Anda di halaman 1dari 10

Pengaruh Pemberian Ekstrak Air Buah Kesemek (Diospyros kaki L.f.

) terhadap Kadar
Malondialdehid (MDA) dan Gambaran Histopatologi Jaringan Sendi Tikus
(Rattus norvegicus) Artritis


Effect of Water Extract Persimmon fruit (Diospyros kaki L.f.) to Malondialdehyde levels (MDA)
and Arthritis Rat (Rattus novergicus) Joint Histopathology



Devi Widiyana, Aulanniam, Masdiana C. Padaga
Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Universitas Brawijaya
Email : widiyana_89@yahoo.co.id



ABSTRAK

Artritis reumatoid (AR) merupakan penyakit inflamasi kronik pada persendian. Pengobatan
AR seperti pemberian Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) memiliki efek samping
seperti pendarahan pada gastrointestinal. Buah kesemek memiliki kandungan bahan sebagai
antioksidan dan antiinflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi pemberian
ekstrak air buah kesemek terhadap penurunan kadar malondialdehid (MDA) dan perbaikan gambaran
histopatologi jaringan sendi tikus artritis hasil induksi Complete Freunds Adjuvan (CFA). Penelitian
ini mengunakan hewan coba tikus yang dikelompokan menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol,
kelompok artritis, kelompok artritis yang mendapat terapi 750 mg/Kg BB dan kelompok artritis yang
mendapat terapi 1000 mg/Kg BB. Hasil penelitian menunjukan bahwa terapi ekstrak air buah
kesemek dapat menurunkan kadar malondialdehid (MDA). Dosis terapi 1000 mg/Kg BB menunjukan
dosis efektif menurunkan kadar MDA. Hasil pengamatan gambaran histopatologi menunjukan
terdapat perbaikan jaringan sendi tikus artritis yang mendapat terapi ekstrak air buah kesemek.

Kata kunci : artritis reumatoid, buah kesemek, inflamasi


ABSTRACT

Rheumatoid arthritis (RA) is a chronic inflammatory disease of the joints. Treatments such as
Nonsteroidal AntiInflammatory Drugs (NSAID) has side effects such as gastrointestinal bleeding.
Persimmon contains antioxidant and antiinflammatory. The aim of this study was to determine the
potential of water extract of persimmon to decreased the levels of malondialdehyde (MDA) and
repaired joint tissue histopathology of arthritis rats induced by Complete Freund's Adjuvant (CFA).
This study used rats were divided into 4 groups, the control group, arthritis group, group that received
therapy for arthritis 750 mg/kg of body weight and group that received therapy for arthritis 1000
mg/Kg of body weight. The results showed that the water extract of persimmon therapy can reduced
levels of MDA. Therapeutic dose of 1000 mg/kg of body weight is affective dose to reduced levels of
MDA. This observation showed that joint tissue histopathology of arthritis rat were repaired treat
with water extract of persimmon.

Keywords : rheumatoid artrithis, inflammation, persimmon








PENDAHULUAN

Artritis reumatoid (AR) merupakan
penyakit autoimun yang menyerang anjing,
kucing, dan gajah (Kiiru, 2007; Nunn et al.,
2007). Hasil survei People For The Ethical
Treatment Of Animals (PETA) (2000)
menyebutkan bahwa dua gajah Afrika mati
karena artritis. Artritis reumatoid bersifat
inflamasi kronik menyebabkan hipertropi,
penebalan membran sinovium dan panus yang
destruktif (Husney et al., 2004).
Pengobatan artritis reumatoid
mengunakan Nonsteroidal AntiInflammatory
Drugs (NSAID) menimbulkan pendarahan
pada gastrointestinal, untuk itu digunakan
alternatif pengobatan melalui pemberian terapi
herbal. Pemberian terapi herbal dan nutrisi
yang seimbang dapat menstimulasi sistem
imun sebagai upaya meningkatkan kualitas
hidup hewan (Messonniers, 2011). Terapi
herbal yang digunakan dapat berasal dari buah
yang mengandung senyawa bioaktif.
Buah kesemek junggo merupakan
buah asli dari Desa Junggo-Batu-Malang.
Buah kesemek memiliki kandungan
antioksidan dan antiinflamasi. Kandungan
bioaktif antioksidan buah kesemek yaitu
polifenol dan tanin (Chen et al., 2008). Buah
kesemek dipilih dalam penelitian ini karena
mengandung senyawa fitonutrien sebagai
antioksidan yang digunakan sebagai terapi
herbal artritis. Peran proteksi antioksidan
ekstrak buah kesemek yaitu melalui
penghambatan reaksi oksidasi.
Penelitian ini melakukan pengujian
pengaruh ekstrak air buah kesemek pada
hewan model tikus artritis. Pembuatan hewan
model artritis dengan cara induksi Complete
Freunds Adjuvant (CFA) pada tikus
(Prabowo, 2005). Complete Freunds
Adjuvant (CFA) memicu terbentuknya
radikal bebas yang menyebabkan stres
oksidatif. Stres oksidatif terjadi apabila
jumlah radikal bebas dalam tubuh lebih
tinggi dari jumlah antioksidan. Stres
oksidatif dalam tubuh diukur melalui kadar
malondialdehid (MDA) (Valko et al., 2006).
Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh pemberian ekstrak air
buah kesemek (Diospyros kaki L.f.) terhadap
kadar malondialdehid (MDA) dan gambaran
histopatologi jaringan sendi tikus (Rattus
novergicus) artritis.

MATERI DAN METODE
Peralatan yang digunakan yaitu bak
pemeliharaan hewan coba, seperangkat alat
bedah, seperangkat alat gelas, termometer,
sentrifugasi (Denley tipe BR 401),Vortex
(Guo-Huq), inkubator (Memmert),
spektofotometer UV-Vis, mikroskop BX51
Olympus, waterbath, mikropipet dan gavage.
Bahan yang digunakan adalah tikus
(Rattus norvegicus) jantan strain Wistar
dengan berat badan 150-250 gram sebanyak 20
ekor, buah kesemek junggo, CFA, TBA, Na-
Thio 1 %, NaCl, stok kit MDA, HCl, NaCl-fis
0,9 %, TCA, PBS-azida, PFA, asam nitrat,
xilol, parafin, pewarna histologi Hematoxilin
Eosin (HE), pasir kuarsa, aquades dan alkohol.
Hewan coba yang digunakan yaitu
tikus (Rattus novergicus) jantan strain Wistar
dengan berat badan 150-250 gram yang
diperoleh dari Unit Pengembangan Hewan
Percobaan (UPHP) UGM Yogyakarta.
Pengunaan hewan coba telah mendapatkan
persetujuan laik etik oleh Komisi Etik
Penelitian Universitas Brawijaya. Tikus
diadaptasikan selama 7 hari di laboratorium.
Tikus dibagi menjadi empat yaitu kelompok
kontrol (A), kelompok artritis (B), kelompok
artrtitis dengan terapi 750 mg/Kg BB (C),
kelompok artrtitis dengan terapi 1000 mg/Kg
BB (D).

Pembuatan tikus artritis (Prabowo, 2005)
Tikus kelompok B, C dan D di injeksi
dengan 0,1 ml CFA secara intradermal pada
ekor pada hari ke-1. Pada hari ke-8 diinjeksi
kembali dengan CFA 0,05 ml secara
intradermal pada tiap ekstremitas kaudal
sinister dan dexter.

Penyiapan Ekstrak air buah kesemek
Buah kesemek junggo yang digunakan
berusia masak pohon 60 hari. Buah kesemek
diambil bagian dagingnya dipotong kecil-kecil
dan tipis, dioven suhu 37C selama 24 jam.
Ekstrak untuk kelompok tikus C yaitu buah
kesemek kering 0,75 g ditambahkan dengan
aquades hingga volume 50 mL pada labu ukur,
dipanaskan diatas waterbath (70C) hingga
volume tinggal 10 mL, disaring dan
didinginkan. Ekstrak untuk kelompok tikus D
yaitu buah kesemek kering 1 g ditambahkan
dengan aquades hingga volume 50 mL pada
labu ukur kemudian dipanaskan diatas
waterbath (70C) hingga volume tinggal 10
mL, disaring dan didinginkan. Sediaan ekstrak


air buah kesemek dipersiapkan setiap hari.
Volume pemberian terapi diberikan per oral
sebanyak 2 mL per tikus selama 14 hari.

Pengambilan jaringan sendi tikus
Pengambilan jaringan sendi tikus
dilakukan pada hari ke 31. Tikus didislokasi
pada bagian leher kemudian diletakan dengan
posisi ventrodorsal, dilakukan pengambilan
ekstremitas kaudal sinister dan dexter.
Extremitas kaudal dibilas dengan NaCl-
fisiologis 0,9% kemudian extremitas kaudal
dexter dimasukkan dalam larutan PBS-azida
dan ekstremitas kaudal sinister ke dalam PFA
(Satriyo, 2007).

Pengukuran kadar malondialdehid
(Aulanniam dkk., 2011)
Pengukuran kurva standar MDA
Larutan stok kit MDA konsentrasi 0,
1, 2, 3, 4, 5, 6. 7 dan 8 g/mL diambil 100
L, dimasukan dalam apendof yang berbeda,
ditambahkan aquades 550 L, 100 L TCA
10%, 250 L HCl 1 N, 100 L Na-Thio 1 %
dan dihomogenkan. Setelah itu disentrifugasi
500 rpm selama 10 menit. Supernatan
diambil, dipanaskan dalam waterbath suhu
100C selama 30 menit, dibiarkan dalam
suhu ruangan, diukur absorbansinya
mengunakan spektofotometer UV-Vis pada

maks
. Hasil absorbsi kemudian dibuat kurva
standar MDA dan dihasilkan persamaan
linear.
Pengukuran kadar MDA jaringan sendi
dengan uji TBA
Penentuan kadar MDA dilakukan
dengan uji TBA. Ekstremitas kaudal dexter
tikus dikuliti, diambil jaringan sendinya,
ditimbang 100 mg, digerus hingga halus,
dimasukan dalam apendorf, ditambahkan 200
L NaCl fisiologis 0,9 % lalu dihomogenkan
kemudian disentrifugasi. Supernatan
sebanyak 100 L dimasukan dalam apendof,
ditambahkan 550 L aquades, 100 L TCA
10%, 100 L HCL 1 N, 100 L Na-Thio 1%,
dihomogenkan, disentrifugasi kecepatan 500
rpm selama 10 menit. Supernatan diambil,
dipanaskan dalam waterbath suhu 100C
selama 20 menit, dibiarkan pada suhu ruang.
Setelah dingin, diukur absorbansinya
mengunakan spektofotometer UV-Vis pada

maks
. Absorbansi yang diperoleh kemudian
diplotkan pada persamaan linear yang telah
diperoleh sehingga diperoleh nilai kadar
MDA.

Pewarnan Hemaktosilin-Eosin
Jaringan sendi tikus dibuat
preparat dengan metode pewarnaan
Hemaktosilin-Eosin (HE). Perubahan yang
diamati adalah membran sinovial, kartilago
dan rongga sendi.

Analisis Data
Penelitian ini mengunakan
Rancangan acak lengkap (RAL) dimana tikus
dibagi menjadi empat perlakuan dengan lima
kali ulangan. Analisis kadar MDA
mengunakan uji ANOVA dan dilanjutkan
dengan uji Tukey nilai p-value (p<0,05),
mengunakan SPSS 16.0 For Windows, analisis
gambaran histopatologi dilakukan secara
deskriptif (Steel& Torrie, 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian tentang pengaruh
pemberian ekstrak air buah kesemek
(Diospyros kaki L.f.) terhadap kadar
malondialdehid (MDA) dengan analisis
statistika mengunakan uji ANOVA seperti
yang disajikan pada Tabel 1.
Nilai kadar MDA pada kelompok A
adalah 0,40760,0424 mg/mL. Nilai tersebut
menunjukkan standar nilai kadar MDA tikus
dalam keadaan normal. Nilai kadar MDA
kelompok B merupakan nilai tertinggi
(0,61120,0445 mg/mL) jika dibandingkan
dengan kelompok C (0,41860,0414) dan
kelompok D (0,36480,0278). Hasil statistika
dengan uji ANOVA p-value (p<0,05) sebesar
0.000 menunjukan terdapat perbedaan yang
nyata. Hal tersebut menunjukan bahwa
terdapat pengaruh perlakuan pada masing-
masing kelompok perlakuan.

















Tabel 1 Nilai kadar MDA jaringan sendi
Kelompok Perlakuan Rata-rata kadar MDA ( + SD) mg/ml
Tikus kontrol (A) 0,4076 0,0424
b

Tikus artritis (B) 0,6112 0,0445
a

Tikus artritis + terapi 750 mg/Kg BB (C) 0,4186 0,0414
b

Tikus artritis + terapi 1000 mg/Kg BB (D) 0,3648 0,0278
b

Keterangan : nilai kadar MDA kelompok perlakuan B menunjukan perbedaan yang nyata
dibandingan dengan perlakuan kelompok A, C dan D.
Hasil penelitian menunjukan bahwa
pemberian CFA menyebakan inflamasi pada
sendi kaki tikus yang ditunjukan dengan
peningkatan kadar MDA. Hal ini sesuai
dengan tulisan Bendele (2001) yang
menyatakan bahwa pemberian CFA pada
ekstremitas menimbulkan reaksi inflamasi.
Adanya CFA juga menyebabkan produksi
radikal bebas berlebih tanpa diimbangi dengan
antioksidan sehingga mengakibatkan
kerusakan jaringan yang ditunjukan dengan
tingginya kadar MDA.
Kelompok D merupakan kelompok
dengan dosis terapi yang efektif menurunkan
kadar MDA. Perbedaan nilai kadar MDA
kelompok C dengan kelompok D dikarenakan
adanya perbedaan dosis terapi. Kelompok D
memiliki dosis terapi lebih tinggi yaitu 1000
mg/Kg BB dibandingkan dengan kelompok C
750 mg/Kg BB sehingga memiliki daya
antioksidan lebih besar dibandingkan
kelompok C.
Kandungan antioksidan dalam ekstrak
air buah kesemek menangkal radikal bebas
yang ditunjukan dengan penurunan kadar
MDA jaringan sendi tikus artritis. Antioksidan
dalam kandungan ekstrak air buah kesemek
berfungsi sebagai scavenger (penangkap)
radikal bebas sehingga menurunkan kadar
radikal bebas yang tinggi dalam jaringan sendi
akibat pemberian CFA. Mekanisme
penghambatan radikal bebas oleh antioksidan
ekstrak air buah kesemek yaitu menghambat
proses oksidasi melalui penghambatan dari
inisiasi dan propagasi reaksi oxidasi dari
radikal bebas. Antioksidan dalam ekstrak air
buah kesemek yaitu polifenol terutama
komponen epigallochatekin (EGC), cathekin
(C) dan epicathekin (EC) menyumbangkan
atom hidrogen untuk menangkap radikal
hidroksil (OH
-
) agar tidak menjadi reaktif
sehingga menghambat radikal bebas.
Komponen polifenol dan tanin bekerja melalui
penangkapan O
-
pada peroksida nitrit (ONOO
-
)
yang terbentuk dari nitrit oksida (NO) dengan
superoksida (O
2
-
) yang bersifat radikal bebas.
Hal ini sesuai dengan tulisan Chung et al.,
(1998) yang menyatakan bahwa kandungan
tanin yang memiliki struktur sejenis flavonoid
mempunyai kemampuan dalam penghilangan
O
-
. Kandungan antioksidan ekstrak air buah
kesemek menghambat proses inisiasi sehingga
mencegah pembentukan radikal lipid yang
bersifat tidak stabil karena hilangnya satu atom
hidrogen (H) dari molekul lipid akibat radikal
hidroksil (OH
-
) dan mencegah proses
propagasi sehingga radikal bebas tidak akan
bereaksi dengan oksigen dan secara tidak
langsung menurunkan kadar MDA tikus
artritis. Hal ini sesuai dengan tulisan Chen et
al., (2011) yang menyatakan bahwa pemberian
ekstrak kesemek dapat menurunkan kadar
MDA melalui penghambatan reaksi oksidasi.
Hasil penelitian tentang pengaruh
pemberian ekstrak air buah kesemek
(Diospyros kaki L.f.) terhadap gambaran
histopatologi mengunakan pewarnaan
Hemaktosilin-Eosin (HE) disajikan pada
Gambar 1. Gambaran histopatologi jaringan
sendi pada masing-masing kelompok
perlakuan memperlihatkan terdapat perbedaan
pada bagian membran sinovial, kartilago dan
rongga sendi.
Hasil penelitian pada tikus normal
(Gambar 1.A) menunjukan bentuk normal
membran sinovial, bentuk kartilago dan
rongga sendi. Tikus artritis (Gambar 1.B)
menunjukan perubahan membran sinovial dan
invansi ke rongga sendi, destruksi kartilago
yang ditunjukan dengan erosi dan dilatasi
rongga sendi yang menunjukan terjadi edema.
Menurut Smith et al., (1974) menyatakan
bahwa jaringan yang mengalami edema
terlihat sebagai ruangan yang meluas dan terisi
cairan.
Tikus artritis dengan terapi 750 mg/Kg
BB (Gambar 1.C) menunjukan perbaikan
membran sinovial, pengurangan dilatasi
rongga sendi yang menunjukan penurunan
edema dibandingkan dengan rongga sendi


kelompok tikus B. Tikus artritis dengan terapi
1000 mg/Kg BB (Gambar 1.D)
memperlihatkan gambaran jaringan sendi yang
lebih baik daripada tikus artritis dengan terapi
750 mg/Kg BB yang ditunjukan dengan
perbaikan bentuk membran sinovial dan
terbentuk keteraturan matriks, perbaikan
bentuk kartilago dan pengurangan edema
bagian rongga sinovial yang ditunjukan
dengan jarak antar kartilago yang lebih
menyempit dan simetris.
Perubahan pada jaringan sendi tikus
yang diberikan injeksi Complete Freunds
Adjuvant (CFA) dapat dilihat pada gambaran
histopatologi yang meliputi dilatasi rongga
sendi, inflamasi membran sinovial dan
perubahan kartilago. Hal ini sesuai dengan
penelitian Patel et al., (2012) yang menyatakan
bahwa pemberian CFA pada tikus
menyebabkan inflamasi sendi, infiltrasi sel
inflamasi, kerusakan kartilago dan tulang.
Menurut Koopman (1997) gambaran histologi
pada tikus yang diinjeksi CFA yaitu infiltrasi
sel mononuklear, edema, proliferasi membran
sinovial, destruksi kartilago dan panus.
Gambaran histopatologi membran
sinovial tikus A (Gambar 2.A) menunjukan
bentuk normal membran sinovial yang berisi
sinoviosit dan keteraturan serabut kolagen.
Membran sinovial tikus B (Gambar 2.B)
menunjukan adanya inflamasi yang ditunjukan
dengan hipertropi sinoviosit, infiltrasi sel
inflamasi, terbentuknya panus,
ketidakteraturan serabut kolagen dan invasi ke
rongga sendi. Hal ini sesuai dengan tulisan
Baeten et al., (2000) bahwa histologi membran
sinovial pada AR menunjukan penebalan
sinovial, panus dan infiltrasi sel inflamasi
(plasma, limfosit T dan B). Gambaran
histopatologi tikus C mengalami perbaikan
meskipun masih terdapat panus. Perbaikan
membran sinovial tikus C (Gambar 2.C)
ditunjukan dengan penurunan inflamasi,
berkurangnya infiltrasi sel inflamasi dan
keteraturan serabut kolagen. Membran sinovial
tikus D (Gambar 2. D) menunjukan tidak
adanya panus, berkurangnya infiltrasi sel
inflamasi, bentuk sinoviosit yang mendekati
normal dan keteraturan serabut kolagen.
Perbaikan membran sinovial pada
tikus C dan D karena kandungan antioksidan
dan antiinflamasi dalam buah kesemek yang
menghambat aktifasi sel inflamatori,
menghambat aktifasi makrofag untuk
mensekresi radikal bebas dan sitokin berlebih.
Penghambatan sekresi radikal bebas dan
sitokin menyebakan penghambatan hiperplasia
sinoviosit, pengurangan hiperplasia sel endotel
pembuluh darah dan meningkatkan aktivitas
vaskular sehingga menyebabkan pengurangan
kerusakan membran sinovial dan melancarkan
aliran pembuluh darah. Penghambatan
akumulasi dan hiperplasia sinoviosit
menyebabkan pengurangan pembentukan
panus sehingga mengurangi kerusakan
membran sinovial.
Gambaran histopatologi kartilago
tikus normal (Gambar 3.A) menunjukan
bentuk normal kartilago yang berisi kondrosit.
Kartilago tikus artritis (Gambar 3.B)
menunjukan destruksi dengan hipertropi
kondrosit, erosi kartilago dan invansi ke
rongga sendi, kerusakan matriks sehingga
mengakibatkan bagian kartilago yaitu
superfisial, transisional dan radial menjadi
tidak teratur. Pemberian CFA menyebabkan
aktifasi sistem imun sehingga menghasilkan
sel-sel inflamasi disertai oleh pembentukan
dan pembebasan radikal oksigen bebas,
leukotrien, prostaglandin dan protease yang
menyebabkan destruksi kartilago.
Radikal bebas menyebabkan
terjadinya depolimerisasi hialuronat sehingga
terjadi penurunan viskositas cairan sendi,
merusak matriks dan kartilago. Menurut
Ahmed (2010) Sel-sel pada membran sinovial
mensekresikan enzim degradasi seperti Matrix
Metalloproteinase (MMP) dan chaptesin-D.
Matrix Metalloproteinase (MMP) yang
disekresikan oleh sinoviosit memodulasi
aktifitas sitokin dan khemokin untuk merilis
proapoptotic ligands dari permukaan sel dan
memicu invasi fibroblas ke kartilago.
Gambaran histopatologi kartilago
tikus artritis dengan terapi 750 mg/Kg BB
(Gambar 3.C) mengalami perbaikan yang
ditunjukan dengan perbaikan kartilago,
pengurangan sel inflamasi, bagian superfisial,
transisional dan radial kartilago mulai tersusun
dengan jelas. Kartilago tikus artritis dengan
terapi 1000 mg/Kg BB (Gambar 3.D)
mengalami perbaikan yang ditunjukan dengan
bagian superfisial, transisional dan radial
kartilago berbatas lebih jelas, bagian
superfisial kartilago yang lebih rata dan bentuk
kondrosit yang mendekati normal.
Perbaikan gambaran histopatologi
jaringan sendi kelompok C dan kelompok D
karena adanya pengaruh pemberian ekstrak air
buah kesemek yang memiliki fungsi sebagai


antioksidan dan antiinflamasi. Antiinflamasi
dalam ekstrak air buah kesemek menghambat
aktivasi sel-sel inflamasi dan proliferasi
sinoviosit sehingga terjadi penurunan sekresi
enzim yang merusak kartilago yaitu cathepsin-
D. Antioksidan dalam ekstrak buah kesemek
junggo dapat mencegah proses radikal bebas
sehingga menghambat terjadinya
depolimerisasi hialuronat dan menaikan
vikositas cairan sendi dan memperbaiki
struktur kartilago.



Gambar 5.1. Histopatologi jaringan sendi kaki tikus. Keterangan = A (tikus kontrol): normal dari
ms, rs dan k. B (tikus artritis): inflamasi ms, edema rs, destruksi k. C (tikus artritis +
terapi 750 mg/Kg BB): perbaikan k, penurunan inflamasi ms, pegurangan edema rs. D
(tikus artritis + terapi 1000 mg/KgBB): keteraturan matriks ms, perbaikan k,
pengurangan edema rs. Pewarnaan HE, pembesaran 100x. Membran sinovial (ms),
rongga sendi (rs) dan kartilago (k).





Gambar 2. Histopatologi membran sinovial. Keterangan = A (tikus kontrol): membran sinovial
normal. B (tikus artritis): inflamasi ms, hipertropi sel sinovial. C (tikus artritis + terapi
750 mg/Kg BB): pengurangan inflamasi ms.D (tikus artritis + terapi 1000 mg/Kg BB):
keteraturan matriks ms. Pewarnaan HE, pembesaran 400x. Membran sinovial (ms).




Gambar 3. Histopatologi kartilago. Keterangan = A (tikus kontrol): kartilago normal. B (tikus
artritis): destruksi kartilago dan sel inflamasi (). C (tikus artritis + terapi 750 mg/Kg
BB): perbaikan kartilago. D (tikus artritis + terapi 1000 mg/Kg BB): perbaikan kartilago,
bagian superfisial lebih rata. Pewarnaan HE, pembesaran 400x. 1 (superfisial), 2
(transisional), 3 (radial).




KESIMPULAN
Pemberian ekstrak air buah kesemek
(Diospyros kaki L.f.) dapat menurunkan kadar
malondialdehid (MDA) dan memperbaiki
gambaran histopatologi jaringan sendi tikus
(Rattus norvegicus) artritis.

UCAPAN TERIMAKASIH
Peneliti mengucapkan terimakasih
kepada Laboratorium Biokimia dan
Laboratorium Molekuler FMIPA Universitas
Brawijaya serta staf laboratorium yang telah
membantu dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Salahuddin. 2010. Green Tea
Polyphenol Epigallocatechin 3-Gallate
In Arthritis: Progress And Promise.
Arthritis Research & Therapy (12) :
208.

Aulanniam, A. Rosdiana & N.L. Rahma.
2011. Potensi Ekstrak Etanol dan Etil
Asetat Rumput Laut Coklat (Sargassum
duplicatum Borry) Terhadap Penurunan
Kadar Malondialdehid dan Perbaikan
Gambaran Histologis Jejunum Usus
Halus Tikus IBD (Inflammatory Bowel
Disease). J Veterinary Medica 4 (1) :
57-64.

Baeten D., P. Demetter., C.Cuvelier., F Van
den Bosch, E.Kruithof., N Van Damme.,
G.Verbruggen., H. Mielants., E.M. Veys
& F De Keyser. 2000. Comparative
study of the synovial histology in
rheumatoid arthritis,
spondyloarthropathy, and
osteoarthritis: influence of disease
duration and activity. J Ann Rheum Dis
(59) : 945953.

Chen, X.N., J.F. Fan., Yue X., X.R. Wu &
L.T. Li. 2008. Radical Scavenging
Activity And Phenolic Compounds In
Persimmon (Diospyros kaki L. cv.
Mopan). J. Food Sci., 73 (1) : 24-28.

Chen, X.N., Wan Shan Hu, Yuan Hong Xie,
Yu Hua Li, Lin Bo Guo & Wen Bin Jin.
2011. Antioxidant Research of
Persimmon Extraction in Ionizing
Radiatio Mice. J Advanced Materials
Research (1198): 343-344.

Husney A., R.M Crichlow & M. Shoors. 2004.
What Happens To The Joint In
Rheumatoid Arthritis. J. Rheumathol

Kiiru, Winnie. 2007. The Sad State of Captive
Elephants in Canad. Check Canada
Zoo.

Koopman W.J. 1997. Arthritis And Allied
Condition. A Text Book Of
Rheumatology.

Nunn C. L., B. Rothschild & J. L. Gittleman.
2007. Why are some species more
commonly afflicted by arthritis than
others? A comparative study of
spondyloarthropathy in primates and
carnivores. J Compilation European
Society For Evolutionary Biology 460
470.

Messonniers, Shawn. 2011. The Natural Vets
Guide To Preventing And Treating
Arthritis In Dogs And Cats. Canada.
New World Libary.

Patel R.G., N.L. Pathak., J.D. Rathod., P
Nurudin., Jivani1, R.U. Thaker & N.M.
Bhatt. 2012. Anti-Arthritic And Anti
Inflammatory Activity Of Methanolic
Extract Of Randia Dumetorum Fruits In
Freunds Complete Adjuvant Induced
Arthritis. J of Pharmaceutical Research
1 (2) : 309-325.

People For The Ethical Treatment of Animal
(PETA). 2000. Captive Elephants in
European Zoo, Safari Parks and
Circuses. Stuttgart. Germany.

Priyanto. 2007. Toksisitas Obat, Zat Kimia
dan Terapi Antidotum. Leskonfi. Depok.
Hal 43-44, 48, 51,53.

Prabowo, S. 2005. Pengaruh Stresor Dingin
Terhadap Proses Keradangan Pada
Arthritis Ajuvan: Penelitian
Eksperimental Pada Arthritis Ajuvan
(Model Hewan Untuk Arthritis
Rematoid). Tesis. Iptunair J. Pharm.



Satriyo, Edi Dwi. 2007. Pengaruh Pemberian
Ekstrak Daun Teh (Camella sinersis)
Pada Tikus Artritis Ajuvan Terhadap
Kadar Malondialdehid (MDA) Dan
Gambaran Histologis Jaringan Sendi.
Skripsi. Universitas Brawijaya.

Smith, M. D. 2011. The Normal Synovium. J
The Open Rheumatology 5 (1) : 100-
106