Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
KASUS

I.1 Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik

Identitas Pasien
Nama : Ny. S
TTL : Jakarta, 25 November 1987
Usia : 24 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Kp. Tipar Timur RT 5/4 Semper Barat. Jakarta Utara
Masuk RS tanggal : 29 November 2011

Anamnesis (Autoanamnesis)
Keluhan Utama :
Mencret-mencret sejak 13 jam SMRS
Keluhan Tambahan :
Muntah, Mual, Demam, Lemas, Nyeri ulu hati, pusing
Riwayat Penyakit Sekarang :
OS MRS mengeluh mencret-mencret sejak 13 jam SMRS, mencret 10 X,
konsistensi cair, warna kuning, lendir (-), darah (-), berbusa (-), bau amis, OS
juga muntah-muntah sejak 8 jam SMRS, muntah 4 X, muntah berisi makanan dan
air, setiap makan dan minum OS muntah, lendir (-), darah (-), OS juga mengeluh
mual (+), perut kembung (+), mules, selalu merasa haus, nyeri ulu hati (+),
riwayat mag sejak 3 tahun yang lalu, ,kambuh jika OS selalu makan telat, kalau
mag kambuh OS minum promag nyeri ulu hati berkurang, riwayat minum obat
stelan disangkal.
3 hari SMRS OS mengeluh demam, demam timbul mendadak, demam naik
turun, demam turun setelah OS minum obat penurun panas, beberapa jam setelah
itu OS demam lagi, OS juga batuk (+), pilek (+), tenggorokan terasa pahit (+),
2

nafsu makan menurun,berat badan tidak menurun,badan terasa pegel-pegel (+),
lemas (+), mimisan (-), gusi berdarah (-).
BAK lancar
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat tekanan darah tinggi disangkal, penyakit jantung disangkal, Riwayat
kencing manis disangkal, Riwayat asma, TB Paru disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat tekanan darah tinggi disangkal, penyakit jantung disangkal, Riwayat
kencing manis disangkal, Riwayat asma, TB Paru disangkal
Riwayat Alergi :
Obat-obatan dan makanan disangkal

Riwayat Pengobatan :
OS sudah berobat ke puskesmas dan sudah minum obat penurun panas.

Riwayat Psikososial :
OS mengaku sering mengkonsumsi makan-makanan dipinggir jalan,sering telat
makan, tidak pernah olahraga, merokok disangkal,alkohol disangkal, kopi
disangkal.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis

a. Tanda Vital :
TD : 110/70 mmHg
N : 86x/menit (kuat, cukup, regular)
RR : 18x/menit,
S : 37,5
o
C


3

Status gizi
BB : 76 kg
TB : 160 cm
IMT : 29,68
Keadaan gizi : Obes I

b. Status Generalis

Kepala : Normocephal, rambut hitam,tidak rontok, distribusi merata.
Mata : Mata cekung (-),Alis mata madarosis (-/-), bulu mata rontok (-/-),
konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+), d= 2 mm,
isokor kanan-kiri.
Kulit : Ikterik (-), eritem (-), skar (-)
Hidung : deviasi septum (-), sekret (-), darah (-), polip nasal (-), nyeri tekan (-).
Telinga :Normotia, otore (-), darah (-), membran timpani intake (+),
Mulut :Bibir kering (+), stomatitis (-), lidah kotor (-) ,tremor (-), faring
hiperemis (-),tonsil T1/T1
Leher : Pembesaran KGB (-), Pembesaran tiroid (-), JVP = 5-2 cmH2O
Dada : Normochest

PARU-PARU
Inspeksi : Simetris, pergerakan dinding dada sama kiri & kanan,retraksi (-)
Palpasi : pergerakan dinding dada sama kiri & kanan,Vokal fremitus
ka=ki normal, nyeri tekan (-)
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru, batas paru-hepar setinggi ICS 5,
midclavicularis dextra
Auskultasi : Vesikuler (+), ronkhi (-/-), wheezing(-/-)
Kesan : Paru-paru normal

JANTUNG
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba 2 jari, setinggi ICS 5 midclavicularis sinistra
Perkusi : Batas kanan jantung ICS 5, linea Sternalis dextra
4

Batas kiri jantung ICS 5, linea midclavikularis sinistra
Pinggang jantung setinggi ICS III, linea parasternalis sinistra
Auskultasi : BJ I dan II reguler, Murmur(-), Gallop (-).
Kesan : Jantung normal


ABDOMEN
Inspeksi : datar, skar (-), caput medusa (-), spider nevi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) Meningkat
Palpasi :Nyeri tekan epigastrium (+),Hepatomegali (-), splenomegali (-
), ballotement (-) , turgor kulit kembali cepat
Perkusi : Timpani pada 4 kuadran, shifting dullness (-)

PUNGGUNG : Simetris , deviasi vertebra (-), vocal fremitus sama kiri
dan kanan, nyeri tekan (-), CVA (-)

EXTREMITAS : Atas Bawah
Pucat : (-) (-)
Akral : Hangat Hangat
Edema : (-/-) (-/-)
Petekie : (-/-) (-/-)
Luka : (-/-) (-/-)
RCT < 2 detik : (+) (+)

Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium

Tanggal: 29 November 2011
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Kimia Klinik
-Gula Darah Sewaktu

95

Mg/dl

< 120
Enzym
- SGOT

30

U/L

0-37
5

-SGPT 38 U/L 0-40
Faal ginjal
-Ureum
-Kreatinin

15
0,7

Mg/dl
Mg/dl

20-40
0,6-1,2 Anak< 2thn 0,3-0,6
Hematologi
DLK,Ht,Trombosit
Darah Lengkap Kecil
-LED
-Hb
-Leukosit



36 (H)
13,7
17.900 (H)



Mm/1 jam
g/dl
/ mm3



= 0-15 ,= 0-20
= 13,8-17,0, =11,3-15,5
= 4,5-10,8. =4,3-10.4
Differential:
-Basofil
-Eosinofil
-Batang
-N. Segmen
-Limfosit
-Monosit
Hematokrit
Trombosit

0
1
3
69 (H)
23
4
41,2
487 (H)

%
%
%
%
%
%
%
Ribu/mm3

0-0,3 %
2-4 %
1-5 %
51-67 %
20-30 %
2-6 %
= 40,0-54,0. 38,0-47,0
= 185-402, =132-440
Serologi dan Widal
-S. Typhosa H
-S.Paratyphosa AH
-S. Paratyphosa BH
-S.Typhosa O
-S.Paratyphosa AO
-S.Paratyphosa BO

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)







6

Follow Up Pasien

Hari/Tgl S O A P
Rabu
30-11- 11
Mencret (-),muntah
(-),mual (-), demam
(-)
TD : 110/70
mmHg,
N: 84x/menit
S: 36,7
o
C
RR: 18x/menit
PF :
Mata cekung (-
), mukosa bibir
kering(+), lidah
kering (-),
turgor kulit
kembali cepat,
BU (+)
meningkat
Gastroenteritis
akut dalam
perbaikan

Rencana
diagnosis:
-Periksa darah
lengkap
-Elektrolit
-Widal
-Cek feses GE
Rencana terapi:
-Infus RL
-Paracetamol
-Ondancentron



Resume

Dari anamnesis:

24 tahun, mengeluh diare sejak 13 jam SMRS, 10 X,cair,vomitus sejak 8 jam
SMRS, 4 X,berisi makanan dan air, nausea (+), perut kembung (+), mules, nyeri
epigastrium (+), riwayat gastritis 3 tahun, minum promag nyeri berkurang,merasa haus.
3 hari SMRS febris, febris naik turun, febris turun setelah OS minum
antipiretik,batuk (+), pilek (+), tenggorokan terasa pahit (+), nafsu makan
menurun,badan terasa pegel-pegel (+), malaise (+).




7

Dari Pemeriksaan fisik:
Suhu : 37,5
0
C
Mata cekung (-), mukosa bibir kering (+),turgor kulit kembali cepat
BU (+) meningkat
Nyeri tekan epigastrium (+)

Dari pemeriksaan penunjang:
Hemoglobin : 13,7 g/dl
Trombosit : 487 ribu/mm3 (H)
Leukosit : 17.900 / mm3 (H)
Serologi/widal : (-)

Daftar masalah
Gastroenteritis
Dispepsia

Assesment:

1. Gastroenteritis Akut
Dari anamnesis:
OS datang dengan keluhan diare sejak 13 jam SMRS, 10 X, konsistensi cair,
vomitus sejak 8 jam SMRS, 4X, isi makanan dan air, nausea (+), kembung(+),
mules (+), febris (+)
Dari Pemeriksaan Fisik
- Suhu : 37,5
0
C
- Mata cekung (-/-)
- Mukosa bibir kering (+),
- Turgor kulit kembali cepat
- Bising Usus (+) meningkat
Dari pemeriksaan Penunjang
-Leukosit : 17.900 /mm
3
WD : Gastroenteritis akut
8

DD: Gastroenteritis e,c Viral infection
Gastroenteritis e.c Bakterial infection
Gastroenteritis e.c Parasit infection
Rencana Diagnosis
Periksa darah lengkap (DPL, elektrolit)
Widal dan serologi
Cek Feses GE
Rencana terapi
Rehidrasi ( infus NaCl )

Kebutuhan cairan= BJ Plasma 1,025 x berat badan x 4 ml
0,001
Kebutuhan cairan = 1,028 1.025 x 76 x 4
0,001
Kebutuhan cairan = 912 ml dalm 2 jam pertama

Dehiudrasi ringan: BJ Plasma 1,025 1,028
Dehidrasi sedang: BJ plasma 1,028 1,032
Dehidrasi berat: BJ Plasma 1,032 1,040

Paracetamol
Pektin
Ondancentron

2. Sindrom Dispepsia
Dari anamnesis
OS mengeluh muntah-muntah sejak 8 jam SMRS, muntah 4 X, isi makanan dan
air,setiap makan dan minum OS muntah, nyeri ulu hati (+), mual (+), kembung
(+), nafsu makan menurun
Dari pemeriksaan fisik
Nyeri Tekan Epigastrium (+)
WD : Dispepsia e.c Gastritis
Rencana Doiagnosis
9

Pemeriksaan Darah Lengkap (DPL, Elektrolit)
Fungsi hati, Amylase dan lipase
Endoskopi
USG Abdomen
Rencana terapi
Infus RL
Rantin
Ondancentron


























10

BAB II
DASAR TEORI

GASTROENTERITIS AKUT

II.1 Definisi

Gastroenteritis yang lebih kita kenal dengan diare adalah meningkatnya frekuensi
buang air besar dan konsistensi feses menjadi cair. Secara praktis dikatakan diare bila
frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi cair, dapat
digolongkan diare akut atau bila telah berlangsung lebih dari 2 minggu dikategorikan
sebagai diare kronik.
Pengertian lain dari diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk
cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 gram atau 200ml/24jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu
buang air besar encer lebih dari 3 kali/hari. Buang air besar encer tersebut dapat disertai
lendir dan darah.
Diare didefinisikan sebagai tinja berbentuk cair atau tidak normal pada peningkatan
frekuensi. Untuk orang dewasa dengan diet Western yang khas, berat feses> 200 g / d
umumnya dapat dianggap diare. Diare mungkin akan lebih didefinisikan sebagai akut
apabila <2 minggu, persisten jika 2-4 minggu, dan kronis jika > 4 minggu.
Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali
sehari. Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam
beberapa jam atau hari.
Menurut World Gastroenterology Organisation Global Guidelines 2005, diare akut
didefinisikan sebagai pasase tinja yang cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari
normal, berlangsung kurang dari 14 hari. Diare kronik adalah diare yang berlangsung
lebih dari 15 hari.

II.2 Klasifikasi

1). Berdasarkan lama waktu
a. Akut : berlangsung < 5 hari
11

b. Persisten : berlangsung 15-30 hari
c. Kronik : berlangsung > 30 hari
2). Berdasarkan mekanisme patofisiologik
a. Osmotik, peningkatan osmolaritas intraluminer
b. Sekretorik, peningkatan sekresi cairan dan elektrolit
c. Malabsorpsi asam empedu, malabsorpsi lemak
d. Defek system pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit
e. Motilitas dan waktu transit usus abnormal
f. Gangguan permeabilitas usus
g. Inflamatorik, inflamasi dinding usus
h. Infeksi dinding usus
3). Berdasarkan derajatnya
a. Diare tanpa dihindrasi
b. Diare dengan dehidrasi ringan/sedang
c. Diare dengan dehidrasi berat
4). Berdasarkan penyebab infeksi atau tidak
a. Infeksi
b. Non infeksi
5). Berdasarkan penyebab organik atau tidak
a. Organik
b. Fungsional

II.3 Epidemiologi

Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di
negara berkembang tetapi juga di negara maju. Dan merupakan salah satu masalah
kesehatan utama bagi masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan
puskesmas atau balai pengobatan, hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 penyebab
utama bagi masyarakat yang berkunjung ke puskesmas. Data Departemen Kesehatan RI,
menyebutkan bahwa angka penyakit Gastroenteritis di Indonesia saat ini adalah 230-342
per 1000 penduduk untuk semua golongan umur dan 60 % kejadian Gastroenteritis
tersebut terjadi pada balita yang sebagian mengakibatkan kematian. Penyakit diare masih
sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam
waktu yang singkat.
12

Dinegara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi
masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah
kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6
orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian
diare di negara Barat ini oleh karena foodborne infections dan waterborne infections
yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus,
Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli
(EHEC).
Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta
penduduk setiap tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya
di banding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.
Di Indonesia dari 2.812 pasien diare yang disebabkan bakteri yang datang
kerumah sakit dari beberapa provinsi seperti Jakarta, Padang, Medan, Denpasar,
Pontianak, Makasar dan Batam yang dianalisa dari 1995 s/d 2001 penyebab terbanyak
adalah Vibrio cholerae 01, diikuti dengan Shigella spp, Salmonella spp, V.
Parahaemoliticus, Salmonella typhi, Campylobacter Jejuni, V. Cholera non-01, dan
Salmonella paratyphi A.
Pada tahun 1995 diare akut karena infeksi sebagai penyebab kematian pada lebih
dari 3 juta penduduk dunia. Kematian karena diare akut dinegara berkembang terjadi
terutama pada anak-anak berusia kurang dari 5 tahun, dimana dua pertiga diantaranya
tinggal didaerah/lingkungan yang buruk, kumuh dan padat dengan sistem pembuangan
sampah yang tidak memenuhi sarat, keterbatasan air bersih dalam jumlah maupun
distribusinya, kurangnya sumber bahan makanan disertai cara penyimpanan yang tak
memenuhi syarat, tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya fasilitas pelayanan
kesehatan.
Di Amerika Serikat dengan perbaikan sanitasi dan tingkat pendidikan, prevalensi
diare karena infeksi berkurang. Dara dari Centers for Disease Control and Prevention
(CDC) menunjukkan bahwa infeksi karena Salmonella, Shigella, Listeria, Escherichia
coli, dan Yersinia berkurang berkisar 20-30% berkat perhatian atas kebersihan dan
keamanan makanan. Sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan
diare akut karena infeksi masih menduduki peringkat pertama sampai dengan keempat
pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit.

13

II.4 Keadaan risiko dan kelompok risiko tinggi yang mungkin mengalami diare
infeksi

Baru saja bepergian ke Negara berkembang, daerah tropis, kelompok perdamaian dan
pekerja sukarela, orang yang sering berkemah (dasarnya berair).
Makanan atau keadaan makan yang tidak biasa: makanan laut dan shell fish, terutama
yang masih mentah. Restoran dan rumah makan cepat saji, pesta, dan piknik.
Homoseksual, pekerja seks, pengguna obat intravena, resiko infeksi HIV, sindrom
usus homoseks, AIDS.
Baru saja menggunakan obat antimikroba pada institusi kejiwaan/mental, rumah
perawatan, dan rumah sakit.

II.5 Etiologi

Menurut World Gastroenterology Organisation Global Guidelines 2005, etiologi diare
akut dibagi atas empat penyebab : bakteri, virus, parasit, dan non-infeksi
a. Infeksi
Bakteri : Shigella sp, E. coli pathogen, Salmonella sp, Vibrio cholera,
Yersinia entero colytica, Campylobacter jejuni, V. parahaemoliticus,
Staphylococcus aureus, Streptococcus, Klebsiella, Pseudomonas, Aeromonas,
Proteus.
Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, cytomegalovirus (CMV),
echovirus, virus HIV.
Parasit : Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Cryptosporidium parvum,
Balantidium coli.
b. Non-Infeksi
o Imunodefisiensi
o Individu yang beresiko untuk diare termasuk mereka dengan
immunodefisiensi primer (misalnya, defisiensi IgA, hypogammaglobulinemi
variabel umum, penyakit granulomatosa kronis) atau jauh lebih umum
negara-negara immunodefisiensi sekunder (misalnya, AIDS, penuaan,
penindasan farmakologi).
o Akibat obat-obatan
14

o Post antibiotic diare, dapat terjadi pada penderita yang dirawat di rumah
sakit dan mendapat terapi dengan antibiotika yang lama, dimana bakteri
sudah resisten dengan antibiotika.
o Diare dapat timbul secara sekunder karena dosis berlebihan dari quinidin,
colchicin, digitalis, reserpin, laksatif, dan obat-obatan lain.
o Psychogenic
o Tindakan tertentu seperti gastrektomi, gastroenterostomi, dosis tinggi terapi
radiasi.
o Malabsorpsi / maldigesti

II.6 Patofisiologi

1. Diare sekretorik.
disebabkan oleh sekresi cairan dan elektrolit di usus meningkat, dan penurunan
absorpsi. Bisa disebabkan oleh efek enterotoksin pada infeksi Vibrio cholera atau
Escherichia coli. Hiperperistaltik usus halus akibat bahan-bahan kimia dan makanan,
serta gangguan psikis.
2. Diare osmotik.
disebabkan oleh osmolaritas intraluminar dari usus halus yang meninggi akibat dari
malabsorpsi makanan, kekurangan kalori protein.
3. Malabsorsi asam empedu dan malabsorpsi lemak.
Diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan dan produksi micelle empedu
dan penyakit-penyakit bilier dan hati.
4. Defek sistem pertularan anion atau transport elektrolit aktif dan eriterosit.
Diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif Na+ K+ ATP
ase dieriterosit dan absopsi Na+ dan air yang abnormal.
5. Motilitas dan waktu transit usus abnormal.
Diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus halus sehingga
menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus misalnya : diabetes mellitus,
hipertiroid.
6. Gangguan permeabilitas usus.
disebabkan karena morfologi membran epitel spesifik pada usus halus.
7. Inflamasi dinding usus (diare inflamasi)
15

Disebabkan karena adanya kerusakan mukosa usus akibat proses inflamasi sehingga
terjadi produksi mukus yang berlebihan dan eksudasi air dan elektrolit kedalam
lumen, gangguan basorpsi air-elektrolit. Diare inflamasi dapat disebabkan infeksi
(disentri Shigella) dan non-infeksi (colitis ulseratif dan penyakit Crohn)
8. Diare infeksi
Yang berperan pada terjadinya diare akut terutama karena infeksi yaitu faktor kausal
(agent) dan faktor pejamu (host). Faktor pejamu adalah kemampuan tubuh untuk
mempertahankan diri terhadap organism yang dapat menimbulkan diare akut, terdiri
dari faktor daya tangkis atau lingkungan internal saluran cerna a.l. keasaman
lambung, motilitas usus, imunitas, dan juga lingkungan mikroflora usus. Faktor
kausal yaitu daya penetrasi yang dapat merusak sel mukosa, kemampuan
memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya lekat
kuman. Pathogenesis diare karena infeksi bakteri/parasit terdiri atas:

Diare karena Bakteri Non-Invasif (Enterotoksigenik).
Bakteri yang tidak merusak mukosa usus misalnya V. cholera Eltor, Enterotoxigenic
E. coli dan C. perfringens. V. cholera Eltor mengeluarkan toksin yang terikat pada
mukosa usus halus 15-30 menit sesudah diproduksi vibrio. Enterotoksin ini
menyebabkan kegiatan berlebihan nikotinamid adenine dinukleotid pada dinding sel
usus, sehingga meningkatkan kadar AMP siklik dalam sel yang menyebabkan sekresi
aktif anion klorida kedalam lumen usus yang diikuti oleh air, ion bikarbonat, kation
natrium dan kalium

Diare karena Bakteri Invasif (Enteroinvasif).
Bakteri yang merusak a.l. Enteroinvasive E. coli (EIEC), Salmonella, Shigella,
Yersinia, C. perfringens tipe C. diare disebabkan oleh kerusakan dinding usus berupa
nekrosis dan ulserasi. Sifat diarenya sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat
tercampur lender dan darah. Walau demikian infeksi kuman-kuman ini dapat juga
bermanifestasi sebagai diare koleriformis. Kuman Salmonella yang sering
menyebabkan diare yaitu S. paratyhi B, Styphimurium, S. enterriditis, S.
choleraesuis. Penyebab parasit yang sering yaitu E. histolitika dan G. lamblia.



16

II.7 Gejala Klinis

Kondisi ini biasanya onset akut, biasanya berlangsung 1-6 hari, dan membatasi
diri.
Mual dan muntah
Diare
Kehilangan nafsu makan
Sakit kepala
Abnormal perut kembung
Sakit perut
Kram perut Tinja berdarah (disentri - menunjukkan infeksi dengan amoeba,
Campylobacter, Salmonella, Shigella atau beberapa strain patogenik Escherichia
coli)
Pingsan dan Kelemahan

II.8 Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
Anamnesis
Pasien datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab dasarnya.
Keluhan diare berlangsung kurang dari 15 hari. Diare karena penyakit usus halus
biasanya berjumlah banyak, diare air, dan sering berhubungan dengan malabsorpsi,
dan dehidrasi. Diare karena kelainan kolon sering berhubungan dengan tinja
berjumlah kecil tapi sering, bercampur darah, dan selalu ada sensasi ingin ke
belakang. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu nausea,
muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering. Pasien yang memakan toksin
atau pasien yang mengalami infeksi toksigenik sevara khas mengalami nausea dan
muntah sebagai gejala prominen bersamaan dengan diare air, tapi jarang ada demam.
Diare air merupakan gejala tipikal dari organism yang menginvasi epitel usus dengan
inflamasi minimal, seperti virus enteric, atau organisme yang menempel tetapi tidak
menghancurkan epitel. Beberapa organisme yang menghasilkan enterotoksin dan
juga menginvasi mukosa usus; karena itu pasien menunjukkan gejala diare air diikuti
diare berdarah dalam beberapa jam atau hari.
17

Demam enteric, disebabkan Salmonella typhii atau Salmonella paratyphii
merupakan penyakit sistemik yang berat yang bermanifestasi sebagai demam tinggi
yang lama, bingung, dan gejala respiratorik, diikuti nyeri tekan abdomen, diare, dan
kemerahan (rash).
Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas karena nausea
dan muntah. Terutama pada anak kecil dan lanjut usia. Dehidrasi bermanifestasi
sebagai rasa haus yang meningkta, berkurangnya jumlah buang air kecil dan urin
berwarna gelap, tidak mampu berkeringat, dan perubahan ortostatik. Pada keadaan
berat, dapat mengarah ke gagal ginjal akut dan perubahan status jiwa seperti
kebingungan dan pusing.
Pemeriksaan fisik
Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam
menentukan beratnya diare daripada menentukan penyebab diare. Status volume
dinilai dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi,
temperature tubuh, dan tanda-tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen merupakan hal
yang penting. Adanya dan kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak adanya distensi
abdomen dan nyeri tekan merupakan clue bagi penentuan etiologi.
Pemeriksaan penunjang
Pada pasien yang mengalami dehidrasi atau toksisitas berat atau diare
berlangsung lebih dari beberapa hari, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan tersebut antara lain pemeriksaan darah tepi lengkap (hemoglobin,
hematokrit, leukosit, hitung jenis leukosit), kadar elektrolit serum, ureum,
kreatinin,pemeriksaan tinja, dan pemeriksaan Enzym-linked immunosorbent assay
(ELISA) mendeteksi giardiasis dan test serologic amebiasis, dan foto x-ray abdomen.
Pasien dengan diare karena virus, biasanya memiliki jumlah dan hitung jenis
leukosit yang normal atau limfositosis. Pasien dengan infeksi bakteri terutama pada
infeksi bakteri yang invasive ke mukosa, memiliki leukositosis dengan kelebihan
leukosit muda. Neutropenia dapat timbul pada salmonellosis.
Ureum dan kreatinin diperiksa untuk mengetahui ada atau tidak kekurangan
volume cairan dan mineral tubuh. Pemeriksaan tinja dilakukan untuk melihat adanya
leukosit dalam tinja yang menunjukkan adanya infeksi bakteri, adanya telur cacing
dan parasit dewasa.
Rektoskopi atau sigmoidoskopi perlu dipertimbangkan pada pasien-pasien toksik,
pasien diare berdarah, atau pasien dengan diare akut persisten.
18

II.9 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas:
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan
2. Memberikan terapi simptomatik
3. Memberikan terapi definitif
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan
Ada hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan
akurat, yaitu:
J enis cairan yang hendak digunakan. Pada saat ini cairan RL merupakan cairan pilihan
karena tersedia cukup banyak di pasaran, meskipun jumlah kaliumnya lebih rendah bila
dibandingkan dengan kadar kalium cairan tinja.
Apabila tidak tersedia cairan ini, boleh diberkan cairan NaCl isotonik. Sebaiknya
ditambahkan satu ampul Na bikarbonat 7,5% 50 ml pada setiap satu liter infus NaCl
isotonik. Asidosis akan dapat diatasi dalam 1-4 jam. Pada keadaan diare akut awal yang
ringan, tersedia di pasaran cairan/bubuk oralit, yang dapat diminum sebagai usaha awal
agar tidak terjadi rehidrasi dengan berbagai akibatnya.
J umlah cairan yang hendak diberikan. Pada prinsipnya jumlah cairan yang hendak
diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Kehilangan cairan dari
badan dapat dihitung dengan memakai cara:
BJ Plasma dengan memakai rumus:
Kebutuhan cairan:
BJ Plasma 1.025 x BB (Kg) x 4 ml
0.001
Metode Pierce berdasarkan kriteria klinis:
o Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% X KgBB
o Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% X KgBB
o Dehidrasi berat, kebutuhan cairan 10% X KgBB

Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis yang diberikan penilaian/skor sebagai
berikut:
Pemeriksaan Skor
19

Rasa haus/muntah 1
Suara serak 2
Kesadaran apatis 1
Kesadaran somnolen, sopor atau koma 2
Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg 1
Tekanan darah sistolik < 60 mmHg 2
Frekwensi Nadi > 120 x/menit 1
Frekwensi nafas > 30 x/menit 1
Turgor kulit menurun 1
Facies cholerica/wajah keriput 2
Ekstremitas dingin 1
Washers womans hand 1
Sianosis 2
Umur 50-60 tahun -1
Umur > 60 tahun -2
Kebutuhan cairan = Skor x 10% x BB (Kg) x 1 Liter
15
J alan masuk atau cara pemberian cairan. Pemberian cairan pada orang dewasa dapat
melalui oral dan intravena. Untuk pemberian per oral diberikan larutan oralit yang
komposisinya berkisar antara 20 gr glukosa, 3.5 gr NaCl, 2.5 gr Na bikarbonat dan 1.5 gr
KCl per liter air. Cairan seperti itu tersedia secara komersial dalam paket-paket yang
mudah disiapkan dengan mencampurkan dengan air. Jika sediaan secara komersial tidak
ada, cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan sendok teh
garam, sendok teh baking soda, dan 2 4 sendok makan gula per liter air. Dua pisang
atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Cairan per oral juga
digunakan untuk mempertahankan hidrasi setelah rehidrasi inisial.
J adwal pemberian cairan. Untuk jadwal rehidrasi inisial yang dihitung dengan rumus
BJ plasma atau sistem skor Daldiyono diberikan dalam waktu 2 jam. Tujuannya jelas
agar tercapai rehidrasi optimal secepat mungkin. Jadwal pemberian cairan tahap kedua
yakni untuk jam ke-3, didasarkan kepada kehilangan cairan selama 2 jam pemberian
cairan rehidrasi inisial sebelumnya, rehidrasi diharapkan lengkap pada akhir jam ke-3.

2. Memberikan terapi simptomatik
20

Obat anti diare:
a. Kelompok antisekresi selektif. Terobosan terbaru dalam milenium ini
adalah mulai tersedianya secara luas racecadotril yang bermanfaat sekali
sebagai penghambat enzim enkephalinase sehingga enkephalin dapat
bekerja kembali secara normal. Perbaikan fungsi akan menormalkan
sekresi dari elektrolit sehingga keseimbangan cairan dapat dikembalikan
secara normal. Di Indonesia saat ini tersedia di bawah nama Hidrasec
sebagai generasi pertama jenis obat baru anti diare yang dapat pula
digunakan lebih aman pada anak.
b. Kelompok opiat. Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid
HCl serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil). Penggunaan
kodein adalah 15-60mg 3x sehari, loperamid 2 4 mg/ 3 4x sehari dan
lomotil 5mg 3 4 x sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi
penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat
memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekwensi diare.Bila
diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan dapat
mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila diare akut dengan
gejala demam dan sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan.
c. Kelompok absorbent. Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat,
pektin, kaolin, atau smektit diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini
dapat menyeap bahan infeksius atau toksin-toksin. Melalui efek tersebut
maka sel mukosa usus terhindar kontak langsung dengan zat-zat yang
dapat merangsang sekresi elektrolit.
d. Zat Hidrofilik. Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago
oveta, Psyllium, Karaya (Strerculia), Ispraghulla, Coptidis dan Catechu
dapat membentuk kolloid dengan cairan dalam lumen usus dan akan
mengurangi frekwensi dan konsistensi feses tetapi tidak dapat mengurangi
kehilangan cairan dan elektrolit. Pemakaiannya adalah 5-10 cc/ 2x sehari
dilarutkan dalam air atau diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet.
Probiotik
Kelompok probiotik yang terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria atau
Saccharomyces boulardii, bila mengalami peningkatan jumlahnya di saluran
21

cerna akan memiliki efek yang positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan
reseptor saluran cerna. Syarat penggunaan dan keberhasilan
mengurangi/menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah yang adekuat.
3. Memberikan terapi definitif
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi,
karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian anti biotik.
Pemberian antibiotik di indikasikan pada: pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi
seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan
kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare
pada pelancong, dan pasien immunocompromised. Terapi kausal dapat diberikan pada
infeksi:
V. cholera El Tor: Tetrasiklin 4 x 500 mg/hr selama 3 hari atau kortimoksazol
dosis awal 2 x 3 tab, kemudian 2 x 2 tab selama 6 hari atau kloramfenikol 4 x 500
mg/hr selama 7 hari atau golongan Fluoroquinolon.
ETEC: Trimetoprim-Sulfametoksazole atau Kuinolon selama 3 hari.
S. aureus: Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr
Salmonella Typhi: Obat pilihan Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr selama 2 minggu
atau Sefalosporin generasi 3 yang diberikan secara IV selama 7-10 hari, atau
Ciprofloksasin 2 x 500 mg selama 14 hari.
Salmonella non Typhi: Trimetoprim-Sulfametoksazole atau ciprofloxacin atau
norfloxacin oral 2 kali sehari selama 5 7 hari.
Shigellosis: Ampisilin 4 x 1 g/hr atau Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr selama 5 hari.
Helicobacter jejuni (C. jejuni): Eritromisin, dewasa: 3 x 500 mg atau 4 x 250 mg,
anak: 30-50 mg/kgBB/hr dalam dosis terbagi selama 5-7 hari atau Ciprofloxacin
2 x 500 mg/hr selama 5-7 hari.
Amoebiasis: 4 x 500 mg/hr selama 3 hari atau Tinidazol dosis tunggal 2 g/hr
selama 3 hari.
Giardiasis: Quinacrine 3 x 100 mg/hr selama 1 minggu atau Chloroquin 3 x 100
mg/hr selama 5 hari.
Balantidiasis: Tetrasiklin 3 x 500 mg/hr selama 10 hari
Virus: simptomatik dan suportif.


22

II.10 Komplikasi

Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama, terutama
pada usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera kehilangan cairan secara
mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. Kehilangan elektrolit melalui
feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolik.
Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis, sehingga syok
hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul Tubular
Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ. Komplikasi ini
dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat sehingga tidak tecapai
rehidrasi yang optimal.
Haemolityc uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi yang disebabkan terbanyak oleh
EHEC. Pasien dengan HUS menderita gagal ginjal, anemia hemolisis, dan
trombositopeni 12-14 hari setelah diare. Risiko HUS akan meningkat setelah infeksi
EHEC dengan penggunaan obat anti diare, tetapi penggunaan antibiotik untuk terjadinya
HUS masih kontroversi.
Artritis pasca infeksi dapat terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena
Campylobacter, Shigella, Salmonella, atau Yersinia spp.

II.11 Prognosis

Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi
antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya sangat baik dengan
morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti kebanyakan penyakit, morbiditas dan
mortalitas ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut usia. Di Amerika Serikat, mortalits
berhubungan dengan diare infeksius < 1,0 %. Pengecualiannya pada infeksi EHEC
dengan mortalitas 1,2 % yang berhubungan dengan sindrom uremik hemolitik.

II.12 Pencegahan

Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral, penularannya dapat
dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini termasuk sering mencuci tangan
setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan. Kotoran manusia
harus diasingkan dari daerah pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran
23

manusia. Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus diberikan
perhatian khusus. Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air yang tidak
dimurnikan yang diambil dari danau atau air, harus direbus dahulu beberapa menit
sebelum dikonsumsi. Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air
yang bersih (air rebusan, saringan, atau olahan) sebelum dikonsumsi.
Limbah manusia atau hewan yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai
pupuk pada buah-buahan dan sayuran. Semua daging dan makanan laut harus dimasak.
Hanya produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh dikonsumsi. Wabah EHEC
terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang tidak dipasteurisasi yang dibuat
dari apel terkontaminasi, setelah jatuh dan terkena kotoran ternak.
Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius, tetapi efektivitas
dan ketersediaan vaksin sangat terbatas. Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk
V. colera, dan demam tipoid. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak
direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif, dan durasi
imunitasnya lebih panjang. Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70 % efektif dan
sering memberikan efek samping. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %,
hanya memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. Vaksin
tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan
memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya.















24


BAB III
ANALISA

3.1. Dasar diagnose

Diagnosa ditegakkan
Berdasarkan hasil anamnesis :
Dari anamnesis:
24 tahun, mengeluh mencret-mencret sejak 13 jam SMRS, 10 X,cair,OS
muntah-muntah sejak 8 jam SMRS, 4 X,berisi makanan dan air, mual (+), perut
kembung (+), mules, nyeri ulu hati (+), riwayat mag 3 tahun, selalu merasa haus.
3 hari SMRS demam, demam naik turun, demam turun setelah OS minum obat
penurun panas,batuk (+), pilek (+), tenggorokan terasa pahit (+), nafsu makan
menurun,badan terasa pegel-pegel (+), lemas (+).

Dari Pemeriksaan fisik:
Suhu : 37,5
0
C
IMT : 29,68
Mata cekung (-), mukosa bibir kering (+),turgor kulit kembali cepat
BU (+) meningkat
Nyeri tekan epigastrium (+)

Dari pemeriksaan penunjang:
Hemoglobin : 13,7 g/dl
Trombosit : 487 ribu/mm3 (H)
Leukosit : 17.900 / mm3 (H)
Serologi/widal : (-)

3.2. Alasan rencana penatalaksanaan
Terapi Non-Farmakologis
Istirahat cukup
25

Banyak minum
Diit lunak

Terapi Farmakologis

Infus RL
Paracetamol
Ondancentron
Rantin
3.3 Komplikasi dan prognosa

Komplikasi :

Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama,
terutama pada usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera kehilangan
cairan secara mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. Kehilangan
elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolik.

Prognosa

Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan
terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya sangat baik
dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti kebanyakan penyakit,
morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut usia. Di Amerika
Serikat, mortalits berhubungan dengan diare infeksius < 1,0 %. Pengecualiannya pada
infeksi EHEC dengan mortalitas 1,2 % yang berhubungan dengan sindrom uremik
hemolitik






26


DAFTAR PUSTAKA


Ahlquist David A, Camilleri M. Harrisons Principles of Internal Medicine. 15
th
edition.
Braunwald, Fauci, Kasper et all (Editor). 2001.

Hadi, Sujono. Gastroenterologi. Alumni - Cetakan Kedua. Bandung. 2002

Hendarwanto. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Sarwono WP (Editor), Balai Penerbit
UI, 2000.

Naskah lengkap penyakit dalam. Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 2007.

Powel Don W: Approach to the patient with diarrhea. Dalam buku: Text book of
Gastroenterology, 4
th
edition. Yamada T (Editor). Limphicot Williams & Wiekeins
Philadelphia. USA. 2003.