenaga uap (PLTU) batubara, pabrik briket batubara, pabrik upgraded brown coal
(UBC), pabrik penggasan dan pencairan batubara.
Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 dimana
ketergantungan terhadap minyak bumi akan ditekan dan peran minyak bumi dalam energi
49
15,34% (2006) menjadi 33% (2025), dan peran minyak bumi menurun dari 51,66%
(2006) menjadi 20% (2025).
Kegiatan eksploitasi batubara dan pengembangan derivatif batubara secara besar-
besaran akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup yang bersifat
kumulatif sesuai dengan jumlah dan volume kegiatan yang dilakukan. Peraturan
perundang-undangan di bidang lingkungan selama ini hanya menetapkan Baku Mutu
Limbah (BML) yang bersifat individual untuk setiap kegiatan, sehingga bila beberapa
kegiatan beroperasi di lokasi yang berdekatan, walaupun masing-masing memenuhi BML
yang ditetapkan, besar kemungkinan kondisi lingkungan merosot jauh dari kondisi yang
diharapkan. Sehubungan dengan hal tersebut dilakukan kajian agar kegiatan penambangan
dan pengembangan derivatif batubara dapat dilaksanakan dengan memperhatikan daya
dukung lingkungan setempat sehingga diharapkan kegiatan penyediaan energi nasional
dapat dilaksanakan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan.


A. POTENSI BATUBARA
Sumberdaya Batubara Indonesia Sebesar 65,40 miliar ton. Berdasarkan kualitasnya,
24% termasuk batubara peringkat rendah (<5.100 cal/gr), 60% peringkat sedang (5.100
6.100 cal/gr), 15% peringkat tinggi (6.100 7.100 cal/gr) serta hanya 1% yang termasuk
peringkat sangat tinggi (>7.100 cal/gr) (Gambar 1).
Bila ditinjau berdasarkan lokasi, Kalimantan Timur merupakan memiliki
sumberdaya yang terbesar dan disusul Sumatera Selatan (23,68 miliar ton). Batubara
Kalimantan Timur umumnya termasuk kategori peringkat sedang tinggi, hanya sebagian
kecil yang termasuk peringkat rendah. Sebaliknya batubara Sumatera Selatan Umumnya
termasuk peringkat rendah sedang dan hanya sebagian kecil yang termasuk peringkat
tinggi (Gambar 2).


Gambar 1 Gambar 2
Sumberdaya Batubara Indonesia Sumberdaya Batubara Indonesia
(Berdasarkan Peringkat) (Berdasarkan Lokasi dan Peringkat)


B. FORECAST PRODUKSI BATUBARA SUMATERA SELATAN
1. Rencana Pengembangan Penambangan Batubara
Permintaan batubara di Sumatera Selatan sampai saat ini masih relatif kecil. Hal
ini dikarenakan penggunaan batubara baru terbatas pada beberapa industri yang
15,34% (2006) menjadi 33% (2025), dan peran minyak bumi menurun dari 51,66%
(2006) menjadi 20% (2025).
Kegiatan eksploitasi batubara dan pengembangan derivatif batubara secara besar-
besaran akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup yang bersifat
kumulatif sesuai dengan jumlah dan volume kegiatan yang dilakukan. Peraturan
perundang-undangan di bidang lingkungan selama ini hanya menetapkan Baku Mutu
Limbah (BML) yang bersifat individual untuk setiap kegiatan, sehingga bila beberapa
kegiatan beroperasi di lokasi yang berdekatan, walaupun masing-masing memenuhi BML
yang ditetapkan, besar kemungkinan kondisi lingkungan merosot jauh dari kondisi yang
diharapkan. Sehubungan dengan hal tersebut dilakukan kajian agar kegiatan penambangan
dan pengembangan derivatif batubara dapat dilaksanakan dengan memperhatikan daya
dukung lingkungan setempat sehingga diharapkan kegiatan penyediaan energi nasional
dapat dilaksanakan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan.


A. POTENSI BATUBARA
Sumberdaya Batubara Indonesia Sebesar 65,40 miliar ton. Berdasarkan kualitasnya,
24% termasuk batubara peringkat rendah (<5.100 cal/gr), 60% peringkat sedang (5.100
6.100 cal/gr), 15% peringkat tinggi (6.100 7.100 cal/gr) serta hanya 1% yang termasuk
peringkat sangat tinggi (>7.100 cal/gr) (Gambar 1).
Bila ditinjau berdasarkan lokasi, Kalimantan Timur merupakan memiliki
sumberdaya yang terbesar dan disusul Sumatera Selatan (23,68 miliar ton). Batubara
Kalimantan Timur umumnya termasuk kategori peringkat sedang tinggi, hanya sebagian
kecil yang termasuk peringkat rendah. Sebaliknya batubara Sumatera Selatan Umumnya
termasuk peringkat rendah sedang dan hanya sebagian kecil yang termasuk peringkat
tinggi (Gambar 2).
50
kecil baru berkembang, sehingga permintaannya masih sangat terbatas. Dengan
demikian pasokan batubara ke Sumatera Selatan hanya sebatas pada permintaan yang ada.
Pengembangan tambang batubara akan membuka peluang bagi pertumbuhan sentra
ekonomi baru insitu, dimungkinkan peningkatan eksplorasi dan peningkatan produksi
batubara untuk digunakan sebagai bahan bakar PLTU Mulut Tambang, Pabrik Briket,
peningkatan batubara kualitas rendah dengan UBC. Peningkatan produksi tersebut akan
memerlukan pengembangan sarana dan prasarana seperti jaringan transmisi listrik, jalan
raya, jalur kereta api, dan pelabuhan.
Sebagai Lumbung Energi Nasional, Sumatera Selatan merencanakan akan
mengembangkan teknologi batubara seperti UBC, liquifaksi dan briket batubara. Proyeksi
pemakaian batubara di Sumatera Selatan sesuai dengan pencanangan Sumatera sebagai
Lumbung Energi Nasional dapat dilihat pada Tabel I dan Gambar 3.

Tabel I
Proyeksi Pasokan dan Permintaan Batubara Sumatera Selatan 2005-2025.
Uraian (Juta Ton) 2005 2010 2015 2020 2025
Upgrading batubara 0,00 0,00 7,50 25,00 25,00
Pembangkit listrik 1,00 7,25 12,25 13,50 17,25
Pencairan BBBC 0,00 0,00 4,30 21,50 35,00
Pabrik briket 2,50 12,50 16,25 21,25 25,00
Lainnya 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00
Total penggunaan 13,50 29,75 50,30 91,25 112,25
Ketersediaan cadangan 22.224 22.113 21.920 21.549 21.054
Potensi ekspor 0,00 7,00 18,00 35,00 63,00
Ketersediaan cadangan 22.224 22.106 21.902 21.514 20.991


21000
21500
22000
22500
2005 2010 2020 2025
C
a
d
a
n
g
a
n
,
J
u
t
a
T
o
n
10
30
50
70
90
110
130
150
170
190
P
r
o
d
u
k
s
i
,
J
u
t
a
T
o
n
Cadangan Batubara Cadangan Batubara 2
Total Produksi Batubara Potensi ekspor

Gambar 3 Proyeksi Produksi dan Cadangan
Batubara Sumatera Selatan 2005-2025

Apabila pengembangan teknologi batubara berjalan sesuai dengan rencana, maka
kebutuhan batubara Sumatera Selatan pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 112,25
juta ton. Berdasarkan trend produksi dan cadangan yang ada, maka cadangan batubara
Sumatera Selatan diperkirakan akan habis setelah tahun 2200.
Permasalahan yang masih menyelimuti batubara Sumatera Selatan adalah adanya
kemungkinan tumpang tindih pemanfaatan lahan, masih adanya cadangan yang belum
terdata
51
secara rinci, batubara kualitas rendah belum diproduksi, infrastruktur kurang
mendukung, serta kemungkinan degradasi kualitas lingkungan sangat besar.
1. Rencana Pengembangan Derivatif Batubara
Pemanfaatan batubara Sumatera Selatan ke depan memerlukan pengembangan
teknologi batubara lanjut (advanced), terutama dalam upaya pengembangan batubara
menjadi briket, bahan bakar batubara cair (BBBC), dan UBC. Tabel II memperlihatkan
proyeksi kapasitas teknologi batubara lanjut dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2025.
Proyeksi peningkatan kebutuhan batubara untuk bahan baku briket batubara didasarkan
pada asumsi bahwa briket batubara ke depan secara bertahap akan menggantikan peran
bahan bakar minyak, terutama minyak tanah, di berbagai pangsa pengguna, oleh karenanya
permintaan briket batubara akan mengalami peningkatan.

Tabel II.
Proyeksi Kapasitas Teknologi Batubara Advanced Hingga Tahun 2025
(dalam juta ton per tahun).
Teknologi Batubara (Advanced) 2004 2006 2010 2015 2020 2025
Briket 0,11 0,92 5,0 6,67 8,0 10,0
Briket
Batubara 0,27 2,3 12,5 16,68 20,0 25,0
Train 0,0 0,0 0,0 1,0 5,0 8,0
Batubara 0,0 0,0 0,0 4,3 21,5 34,4
Pencairan
Batubara
Crude Sinthetic
Oil (CSO)
(juta barel/tahun)
0,0 0,0 0,0 7,2 36,0 57,6
UBC Batubara 0,0 0,0 0,0 6,0 20,0 25,0

Berbeda dengan briket batubara, teknologi pencairan batubara dan UBC
diproyeksikan akan memberikan kontribusi atau perannya dalam diversifikasi energi mulai
tahun 2015. Pada tahun yang sama, diperlukan pula batubara sekitar 6 juta ton untuk
mendukung upaya peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC.
Pengembangan batubara dengan teknologi liquifaksi dan UBC diproyeksikan akan
mengalami peningkatan secara signifikan pada tahun 2020.


A. DAMPAK LINGKUNGAN PENGEMBANGAN BATUBARA
1. Kondisi Eksisting
a. Kualitas Air
Aliran permukaan utama di daerah studi adalah Sungai Lawai di sebelah barat,
Sungai Enim di tengah dan Sungai Kiahan yang merupakan anak Sungai Enim di
sebelah timur. Sungai Lawai dan Sungai Enim mengalir ke arah utara dan bermuara di
Sungai Lematang. Beberapa sungai ini berhulu disekitar Gunung Isau-isau.
Berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 16 Tahun 2005
tentang Peruntukan Air dan Baku Air Sungai serta Baku Mutu Limbah Cair (BCLC)
bagi Kegiatan Industri, Hotel, Restoran dan Rumah Sakit, bahwa Sungai Enim dan
Lematang termasuk dalam kategori sungai kelas I. Dengan demikian anak-anak sungai
kedua sungai tersebut juga termasuk sungai kelas I, yaitu peruntukan untuk bahan
baku air minum.
Untuk menentukan kualitas air di sekitar lokasi penelitian dilakukan
pengumpulan data kualitas air dari penelitian terdahulu, hasil-hasil pemantauan
lingkungan yang telah dilakukan dan sebagai sarana cross check, tim peneliti juga
dilakukan pengambilan sampel air dan analisis laboratorium untuk mengetahui
kualitasnya.
52
Data sekunder yang digunakan dalam penentuan kualitas air berasal dari 29 titik
pengamatan, sedangkan data primer yang ditambahkan sebanyak 33 titik pengamatan
(Gambar 4 dan Lampiran A).
Baku mutu yang dipergunakan dalam membandingkan hasil analisis
laboratorium pada berbagai parameter yang diuji adalah Peraturan Gubernur Sumatera
Selatan No. 16 Tahun 2005 Tentang Peruntukan Air dan Baku Mutu Air Sungai untuk
sampel air sungai, sedangkan untuk sampel yang berupa air limbah digunakan
Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 18 Tahun 2005 Tentang Baku Mutu Limbah
Cair (BMLC) bagi Kegiatan Industri, Hotel, Rumah Sakit, Domestik dan
Pertambangan Batubara.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan kandungan padatan tersuspensi total
(TSS) di Sungai Enim cenderung tinggi, namun masih memenuhi baku mutu yang
ditetapkan. Tingginya kandungan TSS tersebut mungkin disebabkan oleh adanya
hujan di hulu sungai dan kegiatan yang dilakukan di bagian hulu lokasi seperti
pertanian dan pekebunan, pembuatan jalan, pemukiman dan sebagainya. Sedangkan
kandungan TSS di Sungai Lawai lebih rendah dibandingkan Sungai Enim.
Adanya kegiatan operasional pertambangan yang membuang air limbahnya ke
Sungai Enim tersebut (walaupun telah dikelola dan air yang dibuang ke sungai
memenuhi baku mutu limbah cair yang dipersyaratkan) telah memberikan kontribusi
terhadap peningkatan kandungan TSS di Sungai tersebut. Akan tetapi pun peningkatan
tersebut cenderung tidak signifikan. Kecenderungan yang sama juga terjadi di Sungai
Lawai.

a. Kualitas Udara
Untuk mendapatkan gambaran rona lingkungan kualitas udara dan kebisingan di
daerah studi dilakukan dengan pengukuran langsung di lapangan dan memanfaatkan
data sekunder yang ada. Data sekunder yang digunakan adalah data ANDAL PTBA
dan data pemantauan. Data sekunder yang digunakan meliputi kualitas udara di 25
titik sampling, sebagai sarana cross check dilakukan sampling lagi di 20 titik
pengamatan (Gambar 5 dan Lampiran B).
Baku mutu yang berlaku untuk kualitas udara ambient berdasarkan Peraturan
Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara,
sedangkan untuk tingkat kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor 48/MenLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.
Dari hasil analisa laboratorium, dapat disimpulkan bahwa kondisi udara di daerah studi
masih baik. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya parameter (CO, SO
2
, NO
2
, O
3
, Pb,
debu dan kebisingan) yang melampaui baku mutu lingkungan yang ditetapkan. Keberadaan
gas-gas di daerah studi terutama berupa gas buang bersumber dari kegiatan transportasi,
sedangkan gas-gas lainnya secara alamiah terdapat sebagai hasil dekomposisi bahan-bahan
organik.
53

Gambar 4.
Lokasi Titik Sampling Air


1. Kondisi Eksisting
a. Kualitas Air
1) Sungai Enim
Sumber Dampak
Kegiatan pertambangan dan pemanfaatan batubara di sekitar Sungai Enim yang
membuang limbahnya ke sungai tersebut memberikan kontribusi terhadap kualitas
air di Sungai Enim.
Berdasarkan tata letak lokasi pertambangan dan pemanfaatan batubara, maka kegiatan
yang memberikan kontribusi terhadap kualitas air di Sungai Enim adalah
KP TAL
KP MTB
KP Banko Barat
Sungai
Enim
Sungai
Lawai
Sungai
Kiahan
Sungai
Klawas
Titik Sampling
54
Tambang Air Laya (TAL) bagian timur, Timbunan Tambang Air Laya bagian
timur, PLTU Bukit Asam, Tambang Banko Barat bagian barat, stockpile I dan II.
Dampak Kumulatif
Hasil pengamatan kualitas air baik yang bersumber dari data sekunder maupun
data primer menunjukkan kandungan Total Suspended Solid (TSS) di Sungai
Enim relatif cukup tinggi berkisar 30 40 mg/l , akan tetapi masih memenuhi
baku mutu yang dipersyaratkan yaitu sebesar 50 mg/l (Peraturan Gubernur
Sumatera Selatan No. 16 Tahun 2005).
Tingginya kandungan TSS ini kemungkinan disebabkan terjadinya hujan di hulu
sungai dan adanya kegiatan pertanian dan perkebunan, pembuatan jalan, dan
pemukiman.
Pengamatan terhadap kualitas air yang dikeluarkan dari outlet-outlet Kolam
Pengendap Lumpur (KPL) tambang dan timbunan menunjukkan kandungan TSS
tersebut berkisar 40-80 mg/l dan masih jauh di bawah ambang batas Baku Mutu
Limbah Cair (BLMC) yang berlaku untuk kegiatan pertambangan batubara yaitu
300 mg/l (Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 18 Tahun 2005).
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kandungan TSS di Sungai
Enim yang cenderung tinggi diakibatkan kondisi alam dan kegiatan di hulu lokasi
pertambangan. Buangan limbah KPL ke Sungai Enim memberikan kontribusi
terhadap kandungan TSS di Sungai Enim, akan tetapi relatif tidak signifikan.

1) Sungai Lawai
Sumber Dampak
Kegiatan pertambangan dan pemanfaatan batubara di sekitar Sungai Lawai yang
membuang limbahnya ke sungai tersebut tentunya akan memberikan kontribusi
terhadap kualitas air di Sungai Lawai.
Berdasarkan tata letak lokasi pertambangan dan pemanfaatan batubara, maka
kegiatan yang memberikan kontribusi terhadap kualitas air di Sungai Lawai
adalah Tambang Air Laya (TAL) bagian barat, Timbunan Tambang Air Laya
bagian barat, Tambang Muara Tiga Besar Selatan, Tambang Muara Tiga Besar
Utara, Timbunan Muara Tiga Besar Selatan, Timbunan Muara Tiga Besar Selatan,
Tambang batubara Bukit Kendi, dan Timbunan Tambang Bukit Kendi.

Dampak Kumulatif
Hasil pengamatan kualitas air baik yang bersumber dari data sekunder maupun
data primer menunjukkan kandungan Total Suspended Solid (TSS) di Sungai
Lawai lebih rendah dari Sungai Enim (20 mg/l) dan masih memenuhi baku mutu
yang dipersyaratkan yaitu sebesar 50 mg/l (Peraturan Gubernur Sumatera Selatan
No. 16 Tahun 2005).
Pengamatan terhadap kualitas air yang dikeluarkan dari outlet-outlet Kolam
Pengendap Lumpur (KPL) tambang dan timbunan menunjukkan kandungan TSS
tersebut berkisar 30-40mg/l dan masih jauh di bawah ambang batas Baku Mutu
Limbah Cair (BLMC) yang berlaku untuk kegiatan pertambangan batubara yaitu
300 mg/l (Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 18 Tahun 2005).
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kandungan TSS di Sungai
Lawai masih relatif rendah. Buangan limbah KPL ke Sungai Lawai tersebut
memberikan kontribusi terhadap kandungan TSS di Sungai Lawai, akan tetapi
relatif tidak signifikan.
55


Gambar 5
Lokasi Titik Sampling Udara


a. Kualitas Udara dan Kebisingan
Sumber dampak yang berkaitan dengan kualitas udara dan kebisingan secara
garis besar adalah operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara Bukit
Asam, transportasi batubara, dan generating set.
Kualitas udara dan kebisingan di suatu lokasi akan sangat tergantung pada arah
hembusan angin, data wind rose di sekitar lokasi menunjukkan arah angin yang
dominan adalah arah Timur-Selatan dan kecepatan angin umumnya termasuk kategori
kecepatan rendah.
KP TAL
KP MTB
KP Banko Barat
Sungai
Enim
Sungai
Lawai
Sungai
Kiahan
Sungai
Klawas
Data Primer
Data Sekunder
56
Hasil pengamatan kualitas udara di sekitar lokasi tambang PTBA Tanjung
Enim menunjukkan semua parameter (CO, SO
2
, NO
2
, O
3
, Pb, debu dan kebisingan)
masih memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.

A. PENUTUP
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah:
1. Kualitas lingkungan di lokasi Tanjung Enim dan sekitarnya secara umum masih
memenuhi baku mutu lingkungan yang dipersyaratkan.
2. Kandungan TSS di Sungai Enim tergolong tinggi, namun masih memenuhi baku mutu
yang dipersyaratkan. Tingginya kandungan TSS tersebut disebabkan oleh adanya
hujan di hulu sungai dan kegiatan pertanian dan perkebunan, pembuatan jalan dan
pemukiman. Kandungan TSS di Sungai Lawai lebih rendah dari Sungai Enim.
3. Kegiatan pertambangan batubara memberikan kontribusi terhadap Kadar TSS di
Sungai Enim dan Sungai Lawai, walaupun cenderung tidak signifikan
4. Kualitas udara untuk semua parameter yang diamati masih memenuhi baku mutu.
Penyebaran kualitas udara secara umum searah dengan arah angin dominan pada
windrose.
5. Peningkatan produksi batubara di masa mendatang akan memberikan dampak yang
lebih besar terhadap kualitas air dan dikhawatirkan akan kandungan TSS di Sungai
Enim dan Sungai Lawai akan melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Oleh karena
itu peningkatan produksi perlu dibarengi dengan penyempurnaan pengelolaan
lingkungan misalnya dengan meningkatkan % lahan yang direklamasi.
6. Peningkatan produksi batubara untuk memenuhi kebutuhan energi di Sumatera Selatan
maupun luar sumsel (PLTU, Pencairan, briket, dan ekspor ke luar daerah/ luar negeri),
dari 10 juta ton per tahun menjadi 50 juta ton per tahun diperkirakan masih memenuhi
baku mutu yang dipersyaratkan.
7. Luas timbunan yang telah direklamasi dan revegetasi saat ini berkisar 30 40%.

Sehubungan dengan itu, disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Untuk mengurangi dampak terhadap kandungan TSS dalam badan air sungai dari
kegiatan penambangan batubara dengan peningkatan produksi yang besar perlu
diupayakan kegiatan revegetasi secepat mungkin.
2. Untuk mengurangi debu, perlu dilakukan penyiraman pada jalan angkut secara berkala
khususnya pada musim kemarau.
57
DAFTAR PUSTAKA
1. Machmud Hasjim., Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan, Makalah
Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka
Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi, Jakarta, Nopember 2000.
2. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., Utilization Opportunity of
South Sumatra Low Rank Coal, The 4th International Conference and
Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003.
3. Machmud Hasjim., dan Taufik Toha., Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat
Penghasil Energi, Temu Profesi Tahunan XIII Perhimpunan Ahli
Pertambangan Indonesia, Palembang, 2004.
4. Machmud Hasjim., Kontribusi Sumberdaya Energi Sumatera Selatan pada
Pembangunan Nasional, Pertemuan Tahunan dan Forum Diskusi IATSRI
2005, Palembang, 17 Desember 2005.
5. PTBA, Briket Batubara, Seminar dan Lokakarya Teknologi Tepat Guna Tingkat
Provinsi Sumatera Selatan 2005, Palembang, Juli 2005.
6. PTBA., Analisis Dampak Lingkungan Hidup (Andal) Pengembangan Unit
Pertambangan Tanjung Enim PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk
di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan,
Tanjung Enim, 2004.
7. Syarial Oesman, Sasaran Program Pembangunan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung
Energi Nasional 2009, Workshop Master Plan Sumatera Selatan Sebagai
Lumbung Energi Nasional, Jakarta 12 Desember 2005.
8. Taufik Toha, Kajian Dampak Pembangunan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung
Energi Nasional dan Strategi Pembangunan Berkelanjutan dan Berwawasan
Lingkungan, Laporan Akhir Tahun Pertama, Insentif Riset Terapan 2007
9. Wimpy S. Tjetjep, Strategic Planning of Low Rank Coal Utilization in Indonesia,
Indonesian Japan Joint Seminar on UBC Technology, Jakarta, 21 Maret 2005.
10. ....., Master Plan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional, Palembang,
2005.
11. ....., Blue Print Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional 2005 2025,
Palembang, 2005.
58
LAMPIRAN A
HASIL ANALISA LABORATORIUM KUALITAS AIR

Hasil Analisa
No Parameter Satuan

AP 1 AP 2 AP 3
AP
4**)
AP
5**)
AP 6
AP
7**)
AP 8
Baku
Mutu*)
Metoda
1 Temperatur
o
C 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0
Deviasi
3
SNI 06-6989.23-
2004
2
Zat Padat
Terlarut Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 1000
SNI 06-6989.27-
2004
3
Zat Padat
Tersuspensi Mg/L 33.8 32.3 35.1
27.2
(300)
36.9
(300) 37.3
35.2
(300) 37.9 50
SNI 06-6989. 3-
2004
4 Bau - -- -- -- -- -- -- -- -- **
5 DHL Mv -- -- -- -- -- -- -- -- **
SNI 06-6989. 1-
2004
6 Warna
Skala
TCU -- -- -- -- -- -- -- -- ** Spektrofotometri
7 Kekeruhan
Skala
NTU 1.47 0.72 1.12 1.45 0.76 0.00 0.95 1.34 **
SNI 06-
6989.25.2004
8
pH # 7.41 7.8 7.58
7.55
(6-9)
7.35
(6-9) 6.61
7.58
(6-9) 6.85 6 - 9
SNI 06-6989.11-
2004
9
Besi Terlarut
(Cu) Mg/L 0.187 0.152 0.084
0.067
(7)
0.053
(7) 0.0390
0.083
(7) 0.055 0.3
SNI 06-6989. 4-
2004
10
Mangan
Terlarut (Mn) Mg/L 0.021 0.065 0.016
0.021
(4)
0.067
(4) 0.000
0.043
(4) 0.081 0.1
SNI 06-6989. 5-
2004
11
Barium (Ba) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 1.0
SNI 06-6989.39-
2004
12
Tembaga (Cu) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02
SNI 06-6989. 6-
2004
13
Seng (Zn) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989. 7-
2004
14
Krom
Hexavalen
(Cr
+6
) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989.17-
2004
15
Cadmium (Cd) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.1
SNI 06-6989.16-
2004
16
Raksa (Hg) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.001 AAS-MVU
17
Timbal (Pb) Mg/L 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.03
SNI 06-6989. 8-
2004
18
Sulfat (SO4) Mg/L 242 254 286 231 273 199.8 215 299 400
SNI 06-6989.20-
2004
19
Arsen (As) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.05 AAS-HVG

20 Selenium (Se) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.01 AAS-HVG

21 Kobalt (Co) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2 AAS-Nyala

22 Sianida (CN) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02 Spektrofotometri

23
Belerang sbg
H2S Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.002
SNI 06-2470-
1991

24 Fluorida (F) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989.29-
2004

25 Khlorida (Cl) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 600
SNI 06-6989.19-
2004

26
Amonia bebas
(NH3) Mg/L 0.08 0.05 0.03 0.03 0.05 0.01 0.02 0.08 0.5
SNI 06-6989.30-
2004

27 Nitrat (NO3) Mg/L 0.04 0.05 0.05 0.05 0.04 0.05 0.04 0.04 10
SNI 06-2480-
1991

28 Nitrit (NO2) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.06
SNI 06-6989. 9-
2004

29 BOD5 Mg/L 1.41 1.65 1.21 1.25 1.52 1.4 1.43 1.62 2
SNI 06-2503-
1991

30 COD Mg/L 4 4 3 2 2 3 2 3 10
SNI 06-6989. 2-
2004

31 Fosfat (PO4) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2
SNI 06-6989.31-
2004

32 DO Mg/L 3.82 3.71 3.92 3.51 3.81 3.16 3.51 3.35 6
SNI 06-6989.14-
2004
Sumber : Data Primer, 2007
Keterangan: *) Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 16 Tahun 2005 # tidak ada satuan
59
LAMPIRAN A
HASIL ANALISA LABORATORIUM KUALITAS AIR

Hasil Analisa
No Parameter Satuan

AP 1 AP 2 AP 3 AP 4**) AP 5**) AP 6 AP 7**) AP 8
Baku
Mutu*)
Metoda
1 Temperatur
o
C 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 Deviasi 3 SNI 06-6989.23-2004
2 Zat Padat Terlarut Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 1000 SNI 06-6989.27-2004
3 Zat Padat Tersuspensi Mg/L 33.8 32.3 35.1 27.2 (300) 36.9 (300) 37.3 35.2 (300) 37.9 50 SNI 06-6989. 3-2004
4 Bau - -- -- -- -- -- -- -- -- **
5 DHL Mv -- -- -- -- -- -- -- -- ** SNI 06-6989. 1-2004
6 Warna Skala TCU -- -- -- -- -- -- -- -- ** Spektrofotometri
7 Kekeruhan Skala NTU 1.47 0.72 1.12 1.45 0.76 0.00 0.95 1.34 ** SNI 06-6989.25.2004
8 pH # 7.41 7.8 7.58 7.55 (6-9) 7.35 (6-9) 6.61 7.58 (6-9) 6.85 6 - 9 SNI 06-6989.11-2004
9 Besi Terlarut (Cu) Mg/L 0.187 0.152 0.084 0.067 (7) 0.053 (7) 0.0390 0.083 (7) 0.055 0.3 SNI 06-6989. 4-2004
10 Mangan Terlarut (Mn) Mg/L 0.021 0.065 0.016 0.021 (4) 0.067 (4) 0.000 0.043 (4) 0.081 0.1 SNI 06-6989. 5-2004
11 Barium (Ba) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 1.0 SNI 06-6989.39-2004
12 Tembaga (Cu) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02 SNI 06-6989. 6-2004
13 Seng (Zn) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5 SNI 06-6989. 7-2004
14 Krom Hexavalen (Cr
+6
) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5 SNI 06-6989.17-2004
15 Cadmium (Cd) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.1 SNI 06-6989.16-2004
16 Raksa (Hg) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.001 AAS-MVU
17 Timbal (Pb) Mg/L 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.03 SNI 06-6989. 8-2004
18 Sulfat (SO4) Mg/L 242 254 286 231 273 199.8 215 299 400 SNI 06-6989.20-2004
19 Arsen (As) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.05 AAS-HVG
20 Selenium (Se) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.01 AAS-HVG
21 Kobalt (Co) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2 AAS-Nyala
22 Sianida (CN) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02 Spektrofotometri
23 Belerang sbg H2S Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.002 SNI 06-2470-1991
24 Fluorida (F) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5 SNI 06-6989.29-2004
25 Khlorida (Cl) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 600 SNI 06-6989.19-2004
26 Amonia bebas (NH3) Mg/L 0.08 0.05 0.03 0.03 0.05 0.01 0.02 0.08 0.5 SNI 06-6989.30-2004
27 Nitrat (NO3) Mg/L 0.04 0.05 0.05 0.05 0.04 0.05 0.04 0.04 10 SNI 06-2480-1991
28 Nitrit (NO2) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.06 SNI 06-6989. 9-2004
29 BOD5 Mg/L 1.41 1.65 1.21 1.25 1.52 1.4 1.43 1.62 2 SNI 06-2503-1991
30 COD Mg/L 4 4 3 2 2 3 2 3 10 SNI 06-6989. 2-2004
31 Fosfat (PO4) Mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2 SNI 06-6989.31-2004
32 DO Mg/L 3.82 3.71 3.92 3.51 3.81 3.16 3.51 3.35 6 SNI 06-6989.14-2004
Sumber : Data Primer, 2007
Keterangan: *) Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 16 Tahun 2005 # tidak ada satuan
-- tidak diperiksa (tidak diminta) ** tidak dipersyaratkan
**) Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Pertambangan Batubara, Pergub Sumsel No. 18 Tahun 2005
Lokasi
AP 1 =
Belakang Kantor PTBA
AP 3 =
Bawah Jembatan PTBA
AP 5 =
Outlet KPL Stockpile I
AP 7 =
Outlet KPL Stockpile II
AP 2 =
Muara Air Suban
AP 4 =
Outlet Limoa
AP 6 =
Hilir KPL Stockpile I
AP 8 =
Hilir Outlet KPL Stockpile II
HASIL ANALISA LABORATORIUM KUALITAS AIR (Lanjutan)

Hasil Analisa
No Parameter Satuan

AP 9 AP 10 AP 11**) AP 12 AP 13**)
AP
14
AP 15**) AP 16
Baku
Mutu*)
Metoda
1 Temperatur
o
C 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0
Deviasi
3
SNI 06-6989.23-
2004
2 Zat Padat Terlarut mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 1000
SNI 06-6989.27-
2004
3
Zat Padat
Tersuspensi mg/L 84.3 42.5
36.7
(300) 38.2
26.2
(300) 40.4 51.8 (300) 41.1 50
SNI 06-6989. 3-
2004
4 Bau - -- -- -- -- -- -- -- -- **
5 DHL Mv -- -- -- -- -- -- -- -- **
SNI 06-6989. 1-
2004
6 Warna
Skala
TCU -- -- -- -- -- -- -- -- ** Spektrofotometri
7 Kekeruhan
Skala
NTU 0.00 0.00 1.13 1.14 1.63 0.83 1.34 1.29 **
SNI 06-
6989.25.2004
8
pH # 3.47 3.78 6.01 (6-9) 7.12
6.69 (6-
9) 7.46 6.83 (6-9) 6.53 6 - 9
SNI 06-6989.11-
2004
9
Besi Terlarut (Cu) mg/L 1.2273 0.2799
0.1252
(7) 0.132 0.091 (7) 0.137 0.185 (7) 0.152 0.3
SNI 06-6989. 4-
2004
10
Mangan Terlarut (Mn) mg/L 5.2901 4.7668
2.2977
(4) 0.132 0.067 (4) 0.159 0.143 (4) 0.195 0.1
SNI 06-6989. 5-
2004
11
Barium (Ba) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 1.0
SNI 06-6989.39-
2004
12
Tembaga (Cu) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02
SNI 06-6989. 6-
2004
13
Seng (Zn) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989. 7-
2004
14
Krom Hexavalen
(Cr
+6
) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989.17-
2004
15
Cadmium (Cd) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.1
SNI 06-6989.16-
2004
16
Raksa (Hg) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.001 AAS-MVU
17
Timbal (Pb) mg/L 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.03
SNI 06-6989. 8-
2004
18
Sulfat (SO4) mg/L 361.5 367.6 373.8 248 267 232 275 226 400
SNI 06-6989.20-
2004
19
Arsen (As) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.05 AAS-HVG
20
Selenium (Se) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.01 AAS-HVG
21
Kobalt (Co) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2 AAS-Nyala
22
Sianida (CN) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02 Spektrofotometri
23
Belerang sbg H2S mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.002 SNI 06-2470-1991
24
Fluorida (F) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989.29-
2004
25
Khlorida (Cl) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 600
SNI 06-6989.19-
2004
26
Amonia bebas (NH3) mg/L 0.46 0.38 0.33 0.06 0.04 0.02 0.06 0.04 0.5
SNI 06-6989.30-
2004
27
Nitrat (NO3) mg/L 0.05 0.04 0.04 0.06 0.06 0.05 0.05 0.04 10 SNI 06-2480-1991
28
Nitrit (NO2) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.06
SNI 06-6989. 9-
2004
29
BOD5 mg/L 1.21 2.67 1.3 1.29 1.32 1.25 1.32 1.61 2 SNI 06-2503-1991
30
COD mg/L 2 8 2 3 2 4 2 2 10
SNI 06-6989. 2-
2004
31
Fosfat (PO4) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2
SNI 06-6989.31-
2004
32
DO mg/L 4.27 3.87 4.11 3.52 3.69 3.81 3.73 3.66 6
SNI 06-6989.14-
2004
Sumber : Data Primer, 2007
Keterangan: *) Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 16 Tahun 2005 # tidak ada satuan
-- tidak diperiksa (tidak diminta) ** tidak dipersyaratkan
**) Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Pertambangan Batubara, Pergub Sumsel No. 18 Tahun 2005

60
Lokasi
AP 9 = Inlet KPL TAL AP 11 = Outlet KPL TAL AP 13 = Outlet KPL Dumping KTU AP 15 = Outlet KPL Tower
AP 10 = KPL ke-4 di TAL AP 12 = Hilir Outlet KPL TAL AP 14 = Hilir Outlet KPL Dumping KTU AP 16 = Hilir Outlet KPL Tower
Lokasi
AP 17 = Outlet KPL Tupa AP 19 = Muara Limau AP 21 = Hulu Sungai Lawai AP 23 = Hilir Outlet Endikat Timur
AP 18 = Hilir KPL Tupa AP 20 = Hilir KPL Limau AP 22 = Hilir Outlet Endikat Barat AP 24 = Muara Endikat

HASIL ANALISA LABORATORIUM KUALITAS AIR (Lanjutan)

Hasil Analisa
No Parameter Satuan

AP 17**)
AP
18
AP 19 AP 20 AP 21
AP
22
AP 23 AP 24
Baku
Mutu*)
Metoda
1 Temperatur
o
C 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0
Deviasi
3
SNI 06-6989.23-
2004
2 Zat Padat Terlarut mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 1000
SNI 06-6989.27-
2004
3
Zat Padat
Tersuspensi mg/L
82.5
(300) 42.5 38.3 40.2 18.3 22.1 20.7 21.5 50
SNI 06-6989. 3-
2004
4 Bau - -- -- -- -- -- -- -- -- **
5 DHL Mv -- -- -- -- -- -- -- -- **
SNI 06-6989. 1-
2004
6 Warna
Skala
TCU -- -- -- -- -- -- -- -- ** Spektrofotometri
7 Kekeruhan
Skala
NTU 1.71 1.22 1.32 1.58 0.56 0.82 1.41 1.52 **
SNI 06-
6989.25.2004
8
pH #
7.44 (6-
9) 7.12 6.92 6.4 7.12 7.53 7.38 7.28 6 - 9
SNI 06-6989.11-
2004
9
Besi Terlarut (Cu) mg/L 0.047 (7) 0.083 0.0929 0.053 0.076 0.092 0.128 0.083 0.3
SNI 06-6989. 4-
2004
10
Mangan Terlarut (Mn) mg/L 0.087 (4) 0.046 0.000 0.051 0.021 0.045 0.082 0.056 0.1
SNI 06-6989. 5-
2004
11
Barium (Ba) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 1.0
SNI 06-6989.39-
2004
12
Tembaga (Cu) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02
SNI 06-6989. 6-
2004
13
Seng (Zn) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989. 7-
2004
14
Krom Hexavalen
(Cr
+6
) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989.17-
2004
15
Cadmium (Cd) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.1
SNI 06-6989.16-
2004
16
Raksa (Hg) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.001 AAS-MVU
17
Timbal (Pb) mg/L 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.03
SNI 06-6989. 8-
2004
18
Sulfat (SO4) mg/L 263 251 29.4 230 204 187 224 216 400
SNI 06-6989.20-
2004
19
Arsen (As) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.05 AAS-HVG
20
Selenium (Se) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.01 AAS-HVG
21
Kobalt (Co) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2 AAS-Nyala
22
Sianida (CN) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02 Spektrofotometri
23
Belerang sbg H2S mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.002 SNI 06-2470-1991
24
Fluorida (F) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5
SNI 06-6989.29-
2004
25
Khlorida (Cl) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 600
SNI 06-6989.19-
2004
26
Amonia bebas (NH3) mg/L 0.03 0.04 0.04 0.06 0.06 0.05 0.07 0.04 0.5
SNI 06-6989.30-
2004
27
Nitrat (NO3) mg/L 0.03 0.05 0.05 0.05 0.04 0.05 0.05 0.03 10 SNI 06-2480-1991
28
Nitrit (NO2) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.06
SNI 06-6989. 9-
2004
29
BOD5 mg/L 1.73 1.41 1.66 1.44 1.52 1.64 1.44 1.2 2 SNI 06-2503-1991
30
COD mg/L 3 3 2 4 4 4 3 3 10
SNI 06-6989. 2-
2004
31
Fosfat (PO4) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2
SNI 06-6989.31-
2004
32
DO mg/L 3.51 3.74 3.21 3.46 3.52 3.64 3.87 2.53 6
SNI 06-6989.14-
2004

Sumber : Data Primer, 2007
Keterangan: *) Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 16 Tahun 2005 # tidak ada satuan
-- tidak diperiksa (tidak diminta) ** tidak dipersyaratkan
**) Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Pertambangan Batubara, Pergub Sumsel No. 18 Tahun 2005
61
HASIL ANALISA LABORATORIUM KUALITAS AIR (Lanjutan)

Hasil Analisa
No Parameter Satuan

AP 25 AP 26 AP 27**) AP 28**) AP 29**) AP 30 AP 31 AP 32**) AP 33
Baku
Mutu*)
Metoda
1 Temperatur
o
C 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 Deviasi 3 SNI 06-6989.23-2004
2 Zat Padat Terlarut mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 1000 SNI 06-6989.27-2004
3 Zat Padat Tersuspensi mg/L 25.6 25.5 29.3 (300) 37.6 (300) 33.4 (300) 28.1 18.8 35.8 (300) 30.4 50 SNI 06-6989. 3-2004
4 Bau - -- -- -- -- -- -- -- -- -- **
5 DHL Mv -- -- -- -- -- -- -- -- -- ** SNI 06-6989. 1-2004
6 Warna Skala TCU -- -- -- -- -- -- -- -- -- ** Spektrofotometri
7 Kekeruhan Skala NTU 0.97 0.85 1.43 1.38 1.52 0.00 0.63 1.12 0.97 ** SNI 06-6989.25.2004
8
pH # 7.05 7.32 6.34 (6-9) 7.44 (6-9) 6.53 (6-9) 6.87 6.41 6.21 (6-9) 7.31 6 - 9 SNI 06-6989.11-2004
9
Besi Terlarut (Cu) mg/L 0.145 0.066 0.182 (7) 0.082 (7) 0.143 (7) 0.0420 0.051 0.145 0.138 0.3 SNI 06-6989. 4-2004
10
Mangan Terlarut (Mn) mg/L 0.059 0.046 .063 (4) .044 (4) .025 (4) 0.052 0.067 0.083 0.113 0.1 SNI 06-6989. 5-2004
11
Barium (Ba) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 1.0 SNI 06-6989.39-2004
12
Tembaga (Cu) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02 SNI 06-6989. 6-2004
13
Seng (Zn) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5 SNI 06-6989. 7-2004
14
Krom Hexavalen (Cr
+6
) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5 SNI 06-6989.17-2004
15
Cadmium (Cd) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.1 SNI 06-6989.16-2004
16
Raksa (Hg) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.001 AAS-MVU
17
Timbal (Pb) mg/L 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.03 SNI 06-6989. 8-2004
18
Sulfat (SO4) mg/L 193 188 225 218 264 238 219 245 221 400 SNI 06-6989.20-2004
19
Arsen (As) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.05 AAS-HVG
20
Selenium (Se) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.01 AAS-HVG
21
Kobalt (Co) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2 AAS-Nyala
22
Sianida (CN) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.02 Spektrofotometri
23
Belerang sbg H2S mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.002 SNI 06-2470-1991
24
Fluorida (F) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.5 SNI 06-6989.29-2004
25
Khlorida (Cl) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 600 SNI 06-6989.19-2004
26
Amonia bebas (NH3) mg/L 0.03 0.03 0.05 0.05 0.02 0.02 0.07 0.04 0.03 0.5 SNI 06-6989.30-2004
27
Nitrat (NO3) mg/L 0.05 0.04 0.05 0.05 0.03 0.05 0.04 0.05 0.04 10 SNI 06-2480-1991
28
Nitrit (NO2) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.06 SNI 06-6989. 9-2004
29
BOD5 mg/L 1.41 .1.35 1.22 1.46 1.52 1.52 1.31 1.43 1.35 2 SNI 06-2503-1991
30
COD mg/L 4 4 4 4 4 2 3 2 3 10 SNI 06-6989. 2-2004
31
Fosfat (PO4) mg/L -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0.2 SNI 06-6989.31-2004
32
DO mg/L 3.58 3.61 3.72 3.55 3.46 3.28 3.36 3.95 3.71 6 SNI 06-6989.14-2004
Sumber : Data Primer, 2007
Keterangan: *) Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 16 Tahun 2005 # tidak ada satuan
-- tidak diperiksa (tidak diminta) ** tidak dipersyaratkan
**) Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Pertambangan Batubara, Pergub Sumsel No. 18 Tahun 2005
62
Lokasi:
AP 25 = Hilir Outlet Tambang MTBS AP 27 = Outlet KPL MTBU timur AP 29 = Outlet KPL MTBU barat AP 31 = Hulu Outlet Outside Dump TAL
AP 26 = S. Lawai (Bawah Jalur BC) AP 28 = Outlet KPL MTBU tengah AP 30 = Hilir Outlet KPL MTBU barat AP 32 = Outlet Outside Dump TAL
AP 33 = Hlir Outside Dump TAL

LAMPIRAN B
HASIL PENGUKURAN KUALITAS UDARA DAN KEBISINGAN

Hasil Analisis
Titik Lokasi Suhu
(C)
CO SO
2
NO
2
O
3
Pb Debu
Kebisingan
(dBA)
UP 1 Rumah Sakit PTBA 30.2 420 82 50 0.61 tt 37 52
UP 2 Pemukiman, Talang Jawa 38.3 3639 216 140 1.85 tt 114 66
UP 3 Halaman Kantor PTBA 32.4 582 108 74 1.26 tt 42 51
UP 4 Pemukiman, Desa Tanjung 34.1 3842 220 152 1.74 tt 128 52
UP 5 Pemukiman, Saringan 30.1 839 124 108 0.85 tt 104 52
UP 6 Pemukiman, Desa Lingga 33.5 1630 130 114 0.92 tt 114 56
UP 7 Pemukiman, PLN 31.2 2984 114 105 0.64 tt 42 49
UP 8 Jalan Lintas, PLN 31.2 3260 164 117 1.79 tt 165 65
UP 9 Stockpile I 34.2 1264 153 128 1.86 tt 164 57
UP 10 Stockpile II 38.3 1630 240 136 1.92 tt 186 59
UP 11 Desa Tegal Rejo 32.5 2451 172 145 1.75 tt 145 55
UP 12 Lapangan Golf 34.6 2752 141 97 1.45 tt 118 51
UP 13 Tambang Air Laya 33.5 2813 163 106 1.63 tt 96 54
UP 14 Bukit Tapuan 35.2 2386 169 132 1.26 tt 128 58
UP 15 Bukit Asam 31.8 2912 172 125 1.52 tt 135 55
UP 16 Suban 33.6 2587 153 137 1.84 tt 115 52
UP 17 Dumping Mahayung 32.7 3012 188 116 1.65 tt 107 53
UP 18 Tambang MBTU 31.4 2625 136 225 1.34 tt 121 55
UP 19 Tambang Banko 35.7 2881 155 173 1.28 tt 153 58
UP 20 Town Site 34.3 2437 173 167 1.85 tt 144 52
Baku Mutu
1 PP.RI.No. 41/1999 30.000 900 400 235 2 230
2 No. Kep 48/MenLH/11/1996 :
- Pemukiman perumahan
- Kegiatan Industri



55
70
Sumber : Data Primer 2007
Keterangan : Kadar CO, SO
2
, NO
2
, O
3
, Pb dan Debu dalam Satuan g/Nm
3

63
STRATEGI PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN
UNTUK PERCEPATAN
SUMATERA SELATAN SEBAGAI LUMBUNG ENERGI NASIONAL

Oleh:
Machmud Hasjim

dan M. Taufik Toha
Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya,
Jl. Raya Palembang-Prabumulih Km 32, Ogan Ilir, Inderalaya 30662
Telp : (0711) 7370891, 580741, 580137, Fax : (0711) 445086, 580062

ABSTRACT
Dependency of fuel oil is very high, whereas national petroleum resources and
productions are continuously decreased. Government Policy with subsidized fuel oil when
petroleum prize so high recently, causing huge government burden. Therefore government
start policy to convert fuel oil subsidy and gradually decreasing the dependency of fuel oil,
one of it that presently being discussed widely is the conversion program from kerosene to
the LPG, and followed by limiting the kerosene quota.
Effort to reducing fuel oil dependency represented on the President Instruction No.
2 in 2006 and the Presidential Regulation No. 5 in 2006, which directing that petroleum
share will be reduce gradually (from 51.66% in the year of 2006 to be 20% in the year of
2025) by developing utilization of non-petroleum energy. In the regulation, noticeably that
new and renewable energy become one of energy utilization focuses in the future, with new
and renewable energy share targeted from 4.43% (2006) to be 17% (2025).
Program South Sumatra as National Energy Stockpile is a portion that can not be
separated from the effort to guarantee national energy supply and based on national policy
on energy sector. Hence new and renewable energy development will also give significant
contribution on Program of South Sumatra as National Energy Stockpile.
Potency of new and renewable energy in South Sumatra considerably large and
consist of some kind of energy, such as: coal resources about 23.68 billion of tons, coal
bed methane (CBM) resources about 183 TCF ( 40.37% of national resources),
geothermal resources 1,913 MW (7.05% of national resources), water energy potency
(mini/micro hydro) about 9,385.73 kW, peat potency in areal about 1 million hectares,
biogas potency from the ranch, and biofuel from the plantation (palm, rubber, jarak,
singkong, etc). In addition as tropical area, South Sumatra also has considerable solar
energy potency.
New and renewable energy developments have their own opportunities and threat,
thus priority scale of development and utilization should be performed, derived from the
energy potency, technology improvement and possibility of field implementation. By
priority that appropriate and suitable to local condition, South Sumatra new and
renewable energy potency can be utilized optimally with the purpose of Program of South
Sumatra as National Energy Stockpile and guarantee national energy supply to increasing
public prosperity as directed by Constitution of Republic of Indonesia 1945.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
ABSTRAK
Ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) sangat tinggi, sedangkan
cadangan dan produksi minyak bumi nasional terus menurun. Kebijakan Pemerintah
dengan menerapkan subsidi minyak selama ini di tengah tingginya harga minyak mentah
di pasaran internasional mengakibatkan beban Pemerintah begitu besar. Sehubungan
dengan kondisi tersebut, Pemerintah mulai menerapkan kebijakan untuk mengalihkan
subsidi BBM dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap BBM, salah
satunya yang saat ini sedang hangat dibicarakan adalah program konversi minyak tanah
ke gas elpiji dan diikuti pembatasan kuota minyak tanah.
Upaya pengurangan ketergantungan terhadap BBM tercermin dari Instruksi
Presiden Nomor 2 Tahun 2006 dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 dimana
ditetapkan pangsa minyak bumi akan dikurangi secara bertahap (dari 51,66% pada tahun
2006 menjadi 20% pada tahun 2025) dengan mengembangkan pemanfaatan energi non
minyak bumi. Dalam peraturan tersebut, terlihat pengembangan energi baru dan
terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus pemanfaatan energi di masa depan, dengan
penetapan sasaran pangsa EBT dari 4,43% (2006) menjadi 17% (2025).
Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari upaya menjamin ketersediaan energi nasional dan mengacu
pada kebijakan sektor energi nasional. Oleh karenanya pengembangan EBT juga akan
memberikan kontribusi yang signifikan dalam mensukseskan Program Sumatera Selatan
Sebagai Lumbung Energi Nasional.
Potensi energi baru dan terbarukan di Sumatera Selatan cukup besar dan terdiri
dari beberapa jenis energi, antara lain: sumberdaya batubara 23,68 miliar ton,
sumberdaya Coal Bed Methane (CBM) 183 TCF ( 40,37% sumberdaya nasional),
sumberdaya panas bumi 1.913 MW (7,05% dari sumberdaya nasional), potensi energi
air (mini/mikro hidro) berkisar 9.385,73 kW, potensi gambut dengan luas lahan 1 juta
hektar, potensi biogas dari peternakan, serta potensi bahan bakar nabati dari perkebunan
(kelapa sawit, jarak, karet, ubi, dan sebagainya). Selain itu sebagai daerah tropis
Sumatera Selatan juga memiliki potensi energi surya dalam jumlah yang cukup besar.
Pengembangan energi baru dan terbarukan memiliki peluang dan kendalanya
masing-masing, untuk itu perlu disusun suatu skala prioritas pengembangan dan
pemanfaatan yang didasarkan pada potensi energi, perkembangan teknologi dan
kemungkinan penerapan di lapangan. Dengan prioritas yang tepat dan sesuai kondisi
daerah diharapkan potensi energi baru dan terbarukan di Sumatera Selatan dapat
dimanfaatkan dan berdaya guna serta berhasil guna secara optimal dalam rangka
memberikan kontribusi dalam mensukseskan Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung
Energi Nasional dan menjamin ketersediaan energi untuk kepentingan nasional serta
meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang diamanatkan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


PENDAHULUAN
Kebutuhan energi nasional terus meningkat, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk,
keberhasilan pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi. Jenis energi primer yang paling
dominan digunakan selama ini adalah minyak bumi (termasuk bahan bakar minyak/ BBM).
Di sisi lain, produksi dan cadangan minyak bumi nasional akhir-akhir ini cenderung
65
OPEC). Selain itu harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini meningkat tajam
mengakibatkan beban subsidi melampaui jumlah yang dianggarkan dalam APBN.
Pemerintah baru-baru ini telah menaikkan harga BBM bersubsidi sekitar 28% dan
mengalihkan subsidi BBM ke bentuk subsidi yang langsung dirasakan oleh masyarakat
menengah kebawah (misalnya dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai, pendidikan,
kesehatan dan sebagainya). Selain mengurangi subsidi BBM, Pemerintah juga telah
menetapkan untuk mengurangi dominasi minyak bumi dalam energi mix nasional. Dalam
Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 ditetapkan pangsa minyak bumi akan dikurangi
secara bertahap (dari 51,66% pada tahun 2006 menjadi 20% pada tahun 2025) dengan
mengembangkan pemanfaatan energi non minyak bumi. Dalam peraturan tersebut, terlihat
pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus pemanfaatan
energi di masa depan, dengan penetapan sasaran pangsa EBT dari 4,43% (2006) menjadi
17% (2025).
Di Sumatera Selatan, Presiden telah mencanangkan Sumatera Selatan Sebagai
Lumbung Energi Nasional, program ini tentunya merupakan bagian integral dan mengacu
pada Kebijakan Energi Nasional dalam rangka menjamin ketersediaan energi untuk
kepentingan Nasional. Oleh karenanya pengembangan EBT di Sumatera Selatan perlu
dimanfaatkan guna menunjang Kebijakan Energi Nasional.
Pengembangan energi baru dan terbarukan perlu direncanakan dengan baik,
mengingat keterdapatan dan karakteristik energi baru dan terbarukan bersifat spesifik di
tiap daerah. Selain itu tingkat teknologi yang dibutuhkan juga sangat bervariasi, mulai dari
teknologi sederhana sampai yang sangat kompleks. Untuk itu diperlukan strategi
pengembangan yang optimal agar pengembangan EBT dapat dilaksanakan sesuai kondisi
daerah setempat (ketersediaan, pengembangan teknologi, kemungkinan penerapannya)
sehingga dapat membawa manfaat di tingkat lokal, regional dan nasional.
Dengan strategi yang optimal diharapkan potensi energi baru dan terbarukan di
Sumatera Selatan dapat dimanfaatkan dan berdaya guna serta berhasil guna secara optimal
dalam rangka memberikan kontribusi dalam mensukseskan Program Sumatera Selatan
Sebagai Lumbung Energi Nasional dan menjamin ketersediaan energi untuk kepentingan
nasional.


KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL
Dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi
Nasional tanggal 25 Januari 2006, ditetapkan tujuan dan sasaran Kebijakan Energi
Nasional sebagai berikut:
Tujuan Kebijakan Energi Naisonal adalah untuk mengarahkan upaya-upaya dalam
mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri.
Saranan Kebijakan adalah:
a. Tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari 1 (satu) pada tahun 2025
b. Terwujudnya energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025, yaitu peranan
masing-masing jenis energi terhadap konsumsi energi nasional:
1) Minyak bumi menjadi kurang dari 20% (dua puluh persen).
2) Gas bumi menjadi lebih dari 30% (tiga puluh persen).
3) Batubara menjadi lebih dari 33% (tiga puluh tiga persen).
4) Bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari 5% (lima persen).
5) Panas bumi menjadi lebih dari 5% (lima persen).
6) Energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga
air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari 5% (lima persen).
66
7) Batubara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari 2% (dua persen).

Untuk mencapai sasaran Kebijakan Energi Nasional tersebut, dicapai melalui
2 (dua) kebijakan yaitu Kebijakan Utama dan Kebijakan Pendukung

Kebijakan utama meliputi:
a. Penyediaan energi melalui:
1) Penjamin ketersediaan pasokan energi dalam negeri;
2) Pengoptimalan produksi energi;
3) Pelaksanaan konservasi energi;
b. Pemanfaatan energi melalui:
1) Efisiensi pemanfaatan energi;
2) Diversifikasi energi.
c. Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan tetap
mempertimbangkan kemampuan usaha kecil, dan bantuan bagi masyarakat tidak
mampu dalam jangka waktu tertentu.
d. Pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Kebijakan pendukung meliputi:
a. Pengembangan infrastruktur energi termasuk peningkatan akses konsumen terhadap
energi;
b. Kemitraan pemerintah dan dunia usaha;
c. Pemberdayaan masyarakat;
d. Pengembangan penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan.

Dalam Peraturan Presiden No. 5/ 2006 tersebut juga diatur mengenai harga energi, sebagai
berikut:
(1) Harga energi disesuaikan secara bertahap sampai batas waktu tertentu menuju harga
keekonomiannya.
(2) Pentahapan dan penyesuaian harga energi harus memberikan dampak optimum
terhadap diversifikasi energi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai harga energi dan bantuan bagi masyarakat tidak
mampu dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


POTENSI ENERGI SUMSEL
1. Minyak Bumi
Cadangan Minyak Bumi Sumatera Selatan pada status 1 Januari 2004 kurang
lebih sebanyak 704.518,0 MSTB (atau 9,87% dari total cadangan Minyak Bumi
nasional). Jumlah ini terdiri dari cadangan terbukti 404.271,2 MSTB, cadangan
mungkin 128.880,8 MSTB, dan cadangan harapan 171.366,0 MSTB. Bila dirinci
berdasarkan lapangan yang telah beroperasi dan belum beroperasi, maka cadangan
tersebut terdiri dari 657.605,8 MSTB berada di lapangan yang telah beroperasi, dan
sisanya 47.312,2 MSTB berada di lapangan yang belum operasi. Kabupaten Musi
Banyuasin dan Muara Enim tercatat merupakan kabupaten yang memiliki potensi
minyak bumi paling besar di Sumatera Selatan (Gambar 1).
67
Cadangan Total Minyak Bumi (MMSTB)
252,40
272,50
83,87
14,83
11,77
29,71
Banyuasin
Lahat
Muara Enim
Musi Banyuasin
Musi Rawas
Ogan Komering Ilir

Gambar 1. Cadangan Minyak Bumi di Sumatera Selatan


1. Gas Bumi
Cadangan gas bumi di Sumatera Selatan kurang lebih 24.015,46 BSCF (sekitar
7,10% dari total cadangan nasional) yang terdiri dari cadangan terbukti 7.489,21
BSCF, cadangan mungkin 5.406,30 BSCF, dan cadangan harapan 11.119,95 BSCF.
Cadangan gas bumi terbesar dijumpai di Kabupaten Muara Enim, MUBA, dan Musi
Rawas (Gambar 2).
Bila dirinci berdasarkan lapangan yang telah beroperasi dan belum beroperasi,
maka cadangan tersebut terdiri dari 21.720,81 BSCF berada di lapangan yang telah
beroperasi, dan sisanya 2.294,65 BSCF berada di lapangan yang belum operasi.

Cadangan Gas Bumi (BSCF)
12.477,07
9.383,63
1.563,0
18,6
101,3
206,1
Banyuasin
Lahat
Muara Enim
MUBA
Musi Rawas
OKI

Gambar 2. Cadangan Gas Bumi Sumatera Selatan

2. Batubara
Sumberdaya Batubara Indonesia Sebesar 65,40 miliar ton. Berdasarkan
kualitasnya, 24% termasuk batubara peringkat rendah (<5.100 cal/gr), 60% peringkat
sedang (5.100 6.100 cal/gr), 15% peringkat tinggi (6.100 7.100 cal/gr) serta hanya
1% yang termasuk peringkat sangat tinggi (>7.100 cal/gr) (Gambar 3).
68
Bila ditinjau berdasarkan lokasi, Kalimantan Timur merupakan memiliki
sumberdaya yang terbesar dan disusul Sumatera Selatan (23,68 miliar ton). Batubara
Kalimantan Timur umumnya termasuk kategori peringkat sedang tinggi, hanya
sebagian kecil yang termasuk peringkat rendah. Sebaliknya batubara Sumatera Selatan
Umumnya termasuk peringkat rendah sedang dan hanya sebagian kecil yang
termasuk peringkat tinggi (Gambar 4).


Gambar 3. Sumberdaya Batubara Gambar 4. Sumberdaya Batubara Indonesia
Indonesia (Berdasarkan Peringkat) (Berdasarkan Lokasi dan Peringkat)


1. Coal Bed Methane (CBM)
Sumberdaya Coal Bed Methane (CBM) atau Gas Metana Batubara (GMB)
Nasional sebesar 453,3 TCF yang terdiri dari 11 Cekungan CBM. Sumberdaya
terbesar terdapat di Cekungan Sumatera Selatan (183 TCF), disusul Cekungan Barito
dan Cekungan Kutei (Gambar 5).


Gambar 5. Sumberdaya Coal Bed Methane Nasional
2. Energi Biomassa
Cadangan biomassa di Sumatera Selatan diperkirakan setara dengan
12.229,25 GWh yang terdiri dari biomassa 1.565,15 GWh, Biogas 85,4 GWh dan kayu
Bakar 10.578,7 GWh

3. Panas Bumi
Wilayah Sumatera Selatan memiliki potensi sumberdaya panas bumi yang terletak di
bagian barat, tepatnya di lajur Pegunungan Bukit Barisan dimana busur vulkanik aktif
Bila ditinjau berdasarkan lokasi, Kalimantan Timur merupakan memiliki
sumberdaya yang terbesar dan disusul Sumatera Selatan (23,68 miliar ton). Batubara
Kalimantan Timur umumnya termasuk kategori peringkat sedang tinggi, hanya
sebagian kecil yang termasuk peringkat rendah. Sebaliknya batubara Sumatera Selatan
Umumnya termasuk peringkat rendah sedang dan hanya sebagian kecil yang
termasuk peringkat tinggi (Gambar 4).
69
tahun 1988. Berdasarkan pada hasil survei yang pernah dilakukan di Sumatera
Selatan, potensi energi panas bumi Sumatera Selatan keseluruhan berkisar 517 MWe
(Tabel 4).

Tabel 4
Indikasi Potensi Panas Bumi Sumatera Selatan
No Lokasi Kab/Kota Potensi
1 Rantau Dadap, Segamit Lahat 250 Mwe (Hipotesis)
2 Bukit Lumut Balai Lahat 220 Mwe (Terduga)
3 Ulu Danau (Pulau Beringin) OKU 6 Mwe (Spekulatif)
4 Marga Bayur (Lawang Agung) OKU 35 Mwe (Hipotesis)
5 Way Selabung OKU 6 Mwe (Spekulatif)
Sumber : Direktorat Vulkanologi dan Divisi Panasbumi Pertamina, Januari 2000

7. Energi Air
Potensi energi air yang ada di Sumatera Selatan cukup besar, menyebar di
paling tidak di 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Lahat, Kabupaten Musi Rawas,
Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Kabupaten Muara Enim. Potensi energi air
tersebut baru sebagian kecil yang dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga
Air /PLTA.
Di Kabupaten Lahat, potensi energi air terbesar ditemukan di Tanjung
Beringin, Kecamatan Ulu Musi dengan kapasitas berkisar 846 MW, sedangkan di
Kabupaten Musi Rawas, potensi energi air terbesar dijumpai di Layang, Kecamatan
Muara Beliti, dengan kapasitas sekitar 1787,52 MW. Untuk Kabupaten Ogan
Komering Ulu, potensi terbesar dijumpai di Air Kenik, Kecamatan Muaradua Kisam
dengan kapasitas sekitar 687,96 MW. Di Kabupaten Muara Enim, potensi terbesra
terletak di air terjun Bedegung, Kecamatan Tanjung Agung dengan kapasitas 1729,7
MW.
Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang telah dibangun antara lain PLTA
Lematang (83,2 MW) dan PLTA Enim (47 MW) di Kabupaten Muara Enim dan
PLTA Ranau (34 MW) di Kabupaten Ogan Komering Ulu.s
Pemanfaatan energi air skala kecil telah dimulai di Sumatera Selatan dengan
pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro khususnya pada lokasi yang
memiliki potensi air namun jauh dari jangkauan listrik PLN. Beberapa PLTMH yang
telah dibangun antara lain di Desa Ulu Danau kecamatan Pulau Beringin dan Desa
Muara Sindang Kecamatan Muara Dua Kisam Kabupaten Ogan Komering Ulu, Desa
Cahaya Alam Kecamatan Pembantu Aremantai, Desa Tanjung Tiga Kecamatan
Semendo Darat Ulu Kabupaten Muara Enim, Desa Tunggul Bute Kecamatan Kota
Padang dan Desa Talang Sejumput Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat.

8. Energi Surya
Sebagaimana daerah lain di Indonesia yang terletak di sekitar garis katulistiwa,
energi surya merupakan salah satu energi alternatif terbarukan yang tersedia dalam
jumlah yang cukup besar. Namun pemanfaatannya masih sangat terbatas khususnya
berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya/ PLTS. Sejak tahun 1991 hingga 2003 telah
dibangun sebanyak 3.205 PLTS yang tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ulu
(427 unit), Kabupaten Ogan Komering Ilir (389 unit), Kabupaten Muara Enim (114
unit), Kabupaten Lahat (201 unit), Kabupaten Musi Rawas (1532 unit) dan Kabupaten
Musi Banyuasin (362 unit).
70
KAJIAN SWOT SUMBERDAYA ENERGI SUMATERA SELATAN
Berdasarkan analisis potensi, pemanfaatan dan teknologi energi, dalam rangka
pengembangan energi secara optimal guna memenuhi kebutuhan energi nasional dan
mencapai sasaran energy mix nasional 2006-2025, perlu disusun suatu strategi
pengembangan energi agar pengembangan EBT dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi
keenergian Sumatera Selatan, terarah, terencana dan dapat berhasil guna secara optimal.
Untuk mendapatkan strategi yang optimal dan sesuai kondisi keenergian daerah,
perlu dilakukan analisis SWOT terhadap masing-masing jenis energi yang dimiliki.
Dengan demikian akan didapatkan karakteristik dari masing-masing jenis energi sebagai
dasar dalam menetapkan strategi pengembangannya.
Analisis SWOT dilakukan dengan menilai secara objektif kondisi masing-masing
jenis energi, baik kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) maupun kondisi eksternal
(peluang dan tantangan). Selanjutnya dengan mengkombinasikan faktor internal dan faktor
eksternal dapat disusun strategi atau program, yang meliputi program kekuatan-peluang
(memanfaatkan kekuatan untuk meraih peluang), program kelemahan-peluang
(memanfaatkan peluang meminimalisir kelemahan), program kekuatan-tantangan
(memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi tantangan) dan program kelemahan-tantangan
(meminimalisir kelemahan dan mengatasi tantangan).


MATRIKS SWOT POTENSI ENERGI

S - W

O - T
KEKUATAN (STRENGTH)
Potensi sumberdaya energi besar
dan beragam
Letak potensi tersebar di berbagai
kabupaten
Kualitas memenuhi permintaan
pasar
KELEMAHAN (WEAKNESS)
Kualitas SDE beragam, sebagian
tidak dapat dikembangkan secara
ekonomis
Eksplorasi dan eksploitasi masih
sangat terbatas
Penguasaan teknologi masih
rendah
PELUANG (OPPORTUNITY)
Kebutuhan energi
meningkat
Banyak investor yang
berminat untuk eksplorasi
dan eksploitasi
(S-O)
Sosialisasi potensi energi kepada
investor
Ambil bagian dalam berbagai
expo di tingkat nasional dan
internasional
(W-O)
Pengembangan teknologi untuk
nilai tambah sumberdaya energi
Peningkatan infrastruktur energi
Peningkatan kualitas manusia di
khususnya di bidang teknologi
energi
Kerjasama dengan institusi
energi dalam dan luar negeri
TANTANGAN (THREATS)
Potensi SDE daerah lain
yang dekat pusat
kebutuhan energi
Potensi kerusakan
lingkungan
(S-T)
Percepatan eksplorasi dan
ekploitasi SDE (kemudahan
perizinan, dll)
Penerapan pembangunan sektor
keenergian yang berwawasan
lingkungan
Peningkatan kualitas SDM di
bidang lingkungan
(W-T)
Penyusunan prioritas
pengembangan energi per
daerah
Penguasaan teknologi energi
dan teknologi lingkungan

71
STRATEGI PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN
Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Sumatera Selatan merupakan
salah satu fokus dan Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional.
Pengembangan EBT tersebut didasarkan pada sasaran energy mix nasional 2006 2025
(Gambar 6).


Gambar 6.
Sasaran Energy Mix Nasional 2006 - 2025


Berdasarkan analisis SWOT terhadap kondisi sumberdaya energi Sumatera Selatan
saat ini dapat disusun program pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) Sumatera
Selatan, sebagai berikut:

1. Minyak Bumi
Program-program dalam pengembangan minyak bumi, antara lain : peningkatan
kuantitas dan kualitas kegiatan eksplorasi dalam rangka penemuan sumber minyak
baru, revitalisasi sumur minyak tua, penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery
(EOR), peningkatan efisiensi pengolahan minyak, pemanfaatan fasilitas produksi
secara efisien dan percepatan.
Pengembangan minyak bumi dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kebutuhan
dalam negeri dalam masa transisi sementara menunggu energi baru dan terbarukan
dapat diterapkan secara komersial.

2. Gas Bumi
Program pengembangan gas bumi antara lain : sosialisasi potensi gas ke tingkat
nasional dan internasional, peningkatan eksplorasi dan eksploitasi gas bumi,
pemanfaatan fasilitas secara optimal, percepatan gasinisasi untuk rumah tangga dan
transportasi, percontohan mobil berbahan bakar BBG, peningkatan recovery gas,
percepatan eksplorasi dan eksploitasi (kemudahan perizinan, dll), percepatan
diversifikasi dari BBM ke gas bumi, pengadaan infrastruktur untuk pemanfaatan gas
sektor rumah tangga dan transportasi serta prioritas pemanfaatan gas untuk kebutuhan
domestic.
STRATEGI PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN
Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Sumatera Selatan merupakan
salah satu fokus dan Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional.
Pengembangan EBT tersebut didasarkan pada sasaran energy mix nasional 2006 2025
(Gambar 6).
72
(SPBG) serta sektor industri. Untuk jangka panjang diprioritaskan untuk bahan bakar
PLTG dan industri skala menengah-besar.

3. Batubara
Program pengembangan batubara antara lain: percepatan eksplorasi dan eksploitasi,
promosi potensi batubara ke tingkat nasional dan internasional, kemudahan perizinan
untuk menarik investor, pengembangan PLTU batubara, penelitian, pengembangan
dan penerapan teknologi konversi batubara (briket, UBC, gasifikasi dan likuifaksi
batubara serta coal water fuel), penyediaan infrastruktur pengangkutan batubara,
penyediaan data perbatubaraan Sumatera Selatan, penerapan penambangan
berwawasan lingkungan, penyediaan lokasi untuk pertambangan batubara,
pengembangan infrastruktur batubara.
Pengembangan pada jangka pendek diprioritaskan untuk bahan bakar sektor rumah
tangga dan industri kecil-menengah (briket batubara).
Selain itu, teknologi upgrading brown coal (UBC) perlu diterapkan untuk
meningkatkan nilai tambah batubara Sumatera Selatan untuk dijual ke luar daerah
(baik antar pulau maupun untuk ekspor).
Pengembangan jangka menengah dan jangka panjang dengan menerapkan teknologi
pencairan batubara, gasifikasi batubara dan batubara cair (coal water fuel).

4. Coal Bed Methane (CBM)
Program pengembangan CBM antara lain: mengintensifkan eksplorasi CBM,
mempromosikan potensi CBM ke tingkat nasional dan internasional, menjalin
kerjasama dengan negara penghasil CBM dalam hal alih teknilogi, pelatihan SDM di
bidang CBM, pengembangan litbang CBM dan pengembangan infrastruktur CBM,
sosialisasi regulasi CBM, kemudahan perizinan.
Pengembangan CBM pada jangka pendek diprioritaskan penelitian dan pengembangan
untuk menunjang eksplorasi dan ekploitasi CBM.
Pada jangka panjang diprioritaskan untuk menunjang gas bumi dalam memenuhi
kebutuhan energi di Sumatera Selatan, khususnya untuk pembangkit listrik skala kecil
dan sektor rumah tangga

5. Biomassa
Program pengembangan biogas antara lain : sosialisasi keekonomian, teknologi dan
estetika pemanfaatan biogas, dan percontohan instalasi biogas.
Program pengembangan bahan bakar nabati (bio fuel) antara lain: promosi potensi
kepada investor, mengintensifkan litbang bahan bakar nabati, pengembangan pabrik
dan road show serta percontohan kendaraan berbahan bakar nabati, pengaturan melalui
Perda tentang alokasi untuk bahan baku biodiesel bagi perkebunan, kerjasama dengan
lembaga litbang bahan bakar nabati, penyiapan lahan untuk pengembangan bahan
baku untuk bahan bakar nabati, dan percontohan kebun energi.
Pengembangan jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan sektor rumah tangga secara
mandiri melalui pembuatan biogas. Pengembangan jangka panjang untuk industri gas
dalam kemasan (korek api gas dan sejenisnya).
Pengembangan bahan bakar nabati yang meliputi biodiesel dan bioetanol.
Pengembangan jangka pendek untuk sektor transportasi kota (angkot, bus kota)
dengan percontohan dengan mobil dinas Pemprov. Sumsel
Pengembangan jangka panjang dengan litbang untuk meningkatkan daya saing teknis
dan ekonomis agar dapat digunakan secara luas.
73
6. Panas Bumi
Program pengembangan panas bumi antara lain: mengintensifkan eksplorasi dan
eksploitasi panas bumi, pengembangan PLTU terapu dengan lokasi wisata alam,
pelatihan dan pengembangan SDM di bidang PLTP, prioritas untuk lokasi yang jauh
dari jangkauan jaringan distribusi PLN.
Pengembangan jangka pendek diprioritaskan untuk sumber energi pada pembangkit
listrik panas bumi (PLTP). Pengembangan jangka panjang untuk peningkatan PLTP
skala menengah-besar.

7. Energi Air
Program pengembangan energi air antara lain: mengintensifkan studi potensi energi
air, memprioritaskan pemanfaatan untuk kelistrikan daerah terpencil, pengembangan
pembangkit sekaligus sebagai tempat wisata, pemanfaatan terintegrasi dengan energi
mekanik, peralatan dan bahan diusahakan dari lokasi setempat, pembangunan
infrastruktur lokasi secara gotong royong, pengembangan pembangkit skala kecil
sesuai dengan beban, pelatihan pemeliharan dan reparasi bagi masyarakat sekitar,
bantuan peremajaan secara berkala dan sosialisasi guna menumbuhkan rasa memiliki
di kalangan masyarakat.
Pengembangan jangka pendek diprioritaskan untuk menunjang industri kecil-
menengah dan pertanian (energi mekanik) dan pengembangan PLTMH untuk
kelistrikan di daerah terpencil. Pengembangan jangka panjang dengan meningkatkan
pemanfaatan energi air pada lokasi-lokasi yang memiliki potensi air.

8. Energi Surya
Program pengembangan energi surya antara lain: memprioritaskan pemanfaatan untuk
lokasi terpencil, pengadaan sel photovoltaic, sosialisasi pada masyarakat,
mengintensifkan litbang di bidang photovoltaic, studi radiasi matahari di berbagai
lokasi, percontohan PLTS skala kecil pada fasilitas pemerintah (puskesmas, dll) di
daerah terpencil, peningkatan SDM di bidang produksi pemeliharaan dan reparasi
serta instalasi sel photovoltaik.
Untuk jangka pendek diprioritaskan pengembangan surya thermal (pengering,
pemanas air, penyuling air, oven surya, kompor surya) untuk menunjang sektor rumah
tangga dan industri kecil-menengah. Selain itu juga untuk menunjang kelistrikan di
daerah terpencil. Pengembangan jangka panjang diprioritaskan pada listrik dan
kendaraan bermotor.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan perlu melakukan terobosan guna percepatan
penggunaan briket batubara dan gas alam untuk sektor rumah tangga. Percepatan
pemanfataan gas alam untuk sektor rumah tangga dilakukan dengan perluasan jaringan
pipa transmisi dan distribusi gas alam. Sedangkan untuk lokasi yang sulit dijangkau
pipanisasi (jauh dari sumber gas alam/jalur pipa transmisi/distribusi) perlu digalakkan
penggunaan briket untuk sektor rumah tangga. Sebagai langkah awal, diawali dengan
sosialisasi dan percontohan.
Penerapan terobosan tersebut akan meningkatkan porsi penggunaan energi
alternative secara signifikan, dan bagi masyarakat pengguna akan dapat menikmati
ketersediaan energi untuk sektor rumah tangga dengan harga yang lebih murah.
Untuk memberikan landasan konstitusional yang kuat untuk menunjang
pelaksanaannya di lapangan, terobosan tersebut perlu ditatapkan dalam Peraturan Daerah
Provinsi Sumatera Selatan.
74
PENUTUP
Cadangan minyak bumi yang menipis, sedangkan kebutuhan terus meningkat
mengakibatkan harga BBM melambung dan mulai terjadi kelangkaan. Hal ini
mengingatkan kita untuk segera mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan beralih
menggunakan energi alternatif.
Sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional, salah satu jenis energi yang akan
ditingkatkan pangsanya adalah Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Pengembangan EBT
perlu dilaksanakan dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan
pemanfaatan sumberdaya secara optimal.
Pengembangan EBT sangat tergantung pada karakteristik jenis EBT,
ketersediaannya di suatu lokasi dan perkembangan teknologi yang menunjang aplikasinya.
Oleh karenanya diperlukan strategi pengembangan yang mencakup hal-hal diatas agar
percepatan pemanfaatan EBT dapat dilaksanakan secara optimal dalam rangka menunjang
ketersediaan energi untuk kepentingan nasional.
Pengembangan EBT perlu dilaksanakan melalui pengembangan teknologi,
percontohan dan sosialisasi kepada masyarakat luas, agar teknologi EBT yang sederhana
dapat diterima masyarakat dan digunakan secara luas.


DAFTAR PUSTAKA
1. H. Purnomo., Indonesia CBM Research & Development, Makalah Disampaikan
pada Workshop CBM Indonesia: Preparing the Awake of CBM Industry in
Indonesia, Bali, July 4-5th, 2007.
2. Indonesian Coal Society, Coal Technology 2000, Proceedings International
Conference and Exhibition on Low Rank Coal Utilization, Jakarta, November
2000.
3. Machmud Hasjim., Kontribusi Sumberdaya Energi Sumatera Selatan pada
Pembangunan Nasional, Pertemuan Tahunan dan Forum Diskusi IATSRI
2005, Palembang, 17 Desember 2005.
4. Machmud Hasjim., Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan, Makalah
Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka
Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi, Jakarta, Nopember 2000.
5. Machmud Hasjim., Pengelolaan Energi Sumatera Selatan Secara Arif untuk
Kesejahteraan Masyarakat, Pidato Ilmiah Disampaikan pada Wisuda Sarjana
XXXIV Program S1, Wisuda Sarjana XLVIII Diploma III, Wisuda III MM dan
Dies Natalis XXI Universitas Tridinanti Palembang, 30 April 2005.
6. Machmud Hasjim., dan Taufik Toha., Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat
Penghasil Energi, Temu Profesi Tahunan XIII Perhimpunan Ahli
Pertambangan Indonesia, Palembang, 2004.
7. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., Utilization Opportunity of
South Sumatra Low Rank Coal, The 4th International Conference and
Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003.
8. Rosihan Arsyad, Tata Ruang dan Penyediaan Infrastruktur untuk PLTU Batubara di
Sumatera Selatan, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara
Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi,
Jakarta, Nopember 2000.
9. Syarial Oesman., Sasaran Program Pembangunan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung
Energi Nasional 2009, Workshop Master Plan Sumatera Selatan Sebagai
Lumbung Energi Nasional, Jakarta 12 Desember 2005.
75
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN
DISEKITAR LOKASI PERTAMBANGAN
(PROYEK TAMBANG EMAS PT. CIBALIUNG SUMBERDAYA)

Oleh : Noegroho Soeprayitno
PT. CIBALIUNG SUMBERDAYA

SARI

PT. Cibaliung Sumberdaya merupakan badan usaha yang bergerak dibidang pertambangan
umum yang didirikan oleh PT. Antam Tbk sebagai pemegang Kuasa Pertambangan
Eksploitasi KW96PPO019 dan Austindo Resourses Corporation NL. yang berlokasi di
Kecamatan Cibaliung dan Cimanggu Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Aktifitas perusahaan seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat setempat
yang tanpa adanya perbaikan kondisi sosial ekonomi hanya akan menimbulkan kecemburuan
sosial. Disini diharapkan peran aktif dan berkelanjutan dari perusahaan.

Kondisi ekonomi lemah, kurangnya lapangan kerja, pendidikan kurang memadai serta sarana
dan prasarana serba kurang maka harus dilakukan upaya yang terencana dan sistematis
dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut. Pemberdayaan perlu dilakukan dengan
pendekatan pembangunan kemasyarakatan secara utuh yang meletakkan perusahaan menjadi
bagian dari masyarakat.

Menciptakan Harmoni dengan lingkungan masyarakat merupakan bentuk partisipasi nyata
perusahaan yang pada akhirnya masyarakat merasa ikut memiliki, ikut menjaga keamanan
dan ketertiban sehingga sangat terasa adanya ketenangan dan rasa sejuk dalam bermasyarakat.

Kata kunci : kemitraan, partisipasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN
DISEKITAR LOKASI PERTAMBANGAN
(PROYEK TAMBANG EMAS PT. CIBALIUNG SUMBERDAYA)

Oleh : Noegroho Soeprayitno

PT. CIBALIUNG SUMBERDAYA

Gambaran Umum

Daerah aktivitas pertambangan terletak di Kecamatan Cibaliung dan Cimanggu Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten. dan telah mempunyai Kuasa Pertambangan Eksploitasi
KW96PPO019 seluas 1340 hektar serta dalam tahap Konstruksi berupa menyiapkan sarana
dan prasarana, pembangunan fasilitas tambang serta fasilitas-fasilitas penunjang lainnya.
Kegiatan yang paling banyak terletak di dua desa yakni desa Padasuka dan Mangkualam yang
terletak di Kecamatan Cimanggu.

Masyarakatnya sangat agamis dan mayoritas beragama Islam. Seperti halnya kebanyakan
masyarakat agraris dan karena tingkat pendidikan yang masih rendah mereka cenderung
paternalistik dalam bermasyarakat yaitu mendengar dan mengikuti figur panutan mereka.
Figur panutan mereka bisa seorang Formal Leader ( Camat, Kades dll) atau seorang Informal
Leader ( Pemimpin Pesantren , Alim Ulama, Tokoh Masyarakat dll). Masyarakat peternalistik
sebenarnya lebih mudah diarahkan , mereka mudah memdengarkan dan mengikuti asalkan
disampaikan oleh orang orang yang dianggap sebagai panutan. Mereka lebih melihat pada
SIAPA yang menyampaikan bukan APA yang disampaikan.

Kondisi sosial ekonomi masyarakatnya masih jauh dari katagori sejahtera atau katakanlah
pada kondisi pra-sejahtera. Justru pada kondisi inilah keberadaan perusahaan pertambangan
dalam tahapan-tahapan dari eksplorasi, konstruksi sampai dengan eksploitasi produksi sangat
didambakan untuk berpartisifasi aktif dalam mengentaskan mereka dari belenggu
keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan dan keterasingan.

Pelaksana Program

PT. Cibaliung Sumberdaya berupaya melaksanakan program pemberdayaan masyarakat sudah
sejak tahap eksplorasi sampai saat ini yakni tahap konstruksi/development. Yang terus
ditingkatkan adalah bantuan-bantuan kepada masyarakat baik dari segi jumlah ataupun
jenisnya. Peningkatan ini dirasakan manfaatnya sejak dimulai eksplorasi meskipun dari yang
paling sederhanapun.

Sasaran Kegiatan

Secara garis besar sasaran diarahkan kepada bidang-bidang :
Tenaga kerja
Ekonomi mikro/usaha
Pendidikan
Keagamaan
77
Kesehatan
Budaya dan olahraga
Sosial kemasyarakatan
Lainnya

Tenaga Kerja

Sejak kehadirannya, PT. Cibaliung Sumberdaya selalu memakai tenaga-tenaga setempat baik
pada waktu pembongkaran dan pengangkutan alat-alat pemboran, pembuatan lokasi
pemboran, core box, pengadaan BBM. Hal ini dilakukan sejak dimulainya tahapan eksplorasi.
Jasa-jasa lainnya mulai meningkat baik dalam volume maupun jenis pekerjaan seiring dengan
kemajuan aktifitas.

Dengan dimulainya tahapan pembangunan maka kebutuhan tenaga lokal jauh meningkat baik
dari segi jumlah maupun level pendidikannya, termasuk perekrutan pegawai baru khususnya
dibidang tambang terowongan. Tenaga lokal yang masih muda dan segar dididik dan dilatih
di Diklat Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral baik di Sawahlunto maupun di
Bandung serta Unit Pertambangan Emas PT. Antam di Pongkor-Bogor. Penyiapan
pembangunan sarana dan prasarana (jalan, jembatan, dan akses-akses lainya) memerlukan
tenaga lokal yang terampil dan berdisiplin (menyangkut K-3). Dengan dibangunnya beberapa
fasilitas pertambangan seperti unit pengolahan, pembangunan lubang dalam/terowongan maka
pertambahan jumlah tenaga kerja meningkat dengan signifikan.

Usaha Ekonomi Mikro

Dengan bertambahnya jumlah manusia, maka kebutuhan-kebutuhan akan pangan, papan dan
fasilitas lainnya mendesak untuk ditanggulangi. Perusahaan memberikan bantuan dan uluran
tangan dengan menyewa beberapa rumah-rumah penduduk untuk dijadikan mess karyawan
ataupun kantor-kantor sementara setelah direnovasi. Koperasi Desa, toko dan warung-warung
milik penduduk setempat diberikan kesempatan untuk memasok barang-barang keperluan
sehari-hari termasuk beras, sayur-mayur, daging dll. Yang tidak kalah penting adalah
pengadaan bahan-bahan bangunan seperti batu belah, pasir dan sirtu dibeli dari kelompok-
kelompok masyarakat setempat dengan harga cukup memadai namun mutu tetap dijaga.

Pendidikan

Lokasi proyek termasuk daerah terpencil dimana tingkat pendidikan masih rendah. Bantuan
dana untuk merenovasi bangunan sarana pendidikan selalu meningkat dari tahun ketahun
termasuk bantuan tenaga-tenaga pengajar yang kadang-kadang harus didatangkan dari luar
daerah. Tidak ketinggalan adalah tambahan buku-buku pelajaran untuk menambah
pengetahuan dan kecerdasan anak didik.

Keagamaan

Bantuan fisik berupa renovasi dan perbaikan sarana ibadah baik masjid, mushola yang
tersebar dibeberapa desa dan pondok pesantren. Pengajian keliling yang dilaksanakan setiap
malam Jumat secara berkala selalu dilaksanakan diseputar lokasi proyek. Disamping
penceramah oleh tokoh/ulama setempat, secara bergiliran didatangkan mubalig dari luar
78
daerah untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Perusahaan menilai disamping ketahanan
jasmani perlu dilengkapi dengan kemantapan rohani.

Kesehatan

Perusahaan selalu memperhatikan masalah kesehatan ini. Klinik dan Puskesmas yang
dibangun oleh perusahaan, terbuka juga untuk melayani masyarakat. Secara berkala didesa-
desa sekeliling proyek diadakan pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan dan kebersihan,
Keluarga Berencana dll. Dokter dan tenaga medis selalu siap untuk pelayanan perusahaan
maupun masyarakat.

Budaya dan olahraga

Pendekatan lewat budaya dan olahraga dengan masyarakat sangat penting, mengingat aspek
ini bersifat murah, mudah dan masal. Penyediaan sarana olahraga, pertandingan persahabatn
serta pentas-pentas seni baik yang tradisional maupun yang populer sangat dibutuhkan
masyarakat sehingga program keakraban dan keharmonisan mudah tercapai.

Sosial kemasyarakatan

Dibentuknya Forum Konsultasi Kemasyarakatan yang berdiri dari unsur perusahaan, tokoh-
tokoh masyarakat(Ulama/cendekiawan) serta masyarakat umum lainnya sangat membantu
dan bermanfaat. Forum ini menjadi sarana silaturahmi dan komunikasi serta menampung
aspirasi yang datangnya dari masyarakat. Dilain pihak, perusahaan lewat forum ini dapat
melakukan sosialisasi program kerja, utamanya yang langsung berhubungan dengan
masyarakat seperti penanganan limbah, persoalan tailing, peledakan dll. Rencana-rencana
bantuan pengembangan masyarakat dapat dijelaskan dengan transparan dan akuntabel secara
timbal balik. Keinginan dan permintaan masyarakat diakomodir dengan bersifat dialog dan
diskusi untuk dicarikan solusi sesuai dengan kondisi perusahaan. Dari forum ini dilahirkan
program Bantuan untuk Rumah Sehat, Program Air Bersih, Tablig Akbar, Udara
Bersih(musim kemarau berdebu), Bantuan Ambulan, Pemadam Kebakaran dll.

Perusahaan tidak bisa menutup mata terhadap masyarakat yang kena musibah seperti gempa
bumi, kebakaran dan banjir. Bantuan berupa tenda, makanan, pakaian layak pakai dan
material bangunan sangat dirasakan untuk meringankan penderitaan.

Simpulan

Dari pokok-pokok uraian diatas dapat ditarik simpulan antara lain
Untuk perusahaan pertambangan dengan sekala produksi kecil sampai menengah,
program pengembangan wilayah perlu dimulai sejak eksplorasi sampai ketahap
produksi dan berkesinambungan.
Perusahaan terus-menerus menjaga harmoni, positif, interaktif dengan lingkungan
masyarakat untuk melanggengkan usahanya. Pengembangan wilayah adalah bentuk
nyata dari investasi sosial.
Model usaha yang tumbuh dari sejumlah kelompok kerja yang dibentuk dari organisasi atau
kelompok pemuda ada disetiap desa. Dalam satu desa bisa saja ada beberapa kelompok
nonformal tergantung dari kondisi masing-masing desa.
79
Kelompok-kelompok inilah yang nantinya diberdayakan melalui berbagai pelatihan
untuk meningkatkan minat, motivasi, pengetahuan, keterampilan, dan tambahan
modal guna mengembangkan usaha yang sudah berjalan baik.
Apa yang dilakukan pada dasarnya merupakan perwujudan dari kegiatan-kegiatan
pembangunan yang seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah. Namun demikian,
tidak berarti perusahaan mengambil alih peran pemerintah karena pelaksanaan
pengembangan kemasyarakatan bagi perusahaan merupakan tugas dalam
menjalankan misinya serta mewujudkan tanggung jawab sosialnya.
80
INDUSTRI PERTAMBANGAN UMUM
DAN KEBERLANJUTAN FISKAL:
PERANAN PT FREEPORT INDONESIA
1


Oleh:
Nuzul Achjar, Khoirunurrofik, Uka Wikarya, Ibrahim Kholilul Rohman,
Widyono Soetjipto

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat,
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI)

Abstract. External shock driven by the soaring price of crude oil in international market, along with
the hiking price of some imported agricultural products have pressured the Indonesian budget since
early first semester of 2008 fiscal year. As a net importer for crude oil, increasing price of crude oil
will give rise more subsidy for fuel and electricity. Under agriculture stabilization program,
government reduced import tariffs of some agricultural products for maintaining purchasing power of
the people. Consequently, it has made fiscal sustainability is in question. At the same time, the trends
of increasing price of general mining commodities are obvious. It is expected that general mining will
provide a contribution to maintain fiscal sustainability in the mid-term. However, fiscal sustainability
needs to be matched with environmental sustainability. The purpose of this paper is to review the role
of general mining industries on the Indonesian budget in terms of tax and non-tax payment and its
relationship with the prospect of fiscal sustainability at both national and regional level, focusing the
review with the case of copper concentrate produced by PT Freeport Indonesia (PTFI).


1. Pendahuluan
Sejak awal semester pertama tahun anggaran 2008, Anggaran Pendapatan dan Belanja negara
(APBN) mendapat tekanan karena beban subsidi yang dikuatirkan semakin meningkat akibat
meningkatnya harga minyak mentah dunia mengingat Indonesia sudah lama sebagai importir
netto. Akibatnya, asumsi-asumsi awal di dalam APBN 2008
2
yang menetapkan harga minyak
mentah US$60/barrel menjadi tidak relevan lagi sehingga harus direvisi. Bersamaan dengan
meningkatnya harga minyak mentah, di banyak negara, fokus perhatian diarahkan untuk
pengembangan energi alternatif seperti bio fuel. Hal ini menyebabkan supplai komoditas
pangan pokok dari negara-negara tersebut berkurang. Dapat dipahami jika harga komoditas
pertanian impor akan meningkat secara signifikan sehingga mempengaruhi kenaikan harga
pangan di negara tujuan termasuk Indonesia. Untuk mempertahankan daya beli masyarakat,
bea masuk impor beberapa komoditas pertanian dan bahan baku industri

1
Makalah disampaikan pada Temu Profesi Tahunan (TPT) XVII Perhapi, Hotel Horizon, Palembang, 24-25
Juli 2008.

2
APBN Tahun 2008 ditetapkan berdasarkan UU No. 45 Tahun 2007
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
makanan diturunkan dan PPN ditangggung pemerintah dengan potential loss sebesar Rp
3,3 triliun.
Pada RAPBN-P 2008, asumsi harga minyak mentah semula dinaikkan US$60/barrel
menjadi US$83/barrel, yang kemudian belakangan dinaikkan menjadi US$95/barrel, namun
tetap saja tidak mampu mengimbangi kenaikan harga minyak di pasar internasional yang
berada di atas asumsi harga yang telah ditetapkan
1
. Pertumbuhan ekonomi harus diturunkan
dari 6,8% menjadi 6,4%. Bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah, harga komoditas
pertambangan umum (mineral dan batu bara) juga cenderung meningkat.
Dengan lifting minyak mentah sebesar 0,899 juta barrel per hari, dan dengan asumsi
Indonesian Crude Oil Price (CPI) US$83/barrel, pendapatan pajak penghasilan (PPh) naik
dari Rp 41,6 triliun pada APBN 2008 menjadi Rp 46,7 triliun dalam RAPBN-P 2008,
sedangkan PPh non-migas masing-masing dari Rp 264,3 triliun menjadi Rp 250,4 triliun.
Pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari penerimaan SDA minyak bumi pada RAPBN-P
2008 diperkirakan akan mencapai Rp 122,3 triliun dari Rp 84,3 triliun yang telah ditetapkan
pada APBN 2008. Sementara itu penerimaan SDA pertambangaan umum diperkirakan akan
mencapai Rp 6,2 triliun, naik dari apa yang telah ditetapkan pada APBN 2008 sebesar Rp 5,3
triliun karena kenaikan harga komoditas pertambangan umum.
Karena diperkirakan penerimaan dari pajak dan bukan pajak migas dan pertambangan
akan naik maka dalam RAPBN-P 2008, dana perimbangan meningkat dari Rp 266,7 triliun
menjadi Rp.274,8 triliun. Dana bagi hasil sumber daya alam melonjak dari Rp 29,7 triliun
menjadi Rp 36,3 triliun di mana Rp 5,8 triliun merupakan kontribusi pertambangan umum.
Ketika lifting minyak bumi Indonesia masih menunjukkan tren menurun yang disertai pula
dengan beban subsidi yang cukup besar, beberapa langkah yang telah dan akan dilakukan
pemerintah antara lain adalah optimalisasi pendapatan serta penghematan belanja dan
efisiensi Pertamina dan PLN. Dalam kaitannya dengan industri pertambangan, pertanyaannya
adalah bagaimanakah kontribusi industri pertambangan umum terhadap keberlanjutan fiskal
(fiscal sustainability) dalam jangka menengah. Makalah ini bertujuan untuk memberikan
gambaran tentang relevansi kondisi ekonomi makro dengan industri pertambangan,
khususnya dari sisi kontribusi fiskal.
Secara khusus, makalah ini akan memberikan gambaran tentang kontribusi fiskal PT
Freeport Indonesia (PTFI) terhadap APBN serta implikasinya terhadap bagi hasil sumber daya
alam yang tidak hanya diperoleh Provinsi Papua dan Kabupaten Mimika sebagai daerah
penghasil, tetapi juga kontribusi tidak langsung kepada daerah lain di luar Papua. Pada
bagian akhir makalah ini akan diberikan catatan tentang bagaimana kontribusi industri
pertambangan umum terhadap keberlanjutan fiskal tidak melupakan keberlanjutan
pembangunan lingkungan (environmental sustainability).

1
Sampai akhir Bulan Juni 2008, harga minyak mentah dunia sudah mencapai US$130/barrel.
82
2. Value Chain Pertambangan Umum
Sebagaimana banyak disinggung di dalam analisis industri pertambangan umum, potensi
pertambangan belum mempunyai nilai intrinsik (intrinsic value) jika masih tertanam di dalam
perut bumi. Di dunia pertambangan terdapat pandangan bahwa rente ekonomi (economic rent)
muncul jika biaya ekstraksi pertambangan lebih kecil dari harga bahan pertambangan tersebut
di pasar (Davis, G.A dan J.E. Tilton, 2005). Dengan demikian di dunia pertambangan,
persoalannya adalah bagaimana semua potensi yang ada dapat diwujudkan melalui ekstraksi
dan konversi yang selanjutnya dimanfaatkan sehingga memberi nilai bagi masyarakat (Petrie,
2007).
Bahan tambang merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga
cadangan yang dieksploitasi suatu saat akan habis, dan jika tidak ditemukan cadangan yang
baru maka usaha akan tutup. Selain itu industri pertambangan bersifat padat modal dengan
waktu pengembalian investasi yang lama, resiko yang tinggi, memerlukan biaya besar untuk
pembangunan sarana dan prasarana pendukung, mengingat umumnya daerah pertambangan
terletak di daerah terpencil dengan kondisi geografis yang berat.
Nilai kepada masyarakat yang terkandung di dalam kegiatan pertambangan antara lain
tergambar dari proses mulai dari ekstraksi hingga pengolahan industri hasil pertambangan
seperti tembaga, nikel, besi dan baja, almunium, timah dan sebagainya. Sering dikatakan
bahwa industri pertambangan mempunyai keterkaitan ke depan (forward linkages) yang tinggi
dengan industri pengolahan hasil pertambangan sebagaimana telah disebutkan. Sejalan
dengan kemajuan perekonomian, kebutuhan akan industri pengolahan hasil tambang semakin
besar sehingga kegiatan ekstraktif pertambangan juga akan semakin besar.
Dilihat dari value chain industri pengolahan hasil pertambangan, dengan mengambil
contoh tembaga, secara global, bagian terbesar tembaga digunakan untuk alat listrik & bahan
elektronika, barang konsumsi tahan lama (long life consumer products), dan untuk pipa,
kawat untuk sektor konstruksi, masing-masing 24%, sedangkan dan sisanya untuk peralatan
industri lain, mobil & bahan kimia lain, masing-masing 14%, 9% dan 5% (Gambar 1).
Sebagaimana terlihat pada Gambar 1, secara global produksi tembaga mencapai 12,6 MTe,
ditambah dengan recycle to refining 1,9 Mte dan recycle to remelting 3,2 Mte (Petrie (2007).
Dalam konteks Indonesia, dengan mengambil contoh produksi konsentrat tembaga yang
dihasilkan PTFI, pada tahun 2007, perusahaan ini memproses sekitar 213 ribu ton bijih per
hari dengan kadar tembaga sebesar 0,82%, emas 1,24 gram/ton, dan perak 3,53 gram/ton.
Jumlah ini menghasilkan konsentrat rata-rata 5.549 ton per hari dengan kandungan tembaga
28,50%, emas 40,82 gram/ton, dan perak 80,82 gram/ton.
Secara keseluruhan, pada tahun 2007, PTFI menghasilkan 2 juta ton
1
konsentrat yang
mengandung sekitar 1,27 milyar pon tembaga, 2,7 juta ons emas dan 5,26 juta ons perak
2
.

1
Dry Metric Ton (DMT)
83
Produksi tahun 2007 tersebut diserap oleh pasar dalam negeri, yaitu PT Smelting Gresik,
sekitar 39% dan pasar luar negeri terutama Spanyol sebesar 25%, Jepang dan Korea 22% dan
India 6%. Selebihnya konsentrat dikirimkan ke beberapa negara lainnya seperti Filipina dan
China sebesar 8%. Penjualan konsentrat PTFI telah menghasilkan manfaat finansial langsung
bagi pemerintah Indonesia dalam bentuk pajak, royalti, dan pungutan pemerintah lainnya
sebesar US$ 1,8 milyar pada tahun anggaran 2007. Jumlah manfaat finansial langsung sejak
tahun 1992 sampai tahun 2007 telah mencapai US$ 6,9 milyar
1
.


Sumber: Petrie, J. (2007)
Gambar 1. Value chain tembaga secara global

1. Relevansi Pertambangan Umum dan Keberlanjutan Fiskal
Secara historis terlihat bahwa relevansi industri pertambangan terhadap keberlanjutan
fiskal dari sisi pendapatan terletak pada kemampuan industri pertambangan memberikan
pajak dan bukan pajak terhadap pundi-pundi pendapatan domestik sehingga sedikit banyak
dapat mengurangi ketergantungan pada sumber pendanaan dari luar negeri. Dengan demikian
maka kontribusi industri pertambangan umum tidak dapat diabaikan begitu saja. Dalam
konteks otonomi daerah, keberlanjutan fiskal akan tergambar dari pendapatan daerah yang
tidak terlalu tergatung dari transfer ataupun pinjaman dari pemerintah pusat kepada daerah
(Bird 2003).

1
Berdasarkan tahun dilakukannya pembayaran (cash basis)
84
Dampak fiskal dari aktivitas pertambangan adalah besarnya kontribusi fiskal yang
dibayarkan oleh perusahaan pertambangan kepada pemerintah pusat maupun daerah.
Kontribusi fiskal ini akan mempengaruhi besarnya APBN, APBD Provinsi dan APBD
Kabupaten/Kota penghasil di daerah operasional sesuai dengan proporsi dan aturan yang
berlaku.
Sesuai dengan kontrak karya antara pemerintah pusat dan perusahaan, maka perusahaan
berkewajiban melakukan pembayaran dalam kategori pajak dan bukan pajak terhadap negara
sesuai dengan aturan yang berlaku. Kontribusi pembayaran ini tersebar ke beberapa tingkatan
pemerintahan, yaitu pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten. Pajak
dan kewajiban lain yang harus dibayar antara lain adalah: a) iuran tetap (deadrent) untuk
wilayah kontrak kerja; b) iuran eksploitasi (royalti) untuk mineral yang diproduksi; c) PPh
Badan; d) PPh Karyawan (PPh 21); e) PPh atas dividen, bunga, sewa, royalti, dan premi
asuransi; f) PPN dan PPNBM; g) bea materai atas dokumen-dokumen; h) bea masuk atas
barang yang diimpor; i) PBB; j) pungutan dan pajak yang dikenakan oleh pemerintah daerah
yang disetujui oleh pemerintah pusat; k) pungutan administrasi untuk fasilitas, jasa atau hak-
hak khusus yang diberikan pemerintah sepanjang pembebanan itu disetujui oleh pemerintah
pusat; dan l) bea balik nama atas hak kepemilikan kendaraan bermotor dan kapal-kapal di
Indonesia.
Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah,
bagian daerah dari penerimaan sumber daya alam sektor pertambangan umum (pertambangan
mineral dan batubara) meliputi: a) iuran tetap (landrent), dan b) iuran eksplorasi dan iuran
eksploitasi (royalti). Landrent atau deadrent adalah suatu pembayaran tahunan kepada
pemerintah dalam rupiah atau satuan mata uang lain yang disetujui bersama oleh Pemerintah
dan perusahaan pertambangan, yang diukur berdasarkan jumlah hektar tergantung dalam
kontrak atau area pertambangan masing-masing. Sesuai dengan undang-undang, bagian
daerah dari landrent adalah sebesar 80% dengan rincian 16% untuk provinsi yang
bersangkutan dan 64% untuk kabupaten/kota penghasil. Sedangkan royalti adalah
pembayaran kepada pemerintah berkenaan produksi mineral yang berasal dari area
penambangan. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka bagian daerah dari royalti adalah
sebesar 80% dengan rincian 16% untuk provinsi yang bersangkutan, 32% untuk
kabupaten/kota penghasil, dan 32% untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang
bersangkutan.
Sebagai perbandingan, di Chile, pajak yang dibayar oleh perusahaan pertambangan
(tembaga) diterima oleh Pemerintah Pusat sehingga dampak fiskalnya tidak dirasakan di
daerah penghasil (Aroca, 2003). Daerah penghasil hanya menerima penuh mining patent
semacam landrent yang dibayar tiap tahun sesuai luas lahan yang digunakan oleh perusahaan
pertambangan di Chile. Mining patent ini dibagikan kepada pemerintah daerah dan National
Fund of Regional Development (FNDR) untuk membiayai proyek pembangunan di daerah
bersangkutan.
85
4. Kontribusi Industri Pertambangan Umum
Kontribusi nilai tambah industri pertambangan umum dalam Produk Domestik Bruto
(PDB) - harga berlaku Indonesia pada tahun 2007 mencapai 4,05%. Angka ini merupakan
peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 3,91% (Tabel 1). Salah satu
penyebab dari kenaikan kontribusi pertambangan umum ini terutama karena kenaikan harga,
di samping juga karena kenaikan produksi. Harga komoditas pertambangan umum terus
mengalami peningkatan sejak tahun 2003 (Tabel 2 dan Gambar 2). Kontribusi subsektor
pertambangan umum terhadap PDB Indonesia diperkirakan tidak akan jauh berbeda pada
tahun 2008 mengingat harga komoditas pertambangan umum yang masih tetap tinggi.

Tabel 1
Kontribusi Sektor Pertambangan terhadap PDB
Berdasarkan harga berlaku (%)

No Sektor 2005 2006 2007
1 Pertanian 13.20% 12.99% 13.83%
2 Pertambangan dan Penggalian 11.14% 10.97% 11.14%
2.1 - Minyak dan Gas 6.40% 5.99% 5.92%
2.2 - Non Minyak dan Gas 3.77% 3.91% 4.05%
2.3 - Penggalian 0.97% 1.07% 1.17%
3 Industri Manufaktur 27.39% 27.54% 27.01%
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0.96% 0.91% 0.88%
5 Konstruksi 7.02% 7.52% 7.70%
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 15.58% 15.02% 14.93%
7 Transportasi dan Komunikasi 6.49% 6.94% 6.70%
8 Jasa Keuangan dan Jasa Perusahaan 8.31% 8.06% 7.72%
9 Jasa-Jasa Umum 9.96% 10.06% 10.10%
Sumber: CEIC (2008), diolah

Kinerja ekspor hasil pertambangan umum menunjukkan perkembangan yang terus
meningkat. Nilai total ekspor hasil pertambangan umum nasional pada tahun 2007
dipekirakan mencapai kurang lebih US$ 15.9 milyar
1
. Nilai ekspor sektor pertambangan
tersebut merupakan 13.7% dari seluruh eskpor barang Indonesia (Tabel 3) dengan
pertumbuhan ekspor 12.8%.





1
Nilai ekspor tersebut merupakan merupakan estimasi berdasarkan nilai ekspor hingga September 2007 yang mencapai US$
11.9 milyar. Di sini diasumsikan pertumbuhan ekspor selama Okotober-Desember 2007 mengikuti pola sebelumnya
sehingga diperoleh nilai ekspor US$ 15.9 milyar selama tahun 2007.
86
Tabel 2
Harga Komoditas Pertambangan Dunia

Hasil
Tambang
Harga/Unit 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

2007
Batubara US$/ton 28.75 34.50 28.85 26.75 44.00 53.00 52.50 55.65
Tembaga US$/lb 0.78 0.72 0.71 0.81 1.30 1.67 3.05 3.24
Emas US$/oz 279.10 271.00 309.80 363.30 409.72 444.74 603.46 695.39
Nikel US$/lb 3.69 2.70 3.07 4.37 6.28 6.68 11.02 17.28
Timah US$/lb 2.33 2.03 1.84 2.14 3.84 3.44 3.62 7.26
Sumber : Mine Indonesia 2007, PwC

0
10
20
30
40
50
60
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
U
S
$
p
e
r

u
n
i
t

Batu bara
Tembaga

Gambar 2. Harga beberapa komoditas pertambangan tahun 2000-2007 (US$/unit)

Berdasarkan ekspor komoditas utama, pada tahun 2007, ekspor pertambangan umum
memberi kontribusi sebesar 17.8% terhadap total ekspor nasional, yang berarti mengalami
peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 16.61%1. Tembaga dan batubara masih menjadi

1
Ekspor total didapatkan dari data PDB berdasarkan pengeluaran (expenditure). Menggunakan klasifikasi BPS yang
memuat 50 komoditas utama Indonesia. Secara rata-rata kategorisasi ekspor berdasarkan komoditas (major commodities)
memiliki porsi 80.17% terhadap total ekspor barang Indonesia pada tahun 2001-2007
Timah
Nikel
87
memiliki rata-rata pertumbuhan nilai eskpor sepanjang 2001-2007 sebesar masing-masing
23.14 % dan 27.55%.

Tabel 3
Nilai Ekspor Komoditas Pertambangan Umum di Indonesia,
Tahun 2001-2007 (Juta US$/Milyar Rp)
Jenis Komoditas 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007*
Bijih Tembaga 1,585 1,756 1,855 1,802 3,311 4,646 4,705
Nikel 55 51 60 108 140 218 640
Bauksit 12 21 19 123 24 58 117
Batubara 1,618 1,762 1,980 2,749 4,354 6,086 6,513
Timah 193 224 296 618 921 927 1,313
Mette Nikel 160 3 195 726 927 1,266 2,629
Total Pertamb. Umum
(juta US$) 3,624 3,817 4,404 6,126 9,677 13,201 15,917
Total Pertamb. Umum
(Rp Milyar) 37,201 35,353 37,751 55,040 94,352 120,670 145,447
Total Ekspor Indonesia
(Rp Milyar) 580,832 535,233 554,868 671,876 852,881 942,980 1,063,538
Rasio Ekspor Pertamb,/
Total Ekspor Indonesia 6.4% 6.6% 6.8% 8.2% 11.1% 12.8% 13.7%
Sumber : CEIC (Ekspor Indonesia Berdasarkan komoditas utama), 2008
Catatan : *)2007 sampai dengan September

Menurut studi PriceWaterhouseCoopers (PWC) tahun 2007, subsektor Pertambangan
Umum menyumbangkan lebih dari US$ 3,4 milyar (5,3%) terhadap realisasi penerimaan
dalam negeri APBN tahun 2006 atau rata-rata sebesar US$ 1,3 milyar tiap tahun sejak 1999.
Jumlah kontribusi subsektor ini diperkirakan mengalami peningkatan pada tahun 2006 seiring
dengan meningkatnya harga komoditas tambang di pasar dunia selama tahun tersebut.
Kontribusi fiskal PTFI terhadap APBN pada tahun 2006 dan 2007 masing-masing
mencapai Rp 14,58 trilyun dan Rp 16,50 trilyun atau masing-masing sekitar 2,23% dan 2,34%
dari total APBN. Angka ini menunjukkan peningkatan dindingkan dengan tahun 2005 yang
mencapai 1,69%. Secara total penerimaan negara dari PTFI pada lima tahun terakhir (2003
2007) telah mencapai Rp 44,59 trilyun (Tabel 4). Berdasarkan Tabel 4, jika diperinci lebih
lanjut, pada tahun 2006 dan 2007 bagian terbesar kontribusi PTFI adalah dalam bentuk
pembayaran pajak masing-masing Rp 11,79 trilyun dan Rp 13,02 triliun atau masing-masing
79,8% dan 77,9% dari total pembayaran kepada pemerintah. Sejak tahun 2005 hingga 2007,
pembayaran PNBP non-SDA menempati urutan kedua terbesar, disusul oleh pembayaran
PNBP SDA.
88
Tabel 4.
Kontribusi Pajak dan PNBP PTFI kepada Pemerintah Pusat (Rp Triliun)
2003 2004 2005 2006 2007 Total
1. Pembayaran Pajak 2,503.5 1,871.4 6,498.1 11,791.6 13,020.3 35,684.9
2. PNBP SDA 310.1 339.7 783.5 1,335.6 1,508.4 4,277.2
3. PNBP Non SDA 43.8 84.6 1,069.6 1,459.8 1,979.8 4,637.6
Total Pembayaran 2,857.4 2,295.8 8,351.2 14,587.0 16,508.4 44,599.8
Sumber: LPEM-FEUI (2008)

Kontribusi PTFI kepada penerimaan negara diperkirakan akan berdampak juga kepada
pengeluaran negara dalam bentuk belanja daerah sebesar Rp 5,88 trilyun (35,62% ) pada
APBN tahun 2007. Belanja tersebut diimplentasikan dalam bentuk transfer ke daerah berupa
Bagi Hasil Pajak dan SDA, Dana Alokasi Umum, serta Dana Alokasi Khusus dan Dana
Otonomi Khusus dengan masing-masing memiliki porsi sebesar 23,15%; 73,00%; 2,95%; dan
0,90 %.
Estimasi total penerimaan tahun 2007 bagi daerah-daerah di Provinsi Papua baik bagi
APBD Provinsi Papua, APBD Kabupaten Mimika, dan Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi
Papua adalah sebesar Rp 1,69 trilyun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 341.0 milyar (20,22%)
diperkirakan diterima APBD Provinsi Papua dan sekitar Rp. 605,4 milyar (35,89%) masuk ke
dalam APBD Kabupaten Mimika. Sedangkan sisanya (43,89%) didistribusikan ke
Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Papua.
Dampak fiskal yang diciptakan oleh PTFI tidak hanya akan dinikmati oleh daerah Papua,
namun juga akan diterima oleh daerah lain melalui mekanisme transfer dalam bentuk Dana
Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dampak fiskal terbesar tentu akan
dinikmati oleh Pulau Papua sebagai daerah penghasil melalui Dana Bagi Hasil. Pulau Jawa
dan Sumatera juga menerima dampak fiskal PTFI yang relatif besar dikarenakan besarnya
jumlah alokasi DAU dan DAK yang diterima di kedua pulau tersbut (Gambar 2).
89
90
Gambar 2. Peta Distribusi Dampak Fiskal PTFI
Besarnya jumlah penduduk di Jawa dan Sumatera mempengaruhi besarnya penerimaan
DAU bagi kedua daerah tersebut. Hasil perhitungan pada tahun 2007 menunjukkan bahwa
dampak fiskal PTFI dalam bentuk transfer dari pusat ke daerah (BHSDA, BHP, DAU, DAK,
Dana Otonomi Khusus) sebagian besar diperoleh oleh Papua, Jawa dan Sumatera yang
masng-masing mendapatkan sekitar 29%, 28% dan 19 %. Sedangkan dampak fiskal PTFI
yang diterima oleh Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku masih dalam kisaran
dibawah 10%.

1. Catatan Penutup
Di tengah tekanan berat yang dihadapi APBN karena subsidi yang makin besar akibat
gejolak eksternal khususnya kenaikan harga minyak mentah dan kenaikan harga komoditas
pertanian untuk konsumsi domestik, industri pertambangan umum sesungguhnya dapat
berperan terhadap keberlanjutan fiskal dari sisi penerimaan, walaupun secara nominal
peranannya masih di bawah pertambangan minyak dan gas. Hal terlihat dari kontribusi pajak
dan PNBP industri pertambangan yang cenderung meningkat terhadap penerimaan dalam
negeri.
Jika perhatian difokuskan pada peranan PTFI sebagai salah satu perusahaan pertambangan,
maka relevansi keberlanjutan fiskal serta langkah pemerintah dalam optimalisasi pajak, tidak
hanya terasa dalam konteks nasional tetapi juga sekaligus keberlanjutan fiskal Provinsi Papua
dan Kabupaten Mimika sebagai daerah penghasil. Dalam beberapa tahun terakhir, PTFI telah
memberikan kontribusi fiskal yang tidak kecil, baik bagi pemerintah pusat maupun daerah.
Kontribusi fiskal PTFI yang berkesinambungan tersebut sangat diperlukan oleh negara untuk
meningkatkan penerimaan APBN, APBD Papua, APBD Kabupaten Mimika, bahkan APBD
Kabupaten/kota lainnya di Papua. Walaupun demikian,
catatan penting perlu dikemukan adalah bahwa menjaga keberlanjutan fiskal tidak harus
mengorbankan keberlanjutan kualitas lingkungan hidup. Keduanya dapat dilakukan secara
bersamaan dengan langkah yang tepat. Konsekuensi untuk menjaga keberlanjutan fiskal dari
industri pertambangan antara lain adalah dengan memelihara suasana yang kondusif dalam
kegiatan pertambangan.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, persektif yang muncul pada World Summit
on Sustainable Development (WSSD) di Afrika Selatan pada tahun 2003 relevan untuk
diperhatikan. Pengentasan kemiskinan tidak dapat dilakukan semata-mata hanya dengan
menjaga lingkungan alam, namun memerlukan intervensi sistem ekonomi. Artinya, industri
pertambangan tetap harus concern dengan upaya untuk mendorong keberdayaan masyarakat,
termasuk akses yang mampu diperoleh (affordable) masyarakat terhadap sumber daya alam
(air, energi dan mineral) sebagai bagian esensial dalam memenuhi kebutuhan dasar
masyarakat (Petrie, 2007).
Untuk menjamin agar kegiatan industri pertambangan termasuk PTFI tidak melalaikan
kewajibannya dalam membayar pajak dan bukan pajak serta menjaga keberlanjutan
lingkungan, termasuk kegiatan pengembangan masyarakat (corporate social responsibilty),
maka sudah selayaknya diantara masyarakat yang memahami persoalan pertambangan ikut
memonitor atau mengawasi aktivitas perusahaan pertambangan, termasuk PTFI. Jika memang
telah terjadi tindakan yang merugikan kepentingan-kepentingan tersebut di atas maka sudah
seharusnya membawanya melalui jalur hukum yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA
Aroca, Patricio (2003), Impacts and development in local economies based on mining:
the case of the Chilean II region. Resources Policy 27 (2001) 119134

Bird, Richard (2003). Fiscal Flows, Fiscal Balance, and Fiscal Sustainability. World Bank
Institute, Washington, DC.

Davis, Graham A. dan J. E. Tilton (2005). The Resource curse. Natural Resources Forum 29:
233-242.

LPEM-FEUI (2008). Studi Dampak Ekonomi dan Fiskal PT Freeport Indonesia: Update
2007.

Petrie, J. (2007). Process safety and environmental protection. Trans IChemE, Part B,
January.

Republik Indonesia (2008). Nota Keuangan dan Rancangan Undang-undang RI Tentang
Perubahan atas UU No. 45 Tahun 2007, Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Tahun Anggaran 2008.
91
PENGARUH KEBIJAKAN PEMERINTAH (GOVERNMENT POLICIES)
DAN POTENSI MINERAL (MINERAL POTENTIAL) TERHADAP
INVESTASI PADA INDUSTRI TAMBANG INDONESIA DAN TURKEY

By: Perisai Ginting
(PT INCO)

Abstrak
Indonesia dan Turkey memiliki kesamaan dalam hal sumber daya mineral yang
melimpah dengan adanya geography yang mendukung. Survey Tahunan oleh Fraser Institute
pada tahun 2007/2008 membedakan minat investasi di kedua negara ini. Konsep untuk survey
ini adalah melihat kebijakan pemerintah (government policies) dan potensi mineral (mineral
potential) mempengaruhi investasi baru di bidang eksplorasi (exploration investment).
Kebijakan pemerintah diukur dengan Policy Potential Index (PPI) sementara potensi mineral
diukur dengan Current Mineral Potential. Survey ini dilakukan di 68 negara di seluruh
dunia termasuk Negara bagian (sub-national) di Kanada, Australia, dan United States.
The Fraser Institute adalah lembaga independent penelitian dan organisasi pendidikan
berkedudukan di Kanada. Survey tahunan yang dilakukan The Fraser Institute pada
perusahaan tambang dikirimkan kepada 3000 perusahaan eksplorasi dan perusahaan tambang
di seluruh dunia. Survey ini mewakili tanggapan 372 perusahaan yang telah melaporkan
biaya eksplorasi (exploration spending) sebesar US$1.48 billion pada 2007 dan US$980
million pada 2006.
Policy Potential Index (PPI) adalah indeks komposit yang mengukur pesona
kebijakan pemerintah (policy attractiveness) pada 68 negara yang disurvey. Nilai maksimum
PPI adalah 100. Semakin tinggi index PPI berarti policy di Negara tersebut semakin
medukung iklim investasi (encourage investment). Nilai tertinggi diperoleh Quebec (Negara
bagian Kanada), Finlandia, Alberta (Negara bagian Kanada), Manitoba (Negara bagian
Kanada), Chile, Utah (Negara bagian Amerika), Wyoming (Negara bagian Amerika), Irlandia,
dan Swedia. Sementara nilai terrendah diperoleh Honduras, Zimbabwe, Ecuador, Panama,
Bolivia, India, Indonesia, Mongolia, Philippines, dan Venezuela.
Survey selanjutnya adalah Current Mineral Potential, dinilai berdasarkan jawaban
responden mengenai potensi mineral di bawah kebijakan pemerintah saat ini (under the
current policy environment). Mexico, Quebec, Chile, Burkina Faso (Afrika), dan South
Australia memiliki nilai tertinggi. Nilai terrendah diperoleh Venezuela, Zimbabwe, Montana
(Amerika), Wisconsin (Amerika) dan Ecuador.
Best Practices Mineral Potential Index merupakan potensi mineral pada negara-
negara yang disurvey dengan mengasumsikan kebijakan pemerintah adalah best practices.
Dengan kata lain index ini adalah murni potensi mineral karena mengasumsikan kebijakan
pemerintah adalah best practice. Negara Indonesia yang berada di lapisan bawah untuk
kebijakan pemerintah (policy environment) tetapi dapat berada pada lapisan atas untuk
pesona investasi (investment attractiveness) dengan mengasumsikan best policy.
Selain Indonesia, ada Russia, Brazil, Ghana, Philippines, Minnesota (Amerika), dan
PapuaNewGuinea..
SURVEY
COUNTRY
Policy Political
Index (PPI)
Current Mineral
Potential Index
(CMPI)
Best Practices
Mineral Potential Index
(BMPI)
Room to
Improvement
Composite PPI &
BMPI
Indonesia 14.2%/62 48%/48 100%/1 52%/11 65%/20
Filipina 19.4%/60 44%/52 100%/1 56%/1 68%/18
Turkey 35.7%/47 64%/32 92%/29 28%/27 70%/13
Quebec (Canada) 97%/1 88%/2 98%/1 10%/58 98%/1
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
PENDAHULUAN

Indonesia dan Turkey memiliki kesamaan dalam hal sumber daya mineral yang
melimpah dengan adanya geography yang mendukung.
Survey Tahunan oleh Fraser Institute pada tahun 2007/2008 membedakan minat
investasi di kedua negara ini. Konsep untuk survey ini adalah melihat kebijakan pemerintah
(government policies) dan potensi mineral (mineral potential) mempengaruhi investasi baru
di bidang eksplorasi (exploration investment). Kebijakan pemerintah diukur dengan Policy
Potential Index (PPI) sementara potensi mineral diukur dengan Current Mineral Potential.
The Fraser Institute adalah lembaga independent penelitian dan organisasi pendidikan
(an independent research and educational organization) berkedudukan di Kanada. The Fraser
Institute memiliki kantor cabang di Calgary, Montreal, Toronto dan Vancouver. Sebagai
tambahan, The Fraser Institute memiliki penelitian aktif di 70 negara. Survey tahunan yang
dilakukan The Fraser Institute pada perusahaan tambang dikirimkan kepada 3000 perusahaan
eksplorasi dan perusahaan tambang di seluruh dunia. Beberapa publikasi dan asosiasi juga
telah mendukung survey ini. Survey ini mewakili tanggapan 372 perusahaan yang telah
melaporkan biaya eksplorasi (exploration spending) sebesar US$1.48 billion pada 2007 dan
US$980 million pada 2006. Dengan demikian survey ini mewakili 14.8 persen total global
eksplorasi US$9.99 billion in 2007 dan 13.7 persen dari US$7.13 billion pada 2006
(dilaporkan oleh Metals Economics Group).
Sejak 1997, The Fraser Institute telah melakukan annual survey untuk perusahaan
pertambangan logam dan eksplorasi untuk menilai bagaimana mineral dan kebijakan
pemerintah seperti pajak dan peraturan (taxation and regulation) mempengaruhi investasi.
Hasil survey mewakili opini para eksekutif dan manager di perusahaan tambang dan
eksplorasi termasuk konsultan tambang di seluruh dunia. Survey ini dilakukan di 68 negara di
seluruh dunia termasuk Negara bagian (sub-national) di Kanada, Australia, dan United States.
Policy Potential Index (PPI) adalah indeks komposit yang mengukur pesona
kebijakan pemerintah (policy attractiveness) pada 68 negara yang disurvey (lihat Gambar-
1/Figure-1). Nilai maksimum PPI adalah 100. Nilai 100 berarti investor tertarik dengan
kebijakan pemerintah (encourage investment). Nilai tertinggi diperoleh Quebec (Negara
bagian Kanada), Finlandia, Alberta (Negara bagian Kanada), Manitoba (Negara bagian
Kanada), Chile, Utah (Negara bagian Amerika), Wyoming (Negara bagian Amerika), Irlandia,
dan Swedia. Sementara nilai terrendah diperoleh Honduras, Zimbabwe, Ecuador, Panama,
Bolivia, India, Indonesia, Mongolia, Philippines, dan Venezuela.
Survey selanjutnya adalah Current Mineral Potential, dinilai berdasarkan jawaban
responden mengenai potensi mineral di bawah kebijakan pemerintah saat ini (under the
current policy environment). Dengan demikian negara yang mempunyai nilai tinggi untuk
policy potential index (PPI) tetapi terbatas pada sumber daya mineral akan mempunyai nilai
rendah untuk Current Mineral Potential Index,, Sementara jika Negara tersebut memiliki
kebijakan yang lemah terhadap industri tambang (a weak policy environment) tetapi dengan
potensi mineral yang baik akan mempunyai nilai Current Mineral Potential yang lebih baik.
Namun, ada tumpang-tindih (overlap) antara nilai Current Mineral Potential dengan Policy
Potential Index, karena kebijakan yang bagus akan mendorong eksplorasi yang akan
meningkatkan potensi mineral. Mexico, Quebec, Chile, Burkina Faso (Afrika), dan South
Australia memiliki nilai tertinggi. Nilai terrendah diperoleh Venezuela, Zimbabwe, Montana
(Amerika), Wisconsin (Amerika) dan Ecuador (lihat gambar-2/Figure-2).

93
Best Practices Mineral Potential Index
Gambar-3 (Figure 3) memperlihatkan potensi mineral pada negara-negara yang
disurvey dengan mengasumsikan kebijakan pemerintah adalah best practices. Dengan kata
lain gambar ini adalah murni potensi mineral karena mengasumsikan kebijakan pemerintah
adalah best practice. Gambar-3 ini menunjukkan Negara Indonesia yang berada di
lapisan bawah untuk kebijakan pemerintah (policy environment) tetapi dapat berada
pada lapisan atas untuk pesona investasi (investment attractiveness) dengan
mengasumsikan best policy. Selain Indonesia, ada Russia, Brazil, Ghana, Philippines,
Minnesota (Amerika), dan PapuaNewGuinea..

Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan posisi berdasarkan nilai survey antara negara
Indonesia dengan Turkey:

SURVEY
COUNTRY
Policy
Political
Index (PPI)
Current Mineral
Potential Index
(CMPI)
Best Practices
Mineral Potential
Index (BMPI)
Room to
Improvement
Composite
PPI & BMPI
Indonesia 14.2%/62 48%/48 100%/1 52%/11 65%/20
Filipina 19.4%/60 44%/52 100%/1 56%/1 68%/18
Turkey 35.7%/47 64%/32 92%/29 28%/27 70%/13
Quebec (Canada) 97%/1 88%/2 98%/1 10%/58 98%/1

94
95
96
97
98
. Composite Policy and Mineral
Indeks composite merupakan kombinasi Policy Potential Index dan Mineral Potential Index.
Persentase Indeks Policy sebesar 40 persen dan 60 persen untuk mineral potensial. Ratio ini
berdasarkan pertanyaaan survey (relative importance of each factor).
99
B. Hasil Survey Secara Detail
Ada 13 kebijakan (policy) yang berkontribusi terhadap keinginan investor untuk
menanamkan modal di bidang eksplorasi termasuk diantaranya ketersediaan tenaga kerja
terampil (availability of labor and skills). Responden akan memberikan penilaian dari 1
sampai 5:
1 = encourages exploration investment (mendukung investasi)
2 = not a deterrent to exploration investment
3 = mild deterrent to exploration investment
4 = strong deterrent to exploration investment (tidak mendukung investasi)
5 = would not pursue exploration investment in this region due to this factor
Berikut adalah 13 faktor yang menjadi sumber penilaian:
1. Uncertainty concerning the administration, interpretation, and enforcement of existing
regulations
2. Environmental regulations
3. Regulatory duplication and inconsistencies (including federal/provincial or
federal/state and interdepartmental overlap)
4. Taxation regime (including personal, corporate, payroll, capital taxes, and the
complexity associated with tax compliance)
5. Uncertainty concerning native land claims
6. Uncertainty concerning which areas will be protected as wilderness or parks
7. Infrastructure
8. Socioeconomic agreements
9. Political stability
10. Labor regulation/employment agreements
11. Geological database (including quality and scale of maps and ease of access to
information)
12. Security
13. Availability of labor/skills

C. Kebijakan Pemerintah Indonesia di Bidang Pertambangan khususnya di PT INCO

PT Inco memiliki Program manajemen risiko dimulai dengan evaluasi untuk mengidentifikasi
dan memperingkat semua risiko yang signifikan termasuk identifikasi kontrol yang tepat
untuk mengatasi potensi risiko tersebut setiap tahun. Evaluasi ini akan
Kinerja keuangan dan operasional PT Inco dipengaruhi oleh berbagai risiko yang terkadang
berada di luar kendali perusahaan. Berikut ini diskusi mengenai risiko-risiko yang paling
penting dan bagaimana kami mengelola risiko-risiko tersebut atau meminimalkan dampak
dari risiko yang berada di luar kendali kami.
Risiko Struktural
Seluruh operasi dan aset material PT Inco berada di Indonesia. Kinerja perusahaan dapat
dipengaruhi oleh risiko-risiko tertentu yang berkaitan dengan fakta ini dan berada di luar
kendali kami. Beberapa contoh risiko tersebut mencakup ketidakstabilan sosial dan terorisme;
ketidakstabilan politik, ekonomi dan hukum yang disebabkan oleh terjadinya perubahan
dalam kebijakan pemerintah dan aplikasi yang tidak konsisten dari jurisdiksi pemerintah;
peristiwa-peristiwa geofisika seperti banjir, lumpur, gempa bumi; dan peristiwa-peristiwa
geopolitik seperti resesi ekonomi global. Terjadinya salah satu peristiwa ini dapat sangat
mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil operasional PT Inco; mengikis kepercayaan
100
investor terhadap Indonesia; dan menyebabkan nilai saham turun secara signifikan.
Contoh nyata dari risiko demikian yang dihadapi perusahaan adalah undang-undang
No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan (uu Kehutanan), yang membatasi penambangan
terbuka dan beberapa kegiatan lain di wilayah yang ditetapkan sebagai hutan lindung.
Namun demikian, uu Kehutanan ini tidak memiliki ketentuan peralihan bagi kontrak, lisensi
dan ijin-ijin lain di wilayah hutan yang telah ada sebelumnya, seperti Kontrak Karya PT Inco
dengan Pemerintah Indonesia. Sebagai akibatnya, bagian yang cukup signifikan dari wilayah
Kontrak Karya PT Inco termasuk dalam wilayah hutan yang dilindungi. untuk menghindari
ketidakpastian hukum dan memastikan prinsip hukum bahwa suatu undang-undang tidak
berpengaruh secara retroaktif, pemerintah Indonesia menerbitkan undang-undang No. 19
tahun 2004 yang mengatur bahwa semua kontrak atau lisensi pertambangan yang telah
disepakati atau diterbitkan sebelum uu Kehutanan akan tetap berlaku sampai tanggal
berakhirnya.
Sebuah Keputusan Presiden yang diterbitkan pada tahun yang sama memperkuat isi uu
No. 19 tahun 2004 bagi beberapa lisensi dan kontrak pertambangan tertentu (termasuk PT
Inco) dan mengijinkan perusahaan-perusahaan tambang tersebut untuk meneruskan kegiatan
pertambangan di wilayah hutan yang dilindungi, di bawah ketentuan ijin pinjam pakai.
Pada bulan September 2004, Menteri Kehutanan mengeluarkan peraturan (Peraturan
Kehutanan) yang berimplikasi pada penerapan persyaratan baru bagi PT Inco dalam
melakukan kegiatan operasional di wilayah hutan yang dilindungi, termasuk persyaratan
untuk mengajukan permohonan lisensi tambahan (yaitu ijin pinjam pakai).
Inisiatif pemerintah yang dapat menghambat kemampuan PT Inco untuk melakukan
penambangan di wilayah tertentu dapat menghambat aktivitas pertambangan PT Inco,
mengurangi perkiraan cadangan bijih dan sumber daya secara drastis dan berpengaruh negatif
pada rencana jangka panjang penambangan dan investasi barang modal. PT Inco percaya
bahwa Kontrak Karya telah memberikan segala otorisasi yang diperlukan untuk melakukan
kegiatan pertambangan di wilayah Kontrak Karya tersebut. Kami terus mengembangkan
hubungan baik dengan berbagai kelompok dan organisasi untuk memastikan hak
penambangan kami dihormati.

Risiko Kontrak Karya.
Kontrak Karya PT Inco adalah landasan dasar hukum bagi PT INCO dalam berbisnis.
Rancangan undang-undang Pertambangan baru yang telah diajukan ke DPR, tetapi Rancangan
ini mengindikasikan kemungkinan penghapusan sistem Kontrak Karya yang akan berakhir
pada akhir tahun 2025. Jika tidak dapat diperpanjang atau diperbaharui atau diijinkan untuk
melakukan penambangan setelah tahun 2025, maka bisnis PT INCO akan berakhir dan hal ini
akan berpengaruh secara drastis pada rencana-rencana penambangan dan investasi barang
modal PT INCO saat ini.
Kontrak Karya PT INCO mencakup beberapa kegiatan pengembangan sehubungan dengan
wilayah Kontrak Karya. Jika, oleh sebab apa pun, PT INCO tidak dapat memenuhi
kesepakatan ini, PT INCO dapat dianggap melanggar Kontrak Karya dan dapat menghadapi
risiko sanksi administratif. Sebagai contoh, untuk memenuhi kesepakatan PT INCO dalam
pengembangan daerah Pomalaa, PT Inco menandatangani perjanjian kerjasama penyediaan
sumber daya dengan PT Antam Tbk (PT Antam), yang mana PT Inco setuju untuk
mengirim sekitar satu juta metrik ton bijih basah per tahun kepada PT Antam dari daerah
Pomalaa per tahun. Jika PT Antam memutuskan perjanjian ini, PT Inco akan diharuskan
untuk menemukan alternatif lain untuk memenuhi kesepakatan Kontrak Karya. Namun
demikian, PT Inco berharap bahwa perjanjian ini tidak akan diputuskan dengan pertimbangan
101
bahwa PT Antam dapat mempertahankan cadangan bijihnya.
Risiko Pemasaran. Seluruh produksi nikel dalam matte PT Inco terikat pada komitment
untuk dijual kepada Vale Inco dan Sumitomo berdasarkan perjanjian penjualan jangka
panjang bersifat wajibdibeli yang dinyatakan dalam mata uang dolar Amerika Serikat,
yang akan berakhir pada tahun 2025 kecuali diperpanjang, dimodifikasi, atau diperbaharui.
Pada perjanjian Kontrak Karya PT Inco, yaitu perjanjian dengan Pemerintah Indonesia yang
memungkinkan PT Inco menambang dan memproduksi nikel dalam matte. Mengingat
kontrak penjualan PT Inco yang bersifat wajib-dibeli maka risiko pemasarkan menjadi
minimum.

D. Perubahan Undang-Undang Yang Mempengaruhi Bisnis PT Inco
Kontrak Karya Persetujuan Perpanjangan. Kontrak Karya PT Inco adalah landasaran dasar
hukum dalam berbisnis. Kontrak Karya pertama yang ditandatangani pada tanggal 27 July
1968 (Kontrak 1968). Pada tanggal 15 Januari 1996, Perusahaan dan Pemerintah
menandatangai Persetujuan Perubahan dan Perpanjangan Kontrak Karya 1968 (Persetujuan
Perpanjangan) yang memperpanjang izin operasi Perusahaan sampai tahun 2025. Persetujuan
Perpanjangan dapat diperpanjang lagi setelah tahun 2025 berdasarkan persetujuan
Pemerintah.

Berikut adalah perubahan-perubahan prinsip dalam Persetujuan
Royalti. Terhitung sejak tanggal 1 April 2008, untuk royalti bijih nikel (garnierite)
akan dibayarkan berdasarkan tarif tetap sebesar $70,00/$78,00 per ton, tergantung jumlah
produksi.
Sewa Tanah. Terhitung sejak tanggal 1 April 2008, tarif sewa tanah per tahun akan
naik menjadi $1,5 per hektar dari $1 per hektar.
Depresiasi.Aset yang tidakberhubungan dengan kegiatan ekspansi untuk memenuhi
kesepakatan dalam Persetujuan Perpanjangan dan digunakan setelah tanggal 31 Maret 2008
dapat memiliki metode depresiasi yang berbeda dari metode saat ini.
Dividen. Peraturan pemotongan pajak atas dividen yang dibayarkan kepada pemegang
saham pendiri akan dimulai, dalam kondisi dan jangka waktu tertentu.
Pajak tanah dan bangunan. Terhitung sejak tanggal 1 April 2008 PT Inco wajib
membayar pajak tanah dan bangunan, sedangkan berdasarkan Kontrak 1968 kami tidak perlu
membayar pajak tanah dan bangunan.
Retribusi, pajak, beban dan pungutan pemerintah setempat. Terhitung sejak 1 April
2008 PT Inco akan membayar berbagai retribusi, pajak, beban dan pungutan yang
diberlakukan oleh pemerintah lokal yang memiliki jurisdiksi atas operasional kami sepanjang
disetujui oleh pemerintah pusat. Tarif yang dikenakan tidak boleh melebihin tarif yang
berlaku pada tanggal 29 Desember 1995, yaitu tanggal yang tertera dalam Perjanjian
Perpanjangan, dan sepanjang kewajiban tersebut juga berlaku pada perusahaan-perusahaan
tambang lain di jurisdiksi yang sama dengan ketentuan dan persyaratan yang sama.

E. Kontribusi PT Inco bagi Pemerintah Indonesia
Berikut adalah jenis pajak yang menjadi kewajiban PT Inco. Pada Tahun 2007 PT Inco
membayar royalti 1.8% dan pajak 30% dari total pendapatan sebelum kena pajak.
Taxes:
1. Corporate Income Tax / PPh Badan
2. PPh Pasal 22 Migas
102
3. Import Taxes / Pajak-Pajak Impor: Import Duty / Bea Masuk, VAT Import / PPN Impor,
Luxury Goods Tax / PPnBM, Income Tax art. 22 / PPh Pasal 22 Impor, Stamp Duty / Bea
Materai
4. Employee Income Tax / PPh Karyawan
5. Value Added Tax (VAT) / Pajak Pertambahan Nilai (PPN):
Onshore services (VAT Input) / PPN Dalam Negeri
Offshore services (VAT Input) / PPN Jasa Luar Negeri
Domestic sales (VAT Output) / PPN atas penjualan di Dalam Negeri
6. Land & Building Tax / Pajak Bumi dan Bangunan:
Non Taxes:
7. Ore Royalty / Royalty Nickel
8. Water Levy / Iuran Penggunaan Air Sungai Larona
9. Landrent / Iuran Tetap
10. PNBP Protected Forest / Penerimaan Negara Bukan Pajak atas Pemanfaatan Areal Hutan
Lindung
11. Iuran Tegakan
Tax Obligations to Province Government:
12. Water surface & ground water tax / Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan
(P3ABT&AP)
13. Motorized vehicle tax / Pajak Kendaraan Bermotor
14. Ships tax / Pajak Kendaraan di atas Air
15. Transfer of ownership of motorized vehicle / Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
16. Transfer of ownership of ships / Bea Balik Nama Kendaraan di atas Air.
17. Motorized vehicle fuel tax / Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
Tax Obligations & General Administration fee to Region Government:
18. Mineral Industries Tax / Pajak Galian C
19. Building Construction Permit / Izin Mendirikan Bangunan

F. Industri Pertambangan di Turkey (Mining in Turkey)
Industri tambang modern di Turkey lahir pada tahun 1935 oleh President pertama
Republik Tukey Mustafa Kemal Ataturk. Visi Presiden Turkey yaitu untuk menciptakan
sector yang dapat mendukung dengan baik pertumbuhan ekonomi dan dapat didukung dengan
sumber daya alam dan juga keuangan. Presiden membentuk:
- General Directorate of Mineral Research and Exploration (MTA) yang bertanggung
jawab untuk eksplorasi dan mecari sumber daya baru (reserve).
- Eti Bank (sekarang Eti Mine): memonopoli pertambangan dan pengolahan bahan
tambang Saat ini Eti Bank berkembang menjadi: Turkish Coal Enterprises (TKI), Eti
Alumunium, Eti Copper, Eti Maden: mengontrol produksi Boron
Setelah 70 tahun industri pertambangan di Turkey telah bertumbuh dengan baik
khususnya pada tahun 1993. Turkey saat ini menempati posisi teratas sebagai negara yang
menjanjikan untuk investasi tambang dengan bertambahnya para ahli local dan dan expatriate.
Data statistic dari State Planning Organization menyatakan sector pertambangan di Turki
telah meningkatkan GNP dari 1.13% pada tahun 200 meningkat menjadi 1.15% pada 6 bulan
pertama pada tahun 2007.
Hal di atas dimungkinkan dengan adanya kontrol pemerintah pada bidang
eksplorasi,eksploitasi dan juga pengolahan mineral dan logam. Pemerintah dapat memastikan
ketersediaan sumber daya alam yang dapat diandalkan (reliable) untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi yang cepat di Turkey. Pererintah Turkey telah mengambil langkah
103
langkah yang diperlukan untuk memastikan perusahaan dapat dengan mudah
mengeksplotasi sumber daya alam potential, perusahaan dapat berinvestasi pada infrastruktur
dan juga mampu bersaing dengan perusahaan asing lainnya.
Di saat negara-negara yang memiliki industri pertambangan modern (mature mining
markets) seperti Australia, Afrika Selatan, Kanada dan Amerika Serikat telah diekslplorasi,
sebagian besar daerah Turkey belum tersentuh.. Potensi inilah yang meyakinkan para ahli
pertambangan menyatakan pada 10 tahun ke depan, industri mineral di Turkey akan menjadi
10 kali lebih besar. Turkey memiliki geografi yang prospective, sumberdaya manusia yang
handal (well-educated workforce), dan juga adanya sector pertambangan local yang cukup
kuat.

Sumber Daya Alam (Mineral Resources) di Turki
Turki mempunyai satu keuntungan dibandingkan negara-negara di eropa. Negara-
negara di eropa telah mengeksplorasi selurauh sumber dayanya) sedangkan Turki baru 40%
dari dari sumber dayanya (mining capabilities). Telah terbukti di Negara Turki ada 4,400
mineral deposit, tidak termasuk batu bara dan minyak. Turkey memiliki 72% cadangan
Boron, equivalent dengan 3 miliard ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia
sampai 500 tahun Turkey juga memiliki 10% cadangan dunia untuk Feldspar dan 50%
cadangan dunia untuk Magnesite, Bentonite, Perlite. Turkey merupakan produsen tertinggi
untuk Feldspar, Magnesite, Bentonite, Perlite. Antara tahun 2004 sampai 2006 ekspor bijih
chrome meningkat dari 575 juta ton menjadi 1080 juta ton. Untuk Bijih tembaga (Copper)
juga ada peningkatan dari 575 juta ton pada 2004 meningkat menjaadi 169 juta ton. Untuk
Zinc juga ada peningkatan dari 111 juta ton pada tahun 2004 meningkat menjadi 254 juta
ton.Turkey juga memiliki cadangan logam dasar (base metals) yang bervariasi: Lead, Zinc,
Copper, Antimony dan Nickel

Peraturan Tambang (Mining Legislation) di Turki
Undang Undang yang popular tentang tambang di Turki: No 3213 tahun 1985 dan No
5177, June 2004. Tujuannya adalah memberi kepada investor lingkungan bisnis yang baik
(friendly business environment). Sebelumnya dibutuhkan beberapa bulan bagi perusahaan
asing untuk mempersiapkan dokumen untuk mengatur local subsidiary. Sekarang hanya
dibutuhkan 2 minggu. Corporate tax dikurangi dari 30 % menjadi 20% dan ada insentive bagi
pengusaha tambang (mining entrepreneur). Dr Mesut Soylu, General Manager Eurasia
Minerals di Turkey menyatakan saat ini sangat mudah penbgajuan ijin eksplorasi. Dalam
waktu 10 sampai 14 hari dapat diperoleh ijin untuk menambang selama 5 tahun. Untuk 200
ribu hektar biaya untuk perijinan (licence cost) hanya $1,200 dan biaya tahunan$ 250.
Ada kecenderungan di Tukey untuk bagi pemerintah Turkey untuk mengontrol penuh
batubara karena erat kaitannya dengan konsumsi energi. Batubara Turkey tidak diekspor
karena batubara Turkey tidak cocok untuk transportasi karena tidak memiliki nilai kalori yang
tinggi. Kualitas terbaik yang dapat diproduksi 5,500 kilo-kalori per kg sehingga hanya cocok
untuk penggunaan internal. Kontrol penuh pemerintah Turkey juga berlaku buat mineral
Boron. Selain kedua bahan tambang tersebut, semua mineral 100% terbuka bagi perusahaan
swasta atau perusahaan asing. Akibat krisis pada tahun 1973, konsumsi minyak sulit untuk
dipenuhi, sehingga pemerintah menasionalisasi semua basin dimana dapat dibangun power
plants.
104
Investasi Perusahaan Asing (Mining Investment) di Turki
Saat ini ada 20 sampai 25 perusahaan asing (Kanada, Amerika, Australia)
menanamkan modal di Turkey). Perusahaan local Turkey dapat mempelajari banyak
pengalaman (international experience) dan juga operasi standard. Dengan adanya kontribusi
industri pertambangan kepada GNP maka industri pertambangan dapat menjadi tulang
punggung ekonomi (economys backbone).
Daya tarik mineral ini juga telah menarik perhatian perusahaan dalam negeri untuk
berinvestasi. Salah satu diantaranya Eczacibasi Esan, industri terbesar di Turkey yang
berfokus pada konstruksi dan farmasi. Dalam 30 tahun, perusahaan ini telah menjadi industri
produksi mineral khususnya indiustri keramik dan termasuk tiga besar prudusen feldspar
dengan peningkatan produksi dari 600 ribu ton pada 2003 menjadi 1.5 juta ton pada tahun
2007. Perusahaan ini juga memiliki 1/3 dari 239 juta ton cadangan terbukti (proven reserves)
feldspar di Turkey. Perusahaan ini juga telah menjadi lebih kuat dengan membentuk grup
dengan Doga Minerals, perushaan yang bergerak di bidang perdagangan mineral . Pada tahun
2003, nilai penjualan sebesar $ 40 juta. Pada tahun 2007, nilai jualnya meningkat menjadi 3
kalinya menunjukkan adanya popularitas dan peningkatan permintaan (demand) mineral.
Salah satu perusahaan Kanada, Inmet Mining, telah berinvestasi $ 250 juta di Turkey
sejak 1992. Inmet Mining melalui anak perusahaannya (Turkish subsidiary), Cayeli Mining
ada di Turkey untuk jangka waktu panjang karena adanya potensi dan pasar yang
menjanjikan.Turkey. Inmet Mining juga telah menjadi sekolah bagi para engineer dan pekerja
tambang. Inmet Mining telah menjadi contoh bagi industi tambang lainnya di Turkey
termasuk standard lingkungan dan pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan
sumber daya manusia dan transfer pengetahuan (promotion of human capital and knowledge)
alah contoh nyata kontribusi perusahaan asing terhadap industi lokal. Engineer yang telah
dibina oleh Inmet Mining juga telah dibajak oleh perusahaan tambang lainnya sehingga
timbul big turnover di Inmet Mining.

LITERATURE:
1. ENGINEERING AND MINING JOURNAL APRIL 2008
2. ENGINEERING AND MINING JOURNAL MARCH 2008
3. ANNUAL REPORT OF FRASER INSTITUTE 2007/2008 BY SURVEY
COORDINATORS FRED MCMAHON AND CAM VIDLER
4. LAPORAN TAHUNAN PT INCO 2007
105
CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM (CDM) PASCA TAMBANG
DI PERTAMBANGAN BATUBARA PT KALTIM PRIMA COAL :
SUATU KAJIAN PUSTAKA


Restu Juniah
1)
Jurusan Pertambangan Fakultas Teknik Unsri
Jln. Raya Palembang Prabumulih Km 32 Inderalaya, Telp/Fax : 0711-580137
*)
Corresponding Author. E-mail: restu_juniah@yahoo.co.id


Abstrak

Batubara sebagaimana bahan bakar fosil lainnya, termasuk penyumbang terbesar
meningkatnya efek gas rumah kaca yang berdampak pada pemanasan global yang menjadi
isu penting lingkungan hidup saat ini. Sebagaimana yang tertuang dalam pasal-pasalnya,
deklarasi Protokol Kyoto menghendaki aplikasi yang lebih nyata untuk dapat merealisasikan
apa yang dikehendaki. Clean Development Mechanism (CDM) yang juga dikenal dengan
mekanisme pembangunan bersih sebagai salah satu dari mekanisme kyoto dianggap lebih
aplikatif untuk negara berkembang seperti Indonesia. Kegiatan tambang yang dimulai dari
pembukaan lahan tambang hingga penutupan tambang yang memberikan dampak pada
berbagai aspek termasuk kerusakan lingkungan seharusnya mengacu pada CDM. Agar
lahan bekas tambang aman serta produktif untuk mendukung pemanfaatan berikutnya dalam
rangka pembangunan berkelanjutan, tulisan ini akan membahas penerapan CDM pasca
penambangan pada pertambangan batubara PT Kaltim Prima Coal di Kutai Timur
Kalimantan Timur.

Abstract

Coal as other fossil fuel, has contributed the biggest portion to the increasing of the green
house effect and the global warming as the environmental main issue. As described in the
articles of Kyoto Protocol, the real Clean Development Mechanism implementation
seemingly more applicable in the developing countries such as Indonesia, since the mining
activity started from the opening till the closing of the of the mining area that caused the
environmental deterioration has to follow the CDM procedure for the sustainable
development. This paper try is try describe the CDM implementation in coal mining in PT
Kaltim Prima Coal, Kutai East Kalimantan.







Kata Kunci : Clean Development Mechanism, Penyerapan karbon, Pembangunan berkelanjutan, Penutupan
tambang
1)
Makalah ini disampaikan pada Acara Pertemuan Tahunan Persatuan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) TPT XVII yang
diselenggarakan di Hotel Horizon, 24-25 Juli 2008
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
I. Latar Belakang

Eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya alam mengakibatkan terjadinya
deforestasi, konversi lahan pertanian dan pencemaran lingkungan. Jika deforestasi, dan
konversi lahan semakin tidak terkendali dikhawatirkan berdampak pada peningkatan gas
rumah kaca di atmorfer yang menyebabkan terjadinya peningkatan suhu bumi, hujan asam,
dan perubahan iklim global.
Tambang batu bara terutama tambang terbuka memerlukan lahan yang luas. Hal tersebut
tentu menimbulkan permasalahan lingkungan hidup seperti erosi tanah, polusi debu, suara,
air, serta dampak terhadap keanekaragaman hayati setempat. Tambang batu bara hanya
menggunakan lahan untuk sementara waktu, sehingga sangat penting untuk melakukan
rehabilitasi lahan segera setelah kegiatan praktek penambangan dihentikan. Dalam proses
yang terbaik, rencana rehabilitasi atau reklamasi dirancang dan disetujui untuk setiap
kegiatan penambangan, mulai awal hingga akhir kegiatan.
Pembukaan lahan tambang terbuka telah mengakibatkan hilangnya pepohonan dan
tumbuhan yang menjadi sarana dan media untuk penyerapan kembali karbondioksida yang
teremisi ke udara. Akhir dari kegiatan pertambangan yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah
konservasi akan menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Selain itu akan melumpuhkan
perekonomian suatu daerah yang struktur ekonominya sangat bergantung pada pertambangan
dan memunculkan permasalahan social, apabila kegiatan pertambangan tidak membawa
kepada keberlanjutan ekonomi dan sosial. Perencanaan dan pengelolaan lingkungan yang baik
akan meminimalisir dampak yang terjadi.
Berangkat dari krisis financial pada tahun 1997-1998 dan Summit of the Americas di
Santiago tahun 1998, faktor lingkungan menjadi faktor yang sangat penting dalam
keekonomian (Irwandy Arief,2007). Sejak saat itulah paradigma pertambangan Indonesia
telah berubah dan bertumpu pada dua sumbu yaitu: ekonomi dan lingkungan dan sosial.
Kemudian berkembang menjadi tiga sumbu yaitu: ekonomi, lingkungan dan sosial Pengertian
sumbu sosial ini sebenarnya bagian dari lingkungan non-fisik, dan lebih ditekankan pada
Community Development dan sekarang ini berkembang menjadi Corporate Social
Responsibility (CSR). Dalam Agenda 21 untuk sektor pertambangan dikenal sebagai
Sustainable Human Development.
Hutan dalam sistem ekologi merupakan ekosistem masyarakat tumbuhan yang
berinteraksi dengan lingkungan, berfungsi sebagai penghasil oksigen dan biomass dari hasil
pemanfaatan karbon dioksida, energi matahari dan air. Sehingga keberadaan hutan dan
fungsinya harus dipertahankan, tetapi pembiayaan untuk pembangunan tetap tersedia agar
kegiatan pembangunan dapat berjalan. Salah satu alternatif yang mungkin dapat dilakukan
adalah perdagangan karbon melalui mekanisme pembangunan bersih (CDM)
Struktur ekonomi Kabupaten Kutai Timur tempat dimana terletaknya Pertambangan
Batubara PT Kaltim Prima Coal (KPC), sangat bergantung pada kegiatan pertambangan, hal
ini dikarenakan sektor pertambangan dan migas adalah penyumbang terbesar APBD
Kabupaten Kutai Timur. (Kompas,2004). Dengan berakhirnya kegiatan pertambangan PT
KPC, melalui program reklamasi dan rehabilitasi lahan bekas tambang diharapkan tidak
hanya membawa dampak pada keberlanjutan lingkungan saja tetapi juga pada keberlanjutan
ekonomi dan sosial dalam rangka pembangunan berkelanjutan Kabupaten Kutai Timur.
107
II.Clean Development Mechanism Dan Pembangunan Berkelanjutan

Clean development Mechanism (CDM), mekanisme pembangunan bersih, merupakan
upaya penurunan emisi karbon di negara berkembang dengan menggunakan teknologi bersih.
Yang membuat CDM unik adalah bahwa di dalamnya terdapat elemen pembangunan
berkelanjutan yang tidak terdapat di dalam mekanisme yang lain. Dalam perspektif negara
berkembang, keberhasilan CDM terletak pada sumbangan proyek tersebut dalam mencapai
tujuan pembangunan berkelanjutan. Proyek CDM pada dasarnya adalah proyek bersama
dengan tujuan utama mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan menghasilkan CER
(Certified Emission Reduction)/Reduksi Emisi Sertifikat (RES). Dana yang disalurkan
melalui proyek CDM dapat membantu negara berkembang mencapai beberapa tujuan
pembangunan sosial ekonomi dan lingkungan.
Hutan merupakan penyerap gas karbondioksida (CO2) yang merupakan gas utama
dalam GRK. Menurunnya luas hutan secara global mengakibatkan peningkatan konsentrasi
GRK di atmosfer, selain meningkatnya emisi dari pemanfaatan energi berbasis fosil. Fungsi
hutan sebagai penyerap GRK memberikan ide bagi dimasukkannya sektor kehutanan dalam
mekanisme pembangunan bersih (CDM). Ini berarti negara berkembang dapat melakukan
pengelolaan hutannya secara berkelanjutan dengan memanfaatkan dana internasional di
bawah Protokol Kyoto.
Pada Konferensi Tingkat Tinggi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan dalam
bulan Juni 1992 atau 20 tahun sesudah Konferensi Lingkungan 1972 di Stockholm
muncullah istilah pembangunan berkelanjutan, yaitu pelarutan lingkungan dalam
pembangunan. (Emil Salim, 2000). Pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
memerlukan jangka waktu yang panjang, dan karena itu harus bersifat berlanjut. Menurut
Haris dan Godwin (2001), keberlajutan tersebut mencakup tiga aspek penting, yaitu
keberlanjutan ekonomi, keberlanjutan lingkungan dan keberlanjutan sosial.
Untuk memenuhi ketiga aspek keberlanjutan di atas, pada sektor pertambangan konsep
pembangunan berkelanjutan diaplikasikan pada pemanfaatan lahan bekas tambang melalui
kegiatan reklamasi. Reklamasi lahan bekas tambang yang dilaksanakan dengan baik akan
berkontribusi pada pelestarian fungsi kawasan hutan. Selanjutnya menurut Indonesia Center
for Sustainable Development (ICSD, 2004) dalam konteks pembangunan berkelanjutan, maka
program Comunity Development yang dilakukan sektor energi dan sumber daya mineral
adalah dalam rangka mempersiapkan life after mining/operation bagi daerah maupun
masyarakat sekitarnya, agar tidak lebih buruk dari pada saat tambang beroperasi. Lebih lanjut
ICSD menyatakan, pembangunan industri di sektor sumber daya mineral akan dapat terus
berkelanjutan apabila :
a. Program pembangunan memperhatikan misi lingkungan
b. Program pembangunan memiliki tanggung jawab sosial
c. Konsep keberlanjutan diimplementasikan dalam kebijakan pada tingkat
komunitas/masyarakat maupun industri pemerintah.
d.Program pembangunan memiliki ketersediaan dana yang cukup dan mempunyai nilai
keuntungan.

Pola pembangunan berkelanjutan ini penting, terutama bagi negara berkembang yang sedang
bergelut dengan masalah-masalah pembangunan. Pola konvensional yang tidak memuat
pertimbangan lingkungan dan ditempuh negara-negara maju pada masa lalu, memang telah
berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Namun, dampak negatif dari pola
pembangunan ini telah menimpa seantero bumi itu sendiri.Lapisan ozon di angkasa sudah
108
jebol, suhu udara di bumi sudah semakin panas, permukaan laut cenderung naik, iklim
bumi cenderung berubah dan tidak menentu. Semua ini di akibatkan efek rumah kaca yang
berasal dari transfortasi, industri dan energi. Apabila pola konvensional tanpa muatan
lingkungan ini dilanjutkan pula oleh negara-negara berkembang, maka kerusakan lingkungan
akan semakin meluas dan dahsyat.

III. CDM Pasca Penutupan Tambang Batubara PT KPC
.
Sustainable Development (pembangunan berkelanjutan) adalah upaya memenuhi
kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang.
Sebagaimana halnya, kegiatan tambang terbuka lainnya, yang memberi dampak langsung
terhadap lingkungan, kegiatan tambang batubara terbuka di KPC seperti pembukaan lahan.
juga memberikan dampak langsung terhadap lingkungan, antara lain deforestasi.
Dari luas konsesi 90.960 ha, sampai dengan tahun 2005 telah dibuka lahan seluas 8729
ha dengan area yang telah direklamasi seluas 619, 47 ha dan area penimbunan tanah penutup
yang telah direklamasi seluas 1745,33 ha. PT. KPC berkomitmen mengelola dampak
lingkungan ini melalui penerapan rehabilitasi progresif, dimana lahan terbuka dikembalikan
menjadi lahan produktif, aman dan stabil sesegera mungkin sesudah penambangan selesai
sehingga meminimalisir dampak pembukaan lahan terhadap keragaman hayati.
Sejalan dengan yang disebutkan pada International Institute for Invirontment and
development (IIED) dan Word Business Coucil for Sustainable Development (WBCSD),
2002 agar pertambangan dapat berkontribusi positif pada pembangunan berkelanjutan, maka
tujuan penutupan tambang dan dampak akibat penutupan tambang harus diperhatikan sejak
awal proyek akan dilaksanakan. Dalam hal ini, selain diperlukan studi kelayakan untuk
membuka tambang, juga harus direncanakan dampak untuk menutup tambang (planning for
closure).
Pemulihan lahan bekas tambang harus dilaksanakan secara konsekuen sesuai dengan
rencana reklamasi dan tata guna lahan dalam tata ruang daerah. Rencana pola pemanfataan
Kabupaten Kutai Timur sebagaimana ditunjukkan pada Tabel.1 Penggunaan lahan pasca
tambang dapat berupa kawasan budidaya pertanian, perkebunan, kehutanan, kawasan wisata.
pemukiman, perindustrian, atau yang lain sesuai dengan peruntukan lahan bekas tambang.

Tabel. 1. Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Kabupaten Kutai Timur
No. Pola pemanfaatan ruang Luas (Ha) Persentasi
A. Kawasan Lindung 1.550.906 44.25
B. Kawasan Budidaya Kehutanan 537.132 15.33
Kawasan Budidaya Non Kehutanan
1. Perkebunan 1.074.628 30.67
C.
2. Non Perkebunan 341.984 9.75
Total 100 %

Mengingat kegiatan pertambangan yang ada batasnya (suatu saat akan berhenti). Guna
memperoleh manfaaat yang optimum dari pertambangan maka perencanaan penutupan
tambang haruslah terintegrasi antara aspek lingkungan, sosial dan budaya dengan operasi
pertambangan sejak tahap awal sampai dengan umur tambang. Dengan demikian penutupan
tambang tidak akan menimbulkan dampak yang menakutkan apabila perekomian masyarakat
sangat bergantung pada keberadaan pertambangan, dan tidak ada penggerak lainnya sebagai
109
pengganti. Sebagaimana yang pernah terjadi pada pertambangan timah di Singkep dan
Bangka (Salim dalam Djayadiningrat, 2005).
Hal ini perlu diantisipasi mengingat struktur ekonomi Kabupaten Kutai Timur, tempat
dimana terdapatnya pertambangan batubara PT KPC masih bertumpu pada sektor
pertambangan (Profil Daerah Kabupaten dan Kota, Kompas 2004). Selama tiga tahun terakhir
sejak Kabupaten Kutai Timur menjadi daerah otonom, sektor pertambangan penyumbang
terbesar pada PDRB sementara sektor pertanian yang terbesar kedua. Lima lapangan usaha
terbesar penyumbang PDRB Kabupaten Kutai Timur ditunjukkan Tabel.2.

Tabel.2. Lima Lapangan Usaha Terbesar Penyumbang
PDRB Kabupaten Kutai Timur dalam Harga Berlaku (Rp Milyar)

No Lapangan Usaha 1998 1999 2000
1 Kehutanan,Pertanian, perkebunan dan
perikanan
206.54 245,36 302.35
2 Pertambangan Migas 111.73 130.23 202,16
3 Pertambangan Non Migas 2894.10 2613.77 2560.86
4 Bangunan 109.18 130.25 215.40
5 Perdagangan, Hotel dan Restoran 61.90 73.19 95.68

Salah satu indikator keberhasilan pengelolaan lingkungan dapat dilihat dari
perbandingan rehabilitasi dan pembukaan lahan. Rehabilitasi lahan bertujuan agar ekosistem
lahan yang telah terganggu dikembalikan sama dengan ekosistem yang asli, dengan
penanaman jenis tanaman hutan tropis basah di daerah rehabilitasi sehingga fungsi lingkungan
dapat terus terjaga. Gangguan terhadap semua lahan akibat kegiatan pertambangan haruslah
direhabilitasi.
Demikian juga halnya dengan kegiatan pertambangan yang dilakukan oleh PT. KPC,
semua lahan yang terganggu akan direhabilitasi. Dengan kebijakan PT KPC melaksanakan
rehabilitasi progresif, semua lahan yang terganggu akibat kegiatan pertambangan dapat
sesegera mungkin dikembalikan. Dalam master plan penutupan tambang yang sudah dibuat
oleh PT KPC, disebutkan bahwa pada lahan-lahan bekas tambang akan dibuat dalam zonasi-
zonasi pemanfaatan seperti perkebunan, kehutanan. kolam air, budidaya ikan air tawar, dan
lainnya.
Berdasarkan nilai pembobotan perlindungan & kelestariaan fungsi lingkungan (53 %)
yang telah dilakukan oleh Soemarsono Witoro Solarno, 2005, terhadap PT KPC diketahui
bahwa manajemen perusahaan mengutamakan perlindungan dan kelestariaan dalam
menjalankan usahanya sampai pada penutupan tambang.
Pemenuhan terhadap kewajiban yang berkaitan dengan lingkungan hidup, disamping
menjadi salah satu sarana yang efektif untuk menunjukkan kepada publik mengenai kinerja
perusahaan, juga menjadi prasyarat utama bagi keberlanjutan usaha pertambangan itu sendiri.
Ini dikarenakan pertambangan merupakan industri ekstraktif yang karakteristiknya akan selalu
mengubah bentang alam, oleh karena itu pemenuhan terhadap standar dan baku mutu
lingkungan harus dipenuhi agar menjaga kelestariaan fungsi lingkungan dapat terus terjaga.
Untuk kepedulian PT KPC terhadap perlindungan dan kelestrian lingkungan,
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah memberikan predikat emas sebanyak tiga kali
berturut-turut sejak 2002 dan predikat hijau dari KLH dan penghargaan reklamasi terbaik dari
Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (DESDM) pada 2004.
110
Hutan merupakan penyerap gas karbondioksida (CO2) yang merupakan gas utama
dalam GRK. Menurunnya luas hutan secara global mengakibatkan peningkatan konsentrasi
GRK di atmosfer, selain meningkatnya emisi dari pemanfaatan energi berbasis fosil. Fungsi
hutan sebagai penyerap GRK memberikan ide bagi dimasukkannya sektor kehutanan dalam
mekanisme pembangunan bersih (CDM). Ini berarti negara berkembang dapat melakukan
pengelolaan hutannya secara berkelanjutan dengan memanfaatkan dana internasional di
bawah Protokol Kyoto.
Didalam protokol Kyoto karbondioksida termasuk salah satu gas rumah kaca yang
harus diturunkan emisinya. Masuknya mekanisme clean development mechanism (CDM)
dalam protokol Kyoto bertujuan selain untuk menurunkan emisi CO
2
juga untuk memberikan
bantuan dana bagi negara yang masih memiliki carbondioxide sink.
Penurunan CO
2
dan peningkatan carbondioxide sink untuk mencegahan dan
mengendalikan masalah pemanasan global akibat gas rumah kaca dapat salah satunya dapat
dilakukan apabila kegiatan pertambangan hingga pasca penutupan tambang menerapkan
reklamasi dan rehabilitasi lahan galian bekas tambang yang berorientasi pada penyerapan CO
2

kembali oleh tumbuhan. Hal ini dapat dilakukan melalui program pengelolaan tataguna
lahan (Land-use, land use change and foresty-LULUCF) mekanisme pembangunan bersih
(Mudiyarso Daniel. 2007).
Dalam skema CDM menjadi suatu keharusan bagi setiap industri dan aktivitas pembangunan
yang berpotensi untuk meningkatkan konsentrasi CO
2
ke udara udara untuk menurunkan
emisi CO
2
yang menjadi pencemar udara dan meningkatkan gas rumah kaca yang
menyebabkan pemanasan global.
.
Keberadaan tumbuhan yang berasal dari sektor perkebunan
seperti kelapa sawit, pertanian berupa tanaman pangan dan palawijaya dan kehutanan dapat
menurunkan emisi CO
2
melalui siklus karbon. menurut Daryanto, 2006 melalui siklus karbon
ini, CO
2
yang terkonsentrasi ke udara akan diserap kembali oleh tumbuhan untuk keperluan
fotosintetisnya. Penyerapan CO2 melalui proses fotosintesis oleh hutan pada hakekatnya
adalah mereduksi CO2 dari udara. CO2 yang diserap ini pada prinsipnya dapat juga
mendapatkan RES.
Melalui mekanisme ini karbon dalam hutan kita dapat dijual di pasar internasional. Jadi
bukan hutannya atau kayunya, melainkan RESnya. Misalkan, kita berhasil merehabilitasi
1000 hektar hutan. Setelah diverifikasi oleh badan internasional ternyata karbon yang diserap
hutan yang direhablitasi itu adalah 100 ton karbon/ha/tahun. RES yang kita dapatkan ialah
100.000 ton/tahun. Jika harga karbonnya US$5/ton, maka nilai RES itu US$500.000/tahun.
Analog dengan hal ini, untuk total area yang telah direklamasi PT KPC seluas 2364,80 ha,
maka PT KPC akan mendapatkan nilai RES US$ 1.200.000/tahun.
Disamping penyerapan karbon, pemanfaatan sumber daya unggulan masa depan melalui
sektor perkebunan, pertanian dan kehutanan juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan
penyediaan lapangan kerja serta memperbaiki distribusi pendapatan juga. Sejalan dengan
skema CDM, mengingat sumber daya alam yang terbesar kedua di Kabupaten Kutai Timur
adalah sektor pertanian perkebunan, kehutanan dan peternakan dan sesuai dengan master
plane Departemen Lingkungan PT KPC serta pembobotan yang telah dilakukan oleh
Soemarsono Witoro Solarno, 2005, diantara alternatif tata guna lahan yang dapat dilakukan
dan diterapkan untuk reklamasi dan rehablitasi lahan pasca penambangan PT KPC yaitu
pemanfaatan sumber daya alam unggulan masa depan sebagai prioritas utama.
Menurut Haris (2001), konsep keberlanjutan pembangunan dapat dipahami menjadi tiga
aspek, yaitu keberlanjutan ekonomi, keberlanjutan lingkungan dan keberlanjutan sosial.
Sejalan dengan konsep keberlanjutan pembangunan yang dikemukakan Haris, Jika CDM di
terapkan pada area pasca penambangan PT KPC akan memberikan keuntungan kepada ke tiga
111
aspek di atas. Penelitian yang telah dilakukan oleh Witoro menunjukkan Perbandingan
Pemanfaatan Lahan Pasca Tambang dengan kebun karet, kebun sawit dan hutan sebagaimana
terlihat pada Tabel 3.




Tabel.3. Perbandingan Pemanfaatan Lahan Pasca Tambang dengan
Kebun Karet Kebun Sawit dan Hutan
No. Parameter Kebun Karet Kebun
Sawit
Hutan
1 Daya serap tenaga kerja Besar Besar Lebih besar
(bila ada pemanfaaatan
hasil kayu dan non
kayu)
2. Daya serap karbon Sedang Kecil Besar-besar sekali
3. Pendapatan negara Sedang Sedang Besar (dari hasil kayu
dan non kayu)
Sumber : Soemarno Witoro Soelarno, 2007

Keuntungan lain yang didapat PT KPC sebagai pemilik lahan reklamasi sebagaimana
diuraikan di atas adalah penambahan income bagi perusahaan melalui sertifikat emisi reward
( Certified Emision Reduction/CER) dari badan pengelola CDM untuk setiap ton karbon yang
dapat diturunkan Sedangkan keuntungan yang dapat di ambil oleh Pemerintah Kabupaten
Kutai untuk keberlanjutan pembangunan di daerah tersebut adalah bantuan dana dari badan
pengelola CDM.

Kesimpulan dan Saran
Sesuai dengan sumber daya alam terbesar kedua setelah pertambangan di Kabupaten
Kutai Timur dan master plane Departemen Lingkungan PT KPC, reklamasi dan rehabilitasi
hutan akibat pembukaan lahan tambang batubara PT. KPC merupakan pilihan yang tidak
bisa ditawar lagi, melalui mekanisme pembangunan bersih, clean development mechanism
(CDM) berdasarkan Protokol Kyoto pembangunan nasional umumnya dan khususnya di
Kabupaten Kutai Timur tetap dapat berlanjut. Penerapan CDM pasca penambangan PT KPC
disamping akan memberikan keuntungan bagi PT KPC juga berdampak pada keberlanjutan
lingkungan, ekonomi dan sosial di Kabupaten Kutai Timur. Sehingga pembangunan
berkelanjutan dan amanat generasi mendatang untuk mewariskan sumberdaya lestari dapat
terwujud.
Dengan keuntungan yang dapat diperoleh oleh PT KPC dari penjualan reduksi emisi
sertifikat (RES) sebagai pemilik lahan reklamasi dan untuk menunjang pembangunan
berkelanjutan di Kabupaten Kutai Timur maka disarankan untuk clean development
mechanism (CDM) menjadi bagian dari reklamasi pasca tambang di PT KPC Kabupaten
Kutai Timur Propinsi Kalimantan Timur.
112
Daftar Pustaka
Emil salim,2000, Merenungi Bumi dalam Kembali Ke Jalan Lurus, Esai-esai 1966-99,
Penerbit Alvabet, Jakarta.
Irwandy Arief, 2007, Pertambangan, Lingkungan Hidup Dan Kesejahteraan Masyarakat
Seminar Universitas Sam Ratulangi Manado.
Magnus A. Stauddte (2008). CDM Pre-Screen Tool For Industry and Developing Countries.
Proseding Seminar dan Lokakarya Nasional Energi dan Lingkungan, ISBN: 978-979-
704-605-7, Undip Semarang.

Mudiyarso Daniel. (2007). CDM : Mekanisme Pembangunan Bersih. PT. Kompas Media
Indonesia, Cetakan Ketiga.

Mudiyarso Daniel. (2006). Protokol Kyoto: Seri Perubahan Iklim. PT. Kompas Media
Indonesia, Cetakan Ketiga.

Makmur Widodo, 2001,Ktt Dunia Pembangunan Berkelanjutan 2002 Peluang Dan
Tantangan Bagi Indonesia Baru, Paparan Dalam rangka sosialisasi persiapan World
Summit on Sustainable Development, Yogyakarta.

^NASA: Global Warming to Cause More Severe Tornadoes, Storms, Fox News, August 31, 2007.

http://www.waspada.co.id , Generated: 12 February, 2008, 16:12

Sabilal Fahri, 2002, Falsafah sain, Program Pasca Sarjana IPB, Bogor

Soemarno Witoro Soelarno, 2007, Perencanaan Pembangunan Pasca Tambang Untuk
Menunjang Pembangunan Berkelanjutan: Studi Kasus pada Pertambangan Batubara
PT Kaltim Prima Coal di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur:,
Disertasi, Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia.
113
REFLEKSI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL DAN
PERJALANAN INDUSTRI PERTAMBANGAN DI INDONESIA
Sebuah Pendekatan Historis Komperatif

Rezki Syahrir
rezkisyahrir@yahoo.com

Abstrak
100 tahun kebangkitan nasional yang diperingati tahun 2008 menjadi momentum tepat
bagi bangsa ini untuk merefleksikan perjalanan panjang pembangunan khususnya dari sektor
pertambangan. Berbagai fase rezim pemerintahan ternyata mempunyai karakteristik sendiri
dalam menentukan sistem pengelelolaan sumberdaya mineral.
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dalam perpektif historis komperatif
tentang pengelolaan pertambangan dari masa ke masa serta melakukan analisis terhadap
permasalahan-permasalahan pertambangan kontemporer sebagai dampak dari pergeseran
arus politik dan karakteristik rezim. Bagian akhir tulisan merupakan refleksi dari sikap
mental bangsa sebagai pijakan untuk melangkah kedepan.
Dari hasil analisis diketahui bahwa tujuan dari pemanfaatan kekayaan alam untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat belum dapat dipenuhi sampai saat ini. Berbagai
permasalahan yang menyebabkan diantaranya adalah sistem pengelolaan pertambangan
yang tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat, tumpang tindih peraturan perundang-
undangan maupun tarik ulur kepentingan antara pihak-pihak yang tekait. Dari keseluruhan
penyebab permasalahan tersebut, yang paling dominan adalah permasalahan mental
inlander yang telah merasuk kedalam pola pikir dan pola tindakan masyarakat dan
pemerintah.

Kata Kunci: kebangkitan nasional, pengelolaan pertambangan, peraturan perundang-
undangan, mental terjajah.

Penggalan Kata
...Pentingnya, hidup matinya negara pada dunia kapitalisme dan imperialisme ini,
bergantung pada bermacam-macam hal, persenjataan, perindustrian, terutama senjata, letak
negara, persatuan serta banyak penduduknya, semangat rakyat, kecerdasan dsb.
Kalau semua hal yang lain bersamaan (letak negara, kecerdasan dan banyak penduduk
dsb), maka dalam satu perjuangan keadaan perindustrianlah yang akan memberi putusan.
Yang kuat perindustriannya, itulah pihak yang mesti menang. Perusahaan sekarang berdasar
atas Ilmu-bukti (science) dan teknik, pesawat. Pesawat itu bendanya ialah besi baja dan kodrat
atau rohaninya terutama minyak tanah. Kalau tak ada baja dan minyak, kapal terbang tak bisa
naik, tank dan auto tak bisa lari dan kapal-selam tak bisa maju. Kalau besi dan baja itu tidak
terdapat dalam negara, melainkan pada negara lain, maka buat menyampaikan maksud
imperialismenya negara itu, dia mesti menguasai semua benda yang penting itu kalau satu
negara penuh dengan benda tadi, tetapi lemah semangat rakyatnya, lemah intelek, tiada
bersatu dan tiada pula merdeka, maka negara itulah yang akan menjadi umpan atau makanan
negara yang gagah perkasa.
Di dunia ini tak ada letaknya negara yang lebih berbahagia dari letaknya Indonesia. Buat
siasat perang tak ada tempat yang lebih teguh. Barang siapa yang mendudukinya, walaupun
hal lain bersamaan, dia mesti menang perang. Siapa yang tiada mendapat kedudukan itu
lambat laun akan kalah. Lihatlah saja peta bumi. Dulupun hal ini sudah saya
majukan. Besi yang paling banyak dan paling baik sifatnya menurut laporan dalam
Bataviasche Nieuwsblad tahun 1935 (?) kalau saya tak lupa - ialah di Indonesia Utara,
Filipina. Tambang besi di Malaka dan Filipina memang sudah berjalan. Sulawesi dan
Kalimantan banyak sekali tanah mengandung besi.
Minyak di Sumatra, Kalimantan, Irian sudah begitu kesohor di seluruh dunia, tak perlu
dibicarakan lebih panjang lagi. Bauksite dan aluminium keduanya buat melebur baja yang
kuat keras sudah dikerjakan di Riau dan akan dikerjakan di Asahan. Benda perang yang lain-
lain, seperti: timah, getah dan kopra (buat bom TNT yang maha dahsyat itu minyak kelapalah
yang dipakai) didapati di Indonesia lebih dari di seluruh bagian dunia lain digabung jadi satu.
Sudah pernah seorang pengarang buku di Amerika meramalkan, bahwa kalau satu
negara seperti Amerika mau menguasai samudra dan dunia, dia mesti rebut Indonesia lebih
dahulu buat sendi kekuasaan. Si Amerika tadi tiada meramalkan mungkin kelak rakyat
Indonesia sendiri menguasai negaranya sendiri, tak mau menjadi umpan atau makanan negara
lain, seperti lebih dari 300 tahun belakangan ini.
Saya sudah kenal sama tambang besi di Malaka dan Indonesia utara, Filipina. Baru ini
saja saya kagumi tambang minyak yang besar di Pangkalan bradan, Pelaju dan sungai Gerang.
Saya tahu adanya tambang minyak di Tarakan dan Balikpapan, batu arang di Malaka, Sawah
Lunto, Bukit Assam dsb, tambang timah di Bangka dan Belitung. Saya tahu ratusan ribu
pekerja yang terikat oleh kereta api, tram, mobil, kapal laut dan udara, pos, telepon, telegram
dan radio. Ratusan ribu pekerja pada bengkel, pabrik besi, kimia, gula, teh, kain, sabun, dan
lain-lain. Pada masa saya berangkat ketika lebih dari 20 tahun dahulu jumlah kaum pekerja itu
sudah 2 atau 3 juta orang. Sekarang sudah tentu lebih dari itu. Banyaknya dan sifatnya
perusahaan dalam 20 tahun belakangan ini memang sudah bertambah. Begitu juga banyaknya
serta sifatnya prajurit pekerja.
Pekerja di dalam tambang minyak, besi, timah, bengkel dan pabrik dan pada
pengangkutan inilah tulang belakangnya ekonomi Indonesia. Inilah kaum yang bisa
dikerahkan buat menyokong berdirinya dan majunya Indonesia Merdeka yang sejati dan
terus-menerus mempertahankan kemerdekaan itu. Dekatilah golongan pekerja ini! Masuklah
klasnya! Dengan klas ini bersama dengan golongan lain, maka klas pekerja seolah-olah akan
menjadi klas, sebagai "teras yang dikelilingi kayu dan kulit, kalau ia terus maju ke muka
buat mencapai kemerdekaan sejati dan mendirikan negara yang cocok dengan kemakmuran
sama-rata dan persaudaraan. (Tan Malaka, Madilog, ditulis dalam pelarian, 1943)

Sejarah Singkat
Sejarah kegiatan pertambangan di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu
kala, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Sejarah pertambangan menjadi saksi dan
motor kemajuan peradaban manusia pra-sejarah dan sejarah. Hal ini ditandai dengan
penemuan logam-logam mulia yang kemudian menjadi identitas jaman itu, misalnya besi,
perunggu, perak, dan emas. Akan tetapi untuk mengkerangkai perjalanan tulisan ini maka
akan dibatasi pada fase kolonialisme Belanda dan Jepang, fase Orde Lama, fase Orde Baru,
dan fase Reformasi

Fase Kolonialisme Belanda dan Jepang
Pengelolaan industri pertambangan pada fase ini dilandasi oleh Mijn Reglement 1850,
Ordonantie 1910, dan Ordonantie 1918. Mijn Reglement 1850 mengatur tentang pemberian
konsesi kepada swasta untuk melakukan usaha pertambangan. Peraturan tersebut juga
mengatur adanya pembagian wewenang dalam pemberian ijin pertambangan antara
Pemerintah Kerajaan Belanda dan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dengan adanya
115
peraturan ini maka tercatat sampai pada tahun 1938 terdapat 471 perusahaan yang
bergerak di sektor pertambangan. Dalam perjalanannnya kemudian, pemerintah Belanda
melihat adanya peluang bagi negara untuk mendapatkan porsi yang lebih besar. Oleh
karenanya dikeluarkan Ordonantie 1910 yang menyatakan pemerintah dan swasta dapat
bekerjasama dalam bentuk kontrak. Semakin besarnya posisi pemerintah kolonial pada waktu
itu kemudian ditindaki dengan dikeluarkannya Ordonantie 1918 yang menyatakan bahwa
kontrak-kontrak eksplorasi dan eksploitasi antara pemerintah dan swasta tidak perlu mendapat
persetujuan UU. Perubahan yang terjadi pada Ordonantie 1910 ialah penambahan terhadap
pasal 5a. Pasal inilah yang menjadi dasar bagi kontrak karya pertambangan, yang kemudian
pada saat itu dikenal sebagai 5 a contract.
Setelah masa kekuasaan kolonialisme Belanda digantikan oleh Jepang, tercatat ada 4
perusahaan Jepang yaitu yaitu Ishihara Sankyo, Mitsui Kozan, Nippon Chissui dan Mitsubishi
Kaisha yang bergerak di sektor pertambangan Indonesia. Regulasi pada masa ini pada
prinsipnya mengakui regulasi yang ada pada masa Belanda selama hal tersebut tidak
mengurangi kepentingan Jepang yang kemudian dituangkan dalam UU No 1 tahun 1942.

Fase Orde Lama
Pada awal kemerdekaan, layaknya negara-negara lain yang baru merdeka, Indonesia
membutuhkan sumber keuangan yang potensial dan cepat untuk dapat dipergunakan sebagai
alat pembiayaan negara. Dalam situasi seperti ini barang tambang seperti hasil minyak bumi,
batubara, timah dan barang tambang lainnya diharapkan dapat menjadi sumber keuangan
tersebut. Akan tetapi karena peraturan perundangan yang dipergunakan masih merupakan
warisan kolonial, maka dalam kenyataannya masih memberikan kekuasaan dan hak yang
terlalu besar kepada pihak pemegang konsesi pertambangan. Oleh karenanya berdasarkan
mosi MR Teuku Mohammad Hasan tentang perubahan UU pertambangan peninggalan
kolonial, pemerintah kemudian mengeluarkan UU pertambangan yang baru sekaligus
menggantikan UU lama peninggalan kolonial.
Semangat nasionalisme Indonesia yang telah lepas dari penjajahan kemudian merambat ke
semua sektor kehidupan. Mosi MR Teuku Mohammad Hasan juga berangkat dari semangat
nasionalisme yang muncul pada sektor pertambangan. Pada sektor ini, pemerintah kemudian
mengeluarkan UU No 78 tahun 1958 yang menyatakan usaha pertambangan vital tertutup
bagi modal asing. Selanjutnya, usaha-usaha pertambangan yang dikuasai oleh pihak asing
khususnya Belanda harus dinasionalisasikan berdasarkan UU No 86 tahun 1958. UU ini
kemudian memberi legitimasi kepada pemerintah untuk menasionalisasi perusahaan-
perusahaan pertambangan asing, khusunya milik Belanda. Menindaklanjuti UU tersebut,
pemerintah juga menerbitkan dua Pernyataan Pemerintah dan satu Peraturan Pemerintah
yaitu, Pernyataan Pengambilalihan Perusahaan Pertambangan Singkep, dan Peraturan
Pemerintah pengambil alihan perusahaan-perusahaan asing, termasuk perusahaan-perusahaan
pertambangan. Selanjutnya, melalui UU No 10 tahun 1959 tentang Pembatalan Hak-Hak
Pertambangan, pemerintah kemudian memutus kontrak beberapa perusahaan pertambangan
yang dinilai tidak koperatif dan pengerjaannya tidak mengalami kemajuan sehingga tidak
memberikan kontribusi bagi negara. Sebenarnya, melalui perspektif hukum politik, analisis
terhadap keluarnya UU No 10 tahun 1959 ini erat kaitannya dengan persiapan pemerintah
untuk mengeluarkan kebijakan baru dalam sektor pertambangan. Sejatinya dalam setiap
kebijakan baru yang dikeluarkan diperlukan aturan peralihan yang menjelaskan status
permasalahan-permasalahan sejenis yang telah terjadi dan masih berlangsung pada saat
kebijakan tersebut diterapkan, serta mengatur hubungan hasil pelaksanaan kebijakan
terdahulu dengan kebijakan yang baru. Hal ini berguna untuk penerapan dasar kekuatan
116
berlakunya kebijakan yang baru. Dalam konteks ini, pasal peralihan tersebut berisikan
pengakuan dari Pemerintah RI terhadap semua hak-hak pertambangan yang diberikan oleh
penguasa kolonial Belanda maupun Jepang dengan penyesuaian kepada kehendak UU yang
baru.
Kemudian setelah diselidiki, ditemukan 2.871 hak pertambangan yang telah diterbitkan
oleh pemerintah kolonial yang berisikan 245 izin penyelidikan pertambangan, 60 kontrak 5a
eksplorasi, 66 kontrak 5a eksplorasi-eksploitasi, 272 konsesi eksploitasi, dan 21 permohonan
konsesi eksploitasi dan banyak hak pertambangan tersebut yang tidak dikerjakan lagi.
Beragam alasan yang ada, mulai dari keadaan yang masih belum aman karena perang yang
berkepanjangan hingga perusahaan yang mayoritas milik Belanda sudah ditinggal oleh
pemiliknya. Untuk menjamin kepastian hukum ditambah pertimbangan politis untuk
mempersiapkan jalan yang lancar bagi UU Pertambangan yang baru, maka diterbitkanlah UU
Tentang Pembatalan Hak-Hak Pertambangan Asing tersebut. Dengan adanya UU ini maka
status hukum beberapa perusahaan pertambangan menjadi jelas sehingga pemerintah
kemudian dapat dengan lebih leluasa mengeluarkan kebijakan baru di sektor pertambangan
yaitu UU Pertambangan No.37 Prp. Tahun 1960.
Pada fase orde lama ini, karakteristik regulasi yang muncul merupakan respon terhadap
situasi dan kondisi yang sangat kontekstual pada masa itu di mana terjadi pergolakan-
pergolakan di sekitar wilayah operasi perusahaan tambang diantaranya di wilayah
pertambangan minyak DI Aceh dan pantai timur Sumatera serta persoalan yang muncul dalam
pertambangan timah dan nasionalisasi menjadi milik pemerintah Indonesia.

Fase Orde Baru
Pergantian kepemimpinan dari Soekarno di orde lama ke Soeharto di orde baru yang
memang berbeda pandangan berimbas pada perubahan paradigma berpikir pemerintah. Jiwa
dan prinsip nasionalis yang terpatri pada kepemimpinan Soekarno semenjak awal
kemerdekaan kemudian diganti oleh tujuan pragmatis pembangunan ekonomi pada masa orde
baru. Untuk mewujudkan ide pembangunan ekonomi tersebut, dan sebagai simbol bentuk
kerangka berpikir, rezim yang baru mengeluarkan UU pertamanya yaitu UU No 1 tahun 1967
tentang Penanaman Modal Asing. Ada beberapa perpektif yang dapat dipergunakan dalam
menganalisis keluarnya UU ini, pertama, UU ini merupakan representasi pemikiran
pemerintah pada waktu itu yang beranggapan bahwa pembangunan ekonomi hanya dapat
dicapai dengan peningkatan investasi asing yang selama ini tidak pernah terjadi pada masa
orde lama, atau yang kedua UU ini merupakan manifestasi tukar guling pemerintah dengan
pihak asing sebagai imbal balik bantuan yang telah diberikan kepada rezim orde baru dalam
rangka menumbangkan rezim orde lama. Fenomena ini kemudian dipertegas dengan
keluarnya UU No 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan yang
menjadikan pembatalan terhadap UU No. 37 Prp/1960 tentang Pertambangan yang
menyatakan bahan galian dikuasai oleh negara.
Perlu diketahui bahwa menjelang kejatuhan orde lama, sekelompok negara-negara maju telah
melakukan pertemuan di Genewa untuk mengkavling 10 sektor kehidupan di Indonesia
yang akan dijadikan sasaran tembak segera setelah dukungan mereka menjatuhkan orde lama
dan menyokong naiknya orde baru berhasil, di mana sektor pertambangan merupakan sektor
pertama dan utama untuk dimasuki (lihat film dokumenter the new rulers of the world karya
sutradara John Pilger). Salah satu bentuk keseriusan asing dalam rencananya ini adalah
menyiapkan sebuah skenariocuci otak melalui proyek yang dikenal dengan Mafia Barkley.
Proyek ini adalah menyekolahkan orang-orang intelektual Indonesia untuk di Barkley, US,
yang mana nantinya orang-orang ini akan dikembalikan ke Indonesia untuk
117
dijadikan pejabat-pejabat negara. Dengan demikian paradigma berpikir pemerintah pada
waktu itu menjadi lebih mudah dikendalikan oleh asing karena arah dan tujuan kebijakan
sudah masuk dalam agenda setting sewaktu di Barkley tadi.
UU No 11 tahun 1967, sesuai dengan paradigma pembangun ekonomi yang dianut oleh
pemerintah, memberikan peluang besar kepada perusahaan swasta maupun perorangan untuk
ikut terlibat dalam kegiatan usaha pertambangan yang karena menjadi lahan yang begitu
basah kemudian dikenal dengan bisnis pertambangan. Meskipun dalam kenyataannya sektor
pertambangan kemudian dimonopoli oleh perusahaan swasta asing dan Badan Usaha Milik
Negara (BUMN). Kenyataan ini berjalan dengan fenomena kegiatan pertambangan
perseorangan yang sudah ada sejak dahulu menjadi tersingkirkan (atau disingkirkan). Masa
pemerintahan orde baru kemudian menghasilkan ratusan KK dan PKP2B bagi perusahaan-
perusahaan multinasional dan perusahaan lokal.
Pada prinsipnya, secara konstitusional tidak ada alasan untuk menolak pengusahaan
bahan galian di Indonesia. Amanat yang telah diberikan oleh UUD 1945 pasal 33 jelas
menginginkan adanya eksplotasi bahan galian untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Menjadi tugas pemerintahlah mengatur sistem dan tata cara pengusahaan bahan galian
tersebut sehingga cita-cita nasional untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dapat terpenuhi.
Akan tetapi selama pemerintah masih menganut sistem kontrak dengan perusahaan, maka
pemerintah harus rajin melakukan pengawasan dan negosiasi dengan pihak swasta untuk
mendapatkan hasil yang optimal. Dalam menganalisa masalah regulasi yang dikeluarkan
pemerintah, Adam Przewerski menjelaskan posisi yang lebih baik yang dimiliki oleh sektor
swasta. Ini disebabkan oleh pengetahuan swasta yang lebih relevan dan tidak diketahui oleh
pembuat peraturan. Tuntutan kepada pemerintah termasuk pemerintah daerah agar lebih
cerdas dan jeli dalam melihat permasalahan menjadi sebuah keharusan. Hanya inilah yang
dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil maksimal dari kegiatan pertambangan.

Fase Reformasi
Kejatuhan rezim orde baru menjadi salah satu momentum penting bagi masa
perkembangan industri pertambangan tanah air. Tidak ada pergeseran mendasar paradigma
pertambangan dikalangan pemerintah. Berbeda dengan perubahan rezim orde lama ke orde
baru yang benar-benar mengikis paradigma nasionalis, perubahan rezim orde baru ke orde
reformasi tidak memberikan sebuah pemahaman baru atas praktek usaha pertambangan
khususnya dikalangan pemerintah. Akan tetapi, pergeseran paling krusial ada pada stabilitas
keamanan dan kepastian hukum dalam berinvestasi. Gelombang reformasi yang menelurkan
arus demokratisasi dalam segala hal berimbas pada semakin banyaknya elemen yang ikut
bermain dalam kegiatan pertambangan termasuk tarik ulur kepentingan antara pusat dan
daerah maupun arogansi sektoral diantara berbagai pihak yang berimbas pada instabilitas
politik. Pemerintah baik pusat dan daerah, NGOs, komponen lintas departemen semuanya
memainkan peran sesuai dengan kepentingan masing-masing yang terkadang justru membuat
pelaku usaha pertambangan kebingungan dan harus mengeluarkan biaya tambahan yang
kebanyakan merupakan invisible cost. Pasca kejatuhan rezim orde baru, nyaris tidak ada lagi
KK ataupun PKP2B yang ditandatangani. Tidak ada investasi besar yang tertanam.
Sebaliknya orde reformasi yang memberikan dampak politik berupa pergeseran kekuasaan
dalam beberapa hal dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah telah membuat daerah-daerah
berlomba-lomba untuk membangun. Fenomena yang sama pada awal kemerdekaan dimana
bahan galian diharapkan dapat menjadi sumber pembiayaan, pada awal orde reformasi ini
ratusan bahkan ribuan Kuasa Pertambangan dikeluarkan pemerintah daerah kepada
perusahaan dengan harapan dapat memperoleh dana yang cepat untuk menjalankan
118
roda pembangunan daerahnya masing-masing. Sayangnya kesempatan ini tidak
dimanfaatkan dengan bijaksana oleh pemerintah daerah sehingga permasalahan pertambangan
bukannya terpecahkan malahan semakin rumit dan beraneka ragam. Konglomerasi yang
tumbuh subur di tingkat pusat akibat pengelolaan industri pertambangan yang sangat
sentralistik, hanya bergeser ke tingkat daerah dan melibatkan elit-elit daerah. Kearifan lokal
masyarakat sekitar tambang tetap tidak mendapatkan perhatian secara konseptual dari para
stakeholder pertambangan.

Permasalan Pertambangan Kontemporer
Perubahan rezim pemerintahan, perkembangan arus demokratisasi dan tuntutan
globalisasi yang mengiringi perjalanan pengelolaan sumberdaya alam memberi andil
tersendiri dalam melahirkan berbagai macam fenomena permasalahan yang muncul di dunia
pertambangan Indonesia kontemporer. Berbagai permasalahan tersebut diantaranya adalah:

1 Tumpang tindih peraturan
Tumpang tindih peraturan pada sektor pertambangan banyak disebabkan oleh
egosektoral diantara departemen-departemen yang terkait dengan kegiatan peruntukan lahan.
Hal yang paling jelas terlihat pada kasus UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang pada
pasal 38 ayat (4) menyatakan bahwa dikawasan hutan lindung dilarang melakukan kegiatan
pertambangan dengan pola pertambangan terbuka. Pada prinsipnya hal ini tidak masalah, akan
tetapi yang menjadi permasalahan adalah terdapat 22 Kontrak Karya yang telah
ditandatangani sebelum UU ini diberlakukan sehingga pemilik KK tidak bisa melanjutkan
kegiatannya. Tidakadanya aturan peralihan yang memperjelas status kontrak karya pada UU
ini membuat permasalahan terus berlarut sampai bertahun-tahun dan baru pada tahun 2004
pemerintah baru megeluarkan Perpu yang memberi kepastian hukum bagi kontrak
pertambangan yang telah disetujui sebelum pemberlakuan UU No 41 tahun 1999 tersebut.
Permasalahan-permasalahan seperti inilah yang kemudian banyak menyebabkan Indonesia
dinilai tidak dapat memberi keamanan dan kepastian hukum dalam berinvestasi.

2 Paradigma yang keliru dalam menafsirkan peraturan
Permasalahan yang berikutnya adalah paradigma yang keliru dan berbeda diantara
aparat pemerintah dalam menafsirkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, selain
karena isi dari peraturan tersebut yang memang tidak jelas artinya sehingga mengundang
ambiguitas penafsirannya. Beberapa contoh dalam kasus ini yang paling mendasar adalah
mengenai konsep dasar pengelolaan sumberdaya mineral di Indonesia. UUD 1945 pasal 33
ayat (2) dan (3) mengamanahkan bahwa 2) cabang-cabang produksi yang penting bagi negara
dan menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai negara. 3) bumi, air, dan kekayaan alam
yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Akan tetapi selama 40 tahun perjalan UU No 11 tahun 1967 tentang
Ketentuan Pokok Pertambangan yang menjadi payung hukum pengelolaan sumberdaya
mineral di Indonesia pada kenyataannya belum dapat mewujudkan cita-cita negara untuk
menciptkan kesejahteraan umum dan kemakmuran rakyat. Hal ini disebabkan karena
kelemahan dan kendala penerapan UU tersebut, diantaranya perubahan kewenangan antara
pusat dan daerah melalui proses desentralisasi pemerintahan, arus demokratisasi yang begitu
kencang pasca keruntuhan orde baru serta tuntutan transparansi dan akuntabilitas kebijakan
maupun finansial. Beberapa prinsip pengelolaan sumberdaya mineral yang dianggap tidak
relevan lagi akibat perubahan arus politik adalah:
119
Konsep Penguasaan dan Pemilikan atas Bahan Galian.
Pada pasal 33 ayat 3 UUD 1945 dinyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang
terkandung didalamnya dikuasai oleh negara. Dalam hal ini, pengertian dikuasai oleh
Negara tidak ada penjelasan secara tegas apakah dikuasai oleh Negara juga berarti
dimiliki oleh Negara. Dalam pasal 1 UU No.11 tahun 1967 tentang Pokok-pokok
Pertambangan mengenai pengusahaan bahan galian ditentukan sebagai berikut : Semua bahan
galian yang terdapat dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia yang merupakan
endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, adalah Kekayaan Nasional
Bangsa Indonesia dan karenanya dikuasai dan dipergunakan oleh negara untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat.
Konsepsi kepemilikan ini mejadi penting untuk menentukan bentuk pengelolaan
sumberdaya alam dan hasil yang berhak diterima dari pengelolaannya. Apabila tidak ada
ketegasan mengenai kepemilikan sumberdaya alam maka bisa saja disimpulkan bahwa semua
kandungan sumber daya alam yang ada di Indonesia ternyata tidak bertuan. UUD tidak pernah
memberikan pengakuan formal atas hak kepemilikan kepada siapapun. Padahal tanpa adanya
kejelasan tentang konsep kepemilikan atas mineral, akan sulit bagi pemerintah untuk
membuat kebijakan pertambangan yang tepat. Pada tataran yang lebih detail, pemerintah akan
mendapat masalah dalam penentuan royalty atau rente-rente mineral lainnya. Baik pemerintah
maupun rakyat akan sama sama mengklaim hak atas royalty. Penjelasan konsep kepemilikan
atas mineral sangat penting karena akan berpengaruh bagi penentuan royalty, rente mineral
atau skema pajak. Hal ini sudah sangat jelas terlihat pada beberapa kegiatan pertambangan
dimana masyarakat pemilik lahan potensial tidak mau menerima konsep pembebasan lahan
akan tetapi mereka menuntut royalty yang mereka tentukan sendiri dari tonase bahan galian
tertambang. Tindakan ini menjadi wajar dikalangan perorangan awam yang merasa memiliki
bahan galian yang terkandung di lahannya, walaupun secara konstitusi hal tersebut sama
sekali tidak bisa dibenarkan.

Sistem Kontrak Usaha Pertambangan
UU No.11 tahun 1967 memperkenalkan konsep kontrak karya dalam kegiatan usaha
pertambangan. Konsep kontrak ini menempatkan perusahaan dan negara berada dalam posisi
sejajar, karena kontrak dilakukan antara pemerintah dengan perusahaan. Cara ini dianggap
mampu memberikan iklim usaha pertambangan yang baik bagi pada investor untuk
menanamkan modalnya di Indonesia.
Ada yang perlu dicermati dalam konteks waktu pada saat sistem ini ditentukan oleh
pemerintah. Pada waktu itu pemerintah baru saja membangun rezim dengan prinsip yang
sangat sentraistik dimana keberadaan pemerintah daerah dinafikkan dan istana menjadi aktor
satu-satunya penentu kebijakan negara. Kondisi ini menyebabkan pemerintah pusat merasa
sangat diuntungkan oleh sistem ini karena sistem kontrak pemerintah dengan swasta pada satu
sisi dianggap mampu memberikan iklim investasi yang kondusif bagi investor, dan di sisi lain
akan melahirkan konglomerasi istana negara. Akan tetapi satu yang menjadi kelemahan dalam
sistem ini, entah disadari atau tidak oleh pemerintah pada waktu itu atau mungkin justru
disengaja, adalah kedudukan yang sejajar antara negara dengan swasta. Keadaan ini
menempatkan negara pada posisi tawar yang sangat lemah dan tidak punya harga diri dan
martabat sama sekali. Apabila sistem seperti ini terus dipertahankan maka perlahan-lahan
eksistensi negara menjadi bias bahkan hilang sama sekali.

3 Ketidaksiapan mental dan moral menghadapi arus demokratisasi dan terbukanya
kesempatan pengelolaan sumberdaya mineral.
Konsep Penguasaan dan Pemilikan atas Bahan Galian.
Pada pasal 33 ayat 3 UUD 1945 dinyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang
terkandung didalamnya dikuasai oleh negara. Dalam hal ini, pengertian dikuasai oleh
Negara tidak ada penjelasan secara tegas apakah dikuasai oleh Negara juga berarti
dimiliki oleh Negara. Dalam pasal 1 UU No.11 tahun 1967 tentang Pokok-pokok
Pertambangan mengenai pengusahaan bahan galian ditentukan sebagai berikut : Semua bahan
galian yang terdapat dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia yang merupakan
endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, adalah Kekayaan Nasional
Bangsa Indonesia dan karenanya dikuasai dan dipergunakan oleh negara untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat.
Konsepsi kepemilikan ini mejadi penting untuk menentukan bentuk pengelolaan
sumberdaya alam dan hasil yang berhak diterima dari pengelolaannya. Apabila tidak ada
ketegasan mengenai kepemilikan sumberdaya alam maka bisa saja disimpulkan bahwa semua
kandungan sumber daya alam yang ada di Indonesia ternyata tidak bertuan. UUD tidak pernah
memberikan pengakuan formal atas hak kepemilikan kepada siapapun. Padahal tanpa adanya
kejelasan tentang konsep kepemilikan atas mineral, akan sulit bagi pemerintah untuk
membuat kebijakan pertambangan yang tepat. Pada tataran yang lebih detail, pemerintah akan
mendapat masalah dalam penentuan royalty atau rente-rente mineral lainnya. Baik pemerintah
maupun rakyat akan sama sama mengklaim hak atas royalty. Penjelasan konsep kepemilikan
atas mineral sangat penting karena akan berpengaruh bagi penentuan royalty, rente mineral
atau skema pajak. Hal ini sudah sangat jelas terlihat pada beberapa kegiatan pertambangan
dimana masyarakat pemilik lahan potensial tidak mau menerima konsep pembebasan lahan
akan tetapi mereka menuntut royalty yang mereka tentukan sendiri dari tonase bahan galian
tertambang. Tindakan ini menjadi wajar dikalangan perorangan awam yang merasa memiliki
bahan galian yang terkandung di lahannya, walaupun secara konstitusi hal tersebut sama
sekali tidak bisa dibenarkan.
120
Mental pemerintah
Pergeseran kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah membuat daerah
mendapat porsi yang lebih besar dalam partisipasi pengelolaan sumberdaya alam. Akan tetapi
ketidakmampuan daerah baik dari sumberdaya manusia maupun modal mengharuskan
pemerintah daerah hanya melanjutkan cara-cara lama dalam pengelolaan pertambangan.
Ketidaksiapan mental sumberdaya manusia ini membuat daerah terkadang mengeluarkan
kebijakan yang dianggap hanya berorientasi pada upaya memaksimalkan pendapatan dari
diversifikasi pajak yang pada kenyataannya membuat kesulitan dan kebingungan pihak
perusahaan. Hal ini kemudian membuat Mahkamah Konstitusi harus mencabut ratusan Perda
yang dianggap menyalahi etika dan tidak menimbulkan suasana kondusif untuk berinvestasi.
Belum lagi arogansi antar daerah yang membuat perusahaan terkadang harus mengeluarkan
biaya yang sama untuk dua daerah yang berbeda jika kegiatan pertambangan mereka berada
pada lebih dari satu kabupaten.
Ketidaksiapan mental pemerintah juga berimbas pada tumpang tindih peruntukan lahan
akibat kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Dalam beberapa kasus
kita temukan tumpang tindih antar kepemilikan kuasa pertambangan atau tumpang tindih
kontrak karya dengan kuasa pertambangan.

Mental penambang
Ketidaksiapan mental penambang paling jelas terlihat pada munculnya fenomena
Pertambangan Tanpa Izin (PETI). PETI adalah usaha pertambangan yang dilakukan oleh
perseorangan, sekelompok orang, atau perusahaan yayasan berbadan hukum yang dalam
operasinya tidak memiliki izin dan instansi pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Fenomena PETI muncul sejalan dengan era reformasi yang masih berlanjut
dengan berbagai krisis ekonomi yang terjadi. PETI diawali oleh keberadaan para penambang
tradisional, yang kemudian berkembang karena adanya faktor kemiskinan, keterbatasan
lapangan kerja dan kesempatan usaha, keterlibatan pihak lain yang bertindak sebagai cukong
dan backing, ketidakharmonisan hubungan antara perusahaan dengan masyarakat setempat,
serta krisis ekonomi berkepanjangan yang diikuti oleh penafsiran keliru tentang reformasi.
Masyarakat lokal yang tertindas dan terpinggirkan bangkit untuk memperjuangkan hak-
haknya yang merasa terampas oleh perusahaan-perusahaan multinasional pertambangan dan
pemerintah pusat. Bukan hanya atas tanah rakyat, tetapi juga hak atas pengelolaan
pertambangan yang telah turun temurun diwarisi secara perorangan ataupun keluarga.
Analisa ini bukan merupakan pembenaran terhadap tindakan PETI, akan tetapi hanya
berusaha untuk memahami motif dan perilaku para penambang tanpa izin ini untuk
menghasilkan altenatif solusi kedepannya.
Pokok permasalahan sebenarnya adalah adanya ketidakadilan pemerintah dalam
mensejahterakan rakyatnya. Keberadaan perusahaan-perusahaan besar di sektor pertambangan
menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan sosial. Hal ini terjadi karena keuntungan
ekonomi yang didapat pelaku tambang dianggap tidak terbagi secara adil kepada masyarakat
lokal. Perilaku menyimpang dalam bentuk PETI pada dasarnya tidak terlepas dari andil dan
kebijakan pemerintah sebagai pemegang amanat pasal 33 UUD 1945. UU No 11 tahun 1967
kurang memperhatikan pengembangan wilayah dan kesejahteraan masyarakat serta peraturan
yang kurang berpihak kepada kepentingan masyarakat lokal. Seperti tidak adanya jaminan
pertambangan rakyat dapat beroperasi jika perusahaan besar masuk ke dalam wilayah
pertambangan rakyat. Di sisi lain, kelemahan dalam penegakan hukum dan peraturan
Mental pemerintah
Pergeseran kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah membuat daerah
mendapat porsi yang lebih besar dalam partisipasi pengelolaan sumberdaya alam. Akan tetapi
ketidakmampuan daerah baik dari sumberdaya manusia maupun modal mengharuskan
pemerintah daerah hanya melanjutkan cara-cara lama dalam pengelolaan pertambangan.
Ketidaksiapan mental sumberdaya manusia ini membuat daerah terkadang mengeluarkan
kebijakan yang dianggap hanya berorientasi pada upaya memaksimalkan pendapatan dari
diversifikasi pajak yang pada kenyataannya membuat kesulitan dan kebingungan pihak
perusahaan. Hal ini kemudian membuat Mahkamah Konstitusi harus mencabut ratusan Perda
yang dianggap menyalahi etika dan tidak menimbulkan suasana kondusif untuk berinvestasi.
Belum lagi arogansi antar daerah yang membuat perusahaan terkadang harus mengeluarkan
biaya yang sama untuk dua daerah yang berbeda jika kegiatan pertambangan mereka berada
pada lebih dari satu kabupaten.
Ketidaksiapan mental pemerintah juga berimbas pada tumpang tindih peruntukan lahan
akibat kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Dalam beberapa kasus
kita temukan tumpang tindih antar kepemilikan kuasa pertambangan atau tumpang tindih
kontrak karya dengan kuasa pertambangan.
121
perundang-undangan yang menganaktirikan pertambangan oleh rakyat, juga ikut
mendorong maraknya PETI.
Selanjutnya, karena kegiatan PETI yang tidak menerapkan kaidah pertambangan secara
benar, sementara di sisi lain bahan galian bersifat tak terbarukan dan dalam pengusahaannya
berpotensi merusak lingkungan, maka yang terjadi kemudian adalah berbagai dampak negatif
yang tidak saja merugikan pemerintah, tetapi juga masyarakat luas dan generasi mendatang.
Kerusakan lingkungan, pemborosan sumber daya mineral, dan kemerosotan moral merupakan
contoh dari dampak negatif yang merugikan. Khusus bagi pemerintah, dampak negatif itu
ditambah pula dengan kerugian akibat kehilangan pendapatan dari pajak dan pungutan
lainnya, biaya untuk memperbaiki lingkungan, pelecehan terhadap kewibawaan, dan
kehilangan kepercayaan dari investor.

Mental masyarakat disekitar lokasi tambang
Permasalahan mental tidak hanya dialami oleh pemerintah dan para penambang, tetapi
juga oleh masyarakat sekitar lokasi pertambangan. Dalam beberapa kasus penulis menemukan
bahwa ada profesi baru dalam dunia pertambangan yang merupakan efek berganda dari
kegiatan pertambangan itu sendiri, yaitu penunggu pembebasan lahan. Dalam sebuah cerita
dari pedalaman Kalimantan seorang nenek sangat berharap lahanya dibebaskan oleh
perusahaan pertambangan, namun karena wilayah kerja perusahaan belum mencapai lahan si
nenek, maka lahan si nenek belum dibebaskan. Sang nenek kemudian meninggal dunia. Akan
tetapi harapan itu tidak sirna, sebelumnya telah diwariskan pada anaknya. Lalu sang anak juga
mengalami hal yang sama yaitu menunggu pembebasan lahan yang tidak jelas entah kapan
dilakukan, atau bahkan tidak pernah terjadi sama sekali. Kini sang anak telah meninggal dunia
dan digantikan oleh sang cucu. Usia sang cucu sudah beranjak tua ketika penulis mengetahui
cerita ini. Mungkin tidak lama lagi beliau akan meninggal juga dan mimpi pembebasan lahan
tetap hanya menjadi warisan keluarga yang abadi. Pengalaman yang hampir sama juga penulis
temukan di beberapa tempat, salah satunya di pelosok Sumatera. Ironis.
Permasalahan mental seperti ini telah membuat masyarakat menjadi tidak produktif dan
hanya menggantungkan nasib pada kebijakan dan tindakan orang lain yang nota bene berada
diluar jangkauannya. Mimpi untuk mendapatkan uang dari ganti rugi pembebasan lahan telah
merasuk dan menggerogoti pikiran masyarakat sehingga lupa bahwa bekerja dan
menghasilkan sesuatu untuk melangsungkan kehidupan itulah yang lebih penting daripada
sekedar menunggu pembebasan lahan.

Mental Inlander, Sebuah Refleksi
Soekarno memang benar: Perjuanganku lebih mudah daripada perjuanganmu.
Perjuanganku hanyalah melawan penjajahan asing, sedangkan perjuanganmu adalah melawan
penjajahan dari bangsamu sendiri.
Perjalanan 100 tahun kebangkitan nasional memberikan gambaran segelumit permasalahan
pertambangan yang ada di negeri ini. 100 tahun kebangkitan nasional bukanlah ajang untuk
terus menyalahkan masa lalu atau justru memimpikan masa lalu kembali terjadi. Akan tetapi
100 tahun kebangkitan nasional hendaklah memberi pelajaran apa dan bagaimana seharusnya
bangsa ini berbuat dan membangun sendi-sendi kehidupan bermasyarakat melalui kegiatan
usaha pertambangan. Masa lalu telah memberikan contoh bagaimana pemanfaatan
sumberdaya alam ini dikelola, dan menjadi hak pribadi masing-masing untuk menanggapi dan
memberi penilaian terhadap apa yang dihasilkan oleh sistem pengelolaan masa lalu sampai
sekarang, apakah sistem tersebut merupakan cara yang paling baik untuk memanfaatkan
sumberdaya alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat atau ternyata thesis Tan Malaka di
perundang-undangan yang menganaktirikan pertambangan oleh rakyat, juga ikut
mendorong maraknya PETI.
Selanjutnya, karena kegiatan PETI yang tidak menerapkan kaidah pertambangan secara
benar, sementara di sisi lain bahan galian bersifat tak terbarukan dan dalam pengusahaannya
berpotensi merusak lingkungan, maka yang terjadi kemudian adalah berbagai dampak negatif
yang tidak saja merugikan pemerintah, tetapi juga masyarakat luas dan generasi mendatang.
Kerusakan lingkungan, pemborosan sumber daya mineral, dan kemerosotan moral merupakan
contoh dari dampak negatif yang merugikan. Khusus bagi pemerintah, dampak negatif itu
ditambah pula dengan kerugian akibat kehilangan pendapatan dari pajak dan pungutan
lainnya, biaya untuk memperbaiki lingkungan, pelecehan terhadap kewibawaan, dan
kehilangan kepercayaan dari investor.
122
awal tulisan ini telah terbukti adanya. Setiap dari manusia adalah anak zamannya
masing-masing, namun satu hal yang pasti adalah setiap dari manusia juga mengemban tugas
yang tidak mudah dalam membangun negara. Kesiapan mental yang menjadi kuncinya.
Namun sayang sekali jika kita melihat persoalan kunci tersebut dalam kehidupan
pertambangan kita saat ini. Ketika kita berbicara mengenai investor, maka yang ada dalam
bayangan kita adalah orang yang kulitnya putih dan rambutnya pirang. Ketika kita berbicara
mengenai teknologi maka yang menjadi patokan kita adalah apa yang dipraktekkan oleh
mahluk dari benua lain. Ketika kita berbicara mengenai baik dan buruk, maka yang menjadi
bayangan kita adalah apa yang dapat membuat mereka smile dan mengatakan good atau great
karena hanya dengan cara itulah kita bisa mendapatkan uang. Dan ketika kita berbicara
mengenai kemiskinan dan keterbelakangan, maka yang menjadi kesepakatan kita bersama
adalah bangsa kita sendiri. Alih-alih menjalankan amanah membangun negara yang dititipkan
dipundaknya, putra-putri terbaik bangsa memilih untuk jadi penjajah atas bangsanya sendiri,
merusak tatanan yang sudah dibangun oleh pada pendiri negara hanya untuk kepentingan
pribadi dan sesaat.
Deskripsi historis yang telah dikemukakan tidak penulis harapkan untuk melecehkan
pengetahuan para pembaca yang mungkin jauh lebih memahami permasalahan tersebut, atau
hanya sekedar melengkapi jumlah halaman tulisan yang disyaratkan oleh panitia, namun
sesungguhnya hanya sebagai refleksi atas perjalanan pertambangan Indonesia dari masa ke
masa sebagai landasan bagi kita untuk bertindak dan menentukan arah pembangunan
pertambangan negara ini kedepan. Bukan dengan menyerahkan semuanya kepada orang lain
dengan alasan produktifitas, efisiensi, dan kemajuan teknologi lalu kita menjadi ekor yang
baik atau bahkan terompet yang nyaring, akan tetapi bagaimana kita mulai berbuat
membangun masyarakat kita, atau mungkin hanya sekedar belajar untuk meniup terompet kita
sendiri. Ingat JAS MERAH (jangan sekali-sekali melupakan sejarah) karena bangsa yang
besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya (Soekarno).
123
Daftar Bacaan

Buku dan Artikel
Chairil, Ryad., RUU Pertambangan: Ijin Usaha VS Kuasa Pertambangan, Universitas
Meulbourne, Australia
Hidayat, Arif., 2001, Ketika Tambang di Arena Reformasi secuil pengalaman di kepulauan
Bangka, Mining Contribution Development Watch, Bandung.
Ishak, Awang Faroek., 2003, Memperjuangkan Hak Rakyat Kalimantan Timur, Forum
Indonesia Tumbuh, Jakarta.
Kiroyan, Noke., 2000, Community Development: a Cost for Doing Business in the Mining
Industry, Indonesian Mining Association, Mining Indonesia Conference Jakarta.
Malaka, Tan., 2000, Madilog (Materialisme Dialektika dan Logika), Taplok Press, Jakarta.
Sumantri, Edy., 2007, Pertambangan Tanpa Izin dan Karakteristiknya, Majalah Info
Pertambangan, Jakarta.
Thalib Sajuti, 1971, Hukum Pertambangan Indonesia, Akademi Geologi dan Pertambangan,
Bandung.
Wahju B. N. 2001, Kondisi aktual penyelenggaraan Otda bidang Pertambangan, Indonesian
Mining Association, Jakarta.
Zidni, Fauzan., Ekonomi Politik Pertambangan di Indoneia, Lee Kuan Yew School of Public
Policy, Singapura

Website dan Majalah
http://www.minergynews.com/opinion/ryad.shtml
http://miningwatch.tripod.com
Majalah Tambang Edisi Feburari 2007

Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah
Undang-Undang No 10 Tahun 1959 Tentang Pembatalan Hak-Hak Pertambangan
Undang-Undang No 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 37 Tahun 1960 Tentang Pertambangan
124
STRATEGI PEMILIHAN TEKNOLOGI PEMANFAATAN
BATUBARA PERINGKAT RENDAH INDONESIA


Rudianto Ekawan
1)
,
Aryo P Wibowo
1)
, Rudy S Gautama
1)
,
Fadhila A Rosyid
1)
, Johannes Novendi
2)

1) Kelompok Keahlian Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan &
Perminyakan, Institut Teknologi Bandung
2) Program Magister Rekayasa Pertambangan, Institut Teknologi Bandung
Alamat: Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132, Indonesia
Telp: (+62 22) 2508131, 2502239
Faks: (+62 22) 2504209

Ringkasan

Sumber energi batubara di Indonesia cukup melimpah, terutama di Sumatera dan Kalimantan
yang memiliki sumberdaya dan cadangan yang cukup besar. Dari keseluruhan sumberdaya
batubara tersebut 22,53% merupakan jenis batubara peringkat rendah (Low Rank Coal).
Batubara peringkat rendah adalah jenis batubara yang paling rendah kualitasnya, bersifat
lunak, mudah diremas, mengandung kadar air yang tinggi, terdiri atas batubara coklat muda
lunak (soft brown coal) dan batubara lignitik atau batubara coklat keras (lignitik atau hard
brown coal) yang seringkali masih memperlihatkan struktur kayu. Karakteristiknya adalah:
Calorific value < 5100kCal/kg; Total Moisture >35%; Ash <10%, rata-rata 5%; Volatile
Matter >33%; HGI >60 dan Total Sulfur <1%,rata-rata 0.3 %.

Batubara peringkat rendah pada kondisi tertentu tidak mempunyai nilai ekonomis. Sehingga
untuk menambah nilai ekonomisnya, batubara jenis tersebut perlu diolah terlebih dahulu.
Penambahan nilai ekonomis batubara peringkat rendah dapat dilakukan antara lain melalui:
Mine Mouth Power Plant , Brown Coal Liquefaction (BCL), Coal Water Mixture (CWM)
Gasifikasi (IGCC), Underground Coal Gasification (UGC), Upgrading Brown Coal (UBC),
Binderless Coal Briquetting (BCB), Briquette Coal , dan Coal Costum Plant (CPP).

Untuk memilih metode pengolahan yang tepat terhadap cadangan batubara peringkat rendah,
perlu dipertimbangkan variabel-variabel yang mempengaruhi aplikasi teknologi pemanfaatan
batubara peringkat rendah di daerah prospek. Secara umum, variabel tersebut dapat
dikategorikan sebagai faktor internal dan eksternal. Faktor internal, diantaranya meliputi:
karakteristik batubara, kondisi geologi, jumlah sumberdaya dan penyebarannya, dan jenis
teknologi pemanfaatannya, sedangkan faktor eksternal, antara lain adalah: kesampaian
daerah; posisi geografi, dan potensi pemasarannya. Berdasarkan variabel-variabel tersebut
kesesuaian antara endapan batubara peringkat rendah dengan kemungkinan pemanfaatannya
akan dianalisis menggunakan analisis pengambilan keputusan multi kriteria, sehingga dapat
diketahui peta kesesuaian teknologi pemanfaatan batubara peringkat rendah di berbagai
daerah di Indonesia.

Kata kunci: Batubara peringkat rendah, teknologi pemanfaatan, kriteria pemilihan
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
1. PENDAHULUAN

Perkembangan produksi batubara Indonesia selama 13 tahun terakhir telah menunjukkan
peningkatan yang cukup pesat, dengan kenaikan produksi rata-rata 15,68% per tahun. Pada
tahun 1992 produksi batubara Indonesia sebesar 22,91 juta ton yang selanjutnya mengalami
peningkatan mencapai 150 juta ton pada tahun 2005. Perkembangan produksi batubara
tersebut tidak terlepas dari peningkatan permintaan dalam negeri dan peningkatan pasar
ekpor yang dari tahun ke tahun bertambah besar. Dalam kurun waktu 1992 2005 penjualan
pasar ekspor Indonesia mengalami peningkatan rata-rata 14,4 16%.

Dari total produksi, sebagian besar produksi batubara Indonesia digunakan untuk memenuhi
pasar ekspor. Untuk setiap tahunnya, rata-rata penjualan batubara Indonesia pada pasar
ekspor adalah 72,11% sementara sisanya sebesar 27,89% digunakan untuk konsumsi dalam
negeri. Jika diasumsikan proyeksi untuk tahun mendatang mengikuti kecenderungan di atas,
maka pada tahun 2005 produksi pada tahun 2025 akan meningkat menjadi sekitar 628 juta
ton.

Menyadari hal tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan di bidang pengembangan
sumberdaya energi untuk menciptakan keamanan pasokan energi nasional secara
berkelanjutan dan memanfaatkan energi secara efisien, untuk mencapai bauran energi (energy
mix) yang optimal pada tahun 2025. Dalam sasaran energy mix nasional tersebut, batubara
menempati urutan pertama dalam memasok energi nasional sebesar 33%.

Untuk mencapai kondisi tersebut, pemerintah telah menetapkan Kebijakan Batubara Nasional
yang ditetapkan berdasarkan Kepmen ESDM No.1128 th 2004 Kebijakan Batubara Nasional
mencakup aspek; kebijakan pengelolaan sumberdaya batubara, kebijakan pengusahaan,
kebijakan pemanfaatan, dan kebijakan pengembangan. Salah satu sasaran dari kebijakan
tersebut adalah batubara peringkat rendah. Sehingga diharapkan dengan miningkatkan peran
batubara peringkat rendah, peran batubara dalam energy mix dapat tercapai.

2. SUMBERDAYA BATUBARA PERINGKAT RENDAH INDONESIA
Indonesia mempunyai sumberdaya batubara (termasuk batubara peringkat rendah) yang
melimpah. Jumlah keseluruhan sumberdaya batubara Indonesia adalah 93,402.51 juta ton (
Sumber: Amandemen I-SNI 13-50414-1998 ) yang tersebar di Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
dan Papua.
Tabel 1. Sebaran Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia

KUALITAS
CADANGAN
(Juta Tons) PULAU
KALORI KRITERIA
SUMBERDAYA
(Juta Tons)
TERKIRA TERBUKTI
JAWA RENDAH-SEDANG <5100-6100 11.24 - -
TINGGI-SANGAT TINGGI 6100-7100 2.97 - -
SUMATERA RENDAH-SEDANG <5100-6100 51,092.29 10,459.51 770.69
TINGGI-SANGAT TINGGI 6100-7100 1,432.29 184.94 134.11
KALIMANTAN RENDAH-SEDANG <5100-6100 28,530.11 2,180.96 3,239.06
TINGGI-SANGAT TINGGI 6100-7100 11,937.95 551.14 1,253.79
SULAWESI RENDAH-SEDANG <5100-6100 218.42 - -
TINGGI-SANGAT TINGGI 6100-7100 14.68 - -
MALUKU RENDAH-SEDANG <5100-6100 2.13 - -
TINGGI-SANGAT TINGGI 6100-7100
PAPUA RENDAH-SEDANG <5100-6100 122.51 - -
TINGGI-SANGAT TINGGI 6100-7100 30.91 - -
TOTAL 93,402.51 13,249.76 5,461.79

126
2.1. Klasifikasi Batubara Peringkat Rendah

Batubara peringkat rendah adalah jenis batubara yang paling rendah peringkatnya, bersifat
lunak-keras, mudah diremas, mengandung kadar air tinggi, memperlihatkan struktur kayu,
dan nilai kalorinya < 5100 kcal/kg.

Secara geologis endapan batubara peringkat rendah terkonsentrasi pada cekungan-cekungan
tersier di Indonesia bagian barat yaitu di Kepulauan Sumatera dan Kepulauan Kalimantan.
Batubara peringkat rendah termasuk dalam kelompok Neogen (Meosen dan Pilosen)
berdasarkan umurnya. Batubara Neogen di temukan di Cekungan Sumatera Selatan,
Cekungan Meulaboh (Nanggroe Aceh Darusalam), Cekungan Kutai dan Cekungan Tarakan
(Kalimantan Timur), dan Cekungan Barito (Kalimantan Selatan).

Berikut diterangkan klasifikasi batubara peringkat rendah dari badan nasional dan
internasional:
Klasifikasi Batubara Peringakt Rendah Menurut ASTM
Standart ASTM mengklasifikasikan batubara peringkat rendah dalam jenis batubara
lignit yang mempunyai gross calorific value 3500-4600 kcal/kg, dengan total
moisture (TM) > 35%.
Dirunjuk: Amerika Serikat
( Sumber: Makala, Low Rank Coal and Its Contribution to Energy Development in Indonesia , oleh Soedjoko Tirtosoekatjo )
Klasifikasi Internasional Untuk Batubara Peringkat Rendah
Standart ISO mengklasifikasikan batubara peringkat rendah dalam jenis brown coal
yang mempunyai gross calorific value < 6100 kcal/kg.
Dirunjuk: Australia, Eropa, dan Jepang
( Sumber: Makala, Low Rank Coal and Its Contribution to Energy Development in Indonesia , oleh Soedjoko Tirtosoekatjo )
Standart Indonesia (SNI)
SNI mengklasifikasikan batubara peringkat rendah dalam jenis batubara lignit sampai
ke sub bitiminous C, yang mempunyai calorific value < 5100 dengan total moisture >
35%. ( Sumber: Perpen No.13, Tahun 2000 dan No. 45/2004 )

2.2. Sebaran Batubara Peringkat Rendah

Berdasarkan data Direktorat Jendral Mineral, Batubara, dan Panasbumi, batubara peringkat
rendah di Indonesia tersebar di 10 propinsi di Indonesia. Jumlah total sumberdaya batubara
tersebut adalah 15 milyar ton, atau 25% dari total sumberdaya batubara yang dimiliki oleh
Indonesia. Sebaran batubara peringkat rendah di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2. Pada
tabel tersebut dapat dilihat bahwa hampir sebagian besar sumberdaya batubara peringkat
rendah Indonesia terdapat di Pulau Sumatra (95,85%) sementara sisanya ada di Pulau
Kalimantan (4,15%). Sementara dari cadangan, hanya 3 propinsi yang mempunyai status
cadangan batubara peringkat rendah, yaitu Sumatra Selatan (76,88%), Kalimantan Selatan
(15,54%), dan Kalimantan Timur (7,58%).
127
Tabel 2. Sebaran Sumberdaya dan Cadangan Batubara Peringkat Rendah Indonesia

Sumberdaya
Propinsi
CV
(Kkal/Kg)
Hipotetik
(juta ton)
Tereka
(juta ton)
Terkira
(juta ton)
Terukur
(juta ton)
Total
Sumberdaya
(juta ton)
Cadangan
(juta ton)
NAD <5100 0.00 20.92 6.70 64.14 91.76 0.00
Sumatra Utara <5100 0.00 0.00 0.00 19.97 19.97 0.00
Sumatra Barat <5100 0.00 73.69 0.00 52.63 126.32 0.00
Riau <5100 0.00 73.69 0.00 52.63 126.32 0.00
Bengkulu <5100 0.00 11.34 0.00 10.58 21.92 0.00
Jambi <5100 0.00 51.13 0.00 0.00 51.13 0.00
Sumatra Selatan <5100 1,684.55 74,400.27 2,300.07 0.00 78,384.89 2,653.98
Kalimantan Timur <5100 0.00 295.94 75.39 1,588.17 1,959.50 261.73
Kalimantang
Tengah
<5100 0.00 483.92 0.00 0.00 483.92 0.00
Kalimantan Selatan <5100 0.00 370.87 0.00 600.99 971.86 536.33
Sumber: Indonesia Coal Book 2006/2007

2.3. Pengusahaan Batubara Peringkat Rendah

Batubara peringkat rendah di Indonesia sudah mulai diusahakan di Indonesia, walaupun sebagian besar masih
berada di dalam tahap eksplorasi, studi kelayakan, dan konstruksi. Beberapa pemegang konsesi yang sudah
menjalankan kegiatan produksi sebagian besar berada di Propinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Perusahaan tambang batubara di propinsi tersebut diperkirakan dapat melakukan kegiatan produksi batubara
kualitas rendah dikarenakan batubara tersebut digunakan sebagai pencampur (blended coal) untuk batubara yang
diproduksi pada blok yang lain dalam satu konsesi. Selain ada juga yang digunakan untuk pesokan PLTU
(Asam-Asam). Pengusahaan batubara peringkat rendah di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengusahaan Batubara Peringkat Rendah di Indonesia

Kualitas
Propinsi Pemegang Konsesi Status
CV (kcal/kg) TS (adb) (%) Ash (adb) (%) TM (%)
Riau Abadi Batubara Cemerlang, PT
Studi
Kelayakan
3,487-5,025 0.22-0.29 3.28-12.12 49.99-56.36
Bengkulu Kili Suci Pramita, PT Produksi 4833-6381 0.23-0.44 3.28-7.54 14.80-31.54
Jambi Intitirta Primasakti, PT Produksi 5.005-5789 0.10-0.40 2.7 30.00-46.00
Adimas Baturaja Cemerlang, PT
- keban agung 4588-4811 0.19-2.28 6.63-12.37 41.63-42.04
- sungsang poding
Konstruksi
3639-4719 0.14-1.42 3.00-30.50 38.40-50.00
Astaka Dodol, PT
- block A 5035-6290 0.10-0.90 0.90-11.40 21.00-46.70
- block B 3915-5865 0.10-0.40 2.10-9.40 46.00-63.20
- block C
Eksplorasi
4426-5765 0.10-0.60 30-12.50 34.10-57.40
Baturona Adimulya, PT
- muara teladan 4999-5360 0.20-0.50 3.30-6.80 5.00-61.50
- keluang 4880-5730 0.30-2.60 2.50-12.30 37.60-51.80
- lais
Studi
Kelayakan
5095-5600 2.10 3.50-10.20 52.30-54.30
Pendopo Energi Batubara, PT
- benuang 4620-5282 0.10-1.70 6.20-15.30 47.80-58.90
- sigoyang
Studi
Kelayakan 4820-5200 0.20-0.40 4.20-8.30 50.90-59.20
Selo Argodedali 5079 0.59 7.46 47.64
Sumsel
Selo Argodedali Sakti
Eksplorasi
4425-5725 0.10-0.26 2.30-11.10 32.80-52.10
Kaltim Garda Tujuh Buana, PT Produksi

128
- bunyu coal 5000-5200 0.20-0.40 2.00-5.00 30.00-32.00
Insani Bara Perkasa, PT
- tani bakti selatan 4434-5059 0.14-0.19 1.90-8.20 26.00-33.70
- tani bakti utara
Produksi
4113-5441 0.10-0.31 2.50-32.50 20.10-28.40
Multi Harapan Utama, PT
- Block II
Produksi
4238-5278 0.33-3.86 0.50-7.20 14.70-25.80
Pesona Khatulistiwa Nusantara,
PT

- Kelubir 4470 2.30 7.38 20.00
- Wonomulyo 4470 0.10 3.58 42.80
- Mangkupadi
Studi
Kelayakan
4045 0.09 3.00 64.10
Singlurus Pratama, PT

- Argosari
Studi
Kelayakan 4800-5000 - - -
Asmin Koalindo Tuhup
Kalteng
- warukin
Eksplorasi
<5000 - - >40.00
Andaro Indonesia
- wara
Produksi
4000 0.14 2.30 40.00
Arutmin Indonesia
- asam-asam
Produksi
5000 0.15 3.90 23.00
Bara Pramulya Abadi
- f. warukin
Eksplorasi
4239-4961 0.19-1.58 1.20-4.40 35.90-54.90
Kalsel
Kalimantan Energi Utama Produksi 5000-5100 0.60-0.80 5.01-56.00 25.00
Sumber: Indonesia Coal Book 2006/2007


3. EVALUASI TEKNOLOGI PEMANFAATAN BATUBARA PERINGKAT RENDAH

Batubara peringkat rendah telah dimanfaatkan dengan bermacam-macam teknologi. Teknologi tersebut beberapa sudah terbukti mampu untuk
meningkatkan kualitas batubara peringkat rendah dan telah dibuat pilot project. Namun demikian terdapat beberapa kendala yang menyebabkan teknologi
tersebut belum dapat diterapkan. Berikut akan diulas teknologi pemanfaatkan batubara peringkat rendah beserta keuntungan dan kerugian dari
penerapannya yang secara komprehensif dapat dilihat pada Tabel 4.

PLTU Mulut Tambang (Mine Mouth Power Plant)
Penggunaan batubara peringkat rendah untuk PLTU mulut tambang adalah miningkatkan kemanfaatan batubara jenis lignit. Karena batubara jenis
lignit mempunyai kandungan air yang cukup tinggi, sehingga menyebabkan ketidakefisienan dalam kegiatan transportasi. Dengan pembangunan
PLTU mulut tambang akan menjadikan biaya transportasi menjadi minimal. Karakteristik batubara untuk digunakan sebagai PLTU mulut tambang;
CV: 3500 5300 Kkal/Kg, TM: < 40%, Ash: < 6%, Sulfur Content: < 2.2%, HGI: 45 65, AFT: min 1100C. (Sumber: PT. PLN)
Briket Batubara (Coal Briquett)
Briket batubara adalah bahan bakar padat dengan bentuk dan ukuran tertentu, yang tersusun dari butiran batubara halus yang telah mengalami
proses pemampatan dengan daya tekan tertentu, agar bahan bakar tersebut lebih mudah ditangani dan menghasilkan nilai tambah dalam
pemanfaatannya. Terdapat 3 jenis briket batubara;
1. Briket batubara dengan karbonasi.
Proses karbonisasi bertujuan untuk menaikan kadar karbon padat dan menghilangkan sebagian zat terbang. Penerapannya adalah pada batubara
129
peringkat rendah, dengan kulaitas; CV: > 3500 Kkal/Kg, Ash: < 5%, Sulfur
Content: < 1%, HGI: > 60%, VM: > 33%. ( Sumber: Permen ESDM No.47 Tahun 2006 )
2. Briket batubara tanpa karbonasi.
Briket dapat dibuat tanpa karbonasi karena batubara telah mempunyai CV
yang cukup tinggi dan kandungan zat terbang yang rendah. Sehingga batubara
yang telah digerus pada ukuran tertentu dicampur dengan bahan pengikat dan
bahan imbuhan untuk kemudian dilakukan pencetakan. Karakteristik batubara
yang dapat dimanfaatkan tanpa karbonasi; CV: > 5100 Kkal/Kg, Ash: < 10%,
Sulfur < 1%, HGI: > 60%, VM: 20 30%.( Sumber: Permen ESDM No.47 Tahun 2006 )
3. Briket bio-batubara.
Briket jenis ini merupakan cara baru dalam pembuatan briket, yaitu dengan
mencampur batubara (85%) dengan serbuk bagas (10%), kapur (5%), dan
molasses (8%). Penambahan bagas ini dimaksudkan untuk mempertinggi kuat
tekan briket, mempermudah dan mempercepat dalam penyulutannya dan dapat
mengurangi emisi gas. Briket campuran biomasa ini biasa disebut briket
biobatubara. Kualitas batubara yang dapat dimanfaatkan menjadi bio-batubara
sama seperti kualitas batubara untuk briket tanpa karbonasi. ( Sumber: Permen ESDM
No.47 Tahun 2006 )
Binderless Coal Briquetting (BCB)
BCB merupakan proses peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui
penurunan kadar air dan pemadatan secara fisik maupun kimia sehingga batubara
mempunyai nilai kalor yang tinggi dan ekonomis saat diangkut. Karakteristik
batubara yang dapat dimanfaatkan dengan BCB; CV: < 5100 Kkal/Kg, TM: > 30%,
Ash: < 10%, Sulfur Content: < 2%, HGI: > 60, VM: 35%. (Sumber: White Energy Company
Limited)
Upgrading Brown Coal (UBC)
Teknologi UBC pada prinsipnya merupaan proses peningkatan nilai kalor batubara
perinkat rendah melalui penurunan kadar air dalam batubara. Proses ini dilakukan
dengan mencampurkan batubara, minyak residu, dan minyak tanah, kemudian
dipanaskan pada tempratur 150C dan tekanan 350 kPa. Proses dan investasi untuk
UBC sangat bergantung pada kandungan air dalam batubara asal. Semakin tinggi
kandungan air di dalam batubara, semakin besar biaya proses dan investasi UBC yang
diperlukan. Karakteristik batubara yang dapat dimanfaatkan dengan UBC; CV: 3500
5300 Kkal/Kg, TM: 35%, Ash: < 10%, Sulfur Content: < 2%, HGI: > 60, VM: 35%.
(Sumber: Tekmira)
Brown Coal Liquefaction Technology (BCL)
BCL merupakan proses pemanfaatan dengan tujuan mencairkan batubara peringkat
rendah. Langkah-langkah dalam mencairkan batubara tersebut adalah:
1. Memisahkan air secara efisien dari batubara.
2. Melakukan proses pencairan dimana hasil produksi minyak yang dicairkan
ditingkatkan dengan menggunakan katalisator.
3. Proses hidrogenasi dimana heteroatom (campuran sulfur-laden, campuran
nitrogen-laden, dll) pada minyak batubara cair dipisahkan untuk memperoleh
bahan bakar bermutu tinggi, kerosin, dan bahan bakar lainnya.
4. Pengeluaran sisa (debu dan unsur lainnya) dari proses pencairan.
Karakteristik batubara yang dapat dimanfaatkan dengan BCL yaitu; CV: < 5100
Kkal/Kg, TM: > 35%, Ash: 5%.(Sumber: Tekmira)
Coal Water Mixture (CWM)
CWM merupakan campuran antara batubara berukuran halus dan air dengan perbandingan
tertentu serta dengan penambahan aditif tertentu untuk menjaga
130
kestabilan fluida agar batubara tidak cepat mengendap. Karakteristik batubara yang
dapat dimanfaatkan dengan CWM; Coal Concentration: 68 70%, Higher Heating
Value: 5000 5200 Kkal/Kg, Lower Heating Value: 4600 4800 Kkal/Kg, Apparent
Consistency: 1000 mPa-s, Specific Gravity: 1.25, Ash: 6%, Sulfur Content: 0.2%,
Grains of 200 mesh or less: 80 85%. ( Sumber: Jcoal )
Gasifikasi Batubara Bawah Tanah (Underground Coal Gasification)
Teknologi gasifikasi bawah tanah merupakan salah satu teknologi gasifikasi yang
dilakukan di tempat tanpa mengekstraksi lapisan batubara terlebih dahulu. Teknologi
UGC dilakukan dengan membuat dua lubang bor, yaitu sumur injeksi katalis dan
sumur produksi. Gas yang dihasilkan umumnya berupa CO dan H
2
dengan kualitas
dan kuantitas sangat bergantung pada perekasi yang digunakan, kualitas, dan
kedalaman batubara. Batubara yang dapat diguanakn untuk ekstraski dengan UGC
adalah batubara dengan ketebalan bervariasi antara 0,5 20 meter, kedalaman
bervariasi antara 30 300 meter, TM: 4,3 35%, Ash: 2,3 34,3%, dan Sulfur: 27
64,5%.(Sumber: Jurnal Tekmira)
Integrated Coal Gasification Combined Cycle Power Generation (IGCC)
Teknologi IGCC adalah teknologi untuk mengubah batubara kedalam gas yang
mudah terbakar dan membentuk kombinasi rangkaian pembangkit listrik. Tujuan
utama dari sistem ini adalah untuk memperoleh peningkatan efisiensi. Efisiensi kasar
atau Gross Thermal Effisiency diharapkan melebihi 48% sedangkan efisiensi
bersihnya atau Net Effisiency 43% pada temperatur 1300C pada aliran masuk turbin
gas. Apabila temperatur pada turbin gas bisa mencapai 1500C maka efisiensi
kasarnya atau gross effisiency diperkirakan bisa mencapai 50%. Untuk mamanfaatkan
batubara dengan proses IGCC tidak terdapat batasan mengenai tipe, ukuran, dan
kandungan abu. ( Sumber: Jcoal )
Coal Custom Plant (CCP)
CCP merupakan pemanfaatan batubara peringkat rendah dengan membuat pabrik
pengolahan untuk mencampur batubara peringkat tinggi dengan batubara peringkat
rendah, sehingga batubara tersebut dapat dijual. Tidak ada batasan kualitas untuk
penerapan CCP pada batubara peringkat rendah.

131
Tabel 4. Evaluasi Penerapan Teknologi Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah

No. Jenis Teknologi Keuntungan Kerugian Keterangan
1.
PLTU Mulut
Tambang
Meminimalkan pengangkutan batubara
Lokasi PLTU tidak di daerah padat penduduk
Biaya transmisi yang tinggi untuk PLTU yang jauh
dari konsumen
Termasuk upaya pemerintah dalam program PLTU
10.000 MW
2.
Upgrading Coal:
UBC
BCB
Pengoperasian sederhana
Rendah emisi (SO
x
, NO
x
, dan CO
2
)
Memerlukan energi untuk penurunan kadar air
Semakin tinggi kadar air, semakin besar investasi
Tekmira dan BPPT bekerja sama dengan KOBE
STEEL Jepang, JCOAL Jepang bersama-sama
mengbangkan teknologi UBC di Indonesia
PT. Bayan, PT Andaro, dan Itocho bekerjasama
dengan WEC mengembangkan teknologi BCB di
Indonesia
3. BCL
Ramah terhadap lingkungan
Harga produksi murah USD 15/barrel
Dapat digunakan untuk pengganti BBM
Memerlukan energi untuk menurunkan kadar air
Memerlukan 7 10 kali pancaran CO2 untuk
mengkonversi menjadi minyak sintetis
Nilai oktan lebih rendah daripada premium
Tekmira dan BPPT bekerja sama dengan NEDO
Jepang bersama-sama mengembangkan teknologi
BCL di Indonesia
4. ICGC
Rendah emisi (SOx, NOx, dan CO2)
Efisiensi lebih tinggi dibandingkan PLTU batubar
Tidak ada batasan tipe, ukuran, dan abu batubara
Memerlukan biaya investasi yang tinggi.
Keterbatasan peralatan untuk kapasitas sekala kecil
Teknolgi IGCC beluma di kembangkan di
Indonesia
Amerika Serikat, Jepang, Sepanyol, dan Belanda
sedang mengembangkan teknologi IGCC
5. Briket
Cocok digunakan untuk industri menengak/kecil, karna
panas tinggi dan kontinyu
Tidak beresiko meldak/ atau terbakar
Relatif rapung/atau gampang pecah
Butuh waktu 5-10 menit dalam menyalakan briket
Asap briket, berbahaya untuk kesehatan manusia.
Terdapat 3 pabrik briket di Indonesia: Tanjung
Enim (kapasitas 10000 ton/tahun); Lapung(
kapasitas 5000 ton/tahun); dan Gersik (kapasitas
120000 ton/tahun)
6. CWM
Dapat ditransportasikan melalui pipa, sehingga lebih
murah biaya transportasinya
Memerlukan tempat khusus dalam penyimpanannya
Potensi campuran idak stabil, sehingga terjadi
pengendapan
Sedang dalam penelitian oleh TEKMIRA di
Indonesia
Sudah di kembangkan di negara: Jepang, Cina,
Italia, dan Rusia untuk bahan bakar pembangkit
listrik bersekala kecil.
7. CCP
Diperuntukan untuk tambang bersekala kecil
Menjamin pasokan batubara yang berkesinambungan
untuk jangka panjang
Memerlukan tempat penyimpanan khusus dan luas
Potensi self combustion
Manajemen stockpile dan blending yang ketat
Memerlukan batubara yang lebih bagus kualitasnya
sebagai pemblending.
Salah satu trobosan bisnis mengingat saat ini
banyak perusahaan tambang bersekala kecil
8. UCG
Mengeliminasi masalah kesehatan, keselamatan, dan
lingkungan
Efisiensi pemanfaatan sumberdaya, karena menambang
batubara yang tidak ekonomis untuk tambang terbuka.
Tidak banyak struktur geologi (patahan dan lipatan)
Memperoleh hubungan yang cocok antar lubang
masuk dan lubang keluar
Teknologi UGC belum dikembangkan di Indonesia
Rusia, dan Amerika Serikat sudah mengembangkan
teknologi UGC

132
133
4. KRITERIA PENENTUAN TEKNOLOGI PEMANFAATAN BATUBARA
PERINGKAT RENDAH

Berdasarkan uraian menganai teknologi serta keuntungan dan kerugian dari pemanfaatan
batubara peringkat rendah, dapat ditentukan beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai
dasar penetuan strategi dalam memanfaatkan batubara peringkat rendah. Kriteria dalam
menentukan strategi tersebut antara lain:
1. Kondisi geologi
Beberapa tenologi pemanfaatan batubara peringkat rendah dapat diterapkan secara
insitu, yaitu langsung melakukan ekstraksi pada cadangan batubara. Agar metode
tersebut dapat diterapkan dengan baik, maka diperlukan syarat kondisi geologi
tertentu seperti; ketiadaan struktur geologi mayor, dll. Contoh; UGC.
2. Ketersediaan cadangan
Ketersediaan cadangan merupakan salah satu kriteria dalam menentukan teknologi
pengolahan batubara peringkat rendah. Karena teknologi tersebut berlokasi pada
tempat yang tetap (tidak bisa dipindah secara fleksibel) sehingga memerlukan
pasokan batubara yang menerus. Contoh; PLTU Mulut Tambang, IGCC, UGC.
3. Kualitas batubara
Seperti yang telah dijelaskan pada sub-bab 3 mengenai evaluasi teknologi
pemanfaatan batubara, masing-masing teknologi tersebut mempunyai spesifikasi/
kualitas batubara tertentu. Sehingga untuk menentukan strategi pemanfaatan batubara
peringkat rendah yang tepat, harus disesuaikan antara teknologi dengan kualitas
batubara yang memenuhi.
4. Transportasi
Transportasi yang dimaksudkan di sini adalah transportasi batubara dari tambang
menuju ke konsumen. Dengan semakin singkatnya rantai jalur transportasi menuju
konsumen akan menjadikan biaya pengangkutan menjadi lebih murah. Akibatnya,
teknologi tersebut menjadi lebih layak untuk dikembangkan.
5. Keberadaan konsumen
Keberadaan konsumen juga menjadi penentu dalam menentukan metode pengolahan
batubara peringkat rendah. Beberapa metode pengolahan memerlukan konsumen yang
berada di lokasi tidak terlampau jauh dari pabrik pegolahan disebabkan investasi dan
biaya distribusi yang cukup besar. Contoh; PLTU mulut tambang, IGCC.
Kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan strategi pemanfaatan batubara
peringkat rendah selengkapnya padat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kriteria Penentuan Teknologi Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah

No.
Jenis
Teknologi
Geologi
Ketersediaan
Cadangan
Kualitas Batubara Transportasi
Keberadaan
Konsumen
1.
PLTU
Mulut
Tambang
Kodisi geologi
tidak berpengaruh
Diperlukan
cadangan yang
cukup banyak
CV: 3500 5300 Kkal/Kg,
TM: < 40%, Ash: < 6%,
Sulfur: < 2.2%, HGI: 45
65, AFT: min 1100C
Ta PLTU K
Sebaiknya
tidak jauh
dari PLTU
2.
Upgrading
Coal:
UBC
BCB
Kodisi geologi
tidak berpengaruh
Tidak
dipengaruhi oleh
cadangan
tertambang.
CV: < 5100 Kkal/Kg, TM: >
30%, Ash: < 10%, Sulfur: <
2%, HGI: > 60, VM: 35%
Ta CP Pabrik
UBC/BCB - Tr
D/Tr S Tr L K
Konsumen
bisa dimana
saja
3. BCL
Kodisi geologi
tidak berpengaruh
Tidak
dipengaruhi oleh
cadangan
tertambang.
CV: < 5100 Kkal/Kg, TM: >
35%, Ash: 5%
T CP Tr D /Tr
S Tr L Pabrik
BCL - K
Konsumen
bisa dimana
saja
4. IGCC
Kodisi geologi
tidak berpengaruh
Diperlukan
cadangan yang
Tidak dipengaruhi oleh
ukuran dan kualitas batubara
Ta Fasilitas
IGCC K
Sebaiknya
tidak jauh
4. IGCC
Kodisi geologi
tidak berpengaruh
Diperlukan
cadangan yang
cukup banyak
Tidak dipengaruhi oleh
ukuran dan kualitas batubara
Ta Fasilitas
IGCC K
Sebaiknya
tidak jauh
dari lokasi
fasilitas
IGCC
5. Briket
Kodisi geologi
tidak berpengaruh
Tidak
dipengaruhi oleh
cadangan
tertambang.
CV: > 3500 Kkal/Kg, Ash: <
5%, Sulfur: < 1%, HGI: >
60%, VM: > 33%
Ta CP Tr
D/Tr S Tr L
Pabrik UBC/BCB
K
Konsumen
bisa dimana
saja
6. CWM
Kodisi geologi
tidak berpengaruh
Tidak
dipengaruhi oleh
cadangan
tertambang.
CC: 68 70%, Heating
Value: 4600 5200 Kkal/Kg,
, AP: 1000 mPa-s, SG: 1.25,
Ash: 6%, Sulfur: 0.2%,
Grains of 200 mesh or less:
80 85%
T CP Tr D /Tr
S Tr L Pabrik
CWM - K
Konsumen
bisa dimana
saja
7. CCP
Kodisi geologi
tidak berpengaruh
Tidak
dipengaruhi oleh
cadangan
tertambang.
Tidak dipengaruhi oleh
ukuran dan kualitas batubara
T CP Tr D
CCP Tr S Tr
L K
Konsumen
bisa dimana
saja
8. UCG
Pada daerah yang
tidak banyak
struktur
Diperlukan
cadangan yang
cukup banyak
TM: 4,3 35%, Ash: 2,3
34,3%, dan Sulfur: 27
64,5%
T K
Sebaiknya
tidak jauh
dari lokasi
tambang
Ket: Ta: Tambang, CP: Crushing Plant, Tr: Transortasi, D: Darat, S: Sungai, L: Laut, K: Konsumen

Metodilogi dalam strategi pemilihan teknologi pemanfaatan batubara peringkat rendah
Indonesia:

1. Mengkaji sasaran pengusahaan batubara peringkat rendah merupakan langkah awal
dalam penulisan, yang terdiri dari lokasi, kualitas, dan jumlah sumberdaya dan
cadangan.
2. Mengkaji/evaluasi teknologi pemanfaatan
a) Statusnya di Indonesia sudah dalam tahap penelitian maupun sudah dalam
tahap demo plant; dan
b) Status sudah di kembangkan di luar negeri.
3. Membuat kriteria
Untuk memilih metode pengolahan yang tepat terhadap cadangan batubara peringkat
rendah, perlu dipertimbangkan variabel-variabel yang mempengaruhi aplikasi
teknologi pemanfaatan batubara peringkat rendah di daerah endapan sumberdaya
batubara peringkat rendah. Secara umum, variabel tersebut dapat dikategorikan
sebagai faktor Internal, Eksternal dan Teknologi. Faktor Internal, diantaranya
meliputi: karakteristik batubara, kondisi geologi, jumlah sumberdaya dan
penyebarannya. Untuk faktor eksternal, antara lain adalah: kesampaian daerah; lokasi
geografi, dan potensi pemasarannya. Dan Faktor teknologi,dimana status dari
teknologi tersebut sudah dalam tahap penelitian dan pengembangan di Indonesia
maupun di beberapa negara.
4. Berdasarkan variabel-variabel tersebut kesesuaian antara endapan batubara peringkat
rendah dengan kemungkinan pemanfaatannya akan dianalisis menggunakan analisis
pengambilan keputusan multi kriteria, sehingga dapat diketahui alternatif kesesuaian
teknologi pemanfaatan batubara peringkat rendah di berbagai daerah di Indonesia.
5. Pembobotan strategi dibuat sebagai tahap awal (namun dalam kajian ini belum
dilakukan pembobotan karena keterbatasan data-data yang di dapat)
134
5. STRATEGI PEMANFAATAN BATUBARA PERINGKAT RENDAH INDONESIA

Dalam menentukan jenis pemanfaatan batubara peringkat rendah Indonesia akan dilakukan
proses pemilihan berdasarkan kriteria yang telah disusun di atas. Hasil dari proses tersebut
adalah alternatif teknologi pemanfaatan yang berpotensi untuk dikembangkan pada masing-
masing daerah (propinsi). Model yang digunakan untuk pemilihan strategi pemanfaatan
batubara peringkat rendah tidak akan membahas semua potensi yang ada pada tiap daerah,
namun hanya akan mangambil sampel dari beberapa perusahaan tambang pada suatu propinsi
yang diharapkan dapat mewakili proses pengambilan keputusan. Untuk propinsi yang tidak
terdapat perusahaan yang mengusahakan batubara peringkat rendah, maka akan digunakan
data-data di tingkat propinsi. Untuk lebih jelasnya mengenai pengambilan keputusan dalam
rangka mendapatkan strategi pemanfaatan batubara peringkat rendah di Indonesia, dapat
dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Proses Penentuan Teknologi Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah

No. Daerah Geologi
Ketersediaan
Cad./Sbr. Daya
Kualitas
Batubara
Transportasi
Keberadaan
Konsumen
Teknologi
Potensial
1. NAD
Potensi tersebar
di beberapa
lokasi
Sumberdaya: 91,76
juta ton
CV:< 5,100
Kkal/Kg
Belum bisa
diidentifikasi
Semen
Andalas,
PLTU
Meulaboh
(2010)
UBC, BCB,
Briket,
CWM
2. Sumut
Potensi tersebar
di cekungan
pusat sumatera
dan beberapa
ditemukan di
cekungan
Sibolga ,formasi
Sihapas
Sumberdaya: 19.97
juta ton
CV:< 5,100
Kkal/Kg
Belum bisa
diidentifikasi
Inti
Indorayon
Utama,
PLTU
Sumut,
PLTU
Medan Baru
(2009),
PLTU
Sibolga Baru
(2009)
UBC, BCB,
Briket,
CWM
4. Riau
Potensi tersebar
di cekungan
pusat sumatera,
formasi Sihapas
dan Kerinci
Sumberdaya:126.32
juta ton


Abadi
Batubara
Cemerlang
Tidak ada
informasi
Cad. Tertambang:
16 juta ton
CV: 3,487-
5,025, TS: 0.22-
0.29%, Ash:
3.28-12.12%,
TM: 49.99-
56.36%
Ta Tr D
K
atau
Ta Tr D
Tr S K
Indah Kiat,
PLTU Tjg
Balai, PLTU
Tjg Pinang,
PLTU
Bengkalis
(2009),
PLTU Selat
Panjang
(2009),
PLTU Riau,
PLTU
Rengat
UBC, BCB,
Briket,
BCL,
CWM
5. Jambi
Cekungan
Sumatra Utara,
Formasi Air
Benakat dan
Muara Enim
Sumberdaya: 51,13
juta ton


Intitirta
Primasakti
Memiliki empat
lapisan di block
A: Lapisan I:
tebal 1-1.5
Sumberdaya:
2,15 juta ton
CV: 5.005-5789
Kkal/Kg,
TS: 0.10-0.40%,
Ash: 2.7%,
Ta Tr D
K
atau
Ta Tr D
PLTU
Bangko
UBC,BCB,
, Briket,
BCL
135
6. Bengkulu
Potensi tersebar
di wilayah
formasi Lemau
Sumberdaya: 21.92
juta ton


Kili Suci
Pramita
Tidak ada
informasi
Cadangan
Tertambang: 1,989
ribu tons
CV: 4833-6381
Kkal/Kg,
TS: 0.23-0.44%,
Ash: 3.28-
7.54%,
TM: 14.80-
31.54%
Ta Tr D
K
atau
Ta Tr D
Tr S K
- Briket, CPP
7. Sumsel
Potensi tersebar
di cekungan
Sumatera
Selatan, formasi
Muara Enim
Sumberdaya:
11,384.89 juta tons,
dan Cadangan
Tertambang:
2,653.98 juta tons


Adimas
Batubara
Cemerlang
Tidak ada
informasi
Cadangan
tertambang: 40 juta
ton
CV:3639-
4811Kkal/kg
TS:0.14-2.28%
Ash:3.00-
30.50%
TM:38.40-
50.00%
Ta Tr D
K
atau
Ta Tr D
Tr S K
PT Semen
Baturaja

PLTU Bukit
Asam



UBC,BCB,
Briket,BCL

Astaka
Dodol
Tidak ada
informasi
Sumberdaya: 162.7
juta tons
CV:3915-
6290Kkal/kg
TS:0.10-0.90%
Ash:0.90-30%
TM:21.00-
57.40%
Ta Tr D
Tr S K
PT Semen
Baturaja

PLTU Bukit
Asam

PLTU
Mulut
Tambang,
UBC,BCB,
Briket, BCL

Pendopo
Energi
Batubara
Memiliki 10
lapisan, 5
lapisan
diantarannya
memiliki
ketebalan 0.62-
32 meter

Sumberdaya: 1,9
juta tons
CV4620-
5282Kkal/kg
TS:0.10-1.70%
Ash:4.20-
15.30%
TM:47.80-
59.20%

PT. Semen
Batu Raja
PLTU Bukit
Asam

UBC,BCB,
CPP, BCL,
Briket
8. Kalsel
Potensi tersebar
pada cekungan
Barito dan
terpusat pada
cekungan
Asam-asam
Sumberdaya:
971.86 juta tons,
dan Cadangan
Tertambang:
536.33 juta tons


Andaro
Indonesia

Memiliki 13
lapisan
ketebalan ditas
60 meter
Sumberdaya: 168
ribu tons, dan
Cadangan
Tertambang: 846
ribu tons
CV:4000Kkal/kg
TS:0.14%
Ash:2.30%
TM:40.00%
Ta Tr D
Tr S K
PT.
Indocemen
Tarjun
PLTU Kota
Baru
PLTU
Asam-Asam
UBC,BCB,
BCL, Briket

Arutmin
Indonesia
Formasi
Warukin
Sumberdaya: 188
juta ton
CV:
5000Kkal/kg
TS: 0.15%
Ash: 3.90%
TM: 23.00%
Ta Tr D
Tr S K
PT.
Indocemen
Tarjun
PLTU Kota
Baru
PLTU
Asam-Asam
PLTU
Mulut
Tambang,
UBC, BCB,
BCL, CCP,
Briket

Bara
Pramulya
Abadi
Potensi tersebar
di cekungan
Barito, formasi
Tanjung dan
sebagian
ditemukan di
foemasi
Warukin
Sumberdaya: 40
juta tons
CV: 4239-4961
Kkal/kg
TS: 0.19-1.58%
Ash: 1.20-4.40%
TM: 35.90-
54.90%
Tidak ada
informasi
PT.
Indocemen
Tarjun
PLTU Kota
Baru
PLTU
Asam-Asam
UBC, BCB,
BCL, CCP,
Briket

136
Kalimantan
Energi Utama
Potensi sebagian
kecil berada di
formasi Warukin
Cadangan
tertambang
diperkirakan 7 juta
tons
CV:5000-5100
Kkal/kg
TS: 0.60-0.80%
Ash: 5.01-
56.00%
TM: 25.00%
Ta-Tr D-Tr S-
Tr L-K
PLTU Asam-
Asam
PT.
Indocemen
Tarjun
PLTU Kota
Baru
PLTU Asam-
Asam
UBC,BCB,
Briket,CPP,
CWM, BCL
Kaltim
Potensi tersebar
di cekungan
Kutai dan
cekungan
Tarakan
Sumberdaya:
1,959.50 juta tons,
dan Cadangan
tertambang: 261.73
ribu tons

Garda Tujuh
Buana
Potensi tersebar
di cekungan
Tarakan antara
Kuching ke Laut
Jawa dan
Sulawesi
Memiliki 5
lapisan dengan
ketebalan >30
meter

Cadangan
tertambang: 235,354
ribu tons
CV: 5000-5200
Kkal/kg
TS: 0.20-0.40%
Ash: 2.00-5.00%
TM: 30.00-
32.00%
Ta-Tr D-Tr L-
K
PLTU
Nunukan
PLTU Kaltim
PLTU
Embalau
PLTU Tanah
Grogot
,BCB,BCB,
BCL,Briket,
CPP,

Insani Bara
Perkasa
Terdapat 2
lapisan di
Tanibakti
Selatan, dengan
ketebalan 3,74-
9,62 meter; dan
4 lapisan
ditemukan di
bagian utara,
dengan ketebalan
0.65-3.39 meter
Cadangan
tertambang: 11,550
ribu tons
CV: 4113-
5441Kkal/kg
TS:0.10-0.31%
Ash: 1.90-
32.50%
TM: 20.10-
33.70%
Ta Tr D K

PLTU
Nunukan
PLTU Kaltim
PLTU
Embalau
PLTU Tanah
Grogot

UBC,BCB,
Briket,
CWM, BCL
Multi Harapan
Utama
60 km dari kota
Samarinda
Sumberdaya:
120,333 ribu tons
CV: 4238-
5278Kkal/kg
TS: 0.33-3.86%
Ash: 0.50-7.20%
TM: 14.70-
25.80%
Ta-Tr D-Tr S-
Tr L-K
PLTU
Nunukan
PLTU Kaltim
PLTU
Embalau
PLTU Tanah
Grogot

UBC,BCB,
Briket, BCL
Pesona
Katulistiwa
Nusantara
Tidak ada
informasi
Sumberdaya:
173.878 juta tons




CV:4045-4470
Kkal/kg
TS: 0.09-2.30%
Ash:3.00-7.38%
TM: 20.00-
64.10%
Ta-Tr D-Tr L-
K
PLTU
Nunukan
PLTU Kaltim
PLTU
Embalau
PLTU Tanah
Grogot




PLTU Mulut
Tambang,
UBC,BCB,
Briket, BCL
Kalteng
Potensi terdapat
pada cekungan
Barito, Formasi
Tanjung,
Purukcahu,
Batuayau,
Warukin dan
Dahor.
Sumberdaya: 483.92
juta tons


137

Asmin
Koalindo
Tuhup
Potensi terdapat
pada formasi
Batau Ayau dan
Warukin
Sumberdaya
Inferred di Warukin
dan Batu Ayau:
43.3 juta tons dan
34.3 juta tons
CV: <5000
Kkal/kg
TM: >40%
Ta Tr D
Tr S K
PLTU
Palangka
Raya
PLTU
Sampit
PLTU
Sampit Baru
PLTU
Pangkalan
Bun
PLTU
Mulut
Tambang,
UBC,BCB,
Briket, BCL
Ket: Ta: Tambang, Tr: Transportasi, D: Darat, S: Sungai, L: Laut, K: Konsumen



6. Hasil Strategi Pemilihan

Dengan menggunakan metodologi seperti yang sudah di sampaikan pada halaman
sebelumnya, untuk memilih alternatif teknologi pemanfaatan yang berpotensi untuk
dikembangkan pada masing-masing daerah (provinsi), maka di dapat hasil sementara seperti
terlihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Alternatif Teknologi Pada Tiap Provinsi

Provinsi Teknologi
NAD UBC, BCB, Briket, CWM
SUMUT UBC, BCB, Briket, CWM
RIAU UBC, BCB, Briket, BCL, CWM
JAMBI UBC,BCB,Briket, BCL
BENGKULU Briket, CPP
SUMSEL PLTU Mulut Tambang, UBC,BCB, Briket, BCL
KALTIM PLTU Mulut Tambang, UBC,BCB, Briket, BCL,CWM,CPP
KALTENG PLTU Mulut Tambang, UBC,BCB, Briket, BCL, CWM
KALSEL PLTU Mulut Tambang, UBC, BCB, BCL, CWM CCP, Briket

138
7. Kesimpulan
- Batubara akan semakin penting peranannya dimasa depan dan kontribusinya dalam
energi mix nasional akan terus meningkat, untuk menjaga security of supply
kebutuhan batubara nasional, potensi batubara peringkat rendah perlu segera
dioptimalkan sehingga nantinya menjadi sumber energi yang handal masa kini dan
mendatang
- Adanya beberapa kendala dalam pemanfatan pengusahaan batubara peringkat rendah,
salah satunya rendahnya nilai kalor dan tingginya kandungan air, akan tetapi dapat
diatasi dengan beberapa jenis teknologi pemanfaatan, diantaranya: Mine Mouth Power
Plant , Brown Coal Liquefaction (BCL), Coal Water Mixture (CWM) Gasifikasi
(IGCC), Underground Coal Gasification (UGC), Upgrading Brown Coal (UBC),
Binderless Coal Briquetting (BCB), Briquette Coal , dan Coal Costum Plant (CPP).
- Dari teknologi tersebut, batubara peringkat rendah dapat di conversi menjadi bahan
bakar cair, bahan bakar gas, dan dapat menaikan nilai kalor sehingga memiliki nilai
jual di pasaran
- Diketahui alternatif kesesuaian teknologi pemanfaatan batubara peringkat rendah di
berbagai daerah di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sudarsono Arif , Pemanfaatan Batubara:, Jurusan Teknik Pertambangan-ITB, 1997
2. APBI-ICMA, Guidebook of Thermal Coal, 2007.
3. Clean Coal Technologies in Japan; http://www.Jcoal.com
4. Sule Djamhur, Optimalisasi Pemanfaatan Batubara Indonesia Dengan Konsep
Custom Plant, di sampaikan pada Seminar Batubara Nasional, Jakarta 22 Maret
2006.
5. IEA/DTI,Cleaner Coal Technology, Department of Trade and Industry,1999.
6. Indonesia Coal Book 2006/2007.
7. Perpen ESDM No.047 Tahun 2006, Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket
Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara.
8. PT. PLN (Persero), Undangan Prakualifikasi Pengadaan Batubara Peringkat
Rendah, Media Indonesia 25April 2007, hal 15.
9. Puslitbang tekMIRA, Prospek Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah di
Indonesia.
10. Puslitbang tekMira, Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara, Nomor 40, Tahun 15,
mei 2007.
11. Sembiring Simon F., Low Rank Coal Business Opportunity In Indonesia , Asia
Pacific Symposium On Low Rank Coal Bandung, September 6-7, 2006.
12. Soedjoko Tirtosoekotjo,Low Rank Coal And Its Contribution To The Energy
Development In Indonesia,Presented at Asia Pacific Lower Rank Coal, 7-8
September 2006.
13. Soelarno Witoro,Kebijakan Pemerintah Dalam Pengembangan Tambang Bawah
Permukaan, di sampaikan pada Seminar Nasional Innovations Toward Porfitabel
Underground Mining, Diselenggarakan oleh HMT-ITB, Bandung 9 April 2008.

139
PEMANFAATAN E-LEARNING DALAM
PEMBELAJARAN KESELAMATAN KERJA
UNTUK MENDUKUNG PENAMBANGAN BERKELANJUTAN
(STUDI KONSEPTUAL UNTUK PERTAMBANGAN)

Oleh: Wayan Dewantara
Human Resources Organization Development
PT International Nickel Indonesia Tbk.


Abstrak

Tuntutan operasional aktivitas di pertambangan membutuhkan kemampuan untuk selalu
memperhatikan keselamatan kerja pada level yang tinggi. Dengan tujuan untuk memperbaiki
rekor keselamatan kerja, sehingga kehilangan jam kerja dapat dikurangi, maka peran serta
setiap lapisan perusahaan dan karyawan dalam inisiatif keselamatan kerja sangat diperlukan.
Kehilangan jam kerja, baik dari sisi alat maupun tenaga kerja, akan sangat berpengaruh
kepada pencapaian hasil produksi pertambangan. Dengan semakin meningkatnya harga-harga
komoditas termasuk produk pertambangan, maka kehilangan jam kerja berarti penurunan
target produksi yang berujung pada penurunan laba produksi. Untuk itu, kesadaran terhadap
keselamatan kerja akan sangat membantu perusahaan untuk mempertahankan tingkat produksi
dan keuntungan sehingga proses penambangan dapat dipertahankan kelanjutannya.
Kesadaran terhadap keselamatan dibangun melalui serangkaian proses sosialisasi,
pembelajaran dan evaluasi terhadap seluruh pihak-pihak terkait. Untuk itu muncul berbagai
jenis pelatihan dan sertifikasi dalam bidang ini. Akan tetapi, dengan meningkatnya jumlah
karyawan yang harus dilayani dan semakin melebarnya cakupan operasional pertambangan,
maka dirasakan perlu suatu solusi alternatif untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan sosialisasi,
pembelajaran dan evaluasi terhadap pemahaman tentang keselamatan kerja. Pendekatan
tradisional tidaklah cukup untuk melayani seluruh lapisan perusahaan dalam waktu yang
sangat terbatas. Sementara itu, karena tuntutan operasional maka jumlah aktivitas-aktivitas
non-produksi sangat dibatasi dan dikontrol ketat. Karena itu, suatu solusi alternatif diperlukan
untuk membantu perusahaan mengatasi permasalahan di atas.
Keberhasilan suatu solusi alternatif dalam pembelajaran keselamatan kerja ditentukan
dengan kriteria utama mampu menjangkau lebih banyak calon-calon peserta pembelajaran
meskipun berada di lingkungan yang berjauhan. Dengan kriteria-kriteria di atas, maka proses
pembelajaran yang ditentukan adalah dengan konsep e-learning dimana proses pembelajaran
didukung secara penuh oleh fasilitas Teknologi Informasi. Berbagai aplikasi e-learning
beredar di dunia, dan yang dibahas saat ini adalah pemanfaatan e-learning dengan aplikasi
Moodle yang berbasis Open Source.
Fasilitas-fasilitas yang disediakan dalam aplikasi Moodle antara lain adalah fasilitas
Administrasi Kelas Pelatihan -berupa penyiapan materi training, pendaftaran kelas on-line,
penjadwalan kelas on-line; fasilitas Penyusunan Materi Pelatihan yang mampu
mendukung berbagai format online utama (presentasi, dokumen, video, suara); fasilitas
Evaluasi Materi Pelatihan dengan menampilkan fungsi kuis (quiz) dimana sejumlah
pertanyaan akan diberikan kepada peserta untuk dijawab; dan juga fasilitas Jejaring Sosial
dimana peserta dapat berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengajar dan peserta yang lain
sehingga pemahaman tentang materi yang diajarkan akan semakin komprehensif. Dengan
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
mengatur agar sejumlah fasilitas yang ada seoptimal mungkin, maka pembelajaran
tentang Keselamatan Kerja menjadi suatu proses pembelajaran yang menarik dan mudah
diikuti.
Pemanfaatan fasilitas pembelajaran online yang menarik dan mudah diikuti diyakini
akan membantu proses pembelajaran secara keseluruhan terutama dalam bentuk percepatan
pembangunan pemahaman di kalangan peserta. Ketika peserta semakin paham tentang materi
keselamatan kerja yang diajarkan, maka diharapkan terjadi proses reduksi tingkat
kemungkinan terjadinya suatu kecelakaan di lapangan atau lokasi kerja. Untuk itu,
pemahaman yang ada harus ditingkatkan terus menerus. Dengan demikian, pendekatan
pembelajaran dengan menggunakan e-learning untuk materi keselamatan kerja akan sangat
membantu seluruh lapisan perusahaan untuk senantiasa bekerja aman dan terus menjaga
tingkat produksinya sehingga mampu mencapai target produksi yang diharapkan demi
tercapainya proses pertambangan yang berkelanjutan.

Kata Kunci: e-Learning, Keselamatan Kerja, Pembelajaran, Moodle

Latar Belakang
Wilayah operasional pertambangan merupakan area bekerja dengan tingkat
kewaspadaan tinggi untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Interaksi berbagai peralatan
berat, lingkungan kerja yang ekstrim dan manusia di dalamnya membutuhkan pengaturan
secara khusus sehingga mencapai proses yang efektif. Proses efektif ini bukan hanya berhasil
dari sisi pencapaian produksi, tetapi juga keselamatan kerja di dalamnya. Tuntutan
operasional aktivitas di pertambangan membutuhkan kemampuan untuk selalu
memperhatikan keselamatan kerja pada level yang tinggi.
Kemampuan dalam berproduksi dengan memperhatikan keselamatan kerja merupakan
prasyarat mutlak bagi setiap personil pertambangan di dalamnya. Jumlah personil yang
terlibat di dalam proses tambang pun semakin meningkat, dan ditambah dengan lokasi kerja
yang semakin meningkat, maka pengawasan terutama masalah keselamatan kerja menjadi
perhatian utama. Hal-hal yang kemudian harus diperhatikan adalah bagaimana menumbuhkan
kesadaran, meningkatkan dan memastikan munculnya pemahaman tentang keselamatan kerja
tersebut. Untuk itu perlu dikembangkan cara-cara pembelajaran yang akan menumbuhkan
kesadaran terhadap keselamatan kerja.
Tuntutan Berproduksi dengan Aman
Untuk memperbaiki rekor keselamatan kerja, maka peran serta setiap lini perusahaan,
baik manajemen maupun karyawan, dalam inisiatif keselamatan kerja sangat diperlukan
sehingga kehilangan jam kerja akibat kecelakaan kerja dapat dikurangi. Kehilangan jam kerja
harus dihindari semaksimal mungkin. Setiap terjadi kecelakaan kerja sekecil apapun, baik
dari sisi alat maupun tenaga kerja, akan menciptakan kehilangan jam kerja. Kehilangan jam
kerja ini dapat berwujud dalam berbagai macam bentuk, seperti sakit dan masa
penyembuhannya, investigasi dan penanganan aspek hukumnya hingga terhentinya proses
produksi akibat kerusakan alat, penutupan lokasi kerja dan ketiadaan operator. Dengan
berkurangnya jam kerja akibat kecelakaan kerja maka akan sangat berpengaruh kepada
pencapaian hasil produksi pertambangan yang beroperasi secara terus menerus.
141
produksi hingga memperlebar cakupan wilayah industri yang dikuasainya (ekspansi).
Hasil yang muncul adalah melambungnya target produksi. Bila terjadi kehilangan jam kerja
akibat kecelakaan kerja, berarti penurunan target produksi yang berujung pada penurunan laba
produksi. Untuk itu, kesadaran terhadap keselamatan kerja akan sangat membantu perusahaan
untuk mempertahankan tingkat produksi dan keuntungan sehingga proses penambangan dapat
dipertahankan kelanjutannya.

Menumbuhkan Kesadaran Berproduksi Aman
Setiap orang memiliki kesadaran bahwa bila perusahaan berproduksi lebih tinggi,
maka potensi keuntungan yang akan diraih juga akan meningkat. Akan tetapi, bagaimana
dengan kecelakaan kerja? Seberapa besar akibat yang dirasakan bila terjadi kecelakaan kerja?
Seberapa besar manfaat bila setiap pihak memiliki kesadaran terhadap keselamatan kerja dan
berproduksi aman? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban melalui penanaman
kesadaran seluruh pelaku proses produksi terhadap keselamatan kerja.
Berbagai langkah dilakukan oleh pihak perusahaan untuk meningkatkan kesadaran
tentang keselamatan kerja dan kesadaran untuk berproduksi aman. Kesadaran terhadap
keselamatan dibangun melalui serangkaian proses sosialisasi baik dilakukan internal antara
atasan/ supervisor dan bawahan, penciptaan proses pembelajaran dan juga melalui sejumlah
proses evaluasi terhadap seluruh pihak-pihak terkait. Untuk itu muncul berbagai jenis
pelatihan dan sertifikasi dalam bidang ini. Akan tetapi, dengan meningkatnya jumlah
karyawan yang harus dilayani dan semakin melebarnya cakupan operasional pertambangan,
maka dirasakan perlu suatu solusi alternatif untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan sosialisasi,
pembelajaran dan evaluasi terhadap pemahaman tentang keselamatan kerja.
Cara-cara sosialisasi dengan melakukan training dan komunikasi konvensional
membutuhkan usaha, biaya dan waktu yang tidak sedikit. Untuk setiap proses, mulai dari
perencanaan, pengaturan jadwal, penyebaran pesan-pesan keselamatan kerja di kelas-kelas
training, akan membutuhkan personil yang tidak sedikit. Sebagai resources, maka personil ini
akan memiliki batasan jumlah dan waktu, selain juga memiliki atribut biaya di dalamnya.
Untuk mencapai tujuan sosialisasi yang lebih efektif, pendekatan tradisional tidaklah
cukup untuk melayani seluruh lapisan perusahaan dalam waktu yang sangat terbatas.
Sementara itu, karena tuntutan operasional maka jumlah aktivitas-aktivitas non-produksi
sangat dibatasi dan dikontrol ketat. Karena itu, suatu solusi alternatif diperlukan untuk
membantu perusahaan mengatasi permasalahan di atas.
Blended Learning sebagai Alternatif
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan oleh organisasi adalah melakukan
sosialisasi dan edukasi secara berbeda. Dengan kemajuan teknologi saat ini, maka kombinasi
antara pelatihan di dalam kelas dan program-program online dapat dipilih sebagai solusi
alternatif. Program pelatihan/ pembelajaran campuran (blended learning programs)
memungkinkan organisasi mendapatkan manfaat pelatihan antara lain (Driscol, 2005):
- Membedakan materi pelatihan berdasarkan kemampuan berpikir peserta. Program ini
menempatkan materi tentang kebijakan dan prosedur di bagian awal (secara online).
Setelah peserta menguasai materi, maka dilanjutkan dengan pelatihan di kelas untuk
mempelajari praktek manajemen yang lebih kompleks.
- Menyusun materi pelatihan sesuai dengan peserta yang menjadi sasaran.
Mengurangi waktu pelatihan dan waktu yang diperlukan di luar jam kerja (hal ini termasuk
waktu yang diperlukan untuk perjalanan dari tempat kerja ke tempat
142
143
- pelatihan yang seringkali terabaikan). Dengan melakukan pelatihan secara online,
karyawan dapat melakukan pelatihan di tempat kerja sehingga mengurangi
ketidakhadiran terutama pada jam-jam sibuk.
Program pelatihan/ pembelajaran campuran (blended learning) dipercaya
meningkatkan efektifitas pelatihan. Studi oleh The eLearning Guild tahun 2003 menunjukkan
tiga alasan untuk menggunakan pelatihan campuran adalah (Driscol, 2005):
- Lebih efektif dibandingkan pelatihan di dalam kelas saja (76 persen)
- Memberikan dampak lebih tinggi dibandingkan yang tidak dicampur (73,6 persen)
- Peserta menyukainya (68,6%)
Dengan manfaat seperti di atas, maka proses pembelajaran dalam kelas yang didukung dengan
e-learning diharapkan akan memberikan manfaat pelatihan yang lebih efektif.
Perkembangan ke depan dalam penggunaan e-learning akan semakin beragam. E-
learning bukan hanya menjadi alat dalam memberikan pelatihan, tetapi juga menjadi ajang
pertemuan dan mempercepat proses belajar dengan munculnya dukungan-dukungan fitur
teknologi baru semacam web conference, group/ forum diskusi, ajang chatting, dll sebagai
pengejawantahan solusi total dalam bisnis e-learning. Pengguna e-learning juga mulai
mendapatkan manfaat mulai dari pembelajaran, informasi yang lebih update, dan juga
timbulnya pengurangan biaya dalam proses pelatihan. Bila e-learning sudah menjadi budaya
keseharian dalam organisasi dan masyarakat, maka setiap orang akan merasa perlu untuk
mengikuti topik e-learning walaupun hanya dalam hitungan menit saja. E-learning di masa
datang akan semakin cepat dan juga bersahabat (user friendly)
Rekomendasi Bentuk dan Isi Pelatihan Berbasis e-learning
Materi pelatihan merupakan salah satu komponen yang harus diperhatikan dalam
pembangunan e-learning yang interaktif. Biaya awal pembangunan suatu program pelatihan
yang interaktif cenderung tinggi, tetapi saat ini tersedia banyak pilihan video dan program
interaktif di pasaran. Program-program yang ada biasanya bersifat umum/ generik, tetapi
mampu memberikan kesempatan kepada karyawan dan tim manajemen untuk mengikuti
program tersebut sesuai dengan kemampuan mereka. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
adalah penggunaan berbagai macam sumber belajar untuk memaksimalkan efisiensi dan
efektivitas pelatihan, fokus pada tingkat pendidikan peserta dan topik pelatihannya,
pengarsipan data dan dokumen pelatihan, dan memberikan umpan balik kepada peserta
(Schneid, 2001).
Secara spesifik, Zeidman (2003) menggarisbawahi tentang metode penyusunan materi
pelatihan sehingga menjadi pelatihan yang efektif, yaitu:
- Disusun oleh ahli di bidangnya dan juga ahli dalam desain instruksional
- Disusun dengan rencana yang matang dan konsisten untuk setiap pelatihan
- Disusun dengan tampilannya mudah dimengerti/ digunakan dan konsisten untuk setiap
pelatihan
- Disusun untuk membangun interaksi dengan peserta.
- Disusun dengan metodologi yang tepat sehingga peserta mampu menjelajahi setiap isi
materinya dan belajar secara fleksibel.
Sedangkan untuk struktur materi pelatihan online, Zeidman (2003) memberikan saran sebagai
berikut:
- Memiliki struktur yang sama sehingga peserta tidak perlu belajar lagi untuk
memahami struktur yang baru, dan merasakan keterkaitan antara materi yang satu
dengan yang lain.
- Dibagi menjadi beberapa topik (lima sampai 15 topik), dengan masing-masing topik
terdiri dari tiga sampai 15 halaman presentasi/ pemaparan. Sehingga materi pelatihan
tidak terkesan menumpuk dan membebani. Usahakan agar memiliki total halaman
tidak lebih dari 100 halaman dengan setiap halaman web menggunakan tidak lebih
dari 200 kata. Rancang agar isi halaman web dapat ditampilkan dalam satu layar,
sehingga peserta lebih efisien dalam membaca keseluruhan materi. Informasi lain yang
perlu adalah jumlah materi pelatihan yang harus diikuti melalui nomor halaman dan
jumlah total halaman yang ada.
- Menyediakan informasi untuk memperkenalkan tampilan antar muka (user interface)
dan penggunaan tombol-tombol navigasi. Hal ini akan menghindarkan peserta
mengalami ketertinggalan dalam mengikuti suatu materi. Perlu juga disediakan
fasilitas sambungan (link) ke help-page untuk menampilkan tombol-tombol navigasi
pelatihan. Dalam hal ini perlu dipastikan bahwa setiap peserta dapat menemukan
bantuan pada setiap halaman web pelatihan.
- Menampilkan ringkasan, tujuan, daftar isi, dan biografi singkat instruktur di halaman
muka, sehingga peserta memahami apa yang menjadi harapan setelah mengikuti
pelatihan.
- Di awal topik memberikan uraian apa yang akan dibahas, dan kemudian memberikan
ringkasan tentang apa yang telah dibahas di akhir bagian sehingga peserta melihat
keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lain. Selain itu, pada akhir bagian
perlu disiapkan suatu bentuk kuis pertanyaan-pertanyaan untuk meningkatkan
interaksi dan pemahaman peserta. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam
kuis, peserta akan semakin memahami materi yang ada sebelum mengikuti materi
selanjutnya.
- Memiliki halaman khusus tentang definisi setiap istilah-istilah khusus yang digunakan.
Hal ini akan memudahkan peserta dalam memahami istilah-istilah yang sulit atau
jarang ditemukan.
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan pelatihan dengan menggunakan e-learning
mengalami peningkatan pesat. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak komponen e-learning
(learning object) yang tersedia dalam beragam aplikasi dan platform. Semakin
berkembangnya perangkat untuk menyusun materi (authoring tools) memberikan kesempatan
semakin luas kepada banyak kalangan untuk berpartisipasi dalam tren baru ini. Hal ini juga
ditunjang oleh tampilan yang semakin cantik dan mudah dimana hal ini berarti bahwa
aplikasi-aplikasi yang ada semakin memahami kebutuhan penggunanya.
Solusi e-learning dengan Moodle
Berbagai aplikasi e-learning beredar di dunia, dan yang dibahas saat ini adalah pemanfaatan
e-learning dengan aplikasi Open Source Moodle
1
(Modular Object-Oriented Dynamic
Learning Environment). Tiga hal yang menjadikan alasan untuk menggunakan Moodle: (1)
Berbasis Open Source dan Gratis, (2) Dibangun berdasarkan filosofi pendidikan, (3) Berbasis
Komunitas (Cole et.al, 2008). Perangkat lunak Open Source bersifat terbuka, tersedia secara
bebas dan tanpa biaya termasuk untuk didistribusikan kembali. Hal ini yang membedakan
dengan perangkat lunak komersial yang lain. Bila perlu, pengguna dengan keterampilan yang
memadai memiliki kesempatan untuk memperoleh kode pemrograman dan memodifikasinya
sesuai kebutuhan untuk kemudian didistribusikan kembali. Moodle

1
Beberapa aplikasi Open Source lain yang bisa menjadi referensi: .LRN (http://www.dotlrn.org), Sakai Project
(http://sakaiproject.org), ILIAS (http://www.ilias.de/ios/index-e.html), Claroline (http://www.claroline.net)
144
dibangun berdasarkan pemahaman sosial bahwa pembelajaran merupakan suatu
kegiatan dalam kelompok yang saling berbagi pemahaman. Setiap peserta dianggap sudah
memiliki pengetahuan yang akan dibandingkan dengan pengetahuan baru yang akan diterima.
Untuk itu, diperlukan suatu wadah yang mendukung interaksi antara peserta dan sumber
pengetahuan. Moodle merupakan aplikasi Learning Management System (LMS) terbaik dan
juga merupakan salah satu program pengembangan yang paling awal sejak 2002. Dengan
sejarah implementasi 700.000 kursus dalam 75 bahasa, Moodle juga memiliki komunitas
pendukung yang besar dan beragam (7 juta pengguna dari 160 negara). Moodle merupakan
perangkat lunak yang berorientasi komunitas dengan tujuan untuk menciptakan dan
mengelola materi instruksional secara interaktif. Penerapannya bersifat modular dan
mendukung standar pelatihan online seperti pada standar SCORM
1
dan AICC
2
(Hall, 2007).
Fasilitas-fasilitas yang disediakan dalam aplikasi Moodle antara lain adalah fasilitas
Administrasi Kelas Pelatihan -berupa penyiapan materi training, pendaftaran kelas on-line,
penjadwalan kelas on-line; fasilitas Penyusunan Materi Pelatihan yang mampu
mendukung berbagai format online utama (presentasi, dokumen, video, suara); fasilitas
Evaluasi Materi Pelatihan dengan menampilkan fungsi kuis (quiz) dimana sejumlah
pertanyaan akan diberikan kepada peserta untuk dijawab; dan juga fasilitas Jejaring Sosial
dimana peserta dapat berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengajar dan peserta yang lain
sehingga pemahaman tentang materi yang diajarkan akan semakin komprehensif. Moodle,
dengan berbagai fasilitas di dalamnya, merupakan sarana pendukung pelatihan untuk
membangun pelatihan yang efektif.
Gambaran Implementasi E-learning dengan Moodle
Sebuah Moodle Site (web site yang menampilkan Moodle), akan dikelola oleh seorang
Administrator. Seorang Administrator akan bertanggung jawab untuk mengatur setting utama
dari website seperti tema tampilannya (termasuk warna dan ukuran huruf), mengatur dan
menambahkan modul yang bisa digunakan oleh pengguna lainnya, dan juga mengeset bahasa
yang digunakan sebagai instruksi-instruksi di dalamnya.

Gambar 1 Contoh implementasi tampilan muka e-learning dengan
menggunakan Moodle (Smith, 2005)


1
http://www.adlnet.gov/scorm/. SCORM (Sharable Content Object Reference Model) adalah kumpulan standard
dan spesifikasi yang diadaptasi dari berbagai sumber untuk mendapatkan kemampuan e-learning yang
menyeluruh sehingga dapat dioperasikan dalam berbagai platform (interoperability), mudah diakses
(accessability) dan materi belajar yang dapat digunakan ulang (reusability) dalam suatu lingkungan
pembelajaran berbasi Web.
2
http://www.aicc.org/ The Aviation Industry Computer-Based Training Committee (AICC) adalah asosiasi
internasional untuk para profesional dalam pelatihan berbasis teknologi, yang berusaha membangun standar pada
industri penerbangan dalam hal penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi pelatihan berbasis computer/ web dan
teknologi lainnya.
145
Ketika pertama kali dibuka, website akan segera menampilkan daftar pelatihan yang
tersedia. Di dalamnya terdapat beberapa block baik di sebelah kiri maupun kanan. Pengguna
juga dapat menemukan pilihan bahasa yang akan digunakan pada instruksi-instruksi di dalam
Moodle.


Gambar 1 Screenshot Fasilitas Administrasi Kelas Pelatihan
Pada setiap isian, Moodle menyediakan sebuah ikon tanda tanya untuk memberikan
petunjuk pengisian kepada pengguna. Hal ini akan meminimalkan penggunaan buku manual
ketika menggunakan Moodle.


Gambar 2 Contoh tampilan Moodle dengan fitur-fitur yang ada (Cole, 2008)
Berbagai fitur tersedia bagi seorang instruktur dalam mengelola kelas dan materi
pelatihan yang dibutuhkan (Gambar 2 Contoh tampilan Moodle dengan fitur-fitur yang ada
(Cole, 2008)).

Gambar 3 Screenshot Fasilitas Penyusunan Materi Pelatihan

146
Dalam mengelola materi pelatihan, instruktur diberi kebebasan untuk memanfaatkan
berbagai jenis format materi yang ada. Materi bisa disusun sebagai webpage berbasis teks,
menampilkan dokumen dari file Gambar 5 Screenshot Materi Pelatihan Berbasis Teks dengan
format tertentu (pdf, word, powerpoint dll), ataupun dalam format video (Gambar 6


Gambar 1 Screenshot Materi Pelatihan Berbasis Teks


Gambar 2 Screenshot Materi Pelatihan Berbasis Video

Untuk menguji pemahaman peserta, evaluasi pelatihan dapat dilakukan dengan
menggunakan berbagai bentuk kuis pertanyaan (quiz). Model-model kuis yang tersedia antara
lain pilihan ganda (lihat Gambar 3 Screenshot Evaluasi Pelatihan), pilihan benar/ salah,
jawaban singkat, perhitungan dll. Untuk menyusun suatu kuis, instruktur bisa mengimpor dari
berbagai bentuk e-learning lain untuk kemudian diekspor ke materi yang diinginkan.
Sehingga, instruktur bisa membangun suatu bank soal sebagai persiapan dalam menyusun
materi pelatihan tanpa memulai dari awal.



Gambar 3 Screenshot Evaluasi Pelatihan Gambar 4 Screenshot Feeback Evaluasi Pelatihan

Urutan pilihan
jawaban dapat
diacak sehingga
sulit diingat
Pertanyaan dapat
berupa teks dan
ditambahkan
dengan gambar Fasilitas Feedback yang dapat digunakan
untuk menginformasikan petunjuk
jawaban seperti pada saat Persiapan Tes
Screenshot Materi Pelatihan Berbasis Video). Bila memiliki materi pelatihan dalam standar
SCORM dan AICC, materi tersebut juga dapat diadopsi di dalam website Moodle.
147
Di dalam Moodle, instruktur dapat mengatur konfigurasi dalam menyusun materi
pelatihan. Di dalam penyusunan kuis, instruktur bisa mengatur batasan berapa kali peserta
dapat mengikuti suatu kuis (quiz attempts), mengatur penilaian, dan juga mengatur apakah
peserta disediakan dengan suatu bentuk umpan balik (feedback) bila jawaban atau pilihannya
belum tepat (lihat Error! Reference source not found.). Selain dalam bentuk kuis, evaluasi
pelatihan bagi peserta dapat juga dilakukan dalam bentuk penugasan (assignment) dimana
peserta diminta untuk mengirimkan atau mengumpulkan tugas dalam bentuk file tugas. Ketika
peserta sudah mengirimkan tugas yang diperlukan, instruktur dapat mengevaluasi, memberi
komentar dan nilai.



Gambar 1 Screenshot Hasil Pencapaian Evaluasi

Gambar 2 Screnshot Ringkasan Hasil Evaluasi


Aktivitas lain yang tersedia di dalam Moodle adalah Jejaring Sosial (Social Network).
Dengan adanya fitur ini, peserta dapat saling berinteraksi dengan pengguna lain baik
instruktur maupun peserta lainnya. Bentuk aktivitas ini antara lain Workshop, Forum (lihat
Gambar 3 Screenshot Fasilitas Forum), ajang percakapan antar peserta (chat rooms), Journal,
Blog dll. Dengan memanfaatkan fasilitas ini, peserta pelatihan memiliki kesempatan untuk
berkolaborasi sehingga mempercepat pemahaman.


Gambar 3 Screenshot Fasilitas Forum

Kesimpulan
Meningkatnya target produksi di industri pertambangan, yang diakibatkan oleh
naiknya harga-harga komoditi dan hasil tambang, membutuhkan lebih banyak resource untuk
mencapainya. Termasuk bertambahnya jumlah personel yang diperlukan untuk suatu proses
produksi. Lingkungan tambang yang cenderung ekstrem memerlukan tingkat kewaspadaan
tinggi terutama terhadap keselamatan kerja. Bila terjadi kecelakaan kerja, maka proses
produksi akan terganggu dan menghambat pencapaian target. Setiap pihak harus memahami
pentingnya keselamatan kerja. Untuk itu, dilakukan serangkaian kegiatan edukasi berupa
sosialisasi dan pelatihan. Meningkatnya jumlah personel membutuhkan cara baru dalam
melaksanakan proses edukasi tentang keselamatan kerja. Untuk mengurangi dampak biaya
dan waktu, sehingga proses pelatihan keselamatan kerja tetap efektif maka pendekatan
blended learning merupakan alternatif solusi yang menarik untuk diterapkan.
Fasilitas Forum
memungkinkan
komunikasi antara Peserta
dengan pengguna lain
(Instruktur ataupun
Peserta Lainnya
148
Penerapan blended learning mengkombinasikan pelatihan di dalam kelas dengan
pelatihan online untuk mencapai pelatihan yang lebih efektif. Saat ini banyak aplikasi yang
mendukung pelatihan online supaya efektif, menarik dan interaktif dikembangkan. Salah satu
upaya pelaksanaan pelatihan online adalah dengan memanfaatkan aplikasi Open Source
Moodle. Pemanfaatan fasilitas pembelajaran online yang menarik dan mudah diikuti diyakini
akan membantu proses pembelajaran secara keseluruhan untuk mempercepat dan
meningkatkan pemahaman di kalangan peserta. Bila peserta semakin paham pentingnya
keselamatan kerja, maka resiko terjadinya suatu kecelakaan di lapangan atau lokasi kerja akan
menurun. Dan pemahaman peserta, dan seluruh karyawan, harus ditingkatkan terus menerus.
Pendekatan pembelajaran dengan menggunakan e-learning untuk materi keselamatan kerja
akan sangat membantu seluruh lapisan perusahaan untuk senantiasa bekerja aman dan terus
menjaga tingkat produksinya sehingga mampu mencapai target produksi yang diharapkan
demi tercapainya proses pertambangan yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka

Dokumentasi tentang Moodle.
http://moodle.org
http://docs.moodle.org/en/Moodle_manuals

Cole, Jason. Et al (2008). Using Moodle Teaching with the Popular Open Source Course
Management System. OReilly Community Press.

Driscoll, Margaret. (2005). Advanced web-based training strategies: Unlocking
instructionally sound online learning. John Wiley & Sons, Inc.

Hall, Brandon. (2007). Five Open-Source Learning Management Systems.
http://www.clomedia.com/content/templates/clo_article.asp?articleid=1714&zoneid=190

Riordan, Matt. Moodle, an Electronic Classroom: Teacher Manual.
http://download.moodle.org/download.php/docs/en/teacher-manual.pdf

Rylatt, Alastair. (2003), Winning the Knowledge Game: Smarter Learning for Business
Excellence. Butterworth Heinemann.

Schneid, Thomas D. and Collins, Larry (2001), Disaster management and preparedness
(Occupational safety and health guide series). Lewis Publishers.

Smith, Darren (2005). Using Your Moodle.
http://download.moodle.org/download.php/docs/en/using-your-moodle.pdf

Zeidman, Bob (2003). Guidelines for Effective E-learning.
http://www.clomedia.com/content/templates/clo_feature.asp?articleid=317&zoneid=29
149
TOMOGRAFI TAHANAN JENIS UNTUK
GEOTEKNIK DAN EKSPLORASI


Oleh:
B. Sulistijo
Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumber Daya Bumi, ITB
Jl. Ganesha No 10 Bandung, Tel: 022 2508131, Fax:022 2504209
E-mail: budis@mining.itb.ac.id

RINGKASAN

Tomografi tahanan jenis merupakan salah satu metode tahanan jenis yang dapat
menggambarkan dengan baik secara dua dimensi maupun tiga dimensi kondisi batuan bawah
permukaan. Metode ini jauh lebih baik dari metode Schlumberger maupun Wenner. Metode
ini telah diterapkan untuk eksplorasi baik untuk keperluan geoteknik serta untuk mineral,
geothermal maupun air tanah dengan hasil yang memuaskan. Adanya ambiguity perlu
mendapat perhatian dalam melakukan interpretasi agar diperoleh hasil yang akurat.

I PENDAHULUAN

Survey tomografi tahanan jenis (TTJ) merupakan salah satu metode geolistrik yang dapat
digunakan untuk memberikan gambaran bawah permukaan secara 2D dan 3D. Sebelum tahun
2000, metode survey tomografi tahanan jenis hampir tidak pernah dilakukan untuk
mendapatkan nilai tahanan jenis dan kedalaman sebenarnya. Pada saat itu hampir semua hasil
pengukuran tomografi tahanan jenis hanya menampilkan hasil tahanan jenis semu secara 2D.
Sulistijo dan Siradj, 1997, menggunakan metode tomografi tahanan jenis untuk melokalisir
potensi geothermal dengan menghasilkan tahanan jenis dan ketebalan sebenarnya. Dari hasil
kalibrasi dengan metode Schumberger, TTJ menghasilkan kemiripan dalam nilai tahan jenis
dan ketebalan sebenarnya. Setelah tahun 2000 perkembangan TTJ berkembang sangat pesat
terutama digunakan untuk menggambarkan patahan, posisi sedimen dlll (Storz et.al,2000;
Suzuki et.al,2000)


II PENGUMPULAN DATA

Pengukuran dan pemgumpulan data TTJ dilakukan sepanjang daerah yang dianggap dapat
mempresentasikan kondisi bawah permukaan yang diinginkan. Sebagai contoh untuk
terowongan dilakukan sepanjang terowongan, sedangkan untuk keperluan eksplorasi
sebaiknya dilakukan memotong singkapan yang ada. Jarak antara elektroda ditentukan
berdasarkan perkirakan kedalaman penetrasi yang diinginkan. Adapun rangkaian elektroda
untuk konfigurasi ini dapat dilihat pada gambar 1. Jarak antara pasangan elektroda arus dan
pasangan elektroda potensial adalah a, dan mempunyai rasio n.a antara C
1
dan P
1
. Dalam
pengukurannya, nilai a bersifat tetap, sedangkan nilai n meningkat dari 1, 2, 3 sampai tidak
terbatas untuk meningkatkan investigasi kedalamaan interpretasi.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008


Gambar 1 Rangkaian konfigurasi
Nilai tahanan jenis semu pada masing-masing titik dipenuhi oleh persamaan,
( 1)( 2)
a
V
n n n a
I

+ +
Dimana
a
= Tahanan jenis semu (m)
I = Kuat arus (Ampere)
V = Beda potensial (Volt)
( 1)( 2) n n n a + + = Faktor geometri (meter).

Metode ini mempunyai banyak keuntungan dibandingkan dengan metode Schumberger atau
Wenner dimana nilai n dapat ditingkatkan dengan nilai a yang tetap sehingga tidak diperlukan
kabel yang panjang jika alat pengirim arus dapat terpisah dengan pengukur beda potential.
Jarak antara sumber arus dengan penerima voltase dapat ditingkatkan secara tidak terbatas
dan hanya tergantung kepada kepekaan instrumen pada saat pengukuran dan pengaruh noise.
Metode ini akan dapat menghemat waktu dan biaya dibandingkan dengan metode
Schumberger atau Wenner.

Masalah utama survey TTJ bawah permukaan dengan metoda tahanan jenis adalah terjadinya
ambiguitas, termasuk di antaranya adalah topografi, faktor ekivalensi dan supresi.

Prinsip ekivalensi menyatakan jika suatu lapisan resisitif terletak di antara dua lapisan batuan
yang jauh lebih konduktif maka harga ketebalan (z) dan nilai tahanan jenis () lapisan
tersebut tidak dapat ditentukan karena perkalian antara z dan hasilnya konstan (z.
=konstan). Demikian juga sebaliknya jika suatu lapisan konduktif terletak di antara dua
lapisan yang jauh lebih resistif maka harga ketebalan dan nilai tahanan jenis lapisan tersebut
tidak dapat ditentukan karena rasio z/ adalah konstan (z/=konstan). Gambar 2
memperlihatkan ilustrasinya.
151
z2
2 z
I
I
A2
l h
1m
1m
1
20
1
2
0
3
m
m
5
100

3
2
1
1m
1m
m
m
40
1
0
3
2
1
0,5 m
1m
m
m
100
0,5 m
m
m
1
1m
3

2,5
2
(a)
(b)


Gambar 2 Prinsip ekivalensi. (a)
1
<
2
>
3,

2
z
2
= konstan (b)
1
>
2
<
3,

2
/ z
2
=
konstan (Telford, 1991)


Prinsip supresi menyatakan bahwa jika suatu lapisan sangat tipis dibandingkan dengan lapisan
di atas atau di bawahnya maka efek yang ditimbulkan pada kurva sounding tidak akan terlihat
jelas kecuali nilai tahanan jenis lapisan tersebut sangat tinggi atau sangat rendah (sangat
kontras).

Sebagai contoh: Gambar 3a dan 3b kurva sounding yang ditampilkan memiliki bentuk yang
sama dan RMS error yang sama yaitu 6,8% padahal jumlah lapisan pada Gambar 3a
berjumlah delapan lapisan, sedangkan jumlah lapisan pada Gambar 3b berjumlah sembilan
lapisan.
152

1000
100
10
1
Ohm.m
10 AB/2 (meter) 100 1000
467,1 m 179,8 m
6,7 m
96,2 1 1498,9
2
0
0
1
,
7
m
2508,4 m
3 m 7,5 m 45 m 20,3 m
1
6
,
6
m
100 m 50 m
20,3 m 3 m 7,5 m 45 m
100 m 50 m
62

m m m

6,7 m

2508,4 m
467,1 m 179,8 m
96,2
m
1 1498,9
1
6
,
6
m
2
0
0
1
,
7
m
m m m

25 m
a)
b)
RMS Error = 6,8 %
RMS Error = 6,8 %
Gambar 3 Interpretasi kurva tahanan jenis sounding memperlihatkan efek supresi
a) tanpa supresi b) supresi


III PEMROSESAN DATA

Setiap kali pengukuran data, tahan jenis semu langsung dianalisa ditempat untuk menghindari
adanya anomali/kesalahan yang tidak diinginkan. Jika terjadi suatu anomali maka pengukuran
diulang. Kesalahan tersebut bisa terjadi karena kabel yang terkelupas, elektroda kurang
menancap ke tanah dengan benar, sambungan yang longgar dll.

Dari hasil pengkuran lapangan dapat disajikan nilai tahanan jenis semu 2D pada berbagai n.
Tahanan jenis semu 2D ini sangat berguna untuk menentukan target secara vertikal dan
horisontal. Tahanan jenis sebenarnya dan ketebalan dihitung dengan menggunakan metode
inversi, yaitu mencocokan data lapangan dengan data model dengan kesalahan sekecil
mungkin.
153
IV HASIL LAPANGAN DAN DISKUSI

Metode TTJ telah diaplikasikan dalam berbagai bidang mulai dari geoteknik, eksplorasi baik
mineral, geothermal maupun air. TTJ menunjukan hasil yang baik jika segala ambiguitas yang
mungkin muncul dapat diantisipasi oleh interpreter TTJ. Metode ini sangat cocok diterapkan
di Indonesia mengingat metode ini tidak membutuhkan ijin khusus seperti ijin peledakan
misalnya serta tenaga kerja yang tidak perlu keahlian khusus sehingga tenaga lokal dapat
dilibatkan dalam pekerjaan ini setelah mendapat penjelasan masalah safety induction.

4.1 Geoteknik

Metode ini terbukti telah berhasil dengan baik untuk menentukan kualitas batuan di sepanjang
terowongan dan kondisi air tanah sepanjang terowongan kereta api Sasaksaat. Berdasarkan
peta geologi lembar Cianjur, Jawa (Sudjatmiko, 1972), Struktur antiklin mempunyai arah N
75
0
E memotong sumbu terowongan pada jarak kurang lebih 550 m dari mulut terowongan
Sasaksaat. Tidak ada indikasi sinkapan batuan beku didaerah ini, tetapi dijumpai tufa
sepanjang terowongan (Gambar 4). Dari hasil survey TTJ terlihat adanya nilai tahanan jenis
yang tinggi di topografi tinggi, dimana topografi tinggi merupakan bagian dari sistem antiklin
(Gambar 5). Dari hasil pemboran diketahui bahwa nilai tahan jenis tinggi adalah batuan beku.
Jadi terlihat bahwa antiklin atau morfologi tinggi ini disebabkan oleh adanya intrusi batuan
beku. Sedangan nilai tahan jenis tinggi pada permukaan adalah tanah penutup dalam kondisi
kering yang menutupi lapisan pembawa air. Adanya lapisan pembawa air menyebabkan
banyak rembasan pada terowongan kereta api. Adanya tahanan jenis tinggi dibawah
terowongan diperkirakan merupakan penerusan dari tahanan jenis yang membentuk lipatan di
daera
h
Sasak
saat.



Gambar 4 Peta geologi daerah Sasaksaat
154

Gambar 5. Hasil tomografi tahanan jenis untuk memperkirakan
kondisi batuan dan air

Dengan diketahuinya kondisi batuan dan konidisi air tanah sepanjang terowongan, maka
perencanaan penguatan dan sistem pengeringan terowongan dapat dilakukan dengan baik.

4.2 Ekpslorasi

Di daerah Ciemas diketemukan adanya singkapan endapan pasir besi masif yang dikenal
dengan nama old terrace deposit. Secara umum permukaan tanah penutup merupakan
pelapukan dengan tidak ada indikasi adanya mineral yang tertarik oleh magnet meskipun
beberapa boulder pasir besi masif dengan kemagnetan tinggi diketemukan di beberapa tempat.

Dari hasil survey TTJ menunjukan adanya tahanan jenis tinggi merupakan tanah penutup
dalam kondisi sangat kering, dibawahnya terdapat tahanan jenis yang lebih rendah yang
ditafsirkan adalah old terrace deposit yang mengandung biji besi. Dari hasil test pit di lintasan
TTJ terbukti bahwa tahan jenii rendah dibawah tahanan jenis tinggi adalah pasir besi masif.
Untuk eksplorasi dangkal dengan topografi yang curam faktor topografi, supresi dan
ekivalensi perlu mendapat perhatian agar mendapatkan ketebalan yang akurat. Masalah
ketebalan ini sering menjadi perdebatan karena user atau driller sering kali menyatakan bahwa
ketebalan dari metode geofisik tidak tepat dengan hasilpemboran. Hal ini disebabkan dimensi
keakuratan yang berbeda antara geofisik dan driller dan masalah ambiguiti yang timbul dari
metode geofisik secara umum.
Zona
tersaturasi air
Batas atas
terowongan
155
Gambar 6. Hasil tomografi tahanan jenis untuk eksplorasi pasir besi masif


4.3 Eksplorasi air tanah

Dalam ekaplorasi air tanah metode ini telah berhasil menentukan penyebaran air tanah
permukaan dan daerah lokasi sumber air yang merupakan daerah kontak antara pasir volkanik
masif dengan lapisan pasir lepas yang mengandung air. Daerah tahanan jenis tinggi seperti
pada gambar 7 merupakan lapisan masif yang ditutupi oleh lapisan lepas yang mangandung
banyak air. Disepanjang kontak antara lapisan pasir masif dan lapisan lepas merupakan daerah
sumber air. Dengan metode ini dapat ditentukan bawah mata air yang ada di daerah
penleitian berasal dari rembasan air permukaan atau berasal dari akifer dalam.
156
Gambar 7 Aplikasi Tomografi Tahanan Jenis untuk Eksplorasi Air tanah

Hal ini sangat penting karena air yang dicari disini adalah air yang mengandung mineral-
mineral yang telah diperkaya oleh aktivitas volkanik yang berada diutara daerah survey.
Tetapi metode ini belum bisa menentukan besarnya rembasan air permukaan ke akuifer . Hal
ini perlu mendapat perhatian karena pemakaian peptisida dan pupuk akan berpengaruh
terhadap kualitas air yang aakan diolah.


4.4 Eksplorasi Panas Bumi

Metode TTJ pertama kali digunakan oleh Lab Teknik Eksplorasi Departemen Teknik
Pertambnagan ITB untuk mendeteksi adanya daerah dengan nilai tahanan jenis rendah untuk
eksplorasi geothermal. Untuk geothermal agar mencapai penetrasi yang dalam digunakan
jarak a=250 m dengan n=6-8. Karena pada saat itu metode ini belum banyak digunakan dan
afektifitasnya dipertanyakan untuk eksplorasi dalam khususnya geothermal, maka untuk
mengecek akurasi ini dilakukan pengukuran Sclumberger di dua lokasi. Metode
157
Schlumberger hampir merupakan metode geofisik standart yang dipakai di eksplorasi
geothermal.

Hasil pengukuran lapangan di plot dalam pseudo section unhtuk menggambarkan tahanan
jenis semu. Untuk mengetahui kondisi ketebalan dan tahanan jenis sebenarnya dilakukan
perhitungan dengan menggunakan metode inversi (Gambar 8).





Gambar 8 Aplikasi Tomografi Tahanan Jenis untuk Eksplorasi Panas Bumi


Dari hasil pengukuran ini terlihat adanya nilai tahanan jenis rendah yang ditutupi oleh tahanan
jenis yang lebih tinggi. Nilai tahanan jenis rendah ini diperkirakan lapisan penutup. Dalam
eksplorasi geothermal lapisan penutup ini adalah lapisan lempung hasil alterasi. Pada gambar
8 belum terlihat adanya kenaikan harga tahanan jenis yang merupakan indikasi reservoir. Jika
di daerah tersebut tidak ada indikasi lempung formasi maka dapat diperkirakan bahwa daerah
tersebut mempunyai prospek untuk dilakukan eksplorasi lanjutan. Tetapi jika dari kondisi
geologinya ada indikasi pembentukan lempung formasi, metode TTJ sulit atau tidak bisa
membedakan antara lapisan lempung hasil alterasi dari batuan volkanik atau dari proses
158
sedimentasi. Untuk itu perlu dilakukan kajian kondisi geologi yang lebih detail agar tidak
terjadi ambiguiti serta digabung dengan metode geofisik lain.

KESIMPULAN

Metode tomografi tahanan jenis dapat digunakan untuk berbagai survey bawah permukaan
baik untuk keperluan geoteknik maupun untuk eksplorasi. Metode ini mempunyai keunggulan
dibandingkan dengan metode klasik seperti Sclumberger karena dapat dimunculkan dalam
2D. Dengan makin berkembangnya sistem algorithma dalam prosesing, maka metode
tomografi tahanan jenis akan lebih berkembang dan lebih akurat dengan mengantisipasi
segala aspek seperti topografi, supresi dan ekivalensi.

Daftar Pustaka
1. Dobrin, M. D. dan C. H. Savit, Geophysical Prospecting, Fourth Edition, McGraw-
Hill International Editions,1988.
2. Gumilar, A.A, Aplikasi pengaruh ekivalensi dan supresi pada interpretasi data hasil
pengukuran nilai tahanan di Cirotan dan Cacarucup, Skripsi Departemen Teknik
Pertambangan ITB, 2001
3. Loke, M.H., Elictrical Imaging Survey for Enveromental and Engineering Studies,
Partical Guide to 2-D and 3-D surveys, Cangkat Minden Lorong 6 Minden Heights
11700 Penang, Malaysia, Hal 01-43,1999.
4. Loke, M.H. Januari1999, Res2Dinv, Geoelectrical Imaging 2D & 3D, Malaysia, Hal
01-70
5. Sudjatmiko., Peta Geologi Daerah Cianjur ,Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi, 2003
6. Sulistijo, B dan Siradj, M, Laporan survey Dipole-dipole untuk geothermal (tidak
dipublikasikan)
7. Sulistijo, B, Laporan Survey teknis dan desain BH-503 (terowongan sasaksaat).
8. Sulistijo, B and Adrianto ,W.K, Hydrogeologi study in Tabanan, Bali,2007
9. Storz, H.W et all, Electrical resistivity tomography to investigate geological structure
of earths upper crust, Geological Prospecting, 48, 455-471
10. Suzuki,K.S, et all, Case studies of electrical and electromagnetic methods applied to
mapping active faults beneath the tick quaternary, Engineering Geology, 56, 29-45
11. Telford. W.M., Applied Geophysics, John Weley and sons Ltd, England,1991
Widodo, Eksplorasi endapan besi dengan metode geolistrik tahanan jenis di daerah Ciemas,
Sukabumi, Jawa Barat, Thesis Magister, Prodi Rekayasa Pertambangan ITB,
159
PENGGUNAAN GEOLISTRIK TAHANAN JENIS 2 D
UNTUK IDENTIFIKASI ARAH SEBARAN BATU BESI
DI DAERAH Y, KABUPATEN BELITUNG TIMUR

Eddy Ibrahim
*)

*)
Staf Pengajar Jurusan Teknik Pertambangan dan
Prog. Studi S2 Pengelolaan Lingkungan- Pascasarjana,
Universitas Sriwijaya,
E-Mail: eddy_ibrahim@yahoo.com
Abstrak
Pengukuran geolistrik tahanan jenis 2D di lokasi rencana eksploitasi batu besi menggunakan
konfigurasi Wenner dengan spasi elektroda arus dan elektroda potensial yaitu 4 m. Posisi
titik duga pengukuran yang digunakan berbeda-beda sesuai dengan lintasan (daerah bawah
permukaan) yang akan diselidiki. Tujuan dari pengukuran ini yaitu identifikasi kondisi
geologi bawah permukaan di daerah Mentawak serta untuk melihat kemungkinan posisi dan
sebaran batu besi yang ada di daerah tersebut. Pengukuran geolistrik di daerah Mentawak
dilakukan dengan 3 lintasan. Dari hasil pengukuran pada lintasan 1 , 2 dan 3 dapat
diperlihatkan adanya distribusi variasi nilai-nilai resistivitas baik secara lateral maupun
vertikal dari medium yang dilalui arus listrik. Indikasi adanya lapisan batuan yang bersifat
konduktif yang diduga sebagai batu besi ( atau batu sabak dan serpih yang umumnya
mengandung kasiterit dan galena ) terdapat pada ketiga lintasan tersebut dengan posisi, arah
sebaran serta kumulasi dan intensitas tahanan jenis yang berbeda. Penyebab perbedaannya
dikarenakan kadar batu besi dan lingkungan yang berbeda serta merupakan batuan
sekunder.
Kata Kunci : Eksplorasi batu besi, Geolistrik tahanan jenis 2 D, konfigurasi elektroda
Wenner, posisi bawah permukaan, nilai resistivitas, kadar, lingkungan.

Abstract
Geoelectric 2 D measurement on location iron rock exploitation plan by using a Wenner array
with 4 m space of current and potential electrode. The position of sounding point was different
each other as according to traverse line (subsurface condition) to be investigated. Goal of
measurement was to know condition sub-surface condition at zone of district Y and also to see
the possibility of position and distribution of iron rock in the district. Geoelectric measurement
was done with 3 traverse line. Result of measurements can showed indication of existence of
iron rock due to intensity and resistivity value variation to host rock. Each of resistivity value
from iron rock and environment make of difference percentage intensity.
Keyword : Iron rock exploration, geoelectric resistivity, Wenner array, Sub-surface condition,
resistivity value, intensity, host rock.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
1. Latar Belakang
Salah satu aspek penting dalam eksplorasi adalah informasi mengenai kondisi geologi
daerah tersebut. Informasi geologi yang diperlukan untuk eksplorasi sebaran batu besi adalah
stratigrafi (termasuk lithologi), dan struktur geologi.
Daerah penyelidikan yaitu Desa Y dimana berdasarkan lembar geologi Belitung
wilayah tersebut terletak pada formasi Kelapa Kampit, formasi Tajam dan formasi Siantu.
Struktur geologi yang dijumpai di daerah ini antara lain, lipatan, sesar, kekar dan
kelurusan. Arah sumbu lipatan umumnya barat laut-tenggara, sedangkan sesar berarah
timurlaut-baratdaya. Kegiatan tektonik dimulai pada masa permo-karbon yang menghasilkan
endapan sedimen flysch formasi Kelapakampit, bersamaan dengan itu terjadi tumbukan
yang membentuk formasi Siantu.
Batu besi merupakan salah satu sumber daya alam di kabupaten Belitung Timur yang
belum dimanfaatkan secara optimal. Batu besi ini berdasarkan peta geologi lembar Belitung,
Sumatera tersebar di dua lokasi yaitu di kawasan yang termasuk Wilayah Administrasi
Kabupaten Belitung Timur yaitu G. Batubesi dan Air Dengung (batuan Diorit Kuarsa
Batubesi). Batu besi di G. Batubesi telah dieksploitasi sedangkan di Air Dengung masih
tahap eksplorasi (Gambar 1).























Untuk wilayah yang diteliti yaitu desa Y, melihat susunan dan jenis batuan yang ada,
sebaran batu besinya adalah berupa mineral sekunder seperti hematit, magnetit, pirit dan
galena yang kemungkinan dijumpai pada perselingan antara formasi Kelapakampit dan
formasi Siantu dalam bentuk disiminasi. (Gambar.2).
Gambar.1
Peta Geologi dan Dua Lokasi Sebaran Batu Besi
Di Kabupaten Belitung Timur (P3G, 1995)
161
Gambar.2.
Peta Geologi dan Lokasi Penyelidikan
Di Desa Y, Kabupaten Belitung Timur
Pemboran eksplorasi (core drill) untuk keperluan dan kemudahan dalam perencanaan
baik teknik maupun ekonomis bertujuan untuk mengetahui posisi dan sebaran batu besi di
dalam tanah beserta lingkungannya dimana secara geologi perlu diidentifikasi. Penggunaan
metoda geofisika yaitu geolistrik tahanan jenis 2 D merupakan salah satu cara untuk
mendapatkan informasi dari posisi dan sebaran batu besi didalam bumi. Metoda ini bekerja
melalui prinsip penginjeksian arus listrik ke dalam bumi melalui dua buah elektroda arus dan
nilai beda potensial diukur melalui dua buah elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus
dan beda potensial akan diperoleh variasi harga dibawah permukaan.
Metoda geolistrik sangat cocok digunakan untuk eksplorasi dangkal maupun dalam
sehingga banyak dimanfaatkan dalam eksplorasi geofisika seperti penentuan batuan dasar,
monitoring arah dan kecepatan aliran ground water (White, 1988 op.cit Ibrahim E, 2006),
geothermal, mengamati gerakan air garam (Fried, 1975 op.cit Ibrahim E, 2006), penentuan
ketebalan dan kemiringan batubara (Ibrahim, E, 2003), penentuan posisi akuifer air tanah di
Bayung Lencir dan Baturaja (Ibrahim, E, 2006) serta dapat mendeteksi rembesan dan
pencemaran polutan yang disebabkan oleh kebocoran oli dibawah permukaan tanah
(Bambang, E, 2002 op.cit Ibrahim E, 2006).
Kegiatan yang telah dilakukan ini adalah untuk identifikasi kondisi geologi bawah
permukaan di daerah Mentawak serta untuk melihat kemungkinan posisi dan sebaran batu
besi yang ada di daerah tersebut.
Hasil dari kegiatan ini nantinya diharapkan dapat dipakai sebagai pedoman dalam
mengelola kawasan yang diukur tersebut dan sebagai data penentuan letak pemboran untuk
batu besi serta pengelolaan batu besi yang ada pada kawasan itu secara bertanggung jawab
dengan memperhitungkan kondisi geologi setempat (daya dukung lingkungan) dan aktivitas
diatas permukaan, untuk menghindari adanya dampak negatif yang kemungkinan timbul
dalam skala yang lebih luas.

2. METODA
2.1. Konfigurasi Pengukuran
162
Pengukuran menggunakan aturan Wenner untuk pengambilan 2 D, dimana ke empat
elektroda dengan jarak tiap elektrodanya diatur agar dapat mengukur variasi anomali dari
masing-masing objek. (gambar.3)











2.2. Alat Pengukur
Peralatan yang digunakan dalam pengukuran adalah Resistivity meter model -2115
McOhm (gambar. 4). Alat ini terdiri dari dua komponen utama, yaitu : bagian komutator yang
bekerja mengubah isyarat arus searah menjadi arus bolak balik dengan frekuensi rendah yang
kemudian diinjeksi ke dalam bumi : serta bagian potensiometer yang berfungsi mengukur
beda potensial antara dua titik di permukaan bumi. Arus searah dari sumber daya DC
dialirkan ke bagian komutator untuk selanjutnya diubah menjadi arus bolak balik dan
diinjeksikan ke dalam bumi melalui elektroda arus. Nilai beda potensial antara dua titik akibat
injeksi arus listrik diukur pada bagian potensiometer melalui elektroda potensial.














2.3. Teknik Pengambilan Data

Data yang diperoleh berupa nilai resistivitas listrik akan digunakan untuk melihat
variasi anomali dari masing-masing obyek dimana data tersebut merupakan hasil dari
perolehan nilai arus, beda potensial dan konfigurasi elektroda yang dipakai (gambar 3)
Gambar. 4. Alat Geolistrik Model-2115 McOhm dan aksesorisnya (Ibrahim, 2006)
Gambar.3 Konfigurasi Elektroda Wenner (Ibrahim, 2006)
163
Pengambilan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menyusun rangkaian elektroda untuk konfigurasi Wenner dan mengaktifkan resistivity
meter lalu mengalirkan arus listrik ke medium dibawah permukaan bumi.
2. Mencatat arus listrik yang mengalir melalui kedua elektroda arus (I) dan beda
potensial (V) yang dihasilkannya melalui kedua elektroda potensial.
3. Melakukan pengukuran seperti pada langkah 1-2 dan seterusnya.
Dari data hasil pengukuran (arus (I) dan potensial (V)) serta faktor geometri dari
keempat elektrodanya maka selanjutnya dapat dilakukan perhitungan untuk menentukan nilai
resistivitas semu melalui persamaan :
a
V
K
I


Dengan
1 1 1 1
2 K
AM BM AN BN

, ]
j \ j \

, ( , ( , ]
( , ( , ]


Untuk konfigurasi Wenner, nilai resistivitas dari masing-masing titik datum (n)
diperoleh dari rumusan :
2
a
V
a
I


Hasil perhitungan nilai-nilai resistivitas semu selanjutnya diolah dengan menggunakan
program RES2DINV untuk inversi 2 dimensi. Dari inversi akan diperoleh penampang 2
dimensi dari distribusi nilai-nilai resistivitas listrik bawah permukaan. (gambar 5).










3. HASIL

Pengukuran Geolistrik Tahanan Jenis di Kabupaten Belitung Timur tepatnya di daerah
Y menggunakan konfigurasi Schlumberger untuk 1 D dan konfigurasi Wenner untuk 2 D
dengan spasi elektroda arus dan elektroda potensial awal yaitu 4 m. Posisi titik sounding
pengukuran yang dilakukan berbeda sesuai dengan rancangan pengukuran (jumlah datum
point dan kedalaman pengukuran).
Lokasi pengukuran geolistrik dengan aturan konfigurasi elektroda Wenner ditentukan
pada daerah yang dianggap representatif. Pada Total panjang lintasan pengukuran yang
direncanakan 2000 m yaitu 1000 m untuk 1 D dan 1000 m untuk 2D. Hasil akuisisi dan
pengolahan datanya untuk masing-masing lintasan dan dimensinya adalah sebagai berikut.
Gambar .5. Teknik Pengambilan Data 2 D
164
3.1. Lintasan 1
















Panjang lintasan I adalah 200 m. Adapun hasil akuisisi dan inversi datanya untuk lintasan
ini dapat dilihat pada gambar 8.
















Gambar 6. Lokasi lintasan 1 pengukuran Geolistrik
2 D Beserta Koordinatnya dari hasil GPS
Gambar 7. Foto lokasi lintasan 1 pengukuran Geolistrik 2 D
Gambar 8. Hasil Inversi pengukuran Geolistrik 2 D untuk lintasan I (200 M)
165
Dari hasil pengukuran pada lintasan 1 dapat diperlihatkan adanya distribusi variasi nilai-
nilai resistivitas baik secara lateral maupun vertikal dari medium yang dilalui arus listrik.
Keadaan cuaca pada saat pengukuran adalah terang dan tidak ada hujan sehari
sebelumnya. Pada kedalaman antara 0 m sampai 5 m terdapat lapisan tanah keras yang
secara lateral pada posisi 100 m sampai 120 m merupakan indikasi dari batu pasir malihan
(perselingan dengan batu lumpur, batu lanauan tufaan dan rijang. Sedangkan pada posisi
dibawahnya pada kedalaman antara 5 m sampai > 15 m terdapat lapisan batuan yang
bersifat konduktif yang diindikasikan sebagai batu besi ( atau batu sabak dan serpih yang
umumnya mengandung kasiterit dan galena ) dan secara lateral pada posisi 130 m sampai
140 m tersingkap cukup tebal > 5 m lapisan batuan yang bersifat konduktif yang juga
diindikasikan sebagai batu besi. Objek yang diduga batu besi tersebar secara tidak merata
(disemminated).

3.2. Lintasan 2


























Gambar 10. Lokasi lintasan 2 pengukuran Geolistrik
2 D Beserta Koordinatnya dari hasil GPS
Gambar 11. Foto lokasi lintasan 2 pengukuran Geolistrik 2 D
166
Panjang lintasan 2 adalah 200 m. Adapun hasil akuisisi dan inversi datanya untuk lintasan
ini dapat dilihat pada gambar 12.






















Dari hasil pengukuran pada lintasan 2 dapat diperlihatkan adanya distribusi variasi nilai-
nilai resistivitas baik secara lateral maupun vertikal dari medium yang dilalui arus listrik.
Pada kedalaman antara 0 m sampai 8 m terdapat lapisan tanah keras yang secara lateral
pada posisi 80 m sampai 90 m merupakan indikasi dari batu pasir malihan (perselingan
dengan batu lumpur, batu lanauan tufaan dan rijang. dimana pada posisi dibawahnya pada
kedalaman antara 8 m sampai > 12 m terdapat lapisan batuan yang bersifat konduktif yang
diindikasikan sebagai batu besi dan secara lateral pada posisi 130 m sampai 200 m
tersingkap cukup tebal 5 m lapisan batuan yang bersifat konduktif yang juga
diindikasikan sebagai batu besi atau kemungkinan perselingan sejajar antara batu sabak
dan serpih yang umumnya mengandung kasiterit dan galena. Objek yang diduga batu besi
tersebar secara tidak merata (disemminated).
Gambar 12. Hasil Inversi pengukuran Geolistrik 2 D untuk lintasan 2 (200 M)
167
3.2. Lintasan 3






















Panjang lintasan 3 adalah 200 m. Adapun hasil akuisisi dan inversi datanya untuk lintasan
ini dapat dilihat pada gambar 15.
Gambar 13. Lokasi lintasan 3 pengukuran Geolistrik
2 D Beserta Koordinatnya dari hasil GPS
Gambar 14. Foto lokasi lintasan 3 pengukuran Geolistrik 2 D
168
169


Dari hasil pengukuran pada lintasan 3 dapat diperlihatkan adanya distribusi variasi nilai-
nilai resistivitas baik secara lateral maupun vertikal dari medium yang dilalui arus listrik.
Pada kedalaman antara 0 m sampai 5 m terdapat lapisan tanah keras yang secara lateral
pada posisi 0 m sampai 200 m merupakan indikasi dari batu pasir malihan (perselingan
dengan batu lumpur, batu lanauan tufaan dan rijang. Sedangkan pada posisi dibawahnya
pada kedalaman antara 5 m sampai > 12 m terdapat lapisan batuan yang bersifat
konduktif yang diindikasikan sebagai batu besi atau kemungkinan perselingan sejajar
antara batu sabak dan serpih yang umumnya mengandung kasiterit dan galena. Objek
yang diduga batu besi tersebar secara tidak merata (disemminated).
Gambar 15. Hasil Inversi pengukuran Geolistrik 2 D untuk lintasan 3 (200 M)
4. KESIMPULAN

Dari hasil penyelidikan ini dapat disimpulkan antara lain :
Realisasi total panjang lintasan yang direncanakan 1000 m untuk geolistrik 2 D dapat
tercapai.
Pada daerah lintasan 2 dimungkinkan keberadaan lapisan batuan yang mengandung
besi atau kemungkinan perselingan sejajar antara batu sabak dan serpih yang
umumnya mengandung kasiterit dan galena yang terlihat dari pengukuran masing-
masing lintasan serta keterdapatan adanya singkapan batu besi dimana kemunngkinan
lintasan ini melintasi perselingan antara formasi Kelapakampit dengan formasi Siantu
Pada lintasan 1 dan 3 ada indikasi sebaran batu besi atau kemungkinan perselingan
sejajar antara batu sabak dan serpih yang umumnya mengandung kasiterit dan galena
yang bersifat disiminasi tetapi perlu diklarifikasi dengan pemboran inti (untuk
menentukan kadar batu besi dan lingkungannya)


UCAPAN TERIMAKASIH
Kerja yang telah dilakukan ini dibantu oleh Laboratorium Eksplorasi Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Teknik Unsri dan Dinas Pertambangan Kabupaten Belitung Timur.
Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh teman-teman yang membantu dan tidak bisa
disebutkan satu persatu dalam observasi lapangan serta penyelesaian tulisan ini.


DAFTAR PUSTAKA

1. A.A. Bobachev and Igor. N. Modin ., 2000, IPI2Win Software , Geoscan-M.Ltd,
Moscow, Russia

1. Ibrahim, E., 1996.,Penerapan Metoda Geolistrik Polarisasi Terimbas (IP) untuk Eksplorasi
Air Tanah Didaerah Lahat, Sum-sel, Laporan Penelitian, DRK, Fakultas Teknik, UNSRI.

2. Ibrahim, E, 2006 , Identifikasi Posisi Air Bawah Tanah di Kecamatan Bayung Lencir
Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (Laporan Penelitian).

3. Ibrahim, E., 2008., Laporan Penyelidikan Batu Besi Menggunakan metode geolistrik
tahanan jenis 1 D dan 2 D di Kabupaten Belitung Timur, Laboratorium Eksplorasi dan
Hidrologi, Jurusan Teknik Pertambangan, UNSRI (Tidak dipublikasikan).
170
KAJIAN RESERVOIR HIDROKARBON DENGAN
METODE INVERSION VERTICAL ELECTRICAL LOGGING (IVEL)
KONFIGURASI WENNER
(STUDI KASUS LAPANGAN Y PT. PERTAMINA EP REGION
SUMATERA)

Eddy Ibrahim
1 & 2*)

Ardi
1)

W.W.Parnadi
3)
1)
Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

2)
Prog. Studi S2 Pengelolaan Lingkungan- FPS,Universitas Sriwijaya
3)
Prog. Studi Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung,
*)
E-Mail: eddy_ibrahim@yahoo.com

Abstrak
Metoda geolistrik IVEL adalah suatu metoda resistivity yang dilakukan untuk
mendapatkan data tahanan jenis tiap kedalaman tertentu (umumnya selang 5-10 meter),
dengan melakukan pengukuran di atas permukaan. Pada penelitian di Lapangan Y PT.
Pertamina EP Region Sumatera, metoda ini dimaksudkan untuk mengetahui keberadaan,
kedalaman dan ketebalan hidrokarbon pada lapisan batuan di bawah permukaan.
Survey IVEL yang dilakukan terdiri dari 9 Titik pengamatan IVEL (Inversion Vertical
Electrical Logging) dengan panjang lintasan 1000 m, dimana jarak antara titik IVEL satu
dengan lainnya antara 50 m sampai dengan 200 m serta aturan elektroda pendugaan yang
digunakan adalah konfigurasi elektroda Wenner.
Hasil interpretasi dari survey IVEL terhadap titik-titik tersebut di atas dilihat dari
sebaran lithologi baik secara vertikal maupun horizontal di daerah penelitian dapat
disimpulkan bahwa daerah penyelidikan terdiri dari 4 (empat) satuan batuan dimana yang
menunjukkan indikasi hidrokarbon yang menarik ada 2 (dua) satuan batuan yaitu satuan
Sandstone - Shale (GUF) dan Sandstone (TAF Atas) dari kedalaman 100 sampai dengan 330
meter. Kedua satuan batuan tersebut sangat potensial mengandung hidrokarbon ditandai
dengan warna kuning dan kecoklatan yang sangat dominan dengan resistivity hingga 28 ohm
m.

Kata Kunci : Eksplorasi geofisika, reservoir hidrokarbon, geolistrik tahanan jenis, metode
IVEL, konfigurasi Wenner..
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
1. Latar Belakang
Dalam industri perminyakan akan selalu didapatkan permasalahan yang berhubungan
dengan penemuan cadangan baru atau akumulasi hidrokarbon, yaitu seberapa besar cadangan
hidrokarbon dan pada kedalaman berapa hidrokarbon itu berada.
Jawaban dari permasalahan di atas akan melibatkan berbagai kegiatan yang diawali
dengan survey geologi permukaan, operasi geofisik, kemudian interpretasi data-data tersebut
diakhiri dengan dilakukannya pemboran. Dengan melakukan penelitian pada cutting/coring
dan log sumur secara terus menerus akan diperoleh stratigrafi batuan yang ditembus pahat
bor. Berdasarkan data-data tersebut akan dapat direkonstruksikan berbagai jenis peta, seperti
peta kontur, struktur, peta isopach dan lain sebagainya. Cara ini jelas memerlukan waktu yang
lama dan biaya operasi yang cukup besar.
Pada eksplorasi geofisika khususnya eksplorasi geolistrik tahanan jenis, cara untuk
menemukan reservoir hidrokarbon dari waktu ke waktu makin berkembang. Seperti sekarang
eksplorasi geofisika berkembang dengan teknik eksplorasi geolistrik yaitu dengan metode
IVEL (Inversion Vertical Electrical Logging) yang banyak digunakan oleh perusahaan
minyak dan gas.
IVEL adalah suatu metoda resistivity yang dilakukan untuk mendapatkan data tahanan
jenis tiap kedalaman tertentu (umumnya selang 5-10 meter), dengan melakukan pengukuran
di atas permukaan. Pada metoda ini digunakan paradigma baru bahwa setiap dilakukan
pengukuran di permukaan sebetulnya telah terukur resultan dari tahanan jenis transversal
(

t) dan tahanan jenis longitudinal (

l) sedangkan tahanan jenis media (

m) diturunkan
terhadap parameter tersebut. Dengan menambah lebar rentang maka telah terukur kedua
parameter (

t) dan (

l), secara paralel dan seri secara bersamaan. Dengan memisah-


misahkan kedua (

t) dan (

l) dapat dihitung (

m) di tiap kedalaman tertentu.


Penghitungan (

t) dan (

l) dilakukan dengan menggunakan Konsep Anisotropi Raymond


Maillet (1947).
Dalam menemukan cadangan minyak yang baru atau akumulasi hidrokarbon,
diperlukan berbagai tahapan kegiatan seperti survey geologi permukaan, operasi geofisik,
kemudian interpretasi data-data tersebut yang diakhiri dengan dilakukannya pemboran. Hal
ini akan membutuhkan dana yang besar dan waktu yang lama. Maka dari itu pada saat ini
ditemukan cara baru dalam prospeksi reservoir hidrokarbon, yaitu dengan metode IVEL
(Inversion Vertical Electrical Logging). Ada beberapa konfigurasi yang digunakan seperti
Schlumberger, Wenner atau Dipole-dipole. Pada tulisan ini yang digunakan adalah Metode
IVEL dengan konfigurasi Wenner.
Kegiatan yang telah dilakukan adalah untuk identifikasi kondisi geologi bawah
permukaan di daerah Y serta untuk melihat kemungkinan posisi dan sebaran akumulasi
hidrokarbon yang ada di daerah tersebut.
Hasil dari kegiatan ini nantinya diharapkan dapat dipakai sebagai pedoman dalam
mengelola kawasan yang diukur tersebut dan sebagai data penentuan letak titk pemboran
untuk akumulasi hidrokarbon serta pengelolaan hidrokarbon yang ada pada kawasan itu
secara bertanggung jawab dengan memperhitungkan kondisi geologi setempat (daya dukung
lingkungan) dan aktivitas diatas permukaan serta untuk menghindari adanya dampak negatif
yang kemungkinan timbul dalam skala yang lebih luas.
172
2. METODA

Penelitian ini dilakukan dengan cara pengambilan data kuat arus (I) dan beda potensial
(V) di lapangan Y PT. Pertamina EP Region Sumatera. Nilai ini diolah dilapangan untuk
menghasilkan nilai tahanan jenis semu. Dari data tahanan jenis semu ini lah yang kemudian
diolah menghasilkan nilai data-data Tahanan Jenis Media (

m) untuk setiap titik


pengamatan. Selanjutnya dibuat grafik penampang log tahanan jenis untuk membandingkan
tahanan jenis media yang diperoleh pada setiap kedalaman. Kumpulan data

m pada satu
lintasan diolah dengan program RES2DINV untuk menghasilkan penampang pencitraan
IVEL pada setiap lintasan pengamatan. Untuk mengetahui kemenerusan lapisan, maka data
log IVEL dikorelasikan dengan data log sumur yang ada disekitarnya.
1. Pengambilan data
a. Data primer
Pada setiap titik pengamatan IVEL diperoleh Data Tahanan Jenis Media (

m) yang
selanjutnya diolah untuk mendapatkan prospeksi reservoir hidrokarbon pada suatu
zona lapisan tertentu.
b. Data sekunder
Literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian diperoleh dari buku panduan
dan internal memorandum perusahaan, yang meliputi data log sumur yang berdekatan
dengan titik pengamatan.
2. Pengolahan data
Pengolahan dan tabulasi data dilakukan dengan perhitungan yang disajikan dalam bentuk
tabel, grafik dan penampang pencitraan lapisan.
3. Analisa data
Pemecahan masalah dilakukan berdasarkan pada interpretasi data IVEL yang telah diolah
dalam bentuk grafik log IVEL dan penampang pencitraan log IVEL.


2.1. Pendugaan Geolistrik Metode IVEL
Metode geolistrik merupakan metode yang umum digunakan untuk mengetahui
keadaan bawah permukaan seperti : penyebaran lithologi, sifat fisik, batas formasi dan lain-
lain berdasarkan sebaran tahanan jenis. Pada penelitian di Lapangan Y dengan
menggunakan metoda Inversion Vertical Electrical Logging (IVEL) dimaksudkan untuk
mengetahui keberadaan dan kedalaman hidrokarbon pada lapisan batuan di bawah
permukaan.
Secara umum lokasi penelitian terletak pada daerah sumur-sumur yang ada di
lapangan Y PT Pertamina EP Region Sumatera, baik sumur yang masih aktif maupun yang
sudah tidak aktif lagi. Lokasi penelitian dapat dicapai dengan rute perjalanan Palembang
Pendopo (dengan mobil kurang lebih 3 Jam). Dari Pendopo menuju lapangan Y dengan
mobil kurang lebih selama 1 jam. Penelitian IVEL yang telah dilakukan adalah sebanyak 9
titik pengamatan IVEL yang tersebar pada lokasi penelitian. Dimana jarak antara titik IVEL
satu dengan lainnya antara 50 m sampai dengan 200 m tergantung dari kondisi geologi bawah
permukaan. Titik-titik pengamatan ini tersusun dalam suatu garis lurus berbentuk 1 lintasan
pengamatan (Gambar 1).
173
Gambar.1
PETA LINTASAN 1 SURVEY GEOLISTRIK IVEL LAPANGAN Y PT. PERTAMINA
EP REGION SUMATERA


2.2. Metoda Analisa IVEL
Inversi log tahanan jenis versus kedalaman dilakukan dengan menghitung tahanan jenis
media (

m) melalui tiap kedalaman tertentu dengan spasi 5 - 20 meter tiap pengamatan dari
data tahanan jenis yang diukur di permukaan.
Pada metode ini digunakan paradigma baru bahwa setiap dilakukan pengukuran di
permukaan sebetulnya telah terukur resultan dari tahanan jenis transversal (

t) dan tahanan
jenis longitudinal (

l) sedangkan tahanan jenis media (

m) diturunkan terhadap parameter


tersebut. Dengan menambah lebar rentang maka telah terukur kedua parameter (

t) dan
(

l), secara paralel dan seri secara bersamaan. Dengan memisah-misahkan kedua (

t) dan
(

l) dapat dihitung (

m) di tiap kedalaman tertentu. Penghitungan (

t) dan (

l)
dilakukan dengan menggunakan Konsep Anisotropi Raymond Maillet (1947).

2.2.1. Inversi Log Tahanan Jenis
Untuk media homogen anisotropi (struktur Anisotropi) yang diartikan bahwa media
tersebut isotropi dan homogen untuk masing-masing unit lapisan lain, akan tetapi sifat
kelistrikan berubah untuk unit lapisan lain misalnya

1,

2,

i. Dimana tebal tiap


lapisan adalah h1, h2, h3, h...,total h meter. Harga tahanan jenis terukur dari suatu media
merupakan resultan dari total sifat media tersebut antara lain: tahanan listrik untuk arah tegak
lurus bidang lapisan dan tahanan listrik untuk arah tegak lurus bidang lapisan dan tahanan
listrik dengan arah sejajar tahanan dengan arah lapisan.
174
Tahanan yang terjadi untuk hubungan seri pada tahanan transversal adalah :

+ +
n
i i n n
h h h h h T
1
3 3 2 2 1 1
... ..........
Sedangkan daya hantar listrik (S) untuk tahanan longitudinal adalah :

+ +
n
ind
n n
i
hi
h h h h S

/ .. .......... / / /
3 3 2 2 1 1

Maka dapat diturunkan tahanan jenis transversal adalah :


i
n i
i
i i
t
h
h
H
T
1



Sedangkan untuk komponen arus listrik yang mengalir sejajar dengan bidang lapisan
(horizontal) tahanan jenis pengganti dihitung seperti pada tahanan listrik paralel sebagai
penjumlahan Conductance (S) atau penjumlahan daya hantar listrik sebagai berikut :
Maka total daya hantar listrik sebagai penjumlahan paralel sebagai berikut :


n i
l i
i
i
i
l
h
s S


Harga daya hantar pengganti (subsitusi) untuk keseluruhan unit dari 1 sampai n, atau
konduktivitas longitudinal adalah :

H
S

l

Dengan demikian tahanan jenis longitudinal dapat diturunkan sebagai berikut :


i
h
h
S
H
i
n i
i
i

1
1
l

i
l
hi
hi
l



sedangkan m adalah fungsi dari kedua parameter itu.
Biasanya

l lebih kecil dari pada

t. Ketergantungan harga resistivity kepada arah arus


listrik inilah yang disebut koefisien Anisotropi. Koefisien Anisotropi dinyatakan sebagai
perbandingan transversal dan longitudinal resistivity sebagai berikut :

( )
2 2



i
i
i
i
h
h
h
H
ST
t

l




Berdasarkan getaran geometrinya sifat anisotropi tahanan jenis dibagi dua yaitu:
175
1. Anistropi regional yang meliputi sifat isotropi akibat keadaan geologi, seperti: bidang
lapisan, perubahan facies geologi, dan lain-lain.
2. Anisotropi lokal atau mikro anistropi yang terjadi pada pengukuran tahanan jenis pada
lubang bor yang diakibatkan oleh perbedaan yang bersifat mikro. Dengan menghitung m
tiap kedalaman dan diplot terhadap kedalamannya maka didapatkan log tahanan jenis
material ( m ).
2.2.2. Kalibrasi
Kalibrasi dilakukan untuk mereduksi efek variasi yang terdapat di permukaan. Kalibrasi
dilakukan juga dengan menggunakan perbandingan dengan log sumur-sumur sekitar. Dengan
demikian akan didapatkan harga tahanan jenis yang terkalibrasi dengan data bor yang
merefleksikan distribusi tahanan jenis versus kedalaman yang sebenarnya disebut m
calibrated.
2.2.3. Pencitraan Resistivity Bawah Permukaan
Setelah dilakukan kalibrasi dengan data log tahanan listrik dari log sebenarnya dalam
hal ini digunakan data LLD dari sumur sekitar, dilakukan Pencitraan resistivity bawah
permukaan. Sehingga didapat suatu penampang yang menggambarkan penyebaran lapisan
bawah permukaan berdasarkan beda resistivity.

2.2.4. Strata Log
Dari data resistivity

m sebenarnya setelah dikalibrasikan kemudian disusun menurut


urutannya dari suatu lintasan IVEL. Susunan log IVEL dari satu lintasan dapat digunakan
untuk mempelajari perubahan dan kemenerusan lapisan-lapisan formasi maupun dapat
digunakan untuk mempelajari penyebaran zona yang diduga mempunyai kandungan minyak /
hidrokarbon.

2.3. Peralatan Yang Digunakan
Peralatan yang digunakan pada penyelidikan geolistrik (Gambar 2) meliputi :
1. Alat Resistivitas Meter Geosource dan Oyo McOhm Mark II.
2. Alat pengukur posisi GPS 78CS channel merk Garmin
3. Kompas
4. Accu 12 volt.
5. Elektroda arus dan elektroda potensial masing-masing 2 buah.
6. Kabel listrik arus 2400 meter dan kabel potensial 800 meter masing-masing 2 roll.
7. Kalkulator.
8. Meteran.
9. Multitester sebanyak 2 buah.
10. Handy Talky sebanyak 12 buah.
11. Alat tulis menulis dan formulir data lapangan.
12. Peta lokasi dan data-data sekunder.
176
Gambar.2
PERALATAN GEOLISTRIK METODE IVEL
2.4. Metode Pengumpulan Data

Metode eksplorasi geolistrik merupakan salah satu dari metode eksplorasi geofisika
yang menggunakan sifat-sifat kelistrikan bumi termasuk sifat-sifat listrik batuan dan mineral
untuk pemetaan geologi dan penyelidikan bijih, penyelidikan sumber daya mineral dan migas.
Dasar kerja metode ini adalah bahwa tiap jenis tanah, tiap macam batuan, maupun perbedaan
kejenuhan air akan mengakibatkan perbedaan nilai resistivity. Secara umum dapat dikatakan
bahwa tiap batuan atau mineral mempunyai harga tahanan jenis tertentu (specific resistivity).
Pada batuan-batuan di alam, tahanan jenis batuan selain ditentukan oleh komposisi mineral,
besar butir, juga dipengaruhi oleh kandungan air, kadar garam dan lain sebagainya. Harga
tahanan jenis akan turun dari harga tahanan jenis sebenarnya, jika batuan tersebut
mengandung air yang berkadar garam tinggi. Batuan metamorf, mempunyai harga tahanan
jenis lebih besar lagi dan mempunyai perbedaan yang menyolok. Tahanan jenis batuan dapat
saja secara vertikal tetapi juga secara lateral.
Di lapangan metode ini dikerjakan dengan memberikan arus listrik yang dialirkan ke
dalam tanah melalui dua buah elektroda logam, sedang dua buah poros poot berfungsi untuk
mengukur beda potensial yang ditimbulkan pada tempat-tempat tertentu. Metode ini
dilaksanakan dengan menggunakan arus listrik searah atau arus bolak-balik berfrekwensi
rendah (I), yang dialirkan ke dalam bumi, melalui dua elektroda (elektroda arus). Perbedaan
potensial yang dihasilkan (V) diukur dengan dua elektroda yaitu elektroda pengukur
potensial.
Jika pengukuran dilakukan dari atas permukaan lapisan tanah yang tebalnya tak
terhingga, homogen dan isotropik, maka harga yang diperoleh merupakan tahanan jenis yang
sebenarnya dari lapisan tersebut. Tetapi kenyataannya keadaan ideal yang sedemikian ini
tidak mungkin dijumpai di alam, sebab selain keadaan tanahnya berlapis juga umumnya
komposisi tanah tidak homogen serta tidak isotropik. Untuk medium yang demikian harga
tahanan jenis yang diperoleh didefinisikan sebagai tahanan jenis semu.
Konfigurasi elektroda yang digunakan pada pendugaan IVEL di daerah ini
menggunakan aturan Wenner untuk Sounding. Untuk setiap konfigurasi elektroda, persamaan
tahanan jenisnya dapat dirumuskan sebagai berikut :
177
a w
V
K
I


dimana









Faktor Geometri (Kw) pada aturan Wenner dihitung dari pengukuran di lapangan
dengan memanfaatkan konsep Anisotropi dari Raymond Maillet (1947). Nilai AM, MN dan
NB adalah sama pada setiap pengukuran (AM = MN = NB = a). Maka rumus Kw adalah
sebagai berikut:

1
1 1 1 1
2
w
K
AM MB AN NB

j \
+
, (
( ,


1
1 1 1 1
2
2 2
w
K
a a a a

j \
+
, (
( ,


1
1
2
w
K
a

j \

, (
( ,


2
w
K a


Dimana a adalah jarak antara AM, MN dan NB (Gambar 3)
Dari hasil interpretasi akan dapat ditentukan tebal lapisan-lapisan batuan di bawah
permukaan berdasarkan harga tahanan jenis masing-masing lapisan tersebut. Dengan
demikian dapat diperkirakan ada atau tidaknya minyak di sekitar daerah penelitian. Untuk
mendapatkan data sampai kedalaman 800 meter pada aturan Wenner diperlukan kabel
sepanjang 4000 meter (Gambar 3 dan Gambar 4).

a
= Tahanan jenis semu (ohm-m)
K
w
= Faktor geometri Wenner
V = Beda potensial (mV)
I = Injeksi arus (mA)
178

Dimana :
A - B = elektroda arus 2 buah
M - N = elektroda pengukur/potensial 2 buah
O = titik sounding/pengukuran
I = arus yang dialirkan
V
= perbedaan potensial


















3. HASIL

3.1. Hasil Pengolahan Data IVEL
Dari survey IVEL yang dilakukan dapat diperoleh bentuk penampang log IVEL dan
penampang pencitraan IVEL. Berikut data kedua penampang tersebut.

3.1.1 Penampang Log IVEL
Susunan log IVEL dari satu lintasan dapat digunakan untuk mempelajari perubahan dan
kemenerusan lapisan-lapisan formasi maupun dapat digunakan untuk mempelajari penyebaran
zona yang diduga mempunyai kandungan minyak/hidrokarbon.
Gambar.3
SKEMA KONFIGURASI SUSUNAN ELEKTRODA WENNER

Gambar.4
SKEMA CONTINUOUS VERTICAL RESISITIVITY

179
Lapangan Y ini terdiri atas 1 lintasan (panjang 1000 m) dengan 9 titik IVEL. Dari
survey IVEL yang dilakukan pada tiap titik diperoleh nilai log resitivity pada kedalaman
tertentu yang kemudian digambarkan pada bentuk grafik penampang log IVEL.
Salah satu contoh bentuk penampang log IVEL dapat diperhatikan pada titik IVEL 1
yang berada pada lintasan line 1 (Tabel 1 dan Gambar 5). Pada grafik dapat terlihat nilai
resitivity pada kedalaman antara 0 hingga 500 meter dari permukaan tanah. Hasil penampang
log IVEL titik 1 pada kedalaman 0 100 meter memperlihatkan nilai resitivity rendah
berkisar 0 10 ohm. Pada kedalaman 100 220 meter memperlihatkan harga resitivity antara
sedang tinggi berkisar antara 6 30 ohm m. Dan pada kedalaman 240 340 meter juga
memperlihatkan harga resitivity antara sedang sampai tinggi berkisar 10 30 ohm m.
TABEL 1
NILAI RESISTIVITY
m
IVEL 1

AB/2 a
m(z)
AB/2 a
m(z)

1.5 1 24.0304 405 270 33.4932
7.5 5 11.5298 420 280 2.7376
15 10 2.3835 435 290 16.7677
30 20 12.7626 450 300 6.0070
45 30 3.3737 465 310 6.7528
60 40 1.6098 480 320 1.7857
75 50 12.4280 495 330 1.7355
90 60 2.2109 510 340 12.1410
105 70 3.5727 525 350 5.0661
120 80 3.7945 540 360 18.5042
135 90 2.9908 555 370 12.3560
150 100 1.5861 570 380 1.9021
165 110 10.5412 585 390 4.5322
180 120 2.2290 600 400 1.5375
195 130 2.5277 615 410 5.1637
210 140 2.0982 630 420 28.0223
225 150 3.8823 645 430 7.0780
240 160 3.0144 660 440 7.6699
255 170 4.9043 675 450 2.0151
270 180 4.7041 690 460 3.3010
285 190 2.1231 705 470 4.4482
300 200 5.1030 720 480 8.9704
315 210 41.9319 735 490 7.8399
330 220 4.7073 750 500 2.9436
345 230 4.3580
360 240 1.9945
375 250 60.6416
390 260 3.1716

180
181
GAMBAR 5
PENAMPANG LOG TAHANAN JENIS IVEL 1

3.1.2 Penampang Pencitraan IVEL
Hasil penyelidikan geolistrik menggunakan Konfigurasi Wenner yang diinversikan
terhadap kedalaman akan mendapatkan bentuk penampang pencitraan IVEL untuk dilakukan
interpretasi lithologi, indikasi hidrokarbon dan indikasi struktur.
Sebelum dilakukan interpretasi geologi dan pendugaan kandungan hidrokarbon,
penampang-penampang hasil pencitraan dicek dan dikalibrasikan dengan data-data pemboran.
Juga harga resitivity hasil Continuous Vertical Resistivity Sounding divalidasikan dengan
harga-harga log sumur bor yang terdekat.
Salah satu contohnya adalah pada penampang pencitraan resitivity line 1 yang terdiri
dari 9 titik IVEL dengan total panjang lintasan 1000 meter. Line ini juga dikalibrasikan
dengan sumur bor terdekat yang dilewati oleh lintasan ini yaitu: Y 125 (Gambar 6).
Hasil pencitraan lintasan 1 dibagian atas pada kedalaman 0 100 meter
memperlihatkan nilai resitivity rendah berkisar 0 7 ohm m didominasi warna hijau dan
sebagian terdapat warna biru diduga lithologinya yaitu Shale Sandstone. Pada kedalaman
100 200 meter diduga lithologi yang ada adalah Sandstone Shale yang termasuk ke dalam
formasi Gumai, memperlihatkan harga resistivity rendah medium berkisar 10 15 ohm m
yang didominasi oleh warna hijau, kuning dan coklat.
Pada kedalaman 200 300 meter diduga lithologinya adalah Sandstone,dimana
didominasi warna coklat sampai merah, mempunyai harga resistivity sedang sampai tinggi
berkisar 10 28 ohm m, pada kedalaman ini diduga masuk ke dalam formasi Talang Akar
bagian atas. Dibagian bawah pada kedalaman 300 500 meter diduga Sandstone Shale
formasi Talang Akar, dimana warna hijau dan biru mendominasi sekali dengan nilai resistivity
berkisar 1 10 ohm m.
Bentuk penampang pencitraan IVEL lintasan 1 dapat dilihat pada Gambar 6 berikut.





3.1.3. Korelasi Log Sumur dan Log IVEL

Untuk mendapatkan nilai resistivity dan bentuk lapisan pada lintasan ini, maka data
log IVEL yang telah diperoleh, dikorelasikan dengan data log sumur yang telah ada. Data log
sumur yang digunakan adalah sumur yang berada disekitar lintasan IVEL itu sendiri.
Pada lintasan 1 yang terdiri dari 9 titik IVEL terdapat sumur bor di sekitar lintasan.
Sumur bor tersebut adalah Y-125. Sumur bor dikorelasikan dengan titik IVEL yang berada
lebih dekat sehingga dapat ditentukan lapisan dan nilai resistivity suatu titik IVEL untuk
diketahui iso resistivity tiap lapisan pada lapangan yang diteliti. Bentuk korelasi Lintasan 1
dapat dilihat pada Gambar 7.
GAMBAR 6
PENAMPANG PENCITRAAN TAHANAN JENIS ANISOTROPHY
LINE 1 LAPANGAN Y

182
GAMBAR 7
KORELASI LINTASAN 1
3.2. Hasil Interpretasi
Lintasan 1 terdiri dari 9 (sembilan) titik IVEL dengan panjang lintasan 1000 meter
Lintasan ini juga dikalibrasikan dengan bor terdekat yang dilewati oleh lintasan ini yaitu: Y-
125. Hasil interpretasi Lintasan 1 pada kedalaman 0 100 meter memperlihatkan nilai
resistivity rendah berkisar 0 7 ohm m diduga lithologinya yaitu Shale Sandstone. Pada
kedalaman 100 200 meter diduga lithologi yang ada adalah Sandstone shale yang
termasuk dalam formasi Gumai memperlihatkan harga resistivity rendah medium berkisar
10 15 ohm m. Pada kedalaman 200 300 meter diduga lithologi yang ada adalah Sandstone
yang termasuk dalam formasi Talang akar bagian atas memperlihatkan harga resistivity
sedang tinggi berkisar 28 ohm m. Di bagian bawah pada kedalaman 300 500 meter diduga
Sandstone shale yang termasuk dalam formasi Talang akar memperlihatkan harga resistivity
rendah berkisar 1 10 ohm m.

3.3. Prospek Reservoir Hidrokarbon
Hasil interpretasi daerah penyelidikan terdiri dari 4 (empat) satuan batuan sebagai
berikut:
Kedalaman 0 130 meter resistivity rendah berkisar 0 10 ohm m, didominasi warna
hijau dan biru yang digolongkan dalam satuan Shale Sandstone (GUF).
Kedalaman 100 230 meter, resistivity rendah sampai sedang berkisar 1 20 ohm m,
didominasi warna kuning dan sedikit warna hijau dan biru yang digolongkan dalam
satuan Sandstone - Shale (GUF).
Kedalaman 200 330 meter, resistivity sedang sampai tinggi berkisar 10 28 ohm m,
didominasi warna kuning dan kecoklatan yang digolongkan dalam satuan Sandstone
(TAF Atas).
Kedalaman 320 500 meter, resistivity rendah berkisar 0 10 ohm m, didominasi
warna hijau dan biru yang digolongkan dalam satuan Sandstone - Shale (TAF).
183
Dari keempat satuan tersebut, yang menunjukkan indikasi hidrokarbon yang menarik
ada 2 (dua) satuan batuan yaitu satuan Sandstone - Shale (GUF) dan Sandstone (TAF Atas)
dari kedalaman 100 sampai dengan 330 meter. Keduanya sangat potensial mengandung
hidrokarbon ditandai dengan warna kuning dan kecoklatan yang sangat dominan dengan
resistivity hingga 28 ohm m.


4. KESIMPULAN

Dari seluruh data dan hasil pengolahan data serta interpretasi yang dilakukan maka
dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut:
1. Survey geolistrik IVEL di lokasi Lapangan Y menggunakan konfigurasi Wenner
sebanyak 9 titik IVEL yaitu dari IVEL 1 hingga IVEL 9 memiliki nilai resistivity yang
berbeda-beda.
2. Dari hasil pencitraan dapat ditarik suatu kesimpulan dan dibuat interpretasi mengenai
Lithologi, Indikasi Hidrokarbon dan Indikasi Struktur. Hasil interpretasi terhadap titik-
titik tersebut di atas dapat dilihat sebaran lithologi baik secara vertikal maupun
horizontal di daerah penelitian.
3. Hasil interpretasi daerah penyelidikan terdiri dari 4 (empat) satuan batuan tetapi yang
menunjukkan indikasi hidrokarbon yang menarik ada 2 (dua) satuan batuan yaitu
satuan Sandstone - Shale (GUF) dan Sandstone (TAF Atas) dari kedalaman 100
sampai dengan 330 meter. Keduanya sangat potensial mengandung hidrokarbon
ditandai dengan warna kuning dan kecoklatan yang sangat dominan dengan resistivity
hingga 28 ohm m.

UCAPAN TERIMAKASIH
Kerja yang telah dilakukan ini dibantu oleh Laboratorium Eksplorasi Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Teknik Unsri, Laboratorium Geofisika Lingkungan, Program Studi
Teknik Geofisika, ITB dan PT. Pertamina EP Region Sumatera, Prabumulih, Sumatera
Selatan. Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh teman-teman yang membantu dan
tidak bisa disebutkan satu persatu dalam penyelesaian tulisan ini.
184
DAFTAR PUSTAKA

1. Akbar, Yusuf, 2002, Aplikasi CHFR (Case Hole Formation Resistivity) Untuk
Menemukan Zona Potensial Minyak Minas.

2. Giuliano, Francis A, 1981. Introduction to Oil and Gas Technology IHRDC,
Boston.

3. Handayani., G 1989 . Kursus Pengukuran Dasar Geofisika Untuk Eksplorasi dan
Geoteknik Laboratorium Fisika Bumi Jurusan Fisika FMIPA, Institut Teknologi
Bandung. Bandung.

4. Harsono, Adi, 1992, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Schlumberger Oilfield
Services, Jakarta.

5. Reynolds, J. M, 1997, An Introduction to Applied and Environmental Geophysics,
Published John Wiky and Sons Ltd.

6. Rubiandini, R. S, Rudi, 2001. Basic Petroleum Enginering College
HandbookPetroleum Engineering Department. ITB

7. Rubiandini, R. S, Rudi, 2001. Oil dan Gas Exploitation Tools College
Handbook Petroleum Engineering Department. ITB

8. Telford, W. M, Geldart, L. P, Sheriff, R. E, Keys, D. A, 1976, Applied Geophysics,
Cambridge University Press.

9. , 2001, Study Penerapan Water Flooding / Pressure Maintenance Struktur Jirak,
Lemigas Final Report, Jakarta.

10. , 2005,Study Simulasi Reservoir untuk Penerapan Waterflooding secara
Fullscale pada Lapisan First dan Second Sand Struktur Jirak DOH Sumbagsel
Pertamina, Lemigas Final Report, Jakarta.

11. , 2005, Survey Geolistrik Lapangan Jirak PT. Pertamina (Persero) DOH
Sumbagesl, Sumatera Selatan, UJK-ITB Final Report, Bandung.

12. , 2007, Barners Resistivity Layer, www.google.com.
185
DO SUPERGENE ENRICHMENT OF GOLD (-SILVER) MAKING
PONGKOR AN ECONOMIC DEPOSIT?
I Wayan Warmada
1
, Herian Sudarman Hemes
2

1
Department of Geological Engineering, Faculty of Engineering, Gadjah Mada University,
Yogyakarta, Indonesia. E-mail: warmada@mail.ugm.ac.id
2
PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk, Unit Penambangan Emas Pongkor, Bogor, Indonesia

The question whether gold-silver content in the Pongkor deposit are pure supergene enrichment or
hydrothermally zoning is still an open interpretation. The existence of samples with more than 40 g/t
gold grade could be possibly a result of supergene process. The Pongkor epithermal gold-silver
deposit consists of at least nine subparallel hydrothermal veins which are likely show a
hydrothermally zoning with overprinted by supergene enrichment. The gold bearing minerals are
electrum and trace of uytenbogaardite. The presence of copper sulfides, such as covellite and
chalcocite is a good mineral indicator for supergene processes. In the low-temperature environment,
these minerals are easily dissolved and reprecipitated into other forms. The mineral yarrowite and
spionkopite are the two minerals found in Pongkor, which are charactheristically produced by low-
temperature replacement of primary copper sulfides. However, hydrothermal zoning in the Pongkor
gold (-silver) deposit is characterized by the presence of relatively increase of Ag/Au ratios from low
Ag/Au ratios at deeper levels of the veins increasing to the intermediate and high ratios on the top
(as in Ciurug and Kubang Cicau). The high grade gold pockets at the top are from the partially eroded
ore band with supergene enrichment of gold and silver close to the surface.

Keywords: supergene enrichment, Pongkor, economic deposit, hidrothermal zoning, grade.
1. Introduction
The question whether gold-silver content in the Pongkor deposit are pure supergene
enrichment or hydrothermally zoning is still as an open interpretation. The concept of
hydrothermal zoning was described detailly by Petersen (1990) and was firstly introduced by
Park (1955) and later by Barnes (1962). The geometry and geochemical zoning of ore become
an important role for exploring and developing hydrothermal ore deposits. The zoning of base
metal ore deposits has long been recognized and was originally arrived at by observation of
lateral or vertical changes of metal content in a vein systems. Plotting of actual metal values
on vein projections or district cross sections introduces a quantitative approach and often
reveals the general nature of the zoning pattern (Goodell & Petersen, 1974).
In spite of zoning, the supergene enrichment has an important role in the enriched gold in
the top part of the vein systems (Milsi et al., 1999; Greffi et al., 2002; Warmada et al.,
2003; Syafrizal et al., 2005). Milsi et al. (1999) have thought that the average of hypogene
gold grade is about 16 g/t to 40 g/t. The existence of samples with more than 40 g/t gold grade
could be possibly a result of supergene process. The Pongkor epithermal gold-silver deposit
consists of nine subparallel hydrothermal veins which are likely show a hydrothermally
zoning with overprinted by supergene enrichment.
This paper applies the metal zoning concept to reinterpreted the distribution of gold-silver
in the 4 vein systems (Ciurug, Ciguha A, Ciguha B, and Pasir Jawa)
2. Geology and mineralization
The Pongkor area is part of the Neogene Sunda-Banda continental arc that developed along
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
the southern margin of the Eurasian plate from northward subduction of the Indian-Australian
plate. Western Java hosts a number of Cenozoic epithermal precious metal deposits associated
with still active calc-alkaline volcanism (Fig. 1). The 2 Ma-old Pongkor gold-silver deposit is
located at the northeastern flank of the Bayah dome, 80 km southwest of Jakarta. This
geological unit is exposed over an area of about 40 by 80 km and consists of a Late Paleozoic
shale and sandstone basement overlain by the central volcanic belt of Oligocene to Early
Miocene age, which is composed of largely coarse grained volcaniclastics rocks, with
intercalated limestone and sandstone. Intermediate intrusive rocks are emplaced into
Paleogene and Early Miocene formations (Basuki et al., 1994).
The local geology consists of three major volcanic units of Miocene-Pliocene age (Milsi et
al., 1999). The lower unit is characterized by submarine calc-alkaline andesitic volcanic rocks
grading laterally into epiclastic deposits. The middle unit is marked by more explosive
subaerial dacitic volcanic rocks composed of lapilli tuffs overlain by lapilli-and-block tuffs
and fine grained pyroclastic tuffs and epiclastic rocks. The upper unit is formed mainly by
andesite flows with columnar structure.
The Pongkor deposit consists of nine major subparallel quartz-adularia-carbonate veins rich
in manganese oxides and limonite, and very poor in sulfides. The veins are 740 to 2700 m
long, several m thick, more than 200 m deep and cut the three major volcanic units in a fan-
like spatial distribution (Fig. 1). The mineralized veins are interpreted as tension gashes in
normal faults initiated by strike-slip movement along a conjugate fault system (dextral NW-
SE- and sinistral NNE-SSW-striking faults), and are located at the northern edge of a 8 by 7
km large caldera-like structure (Milsi et al., 1999).
187
Figure 1: (a) Tectonic map of the Indonesian region, (b) regional geology of west Java and the
location of Pongkor and other major gold deposits (modified from Marcoux & Milsi, 1994;
Sujatmiko & Santoso, 1992) and (c) pattern of the vein system in the Pongkor goldsilver
deposit (PT Aneka Tambang).
The main ore components are pyrite, chalcopyrite, sphalerite, galena, electrum, acanthite-
aguilarite, polybasite-pearceite, trace proustite, tetrahedrite, and stromeyerite/mckinstryite
(Warmada et al., 2003). Trace hessite was reported by Milsi et al. (1999). Electrum in
amoeboid patches and trace uytenbogaardtite are the most important gold-bearing mineral and
commonly occurs as inclusions in pyrite and more rarely in silver sulfosalts (Warmada et al.,
2003; Greffi et al., 2002). The gold content of electrum is around 59 wt.% (32 to 84 wt.%
Au).
4. Hydrothermal zoning versus supergene enrichment
4.1. Supergene enrichment
The high content of gold and silver in the Pongkor deposit is subjected to be as a result of
supergene enrichment (Milsi et al., 1999; Greffi et al., 2002; Warmada et al., 2003). The
presence of copper sulfides, such as covellite and chalcocite is a good mineral indicator for
supergene processes. In the low-temperature environment, these minerals are easily dissolved
and reprecipitated into other forms. The mineral yarrowite and spionkopite are the two
minerals found in Pongkor, which are charactheristically produced by low-temperature
replacement of primary copper sulfides (Vaughan & Craig, 1997). The supergene process is
also characterized by the presence of supergene uytenbogaardtite (Greffi et al., 2002;
Warmada et al., 2003).
The dendritic gold is also found coexistence with stromeyerite or mckinstryite. It probably
formed as a result of low-temperature processes by dissolution of electrum and reprecipitation
of gold and stromeyerite or mckinstryite from a supergene Cu-enriched fluid (Fig. 2). Such a
reaction could be written:
AuAg + Cu
+
(aq) + (HS)
-
(aq) + 1/4O
2
= Au
0
+ CuAgS + 1/2H
2
O
electrum Cu-enriched fluid gold stro/mck

Figure 2: a-b) Pseudoeutectic texture of stromeyerite and Se-rich acantite (aguilarite, Agu) associated
with gold (Au), electrum (El), mckinstryite (Mck) and chalcopyrite (Ccp).
The two most important veins, Ciurug and Kubang Cicau, have both Ag/Au ratios around 10,
with no clear-cut gold enrichment near the top of the systems. The relatively constant Ag/Au
ratio over about 300 m of depth is probably a result of the stability of low-Ag in electrum,
acanthite, uytenbogaardite, stromeyerite, mckinstryite in the supergene environment, where
pH is buffered by the hydrothermal carbonate gangue (Krupp & Weiser
188
1992). This general pattern of supergene enrichment of both gold and silver is overprinted
by sporadic gold-only enrichment in some near-surface high-grade gold pockets under more
oxidizing conditions when silver-bearing mineral phases become unstable. Deep supergene
enrichment of both gold and silver seems to be critical for making Pongkor an economic ore
deposit.

4.2. Hydrothermal zoning
Hydrothermal zoning is characterized by the presence of relatively increase of Ag/Au ratios
from low Ag/Au ratios at deeper levels of the veins increasing to the intermediate and high
ratios on the top (as in Ciurug (Fig. 3) and Kubang Cicau). The high grade gold pockets at the
top are from the partially eroded ore band with supergene enrichment of gold and silver close
to the surface.
Plotting data on Au-Ag logarithmic grade graphs show that Au and Ag grades correlate
linearly on all the graphs. However, it seems that the veins fall into two groups on the basis of
the position and slope of their grade correlation bands: Group A: the Ciurug vein appear to
have linear correlation bands inclined about 45; Group B: the Ciguha A, Ciguha B and Pasir
Jawa veins appear to have linear correlation bands inclined about 41-42. For this reason, the
corresponding Au and Ag grades have to differ between these two groups of veins.
The difference between the A and B groups of veins are the relative position within the
overall hydrothermal system that produced these veins. Group A has a dip direction of NE,
whereas Group B of about SW. This probably makes a different metal distribution in the vein
systems. There is obviously a significant difference between the two proposed Ag grade
ranges. One the one hand, one can argue that there are noticeable differences in the Au-Ag
graphs for the two groups of veins and that, therefore, the Ag grades corresponding to Au
grades should differ for the two groups of veins.
189
Figure 3: Gold grade distribution of Ciurug vein, a possible example of hydrothermal zoning. Source
data: PT Aneka Tambang.
5. Conclusions
1. Gold-silver content in the Pongkor veins displays likely hydrothermally zoning. It is
characterized by the presence of relatively increase of Ag/Au ratios from low Ag/Au ratios
at deeper levels of the veins increasing to the intermediate and high ratios on the top (as
in Ciurug (Fig. 3) and Kubang Cicau.
2. The high grade gold pockets at the top are from the partially eroded ore band with
supergene enrichment of gold and silver close to the surface.
3. Supergene overprint of the hydrothermal mineral assemblages is indicated by supergene
minerals, such as uytenbogaardite, covellite and low-temperature copper sulfides
(yarrowite and spionkopite).
4. Deep supergene enrichment of both gold and silver seems to be critical for making
Pongkor an economic ore deposit.
Acknowledgements
This contribution is part of a PhD project of first author financed by Deutscher Akademischer
Austauschdienst (DAAD). We thanks to Prof. Dr. Bernd Lehmann for his meticulous
guidance and valuable suggestions throughout this investigation and to Prof. Dr. Ulrich
Petersen for useful discussion on quantitative modeling of ore grade. Also thank to Dr.
Irmina Kris Murwani for XRD characterization of sulfide minerals. We gratefully
acknowledge permission from PT Aneka Tambang (Persero) Tbk to work in the Pongkor mine
and to publish these results, and the help of Eko Janu Herlambang and other staffs in the field.
190
Bibliography
Barnes, H. L. (1962) Mechanisms of mineral zoning. Econ. Geol., 57, 30-37.
Basuki, A., Sumanagara, D. A. and Sinambela, D. (1994) The Gunung Pongkor gold-silver deposit,
West Java, Indonesia. J. Geochem. Expl., 50, 371-391.
Drummond, S. E. and Ohmoto, H. (1985) Chemical evolution and mineral deposition in boiling
hydrothermal systems. Econ. Geol., 80, 126-147.
Greffi, C., Bailly, L. and Milsi, J. P. (2002) Supergene alteration of primary ore assemblages from
low-sulfidation Au-Ag epithermal deposits at Pongkor, Indonesia, and Nazareo, Per. Econ.
Geol., 97, 561-571.
Greffi, C., Bailly, L. and Milsi, J. P. (2001) Au and Ag behavior during supergene weathering of the
epithermal Pongkor deposit (West Java, Indonesia). 31
st
IGC Meeting Abstract.
Goodell, P. C. and Petersen, U. (1974) Julcani mining district, Peru: A study of metal ratios. Econ.
Geol., 69, 347-361.
Krupp, R. E. and Weiser, T. (1992) On the stability of gold-silver alloys in the weathering
environment. Mineral. Deposita, 27, 268-275.
Milsi, J. P., Marcoux, E., Sitorus, T., Simandjuntak, M., Leroy, J. and Bailly, L. (1999) Pongkor (west
Java, Indonesia): a Pliocene supergene-enriched epithermal Au-Ag-(Mn) deposit. Mineral.
Deposita, 34, 131-149.
Park, C. F., Jr. (1955) The zonal theory of ore deposits. Econ. Geol. 15 Ann., 226-248.
Petersen, U., 1990. Ore distribution, zoning, and exploration of hydrothermal ore deposits. Econ.
Geol., 85, 424-435.
Sillitoe, R. H. (1994) Erosion and collapse of volcanoes: Causes of telescoping in intrusion-centered
ore deposits. Geology, 22, 945-948.
Syafrizal, Imai, A., Motomura, Y. and Watanabe, K. (2005) Characteristics of gold mineralization at
the Ciurug vein, Pongkor gold-silver deposit, Indonesia. Resource Geol., 55, 225-238.
Vaughan, D. J. and Craig, J. R. (1997) Sulfide ore mineral stabilities, morphologies, and intergrowth
textures. In Barnes, H.L. (ed.), Geochemistry of hydrothermal ore deposits. John Wiley & Sons,
Inc., New York, 367-434.
Warmada, I W., Lehmann, B. and Simandjuntak, M. (2003) Polymetallic sulfides and sulfosalts of the
Pongkor epithermal gold-silver deposit, West Java, Indonesia. Can. Mineral., 41, 185-200.
Warmada, I W., Lehmann, B., Simandjuntak, M. and Hemes, H. S. (2007) Fluid inclusion, rare-earth
element and stable isotope study of carbonate minerals from the Pongkor epithermal gold-silver
deposit, West Java, Indonesia. Resource Geol., 57, 124-135.
191
PENGARUH FAKTOR ISOTROPI DALAM ESTIMASI TITIK
INVERSE DISTANCE SQUARE
(STUDI KASUS ENDAPAN TIMAH ALUVIAL)

Ir. Kresno, MM, M.Sc
1)

1)
Jurusan Teknik Pertambangan
UPN Veteran Yogyakarta

Abstract
Inverse distance square formula has put into earth aspect, especially distance, as unit weight
determining accepted by each estimator point. The formula is based on homogeneous deposits
assumption with isothropy factor equals one. Deposits heterogeneity at the several of
difference directions can be analyzed through its function of structural deposits, so the
inverse distance square formula needs to be corrected by considering isotropy factor unequal
one. Study of alluvial tin deposits give isothropy factor with ratio at directions N45
o
E, N90
o
E,
and N135
o
E respectively 1, 1, and 2 the isothropy factor based on earth aspect must be put
as numerator. Isothropy factor unequal one made into correction to IDS formula produce
MAV decent from 0.85 to 0.53. Scatter diagram at isothropy factor unequal one give
illustration estimated grade k* approach true grade k.

Key words: Mean absolute error, true grade k, estimated grade k*

Abstrak
Rumusan inverse distance square berdasarkan asumsi endapan yang homogen dengan faktor
isotropi = 1 telah memasukkan aspek kebumian, khususnya jarak, sebagai penentu besaran
bobot yang diterima masing-masing titik estimator. Dengan munculnya heterogenitas
endapan pada berbagai arah berbeda yang dapat dianalisis melalui fungsi struktural
endapan, maka rumusan inverse distance square perlu dikoreksi dengan mempertimbangkan
munculnya faktor isotropi ? 1. Kajian terhadap endapan timah aluvial memberikan faktor
isotropi dengan rasio pada arah N45
o
E, N90
o
E, dan N135
o
E berturut-turut 1, 1, dan 2
berdasarkan aspek kebumian harus diletakkan sebagai pembilang pada rumusan inverse
distance square. Munculnya faktor isotropi ? 1 yang dijadikan koreksi terhadap rumusan
IDS menghasilkan penurunan MAV dari 0,85 menjadi 0,53. Sedangkan scatter diagram pada
faktor isotropi ? 1 memberikan gambaran estimated grade k* lebih mendekati true grade k.

Kata-kata kunci: Mean absolute error, true grade k, estimated grade k*


LATAR BELAKANG

Permasalahan pada inverse distance square adalah menemukan, menetapkan dan
memasukkan konstanta isothropy factor atau faktor isotropi, dikaitkan dengan heterogenitas
kadar yang ada dalam sumberdaya khususnya dengan tujuan estimasi yaitu untuk memperoleh
nilai rata-rata pengganti terbaik kadar k* sebuah blok penambangan. Secara eksak-kuantitatif,
suatu estimasi akan disebut semakin baik apabila selisih antara true grade k dengan estimated
grade k* adalah semakin kecil.
Secara teoritis, true grade k dari sebuah blok yang belum dilakukan pemboran inti atau tidak
mempunyai lubang bor, maka tidak akan pernah diketahui nilainya. Estimasi titik
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
inverse distance square hanya akan memberikan estimated grade k* blok tersebut. Oleh sebab
itu nilai Mean Absolute Error (MAV) tidak dapat dihitung. Untuk menangani kesulitan
tersebut, maka dikembangkan metode cross validation, yaitu pada sebuah blok yang
mempunyai lubang bor dihilangkan kadar true grade k, kemudian ada lubang bor tersebut
diestimasi dengan estimasi titik untuk menghitung estimated grade k*. Selanjutnya
berdasarkan scatter diagram dapat dilihat secara visual bahwa faktor isotropi ? 1 memberikan
hasil estimasi lebih baik dibandingkan faktor isotropi =1

TUJUAN

Tujuan studi kasus pada endapan timah aluvial ini adalah untuk:
1. Mempertimbangkan pengaruh heterogenitas endapan, yaitu membuat koreksi rumusan
IDS dengan memasukkan faktor isotropi endapan
2. Melihat nilai Mean Absolute Error pada rumusan IDS dengan faktor isotropi = 1 dan
faktor isotropi ? 1
3. Membuat diagram pencar dari true grade k dan estimated grade k* yang diperoleh melalui
rumusan IDS dengan faktor isotropi =1 dan faktor isotropi ? 1

CROSS VALIDATION

Cross validation merupakan salah satu metode yang sering diterapkan untuk
mengetahui akurasi suatu metode estimasi kadar blok penambangan sebelum metode estimasi
tersebut diterapkan pada seluruh sumberdaya mineral.
Metode cross validation merupakan metode yang sederhana dan dapat diterima secara
akademik. Pada metode tersebut pada dasarnya untuk mencari error minimum, yaitu selisih
antara true grade k terhadap estimated grade k*. Mengingat true grade k sebuah blok
penambangan hanya diwakili oleh sebuah titik conto yang terletak ditengah-tengah blok, dan
pada metode inverse distance hanya akan menghitung estimated grade k* sebuah blok
penambangan pada posisi titik tengah blok penambangan, maka dalam cross validation ini
sesungguhnya merupakan point estimation atau estimasi titik, bukan block estimation atau
estimasi blok.

KRITERIA ESTIMASI

Suatu metode estmasi dikatakan baik apabila pada metode tersebut akan memberikan
nilai estimated grade k* yang mendekati nilai true grade k. Untuk mencari hubungan
matematik antara kedua hal tersebut, maka digunakan kriteria estimasi Mean Absolute Error
(MAV).
Mean Absolute Error = MAE = 1/n

n
i
i r
1
] [
Dimana [r] adalah [k*-k]

RANGE (DAERAH PENGARUH)

Proses menetapkan estimated gade k sebuah blok penambangan berdasarkan sejumlah
titik conto yang berada disekitar blok tersebut, adalah menentukan sejauh mana (pada jarak
berapa) titik-titik conto estimator yang masih mampu memberikan kontribusi pengaruh
193
terhadap blok penambangan tersebut. Pada endapan yang isotropi, maka pengaruh titik-titik
conto estimator adalah sama untuk berbagai arah, dan semata-mata tergantung pada jarak.
Strategi sederhana untuk menetapkan range (daerah pengaruh) adalah dengan membuat
sebuah analisis struktural melalui semivariogram. Berdasarkan analisis struktural tersebut
akan diketahui munculnya struktur yang homogen (isotropi) ataupun heterogen (anisotropi)
dengan berbagai perbedaan nilai range.

NON BIAS

Setiap proses estimasi senantiasa mengusahakan atau memenuhi kondisi non bias. Pada
kondisi non bias tersebut, maka setiap titik estimator akan mendapat bobot atau weighting
sesuai peranan atau pengaruh titik estimator tersebut pada sebuah blok yang akan diestimasi.
Peranan titik estimator tersebut ditentukan oleh posisi spasial terhadap blok yang diestimasi.
Makna spasial adalah ditentukan oleh jarak dan arah. Walaupun demikian dalam inverse
distance square, seringkali makna spasial hanya diterjemahkan sebagai fungsi terhadap jarak
semata. Situasi spasial seperti itu hanya benar apabila endapannya adalah homogen dengan
faktor isotropi = 1, sedangkan apabila endapannya heterogen dengan faktor isotropi ? 1 maka
langkah tersebut tidak tepat.
Untuk memenuhi kondisi non bias, maka nilai bobot yang diterima setiap estimator
apabila dijumlahkan akan sama dengan satu. Secara matematik rumusan non bias dinyatakan
dalam bentuk:

Non bias =

n
i
i
1
= 1

Dimana
i
adalah bobot yang diterima titik estimator ke-i, sehingga estimated grade k* sebuah
blok yang akan destimasi oleh n titik estimator yang mempunyai true grade k dinyatakan
dalam bentuk:

Estimated grade k* =

n
i
i i k
1
.

Dimana k
i
adalah true grade k pada sejumlah titik estimator ke-i yang akan digunakan untuk
menentukan estimated grade k* sebuah blok penambangan.

WEIGHTING (PEMBOBOTAN)

Weighting adalah besarnya bobot yang akan diterima sebuah titik estimator yang
mempunyai true grade k. Besarnya weighting akan tergantung pada jarak dan power yang
akan diterapkan pada inverse distance. Secara umum pengertian weighting sudah memenuhi
konsep kebumian, yaitu nilai-nilai titik estimator yang aling dekat akan memberikan pengaruh
paling besar dan akan mendapat weighting paling besar pula.
Pada situasi asumsi endapan homogen, maka rumusan IDS hanya semata-mata
memasukkan jarak sebagai variabel dengan menggunakan faktor isotropi =1. Sedangkan pada
endapan yang heterogen, maka IDS memasukkan dua variabel yaitu jarak maupun faktor
isotropi ? 1. Nilai-nilai faktor isotropi ? 1 dapat diperoleh melalui analisis fungsi struktural
yang dicerminkan dalam bentuk semivariogram.
194
HOMOGENITAS ENDAPAN

Inverse distance square juga dapat dimodifikasi supaya dapat mencerminkan anisotropi
dalam endapan dan besarnya bobot sebagai fungsi jarak. Gambar 1 menggambarkan
perhitungan sebagai akibat munculnya isotropi dua dimensi. Apabila kecenderungan dalam
cebakan dan faktor anisotropi dapat diketahui, maka proses perhitungan sebagaimana Gambar
2, dan memungkinkan memberikan akurasi yang lebih baik.
Makna isotropi dalam endapan adalah bahwa setiap titik estimator akan memberikan
pengaruhya keseluruh penjuru endapan berdasarkan area of influence (daerah pengaruh) yang
sama besar, sehingga membentuk lingkaran. Sedangkan pada anisotropi pengaruh titik
estimaor mempunyai kecenderungan membesar kearah tertentu, sehingga mempunyai faktor
anisotropi (faktor isotropi ? 1)

















INVERSE DISTANCE SQUARE

Salah satu teknik komputerisasi pada fungsi ekstensi yang memakai prinsip gradual
change atau perubahan bertahap untuk memberikan nilai estimasi adalah yang seringkali
disebut inerpolasi inverse distance square. Teknik interpolasi inverse distance square secara
langsung berkaitan secara matematik untuk memberikan bobot yang dikaitkan dengan
berbagai pengaruh conto yang terletak disekeliling blok yang akan dievaluasi atau diestimasi.
Teknik inverse distance square mempunyai asumsi bahwa pengaruh berbagai titik conto
terhadap sebuah blok yang akan dievaluasi semata-mata hanya tergantung pada jarak dan
tidak mempertimbangkan arah atau posisi. Oleh sebab itu, maka pada rumusan IDS standar
saat ini yang berdasarkan asumsi bahwa endapan adalah homogen atau faktor isotropi = 1,
perlu dikoreksi dengan munculnya heterogenitas endapan atau faktor anisotropi ? 1.

Estimated grade k* =

n
i 1
(1/d
i
)
2
.k
i
/

n
i 1
(1/d
i
)
2
.......... faktor isotropi =1
Estimated grade k* =

n
i 1
(w
i
/d
i
)
2
.k
i
/

n
i 1
(w
i
/d
i
)
2
.......... faktor isotropi ?1


Gambar 1. Kenampakkan isotropi
(faktor isotropi = 1)
Gambar 2. Kenampakkan anisotropi
(faktor isotropi ? 1)
195
Dimana:
k* adalah estimasi nilai blok
k
i
adalah nilai conto ke-i
d
i
adalah jarak antara conto ke-i dengan pusat blok
w
i
adalah faktor isotropi yang diterima nilai conto ke-i

METODA

Metode penelitian menggunakan sebuah studi kasus pada endapan timah aluvial yang
telah dilakukan sejumlah pemboran eksplorasi sehingga pada titik bor tersebut dapat diketahui
true grade k. Pola pemboran eksplorasi adalah parallel dengan spasi 50 m x 50 m.
Berdasarkan data kekayaan lubang bor, kwintal Sn/1000 m
3
tanah penutup, maka dilakukan
analisis struktural dengan membuat model semivariogram, dan ditentukan konstanta
semivariogram untuk berbagai arah, yaitu arah 0
o
, 45
o
, 90
o
dan 135
o
.
Langkah selanjutnya adalah melakukan cross validation dengan menggunakan rumusan
IDS pada faktor isotropi = 1 dan rumusan IDS dengan faktor anisotropi ? 1. Dengan
membandingkan nilai true grade k terhadap estimated grade k* pada rumusan dua IDS
tersebut, maka dapat dilihat sejauh mana pengaruh faktor isotropi = 1 terhadap hasil estimasi,
apakah rumusan IDS dengan faktor isotropi ? 1 akan memberikan hasil lebih baik
dibandingkan rumusan IDS dengan faktor isotropi =1.
Perbandingan kualitas estimasi dapat dilihat dengan nilai MAE dan diagram pencar atau
scatter diagram. Nilai MAE minimal mencerminkan akurasi estimasi yang lebih baik, dan
diagram pencar yang membentuk kemiringan semakin mendekati 45
o
adalah lebih baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Struktural
Berdasarkan posisi koordinat conto dan nilai conto, melalui paket program Geostatistik
maka dapat ditentukan fungsi struktural endapan, yaitu
Arah 0
o
: range a = 200 m
Co = 1,00 (kw Sn/1000 m
3
)
2

C = 2,80 (kw Sn/1000 m
3
)
2

Arah 45
o
: range a = 250 m
Co = 1,00 (kw Sn/1000 m
3
)
2

C = 2,80 (kw Sn/1000 m
3
)
2

Arah 90
o
: range a = 200 m
Co = 1,00 (kw Sn/1000 m
3
)
2

C = 2,80 (kw Sn/1000 m
3
)
2

Arah 135
o
: range a = 350 m
Co = 1,00 (kw Sn/1000 m
3
)
2

C = 2,80 (kw Sn/1000 m
3
)
2


Berdasarkan fungsi struktural pada berbagai arah tersebut, maka dapat ditetapkan model
semivariogram adalah sferis dengan konstanta semivariogram sebagai berikut
a
long
arah N135
o
E dengan nilai 200 m
a
intermediate
arah N0
o
E dengan nilai 150 m
a
short
arah N45
o
E dengan nilai 100 m
196










Gambar 3. Anisotropi geometri sebagai dasar menetapkan
nilai faktor isotropi pada IDS


Menetapkan Rumusan IDS Pada Faktor Isotropi ? 1
Berdasarkan anisotropi geometri yang telah diperoleh, maka dapat dtentukan faktor
isotropi untuk berbagai arah, yang akan dipakai sebagai koreksi terhadap rumusan IDS.
Dalam rumusan IDS, posisi faktor isotropi tidak pernah dicantumkan ataupun ditetapkan,
tetapi sebagai pemandu adalah bahwa faktor isotropi yang dimasukkan dalam rumusan IDS
harus memenuhi aspek kebumian.
Berdasarkan berbagai nilai range, maka dapat ditetapkan rasio faktor isotropi untuk
bebragai arah, yaitu a
long
: a
intermediate
: a
short
= 200 : 150 : 100 = 4 : 3 : 2 atau 2 : 1 : 1. Faktor
isotropi tersebut selanjutnya harus dimasukkan dalam rumusan IDS sebagai faktor koreksi
munculnya heterogenitas endapan, sehingga rumusan IDS menjadi:

Estimated grade k* =

n
i 1
(w
i
/d
i
)
2
.k
i
/

n
i 1
(w
i
/d
i
)
2
.......... faktor isotropi ?1
Dimana:
k* adalah estimasi nilai blok
k
i
adalah nilai conto ke-i
d
i
adalah jarak antara conto ke-i dengan pusat blok
w
i
adalah faktor isotropi yang diterima nilai conto ke-i
dengan w berturut-turut pada a
long
= 2, pada a
intermediate
= 1, dan pada a
short
= 1

Cross Validation
Teknik cross validation digunakan untuk membandingkan kualitas estimasi IDS dengan
faktor isotropi =1 terhadap IDS dengan faktor isotropi ? 1. Cross validation dilakukan dengan
cara menghilangkan data true grade k sebuah lubang bor, dan pada lubang bor tersebut
dihitung estimated grade k* melalui sekumpulan nilai lubang bor disekelingnya dengan
menggunakan rumusan IDS faktor isotropi = 1 dan IDS faktor isotropi ? 1. Hasil cross
validation terhadap 21 blok dapat dilihat pada Tabel 1.

a
long
=200 m, N135
o
E
a
inter
=150 m, N90
o
E
a
short
=100 m, N45
o
E
a
inter
=150 m, N90
o
E
197
Tabel 1. Hasil cross validation

Koordinat
Estimated grade k* [k k*]
Lubang
Bor X Y
True
grade k IDS
1)
IDS
2)
IDS
1)
IDS
2)

LB1 20 20 N/A - - - -
LB2 20 40 N/A - - - -
LB3 20 60 N/A - - - -
LB4 20 80 5,91 5,29 5,56 0,62 0,35
LB5 20 100 5,57 4,74 4,92 0,83 0,65
LB6 40 20 8,23 9,14 8,12 0,91 0,11
LB7 40 40 8,56 8,27 8,66 0,29 0,10
LB8 40 60 N/A - - - -
LB9 40 80 6,17 4,22 4,64 1,95 1,53
LB10 40 100 2,77 4,46 4,29 1,69 1,52
LB11 60 20 9,84 7,77 8,05 2,07 1,79
LB12 60 40 8,54 7,37 7,96 1,17 0,58
LB13 60 60 6,32 5,50 5,61 0,82 0,71
LB14 60 80 3,63 3,51 3,65 0,12 0,02
LB15 60 100 1,34 3,51 3,00 2,17 1,66
LB16 80 20 7,42 6,95 7,28 0,47 0,14
LB17 80 40 5,72 5,33 5,77 0,39 0,05
LB18 80 60 4,31 4,05 3,98 0,26 0,33
LB19 80 80 1,65 2,39 2,20 0,74 0,55
LB20 80 100 0,46 1,49 1,29 1,03 0,83
LB21 100 20 5,80 5,89 5,84 0,09 0,04
LB22 100 40 4,32 3,81 4,61 0,51 0,29
LB23 100 60 1,93 2,96 1,91 1,03 0,02
LB24 100 80 0,86 1,43 1,41 0,57 0,55
LB25 100 100 0,72 0,86 0,76 0,14 0,04
MAV [k* - k] 0,85 0,53
Keterangan:
1)
adalah faktor isotropi =1
2)
adalah faktor isotropi ? 1

Untuk menjelaskan pengaruh faktor isotropi dalam rumusan IDS, dapat dilihat sebuah
contoh perhitungan pada blok berukuran 20 m x 20 m yang ditempati LB7 yang mempunyai
true grade k sebesar 4,67 kw Sn/1000 m
3
yang akan dilakukan teknik cross validation. Blok
tersebut akan diestimasi oleh 4 titik estimator disekitarnya berturut-turut LB6 (8,23 kw
Sn/1000 m
3
), LB11 (9,84 kw Sn/1000 m
3
), LB12 (8,54 kw Sn/1000 m
3
), dan LB13 (6,32 kw
Sn/1000 m
3
), dengan konfigurasi conto pada Gambar 4.
198

N/A

N/A

LB13
6,32


N/A

LB7
k=8,56


LB12
8,54

N/A

LB6
8,23


LB11
9,84



Estimated grade k* LB7 (faktor isotropi = 1)

(1/20)
2
x 8,23 + (1/28,3)
2
x 9,84 + (1/20)
2
x 8,54 + (1/28,3)
2
x 6,32
= --------------------------------------------------------------------------------
(1/20)
2
+ (1/28,3)
2
+ (1/20)
2
+ (1/28,3)
2


(0,0025) x 8,23 + (0,0013) x 9,84 + (0,0025) x 8,54 + (0,0013) x 6,32
= ------------------------------------------------------------------------------------
(0,0025) + (0,0013) + (0,0025) + (0,0013)

= 0,33 x 8,23 + 0,17 x 9,84 + 0,33 x 8,54 + 0,17 x 6,32

= 8,27

Estimated grade k* LB7 (faktor isotropi ? 1)

(1,5/20)
2
x 8,23 + (2/28,3)
2
x 9,84 + (1,5/20)
2
x 8,54 + (1/28,3)
2
x 6,32
= -------------------------------------------------------------------------------------
(1,5/20)
2
+ (2/28,3)
2
+ (1,5/20)
2
+ (1/28,3)
2


(0,0056) x 8,23 + (0,0050) x 9,84 + (0,0056) x 8,54 + (0,0013) x 6,32
= ------------------------------------------------------------------------------------
(0,0056) + (0,0050) + (0,0056) + (0,0013)

= 0,32 x 8,23 + 0,29 x 9,84 + 0,32 x 8,54 + 0,07 x 6,32

= 8,66

Apabila menggunakan IDS faktor isotropi =1, maka titik estimator disekitar blok LB7
akan mempunyai bobot masing-masing LB6, LB11, LB12, dan LB13 sebesar 0,33, 0,17, 0,33,
dan 0,33. Sehingga estimated grade k* dapat dihitung sebesar 8,27.
Sedangkan apabila menggunakan rumusan IDS faktor isotropi ? 1 maka titik estimator
disekitar blok LB7 akan mempunyai bobot masing-masing LB6, LB11, LB12, LB13 sebesar
0,32, 0,29, 0,32, dan 0,07. Sehingga estimated grade k* dapat dihitung sebesar 8,66 yang
lebih mendekati nilai true grade k LB7 sebesar 8,56.
Melalui koreksi faktor isotropi pada rumusan IDS dapat dilihat hal-hal sebagai berikut:
LB7 mempunyai true grade k
sebesar 8,56 akan dilakukan cross
validation dengan menghitung
estimated grade k* melalui titik
estimator LB6, LB11, LB 12, dan
LB 13. Cross validation dengan
rumusan IDS faktor isotropi = 1
dan faktor isotropi ? 1
199
1. Pada faktor isotropi = 1, maka LB11 dan LB 13 mempunyai jarak ke LB7 yang sama
besar sehingga akan mendapat bobot yang sama besar yaitu 0,17. Sedangkan pada
faktor isotropi ? 1, maka LB11 mendapat bobot yang lebih besar karena berada pada
posisi range (daerah pengaruh) yang lebih besar dibandingkan posisi LB13. Bobot
LB11 semula sebesar 0,17 berubah membesar menjadi 0,29 sedangkan bobot LB13
semula 0,17 berubah mengecil menjadi 0,07
2. Pada faktor isotropi = 1 menghasilkan estimated grade k* sebesar 8,27 sedangkan pada
faktor isotropi ? 1 menghasilkan estimated grade k* sebesar 8,66. Karena diketahui true
grade k LB7 sebesar 8,56 maka pemakaian IDS dengan mempertimbangkan faktor
isotropi ? 1 akan memberikan hasil lebih akurat, yaitu error sebesar [8,66 - 8,56] = 0,10
dibandingkan faktor isotropi =1 dengan error sebesar [8,27 - 8,56] = 0,29

Kualitas Estimasi
Kualitas estimasi dapat dilihat pada nilai MAV yang paling minimal. Berdasarkan Tabel
1 di atas maka terlihat bahwa IDS
1)
memberikan nilai MAV sebesar 0,85 sedangkan IDS
2)

memberikan nilai MAV sebesar 0,53. Jadi dapat dilihat bahwa memasukkan faktor isotropi ? 1
dalam rumusan IDS secara keseluruhan akan memberikan hasil estimasi yang semakin bagus
atau menurunkan MAV dari 0,85 menjadi 0,53.

Scatter Diagram
Scatter diagram digunakan untuk menggambarkan melihat sejauh mana saling
hubungan antara true grade k dengan estimated grade k* pada rumusan IDS dengan faktor
isotropi =1 dibandingkan hubungan true grade k dengan estimated grade k* dengan faktor
isotropi ? 1. Suatu estimasi akan dikatakan semakin akurat apabila saling hubungan true
grade k dengan estimated grade k* membentuk garis dengan kemiringan 45
o
, yaitu metode
estimasi yang menghasilkan true grade k sama dengan estimate grade k*. Pada situasi
tersebut, maka plotting true grade k versus estimated grade k* akan terletak pada satu garis
lurus.
Untuk melihat sejauh mana posisi estimated grade k* pada ke dua rumusan IDS
tersebut, maka dapat dilihat pada Gambar 4 di bawah.

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
0 2 4 6 8 10 12
True grade k
E
s
t
i
m
a
t
e
d
g
r
a
d
e
k
*
Series1
Series2


Gambar 4. Scatter diagram estimated grade k terhadap true grade k*
pada IDS faktor isotropi =1 dan faktor isotropi ? 1
200
Series 1 adalah plotting true grade k versus estimated grade k* pada faktor isotropi =1,
sedangkan series 2 adalah faktor isotropi ? 1. Terlihat bahwa series 2 lebih memperlihatkan
kumpulan titik-titik dengan bentuk yang ramping dan lebih mendekati garis bersudut 45
o
. Hal
tersebut menunjukkan bahwa estimated grade k* pada faktor isotropi ? 1 memberikan hasil
estimasi yang lebih mendekati true grade k.

KESIMPULAN

1. Munculnya heterogenitas endapan yang dicerminkan dalam bentuk anisotropi geometri
pada semivariogram perlu dipertimbangkan sebagai faktor koreksi pada rumusan IDS
2. Faktor isotropi ? 1 dimasukkan dalam rumusan IDS diletakkan pada posisi pembilang,
bukan penyebut sebagaimana pengertian inverse, karena faktor isotropi merupakan fungsi
linier terhadap bobot yang diterima titik estimator.
3. Munculnya faktor isotropi ? 1 yang dijadikan koreksi terhadap rumusan IDS
menghasilkan penurunan MAV dari 0,85 menjadi 0,53
4. Scatter diagram pada faktor isotropi ? 1 memberikan gambaran estimated grade k* lebih
mendekati true grade k.


DAFTAR PUSTAKA

1. Annels, A.E, 1991, Mineral Deposit Evaluation, Departemen of Geology, University of
Wales, Chapman & Hall, London, New York, first edition.
2. Brooker, P.I, 1980 Kriging, Department of Economic Geology, University of Adelaide.
3. Clark, I, 1979 Practical Geostatistics, Applied Science Publishers Ltd., London.
4. David, M, 1977 Geostatistical Ore Reserve Estimation, Ecole Polytechnique, Universite
de Montreal, Elsiever Scientific Publishing Company, New York.
5. Delfiner, P, 1979 Basic Introduction to Geostatistics, Fontainebluau/CGMM, Ecole dEte,
Septembre.
6. Isaaks, E.H, 1989 Applied Geostatistics, Department of Applied Earth Sciences, Stanford
University, Oxford University Press.
7. Journel, A.G, 1973 Geostatistics and Sequential Exploration Prony Ni-laterite Deposit,
New Caledonia, May.
8. Rendu, J.M, 1981 An Introduction to Geostatistical Methods of Mineral Evaluation,
South African Institute of Mining and Metallurgy, Johanesburg.
201
KETERINTEGRALAN RIEMANN BASED ON LEIBNIZ
DALAM PERHITUNGAN BAHAN GALIAN

Oleh:
Nur Ali Amri
Jurusan Teknik Pertambangan FTM UPN Veteran Yogyakarta

Abstract
The complexity of nature phenomenon is more difficult to be understood without theorems as
a bridge. The planets revolve displayed the complexity of its. In others the occupied earth
not too complicated to be understood if there are instruments. Mathematics, especially
Bernard Riemann integration theorem based on Gottfried Leibniz of inverse tangent is a
science to processes the nature phenomenon that facilitates what, why, and how nature
problems, simply, to be dominated.
Key word: Integeralized, line, deposits.

Abstrak
Alam yang begitu kompleks fenomenanya akan menjadi semakin rumit dipahami jika tidak
ada media yang menjembatani. Peredaran dan garis edar planet-planet menunjukkan begitu
kompleksnya alam ini. Pada bagian lain alam ini yaitu bumi yang kita tempati akan tidak
terlalu sulit kita pahami fenomenanya, juga jika ada medianya. Matematika, khususnya
keterintegralan Riemann (Bernard) yang mendasarkan pada balikan Gottfied Leibniz, adalah
salah sebuah ilmu yang menjadi alat proses simplifikasi fenomena alam yang dalam banyak
hal mampu memberikan fasilitasi secara sederhana perihal apa, mengapa, dan terutama
adalah bagaimana alam dapat dikuasai.
Kata kunci: Keterintegralan, garis, bahan-galian.

LATAR BELAKANG
Selama ini, barangkali kita tidak terlalu berpikir sebuah proses panjang bahwa alam
(terutama bumi yang kita huni) begitu sulit kita kuasai jika kita tidak memiliki kemampuan
akal untuk menemukan cara menguasainya. Jika kita hanya mengandalkan hard ware,
katakanlah mistar untuk menghitung busur suatu bukit dari kedua belah kakinya, maka sangat
mungkin kita akan kelelahan untuk menuntaskan pengukuran. Itu baru yang dipermukaan,
belum lagi jika yang kita hitung adalah apa-apa yang ada di perut bumi.
Kosa remote area untuk karakteristik tambang sebagai bahan galian, dengan demikian
juga harus dipahami tidak sebatas pada jauhnya jarak tempuh dari keramaian, tetapi
mencakup kedalaman letaknya di bawah muka bumi.
Pertanyaannya adalah, bagaimana seseorang dapat melakukan perhitungan, katakanlah
menentukan berapa jarak tempuh, luasan, volume, kedalaman, bahkan posisi keberadaan
sebuah bahan galian tanpa memiliki dasar perhitungan?.

MODEL MATEMATIS
Sebelum Isaac Newton (1642-1727) membangun teori fluxions dan penemuannya tentang
metode invers tangent, maka pada saat yang hampir bersamaan, Gottfried Leibniz, 1646-1716
juga mengemukakan gagasan proses balikan (invers.. Dalam hal semacam ini maka garis
menjadi sebuah bentuk yang sangat membantu merepesentasikan batas material alam. Sebuah
garis sedemikian membentuk wujud muka bukit. Kumpulan garis-garis mampu
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
menggambarkan wujud tampak atas peta contour. Bahkan dalam bentuk 3-Dimensi,
alam sekalipun bisa dipresentasikan berupa garis-garis.
Batas-batas luar material alam, katakanlah permukaan bukit (top soil) dengan udara
dapat digambarkan dengan garis. Batas air dengan daratan dapat digambarkan dengan garis.
Batas-batas area penambangan (KP) dengan area hutan lindung, juga dapat digambarkan
dengan garis. Area, volume cadangan, bahkan bentang busur pun tidak terlepas dari susunan
garis.

Luasan
Dari pengertian garis tersebut kemudian mulai bisa mencari luasan di daerah yang
dibatasi garis. Garis dalam konsepsi matematika sering melambangkan fungsi yang
meyatakan hubungan antar variable. Garis inilah yang kemudian sering diistilahkan sebagai
kurva (grafik). Riemann kemudian memberikan gambaran teoritis matematis sebagai berikut,
Jika I=[a, b] merupakan representasi suatu luasan daerah pada close interval, katakanlah
pada suatu contour, dan terbatas dalam sebuah batas koordinat (bias absis atau ordinat) yang
segmentasi (sayatannya) masih dalam batas (real number, katakanlah), maka sayatan-
sayatan tersebut merupakan kumpulan terurut yang berhingga (finite). Dengan demikian, jika
P = {x
0
, x
1
, x
2
, x
3
, .., x
n
}merupakan titik-titik pada daerah absis (atau ordinat) di,
sehingga a = x
0
< x
1
< x
2
< x
3
< ..< x
n
= b.
Titik P ini nantinya dipakai untuk untuk membagi I menjadi subinterval-subinterval
yang tidak overlap, yaitu: [x
0
, x
1
], [x
1
, x
2
], [x
2
, x
3
], , [x
n
, x
n-1
].
Jika f yang secara visual menggambarkan suatu kurva (dua dimensi, 2D) dan merupakan
fungsi terbatas pada I (f: I ), sedangkan P merupakan sayatan-sayatan dari I, maka
berlaku ketentuan bahwa,
M
k
=sup {f(x); x[x
k
, x
k-1
]}dan m
k
=inf {f(x); x[x
k
, x
k-1
]}
Bayangkan f merupakan visual grafis suatu deposit (dalam 2D), pada kondisi dimana f
positif, maka jumlah luasan di atas (luar) f (Gambar 1) adalah,


n
k
k k k
x x M f P U
1
1
) ( ) , (


Gambar 1. Perhitungan luasan dengan sayatan segiempat atas (luar)

Sedangkan luasan di bawah (dalam) f (Gambar 2) adalah,


n
k
k k k
x x m f P L
1
1
) ( ) , (
menggambarkan wujud tampak atas peta contour. Bahkan dalam bentuk 3-Dimensi,
alam sekalipun bisa dipresentasikan berupa garis-garis.
Batas-batas luar material alam, katakanlah permukaan bukit (top soil) dengan udara
dapat digambarkan dengan garis. Batas air dengan daratan dapat digambarkan dengan
garis. Batas-batas area penambangan (KP) dengan area hutan lindung, juga dapat
digambarkan dengan garis. Area, volume cadangan, bahkan bentang busur pun tidak
terlepas dari susunan garis.

Luasan
Dari pengertian garis tersebut kemudian mulai bisa mencari luasan di daerah yang
dibatasi garis. Garis dalam konsepsi matematika sering melambangkan fungsi yang
meyatakan hubungan antar variable. Garis inilah yang kemudian sering diistilahkan
sebagai kurva (grafik). Riemann kemudian memberikan gambaran teoritis matematis
sebagai berikut,
Jika I=[a, b] merupakan representasi suatu luasan daerah pada close interval,
katakanlah pada suatu contour, dan terbatas dalam sebuah batas koordinat (bias absis atau
ordinat) yang segmentasi (sayatannya) masih dalam batas (real number, katakanlah),
maka sayatan-sayatan tersebut merupakan kumpulan terurut yang berhingga (finite).
Dengan demikian, jika P = {x
0
, x
1
, x
2
, x
3
, .., x
n
}merupakan titik-titik pada daerah
absis (atau ordinat) di, sehingga a = x
0
< x
1
< x
2
< x
3
< ..< x
n
= b.
Titik P ini nantinya dipakai untuk untuk membagi I menjadi subinterval-subinterval
yang tidak overlap, yaitu: [x
0
, x
1
], [x
1
, x
2
], [x
2
, x
3
], , [x
n
, x
n-1
].
Jika f yang secara visual menggambarkan suatu kurva (dua dimensi, 2D) dan
merupakan fungsi terbatas pada I (f: I ), sedangkan P merupakan sayatan-sayatan
dari I, maka berlaku ketentuan bahwa,
M
k
=sup {f(x); x[x
k
, x
k-1
]}dan m
k
=inf {f(x); x[x
k
, x
k-1
]}
Bayangkan f merupakan visual grafis suatu deposit (dalam 2D), pada kondisi
dimana f positif, maka jumlah luasan di atas (luar) f (Gambar 1) adalah,


n
k
k k k
x x M f P U
1
1
) ( ) , (
203


Gambar 2. Perhitungan luasan dengan sayatan segiempat bawah (dalam)

Kondisi ideal yang didapat bahwa luasan itu akan memiliki idealitas nilai (tanpa residu)
jika, U(P, f) = L(P, f). Konsep luasan inilah yang kemudian menurut Riemann didefinisikan
sebagai,

b x
a x
dx x f ) (
Yang tidak lain merupakan jumlahan luasan segiempat. Bagaimana dengan konsep luasan
segitiga (triangulasi)?.


Gambar 3. Peta kontur

Konsep triangulasi sesungguhnya hampir sama, karena dia merupakan paruh dari
bangun segiempat. Ini juga sama untuk bangun polar yang secara matematis disajikan
sebagai,

2
1
2
2


d
r

Dalam hal penentuan volume maka peta kontur (Gambar 3) dipakai sebagai salah satu
faktor untuk menentukan luas alasan (area), yaitu product antara panjang dan lebar.

Volume
Seperti halnya pengertian garis merupakan kumpulan dari titik-titik, dan luasan (bidang)
merupakan kumpulan dari garis-garis, maka volume (ruang) sesungguhnya juga merupakan
kumpulan dari (segmen) bidang. Volume terdiri dari tiga product komponen, yang lazim
disebut panjang, lebar, dan tinggi (ketebalan), yang tidak lain berada pada tiga dimensi.
Ruang dimensi tiga merupakan fungsi dari dua variabel bebas (independent variable) yang
secara matematis (integrasi) disajikan sebagai, Z=f(x,y). Dalam bentuk implicit bisa saja
disajikan sebagai Z-f(x,y)=0.
Pada kondisi semacam ini penyelesaiannya dapat dilakukan dengan, setidaknya dua
cara. Pertama, kita kerjakan dengan substitusi salah satu variable independennya dengan
konstan tertentu.


Gambar 2. Perhitungan luasan dengan sayatan segiempat bawah (dalam)

Kondisi ideal yang didapat bahwa luasan itu akan memiliki idealitas nilai (tanpa
residu) jika, U(P, f) = L(P, f). Konsep luasan inilah yang kemudian menurut Riemann
didefinisikan sebagai,

b x
a x
dx x f ) (
Yang tidak lain merupakan jumlahan luasan segiempat. Bagaimana dengan konsep luasan
segitiga (triangulasi)?.
204
Kedua, dengan penyelesaian double integration, yaitu menyelesaikannya sekaligus Z
kedalam dua distance (dalam banyak hal disebut juga derivative atau differensial) yaitu dx
dan dy. Jadi, volume dapat dicari dengan cara,

ZdA atau

dydx y x f ) , (
yang tidak lain adalah,

n
1 i
i i i
A ) , ( lim y x f . Dalam hal ini merupakan closure area (A).



Gambar 4. Presentasi n-sayatan tiga dimensional



Gambar 5. Presentasi satu sayatan tiga dimensional

Yang harus diingat adalah, bahwa f ini harus kontinu dan harus memenuhi beberapa
persyaratan. dibagi-bagi menjadi sayatan-sayatan yang masing-masingnya berbentuk
pertidaksamaan: y
1
(x)?y?y
2
(x); x
1
?x? x
2
atau, x
1
(y)?x?x
2
(y); y
1
?y? y
2

yang masing-masing fungsinya kontinu.
Dalam hal f(x, y) positif dalam daerah dan volume yang dihitung terletak di bawah
permukaan Z=f(x, y) dan di atas pada bidang xoy, maka setiap suku f(x
i
,y
i
)
i
A adalah
volume dari parallelepipedum tegak dengan dasar
i
A dan tingginya f(x
i
,y
i
).

PERHITUNGAN CADANGAN BAHAN GALIAN
Salah satu hal terpenting yang harus diketahui dalam perhitungan volume (cadangan),
disamping juga luasan adalah bagaimana membuat pemodelan matematis suatu bangun.
Dalam pemodelan matematis, terutama yang terkait dengan kurva (baik dua maupun tiga
dimensi), penentuan koordinat merupakan salah satu factor utama pada simple visualization
yang nantinya akan membentuk kurva. Dan kurva inilah yang secara mudah akan dijadikan
dasar perhitungan integrasi. Kurva dua dimensi, sebagaimana keterangan di atas disajikan
dalam fungsi yang independent variabelnya hanya ada satu, y=f(x). Sedangkan untuk tiga
dimensi independent variabelnya terdiri dari dua variable, Z=f(x,y).
Kedua, dengan penyelesaian double integration, yaitu menyelesaikannya sekaligus
Z kedalam dua distance (dalam banyak hal disebut juga derivative atau differensial) yaitu
dx dan dy. Jadi, volume dapat dicari dengan cara,

ZdA atau

dydx y x f ) , (
yang tidak lain adalah,

n
1 i
i i i
A ) , ( lim y x f . Dalam hal ini merupakan closure area
(A).



Gambar 4. Presentasi n-sayatan tiga dimensional
Kedua, dengan penyelesaian double integration, yaitu menyelesaikannya sekaligus
Z kedalam dua distance (dalam banyak hal disebut juga derivative atau differensial) yaitu
dx dan dy. Jadi, volume dapat dicari dengan cara,

ZdA atau

dydx y x f ) , (
yang tidak lain adalah,

n
1 i
i i i
A ) , ( lim y x f . Dalam hal ini merupakan closure area
(A).
205
Visualisasi grafis bukanlah kendala dalam pembentukan suatu fungsi (pemodelan), dan
pengintegralan juga bukan merupakan sebuah problem bagi programasi computer. Bagaimana
dengan tingkat kesalahan yang dapat terjadi?.
Tingkat kesalahan (error) atau residu yang banyak dibahas dalam numerical method
(juga numerical analysis), lebih sering terjadi karena ketidak-telitian pada pemodelannya
(meski kadang juga terjadi pada analisis atau pada eksekusi programasinya).
Sebagai gambaran adalah, (untuk kasus double integral): Mencari volume daerah yang
dibatasi Z= x
2
+y
2
di bawah z=16 adalah sebagai berikut:

[ ]dA y x dA y x dA V

+ + ) ( 16 ) ( 16
2 2 2 2
.



Gambar 6. Presentasi grafis dan sketsa tiga dimensional (Z= x
2
+y
2
di bawah z=16)

Dengan merubahnya menjadi bentuk polar didapat, 0??2; 0?r?4; dan z=16-r
2
.
Sehingga,

[ ]

+

2
0
4
0
2 2 2
] ) 16 ( [ ) ( 16 d dr r r dA y x V . Dengan penyelesaian integrasi didapat.


2
0
128 64d V satuan volume.
Ilustrasi grafisnya adalah sebagaimana Gambar 6.

Untuk penyelesaian triple integral, diberikan gambaran sebagai berikut. Berapakah
besarnya volume daerah yang berada berada di sebelah bidang x+y+z=8, dan daerah pada
sumbu yz yang dibatasi y z
2
3
dan y z
4
3
(Gambar 7). Jawabnya adalah, (lihat Gambar
7 dan Gambar 8).

206
Gambar 7. Presentasi grafis proses penyayatan tiga dimensional (Z= x
2
+y
2
di bawah z=16)



Gambar 8. Presentasi grafis hasil pemotongan dan sketsa tiga dimensional (Z= x
2
+y
2
di
bawah z=16)

Batas masing-masingnya adalah,


Dengan demikian volume (dengan triple integral) yang dihasilkan adalah,


]
]
]
,

,
dA dx dV z y x f
z y 8
0
) , , (
5
49
] ) 8 ( [
4
0
2
3
4
3


dy dz z y
y
y
satuan volume.

SIMPULAN
Penyelesaian dengan cara integrasi, baik double integral maupun dengan triple integral
merupakan salah satu solusi untuk mencari (semua jenis) volume bahan galian, tanpa harus
melakukan pengasumsian bentuk. Ini terjadi jika pemodelan bentuk fungsinya sudah ada.
Penentuan besarnya kesalahan (residu), dengan demikian bias ditekan pada posisi sangat
minimum.

DAFTAR PUSTAKA
1. Pauls Online Math Notes, (2008), Calculus III., http: Google.com (tripleintegral)
2. Slamet Hw., dan Sutrima, (2005), Analisis Real 2, Muhammadiyah University Press,
Surakarta.
3. Thomas, G.B., and Ross L. Finney, (1983), Calculus and Analytic Geometry, Addison-
Wesley Publ. Co., Massachusetts.
4. Wolfram MathWorld Team, 2008, http: Google.com (doubleintegral)
Gambar 7. Presentasi grafis proses penyayatan tiga dimensional (Z= x
2
+y
2
di bawah
z=16)



Gambar 8. Presentasi grafis hasil pemotongan dan sketsa tiga dimensional (Z= x
2
+y
2
di
bawah z=16)

Batas masing-masingnya adalah,
207
PRA STUDI KELAYAKAN ENDAPAN MARMER
DI DESA JETAK KECAMATAN TULAKAN
KABUPATEN PACITAN

Yanto Indonesianto
Hasywir Thaib
Hans A Detaq
(Teknik Pertambangan UPN veteran Yogyakarta Jl. Lingkar Utara SWK 104 Condong Catur
Yogyakarta)

Abstrak

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai potensi bahan yang
variatif dan perlu diusahakan untuk pemberdayaan masyarakat setempat. Salah satu potensi yang
diunggulkan adalah marmer di Dusun Ngelo Desa Jetak. Marmer ini layak untuk dikembangkan
baik ditinjau dari segi ekonomis, teknis maupun lingkungan.
Dalam rangka memberdayakan peran serta masyarakat pada sektor pertambangan, membantu
memberi dorongan (triger) maka di lakukan pra studi kelayakan pengusahaan endapan marmer.
Ada beberapa asumsi yang digunakan dalam analisis keekonomian adalah
Struktur Pembiayaan.
a. Modal Sendiri 50% (equity), pinjaman 50% (debet).
b. Modal Sendiri 100% , dan tanpa pinjaman
c. Suku bunga pinjaman dalam Rupiah adalah 12 % per tahun.
d. Maginal Attractive Rate of Return (MARR) sebesar 15% (3% berupa resiko).
Hasil perhitungan diperoleh investasi total Rp.8.658.411.167,-.Biaya operasi Rp.
6.926.728.934,-, dan modal kerja Rp. 1.731.682.233,-.
Alternatif I : 50% Modal sendiri dan 50% modal pinjaman, NPVi* 15% = Rp. 16.329.162.476,-.
DCFROR dengan metode coba-coba, maka didapat i = 50,77%. Pay Back Period = 2 tahun
9 bulan
Alternatif II 100% Modal Sendiri dan 0% modal pinjaman. NPV i* 15% = Rp. 23.076.333.497,-
DCFROR dengan metode coba-coba, maka didapat i = 62,09%
Pay Back Period = 1 tahun 8 bulan
Titik impas Break Event Poin (BEP) merupakan suatu keadaan dimana tidak ada keuntungan atau
impas. Keadaan ini dicapai pada saat harga marmer
Alternatif I pada saat harga marmer = Rp 73.968/m
2

PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
2z
Alternatif II pada saat harga marmer = Rp 62.846/m
Kata Kunci: Studi kelayakan.
1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Era otonomi daerah menuntut pemerintah lebih responsif dalam melaksanakan
pembangunan di berbagai sektor yang berorientasi kepada demokratisasi ekonomi dan
pemberdayaan ekonomi rakyat. Salah satu usaha yang akan dilakukan adalah mengkaji
kemungkinan pengusahaan marmer Kabupaten Pacitan.
Potensi bahan galian golongan C yang dimiliki Kabupaten Pacitan apabila dikelola
dengan baik dapat memberdayakan ekonomi masyarakat setempat, disamping itu juga
dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Untuk itu perlu dilakukan
penelitian dan pengkajian yang komprehensif, obyektif dan terpadu mengenai
ketersediaan, kebutuhan dan pemanfaatan serta peluang pasar terhadap bahan galian
marmer yang mempunyai pospek paling menonjol dan dengan dukungan prasarana
serta sarana daerah yang memadai.
Tujuan dilakukan pra studi kelayakan ini adalah untuk mengetahui investasi total,
biaya produksi, modal kerja dan harga titik impas.

Metodologi Penelitian
Dalam melakukan kajian pra studi kelayakan marmer maka dilakukan
serangkaian kegiatan berupa: pengumpulan data sekunder, observasi lapangan,
pemetaan potensi marmer, kondisi sosial budaya masyarakat sekitar penambangan, pra
sarana dan sarana yang tersedia. Berdasarkan data primer dan data sekunder kemudian
direncanakan dan dirancang sistem penambangan yang sesuai untuk endapan marmer.
Terakhir melakukan analisis keekonomian untuk menentukan layak atau tidak layak
pengusahaan marmer tersebut.

2. ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI
Analisis kekonomian dilakukan berdasarkan konsep aliran tunai diskonto
(discounted cash flow analysis). Analisis ini dilakukan dengan pola Usaha Kecil-
Menengah, sehingga operasi penambangan dan pengolahan marmer dilakukan sendiri
oleh masyrakat.

2.1 Asumsi
Struktur Pembiayaan.
a. Modal sendiri 50% (equity), pinjaman 50% (debet).
b. Modal sendiri 100% , dan tanpa pinjaman
c. Suku bunga pinjaman dalam Rupiah adalah 12 % per tahun.
d. d. Maginal Attractive Rate of Return (MARR) sebesar 15% (3% berupa
resiko).
Harga Komoditi Marmer
Penjualan marmer yang dilakukan langsung di pabrik pengolahan yaitu dengan Harga
jual marmer 1m/slab adalah Rp 100.000,00
Investasi Total
Investasi total merupakan jumlah investasi yang disediakan untuk menjalankan
kegiatan pengusahaan marmer sebesar Rp. 8.981.626.056,-(lampiran-1)

2.2. Modal Tetap
Merupakan sejumlah modal yang perlu disediakan untuk persiapan
penambangan, sampai diperoleh pendapatan dari produksinya. Modal awal terdiri dari
209
1. Pengurusan Eksplorasi, Pembebasan Lahan dan Perijinan
Marmer Desa Jetak yang akan di tambang telah menginvestasikan dana penyelidikan
umum, eksplorasi dan pembebasan lahan sesuai perincian biaya yang telah dikeluarkan
selama masa penyelidikan umum dan eksplorasi sebesar Rp.3.051.000.000,-
2. Konstruksi dan Rekayasa
Investasi untuk sarana pendukung tambang seperti bangunan dan infrastruktur
sosial sebesar Rp.552.700.000,-
3. Pembuatan Jalan Tambang
Jalan tambang yang perlu dibuat adalah jalan yang menghubungkan lokasi tambang di
atas Gunung Biting dengan stock yard (didalam kompleks pabrik) dengan panjang 700
m lebar 9 m. besar biaya Rp 70.000.000.000,-
4. Biaya Pembelian Peralatan
Pembelian peralatan perlu perhitungan dan pemilihan secara cermat agar kegiatan
operasionalnya memberikan hasil yang efisien dan optimum baik ditinjau dari segi
teknis, ekonomis maupun lingkungan. Peralatan yang digunakan meliputi peralatan di
tambang, peralatan di pengolahan, sarana penunjang dan sarana K3.

a. Peralatan di Tambang
Peralatan yang dibutuhkan di tambang terdiri atas peralatan utama, Investasi untuk
peralatan tambang tersebut adalah sebesar Rp 655.000.000
b. Peralatan di Pengolahan Marmer
Investasi untuk peralatan yang ada di pabrik pengolahan adalah sebesar Rp.
2.914.500.000,-
c. Sarana Penunjang
Sarana penunjang adalah kebutuhan bahan penunjang yang akan menunjang
penambangan dan pengolahan di pabrik. Investasi untuk sarana penunjang
tersebut adalah sebesar Rp. 59.427.000.
d. Sarana K-3 dan pengelolaan lingkungan
Melihat besarnya persentase kecelakaan yang diakibatkan oleh tindakan / perbuatan
yang tidak aman oleh karyawan, jelas bahwa faktor manusialah yang harus mendapat
perhatian utama dalam pencegahan terjadinya kecelakaan.oleh karena itu perlu
diadakan sarana K-3 dan pengelolaan lingkungan. Investasi untuk peralatan
keselamatan dan kesehatan tersebut sebesar Rp.11.750.000,-.

2.3. Biaya Operasi
Biaya operasi dibagi menjadi dua bagian yaitu biaya operasi tetap dan biaya operasi tidak
tetap. Besarnya biaya operasi Rp. 6.926.728.934,-

2.3.1 Biaya Operasi Tetap
Biaya operasi tetap meliputi :
1. Depresiasi
Penghitungan depresiasi / penyusutan dimaksudkan untuk menyediakan dana agar
dapat membeli alat pada tahun berikutnya sesuai dengan umur pakai alat.
Depresiasi ditujukan untuk alat alat produksi dan penyusutan dimaksudkan untuk
bangunan dan kendaraan. Metode yang digunakan yaitu metode Stright Line sehingga
biaya depresiasi untuk setiap alat sama tiap tahunnya. Biaya depresiasi tahun pertama
adalah Rp. 614.780.200,-
2. Peralatan di Tambang
210
Biaya pembelian peralatan di tambang adalah sebesar Rp. 655.000.000,- dan setelah mengalami
depresiasi adalah sebesar Rp.116.100.000,- (lampiran 1)
1. Peralatan di Pengolahan
Biaya pembelian peralatan di pengolahan adalah sebesar Rp. 2,914,500,000,- dan setelah
mengalami depresiasi adalah sebesar Rp. 488,610,000,- (Lampiran 1)
2. Bahan Penunjang
Biaya bahan penunjang baik di tambang maupun di pengolahan adalah sebesar Rp. 59.427.000,-
dan setelah mengalami depresiasi adalah bahan penunjang di tambang sebesar Rp. 43.200,- dan
biaya bahan penunjang di pengolahan adalah sebesar Rp.4.500.000,-
5. Konstruksi dan Rekayasa
Investasi untuk sarana pendukung tambang seperti bangunan dan infrastruktur sosial sebesar
Rp.552.700.000,- .Investasi ini sebagian besar digunakan untuk membangun kantor, base camp
dan perumahan. Dan setelah mengalami depresiasi adalah sebesar untuk bangunan Rp.
2.827.000,- dan untuk infrastruktur adalah sebesar Rp. 2.700.000,- (Lampiran-1)

6. Amortisasi
Biaya amortisasi menggunakan metode garis lurus yaitu 25 % dari total biaya perijinan. Besarnya
biaya amortisasi = 25 % x Rp 3.051.000.000,- = Rp 762.750.000,-

2.3.2. Biaya Operasi Tidak Tetap
Biaya operasi tidak tetap meliputi :

1. Gaji Karyawan
Tambang direncanakan beroperasi setelah segala keperluan persiapan tambang telah
dilaksanakan, dan besar biaya untuk gaji karyawan adalah Rp. 1.531.200.000,-/tahun untuk 56
orang tenaga kerja.
2. Biaya perawatan
Biaya Perawatan adalah 20% dari biaya investasi kemudahan (pengadaan alat, bangunan,
inventaris, infrastruktur) atau jika dihitung tahunan biaya peralatan adalah 20% dari biaya
depresiasi. Besarnya biaya perawatan pada tahun pertama adalah Rp. 122.956.040,-
3. BBM
Biaya BBM yang dibutuhkan pada tahun pertama adalah sebesar Rp.307.145.523,-
4. Biaya Pelumas
Biaya pelumas yang dibutuhkan tahun pertama = Rp. 803.712,-
5. Bahan Habis Pakai
Besarnya biaya bahan habis pakai di penambangan dan di kantor adalah Rp. 32.900.000,- /tahun.
1. Biaya Inventaris
Besarnya biaya inventaris adalah Rp. 114.195.000,-/tahun.
2. Konsumsi
Besarnya biaya konsumsi untuk 56 orang tenaga kerja tiap tahunnya Rp 252.000.000,-
3. Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB)
Besarnya biaya PBB adalah Rp. 2.827.000,-/tahun.
4. Royalty Pemda
Besarnya biaya untuk royalty pemda/tahunnya adalah Rp. 30,000,000,-
211
2.4. Modal kerja

Modal kerja adalah modal yang diperlukan untuk membiayai proyek terhitung sejak
dimulai penambangan hingga menerima pendapatan pertama kali dari hasil penjualan marmer.
Modal kerja diperkirakan sebesar tiga bulan biaya opearsi, yakni 0,25 x Rp 6.926.728.934,- =
Rp. 1.731.682,233,-. (Lampiran 1)

2.5. Pendapatan
Merupakan hasil penjualan marmer berkuran 1 m x 1 m x 2 cm sebanyak 5000 sleb
per bulan, dengan harga per sleb = Rp 100.000.
Maka hasil penjualan sebesar 5.000xRp100.000x12 bulan = Rp 6.000.000.000,-

2.6. Aliran Kas (Cashflow)
Dalam studi kelayakan rencana investasi, arus kas merupakan unsur analisis yang
sangat penting kedudukannya karena kelayakan finansial sebuah usulan rencana investasi
diukur pada nilai sekarang arus kasnya. Secara sederhana, jika nilai sekarang arus kas masuk
lebih besar dari pada nilai sekarang arus kas keluar, maka rencana investasi itu dari sudut
aspek finansial adalah layak dilaksanakan. Demikian pula jika terjadi sebaliknya, maka
rencana investasi itu tidak layak dilaksanakan. Manfaat (benefit) dari investasi yang diterima
dimasa mendatang juga dinyatakan dalam bentuk arus kas.

Tabel 1
Investasi dan Pinjaman

Investasi Tahun
0-1
8,981,626,056 - 8,981,626,056

Pinjaman 50% 4,490,813,028

Jangka waktu
pinjaman
10

Bunga Pinjaman 12%

Tahun
Pokok
Pinjaman
Bunga
Pengembalian
Pokok Pinjaman
Sisa Pinjaman
1
4,490,813,028 538,897,563
255,886,526 4,234,926,502
2
4,234,926,502 508,191,180
286,592,909 3,948,333,592
3
3,948,333,592 473,800,031
320,984,059 3,627,349,533
4
3,627,349,533 435,281,944
359,502,146 3,267,847,388
5
3,267,847,388 392,141,687
402,642,403 2,865,204,985
6
2,865,204,985 343,824,598
450,959,492 2,414,245,493
7
2,414,245,493 289,709,459
505,074,631 1,909,170,863
8
1,909,170,863 229,100,504
565,683,586 1,343,487,276
9
1,343,487,276 161,218,473
633,565,617 709,921,660
10
709,921,660 85,190,599
709,921,660 0

Pembuatan aliran kas (cashflow) baik alternatif I maupun alternatif II disusun dari
komponen pendapatan, biaya operasi, dan pajak pendapatan. Keseluruhannya tersaji dilihat
pada Lampiran 1 dan Lampiran 2.
212
2.7. Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi menggunakan indikator ekonomi NPV, DCFROR, dan pay Back
Period (PBP).
Metode Nilai Sekarang Bersih atau Net Present Value (NPV)
Merupakan salah satu teknik kriteria penilaian investasi yang banyak dipergunakan.
Metode ini mempertimbangkan nilai uang terhadap waktu, metode ini mendasarkan pada
nilai sekarang (present worth = PW, atau present value = PV), dimana aliran uang tunai
diubah menjadi bentuk yang setara dengan nilai sekarang, berdasarkan tingkat bunga
minimum yang diinginkan = i*
Tingkat bunga minimum sering juga disebut sebagai tingkat pemilihan minimum
yang menarik (minimum attractive rate of return, MARR atau i*) MARR biasanya sama
dengan tingkat bunga yang berlaku untuk modal yang dipinjam ditambah suatu tambahan
prosentase untuk faktor-faktor tertentu seperti resiko, ketidakpastian, hal-hal yang tidak
diduga dan sebagainya.
NPV.=.Present Cash In Flow - Present Value Investasi....(3.15)
Atau pola dasar bentuk dapat dinyatakan dengan
NPV = -Cf0 (P/F,i* %, 0) + CFi (P/F, i*%, i) +

n
i
Cfi
1
(P/F, i*%) . . . . . (1)
Alternatif I : 50% Modal sendiri dan 50% modal pinjaman (Lampiran1)
Perhitungan NPV
NPV = CF0 + CF1 + ..+ CF10
(1+0.15)
0
(1+0.15)
1
(1+0.15)
10

NPV = -9.727.820.288 + 5.563.245.041 + ..+ 6.310.254.221
(1+0.15)
0
(1+0.15)
1
(1+0.15)
10

NPV i* 15% = Rp. 16.329.162.476,-

1. Alternatif II 100% Modal Sendiri dan 0% Modal Pinjaman (lampiran 2)
Perhitungan NPV
NPV = CF0 + CF1 + + CF10
(1+0.15)
0
(1+0.15)
1
(1+0.15)
10
NPV = -9,727,820,288 + 5,563,245,041 + ..+ 6,310,254,221
(1+0.15)
0
(1+0.15)
1
(1+0.15)
10
NPV i* 15% = Rp. 23.076.333.497,-

2.7.2. Metode Tingkat Pengembalian Modal
Metode ini sering pula disebut sebagai metode aliran uang tunai berdasarkan
(discounted cash flow method) dimana tingkat bunganya disebut sebagai tingkat bunga
alami uang tunai berdasarkan (discounted cash flow rate of return : DCFROR).
213
DCFROR ini menggambarkan tingkat bunga senyatanya yang akan diperoleh dari
proyek penanaman modal yang direncanakan. Apabila DCFROR lebih dari tingkat bunga
minimum yang dikehendaki oleh perusahaan, maka proyek yang dianalisis dapat
dipertimbangkan untuk dilaksanakan sebaliknya bila DCFROR lebih rendah dari tingkat
bunga minimum maka proyek tersebut akan ditolak.
Kelebihan dengan metode ini memperhatikan nilai waktu sekarang seperti metode
NPV sedangkan kelemahannya adanya kemungkinan harga DCFROR lebih dari satu. Sifat
dari aliran kas yang menyebabkan nilai DCFROR lebih dari satu:
I P I dan P <

0 I
I atau P I P dan

0 I
I P>

0 I
I . . . . . . .(3.17)
Kadang-kadang untuk menghitung DCFROR dilakukan oleh cara coba-coba (trial
and error) kemudian dilakukan interpolasi, bila hal dari interpolasi diperoleh i > 1* maka
proyek layak dipertimbangkan
Bentuk persamaannya:
Present worth income = Present worth cost
1. DCFROR 50% Modal Sendiri dan 50% Modal Pinjaman
NPV = 0 akan dicapai pada tingkat bunga = i %, maka i% = DCFROR
NPV = -9,727,820,288 + 5,563,245,041 + ..+ 6,310,254,221
(1+0.15)
0
(1+0.15)
1
(1+0.15)
10
Dengan metode coba-coba, maka didapat i = 50.77%

2. DCFROR 100% Modal Sendiri dan 0% Modal Pinjaman
NPV = 0 akan dicapai pada tingkat bunga = i %, maka i% = DCFROR
NPV = -9,727,820,288 + 5,563,245,041 + ..+ 6,310,254,221
(1+0.15)
0
(1+0.15)
1
(1+0.15)
10
Dengan metode coba-coba, maka didapat i = 62.09%
Adapun aplikasi perhitungan DCFROR dalam program Microsoft excel adalah seperti
gambar 4.1 dan gambar 4.2

2.7.3. .Metode Pay Back period
Metode ini sering juga disebut metode Pay Net Period. Pengertian pay back period
merupakan suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran
investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (Net Cash Flow). Dengan
demikian pay back period disuatu investasi menggambarkan panjangnya waktu yang
diperlukan agar dana yang tertanam pada suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya.
Apabila proceed setiap tahunnya sama jumlahnya maka pay back period dari suatu investasi
dapat dihitung dengan cara membagi jumlah investasi dengan proceed tahunan
214
Initial Investment (Investasi Awal)
Pay Back Period =
Cash Flow (ALiran Uang Masuk)
Atau
Io

n
t 1
Cf
t
1
Pay Back Period (PP) = PPawal + . (3.18)
Cf
0
Adapun aplikasi perhitungan Pay Back Period dalam program Microsoft excel
adalah seperti gambar 4.1 dan gambar 4.2
2.8. Titik Impas (Break Event Poin -BEP)
Break Event Point dapat diartikan suatu titik atau keadaan dimana perusahaan
didalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak menderita kerugian.
Dengan kata lain pada keadaan itu keuntungan dan kerugian sama dengan nol.
Perhitungan Break Event Poin (BEP) dengan menggunakan dasar unit dapat
dilakukan dengan menggunakan rumus :

FC Biaya Tetap
BEP (Q) = =
P - F Harga Jual per Unit Biaya Vareable per Unit
Titik impas Break Event Poin (BEP) merupakan suatu keadaan dimana
tidak ada keuntungan atau impas.
Keadaan ini dicapai pada saat harga marmer
Alternatif I pada saat harga marmer = Rp 73,968/m
2

Alternatif II pada saat harga marmer = Rp 62,846/m
2


3. KESIMPULAN
1. Alternatif I 50% Modal Sendiri dan 50% Modal Pinjaman
Alternatif I layak dilakukan penambangan dengan :
NPV = Rp. 16.329.162.476,-
DCFROR = 50,77%
PBP = 2 tahun 9 bulan
Investasi = Rp. 8.981.626.056,-
2. Alternatif II 100% Modal Sendiri dan 0% Modal Pinjaman
Alternatif II : layak dilakukan penambangan dengan :
NPV = Rp 23.076.333.497,-
DCFROR = 62,09%
PBP = 1 tahun 8 bulan
Investasi = Rp. 8.981.626.056,-
3. Titik Impas Break Event Poin ( BEP)
Alternatif I pada saat harga marmer = Rp 73,968/m
2

Alternatif II pada saat harga marmer = Rp 62,846/m
2

215
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 2007, Fasilitasi Pengembangan Sumberdaya Mineral di Kab. Pacitan,
Kementrian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Jakarta.
2. D. Haryanto, 2004 , Evaluasi Ekonomi Proyek Mineral Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Yogyakarta.
Stermole Franklin J , Stermole John M, 2006 ,Economic Evaluaton and
Investment Decision Methods , Invesment Evaluation Co, Colorado 80401..
216
L
A
M
P
I
R
A
N

-

1
C
A
S
H

F
L
O
W

A
L
T
E
R
N
A
T
I
F

I

5
0
%

M
O
D
A
L

S
E
N
D
I
R
I

D
A
N

5
0
%

M
O
D
A
L

P
I
N
J
A
M
A
N

2
1
7
L
A
M
P
I
R
A
N

-

2
C
A
S
H

F
L
O
W

A
L
T
E
R
N
A
T
I
F

I
I

1
0
0
%

M
O
D
A
L

S
E
N
D
I
R
I

D
A
N

0
%

M
O
D
A
L

P
I
N
J
A
M
A
N

2
1
8
PEMAKAIAN METODE RESISTIVITY SOUNDING
DALAM UPAYA MENGETAHUI KATEBALAN OVERBURDEN
DAN DISTRIBUSI LAPISAN BATU BARA
DI BATULICIN, KALIMANTAN SELATAN
Oleh :
Yatini *, Dwi Poetranto WA**
Imam Suyanto ***
*Yatini, staf pengajar Jurusan Teknik Geofisika UPN Veteran Yogyakarta, Jln SWK RingRoad Utara
Condong Catur 55283 Tlp (0274)7475779, HP.081328748581, email jeng_tin2004@yahoo.com, ** Dwi
Poetranto WA, staf pengajar Teknik Pertambangan UPN Veteran, *** Imam Suyanto, staf pengajar Prodi
Geofisika-FMIPA-UGM Yogyakarta, HP.081353415695, email imams_82@yahoo.com.

Sari :
Telah dilakukan penelitian metode resitivitas untuk mengetahui ketebalan lapisan
penutup (overburden) dan kemenerusan lapisan batubara, di Kecamatan Batulicin,
Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Pengambilan data dilakukan selama 11 hari,
mulai tanggal 1 s.d. 10 Februari 2006, seluas 42,5 ha. Sebanyak 40 titik sounding
konfigurasi Schlumberger, menggunakan alat Resistivitymeter OYO McOhm Mark 2115.
Pengolahan data dengan Program Progress Ver 3.0 menghasilkan variasi resistivitas
secara vertikal. Dengan korelasi titik bor yang terletak paling dekat dengan titik sounding
GL02, menghasilkan korelasi nilai resistivitas dengan jenis batuan, termasuk yang diduga
mempunyai potensi batubara. Dengan cara mengkorelasikan antar titik sounding akan
diperoleh kemenerusan lapisan batu bara didaerah penelitian.
Diperoleh nilai resistivitas lapisan yang dikelompokkan menjadi 4 bagian yaitu
lapisan lempung (0,5-10,9) m, batulempung (9,0-30,6) m, batubara (30,0-49,2) m dan
batupasir (40,1-538,1) m. Ketebalan lapisan penutup berupa lempung, batulempung,
batupasir, dan tanah berkisar antara 1,2 m sampai 26,0 m. Bagian timur memiliki ketebalan
yang lebih besar karena secara topografi daerah ini memiliki ketinggian yang relatif lebih
rendah dibanding permukaan bagian barat. Lapisan batuan secara struktur memiliki
kemiringan yang semakin besar kearah utara, yang ditunjukkan dengan lapisan batubara
yang semakin menebal kearah utara.

Abstract :
Research at Batulicin, Kotabaru, South Kalimantan with resestivity sounding methods
carried out. The aim of the research is to find overburden distribution at the area and
laterally distribution of the coal. The data aqiuisition during 11 days from February 1 to 10,
2006. 40 sounding point on 42,5 acre surveys areas with Schlumberger configurations use
Resistivitymeter OYO McOhm Mark 2115..
The data processed with Progress Ver 3.0 programs at GL01 to GL40. The 40 section
coal distribution result with correlation between GL01 with the DH8 test pit point. With the
same correlation methods would be found lateral distribition of the coal at the areas.
The resistivity value of the layer are : clay (0,5-10,9) m, claystone (9,0-30,6) m,
coal (30,0-49,2) m dan sand stone (40,1-538,1) m. The overburden are clay, claystone
and sandstone with 1,2 m to 26,0 m thick. The southern of the area have big thickness
overburden. The coal distribution have big dip and more thick at northen.
Kata kunci : sounding, resistivity, overburden, batubara.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
I. PENDAHULUAN
Energi merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting dan menjadi kebutuhan
primer untuk saat ini. Ada bermacam-macam sumber energi yang dapat digunakan seperti
matahari, minyak bumi, gas bumi, panas bumi, air, batubara, dan lain-lain. Sumber daya
energi batubara diperkirakan sebesar 36.5 milyar ton, dengan sekitar 5.1 milyar ton
dikategorikan sebagai cadangan terukur. Sumber daya ini sebagian besar berada di
Kalimantan yaitu sebesar 61 %, di Sumatera sebesar 38 % dan sisanya tersebar di wilayah
lain. Menurut jenisnya dapat dibagi menjadi lignites sebesar 58.6 %, sub-bituminous sebesar
26.6 %, bituminous sebesar 14.4 % dan sisanya sebesar 0.4 % adalah anthracites (Firdaus,
2003 dalam Siagian, H.P dan Hutubessy, S., 2004)
Produksi batubara pada tahun 1995 mencapai sebesar 44 juta ton. Sekitar 33 juta ton
diekspor dan sisanya sebesar 11 juta ton untuk konsumsi dalam negeri. Dari jumlah 11 juta
ton tersebut 60 % atau sekitar 6.5 juta ton digunakan untuk pembangkit listrik, 30 % untuk
industri dan sisanya digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil (Thomas, 2002).
Penggunaan batubara sebagai sumber energi pengganti semakin ditingkatkan terutama
di Indonesia karena cadangan bahan tambang ini masih sangat besar serta belum tereksplorasi
dan terekploitasi secara sempurna. Batubara sebagai salah satu mineral energi didapatkan dari
kegiatan pertambangan, karena letaknya relatif dangkal bila dibandingkan dengan jebagan
minyak dan gas bumi. Kegiatan eksplorasi yang meliputi metode geologi, geofisika,
pengeboran, dan metode geokimia diperlukan sebelum usaha penambangan dilakukan.
Daerah Batulicin, Kotabaru, Kalimantan Selatan merupakan wilayah yang sebagian
besar masih berupa hutan dan memiliki kandungan batubara yang cukup baik. Batubara telah
menjadi salah satu penghasilan daerah selain dari minyak bumi dan sumber daya hutan yang
juga terdapat di daerah ini. Daerah penelitian merupakan bekas area penambangan yang
membuang material sisa penambangan sehingga menutupi lapisan batuan yang kemungkinan
masih terdapat lapisan batubaranya. Penelitian metode geofisika yang dilakukan sebagai
langkah awal dalam eksploitasi batubara yaitu dengan mencari ketebalan lapisan penutup
(overburden) serta penentuan kemenerusan lapisan betubara tersebut. Lapisan penutup di
daerah penelitian berasal dari pembuangan material hasil penambangan sebelumnya, serta
lapisan tanah (soil) yang relatif tipis. Hal ini tentu saja sangat diperlukan terutama untuk
menekan biaya eksplorasi karena penggunaan metode resistivitas sounding memiliki
kemampuan yang cukup baik untuk mengetahui struktur perlapisan batuan seperti pada
panggunaan lobang bor dan waktu yang diperlukan juga jauh lebih singkat.
Metode Geolistrik sounding (vertical electrical sounding) cukup efektif untuk
menentukan ketebalan lapisan penutup (overburden) di suatu titik pengukuran. Metode ini
merupakan metode aktif yaitu dengan memasukkan arus ke bumi melalui elektroda arus dan
mengukur beda potensial diantara 2 titik elektroda potensial dengan kedudukan elektroda
arus dan potensial yang segaris. Metode ini cukup baik untuk menentukan resistivitas tiap
perlapisan (secara vertikal).

II. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan penelitian adalah :
1. Memetakan ketebalan lapisan penutup (overburden) dengan mengkorelasikan data
resistivitas tiap titik dan kedalaman di daerah penelitian.
2. Mencari distribusi dan kemenerusan lapisan batubara di daerah penelitian.
220
III. TEORI DASAR
Metode resistivitas atau tahanan jenis adalah salah satu teknik geofisika yang
digunakan untuk penyelidikan lapisan batubara, eksplorasi bijih logam, serta untuk
pemecahan problema geologi teknik dengan memanfaatkan sifat kelistrikan batuan. Dalam
metode ini dua buah elektroda digunakan untuk mengalirkan arus ke dalam tanah, dua
elektroda lainnya digunakan untuk mengukur tegangan yang ditimbulkan oleh aliran arus tadi
sehingga resistivitas bawah permukaan bisa dihitung. Resistivitas batuan adalah fungsi dari
konfigurasi elektroda dan parameter-parameter listrik bumi/batuan. Arus yang dialirkan di
dalam tanah berupa arus searah (DC) atau arus bolak-balik (AC) berfrekuensi rendah. Tetapi
biasanya digunakan arus bolak-balik yang berfrekuensi rendah karena untuk menghindari
pengaruh potensial spontan dan efek polarisasi.
Persamaan umum untuk menentukan resistivitas suatu medium homogen, adalah :

L
A
I
V

(1)
dimana V = beda potensial (volt), I = kuat arus yang dilalui oleh bahan (ampere),
L = panjang (meter) dan A = luas penempang (meter
2
).



Gambar (1) : Material yang dilalui arus.
Pers. (1) digunakan untuk material yang homogen, sehingga hasil yang diperoleh
adalah resistivitas yang sebenarnya (true resistivity). Dalam prakteknya objek yang diukur
adalah batuan atau tanah yang tidak homogen (resistivitasnya tidak seragam), sehingga
resistivitas yang terukur adalah resistivitas semu (apparent resistivity). Harga resistivitas
semu tergantung pada resistivitas lapisan-lapisan pembentuk formasi (subsurface geology),
spasi elektroda dan susunan elektroda.
Pengukuran resistivitas semu dilakukan dengan mengalirkan arus ke dalam tanah
melalui elektroda arus C
1
dan diterima oleh elektroda arus C
2
. Kemudian beda potensial
antara kedua elektroda diukur melalui elektroda potensial P
1
dan P
2
. Gambar susunan
elektroda arus dan elektroda potensial ditunjukkan dalam gambar 2. Sedang dalam
pelaksanaannya memakai bermacam konfigurasi.
Untuk menghitung resistivitas semu batuan digunakan persamaan berikut :

I
V
K
R R r r
I
V

]
]
]
]
]
]
,
,
,
,

,
+

2 1 2 1
1 1 1 1
2

(2)
dimana V = beda potensial antara P
1
dan P
2
(volt)
I
Power
L

V
A
221
I = kuat arus yang dialirkan melalui C
1
dan C
2
(ampere)

r
r
= jarak antara C
1
dan P
1
(meter)
r
2
= jarak antara C
2
dan P
1
(meter)
R
1
= jarak antara C
1
dan P
2
(meter)
R
2
= jarak antara P
1
dan P
2
(meter)

Hasil pengukuran ini merupakan resistivitas semu untuk titik yang terletak ditengah-
tengah elektroda potensial. Selanjutnya faktor K yang disebut sebagai faktor geometri. Faktor
geometri merupakan besaran yang berubah terhadap jarak spasi elektroda dan bergantung
pada susunan elektroda.

Gambar (2) : Susunan elektroda arus dan potensial

Konfigurasi Schlumberger merupakan konfigurasi yang sering dipakai dalam pengukuran
sounding resistivitas. Jarak titik tengah terhadap elektroda arus (C
1
) sama dengan jarak titik
tengah ke elektroda (C
2
) sepanjang L. Sedangkan elektroda potensial (P
1
) dan (P
2
) terletak di
dalam dua elektroda arus dan masing-masing berjarak b dari titik tengah pengukuran
(Lampiran A). Besarnya faktor geometri untuk konfigurasi Schlumberger adalah
( )
2 2 1
1 1 1 1
2
2.
L b
K
L b L b L b L b b

j \
+
, (
+ +
( ,
(3)

Karena jarak elektroda potensial yang kecil terhadap titik pusat susunan elektroda,
maka kuat medan listrik di antara kedua elektroda dianggap konstan atau dengan kata lain
rapat arus di antaranya dianggap seragam.


IV. PENGAMBILAN DATA

1. Waktu dan Lokasi .
Pengambilan data dilakukan selama 11 hari, mulai tanggal 1 Februari 2006 sampai 10
Februari 2006 yang bertempat di Kecamatan Batulicin, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan
Selatan. Luas daerah survei adalah (1010 x 170) m
2
atau 42,5 ha. Daerah ini berada di
sebelah barat laut kota Batulicin yang merupakan bagian Pegunungan Meratus bagian selatan.
Area penelitian memanjang dari selatan ke utara mengikuti jurus (strike) perlapisan. Peta
lokasi dan peta kontur daerah penelitian ditunjukkan pada Gambar (3).
C1
I
V source
r
1
r
2

R
2
R
1

C2 P1 P2
equipotensial
sink
aliran arus
222


Gambar (3) : Peta lokasi penelitian di Batulicin, Kotabaru, Kalimantan Selatan (Bakosurtanal, 1991)

2. Peralatan.
Alat yang digunakan dalam akuisisi data resistivitas adalah Resistivitymeter OYO
McOHM Mark-2 model 2115 (lampiran B) yang menggunakan sumber tegangan DC 12 Volt.
Perlengkapan lain berupa: 4 buah elektroda, 2 buah baterai luar 12 V, 4 gulung kabel, 4
buah palu, multimeter, kompas geologi, peta lapangan, GPS Garmin, handy talky (HT), 1
tool-set lengkap, buku data alat pendukung lainnya seperti payung, jas hujan, matras, dan
lain-lain.

3. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini diawali dengan orientasi lapangan yang bertujuan untuk merencanakan
desain survei sekaligus mengumpulkan informasi geologi dan topografi yang nantinya
digunakan untuk analisa geologi sebagai acuan pemodelan dalam pengolahan data sounding.
Dari orientasi lapangan ini, dapat diketahui luas area survei yang diukur dan menentukan
titik-titik sounding secara efektif, sesuai kemampuan waktu dan tenaga dengan
memperhitungkan kecepatan pengukuran dan mobilisasi antar titik-titik sounding.
Distribusi titik ukur memanjang berarah utara-selatan sebanyak 40 buah. Spasi antar
titik sounding antara 20 m sampai 70 m menyesuaikan dengan kondisi daerah penelitian.
Konfigurasi Schlumberger menggunakan eksentrisitas e< 1/5. Lapisan batuan pada daerah
penelitian memiliki kemiringan (dip) sebesar 50
0
sampai 90
0
dengan arah relatif ke timur,
sehingga arah azimuth bentangan relatif berarah utara-selatan sesuai dengan arah jurus
(strike) perlapisan batuan. Distribusi titik sounding dan topografi daerah penelitian pada
gambar (4).

V. PENGOLAHAN
Pengolahan data dengan Progress Ver. 3.0 pada tiap titik ukur menghasilkan
informasi jumlah perlapisan, nilai resistivitas dan ketebalan tiap perlapisan. Dari harga
resistivitas dan ketebalan atau kedalaman tiap perlapisan dikorelasikan dengan harga
resistivitas batuan untuk selanjutnya diinterpretasi secara geologi. Hasil tersebut selanjutnya
diinterpretasi kepada kemungkinan adanya lapisan batubara di bawah permukaan. Hasil akhir
yang diharapkan adalah peta kontur atau gambaran tiga dimensi dari jejaring ketebalan
lapisan penutup (overburden) pada lokasi survei.
223
Untuk dapat memberikan petunjuk adanya perlapisan batubara, maka dilihat dari
nilai resistivitas perlapisan dan hubungan antar satu titik pengukuran dengan lainnya dalam
satu area atau lokasi. Data awal berupa titik bor yang telah dilakukan di beberapa tempat dan
sebagian berdekatan dengan titik pengukuran resistivitas sounding, sangat membantu dalam
menentukan adanya lapisan penutup (overburden). Hasil dari Progress Ver 3.0 dipakai untuk
menduga ketebalan lapisan penutup berdasarkan nilai resistivitas yang relatif rendah bila
dibanding dengan lapisan batuan segar.

VI. INTERPRETASI

1. Metode Interpretasi
Interpretasi dilakukan berdasarkan analisa hasil pengolahan data resistivitas sounding
pada seluruh titik pengukuran. Hasil yang diperoleh diplot pada peta daerah penelitian untuk
dilihat ketebalan lapisan penutup (overburden) di daerah penelitian. Ketebalan lapisan
penutup ditentukan berdasarkan perubahan nilai resistivitas lapisan, di mana batas ketebalan
diambil pada lapisan dengan nilai resistivitas yang rendah (kurang dari 10 m) yang
dimungkinkan merupakan endapan lempung pada batas lapisan sebenarnya dengan lapisan
penutup. Nilai resistivitas batubara di daerah penelitian diperoleh dengan melakukan korelasi
antara sumur bor dengan titik sounding terdekat.

2. Interpretasi Kemenerusan Lapisan Batubara
Metode yang digunakan pada interpretasi lapisan batubara menyerupai metode yang
digunakan pada titik bor yaitu dengan menduga litologi batuan berdasarkan nilai resistivitas
dalam bentuk batang (log). Litologi batuan terutama ditekankan pada perlapisan batubara
dan lapisan overburden. Metode resistivitas sounding mempunyai kelemahan terutama
dalam mendeteksi lapisan tipis dan lapisan yang memiliki variasi yang tidak jauh berbeda
karena setiap jenis batuan memiliki jangkauan yang sangat besar (Telford dkk, 1976). Salah
satu cara adalah dengan mereferensikan data sounding dengan data titik bor yang letaknya
berdekatan. Pada penelitian ini digunakan titik sounding GL02 dengan titik bor DH-8.
Ketebalan yang terbaca dari hasil sounding adalah keteblan semu. Karena
kemiringan perlapisan (dip) yang cenderung bertambah besar di sebelah utara (perlapisan
tegak), menyebabkan ketebalan yang terdeteksi pada data resistivitas bervariasi semakin
besar ke arah utara. Contoh sayatan C-D (Gambar 5) dibuat dari 4 titik sounding, yaitu GL
19, GL 20, Gl 21 dan Gl 12. Lapisan yang kemungkinan besar mengandung batubara
ditandai dengan warna biru dan hitam.
Batubara berada pada perlapisan-perlapisan batuan yang umumnya berselingan
dengan batupasir dan batulempung (Wahyudiono, 2003). Pada daerh penelitian, perlapisan
memiliki jurus (strike) yang relatif berarah ke utara. Pada bagian tengah daerah penelitian
terdapat pergeseran lokasi penambangan. Hal ini ditunjukkan dengan posisi bekas
penambangan di bagian utara yang berada di sebelah barat lokasi penambangan di bagian
selatan. Kemiringan (dip) yang berubah menjadi relatif tegak (90
0
) pada bagian utara
penelitian.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan perlapisan batubara pada titik bor
DH-6, DH-7, dan DH-8 dengan sumur bor DH-8 sebagai referensi, diperoleh bahwa azimuth
strike adalah N 7,5
0
E dengan dip 57,6
0
SE untuk daerah penelitian bagian selatan.
Berdasarkan Peta Geologi (Rustandi dkk, 1995), diketahui bahwa perlapisan batuan di daerah
penelitian berada pada Formasi Tanjung. Formasi Tanjung terdiri atas perselingan
konglomerat, batupasir dan batulempung dengan sisipan serpih, batubara dan batugamping.
224
Bagian bawah terdiri dari konglomerat dan batupasir dengan sisipan batulempung, serpih
dan batubara, sedangkan bagian atas terdiri dari batupasir dan batulempung dengan sisipan
batugamping. Formasi Tanjung di daerah penelitian merupakan perlipatan batuan berbentuk
sinklin yang ditunjukkan dengan kemiringan yang berarah relatif ke arah timur pada Formasi
Tanjung bagian barat dan kemiringan berarah relatif ke barat pada Formasi Tanjung bagian
timur. Perlapisan batuan merupakan perlipatan (folding) yang berupa sinklin yang tidak
simetri dan bagian utara area penelitian terdapat perlipatan membalik.

Sayatan Antartitik Sounding
351000 Easting
9650200 Northing
U
351000 351100 351200
Easting (m)
9650200
9650300
9650400
9650500
9650600
9650700
9650800
9650900
9651000
9651100
9651200
9651300
N
o
r
t
h
i
n
g
(
m
)
GL01
GL02
GL03 GL04
GL05 GL06 GL07
GL08 GL09GL10
GL11
GL12
GL13
GL14
GL15
GL16
GL17
GL18
GL19
GL20
GL21
GL22
GL23
GL24
GL25
GL26
GL27
GL28
GL29
GL30
GL31
GL32
GL33
GL34
DH_5
DH_6
DH_7 DH_8
0 m 25 m 50 m
DH_5 Titik Bor
Sayatan
antar titik sounding
GL01 Titik ukur Geolistrik
E F
G
H
I
J
A
B
C
D
Topografi Area Survey Geolistrik
140
145
150
155
160
165
170
175
180
185
190
195
200
205
210
215
220
225
230
351000 Easting
9650200 Northing
U
DH_5 Titik Bor
GL01 Titik ukur Geolistrik
Lintasan
Penambangan
m


Gambar (4): Sayatan antartitik sounding yang sejajar dan tegak lurus strike serta topografi daerah penelitian.












Gambar (5): Sayatan C-D yang memiliki lapisan batubara A dan B.

VII. HASIL DAN ANALISIS
Titik-titik pengukuran yang memanjang di sepanjang daerah bekas penambangan dan
sebagian besar berada diatas tumpukan material hasil penambangan dengan arah utara-
selatan. Jumlah titik yang diolah adalah 40 titik ukur, dengan sumur bor (tespit) di area yang
berdekatan dengan lokasi penelitian sejumlah 4 buah.
Kurva resistivitas sounding untuk tiap-tiap titik pengukuran di daerah penelitian umumnya
memperlihatkan 5 sampai 8 lapisan, tetapi terdapat beberapa titik pengukuran yang
Bagian bawah terdiri dari konglomerat dan batupasir dengan sisipan batulempung, serpih dan
batubara, sedangkan bagian atas terdiri dari batupasir dan batulempung dengan sisipan
batugamping. Formasi Tanjung di daerah penelitian merupakan perlipatan batuan berbentuk
sinklin yang ditunjukkan dengan kemiringan yang berarah relatif ke arah timur pada Formasi
Tanjung bagian barat dan kemiringan berarah relatif ke barat pada Formasi Tanjung bagian
timur. Perlapisan batuan merupakan perlipatan (folding) yang berupa sinklin yang tidak
simetri dan bagian utara area penelitian terdapat perlipatan membalik.
225
memiliki nilai resistivitas hampir sama sehingga dianggap merupakan satu lapisan
batuan atau lapisan-lapisan tersebut tipis sehingga walaupun memiliki resistivitas berbeda
tetapi terdeteksi sebagai satu lapisan. Ketebalan lapisan penutup dan kemenerusan lapisan
batubara dapat dilihat dari nilai resistivitas perlapisan dan hubungan antar satu titik
pengukuran dengan titik lainnya dalam satu area atau lokasi. Hasil dari Progress Ver 3.0
adalah nilai resistivitas sebenarnya (true resistivity) yang dianggap sebagai hasil akhir yang
kemudian dipakai untuk menduga adanya lapisan penutup berdasarkan nilai resistivitas.
Lapisan batubara memiliki resistivitas lebih tinggi dari resistivitas lempung, batulempung,
dan tanah; tetapi relatif lebih rendah bila dibanding nilai resistivitas lapisan batupasir.
Titik GL02 merupakan titik referensi karena lokasinya yang berada pada jarak sekitar
8,5 m dari sumur bor DH-8. Nilai resitivitas batubara berdasarkan titik GL02 adalah 42,1 m
untuk lapisan bagian atas dan 30,7 m untuk bagian bawah. Berdasarkan nilai resistivitas
yang diperoleh maka perlapisan batuan yang memiliki nilai resistivitas antara 30 m sampai
50 m diperkirakan merupakan lapisan batubara.
Berdasarkan hasil pengolahan data resistivitas semu pada titik sounding GL02 seperti
yang terlihat pada gambar (5) kedalaman lapisan penutup (overburden) adalah 1,2 meter
dengan nilai resistivitas 13,0 m. Lapisan kedua merupakan lapisan batupasir pada
kedalaman 1,2 m sampai 6,9 m dengan nilai resistivitas 42,1 m . Lapisan ketiga antara 6,9
m sampai 19,7 m merupakan lapisan batubara dengan resistivitas 30,7 m dan lapisan
keempat adalah lapisan batupasir dengan ketebalan 19,7 m sampai 49,0 m dengan nilai
resistivitas 92,9 m . Lapisan dengan kedalaman lebih dari 49,0 m dengan nilai resistivitas
20,7 m diperkirakan merupakan lapisan batulempung.
Berdasarkan litologi yang diperoleh untuk 40 titik sounding, perlapisan dapat
dikelompokkan menjadi 4 jenis lapisan yaitu lempung, batulempung, batubara, dan batupasir
dengan nilai resistivitas untuk setiap jenis lapisan dapat dilihat pada tabel dilampiran C.
Lapisan penutup (overburden) merupakan sisa material-material hasil penambangan
yang mengandung campuran batupasir, batulempung, dan lempung sehingga memiliki nilai
resistivitas yang sangat bervariasi. Lapisan lempung sebagai batas lapisan penutup terbentuk
karena pelarutan batulempung yang kemudian akan terendapkan pada bagian antara
permukaan sebenarnya (original surface) dengan tumpukan material yang menjadi lapisan
penutup yang juga dianggap sebagai satu lapisan dengan lapisan tanah (soil). Batas lapisan ini
memiliki resistivitas kurang dari 13 m.
Berdasarkan kontur ketebalan lapisan overburden pada terlihat bahwa daerah
penelitian memiliki elevasi yang lebih besar pada bagian barat dengan kemiringan permukaan
sebenarnya mengarah ke timur. Ketebalan lapisan overburden berkisar antara 1,2 m sampai
26,0 m. Kontur elevasi untuk permukaan sebenarnya (original surface) menunjukkan bahwa
topografi daerah penelitian, permukaan barat lebih tinggi daripada sebelah timur.
Kecenderungan lapisan overburden yang lebih tebal pada bagian timur karena
pengaruh topografi. Bagian timur penelitian yang memiliki ketinggian lebih rendah akan
memiliki lapisan overburden yang lebih tebal (Lampiran D).

VIII. KESIMPULAN
Dari hasil analisis dan interpretasi data resistivitas sounding, dapat diambil
kesimpulan bahwa didaerah penelitian :
1. Empat lapisan dominan yang terdapat di daerah penelitian yaitu lempung dengan
resistivitas antara (0,5-10,9) m, batulempung (9,0-30,6) m, batubara (30,0-49,2)
m dan batupasir (40,1-538,1) m.
226
1. Ketebalan lapisan penutup (overburden) berkisar antara 1,2 m sampai 26,0 m. Jenisnya
berupa lempung, batupasir dan batulempung yang adalah material sisa penambangan
serta lapisan tanah (soil). Ketebalan overburden semakin besar kearah timur.


Gambar (6): Contoh pengolahan data dengan Progress versi 3.0 pada titik GL02 dan nilai resistivitas batubara
berdasarkan titik sounding GL02 dengan titik bor DH-8.

351050 351150
Easting (m)
9650300
9650400
9650500
9650600
9650700
9650800
9650900
9651000
9651100
9651200
N
o
r
t
h
i
n
g
(
m
)
GL01
GL02
GL03GL04
GL05 GL06 GL07
GL08GL09 GL10
GL11
GL12
GL13
GL14
GL15
GL16
GL17
GL18
GL19
GL20
GL21
GL22
GL23
GL24
GL25
GL26
GL27
GL28
GL29
GL30
GL31
GL32
GL33
GL34
-30m
-25m
-20m
-15m
-10m
-5m
U

351050 351150
Easting (m)
9650300
9650400
9650500
9650600
9650700
9650800
9650900
9651000
9651100
9651200
N
o
r
t
h
i
n
g
(
m
)
GL01
GL02
GL03GL04
GL05 GL06 GL07
GL08GL09 GL10
GL11
GL12
GL13
GL14
GL15
GL16
GL17
GL18
GL19
GL20
GL21
GL22
GL23
GL24
GL25
GL26
GL27
GL28
GL29
GL30
GL31
GL32
GL33
GL34
351050 351150
Easting (m)
9650300
9650400
9650500
9650600
9650700
9650800
9650900
9651000
9651100
9651200
N
o
r
t
h
i
n
g
(
m
)
GL01
GL02
GL03GL04
GL05 GL06 GL07
GL08GL09 GL10
GL11
GL12
GL13
GL14
GL15
GL16
GL17
GL18
GL19
GL20
GL21
GL22
GL23
GL24
GL25
GL26
GL27
GL28
GL29
GL30
GL31
GL32
GL33
GL34
124m
134m
144m
154m
164m
174m
184m
U


Gambar (7): Kontur ketebalan lapisan overburden (kiri), elevasi titik sounding (tengah) dan elevasi
permukaan sebenarnya

UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada team akuisisi data yang telah
bekerja sama dengan baik, Bapak Rozano dari PT ESMU dan para krew lapangan Batulicin
yag telah banyak membantu.
227
PUSTAKA
Anonim, 1991, Peta Rupabumi Indonesia Lembar 1812-43 Cantung Kiri Hulu , Badan
Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), Bogor.
Grant, F.S., West, G.F., 1965, Interpretation Theory in Applied Geophysics, Mc Graw Hill
Book Company, Ney York.
Hanafie, M., 1999, Estimasi Cadangan Batubara di Daerah Banjarsari Sumatera Selatan
Berdasarkan Data Log, Skripsi Sarjana FMIPA UGM, Yogyakarta.
Parasnis, D.S., 1965, Principles of Applied Geophysics, Chapmant and Hall Ltd. London.
Rustandi, E., Nila, E.S. dan Margono, U., 1995, Peta Geologi Lembar Kotabaru, Kalimantan
Selatan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Siagian, H.P., Hutubessy, S., 2004, Penelitian Cekungan Batubara dengan Metoda
Gayaberat di Daerah Banjarmasin Kalimantan Selatan, Prosiding HAGI ke-29,
Yogyakarta.
Telford, W.M., Geldart, L. P., Sherrif, R.E., and Keys, D. A., 1976, Applied Geophysics,
Cambridge University Press, Cambridge, London, New York, Melbourne.
Thomas, L., 2002, Coal Geology, John Wiley and Sons, Ltd.,Southern Gate, Chichester, West
Sussex, England.


LAMPIRAN


Lampiran A: Susunan elektroda arus C
1
, C
2
dan elektroda potensial P
1
, P
2
pada konfigurasi Schlumberger.



Lampiran B : Peralatan yang digunakan pada metode resistivitas

L-b 2b
L
C
1
P
1
P
2
C
2
228
Lampiran C
Tabel Jenis lapisan dan nilai resistivitas berdasar data resistivitas sounding

No Jenis Lapisan Nilai Resistivitas (m)
1 Lempung 0,5 sampai 10,9
2 Batulempung 9,0 sampai 30,6
3 Batubara 30,0 sampai 49,2
4 Batupasir 40,1 sampai 538,1




Lampiran D: Model perlapisan batuan yang tertutup overburden
229
PERSOALAN OPTIMASI FAKTOR KEAMANAN MINIMUM
DALAM ANALISIS KESTABILAN LERENG DAN
PENYELESAIANNYA MENGGUNAKAN MATLAB

Anoko Kusuma Ari dan Irwandy Arif *)
*) Program Studi Teknik Pertambangan ITB.

ABSTRAK
Analisis kestabilan lereng dapat dilakukan dengan metode kesetimbangan batas yang sudah
biasa dan sering digunakan. Analisis kestabilan lereng menggunakan metode kesetimbangan
batas dapat dilakukan dengan dua langkah: pertama, perhitungan faktor keamanan terhadap
percobaan beberapa permukaan bidang runtuh kemudian faktor keamanan diambil yang
paling minimum; dan kedua, pencarian langsung faktor keamanan minimum dari sebuah
permukaan bidang runtuh kritis yang dihasilkan. Selama ini, perhitungan faktor keamanan
minimum banyak dilakukan dengan percobaan beberapa permukaan bidang runtuh dan tidak
melihat perhitungan dalam meminimumkan nilai faktor keamanan sebagai sebuah persoalan
optimasi, yang seharusnya dapat dilakukan dengan metode optimasi. Disamping itu, ada
beberapa faktor yang mempengaruhi perhitungan faktor keamanan yang menjadi bagian
penelitian ini, seperti jumlah irisan lereng, sudut dasar dan tegangan normal efektif yang
terjadi pada tiap-tiap irisan. Beberapa hal inilah yang menjadi latar belakang penelitian ini.

Optimasi faktor keamanan minimum dalam penelitian ini yang berdasarkan metode Bishop
Sederhana, dilakukan dengan menggunakan dua metode optimasi, yaitu algoritma Genetika
dan metode Quasi-Newton. Proses diawali dengan pemodelan numerik persamaan fungsi
faktor keamanan, perancangan fungsi-fungsi rutin program simulasi dan simulasi pemodelan.
Program simulasi yang diberi nama DINI ini, dirancang menggunakan MATLAB. Proses
simulasi menggunakan dua jenis model data yaitu Model I, kondisi lereng kering dan Model
II, kondisi lereng dengan permukaan phreatik air tanah. Hasil simulasi program DINI
kemudian divalidasi dengan beberapa hasil program kestabilan lereng yaitu GALENA dan
SSS (Saifuddin Arief, 1998).

Hasil simulasi program DINI, memberikan hasil yang lebih minimum jika dibandingkan
dengan hasil program GALENA dan SSS, hal ini disebabkan solusi yang diperoleh dengan
metode optimasi merupakan global optimum dari beberapa lokal minimum yang ditemukan.
Untuk Model I diperoleh nilai faktor keamanan sebesar 1.479 (DINI) dan 1.480 (GALENA),
sedangkan untuk Model II diperoleh nilai faktor keamanan sebesar 0.980 (DINI) dan 1.010
(GALENA).



Kata kunci: analisis kestabilan lereng, metode kesetimbangan batas, faktor keamanan
minimum, metode optimasi.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008

1. Pendahuluan

Analisis kestabilan lereng dengan metode kesetimbangan batas dapat dilakukan dengan
dua langkah: pertama, perhitungan faktor keamanan terhadap percobaan beberapa
permukaan bidang runtuh tertentu kemudian faktor keamanan diambil yang paling
minimum; dan kedua, pencarian langsung faktor keamanan minimum dari sebuah
permukaan bidang runtuh kritis yang dihasilkan. Selama ini, perhitungan faktor
keamanan banyak dilakukan dengan percobaan beberapa permukaan bidang runtuh (trial
slip surface) dan tidak melihat perhitungan dalam meminimumkan nilai faktor keamanan
sebagai sebuah persoalan optimasi yang seharusnya dapat dilakukan dengan metode
optimasi.

2. Analisis Kestabilan Lereng

Analisis kestabilan lereng melibatkan perbandingan sebuah gaya-gaya yang
menyebabkan tegangan dalam lereng terhadap kekuatan tanah (material) dan semua
faktor penahan atau pembebanan yang tersedia seperti dinding penahan, permukaan
phreatik atau rekahan tarik. Metode kesetimbangan batas dapat menghitung satu atau
lebih kesetimbangan persamaan, antara lain kesetimbangan gaya pada arah horizontal,
kesetimbagan gaya pada arah vertikal, dan kesetimbangan momen.

3. Metode Kesetimbangan Batas

Kestabilan lereng biasanya dianalisis dengan membagi profil lereng menjadi beberapa
bagian irisan dan menghitung faktor keamanan rata-rata dari irisan tersebut dengan
metode kesetimbangan batas. Asumsi yang umum digunakan bahwa nilai faktor
keamanan adalah sama untuk semua irisan dan tegangan geser diterapkan secara simultan
pada keseluruhan bidang runtuh longsoran. Kebanyakan longsoran bergerak secara
progresif, oleh karena itu, memungkinkan tidak adanya asumsi yang tepat bagi semua
kestabilan lereng. Terlepas dari keterbatasan tersebut, penggunaan metode ini tetap
berkembang luas dan telah banyak dibuktikan bahwa lereng dapat didesain secara aman,
mudah, dan cepat dengan metode ini.
FK =
Gaya - gaya Penahan
Gaya - gaya Penggerak
Lereng diasumsikan berada pada kondisi kritis longsoran ketika FK bernilai satu atau gaya-
gaya penahan yang tersedia seimbang dengan gaya-gaya penggerak yang ada. Secara teori,
lereng akan stabil jika FK > 1, tidak stabil jika FK < 1, dan berada dalam kondisi kritis jika
3.1 Konsep Faktor Keamanan
Dalam analisis kestabilan dengan metode kesetimbangan batas, faktor keamanan dihitung
dengan satu atau lebih dari tiga kesetimbangan persamaan, yaitu, kesetimbangan pada arah
vertikal, kesetimbangan pada arah horizontal, dan kesetimbangan momen. Faktor keamanan:
(FK) didefinisikan sebagai berikut :
FK = 1
231
1.1 Metode Irisan Biasa

Dalam metode Irisan Biasa (Ordinary Method of Slices), gaya-gaya yang bekerja seperti
distribusi tegangan normal efektif pada bidang runtuh harus diketahui. Kondisi ini pada
umumnya dianalisis dengan mendiskretisasi massa bidang runtuh lereng menjadi beberapa
bagian irisan dan mengasumsikan setiap irisan tersebut sebagai sebuah blok yang meluncur
(sliding block).

Gambar 1 Diskretisasi Irisan Lereng
(Sumber: Buku Slope Stability and Stabilization Method)

Semua metode kesetimbangan batas dalam analisis kestabilan lereng membagi bidang runtuh
menjadi buah irisan, dimodelkan pada Gambar 1. Setiap irisan dipengaruhi gaya-gaya yang
bekerja secara umum, dimodelkan pada Gambar 2. Dengan melihat Gambar 2, persamaan
kesetimbangan gaya yang terjadi dapat dimodelkan, namun juga ada beberapa persamaan
kesetimbangan yang belum diketahui. Oleh karena itu, persamaan kesetimbangan yang belum
diketahui dapat dikurangi dengan membuat beberapa asumsi sederhana. Asumsi yang umum
dibuat adalah tegangan normal pada dasar irisan bekerja pada titik tengah irisan.

Gambar 2 Gaya-gaya dalam Irisan
(Sumber: Buku Slope Stability and Stabilization Method)

Gambar 3 Perumusan Permukaan Bidang Runtuh
1.1 Metode Irisan Biasa

Dalam metode Irisan Biasa (Ordinary Method of Slices), gaya-gaya yang bekerja seperti
distribusi tegangan normal efektif pada bidang runtuh harus diketahui. Kondisi ini pada
umumnya dianalisis dengan mendiskretisasi massa bidang runtuh lereng menjadi beberapa
bagian irisan dan mengasumsikan setiap irisan tersebut sebagai sebuah blok yang meluncur
(sliding block).

Gambar 1 Diskretisasi Irisan Lereng
(Sumber: Buku Slope Stability and Stabilization Method)

Semua metode kesetimbangan batas dalam analisis kestabilan lereng membagi bidang runtuh
menjadi
232
Penurunan rumus dalam metode irisan biasa banyak menggunakan prinsip persamaan garis
lurus dan persamaan lingkaran pada Gambar 3, dalam penelitian ini menggunakan analisis
dari kiri ke kanan (left to right analysis) pada model lereng, selanjutnya dijabarkan sebagai
berikut:

Pertama-tama, ordinat puncak pada lereng dan ordinat kaki pada lereng harus ditentukan
berdasarkan sistem persamaan garis lurus, didapat persamaan titik ordinat pada puncak lereng
:
................................... (2.2)
dan, persamaan titik ordinat pada kaki lereng ( ):
............. (2.3)
selanjutnya, sudut (Gambar 3) yang mengapit radius busur dengan titik pusat
ditentukan dengan persamaan:
....... (2.4)
Irisan vertikal lereng dibuat berdasarkan diskretisasi bagian-bagian dari sudut sebanyak
irisan yang ditentukan dengan persamaan:
.......................................... (2.5)
kemudian sudut (Gambar 3) ditentukan dengan persamaan:
........................... (2.6)
lalu sudut (Gambar 3) ditentukan dengan persamaan:
........................... (2.7)
Jika nilai telah diketahui maka dapat ditentukan titik pusat busur lingkaran
tersebut melalui persamaan:
............... (2.8)
................ (2.9)
setelah titik pusat diketahui, dilanjutkan dengan mencari absis batas kanan dan kiri tiap-
tiap irisan dan (Gambar 3):
........... (2.10)
... (2.11)
dengan didapatnya absis batas kanan dan absis batas kiri , dapat dihitung ordinat batas
kanan dan ordinat batas kiri (Gambar 3), dengan persamaan:
.... (2.12)
..... (2.13)
kemudian absis titik tengah tiap-tiap irisan dan sudut dasar tiap-tiap irisan (Gambar 3),
233
234
235
236
237
238
1. Mutasi
Setelah proses persilangan, maka pada individu-individu ini akan dilakukan proses mutasi.
Operator genetika ini memodifikasi setiap gen atau bit. Proses mutasi dalam AG
mempunyai peranan penting dalam mengeksploitasi daerah solusi global untuk mencari
individu terbaik. Dengan mutasi diharapkan solusi untuk terjebak di dalam optimum lokal
dapat direduksi.
2. Terminasi
Setelah melewati proses evaluasi, persilangan dan mutasi, maka AG akan menghasilkan
populasi baru. Selanjutnya, populasi baru ini akan diuji apakah sudah memenuhi kriteria
penghentian.

Algoritma Genetika dengan enam langkah utama yang telah dijabarkan tersebut untuk
selanjutnya disebut sebagai Algoritma Genetika Sederhana. (David E. Goldberg, 1989).

Berikut ini merupakan diagram alir Algoritma Genetika:
START
INISIASI POPULASI
(XR, XL, R, Z)
EVALUASI
KONDISI GENERASI
REPRODUKSI
PERSILANGAN
MUTASI
GENERASI
I = I + 1
STOP
GENERASI AWAL
I = 1
ITERASI
|FSn+1 FSn| < 10
-7
FSn
FSn+1
FUNGSI
FITNESS
(FS Objektif )
GENERASI
AKHIR
(XR, XL, R, Z)
TIDAK
TIDAK
FAKTOR
KEAMANAN
(FS)
YA
YA
Gambar 7 Diagram Alir Algoritma Genetika
1.1 Quasi-Newton

Dalam penelitian tidak dibahas secara detail tentang Quasi-Newton karena penggunaan
metode dalam pemodelan program menggunakan optimization toolbox yang telah ada dalam
MATLAB. Oleh karena itu, hanya dijelaskan gambaran umum dari metode ini.

Metode Quasi-Newton berbasis pada metode Newton dalam menemukan titik stasioner
sebuah fungsi, dimana gradien fungsi tersebut adalah nol. Dalam metode Newton, fungsi
persamaan dapat secara lokal diaproksimasi sebagai persamaan kuadrat di sekitar daerah
239
240
5.1 Diagram Alir Pemodelan Program

Berikut ini merupakan diagram alir dalam membuat pemodelan program:
METODE KESETIMBANGAN BATAS
Irisan Biasa,
Bishop yang Disederhanakan
HASIL OPTIMASI
Geometri Bidang Runtuh,
Laporan Perhitungan,
Faktor Keamanan
ALGORITMA
GENETIKA
METODE
QUASI-NEWTON
METODE
OPTIMASI
PROSES
OPTIMASI
DATA MODEL LERENG
Koordinat, Profil,
Properti, Irisan Material
Permukaan Phreatik,
Rekahan Tarik
KONDISI BATAS
GEOMETRI BIDANG
RUNTUH
ANALISIS
HASIL OPTIMASI
(DINI)
VALIDASI
HASIL OPTIMASI
(GALENA)
KONDISI DAN KOREKSI
YA
TIDAK
START
STOP
HASIL OPTIMASI
AKHIR
Gambar 8 Diagram Alir Pemodelan Program

5.2 Proses Pemodelan Program

Setelah membuat diagram alir pemodelan program, proses dilanjutkan dengan menuangkan
alur pemodelan dalam perancangan kode-kode script program dengan MATLAB berupa m-
files. Perancangan program simulasi ini dibagi dalam 5 langkah penting, yaitu:
1. Perancangan fungsi rutin yang akan mengeksekusi proses pemasukan data (input).
2. Perancangan fungsi rutin yang akan mengeksekusi proses optimasi dengan Algoritma
Genetika dan Quasi-Newton.
3. Perancangan fungsi rutin yang akan mengeksekusi proses pengeluaran hasil (output)
berupa perhitungan dan grafik.
4. Perancangan fungsi rutin yang akan mengeksekusi proses penyimpanan data dan hasil.
5. Penggabungan semua fungsi rutin dari 4 langkah sebelumnya dalam tampilan antarmuka
atau graphical user interface (GUI) program simulasi.

Fungsi rutin m-files merupakan tempat kode-kode script pemrograman MATLAB yang akan
dituangkan. Fungsi rutin tersebut dibuat melalui Objek Editor Pemrograman dalan MATLAB.

241
6. Validasi dan Analisis

Dalam penelitian ini, dibuat dua buah skenario simulasi lereng yang umum terjadi, yaitu
lereng kering (Model I) dan lereng dengan permukaan phreatik air tanah (Model II).

6.1 Model I

Data yang digunakan dalam Model I adalah model lereng Sarma (1996) dalam buku Slope
Stability and Stabilization Methods 2
nd
Edition halaman 370. Kondisi lereng adalah kering
dan jenis material dalam lereng adalah homogen. Data Model I yang disimulasikan pada
program DINI, sebagai berikut:

Tabel 1 Data Model I
Parameter Nilai
Kohesi 20 kPa
Sudut Ges ek Dal am 20
Berat Jeni s 16 kN/m
Ti nggi Lereng 20 m
Perbandi ngan H : V 2 : 1
Properti Materi al Lereng
Topografi Lereng

Berikut ini merupakan permukaan bidang runtuh Model I yang diperoleh dari hasil program
DINI:

Algoritma Genetika,

Gambar 9 Permukaan Bidang Runtuh
Model I (Algoritma Genetika)
242
Quasi-Newton,

Gambar 10 Permukaan Bidang Runtuh
Model I (Quasi-Newton)

Berikut ini merupakan perbandingan nilai variabel permukaan bidang runtuh Model I yang
diperoleh dari hasil program DINI dan GALENA:

Tabel 2 Perbandingan Hasil Variabel
Permukaan Bidang Runtuh
DINI - AG DINI - QN GALENA
XR 66.269 66.017 66.270
XL 20.000 19.997 20.000
R 45.447 44.827 45.450
Model I *)
Vari abel

*) satuan nilai dalam meter
Berikut ini merupakan faktor keamanan minimum Model I yang diperoleh dari hasil program
DINI:

Tabel 3 Perbandingan Faktor Keamanan
Model I Program DINI dan GALENA
DI NI GALENA
Model I 1.479 1.480 0.001
Model
Faktor Kea manan
Sel i s i h


Khusus untuk Model I, hasil yang diperoleh juga dibandingkan dengan hasil program SSS
oleh Saifuddin Arief (Teknik Perambangan ITB, 1998), sebagai berikut:

Tabel 4 Perbandingan Hasil Perhitungan
Model I Program DINI dan SSS
DINI - AG DINI - QN SSS
XR
66.269 66.017 66.000
X
L
20.000 19.997 20.000
R 45.447 44.827 45.080
FK 1.479 1.479 1.483
Variabel
Nilai *)

*) kecuali FK, semua satuan nilai variabel dalam meter
243
6.2 Model II

Data yang digunakan Model II sama seperti data yang digunakan Model I, hanya diasumsikan
adanya permukaan phreatik air tanah,dan untuk titik permukaan phreatik air tanah ditentukan
manual. Data Model II yang disimulasikan pada program DINI, sebagai berikut:

Tabel 5 Data Model II
Parameter
Kohes i
Sudut Ges ek Dal am
Berat Jeni s
Ti nggi Lereng
Perbandi ngan H : V
Ti ti k X *) Y *)
1 0 10
2 20 10
3 31 14
4 43 18
5 50 20
6 64 28
7 70 28
8 80 30
9 100 30
Properti Materi al Lereng
Topografi Lereng
Permukaan Phreati k Ai r Tanah
Nilai
20 kPa
20
16 kN/m
20 m
2 : 1

*) satuan dalam meter

Berikut ini merupakan permukaan bidang runtuh Model II yang diperoleh dari hasil program
DINI:

Algoritma Genetika,

Gambar 11 Permukaan Bidang Runtuh
Model II (Algoritma Genetika)


Quasi-Newton,
244

Gambar 12 Permukaan Bidang Runtuh
Model II (Quasi-Newton)

Berikut ini merupakan perbandingan nilai variabel permukaan bidang runtuh Model II yang
diperoleh dari hasil program DINI dan GALENA:

Tabel 6 Perbandingan Hasil Variabel
Permukaan Bidang Runtuh
DINI - AG DINI - QN GALENA
XR 75.103 74.777 75.100
XL 13.118 13.460 13.120
R 44.428 44.025 44.430
Model II *)
Vari abel

*) satuan nilai dalam meter
Berikut ini merupakan faktor keamanan minimum Model II yang diperoleh dari hasil program
DINI:

Tabel 7 Perbandingan Faktor Keamanan
Model II Program DINI dan GALENA
DI NI GALENA
Model I I 0.980 1.010 0.030
Model
Faktor Kea manan
Sel i s i h



1. Kesimpulan

Dari perhitungan dan optimasi faktor keamanan minimum dengan algoritma Genetika dan
metode Quasi-Newton dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
1. Permukaan bidang runtuh dan faktor keamanan minimum yang dihasilkan program DINI
ini memiliki nilai yang tidak jauh berbeda dengan nilai yang dihasilkan program GALENA
(Model I dan Model II) dan SSS (Model I).
2. Penentuan faktor keamanan minimum dapat diperoleh melalui metode optimasi dengan
menghasilkan langsung permukaan bidang runtuh kritis, tanpa melakukan percobaan
beberapa permukaan bidang runtuh (trial slip surface) yang akan menghasilkan faktor
keamanan minimum terhadap beberapa titik pencarian.
245
1. Penyelesaian persamaan-persamaan yang terbentuk pada metode kesetimbangan batas
merupakan persamaan non-linier.
2. Penggunaan simulasi program komputer merupakan suatu keharusan dalam analisis
kestabilan lereng.

8. Saran

Beberapa saran yang dapat dilakukan untuk menyempurnakan penelitian ini adalah:
1. Simulasi program masih terbatas pada dua model yang ditentukan, belum memasukkan
faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng yang lain, seperti kondisi seismik
gempa, kondisi material lereng yang non-homogen.
2. Penerapan metode kesetimbangan batas yang lain, seperti metode Janbu Sederhana,
metode Kesetimbangan Batas Umum, metode Sarma, metode Spencer, metode
Morgenstein-Price, dan lainnya.
3. Penerapan metode optimasi yang lain, seperti metode Levenberg-Marquardt, metode
Conjugate Gradient, metode Simplex, dan lainnya.

9. Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap pihak Program
Studi Teknik Pertambangan ITB yang telah memberikan dukungannya.

10. Daftar Pustaka

[1] Abramson, L. W., Lee, T. S., Sharma, S., dan Boyce, G. M., Slope Stability and
Stabilization Methods 2
nd
Edition, John Wiley & Sons Inc., New York, 2002.
[2] Hoek, E. dan Bray, J. W., Rock Slope Engineering Revised 3
rd
Edition, Institution of
Mining and Metallurgy, London, 1981.
[3] Program SLOPE/W, Reference, Dokumen PDF, 2007.
[4] Arif, Irwandy, Metode Kesetimbangan Limit, Diktat Kuliah Geoteknik Tambang, 2005.
[5] Arief, Saifuddin, Prosedur Penyelesaian dan Program Komputer Untuk Analisis
Kemantapan Lereng dengan Metode Kesetimbangan Batas, Tugas Akhir, Perpustakaan
Teknik Pertambangan ITB, 1998.
[6] March, Patrick dan Holland, Thomas, Graphics and GUIs with Matlab, Dokumen PDF
CRC Press LLC. 2003.
[7] Goldberg, David E., Genetic Algorithm in Search, Optimization, and Machine Learning,
Addison-Wesley Publishing Company Inc., 1989.
[8] Wikipedia: The Free Encyclopedia, Genetic Algorithm, Dokumen Online Internet.
[9] Wikipedia: The Free Encyclopedia, Quasi-Newton method, Dokumen Online Internet.
246
KONTRIBUSI PEMASANGAN CABLE BOLT DALAM
MENAHAN PERPINDAHAN MASSA BATUAN
PADA TAMBANG BAWAH TANAH

Barlian Dwinagara
1)
, Ridho K. Wattimena
2)
, Irwandy Arif
2)

1)
Jurusan Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta, Jl. SWK. 104 Condong
Catur, Yogyakarta 55283,Telp.:0274-486701,Fax.:0274-486702,
E-mail:barlian@prismaexploma.com
2)
Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa No. 10
Bandung 40132, Telp.: 022-2502239, 2508131, Fax.: 022-2504209


Abstrak

Perpindahan massa batuan akibat adanya redistribusi tegangan di dalam lubang bukaan
tambang bawah tanah seringkali melampaui batas perpindahan yang diijinkan. Besarnya batas
perpindahan ini didasarkan pada kriteria perpindahan yang diusulkan oleh beberapa penulis
sebelumnya. Dua kriteria yang dapat dijadikan acuan adalah berdasarkan pada besar dan laju
perpindahan.

Jika perpindahan massa batuan telah melampaui batas kriteria aman sehingga lubang bukaan
berpotensi menjadi tidak stabil, perlu dilakukan upaya untuk mengatasi perpindahan tersebut.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemasangan cable bolt. Dalam tulisan
ini akan dibahas kontribusi pemasangan cable bolt terhadap perpindahan massa batuan.
Pengukuran perpindahan dilakukan dengan konvergenmeter.

Kata kunci: perpindahan massa batuan, kriteria perpindahan, cable bolt


Abstract

Rock mass displacement as a result of stress redistribution in underground mine opening
oftentimes exceeding of allowable maximum displacement. Level of maximum displacement
based on displacement criteria which have been proposed by some researcher previously. Two
criteria that can be referenced is based on magnitude and rate of displacement.

If rock mass displacement have is exceeding limit of safety criteria so that underground
opening have potency to be unstable that require effort to handle the displacement. One of the
efforts is with installation of cable bolt. In this paper will be discussed the contribution of
cable bolt installation to rock mass displacement. Measurement of displacement conducted
using convergencemeter.

Keyword: rock mass displacement, criteria of displacement, cable bolt
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
PENDAHULUAN
Di luar dari banyaknya teknik pemantauan yang ada, pengukuran perpindahan di lubang
bukaan bawah tanah terbukti paling bermanfaat. Ada dua alasan utama, pertama, perpindahan
adalah suatu kuantitas yang bisa diukur secara langsung dan dipantau secara kontinu (dan
relatif lebih mudah). Kedua, pengukuran perpindahan memberikan informasi mengenai
pergerakan keseluruhan massa batuan dalam daerah pengukuran dan tidak menampilkan
variabilitas yang besar seperti perubahan pada saat kuantitas diukur pada suatu titik
(contohnya regangan atau tekanan). Pemantauan perpindahan ini dapat digunakan sebagai
parameter untuk menilai stabilitas bukaan bawah tanah.
Dalam banyak kasus di dalam bukaan bawah tanah, perpindahan massa batuan yang diukur
seringkali melampaui batas perpindahan yang diijinkan. Walaupun kenyataan bukaan
tambang bawah tanah tersebut tidak runtuh, namun tetap harus diwaspadai bahwa
perpindahan yang besar dapat berpotensi mengakibatkan runtuhan. Untuk itu harus dilakukan
upaya untuk menahan peningkatan perpindahan agar tidak semakin besar atau jika
memungkinkan peningkatan perpindahan tersebut dapat dihentikan. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan adalah dengan memberikan penyangga tambahan, misalnya dengan cable
bolt.
LOKASI DAN INSTRUMEN PEMANTAUAN
Salah satu tambang yang telah menerapkan pemasangan cable bolt sebagai penyangga
tambahan adalah tambang emas bawah tanah di Cibaliung. Tambang ini terletak di Desa
Citeluk, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. Saat ini tambang di
Cibaliung sedang dalam tahap development dengan membuat jalan masuk utama berupa
decline untuk mencapai bijih. Decline yang sedang dibuat dinamakan Cikoneng decline dan
Cibitung decline. Pemantauan perpindahan dalam proses development tersebut telah
dilakukan dengan membuat station pemantauan pada setiap jarak 5 m sepanjang decline.
Beberapa lokasi di dalam decline, telah menunjukkan peningkatan perpindahan yang
signifikan sehingga perlu dipasang cable bolt. Lokasi-lokasi tersebut, khususnya di Cikoneng
decline yaitu di Ch.369,5; Ch.377; Ch.381; Ch.386; Ch.391; Ch.407; dan Ch.412. Istilah Ch
(chainage) adalah menunjukkan jarak lokasi tersebut dari portal dalam satuan meter. Sudut
kemiringan decline rata-rata 14% dan portal Cikoneng berada pada ketinggian 179,79 m dpa.
Cikoneng decline terletak pada batuan hangingwall dengan litologi dominan adalah andesit
breksi, andesit porpiri dan andesit dengan type alterasi smectite dan clay. Pemantauan
dilakukan dengan menggunakan instrument konvergenmeter, yaitu Ealey Digital Tape
Extensometer (lihat Gambar 1)
248

Gambar 1. Ealey Digital Tape Extensometer
KRITERIA PERPINDAHAN
Dua parameter perpindahan yang dapat digunakan sebagai kriteria kemantapan lubang bukaan
adalah besar perpindahan dan kecepatan perpindahan.
1. Besar perpindahan.
Kondisi batuan mengalami ketidakstabilan apabila perpindahan yang teramati lebih besar
dibandingkan perpindahan yang diperkirakan dari teori elastik. Berdasarkan pengamatan
di 13 lubang bukaan bawah tanah besar, Cording (1974) mengemukakan bahwa
perpindahan dan loosening sepanjang bidang lemah mulai terjadi ketika perpindahan yang
teramati tiga kali lebih besar dari perpindahan elastiknya. Jika perpindahan tersebut
melebihi perhitungan perpindahan elastik sebesar lima sampai sepuluh kali, maka
prosedur penggalian dan penyanggaan harus dimodifikasi untuk menghindari pergerakan
yang lebih besar.
2. Kecepatan perpindahan.
Dalam menentukan kriteria kestabilan berdasarkan kecepatan perpindahan, Cording
(1974), tidak menyertakan data tentang kondisi massa batuan, jenis penyangga yang
dipakai, dan tempat pemantauan yang dilakukan. Berdasar-kan hasil pengamatan
disebutkan bahwa dinding lubang bukaan bawah tanah dikategorikan stabil jika kecepatan
perpindahannya 0,001 mm/hari. Kecepatan perpindahan 0,05 mm/hari sudah tergolong
besar dan membahayakan untuk ruang penggalian yang besar (misal ruang pembangkit
tenaga listrik bawah tanah). Jika dinding lubang bukaan mengalami kecepatan
perpindahan melebihi 1 mm/hari maka penyangga harus ditambah karena sudah sangat
membahayakan.
Zhenxiang (1984) melakukan hal serupa dengan mengadakan pengamatan kecepatan
perpindahan pada terowongan di Xiaken dan Lingqian (Cina). Kedua terowongan tersebut
mempunyai lebar sekitar 6 m dengan tebal over-burden 20 m sampai 24 m, dan massa
249
batuan pembentuk lubang bukaan mem-punyai nilai Q yang berkisar 0,067 sampai 0,208
(massa batuan masuk dalam kategori sangat buruk sekali sampai sangat buruk).
Penyanggaan setelah peng-galian dilakukan dengan memberi lapisan shotcrete setebal 5
cm pada dinding lubang, kemudian dikombinasi dengan memasang baut batuan panjang 2
m se-tiap spasi 1 m. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa dinding lubang dikate-
gorikan stabil jika mengalami perpindahan dengan kecepatan 0,2 mm/hari. Perpindahan
dinding dengan kecepatan 3 mm/hari dikategorikan belum cukup aman, kecepatan
perpindahan sebesar itu perlu diperkecil dengan menambahkan sistim penyangga yang ada
(dalam kasus terowongan Xiaken dan Lingqian dilakukan dengan menambah jumlah baut
batuan). Bila kecepatan perpindahan turun hingga mencapai 1 mm/hari, merupakan
pertanda bahwa dinding lubang sedang mencapai tahap awal untuk menuju kondisi stabil.
Bila kecepatan perpindahan mencapai 10 mm/hari dinding lubang dikategorikan
berbahaya Resume kriteria kecepatan perpindahan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria kecepatan perpindahan
Cording, 1974 Zhenxiang, 1984
Aman < 0,001 < 0,2
Besar 0,05 3
Berbahaya 1 10
Kecepatan perpindahan (mm/hari)
Kriteria
Klas massa batuan tidak
dijelaskan
Klas massa batuan
Q = 0,067 - 0,208

PROPERTIES MASSA BATUAN
Berdasarkan pada hasil perhitungan yang dilakukan oleh LAPI-ITB, 2007 massa batuan di
Cibaliung secara umum mempunyai properties seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Properties Massa batuan
No. Properties Nilai
1. Klas massa batuan (Q) 0,35
2. Kuat tekan uniaksial (
cm
) 0,63 MPa
3. Modulus Young (E
m
) 1,27 GPa
4. Kohesi (C
m
) 0,20 MPa
5.
Sudut geser dalam (
m
)
25
0


Type batuan di daerah Cibaliung, khususnya di Cikoneng decline didominasi oleh Andesit
porphiry. Klasifikasi massa batuan dengan melihat nilai Q rata-rata termasuk dalam kelas
buruk dengan perilaku dominan adalah plastis.
250
GROUND SUPPORT
Konsep awal rekomendasi penyangga yang dibuat berdasarkan pada klasifikasi massa batuan,
namun pada aplikasinya disesuaikan dengan kondisi massa batuan dan struktur serta material
penyangga yang tersedia. Penyangga utama yang diaplikasikan adalah fibre reinforced
shotcrete, weldmesh + split set dan fully grouted rebar. Penyangga tambahan yang digunakan
pada kondisi massa batuan tertentu adalah steel set, fore polling dan cable bolt.

DATA HASIL PEMANTAUAN
Pemantauan perpindahan massa batuan dilakukan dengan memasang baut konvergen di
dinding kiri dan kanan sehingga hasil yang didapat adalah perbedaan jarak horisontal pada
setiap interval waktu pengukuran yang dilakukan setiap hari.
Beberapa station yang menunjukkan adanya peningkatan perpindahan dan telah dilakukan
pemasangan penyangga tambahan cable bolt, khususnya di Cikoneng decline adalah pada Ch.
369,5; Ch. 277; Ch. 381; Ch. 386; Ch. 391; Ch.407; dan Ch. 412. Data hasil pemantauan
dibuat grafik yang menggambarkan hubungan antara besar perpindahan dengan kumulatif
waktu, secara berurutan terlihat pada Gambar 2 8.

Gambar 2. Grafik hasil pemantauan pada Ch. 369,5


Gambar 3. Grafik hasil pemantauan pada Ch. 377
Install cable bolt
Install cable bolt
251

Gambar 4. Grafik hasil pemantauan pada Ch. 381


Gambar 5. Grafik hasil pemantauan pada Ch. 386


Gambar 6. Grafik hasil pemantauan pada Ch. 391
Install cable bolt
Install cable bolt
Install cable bolt
252

Gambar 7. Grafik hasil pemantauan pada Ch. 407

Gambar 8. Grafik hasil pemantauan pada Ch. 412
Terlihat pada grafik hasil pemantauan di atas, cable bolt mulai dipasang pada saat kecepatan
perpindahan menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Panjang cable bolt yang dipasang adalah 6
m dan dalam satu lokasi penampang dipasang 5 buah cable bolt.

ANALISIS HASIL PEMANTAUAN
Lokasi tambang emas Cibaliung saat ini sedang dalam tahap development dengan membuat
decline sebagai jalan masuk utama tambang yang merupakan bukaan permanen selama umur
tambang. Untuk itu perlu dilakukan pemantauan yang intensif dan kontinyu terhadap segala
perubahan yang terjadi pada massa batuan. Hal ini sangat disadari mengingat jika terjadi
keruntuhan pada jalan masuk tambang tersebut akan mengakibatkan kerugian baik material
maupun waktu yang sangat besar.
Menurut Dwinagara (2008), berdasarkan pada kelas dan perilaku massa batuan, kriteria
perpindahan untuk analisis kemantapan lubang bukaan yang sesuai untuk massa batuan di
Cibaliung adalah kriteria Zhenxiang (1984). Dari hasil pemantauan pada tujuh lokasi (lihat
Gambar 2 8), kecepatan perpindahan pada sekitar 50 hari pertama menunjukkan nilai yang
cukup tinggi (lihat Tabel 3). Sebelum dipasang cable bolt seluruh kecepatan perpindahan
yang terukur tersebut masuk dalam kategori besar menurut kriteria Zhenxiang (1984).
Install cable bolt
Install cable bolt
253
Tabel 3. Kecepatan perpindahan
Kecepatan perpindahan
(mm/hari) No Ch
sebelum Sesudah
Perubahan
kecepatan
perpindahan
1 369,5 0,90 0,16 17 %
2 377 0.89 0,27 30 %
3 381 0.72 0,28 39 %
4 386 1,19 0,45 38 %
5 391 2,15 0,56 26 %
6 407 1,83 0,42 23 %
7 412 0,35 0,08 23 %
Catatan: sebelum dan sesudah pemasangan cable bolt
Dengan melihat besarnya kecepatan perpindahan tersebut, maka telah diputuskan pemasangan
penyangga tambahan yaitu cable bolt. Hasil pemantauan setelah pe-masangan cable bolt,
menunjuukan terjadinya penurunan perpindahan yang cukup signifikan. Kontribusi
pemasangan cable bolt untuk menahan perpindahan massa batuan, ternyata dapat menurunkan
kecepatan perpindahan hingga 17% pada kurun waktu sekitar 100 hari berikutnya (lihat Tabel
3). Kecepatan perpindahan ini diperkirakan akan terus menurun hingga ke batas aman seiring
dengan perbaikan metode penyanggaan yang dilakukan.

KESIMPULAN
Beberapa lokasi di dalam Cikoneng decline menunjukkan kecepatan perpindahan yang masuk
dalam kategori besar, sehingga perlu dilakukan pemasangan penyangga tambahan untuk
menahan perpindahan tersebut. Pemasangan cable bolt dapat memberikan kontribusi positip
untuk menurunkan kecepatan perpindahan massa batuan hingga mencapai 17% terhadap
kecepatan perpindahan semula.

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada manajemen PT. Cibaliung Sumberdaya yang telah
memberikan kesempatan sehingga dapat melakukan pengukuran perpindahan massa batuan.

DAFTAR PUSTAKA
Bieniawski, Z.T. (1989), Engineering Rock Mass Classifications, a Complete Manual for
Engineers and Geologists in Mining, Civil, and Petroleum Engineering, a Wiley-
Interscience Publication, John Wiley & Sons, Inc., New York, 51 69.
Cording, J.E., Mahar, W.j., and Brierley, 1974, Observation for Shallow Chamber in Rock,
Proceedings of International Symposium Field Measurement in Rock Mechanick,
(ed. Kovari, K.), Vol. II, pp. 485 -508, Zurich, AA. Balkema, Rotterdam.
Dwinagara, B., 2008, Analisis Kestabilan Tambang Bawah Tanah Berdasarkan Data
Konvergenmeter, Seminar Nasional Pertambangan Innovations Toward Profitable
Underground Mining, HMT-ITB.
254
Zhenxiang, X.A., 1984, Tunnel Design Method Using Field Measurement Data, Proceeding
of ISRM Symposium Design and Performance of Underground Excavation, (ed.
Brown, E.T. and Hudson, J.A.), pp. 221 229, Cambridge UK, British
Geotechnical Society, London.
--------------- (2003), Laporan Penelitian Tripartit, Pemantauan Perpindahan Massa Batuan
Dengan Ekstensometer, Konvergenmeter dan Borehole Camera di Tambang Emas
Pongkor, Kerjasama Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor - Unit Bisnis
Pertambangan Emas Pongkor PT. Aneka Tambang, Department of Earth
Resources Engineering - Kyushu University, Department of Mining Engineering
ITB.
--------------- (2007), Report No.1 Evaluation of Cikoneng Decline Support, Geotechnical
Consulting Work PT. Cibaliung Sumberdaya, PT. LAPI ITB
255
SISTEM PENIMBUNAN BATUBARA PADA STOCKPILE PELABUHAN
DI TAMBANG TERBUKA PT. ARUTMIN INDONESIA ASAM-ASAM
KALIMANTAN SELATAN


Edy Nursanto
Reza Supianto
Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta
Jl. SWK 104, Lingkar Utara Condong Catur, Yogyakarta 55283
Email : edynursantoyyk@yahoo.com.au





Abstrak


Sistem penambangan yang diterapkan oleh PT.Arutmin Indonesia Asam-asam site
mine pit adalah sistem tambang terbuka (Surface Mining) dengan metode Strip mine yang
kegiatan penambangannya meliputi : pembukaan lokasi tambang dan pembersihan lahan,
pengupasan lapisan tanah penutup, penggalian dan pengangkutan batubara dari pit ke ROM
stockpile.
Stockpile adalah suatu tempat penimbunan sementara untuk menampung batubara
hasil pembongkaran dari tambang. Tempat penimbunan batubara (stockpile) dibagi dalam dua
tempat, yaitu di sebelah timur dengan luas 8.850 m2 dan sebelah Barat dengan luas 8.640 m2.
Kapasitas stockpile berdasarkan perhitungan adalah 54.407 ton, terdiri dari kapasitas
timbunan sebelah timur sebesar 27.985 ton dan kapasitas timbunan sebelah barat sebesar
26.422 ton, jumlah batubara yang ditimbun sebesar 48.889 ton, terdiri dari timbunan batubara
di sebelah timur sebesar 31.794 ton dan batubara yang ditimbun di sebelah barat sebesar
17.095 ton.
Penimbunan batubara disebarkan atau dicurahkan oleh stacker. Setelah tinggi
timbunan batubara mencapai 7 m , kemudian stacker bergerak mundur kearah selatan
sambil tetap mencurahkan dan mengatur batubara ke tempat penimbunan. Bentuk timbunan
batubara bagian timur adalah berbentuk trapesium, sedangkan untuk timbunan batubara
bagian barat adalah berbentuk kerucut. Batubara yang di timbun pada Stockpile lamanya
berkisar 3 minggu untuk timbunan di bagian barat, sedangkan 5 minggu untuk timbunan
di bagian timur.


Kata kunci : Batubara, Stockpile, Bentuk timbunan
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
I. PENDAHULUAN

PT. Arutmin Indonesia adalah salah satu perusahaan batubara yang terdapat di
Kalimantan Selatan, yang didirikan pada tahun 1972 merupakan nota kesepakatan kerjasama
antara PT. Arutmin Indonesia dengan Puskoppolda Kalsel di areal Perjanjian Kontrak Karya
Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) milik PT. Arutmin Indonesia di wilayah DU
322/ Kalsel. Puskoppolda bergerak di bidang pertambangan batubara mulai 16 Juli 2002.
Pekerjaan penambangan batubara diserahkan ke sub kontraktor berupa Surat Penunjukan
Kerja (SPK).
Sistem penambangan yang diterapkan oleh PT.Arutmin Indonesia Asam-asam site
mine pit adalah sistem tambang terbuka (Surface Mining) dengan metode Strip mine yang
kegiatan penambangannya meliputi : pembukaan lokasi tambang dan pembersihan lahan,
pengupasan lapisan tanah penutup, penggalian dan pengangkutan batubara dari pit ke ROM
stockpile, pengangkutan batubara dari ROM stockpile ke crushing plant dikerjakan kepada
kontraktor PT. Pama Persada Nusantara, PT.Cenko, dan PT. Bokormas sebagai kontraktor
yang beroperasi di wilayah Kuasa Pertambangan PT. Arutmin Indonesia site Asam-asam.
Persediaan batubara yang ada di pelabuhan PT. Tambang Batubara Arutmin saat ini
ditampung di lapangan terbuka. Berdasarkan hasil perhitungan, maka luas daerah tempat
penimbunan batubara secara keseluruhan adalah sebesar + sebesar 17.490 m
2
. Dimana tempat
penimbunannya dibagi menjadi 2 yaitu bagian barat ( 8.850 m
2
) dan timur (8.640 m
2
) dan
menampung batubara sebesar 48.889 ton. Pengangkutan batubara dari tambang batubara
Asam-asam menuju ke pelabuhan meggunakan DT V8 340 Nissan Diesel dengan jarak + 13,2
Km. Rencana produksi batubara tahun 2005 adalah sebesar 1.204.500 ton/tahun.
Dalam studi perencanaan teknis penimbunan batubara harus dipenuhi syarat-syarat
penimbunan, sehingga batubara akan dapat tersimpan dengan aman, baik kuantitasnya
maupun lingkungan tempat penimbunan batubara.


II. SISTEM PENIMBUNAN BATUBARA

1. Tujuan Penimbunan
Penimbunan batubara bertujuan antara lain :
a. Pengangkutan batubara yang tidak dapat langsung dilakukan ke tempat pembeli
karena harus melalui beberapa tahapan suatu pengangkutan batubara atau digunakan
alat angkut batubara yang berbeda.
b. Digunakan untuk kegiatan pencampuran (blending) untuk mendapatkan kualitas
batubara tertentu sesuai dengan permintaan pasar atau pembeli.
c. Sebagai persediaan untuk mengatasi sekiranya ada hambatan dalam penerimaan
batubara dari Tambang ke Pelabuhan batubara, sehingga apabila batubara diperlukan
dalam pengiriman atau pengapalan maka batubara telah tersedia.

2. Syarat Teknis Penimbunan
Dasar-dasar perencanaan teknis penimbunan batubara meliputi :
a. Tempat dibawah timbunan batubara harus stabil dan bersih dari potongan logam.
b. Air rembesan dari air hujan harus dapat dengan mudah dialirkan keluar timbunan
batubara.
Untuk batubara bituminuous yang ditimbun lebih dari 30 hari tinggi timbunan batubara
maksimal 6 meter. Penimbunan dan pembongkaran batubara sebaiknya
257
secara rotasi, yaitu yang masuk pertama juga harus keluar pertama pula. Batubara
jenis lignit ditimbun paling lama 14 hari, dengan tinggi timbunan tidak lebih 4 meter.
d. Untuk penimbunan batubara dalam jangka waktu yang lama timbunan batubara
dipadatkan. Bila mungkin pemadatan dilakukan dengan menggunakan alat pemadat
yang mempunyai ban karet. Lereng timbunan batubara maksimal 20 dari bidang
datar dengan ketingian timbunan batubara tergantung pada kemantapan tanah.
Dalam perencanaan penimbunan batubara ini, masih menggunakan lokasi penimbunan
yang lama sehingga tidak perlu menyediakan tempat penimbunan batubara yang baru. Karena
tempat penimbunan lama masih ada batubara yang ditimbun, maka harus dilakukan
pembongkaran dahulu. Batubara yang ditimbun ini merupakan campuran antara batubara
kasar dan batubara halus, karena sebelum dipasarkan ke pembeli harus dilakukan pengecilan
ukuran batubara (crushing) sesuai permintaan atau pesanan pembeli. Sedangkan apabila
pembeli tidak menghendaki adanya pengecilan ukuran batubara (crushing), maka batubara
dapat langsung dimuatkan ke kapal tanpa melalui alat crushing.

3. Sistem Penimbunan Batubara Saat Ini
Batubara dari Tambang di Asam-asam dengan menggunakan DT V8 340 diangkut ke
Pelabuhan batubara. Dari pelabuhan, batubara di bongkar di bungker, lalu batubara masuk ke
hopper dan melalui apron fedder diteruskan ke alat angkut ban berjalan no.2 (belt conveyor),
kemudian batubara masuk hopper dengan ban berjalan no.3. Untuk selanjutnya dengan alat
stacker yang dapat digerakkan maju mundur di sepanjang ban berjalan no.3 batubara tersebut
disebarkan ke tempat penimbunan dengan lengan penuangan dari alat stacker. Batubara
tersebut dapat diatur sesuai yang dikehendaki di tempat penimbunan, karena lengan
penuangan ini dapat digerakkan naik turun dan juga digerakkan ke kiri dan ke kanan .
Pada awal penimbunan batubara disebarkan atau dicurahkan oleh stacker pada jarak
20 m dari ban berjalan no.3. Setelah tinggi timbunan batubara mencapai 7 m , kemudian
stacker bergerak mundur kearah selatan sambil tetap mencurahkan dan mengatur batubara ke
tempat penimbunan. Urutan penimbunan batubara (gambar 2.1).
Persediaan batubara yang ada di pelabuhan PT. Tambang Batubara Arutmin saat ini
ditampung di lapangan terbuka. Berdasarkan hasil perhitungan, maka luas daerah tempat
penimbunan batubara secara keseluruhan adalah sebesar + 17.490 m
2
.
Untuk batubara di bagian Barat karena penimbunannya masih bersifat sementara yaitu
sekitar + 3 minggu maka tinggi batubara tidak perlu dilakukan pemadatan. Sebenarnya
batubara tanpa dilakukan pemadatan pun apabila volume oksigen tidak mencukupi untuk
terjadinya proses oksidasi, maka tidak akan terjadi proses pembakaran dengan sendirinya.
Akan tetapi dengan tidak adanya pemadatan ini akan timbul banyak rongga butiran batubara
dalam timbunan batubara. Semakin banyak rongga maka semakin banyak oksigen yang
masuk kedalam timbunan batubara. Jika kecepatan membuang panas keluar timbunan lebih
kecil dari oksigen yang masuk, maka temperatur terakumulasi dan naik sampai ke tingkat
dimana pembakaran batubara akan terjadi.

258

Gambar 2.1
Urut-urutan Penimbunan Batubara pada Stockpile Dilihat dari Samping









Gambar 2.2
Batubara yang Sudah Lama Tertimbun


3 2 1






Ket : 1, 2, 3 Urutan Penimbunan



259


Gambar 2.3
Batubara yang Tergenang Air

Akibat lain dari tidak adanya pemadatan dan penirisan yang baik adalah dengan
dijumpai adanya air terutama air hujan yang terperangkap didalam timbunan batubara, maka
air hujan tersebut akan merembes ke timbunan batubara dan menyebabkan kadar air dalam
batubara bertambah.


III. PENUTUP

1. Tempat penimbunan batubara (stockpile) dibagi dalam dua tempat, yaitu di sebelah
timur dengan luas 8.850 m2 dan sebelah Barat dengan luas 8.640 m2. Kapasitas
stockpile berdasarkan perhitungan adalah 54.407 Ton, terdiri dari kapasitas timbunan
sebelah timur sebesar 27.985Ton dan kapasitas timbunan sebelah barat sebesar 26.422
Ton, jumlah batubara yang ditimbun sebesar 48.889 Ton, terdiri dari timbunan batubara
di sebelah timur sebesar 31.794 Ton dan batubara yang ditimbun di sebelah barat
sebesar 17.095 Ton.
2. Pada saat dilakukan studi pelaksanaan penimbunan batubara belum berjalan dengan
baik. Ini terlihat bahwa masih dijumpai adanya kelebihan batubara yang ditimbun di
sebelah timur yaitu sebesar 4.169 Ton, sedangkan batubara di sebelah barat masih
mengalami kekurangan sebesar 9.327 Ton. Kelebihan batubara di stockpile bagian barat
ini akan mengganggu kegiatan pembongkaran batubara, terutama jalan dan ruang gerak
wheel loader menjadi terbatas. Akibat lain batubara yang ditimbun lebih awal tidak
dapat di bongkar lebih awal pula. Oleh karena itu beberapa hal yang harus dilakukan
adalah adanya keselarasan antara batubara yang ditimbun dengan dengan batubara yang
dibongkar di kedua stockpile yang ada dan juga menggunakan sistem first in frist out.
Apabila musim hujan masih banyak air yang menggenang di sekitar timbunan, air dari
timbunan batubara biasanya bersifat asam yang berbahaya karena mengandung zat asam
260
1. yang bisa mengakibatkan korosi pada alat dan selain itu jumlah kadar air dipermukaan
batubara juga akan bertambah .
2. Hal lain yang belum berjalan dengan baik adalah pemantauan suhu, karena pemantauan
suhu pada timbunan batubara yang sudah lama jarang dilakukan. Akibatnya perubahan
suhu yang terjadi pada timbunan lama tidak dapat dipantau dengan baik, sehingga
pencegahan swabakar tidak dapat dilakukan sedini mungkin.


IV. DAFTAR PUSTAKA

1. Reza Supianto, 2006, Kajian Teknis Terhadap Sistem Penimbunan Batubara pada Stockpile
Pelabuhan di Tambang Terbuka PT. Arutmin Asam-asam Kalimantan Selatan,
Skripsi, Jurusan Teknik Pertambangan U P N Veteran Yogyakarta.
2. Eddy Suryono, 1993, Studi Penimbunan dan Penanganan Batubara Pada Stockpile di
Pelabuhan PT. Tambang Batubara Bukit Asam (PERSERO) Kertapari Palembang,
Skripsi.
3. I. Nengah Budha dan Witoro. S, 1990, Penimbunan Batubara, Direktorat Teknik
Pertambangan, Direktorat Jendral Pertambangan Umum.
4. , 2002 , Stockpile Management, PT. GEOSERVICES, LTD.
261
APLIKASI SLOPE STABILITY RADAR (SSR) UNTUK
PREDIKSI BATAS KRITIS (THRESHOLD) PERGERAKAN LERENG
DI TAMBANG TERBUKA BATUHIJAU STUDI KASUS

Fransiscus Cahya Kusnantaka, Charly Indrajaya
PT Newmont Nusa Tenggara, Indonesia

Abstrak

PT Newmont Nusa Tenggara adalah perusahaan tambang terbuka tembaga-emas yang
berlokasi di Batu Hijau, Pulau Sumbawa, Indonesia. Total material penambangan yang
direncanakan sekitar 3500 juta ton, dengan rata-rata stripping ratio sebesar 1.7:1, yang
terdiri dari: 0.51% Tembaga, 0.36% gr/ton Emas, dan 1,14 gr/ton Perak. Total ketinggian
lereng penambangan direncanakan sekitar 1000 meter. Dari pertimbangan jumlah deposit
mineral, umur penambangan diperhitungkan selama 25 tahun termasuk 6 tahun proses
rehandle stockpile setelah selesainya tahap operasional tambang terbuka.

Salah satu elemen penerapan Good Mining Practices di tambang terbuka adalah aspek
perencanaan dan pemantauan geoteknik yang efektif & efisien sebagai bagian integral dari
perencanaan & operasional penambangan dalam rangka mengelola & meminimalkan resiko
yang timbul akibat potensi ketidakastbilan lereng, sehingga aspek Keselamatan Kerja dapat
dikelola sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya kerugian seperti cidera terhadap
manusia, kerusakan peralatan, dan terganggunya proses produksi.

Ada beberapa alat pemantauan kestabilan lereng yang dipergunakan di Tambang Terbuka
BATUHIJAU, salah satunya adalah Slope Stability Radar (SSR). Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai: aplikasi, interpretasi, pendekatan treshold, dan sistim komunikasi
peringatan dini pada tahap operasional penambangan.

Sebagai contoh, aplikasi ini telah diterapkan di Tambang Terbuka BATUHIJAU, yakni pada
Fase-4 penambangan pada dinding Barat Daya.

1 Pendahuluan

PT Newmont Nusa Tenggara adalah perusahaan tambang terbuka tembaga-emas(Gambar 1)
yang berlokasi di Batu Hijau, Pulau Sumbawa, Indonesia (Gambar 2). Total material
penambangan direncanakan saat ini sekitar 3500 juta ton, dengan rata-rata rasio pengupasan
sebesar 1.7:1, yang terdiri dari: 0.51% Cu, 0.36% gr/ton Ag, dan 1,14 gr/ton Ag. Total
ketinggian lereng penambangan direncanakan sekitar 1000 meter. Dari pertimbangan jumlah
deposit mineral, umur penambangan diperhitungkan selama 25 tahun, termasuk 6 tahun
proses rehandle stockpile setelah berakhirnya kegiatan penambangan terbuka.
Dengan pertimbanagan banyaknya kandungan kadar (grade) yang relatif rendah serta
tingginya tonase deposit mineral, aspek ekonomis penambangan didasarkan dengan
memaksimalkan pemebentukan sudut-sudut lereng tambang, pemindahan material, kebutuhan
proses penggilingan (mill throughput), dan meminimalkan unit biaya (unit cost).
Makalah ini membahas prediksi atas kritis pergerakan yang dapat digunakan untuk peringatan
dini sehingga potensi kerugian yang ditimbulkan oleh longsoran dapat diminimalkan.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
2 Latar Belakang

2.1 Riwayat Proyek

PTNNT didirikan pada tahun 1985 dengan tujuan melakukan eksplorasi sistematis
mineralisasi emas epitermal di pulau Lombok dan Sumbawa. Kontrak Karya PTNNT
disetujui oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1986. Eksplorasi permukaan menemukan
mineralisasi tembaga-emas porfiri di Batu Hijau pada tahun 1990 dengan eksplorasi lanjutan
sampai tahun 1996 yang menghasilkan delianeasi cadangan.

Gambar 1: Tambang terbuka Batu Hijau pada pertengahan Mei 2008. Dilihat dari barat
daya

Gambar 2: Lokasi Tambang Terbuka Batu Hijau
Pemerintah Indonesia menyetujui studi kelayakan Proyek Batu Hijau pada bulan Mei 1997
bersamaan dengan diberikannya izin konstruksi. Pra-pengupasan tambang terbuka dimulai
pada bulan Oktober 1997 dan proses penggilingan dimulai pada akhir tahun 1999.

2.2. Iklim

Iklim di Batu Hijau tergantung pada musim yaitu musim hujan dari bulan Oktober sampai
April dan musim panas dari bulan Mei sampai September. Curah hujan sebesar 85% atau
2500 mm per tahun terjadi selama musim hujan dan biasanya berlangsung dalam masa yang
cukup pendek tetapi memiliki intensitas yang tinggi.

3. Geologi

Batuan dasar (country rock) yang terdapat di Batu Hijau terdiri dari Andist Vulkanik, sedimen
Vulkanoklastik dan Andesit porfiritik (Gambar 3). Di sisi timur laut area tambang, urutan ini
diintrusi oleh diorit kuarsa. Berbagai intrusi porfiri tonalite terdapat pada kontak antara batuan
Vulkanik dan Diorite, dengan mayoritas mineralisasi yang terkait dengan intrusi Awal
Tonalite dan intensitas urat kuarsa yang lebih tinggi. Sebagai bagian dari proses mineralisasi,
batuan dasar telah mengalami proses alterasi hidrotermal yang ekstensif.

Di wilayah ini, terdapat dua zona patahan utama yaitu zona patahan Bambu-Santong ke arah
Timur Laut dan jalur patahan Tongoloka-Batu Hijau ke arah Barat Laut. Keduanya bertemu
sekitar 3 km di Barat Laut dari pusat cadangan. Patahan besar yang melintasi lubang tambang
adalah zona patahan Tongoloka-Batu Hijau, dengan beberapa set patahan yang memiliki
spasi sekitar 50 m.
264
4 Penambangan

Pengembangan tambang terbuka Batu Hijau dilakukan dengan pengoperasian truk dan shovel
konvensional. Armada truk pengangkut utama terdiri dari 111 haul truck berkapasitas 240 ton
dan alat penggali sebanyak 7 shovel listrik. Dari perspektif geoteknik, 2 unit excavator
hidrolik berkapasitas 28 tonne dipersiapkan khusus untuk trimming dan scaling lereng
tambang, dengan 2 unit air-track rig untuk pengeboran pre-split dan trim hole, serta 1 unit
drill kontraktor untuk pengeboran drainase horisontal di pit. Penopangan artifisial atau
penguatan terhadap massa batuan jarang dilakukan.

Cebakan mineral berbentuk silinder dan ditambang dalam fase yang berurutan dan konsentris
(Gambar 1 dan Gambar 4). Saat ini penambangan sedang dilakukan pada fase 4, 5 dan 6
(merupakan fase terakhir dari tambang batu hijau). Kemajuan penggalian vertikal yang
dicapai dalam satu fase penambangan sekitar 200 m per tahun. Kemajuan vertikal kumulatif
paling tinggi adalah 600 m dalam tiga fase yang bersamaan. Selain itu kriteria desain lereng
tambang dipertimbangkan juga berdasarkan tingkat cadangan yang ditambang cukup agresif
dengan pemindahan material tambang (tidak termasuk penanganan stockpile, soil salvage dll)
yang umumnya berkisar antara 200 juta metrik ton kering sampai 250 juta metrik ton kering
selama usia tambang.
Elevasi tertinggi yang ada sekarang sekitar 490 mRL dengan kedalaman dasar lubang
tambang sekitar -105 mRL.


5 Kondisi Lereng

5.1 Filosofi Desain tambang Batu Hijau
Sudut lereng memberikan dampak yang penting terhadap segi ekonomis penambangan. Dan
dasar pembuatan design tambang adalah membuat lereng semaksimal mungkin tanpa
memberikan dampak resiko yang tidak dapat diterima terhadap orang, peralatan atau proses
produksi.
Design Pit dan proses pelaksanaannya harus dilakukan dengan rekayasa dan operasional baik
dan merupakan praktek terbaik.
Filosopi design tambang di Batu Hijau lebih ditekankan pada management lereng dari pada
memastikan bahwa lereng tersebut stabil, sebagai contoh, menerima dan mengatur
ketidakstabilan slope dalam batas resiko yang dapat diterima dari pada membuat design
seluruh dinding PIT dalam kondisi stabil.

5.2 Design Tambang Batu Hijau
Design Tambang Terbuka Batu Hijau tercermin dalam Geotech Domain. Mayoritas Domain
Geoteknik (Gambar 4), didesain dengan konfigurasi jenjang tunggal (tinggi 15 m) dimana
sudut jenjang 65 (sesuai dengan yang diharapkan pada saat penggalian jenjang dengan
shovel listrik). Hasil dari keduanya menentukan berapa lebar tanggul (berm) atau jenjang
tangkap (catch bench). Dalam beberapa domain, dibuat desain dengan konfigurasi jenjang
ganda (tinggi 30m) dengan sudut muka jenjang 75. Jenjang ini dibuat dengan metoda
ekskavasi yang terkontrol, seperti peledakan pre-split, trimming dan scaling, dll.

265

Gambar 3: Simplifikasi Kondisi Geologi Batu Hijau
266
267
Gambar 4: Domain Geoteknik dan Kriteria Desain Lereng yang sedang
diimplementasikan di Batu Hijau

Gambar 5. Ringkasan produksi pit Batu Hijau.


6. Monitoring
Dalam pembuatan design lereng beberapa asumsi perlu disederhanakan, sehingga kegiatan
monitoring menjadi sangat penting. Hal ini untuk mengetahui kondisi dinding tambang
sesuai dengan aktivitas penggalian, sehingga potensi bahaya lereng dapat kurang dikurangi.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan berkurangnya kestabilan lereng adalah
penyederhanaan yang berlebihan dari karakteristik massa batuan dan/atau strukture geologi,
kesalahan interpretasi, kesalahan manusia, teknis operational, dan lain sebagainya.
Kegiatan monitoring merupakan sarana yang sangat berguna untuk mengetahui karakter dari
slope dan mengidentifikasikan area yang berpotensi longsor. Perencanan dan pelaksanaan
monitoring yang baik dapat membantu untuk mengetahui level resiko yang dapat diterima
dan tidak dapat diterima. Deteksi dini dari resiko yang tidak dapat diterima dari hasil
monitoring sangat dibutuhkan untuk melakukan tindakan baik kepada orang yang terlibat,
peralatan maupun proses produksi.

Di tambang terbuka Batu Hijau digunakan beberapa alat monitoring untuk mengetahui
pergerakan lereng baik yang ada di atas permukaan maupun di bawah permukaan. Peralatan
yang dipakai untuk memonitor pergerakan lereng di atas permukaan berupa Robotic Prism
Total Station (RTS), HP GPS, Wire Line Extensometer, Tiltmeter, Crackmeter dan Slope
Stability Radar (SSR). Sedangkan peralatan yang dipakai untuk memonitor pergerakan
dibawah permukaan yaitu Time Domain Reflectometer (TDR), Inclinometer dan Vibrating
Wire Settlement

268
6.1. Slope Stability Radar (SSR)
Slope Stability Radar (SSR) adalah sistem monitoring yang dapat mendeteksi pergerakan
lereng berdasarkan perubahan kecepatan. Sorotan Radar memantau seluruh permukaan
dinding untuk memberikan area pantauan yang luas dari area yang mungkin tidak stabil.
Perubahana lereng atau pola pergerakan yang tidak biasa (percepatan atau perubahan
tingkatan pergerakan) memberikan indikasi dini dari ketidakstabilan dinding tambang. Radar
merupakan alat monitoring yang memberikan pantauan secara update, kemampuan
pengaturan alarm dan merupakan sarana peringatan yang aktif.



Gambar 6. Slope Stability Radar (SSR)


















Gambar 7. Diagram Alir Informasi SSR
269


Gambar 8. Slope Stability Radar Display di ruang Geotech


6.2. Slope Stability Radar Alarm
Pada umumnya SSR digunakan untuk memantau area kritis seperti daerah aktif
penambangan, lokasi yang menunjukkan ketidak stabilan atau sepanjang jalan utama. Untuk
tujuan ini 6 alarm digunakan dalam operasionalnya.
1. Alarm Merah- Kondisi kritis berupa situasi yang sangat penting diumumkan dan
Senior foreman diperingatkan untuk menghentikan aktivitas di area yang tidak stabil
2. Orange-Alarm Biasa disebut alarm Geotech, suatu kondisi dimana suatu pergerakan
menunjukkan perkembangan, sehingga geotech perlu waspada dan memberikan
rekomendasi.
3. Alarm Kuning Sistem tidak bekerja/transfer data terlambat.
4. Alarm Hijau- Sedikit masalah/kerusakan pada program Viewer.
5. Alarm Abu-abu System tidak bekerja
6. Alarm Biru Perubahan dinding yang dimonitor


7. Studi Kasus Longsoran P4_2007_028 di dinding Barat Daya.

7.1. Kegiatan Monitoring
Monitoring dilakukan berkaitan dengan kejadian longsoran berskala jenjang yang yang
terjadi di P4 dinding selatan/barat daya yang terjadi pada tanggal 12 October 2007, jam
~15.15. Sektor Selatan/Barat Daya ini didominasi oleh batuan volkanik dengan struktur utama
berarah Barat Laut dan Tenggara.

Indikasi awal dari ketidakstabilan ditemukan pada akhir September 2007 yang berupa retakan
di elevasi ~20 mRL. Selanjutnya pemantaun secara detail dilakukan di area ini berupa
pemasangan alat monitoring yang berupa prisma, carckmeter, wire line extensometer dan
Slope Stability Radar.

270
7.2. Media Komunikasi

Pemantauan detail dengan menggunakan slope stabilty radar memberikan informasi kondisi
ketidakstabilan secara real time. Perubahan kecepatan dari suatu ketidakstabilan dapat
digunakan sebagai acuan untuk memberikan informasi dini mengenai status ketidakstabilan
ini.
nformasi ini selalu di-up date dan dikomunikasikan baik dalam meeting harian, laporan
monitoring mingguan, geotechnical concern serta weekly meeting.
Ketidakstabilan ini secara detail diinformasikan dalam geotechnical alert yang menyangkut
kondisi, potensi resiko, serta tindakan yang harus diambil.


7.3. Penentuan Batas Kritis /Threshold Pergerakan

Batas kritis pergerakan (threshold) pergerakan sangat diperlukan untuk melakukan
tindakan/antisipasi dari suatu ketidakstabilan. Batas kritis pergerakan dari hasil pemantauan
dengan Slope Stability Radar didasarkan pada perubahan kecepatan (? V). (Gambar 9)
Dari hasil penentuan batas kritis pergerakan ini informasi dini untuk menghentikan aktivitas
di bawah area yang tidak stabil ini dapat segera disampaikan kepada pihak terkait (Load &
Haul) beberapa saat sebelum terjadinya longsoran sehingga kerugian terhadap orang,
peralatan dan proses dapat di minimalkan. (Tabel 1)

Grafik Kecepatan dan Waktu Sebelum Terjadinya Longsor
Longsoran P4_SS_28
0
5
10
15
20
25
30
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
Waktu/Jam
K
e
c
e
p
a
t
a
n
Longsoran P4_SS_28


Gambar 9. Penentuan batas kritis pergerakan
? V1
? V3
? V2
271
Tabel 1. Batas kritis dan tindakan yang dilakukan berkaitan dengan potensi
ketidakstabilan






Potensi longsoran dinding (alarm merah)
Evaluasi dan rekomendasi :
melanjutkan operasi
pembatasan operasi
stop operasi
>10
Potensi longsoran kecil (alarm orange)
Pemantauan detail
meningkatkan pemantauan Visual
meningkatkan Instrumentasi
5-10
Indikasi ketidakstabilan
Pemantauan reguler
visual
instrumentasi
0-5
TINDAKAN KECEPATAN
(mm/hr)
Potensi longsoran dinding (alarm merah)
Evaluasi dan rekomendasi :
melanjutkan operasi
pembatasan operasi
stop operasi
>10
Potensi longsoran kecil (alarm orange)
Pemantauan detail
meningkatkan pemantauan Visual
meningkatkan Instrumentasi
5-10
Indikasi ketidakstabilan
Pemantauan reguler
visual
instrumentasi
0-5
TINDAKAN KECEPATAN
(mm/hr)
272
Indikasi ketidakstabilan/retakan
berdasarkan visual inspection



Pemasangan alat monitoring (manual
crackmeter, wireline extensometer,

prisma/RTS dan SSR


Monitoring kondisi
ketidakstabilan


Up date kondisi monitoring
dalam :

meeting harian

weekly monitoring report

weekly issue



Longsoran terjadi dengan
risiko kerugian yang sangat
minimal


Alarm merah- Kondisi kritis
sebelum longsor terjadi.

(Penghentian/pembatasan

aktivitas)


Prediksi batas kritis pergerakan
berdasarkan pantauan detail
dengan SSR


Alarm Orange ~ Indikasi

peningkatan pergerakan pada
area yang tidak stabil.

(Peningkatan kewaspadaan )


Memberikan peringatan
/Geotechnical Alert






Gambar 9. Diagram alir berkaitan dengan kejadian longsoran di P4 dinding Barat daya
(longsoran SS_2007_028)
273
Monitoring SSR di dinding P4 Barat Daya
periode 8-15 October 2007
Visual
Deformasi
Deformasi/pergerakan
Longsoran 2007_028
Longsoran 2007_028


Gambar 10. Pantauan Slope Stability Radar di P4 dinding Barat Daya



Gambar 11. Kegiatan penambangan/penggalian di P4 dinding Barat Daya sebelum dan
setelah kejadian longsor
Monitoring SSR di dinding P4 Barat Daya
periode 8-15 October 2007
Visual
Deformasi
Deformasi/pergerakan
Longsoran 2007_028
Longsoran 2007_028


Gambar 10. Pantauan Slope Stability Radar di P4 dinding Barat Daya
274


Gambar 12. Peta Potensi Bahaya Lereng


Gambar 13. Geotechnical alert berkaitan dengan ketidakstabilan di P4 dinding Barat
Daya
HAZARD RATING OF SLOPE FAILURES
AT BATUHIJAU PIT
F#103
F#112
F#13
F#117
F#21
F#03
F#04
F#93
F#92
F#102
F#08
F#10
F#12
F#115
F#03
F#06
F#19
F#17
F#20
F#15 F#14
F#11
F#01
F#24
F#25
F#83
F#26
F#16
F#115
Stability Concern along
the P4 East to South
East
MEDIUM RISK
HIGH RISK
EXTREME RISK
Pit Situation at Oct 10, 2007
LOWRISK
Excavation Control
Blasting Control
F#27
Potential Instability
Development
(Risk to Pipeline System)
Surface Drainage Control
Required
HAZARD RATING OF SLOPE FAILURES
AT BATUHIJAU PIT
F#103
F#112
F#13
F#117
F#21
F#03
F#04
F#93
F#92
F#102
F#08
F#10
F#12
F#115
F#03
F#06
F#19
F#17
F#20
F#15 F#14
F#11
F#01
F#24
F#25
F#83
F#26
F#16
F#115
Stability Concern along
the P4 East to South
East
MEDIUM RISK
HIGH RISK
EXTREME RISK
Pit Situation at Oct 10, 2007
LOWRISK
Excavation Control
Blasting Control
MEDIUM RISK
HIGH RISK
EXTREME RISK
Pit Situation at Oct 10, 2007
LOWRISK
Excavation Control
Blasting Control
F#27
Potential Instability
Development
(Risk to Pipeline System)
Surface Drainage Control
Required
275


Gambar.14 Diagram Alir Managemen Longsoran
No
Yes
Yes
No
No
Yes
Yes
No
No
Yes
Monitoring
Longsoran
Lereng
Kerugian thd karyawan atau alat
Ancaman bahaya
terhadap
karyawan atau alat
Pengamanan daerah
operasional
Geotechnical Hazard
Response
Plan
Geotechnical Hazard Response
Team
Geotechnical Hazard Remediation Plan
pelaksanaa
n Mine Accident Response
Plan
Perbaikan
berhasil
Perubahan
rencana
penambangan
Persetujuan tingkat menejemen/
Penilaian Resiko
Pelaksanaan
276
7.....Ringkasan dan Kesimpulan
Kegiatan perencanaan dan pemantauan yang dilakukan di tambang terbuka Batu Hijau
merupakan salah satu element penerapan Good Mining Practices yang merupakan bagian
integral perencanaan dan operasional penambangan. Kegiatan monitoring merupakan sarana
yang sangat berguna untuk mengetahui karakter dari slope dan mengidentifikasikan area yang
berpotensi longsor.
Perencanaan dan pelaksanaan monitoring yang baik dapat membantu untuk mengetahui
level resiko yang dapat diterima dan tidak dapat diterima. Deteksi dini dari resiko yang tidak
dapat diterima dari hasil monitoring sangat dibutuhkan untuk melakukan tindakan baik
kepada orang yang terlibat, peralatan maupun proses produksi.
Berdasarkan pantauan dengan menggunakan Slope Stability dapat diketahui pergerakan
secara real time yang dapat digunakan untuk prediksi batas kritis pergerakan sebelum
terjadinya longsoran.
Dengan adanya penentuan batas kritis pergerakan, analisa dan interpretasi kondisi
lereng serta komunikasi yang baik dengan semua pihak yang terkait dengan aktivitas
penambangan dampak kerugian yang mungkin ditimbulkan oleh kejadian longsoran
SS_2008_028 di Fase 4 dinding Barat Laut terhadap orang, peralatan dan proses produksi
dapat diminimalkan.



Ucapan Terima Kasih

Kami sampaikan ucapan terima kasih kepada PT Newmont Nusa Tenggara atas
persetujuannya untuk mempublikasikan makalah ini dan juga kepada Bapak/Ibu dan rekan-
rekan yang turut memberikan bantuan dan masukan dalam pembuatan draft makalah ini.
277
PELEDAKAN TAMBANG TERBUKA DEKAT PIPA TRANSMISI

Oleh:

Ganda M. Simangunsong
1
, Dwihandoyo Marmer
2
, Ausir Nasrudin
3


1
Program Studi Teknik Pertambangan, Institut Teknologi Bandung
2
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara
3
PT Adaro Indonesia


RINGKASAN

Sembilan belas operasi peledakan overburden di tambang batubara Pit Tutupan - PT Adaro
Indonesia dipantau getarannya untuk mengetahui dampak peledakan terhadap pipa transmisi
di sekitar tambang. Untuk mengantisipasi bila jalur pipa berada di arah side wall, high wall
atau low wall seiring kemajuan tambang, maka pengukuran getaran peledakan dibagi menjadi
tiga kelompok yaitu arah side wall, high wall dan low wall. Nilai ambang batas (NAB)
getaran senilai 24 mm/s diperoleh berdasarkan hubungan peak particle velocity (PPV) dan
kekuatan pipa (hasil perhitungan analitis yaitu 53 MPa untuk pipa diamater 120 mm tebal 10
mm). Menggunakan NAB getaran tersebut dan kurva hubungan antara scaled distance dan
PPV hasil pengukuran lapangan, maka muatan bahan peldakan per waktu tunda
direkomendasikan pada operasi peledakan setempat sebagai acuan untuk menghindari
kerusakan pipa transmisi.


1. PENDAHULUAN

PT Adaro Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Mineral dan Batubara (Puslitbang Tekmira) dan Program Studi Teknik Pertambangan sebagai
konsultan dalam kajian operasi peledakan overburden tambang terbuka batubara dekat pipa
transmisi minyak dan gas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pipa transmisi
terhadap getaran peledakan dan merekomendasikan operasi peledakan aman berdasarkan
NAB kerusakan pipa akibat bending.

Kerjasama ini perlu diapresiasi karena telah memberikan kesempatan kepada para penulis
untuk mempelajari permasalahan baru yang sebenarnya berlaku umum di industri-industri
pertambangan lainnya dan/atau operasi peledakan di konstruksi jalan raya, penggalian paritan,
eksplorasi seismik dan lain-lain. Suatu saat, industri-industri terkait dan badan pengatur di
tanah air tentunya membutuhkan acuan praktis untuk operasi peledakan dekat jalur pipa ini.

2. KRITERIA GETARAN (JALUR PIPA)

Sebelum tahun 90-an, getaran tanah digunakan sebagai batasan operasi peledakan dekat jalur
pipa. Misalnya, kecepatan partikel puncak (peak particle velocity/ PPV) senilai 1,0 atau 2,0
ips diberlakukan untuk pipa tertanam. Kriteria PPV ini pertama dipublikasikan oleh Crandell
(1949) sebagai ambang batas getaran tanah terhadap infrastruktur permukaan. Penyelidakan
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
al. (1976, 1980), menunjukan bahwa kriteria PPV tersebut realistis diaplikasikan untuk
bangunan di permukaan. Namun perlu dikritisi bahwa jalur pipa bukan bangunan.

Pada tahun 1994, US Berau of Mines (USBM) melakukan kajian tentang respon pipa akibat
operasi peledakan tambang terbuka batubara. Rekomendasi USBM untuk NAB getaran tanah
pada jalur pipa terlihat pada Tabel 1. Bila kriteria jarak diadopsi begitu saja (tanpa
memperhatikan spesifikasi pipa dan karakteristik masa batuan di mana operasi peledakan
dilaksanan), maka tidak akan ada batasan jumlah bahan peledak. Namun, bila kriteria PPV
terlalu pesimis untuk diadopsi, pendekatan analitis dapat diterangkan sebagai berikut.

Tabel 1. NAB getaran pada jalur pipa (Rosenhaim, 2005)
NAB
NEG.
BAGIAN JARAK (ft)
PPV
(ips)
Illinois 100 -
Indiana - 4
Ohio
50 (kuari)
300
(lainnya)
-
Virginia - 4-5

Pendekatan analitis untuk mengetahui repson pipa akibat getaran tanah biasanya dinyatakan
dalam regangan. Dowding (1985) memberikan hubungan antara getaran tanah dan regangan
tekuk (bending) pipa sebagai berikut,

2
2 ) (
s
C
r f PPV
[1]
Dimana, f adalah frekuensi (Hz), r adalah jari-jari pipa, dan C
s
adalah kecepatan gelombang
geser.

Persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk tegangan sebagai berikut,

E
C
r f PPV
s
2
2 ) (
[2]
Dimana E adalah modulus elastisitas.

Clark (1984) mengasumsikan kekuatan tekuk pipa yang diijinkan adalah selisih antara
tegangan ijin (menurut spesifikasi American Petroleum Standard/ API) dan tegangan
longitudinal (hasil perhitungan) dibagi dua, atau dapat dituliskan sebagai berikut,

) ( 75 , 0 F SMYS
A
[3]
2 2
2
) 2 (
) 2 (
t d d
t d P
L

[4]
2
) (
L A
B

[5]
Dimana
A
dan
L
adalah tegangan tekuk yang diijinkan dan tegangan longitudinal. SYMS dan
279
3. PENGUKURAN GETARAN

Tingkat getaran dari hasil peledakan dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu muatan bahan
peledak per waktu tunda, waktu tunda (length of delay), dan detonator accuracy (faktor
dominan terkontrol). Selain itu tingkat getaran tanah juga dipengaruhi oleh jenis
batuan/kondisi geologi (faktor dominan tidak terkontrol).

Selama pengukuran lapangan digunakan empat alat BlastmateIII dan satu alat Minimate Plus.
Kedua alat tersebut didesain untuk dapat mengukur dan mencatat getaran tanah dengan
mudah. Peralatan ini disebut sebagai seismograf yang terdiri dari 2 bagian penting, yaitu
sensor dan recorder. Kotak sensor mempunyai 3 unit independent sensor yang letaknya saling
tegak lurus antara satu unit dengan unit lain. Ketiga sensor tersebut mencatat tiga arah
komponen getaran bumi yaitu transversal, longitudinal, dan horisontal.

Lokasi peledakan dipilih berdasarkan kedekatannya ke pipa transmisi Pertamina yaitu relatif
di daerah Timur Pit Tutupan yang penambangannya dioperasikan oleh dua kontraktor, yaitu
PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) dan PT Rahman Abdijaya (RA). Gambar 1
menunjukan lokasi pit dan titik-titik pengukuran getaran (yang diwakili oleh titik-titik
berwarna merah)

Untuk menggambarkan karakteristik peluruhan getaran menurut massa batuan, maka daerah
pengukuran dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
1. Titik-titik pengukuran di arah side wall (21 titik pengukuran)
2. Titik-titik pengukuran di arah high wall (28 titik pengukuran)
3. Titik-titik pengukuran di arah low wall (21 titik pengukuran)

Untuk keperluan analisis, rancangan peledakan meliputi geometri dan pola penyalaan dicatat
untuk mendapatkan informasi tentang jumlah bahan peledak per waktu tunda.

Gambar 1. Lokasi pit dan titik-titik pengukuran
280
Bahan peledak yang digunakan adalah ANFO dengan geometri peledakan dibagi menjadi dua
sesuai diamater lubang tembak yaitu 7-7/8 inch dan 5-1/2 inch untuk Pit BUMA dan Pit RA
secara berurutan. Adapun geometri peledakannya dapat dilihat pada Tabel 2.

Selama pengukuran, dilakukan juga pengambilan data pola peledakan dan jumlah bahan
peledak yang digunakan. Dari pola peledakan dapat diketahui jumlah bahan peledak yang
meledak bersamaan, yang berpengaruh terhadap getaran yang diakibatkan. Delay yang
digunakan pada peledakan bervariasi yang merupakan kombinasi dengan delay 17 ms, 25 ms,
42 ms, 67 ms dan 100 ms tergantung pada kontraktor pelaksana peledakan. Untuk perhitungan
jumlah muatan per waktu tunda, instantaneous diasumsikan dalam selang 17 ms. Nilai ini
lebih besar dari proposal Cundall (1963) yaitu 8 ms saja.

Tabel 2. Geometri Peledakan
GEOM. PIT BUMA PIT RA
Diameter 7-7/8 inch 5-1/2 inch
Burden 7 m 5.5 m
Spacing 8 m 6.5 m
Kedalaman 8 m 6 m
Stemming 5 m 3 m


4. KARAKTERISTIK GETARAN

Karakteristik peluruhan getaran tanah akibat peledakan didefinisikan menurut kurva
hubungan antara tingkat vibrasi dan scaled distance (SD). Dalam hal ini, tingkat vibrasi
didefinisikan sebagai PPV yaitu kecepatan puncak partikel batuan ketika bergerak
meninggalkan posisi semula, dan kembali ke posisi semula. Sedangkan scaled distance
didefinisikan sebagai jarak per muatan bahan peledak, yang dapat dituliskan dalam persamaan
berikut:

SD = R/W
0.5
[6]

Dimana R adalah jarak pengukuran, dan W adalah muatan bahan peledak per waktu tunda.

Untuk menghindari penyimpangan (hubungan tingak vibrasi dan SD) akibat perbedaan jenis
gelombang, maka nilai PPV yang digunakan di sini hanya komponen vertikal, dengan
pertimbangan bahwa nilai PPV vertikal selalu lebih besar dibandingkan dengan radial dan
longitudinal. Oleh karena itu, dampak kerusakan pipa akibat PPV vertikal lebih pesimis
dibandingkan dengan radial dan longitudinal.

Kurva hubungan antara tingkat getaran dan scaled distance, yang menggambarkan
karakteristik peluruhan getaran di arah side wall, high wall dan low wall dapat dilihat pada
Gambar 2a, b, dan c secara berurutan, dengan nilai koefisien peluruhan dan faktor batuan
seperti terlihat pada Tabel 3. Pengertian fisik dari kurva dan tabel tersebut adalah arah side
wall dan high wall meredam perambatan getaran akibat peledakan dengan nilai koefisien yang
hampir sama yaitu 1.42 dan 1.46 secara berurutan. Sedangkan arah low wall meredam getaran
281
dengan kemiringan yang lebih curam).

Faktor batuan yang relatif besar (1906) di arah low wall, memberikan arti fisik bahwasanya
struktur perlapisan dengan kemiringan berlawanan dengan arah perambatan gelombang,
meredam getaran lebih besar dibandingkan perlapisan dengan dip searah perambatan
gelombang.

Tabel 3. Nilai koefisien peluruhan dan faktor batuan

MASSA
BATUAN
KOEF.
LURUH
FAKTOR
BATUAN
Side wall 1,42 949
High wall 1,46 664
Low wall 1,72 1906


PPV = 949(R/W
0.5
)
-1.42
0.1
1
10
100
1 10 100 1000
R/W
0.5
(m/kg
0.5
)
P
P
V
v
e
r
t
i
k
a
l
(
m
m
/
s
)
a)
PPV = 664(R/W
0.5
)
-1.46
0.1
1
10
100
1 10 100 1000
R/W
0.5
(m/kg
0.5
)
P
P
V
v
e
r
t
i
k
a
l
(
m
m
/
s
)
b)


PPV = 1906 (R/W
0.5
)
-1.72
0.1
1
10
100
1 10 100 1000
R/W
0.5
(m/kg
0.5
)
P
P
V
v
e
r
t
i
k
a
l
(
m
m
/
s
)
c)

Gambar 2. PPV versus Scaled Distance:
a) Side wall, b) High wall, c) Low wall
282
5. REKOMENDASI

Hasil penyelidikan lapangan ditemukan jalur pipa dengan diameter 120 mm. Bila ketebalanny
10 mm dan parameter pipa lainnya mengikuti nilai-nilai seperti terlihat pada Tabel 4, maka
kekuatan pipa menahan tegangan tekuk (menurut persamaan [2], [3], dan [4]) adalah 53MPa.
Menggunakan hubungan tegangan dan PPV pada persamaan [6], maka kekuatan pipa dapat
dinyatakan dalam tingkat getaran senilai 24 mm/s. Perlu diketahui bahwa gelombang vertikal
(hasil pengukuran) mempunyai sebaran frekuensi dangan modus 18 Hz.


Tabel 4. Parameter pipa
PARAMETER NILAI
Modulus Elastisitas 200 GPa
Minimim yield strength 240 MPa
Tekanan operasi maksimum 1 MPa
Design factor 0.60


Berdasarkan kriteria getaran (hasil konversi dari kekuatan tekuk pipa), maka dapat
direkomendasikan muatan bahan peledak per waktu tunda untuk variasi jarak seperti pada
Gambar 3. Rekomendasi dikelompokan menurut massa batuan yang dilewati getaran.
Beberapa hal yang perlu dicatat:
Rekomendasi ini dihitung berdasarkan asumsi bahwa pipa tertanam di dalam tanah (tidak
berlaku untuk pipa di permukaan dan atau tergantung di atas permukan).
Sambungan pipa tidak diperhatikan dalam perhitungan.

1
10
100
1000
10 100 1000
R (m)
W
(
k
g
)
Side wall
High wall
Low wall

Gambar 4. Rekomendasi berat bahan peledak (yang aman untuk jalur pipa)
283
6. UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak manajemen PT.
Adaro Indonesia yang telah memberikan fasilitas penelitian ini. Analisis dan rekomendasi
pada tulisan/makalah ini semata-mata mencerminkan buah pemikiran para penulis.


7. DAFTAR PUSTAKA
Crandell, F. J., Ground Vibrations Due to blasting and Its Effect Upon Structures, Journal
Boston, Society of Civil Engineering, Volume 36, pp. 245,1949.
Dowding C.H., Blast Vibration Monitoring and Control, Prentice-Hall, Inc., Englewood
Cliffs, NJ 07632, 297pp, 1985.
Duvall W.T., C.F. Johnson, A.V.C. Meyer, and J.F. Devine, Vibrations from instantaneous
and millisecond-delayed quarry blasts, USBM RI 6151, 1963.
Nicholls, A. W., Johnson, C. F., and Duvall, W. I., Blasting Vibrations and Their Effects on
Structures, U.S. Bureau of Mines Bulletin 656, 1971.
Rosenhaim V.L., Response of a residential structure and buried pipelines to construction
blasting in basalt on the west side of Alberquerque NM, Master Thesis, Department of
Mineral Engineering, New Mexico Institute of Mining and Technology, Socorro, New
Mexico, September 2005.
Siskind, D. E., Stachura, V. J., and Raddiffee, K. S., Noise and Vibrations in Residential
Structures from Quarry Production Blasting, U.S. Bureau of Mines Report of
Investigations 8168, 1976.
Siskind, D. E., Stagg, M. S., Kopp, J. W., and Dowding, C. H., Structure Response and
Damage Produced by Ground Vibrations from Surface Blasting, U.S. Bureau of Mines
Report of Investigations 8507, 1980.
284
PENERAPAN TEORI BLOK UNTUK ANALISIS KESTABILAN CERUN
BATUAN BUKIT FRASER DI PAHANG MALAYSIA

Haswanto
1)
, and Abd. Ghani Md. Rafek
2)
.
1)
Jurusan pertambangan , FTM, Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia.
E-mail : haswanto_wa@yahoo.com

2)
Departmen Geology, UKM, Bangi, Malaysia.

Abstrak
Jasad Batuan granit di kawasan Bukit Fraser Pahang, Malaysia mempunyai pencirian
ketakselanjaran major dan minor. Ketakselanjaran sudah dipetakan di sekitar lebuh raya
Bukit Fraser. Ketakselanjaran utama yang digunakan untuk analisis cerun batuan dengan
menggunakan teori blok. Teori blok yang diterapkan digunakan untuk melakukan identifikasi
perbedaan antara bentuk blok yang ditemukan di kawasan penyelidikan dan menghitung
sudut aman dari cerun batuan. Orientasi dari ketakselanjaran utama yang terjadi di kawasan
telah dianalisis. Analisis dilakukan dengan stereo-plot dan selanjutnya analisis
menggunakan teori blok untuk menentukan bentuk key-block (bentuk I) dan juga key-block
potensial (bentuk II) dari daerah cerun batuan tersebut. Tujuan kajian ini adalah untuk
menentukan sudut aman untuk cerun batuan di lokasi Bukit Fraser.

Kata-kunci : Teori block, kestabilan cerun batuan, sudut aman, Bukit Fraser

BLOCK THEORY APPLICATION TO ROCK SLOPE STABILITY
ANALYSIS OF THE FRASERS HILL IN PAHANG MALAYSIA

Haswanto
1)
, and Abd. Ghani Md. Rafek
2)
.
1)
Department of Mining, University of Trisakti, Jakarta, Indonesia.
E-mail : haswanto_wa@yahoo.com

2)
Department of Geology, UKM, Bangi, Malaysia.

Abstract.
The granite rock mass at Frasers Hill region in Pahang, Malaysia is characterized by a
number of major and minor discontinuities. These discontinuities have been mapped around
the road to Frasers Hill. The major discontinuities were used to perform a block theory
analysis of the rock slope. The block theory has been applied to identify to the differences
between block types found at the surface of researched area and to estimate the maximum
safety angle of the rock slope at the researched area. The orientations of the major
discontinuities that occur in the researched area have been considered in this analysis. which
the data have been taken. The data was analyzed by stereo-plot fine and then analyzed using
block theory to determine the key blocks types (Type I) either potential key blocks types
(Type II) of the rock slopes region. The main purpose of this study in to determine a safe
angle for the rock slope at this location in Frasers Hill.

Key-word :, Block Theory Analysis, Rock Slope Stability, safe angle, Frasers Hill.

PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
1. PENDAHULUAN
Jasad batuan Granit di kawasan Bukit Fraser, Pahang, Malaysia mempunyai banyak
ketakselanjaran major dan minor. Pada kawasan itu selalu terjadi kegagalan cerun batuan
granit. Biasanya terjadi disebabkan oleh banyak faktor iaitu antara lain ketakselanjaran
(kekar), air. Ianya mempengaruhi kestabilan cerun disebabkan oleh terbentuknya bidang
lemah pada bidang ketakselanjaran, dan bersama dengan air yang menurunkan gaya friksi dan
sudut geseran dalam dari batuan granit. Kegagalan cerun batuan granit terjadi dalam berbagai
bentuk, seperti gelongsoran berbentuk satah, lingkaran, jatuhan terbalikan dan baji.
Oleh karena sangat banyak terdapat ketakselanjaran (joint) pada jasad batuan granit di
kawasan Bukit Fraser. Setiap orientasi ketakselanjaran membentuk perpotongan bidang dan
menghasilkan blok-blok batuan yang mudah mengalami kegagalan, maka pada kajian ini,
dilakukan analisis stabilitas cerun batuan granit dengan menggunakan Teori Blok (Block
Theory), yang dikembangkan oleh Goodman dan Shi (1985).
Teori Blok dilakukan berdasarkan analisis geometri, Ia dilakukan untuk menentukan
bentuk blok batuan yang potensial terdapat dalam batuan. Blok-blok batuan terbentuk
disebabkan perpotongan orientasi ketakselanjaran dari batuan dalam 3-dimensi. Yang paling
cocok penerapannya adalah untuk batuan keras, batuan berbentuk blok-blok, dimana blok
batuannya memiliki variasi saiz yang dapat menyebabkan sumber yang berpotensi untuk
kegagalan batuan didalam penggalian, penerowongan, pendasaran, kejuruteraan lebuhraya,
perbukitan. Teori Blok dapat juga diterapkan untuk batuan yang mempunyai porositas yang
tinggi, batuan luluhawa dan terbelah-belah, dan dapat juga untuk beberapa macam tanah.
Maksud utama dari Teori Blok adalah menjelaskankan, menemukan bentuk Blok-blok
batuan yang terdapat dalam batuan tersebut, kemudian menemukan Key-blocks (blok-
kunci) dari cerun batuan, penerowongan, kejuruteraan lebuhraya dan pendasaran. Ia
dikembangkan untuk menemukan dasar pengambilan keputusan untuk rencana penggalian
dan rencana design dari support system didalam batuan. Sehingga memerlukan pengetahuan
geologi struktur dalam 3-dimensi dan menggunakan data orientasi ketakselanjaran.
Penerapan Teori Blok guna melakukan analisis kemantapan cerun batuan granit di
kawasan Bukit Fraser dengan tujuan iaitu :
1. Mengetahui orientasi ketakselanjaran utama.
2. Melakukan Identifikasi bentuk-bentuk blok batuan yang terbentuk dari perpotongan
bidang ketakselanjaran.
3. Melakukan Analisis Key blocks
4. Melakukan Analisis Kestabilan cerun dengan menggunakan Teori Blok.
5. Menentukan Zone aman dari cerun.
286
2. BLOCK THEORY
2.1. Block-Type (Bentuk-Blok)
Teori Blok (Block Theory), yang dikembangkan oleh Goodman dan Shi (1985), hingga
sekarang masih terus dikembangkan dan telah digunakan secara luas di Perlombongan,
penerowongan, pendasaran dan kejuruteraan lebuhraya serta perbukitan batuan.
Teori-Blok adalah berdasarkan analisis geometri untuk menentukan yang mana blok
batuan yang potensial runtuh terdapat dalam batuan. Blok terbentuk disebabkan perpotongan
orientasi ketakselanjaran dari batuan dan analisisnya dilakukan dalam 3-dimensi.
Maksud utama dari Teori-Blok adalah menemukan dan menjelaskan atau mencari
Key-blocks dari cerun, dan melakukan analisis terhadap key block. Key Blocks adalah blok
yang kritis yang dapat bergerak bebas dan jatuh atau runtuh. Rajah 1 memperlihatkan bentuk-
bentuk blok di permukaan cerun yang terbentuk oleh perpotongan orientasi bidang
ketakselanjaran. Walaupun sebenarnya blok tersebut adalah dalam 3 dimensi, untuk
menyederhanakan dan memudahkan dalam membedakan bentuk blok maka digunakan dalam
2 dimensi seperti rajah 1 tersebut. Bentuk blok dapat dibagi kedalam blok tak hingga (infinite)
dan blok hingga (finite). Blok tak hingga (bentuk V) diperlihatkan dalam Rajah 1(a) dan tidak
berbahaya sepanjang ia dapat menahan rekahan internal. Blok hingga (finite) dapat dibagi
dalam Non removable (blok tak dapat bergerak) dan removable (blok dapat bergerak). Rajah
1(b) adalah contoh untuk bentuk IV blok tak bergerak yang meruncing ke permukaan cerun.
Ia adalah blok hingga tetapi tidak dapat bergerak keluar permukaan cerun atau permukaan
bebas karena bentuk bloknya yang meruncing ke permukaan cerun. Blok hingga dan dapat
bergerak dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu blok bentuk III, Bentuk II, Bentuk I.
Identifikasi dari blok tersebut adalah sangat penting dalam analisis dan design cerun
selanjutnya. Sebagaimana yang diperlihatkan dalam Rajah 1(c), adalah blok bentuk III yang
stabil walau tanpa pengaruh sudut friksi dan gaya gravitasinya sendiri. Blok bentuk II
diperlihatkan dalam Rajah 1(d) dapat menjadi tetap stabil sepanjang gaya menggelincirnya
pada blok adalah kecil dari gaya friksi yang menahan. Jika hanya dipengaruhi gaya gravitasi,
bentuk blok II adalah stabil. Tetapi dapat bergerak keluar kearah permukaan cerun (bidang
bebas) jika gaya eksternalnya seperti gaya tekanan air, gaya inersia, dan lain-lain.sehingga
membuat total gaya yang menyebabkan gelincir lebih besar dari gaya friksi yang menahannya
untuk tak bergerak. Oleh karenanya blok bentuk II juga disebut blok yang berpotensi sebagai
blok kunci (key block). Akhirnya blok kunci (key Block) yang mana disebut sebagai blok
bentuk I seperti yang diperlihatkan Rajah 1(e) yang dapat menggelincir ke arah permukaan
cerun (bidang bebas) yang disebabkan pengaruh gaya gravitasi dan tak ada pengaruh gaya
eksternal. Oleh karena itu identifikasi key block adalah salah satu bagian paling penting
didalam analisis cerun batuan dengan menggunakan teori-blok.
287

Rajah. 1.
Bentuk-bentuk Blok yang terjadi dari perpotongan orientasi bidang-bidang
ketakselanjaran (joint).
Rajah 2. memperlihatkan mekanisme keruntuhan cerun untuk key-block bentuk I,
dilanjutkan dengan blok bentuk II, dan III. Kegagalan cerun tidak akan dapat terjadi jika Key-
Block (blok bentuk I) di paku, sehingga tidak mengalami kegagalan. Akibatnya blok bentuk
II, dan III akan aman atau tidak jatuh. Tetapi sebaliknya jika Key-Block tidak dipaku maka
blok bentuk I, tersebut akan menggelincir dan menyebabkan secara berurutan blok bentuk II
dan III mengikutinya untuk juga menggelincir.

Rajah 2.
Mekanisme keruntuhan cerun untuk key-blok (Blok bentuk I),dilanjutkan blok bentuk II, dan
III
288
2.2. Proyeksi Stereografik dari Bidang Ketakselanjaran
Proyeksi stereografik adalah alat untuk menanalisis struktur batuan dalam 3-dimensi dari
geometri blok batuan. Rajah 3, memperlihatkan dasar pembuatan proyeksi stereografik dari
orientasi bidang ketakselanjaran pada Upper Hemisphere (UH). U
i
dan L
i
adalah merupakan
upper dan lower half space dari bidang ketakselanjaran P
i
, secara berurutan, dan half space
dapat digantikan dengan bilangan binary (0 dan 1). Bilangan 0 sesuai untuk lambang U
i

dimana merupakan bagian half space diatas P
i
dan bilangan 1 sesuai untuk lambang L
i
dimana
merupakan bagian half space dibawah P
i
. Didalam proyeksi Upper Hemisphere, bagian atas
bidang ketakselanjaran (U
i
) adalah luasan didalam lingkaran besar dari bidang ketakselanjaran
P
i
, dan daerah dibawah bidang (L
i
) adalah luasan diluar lingkaran besar sebagaimana yang
diperlihatkan oleh rajah 3.

Rajah 3.
Proyeksi streografik dari bidang ketakselanjaran pada Upper Hemisphere.
2.3. Finiteness dan removability dari Blok
Rajah 4, memberikan beberapa terminology yang sesuai untuk menjelaskan permukaan
penggalian (excavation surface, ES), pada stereonet. Sisi tubuh batuan dari permukaan
penggalian disebut sebagai Excavation Pyramid (EP) pada stereonet dan itu menduduki
daerah luar dari lingkaran besar yang sesuai untuk orientasi permukaan penggalian. Daerah
ruang bebas (free-space) dari penggalian disebut Space Pyramid (SP) pada stereonet dan itu
terletak didalam lingkaran besar yang sesuai untuk permukaan penggalian (ES). Daerah
berbentuk bola yang terbentuk pada stereonet merupakan lanjutan dari perpotongan bidang
ketakselanjaran yang disebut sebagai joint pyramids (JP).
289

Rajah 4.
Proyeksi streografik dari Bidang Penggalian pada Upper Hemisphere.
Teorema Finiteness (Goodman dan Shi, 1985), yaitu suatu blok yang hingga (finite)
jika ia memenuhi kriteria yang diberikan dibawah ini (yaitu JP adalah sepenuhnya didalam
SP) :
Joint Pyramid (JP) Space Pyramid (SP) (1)
Blok yang tidak memenuhi kriteria yang diberikan diatas akan dikumpulkan kedalam
kumpulan blok tak berhingga atau infinite block (bentuk V). Oleh karenanya, dalam
menjelaskan bidang ketakselanjaran dan permukaan penggalian (ES) pada setreonet dan
dilakukan dengan menggunakan krieteria yang diberikan diatas, maka blok hingga dapat
dipisahkan dari blok tak berhingga.
Selanjutnya dengan mengikuti teorema removability (Goodman dan Shi, 1985), untuk
blok yang removable (bergerak), dan ditambahkan syaratnya memenuhi kriteria yang
diberikan oleh persamaan (1), JP yang sesuai untuk suatu blok tidak kosong (non-empty). Jika
JP adalah empty dan blok memenuhi yang diberikan persamaan (1). Blok termasuk kumpulan
blok finite non-removable (menajam kearah permukaan cerun) atau bentuk IV. Jika JP
adalah empty untuk blok finite menajam kearah permukaan cerun, mereka tidak
memperlihatkan proyeksi stereografik. Oleh karenanya joint pyramid (JP) akan memenuhi
kriteria yang diberikan persamaan (1) pada proyeksi stereografik termasuk kumpulan blok
finite removable blok (bentuk I, II, dan III). Sehingga dengan teorema dasar diatas dapat
melakukan analisis untuk setiap blok.
2.4 Pemisahan dan Analisis Blok Bentuk I, II, dan III.
Pergerakan kelongsoran/kegagalan blok batuan yang terbentuk dari perpotongan bidang
ketakselanjaran dibagi dalam tiga bentuk cara kegagalan : (1) lifting; (2) menggelincir pada
bidang tunggal, dan (3) menggelincir pada dua bidang. Hanya satu JP ada untuk setiap arah
pergerakan yang disebutkan diatas. Cara analisis (Goodman dan Shi, 1985) untuk dapat
290
menemukan JPs yang sesuai untuk semua arah pergerakan yang tersebut diatas adalah; Blok
bentuk III diketahui tak cukup untuk bergerak. Maksudnya suatu pergerakan kegagalan dapat
ditemukan untuk setiap blok bentuk I dan II. Konsep ini membolehkan pemisahan blok
bentuk III dari blok bentuk I dan II.
Persamaan keseimbangan yang diberikan oleh Goodman dan Shi (1985) dapat
digunakan untuk menghitung gaya menggelincir, F, dibawah pengaruh gaya resultante aktif, r,
untuk cara lifting, menggelincir diatas satu bidang dan dua bidang, semuanya dapat
diterapkan. Gaya F positif sesuai untuk blok bentuk I. Blok bentuk II menghasilkan gaya F
negative.
Dari hasil analisis ini kita dapat mengetahui kestabilan dari setiap blok, cara
menggelincir dan bentuk blok, sehingga sangat membantu dalam design rencana geometri
cerun selanjutnya.
2. HASIL ANALISIS DAN PERBINCANGAN TEORI BLOK DI BUKIT FRASER,
PAHANG MALAYSIA
Sebagaimana yang telah diuraikan terdahulu bahwa analisis Teori blok dilakukan untuk setiap
titik pengambilan sampel joint , yang diukur adalah orientasi dari joint dan dilakukan dengan
cara garis pengimbasan dan random. Jumlah data yang digunakan untuk analisis ini sebanyak
220 data orientasi ketakselanjaran diambil dari 6 lokasi di Bukit Fraser. Data orientasi
ketakselanjaran diplot kedalam stereoplot guna dilakukan proyeksi stereografik. Hasilnya dari
proyeksi stereografik adalah untuk mengetahui orientasi utama dari kekar, hasil dari
perhitungan ini didapatkan 6 (enam) buah joint utama seperti dalam jadual 1 dibawah ini.
Jadual 1.
Hasil pengukuran joint di Bukit Fraser
setelah dihitung dengan stereoplot.

N0 Joint Strike / Did-Angle Keterangan
J1 190 / 65 No joint (1-6)
J2 50 /84 Mejelaskan
J3 302 / 84 Urutan
J4 350 /77 Jumlah kum-
J5 135 /25 Pulan joint
J6 55 /45 1 =terbesar
Keterangan : Dip-direction = Strike + 90
0

Kemudian bidang bebas (BB), sesuai dengan daerah yang masih mudah gagal, yaitu
cerun jalan masuk di Bukit Fraser Hill, yang berada didalam kawasan fraser hill, memiliki
Strike / dip-angle iaitu 170 / 75.
Perhitungan kestabilan maksimum sudut cerun yang aman dihitung dengan arah menggelincir
dengan bidang tunggal, ganda dan jatuh bebas disesuaikan dengan bidang bebas (BB). Sudut
maksimum cerun yang aman akan mengikuti cara kegagalan sebagai maksimum dip dari cut
slope yang mana tidak akan membolehkan terdapat blok bentuk I pada arah
291
tersebut ada atau harus di paku dengan suatu system support. Analisis dapat
dilakukan dengan rencana bidang potongan (bidang-bebas, BB) yang berbeda-beda yang
menghasilkan bentuk blok-blok yang berbeda-beda. Ini akan mempengaruhi bentuk dan
keamanan dari cerun yang terbentuk. Karena setiap perubahan orientasi bidang bebas akan
mempengaruhi kestabilan cerun dan sudut maksimum yang dibolehkan pada cerun itu.
Dari J1 hingga J6 dan ditambahkan BB, maka dengan menggunakan teori blok, maka
dapat dihasilkan suatu proyeksi stereografik seperti rajah 5, dibawah ini.









Rajah 5.
Hasil proyeksi stereografik dari data jadual 1.

Pertama, Blok yang bergerak (bentuk I, II dan III) yang sudah kita identifikasikan
untuk setiap segmen. Dari hasil analisis dihasilkan terdapat 11 JP yang merupakan blok
bentuk I, II, dan III jelasnya lihat jadual 2. JP yang 11 buah tersebut terdapat pada kawasan
yang diberi titik-warna seperti rajah-5 dan blok JP jadual-2.
Jadual 2.
Hasil proyeksi stereografik
dan JP bentuk blok I, II, dan III yang dihasilkan.

JP JP JP
010100 001000 000100
010101 001100
011100 001101
011101 001110
011111 001111

292
Lantas analisis dapat dilakukan untuk memisahkan blok bentuk III dengan blok
Bentuk I dan II. Semua segment yang sudah dianalisis, hanya sebelas segmen yang
menghasilkan blok bentuk I atau II. Akhirnya blok bentuk I dan blok bentuk II dianalisis
untuk setiap segmen yang ditemukan.
Rajah 5 memperlihatkan identifikasi dari blok yang dapat bergerak dari segmen 1,
dengan menggunakan proyeksi stereografik. Orientasi dari ketakselanjaran dan permukaan
penggalian untuk section itu dapat dilihat pada jadual 1. Kemudian sudut cerun yang
diperbolehkan untuk cerun akan dalam keadaan stabil untuk setiap JP, dapat dilihat dari rajah
6. iaitu hasil analisis sudut dip dari cerun untuk Strike 170 derjah.




Rajah 6









Rajah 6.

Hasil proyeksi stereografik dan sudut dip untuk setiap blok.

Dari rajah 6 dihasilkan sudut dip antara untuk setiap key-block, sedangkan blok
bentuk I, II dan III yang ditemukan pada cerun tersebut sebanyak 11 buah, dan key-block
ditemukan sebanyak enam buah. Block yang bergerak sebanyak 5 buah (lihat jadual 3).
Rajah 6 dan jadual 3; menjelaskan kepada kita bahwa sudut-dip permukaan adalah
antara 0
0
dan 10
0
memiliki JPs 001000; 000100; 011100; 010100; dan 010101; yang
ditetapkan untuk blok yang bergerak. Untuk sudut antara 10 30 derjah, ditemukan JPs, yang
bergerak iaitu 011100; 001000; dan 000100 kemudian key-block sebanyak sebuah iaitu
011101.
Sedangkan pada sudut antara 30-38 derjah ditemukan hanya sebuah JPs yang dapat
bergerak iaitu 001000; dan Key-block ditemukan 2 buah iaitu 011101; 001101; Kemudian
untuk sudut dip antara 38-40 derjah ditemukan key-block sebanyak 3 buah iaitu 011101;
001101; dan 001100
293
Sudut dip antara 40-44 derjah ditemukan key-block sebanyak empat buah iaitu
011101; 001101; 001100; dan 001110. Dip untuk 44-54 derjah ditemukan juga key-block
sebanyak lima buah yaitu 011101; 001101; 001100; 001110; dan 001111; selanjutnya untuk
sudut dip antara 54-70 derjah ditemukan key-block sebanyak enam buah sama juga untuk
sudut dip antara 70-90 derjah iaitu 011101; 001101; 001100; 001110; 001111; dan 011111.
Dari jadual 3 menjelaskan interval sudut dip dengan key-block yang terdapat pada
interval sudut dip tersebut. Semakin kecil sudut dip cerun maka semakin berkurang
ditemukannya key-block.
Jadual 3.
Key-block untuk setiap dip-anggle
Nomor Dip-angle
(derjah)
Strike
(Derjah)
Key-block Removable
Blocks
1 0 10 170 - 001000; 000100;
011100; 010100;
010101.
2 10 30 170 011101 011100; 001000
000100.
3 30 38 170 011101; 001101 001000

4 38 40 170 011101; 001101;
001100

5 40 44 170 011101; 001101;
001100; 001110

6 44 54 170 011101; 001101;
001100; 001110;
001111

7 54 70 170 011101; 001101;
001100; 001110;
001111; 011111.

7 70 90 170 011101; 001101;
001100; 001110;
001111; 011111.

Dari uraian diatas menjelaskan kepada kita bahwa cerun bantuan di bukit fraser tidak
aman, untuk semua penggalian guna pembuatan lebuh-raya atau pembinaan lainnya maka
cerun perlu dilakukan support system. Blok mana yang akan di beri system support, sangat
dipengaruhi oleh rencana ST/DA dari penggalian batuan. Kemudian mencari key-block untuk
di paku. Sebagai contoh penggalian batuan Di Bukit fraser pada ST/DA seperti diatas iaitu
170 dj / 75 dj; maka ditemukan key-block sebanyak enam buah hingga satu buah disesuaikan
dengan sudut dip (lihat jadual 3), jika ingin aman maka blok tersebut di paku atau diberi
support system.
Uraian tersebut menjelaskan bahwa orientasi ketakselanjaran di Bukit Fraser terdapat 6 buah
ketakselanjaran (joint) dengan ST/DA iaitu : 190
0
/ 65
0
; 50
0
/84
0
; 302
0
/ 84
0
; 350
0
/77
0
; 135
0

/25
0
; 55
0
/45
0
. Dari ketakselanjaran tersebut maka dihasilkan enam buah key-Block iatu :
011101; 001101; 001100; 001110; 001111; dan 011111. dan lima buah blok yang bergerak
294
yaitu 001000; 000100; 011100; 010100; dan 010101. Dari analisis keyblock maka
dihasilkan sudut dip untuk key-block yang ditemukan seperti (jadual 3). Dari analisis
kestabilan cerun berdasarkan key-block diketahui bahwa cerun sangat tidak stabil dan perlu
support system untuk setiap key-block yang ditemukan dan disesuaikan dengan rencana sudut
dip cerun yang akan digali. Dari hasil ini diketahui bahwa zone aman dari cerun dengan sudut
dip yang sangat kecil iaitu 10 derjah dan ini untuk kawasan tersebut tak memungkinkan, atau
dapat disebut sangat sulit menemukan zone aman dari cerun di Bukit Fraser.
4. KESIMPULAN
Dari hasil perbincangan diatas dihasilkan bahwa :
1. Terdapatnya 6 (enam) buah ketakselanjaran di Bukit Fraser.
2. Dihasilkannya key-block sebanyak 6 (enam) buah, dan jumlahnya key-block
sesungguhnya sangat tergantung terhadap ST/DA dari penggalian cerun bukit Fraser.
3. Didapatkannya sudut-dip dan hubungan dengan jumlah key-block, 1) sudut dip antara
0-10 derjah dengan tidak ada key-block. 2) sudut dip antara 10-30 derjah dengan satu
buah key-block. 3) sudut-dip anatar 30-38 derjah dengan 2 buah key-block. 4) sudut
dip 38-40 derjah dengan 3 buah key-block, 5) sudut dip 40-44 dengan empat buah
key-block, 6) sudut dip 44-54 derjah terdapat 5 buah key-block; dan 7) sudut dip 54-
70 derjah dengan enam buah key-block dan sama dengan jumlah untuk sudut dip 70-
90 derjah.
4. Cerun batuan granit di Bukit Fraser tidak aman, dan diperlukan system support.
Rujukan
Goodman R.E., dan Shi Gen-Hua., 1985, Block Theory and its application to rock
engineering, Englewood Cliffs, NJ:Prantice-Hall.

Goodman R.E., 1989, Introduction to rock mechanics, 2
nd
ed. New York, Willey.

Goodman R.E., 1995, Block Theory and its application, Geothehnique, 45(3), 383-423.

Ibrahim Komoo, dan Ibrahim Abdullah., 1983, Ketakselanjaran dan kaedah pengukuran di
Lapangan, Sains Malaysiana, 12 (2), 119-140.

Haswanto & Ghani Rafek A, 2005, Kinematic and block theory application to rock slope
stability analysis at Frasers Hill, Pahang, Malaysia., in press. Scool of Engineering,
Cardiff of University.

Haswanto & Ghani Rafek A, 2005, Slope stability analysis for plane failure under the
influence of a Tension Crack., in press. Scool of Engineering, Cardiff of University.

Haswanto & Ghani Rafek A and Mohd Khirul Azmi bin Mohd Yassin, 2005, Penerapan Teori
Blok untuk analisis kestabilan Lereng di Kuari Rockplus Kuantan Malaysia.,
Proceedings Joint Convention Surabaya , HAGI-IAGI-PERHAPI, the 30
th
HAGI, the
34
th
IAGI, the 14
th
PERHAPI, Surabaya, pp830-851.

Jeongi-gi Um, Kulatilake P.H.S.W., 2001, Kinematic and block theory analyses for shiplock
slope of the three gorges dam site in china, Geothecnical and Geological Eng. 19: 21-
42.
295
APLIKASI VENTSIM UNTUK EVALUASI VENTILASI DI CIURUG
UBPE PONGKOR, PT ANTAM Tbk., INDONESIA

Risono*
1)
, Achmad Ardianto
1)
, Djoko Widajatno
2)
, Nuhindro Priagung Widodo
2)


1) UBPE Pongkor, PT Antam Tbk, Indonesia
2) Program Studi Teknik Pertambangan, FIKTM, ITB, Bandung, Indonesia

ABSTRAK
Tambang Ciurug adalah salah satu lokasi penambangan di tambang emas Pongkor, PT Antam
Tbk, Indonesia, dimana metode penambangan yang diterapkan adalah cut and fill mekanis
yang berada di elevasi 515-700 m diatas permukaan laut. Udara bersih untuk kebutuhan
ventilasi tambang berasal dari dua titik portal utama yang berada di L.515 dan L.600. Dan
terdapat tiga vertikal shaft lubang pembuangan udara kotor yang terhubung dengan jaringan
ventilasi utama yang masing-masing berada di lokasi CURB I, L.700, dan RC 4. Makalah ini
membahas tentang evaluasi terhadap kondisi jaringan ventilasi yang ada saat ini dan
kemudian melakukan simulasi penempatan kipas utama dengan menggunakan Ventsim-versi
3.7.1 untuk mendapatkan distribusi udara bersih yang optimal khususnya di daerah Ciurug
dengan tetap mengacu pada infrastruktur yang ada saat ini. Perubahan CURB I sebagai intake
serta L.700 dinaikan kapasistasnya mendapatkan distribusi udara bersih yang lebih merata
yang pada akhirnya dapat menurunkan temperatur dan kelembaban udara di tambang Ciurug.

ABSTRACT
Ciurug is one of the mining areas in the Pongkor Underground Gold Mine, PT Antam Tbk,
Indonesia. Pongkor is located at an elevation 515700 m above sea level and is a
mechanized mine utilizing cut and fill stoping. Fresh air is supplied from two intake portals
that are located at a level of 515 m and at a level of 600 m. Fresh air is distributed to areas of
the south, central and north blocks. There are three vertical shafts connected to three main
fans to exhaust the air, namely CURB I, L. 700, and RC 4. This paper reviews the existing
ventilation network and simulates the proposed ventilation changes for further distribution of
fresh air at Ciurug mine. Computer simulation using Ventsim-version 3.7.1 is performed to
determine the optimum ventilation network that will best distribute fresh air at the Ciurug
mining area with regards to its compatibility with existing ventilation infrastructure. Changes
include converting the exhaust shaft at CURB 1 to an intake shaft to increase air quantity at
L.700 resulting in reduced temperature and humidity at the Ciurug mine.

Kata kunci :
Tambang, bawah tanah, ventilasi, mining, underground, ventilation, simulation, fan, ventsim.

LATAR BELAKANG
Ventilasi pada tambang bawah tanah mempunyai peran yang sangat penting dalam aktivitas
penambangan. Ventilasi berfungsi untuk menyediaan dan mengalirkan udara segar ke dalam
tambang, melarutkan dan membawa keluar udara kotor, serta mengatur panas dan kelembaban
udara dalam tambang sehingga diperoleh lingkungan kerja yang nyaman dan memenuhi nilai
ambang batas yang telah ditetapkan. Sistem ventilasi sangat dinamis perubahanya seiring
dengan kemajuan development tambang, sehingga secara periodik perlu dilakukan evaluasi.
Di tambang Ciurug, PT Antam Tbk, UBPE Pongkor, merupakan tambang emas dengan
metode penambangan cut and fill mekanis yang berada di elevasi 515-700 m diatas
*) email address : risono@antam.com
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
permukaan laut. Pongkor masuk kedalam wilayah kabupaten Bogor yang berjarak sekitar 90
Km dari Jakarta.


Gambar 1. Lokasi tambang emas Pongkor, PT Antam Tbk.

Seiring dengan kemajuan tambang, maka terjadi penambahan jumlah lubang bukaan baik
berasal dari akses development maupun kemajuan stope penambangan di Ciurug yang
berakibat pada penambahan jalur udara baru sehingga terjadi perubahan sistem ventilasi di
Ciurug. Perubahan ini mengakibatkan perubahan kualitas dan kuantitas udara didalam
tambang Ciurug, sehingga di beberapa titik terdapat distribusi udara, temperatur dan
kelembaban yang kurang optimal.

SISTEM VENTILASI CIURUG
Di tambang Ciurug terdapat dua area kerja yaitu tambang Ciurug L. 500 dan tambang Ciurug
L. 600, dimana jalur utama ventilasi di Ciurug terdiri dari drift, decline dan rise. Udara bersih
untuk kebutuhan ventilasi tambang berasal dari dua titik portal utama yang berada di L.515
dan L.600, serta terdapat tiga vertikal shaft lubang pembuangan udara kotor yang terhubung
dengan jaringan ventilasi utama yang masing-masing berada di lokasi CURB I, L.700, dan
RC 4 (Gambar 2).

Gambar 2. Jaringan ventilasi tambang Ciurug sebelum evaluasi
RC 4
297
Negative pressure pada jalur pembuangan udara kotor ke permukaan dihasilkan oleh tiga
buah axial exhaust fan yang ditempatkan di CURB 1, L.700, dan RC 4 dengan tipe masing-
masing HOWDEN VAN1600-7,5/50-4-132, GIA AVH160.132.10/50, GIA
AVH140.110.4.8/50. Untuk memenuhi kebutuhan udara pada lubang buntu dalam kegiatan
produksi maupun development dipergunakan auxilary fan yang disambungkan dengan flexible
duct sampai ke muka kerja yang sedang aktif. Distribusi debit udara (Q) dari masing-masing
intake dan exhaust dapat dilihat pada Tabel I.

Tabel I. Distribusi debit udara intake dan exhaust
Lokasi Q (m
3
/menit)
Intake udara bersih
a. Portal 515 2067,0
b. Portal 600 7406,4
c. RC IX 125,4
Total (A) 9598,8
Exhaust udara kotor
a. RC 4 2878,8
b. L. 700 3742,2
c. CURB I 2832,0
Total (B) 9453,0
Unbalance (A-B/B) 1,5 %

KEBUTUHAN DAN DISTRIBUSI UDARA
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan Dan Energi No. 555.K/26/M.PE/1995,
kebutuhan volume udara untuk setiap orang tidak kurang dari 2 m
3
/menit dan untuk setiap
mesin diesel yang dioperasikan tidak kurang dari 3 m
3
/menit/HP atau setara dengan 4,1
m
3
/menit/kW. Hasil pengukuran udara di tiap lokasi kerja di tambang Ciurug dapat dilihat
pada Tabel II.

Tabel II. Kebutuhan dan distribusi udara tambang Ciurug
Blok Selatan Blok Central & Utara
Lokasi Keterangan Jumlah Unit Kebutuhan
(m3/mnt)
Jumlah Unit Kebutuhan
(m3/mnt)
1. Peralatan
a. LHD 2 x 136 kW 1115,2 1 x 136 kW 557,6
b. Jumbo Drill 1 x 44 kW 180,4 1 x 44 kW 180,4
c. Wheel Loader 1 x 56 kW 229,6 1 x 56 kW 229,6
d. Dozer 1 x 50 kW 205
e. Kompresor 1 13
2. Bengkel UG 30,8 m
2
462
Ciurug L 500
3. Pekerja 30 orang 60 30 orang 60
Total kebutuhan udara 2265,2 1027,6
Pasokan udara tersedia 2323,8 1128,0
Kecukupan udara Cukup dan berlebih Cukup dan berlebih
1. Peralatan
a. LHD 2 x 136 kW 1115,2 2 x 136 kW 1115,2
b. Jumbo Drill 2 x 44 kW 360,8 1 x 44 kW 180,4
c. Wheel Loader 1 x 56 kW 229,6
d. Dozer 1 x 50 kW 205
Ciurug L 600
2. Pekerja 30 orang 60 30 orang 60
Total kebutuhan udara 1970,6 1355,6
Pasokan udara tersedia 2586,6 1756,8
Kecukupan udara Cukup dan berlebih Cukup dan berlebih
298
Dari tabel II diatas, dapat disimpulkan bahwa di tiap blok penambangan Ciurug sudah
memenuhi, tetapi seiring dengan pengembangan tambang di Ciurug yang masih dikerjakan
mengakibatkan kebutuhan udara dibeberapa jalur utama masih kurang jika 2 unit LHD
beroperasi secara bersamaan, hal ini disebabkan oleh pekerjaan development yang masih
terus dilakukan secara simultan dengan aktivitas penambangan di stope.

PERMODELAN VENTILASI CIURUG
Simulasi komputer jaringan ventilasi di Ciurug menggunakan software Ventsim-versi 3.7.1.
(Ventsim). Evaluasi airflow dalam software Ventsim berdasarkan pada Hardy Cross Method,
dimana iterasi yang dilakukan dengan cara adjustment pada nilai airflow sampai nilai
kesalahan berada dalam batas yang masih dapat diperkenankan. Ventsim merupakan alat
bantu yang dapat digunakan untuk :
1. Menyimpan data-data yang terkait jaringan ventilasi tambang.
2. Melakukan simulasi ventilasi tambang yang telah direncanakan.
3. Membantu dalam perencanaan ventilasi jangka pendek dan jangka panjang.
4. Membantu proses pemilihan dan tata letak fan dalam ventilasi tambang.
5. Melakukan analisis financial ventilasi untuk mendapatkan alternatif yang optimal.
6. Membuat simulasi kondisi darurat untuk aliran dan konsentrasi asap, debu serta gas.
Dalam makalah ini membahas pemakaian Ventsim untuk membantu melakukan perencanaan
ventilasi yang meliputi simulasi, optimalisasi, proses pemilihan dan tata letak fan dalam
jaringan ventilasi di Ciurug.

Pembuatan model ventilasi Ciurug dengan Ventsim berdasarkan pada data survey ventilasi,
kordinat airway dan spesifikasi alat-alat ventilasi yang ada. Prosedur yang dilakukan dalam
membuat model ventilasi Ciurug dengan Ventsim adalah sebagai berikut :
1. Memasukan data-data airway yang meliputi data kordinat, ukuran lubang bukaan, kurva
karakteristik fan yang dipergunakan dan jenis resistensi (shock loss dan friction factor)
sesuai dengan kondisi lapangan.
2. Pastikan bahwa arah aliran sudah sesuai dengan data hasil survey ventilasi dilapangan.
3. Pastikan titik-titik udara masuk dan keluar sudah sesuai dengan kondisi dilapangan dan
tidak terjadi network errors saat simulasi dijalankan.
4. Dengan menggunakan fungsi FIX pada Ventsim, masukan nilai debit aliran hasil survey
ventilasi pada titik intake yang telah dibuat dalam jaringan ventilasi, kemudian lakukan
simulasi.
5. Periksa hasil simulasi tersebut diatas dengan data hasil survey ventilasi.
6. Periksa dan koreksi nilai resistensi pada semua airway sampai didapatkan arah dan debit
aliran dalam model sesuai dengan data hasil survey ventilasi sampai didapatkan korelasi
yang baik.
7. Lakukan UNFIX nilai debit aliran pada titik intake yang dilakukan di langkah ke-4
tersebut diatas.
8. Pilih dan letakan fan utama pada posisi titik exhaust sesuai dengan poisi saat survey
ventilasi dilakukan, kemudian lakukan simulasi kembali.
9. Periksa nilai operating points fan utama hasil simulasi dengan hasil pengukuran langsung
dilapangan, hal ini untuk memastikan bahwa kurva karakteristik fan yang dimasukan ke
dalam Ventsim sudah sesuai dengan kinerja fan yang sebenarnya.
Dari prosedur tersebut diatas, maka dihasilkan permodelan ventilasi yang dapat
merepresentasikan kondisi ventilasi yang ada di dalam tambang Ciurug. Kerangka model
jaringan ventilasi Ciurug dalam Ventsim seperti terlihat pada gambar 3.
299
Survey
Ventilasi
Kerangka
Jaringan
Distribusi debit
dan tekanan hasil
simulasi
Simulasi
Komputer
Perencanan
Ventilasi
Korelasi sudah
baik ?
Kriteria ventilasi
terpenuhi ?
Optimal ?
Optimalisasi
posisi fan
Ya
Tidak
Perbaiki
Jaringan
Persyaratan
Peraturan &
Perundangan
yang berlaku
terkait
ventilasi
tambang
Ya
Tidak

update jaringan
Tidak
Ya
Proses Perencanaan ventilasi untuk
kemajuan tambang berikutnya
Perencanaan
Ventilasi
Update
jaringan

Gambar 3. Kerangka model jaringan ventilasi Ciurug

PERENCANAAN VENTILASI CIURUG
Setelah model jaringan ventilasi Ciurug sudah cukup baik (good correlation) untuk kondisi
tambang yang kompleks bila penyimpangan hasil simulasi model jaringan dengan data survey
ventilasi lebih kecil dari 0,1 atau 10 %.



























Gambar 4. Diagram alir permodelan dan perencanaan ventilasi
CURB I
L. 700
L. 515
L. 600
RC 4
RC IX
RC 1
RC VI
RC VII

300
Setelah mendapatkan model ventilasi yang baik, maka langkah selanjutnya adalah
perencanaan ventilasi untuk dapat terpenuhinya kriteria ventilasi sesuai persyaratan dan
perundangan yang berlaku. Permodelan dan perencanaan ventilasi merupakan proses yang
tidak berhenti selama kegiatan penambangan masih berlangsung. Urutan atau diagram alir
dalam permodelan dan perencanaan ventilasi seperti terlihat pada gambar 4. Untuk memenuhi
kebutuhan udara dalam tambang Ciurug berdasarkan metode penambangan serta alat yang
digunakan, maka dalam perencanaan ventilasi pada setiap jalur utama harus dapat mampu
memenuhi minimal kebutuhan untuk 2 unit LHD beroperasi secara bersamaan atau debit
aliran pada jalur utama minimal sebesar 1140 m
3
/menit dan temperatur udara antara 18
0
C -
24
0
C dengan kelembaban relatif (RH) maksimum 85 %. Hasil survey ventilasi di tambang
Ciurug masih terdapat debit (Q) dibawah 1140 m
3
/menit di beberapa jalur utama tambang
Ciurug, disamping juga di beberapa tempat kelembabanya (RH) masih cukup tinggi seperti
yang tertera pada tabel III dibawah ini.

Tabel III. Lokasi jalur utama yang kritis (tidak memenuhi persyaratan kebutuhan)
Lokasi Q (m
3
/menit) RH (%) Keterangan
MHL Central L.500 780 96 Q dan RH tidak memenuhi persyaratan
Loading point Central L.500 210 96 Q dan RH tidak memenuhi persyaratan
DFW Central RC-7 L.600 858 83 Q tidak memenuhi persyaratan
Ramp Up Central L.600 738 83 Q tidak memenuhi persyaratan
DFW Utara L.600 474 67 Q tidak memenuhi persyaratan
Ramp Up Utara Loop 1 L.600 1326 86 RH tidak memenuhi persyaratan

Pada jalur utama yang kritis tersebut diatas maka perlu dilakukan pemenuhan kriteria dan
optimalisasi sistem ventilasi di Ciurug. Langkah yang harus dilakukan adalah melakukan
update jaringan, melakukan suvey ventilasi untuk keperluan permodelan dan membuat
perencanaan ventilasi untuk mendapatkan alternatif yang optimal.

Untuk melakukan update permodelan ventilasi, maka perlu dilakukan update survey ventilasi
sesuai perencanaan yang telah dibuat. Titik yang akan dilakukan pengukuran berjumlah 46
titik pengukuran yang meliputi jalur intake, exhaust, dan jalur utama ventilasi Ciurug. Kondisi
umum pada saat dilakukan update survey ventilasi adalah sebagai berikut :
1. Main fan 1x132 Kw di CURB 1 pada posisi tidak diaktifkan (tipe main fan HOWDEN
VAN1600-7,5/50-4-132).
2. Main fan 1x132 Kw di L.700 pada posisi diaktifkan (tipe main fan GIA
AVH160.132.10/50).
3. Main fan 1x110 Kw di RC 4 pada posisi diaktifkan (tipe main fan GIA
AVH140.110.4.8/50).
4. Semua auxilary fan pada jalur CURB1 dimatikan.
Hasil survey dan model ventilasi untuk intake dan exhaust dapat dilihat pada tabel IV.

Untuk menghitung nilai korelasi pada model ventilasi ciurug menggunakan persamaan :




Sebuah model ventilasi sudah dianggap baik apabila hasil perhitungan korelasi sesuai
persamaan diatas lebih kecil dari 0,1 atau 10 %. Untuk melakukan perbaikan kondisi ventilasi
tersebut, maka dibuatlah 5 alternatif sebagai berikut
Flow Measured Total
Flow Predicted Flow Measured abs
n Correlatio

301
1. Alernatif 1, menjadikan CURB 1 sebagai intake, memasang 2x132 Kw main fan di L.700,
memasang bulkhead dan booster fan 1x37 Kw di x/c 9-3 selatan L.500.
2. Alernatif 1B, menjadikan CURB 1 sebagai intake, memasang 2x132 Kw main fan di
L.700, serta membuka x/c 9-3 selatan L.500 sebagai aliran udara kotor.
3. Alernatif 2, menjadikan CURB 1 sebagai intake, memasang 1x132 Kw main fan di L.700,
memasang bulkhead di x/c 9-3 selatan L.500.
4. Alernatif 2B, menjadikan CURB 1 sebagai intake, memasang 1x132 Kw main fan di
L.700, serta membuka x/c 9-3 selatan L.500 sebagai aliran udara kotor.
Alernatif 2C, menjadikan CURB 1 sebagai intake, memasang 1x132 Kw main fan di L.700,
memasang bulkhead dan booster fan 1x37 Kw di x/c 9-3 selatan L.500.

Tabel IV. Hasil survey dan model ventilasi pada intake dan exhaust ventilasi Ciurug
Q Survey Q model
Lokasi

(m
3
/s) (m
3
/s)
Intake
Portal L.600 71,2 78,1
CURB 1 10,5 10,9
RC 9 2,2 2,4
MHL 500 21,1 22,8
Exhaust
RC 4 51,5 52,8
L.700 63,1 61,3
*)Nilai korelasi 8,8 % atau lebih kecil dari 10 %,
satuan Q (m
3
/s) mengikuti standar Ventsim

Tabel V. Hasil optimalisasi model ventilasi pada jalur utama yang kritis
Q model setelah optimalisasi
Lokasi

Q model
sebelum
optimalisasi Alt. 1 Alt. 1B Alt. 2 Alt. 2B Alt. 2C
Intake (m
3
/s) (m
3
/s) (m
3
/s) (m
3
/s) (m
3
/s) (m
3
/s)
Portal L.600 78,1 105,5 112,0 63,5 72,2 57,5
CURB 1 10,9 25,5 16,7 28,7 17,9 35,9
RC 9 2,4 3,2 3,4 1,9 2,2 1,7
MHL 500 22,8 30,0 31,1 30,0 22,1 19,9
Exhaust
RC 4 52,8 52,0 51,8 53,0 52,8 53,1
L.700 61,3 112,3 111,3 61,8 61,5 61,9
L.500 Ciurug
MHL Central 13,6
*

24,1 29,1 15,2
*
16,1
*
14,6
*

Loading point Central 7,2
*

10,6
*
19,1 9,2
*
9,0
*
9,2
*

L.600 Ciurug
DFW Central RC-7 14,6
*

26,0 25,9 9,1
*
9,0
*
9,4
*

Ramp Up Central 13,2
*

48,1 47,6 37,0 36,8 37,1
DFW Utara 7,0
*

28,1 28,2 29,0 29,1 29,0
Ramp Up Utara Loop 1 22,4
26,9 27,0 22,3 22,4 22,3
*)
Nilai Q dibawah persyaratan kebutuhan udara minimum..

Parameter-parameter dari kelima alternatif tersebut dimasukan dalam model yang sudah ada,
kemudian dilakukan simulasi untuk mendapatkan alternatif yang paling optimal. Pada tabel V
dapat dilihat hasil optimalisasi dari kelima alternatif tersebut, dan disimpulkan bahwa
302
alternatif 1B merupakan alternatif yang bisa diterapkan karena semua Q pada jalur utama
yang kritis sudah memenuhi persyaratan.

VENTILASI CIURUG SETELAH PERBAIKAN
Setelah memilih alternatif yang paling optimal, maka langkah selanjutnya adalah menerapkan
perencanaan ventilasi sesuai dengan alternatif 1B. Hasil dari penerapan alternatif 1B sudah
dapat memenuhi kriteria pesyaratan peraturan dan perundangan yang berlaku. Perbedaan
distribusi udara dan kelembaban pada jalur utama yang kritis dapat dilihat pada tabel VI,
sedangkan untuk distribusi udara pada jalur intake dan exhaust sebelum dan sesudah
perbaikan dapat dilihat pada gambar 5 dan 6.

Tabel VI. Lokasi Jalur Utama Sebelum dan Setelah Perbaikan
CURB 1 sebagai exhaust CURB 1 sebagai intake
Lokasi
Q (m
3
/menit) RH (%) Q (m
3
/menit) RH (%)
MHL Central L.500 780 96 1458 76
Loading point Central L.500 210 96 1152 71
DFW Central RC-7 L.600 858 83 2682 78
Ramp Up Central L.600 738 83 1338 79
DFW Utara L.600 474 67 2112 65
Ramp Up Utara Loop 1 L.600 1326 86 2082 78











Gambar 5. Udara intake dan exhaust ketika CURB 1 sebagai exhaust (sebelum perbaikan).










Gambar 6. Udara intake dan exhaust ketika CURB 1 sebagai intake (setelah perbaikan).


KESIMPULAN DAN DISKUSI
Kondisi ventilasi setelah dilakukan perbaikan harus terus dilakukan pemantauan, update
jaringan dan evaluasi seiring dengan kemajuan tambang yang masih terus dikerjakan.
Perencanaan ventilasi harus terus diperbaharui seiring dengan kemajuan atau perubahan
tambang baik secara teknologi maupun metode terutama ketika terdapat tembusan atau lubang
303
bukaan baru. Untuk kondisi tambang yang sangat kompleks alat bantu komputer sangat
dibutuhkan dalam membuat perencanaan ventilasi yang baik dan untuk mendapatkan nilai
korelasi dibawah 10 % merupakan tantangan tersendiri khususnya untuk tambang yang sangat
kompleks.

Banyak software yang bisa digunakan dalam perencanaan ventilasi walaupun masih ada
kekurangan, misalnya dalam software Ventsim tidak bisa menghitung perubahan suhu atau
kelembaban suatu kondisi ventilasi yang ada sehingga harus dihitung tersendiri diluar
Ventsim. Perkembangan software ventilasi masih tergolong lambat bila dibandingkan dengan
perkembangan software tambang bidang lainya, sehingga pengembangan software ventilasi
khususnya bagi ahli tambang Indonesia merupakan tantangan tersendiri, karena masih ada
peluang yang besar untuk melengkapi dan mengembangkan software ventilasi. Kebutuhan
software untuk dunia pertambangan sekarang ini sangat penting karena perencanaan,
pelaksanaan serta evaluasi harus dilakukan secara cepat dan efektif.

UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada SVP UBPE Pongkor, Manajemen UBPE
Pongkor, Pengawas Sarana Tambang serta Tim Survey Ventilasi Ciurug yang telah banyak
membantu sehingga makalah ini bisa disusun dan disampaikan dalam acara TPT XVII
PERHAPI 2008.

DAFTAR PUSTAKA
CMS Software, 2004, VentSim User Manual 3.7.1.
Direktorat Teknik Pertambangan Umum, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Kepmen
Pertambangan dan Energi Indonesia No.:555.K/26/M.PE/1995, Tahun 1995, Tentang
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum, Bab VIII Bagian Delapan.
E.W. Capehart, and B. Watson, 2001. Agnew Gold Mine Expansion Mine Ventilation
Evaluation Using Ventsim. Proceedings Of The 7
th
International Mine Ventilation
Congress, Chapter 51.
Hartman, H. L., Mutmansky, J.M., Y.J. Wang, 1982. Mine Ventilation and Air Conditioning,
John Wiley & Sons, New York.
K.G. Wallace, B.S. Prosser, 2006. Mine Ventilation Planning And Design Workshop, 11
th
US
Mine Ventilation Symposium, Penstate University, USA.
LAPI ITB, 2007. Kajian Sistem Ventilasi Di UBPE-Pongkor PT Antam Tbk, Laporan Akhir,
Code. PR 06-3350, Hal. 5-38.
McPherson, Malcolm J, 1993. Ventilation Planning, Subsurface Ventilation and
Environmental Engineering, London, Chapman & Hall Inc, Chapter 9.
Risono, Widodo N.P., and Gautama R.S., 2006. Mine Fire Management, Case Study in
Pongkor PT Aneka Tambang Tbk., Indonesia, Proceedings Of The 11
th
US/North
American Mine Ventilation Symposium, Taylor & Francis/Balkema, ISBN 0415401488.
Widodo N.P., Sasaki K., Gautama R.S. and Risono, 2008. Mine ventilation measurements
with tracer gas method and evaluations of turbulent diffusion coefficient, International.
Journal of Mining, Reclamation and Environment, First article, volume 22, Issue 1 March
2008, pages 60-69.

304
APLIKASI BACKFILL PADA TAMBANG MEKANIS CUT AND FILL
DI CIURUG UBPE PONGKOR, PT ANTAM Tbk., INDONESIA

Setyawan Suseno
UBPE Pongkor PT Antam Tbk., Indonesia

ABSTRAK
PT Aneka Tambang Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor menerapkan sistem
penambangan bawah tanah Cut and Fill Stoping. Pada sistem penambangan tersebut, stope
atau lombong yang telah diambil bijihnya akan diisi kembali
(backfilling) dengan material-material berupa slurry maupun waste dari bekas-bekas batuan
hasil penggalian ( production and development ). Hal ini dilakukan untuk mempermudah
pengambilan kembali batuan-batuan bijih yang masih terdapat di bagian atas lantai
penambangan ( pada atap stope ). Untuk menghasilkan material isian yang ramah terhadap
lingkungan, maka setiap element batuan bijih sisa pengolahan perlu dihilangkan pengaruh
buruknya berupa sianida yang dapat berdampak negatif apabila terlepas bebas di dalam
lingkungan.
Sebagai tahap awal, dilakukan proses Cyanide Detox dengan tujuan untuk mengurangi kadar
sianida yang terdapat dalam slurry yang merupakan hasil akhir dari proses pengolahan bijih
basah. Kemudian dari proses cyanide detox, slurry ditransport ke backfill silo, dan dilanjutkan
ke backfill dam. Ini dilakukan untuk mengontrol jumlah dan kandungan sianida dari slurry
sebelum masuk backfill Dam. Backfill Dam tempat penampungan slurry sementara, sehingga
dapat dialirkan langsung ke dalam tambang jika diperlukan slurry untuk mengisi ke dalam
stope. Namun sebelum ditransport ke stope yang telah siap untuk diisi, slurry dipompakan
terlebih dahulu ke Thickener untuk dilakukan komulasi perbesaran persen solid. Selanjutnya
slurry dipompakan kembali ke semen silo untuk proses penambahan aditif dan semen. Dengan
demikian slurry sudah siap ditransport ke dalam tambang sebagai material filling.

ABSTRACK
Multifarious PT [of] Mine Unit Business Mining of Gold of Pongkor apply system mining of
underground of Cut and Fill Stoping and. Mining system, mine or stope which have been
taken by its ore will backfilling with materials in the form of and also slurry of waste of rock
secondhands result of development and production . This matter [is] [done/conducted] to
water down intake return ore rocks which still there are on the top dance mining at roof of
stope . To yield friendly stuffing material to environment, hence each;every ore rock element
of is rest of processing require to be eliminated by influence of obsolence in the form of
cyanide able to affect negativity if escaping free in environment
As early stage, process Cyanide Detox as a mean to lessen cyanide rate which there are in
slurry representing end result of process processing of wet ore. Later;Then from process of
cyanide detox, ditransport slurry to silo backfill, and continued to draught backfill. This
isconducted to control cyanide content and amount of slurry before entering Draught backfill.
Backfill Draught place relocation of slurry whereas, so that can be conducted direct into mine
if needed by slurry to fill into stope. But before ditransport to stope which have ready for
filled, slurry pumped beforehand to Thickener to be conducted by komulasi magnification of
[gratuity/ %] of solid. Hereinafter slurry re-pumped to silo cement for the process of addition
of cement and additive. Thereby slurry have ready to ditransport into mine as material of
filling.
Kata kunci : Backfill, slurry, Filling, stope, thickener, cut and fill stoping, backfill dam.
PROSIDING TPT XVII PERHAPI 2008
Latar Belakang

PT Aneka Tambang Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor menerapkan sistem
penambangan bawah tanah Cut and Fill Stoping. Pada sistem penambangan tersebut, stope
atau lombong yang telah diambil bijihnya akan diisi kembali
(backfilling) dengan material-material berupa slurry maupun waste dari bekas-bekas batuan
hasil penggalian ( production and development ). Hal ini dilakukan untuk mempermudah
pengambilan kembali batuan-batuan bijih yang masih terdapat di bagian atas lantai
penambangan ( pada atap stope ). Untuk menghasilkan material isian yang ramah terhadap
lingkungan, maka setiap element batuan bijih sisa pengolahan perlu dihilangkan pengaruh
buruknya berupa sianida yang dapat berdampak negatif apabila terlepas bebas di dalam
lingkungan.

1. Kegiatan Pengisian Ulang ( Backfilling )
Sebagai tahap awal, dilakukan proses Cyanide Detox dengan tujuan untuk mengurangi kadar
sianida yang terdapat dalam slurry yang merupakan hasil akhir dari proses pengolahan bijih
basah. Kemudian dari proses cyanide detox, slurry ditransport ke backfill silo, dan dilanjutkan
ke backfill dam. Ini dilakukan untuk mengontrol jumlah dan kandungan sianida dari slurry
sebelum masuk backfill Dam. Backfill Dam tempat penampungan slurry sementara, sehingga
dapat dialirkan langsung ke dalam tambang jika diperlukan slurry untuk mengisi
ke dalam stope. Namun sebelum ditransport ke stope yang telah siap untuk diisi, slurry
dipompakan terlebih dahulu ke Thickener untuk dilakukan komulasi perbesaran persen solid.
Selanjutnya slurry dipompakan kembali ke semen silo untuk proses penambahan aditif dan
semen. Dengan demikian slurry sudah siap ditransport ke dalam tambang sebagai material
filling.












Cyanide Detox
Dalam proses cyanide detox kadar sianida / CN diturunkan dengan menggunakan larutan
SMBS ( Sodium Meta Bisulfat ) dan CuSO
4
.5H
2
O serta dimasukkan DO / Dissolved Oxygen.
Slurry yang digunakan sebagai material filling untuk backfilling pada stope yang telah kosong
berasal dari hasil akhir pengolahan yang sudah tidak dapat diolah lagi. Pada proses
Cyanide Detox Plant
Backfill Silo Plant 2 Backfill Silo Plant 1
Floculant
+
Coagulant
Semen
+
Aditif
TD Fatmawati
Settling Pond
Cement Silo Plant
STOPE
Tailing Dam
OF
UF
OF
UF
OF
UF
Backfill Dam Plant
Thickener Plant
306
pengolahan batuan-batuan bijih yang akan diambil kandungan logamnya diproses dalam
tangki-tangki. Dari tangki-tangki tersebut dilakukan penambahan floculant yang diaduk
perlahan oleh agitator yang ada di dalam tangki.
Fungsi thickener yang terdapat di pengolahan ini adalah sebagai solid separation, yang
berperan dalam memisahkan antara padatan ( solid ) dengan cairan ( liquid ). Untuk itu maka
ditambahkan floculant yang dapat membentuk floc - floc / gumpalan yang berasal dari
partikel-partikel solid, sehingga terjadi pengendapan partikel-partikel solid tersebut. Untuk
membantu proses ini, digunakan agitator dengan kecepatan rendah. Karena jika dilakukan
pengadukan dengan kecepatan yang tinggi, maka flog-flog tersebut tidak akan terbentuk
disebabkan pecah sebelum terbentuk gumpalan ( flog ).
Setelah kadar persen solid yang terbentuk sebesar 40% - 60%, maka underflow dari tangki
thickener tersebut dialirkan ke dalam tangki cyanide detox, sedangkan overflow berupa air
yang masih mengandung sianida dialirkan lagi untuk kemudian dipakai lagi untuk proses
pengolahan.
Dari tangki cyanide detox juga akan menyalurkan slurry yang memiliki persen solid sebesar
40% sampai 60% ke backfill silo. Slurry yang berasal dari cyanide detox yang masuk dalam
backfill silo yang sebelumya ditampung dalam sump terlebih dahulu baru kemudian
dipompakan ke dalam backfill silo. Peralatan yang digunakan dalam cyanide detox meliputi ;
Tangki utama, Agitator, Pompa dozing, Holding tank untuk menyimpan larutan-larutan
reagen yang kemudian dipompakan ke dalam tangki utama, dan Distributor.

1.1. Backfill Silo
Fun