Anda di halaman 1dari 27

i

MAKALAH LABOR FISIKA SEKOLAH


HUKUM KEKEKALAN MOMENTUM




Oleh :
Maytika Sari
1101377/2011
Pendidikan Fisika R
Dosen :
Dra.Yenni Darvina, M.Si


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2014
ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga makalah Labor Fisika
Sekolah dapat diselesaikan dengan judul MOMENTUM DALAM
PERISTIWA TUMBUKAN.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas individu mata kuliah Labor Fisika Sekolah. Dalam
penulisan makalah ini penulis banyak menemui kesulitan. Namun
berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, maka makalah ini
dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada Dosen Pembimbing dan pihak-pihak lainnya.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan dan
pengalaman penulis. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan
kritikan yang bersifat membangun dari pembaca untuk dapat penulis
perbaiki dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk kita semua.

Padang, 26 May 2014

Penulis


iii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................................................................iii
MENYELIDIKI MOMENTUM DALAM EPRISTIWA TUMBUKAN ......................................................... 1
A. Kompetensi Inti ..................................................................................................................... 1
B. Kompetensi Dasar ................................................................................................................. 2
C. Tujuan Percobaann ............................................................................................................... 2
D. Alat dan Bahan untuk Membuat Alat ................................................................................... 2
E. Prosedur Kerja Pembuatan Alat ............................................................................................ 4
F. Teori Dasar ............................................................................................................................ 5
G. Hasil Pengamatan ............................................................................................................... 10
H. Pengolahan Data ................................................................................................................. 11
I. Grafik ................................................................................................................................... 20
J. Kesimpulan .......................................................................................................................... 21
K. Saran ................................................................................................................................... 23
L. Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 24


1

MENYELIDIKI MOMENTUM DALAM EPRISTIWA
TUMBUKAN
A. Kompetensi Inti
KI. 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI. 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun,
responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI. 3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.
KI. 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
2

B. Kompetensi Dasar
1.1 Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam
jagad raya melalui pengamatan fenomena alam fisis dan
pengukurannya
1.2 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur;
teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis;
kreatif; inovatif dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari
sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan percobaan ,
melaporkan, dan berdiskusi
3.5 Mendeskripsikan momentum dan impuls, hukum kekekalan
momentum, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
4.5 Memodifikasi roket sederhana dengan menerapkan hukum kekekalan
momentum
C. Tujuan Percobaann
Setelah melakuakan pratikum siswa diharapkan dapat:
1. Menyelidiki kekekalan momentum dalam tumbukan tidak elastic sama
sekali
D. Alat dan Bahan untuk Membuat Alat
1. Alat yang digunakan dalam proses pembuatan alat pratikum
NO
.
ALAT FUNSI GAMBAR
1 Gergaji Menggergaji/
memotong kayu

Gambar 1. Gergaji
3

2 Bor Melubangi kayu balok

Gambar 2. Bor
3 Khatam Meratakan permukaan
kayu

Gambar 3. Khatam

4 Ampelas Menghaluskan/
melicinkan permukaan
kayu

Gambar 4. Ampelas
5 Kuas Mengecat kayu

Gambar 5. Kuas
6 Palu Mamakukan paku
pada kayu

Gambar 6. Palu
2. Bahan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan alat
a) Kayu balok berukuran 20 cm x 10 cm x 7cm untuk membuat troli dan
beban
b) Kayu balok berukuran 120 cm x 2 cm x 2 cm sebagai dinding lintasan
c) Triplek putih berukuran 120 cm x 18 cm sebagai landasan
d) Paku kecil untuk memasang dinding lintasan pada triplek landasan
e) Paku besar untuk memasang kepala troli pada badan troli
4

f) Cat pernis warna solar untuk mewarnai dinding lintasan, troli dan
beban
g) Sepasang roda mobil-mobilan anak-anak
h) Sebuah mobil-mobilan anak-anak.
i) Ticker timer lengkap dengan pita ticker timer
j) Plastisin
E. Prosedur Kerja Pembuatan Alat
1. Sediakan semua alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Potonglah kayu balok menjadi 3 bagian yang masing-masing berukuran 14
cm x 5.5 cm x 4 cm sebagai badan troli, 5.5 cm x 5.5 cm x 3.5 cm sebagai
kepala troli dan 6 cm x 5 cm x 3.5 cm sebagi beban seperti pada gambar
dibawah ini

Gambar 7.
a. Badan troli b. kepala troli c. beban
3. Ampelas potongan kayu tersebut beserta kayu balok panjang yang
digunakan sebagai dinding lintasan
4. Cat semua kayu yang telah di ampelas menggunakan cat pernis warna
solar, kemudian biarkan cat mengering
5. Pasang dinding lintasan pada sisi-sisi triplek seperti pada gambar

Gambar 8. Landasan troli
5

6. Pasangkan kepala troli dengan badan troli kemudian lubangi troli dengan
bor sebagai tempat pemasangan roda.
7. Pasangkan roda mobil-mobilan pada badan troli

Gambar 9. Troli
8. Letakkan landasan troli diatas bidang datar kemudian letakkan mobil
maian di salah satu ujung landasan menghadap ke ujung landasan yang
lain.
9. Tempelkan plastisin pada bagian depan mobil mainan dan bagian belakang
troli sejajar dengan plastisin yang tertempel pada mobil mainan.
10. Letakkan troli pada jarak 75 cm di depan mobil mainan
11. Pasangkan pita yang telah terhubung ke ticker timer pada bagian belakang
mobil-mobilan dan hubungkan ticker timer dengan power supply (pada
keadaan off) dengan output 6 volt seperti pada gambar

Gambar 10. Set alat pratikum
F. Teori Dasar
1. Momentum sebuah benda
Sebuah mobil yang bergerak dijalanan yang memiliki massa m
bergerak dengan kecepatan sebesar memiliki sebuah momentum.
Momentum adalah besaran yang merupakan perkalian massa dan
kecepatan.
(1)
6

= m
Dimana,
= momentum (kg m/s)
m= massa benda (kg)
kecepatan benda (m/s)
Dari persamaan diatas tampak bahwa momentum merupakan besaran
vector yang arahnya versis sama dengan arah kecepatan benda.
Satu dimensi. Untuk gerak satu dimensi, momentum benda cukup ditulis
dalam bentuk scalar, yaitu:
p=m


Momentum Sistem Benda
Jika suatu system yang kita amati terdiri dari sejumlah partikel,
maka momentum total system merupakan jumlah vector dari momentum
masing-masing partikel. Misalkan benda terdiri dari tiga partikel dengan
momentum masing-masing

. Momentum total system adalah



=



Ingat, penjumlahan harus dilakukan secara vector. Namun
demikian, kita juga bias melakukan penjumlahan secara scalar untuk
masing-masing komponen momentum. Untuk gerak dua dimensi, kita
dapatkan bentuk penjumlahan untuk dua komponen momentum, yaitu:


2. Hokum kekekalan momentum
Hukum kekekalan momentum menyebutkan bahwa:
Jumlah momentum benda-benda sebelum dan sesudah tumbukan adalah
tetap, asalkan tidak ada gaya luar yang bekerja pada benda-benda itu
(2)
(3)
(4)
7


Ini berarti momentum total suatu sistem yang terisolasi setiap saatnya
sama dengan momentum awalnya.
Jika digambarkan:








Gambar di atas menunjukkan bola dengan massa 1 ( m
1
) dan massa 2 ( m
2
)
yang bergerak berlawanan arah dalam satu garis lurus dengan kecepatan
berturut-turut sebesar v
1
dan v
2
. Setelah keduanya bertumbukan masing-
masing kecepatannya berubah menjadi v
1
dan v
2
.
Secara matematis hukum kekekalan momentum dapat dinyatakan dengan:

p
1
+ p
2
= p
1

+ p
2


m
1
v
1
+ m
2
v
2
= m
1
v
1

+ m
2
v
2




Dengan:
p
1
, p
2
: momentum benda 1 dan 2 sebelum tumbukan (kg.m/s)
p
1
, p
2
: momentum benda 1 dan 2 setelah tumbukan (kg.m/s)
m
1
, m
2
: massa benda 1 dan 2 (kg)
v
1
, v
2
: kecepatan benda 1 dan 2 sebelum tumbukan (m/s)
v
1
, v
2
: kecepatan benda 1 dan 2 sesudah tumbukan (m/s)
disini kita anggap massa benda yang mengalami tumbukan tidak berubah.
Dalam peristiwa tumbukan, massa benda sebelum dan sesudah tumbukan

Gambar 11. Momentum yang terjadi antara dua benda
(5)
8

bisa saja berubah. Contohnya: kedua benda bergabung setelah tumbukan
atau ada benda yang pecah setelah tumbukan.
Energy kinetic benda sebelum dan sesudah tumbukan dapat dinyatakan
sebagai berikut:1
EK =

m
1
v
1
2
+

m
2
v
2
2
EK

m
1
v
1
2
+

m
2
v
2
2
Dalam proses tumbukan slalu memenuhi
EK EK
Dari persamaan (5) kita dapat menulis

m
1
(v
1
-

v
1

) = -m
2
(v
2
+ v
2

)

dari persamaan (6) dan (7) kita dapat menulis

m
1
v
1
2
+

m
2
v
2
2

m
1
v
1
2
+

m
2
v
2
2

m
1
v
1
2
+ m
2
v
2
2
m
1
v
1
2
+ m
2
v
2
2
-m
2
(v
2
2

- v
2
2
) m
1
(v
1
2
-

v
1
2
)

Dengan menggunakan sifat (a
2
-b
2
) = (a-b)(a+b), kita dapat menulis
persamaan (9) menjadi
-m
2
(v
2
- v
2

) (v
2
+ v
2

) m
1
(v
1
-

v
1

) (v
1
+

v
1

)


Dengan membagi persamaan (10) dengan persamaan (8) maka diperoleh:



(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
9



Dengan demikian defenisi koefisien elastisitas dan persamaan koefisien
restitusi sebagai:
e = -



berdasarkan devenisi koefisien elastisitas dan persamaan (11), kita
dapatkan bahwa untuk semua jenis tumbukan antara dua benda maka
berlaku:

0
3. Tumbukan antara dua benda
a. Tumbukan elastic
Jika pada tumbukan dipenuhi e = 1 maka tumbukan tersebut
dinamakan tumbukan elastic (tumbukan lenting sempurna). Kondisi ini
hanya dipengaruhi bila momentum total sebelum dan sesudah
tumbukan sama besar, serta energy kinetic total sebelum dan sesudah
tumbukan juga sama besar (energy kinetic kekal). Contoh tumbukan
yang yang mendekati tumbukan elastic sempurna adalah tumbukan
antara dua bola biliar.
b. Tumbukan tidak elastic
Pada proses tumbukan yang memenuhi e < 1, maka tumbukan
tersebut dikategorikan sebagai tumbukan tidak elastic ( tubukan tidak
lenting sempurna). Pada tumbukan ini energy kinetic kinetic total
sesudah tumbukan lebih kecil dari pada energy kinetic total sebelum
(11)
(12)
(13)
10

tumbukan. Makin kecil nilai e maka makin besar energy kinetic yang
hilang akibat tumbukan.
c. Tumbukan tidak elastic sama sekali
Tumbukan tidak elastic (tidak lenting sama sekali) adalah jenis
tumbukan khusus dimana e = 0. Berdasarkan persamaan (12) jenis
tumbukan ini dicapai jika


Hal ini bararti kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah
sama. Kondisi ini umumnya dicapai jika setelah tumbukan kedua
benda menyatu. Contoh: tumbukan antara plastisin dengan kelereng,
tumbukan peluru pada balok dimana peluru menancap kedalam balok
dan tumbukan mobil terhadap pohon besar.

G. Hasil Pengamatan
Massa troli = 263,5 gram
Massa beban = 55,7 gram
Massa mobil-mobilan = 98,5 gram
Table 1. Tumbukan mobil-mobilan dengan troli
NO. Mobil mainan Mobil mainan + troli
v (m/s) v (m/s)
1 0,54 0,16
2 0,53 0,15
3 0,59 0,17
4 0,59 0,17
5 3,58 0,17


11

Table 2. Tumbukan mobil-mobilan dengan troli + beban
NO. Mobil mainan Mobil mainan + troli
v (m/s) v (m/s)
1 0,61 0,14
2 0,61 0,15
3 0,55 0,14
4 0,72 0,17
5 0,61 0,15
H. Pengolahan Data
Berdasarkan data yang diperoleh pada ticker timer maka pengolahan data dari
kegiatn pratikum ini adalah sebagi berikut:
(waktu yang digunakan yaitu 0,4 s masing-masing untuk sebelum tumbukan
dan setelah tumbukan, pada ticker timer yaitu ditunjukan dengan 20 ketikan
pada pita ticker timer)
Kecepatan benda sebelum dan setelah tumbukan
1. Tumbukan mobil mainan dengan troli troli tanpa beban
a. Untuk percobaan pertama
Sebelum tumbukan
s = 21,5 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 53,75 cm/s = 0,54 m/s
Setelah tumbukan
s = 6,25 cm
t = 0,4 s
v =


12

v =


= 15,625 cm/s = 0,16 m/s
b. Untuk percobaan kedua
Sebelum tumbukan
s = 21,3 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 53,25 cm/s = 0,53 m/s
Setelah tumbukan
s = 6 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 15 cm/s = 0,15 m/s
c. Untuk percobaan ketiga
Sebelum tumbukan
s = 23,75 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 59,375 cm/s = 0,59 m/s
Setelah tumbukan
s = 6,75 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 16,875 cm/s = 0,17 m/s
13

d. percobaan keempat
sebelum tumbukan
s = 23,75 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 59,375 cm/s = 0,59 m/s
Setelah tumbukan
s = 6,75 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 16,875 cm/s = 0,17 m/s
e. pecobaan kelima
Sebelum tumbukan
s = 23,35 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 60,875 cm/s = 0,58 m/s
Setelah tumbukan
s = 6,7 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 21,5 cm/s = 0,17 m/s


2. Tumbukan mobil maian dengan troli + beban
14

a. Untuk percobaan pertama

Sebelum tumbukan
s = 24,35 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 60,875 cm/s = 0,61 m/s
Setelah tumbukan
s = 5,65 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 14,125 cm/s = 0,14 m/s
b. Untuk percobaan kedua
Sebelum tumbukan
s = 24,4 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 56 cm/s = 0,61 m/s
Setelah tumbukan
s = 5,9 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 14,75 cm/s = 0,15 m/s
c. Untuk percobaan ketiga
Sebelum tumbukan
15

s = 22,1 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 55,25 cm/s = 0,55 m/s
Setelah tumbukan
s = 5,45 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 13,625 cm/s = 0,14 m/s
d. percobaan keempat
sebelum tumbukan
s = 29 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 72,5 cm/s = 0,72 m/s
setelah tumbukan
s = 6,95 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 17,375 cm/s = 0,17 m/s
e. percobaan kelima
Sebelum tumbukan
s = 24,3 cm
t = 0,4 s
v =


16

v =


= 48,25 cm/s = 0,61m/s
Setelah tumbukan
s = 5,9 cm
t = 0,4 s
v =


v =


= 9,75 cm/s = 0,15 m/s
Momentum benda sebelum dan setelah tumbukan
Sebelum tumbukan
P
w
= p
1
+ p
2

P
w
= m
1
v
1
+ m
2
v
2

P
w
= m
1
v
1
+ 0
P
w
= m
1
v
1
setelah tumbukan
p
a
= (m
1
+ m
2
) v

1. Momentum mobil-mobilan dan troli tanpa beban sebelum dan sesudah
tumbukan
a. Percobaan pertama
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,54 m/s = 0,053 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
) v = (98,5 + 263,5) x 10
-3
kg . 0,16 m/s = 0,058 kg
m/s
b. Percobaan kedua

p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,53 m/s = 0, 052 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
) v = (98,5 + 263,5) x 10
-3
kg . 0,15 m/s = 0,054 kg
m/s
c. Percobaan ketiga
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,59 m/s = 0,058kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
) v = (98,5 + 263,5) x 10
-3
kg . 0,17 m/s = 0,062 kg
m/s
17

d. Percobaan keempat
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,59 m/s = 0, 058 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
) v = (98,5 + 263,5) x 10
-3
kg . 0,17 m/s = 0,062 kg
m/s
e. Percobaan kelima
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,58 m/s = 0,057 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
) v = (98,5 + 263,5) x 10
-3
kg . 0,17 m/s = 0, 06kg
m/s
2. Momentum mobil-mobilan dan troli + beban(m
3
) sebelum dan sesudah
tumbukan
a. Percobaan pertama
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,61 m/s = 0,06 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
+ m
3
) v = (98,5 + 263,5 + 55,7) x 10
-3
kg . 0,14 m/s
= 0,058 kg m/s
b. Percobaan kedua
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,61 m/s = 0,06 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
+ m
3
) v = (98,5 + 263,5 + 55,7) x 10
-3
kg . 0,15 m/s
= 0,063 kg m/s
c. Percobaan ketiga
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,55 m/s = 0,054 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
+ m
3
) v = (98,5 + 263,5 + 55,7) x 10
-3
kg . 0,14 m/s
= 0,058 kg m/s
d. Percobaan keempat
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,72 m/s = 0,071 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
+ m
3
) v = (98,5 + 263,5 + 55,7) x 10
-3
kg . 0,17 m/s
= 0,071 kg m/s

e. Percobaan kelima
p
s
= m
1
v
1
=

98,5 x 10
-3
kg . 0,61 m/s = 0, 06 kg m/s
p
a
= (m
1
+ m
2
+ m
3
) v = (98,5 + 263,5 + 55,7) x 10
-3
kg . 0,15 m/s
= 0,063 kg m/s
18



Kecepatan akhir system secara perhitungan
v =

v
1. Kecepatan akhir system tanpa tambahan beban
a. Percobaan pertama
v =

0,54m/s
v = 0,15 m/s
b. Percobaan kedua
v =

0,53 m/s
v = 0,14 m/s
c. Percobaan ketiga
v =

0,59 m/s
v = 0,16 m/s
d. Percobaan keampat
v =

0,59 m/s
v = 0,16 m/s
e. Percobaan kelima
v =

0,58 m/s
v = 0,16 m/s
2. Kecepatan akhir system dengan tambahan beban m
3

Massa troli = massa troli + massa beban = 263,5 gr + 55,7 gr =319,2 x
10
-3
kg
a. Percobaan pertama
v =

0,61 m/s
v = 0,14 m/s

19

b. Percobaan kedua
v =

0,61 m/s
v = 0,14 m/s
c. Percobaan ketiga
v =

0,55 m/s
v = 0,13 m/s
d. Percobaan keempat
v =

0,72 m/s
v = 0,17 m/s
e. Percobaan kelima
v =

0,61m/s
v = 0,14 m/s
Perbandingan kecepatan akhir berdasarkan perhitungan dan pengukuran
1. Perbandingan kecepatan akhir system tanpa tambahan beban
NO. v
hitung
(m/s) v
ukur
(m/s)
1 0,15 0,16
2 0,14 0,15
3 0,16 0,17
4 0,16 0,17
5 0,16 0,17
2. Perbandingan kecepatan akhir system dengan tambahan beban m
3

NO. v
hitung
(m/s) v
ukur
(m/s)
1 0,14 0,14
2 0,14 0,15
3 0,13 0,14
4 0,17 0,17
5 0,14 0,15
20


Kesalahan relative
% Kr = |

|

x 100 %
1. % Kr untuk kecepatan akhir system tanpa tambahan beban
a. %Kr = |

|

x 100 % = 6,6 %
b. %Kr = |

|

x 100 % = 7,1 %
c. %Kr = |

|

x 100 % = 6,25 %
d. %Kr = |

|

x 100 % = 6,25 %
e. %Kr = |

|

x 100 % = 6,25 %
2. % Kr untuk kecepatan akhir system dengan tambahan beban m
3

a. %Kr = |

|

x 100 % = 0 %
b. %Kr = |

|

x 100 % = 7,1 %
c. %Kr = |

|

x 100 % = 7,7 %
d. %Kr = |

|

x 100 % = 0 %
e. %Kr = |

|

x 100 % = 7,1 %
I. Grafik
Grafik hubungan massa dengan momentum benda setelah tumbukan
21

.
Dari grafik dapat dilihat bahwa hubungan massa dengan momentum benda
adalah sebanding, dimana semakin besar massa maka momentum benda juga
akan semakin besar.
J. Kesimpulan
Momentum sistem
1. Momentum mobil-mobilan dan troli sebelum dan sesudah tumbukan
NO. p
s
(momentum sebelum
tubukan) kg m/s
P
a
(momentum setelah
tumbukan )kg m/s
1 0,053 0,058
2 0,052 0,054
3 0,058 0,062
4 0,058 0,062
5 0,057 0,06
Dari tabel diatas dapat dilihat hasil percobaan menyelidiki kekekalan
momentum benda sebelum dan setelah tumbukan. Berdasarkan teori
momentum benda sebelum dan setelah tumbukan adalah adalah sama, hal
ini sesuai dengan hokum kekekalan momentum. Namun berdasarkan hasil
percobaan diperoleh momentum benda sebelum tumbukan tidak sama
persis dengan momentum benda setelah tumbukan, antara momentum
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0 0.1 0.2 0.3 0.4
m
a
s
s
a

(
k
g
)

momentum (kg m/s)
Grafik hubungan massa dengan
momentum
Series1
22

benda sebelum dan setelah tumbukan dan setelah tumbukan terdapat
selisih yang berkisar antara 0,002 hingga 0,005.
2. Momentum mobil-mobilan dan troli + beban sebelum dan setelah
tumbukan
NO. p
s
(momentum sebelum
tubukan) kg m/s
P
a
(momentum setelah
tumbukan )kg m/s
1 0,06 0,058
2 0,055 0,063
3 0,054 0,058
4 0,071 0,071
5 0,047 0,042
Dari tabel diatas dapat dilihat hasil percobaan menyelidiki kekekalan
momentum benda sebelum dan setelah tumbukan dengan tambahan
beban. Berdasarkan teori momentum benda sebelum dan setelah
tumbukan adalah adalah sama, hal ini sesuai dengan hokum kekekalan
momentum. Namun berdasarkan hasil percobaan diperoleh momentum
benda sebelum tumbukan tidak sama persis dengan momentum benda
setelah tumbukan, antara momentum benda sebelum dan setelah
tumbukan dan setelah tumbukan terdapat selisih yang berkisar antara 0
hingga 0,008.
Selisih data yang diperoleh dari hasil percobaan dapat disebabkan
oleh beberapa kesalahan, diantaranya yaitu: kurang telitinya praktikan
dalam melakukan pengukuran, kesalahan paralaks, alat yang belum
sempurna dan kalibrasi alat ukur massa.

Perbandingan kecepatan akhir system secara perhitungan dan pengukuran
1. Perbandingan kecepatan akhir system tanpa tambahan beban


23

NO. v
hitung
(m/s) v
ukur
(m/s)
1 0,15 0,16
2 0,14 0,15
3 0,16 0,17
4 0,16 0,17
5 0,16 0,17

2. Perbandingan kecepatan akhir system dengan tambahan beban m
3

NO. v
hitung
(m/s) v
ukur
(m/s)
1 0,14 0,14
2 0,14 0,15
3 0,13 0,14
4 0,17 0,17
5 0,14 0,15

Dari grafik dapat dilihat bahwa kecepatan akhir benda setelah
mengalami tumbukan antar perhitungan dan pengukuran berbeda,
secara teori seharusnya kecpatan akhir secar perhitungan dan
pengukuran adalah sama. Disini terdapat % kesalahan yang berkisar
antara 0 % sampai 7,7 %. Kesalahan-kesalahan ini dapat disebabkan
oleh ketidak telitian dari pratikan dan juga alat pratikum itu sendiri.
K. Saran
Kegiataan menyelidiki momentum pada peristiwa ini hendaknya
dilakukan oleh dua orang siswa atau lebih agar percobaan dapat lebih teramati
dengan teliti dan kertas karbon pada pita karbon sebaiknya diganti setiap 2
atau 3 kali percobaan agar mendapatkan hasil ketikan yang jelas pada pita
ketik.
24

L. Daftar Pustaka
Abdullah, mikrajuddin. 2007. FISIKA 2A. Jakarta: Erlangga.
Tim pendidikan fisika FMIPA. 2014. Hukum Kekekalan Momentum.
Yogyakarta: UNY. Dakses pada 17/05/2014 dari http://
duniafisikakita.blogspot.com